.

.

Yang terindah, Kim Seokjin.

Masih ingat pertama kali kita bertemu? Aku masih, dan akan selalu. Wajahmu yang bersinar diantara tirai hujan benar-benar memukau, begitu mempesona kendati terhalang bahu-bahu raksasa yang menjagamu layaknya pusaka. Kau seperti harta yang kutemukan dalam keadaan papa. Berkilau tanpa cela, terpahat oleh penciptamu dengan sempurna.

Sayangku, Kim Seokjin.

Kau adalah rumahku. Menjalani hari denganmu terasa bagai rutinitas yang alami. Kau adalah malaikat dan surgaku, lelah dan penatku lenyap dalam pelukmu. Sejuta pujian tak akan pernah cukup untuk menggambarkan betapa berartinya kau untukku. Tempatku adalah hatimu, hatimu yang bersih dan penuh berisi cinta. Hati yang selalu memaafkanku dengan begitu mudah, yang membimbing dan melindungiku, yang senantiasa melihat kebaikan dari orang lain, yang mengajarkanku untuk berhenti curiga dan menggantinya dengan kasih tak terhingga. Cintamu berbisik padaku, bahwa apapun yang terjadi, kau akan tetap berdiri di sisiku, memberiku kekuatan dan kehangatan dengan sebuah senyum lembut. Senyum yang kurindukan saat kita terpisah lautan, terbayang dan terus kuimpikan.

Matahariku, Kim Seokjin.

Kau sering protes dengan lucunya tentang kekasih menyebalkan yang jarang mengutarakan cintanya padamu. Sejujurnya, aku tak cukup percaya diri untuk bicara langsung di hadapan wajahmu yang cantik dan mengaku bahwa kau adalah duniaku. Hidupku dimulai dan berakhir dengan namamu. Kau menempati hatiku dan dia berdebar hanya untukmu. Kau adalah alasan di tiap senyum dan tawa yang kulontarkan, seperti mantra yang melekat di ingatan dan mustahil untuk dilupakan. Kau penyihir yang kusayangi, satu-satunya yang kuijinkan menyakitiku saat merajuk dan membuat kepalaku sakit oleh rindu. Aku berharap bisa muncul di kamar tidurmu, meloncat memelukmu dalam balutan piyama warna biru muda yang kau belikan pekan lalu, membawa dua cangkir cokelat panas bertabur gumpal marshmallow serta krim tebal favoritmu, menertawakanmu yang minum dengan rakus, menghujanimu dengan kecupan lalu berkelakar hingga kita tertidur.

Seruniku, Kim Seokjin.

Kau sadar betapa besar pengaruh yang kau berikan padaku? Meski tengah dikejar pekerjaan yang menumpuk hingga akhir pekan, aku tak lagi mudah uring-uringan atau melempar semua benda di atas mejaku seperti dulu. Katakanlah aku seperti menemukan sudut pandang lain dari tugas-tugas ini. Sungguh berbeda dengan sisi pesimisku yang kerap frustasi dan melarikan diri di belasan cangkir kopi agar kewarasanku terjaga sampai pagi. Tiap merenggut rambut sambil mengeluh, kata-katamu kembali terngiang—tentang bagaimana mereka membutuhkanku, berharap banyak pada kemampuan berpikirku, dan hanya aku yang mampu membaca keinginan ayahmu. Kau menyanjungku lebih tinggi dari angkasa, mendorong rasa optimis yang luput kusadari, lalu menyebut dirimu sebagai penggemar terbesarku. Kau memiliki aura positif yang luar biasa, menular, dan membuat cara berpikirku semakin mirip denganmu. Aku menyukai diriku yang baru. Diriku yang jatuh cinta padamu, lagi, dan lagi.

Malaikatku, Kim Seokjin.

Kuatnya perasaan ini kadang membuatku tak paham. Selama dua puluh lima tahun, baru kali ini aku bertekuk lulut tanpa daya pada seseorang. Ingin kecupmu, ingin sentuhan lembutmu. Aku tak kuasa menahan bagian diriku yang tergila-gila pada semua itu. Kau adalah hal termanis yang pernah ada, hadiah terbaikku dari pemilik jagat raya.

