Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura
Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.
.
.
Peringatan..!
Fic ini mengandung unsur dewasa meskipun 'mungkin' adegan kekerasan 'mungkin' kehidupan yang tidak patut tiru 'hanya yang unsur negatif saja tidak boleh' bijaklah menjadi seorang reader, author sudah peringatkan sejak awal, jika ada hal yang mengganjal dari fic ini, maka baca kembali peringatannya. XD
.
.
Don't Like Don't Read !
.
.
~ Mafia ~
[chapter 10]
.
.
.
"Baik, akan aku lakukan tuan." Ucap Zabusa.
Pria itu menatap layar ponselnya, dia sudah mendengar perintah langsung dari Kizashi, memijat pelan pelipisnya, sudah jam 10 malam, Zabusa tengah duduk sofa ruang tengah.
"Kau belum tidur?" Tegur seseorang. Zabusa menoleh dan mendapati nona mudanya.
"Sebentar lagi." Ucap Zabusa. Sakura berjalan dan duduk di sebelah Zabusa.
"Aku sudah menghubungi Haku, dia katakan semua baik-baik saja di sana. Beberapa pekerja awalnya tidak setuju, tapi akhirnya mereka mau dengan perubahan dan sistem baru di perusahaan." Ucap Sakura.
"Aku turut senang mendengarnya." Ucap Zabusa, meskipun dia mengatakan hal itu, raut wajahnya sama sekali tidak terlihat senang, dia seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Ada apa? Apa sesuatu tengah mengganggu pikiranmu?" Ucap Sakura.
"Tidak. Sebaiknya nona segera tidur." Ucap Zabusa.
"Baiklah. Selamat malam." Ucap Sakura. beranjak dari sofa menuju kamarnya.
"Hn, selamat malam." Ucap Zabusa. Menatap nona mudanya pergi, tangannya mengepal, apa yang akan di lakukannya sekarang? Perintah langsung untuk melenyapkan mata-mata seorang anbu di perusahaan Haruno cabang Konoha, tanpa di suruh mencari, Zabusa sudah mengetahui siapa orangnya, dia yang sudah membuat Yamato masuk ke dalam perusahaan itu dan dia juga harus menghabisinya. Ini tidak sesuai rencananya, dia berada di bawah pengawasan Sakura saat ini. Tidak ada pilihan atau jalan lain, Zabusa harus melakukannya.
.
.
.
.
.
.
"Selamat pagi." Ucap Ino. Dia baru saja tiba di kelas.
"Selamat pagi." Ucap Sakura, dia sudah berada di kelas beberapa menit lalu.
"Mana Lee? Anak itu selalu saja terlambat, apa yang dia lakukan akhir-akhir ini?" Ucap Ino.
"Katanya dia tengah bermain game, setiap malamnya dia akan begadang dan tidur kepagian." Ucap Sakura.
"Dasar, aku sudah menyuruhnya mencari pacar malah bermain game." Ucap Ino, sarannya di abaikan.
"Sudahlah, lagi pula pacar pun tidak bisa di paksakan?" Ucap Sakura.
"Dia selalu mengeluh tentang dirinya yang tidak berguna, gadis-gadis yang tidak tertarik padanya, aku capek memberinya saran." Ucap Ino.
"Selamat pagi, hoaaam...~" Ucap Lee, dia baru tiba, ada lingkaran mata panda yang cukup mencolok di wajahnya. Duduk di kursinya dan membaringkan kepalanya.
"Jangan tidur!" Teriak Ino di telinga Lee.
"Hoaa..! Ino, jangan teriak seperti itu." Ucap Lee, kaget dengan teriakan keras tadi.
"Apa? seharusnya kau melakukan saranku." Ucap Ino.
"Sudah, aku sudah melakukan saranmu." Ucap Lee.
"Benarkah?"
"Ya, pacar dalam virtual game." Ucap Lee dan malah mendapat jitakan keras di kepalanya. "Sakit! Apa kau tidak bisa lembut padaku?" Rengek Lee.
"Bukan pacar seperti itu, tapi, ah! Sudahlah, kau membuatku kesal." Ucap Ino, memilih duduk di kursinya dan mengabaikan Lee.
"Sudah-sudah, masih pagi dan kalian bertengkar." Ucap Sakura.
"Kau sih enak, langsung tembak dapat, aku tidak sama sepertimu." Ucap Lee pelan.
"Apa katamu?" Ucap Ino, dia akan naik darah lagi.
"Ino, sabar." Ucap Sakura.
.
.
Kediaman Uchiha
Sarapan di pagi hari, setidaknya hari ini meja makan lengkap, Mikoto, Sasuke, Izuna dan Itachi. Kadang di pagi hari hanya Sasuke yang sarapan atau kadang Mikoto dan Sasuke, Izuna dan Itachi sangat jarang berada di rumah.
"Aku sudah jarang melihat gadis itu." Singgung Itachi, Sasuke menatap Itachi sejenak dan kembali fokus pada makanannya. "Ada apa ini Sasuke? Kau tidak bersamanya lagi? Atau mengajaknya jalan-jalan?" Itachi kembali memancing adik bungsunya itu.
"Aku bahkan belum mengenalnya, aku hanya sempat melihatnya saat pemakaman." Ucap Izuna.
"Ibu sempat bertemu dengannya di rumah sakit, setelah itu tidak lagi." Ucap Mikoto.
Mereka bertiga sangat kompak untuk menggoda Sasuke, dia harus tenang dan tidak ingin kesal di hadapan semuanya, mau berapa kali di usahakan, Sasuke tetap tidak bisa bertemu dengan Sakura, mengingat kembali saat di rumah sakit, gadis itu hanya meminta maaf, ucapan itu membuat Sasuke menjadi tenang, dia akhirnya tahu jika Sakura tidak benar-benar membencinya, tapi sejujurnya permintaan maaf Sakura bukan tentang sikap menghindarnya, sikap ayahnya yang membuat Sakura harus meminta maaf, meskipun dia yang tidak harus melakukan itu, Sasuke belum mengetahui hal yang sebenarnya.
"Dia hanya terdiam." Itachi berbisik pada Izuna. Sasuke malah melamun.
"Sudah, jangan mengganggu adikmu lagi." Bisik Mikoto.
Sarapan berakhir, Sasuke bergegas pergi sekolah, dia mengabaikan semua ucapan ibu dan kakak-kakaknya.
.
.
Pelajaran telah usai, Sakura akan pulang lebih dulu, pamit pada Ino dan Lee, dia akan mendatangi perpustakaan pribadi milik Amai.
"Selamat datang, oh apa kabar Sakura? akhirnya kau datang lagi." Sapa Amai ramah.
"Iya, kebetulan aku punya sedikit waktu dan ada buku milikmu yang belum sempat selesai aku baca." Ucap Sakura.
"Silahkan, akan ku bawa pesananmu ke atas." Ucap Amai.
"Terima kasih, seperti biasa saja." Ucap Sakura, berjalan naik ke lantai dua.
Setelah gadis itu sudah menghilang, Amai mengirim pesan pada Sasuke. Dia sudah di minta tolong oleh Sasuke, jika gadis itu datang berkunjung, Amai akan menghubunginya
:: Amai.
Sakura ada di sini.
Pesan yang singkat, Sasuke bergegas menyambar tasnya dan keluar dari kelas, guru belum masuk dan Sasuke akan bolos, Sai menatapnya sejenak, sedikit penasaran kemana Sasuke akan pergi, dia pun beranjak dan kursinya dan mengikuti Sasuke. Tidak ada ucapan apa-apa, membuat teman kelas Sasuke yang lainnya saling bertatapan, mereka tidak tahu jika Sasuke akan bolos, tidak biasanya seorang murid terpintar di sekolah itu akan menjadi sedikit nakal dengan meninggalkan jam pelajaran yang belum berakhir.
