bener-bener belum di proofread sama sekali! ini buru-buru karena rencananya update minggu depan! (berhubung chap terakhir aku pikir agak lama updatenya tapi berhubung banyak yang review :c kalau gak salah terakhir masih 150an sekarang udah 200an :c)
.
.
DAN SMUT OHMYGOD7
.
smutnya aku coba untuk sesopan mungkin bahasanya (u/n/u)
.
tolong jangan dibaca bagi yang gak minta, yang baca yang minta aja. hingg~~
dan.. lame smut omg.
.
.
why are y'all doing this to me! creys
.
.
maklumi kalau ada kesalahan :
.
.
.
.
Acara fashion show berhasil digelar walau Jackson menerima banyak komentar dari para investor yang kecewa karena Jackson tidak menggunakan designer yang mereka inginkan. Meskipun begitu fashion show berjalan dengan lancar dan Jackson juga menerima banyak pujian dari para tamu dan pengamat fashion yang datang.
Jackson tengah bersantai dan berbaring di tempat tidur Hani, tidak ikut bergabung dengan after-party bersama yang lain karena mood-nya yang masih kurang bagus sehabis menerima kritikan tajam dari para investor yang kecewa dengannya.
Hani keluar dari washroom-nya dengan mengenakan bathrobe sambil mencoba mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk, dia mengkerutkan dahinya saat melihat Jackson sedang berbaring santai di kasurnya.
Jackson merasakan sebuah tatapan tajam yang menusuk tubuhnya, walau begitu dia berpura-pura tidak menyadarinya dan dengan polosnya terus memainkan handphone-nya.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah sudah ku katakan untuk tidak menghubungiku lagi?"
"Untuk sementara." Lanjut Jackson, melengkapi kalimat Hani.
"Maksudku dengan sementara adalah tiga bulan atau lebih, ini masih sebulan."
"Aku kan tidak menghubungimu?Aku menemuimu." Ujar Jackson dengan penekanan pada kata menemui.
Hani sighs, membiarkan Jackson bersantai di kasurnya dan melakukan apapun yang dia inginkan karena dia tau benar bahwa kekasihnya ini sama keras kepalanya dengan dirinya.
"Mengapa kau datang kemari?" Dia duduk di bagian sebelah tempat tidurnya yang tidak ditempati oleh Jackson, menatap Jackson dengan tatapan yang menjeritkan kata lelah. Dia tidak mau lebih terjerumus saat dia tau dengan jelas bahwa hubungannya dengan Jackson akan berakhir cepat atau lambat dan dia lebih memilih untuk mengakhirinya lebih awal.
"Untuk apa lagi? Aku merindukanmu." Jackson mencoba memeluk Hani namun Hani menepis kedua tangannya. "Kau lihat!? Ini alasan mengapa aku memaksakan diri padamu saat itu!"
Hani menghela nafasnya. "Bailklah, maafkan aku." Permintaan maafnya membuat ekspresi wajah Jackson melembut seketika, lalu dia membaringkan kepalanya di pangkuan Hani.
"Kau tidak bicara dengan Mark?" Hani mengelus-elus lembut rambut Jackson, pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan kekasihnya.
"About?" tanya Jackson yang terdengar tidak tertarik dengan topik pembicaraan yang dibawa Hani.
"Hubungan kalian? Apa lagi?"
"Rupanya Jaebum benar, kau ini gila. Mana ada kekasih sepertimu? Yang memaksa kekasihnya untuk meninggalkannya demi mantan kekasihnya?!"
Hani hanya mengangkat bahunya. "Kau tidak menjawab pertanyaanku."
"We did." Jawab Jackson, jika dia tidak menjawab maka kekasihnya itu tidak akan berhenti bertanya dan terus mengganggunya atau akan mendiamkannya sampai dia menjawab.
"Lalu?" Hani menyandarkan punggungnya di headboard tempat tidurnya, merasa benar-benar lelah.
Kali ini Jackson yang menghela nafasnya, menatap kosong langit-langit di kamar Hani dan menerawang kembali ke suatu malam satu bulan yang lalu. Mengingat kembali kejadian itu, dia ingin sekali memberi dirinya tepuk tangan yang besar karena sudah ber-acting begitu kuat dan tidak jatuh dalam sebuah godaan yang bernama Mark Tuan yang menawarkannya sebuah surga.
"Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia meminta kesempatan yang lain hanya karena kekasihnya yang violent. Dia bilang seharusnya dia memilih orang yang mencintainya dan bukan yang dia cintai, dia egois, Hani."
Jackson tidak berencana mengeluarkan kalimat itu, inilah kelemahannya saat bersama dengan Hani, dia akan berujung menceritakan apapun dengan jujur seperti yang dia lakukan dulu saat berterus terang pada Hani bahwa dia masih mencintai Mark tepat setelah memintanya menjadi kekasihnya.
"Selain itu aku tidak bisa egois dan meninggalkanmu.." tambah Jackson.
"Kau pikir dia egois?"
Jackson menjawab dengan sebuah anggukan pelan.
"Lalu bagaimana denganmu?"
Jackson menatap Hani dengan bingung. "Apa maksudmu?"
"Kau bilang kau tidak mau egois dan meninggalkanku?" tanya Hani yang menatap kembali mata Jackson yang menatap matanya.
Jackson masih menatap Hani dengan tatapan bingungnya. Apa sebenarnya yang kekasihnya coba katakan?
