Himano Hime presented

10th chap of Birthday Gift

Pairing: SasuNaru, ManyNaru (masih ada kemungkinan ganti pairing)

Rate: T

Genre: Family, Romance

Warning: Sho-ai, maybe OOC, MPREG

DON'T LIKE DON'T READ

Hope you enjoy it~ ^^

A/N: Hola, reader-san~

Hime merasa agak bersalah karena telah menelantarkan kalian berbulan-bulan lamanya gara-gara UN (special thanks, untuk yang sudah mendoakan UN Hime XD) dan karenanya Hime udah berusaha ngetik chapter ini secepatnya. Semoga reader-san puas, apalagi yang udah protes 'update woles'..

Chapter sebelumnya: Karena pertemuannya dengan Sora-sensei, Naruto mengetahui bahwa Hikage bukanlah anak kandung Temari. Hikage yang kebetulan mendengarnya sempat depresi, tapi setelah bicara dengan Naruto, ia merasa lebih baik. Sementara itu, Anzen mengetahui tentang percobaan Itachi dan kabur ke hutan. Naruto yang mencoba menolongnya malah digigit ular dan badai belum berakhir sampai di situ..

.

.

.

Ia ingat pembicaraannya dengan Hikage. Ia ingat kedatangan Itachi. Ia ingat bahwa Anzen hilang. Ia terjatuh, samar-samar ia mendengar suara yang berteriak memanggilnya. Ia mendatangi arah suara itu. Anzen. Syukurlah. Kemudian ia melihatnya, sesuatu yang dilihat putranya penuh rasa takut.

Ular. Makhluk itu akan menyerang Anzen.

Ia bertindak berdasarkan insting. Berlari. Lebih cepat. Loncat. Lindungi Anzen. Karena ia sudah berjanji akan melakukannya. Ia tahu ia melakukannya saat sesuatu menancap di bahunya. Sakit. Tapi itu artinya Anzen tidak terluka. Syukurlah.

Ia ingat mereka berteduh di gua. Dan ia sempat mencoba melongok ke balik bahunya untuk melihat lukanya membengkak dan berubah warna. Nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya bersamaan dengan bisa itu. Tubuhnya memanas, perutnya perih, dan tak sanggup berpikir apa-apa lagi. Ia sempat merasa seolah sebuah spiral muncul di perutnya, berubah menjadi black hole yang menghisap seluruh tubuhnya sebelum semuanya berubah gelap, seakan seseorang telah mematikan lampu.

Tapi ia cukup sadar untuk menyadari dirinya pingsan.

Matanya berkunang-kunang, butuh usaha ekstra untuk membukanya. Hal pertama yang disadarinya adalah warna putih. Setelah itu, Naruto harus mengingat-ingat apa yang bisa diingatnya. Kemudian ia mendengar suara yang sudah familiar baginya bertanya, "Kau sudah bangun?"

Naruto tahu pertanyaan itu tak benar-benar memerlukan jawaban –retoris. "Kyuu-nii..." ia menggosok-gosok matanya. "Di mana ini..?"

"Rumah sakit," pria berambut merah itu mendekati ranjang. "Bagaimana perasaanmu?"

Ia masih sulit memfokuskan pikiran, sendi-sendinya masih sakit, dan perutnya nyeri. "Kurasa.. aku mau..", Naruto tidak meneruskan tapi melihat wajahnya yang sepucat kertas, Kyuubi dengan sigap mengambil tempat sampah dan memiringkan badan Naruto –yang segera muntah ke dalamnya.

Kyuubi mengusap-usap punggung adiknya penuh kehati-hatian, mengetahui betapa rapuh tubuh adiknya sekarang. Setelah Naruto selesai, ia menyodorkan segelas air putih padanya. Pemuda pirang itu berkumur lalu meludahkannya ke dalam tempat sampah, kemudian meminum air itu. Ia ingat bagaimana mulutnya terasa begitu kering, dan mencoba minum lebih banyak.

"Anzen? Di mana dia? Apa dia baik-baik saja?", Naruto mencoba bertanya. Tapi yang keluar hanyalah, "An..zen? ..na..? ..dia.. baik..?"