Jinseok, cintaku.

Aku tak ingin membayangkan hidup tanpamu. Cintaku terikat dan kupersembahkan untukmu, bersama rindu yang ingin kutuntaskan dengan sebuah pelukan. Segera, setelah kau membaca kertas picisan ini dan memukul perutku karena bertindak konyol seperti pemuda kuno yang tak tahu malu.

Selamat hari jadi kedua, Jinseok.

Berjanjilah untuk tinggal dan menjadi masa depan yang ingin kunanti. Aku mencintaimu.

.

.

.

.

.

"Dari pemujamu yang ceroboh, Kim Namjoon."

Tepuk tangan sontak membahana di ruangan tersebut begitu kalimat terakhir diucap lantang oleh sang pemimpin negara. Dua ajudan tampak memberi aplaus penuh kekaguman selagi mengikuti Presiden yang kini memutar langkah untuk duduk di ujung sofa, melipat lembaran kertas di tangannya sambil mengangguk-angguk. Para Jenderal mengelus dagu, mengacungkan ibu jari, bahkan ada yang langsung membicarakan tentang susunan kalimat barusan dengan sejawat di sebelah mereka. Enam pengawal beserta staf yang kebetulan hadir sibuk menutup mulut mereka dengan kepala berpaling ke belakang, pundak bergetar menahan haru. Satu-satunya pemilik reaksi berbeda, seorang pria muda berambut walnut gelap, sedang terpekur di sofa seberang sambil menutupi mukanya dengan sebelah tangan. Salahnya yang tak melihat kondisi begitu bangun tadi, tergopoh menyiapkan keperluan akibat kesiangan, salah mengambil amplop yang sama-sama berwarna putih, dan mengemudi agak tergesa tanpa memeriksa dua kali. Salahnya juga tak mengecek lebih cermat ketika mengangsurkan amplop yang dikiranya draft pidato hasil rancangannya selama berhari-hari, mengira bila semuanya telah rapi dan siap berdiskusi. Pena dan buku catatannya pun sudah dikeluarkan, kacamata dinaikkan, cekatan memasang sikap tegak, menunggu Presiden membuka lembar naskahnya dijajari seorang staf ahli.

Sampai pada satu titik saat lelaki berwibawa di hadapannya tiba-tiba tersenyum tanpa alasan, menerbitkan kerut heran di kening seluruh penghuni ruangan yang sebagian besar diisi oleh petinggi, tak terkecuali sang penulis yang meremas pena khawatir, cemas bila tanggapannya tidak sesuai apa yang diharapkan. Namun bukannya angkat bicara, Presiden justru meminta asistennya bergeser agar dirinya bisa berjalan menjauhi sofa ke arah mimbar yang digunakan untuk membaca putusan-putusan rapat internal, lengkap dibarengi ajudan, lalu membuka kertas bermasalah itu sambil berdehem pelan.

"Yang terindah, Kim Seokjin..."

Detik itu juga, Kim Namjoon merasa ingin melempar diri keluar jendela.

.


.

.

"Kalau kau nekat main tabrak pohon sebelum sampai kemari, langsung kutinggal terbang ke Inggris. Mereka masih membutuhkan asisten dosen psikologi dan bersikeras menawari meski sudah kutolak berkali-kali. Sana lakukan, terserah mau pingsan atau masuk rumah sakit sekalian."

"Kau tega mengirim doa jelek ke pacar sendiri?"

"Memang siapa yang menyuruhmu tidur menjelang pagi? Aku sudah berkali-kali bilang kalau kau harus memeriksa perlengkapan lebih awal begitu staf istana memajukan rencana diskusi karena jadwal konferensi mengalami perubahan hari," suara di sambungan seberang tak berubah meninggi walau sedang menegur sedari tadi. Satu decak pelan lolos dibarengi senyum yang seolah sanggup disaksikan Namjoon, "Maaf, aku selalu cerewet soal ini. Setelah minggu yang sibuk dan penerbangan yang terlambat, harusnya aku menanyakan kabarmu dan bukannya berceramah."

