Tubuhnya panas dingin saat berciuman dengan Sasuke di rumah sakit kemarin. Dia tidak tegang, Naruto bersumpah bagian selangkannya baik-baik saja. Tapi perubahan suhu waktu itu membuatnya merinding, kenapa jadi seperti ciuman untuk pertama kali? Rasanya benar-benar melayang dan memabukan, hampir hilang kendali malah.

Naruto mengerang dan menyangkalnya jika mengingat itu. Perkataan kakaknya Sasuke pasti mempengaruhinya. Laki-laki itu bahkan bisa menekannya hanya lewat kata-kata.

Kecemasannya berangsur pulih begitu dia menggauli beberapa wanita di sekolahnya lagi. Dia masih tegang, dan masih menikmati bercumbu dengan mereka. Menjauhi Sasuke sebenarnya tidak ada dalam rencana. Tapi jika berdekatan dengan cowok itu, Naruto takut tidak bisa fokus. Naruko langsung mencercanya saat pulang ke rumah, menudingnya jika dia cowok lemah yang cepat menyerah.

"Hey! Hey! Nafsuku, kan, butuh tersalurkan juga!" Naruto beralasan. Dia sebenarnya bingung darimana Naruko tahu. Tapi mengingat adiknya itu seorang yang nekat, dia tidak akan heran jika gadis itu punya mata-mata di sekolah.

"Dengan bercinta sama cewek di sekolahmu? Oh, please! Otakmu diletakan di mana, sih?" kata Naruko.

Naruto memutar bola matanya. Dia malas jika berhubungan dengan adiknya yang dalam mode cerewet. Sebenarnya siapa yang kakak di sini, sih? Kenapa malah Naruko yang mengatur-ngaturnya?

"Berhentilah mengoceh, Naruko!" desis Naruto sambil berlalu, tak peduli lagi dengan koar-koar adiknya.

Dia langsung merebahkan diri saat tiba di kamarnya dan menatap layar ponselnya agak lama. Hanya beberapa hari tidak menghubungi Sasuke, dan rasanya jadi aneh bagi Naruto. Apa hari ini sikapnya sudah keterlaluan? Dia memperlakukan Sasuke seolah cowok itu orang asing hanya untuk membuktikan nafsunya terhadap wanita. Ah, dia bahkan membiarkan saja saat Sasuke pergi dengan muka kesal di kantin tadi. Pasti cowok itu sangat marah.

Naruto menghela nafas, baru menyadari kebodohan yang dia lakukan. Padahal sudah sejauh ini... sial! Tangannya mulai bergerak cepat di atas layar ponselnya.

Kau sedang apa?

Pesan itu langsung dia kirim tanpa banyak membuang waktu. Naruto terus menatap layar ponselnya dengan sabar. Biasanya tak berapa lama Sasuke akan langsung membalasnya, tapi sepertinya tidak untuk kali ini. Cowok itu bahkan tidak membalasnya untuk setengah jam ke depan.

Hey, Sas'ke, kau marah?

Lima menit. Naruto mulai gusar sendiri karena ponselnya tidak berbunyi pesan masuk satupun. Dia menekan nomor Sasuke dan mulai meneleponnya. Teleponnya tersambung, tapi tak lama kemudian...

Nomor yang Anda—

Shit!

OoOoO

Sasuke baru saja kembali ke kamar setelah menonton serial bersama Itachi. Karena kesehatan kakaknya itu masih belum membaik, terpaksa laki-laki itu istirahat kerja dan menjadi pengangguran di apartemen. Dia tidak memperbolehkan Sasuke pergi kemanapun sehabis pulang sekolah, bahkan hanya sekedar pergi ke minimarket untuk membeli minuman.

"Aku bosan, Sasuke. Temani aku nonton."

Meski kepalanya—katanya—masih pusing, Itachi tidak mau terus-terusan berbaring di kamar. Maka dengan berat hati dan berat tubuh milik kakaknya, Sasuke mengaisnya sampai ke sofa depan televisi. Mereka memesan pizza keju besar dan nonton serial Supernatural season 1 sampai season 5 secara maraton, dilanjutkan dengan serial Green Arrow yang hanya sanggup di habiskan dua season kurang saja. Sasuke memapah kakaknya kembali ke kamar setelah itu, membaringkannya di tempat tidur. Yakin jika ruangan cukup hangat, dia keluar dan pergi ke kamarnya sendiri.

Sasuke duduk di tepi tempat tidurnya dan segera mengecek ponselnya yang ada di nakas. Dia terkejut mendapati tiga belas miss call serta tujuh pesan dari Naruto—hampir dua jam yang lalu... Dia mendengus tak peduli dan segera melempar ponselnya ke tempat tidur. Sasuke ingin tidur dengan nyaman tanpa memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan pacar brengseknya itu.

OoOoO

Sikapnya yang menghindari Naruto saat di sekolah, seperti pertanda kecemburuannya atas masalah kemarin, Sasuke tahu dengan benar. Tapi dia tidak cemburu. Cam kan itu! Dia hanya sedikit kesal karena Naruto mengabaikannya, karena cowok itu bermesraan dengan cewek-cewek berbaju sexy, dan karena putra Namikaze itu bermain-main di bilik kamar mandi. Sekali lagi, dia TIDAK cemburu! Dia hanya tidak suka miliknya dibagi-bagi dengan orang lain.

Sasuke tersentak dengan pikirannya sendiri. Miliknya? Tidak tidak tidak! Maksudku, dia bukan benar-benar milikku. Hanya saja, cowok itu tetap kekasihnya, kan. Tunggu! Kekasihnya? Sejak kapan dia mengakui Naruto kekasihnya? Ya Tuhan! Sasuke menggeram kesal, hampir meremukan tangannya sendiri yang saling bertautan.