Sai berhenti di sebuah cafe, Sasuke tadi masuk ke dalam sana, Sai masuk dan tidak menemukan orang yang mirip Sasuke. Berjalan menghampiri meja seorang pegawai di dalam cafe itu.
"Apa Sasuke ada di sini?" Tanya Sai.
"Kau mencari Sasuke? Tapi mungkin kau tidak bisa bertemu dengannya saat ini, dia melarang siapapun untuk naik di ke atas." Ucap Amai, ada sebuah tanda larang di tangga agar siapapun tidak naik ke atas.
"Oh, baiklah, aku akan menunggunya, bisa membuatkanku sesuatu yang enak?" Ucap Sai, dia akan menunggu Sasuke.
"Tentu." Ucap Amai dan tersenyum ramah.
Sementara itu.
Sakura terdiam dan tidak bisa bergerak, Sasuke menghalanginya untuk pergi.
"Sa-Sasuke." Ucap Sakura, dia tidak percaya jika Sasuke mendatangi cafe ini, tatapannya terlihat sangat kesal.
"Cukup. Jangan lari lagi." Ucap Sasuke. Menatap tajam ke arah Sakura.
"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu." Ucap Sakura, mengalihkan tatapannya dari mata onyx itu.
"Mari kita membuat kesepakatan, aku tidak akan bertanya apapun padamu dan kau tidak perlu menghindari dariku. Sepakat?" Ucap Sasuke, dia sudah cukup muak untuk mencari Sakura.
"Tidak, seharusnya kau tidak di sini." Ucap Sakura, mencoba mendorong Sasuke.
"Tidak bisa, kenapa dia jadi kuat seperti ini" Batin Sakura.
Mau mencoba membuat Sasuke pingsan namun pukulannya di tangkis. Sakura tidak bisa berbuat apa-apa lagi, menatap sejenak ke wajah Sasuke, dia terlihat marah.
"Baik, jika kau tidak ingin kesepakatan itu, aku akan bertanya padamu." Ucap Sasuke, dia sudah berusaha menahan diri.
"Jika kau tidak membenciku, apa alasanmu untuk menghindar?" Ucap Sasuke.
"Ti-tidak ada alasan khusus." Ucap Sakura.
"Hn?"
"Tidak ada! Aku tidak memiliki alasan apapun untukmu." Ucap Sakura.
"Aku tidak akan melepaskanmu jika tidak ada alasan yang berarti darimu." Ucap Sasuke, terdengar seperti sebuah ancaman.
Wajah Sakura tertunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca, sebuah kebohongan besar dan kebenaran, Sakura sudah memegang semua kunci itu, tapi apa yang di perbuatnya? Dia tidak bisa apa-apa, mengatakannya sekarang pada Sasuke pun, Sakura tidak punya cukup bukti, dia belum bertemu dengan pesuruh ayahnya yang melenyapkan nyawa ayah Sasuke.
"Beri aku waktu untuk berpikir." Ucap Sakura, dia tidak harus berbicara apalagi pada Sasuke.
Tidak ada ucapan balasan dari Sasuke, menarik pelan tubuh gadis di hadapannya dan memeluknya erat, dia sungguh merindukan gadis ini, perasaannya tidak bisa berbohong.
"Dan beri aku waktu untuk bersamamu." Ucap Sasuke.
"Kau akan kecewa padaku." Ucap Sakura, menenggelamkan wajahnya di dada Sasuke, merasa Sasuke seperti ingin menenangkan dirinya.
"Aku tidak akan pernah kecewa padamu." Ucap Sasuke, pelukkanya mengerat.
"S-Sasuke, sesak." Ucap Sakura. Menepuk-nepuk punggung Sasuke. pelukkan itu melonggar, mereka saling bertatapan, wajah Sakura mulai merona, kenapa di saat seperti ini Sasuke malah memeluknya. "Aku sedikit sibuk, bisakah kau tidak menggangguku sejenak." Pinta Sakura, sedikit malu dan tidak bisa menatap wajah Sasuke langsung.
"Hn, aku akan pergi dan tidak mengganggumu, tapi kau tidak boleh menghindari lagi." Ucap Sasuke. Sakura mengangguk pasti, berharap keputusannya ini akan baik-baik saja.
Sebuah usapan pelan di puncuk kepala Sakura, pemuda itu beranjak pergi, dia sudah mendapat jawaban Sakura agar tidak menghindar darinya, hal itu membuatnya sedikit tenang.
Sasuke sudah menghilang dari lantai dua, tangan gadis itu bergerak dan memegang kembali puncuk kepalanya, di sana tadi ada tangan Sasuke, jantungnya berdetak sedikit cepat dan wajahnya kembali merona.
A-apa tadi? Kenapa rasanya ada yang bergejolak di dadaku?
Menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ini bukan apa-apa, aku hanya sedikit terkejut, debaran ini hanya karena aku takut untuk mengucapkan keberanan padanya, yaa, hanya itu, tidak mungkin kan, aku-
Melepaskan kedua tangannya dari wajahnya.
Menyukainya? Heee...! Tidak mungkin kan! Jangan terjebak Sakura!
Perasaan dan batin yang tengah berdebat sendiri, gadis ini sampai di buat bingung dengan perasaannya sekarang.
Di lantai 1 cafe Amai.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Ucap Sasuke.
Sai spontan menyemburkan minumannya.
"Eh? Sasuke? tumben kita bertemu. Heheheeh." Ucap Sai.
"Dia tadi mencarimu, tapi aku melarangnya naik ke atas." Ucap Amai.
Perasaan Sai jadi tidak enak, wajah Sasuke terlihat datar dan seakan berada di kutub utara, Sai sudah salah langkah, seharusnya dia hanya menunggu di luar.
"Kau mengikutiku?" Ucap Sasuke.
"Ah? Yang benar saja, tidak-tidak, eh, Sakura! hai." Ucap Sai, Sasuke menoleh dan tidak ada siapa-siapa di belakangnya, melihat ke depan dan Sai sudah kabur.
"Hahaha, temanmu itu aneh juga yaa." Ucap Amai, cukup terhibur melihat tingkah mereka.
"Dia bukan temanku." Ucap Sasuke dan beranjak pergi.
"Eh? Sudah mau pulang? Bagaimana dengan Sakura?" Ucap Amai.
"Kami akan bertemu lagi, dia sedang sibuk di atas, dah." Ucap Sasuke. Dia sudah berjalan keluar cafe.
Oh, sudah baikkan yaa, baguslah.
Amai turut senang mendengar ucapan Sasuke..
.
.
.
.
.
Gedung perusahaan Haruno-Konoha.
"Panggil kepala pimpinan kalian! Aku tidak takut! Kenapa kalian suka mengambil milik orang lain seenaknya saja! Apa karena kami orang kecil ha!"
Terdengar suara ribut-ribut seorang pria di depan kantor perusahaan Sakura, beberapa orang mengerumuninya dan satpam memintanya untuk tenang, pria itu berbicara cukup keras, dia ingin pemimpin perusahaan ini mendengar ucapannya.
Sakura yang baru saja menyelesaikan rapatnya, berjalan keluar ruangan rapat di lantai 1, tatapannya teralihkan dengan banyak orang yang mengerumuni pintu masuk.
"Ada apa?" Ucap Sakura.
"Seorang pria sedang mengamuk, katanya perusahaan kita mengambil hak tanah miliknya." Ucap seorang pegawai.
Hak tanah? Aku tidak pernah mengambil tanah millik orang tanpa persetujuan mereka. Kenapa ini bisa terjadi?
Sakura bergegas mendatangi kerumunan itu. Dia harus mendengarnya secara langsung.
"Panggil pemimpin kalian!" Teriak pria itu lagi.
