Last Chapter :) makasih yang udah nemenin aku di fanfiction pertamaku ini :)
Epilog akan dipisah karena terlalu panjang kalau digabung hehehe
oiya maaf untuk typo yang banyak kemarin, ada kesalahan teknis, tp aku usahain berkurang untuk chap ini :')
selamat membaca.
With Love
-selfQuill
OoOoO
All Character belong to J. K. Rowling
Something New
Chapter 10
OoOoO
Hermione kembali ke rumahnya dengan harapan yang membumbung tinggi, perpustakaan sekarang bukan lagi suatu tempat yang memberi harapan palsu, tapi tempat dimana dia bisa benar-benar mempertahankan harapannya.
Draco senang mendengar cerita Hermione malam itu, bahkan Ginny membawa James untuk datang dan membantu Hermione bergulat dengan buku-bukunya. James dan Scorpius hanya bermain lempar-lemparan kertas yang mereka sobek dari berbagai buku, membuat Draco dan Harry berusaha memperbaikinya lagi berulang kali.
"Bagus James, kau lama-lama bisa menghancurkan rumah ini," kata Harry sabar, sambil mengayunkan tongkatnya pada buku yang berantakan di sudut ruangan.
"Aku akan mengirim tagihan, Harry," balas Draco menyeringai.
"Kalau begitu, tak jadi saja, James," kata Harry sambil mendegus sebal disambut seringaian yang semakin lebar dari Draco dan tawa lepas anak-anak.
"Bagaimana kandunganmu, Ginny?" tanya Hermione mengalihkan perhatiannya kembali pada buku di depannya.
"Oh baik, 'Mione," jawab Ginny bersemangat, "coba tebak apa jenis kelaminnya?" tanyanya tak sabar.
"Err… laki-laki lagi?"
"Kau benar," kata Ginny dengan wajah yang bersinar, "bagaimana kau tahu? Apa Harry membocorkannya?"
"Tidak…" kata Hermione terseyum memikirkan kata-kata Ginny, bagaimana bisa dia menyebut suaminya membocorkan kejutan jenis kelamin anak mereka, karena jelas-jelas dia sendiri yang duduk di depan Hermione dengan muka mudah di tebak dan mengumumkannya suara bahagia yang bisa didengar dari jarak sepuluh meter sekalipun. "Kau ingat, kau sering bilang kalau kau akan senang sekali jika memiliki dua anak laki-laki dan sekarang kau senang," lanjut Hermione.
"Apakah begitu kentara?" tanya Ginny sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak," jawab Hermione yang mengangkat bahunya.
Ginny menaikan alisnya, seolah bertanya 'lalu?' tanpa suara.
"Ginny, aku kan perempuan, jadi aku tahu," kata Hermione tak sabar dan mengangkat mukanya dari buku 'Tujuh Puluh Tujuh Mantra Mematikan' yang sangat tebal.
"Kau tau, Mione? Harry kelihatan akan lebih senang jika anaknya perempuan," bisik Ginny tampak sedikit kecewa.
"Tak usah pikirkan, dia akan senang apapun bayinya nanti. Laki-laki seperti mereka—" Hermione menunjuk Harry dan Draco dengan dagunya, "—kadang-kadang bersikap idiot dan kekanak-kanakan. Tapi, aku juga berpikir menginginkan seorang bayi perempuan," lanjutnya sambil mendesah.
"Kau benar sekali," kata Ginny yang ikut mendesah, "oh 'Mione... kau kan tinggal 'minta' saja pada Draco," lanjutnya dengan wajah memerah dan Hermione cepat-cepat menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang juga memerah, berpura-pura kembali menekuni buku tebalnya.
"Tidak semudah itu Gin," sergahnya dengan nada sambil lalu.
"Mengapa? kalian kan tinggal... err, ya kau tahulah. Lalu lihat nanti apakah bayi kedua kalian perempuan atau laki-laki," kata Ginny yang sepertinya tidak mau meninggalkan topik ini.
"Stt... jangan kencang-kencang," bisik Hermione, dia tak mau didengar Draco ketika sedang membicarakan kehidupan pribadi mereka pada Ginny, "lagipula aku belum mau hamil kok." Ginny hanya mengangkat bahunya dan kembali membolak-balik lembaran buku di tangannya.
"'Mione," seru suara Draco, "kau tahu bahwa kau belum mencoba perpustakaan di Manor?" lanjut Draco yang sekarang duduk di sofa di seberang ruangan dan menikmati Whisky Api bersama Harry, kelihatannya sudah memutuskan untuk membiarkan Scorpious dan James merobek buku-bukunya sampai mereka puas, baru setelah itu membereskannya.
"Hem… entahlah Drake. Err… Aku.." kata Hermione tak yakin.
"Kau tak perlu kesana," kata Draco cepat, sepertinya menyadari keengganan Hermione untuk menginjak Malfoy Manor, dan dia benar. Hermione memang tidak pernah mau mengunjungi Malfoy Manor sejak penyiksaan yang dialaminya bersama Bellatrix. "Porky bisa mengambil semua buku di sana untukmu," lanjut Draco.
Gambaran satu peri rumah yang kurus, pendek dan berhidung seperti moncong babi yang membawa tumpukan buku-buku berat di atas kepalanya, muncul dalam benak Hermione.
"Sangat berprikemanusiaan sekali Draco!" kata Hermione sebal.
"Mungkin maksudmu, berprikehewanan?" sambar Harry sambil tertawa.
"Menurut Undang-undang Hak-Hak Peri-rumah yang aku usulkan, mereka tidak diklasifikasikan sebagai hewan, Harry!" Kata Hermione tegas, menutup buku di hadapannya dengan keras, "Mrs. Withby— Kepala Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib waktu itu— menempatkan mereka sebagai Erklings—peri, tapi menurutku itu tidak tepat, mereka sangat mendekati manusia, mereka mempunyai perasaan, bisa berpikir dan segala macamnya, aku justru ingin sekali mengklasifikasikannya sebagai—"
"Tapi mereka juga bukan benar-benar manusia, 'Mione," potong Harry yang kelihatan sangat tidak ingin mendengar pidato panjang lebar Hermione tentang Hak-Hak Peri-rumah. "Well, manusia tidak ada yang pakai tudung teh di badannya," lanjutnya nyengir.
"Itu karena kalian para pemilik peri-rumah bersikap sangat kejam," kata Hermione sambil memberikan tatapan menuduh pada Draco, "dan aku akan mengambil buku-buku itu sendiri, Drake!" lanjutnya dan langsung berdiri lalu berjalan ke dalam ruangan kecil yang terdapat sebuah meja tulis dan rak-rak buku khusus yang tidak terlalu penuh. Dia mendengus ketika dia masih bisa mendengar Harry dan Draco yang membicarakan kegilaannya pada peri-rumah.
"Padahal peri-rumah itu kan bisa memindahkan satu rak buku dengan satu jentikan jari," bisik Harry.
"Dia pasti berpikir aku ingin menyiksanya Porky dengan menyuruhnya membawa satu rak buku-buku berat di atas kepalanya," kata Draco santai disertai tawa Ginny dan Harry.
Setelah saat itu, dia banyak menghabiskan waktunya di Malfoy Manor. Harapannya semakin membumbung tinggi ketika di hari ketiga setelah sadarnya Ron, dia menemukan sesuatu yang dicarinya selama ini, dia tersenyum dari balik buku bersampul kulit hitam yang dipegangnya, judulnya yang berwarna emas berbunyi 'The Rise and Fall of the Dark Arts'— 'Kebangkitan dan Kejatuhan Ilmu Hitam'. Buku itu penuh segala sesuatu tentang ilmu hitam dari masa ke masa. Tadinya, Hermione sudah hampir menyerah lagi ketika tiba-tiba dia menemukan artikel berjudul besar, dengan tulisan yang hampir tidak terbaca berbunyi 'Cabang kutukan kematian'.