"Kau tahu benar jika aku tak pernah keberatan diatur olehmu, cantik," Namjoon bergumam di satu perangkat telinganya, memutar kemudi melewati belokan sambil sesekali memperhatikan spion. Petang berwarna oranye tak pernah terasa sebaik ini meski bisingnya jalanan nyaris membuat kuping berdenging, "Lagipula setelah ini aku tak perlu lagi bangun malam demi mengucapkan selamat pagi untukmu dari sudut Seoul. Betul tidak, sarjana strata dua yang kuhormati?"

"Kau sudah memperoleh apa yang baru saja kucapai, lima tahun lalu. And it's Massachusetts, for God's sake."

"Isn't it the reason that makes you fallin' for me?"

"Smart is the new sexy, aside from being thoughtful and generous. Dan tolong berhenti pakai aksen britania, aku tak mau menggelinjang di tengah persiapan makan malam," gerutu suara tersebut kendati terdengar bergairah. Namjoon terbahak di usahanya mendahului sedan hitam yang tak cukup cepat melaju di lajur tengah, "Ayah membicarakan soal suratmu sepanjang sore, dan Jungkook masih setia duduk di sebelahnya sambil membahas kata-kata yang dianggapnya susah. Aku tahu Ayah tak bermaksud buruk, tapi sepertinya dia punya tujuan tertentu dengan tidak mengembalikan kertas itu."

"Aku sudah puas ditertawakan sejak pagi, Letnan Choi bahkan memintaku mengajarkan cara menulis puisi untuk ulang tahun istrinya, sementara Jenderal Kang terus menempeliku sambil berbisik apakah aku punya teknik merayu jitu agar dimaafkan oleh pacarnya yang merajuk," diinjaknya pedal rem perlahan ketika memasuki kawasan khusus wisma negara. Proses pemeriksaan tamu bukan hal kegemaran Namjoon, namun harus tetap dijalani mengingat tempatnya singgah bukan sekedar kafe dimana pengunjung bisa seenaknya keluar masuk. Tapi dibanding harus melintasi langit demi dua hari bertemu kekasihnya, Namjoon lebih memilih menjelaskan identitas dan melakukan serangkaian catat data sebelum diijinkan memasuki gerbang wisma. Jika bukan karena ingin bertemu pujaan hati yang baru saja diwisuda dan pulang ke Korea, Namjoon pasti langsung balik kucing dan melesat jauh-jauh dari lokasi yang memaksanya mengatur degup akibat panik tak berkesudahan.

Sejatinya dia bukanlah tipe yang mudah gugup apalagi kelimpungan, Namjoon justru dikenal kalem dan realistis. Tapi setenang-tenangnya seseorang, mendengar bagaimana surat cinta miliknya diceritakan ala dongeng dengan teramat detil di hadapan seluruh pejabat, dan dibacakan sendiri oleh seorang kepala negara jelas bukan perkara ringan. Para staf boleh menepuk pundaknya sambil berkata jika manusia tak luput dari kesalahan, apalagi celanya hanyalah salah bawa. Namun bagi Namjoon yang dipercaya dan ditunjuk sejak masa pemilihan bergulir, hal seperti ini sudah merupakan coret merah dalam rapor kerja. Dia cukup beruntung karena tak otomatis diringkus atau diinterogasi lebih jauh, sebab—hal kedua yang dicemaskannya justru tertuang jelas di tiap paragraf.

Pernyataan cintanya pada Seokjin. Putra sulung Presiden Kim.

Hampir dua tahun Namjoon mencoba menjalin hubungan dalam sunyi, menghindari sorotan, rela hilir-mudik melintasi bandara dan bertemu tanpa mengabarkan pada dunia. Tak satu kalipun ada nama pria itu di laman sureal pribadi Namjoon maupun akun media yang dipenuhi potret-potret flora dari berbagai negara. Mereka bercengkerama di perpustakaan umum, menikmati kopi dan mengobrol berjam-jam di sudut kedai tua Oxford sambil berpegangan tangan, meninggalkan kawalan yang akan memantau bila Seokjin menghilang dari apartemennya lebih dari batas wajar. Merengkuh bahagianya dan berbagi kenyamanan di hening senja.