"Maaf, anda tolong jangan membuat keributan di sini, ini kantor dan bukan lapangan sepak bola." Ucap Sakura, menatap serius ke arah pria itu.
"He, mau apa kau gadis kecil, ini bahkan bukan tempatmu, pergi dan bermainlah dengan teman-teman sekolahmu." Ucap pria itu, meremehkan Sakura.
"Aku pemimpin perusahaan ini, anda perlu apa?" Ucap Sakura, tegas.
"Oh jadi kau!" pria itu berlari dengan cepat, seakan ingin memukul gadis itu, langkahnya terhenti, Yamato berdiri di depan Sakura menghalangi pria itu, 3 orang lainnya yang berbadan lebih besar menahan pergerakan pria itu.
"Anda baik-baik saja nona?" Ucap Yamato, merasa bos mudanya ini cukup berani
"Ah, aku baik-baik saja." Ucap Sakura. Dia bisa dengan muda melumpuhkan pria itu, tapi di sini banyak pengawal dan mereka tidak akan tinggal diam melihat Sakura yang akan di serang.
"Lepas! Lepaskan aku! Kau hanya anak kecil! bermain-main dengan perusahaan besar! Tahu apa kau tentang mengambil hak milik! Ini bukan permainan! Kembalikan surat tanah keluargaku!" Pria itu berusaha mengamuk.
Sakura menggerakkan tangannya perlahan, membuat salah seorang pengawal mengerti, memikul pria itu agar pingsan dan membawanya masuk ke dalam kantor.
"Kembalilah bekerja, pria ini akan ku atasi." Ucap Sakura.
Semua pegawai mulai beranjak, meninggalkan pintu masuk, Sakura menyuruh ketiga pengawal itu untuk membawa pria yang sudah pingsan ke dalam salah satu ruangan, Sakura tidak ingin ada suara ribut-ribut lagi di depan perusahaannya, membuat kepalanya cukup sakit.
Detik-detik berlalu, pria itu sudah sadar, menatap ke depan, Sakura terlihat tenang menunggunya sadar, ingin mengamuk lagi, tangan dan kakinya sudah di ikat di kursi.
"Kau-"
"-Tenanglah, aku akan melepaskan anda, tapi tolong jangan berteriak lagi dan membuat suara ribut di sini, aku akan mendengarkan anda dengan baik." Ucap Sakura, berusaha menenangkan pria yang jauh lebih tua darinya. Pria itu mengangguk perlahan, dia sedikit merasa lelah sudah membuat gaduh sejak tadi. Para pengawal Sakura membuka tali pengikat pada tubuh pria itu, tidak menjaga jarak, mereka berdiri tepat di belakang pria itu, agar dia tidak berulah lagi. "Terima kasih, anda mau mendengarkanku." Ucap Sakura.
"Kau masih terlalu muda untuk sebuah perusahaan besar, apa kau tidak tahu jika menggunakan surat palsu itu melanggar ham, bahkan anak buahmu mengambil surat tanah asli milik keluargaku." Ucap pria.
"Sepertinya sedang terjadi kesalahpahaman, aku pikir anda benar-benar menyerahkan surat tanah milik anda, baiklah, aku akan mengembalikannya, bisakah anda memberi tahu ciri-ciri orang yang mengambil surat tanah milik anda?" Ucap Sakura.
Pria itu mulai menceritakan sekitar 5 orang pria yang datang dan menggeledah rumahnya, mereka mengancam dan mengambil secara paksa surat milik tanahnya, mereka bahkan mengatasnamakan perusahaan Haruno, Sakura mendengar semua kesaksian pria itu, meminta Yamato yang berdiri di sebelahnya untuk mengambil surat tanah yang baru-baru saja di serahkan kepada Sakura.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, aku benar-benar minta maaf atas kejadian ini." Ucap Sakura dan membungkuk di hadapan pria itu.
"Ba-baiklah, terima kasih sudah mengembalikannya." Ucap pria itu dan bergegas pergi, raut wajahnya menjadi tenang, dia tidak menyangka jika gadis itu bukan pelakunya tapi para pesuruhnya yang salah paham.
Keadaan ruangan kembali tenang, Sakura memijat pelan pelipisnya, dia tidak sadar jika akan ada yang menyabotase keadaan perusahaannya.
"Seseorang sedang ingin menghancurkan nona." Ucap Yamato.
"Ah, aku tahu, mereka benar-benar membuatku kesal, cari mereka dan bawa kepadaku." Ucap Sakura, memerintah beberapa pengawal yang ada di ruangan itu, mereka beranjak pergi dan mulai mencari 5 orang yang sudah membuat Sakura sakit kepala.
.
.
Di dalam sebuah ruangan, 5 orang yang di mintai Sakura sudah di kumpul, mereka di ikat dan di bawa paksa. Beberapa pria yang menjadi pengawal mengawasi setiap sudut ruangan.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian untuk mengambil tanah milik orang lain secara paksa?" Ucap Sakura, dia harus tenang menghadapi orang-orang seperti ini.
"Kami tidak akan memberitahukannya." Ucap salah satu dari mereka. Tidak ada ucapan balasan dari Sakura, dia hanya meminta para pengawal memukul mereka agar segera mengaku.
Hari ini Sakura benar-benar muak di buatnya, dia tidak ada waktu, berjalan meninggalkan pria-pria itu, mereka akan tetap disiksa sampai mau mengaku.
"Baiklah! Kami mengaku! Tuan Zabusa! Tuan Zabusa yang menyuruh kami!" Teriak salah satu dari mereka. Sakura menghentikan langkahnya dan berbalik menatap mereka.
"Tuan Zabusa meminta kami untuk membuat perusahaan yang sedang di pimpin nona menjadi hancur."
Tatapan Sakura cukup terkejut, setelah mendengar ucapan mereka, Sakura kembali berjalan, meninggalkan ruangan itu. Memikirkan ucapan pria-pria itu, apa Zabusa sungguh pelakunya, saat ini Zabusa sudah menjadi kaki tangan Sakura dan tidak mungkin Zabusa mengkhianatinya, ini sungguh konyol.
.
.
Keadaan sedikit kacau, Sakura meninggalkan perusahaan sejenak, meminta Yamato yang mengurusnya, Zabusa sedang pergi entah kemana, gadis ini belum mau pulang dan memilih berjalan di tengah kota, suasana malam yang cukup ramai.
"Kau bisa mengajakku jika sedang keluar." Ucap seseorang. Sakura berbalik dan mendapati Sasuke di sana, kebetulan sekali mereka bisa bertemu.
"Uhm, lain kali saja, aku hanya sedang berjalan-jalan santai." Ucap Sakura.
"Oh, mau mampir ke cafe Amai?" Ucap Sasuke.
"Boleh." Ucap Sakura, mengikuti Sasuke.
Tiba di cafe Amai, mereka berdua akan memilih lantai dua seperti biasanya, Amai terlihat senang melihat mereka bersama, jauh lebih baik. mereka menjadi akrab kembali.
Sakura hanya duduk termenung di kursinya, suasana malam hari bisa di lihat jelas dari jendela lantai dua gedung milik Amai, tatapannya mengarah ke luar jendela, Sasuke yang duduk di hadapannya bisa menatap gadis ini, tidak biasanya dia kadang akan mengitari setiap rak untuk mengambil buku, menumpuk buku di meja dan mulai membacanya, pikirannya seperti entah berada di mana.
"Sakura?" Panggil Sasuke.
"Hm?" Dia hanya bergumam.
"Apa hari ini kau absen membaca?" Ucap Sasuke.
"Aku sedang tidak ingin melakukan apapun." Ucap Sakura, mengurus perusahaan cukup membuatnya kewalahan, belum lagi dia harus menyortir satu persatu data yang masuk, Sakura tidak ingin kecolongan lagi terhadap kejadian yang sudah terjadi beberapa waktu lalu. Perusahaannya akan kembali seperti semula jika banyak pihak yang kembali berbuat hal yang berbau ilegal, gadis ini belum memastikan jika benar Zabusa pelakunya, dia cukup mempercayai pria yang sudah bersamanya sejak lama.