"Itu jika kau melihatnya di satu sisi, Jackson. Coba lihat dari sisi yang lain."
"..."
Jackson menggelengkan kepalanya, menolak untuk mendengar penjelasan Hani. Karena sebagaimanapun tidak mengertinya dia tentang apa yang Hani coba katakan dia yakin dia tidak mau mendengarnya. Jadi dia menutup kedua mata dan telinganya.
"Jangan katakan apapun! Jangan gunakan bakatmu sebagai pengacara dan debater hebat hanya untuk membalikkan sebuah fakta yang aku sendiri pun tau pasti akan membuatku berpikir lebih keras lagi tentang apa yang sudah ku putuskan!"
"Jackson! Dengar aku.." Hani mencoba melepaskan kedua tangan Jackson yang menutup kedua telinganya namun tidak berhasil. "Jackson! Kau akan menyesal jika tidak mendengarkan perkataanku!"
...
"Setidaknya dengarkan aku dulu, keputusan masih ada ditanganmu.."
...
She sighs again. "Jika kau berpikir Mark egois karena memilih orang yang mencintainya, bagaimana denganmu yang memilihku?"
"..."
"Dunia punya dua kutub, Jackson. Setiap hal memiliki arti yang berbeda di setiap sudut pandang, mungkin disisi lain kau tidak egois karena memikirkan perasaanku, namun di sisi lain kau juga egois karena memilihku."
...
"Kau percaya dengan pepatah itu? Yang mengatakan kau harus memilih orang yang mencintaimu dan bukan yang kau cintai?"
...
"Di satu sisi itu benar, Jackson. Namun di sisi lain itu salah."
...
"Kau juga tega memilihku dan membiarkan orang yang kau cintai menderita? Pepatah itu hanya berlaku jika orang yang kau cintai bahagia dengan orang lain, Jackson."
...
"Apa Mark bahagia dengan kekasihnya?"
...
...
Jackson sighs then, membuka matanya dan menatap lekat wajah kekasihnya yang mungkin benar-benar sudah gila. "Lalu, jika aku bersamanya, apa aku bahagia? Apa dia bahagia? Dia tidak mencintaiku, Hani."
"Setidaknya dia tidak akan terluka jika bersamamu."
"Dan mengorbankan kebahagianku sendiri?"
"Jangan bohongi dirimu sendiri, Jackson. Kau bahagia bersamanya, walau dia tidak mencintaimu, kau masih bahagia kan? Sama seperti dulu."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Orang yang kau cintai itu dia, Jackson.. Bukan aku, jadi jangan pikirkan perasaanku."
...
Keheningan menyelimuti sepasang kekasih itu seolah kau bahkan bisa mendengar suara sebuah jarum yang jatuh ke lantai. Jackson diam, memikirkan kembali keputusan yang sudah dia buat dengan keras. Memang benar, dia tidak tega melihat Mark menderita diperlakukan seenaknya oleh kekasihnya. Memang benar, walaupun Mark tidak mencintainya dia masih bahagia asal dia berada disamping Mark. Dan memang benar, orang yang dia cintai adalah Mark Tuan, bukan Hani.
Tapi bagaimana jika dia gagal membuat Mark merasa puas dan membuat Mark meninggalkannya lagi? Sebenarnya alasan Jackson menolak Mark adalah karena dia takut dia akan mengecewakan Mark lagi. Dia tidak tau persis sosok seperti apa yang Mark cari-cari dan jika saja dia tau, dia rela mengubah dirinya menjadi orang lain hanya untuk memuaskannya.
Dan jika hal yang ditakutinya terjadi, jika Mark meninggalkannya lagi.. dia tidak akan bisa menahan perasaan patah hati untuk yang kedua kalinya... Ada sangat banyak hal yang dia takuti..
Suara handphone-nya yang berdering membuyarkan pikirannya, nomor yang tidak dikenal tertera di layar handphone-nya itu. Dengan ragu-ragu, dia menerima panggilan itu.
"Halo?"
"Jackson? Bisakah kau datang ke bar xxx?" tanya orang disebrang sana tanpa basa-basi.
"Siapa ini? Untuk apa?"
"Aku Bobby."
Raut wajah Jackson berubah masam mendengar nama itu.
"Darimana kau mendapatkan nomorku?" tanyanya getir.
"Itu tidak penting. Bisakah kau datang sekarang? Mark membuat kekacauan disini, dia menolak untuk diajak pulang."
Kini raut wajah Jackson berubah marah, dia menyipitkan kedua matanya. "Tidak bisakah kau mengurus kekasihmu dengan benar?!"
"Dia bukan kekasihku! Tidak usah banyak bicara! Kau bisa datang atau tidak itu saja!"
Jackson mematikan sambungan mereka dan bangkit dari kasur Hani, dengan kesal bergegas berjalan keluar rumah itu.
"Ada apa Jacks?" Hani berlari kecil, mengikutinya dari belakang.
"Ku jelaskan nanti." Jawabnya datar sambil memakai sepatunya. "Jaga dirimu baik-baik." Jackson menarik leher Hani untuk mendekatinya dan mengecup kening wanita itu sebelum berlari keluar.
Hani menatap kepergian Jackson dengan nanar. Dia tidak bodoh, dia tau 'kekasih' yang dimaksud Jackson sebelumnya adalah Mark. Jackson tidak akan semarah itu jika itu tidak berkaitan dengan Mark. Sesuatu pasti terjadi padanya, pikir Hani.