Kutukan kematian adalah cara yang paling cepat dalam menghabisi musuhmu,
Tapi, jika kau tertarik untuk menyiksanya, sehingga membuatnya merasakan
kesakitan dan mati perlahan-lahan kau hanya perlu satu mantra dari lima cabang
kutukan kematian dibawah ini
(hanya untuk penyihir yang sudah tidak mempunyai hati nurani).
Buku ini sama menakutkannya seperti buku 'Rahasia Sihir Paling Hitam' yang menggambarkan cara-cara membuat Hocrux, sangat mengerikan. Hermione melewati beberapa bagian mantra-mantra yang sangat tidak manusiawi menurutnya. Mantra yang bisa membuat seseorang kehabisan darahnya menit demi menit sehingga dia akan mati kering kerontang perlahan-lahan, atau mantra yang dapat membuat korbannya merasa terbakar dari dalam, akan membuatnya memohon-mohon untuk dibunuh.
Dia hanya membaca satu bahasan tentang mantra terakhir dari lima cabang kutukan kematian.
Dolorius
Sesuai dari artinya, mantra ini bearti kesakitan, penderitaan, kesengsaraan.
Kutukan ini paling sederhana dari kelima cabang kutukan kematian, tapi
merupakan mantra paling mematikan.
Pengucapan : Do-loo-RIUS
Gerakan Tongkat : Mengacung tepat ke sasaran.
Ciri-ciri : bercahaya kuning terang
Kutukan ini akan melumpuhkan semua syaraf korbannya serta menonaktifkan
semua sistem jaringan tubuhnya. Termasuk sistem aliran darah ke dan dari
jantungnya, membuatnya mati perlahan. Jaringan pernapasannya akan
berhenti berfungsi perlahan-lahan— lama waktunya tergantung pada kekuatan
sihir si korban— jadi, sebanyak apapun oksigen yang akan dihirupnya tak akan
berguna.
Kontra kutukan : Recuperius
Setelah manik matanya membaca kontra kutukan itu, Hermione terburu-buru menutup bukunya, memasukannya ke dalam tas tangannya dan bergegas ber-Apparate menuju St. Mungo. Hermione berlari sepanjang lorong, meminta maaf karena menabrak beberapa penyembuh yang keluar-masuk bangsal pasien. Dia berlari sambil memeluk buku bersampul kulit itu, seolah-olah itu adalah satu-satunya pelampung penyelamat di tengah laut lepas. Dia membuka pintu bangsal Ron.
Pemandangan mengerikan menyambutnya, Ron terbatuk-batuk sambil memegang dadanya sementara darah segar keluar dari mulutnya, menodai kemeja putih Ron dan seprai rumah sakit. Napasnya memburu seperti baru saja di kejar-kejar oleh seseorang.
"Ron!" teriak Hermione yang langsung berlari menghambur ke arah Ron dan melempar begitu saja buku di tangannya. Hermione mengeluarkan sebuah handuk kecil dari tasnya dan berusaha membersihkan wajah Ron dari darah segar yang mengotorinya. Ron masih terengah-engah ketika pintu bangsal itu kembali terbuka.
"Ron?" suara tegang Harry terdengar di telinganya. Ron kembali terbatuk dan kembali darah segar keluar dari mulutnya, Harry berteriak memanggil penyembuh dari ambang pintu dan langsung mendekati Ron.
"Kau baik-baik saja, Ron?" tanyanya, Hermione yakin bukan itu yang sebenarnya ingin ditanyakannya, tapi sepertinya dia tak sangup bertanya hal lain.
"'Arry… 'Mione…" bisiknya masih terengah-engah, "a-aku baik… aku senang… melihat kalian."
"Stt… diam lah Ron! Tidak boleh banyak bicara," kata Hermione cemas.
"Aku… aku ingin meminta tolong… padamu 'Mione." Kata Ron yang tampaknya tidak mendengarkan larangan Hermione.
"Kau bisa minta tolong pada kami nanti," kata Hermione tegas.
"Tidak… harus… sekarang," suara Ron semakin kecil sehingga Hermione harus benar-benar menajamkan telinganya untuk mendengar setiap kata, "aku ingin kau untuk—"
Ron tidak melanjutkan kata-katanya, tubuhnya yang tadinya setengah duduk sekarang ambruk ke ranjangnya dengan napas pendek-pendek.
"RON!" teriak Harry tepat ketika seorang penyembuh wanita berwajah tegas yang Hermione ketahui bernama Mrs. Derwent masuk dengan tongkat sihir di tangannya dan satu botol ramuan berasap di tangan lainnya.
"Minggir," katanya tegas, dia langsung mengacungkat tongkatnya ke arah Ron dan mengumamkan mantra-mantra dengan cepat. Saat yang sama Hermione teringat buku yang dilemparnya tadi, dia berjongkok untuk mengambilnya, sampul buku itu hampir sama hitamnya dengan lantai batu yang dipijaknya, menjadikan buku itu seolah-olah bagian dari lantai jika saja judulnya tidak berwarna emas menyala.
"Penyembuh Derwent," kata Hermione cepat, sejenak penyembuh wanita itu tidak menghiraukan seruan Hermione, "Penyembuh Derwent, saya menemukan kontra kutukannya," lanjutnya dengan suara yang sedikit lebih keras. Si penyembuh itu berhenti mengucapkan mantra dan langsung menatap Hermione dengan serius.
"Lihat lah!" ujar Hermione sembari menyodorkan buku ke tangan Penyembuh Derwent. Sejenak dia membaca dengan serius dan cepat halaman yang di tunjuk Hermione, dia mengangkat matanya kira-kira beberapa detik kemudian. Wajahnya tak bisa ditebak, tapi ada aura aneh yang terpancar.
"Mohon maaf Mrs. Malfoy, tapi darimana anda mendapat buku ini? Bukankah buku ini termasuk terlarang?" tanyanya heran.
"Terlarang?" tanya Harry yang matanya sekarang berusaha membaca judul emasnya yang tertutup telapak tangan penyembuh Derwent.
Setelah kejatuhan Voldemort dan para pelahap mautnya semua barang ilmu hitam memang masuk dalam barang-barang yang dilarang oleh Kementerian Sihir. Termasuk beberapa buku yang memuat segala macam ilmu hitam; baik mantra, ramuan, atau apapun yang ada hubungannya dengan ilmu hitam. Semua sistem diperbaharui, larangan terhadap apapun yang berbau ilmu hitam benar-benar ditingkatkan untuk menjauhkan segala kemungkinan munculnya masalah yang sama dikemudian hari, misalnya saja para keturunan pelahap maut yang ingin meneruskan jejak orang tua mereka.
"Bukanlah tidak penting darimana saya mendapatkan? Yang terpenting sekarang saya menemukannya, kan?" kata Hermione tidak sabar.
"Maaf sekali lagi Mrs. Malfoy, apa anda sudah membaca seluruh isinya?"
"Untuk apa?" tanyanya tak percaya, dia tak habis pikir bagaimana bisa penyembuh di depannya ini menanyakan hal-hal yang sangat tidak penting, sementara pasiennya baru saja muntah darah? "Mrs. Derwent, tolonglah," Hermione memohon, "saya tidak mengerti apa yang anda katakan, tapi bisakah anda menolong Ron secepatnya?"
Penyembuh Derwent hanya memandang Hermione dengan tatapan seperti seorang anak yang baru ketahuan mencuri galleon orang tuanya, Hermione mendesah lelah, dia merebut buku di tangan penyembuh Derwent dengan sedikit sentakan yang sepertinya terlalu kasar. Beberapa tahun hidup bersama seorang Malfoy membuatnya menjadi seseorang yang tidak penyabar.
Hermione membaca cepat halaman yang sudah dibacanya tadi sebelum dia ber-Apparate ke St. Mungo, dia memelankan kecepatan membacanya saat sampai di baris penjelasan kontra kutukan yang memang dilewatinya, untuk apa membaca penjelasan kontra kutukannya saat kau benar-benar dikejar waktu ?
Kontra kutukan : Recuperius
Kontra kutukan ini harus mengunakan tongkat dengan inti yang sama, tidak akan
terjadi apa-apa jika kau menggunakan tongkat dengan inti yang berbeda. Kontra
Kutukan ini menolak inti berbeda dari dua tongkat sihir.