"Kau terlihat lelah." Ucap Sasuke, tangan itu menyentuh pipi Sakura, membuat gadis itu cukup terkejut dan menatap Sasuke.
"Aku baik-baik saja." Ucap Sakura, menundukkan wajahnya. Sasuke tidak perlu mengetahui semua yang telah di lakukannya. Dia masih punya hal yang harus di ceritakannya pada Sasuke ketika dia sudah siap untuk menceritakannya. "Bagaimana kabar bibi Mikoto?" Ucap Sakura. Sudah lama sekali Sakura tidak pernah bertemu lagi dengan dokter cantik itu.
"Ibu baik-baik saja, dia ingin bertemu denganmu." Ucap Sasuke, tangannya sudah menghilang dari pipi Sakura.
"Oh, mungkin, uhm... kapan-kapan aku bisa berkunjung ke rumahmu." Ucap Sakura, wajahnya terlihat malu, dia menawarkan diri untuk berkunjung.
"Ide yang bagus." Ucap Sasuke, wajahnya terlihat senang.
.
.
Sakura merasa ini cukup terburu-buru, dia tidak tahu jika Sasuke akan langsung menghubungi Mikoto yang kebetulan sedang tidak bertugas, mereka bisa makan malam bersama meskipun telat, Mikoto berusaha mempersiapkan apapun dengan cepat.
"Maaf yaa, Sasuke mengajakmu dadakan seperti ini." Ucap Mikoto.
"Tidak masalah, aku yang merasa merepotkan bibi." Ucap Sakura.
Sasuke melirik ke sana kemari, memicingkan matanya di setiap sudut ruangan, rumah sedang aman, kedua kakaknya tidak berada di rumah dan tidak akan mengganggunya yang sedang membawa Sakura tiba-tiba ke rumah.
"Ada apa Sasuke?" Tanya Mikoto,
"Bukan apa-apa." Ucap Sasuke.
Mereka sudah berada di meja makan, makan malam bertiga, Mikoto sesekali akan bertanya Sakura, gadis itu akan menjawabnya dengan tenang dan selalu sebuah senyum menghiasi wajahnya, Sasuke akan selalu memandangi gadis ini.
Makan malam berakhir, hari sudah sangat malam, Sakura sudah menghubungi ibunya jika dia akan telat pulang, Sasuke akan mengantar, karena sudah larut, mereka akan menaiki sebuah mobil, pamit sopan pada Mikoto, Sakura merasa cukup senang bertemu Mikoto dan juga sempat berdoa pada altar Fugaku, dia sudah bertekad akan menyelesaikan masalah keluarganya, sepanjang perjalanan Sakura terdiam, dia masih memikirkan untuk membalas ayahnya, apa yang harus di lakukannya, takdir sebagai keluar mafia sudah mendarah daging pada keluarganya, Sakura hanya ingin mengubah pandangan orang-orang tentang mafia, tapi hal itu cukup sulit, mengingat mafia adalah julukan untuk kelompok yang sangat berbahaya di kota Konoha.
"Kau melamun sepanjang perjalanan." Tegur Sasuke, mereka sudah sampai.
"Ah, maaf." Ucap Sakura, melirik ke depan jika pagar rumahnya sudah dekat. "Terima kasih untuk hari ini." Ucap Sakura, ajakan Sasuke membuatnya sedikit rileks dari masalah yang tengah di hadapinya di perusahaan. Mereka saling bertatapan dan terdiam satu sama lain.
"Aku tidak keberatan jika kau sedang dalam masalah, kau bisa menghubungiku, jangan terus-terusan mengalihkan panggilanku." Ucap Sasuke.
"Hehehe, baik-baik." Ucap Sakura, dia merasa sedikit bersalah, dulunya, Sakura tidak akan pernah mengangkat telpon dari Sasuke, malah nomer pemuda itu di alihkannya.
Menarik pelan tubuh gadis itu dan memeluknya erat.
"Untuk saat ini aku tidak bisa memahamimu, tapi aku ingin selalu bisa berada di sampingmu dan membantumu sebisaku." Ucap Sasuke, pelukkannya mengerat. Sakura sudah kaget setengah mati, tangannya ingin mendorong pemuda itu, tapi perasaannya menghentikan niatnya, Sakura membiarkan pemuda itu memeluknya. "Apa aku mengganggumu?" Ucap Sasuke, dia belum melepaskan pelukkannya.
Sakura menggelengkan kepalanya cepat, Sasuke bukan pengganggu untuknya, dia hanya terlalu membetengi diri untuk pemuda yang mendekatinya.
"Mungkin aku yang salah paham." Ucap Sasuke, melonggarkan pelukkannya dan menatap Sakura, wajah gadis itu merona, jantungnya sudah deg-degan, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Sasuke memajukan wajahnya perlahan, merasa jika Sakura tidak akan menolaknya kali ini. Tangan gadis itu menutup bibirnya, dia belum siap, Sasuke memundurkan wajahnya. "Maaf." Ucap Sasuke, kembali memperbaiki posisi duduknya, dia tidak akan terburu-buru lagi.
Cup..~
Sebuah kecupan di pipi Sasuke, gadis itu sudah membuka pintu mobil dan berlari keluar. Memikirkan tingkah konyolnya, dia sudah berani mencium pipi Sasuke. Pemuda itu terdiam sejenak, memegang pipinya, di sana ada bekas bibir Sakura, sebuah senyum di wajahnya, Sakura tidak menolaknya, tapi dia memiliki cara tersendiri untuk menyampaikan perasaannya.
Bodoh, apa yang sudah kau lakukan Sakura.
Sakura berjalan cepat, pintu gerbang di buka dan dia sudah berlari masuk, wajahnya sangat merona, dia harus menenangkankan dirinya, jantungnya berdetak semakin cepat saat ini.
"Sakura?" ibunya menghentikan gadis ini berlari.
"I-ibu, belum tidur?" Ucap Sakura.
"Ibu masih menunggumu." Ucap Mebuki.
Gadis itu berlari dan memeluk erat ibunya, Mebuki cukup terkejut, anaknya ini tiba-tiba saja memeluknya.
"Ada apa?" Ucap Mebuki.
"Tidak, aku hanya sedikit senang hari ini." Ucap Sakura, menyembunyikan wajah malunya. Mebuki tersenyum mendengar ucapan anak gadisnya itu, dia jauh lebih baik saat Mebuki tidak kemana-mana lagi dan menatap di rumah.
.
.
.
.
.
Kegiatan sekolah yang singkat dan kegiatan kantor yang panjang, Sakura sudah menyortir setiap data yang masuk ke perusahaannya, mengembalikan beberapa tanah hasil jarahan, dia tidak bisa diam dengan tugas beberapa orang yang sangat bertentangan dengan permintaannya. Membuka beberapa arsip data, matanya tertuju pada selembaran surat tanah. Surat tanah yang sama persis dengan alamat rumah Tenten, Sakura tidak pernah melupakan rumah sahabatnya itu.
Bagaimana surat tanah ini berada di sini? Jangan-jangan, apa ayah Tenten termasuk orang yang di singkirkan ayah, sial! Kenapa aku tidak menyadari hal ini, dan sekarang tanah itu menjadi sebuah toko, jika saja, jika saja aku mengetahui semua ini sejak awal, Tenten tidak akan pindah dari Konoha.
"Ada apa nona?" Ucap Yamato.
"Besok aku akan ke Kirigakure, tolong beri surat ijin pada sekolah." Ucap Sakura.
