I give full credit to the author Arzeta Clarkson. Arzeta Clarkson Wrote Shadow in Beauty which I took and did a remake of it in ChanBaek version

Shadow in Beauty

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Kim Jongin

Rate: M

Genre: Romance, Western

Warning: This is Gender Switch. Mature content. NC. OOC


.

.

"I don't need you hug me, kiss me, or calming me when the nightmare comes into me. I just want you to be by my side, and be the light in the darkness of my night. Like the shimmering of Verities." Arzeta.

.

.

Aku tersesat di dalam kegelapan… Cahaya seperti menghilang… Aku tak bisa bernafas, sesak, dan pengap… Tenggorokanku tercekat, lidahku terasa pekat… Aku ingin bangun dari mimpi buruk ini, aku ingin lepas dari belenggu kekejaman masa lalu. Tapi semakin aku berusaha meyakinkan diri, disaat bersamaan kejiwaanku terguncang, mempertanyakan kewarasan.

"Taehyung… apa yang kau… bukankah harusnya…" kalimatku terbata-bata, mataku nanar menatap sosok tinggi gelap dihadapanku. Minimnya sinar serta jaket bertudung yang menutupi wajahnya membuatku tak bisa mengenalinya.

Namun suara kejam dan penuh kesadisan yang selalu muncul disetiap mimpi burukku itu selama belasan tahun, takkan mungkin bisa kulupakan.

Jantungku berderap secepat lari kuda liar, keringat membasahi tengkuk dan telapak tanganku. Taehyung tertawa kejam, aku seakan bisa melihat seringai jahatnya meskipun tertutupi kegelapan. Seketika tubuhku gemetar, namun aku harus bisa mengatasinya. Mengabaikan berbagai pertanyaan didalam kepalaku mengenai keberadaannya, sekaligus segala rasa takut yang bercampur aduk didalam diriku. Aku mengeratkan pelukan pada diriku sendiri, menegakkan tubuh dan mengangkat dagu dengan seluruh usaha keras.

Baekhyun yang dulu mungkin gadis kecil lemah yang tak bisa melakukan apapun selain menangis, dan minta dikasihani. Tetap bisa hidup karena sebuah keberuntungan dan kebaikan orang lain. Tapi sosok Baekhyun sekarang adalah wanita dewasa kuat, yang tumbuh dalam kasih dan penuh cinta dari orang-orang disekelilingnya.

Ya benar, aku adalah Oh Baekhyun, bukan lagi Byun Baekhyun. Sosok lemah itu sudah kubuang jauh- jauh dihari aku menerima diriku sebagai bagian dari keluarga Oh. Dan aku takkan membuat Taehyung bahagia karena menunjukkan ketakutanku padanya.

Sebab aku adalah Oh Baekhyun, tak ada satupun orang yang boleh mengintimidasi ataupun menghancurkanku semudah itu.

Bayangan seluruh tindakan jahat Taehyung bergeliat didalam memoriku, menimbulkan secercah perasaan amarah yang semakin lama membakar seluruh diriku. Taehyung mungkin Kakakku, tapi dia tak lebih dari sampah masa laluku. Dan aku membencinya dengan setiap tarikan nafasku karena telah memberiku segala rasa sakit dan pedih disaat harusnya aku tumbuh dalam cinta disaat masih menjadi gadis cilik, bukannya perjuangan akan hidup serta menghadapi trauma masa lalu.

"Apa maumu Tae?!" tanyaku tajam, suaraku terdengar bergetar tapi bukan lagi oleh ketakutan, melainkan amarah.

Taehyung tertawa, "Well, kurasa kau sudah tumbuh menjadi sangat baik bukan? Kurasa keluarga kaya itu memperlakukanmu dengan begitu bagus."

Aku menarik satu alis keatas, melipat kedua tangan didepan dada dan kedua kakiku menjejak tegak. Ini adalah posisi paling berani yang bisa kuberikan, aku sendiri terkejut karena memiliki seluruh kekuatan ini untuk menghadapinya.