Sayangnya, kontra kutukan ini juga hanya akan berfungsi sebelum korban mengalami
Penderitaan selama tujuh hari. Ini bearti jika korban sudah menderita lebih dari tujuh
hari, hanya tinggal menunggu waktu. Jaringan tubuhnya akan rusak karena terlalu
lama berhenti berfungsi. Jantungnya tidak bisa menerima pasokan darahnya, sehingga
darahnya hanya akan menjadi tumpukan tak berguna disetiap pembuluh yang dimilikinya.
Paru-parunya tidak bisa lagi menerima pasokan oksigen karena jaringan pernapasannya
telah dirusak perlahan-lahan. Banyak penyihir yang bahkan sudah berhenti bernafas
sebelum menginjak hari ketujuh penderitaannya.
'Tujuh hari…' Hermione membatin sambil menghitung cepat, hari ini masuk hari ke sepuluh setelah penyerangan Ron di Gringotts, itu berarti…
Buku di tangan Hermione tiba-tiba saja terlepas, menimbulkan bunyi 'buk' lembut saat membentur lantai. Buku itu adalah pelampung penyelamat hidupnya… jiwanya. Tapi sekarang pelampung itu telah terlepas dan menjauh tak terjangkau seakan tergulung ombak. Dan sekarang dia bersiap untuk tenggelam ke dasar laut hitam yang dalam.
Semua harapan-harapannya yang membumbung dalam berbagai bentuk seakan meletus, seperti gelembung sabun yang terlalu lama di udara. Harapannya hilang dan tidak menyisakan apapun. Benar-benar tidak menyisakan apapun kecuali kesesakan napas yang tak tertahankan, seolah gelembung itu adalah udara satu-satunya yang dia butuhkan, saat dia mulai tenggelam. Tapi ketika gelembung itu pecah, diapun kehilangan pasokan udaranya, membuatnya tak bisa bernapas, membuat dadanya amat sesak.
Sesuatu membasahi pipinya… dan dia sadar yang membuatnya sesak bukan karena pasokan udara yang menipis, tapi karena dia menahan tangisnya.
"Maafkan saya Mrs. Malfoy, Mr. Potter, kami sudah mencoba segala cara untuk menyembuhkannya, tapi kami tak mampu melawan takdir," suara penyembuh Derwent seakan berasal dari tempat yang jauh dan tak terjangkau.
'Kami tak mampu melawan takdir, katanya? Kau penyihir… aku penyihir… kita penyihir… harusnya kita bisa melawan apapun, kan? Mengapa dia membiarkan jiwaku lepas begitu saja? Bahkan tak membantuku untuk mengapainya kembali, menariknya kedalam ragaku, menguncinya agar jiwa itu tidak bisa pergi kemana-mana. Agar Ron tetap disini, tidak pergi kemana-mana…'
Kakinya terasa lemas dan dia terjatuh perlahan di lantai, dia bisa merasakan dinginnya lantai batu di bawah kakinya itu, "Hermione…" bisik Harry yang berjongkok di sampingnya.
"Harry... katakan padaku bahwa penyembuh itu salah, Harry," bisik Hermione disela-sela tangisnya, "dia salah, kan?… katakan Harry… kumohon!" teriakan Hermione bergema di dalam ruangan yang dingin itu.
Harry menggelengkan kepalanya, "Hermione kita harus tegar," bisiknya sambil menarik Hermione kepelukannya. Hermione mendogak dan mencengkram kerah kemeja Harry, memaksanya menatap Hermione langsung, "tidak!" katanya tegas ketika manik hijau emerald Harry menatapnya langsung.
Hermione bangkit dari lantai yang dingin itu, dan berjalan mendekati tempat tidur Ron yang tidak lagi berwarna peach, noda merah darah mendominasi tempat tidur itu.
"Ron, kau pasti mendengarku, bangunlah!" kata Hermione sembari menguncang tubuh Ron, "Ronald Weasley bangun!" ulangnya lagi, tapi tidak terjadi apa-apa, tak ada Ron yang membuka mata dan mengatakan 'tenanglah, Hermione' atau 'sudahlah, aku baik-baik saja' atau hanya tersenyum lemah.
Dari sudut matanya Hermione bisa melihat penyembuh Derwent menggeleng pelan sebelum berkata, "itu tidak mungkin… Mr. Weasley… Mr. Weasley telah meninggal," lalu dia tersenyum prihatin ketika Hermione mundur perlahan sampai punggungnya tertahan tembok yang dingin. "Aku turun berduka," lanjut penyembuh Derwent dan kemudian dia mengeluarkan setumpuk amplop dalam kantung jubahnya, dan memberikan satu kepada Hermione dan sisanya kepada Harry.
"Mr. Weasley ingin saya memberikan surat itu untuk keluarganya jika sudah tiba waktunya," katanya menjelaskan dan langsung berbalik pergi.
'… jika sudah tiba waktunya?'
Jadi, Ron sudah memperkirakan semua ini akan terjadi, tapi dia masih tetap tersenyum— walaupun lemah— di hadapan semua orang? Apa yang ada dipikirannya?
'Mengapa dia tidak memberitahuku kemungkinan ini, setidaknya aku dan Harry punya waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi semua ini… menghadapi kepergiannya… kepergian jiwaku, sahabatku.'
Hermione membuang surat di tangannya, dia tak peduli apapun yang ada dalam surat itu, orang yang menulis kepadanya bahkan telah pergi meninggalkannya. Dia berlari menghambur ke tempat tidur di hadapannya, tempat dimana Ron terbaring. Hermione memeluknya sambil masih memanggil nama Ron berulang kali, berharap itu cukup untuk membuatnya bangun.
Tapi dari sudut pikirannya, dia tahu itu tidak mungkin. Tubuh dalam pelukannya ini sudah tidak bernyawa, dia sudah pergi… Ron sudah pergi dan membawa sebagian jiwanya pergi. Tubuh yang dipeluknya ini tak lagi dapat membalas pelukannya, tak ada lagi tangan kekarnya yang mengelus lembut rambut coklatnya, tak ada lagi yang akan bertengkar dengannya, berteriak mengatainya wanita gila karena mencintai musuh bebuyutannya. Tak ada lagi leluconnya yang membuat semua orang tertawa sekaligus membuat Mrs. Weasley marah.
Tak ada lagi Ron… baik itu yang dulu; Ron yang ceria, pemarah, perusak suasana, Ron yang selalu berteriak saat segala sesuatunya bertentangan dengan keinginannya. Tak ada lagi Ron yang marah dengan wajah yang memerah seperti rambutnya. Bahkan tak ada Ron yang baru; Ron yang penuh dengan ketenangan, kesabaran, senyum menahan emosinya, Ron yang berwajah pucat… Ron dengan pribadi berbeda.
Satu ruangan di hatinya sangat membenci Ron yang baru, Ron dengan pribadi barunya. Tapi sekarang ruangan itu justru sangat menggoda. Dia tak peduli Ron yang dulu atau Ron yang baru, asal dia hidup, bernapas dan bahagia. Bahkan Ron dengan pribadi yang tenang, sabar, dan pendiam akan di terimanya dengan tangan terbuka, asal dia hidup… asal dia ada.
Tapi terlambat untuk mengatakannya.
Sudah tak ada keduanya. Tak akan ada lagi Ronald Weasley. Tak ada lagi The Golden Trio yang dielu-elukan masyarakat sihir. Kini hanya ada serpihan dari sisa-sisa kemasyurannya. Jika satu Golden menghilang, maka semua menghilang.
Hermione semakin terisak di atas tubuh Ron yang dingin dan tak bernyawa. Sebuah lengan memeluknya tapi tidak menariknya menjauh dari tubuh Ron, seolah pemilik lengan itu juga ingin memeluk Ron. Hermione tidak berupaya mencari tahu siapa pemilik lengan ini, dia hanya ingin memeluk Ron… memeluk sahabatnya untuk terakhir kali.
