Di suatu ruangan khusus dengan penerangan yang minim, dua pria berbeda usia saling duduk berhadapan. Jika menilik dari banyaknya penjaga yang mengitari pria yang lebih tua, maka dapat diketahui bahwa ia adalah sang pemilik tempat ini, sedang yang lebih mudah adalah tamu yang ia undang kemari.
"Kau mengajakku untuk bergabung denganmu? Apakah ini lelucon?!" mulai si pria muda, memecahkan keheningan yang sempat terjadi.
"Aku yakin telingamu masih berfungsi dengan baik Sehun" jawab pria tua itu.
Sehun mengangkat kedua bahunya. "Hanya tidak menyangka seorang Tuan Do yang terhormat, turun langsung untuk mengajakku bergabung" jawabnya ringan.
"Kenapa tidak? Tentu saja putraku harus mendapatkan perlakuan istimewa"
Sehun berdecih dan mengepulkan asap cerutunya hingga menerpa wajah Tuan Do. "Kau bukan ayahku omong-omong" jawabnya.
"Lalu kau kira Byun adalah ayahmu?"
"Setidaknya ia memperlakukanku seperti itu" jawab Sehun cepat, kemudian menatap tajam pria tua di hadapannya. "Bukan seperti dirimu, yang mengambilku dari panti hanya untuk menjadikanku mesin pembunuh" ucapnya lugas.
Tuan Do terkekeh kecil mendengarnya, seolah tidak ada rasa bersalah atas segala perbuatannya. "Saat itu kau mampu melawan perintahku demi Baekhyun, mengapa sekarang tidak bisa?"
Sehun bungkam, tak tahu harus berucapa apa.
"Dengar Sehun. Kita hancurkan Chanyeol, dan Baekhyun akan kembali padamu. Cukup mudah bukan?" tawar Tuan Do.
"Terakhir aku ingat, Baekhyun termasuk dalam rencana pembalasan dendammu" ucap Sehun blak-blakan, membuat Tuan Do terkesiap. Hanya sesaat saja, karena setelahnya senyuman bangga terlukis di wajah lelaki itu. "Kau memang yang terbaik. Ayolah nak, bergabunglah denganku, aku akan mempertimbangkan perihal Baekhyun untukmu" bujuk Tuan Do kesekian kalinya.
Sehun geleng-geleng kepala, tak habis pikir mengapa Tuan Do begitu menginginkannya bergabung. "Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Kau mampu menyingkirkan Kim Jongin, Tuan Park dan semua yang menghalangi jalanmu dengan caramu sendiri. Lalu kenapa kau masih membutuhkanku?" tanyanya, tak sanggup menahan rasa penasaran yang muncul di benaknya. Belasan tahun lebih ia tidak pernah bertemu dengan ayah angkatnya ini, dan tiba-tiba sejam yang lalu, ketika dirinya sedang dikepung oleh beberapa bawahan Park, Tuan Do datang bersama kawanannya menghabisi bawahan Park yang mengepung Sehun, lalu di sinilah mereka berakhir.
Lagi, Tuan Do tersenyum bangga pada Sehun. "Cermat sekali" pujinya tulus, kemudian menjeda sesaat untuk menghisap cerutunyan, merasakan tembakau yang meringankan pkkirannya, sebelum melanjutkan kembali ucapannya. "Kuakui Chanyeol tidak bisa diremehkan, dan putra mungilku yang membelot padanya hanya semakin menambah bebanku saja. Itulah alasanku nak"
"Bahkan putra kandungmu sendiri mengkhianatimu" Sehun tertawa kecil, terkesan merendahkan.
"Pengkhianatan sering dilakukan oleh orang terdekat. Mungkin kau juga harus berhati-hati, nak" balas Tuan Do, sambil menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Apa yang telah kau lakukan?!'
Dengan seringai licik yang terlukis di bibir, pria paruh baya itu membawa kepalanya lebih dekat. "Kau pikir darimana aku mendapatkan segala informasi tentangmu dan Baekhyun hmm?" bisiknya. Melihat Sehun hanya membisu, Tuan Do kembali menyenderkan punggungnya di kursi dan memanggil salah satu bawahannya untuk mendekat. "Bawa dia kemari" perintahnya pada sang bawahan.