"Baik nona." Ucap Yamato. Menatap gadis itu, dia sedang merencanakan sesuatu, Yamato pun tidak bisa membacanya, dan juga pria yang bernama Zabusa itu tidak terlihat beberapa hari ini.
"Yamato, apa masih ada hal yang mengganjil di data perusahaan, haa..~ kita harus segera membersihkannya." Ucap Sakura.
"Tidak ada nona, semua data perusahaan sudah beres anda bisa pergi dengan tenang, aku akan yang mengurus sisanya." Ucap Yamato, dia sangat mudah mendapat informasi di sini.
Sakura kembali mengingat dengan orang-orang suruhannya, mereka menuduh Zabusa dan pria itu belum di lihatnya beberapa hari terakhir ini, Zabusa akan menghubunginya dia pergi ke sesuatu tempat.
"Apa Zabusa sudah kembali?" Tanya Sakura.
"Belum nona, saat ini pun aku tidak pernah melihatnya sejak seminggu yang lalu." Ucap Yamato.
Zabusa kemana lagi? Jika dia menghilang seperti ini, aku jadi semakin curiga padanya, kenapa di saat seperti ini dia tidak ada.
.
.
Sementara itu,
Zabusa berada di Kumogakure, menemui Haku secara diam-diam dan menceritakan apa yang sudah terjadi, mereka akan saling berbagi informasi.
"Mereka bahkan menuduhku yang menyuruh mereka mengambil tanah pria itu secara paksa." Ucap Zabusa, merasa cukup kesal, dia tidak ingin kehilangan kepercayaan Sakura.
"Kau harus semakin berhati-hati, aku rasa orang-orang tuan besar yang mencoba memprovokasikan keadaan, kau tidak memberitahu pada nona jika kau kemari? Keadaan perusahaan disini sudah terkendali olehku, awalnya mereka sangat marah, aku jadi kesulitan, untung saja nyonya besar berbicara pada mereka." Ucap Haku, menceritakan semua hal yang terjadi sejak pemindahan pemegang saham terbaru.
"Sepertinya kawan pun akan menjadi musuh, saat ini targetku adalah Yamato, aku tidak tahu harus berbuat apa? rencana awalku untuk membongkar semua sindikat tuan besar, namun yang terjadi mereka jauh lebih cepat menyadari keadaan." Ucap Zabusa, dia sudah sengaja merencanakan keadaan ini, agar Yamato sendiri yang menemukan informasi itu.
"Ada penyusup mata-mata tuan besar, kau sudah mencarinya?" Ucap Haku.
"Aku tidak bisa menemukannya, mungkin saja dia orang yang terlihat biasa atau di sangat jarang berada di pengawasanku, tuan jauh lebih berbahaya, dia memiliki banyak kaki tangan tanpa di ketahui." Ucap Zabusa.
"Sebaikanya kau berhati-hati pada Kabuto, aku mendapat informasi jika dia akan mengambil posisimu, berada di sisi tuan, dia jauh lebih licik." Ucap Haku.
"Hmm, aku tidak akan tinggal diam jika dia mulai bergerak, sekarang ini, aku harus mencari cara agar Yamato selamat dan semua informasi di dapatnya, apa aku harus berbuat curang?" Ucap Zabusa dan tersenyum miring.
"Lakukan sesukamu, tapi kau harus tetap melihat situasi." Ucap Haku.
"Baiklah, untuk saat ini, kau harus menemaniku sebelum pulang." Ucap Zabusa, menggoda Haku.
"Aku sedang sibuk pergi sana!" Ucap Haku dia sudah kabur sebelum Zabusa melancarkan aksinya.
Pria itu tersenyum dan kembali tenang, dia harus kembali secepatnya dan memberi peringatan pada Yamato secara diam-diam.
.
.
.
.
.
Kirigakure.
Menghela napas, gadis ini sudah berada di depan warung ramen sederhana, dia berhasil menemukan alamat Tenten di Kirigakure, tentu saja dengan bantuan orang-orang yang tunduk pada Sakura dan berada di cabang daerah ini. Menggeser pintu kayu itu dan terdengar sebuah suara yang sangat familiar di telinga Sakura.
"Selamat da-tang." Ucapan gadis bercepol dua ini sempat terpotong, menghentikan semua kegiatannya dan berlari cepat ke arah Sakura, memeluk sahabat lamanya itu. "Sakura, kau datang? Aku senang sekali." Ucap Tenten.
"Aku juga, lama tak jumpa." Ucap Sakura. pelukkan mereka melonggar, Tenten menarik Sakura untuk masuk, mereka akan berbicara di dalam, Sakura melihat ibu Tenten dan pamit sejenak padanya.
Duduk di ruang tamu dan Tenten ingin mendengar semua ucapan Sakura, gadis ini tidak henti-hentinya bertanya, dia sungguh merindukan Sakura, sampai-sampai merasa cukup terharu, sahabatnya ini rela datang dari jauh hanya untuk mencarinya.
"Jika warungmu sudah tutup, aku ingin berbicara pada ayahmu." Ucap Sakura.
"Tapi, aku rasa ayahku tidak akan mendengarkanmu." Ucap Tenten, Sakura sudah menceritakan segalanya pada Tenten.
"Aku harus mencobanya dulu." Ucap Sakura dan tersenyum.
.
.
Jam 9 malam.
Warung ramen Tenten sudah tutup, saat ini suasana cukup canggung, Ayah Tenten duduk di sofa yang berhadapan dengan Sakura, di belakang gadis ini dua orang pria, pengawal Sakura. mereka datang dan memegang sebuah koper dan satunya memegang sebuah map coklat.
"Katakan apa yang ingin kau bicarakan." Ucap Ayah Tenten, beliau cukup tenang saat ini, Tenten dan ibunya berdiri tepat di belakang sofa yang ayahnya duduki.
"Dengan segala rasa hormat, aku ingi minta maaf sebesar-besarnya." Ucap Sakura, berdiri dan langsung membungkukkan tubuhnya di hadapan ayah Tenten. "Awalnya aku tidak apa yang telah terjadi, tapi sekarang, semua berada di dalam pengawasanku." Ucap Sakura, dia ingin meyakinkan ayah Tenten untuk kembali ke Konoha.
"Sejak awal aku tidak suka jika berteman dengan anakku, kalian hanya akan memberi pengaruh buruk pada keluargaku, tidak ayah, tidak anak, sama saja." Ucap ayah Tenten, dia merasa harga dirinya di injak-injak.
"Paman, dengarkan aku, aku hanya ingin paman tidak memikirkan yang dulu lagi, tolonglah." Ucap Sakura, meminta seorang pengawalnya membuka koper dan isinya ada uang, uang yang Sakura hasilkan dari perdagangan yang legal, dia tidak akan menggunakan uang kotor lagi.
"Apa ini? kau mau memberiku suap!" Ucap ayah Tenten.
"Tidak paman, ini sebagai permintaan maaf dan juga-" Sakura kembali meminta pengawalnya untuk memberi map coklat itu."-Aku mengembalikan surat tanah milik paman." Ucap Sakura.
"Aku tidak butuh." Ucap ayah Tenten, dia jauh lebih keras kepala.
"Ayah-"
"-Jangan membantu temanmu ini Tenten, dia berada jauh di atas kita." Ayah Tenten memotong ucapan anaknya. "Kembalilah ke Konoha, keluargaku tidak akan lagi menginjakkan kaki di kota itu." ucap ayah Tenten dan beranjak pergi.
"Paman tunggu dulu! Paman!" Teriak Sakura, namun ayah Tenten sudah pergi keluar, dia tidak ingin mendengar ucapan apa-apa lagi Sakura.