…
Pemakaman Ron adalah sesuatu yang tak pernah dipikirkannya, rasanya dia dan Harry masih berada di mimpi buruk yang tak pernah ada akhirnya. Dia tak pernah menyangka akan menginjakan kakinya lagi di Ottery Graveyard untuk menghadiri pemakaman Ron.
Tenggorokannya perih, matanya sembab akibat menangis. Kemarin, Hermione meminta izin pada Draco untuk mampir ke Flat pribadinya, tempat dimana terpajang foto besar dirinya, Harry dan Ron yang sedang berangkulan. Foto yang diambil saat mereka berada di tingkat empat Hogwarts. Hermione menghabiskan berjam-jam untuk memandangi foto di atas perapiannya itu, melihat Ron melambai dari foto itu seakan menandakan bahwa dia pernah ada di dunia ini, dia pernah melambai, tersenyum dan tertawa kepada semua orang.
Foto itu membuatnya tenang sekaligus membuatnya marah, seakan foto itu mengejek dirinya karena dia tak akan pernah lagi melihat cengiran khas pemuda berambut merah itu, tak akan menerima lambaiannya lagi, tak akan mendengar suaranya lagi, bukan untuk sementara melainkan… selamanya.
Lengan Draco memeluknya lebih erat saat Hermione kembali terisak, Draco adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya tenang. Draco bahkan menemaninya Hermione semalaman ketika dia menolak untuk beranjak dari depan foto besar dirinya, Harry dan Ron. Baru pagi ini Hermione setuju untuk pulang saat Draco mengusulkan untuk memindahkan foto besar itu ke Penthouse mereka, menempatkannya tepat di sebelah foto besar Draco dan sahabat-sahabatnya.
Hermione bisa melihat bahwa Harry tak setegar biasanya. Dia menangis diam-diam dan mengubur wajahnya di rambut Ginny yang sekarang memeluknya. Tak ada lagi sosok Ron di antara kami rasanya adalah sesuatu yang aneh. Persahabatan mereka selalu melibatkan tiga orang, tapi mulai sekarang mereka harus berusaha hanya dengan sisanya.
"Aku akan sangat merindukannya," bisik Hermione sambil menatap peti berwarna cokelat di atas meja marmer besar.
"Kita akan sangat merindukannya," bisik Harry yang sekarang mengulurkan satu tangannya untuk mengengam tangan Hermione.
"Selamanya…" bisik Ginny.
Hermione bisa melihat penyihir tua pendek berambut sejumput— yang sama seperti di pemakaman Florence— berdiri dan bersiap untuk memberikan penghormatan terakhir. Rasanya baru kemarin dia berdiri disini dan mencoba menghibur Ron atas kematian Florence dan sekarang, dia kembali berdiri disini mencoba untuk menghibur diri sendiri atas kematian orang yang dihiburnya kemarin.
Ottery Graveyard puluhan kali lebih ramai dibanding saat pemakaman Florence, semua penyihir dari belahan dunia datang untuk memberikan penghormatan terakhir mereka untuk salah satu orang yang telah menyelamatkan dunia sihir. Hampir semua pegawai Kementerian Sihir dari berbagai Departemen memenuhi seluruh bagian tengah deretan kursi di sebelah kiri, sedangkan Menteri sihir dan para pengajar Hogwarts duduk di bagian depannya. Di bagian belakang didominasi oleh sosok raksasa Hagrid yang terisak tak karuan.
Sedangkan sisi lain, ditempati oleh seluruh keluarga besar Weasley dan beberapa kerabat dari Perancis seperti keluarga besar Fleur, serta kerabat dari Swedia, seperti Victor Krum dan beberapa Auror di sana.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu," kata suara bernada histeris yang pernah didengarnya, ternyata si penyihir tua berambut sejumput sudah berdiri di depan meja tempat dimana jenazah Ron terbaring. "Kita hadir disini untuk memberikan penghormatan terakhir kita untuk seorang penyihir yang telah menyelamatkan kita dari masa-masa gelap, membawakan kepada kita cahaya harapan akan hidup yang lebih baik. Ronald Billius Weasley, seseorang yang kematiannya tidak pernah kita harapkan…" Hermione bisa mendengar Mrs. Weasley menangis kencang di pelukan Mr. Weasley yang juga meneteskan air matanya. Sedangkan tengorokan Hermione terasa tercekat seperti ditusuk jarum-jarum besar dan dia bisa merasakan tangan Harry bergetar dalam gengamannnya.
"… namanya akan selalu kita ingat lewat kenangan setiap orang, lewat setiap lembar sejarah sihir… " kali ini Hermione tersenyum kecut dalam tangisnya, dia berusaha membayangkan bagaimana reaksi Ron atas kata-kata itu. Ron tidak akan pernah berharap namanya masuk dalam lembaran-lembaran sejarah sihir.
'keturunanku tak akan mengingat namaku walau berlembar-lembar sejarah sihir memuatnya, karena aku yakin mereka bukan orang yang tertarik dengan buku setebal pantat kuali buatan Percy, aku lebih senang kalau bisa masuk kartu cokelat kodok, bagaimana menurut kalian?'
Kata-kata itu seperti sudah sangat lama, padahal baru beberapa tahun yang lalu. Hermione kembali mengingat ketika tahun terakhirnya di Hogwarts yang telah dibuka kembali. Dia, Harry dan Ron duduk di bawah naungan kerindangan pohon beach, menghabiskan waktu mereka bersama setelah ujian yang melelahkan, dengan sekedar memandangi cumi-cumi raksasa yang terkadang muncul dari air untuk menikmati musim panasnya, ataupun membicarakan kembali petualangan mereka dengan hati yang lega karena masa-masa gelap itu sudah berakhir, dan tak akan pernah berhenti sampai mereka lelah karena tertawa terbahak-bahak oleh lelucon Ron. Saat-saat yang tak akan pernah terulang lagi.
"… ribuan kata tak akan pernah bisa mengambarkan bagaimana perjuangannya membuat kita bernapas hari ini, tak akan pernah bisa mengambarkan apa yang telah dilakukannya selama hidupnya—" 'itu benar, semua kata-kata itu tak bisa mengambarkan bagaimana Ron sebenarnya,' batin Hermione, "—tapi inilah penghargaan terakhir kita baginya, kita akan selalu berharap dia akan tenang dan bahagia di sana, karena ia telah memberikan ketenangan dan kebahagiaan untuk kita disini." Penyihir berhenti berbicara dan mulai berjalan mundur agar semua orang bisa melihat jenazah Ron untuk terakhir kalinya.
Harry melepaskan gengaman tangan Hermione dan berjalan perlahan ke depan meja pembaringan terakhir Ron, terdiam sejenak sebelum akhirnya dia mengangkat tongkat sihir di tangannya sehingga tongkat itu mengacung ke langit. Hermione merasakan Draco bangkit dari duduknya, mengeluarkan tongkatnya dan melakukan hal yang sama seperti Harry.
Penghargaan terakhir untuk Ron.
"Raise Our Wand."
Hermione ikut bangkit, tongkat sihirnya mengacung ke langit bersamaan dengan tongkat Ginny. Dia merasakan semua orang ikut bangkit dari segala sisi dan ikut memberikan penghargaan terakhir untuk Ron. Ratusan tongkat sihir teracung ke langit.
Harry menurunkan tongkatnya dan mundur perlahan tepat ketika lidah-lidah api putih cemerlang mulai mennyelubungi jenazah Ron, beberapa menit setelahnya api itu menghilang dan telah digantikan asap putih yang lama-kelamaan juga menghilang, membuat pusara putih pualam Ron bersinar di bawah cahaya matahari musim panas.
Beberapa orang mulai berpamitan, Mrs. Weasley terdengar masih terisak dalam pelukan Charlie yang baru pulang dari Rumania, sedangkan Hermione bisa melihat Fred kembali terduduk dan menyembunyikan wajahnya dalam kedua tangannya, frustasi. Hermione melangkah mendekati Harry yang masih berdiri memandang pusara Ron, dan memeluknya. Harry berusaha menahan diri, tapi Hermione tahu dia ingin sekali menangis, tangan Harry yang memeluknya bergetar hebat.