Detik yang terlewati, terasa bagai berjam-jam bagi Sehun. Tidak dipungkiri, dirinya cukup was-was menanti sosok yang akan muncul di balik pintu. Dan ketika terdengar suara pintu terbuka dari luar-
Tap Tap Tap
"Nah, ini calon menantuku Sehun. Aku pikir tidak perlu mengenalkan dirinya padamu bukan?"
-Sehun membelalak lebar dengan jantung berdegup kencang. Kedua tangannya terkepal, sementara matanya menatap tajam sosok di samping ayah angkatnya.
"Sialan Kim!"
.
.
.
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
And other cast
.
.
.
Di ambang batas kesadarannya, Baekhyun merasakan tubuhnya dibaringkan di atas ranjang dengan lembut. Meski pandangannya mengabur, namun ia masih mampu merasakan kehadiran dua sosok lelaki di dekatnya. Hanya satu dari mereka yang bisa Baekhyun kenali, yang saat ini sedang duduk di sampingnya, membelai kepalanya lembut.
Dikarenakan pendengarannnya yang melemah, Baekhyun tidak begitu mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh kedua lelaki tersebut. Hanya samar-samar yang dapat ia dengar saat itu.
"Kau yakin hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan?" tanya lelaki yang duduk di samping Baekhyun.
"Aku tahu ini berat untukmu Yeol" jawab lelaki asing di dekat pintu. Lelaki itu melangkah mendekat, dan memberi tepukan pelan di bahu Chanyeol, yang nampak setia membelai surai Baekhyun. Lelaki itu ikut menoleh pada Baekhyun, memandang prihatin padanya. "Tapi hanya ini cara terbaik yang bisa kita lakukan untuk menangkap mereka" sesalnya.
Chanyeol mengangguk paham, dan perlahan-lahan beranjak dari ranjang. Ia tundukkan tubuhnya lebih rendah, mengamati wajah pias Baekhyun dari dekat.
"Baekhyun...jika tiba saatnya kau tidak sanggup menahan segalanya, cukup-"
Byuurr!
"Haahh!"
Layaknya tenggelam dalam air, seperti itu lah yang dirasakan Baekhyun ketika dirinya dibangunkan dengan air dingin yang disiramkan ke tubuhnya.
"Ah, apakah aku menggangu mimpi indahmu?"
Baekhyun hanya mampu menatap tajam pada penjaga di depannya, yang kerap membangunkan dirinya selama tiga hari ini. Namun Baekhyun mengamini ucapan penjaga itu. Bahwa apa yang ia lihat tadi hanya mimpi.
Sejak tiga hari yang lalu, seperti inilah kondisinya. Terbaring di lantai yang dingin, dengan tangan dan kaki yang diborgol. Tidak ada ranjang empuk dan tidak ada juga sosok yang membelai lembut surainya. Tidak pernah. Karena semua itu hanya sebuah ilusi mimpi.
Alih-alih menerima perlakuan lembut, setiap harinya Baekhyun justru mendapatkan berbagai kekerasan dari para penjaga. Akibat siksaan yang ia terima selama tiga hari ini, tidak ada lagi Byun Baekhyun yang berkulit putih mulus. Sekujur tubuhnya dipenuhi bermacam-macam luka, mulai dari luka lebam akibat pukulan, luka goresan pisau, dan berbagai luka lainnya yang dapat membuat orang lain bergidik jika melihatnya.
Tapi semua itu tidak ada artinya. Dibandingkan dengan luka di hatinya.
Dimana Sehun? Dimana Jongdae? Apakah keduanya tidak perduli pada dirinya lagi, pikirnya.
Dan...dimana Chanyeol?
Plakk!
"Ugghh" Baekhyun meringis, dan merasakan rasa anyir yang mengalir dari sudut bibirnya. Sementara si penjaga itu justru terkekeh puas melihat hasil perbuatannya. Ia tarik dagu Baekhyun kasar, mengapitnya erat dengan jemarinya.
"Ckckck, pipimu semakin tirus saja" Baekhyun bergidik kala penjaga itu membelai pipinya. "Tenang, aku membawakan makanan untukmu" ucap si penjaga, kemudian menarik diri dari Baekhyun.
"Nah ini dia, ayo makan!"
Baekhyun membelalak melihat isi dari piring yang tersaji di depannya. Daripada disebut makanan, itu lebih mirip dengan sampah. Nasi yang dicampur aduk tak karuan dengan kepala ikan, tulang ayam, serta disirami dengan air mineral, bahkan lalat mulai menghigapi di atasnya.