"Aku tahu kau kangen dia, Sasuke," kata Sakura lugas. Sasuke yang terkejut mendengarnya, buru-buru menoleh pada teman ceweknya itu, memberikan tatapan 'Aku-tidak-rindu-padanya'.

God, bagaimana mungkin temanku sendiri menudingku? Pikir Sasuke tidak habis pikir. Memangnya dari sisi mananya sampai dia bisa menyimpulkan hal yang mustahil seperti itu?

"Aku sebenarnya kesal juga padanya kemarin—meskipun tahu dari dulu sikapnya memang seperti itu, sih" kata Sakura. "Kenapa aku bisa suka padanya, ya?" pertanyaan itu lebih kepada diri sendiri. Sakura menerawang.

Sasuke mendengus dalam hati. Ya. Kenapa kau menyukainya? Jika dulu kau sedikit tahu diri dan tidak memaksakan kehendak, aku tidak mungkin berurusan dengannya. Atau tidak? Naruto bilang dia sedang bertaruh dengan seseorang, kan? Tanpa kejadian Sakura pun dia pasti akan mendekatiku, sepertinya.

"Ah!" Sakura tiba-tiba berseru dengan telunjuk mengacung, di atas kepalanya seperti ada lampu neon terang. "Aku tahu cara membalasnya? Supaya kau tidak misuh-misuh juga."

Aku tidak misuh-misuh!

Sakura tersenyum misterius setelahnya, membuat Sasuke sedikit mengernyit tak paham. Cowok itu berdo'a, apapun rencana Sakura, semoga bukan hal aneh yang tidak terduga.

OoOoO

Naruto akhirnya tahu rasanya diabaikan. Dia berusaha dekat kembali dengan Sasuke, tapi cowok itu tidak menanggapinya sama sekali. Bahkan ketika dia menciumnya lagi di bibir, Sasuke tetap bergeming dan pergi begitu saja setelahnya.

Kantin masih sama ramai seperti sebelum-sebelumnya. Biasanya dia akan melihat Sasuke memesan burger, tapi yang dia lihat hanya Sakura seorang. Naruto buru-buru menghampiri cewek itu.

"Di mana Sasuke?"

Sakura pura-pura tidak mendengar, pergi sembari menenteng bungkus burger keju ukuan medium. Naruto tahu burger itu untuk Sasuke.

"Sakura!" Dia menarik tangan cewek itu.

"Urusi saja cewek-cewekmu!" desis Sakura, segera menghentak tangan Naruto dan pergi dari sana.

Naruto mengumpat saat kembali ke teman-temannya. Kiba menggeleng pelan, Sasori tak peduli (dia sedang seru berciuman dengan cewek berambut pirang keriting), sedang Deidara menatapnya dengan sedotan jus di mulut.

"Sudah kubilang, Sasuke pasti cemburu melihatmu kemarin," katanya, setelah menelan air di mulutnya. "Kau, sih, pake acara main cewek lagi."

"Oh, shut up, Dei!"

Tapi Naruto tetap memikirkannya. Sasuke cemburu? Apa iya? Pikirnya ragu.

"Man, turunkan egomu dan minta maaf padanya," saran Kiba. "Kau tampak kacau."

"Aku tidak kacau!"

"Oh yeah..." Kiba memutar kedua bola matanya. "Kau hanya terlihat banyak pikiran."

"Aku tidak!" Naruto menyanggah keras, lagi.

Sasori yang sudah selesai berciuman, ikut menyahut, "Kau hanya terlalu banyak melamun, Naru, sejak Sasuke mengabaikanmu tadi pagi, dan saat di kelas juga.". Bibirnya menyeringai menatapnya, tapi tangannya bergrilia di bagian bawah tubuh cewek di pangkuannya.

"Ahn, Saso!"

Naruto mendengus. Dia bertekad akan mengajak Sasuke bicara pulang sekolah hari ini, apapun yang terjadi. Jika cowok itu menolak, dia akan menyeretnya. Minta maaf? Cih! Terpaksa dia akan melakukan itu jika perlu.

Tapi sayangnya, apa yang terjadi di luar rencananya. Saat hendak menghampiri Sasuke di kelas terakhirnya, cowok itu sedang di peluk oleh seorang cowok lain dengan penampilan anak band yang kentara. Tubuhnya dibalut jaket kulit hitam, celana jinz ketat menempel di kakinya, juga sepatu boots dengan warna senada, tas gitarnya tertenggar di punggung. Rambut hitamnya berantakan, menyentuh bagian sisi kepala Sasuke yang sensitif. Tanpa sadar Naruto menggeram, tangannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih.

Hanya aku yang boleh menyentuh Sasuke seperti itu!

OoOoO

TBC

Yahallo~, Eperibodiiih

Lama tak jumpa, ya...

Saya sedang mengalami perjalanan menuju dunia kegilaan sekarang (STRES BAB 4),

Jadi mumpung otak saya masih sedikit waras, saya nulis lanjutannya (hanya untuk kali ini)

(NB: chapter ini udah selesai dari beberapa hari yang lalu sebenarnya, tapi baru saya edit2 untuk saya post di sini—jikan ga nai!)

Saya tidak bisa janji ke depannya akan lebih cepat, saya Cuma akan pastikan satu hal... updatenya mungkin akan semakin lama

#GOMEN

#BOW

Oya, sudah saya bilang saya bukan orang yang pandai menulis cerita panjang-panjang...

Jadi, terima apa adanya aja ya... :P