Hampir dua tahun Namjoon bersembunyi serta menyimpan rindunya dengan berbalas pesan pendek dan ucapan selamat tidur lewat layar ponsel, mengamati raut kekasihnya yang kerap muncul saat Namjoon hendak terlelap, menyikapi perbedaan waktu penuh kesabaran, dan mencoba agar tak terhanyut dugaan sebab hubungan jarak jauh, bagi Namjoon, jauh lebih sukar dibanding menjalankan tugasnya yang mulai bercabang dua. Penerjemah yang biasa mengiringi Presiden Kim memutuskan undur diri karena harus mengikuti suami ke luar negeri, dan Namjoon menjadi sasaran super empuk sebagai pengganti. Pria itu, tanpa mengurangi hormat, tampak menyukai kinerja Namjoon dan sangat bersemangat tiap mereka membicarakan tentang struktur pidato yang hendak dibawakan. Tapi tentu saja, gambaran tersebut semata-mata karena Namjoon merupakan anggota tim terpilih yang bekerja untuknya. Tidak ada yang menjamin Namjoon akan baik-baik saja jika yang bersangkutan memergoki kenyataan di balik ijinnya bertolak ke benua lain tiap Selasa dan Rabu di minggu kedua.

Namjoon tak mau banyak berharap, dia hanya butuh sebuah restu. Hatinya terlanjur terpikat dan Namjoon tak yakin bisa menerima dengan lapang dada bila diminta menjauh. Seokjin bagai langit sementara dirinya adalah pungguk yang menengadah. Pangerannya adalah sosok yang begitu agung seperti malaikat yang akhirnya memijak tanah, menyita perhatian Namjoon yang kala itu ikut berbaris menyambut kedatangan keluarga Presiden saat hendak menempati istana untuk pertama kali. Seokjin keluar dari mobil bernaung payung di tangan seorang pengawal, berbalut setelan kerah tinggi dan jas hitam, bersinar laksana pemeran utama. Hidung bangir, mata besar, bibir merah. Namjoon mematung di tempat, bersumpah dirinya melihat mukjizat.

Dan mungkin Namjoon harus menimbang ulang untuk mendaftarkan penelitiannya mengenai korelasi degup yang menguat dengan frekuensi pertemuan yang harusnya sudah lewat hitungan jari. Betapapun seringnya melihat Seokjin baik langsung atau tidak, gelenyar menyenangkan dari otaknya tetap memberi respon serupa, menarik sudut-sudut bibirnya untuk tersenyum ketika menapak di anak tangga dan mendapati pria itu menunggu di pintu utama. Dengan rambut terpangkas serta kaus rajut tebal, Seokjin terlihat segar dan mempesona. Jika biasanya Namjoon hanya akan mengangguk pelan saat berpapasan karena harus mengajar Jungkook dan bersikap selayaknya kenalan biasa, maka kini Seokjin justru lebih cepat menarik tangan dan menautkan jari-jari mereka.

"Ja..."

"Tidak ada yang perlu dirahasiakan lagi kan?" tukas Seokjin, memandunya masuk menyusuri aula, mengundang lirik sekaligus bisik-bisik pelayan serta pengawal yang bertugas di kiri kanan. Anak laki-laki setinggi dadanya, menyerbu senang sambil berceloteh tentang ujian yang akan dimulai Senin depan, lalu ikut menarik tangan lain Namjoon yang tertawa canggung karena merasa digiring menuju penjagalan.

Jungkook melepas gandengan saat pelayan menaruh sepiring udang bakar madu di meja saji, lalu berlari menjumput seekor meski dimarahi oleh seorang wanita. Namjoon bergegas membungkuk, menyapa istri pimpinannya, sekilas, sebab Seokjin keburu menyambar kerahnya seraya menegakkan tubuh Namjoon. Kedua lengan terjulur mengurai dasi yang dikenakan pria itu, agak mendesis supaya kekasihnya tak berkomentar, tapi siapa yang bisa diam jika hendak dilucuti di hadapan ibu negara?