"Kenapa tidak dimakan? Aku sudah berbaik hati membawakannya untukmu" sahut si penjaga, sambil mengangkat piringnya. "Ah..aku lupa tanganmu diikat. Baiklah akan kusuapi"
Baekhyun menggeleng hebat dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Buka mulutmu sialan!"
Baekhyun mati-matian menjaga sendok itu memasuki mulutnya. Namun naas..si penjaga tadi menjambak kuat rambutnya ke belakang. Hingga tak sadar ia memekik dan-
"Aaakmmmh"
-satu sendok penuh makanan sampah itu memasuki mulutnya.
"Telan itu!"
"Huemhh..uhummh"
Mau tidak mau Baekhyun menelan makanan sampah itu ketika si penjaga membekap mulutnya.
Mungkin di waktu kedepan, Baekhyun akan meminta disuapi racun saja.
.
.
.
"Kau yang membunuh Jongin?"
"Hn"
"Kau juga yang menabrak Chanyeol di pemakaman?"
"Ya...Sehun"
Sehun tertawa layaknya orang hilang akal. "Dan dua kali usahamu itu gagal brengsek!" lelaki itu terengah-engah, nampak tersulut emosi. Tidak peduli pada lelaki di sebelahnya yang sedang fokus menyetir, Sehun menarik kasar kerah baju lelaki itu.
"Dua kali...DUA KALI KAU MENCELAKAI BAEKHYUN, KIM JONGDAE SIALAN!" hardik Sehun, benar-benar tak mampu lagi untuk meredam emosinya.
"Kau pikir aku sengaja melukainya?" Jongdae nampak tenang, memilih tetap fokus pada jalanan di depan.
"Dan kau pikir aku bisa percaya pada seorang pengkhianat hah?!"
Helaan nafas panjang dihembuskan oleh Jongdae. Ia menoleh, menatap Sehun dengan panadangan lurus mendalam. "Belasan tahun sudah...kita bertiga tumbuh bersama, Sehun. Aku bisa saja membunuhnya sejak lama. Tapi tidak kulakukan, Hun!"
"Omong kosong!" meski masih mengumpat kasar, Sehun mulai melunak dan perlahan melepaskan kerah Jongdae dari cengkramannya.
"Bukan hanya kau yang menyanyanginya Sehun..."
Sehun berdecih, namun memilih bungkam. Sama halnya pula dengan Jongdae di sebelahnya, tidak tahu harus berbicara apa lagi. Keheningan segera melanda keduanya, sibuk menjelajahi pikiran masing-masing. Hingga seseorang di bangku belakang, memecahkan kebisuan yang terjadi.
"Sudah puas bertengkarnya? Jika masih ingin melanjutkan, silahkan keluar dari mobil" sahut Tuan Do dari belakang. Melihat kedua lelaki muda di depannya nampak acuh, ia bawa tubuhnya sedikit maju ke depan.
"Kalian tidak ingin kita bertiga mati sebelum menyelamatkan Baekhyun bukan?"
.
.
.
Buagh! Brukk!
"Uhukk!"
Entah sudah berapa pukulan yang diterima Baekhyun sampai saat ini. Sudah sepuluh hari Baekhyun terkurung, dan belum ada satupun yang datang menolongnya. Baekhyun mulai pasrah, mungkin di tempat inilah perhentian terakhir hidupnya.
"Makan ini!"
Lagi, makanan sampah itu disodorkan padanya. Baekhyun hanya bisa pasrah ketika rambutnya dijambak kembali, hingga membuat mulutnya terbuka. Disaat sendok berisi makanan sampah itu mendekati mulutnya-
"Aww! Sialan!"
-si penjaga mengaduh kesakitan karena tangannya digigit oleh Baekhyun. Membuat sendok dan piring yang ia genggam, jatuh ke lantai. Si penjaga melayangkan tangannya tinggi-tinggi, bersiap memukul Baekhyun kembali, sementara Baekhyun menutup matanya takut.
"Sudah cukup. Tuan Lee datang bersama Tuan Muda"
Satu lagi penjaga, datang dan menghentikan penjaga sebelumnya yang hendak memukul Baekhyun.
Mendengar 'Tuan Muda' yang diucapkan oleh si penjaga tadi, tak dipungkiri memberikan secercah harapan di diri Baekhyun. Meskipun faktanya Chanyeol lah yang membawanya ke tempat neraka ini, namun entah mengapa ia merasa lelaki itu mampu mengeluarkan dirinya dari tempat ini.