.
Tidak lama kemudian handphone-nya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Dia membukanya.
To : Hani
From: JB
Bobby baru saja meminta nomor Jackson melalui Bambam.
Jika kau butuh sebuah hiburan hubungi aku, walaupun kita tidak akur aku tetap peduli dengan perasaanmu.
.
.
.
.
.
"Let me go!"
Sudah lebih sebulan sejak Mark bertemu dan berbicara dengan Jackson pada malam itu. Mark tidak pernah lagi muncul di perusahaan Jackson semenjak hari yang memalukan baginya itu, pekerjaan yang seharusnya Mark kerjakan pun dilimpahkan kepada Bambam dan Yugyeom yang diterima dengan setengah hati oleh mereka karena pekerjaan mereka bertambah dua kali lipat lebih banyak.
Jackson maupun Jaebum pun tidak datang untuk mencarinya meskipun mereka tau alamat rumahnya, dan itu membuatnya lebih sakit lagi karena Jackson seakan-akan tidak keberatan sama sekali dengan ketidak-hadirannya.
Semenjak hari itu juga Mark kembali ke kebiasaan buruknya dulu yang mempertemukannya dengan seorang Kim Jiwon. Dia menghabiskan waktunya setiap malam di sebuah bar, berharap air alkohol itu bisa membawa hanyut segala ingatannya tentang Jackson. Tentu saja tidak, air alkohol itu tidak bisa menghapuskan Jackson dari ingatannya walau hanya untuk sementara sekalipun. Air itu hanya bisa meringankan rasa sakit di hatinya saja.
Tidak ada yang bisa menghentikannya jika dia sudah mulai minum, bahkan tidak Bobby sekalipun yang terus memohon kepadanya untuk berhenti. Tawaran Bobby yang sudah putus asa untuk minum hanya sekali dalam dua hari saja pun di tolak mentah-mentah oleh Mark. Dan seminggu yang lalu Bobby bersumpah untuk tidak akan memperdulikan Mark lagi saat Mark menolak diajak pulang dan memilih untuk menginap di bar, but who was he kidding? Because here he is, sitting beside his friend –or best friend now because he gives a neptune fudge- pleading his friend to stop drinking because it's already his twenty something shot.
"Mark, ini masih belum larut dan kau sudah semabuk ini?" tanya Bobby, suaranya penuh dengan kekecewaan, kecewa dengan temannya yang tidak bisa berpikir dewasa dan malah menghancurkan dirinya sendiri seperti ini.
"Beritahu aku apa yang harus ku lakukan, Jiwon..."
Bobby hanya merespon dengan sebuah desahan panjang.
"Aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa.." Mark menarik nafasnya panjang. "Rasanya sudah tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap hidup."
"Mark! Itu berlebihan!"
"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan.. Rasanya semua yang ku lakukan hanya akan berakhir sia-sia dan tidak ada gunanya.." Tidak lama kemudian dia mendengus. "Aku bahkan tidak mengerti bagaimana menggambarkan perasaanku dengan kat-kata."
"Kau hanya patah hati, Mark. Tidak lama lagi kau akan kembali seperti semula dan akan baik-baik saja." Sebenarnya Bobby sendiri pun tidak yakin dengan perkataannya.
"Kau bercanda? Aku sudah menghabiskan empat tahun seperti ini, dan akan menghabiskan empat tahun yang lain dan yang lain lagi seperti ini. Kau tidak mengerti, Jiwon.." Mark membaringkan kepalanya di meja bar itu, merasa kepalanya sudah merasa berat.
"Then make me! Aku tidak mengerti hal apapun selain kau yang bertingkah kekanak-kanakan seperti ini! Gunakan akal sehatmu! Apa kau pikir dengan seperti ini kau bisa mendapatkan Jackson kembali? Berpikirlah layaknya seorang dewasa, Mark Tuan!" Bobby menggebuk-gebuk meja bar didepan wajah Mark, meluapkan emosinya,
Mark mengangkat kepalanya untuk menatap Bobby dengan tatapan benci. Dia paling tidak suka saat orang-orang mengatainya kekanak-kanakan, terlebih lagi jika orang itu lebih muda darinya. Dia pun mendorong tubuh Bobby hingga Bobby terhuyung kebelakang hampir terjatuh, "Jackson tidak pernah mengatakan bahwa aku kekanak-kanakan!" dan pria berebangsaan Amerika itu pun menangis tanpa malu. Ya~ namanya saja orang mabuk.
"Fuck." Bobby mengumpat pelan saat dia sadar bahwa dia baru saja menusuk Mark di bagian paling sensitifnya. "I'm sorry." Bobby mencoba mendekati Mark tapi sebelum dia melangkah lebih dekat lagi, Mark melempar gelas minumannya kearahnya dan menarik perhatian si bartender.
."Mark, you're drunk. We need to go home." Bobby mengangkat tangannya sebelum Mark melemparkan hal lain lagi kearahnya
"Tidak!"
"Maaf tuan, pertama kau belum membayar, kedua kau membuat keributan disini jadi tolong pergi sebelum kami menggunakan kekerasan." Sang bartender angkat bicara.
"Aku bilang aku tidak mau pulang!"
"Sebelum kami menggunakan kekerasan tolong pergilah." Ujar bartender itu lagi.
"Aku bilang tidak!"