"Tampilanmu terlihat seperti pengusaha busuk yang datang melobi ayahku agar meloloskan proyek mereka," jelas Seokjin, membuka kancing teratas, mengambil pena yang tersemat di kantong kemeja, lalu menanggalkan luaran Namjoon yang terpaku tak membantah, pasrah saat jas hitamnya dibawa pergi oleh pelayan entah kemana, menyisakan kemeja putih bermotif biji-bijian dengan lengan tergulung hingga siku. Seokjin meluruskan lipatan di bagian dada, lantas mengetuk kening Namjoon diiringi ringis geli, "Kau bukan utusan diplomat yang harus berpakaian resmi. Kita akan makan malam, dan tak ada pembicaraan soal pidato di sini."

"Baiklah. Maaf?"

"Diterima," Seokjin berpaling sejenak, menyadari kehadiran seorang pria paruh baya berbaju santai yang sempat berhenti melangkah, mengernyit melihat posisi mereka, lalu duduk dengan masa bodoh di kursi paling ujung. Namjoon mengambil napas panjang, menghembuskannya lebih perlahan, kemudian ikut duduk di dekat Jungkook. Seokjin menyusul di depannya, cekatan membalik piring dan meraup sesendok besar tumisan daging.

"Hyung mau udang juga? Kookie kasih nih."

"Kemarikan piringmu, Namjoon-sshi. Biar kuambilkan lauk."

Lengan Namjoon mengubah arah piringnya dari sisi mangkuk sup rumput laut menuju tangan Nyonya Kim, sewaktu sebuah suara menyela situasi dengan dehem familiar. Cuping telinga Namjoon berderik bak mendengar alarm, bersamaan dengan sirkuit otak yang sontak berputar gesit menyadari datangnya ancaman.

Sudah dimulai.

"Ahn Jung-Geun."

"Penerima penghargaan Jasa untuk Pendirian Nasional. Merupakan aktivis sekaligus pejuang kemerdekaan yang mahir kaligrafi," Namjoon mengatur jemarinya dalam posisi terkait, menatap tanpa ragu ke arah pria itu, "Lahir di Haeju, Hwanghae-do, provinsi yang menjadi polemik klaim antar dua bagian Korea. Dikenal karena membunuh seorang perdana menteri Jepang di Manchuria pada tahun 1909, Itō Hirobumi."

"Dekolonisasi."

"Muncul seiring dengan pasca-kolonialisme, dimulai dengan kemerdekaan Pakistan dan India dari Inggis Raya di tahun 1947. Periode aktif antara 1945 sampai sekitar 1960. Pengertian umumnya, tentu saja, pemberian kemerdekaan politik pada wilayah jajahan. Hence, the colony. Bukan bahasan menarik, sayangnya."

"Niccolo Machiavelli."

"Filsuf, diplomat, dan politikus Italia," telunjuk Namjoon terangkat, "Kelahiran Florence, tahun 1469. Penulis Diskursus Tentang Livio dan Il Principe, sangat disegani di masa Renaisans. Namanya diasosiasikan dengan istilah pelaku tindakan menghalalkan cara demi mencapai tujuan, Makiavelis."

"Bluetooth."

"Spesifikasi industri untuk jaringan kawasan pribadi, personal area networks, istilah umumnya, tanpa kabel. Berasal dari nama julukan seorang penguasa Denmark di akhir abad sepuluh. Logonya diperoleh dari penggabungan sepasang huruf Jerman yang analog dengan huruf H dan B, Hagall dan Blatand. Shortly, that cryptic symbol in a blue oval shaped thing, is actually the initials of King Harald Bluetooth written in Scandinavian runes."

Jungkook melongo, garpunya batal menusuk potongan daging.

"Theravada."