"Sssh.. tenanglah." Kyuubi mendorong bahu Naruto yang hampir bangkit sehingga pemuda itu kembali berbaring di atas ranjang, agak kesulitan bernafas. "Ia baik-baik saja. Aku menitipkannya pada Nara selama kau di-opname, ia akan segera ke sini setelah sekolah selesai."

Naruto jelas terlihat lega dan lebih tenang mendengarnya. "..kurlah.."

"Apanya yang 'syukurlah', dasar bodoh? Bisa-bisanya kau meloncat ke depan seekor ular, aku ingin sekali memukulmu kalau bukan karena kau baru sadar!" omel Kyuubi.

Naruto tak menjawab, melainkan mencoba menstabilkan nafasnya. Kyuubi mendesah panjang, menyadari bahwa mungkin sekali Naruto tak mendengarnya sedikit pun.

"Um.. aku baik.." Naruto bergumam tak jelas. Setelah mengeluarkan isi perutnya barusan, setidaknya perutnya tidak terlalu bergejolak dan ia bisa berpikir jernih.

"Ya, kau jelas baik. Hanya tidak sadar dan demam tinggi seminggu, bukan masalah besar." Kyuubi mencibir.

"Apa?"

Kyuubi mendengus, "Aku akan memanggilkan dokter."

Setelah Kyuubi berlalu, Naruto memijat dahinya yang tiba-tiba pening. Apa Kyuubi bercanda waktu mengatakan itu? Tidak sadar selama 7 hari terdengar cukup payah... tapi ia tak ingat apa pun. Rasanya hanya seperti tidur semalam, hanya saja tanpa mimpi. Dan.. bahunya memang agak nyeri, begitu juga perutnya, dan badannya serasa baru berlari 5 km tanpa beristirahat. Sangat capek. Tetap saja, ini tak mungkin seburuk itu, kan?

Ia berhenti melamun saat pintu terbuka. Seorang dokter paruh baya berambut gelap masuk dengan seorang perawat mengekor di belakangnya. "Uzumaki-san, senang mendengar kau sudah siuman.", ujarnya dengan senyum ramah.

Naruto memiringkan kepala, membalasnya dengan senyum kecil. "Kudengar aku tidur seminggu..?"

"Aku tak akan menyebutnya tidur, sebetulnya. Tapi eh– bagaimana perasaanmu?"

"Baik." Jawab Naruto singkat.

"Kau tidak merasa pusing? Mual? Atau, adakah yang terasa aneh?" tanyanya beruntun sambil memeriksa.

"Aku baru muntah, masih agak pusing, dan bahu dan perutku nyeri. Juga lelah, tapi hanya itu.. er.. "

Sang dokter tersenyum, "Namaku Satoru. Kemarin-kemarin kau demam tinggi, tapi sepertinya kau sudah lebih baik. Yang kau rasakan itu umum setelah keracunan, perutmu nyeri karena usaha ginjalmu untuk membersihkan darah. Beristirahatlah, aku akan memberimu obat supaya kau bisa tidur, oke?"

Naruto mengangguk, ia memang merasa capek.. tapi itu bisa menunggu sampai ia bicara dengan Kyuubi. Sang dokter dan asistennya memeriksanya sekitar 10 menit, kemudian pergi, digantikan oleh Kyuubi dengan senyum kecil –ia terlihat sangat tampan, sungguh. Naruto yakin perawat barusan mencoba menatapnya lebih lama.

Senyum Kyuubi hilang melihat Naruto, alisnya naik. "Ada apa? Wajahmu merah. Apa kau demam lagi?", ia bertanya sambil menaruh punggung tangannya di dahi Naruto.

"Eh–" adik laki-lakinya bahkan tak menyadari bahwa wajahnya memerah. Penyebab yang sama seperti apa yang membuat perawat tadi mencoba melongok ke dalam ruangan. "A-aku tidak apa-apa", gugupnya sambil memalingkan wajah.

Kyuubi mendengus tanpa suara, "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"

Naruto kembali menatap Kyuubi, "Apa yang terjadi setelah aku pingsan? Dan Itachi?"

"...akan kuceritakan, tapi dari sudut pandangku." Kyuubi mengambil tempat di sisi Naruto. "Waktu aku pulang, aku hanya mendapati Sakura dan Hikage. Sakura menceritakan padaku apa yang terjadi. Karena khawatir, aku menelepon Itachi. Ia bilang kau bersamanya, sampai kau terjatuh dan tidak menemukanmu di tempat itu ketika mereka kembali."