Bartender yang memiliki badan cukup proporsional itu pun kehilangan kesabarannya dan dengan paksa menarik tangan Mark namun Mark tetap bersikeras untuk tinggal dan memberontak.
"Hey lepaskan tangan temanku!" gertak Bobby.
"AH!" rintih Mark saat tangannya dicengkram sangat kuat oleh sebuah tangan lain yang mencoba menggeretnya.
Bartender itu pun melepaskan cengkramannya saat mendengar Mark berteriak kesakitan dan tanpa sengaja meninggalkan bekas memar di tangan mulus milik pria yang sedang merintih kesakitan itu.
Bobby mendesah, tidak ada cara lain lagi. Dia harus menghubungi Jackson..
.
.
.
Jackson dengan terburu-buru menerobos masuk kedalam bar yang Bobby beritahu. Dia terus memaksa menembus masuk melewati lautan manusia yang menghalangi jalannya hingga akhirnya dia menemukan sosok yang dia cari, sedang duduk tidak jauh darinya dan tengah meronta-ronta, menolak Bobby yang mencoba menenangkannya.
Sosok itu terlihat begitu fragile, membuat Jackson ingin sekali memeluk dan melindunginya dari setiap orang. Jackson melangkahkan kakinya perlahan mendekati pria itu.
"Mark.."
Mark mengalihkan perhatiannya ke sosok baru yang mencoba mendekatinya. "Aku tidak mau pulang!" seru Mark pada Jackson yang wajahnya tidak bisa dia lihat dengan jelas karena kadar alkohol dalam dirinya yang terlalu tinggi.
"Mark, ini aku.." Mark flinches when Jackson tries to touch him.
"Go away!"
Jackson flinches."Baby.. it's me. It's just me." Jackson kini sudah berada tepat didepan Mark tanpa disakiti sekalipun oleh Mark seperti yang dia lakukan pada Bobby.
Bobby mendengus tidak terima. Setidaknya Jackson harus merasakan cakaran Mark baru dia bisa merasa diperlakukan dengan adil.
Dengan lembut, Jackson memijat-mijat leher bagian belakang Mark, kebiasaan lama yang sering dia lakukan untuk menenangkan Mark jika dia panik atau gugup.
.
Dan Mark sangat ingat sentuhan itu.
.
"Jackson?" ujarnya pelan.
"Yes, baby.. I'm here.. Calm down, no one's gonna hurt you."
"Jackson.." Mark memegang tangan Jackson erat. "They are forcing me to go home!" Mark whines, masih belum sepenuhnya sadar, mengadu pada Jackson apa saja yang Bobby dan para bartenders disana lakukan padanya.
"Lihat apa yang dia lakukan padaku.." Mark menunjuk seorang bartender lalu menunjukkan lengannya yang kesakitan karena ditarik dengan paksa.
"You!" Jackson menggertakkan giginya dan menatap tajam bartender yang Mark tunjuk, pelaku dari luka memar yang ada di tangan Mark.
"Dia belum membayar dan memecahkan gelas kami." Bartender yang dimaksud membela diri.
"Dia masih belum selesai minum mengapa harus bayar dulu!" Protes Bobby membela temannya. "Dan gelas yang dipecahkan hanya satu!"
Dengan penuh amarah, Jackson mengeluarkan dompetnya dan mengambil lembaran tebal uang dolar dari dompetnya sebelum menamparkannya ke wajah sang bartender. Lalu dia memasukkan dompetnya lagi dan kembali fokus ke tujuannya datang kesana.
Jackson memegang kedua pipi Mark dan mengelus-elus pipi itu lembut dengan kedua ibu jarinya. "Ayo pulang?"
Mark menggeleng pelan.
"Wae..?"
"Aku benci rumahku.. Aku selalu merasa kesepian disana, jika aku merasa kesepian aku selalu memikirkanmu, jika aku memikirkanmu aku selalu merasa sedih, aku selalu menangis jika aku sedih." Mark menggelengkan kepalanya lagi.
"Alright, kalau begitu ayo ke rumahku?" ajak Jackson.
"Apa aku tidak akan merasa kesepian jika aku dirumahmu?" tanya Mark dengan lugu.
Sakit. Hati Jackson sakit melihat Mark seperti ini. "..You won't."
"Kalau begitu ayo!" Mark mencoba berdiri namun kakinya mengkhianatinya, jika bukan Jackson yang segera menangkapnya pasti dia sudah terjatuh menabrak lantai.
Jackson mengangkat tubuh Mark yang terasa ringan ditangannya, membawanya keluar dari bar menuju mobilnya dengan bantuan Bobby yang membukakan pintu mobilnya untuk mereka agar Jackson bisa membaringkan Mark di dalam.
Bobby dengan hati-hati menutup kembali pintunya saat Jackson selesai membaringkan Mark agar Mark tidak merasa terganggu. "Dia sudah seperti ini sejak sebulan yang lalu." Ujarnya tiba-tiba.
Raut wajah Jackson berubah dari terkejut, menyesal, marah, dan kemudian melembut. "I'll take care of him, thanks dude."
"Jangan hubungi aku sebelum kalian menyelesaikan masalah kalian."
.
.
.
.
.
Jackson sedang membuat coklat panas untuk dirinya sendiri dan untuk Mark yang sedang tertidur di kamarnya, Bobby bilang Mark belum mengonsumsi apapun dan itu tidak baik untuk perutnya yang diasupi alkohol dengan perut kosong. Setidaknya dengan meminum coklat panas perutnya tidak akan bermasalah besok pagi, pikir Jackson.