"Yang benar saja, aku tak percaya jika keinginanmu untuk mencariku setelah mendekam dibalik jeruji besi selama belasan tahun hanya untuk sekedar 'say hii'. Jadi sebaiknya cepat katakan apa maumu!" bentakku. Kaget sendiri oleh kemarahan pada suaraku barusan.

Taehyung terbahak-bahak nyaring, suaranya terdengar seperti gagak mati diseret. Perlahan dia keluar dari tempat persembunyiannya. Aku bisa saja berbalik pergi dan lari darinya untuk mencari Chanyeol, tapi aku tak mau memberikannya kesempatan untuk memperlihatkannya rasa takutku lagi.

Tidak akan lagi! Sudah cukup semua terornya telah menghancurkan masa kecilku. Dan aku takkan melewatkan kesempatan sekecil apapun agar bisa menunjukkan padanya betapa kuatnya diriku sekarang.

Namun ketegaranku hampir saja runtuh ketika aku berhasil melihat wajahnya sekarang. Taehyung bukan lagi anak kecil kurus tinggi seperti dulu, tubuhnya kekar penuh otot meskipun tertutup rapat oleh jaket berukuran besar bertudung hitamnya, mukanya keras dan kasar, ditumbuhi janggut pendek dibagian dagu, bekas luka melebar terbentuk memanjang pada pipi kirinya, diikuti memar- memar baru diarea atas kelopak matanya. Bibirnya penuh bekas pukulan, dan tampak pecah-pecah mengerikan.

Aku menahan nafas selama beberapa saat, isi perutku seperti dicengkram dan terasa sangat perih sekarang. Kepalaku berusaha keras mengatur segala emosi, menenangkan diriku agar bisa menghadapi segala sesuatunya lebih jernih.

"Coba lihat dirimu, begitu angkuh dan sombong. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada sosok gadis cengeng lemah membosankan seperti dulu." Taehyung tersenyum mengejek, menyebabkan kemarahan menggumpal di dadaku.

"Kalau kau berharap pelukan-selamat-datang, maka sayang sekali kau salah tepat." cibirku.

"Sebaiknya berpikir lagi jika ingin mengintimidasiku, karena aku sudah bukan orang yang sama dengan dulu…" kataku keras. Aku bisa merasakan api mulai berputar-putar didalam mataku, meskipun lututku gemetar hebat tapi aku harus tetap bertahan.

Taehyung mendongak menatapku, sepasang mata hazel itu dulunya begitu indah dan jernih, namun entah sejak kapan menjadi sangat kotor karena kebencian dan dendam. Hal yang tak bisa kupahami sama sekali, sekaligus menjadi pertanyaanku sejak dulu mengapa kakak kandungku sendiri bisa begitu menginginkan kematianku.

Taehyung berjalan menuju arahku, gerakannya pelan namun setiap langkahnya seakan mengingatkanku pada ujung umurku. Satu langkah maju darinya dan aku akan berjalan mundur secara teratur serta sepelan kubisa. Aku tak ingin terlihat lemah tapi juga tidak mau bertindak ceroboh karena tak berhati-hati. Mataku menatap tajam kearah kakinya.

"Kau benar sist' kedatanganku mencarimu bukan untuk bereuni ria. Aku kemari untuk memperingatkan sekaligus membuatmu membayar setiap detik waktu yang telah kuhabiskan didalam sangkar besi itu." suaranya berat, kasar, serta sangat serak. Ada nada mengancam yang tidak main-main didalam kalimatnya.

Membunuh kepengecutanku, aku membalas ucapannya dengan tawa ejekan. "Yang benar saja. Hidupmu rusak karena salahmu sendiri, kau berhak mendapatkan semua ini. Aku tak tahu bagaimana caramu bisa keluar dari penjara yang jelas aku tak pernah berhutang apapun padamu!" teriakku. Emosiku meluap.

Langkah Taehyung terhenti, sepertinya ucapanku barusan memberi efek tamparan keras padanya. Namun sebuah seringai jahat yang biasanya kudapat dari karakter penjahat pada film-film superhero fiksi, muncul diwajahnya. Raut muka menjijikan itu begitu kubenci dalam setiap tetes darahku, karena selalu membuatku mimpi buruk.