Naas...harapannya sirna begitu kedua matanya melihat sosok di belakang Tuan Lee. Bukan Chanyeol, melainkan sosok mungil yang ia benci.
"Wah wah wah...jadi ini jalang kecil yang sudah dibuang?"
Suara gigi beradu terdengar dari mulut Baekhyun, menahan amarah mendengar hinaan Kyungsoo.
"Kenapa? Kau mencari Chanyeol? Dia sudah bosan pada tubuhmu Byun, karena itu kau dibuang kesini"
"Omong kosong!" sergah Baekhyun. Meski benaknya juga mengamini apa yang diucapkan oleh Kyungsoo, namun hatinya tetap berpegang teguh pada apa yang ia percayai.
Kyungsoo berdecih sambil memutar matanya. "Kau masih tidak percaya? Baiklah. Paman Lee, hubungi Chanyeol!" perintahnya pada Leeteuk. Tanpa disuruh dua kali, Leeteuk mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengetikkan sesuatu di layarnya. Setelah kiranya sudah tersambung, Leeteuk menekan tombol pengeras suara, agar semua yang ada di ruangan dapat mendengarnya, termasuk juga Baekhyun.
'Ya paman'
Jujur di lubuk hatinya, Baekhyun merindukan suara lelaki itu.
'Maaf mengganggu Tuan Park, saya hanya ingin bertanya soal Tuan Byun' jawab Leeteuk sopan.
'Ada apa? Apa dia mengatakan sesuatu?'
'Tidak ada Tuan. Aku hanya ingin tahu apa yang harus kulakukan padanya. Sudah sepuluh hari Tuan Byun disini'
'Ck! Kau membuang-buang waktuku paman. Lakukan saja apa maumu-'
'-Chanyeol...'
Dengan tak tahunya, mulut Baekhyun mengkhianati dirinya. Entah atas dorongan apa, yang membuatnya lancang memanggil lirih lelaki itu, ketimbang mengumpati pria tinggi itu karena sudah membuang dirinya disini.
'Chanyeol...kumohon...'
Mungkin Baekhyun memang sudah kehilangan kewarasannya.
'...datanglah'
'...'
Tidak ada yang terdengar dari sambungan telepon itu, selain deru nafas dari lelaki di ujung sana. Sesaat, Baekhyun sudah menaruh harap, merasa Chanyeol mungkin sedang mempertimbangkan ucapannya.
Namun lagi-lagi harapannya sirna...
'Aku tidak peduli'
Pip!
Hanya dengan tiga kata tersebut, membuat Baekhyun bagaikan kehilangan jiwanya. Pandangannya kosong, hanya ada sirat kepedihan di dalamnya. Ia tidak peduli lagi pada Kyungsoo yang tertawa penuh kemenangan, bahkan ketika lelaki itu mendekati dirinya dengan memegang pisau di tangannya, Baekhyun tidak bereaksi.
Sreet Sreet Sreet
Baekhyun tetap tak bergeming, meski baju yang melapisi tubuhnya, telah sirna dilucuti oleh Kyungsoo. Nyeri yang ia rasakan akibat goresan pisau di tubuhnya, tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya.
"Sesungguhnya aku ingin langsung membunuhmu. Tapi mengingat kau adalah seorang jalang, maka kuberi kau kesempatan untuk bersenang-senang sebelum kau mati" ucap Kyungsoo, sambil melanjutkan merobek celana Baekhyun dengan pisaunya. Menambah banyak luka di tubuhnya, serta darah yang mulai mengalir mewarnai tubuh putihnya.
Setelah memastikan tidak ada sehelai benang pun di tubuh Baekhyun, Kyungsoo mendekatkan mulutnya ke telinga Baekhyun. "Sampaikan salam untuk kakakku di sana. Kau tidak lupa wajahnya bukan? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin kau melupakan seseorang yang pertama kali kau bunuh bukan?" Kyungsoo terkekeh kejam, kemudian beranjak menjauh dan mendekati sang bawahan.
"Setubuhi dia semau kalian, dan jangan lupa habiskan nyawanya setelahnya!"
Para bawahan menunduk hormat dan menyeringai puas setelahnya. Kyungsoo menoleh sesaat ke arah Baekhyun, sebelum melenggang keluar ruangan. Tinggallah paman Lee dan lima penjaga yang menatap lapar tubuh Baekhyun.