"Jadi aku pinjam mobil Sakura lalu menyusul. Terpaksa aku harus mencari kalian bersama si brengsek itu –di lain waktu, aku pasti akan mengulitinya dulu sebelum mau berjalan dengannya! Tapi kami tak juga menemukan kalian, sampai Anzen datang."

"Anzen?"

"Ya, ia menangis. Katanya kau sakit setelah digigit ular. Lalu Anzen mengantar kami ke gua tempatmu berada. Kau sedang muntah waktu kami datang, dan badanmu menggigil hebat. Aku panik sekali melihat kondisimu, bahkan Itachi pun panik.. well, ia memang bersikap terlalu tenang dibandingkan orang biasa, tapi wajahnya lebih pucat dari biasanya. Aku tak tahu kenapa. Untungnya di dekat hutan ada rumah sakit, dan mereka punya serumnya karena –mereka memberitahuku– ular Mamushi memang cukup sering ditemukan di hutan itu."

"Kau sempat kritis, kau tahu? Dan setelah itu pun kau demam tinggi selama 7 hari, tadi malam demammu baru turun –sebelumnya sih, mungkin aku bisa menggoreng sesuatu di dahimu. Anzen menangis berjam-jam, menyalahkan dirinya sendiri..." Kyuubi terdiam, tangan kanannya saling terkait dengan tangan Naruto yang tidak tersambung selang infus dan selang lainnya. Ia tidak menambahkan bahwa, Satoru-sensei sempat memuji Naruto beruntung. Karena kalau mereka menunggu pagi, mungkin akan terlambat..

"Kyuu?" Naruto memanggil, menghentikan lamunan Kyuubi. "Eh –tanganku bisa remuk kalau kau tak berhenti.." Kyuubi tersentak. Ia bahkan tak menyadari barusan ia meremas tangan Naruto kuat-kuat. Memikirkan bahwa ia hampir saja kehilangan adik kesayangannya membuatnya gusar, tanpa sadar. Kyuubi menggeleng-gelengkan kepala, melonggarkan pegangannya.

"Dan Itachi?"

Kyuubi mengangkat bahu, "Aku belum melihatnya sejak ia mengantarmu ke rumah sakit. Entahlah... mungkin ia takut pada tinjuku?"

Naruto tertawa, diikuti Kyuubi. Tak lama, karena Kyuubi segera ingat dokter menyuruh Naruto beristirahat. Ia memaksa Naruto kembali tidur yang dilakukan Naruto dengan senang hati, karena memang sejujurnya ia masih mengantuk.

Remaja pirang itu bangun lagi sore harinya, tepat waktu untuk menunggu kedatangan putranya.

"Kaa-san..!" Anzen berseru, berlari menghambur ke ranjang Naruto. Naruto hanya tertawa saat Anzen menubruknya.

"Anzen! Jangan lakukan itu!" marah Kyuubi

"Tak apa kok, Kyuu-nii." Bela Naruto. "Ini kan bukan seperti aku korban kecelakaan atau apa.."

Anzen jelas tampak senang, ia tersenyum begitu lebar mendengarnya. "Jadi, bagaimana kabar kaa-san? Kapan kaa-san boleh pulang?"

Naruto terkekeh, "Kaa-san baik kok, tapi kata dokter belum boleh pulang. Kaa-san dengar kamu yang memanggil bantuan ya?"

Wajah Anzen memerah, bocah itu mengangguk malu-malu. "Heee... putra kaa-san memang mengagumkan!" puji Naruto sambil mengacak rambut putranya. Anzen memejamkan mata, tampak menikmati perlakuan kaasan-nya.

Kyuubi yang sedang menyilangkan tangan di depan dada dan bersandar pada dinding, menghela nafas panjang. Adiknya masih saja memanjakan Anzen bahkan walau kondisinya sedang lemah. Ia menatap Shikamaru dan putranya, Hikage, yang belakangan ini dekat dengan keluarga Uzumaki. Hikage menggenggam celana ayahnya erat, dengan separuh badannya tersembunyi di belakang kaki Shikamaru. Kyuubi belum pernah melihat bocah itu seperti itu, tapi tampaknya begitu juga Shikamaru –yang kentara sekali bingung melihat perilaku putranya.