Jackson membuka pintu kamarnya perlahan dengan membawa sebuah nampan. Dia meletakkan nampan itu di meja yang ada di samping bed nya lalu menggoyang pelan tubuh Mark.
"Mark, wake up."
Dengan perlahan Mark membuka matanya yang tertutup. Dia mengedipkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu dan masih sedikit mabuk karena kadar alkohol yang dia konsumsi terlalu tinggi untuk hilang secepat itu. Sesaat dia membuka matanya dan melihat Jackson yang sedang memegang segelas besar coklat panas, saat itu pula dia mulai menangis seperti anak kecil.
Jackson groans, "Kau minum sebanyak apa?" Kemudian meletakkan kembali gelas yang dia pegang ke atas meja.
"Apa kau mau mandi terlebih dahulu?" Mandi adalah satu-satunya cara untuk membuat Mark kembali ke akalnya.
Tidak menerima jawaban sama sekali, Jackson menarik tangan Mark lembut dan menggiringnya ke bathroom yang berada di kamarnya. Jackson mengatur suhu air bathtube-nya agar Mark bisa mandi dengan air hangat karena suhu udara disana sangat dingin.
Jackson juga membantu Mark membuka bajunya karena Mark yang masih sedikit mabuk itu kesulitan untuk membukanya. Setelah merasa semuanya sudah selesai dan tidak ada lagi yang bisa dia bantu, Jackson keluar dan menunggu Mark selesai berbasuh sambil berbaring di tempat tidurnya.
Dia berencana untuk istirahat sejenak..
Tapi dia tertidur.
.
.
xxxxx
.
.
Jackson terbangun mendengar suara isakan seseorang, dia mengangkat kepalanya dan melihat seorang Mark Tuan sedang duduk membelakanginya di sebuah sofa yang berada tidak jauh dari tempat tidurnya, memeluk lututnya dan menenggelamkan kepalanya dicelah lutut dan dadanya. Coklat panas yang sebelumnya dia siapkan masih berada dimeja, belum tersentuh sama sekali.
Dia bangkit berdiri dan menghampiri pria berambut merah itu, dia menepuk bahunya pelan yang membuat pria itu terkejut dan mendongakkan kepalanya. Matanya merah dan bengkak, menandakan dia sudah menangis cukup lama. Jackson pun duduk didepan Mark, membiarkan Mark menenangkan dirinya terlebih dahulu dan berhenti menangis sebelum membuka pembicaraan.
Mark menghapus air matanya dengan lengan bajunya, merasa malu menangis didepan Jackson untuk yang kedua kalinya setelah kejadian di taman hiburan yang lalu. Mengatur pernafasannya kembali dia meletakkan kepalanya yang masih terasa sedikit berat di tangannya yang terlipat diatas lututnya.
"Why are you doing this to yourself?" tanya Jackson, suaranya masih serak karena baru terbangun dari tidurnya.
Tidak ada jawaban untuk beberapa saat, dan Jackson juga tidak yakin jika Mark mau menjawab dan membicarakan masalahnya atau tidak. Oleh sebab itu dia lebih memilih diam.
Tapi kemudian Mark menjawab dengan pelan ;
"Aku hanya ingin menghapus namamu dari pikiranku walaupun hanya untuk sementara. Alkohol adalah jalan satu-satunya." suaranya tidak kalah seraknya dengan suara Jackson akibat menangis terlalu lama.
,,,
"Aku memang bodoh, Jackson.." Mark kembali bicara, suaranya terdengar begitu jauh. Seakan dia hanya bicara pada dirinya sendiri.
Jackson masih memilih untuk diam, dia tau Mark belum selesai bicara.
"Aku memutuskan hubungan kita begitu saja karena seorang pria yang menarik perhatianku secara fisik hanya untuk menyesalinya beberapa saat kemudian... Maafkan aku.."
Jackson menundukkan kepalanya, teringat kembali ke masa lalu.
"Saat kencan pertama kami di sebuah restaurant yang aku pikirkan hanya dirimu dan bagaimana manisnya kau memperlakukan ku." He says dreamily.
...
"Aku menerima pesan darinya saat hujan turun, tapi yang terlewat dipikiranku adalah betapa manisnya dirimu saat kau meninggalkan payungmu di lokerku." He says dreamily.
...
"Aku sedang ketakutan saat petir mengganggu tidurku tapi yang aku ingat hanya kau yang selalu rela datang walau hujan turun sangat deras untuk menenangkanku." He says dreamily.
...
"Aku sedang bersama temannya namun yang aku pikirkan hanyalah kau dan teman-temanmu."
...
...
"Aku sedang mengencaninya tapi semua yang ku pikirkan hanyalah tentang dirimu.."
Airmata kembali turun dari dua buah mata indahnya dan membasahi pipinya. Dia berpikir bahwa dia harus mengeluarkan semuanya untuk meringankan beban dihatinya. Dia harus membuat Jackson mengerti betapa besarnya hal ini baginya, betapa berpengaruhnya keputusan bodoh yang dulu dia buat dalam hidupnya dan membuatnya hidup penuh dengan penyesalan. Dia juga harus membuat Jackson mengerti bahwa dia sungguh-sungguh dengan tulus ingin meminta maaf dengan Jackson.