"Sampai jumpa, Ron," bisik Harry yang langsung mempererat pelukannya, air matanya membasahi rambut Hermione, sedangkan Hermione terisak di dadanya. Dia sangat tahu jika saja Harry tidak memiliki Ginny, James dan calon anak keduanya, dia pasti lebih memilih menyusul Ron dengan cara pertama yang muncul dipikirannya. Dan saat itu terjadi, Hermione juga akan menyusul keduanya, karena rasanya tak akan pernah ada kehidupan normal tanpa Harry dan Ron di sisinya.
Tapi sekarang, Hermione seperti Harry. Punya malaikat-malaikat yang dibutuhkan dan membutuhkannya. Draco dan Scorpius-lah jangkarnya di dunia ini. tak pernah sedetikpun dia berpikir dapat hidup tanpa keduanya.
Semuanya sudah selesai… dalam artian benar-benar telah selesai. Pualam putih di hadapannya yang menyelesaikan semuanya.
Harry melepas pelukannya tepat ketika Draco mendekat, Hermione menghambur kearah Draco yang langsung memeluknya dan mengecup puncak kepalanya.
"Sekarang, Hermione-lah sahabatku satu-satunya. Kau harus menjaganya," kata Harry, yang sekarang mencubit-cubit pangkal hidungnya seperti seseorang yang lelah membaca.
"Aku akan menjaganya seperti aku menjaga nyawaku sendiri, Harry," kata Draco tegas, "dan memang dialah nyawaku," lanjutnya.
Beberapa menit mereka hanya terdiam dan baru bergerak ketika seorang pegawai kementrian menghampiri mereka.
"Mr. Potter, Mr. dan Mrs. Malfoy," sapa si pegawai kementerian, yang Hermione kenali sebagai salah satu pegawai di Departemen Pelaksana Hukum Sihir yang dulu dikepalainya.
"Mr. Mockridge," sapa Harry yang dibalas angukan kecil dari orang yang bernama Mockridge itu.
"Saya turut berduka… tak pernah terpikir akan berakhir seperti ini," kataya berbasa-basi. "Jadi, eh? Mengingat saya yang bertangung jawab atas Divisi Pengurusan Pemeriksaan dan Penyitaan Barang Wasiat, saya ingin membicarakan tentang surat wasiat yang ditinggalkan almarhum Mr. Weasley," jelasnya cepat. "Dengan sangat baik hati, Arthur telah mengizinkan pembicaraan ini di rumahnya, dan saya mengharapkan Mr. dan Mrs. Malfoy turut hadir."
Hermione bertukar pandang dengan Draco, tampak binggung. Mungkin sedikit masuk akal jika hanya Hermione yang diharapkan hadir, tapi Draco? Draco mengangkat alisnya tanda bertanya kepada Mr. Mockridge.
"Err… Mr. Mockridge, bukankah dalam peraturan Surat Wasiat pasal sembilan, disebutkan bahwa hanya keluarga terdekat, orang-orang yang bersangkutan, dan yang namanya tercantum dalam surat wasiat yang berhak hadir?" tanya Hermione.
"Ya, betul sekali Mrs. Malfoy, karena peraturan itulah Mr. Malfoy punya hak yang besar untuk menghadiri pembacaan surat Wasiat ini."
"Namaku tercantum?" tanya Draco dengan nada heran.
"Begitulah," kata Mr. Mockridge tidak sabar, "jadi, saya harap anda hadir sore ini, saya harus mempersiapkan semuanya dulu, permisi," lanjutnya dan kemudian berbalik pergi menerobos kerumunan orang-orang.
Harry dan Hermione memandang Draco dengan pandangan, 'bagaimana bisa?' tapi Draco hanya mengeryitkan alisnya dan mengangkat bahu.
The burrow sudah sangat ramai sore itu, Hermione dan Draco yang menggendong Scorpius datang tepat pukul empat sore. Draco menurunkan Scorpius agar dia bisa bermain dengan James dan yang lainnya di kebun keluarga Weasley.
"Ingat Scorp, jangan ganggu ayam-ayamnya lagi!" kata Hermione tegas, karena Scorpius dan James membuat ayam-ayam itu botak kali lalu.
"Tidak," katanya yang langsung berlari mengejar James yang sedang menganggu Dominique—anak kedua dari Bill dan Fleur. Sedangkan Molly Jr. dan Victoire— anak pertama Bill dan Fleur— berteriak agar James tidak mengangu Dominique lagi.
Ruang keluarga The Burrow bahkan jauh lebih ramai, Mr. Weasley sedang mengobrol serius dengan Mr. Mockridge ketika Hermione dan Draco masuk, sedangkan yang lain mengobrol pelan secara berkelompok. Harry, Ginny, Fred dan George duduk di sofa panjang yang nyaman sambil mengobrol, tapi kelihatannya tak ada yang benar-benar menikmati obrolan mereka.
Sedangkan Bill dan Percy seperti sedang menceritakan sesuatu secara detail— jika di lihat dari gerakan tangan Percy yang antusias— kepala Charlie yang sesekali mengangguk.
"Maaf kami terlambat," ujar Draco, membuat semuanya menengok ke arah ambang pintu tempat Hermione berdiri dengan canggung seakan seharusnya dia tidak ada disini, tapi Draco tampak santai, justru menurut Hermione dia terlalu santai jika mengingat alasan mereka datang kesini.
"Masuklah, sayang," seru Mrs. Weasley yang baru keluar dari dapur dengan nampan minuman di tangannya. Draco berjalan ke salah satu kursi kayu dengan tangan di dalam saku celananya. Dan Hermione mengikutinya dan kemudian ikut duduk di bangku yang ditarik Draco.
"Bagus sekali, semua sudah lengkap kalau begitu," kata Mr. Mockridge sembari mengendarkan pandangannya ke seluruh ruangan seakan menghitung cepat.
"Sebelumnya, saya sekali lagi turut berduka," katanya mulai berbicara sambil mengeluarkan beberapa gulungan perkamen dari tas kulitnya yang kelihatan cukup mewah. Tapi tak ada satupun Weasley yang menjawab.
"Nah… ini dia, langsung saja kalau begitu," lanjutnya sambil membuka salah satu gulungan perkamen di tangannya, "Surat Wasiat Ronald Billius Weasley, aku serahkan Ottery St. Catchpole No. 9 kepada anak laki-lakiku, Ronald Jr., agar dia bisa menempati rumah itu kelak. Juga aku serahkan kepadanya semua isi lemari besi No. 766 Gringotts berharap isi di dalamnya akan berguna. Kepada Draco Lucius Malfoy," suasana begitu hening seakan tak ada satupun yang bernafas, Draco mengerutkan keningnya ketika namanya disebut dan Mr. Mockridge mengangkat wajahnya menatap Draco.
"Nah sampai mana tadi?" tanyanya, "ah… ya. Kepada Draco Lucius Malfoy dan Hermione Jean Greanger," Hermione terkesiap, matanya terpaku pada Mr. Mockridge yang menunduk membaca perkamen di tangannya. "Aku menyerahkan… Ronald Jr. … anak laki-lakiku satu-satunya agar mereka bisa merawatnya dan menjaganya seperti mereka menjaga anak mereka sendiri—"
"Tidak!" sergah Hermione.
"Apa?" suara Mrs. Weasley dan Ginny bersamaan. Hermione mengangkat wajahnya untuk bisa memandang keduanya yang sekarang menatap Mr. Mockridge tak percaya. Bagaimana mungkin Ron mempercayakan anak laki-laki satu-satunya kepada Hermione? Anak dari Florence? Hermione dengan senang hati akan merawat anak Ron tapi tidak anak Florence! Wanita yang membuat Ron berubah seratus delapan puluh derajat, kalau saja bukan karena Florence yang terlalu lemah, dia tidak akan meninggal dan Ron tidak perlu pergi ke Gringotts untuk mengurus lemari besi Florence dan Ron tidak perlu kena serangan brutal itu.
'Astaga… kenapa aku malah mencari-cari kesalahan orang lain,' batin Hermione.