"Ajaran sesepuh, salah satu yang tertua dan konservatif dalam agama Buddha. Satu sumber menyebutkan jika aliran ini menerima ajaran yang disepakati selama Konsili Buddha Ketiga di bawah perlindungan Raja Asoka dari India sekitar tahun 250 sebelum Masehi. Disebut sebagai Sthaviravada dalam Sansakerta, dengan pengikut mencapai ratusan juta di penjuru dunia."

"Alfred Binet."

"Psikolog Perancis yang pertama mengembangkan tes inteligensi," Seokjin menyambar cepat kala Namjoon hendak menjawab, "Bisa lanjutkan ujian semesternya setengah jam lagi? Paman Chan memasak semua ini bukan untuk diacuhkan."

"Tapi bukankah ini proses pengenalan yang wajar di drama-drama Barat? Sesuai jawabanmu, tes intelegensi. Yang kulakukan hanya menguji kompetensinya."

"Namjoon tidak sedang melamar kerja, Ayah."

"Lalu apa? Melamarmu?"

Namjoon reflek terbatuk. Seokjin balas menganga, menaruh sendok sup sambil mencoba menelan, hampir tersedak, "Hah?"

"Lho? Bukan ya?" dahi pria berambut putih itu terlipat penasaran, sumpit bergoyang seirama tudingan, "Setelah menulis pernyataan yang begitu panjang dan puitis, tidak mungkin dia datang hanya untuk bertamu. Pimpinan pasukan laut, darat, dan udara sudah mencermati suratnya dari awal hingga akhir tanda baca. Kau berniat mengecewakan mereka yang sangat berharap diajak berpesta? Wakilku bahkan sudah menagih undangan untuk tiga kepala. Oi, Kim Namjoon."

"Yes, sir?"

"Kau paham maksudku?"

"Perfectly, sir."

Seokjin mendelik tajam ke arahnya dengan mulut meracau tanpa suara, dan Namjoon hanya memijat pangkal hidungnya sambil menahan tawa.

.


.

.

"Aku baru tiba di sini, dihadapkan pada kenyataan bahwa teman dekatku tak sengaja mencari keributan dengan keliru memberi amplop pidato konferensi pada Presiden Korea, kemudian berusaha memperbaiki suasana dan berusaha menenangkanmu yang cemas setengah mati, lalu apa?" Seokjin meremas rambutnya memakai kedua tangan, siku tertopang di pagar beranda lantai dua, "Seenaknya membicarakan pinangan, apa tidak lihat tamunya berkeringat dingin sampai harus kuseret dari pintu ke ruang makan?"

Pria di sebelahnya melipat tangan seraya bersandar di selusur pagar, lengan kanan diangkat sekilas untuk mengintip arloji, "Setidaknya beliau berhasil mengembalikan rohku yang nyaris tercabut karena serangan gugup. Aku bisa mati berdiri jika ayahmu mendadak menyinggung tentang lingkup ekonomi terapan."

"Kau mempermasalahkan pertanyaan-pertanyaan yang terdengar seperti sereal di mangkuk sarapanmu, Namjoonie?"

"Roti, ditambah selai nanas yang berlebihan," ralat Namjoon serius, "Aku benci materi koloni."

"Bisa kita pindah topik ke pertanyaan terakhir?"

"Kau tak mau kunikahi?"

Telak. Seokjin langsung bungkam.

Menggeleng-gelengkan kepala, Namjoon menarik lengan kemejanya melebihi siku, lalu sigap menarik pergelangan Seokjin yang patuh untuk mendekat. Dipegangnya sisi-sisi kepala Seokjin yang terbungkus helai rambut kecoklatan nan halus, mengadu lembut pucuk hidung mereka, dan perlahan mengusap pelipisnya yang ditanggapi Seokjin dengan mata terpejam.

"Aku tahu kau masih ingin memulai karir, ingin belajar lebih banyak, mengoleksi ratusan buku dan membacanya di pojok perpustakaan. Aku tahu kau masih berambisi menjelajah Venesia, menaiki gondola dan bersila di sampan mengelilingi Giethoorn. Kau ingin menikmati kesendirianmu lebih lama dan aku paham, Jinseok. Aku paham sekali."