Sebetulnya, Taehyung memang mimpi paling buruk didalam hidupku.

"Kalau begitu aku harus membuatmu kembali merasakan kenangan 'bagaimana supaya adik kecil mau menurut' rupanya." ujarnya jahat.

Alarm tanda bahayaku menyala kencang. Aku tahu inilah saatnya bagiku untuk kabur. Aku sudah siap membalikkan badan dan berlari secepat kubisa ketika Taehyung bergerak cepat menuju tempatku. Namun disaat bersamaan, sesuatu melompat dari belakangku, menerjang Taehyung hingga tubuhnya terjatuh hingga terpental, punggungnya menabrak dahan pohon ek.

"Sayang sekali, sebelum kau sempat melakukan itu aku akan memotong-motong tubuhmu hingga menjadi serpihan sehingga orang bahkan takkan bisa menemukan mayatmu."

Chanyeol berdiri beberapa meter di depanku, dalam posisi setengah menunduk. Wajahnya menggelap, matanya mengobarkan kebencian mendalam, seringai dibibirnya memperlihatkan deretan gigi tajam. Chanyeol sekarang sangat mirip ketika dirinya diatas ring dulu, saat melawan Sehun. Binatang buas dalam dirinya bangkit dipicu kemarahan.

Taehyung bangkit dengan susah payah, punggungnya merayap pada dahan pohon agar bisa berdiri tegak, mengumpat marah. Aku melihat bayang-bayang gelap iblis di belakang dirinya. Pipinya memar parah, dan darah mengalir deras dari hidung serta kedua sudut bibirnya, Chanyeol sudah memukulnya tanpa ragu.

"Jadi, sekarang kecoa ini bodyguardmu? Atau kau pelacurnya?" ejek Taehyung, tertawa kejam sambil membersihkan darah dari hidung menggunakan punggung tangannya.

Chanyeol mengerang seperti singa kelaparan, kurasa pacarku bisa langsung meremukkan kepala Taehyung jika saja aku tak melompat kesampingnya untuk menahan dirinya. "Chanyeol hentikan! Sampah itu tidak layak untuk membuatmu di penjara!" jeritku memegangi kedua lengannya.

Chanyeol membeku ditempatnya ketika mendengar suaraku, perlahan dia memutar lehernya hingga mata kami saling bertatapan. Aku bisa melihat keajaiban terjadi pada kedua pupilnya yang dari menggelap, kembali mendapatkan cahaya. Lalu, sepasang kelopak cantiknya berkedip. Chanyeol mirip orang dihipnotis yang kembali sadar, dan aku dapat melihat bayanganku yang berantakan, serta dipenuhi air mata didalam kedua retinanya.

Chanyeol mendesah panjang, kemudian memelukku erat, mencium puncak kepalaku lama hingga tawa mengerikan Taehyung menyadarkan kami jika masih ada dia disini.

"Chanyeol? Maksudmu bocah ini si tengik Park Chanyeol itu… sudah kuduga, bajingan memang paling tepat bersama pelacur." Taehyung bertepuk tangan keras.

Membuat Chanyeol nyaris terkonfrontasi lagi. Namun pelukan erat didalam dirinya seakan menjadi obat ajaib untuk meredakan seluruh amarahnya dan membuat otaknya bisa kembali jernih. Kemudian, aku merasa ini waktu paling tepat untuk menunjukkan baik kepada Chanyeol ataupun bajingan itu jati diriku yang baru, atau lebih tepatnya, yang sebenarnya.

Aku keluar dari pelukan Chanyeol, pemuda itu sempat menarikku lagi namun melalui kedua mataku aku memberinya isyarat ketenangan. Aku berjalan lima langkah didepan Chanyeol, kedua tanganku terkepal erat disamping pinggulku, menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya suara mau keluar dari tenggorokanku.