"Maaf yaa Sakura, suamiku memang seperti itu, terima kasih sudah jauh-jauh datang hanya untuk membujuk kami untuk kembali ke Konoha, tapi kami sudah terlanjur nyaman di sini." Ucap ibu Tenten.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksa paman dan bibi, tapi tolong terimalah ini dan juga ambil kembali milik keluarga bibi, tanah ini tidak seharusnya menjadi milik perusahaan Haruno." Ucap Sakura, dia sungguh malu dengan apa yang sudah terjadi.
"Terima kasih, bibi akan menyimpan surat tanah ini, tapi, ambillah kembali uangmu, kami tidak membutuhkannya, tidak perlu meminta maaf seperti ini." Ucap ibu Tenten dan tersenyum.
"Sebaiknya kau beristirahat, menginaplah di rumahku." Ucap Tenten.
Sakura mengangguk pelan, meminta kedua pengawalnya untuk kembali ke tempat mereka.
Hari sudah semakin larut, ranjang Tenten hanya untuk satu orang, Sakura tidak masalah tidur di kasur lantai.
"Kau semakin berubah Sakura." Ucap Tenten, mereka berdua belum tidur dan masih bercerita.
"Aku? Tidak, aku tidak berubah sama sekali." Ucap Sakura.
"Apa kau tidak sadar? Kau semakin dewasa." Ucap Tenten.
"Aku rasa kau juga, apa kau tidak bersekolah lagi?" Ucap Sakura.
"Tidak, akan jauh lebih baik jika membantu kedua orang tuaku, lagi pula, ayahku habis di pecat, dia harus kembali mencari pekerjaan baru." Ucap Tenten.
"Semua ini kesalahanku." Ucap Sakura, merasa sedikit sedih
"Jangan menyalahkan diri, kau bahkan tidak tahu apa-apa sebelumnya." Ucap Tenten. "Eh, bagaimana di sekolahmu, apa kau akhirnya mendapat pacar?" Ucap Tenten, mengubah topik pembicaraan.
"Di sekolah aku bertemu Yamanaka Ino dan Rock Lee, mereka adalah sahabatku, dan pacar, pa-pacar uhmm." Yang terlintas di pikiran Sakura adalah wajah Sasuke.
"Pacar, kenapa?" Ucap Tenten, memicingkan mata ke arah Sakura, dia butuh sebuah kejujuran dari sahabatnya ini.
"Tidak, aku sama sekali tidak punya pacar!" Tegas Sakura, dia jadi panik dan salah tingkah sendiri.
"Hahahaha, wajahmu merona, aku rasa kau tengah menyukai seseorang." Goda Tenten.
"Heee...! Benarkah?" Segera saja Sakura menutup wajahnya dengan selimut.
"Kau tidak bisa berbohong dariku." Ucap Tenten, suara tawanya cukup keras.
"Kami tidak pacaran! Lagi pula sikapnya itu sungguh membuatku bingung." Ucap Sakura, membuka selimut yang menutupi wajahnya dan menatap malu ke arah Tenten.
"Oh, jadi kau di gantung yaa." Ucap Tenten.
"Bu-bukan seperti itu, bukan." Sakura kembali panik.
Tenten kembali menertawai Sakura, gadis ini sungguh tidak pandai berbohong pada siapapun, bahkan Sasuke cepat mengetahui kebohongannya.
Tidak jauh dari kamar Tenten, ibu dan ayahnya mendengar suara Tenten, suara tawa lepasnya, mereka jarang sekali mendengar Tenten untuk tertawa seperti itu.
"Kau terlalu keras pada gadis itu, dia sungguh tulus untuk meminta maaf pada keluarga kita." Ucap Ibu Tenten, mencoba menasehati suaminya.
"Hn, aku tahu, aku hanya tidak senang dengan caranya memberi uang pada kita." Ucap ayah Tenten.
"Aku sudah menolaknya dengan baik, surat tanah sudah kembali pada kita." Ucap ibu Tenten.
"Ya, itu jauh lebih baik, aku tidak pernah menyalahkan gadis itu, sebenarnya mereka cukup berbeda, pak Haruno jauh lebih licik dan anaknya sama sekali tidak mengetahui keadaan orang tuanya yang sebenarnya." Ucap ayah Tenten.
Ibu Tenten tersenyum menatap suaminya. Gadis itu membawa sedikit perubahan pada sikap ayah Tenten yang sangat keras.
.
.
Keesokan paginya.
Sakura pamit untuk pulang, dia berterima kasih banyak sudah terima baik di keluarga Tenten, ayah Tenten masih bersikap seperti tidak senang, tapi Sakura tahu, jika ayah Tenten tidak marah lagi padanya.
"Hati-hatilah di jalan, daerah sini cukup rawan." Ucap ayah Tenten dan masuk ke dalam rumah.
"Kau sungguh cepat pulang." Ucap Tenten, dia masih ingin Sakura tinggal dan mereka bisa berjalan-jalan sebentar.
"Maaf, aku harus cepat kembali, jika tidak ijin sekolahku akan bertambah." Ucap Sakura.
"Lain kali, jika berkunjung ke Kirigakure, singgahlah di warung kami." Ucap Ibu Tenten.
"Tentu bibi." Ucap Sakura.
Sebuah pelukkan perpisahan dari Tenten, keluarga Tenten akan tetap tinggal di Kirigakure meskipun tanah mereka sudah kembali. Sakura pamit dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi, gadis ini tidak akan pulang, dia akan menemui ayahnya yang sedang menetap di Kirigakure.
Ponsel Sakura berdering beberapa kali.
:: Ino.
Kau ijin lagi? Dimana kau sekarang?
:: Sasuke.
Aku ke sekolahmu kemarin dan hanya bertemu Ino, katanya kau ijin dari sekolah, kau ada dimana?
:: Yamato.
Aku mendapat telpon dari Zabusa, dia akan bertemu nona di Kirigakure.
:: Ibu.
Sampaikan salam ibu pada ayahmu yaa, oh, jangan terlalu lama di sana, sekolahmu akan berantakan. Dah, ibu sayang kamu.
:: Haku
Zabusa kabur ke Kumogakure, aku hanya ingin mengatakan pada nona, jika percayalah pada Zabusa, dia tidak akan pernah mengkhianatimu.
:: Zabusa.
Maaf tidak mengabarimu nona, aku menunggumu di kantor tuan besar.
Sakura menghela napas, dia sudah membaca semua pesan yang tertumpuk di ponselnya. Mulai mengetik satu persatu kata, dia akan membalas pesan Ino duluan dan yang lainnya, wajahnya sedikit merona saat akan membalas pesan Sasuke, pemuda itu mencarinya hingga ke sekolah, mereka berani mendatangi sekolah Sakura, biasanya dengan alasan Sai akan bertemu Ino, tapi itu hanya alasan.
Tiba di gedung yang cukup tinggi, kantor perusahaan Haruno cabang Kirigakure. Sakura sudah berjalan masuk dan di ikuti para pengawalnya, beberapa pasang mata pekerja di sana menatap Sakura warna rambut yang sama persis dengan bos besar mereka, ya mereka tahu jika itu adalah anak tunggal Kizashi, sepanjang perjalanan masuk, para pekerja itu menundukkan kepala pada Sakura. Kabar tentang Sakura menjadi pemegang sebagian saham Haruno tersebar begitu cepat, mereka sangat terkejut dengan melihat Sakura yang hanya anak sekolahan.
Zabusa datang berlainan arah dan mulai menyamai langkah Sakura, mereka terlihat berbisik dan membicarakan sesuatu, pembicaraan mereka berakhir saat sudah berada di depan pintu masuk.
Pintu ruangan direktur utama terbuka, Kizashi sudah menunggu anaknya itu, dia sudah tahu jika Sakura akan datang, gadis kecilnya yang sudah beranjak remaja duduk kursi yang berhadapan dengan meja Kizashi, para pengawal Sakura berdiri rapi di belakangnya, Zabusa berdiri di sisi meja Kizashi.