"Aku sedang mengencaninya tapi aku malah jatuh cinta padamu." Lanjut Mark, suaranya bergetar.
...
Jackson mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Mungkin ini sepele bagimu, Jackson. Tapi aku menghabiskan hidupku dalam penyesalan karena ini. Aku tau ini semua tidak penting bagimu, namun tolong dengarkan aku.."
Jackson mendengarkannya..
"Aku sangat menyesal. Menyesal karena begitu bodoh untuk melepaskanmu begitu saja, karena tidak memperlakukanmu dengan baik saat kita masih bersama. And because I fell in love with you right when you fell out of love."
Jackson masih menatap Mark tidak percaya.
"Saat kita bertemu malam itu, aku tidak bisa menutupi rasa rindu dan emosiku yang kutahan selama empat tahun... betapa bodohnya aku saat berpikir kau belum punya kekasih.." satu isakan lolos dari mulutnya,
Air mata Mark mengalir lebih deras lagi karena hatinya masih terasa sakit. Dia pikir dengan meluapkan semuanya, hatinya akan merasa lebih baik, lalu mengapa seperti ini?
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Jackson.." bisik Mark, dia mengangkat wajahnya dan menghapus airmatanya dengan jari-jari tangannya.
"Mengapa rasanya sangat sakit?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Aku ingin sekali marah.. marah pada diriku sendiri. Aku yang membuat diriku seperti ini. Dan aku juga marah kepada siapapun diatas sana yang mengatur waktu, mengapa kau harus jatuh cinta terlalu awal dan aku harus jatuh cinta terlalu terlambat?" Dia mengelap air matanya dengan bajunya karena jari-jarinya pun sudah tidak cukup untuk menghapus mereka.
Mark menutup wajahnya dan menangis dengan kencang. Menyerah untuk menghapus jejak air mata dari wajahnya, dan lelah untuk menahan airmatanya karena walau ditahanpun mereka tetap keluar. Dia tidak berbohong saat dia berkata dia marah. Dia sangat marah. Jika memukuli dirinya sendiri bisa mengubah keadaan dia pasti sudah melakukannya sejak dulu.
Dia benar-benar marah pada dirinya sampai-sampai dia menghancurkan dirinya sendiri dengan terus minum walaupun tubuhnya sudah menolak. Dia begitu marah hingga dia jarang menyentuh makanan yang disiapkan Bobby untuknya. Itu semua dilakukannya hanya untuk menghukum dirinya sendiri.
"Mark-"
"Aku menyesal, Jackson.. aku benar-benar ingin minta maaf."
"Kau tidak bersalah, Mark.."
"Maafkan aku, Jackson.. Aku tidak berharap kau mau memberiku kesempatan lagi, aku hanya ingin minta maaf."
"Mark-" Jackson mencoba untuk memberitau Mark bahwa dia tidak menyalahkan Mark sama sekali, namun Mark terus memotongnya.
"Tolong maafkan aku.."
"Mark Tuan-"
"Mungkin jika kau memaafkanku aku bisa memaafkan diriku sendiri.."
Jackson sudah tidak tahan lagi, dia menarik tengkuk Mark dan melumat bibir manis itu dengan lembut untuk membuatnya diam. Dia sudah tidak tega melihat pria yang sangat dia sayangi itu terus menangis dan menyalahkan diri seperti itu. Tidak ada perlawanan dari Mark -juga tidak ada balasan darinya- Jackson memperdalam ciuman mereka. Setelah beberapa saat, Jackson menarik bibir bagian bawah milik Mark dengan giginya dan mengakhiri ciuman mereka.
Dia menatap mata Mark yang menatapnya kembali dengan tatapan kosong, mengangkat kedua tangannya untuk menghapus jejak-jejak air mata di wajah pria yang sekalipun, sedetikpun tidak pernah berhenti dia cintai. Lalu kedua tangan itu turun ke bahunya, he gives them a squeeze sebelum dia menarik Mark kedalam pelukannya.
Jackson menempelkan hidung dan juga bibir tebalnya nya tepat di tengkuk leher Mark. Saat mendengar satu isakan yang keluar dari bibir Mark lagi dia mulai menggerakkan bibirnya diatas kulit putih itu dan membuat Mark menggigit bibirnya gemas saat merasakan sensasi aneh dari aktivitas yang Jackson lakukan dilehernya.
Dengan mata tertutup, Jackson menghisap kuat bagian leher yang sedang dia ciumi hingga sebuah tanda kemerahan muncul disana.
"J-Jacksonn~"
Jackson terus menciumi dan menelusuri leher putih yang sekarang sudah menjadi candunya itu lalu beralih sebentar untuk menciumi telinga bagian belakang Mark dan berhasil mendapatkan sebuah erangan pelan darinya. Bibirnya turun perlahan meninggalkan satu kecupan disetiap area yang bibirnya lewati saat menuju leher bagian depan Mark. Dia membuat lumatan-lumatan dileher depan itu yang sontak membuat Mark mendongakkan kepalanya untuk memberikan Jackson akses lebih.
Jackson mengangkat pria dihadapannya dengan mudah tanpa menghentikan aktivitasnya, dia membawanya menuju meja terdekat karena jarak mereka dengan kasurnya terlalu jauh bagi Jackson saat itu. Dia merebahkan tubuh itu pelan-pelan diatas meja kerjanya. Jackson memandangi wajah Mark yang sudah kemerahan karena perbuatan yang dia lakukan padanya, lalu mengalihkan matanya ke bekas kemerahan yang dia tinggalkan dileher Mark.