Baekhyun sendiri sudah pasrah, memang menunggu kematian mendatanginya. Ia tidak peduli lagi, meski dua orang penjaga itu mulai memegangi penisnya dan menyesap pucuk dadanya. Semuanya telah kebas, Baekhyun tidak mampu merasakan apa-apa lagi meski ketiga penjaga yang lain mulai bergabung menikmati tubuhnya, bahkan satu penjaga sudah melesakkan jemarinya di lubang Baekhyun.
Ia pejamkan matanya erat, ketika mulutnya dipaksa menganga, begitu pula pada kedua kakinya yang dipaksa terbuka lebar. Sesuatu yang keras dirasakan mulai menyentuh lubang anus serta mulutnya, sampai akhirnya...
Brakk!
"T-tuan P-park?!"
Baik Leeteuk maupun yang lain, nampak terkejut dan memucat kala sosok tuannya itu melenggang masuk ke dalam. Bagaikan melihat sosok malaikat kematian, kelima penjaga tadi segera melepaskan tubuh Baekhyun dan menjauh dari lelaki itu. Jantung kelimanya berdegup cepat, kala sang tuan menatap mereka dengan pandangan menusuk, seolah bisa melenyapkan kelimanya hanya dengan tatapan itu.
Chanyeol berhenti melangkah, dan duduk bersimpuh di depan Baekhyun yang tergeletak lemah di lantai. Sedangkan Baekhyun sendiri, hanya menatap kosong pada lantai, sudah lelah berharap. Meski sapuan lembut menyapa pipinya yang semakin tirus, Baekhyun masih enggan untuk bergerak.
"Baekhyun...kenapa lama sekali?"
Entah sejak kapan, Baekhyun sudah terduduk dan berhadapan dengan lelaki itu. Namun dapat ia lihat, rahang Chanyeol yang mengeras dan siratan amarah di kedua mata lelaki itu ketika mengamati sekujur tubuhnya.
Melihat kondisi Baekhyun yang penuh luka dan bersimbah darah, Chanyeol memutuskan untuk mengangkatnya dan menggendong lelaki mungil itu secara bridal. Ia belai wajah pucat itu dan menahan emosi kembali, ketika lagi-lagi melihat luka di sana. Dan Chanyeol yakin masih banyak luka yang akan ia temukan setelah ini.
"Apakah kau tidak mendengar yang kukatakan saat itu?" lirih Chanyeol, tak kuasa menahan pedih melihat kondisi Baekhyun.
Meski Baekhyun hanya termangu, namun samar-samar ingatannya malam itu mulai muncul kembali di benaknya.
"Baekhyun...jika tiba saatnya kau tidak sanggup menahan segalanya, minta Leeteuk menghubungiku dan cukup panggil namaku, maka aku akan segera datang mengambilmu kembali"
Salahkan rindu dan rasa sakit di hatinya, hingga membuat Baekhyun tanpa malu-malu melingkarkan tangannya di leher Chanyeol, memeluk lelaki itu dengan eratnya. Ia tidak peduli, meski air matanya mulai membasahi kerah kemeja Chanyeol, yang ia inginkan hanya merasakan keberadaan lelaki itu, membuatnya merasa aman.
"Aku kira itu mimpi hiks.."
Chanyeol menepuk pelan punggung polos Baekhyun, mecoba menenangkan lelaki itu. "Sst..tenanglah, aku disini sayang"
"Chanyeol...hiks...bawa aku pergi dari sini..." lirih Baekhyun.
Chanyeol mengangguk singkat, kemudian melangkah menuju pintu keluar. Sebelum melenggang melewati pintu, ia berhenti sejenak.
"Tae joon!"
"Ya, Tuan Park?"
Dengan kilatan mata pembunuh dan seringai mematikan, Chanyeol berkata.
"Tangkap semua yang terlibat di ruangan ini, dan segera habisi nyawa mereka"
.
.
TBC
.
.
Udah apdet lama, pendek, gak jelas pula. Yeah I know :(
Flashback diundur di chap depan, dan semoga nanti ceritanya semakin jelas dan bisa dipahami.
Malam ini aku up bareng Byun Jaehyunee lagi yeaay, silahkan mampir ke akunnya, khususnya yang lagi pingin baca chanyeol yang sweet hehehe.
Btw, SIAPA YANG KOBAM KARENA CB MAIN JEPIT-JEPITAN BONEKA?