Tapi Naruto, yang juga menyadari itu, tersenyum penuh pengertian. "Bagaimana kalau kau juga memberiku pelukan, Hika?"

Hikage, yang awalnya mengerutkan dahi dengan bibir terkatup perlahan mengubah ekspresinya. Ia berlari ke Naruto dengan mata berbinar, berseru "Kaa-san!"

Anzen hanya menaikkan alis bertanya, sementara Kyuubi dan Shikamaru tampak terkejut mendengar itu. Naruto sendiri, entah tak menyadari atau tak peduli, tertawa sembari memberi pelukan pada Hikage. Kemudian mereka bertiga mulai berkicau riang, atau lebih tepatnya, Anzen dan Hikage saling bersahutan menceritakan peristiwa di sekolah, dengan Naruto menanggapi sesekali.

Kyuubi menatap bingung dengan pandangan yang berkata, 'Jadi sekarang ia dekat dengan bocah itu juga? Oh, well...'

Shikamaru lain lagi, dari tatapannya terlihat bahwa ia bingung. Kenapa putranya memanggil Naruto dengan sebutan 'kaa-san'? Kenapa Naruto biasa saja menanggapinya? Dan –apakah Hikage barusan bercerita dengan antusias tentang kelasnya? Juga –dari ceritanya, bahwa Hikage tadi pagi bermain bersama teman-temannya yang (menurut komentar Hikage sendiri) kekanakan?

Alis Shikamaru terangkat, apa yang terjadi pada putra semata wayangnya ini?

Tapi ia yakin pertanyaan itu bisa menunggu. Untuk sekarang, ia rasa ia akan menikmati mata biru yang berbinar dan tawa lepas itu.

.

.

"Kyuu, bisakah aku mendapat jus sebelum makan malam?" pinta Naruto, menghentikan obrolan aniki-nya dengan Shikamaru. Sudah tiga hari berlalu sejak pemuda pirang itu siuman dan dokter pun tampaknya lega atas kemajuannya

"Kurasa tak masalah," ujar Kyuubi sambil berdiri dari kursi.

Naruto berpaling pada kedua bocah yang sedang bermain, "Bagaimana kalau kalian ikut Kyuu-jisan dan belikan jus favorit kaa-san?"

Anzen dan Hikage mengangguk antusias, berlari sambil menarik-narik Kyuubi. Menyisakan Naruto dan Shikamaru. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Shikamaru, mengerti benar tentang 'pengusiran' barusan.

Naruto tersenyum, "Bukan apa-apa, aku hanya tak mau kau salah paham atau apa tentang panggilan Hikage itu,". Tiba-tiba saja, senyum pemuda pirang itu lenyap digantikan ekspresi murung, "Sebelumnya.. aku minta maaf."

Alis pria bermata hitam itu naik. "Untuk?"

Jari-jari tan Naruto memainkan ujung bajunya, "Aku.. sudah mendengar tentang.. ibu kandung Hikage."

Iris onyx Shikamaru melebar demi mendengarnya. "Apa? Tentang apa ini?"

"... kebetulan aku mengenal Sora-sensei, dan... itu sama sekali bukan salahnya! Aku lah yang memintanya menceritakan padaku, kubilang aku tak kan memberitahu siapa pun, aku benar-benar minta maaf sudah mencampuri urusan pribadimu, padahal Sora-sensei sendiri sudah memberitahu bahwa kau ingin merahasiakannya–"

"Naruto!" Shikamaru menghentakkan bahu Naruto yang meracau bahkan tanpa mengambil nafas. "Tenanglah, kau bisa menceritakan apa yang terjadi pelan-pelan saja. Aku tak mau berurusan dengan dokter kalau kondisimu memburuk karena kau dengan konyolnya lupa bernafas, kan?"

Shikamaru mencoba meringankan atmosfer di antara mereka, setengah berharap Naruto akan tertawa basa-basi atas lelucon garing itu. Naruto tidak melakukannya. Alih-alih tertawa, pemuda itu malah menatap Shikamaru dengan baby blue eyes-nya yang bulat. Kontan saja, Shikamaru yang tak pernah melihat itu sebelumnya agak terpana. "Kau tidak marah padaku?"