"Enyahlah dari sini! Kau tak lebih dari barang busuk masa lalu yang sebentar lagi akan menjadi tulang belulang. Dan jika kau masih berani menunjukkan batang hidungmu lagi didepanku, maka aku bersumpah akan melakukan segalanya untuk membuatmu membusuk selamanya didalam penjara!"

Taehyung membelalak, dan aku bisa mendengar gumaman terkejut Chanyeol dibelakangku, memanggil namaku. Suasana menjadi hening sesaat, ketika aku terdiam, nafasku tersenggal setelah mengucapkan semua kalimat itu dalam nada tinggi serta seluruh emosi yang selama belasan tahun kupendam rapat didalam diriku.

Taehyung berjalan dua langkah didepanku, kedua pupilnya terlihat berubah hitam seluruhnya karena kebencian, memancarkan aura dendam murni. Tangan kanannya teracung, menudingku tepat dimata.

"Aku bersumpah akan menyiksamu hingga kau sendiri yang meminta kematianmu, dan ingat ini baik-baik. Aku akan selalu mengawasi setiap gerakanmu,mengejarmu meski harus sampai ke ujung dunia, dan meremukkan semua orang yang kau cintai hingga takkan ada lagi tempat tersisa bagimu. Dan pada akhirnya, kau akan memohon serta kembali padaku! Camkan itu baik-baik!"

Taehyung membalikkan badan kemudian berlari dan menghilang ditelan kegelapan, tempat dimana tadi dirinya muncul.

Lututku yang sejak tadi gemetar hebat sudah tak bisa diajak berkompromi lagi, aku nyaris jatuh ketanah jika saja Chanyeol tidak menahanku dengan tubuh kekarnya. Chanyeol membopongku dan meletakkanku diatas undakan tangga darurat apartemen, tangannya dengan lembut membelai rambutku, bibirnya mengucapkan rangkaian kalimat penenang indah. Saat air mataku pecah dari bendungannya dan aku terisak keras. Chanyeol memegang daguku dengan jarinya, sepasang mata coklat karamelnya menatapku penuh cinta serta rasa protektif.

"Saat aku bersumpah akan menjagamu hingga tarikan nafas terakhirku, itu akan benar-benar terjadi dan dimulai dari saat ini." Chanyeol menarik kedua tanganku, menggenggamnya erat dan mendekatkan pada dadanya.

"Aku pernah meninggalkanmu dulu sekali, melakukan kesalahan terfatal dalam hidupku, tindakan terbodoh itu takkan pernah kuulangi lagi. Apapun yang terjadi takkan kubiarkan psikopat itu melukai dirimu, bahkan menggoresmu. Namun jika itu sampai terjadi, aku rela membusuk didalam penjara agar bisa menembuskan pisau kedalam jantungnya."

Chanyeol bersungguh-sungguh, aku bisa melihat langsung dikedalaman jiwanya, bahwa satu-satunya yang dia inginkan hanyalah menjagaku. Aku menariknya dan mencium bibirnya dengan wajah dan mulut penuh air mata. Cukup lama hingga rasa sesak, kengerian, amarah didalam dadaku menguar.

"Maafkan aku karena meninggalkanmu tadi, harusnya aku tetap bersamamu atau menarikmu masuk bersamaku. Ada yang dengan sengaja merobek ban motorku jadi aku harus menggantinya dengan baru tadi." ujar Chanyeol, merasa sangat bersalah.

Aku terhenyak mendengar ucapannya. "Itu pasti Taehyung, entah sudah berapa lama dia mengikutiku, kalau tidak bagaimana dia bisa tahu aku ada disini dan muncul tepat pada waktunya." jawabku putus asa.

Membayangkan psikopat itu telah mengawasiku selama ini membuat perutku mulas dan nafasku tercekik. Harusnya aku tahu takkan semudah itu bisa melepaskan diri darinya. Bahkan meskipun aku sudah menjadi seorang Oh, tinggal di penthouse mewah dan hidup dengan segala gelimang kekayaan. Sebab Taehyung adalah parasit yang menempel padaku dan takkan bisa dibasmi kecuali salah satu dari kami mati.