Tapi, yang paling patut disalahkan memang Florence, kan? Pikirannya mulai dipenuhi dengan kesalahan-kesalahan Florence, menyalahkan kemiripannya dengan Hermione, menyalahkan kelemahannya, ketidakberdayaannya, menyalahkan sikapnya yang terlalu tenang. Semakin larut dalam pikirannya, Hermione semakin takut bahwa pikirannya ini hanya untuk menampik bahwa sebenarnya kesalahannya-lah Ron sampai meninggal.
Hermione menggeleng cepat, mengeyahkan pikiran-pikirannya yang tidak karuan. Terlalu banyak Florence dalam diri Ronald Jr. dan itu membuatnya tidak akan melupakan semua kegilaan ini, semua kebenciannya pada Florence. 'Hey… sejak kapan aku membencinya?'
Dia melihat Mr. Mockridge mengangkat pandangannya dari perkamen di tangannya dan menatap Hermione, Mrs. Weasley dan Ginny bergatian, "boleh aku melanjutkan?" tanya Mr. Mockridge dengan tidak sabar.
Mr. Weasley berdeham untuk menyadarkan semua orang yang sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. "Silahkan Mr. Mockridge," ujar Mr. Weasley.
"Nah… Aku berharap Ronald Jr. akan menemukan keluarga barunya di tengah kalian berdua dan aku memberikan hak penuh kepada Draco Lucius Malfoy atas anakku Ronald Jr. termasuk di dalamnya merubah nama keluarganya atau apapun yang dibutuhkan. Aku berharap kalian telah membaca suratku sebelum mendengar ini agar kalian dapat lebih mengerti. Nah… kalian sudah membacanya, kan?" tanya Mr. Mockridge.
"Surat?" tanya Hermione.
"Ya… Mrs. Malfoy, surat... surat untukmu dari Mr. Ronald Weasley," jawab Mr. Mockridge tidak sabar, "jika kita tidak membaca surat itu, kau dan kita semua tidak akan mengerti, mengapa Mr. Weasley menyerahkan anaknya kepada kalian berdua sedangkan menurut hukum, keluarga terdekatlah yang mempunyai Hak atas itu," lanjutnya.
"Oh… surat itu…"
"Ini," kata Harry menyerahkan sebuah amplop yang Hermione kenali sebagai amplop yang diterimanya dari penyembuh St. Mungo kemarin. Surat terakhir Ron untuknya, surat yang dia buang begitu saja, "kau menjatuhkannya kemarin di rumah sakit," ujar Harry. Hermione merasa sangat berterima kasih karena dia tidak mengatakan bahwa Hermione membuang begitu saja suratnya.
Dia mengambil amplop itu dan membukanya.
Dear Hermione,
Hermione, maafkan aku. Atas sikapku dan atas segalanya. Aku menyayangimu… akan selalu seperti itu selamanya. Maafkan aku karena aku mengingkari janjiku padamu dan Harry, kau ingat? Waktu pencarian Hocrux dulu, waktu aku kembali setelah aku meninggalkan kalian… aku pernah berjanji untuk menemani kalian selamanya… aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian lagi sampai kita semua tua dan beruban, tapi aku malah pergi disaat hidup kita yang sebenarnya baru dimulai.
Dengan semua kesalahanku, mungkin aku tak pantas meminta bantuan padamu, 'Mione. Tapi hanya kau yang bisa membantuku… bahkan Harry pun tak bisa membantuku.
Aku hanya minta satu, buatlah anakku merasa seakan dia tidak pernah kehilangan ayah dan ibunya. Dia harus bahagia, aku tak ingin dia merasa sendiri di dunia ini. Aku tak ingin dia merasa seperti anak yatim-piatu, karena itu hanya akan membuatnya sedih seperti Teddy Lupin, aku tahu Teddy adalah anak yang tegar, tapi aku juga tahu dia selalu tampak murung jika melihat kebahagiaan Harry dan James.
Hanya kau yang bisa membantuku, kau mirip sekali dengannya 'Mione karena dia memiliki setiap karakteristik Florence. Dia akan percaya jika kau bilang bahwa dia adalah anak kandungmu. Aku tahu kau pasti menganggap aku gila, tapi apa lagi yang bisa ku lakukan untuknya? Aku tak bisa menyerahkan Ronald Jr. pada Harry dan Ginny, tak ada di antara mereka yang berambut cokelat dan itu akan membuat Ronald Jr. bertanya-tanya nantinya.
Aku memberikan kau dan Draco hak untuk menganti namanya, bahkan aku benar-benar menganjurkan kepada kalian untuk menganti namanya, membuatnya menjadi seorang Malfoy agar dia percaya dia masih mempunyai kedua orang tua yang lengkap. Aku bahkan tak peduli jika itu membuatnya akan melupakan aku, ayah kandungnya.
Aku benar-benar memohon kepadamu dan Draco… ini permintaan terakhirku dan bahkan permohonan pertama dan terakhirku kepada Draco.
Oiya 'Mione, aku akan sangat merindukanmu, tapi tentu saja kau tidak perlu merasa merindukanku. Kalian tidak akan pernah kehilangan diriku karena semua diriku ada pada Ronald Jr… anak kalian, anakmu dan Draco.
Salam hangat,
Ronald Weasley
Setelah selesai membacanya Hermione masih memegangi surat itu, memikirkan setiap suku kata yang tergores di atas perkamen itu. Surat Ron sangat menggambarkan apa yang sebelumnya dia bayangkan, gambaran-gambaran dirinya yang menggendong seorang anak laki-laki berambut cokelat lebat, mulai bermunculan lagi. Dia tau pikiran Ron adalah tempat bersemayamnya ide-ide gila yang sama sekali tidak masuk akal, tapi inilah yang paling gila dari sebagian besar idenya. Mencoba membohongi anaknya sendiri, berakting seolah-olah tak pernah ada Ronald Billius Weasley dan Florence Weasley di dunia ini. Singkatnya adalah membuat kehidupan yang baru untuk seorang Ronald Jr.
"Bolehkan?" pinta Mr. Mockridge dengan tangan terulur ke arah Hermione. Dia memberikan surat itu tanpa berbicara sepatah katapun, semua orang tampak penasaran dan tidak sabar mendapat bagian untuk membaca surat itu, padahal kan itu surat pribadi, dia bersyukur karena Mr. Mockridge tidak membacanya keras-keras seperti dia membacakan surat wasiat itu. Hanya Harry yang Nampak sama sekali tidak penasaran atau kaget atau binggung.
Hermione menatapnya dan Harry balas menatap Hermione sambil tersenyum. Hermione sudah menebak dia pasti sudah mengetahui ide gila ini sebelum semua orang tahu.
"Kalau begitu harus banyak yang diurus, kecuali…" Mr. Mockridge berbicara sambil mengendarkan pandangannya ke arah para Weasley yang masih membaca surat itu bergantian, "kecuali ada pihak keluarga yang keberatan," lanjutnya.
Hanya pihak keluarga? Apakah tidak ada yang mengemukakan kemungkinan bahwa dia… atau bahkan yang paling masuk akal, Draco-lah yang keberatan.
"Tidak bisa," suara Percy membahana, jelas menentang ide gila Ron, "Ronald Jr. adalah seorang Weasley, dia tak mungkin menjadi Malfoy," katanya dengan nada tidak suka pada kata terakhirnya. Keluarga Weasley yang lain juga ikut bergumam tak jelas. Sedangkan Hermione hanya bertukar pandang dengan Draco yang kelihatan sama sekali tidak terganggu dengan kata-kata Percy.
Ginny yang paling terakhir membaca surat dari Ron, diakhiri dengan helaan napas yang panjang.
"Aku rasa jika menurut Ron itu yang terbaik, kita harus mendukungnya. Ron pasti tau yang terbaik untuk Ronald Jr. bahkan ini adalah permintaan terakhirnya," bisik Ginny.
"Menurutku ini bukan yang terbaik, Ginny," sergah Percy.
"Aku tidak bilang bahwa menurutku ini yang terbaik, tapi aku bilang bahwa ini yang terbaik menurut Ron, dan dia pasti sudah memikirkannya matang-matang," balas Ginny tegas.