Butuh waktu bagi sang Nara untuk menyadari pertanyaan Naruto itu ditujukan untuknya. Ia mengangkat bahu, "Kau belum selesai bercerita."

"Ah, ya..". Naruto melanjutkan, "Um.. jadi, waktu Hikage sakit, Sora-sensei lah yang memeriksanya. Kemudian kami mengobrol, ia bilang ia teman SMAmu lalu.. aku memintanya menceritakan tentang 'hal' itu –ini bukan salahnya, sungguh, akulah yang memaksanya bercerita."

"Ia menceritakan tentang operasi Temari-san dan ternyata Hikage belum tidur dan mendengar itu semua–"

"Apa? Hikage tahu?" sela Shikamaru.

Naruto mengangguk. "Begitulah..."

".. apa yang dikatakannya? Apa dia marah padaku?"

Kali ini, Naruto menggeleng kencang, mengingatkan Shikamaru akan kucing yang mencoba mengeringkan diri. "Tidak, ia tidak marah padamu. Ia bilang ia memang kecewa karena kau tak memberitahu yang sebenarnya apalagi karena Hikage... er... tidak begitu menyukai Temari-san. Dan ia juga ingin tahu tentang ibu kandungnya, yang sebenarnya.", Naruto cepat-cepat menambahkan. "Tapi selain itu kurasa Hikage menerimanya lebih baik dari yang kuduga.."

Shikamaru menghela nafas lega, "Itu juga lebih baik daripada yang kukira. Awalnya aku tak ingin memberitahunya dulu. Kupikir, akan lebih baik kalau aku menunggu sampai ia cukup dewasa sebelum aku menceritakan kenyataan ini padanya."

"Aku mengerti..." gumam Naruto, hampir menyerupai bisikan. Shikamaru tak mengerti maksud Naruto, tapi tak mempertanyakannya.

Pria brunette itu berdecak, "Kurasa aku harus menghadapinya lebih cepat kalau begitu.. oh, ngomong-ngomong, panggilan itu..?"

"Ah, ya." Naruto teringat. "Ia menanyakan padaku malam itu apa aku mau menjadi kaasan-nya. Kurasa ia menginginkan sosok ibu, walau tak pernah mengatakannya.."

"Dan juga, tak perlu menganggap serius kalau kau mau. Ini kan bukan seperti aku benar-benar akan menjadi ibu Hikage, ia hanya butuh seorang ibu dan aku bisa menjadi satu setidaknya sampai Hikage menemukan sosok ibu lain. Maaf tentang hal ini dan aku benar-benar berharap kau tak keberatan, Shikamaru."

"Ah, tidak.." ucap Shikamaru. "Justru semestinya aku yang berkata seperti itu. Lagipula putraku lah yang merepotkanmu dengan menanyakan pertanyaan seperti itu... aku minta maaf."

"Tidak, sungguh. Hikage anak yang baik, dan kurasa aku juga sudah menganggapnya anak sendiri kok." Tukas Naruto.

Shikamaru tersenyum kecil, "Syukurlah kalau begitu.."

"Kalau begitu, mohon bantuannya, 'Nyonya Nara'."

Naruto –menganggap itu sebagai lelucon– melempar bantal ke arah Shikamaru. Karena ia jelas keberatan dipanggil Nyonya, karena walau bagaimana pun tetap saja ia laki-laki. Tapi Shikamaru tak menganggapnya sebagai lelucon.

Sebenarnya, lebih cenderung ke doa.

.

.

"Hampir kukira ia tak akan keluar dari sini."

Naruto menoleh memandang Itachi yang memasuki ruangan. "Aku baru saja bertanya-tanya kapan kau akan kemari."

"Terima kasih sudah mengusirkan kakakmu untukku, kalau begitu."Itachi berujar acuh, menggeser kursi untuk duduk di samping ranjang.

Alis kanan Naruto terangkat dan menghilang di balik poni pirangnya, "Jangan-jangan kau memang takut pada Kyuubi.."

Itachi memutar mata seakan mengatakan 'Yang benar saja?'

"Jadi? Bagaimana kondisimu?"

"Bukankah kau sudah tahu? Aku yakin Satoru-sensei sudah memberi laporan lengkap padamu." Ketus Naruto.

"Oh? Kau mengenalinya?"