"Ayo, bagaimanapun juga aku harus mengantarmu pulang terlebih dulu, masalah Taehyung bisa kita pikirkan nanti." ajak Chanyeol.

Aku mengangguk, semua hal tentang Taehyung ini telah membuatku lupa pada masalah utamaku sesungguhnya. Dengan malas aku bangkit dari dudukku dibantu Chanyeol, dia memapahku menuju motor dan itu membuatku kesal. "Hentikan Yeol, aku bisa sendiri." ujarku.

Chanyeol tersenyum manis, matanya melirik kearah lututku yang masih gemetaran lalu mengerucutkan bibirnya. "Phoenix, kurasa badanmu mengatakan sebaliknya."

Dan aku tak bisa berhenti tertawa karena dia membuat wajah lucu dengan melebarkan cuping hidungnya serta melebarkan pupil matanya hingga menyerupai babi. Chanyeol menundukkan kepalanya, menciumku sekali lagi dengan lembut dibibir lalu membantuku naik keatas jok motornya dan memakaikan helmnya.

Tanganku memeluk pinggangnya seerat kubisa, memejamkan mata serta berdoa semoga malam ini takkan menjadi lebih buruk lagi.

...

Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit dengan kecepatan sedang versi Chanyeol untuk tiba di Town House. Audi A4 Sehun sudah terparkir ditempatnya, dari luar aku hanya bisa melihat satu-satunya cahaya yang menyala berasal dari ruang tamu. Itu artinya mereka sedang menungguku.

Menguatkan tekad, aku turun dari atas motor dibantu Chanyeol. Jemarinya meraih daguku, memandangku tepat kedalam iris zamrudku yang kini dipenuhi kecemasan. Seperti ada badai petir menderu didalam kepalaku, menyambar cepat menyebabkan adrenalinku melaju kencang, rasa takut ini memang tidak sebesar saat melihat Taehyung tadi, tapi kupikir akan lebih sakit jika akhirnya memburuk.

"Hei, tenanglah Phoenix, apapun yang terjadi kita akan menghadapinya bersama dan takkan kubiarkan apapun menghalangiku untuk tetap mempertahankanmu." Chanyeol tersenyum tulus padaku. Ya Tuhan, seorang petarung buas seperti dirinya bisa begitu lembut pada seorang gadis sepertiku.

"Aku sudah pernah kehilanganmu." kesedihan membayang dikedua mata Chanyeol, "Aku bodoh karena melepaskanmu dan takkan pernah kuulangi lagi. Untuk alasan apapun."

Mata Chanyeol seperti danau luas dimana menyimpan banyak keteduhan, dan aku adalah angsa lepas yang merasa kehausan. Aku tersesat dengan bahagia didalamnya, bersama dia. Bersama Chanyeol segalanya terasa benar dan tepat ditempatnya. Aku berjinjit untuk menciumnya, dalam dan lama.

Kami tersentak ketika mendengar suara pintu menjeblam terbuka, dan bersamaan dengan itu sesuatu melompat kearah Chanyeol, membuatnya terjatuh diatas tanah hingga terdengar bunyi keretak tulang dari salah satu bagian tubuhnya.

To be Continued


Dichapter ini udah terjawab kenapa aku nggak make marga Byun utk Baekhyun hehe.

Ohya, utk review dari Ayupacarchanyeol aku jawab disini ya. Di warning udah aku cantumin kalau cerita ini emg Out of Character jadi kalau semisal fisik aslinya bertentangan dgn yg dicerita emg ga bisa aku ubah, aku cuma minjem nama member. Kemudian, kenapa harus Chanyeol? Kenapa karakternya ga dituker sama Sehun? Alasannya ya karena ini cerita ChanBaek bukan HunBaek. Jujur awalnya aku pengen pakai nama Kris sbg Kakak angkat Baekhyun, tapi aku rasa marga Wu kurang cocok/? but thankyouuuu reviewnya

Makasih yang udah sempat baca, follow/fav, dan review^^