"Menurutmu, apa aku egois?"

"Sedikit," Namjoon mengusap pipi tembamnya, menyusuri rona bersemu di wajah menawan tersebut, "Tapi kurasa kita berhak untuk egois. Cinta harus dimulai dari diri sendiri dan aku belajar hal itu darimu. Kau mencoba melindungi kebebasanmu seperti aku menyukai suasana sepi di apartemen pada malam hari, melindungi telingaku dengan musik dan mencari kedamaian di lirik-lirik yang kupilih. Aku juga masih mempunyai beragam mimpi yang ingin kurengkuh dengan sungguh-sungguh," ibu jari Namjoon menyeka bagian bawah matanya, "Dan kau, Jinseok, adalah mimpi terbesarku saat ini."

Seokjin membuka mata, mendapati sorot yang memandangnya seperti sosok paling berharga di seluruh semesta. Tangannya terjulur ke atas, memegang buku-buku jari Namjoon diiringi gelengan kecil, "Aku selalu merepotkanmu."

"Kita sering mengusik satu sama lain. Kicauan ributmu dan kecerobohanku adalah perpaduan paling romantis sedunia," canda Namjoon, gigi-giginya yang putih terpampang rapi dan Seokjin suka sekali, "Ganggu aku sepuasmu, cantik. Bebani aku dengan permintaan-permintaanmu tentang hewan lucu dan tiket menuju kota-kota eksotis yang ingin kau kunjungi. Asal kita saling mengerti akan jadwal masing-masing beserta kesibukan yang mungkin menyita waktu di dini hari, aku yakin semuanya bisa diatasi. Terdengar sulit, aku tahu. Tapi kita bisa mencoba."

Giliran Seokjin yang tertawa kali ini, "I don't deserve you, really."

"Shut it."

"Aku ingin tinggal di apartemenmu," Seokjin menengadah, mengamati langit sejenak seraya melanjutkan kalimatnya penuh harap, "Aku kangen aroma robusta di samping wastafel, kangen wangi sitrus yang menguar di ruang kerjamu, kangen melihat kertas-kertas yang berserakan di meja ruang tamu, juga kangen mencecarmu soal keset penyambut tamu yang benangnya mencuat di sana-sini."

Kekasihnya menyahut setelah lima detik, "Tidak padaku?"

"Kita sedang berpelukan, persentase rinduku berkurang tujuh persen dari dua jam lalu."

Kekeh keduanya berharmoni seperti nada, Namjoon menyandarkan keningnya di hamparan poni dahi Seokjin, menunggu tawa mereka pudar dan kembali beradu pandang. Manik gelap dan bola mata sewarna zaitun menatap lurus, saling menalaah sesuatu berdasar insting disertai senyum lebar dari pria yang lebih menjulang.

"Aku selalu suka senyummu, Namjoonie," telunjuk Seokjin meraba lesung pipi yang melekuk di kedua sisi rahang kekasihnya, "Apa kau benar-benar akan melamarku?"

"Kalau diperbolehkan bermodal lutut dan permen cokelat yang diberikan adikmu usai makan malam tadi, apa kau bersedia?" ucap Namjoon, merogoh saku kemejanya seraya menarik sebungkus Reese's hasil tadah tangannya pada Jungkook, "Tapi setelah kupikir-pikir lagi, sebaiknya diurungkan saja."

"Lho? Kenapa?"

"Tidak sopan melamar malaikat dalam kondisi minimalis yang menyedihkan."

"Tapi aku suka cokelat."

Sebelah alis Namjoon terangkat, dirobeknya tepi bungkus permen lalu menggigit isinya agak banyak. Dikulumnya hingga meleleh di mulut dan menyeringai samar selagi memiringkan kepalanya ke arah Seokjin.

"Ambil, kalau begitu."

"Licik."

"Makiavelis, remember?"

Si sulung kembali tertawa, "Whatever, genius."

Sepasang lengan melingkar di lehernya dan Namjoon merapatkan diri saat Seokjin memagut bibirnya.

.

.

.

.