"Tidak juga.. aku mulai curiga karena dia melakukan pemeriksaan menyeluruh, tapi tak mengungkit sama sekali tentang.." Naruto menggantung kalimatnya, tapi Itachi mengerti maksudnya saat tangan tan pemuda itu berada di atas perutnya.

"Kupikir kau tak akan menyadarinya. Karena ia mengenakan masker operasi dan lain-lain waktu itu, tapi itu kemampuan observasi yang cukup bagus." Itachi mengangkat bahu, setengah memuji dan setengah menghina. Naruto membalasnya dengan dengusan dari hidungnya.

"Jadi? Kenapa kau masih ada di sini?"

"Aku tak tenang kalau belum melihatnya langsung." Tukas Itachi.

Naruto menatap tajam Itachi dengan mata baby blue eyes-nya seakan mencoba melihat apakah pria itu jujur atau hanya main-main, seperti biasa. "..kenapa?"

"Terakhir kali aku melihatmu kau sedang sekarat. Wajahmu pucat, gemetaran, berkeringat dingin, nafasmu sepotong-sepotong dan muntah-muntah. Apa salah kalau aku khawatir?"

"..."

"Dan jujur saja, aku ingin menghapus imej-mu yang sedang sekarat itu dari mimpiku."

Naruto nyengir lebar, "Kau memimpikanku? Itu manis sekali."

"Aku memimpikanmu sekarat. Itu sama sekali tidak manis." Komentar Itachi dingin.

"...kau pernah membuatku sekarat.." Naruto bergumam, hampir menyerupai bisikan sementara ia memalingkan wajah. Kali ini, Itachi tak menyahuti, melainkan membiarkan keheningan melingkupi mereka selama beberapa menit.

"Aku sudah minta maaf untuk itu, bukan?" Itachi berkata, sama pelannya dengan Naruto.

"..yah," Naruto semacam menyetujuinya. "Ngomong-ngomong, bisa kau lepas tanganku?"

Itachi sepertinya tidak menyadari bahwa ia menggenggam tangan Naruto, tapi ia melakukannya juga –melepas tangannya– dengan enggan.

"Jadi, bukankah kau hanya ingin melihat kondisiku? Sekarang kau sudah bisa pulang, kan?"

"Kurasa aku bisa di sini lebih lama, menggantikan Kyuubi untuk menjagakanmu."

Naruto mencibir, "Kyuu-nii menjagaku darimu."

Itachi tidak mengatakan apa-apa tentang itu, tapi tetap saja, ia menepati ucapannya. Ia terus berada di kamar, beberapa kali mengobrol dengan sang pasien, dan baru pulang satu jam sebelum Kyuubi datang.

Katakan saja, sampai ia pulang pun Naruto masih tak mengerti alasan kedatangannya.

.

.

Pemuda itu berjalan dengan tegap –penuh rasa percaya diri, ia hampir membuat lorong suram itu terlihat seperti catwalk. Beberapa perawat, pengunjung, atau pasien wanita (dan pria gay) terkesiap melihatnya hingga mereka melupakan apa yang sedang mereka lakukan selama beberapa detik.

Ia berhenti di sebuah lorong bercabang untuk mengecek e-mail yang baru diterimanya tadi pagi dari Anzen. Bocah itu bilang ia sudah pulang ke rumahnya begitu mengetahui bahwa kaasan-nya adalah ibu kandungnya, tapi kaasan-nya malah dirawat di rumah sakit karena menolongnya yang hampir digigit ular. Terakhir, ia mengatakan ia ingin mengenalkan 'Sasuke-ji' dengan kaasan-nya. Rumah sakit swasta Meguro, kamar 1602.

Dan di sinilah ia sekarang.

Ia meyakinkan dirinya bahwa ia melakukannya (menyetir sekitar 3,5 jam untuk mencari rumah sakit yang dimaksud) hanya karena ia sedang senggang. Tugas kuliahnya yang terakhir selesai dengan baik (kalau semua pujian dosennya itu bisa menjadi petunjuk), lebih cepat seminggu dari seharusnya dan karenanya ia punya banyak waktu kosong. Apalagi karena rupanya Naruto mengambil cuti beberapa hari dari pekerjaannya, dan apartemennya kosong setiap kali ia mendatanginya, jadi mungkin pemuda pirang itu sedang piknik entah kemana bersama kakaknya yang protektif.