"Ya sudah pasti matang, karena mungkin dia hanya punya satu malam untuk menulis surat itu di tengah kesakitannya," kata Percy sarkastik.
"Cukup!" kata Mr. Weasley tegas ketika dilihatnya Ginny siap melontarkan jawabannya, "Ron sudah tenang, tapi mengapa kita justru meributkannya seperti ini? Jika ini adalah permintaannya kita harus menjalankannya, dia sudah dewasa dan pasti tahu apa yang dipikirkannya."
"Tapi Dad—"
"Cukup Percy!" potong Mr. Weasley, "aku menyayangi Ron dan akan melakukan apapun permintaan terakhirnya termasuk… yah, menyerahkan cucuku sendiri kepada Hermione karena aku yakin dia akan menjaganya dengan baik," lanjutnya, disambut dengan angukan Weasley lainnya dan wajah jengkel Percy.
"Dad harus meminta pendapat Draco dulu, kan?" kata Charlie dengan suara wibawanya yang khas.
"Scorpius adalah jiwaku," ujar Draco sebelum ada yang bertanya tentang pendapatnya. Hermione hanya menunduk memandang tangannya yang berada dalam gengaman Draco, entah mengapa dia sekarang merasa sedikit takut kalau Draco tidak menyetujui permintaan Ron. Sedangkan Hermione memutuskan akan menyetujuinya, dia akan menjaga Ronald Jr. jika itu keinginan Ron.
"Ron telah menyelamatkannya, menyelamatkan jiwaku," lanjut Draco, "dan aku juga akan bersedia menjaga jiwanya walaupun pemiliknya telah pergi."
Hermione langsung mengangkat mukanya, memandang Draco yang sekarang tersenyum simpul.
"Terima kasih, Draco. Aku harap kau akan menyayanginya seperti kau menyayangi Scorpius," ujar Mr. Weasley yang tampak terharu.
"Jika ada orang yang aku percaya untuk menjaga cucuku, itu adalah kalian," kata Mrs. Weasley yang menangis di balik sapu tangannya.
"Aku akan menjaganya Mrs. Weasley," ujar Hermione yang bangkit untuk mendekati Mrs. Weasley dan duduk di sampingnya, mengalungkan lengan di bahunya. "Ron telah menyelamatkan Scorpius, membuat kehidupanku tidak berakhir sampai disini, jadi aku akan membuat Ronald merasakan kasih sayang yang memang seharusnya dirasakannya."
"Kalian harus tetap sering membawanya kesini," isak Mrs. Weasley di bahu Hermione.
"Setiap hari jika kau ingin," janji Hermione.
"Ka-kau baik sekali, Hermione," katanya pelan.
"Baiklah, kalau begitu wasiat ini bisa dijalankan dengan baik," kata Mr. Mockridge, "lalu… mengenai namanya—"
"Antarius…" potong Draco, membuat semua orang memandangnya, "Antarius Ronald Malfoy?" lanjutnya, terselip nada bertanya meminta persetujuan kepada yang lain walaupun Hermione yakin dia tidak akan mengubah nama itu walalupun ada yang tidak setuju.
"Antarius?" tanya Harry.
"Salah satu bintang paling terang," bukan Draco yang menjawab, melainkan Mr. Weasley, "keluarga Black dan Malfoy mempunyai tradisi menamai keturunan mereka dengan nama rasi bintang ataupun nama salah satu bintang," lanjutnya pelan.
"Aku suka sekali… Oh, Draco… nama yang bagus," ujar Mrs. Weasley berkaca-kaca dan kemudian bangkit dan berjalan ke arah tangga.
Hermione menatap Draco, benarkah dia baru saja menurunkan tradisi keluarganya untuk Ronald Jr. ? Hermione masih menatapnya, dan mata abu-abu itu menatapnya balik. Tak ada keraguan di dalamnya, matanya hangat dan dia tersenyum.
"Baiklah, saya akan mengirimkan burung hantu jika semua surat yang dibutuhkan telah selesai, bisakah anda tanda tangan disini Mr. Malfoy?" ujar Mr. Mockridge sembari menunjuk bagian bawah dari sebuah perkamen panjang, setelah Draco membubuhkan tanda tangannya, Mr. Mockridge bangkit dari tempat duduknya dan menjabat tangan semua orang, "saya permisi."
Tak lama setelah Mr. Mockridge pergi para anak-anak berlarian memasuki rumah sambil berteriak-teriak. James berlari paling depan sementara Scorpius menyusulnya.
"Jamie, balikin syal Domie!" teriak Scorpius yang sekarang mengejar James yang berlari mengelilingi meja makan.
"Scorpius, apa yang aku bilang tentang berlari di dalam rumah," ujar Draco.
"Tapi Jamie ambil syal Domie, Dad," adu Scorpius.
"James, kembalikan syal Dominique!" kata Harry tegas.
"Aku sudah menyuruh James mengembalikannya, tapi dia tidak mau dengar Uncle Harry," kata Victoire sebal, mungkin karena adiknya diganggu James.
"Cuma pinjam," kata James dengan wajah yang ditekuk, sedangkan Scorpius menunjukan seringai yang sangat mirip Draco sambil merebut syal perak yang dipegang James, lalu berlari menghampiri Dominique.
"Ini Domie," katanya lembut sembari memberikan syalnya kepada Dominique yang tersenyum ceria, membuat wajahnya secantik Fleur.
"Makasih Scorp," katanya dengan suara kencang, lalu langsung menghambur memeluk Scorpius. Umur mereka yang sama membuat mereka sangat akrab. Hermione tak tahan untuk tidak tertawa melihat kelakuan anak-anak ini. Mereka bahkan berhasil mencairkan suasana.
Mrs. Weasley kembali dengan menggendong seorang bayi berambut cokelat sambil tersenyum. Hermione bangkit dari tempat duduknya dan mengambil bayi itu dari pelukan Mrs. Weasley. Sejenak dia terperangah ketika melihat bayi dalam gendongannya. Ron benar, semua dari dirinya tergambar jelas pada bayi ini, walaupun rambut dan matanya berwarna cokelat, tapi bentuk mata dan wajahnya sangat Ron, ditambah pipinya yang montok dan merona merah khas Weasley.
Mungkin dia tidak benar-benar kehilangan sebagian jiwanya, mungkin lebih tepat jika disebut berpindah. Sebagian jiwanya tidak meninggal, tidak hilang… tapi berpindah… berpindah ke tubuh bayi dalam pelukannya.
Hermione merasakan seseorang berdiri dibelakangnya, dia menoleh dan menemukan Draco yang tersenyum memandangnya dan Ronald Jr.— atau seperti seharusnya dia sekarang dipanggil… Antarius. Hermione balas tersenyum padanya.
"Bolehkan dia tidur disini malam ini?" tanya Mrs. Weasley.
"Tentu… tentu saja Mrs. Weasley," kata Hermione cepat, tidak ingin dianggap memonopoli seorang bayi yang bahkan belum sah menjadi bayinya.
"Mione, mungkin Percy ingin menggendongnya dulu sebelum dia menjadi seorang Malfoy sejati," kata Draco sambil menyeringai ketika dilihatnya Percy yang bertampang kecut dan kelihatannya siap melempar kuali paling tebal ke muka Draco. Percy mendengus dan langsung berjalan keluar ruangan.
"Drake!" tegur Hermione, Draco hanya mengangkat bahunya dan memasang tampang puasnya yang khas, sedangkan yang lain tersenyum sambil menggeleng-geleng seolah ingin mengatakan 'apa jadinya seorang Weasley ditangan seorang Draco Malfoy'.
…
Setelah mengembalikan Antarius kepada Mrs. Malfoy, dia membujuk Scorpius yang kelihatan enggan untuk pulang, dia akhirnya berhasil membujuk Scorpius tepat ketika Bill dan Fleur membawa Victoire dan Dominique ber-Apparate ke Shell Cottage.
"Aku tak tahu kau akan memasukan nama Ron sebagai nama tengah Antarius, Drake" kata Hermione ketika mereka berdiri di balkon, menikmati langit malam musim panas yang berhiaskan bintang. Draco meletakan gelas Whisky apinya lalu memeluk Hermione dari belakang.