"Jackson.." panggil Mark dengan suara lembut tapi seakan menggoda.
Tanpa ragu Jackson langsung menarik tangan Mark untuk membuatnya duduk, kemudian mencium ganas bibir tipis milik Mark. Tangannya yang semula hanya memeluk tubuh ramping itu pun mulai menyusup kedalam bajunya dan bergerilya. Tangannya yang lain melingkar di pinggang Mark untuk menjaganya tetap aman.
Permintaan maaf, penyesalan, rasa cinta dan semua yang ingin disampaikan Mark, dia sampaikan dengan ciuman yang dia berikan kembali pada Jackson. Dia memejamkan matanya dan mencengkram bahu Jackson dengan erat. Tanpa sadar mulai meneteskan air mata lagi, karena dia bisa merasakan hal yang sama yang Jackson tuangkan dalam ciumannya.
Merasakan sesuatu yang memainkan nipple-nya, Mark pun meremas kembali bahu milik Jackson dengan sedikit keras.
"J..Jackson.." keluh Mark dalam ciuman mereka.
"Hmm.." jawab Jackson yang masih terus melumati bibir Mark dan memainkan nipple Mark yang membuat Mark terus menggeliat didekapannya.
"J..Jack- ah.." Mark mengerang saat merasakan nipple-nya dicubit dengan lembut oleh Jackson.
Sudah tidak sanggup lagi menahan libidonya, Jackson pun menarik bibirnya dari bibir Mark dan melucuti pakaian Mark dan melempar pakaiannya ke sembarang tempat. Mata besar milik Jackson menatap lekat mata indah Mark yang sedang tersengal-sengal mencoba untuk menenangkan nafasnya.
Tidak lama kemudian Jackson melebarkan kaki Mark dan melingkarkan kaki Mark di pinggangnya, lalu menggesekkan kejantanan mereka yang sudah menegang yang masih tertutup kain. Dengan itu saja, Mark sudah kewalahan dengan sensasi lain yang baru dia rasakan seumur hidupnya. Dia melenguhkan nama Jackson berkali-kali saat Jackson memperkuat tekanan kejantanannya terhadap kejantanan milik Mark.
Jackson membuka bajunya ditengah-tengah aktivitas mereka, Mark spontan menjelajahi tangannya di atas abs milik Jackson yang membuatnya kembali melenguh saat merasakan dada keras milik Jackson itu ditangannya.
Tiba-tiba saja Mark merasakan sesuatu di perut bagian bawahnya, seakan sesuatu itu akan segera keluar dari kejantanannya. Menyadari tubuh Mark yang menegang Jackson tau bahwa Mark akan segera keluar, dia pun mengeraskan dan mempercepat tekanan yang kejantananya berikan ke kejantanan milik Mark dan sontak membuat Mark membalikkan kedua bola matanya.
"Jacksoonn! A-ahhh aku.." Jackson terus menggesekkan kejantannan mereka dengan kuat hingga dia mendengar Mark menjeritkan namanya.
Mark yang mulai merasa lelahpun menyandarkan tubuhnya ke tubuh bagian depan milik Jackson. Dia menutup matanya dan sedikit lagi sudah akan berada di alam mimpi jika dia tidak merasakan Jackson membuka tali pinggang yang dia kenakan. Mark membuka kembali matanya dan mendapatkan Jackson tengah berusaha membuka celana jeans ketat-nya dan pakaian dalamnya secara bersamaan.
Jackson juga melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri. Dengan tidak sabar dia membuka celananya dan pakaian dalamnya, menunjukkan kejantananya yang masih menegang karena belum sempat mencapai klimaksnya. Tanpa aba-aba dia mulai memasukkannya kedalam hole Mark dengan perlahan tanpa mempersiapkan Mark terlebih dahulu.
"J-Jackson.. you are too big to fit in.." Mark cries out sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa kesakitan saat Jackson memaksa masuk kedalamnya.
"Shussh~ It'll feel good soon." Jackson mengerang pelan saat merasakan betapa ketatnya dan hangatnya bagian dalam Mark yang sedang dia paksa memberikan jalan bagi kejantanannya.
"Hhngg... AHH." rintih Mark kesakitan saat Jackson sudah sepenuhnya berada didalamnya.
Sambil menunggu Mark beradaptasi dengan ukuran besarnya didalamnya, dia kembali memainkan nipple Mark untuk mengalihkan pikirannya dari rasa sakit dibawah sana. Dan itu sukses membuat Mark melupakan rasa sakitnya dan fokus dengan kenikmatan yang dia rasakan dari permainan Jackson di nipple-nya.
Mark melenguh saat Jackson menekan keras ibu jarinya diatas nipple-nya dan mencubit-cubit nipple-nya yang lain. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Jackson karena tubuhnya sudah lemas akibat sensasi-sensasi nikmat yang dia rasakan, tanpa dia sadari pun kejantanannya sudah kembali menegang.
Melihat Mark yang sudah hilang dalam kenikmatan yang dia berikan dan terus melenguh, Jackson tests the water dan menggerakkan pinggangnya sekali. Saat menerima lenguhan yang lain dari Mark yang meyakinkan Jackson bahwa dia sudah siap, Jackson pun menarik kejantanannya hingga hampir sepenuhnya keluar lalu mendorongnya kembali kedalam.