Well, begitulah.. ia ada di sini HANYA karena ia punya waktu luang. Mana mau ia mengakui bahwa sebenarnya ia sudah lumayan terikat dengan bocah itu. Keponakannya, anak dari kakaknya dan entah siapa-wanita-yang-akan-ia-temui.

Dan ia juga tak akan mau mengakui bahwa dia agak penasaran.. maksudnya, wanita seperti apa yang bisa menarik hati Uchiha Itachi, seorang pria yang hampir aseksual?

Entah mengapa, Sasuke lebih yakin dengan teorinya sendiri; wanita itu berhasil membuat Itachi mabuk atau memberinya obat perangsang. Mereka melakukan one night stand. Wanita itu hamil dan mencoba memanfaatkan hal itu untuk bisa masuk dalam keluarga Uchiha.

Pemuda berambut raven itu tahu bahwa hal itu sangat mungkin terjadi, karena banyak orang yang mencoba melakukannya padanya. Lihat saja nanti, kalau wanita itu benar seperti yang ia pikirkan, Sasuke akan terus memandangnya rendah bahkan sekalipun ia benar-benar BISA menikah dengan aniki-nya.

Ia berhenti. Tepat di depannya adalah sebuah pintu berwarna putih Navajo dengan plat 1602. Ia membuka pintu pelan-pelan, tidak benar-benar ingin membuat siapa pun di dalam ruangan mengetahui kedatangannya.

Nah, itu dia. Berbaring dengan piyama hijau pucat adalah sosok berambut pirang cepak, perempuan itu sedang membelakanginya. Tapi.. ia bukan perempuan. Sasuke menyadari bahwa ia bukan perempuan, ia laki-laki. Dan lebih parahnya lagi, Sasuke mengenal sosok itu sama baiknya seperti Itachi. Kulit tan, mata sebiru samudra, dan goresan di pipi itu.. tidak salah lagi.

Untuk sesaat, pikiran Sasuke kosong ketika mendapati sosok Uzumaki Naruto di kamar, yang semestinya ditempati oleh ibu Anzen. Ia melangkah mundur, untuk mengecek plakat nama yang tertempel di samping pintu, yang sebelumnya ia lewati.

Uzumaki Naruto.

Naruto, tidak salah lagi, memang menempati ruangan itu. Tapi Sasuke masih berkelit. Mungkin kebetulan saja teman pirangnya itu dirawat di kamar yang ia kira dihuni ibu Anzen. Mungkin Sasuke salah ruang. Mungkin Sasuke salah rumah sakit. Mungkin 'ibu' Anzen sudah pulang.

Sang Uchiha jenius memikirkan banyak, banyak sekali kemungkinan yang bisa terjadi. Sayangnya, semua teori itu remuk demi mendengar sebuah panggilan 'kaa-san'. Ia kembali mengintip ke dalam kamar untuk melihat Anzen –yang baru saja menyerukan 'kaa-san'– melompat ke atas ranjang. Naruto menanggapinya dengan tawa riang, mendudukkan tubuhnya dan membiarkan Anzen duduk di pangkuannya.

Sasuke membisu di balik pintu. Begitu ia mendapatkan kesadarannya kembali, ia berjalan keluar rumah sakit dan membuang buket bunga yang dibawanya ke tempat sampah terdekat. Para perawat berbisik-bisik tentang itu, ketakutan melihat sang pengunjung tampan itu diliputi kemarahan...

.

.

"Senang kau sudah kembali." Kyuubi tersenyum, mengacak-acak rambut Naruto hingga adiknya mengerutkan mata.

Naruto nyengir lebar menanggapinya, "Senang sudah kembali, kalau begitu. Ah, ngomong-ngomong, Kyuu. Bagaimana kalau kita makan ramen sebagai perayaan?"

"Baka. Kita tidak bisa makan siang dengan ramen, tahu." Tukas Kyuubi, membuat Naruto menggembungkan pipi. "Tapi kita bisa ke Ichiraku Ramen untuk makan malam."

Mata Naruto berbinar mendengarnya. "Aku sayang sekali padamu, Kyuu-nii!" ujarnya sambil memeluk Kyuubi.