"Bagaimanapun juga Ron ayahnya, kan?"
"Apa yang akan kita katakan, jika saat dia dewasa dia menanyakan darimana nama tengahnya di ambil?"
"Gampang, katakan saja dari seseorang yang menyelamatkan jiwaku," jawab Draco dengan nada yang mengandung senyum.
"Kau terlalu mengangap gampang," kata Hermione gelisah, "kau tahu banyak yang akan ditanyakannya suatu saat nanti, seperti mengapa rambutnya tidak seperti Scorpius atau mengapa matanya tidak abu-abu sepertimu, dan—"
"Sttt…" potong Draco, dia memegang pinggang Hermione dan membuatnya berputar sehingga mereka saling berhadapan, mata abu-abu itu menyapu wajah Hermione seakan ingin mengingat bentuknya. Jari-jari Draco menelusuri bentuk hidungnya sampai kebentuk tulang pipinya, sehingga membuat rona kemerahan muncul dipipinya.
"Dia beruntung, karena memiliki warna mata sepertimu, warna rambut sepertimu dan dia akan menjadi seseorang yang mewarisi fisikmu, aku bahkan tak tahu apakah seorang keturunan Malfoy bisa mempunyai seorang anak yang berambut coklat," katanya masih sambil mengamati wajah Hermione.
"Kau tahu, kita bisa mencobanya… err… mencari tahu apakah 'yang selanjutnya' tetap berambut sepertimu atau sepertiku," bisik Hermione yang langsung mengalungkan tangannya ke leher Draco dan mengecup bibirnya.
"Jika aku tidak mengenalmu, aku pasti berpikir kau sedang menggodaku, 'Mione," kata Draco sambil menunjukan senyum separuhnya yang menawan, Draco menaruh tangannya ke dagu Hermione dan membawa bibir Hermione ke bibirnya.
"Anggap saja begitu," bisik Hermione disela-sela ciuman mereka, yang terasa lebih panas dibanding musim panas tahun ini.
Tiba-tiba saja seekor burung hantu beruhu riang, membuat mereka berhenti berpangutan. Burung hantu abu-abu itu bertengger di selusur balkon, di kakinya terikat sebuah amplop tebal berwarna putih gading dengan lambang Kementerian Sihir yang di embos. Draco mengulurkan tangan untuk mengambilnya dan membukanya tepat ketika burung abu-abu itu terbang lagi.
"Surat-surat dari Mr. Mockridge," ujar Draco setelah membaca suratnya, "kita akan menjemput Antarius Malfoy besok," lanjutnya sambil tersenyum.
"Dia resmi menyandang nama Malfoy?" tanya Hermione bersemangat.
"Ya, tentu. Semua orang akan mengenalnya sebagai Malfoy mulai saat ini," jawab Draco santai, dia mengayunkan tongkatnya dan membuat surat itu melipat sendiri dan kemudian terbang melewati pintu balkon dan terus mendarat mulus di dalam laci yang terbuka sendiri.
"Kau tahu, Draco? Kepalaku dipenuhi masa depan bahagia kita berempat," ujar Hermione tersenyum dengan pandangan menerawang. Pikirannya benar-benar dipenuhi oleh hari-hari membahagiakan, masa depan membahagiakan dengan Malfoy-Malfoy kecil yang berlarian di halaman rumahnya.
"Akan lebih menyenangkan jika ada satu Malfoy lagi selain kita berempat," ujar Draco yang langsung mengangkat Hermione ke pelukannya dan membawanya ke kamar mereka. Saat itulah Hermione yakin bahwa dia akan tetap hidup dengan jiwa yang sempurna dan hari-hari yang sempurna dengan Draco, Scorpius dan Antarius di dalamnya.
COMING SOON
EPILOGUE
catatan author : Untuk Epilog-nya aku akan publish besok pagi-pagi :p masih pengeditan hiihihihi
fanfic pertamaku selesai :") Aku tak tahu apakah aku cukup bisa mengambarkan dengan jelas setiap adegan, tapi aku berharap aku bisa.
Maaf untuk beberapa orang yang menyayangkan kalau fanfic ini berakhir :') memang sudah sampai sini ceritanya. untuk yang meminta sequel kehidupan Antarius sebagai seorang Malfoy yang lain dari pada yang lain, aku akan membuatnya jika kalian juga menginginkan aku membuatnya, jadi haruskah ku buat ? berilah masukan kalian melalui review atau privat message :)
DraconiSparkyu : kyaa kayanya aku salah deskrip yah? [-| *sungkem* btw makasih ya Draconi udah setia review, senang kenal kamu :') *peluukk*
christabelicious : Duh Cristabel aku nulisnya aja deg-degan XD Ron memang akhirnya gak sadar2 lagi :'( oiya makasih ya udah sempetin baca dan review aku senang deh :) *pelukcium*
Fressia Athena : *pelukbalik* hihihihi semoga hasil ujiannya bagus yah, makasih udah mampir ke fanficku yang acak kadul ini XD senang kenal kamu fress :)
Nyimi-chan : banyak halangannya kalo mau di update XD maaf ya kalo lama Nyimi-chan XD senengnya kalo menurut kamu bagus :') makasih ya udah review dan baca fanfic ini *peluk nyimi*:')
lovelychrysant : *peluk lovely* A-aku turut berduka Lovely, maafkan aku jika Hermione benar-benar kehilangan sahabatnya :'( btw makasih udah nemenin aku bikin fanfic ini, semoga suasana hatimu gak jadi buruk karna akhirnya :)
Ladyusa : semua seneng adegannya Dramione aja yah hiiihihihi maafkan aku, aku gak bisa nyelametin Ron :" tapi happy ending kok di epilognya hehe makasih ya ladyusa kamu udah sempet mampir ke cerita aku, seneng deh :') *peluuk*
Antares Malfoy : kyaa, an akhirnya kamu muncul XD err udah baca pm aku? aku pakai namamu disini, semoga kamu gak keberatan *crucio dirisendiri* XD makasih ya ant karena kamu udah suka XD *pelukk*
Tsurugi De Lelouch : waah :') kamu buat aku tersipu *digetok* XD makasih, aku seneng kalo kamu suka, semoga kamu juga suka akhirnya yah :') *peluk*
caca : mungkin karena ada Actionnya ya ca XD aku aja gak tau apakah bener2 ngegambarin apa enggak, tapi kalo kamu deg-degan kayanya gak buruk2 amat ya XD makasih caca udah mampir seneng kenal kamu :') *peluukk*
Ochan malfoy : aku sudah siap menerima jitakanmu [-| wkwkwkw iya maaf ya typonya parah kemarin :( selamat baca XD semoga kamu suka, makasih ya ochan udah nemenin aku dr awal :') *peluuk*
Maria Magdalena Roseline : semoga UNAS kamu hasilnya memuaskan yah :') aku gak unas tp disibukin sama urusan muggle nih :| idemu mengerikan brrr ._. tapi prediksimu salah :p hihiihi makasih ya maria udah nemenin aku dr awal sampe akhir hehehe *peluk*
legolas : makasih, sumpah aku seneng bgt kamu bilang gitu :') aku bahkan gak tau fic ini pantas dibilang keren atau gak :') makasih yaa udah sempet review dr awal sampe sekarang *peluuk*
ksatriabawangmerah : maksudnya mereka ka sahabat jadi mungkin udah kaya satu jiwa :3 hehehe nah peran Draco besar ya ternyata :') makasih ya kak udah sempetin review :) *pelukk*
Neemarishima : hehehe gpp neema, kebanyakan seneng adegan dramionenya doang nih hihihihih :3 semoga suka kelanjutannya :D makasih ya udah sempetin review dan baca *peluk*
Me : hehe maaf ya kalo kelamaan bener-bener banyak halangannya XD selamat baca Me *pelukk*
Shinta Malfoy : Happy ending fo' Dramione XD sesuai harapan kamu shinta :D makasih ya udah sempetin review :') *pelukkk*