"Bagaimana kabar ibumu? Dia sungguh tega tidak menghubungiku." Ucap Kizashi, berdiri dan menatap ke arah jendela.
"Ibu baik-baik saja, dia menyampaikan salam untukmu ayah." Ucap Sakura, bermain dengan kursi yang di dudukinya, dia merasa cukup lelah hari ini.
"Ayah sudah dengar jika kau datang untuk mengembalikan tanah milik keluarga temanmu." Ucap Kizashi, berbalik dan menatap Sakura.
"Hmm, benar, aku jadi tidak perlu membicarakannya dengan ayah, tapi aku harap, ayah tidak mengganggu mereka lagi." Ucap Sakura, dia jauh lebih tenang menghadapi ayahnya.
"Baiklah, ayah anggap itu permintaan mutlak darimu." Ucap Kizashi dan tersenyum. "Oh, bagaimana jika kita makan siang bersama." Tawar Kizashi.
"Tidak ayah, aku harus segera pulang." Ucap Sakura, dia tidak ingin menambah masa ijinnya dan membiarkan Yamato mengurus perusahaan sendiri.
"Sayang sekali, ayah ingin menghabiskan waktu sedikit bersamamu, ayolah, ayah mohon padamu." Ucap Kizashi. Sengaja memperlihatkan wajah sedihnya pada anaknya itu.
"Ayah sungguh memaksa, baiklah, hanya makan siang dan aku akan pulang." Ucap Sakura, sedikit menuruti permintaan ayahnya ini.
"Itu jauh lebih baik. Kalian tidak boleh ikut, ini acara khusus ayah dan anak tanpa pengawal." Ucap Kizashi, Sakura sedikit terkejut dengan ucapan ayahnya, dia bahkan meninggalkan semua alat komunikasinya hanya untuk menghabiskan waktu bersama Sakura. "Baiklah, ayah akan membawamu ke tempat yang ayah rekomendasikan." Ucap Kizashi. Mengajak Sakura pergi dan meninggalkan seluruh pengawal di ruangannya.
Setelah pintu tertutup dan Sakura memasuki lif. Suasana di ruangan Kizashi cukup mencekam, Zabusa sudah berusaha mengeluarkan handgunnya, dia akan menembaki siapapun yang berani bergerak. Yang bersama Sakura tadi, bukan para pengawal yang tunduk pada Sakura, semuanya mengeluarkan handgun dan akan menembaki Zabusa.
"Cih, bahkan kawan bisa menjadi lawan, keluarlah Kabuto, aku tahu kau berada di antara mereka." Ucap Zabusa.
"Wah, matamu cukup jelih." Ucap Kabuto, membuka wig hitam yang di gunakannya, selama Sakura berada di Kirigakure, Kabuto yang mengawasinya, dia tidak menyangka jika Zabusa akan menyusul Sakura.
"Aku rasa ini bukan perintah, apa mau mu?" Ucap Zabusa, dia terlihat tenang.
"Mauku? Hahahaha, aku rasa penghianat pantas untuk mendapatkannya." Ucap Kabuto.
"Jangan berbicara omong kosong, yang penghianat di sini siapa? Sadarlah Kabuto, kau tidak akan bisa mendapat kedudukanku." Ucap Zabusa, memperlihatkan senyum meremehkannya pada Kabuto.
"Aku sungguh salut padamu. Kau masih bisa tenang-tenang saja dalam keadaan seperti ini." Ucap Kabuto.
"Ha, kau ini sungguh besar mulut." Ucap Zabusa.
Bughtt.. bughhtt.. plaakk... buught..
Kabuto cukup terkejut mendengar suara seseorang tengah memukul orang lain, melirik ke belakang dan apa yang di lihatnya, seluruh anak buahnya tumbang dengan hanya satu orang yang memukul mereka semua.
"Aku sudah sangat muak dengan keadaan ini." Ucap Sakura. kembali mengingat saat Sakura dan Zabusa tengah berjalan, pria ini sudah memperingati Sakura jika yang mengikutinya bukan para pengawal Sakura, salah satu di antaranya juga adalah Kabuto. Sakura mendengar baik ucapan Zabusa, sedikit berbohong pada ayahnya jika dia ingin ke toilet.
"No-nona?" Ucap Kabuto, dia kehabisan kata-kata.
"Apa? kau ingin melawanku?" Ucap Sakura, menatap tajam ke arah Kabuto.
"Coba saja bergerak, peluru ini akan dengan mudah menembus kepalamu." Ancam Zabusa, dia sudah berada di samping kabuto dan handgunnya tepat berada di kepala Kabuto.
"Ha-hahahahaha, tenanglah, aku tidak berani melawan nona muda kita, lagi pula dia lah yang nanti menjadi pemimpin kita." Ucap Kabuto dan tersenyum di hadapan Sakura.
Bughhtt..!
Satu tendangan tepat di wajah Kabuto, pria itu pingsan, Sakura benar-benar kesal di buatnya.
"Wajahmu membuatku kesal." Ucap Sakura. "Kembalilah Ke Konoha, kau harus melindungi Yamato." tambah Sakura, dia bergegas kembali ke ayahnya.
Sakura sudah menghilang dari ruangan Kizashi, Zabusa memanggil anak buahnya untuk mensterilkan keadaan ruangan Kizashi yang cukup berantakan, Sakura benar-benar marah tadi, tidak lupa dengan mengurung Kabuto di sesuatu tempat, dia jauh lebih berbahaya. Zabusa harus kembali ke Konoha, seperti yang di katakan Sakura, gadis itu mendengar info jika ayahnya akan melenyapkan kaki tangan miliknya. Zabusa sedikit kebingungan, dia adalah orang yang di suruh Kizashi dan sekarang Sakura memintanya untuk melindungi Yamato.
"Ah, sial, apa yang harus aku lakukan?" Ucap Zabusa.
.
.
Suasana restoran mewah yang cukup nyaman, berdesain bangunan tanpa dinding, angin sepoi-sepoi dari daerah pantai, suara ombak dan menu makanan yang sangat enak. Sakura menikmati waktu berdua bersama ayahnya, benar-benar hanya anak dan ayah.
"Kau menyukai tempatnya?" Ucap Kizashi, merasa dia cukup pintar mendapatkan tempat untuk anaknya.
"Uhm, lumayan, aku suka suasananya dan menu di sini lezat." Ucap Sakura. dia cukup terhibur dengan tempat rekomendasi ayahnya.
"Bagaimana dengan sekolahmu?" Ucap Kizashi.
"Sekolah baik-baik saja." Ucap Sakura.
"Jangan keseringan ijin, kau itu murid terpintar nanti mempengaruhi pada prestasimu." Nasehat Kizashi.
"Iya, aku hanya kebetulan ke sini." Ucap Sakura.
"Bagaimana perusahaanmu?" Ucap Kizashi, meskipun dia sudah mengetahuinya.
"Semua sudah terkendali ayah." Ucap Sakura, Kizashi bisa melihat senyum puas di wajah putrinya.
"Baguslah, kau memang putriku, darah kepemimpinan mengalir padamu, keturunan Haruno seharusnya seperti itu, saat ayah masih SMA, ayah juga sudah memegang kendali seluruh perusahaan Haruno." Ucap Kizashi dengan bangga.
"Apa, uhm... ayah tidak marah pada ibu?" Ucap Sakura, berharap jika gara-gara pengalihan saham, hubungan ayah dan ibunya tidak menjadi renggang.
"Tenanglah, ayah sangaaat mencintai ibumu, mau dia keras kepala seperti apapun, ayah tetap akan bersamanya. Dia satu-satunya yang sangat mengerti diri ayah." Ucap Kizashi, sedikit tersenyum jika mengingat Mebuki, wanita yang cukup kasar dan membuatnya bisa bertekuk lutut, padahal dia adalah calon pemimpin mafia berikutnya, Mebuki benar-benar tidak gentar. "Kau adalah bukti, kami saling menyayangi satu sama lain." Tambah Kizashi dan membelai lembut puncuk kepala anak sematawayangnya itu.