"Nggghh..." Mark pun memeluk erat leher Jackson dan tidak sengaja menghirup aroma maskulin dari tubuh Jackson.
Setelah memberikan satu kecupan manis di leher bagian belakang Mark, Jackson mulai menggerakkan kejantanannya keluar masuk hole milik Mark secara perlahan.
"Aaah! Ja-Jacksonngh.."
Mendengar suara-suara yang dihasilkan oleh Mark semakin membuat Jackson terangsang dan memaju-mundurkan pinggangnya dengan semakin kencang dan kuat, dan tentunya kembali menerima erangan yang kuat dari Mark juga.
Mark melengkungkan tubuhnya saat merasakan Jackson menusuk satu titik nikmatnya, "JACKSOON!" teriaknya.
Jackson yang paham benar titik apa yang baru saja dia tekan dengan junior-nya terus mengarahkan dorongan pinggangnya ke titik itu yang membuat Mark kewalahan dan terus mengeluarkan erangan-erangan tanpa henti serta sesekali memanggil-manggil nama Jackson yang sedang memuja-muja tubuhnya.
"Aaah.. aahh.. ahhh.. ahhh." Erang Mark disetiap gerakan yang Jackson lakukan. "Jacksooonn... Jacksonnggh.."
Setiap lenguhan yang Mark keluarkan membuat Jackson semakin gila dan mempercepat gerakannya, tidak memperdulikan punggungnya yang terus disiksa oleh kuku-kuku jemari milik Mark.
"Fuck, Mark Tuan!" Jackson growls, merasakan sensasi yang sama yang Mark rasakan karena Mark meremas kejantannya dengan kuat.
"Jackson.. I'm close.. so closee.." Mark lets out a sob, kenikmatan yang dia rasakan saat ini sudah tidak bisa dia tahan lagi, dia memejamkan matanya dengan erat dan tanpa disadari ikut menggoyangkan pinggangnya. Namun meja yang sedang dia duduki menjadi penghalang nafsunya yang berusaha untuk membantu Jackson dalam mempercepat pertemuan ujung juniornya dengan titik kenikmatan Mark yang terus dia siksa. Hal itu membuat Mark frustasi dan merengek, dia ingin ikut memuaskan nafsunya dan merasakan kenikmatan yang lebih.
"Shussh.. baby..." Jackson yang mengerti arti dari rengekan Mark, mempercepat gerakannya hingga membuat meja yang Mark duduki ikut bergerak.
"Hhhnngg! Nnggghh..." Mark menggeleng-gelengkan kepalanya dibahu Jackson dan memeluk lehernya semakin erat, dia merasa dirinya akan meledak saat itu juga. "JACKSONNN!" teriak Mark saat dia benar-benar meledak dan mengeluarkan cairan putih untuk yang kedua kalinya.
"Fuck! Ahh.." erang Jackson saat Mark meremas kejantanannya lebih kuat lagi, dia terus menarik keluar dan masuk kejantanannya beberapa kali sebelum akhirnya mengikuti jejak Mark, mengeluarkan jus-nya kedalam hole milik Mark.
"Nngh.." Mark melenguh saat merasakan junior Jackson menembakkan cairan didalam hole-nya.
Setelah beberapa saat and after coming down from his high, Jackson menggendong Mark ke kasurnya dan membaringkannya dengan hati-hati seakan-akan pria berambut merah itu terbuat dari kaca dan bisa pecah kapan saja. Dia berbaring disampingnya dan mendekapnya dengan erat, tidak perduli betapa kotornya mereka dan tidak ambil pusing untuk membersihkan tubuh mereka yang lengket.
Walau sudah tidak ada jarak lagi diantara mereka, Mark tetap mencoba lebih mendekatkan tubuhnya dengan Jackson. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jackson dan melingkarkan tangannya ditubuh Jackson dengan kuat.
Jackson mengelus-elus rambut lembut Mark dengan penuh kasih sayang. Melihat Mark yang menyalahkan dirinya sendiri tadi membuatnya marah pada dirinya sendiri juga. Dia berjanji tidak akan membuat pria yang dicintainya itu bersedih lagi. Dia tidak akan membiarkan setetes airmata pun mengalir di pipinya. Dia bersumpah untuk membuat Mark Tuan bahagia and to make it up to him for making him cry.
"I love you too, Mark. More than anything." bisiknya di telinga Mark yang sudah hampir terlelap dipelukannya.
'I love you too Jackson..
both you...
and your white love..'
.
.
END
.
.
gak berani di baca ulang soalnya chapter terakhir gak tau kenapa, jadi maklumi aja ya kalo aneh smut-nya hikss
.
terimakasih buat kalian yang udah favorite / follow / review fic ini. aku pikir cuma sedikit yang bakal minat tapi ternyata..
.
berhubung ini chap terakhir toloong buat semua silent reader, review~~~
.
thanks to :
MMahlynda, 852626, okta, adetikaaa, Alan582, tiffythequeen, Lovewang, Jell-ssi, hellenac, Minnie330, bom, jqv, ciandys, pmslidgaf, markiepooh, come and get it got7, got7butlost14, lilmarkson, hanbinlievable, shashabb, igotwangjackson, RapGodBobby, soojx, arsmind, none, Marksong7, Tikha Semuel RyeoLhyun, JBmoi, cheribeau.
.
.
.
.
:)