Kyuubi mendengus dengan pipi memerah samar. "Aku sudah pesan makan siang dari foodcourt di bawah. Semestinya mereka datang beberapa menit lagi... ngomong-ngomong, di mana Shikamaru?" tanya pemuda berambut merah itu saat menyadari hanya ada Anzen dan Hikage di belakang Naruto.

"Ah," Naruto berpikir sejenak sambil mengeluarkan isi tas bersama Anzen dan Hikage. "Dia di taman bawah, ia bilang ingin merokok sebentar jadi kami naik ke atas duluan."

Kyuubi mengangguk menanggapi jawaban Naruto, "Kurasa aku juga akan ke bawah, mencari jus. Tidak apa-apakah kau mengurus mereka sendiri?"

"Tak masalah," Naruto mengangguk. "Pastikan saja kalian kembali saat makan siang. Kau tahu sendiri kan, sup kentang dari situ rasanya aneh kalau sudah dingin."

"Dimengerti."

"Oh, dan, Kyuubi?" Naruto menatap kakaknya yang berhenti di ambang pintu. "Berhentilah melamun, belakangan ini kau sering melakukannya. Atau kau bisa menabrak orang."

Kyuubi tidak menjawab, tapi ia memikirkannya sepanjang perjalanannya di lift, kemudian saat membeli sekaleng jus jeruk Dekopon. Dan hampir tak menyadari kalau ia sudah sampai di sebuah taman kecil di samping apartemen, di mana Nara Shikamaru sedang duduk di salah satu bangku. Merokok, dengan pandangan mata lurus ke depan, menatap entah apa.

"Hei," sapa Kyuubi sambil mengambil tempat kosong di samping Shikamaru.

"Oh, kau." Shikamaru kembali memandang ke depan setelah menyadari siapa yang menyapanya. "Kau ke sini? Naruto dan bocah-bocah itu–"

"Mereka di atas," Kyuubi menyahuti. "Aku tak tahu kau merokok."

"Hanya untuk melepas stres.. aku tak pernah melakukannya di depan Hikage, lagipula." tukas Shikamaru sambil menghembuskan asap.

Selama beberapa menit mereka berdua hanya diam sambil menatap ke depan, menyibukkan diri dengan benda di tangan masing-masing, diliputi oleh pikirannya sendiri. Hingga akhirnya Kyuubi memutuskan untuk memecahkan keheningan, ia mendongak dan berkata, "Jadi," ia memulai. "Sudah berapa lama kau tahu?"

"Berapa lama aku tahu apa?" kemudian Shikamaru menyadari mata Kyuubi yang menatapnya tajam.

Kyuubi menenggak kalengnya sebelum melanjutkan, "Bahwa Naruto adalah ibu kandung Hikage, tentu saja."

.

.

.

Hime pengen tahu, bagaimana pendapat kalian tentang kalimat Kyuubi di atas? Jadi, silahkan review kalo berkenan! ^^

Balesan review non-login

MegaloveHyukNaru

Makasih banyak udah review ^^

Ayahnya Anzen masih belum terbongkar, Hime masih nunggu waktu. Tapi untuk ibunya Hikage... hehehe, tergantung reaksinya Mega-chan atas kalimatnya Kyuubi barusan.

Hime harap chapter ini ga terlalu lama, ya. Hime udah berusaha update cepet ni. :D

Guest

Makasih Jos gandosnya. Wkwkwk X3

Ngga mati, kan? dan Hime bahkan ngga ngelihatin waktu dia kritis buat nyingkat waktu. :P

Nih udah Hime update ~~ silahkan RnR kalo sempet~

MORPH

Arigatou ^^ silahkan RnR lagi kalo bersedia :D

Niel

Hime harap ini cukup cepet.. belum ada 2 minggu sejak terakhir review, kan? XD

Makasih reviewnya, silahkan RnR kalo bersedia

sea07

Gomen.. chap kemarin kan Hime udah ijin buat persiapan UN DX

Chapter ini kan cepet? Kayaknya belum ada 2 minggu sejak terakhir Hime update..

Thanks for ur review, silahkan RnR kalo bersedia~ :D

everbeenhere

Aw, am I really making everyone wait THAT long? Apa chapter ini masih update lama? Hime udah berusaha cepet bikin chapter ini lo =,=

Thanks for ur review, silahkan RnR kalo ada waktu

RANadAU

Makasih reviewnya, silahkan RnR lagi kalo bersedia X3