Sakura terdiam, terlihat seperti anak singa dan ayahnya singa, saat kecil si anak menuruti ayahnya dan jika sudah besar, si anak pergi mencari jati dirinya. Sakura akan tetap melawan ayahnya meskipun Sakura tahu, ayahnya sangat baik padanya.
.
.
Di saat mereka menghabiskan waktu.
Yamato berada sendirian di ruangan Sakura, dia harus mengurus berkas-berkas bulan ini sebelum Sakura pulang, melirik jam tangannya ini masih siang, dia masih punya banyak waktu.
Tok tok tok
"Masuk." Teriak Yamato.
Pintu terbuka dan Yamato bergegas berlindung di bawah meja, tiba-tiba saja seorang pria datang dan menembakinya dengan senjata.
Sial, apa-apaan ini!
Yamato mencoba menoleh dan kembali mendapat tembakkan, dia tidak bisa melihat orang yang sedang mengincarnya, mengambil handgun yang di simpannya pada betis, dia bukan orang sembarang, Yamato akan melawan. Beberapa kali menoleh dan masih mendapat serangan, tembakkan itu berhenti, Yamato mendapat kesempatan untuk menembak, hanya melumpuhkan orang itu dan tidak membuatnya mati, tembakkan kaki akan membuatnya berhenti.
"Siapa kau!" Ucap Yamato.
Tidak ada balasan, pria itu masih berusaha menyerang Yamato dengan pisau, kembali Yamato melumpuhkan pria ini, wajahnya tidak begitu di kenali, pria itu pingsan, Yamato sengaja mengambil senjata yang di pakai pria ini, kembali tembakan di lorong sepanjang jalan menuju ruangan Sakura, Yamato berlari keluar, dia harus keluar dari gedung perusahaan ini, anehnya gedung ini kosong, seperti mereka sudah berencana menghabisi Yamato di dalam gedung, pria ini terus berlari dan berusaha menghindar. Terlalu banyak yang harus di lawannya.
Hingga tiba di di lantai bawah, semakin banyak tembakkan, Yamato tersudut, pintu terkunci dan dia tidak bisa keluar.
"Siapa kalian!" Teriak Yamato, bersembunyi di meja resepsionis.
"Kami di perintahkan untuk menghabisimu." Ucap salah satu dari mereka.
Ngeengg...!
Praaanggg...!
Seluruh orang yang sedang melawan Yamato terkejut, sebuah motor masuk dengan memecahkan pintu yang terbuat dari kaca.
"Ya ampun, anak ini, hey bosku bisa marah besar jika kau menghancurkan pintu gedung perusahaan!" Teriak Yamato.
"Diam kau pak tua, bukan saatnya untuk berbicara baik, cepat!" Ucap Sai, Yamato berusaha menembaki mereka dan bergegas naik ke motor yang di bawah Sai, mereka akan kabur, para pria itu tidak bisa mengejar Yamato, mereka tidak di perintahkan melakukan pengejaran, hal itu cukup mencolok dan banyak CCTV di sepanjang jalanan.
Mereka masih dalam perjalanan hingga tiba di markas, Yamato langsung membuang dirinya di sofa, hampir saja di mati tadi.
"Ini sungguh gawat." Ucap Yamato, dia tidak menyangka jika nyawanya terancam.
"Apa mereka sudah menyadari statusmu sebagai mata-mata?" Ucap Sai.
"Mungkin saja, mereka berucap jika aku harus di habisi, sial, sial." Ucap Yamato, mengepal kedua tangannya, dia tidak aman lagi di kantornya. "Kenapa kau berada di sana, apa kau bolos sekolah lagi?" Ucap Yamato.
"Sekolah sungguh membosankan, seharusnya kau berterima kasih padaku, kau berutang nyawa padaku." Ucap Sai.
"Jika kau seperti itu, penyamaranmu juga akan terbongkar, dasar bodoh, apa Kakasih berada di sekolah?" Ucap Yamato.
"Ya, mungkin saja." Ucap Sai.
.
.
Kediaman Haruno.
"Maaf nyonya besar, anda harus ikut kami." Ucap salah seorang pengawal. Mereka adalah pengikut setia Mebuki.
"Uhm? Apa ada masalah?" Ucap Mebuki, dia terlihat lebih tenang di dalam rumahnya, wanita ini menyadari jika ada sesuatu yang tidak beres, tidak biasanya para pengawalnya akan memintanya untuk ikut, jika itu terjadi, sedang ada masalah besar.
"Ya, masalah yang cukup gawat, nyonya." Ucap pengawal itu.
"Ah, baiklah." Ucap Mebuki.
Beberapa pengawal pergi bersama Mebuki, nyonya besar mereka akan di bawa ke kembali Ke Kumogakure, di sana ada Haku. Nyonya besar mereka akan aman.
Setelah Mebuki pergi, beberapa orang yang terlihat seperti para pengawal, menembaki pengawal yang berjaga di rumah, menyusuri seluruh ruangan di kediaman Haruno namun mereka tidak menemukan Haruno Mebuki di sana.
.
.
Kembali ke acara bersama ayah dan anak, Sakura sudah mendapatkan pesan dari ibunya jika dia ada urusan mendadak dan harus kembali ke Kumogakure.
"Ada apa Sakura?" Tanya Kizashi saat melihat putrinya menatap layar ponselnya.
"Ibu kembali ke Kumo." Ucap Sakura.
"Haa...~ Ayah lupa membawa ponsel, kenapa tidak datang saja ke Kirigakure, ayah merasa cukup kesepian." Ucap Kizashi. Sakura tertawa pelan mendengar ucapan ayahnya itu, ayahnya bahkan lupa jika dia sudah menyimpan semua alat komunikasinya di ruangannya.
Ponsel Sakura kembali bergetar.
:: Zabusa.
Jangan kembali ke kediaman, para pengawal akan membawa nona ke apartment baru.
Sakura mengerutkan alisnya, dia tidak tahu apa yang tengah terjadi.
"Setelah ini, ayah akan mengantarmu ke bandara." Ucap Kizashi.
"Baik ayah." Ucap Sakura.
Mereka menyudahi acara kumpul singkat itu, Kizashi akan mengantar Sakura. Mereka berdua tidak menyadari jika ada hal yang cukup kacau yang sudah terjadi.
.
.
"Hahahah, ini cukup menyenangkan, bagaimana? Gadis Haruno itu akan menyalakan ayahnya, mereka akan sedikit bertengkar dan aku bisa dengan mudah menjatuhkan keduanya." Ucap seorang pria.
Beberapa pria tunduk pada pria di hadapan mereka, dia sudah merasa cukup menjadi mata-mata di kedua kubu, Haruno Sakura dan Haruno Kizashi. Tapi, semuanya rencananya meleset, kaki tangan Sakura tidak jadi mati, pria ini hanya tahu jika Yamato adalah kaki tangan Sakura, dia tidak mengetahui status Yamato yang sebenarnya dan Haruno Mebuki tiba-tiba menghilang. Kabuto, pria yang di suruhannya juga tidak kembali. jaringan keluarga Haruno itu cukup ketat, dia harus mencari cara agar membuat Sakura tetap menyalahkan ayahnya, beberapa kekacauan sudah cukup.
.
.
TBC
.
.
update...~
karena hari ini hari spesial semua fic tbc author update. karena libur ngeborong balap ngetik semua fic, oh...~ jariku mati rasa O_O
HAPPY BIRTHDAY SAKURA CHAN...~~~ :* :*
.
.
maaf untuk hari ini tidak ada balas review yaa, next time okey. XD
.
.
see you next chapter...
