Disclaimer : Ini Detective Conan, punya Aoyama Gosho. Aku hanya mengutip ;)
WARNING! KATA KATA KASAR BERTEBARAN SEPANJANG CHAPTER INI!
Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
"Apakah kau baik-baik saja, uhm, Shinichi…-kun?"
Akane melihatku dengan tatapan ketakutan —jangan bilang dia takut aku pingsan, kolaps, lalu tak sadarkan diri hingga berjam-jam seakan aku orang ayan—. Aku mendengus. Tapi kepalaku sangat pening, hidungku mampet, telingaku berdenging, dan batuk terus terdengar dari mulutku. Tentu saja dengusan itu bukan berarti aku baik-baik saja, tapi kadang berbohong itu lebih baik, 'kan?
"Aah, aku baik-baik saja, Fujitani…. HATSYIU!" aku bersin-bersin, megap-megap kehabisan oksigen. Akane menatap wajahku cemas, lalu memeriksa keningku dengan keningnya juga. Wajahnya memerah. Aku hanya bisa menarik napas dari mulut. Suaraku sengau, mulutku terbuka karena sulit bernapas.
"Panas…" sergah Akane. Lalu ia kembali duduk tegak di sebelahku, menatapku dengan cemas.
"Jangan sebarkan virus demammu itu ke kami, Kudou!" ledek Hai—Shiho sambil menyeringai, mengejek.
"Diam kau, brengsek." ujarku sambil mengumpat. Shiho tersenyum bangga karena sudah berhasil membuatku kesal. Ternyata walau tubuhnya sudah kembali, sifatnya tetap tidak berubah.
"Hei, hei, tidak baik mengumpat seperti itu." ujar Ara menenangkan.
Sekarang kami ada di sebuah Honda Jazz hitam milik Dhan. Ara dan kekasih tercintanya itu duduk di depan, Dhan yang mengendarai mobil ini. Sementara aku duduk di belakang paling kiri. Di sebelahku adalah Akane, dan di sebelahnya lagi adalah Shiho. Sedari tadi Akane takut aku kenapa-kenapa, terlihat dari wajahnya. Aku semakin pusing. Ia menempelkan telapak tangannya di lenganku. Aku mengambilnya dan menaruhnya di keningku.
"Eh, Shinichi-kun…"
"Panas. Tanganmu dingin." ujarku, menikmati sensasi itu. Biasanya sewaktu kecil keningku dipegang tangan ibuku, membuat panasku jadi turun. Kalau bukan ibuku, Ran yang melakukannya. Entah mengapa tubuh kedua wanita itu terasa sejuk di kulitku. Nyaman dan membuatku ingin menyentuhnya terus.
Hanya mereka berdua. Kecuali Akane ini.
Aku menatap Akane dari balik bulu mataku agar dia tidak menyadarinya. Hidungnya, bibirnya, matanya… sangat mirip Ran. Apalagi ekspresi cemasnya. Tangannya mengelus-elus tanganku, kulitnya juga terasa sejuk bagiku.
Aku terlalu familier dengannya.
"Uhuk uhuk!" batukku keras, aku langsung duduk tegak, mencari oksigen. Semuanya berputar-putar di mataku.
"Sepertinya aku ada obat demam…" Akane mengacak-acak tas hitam besarnya itu. Ia menyodorkan kapsul kuning-merah yang baunya —entah kenapa aku masih bisa mencium bau dalam keadaan seperti ini— pahit dan tidak enak. Tanganku gemetaran ingin mengambilnya. Akhirnya cewek itu menghela napas prihatin, dan meminumkan obat itu padaku, serta menyodorkan botol berisi air mineral.
"Te, terima kasih…" suaraku serak. Ia mengangguk, lalu menyandarkan tubuhku ke jok. Aku menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Padahal, 12 jam lagi adalah waktu transaksi organisasi. Tapi aku seperti hampir mati begini. Aku tentu saja turut serta, tapi dalam keadaan kurang fit, Ara dan Dhan sedikit ragu mengikutkan aku.
Kami sedang menuju ke bandara. Transaksinya ternyata di Osaka. Heiji girang sekali mendengarnya, sepertinya hendak melompat-lompat, sewaktu aku menelpon dan bilang akan menumpang dirumahnya dulu untuk tidur selama beberapa jam karena kondisiku. Itu ide Shiho.
"APAAA? KAU MAU KESINI?" teriak Heiji.
Aku menjauhkan handphone dari telinga. Sudah kuduga ini ide buruk. Bisa-bisa malah tidak isirahat sama sekali disana. "Uh. Ya. Aku mau kesana… boleh tidak?"
"TENTU SAJA BOLEEEH! Setelah itu aku akan mengajakmu jalan-jalan untuk melihat keindahan Osaka! Kau sudah kembali ke tubuhmu semula 'kan? Selama ini 'kan kau kesini dengan tubuh kecilmu! Pasti akan lebih jelas kalau badanmu sudah kembaliiii!"
"Terserah kau saja deh…"
"Wah asyik juga ya! Kemana kita akan pergi? Eh, ngomong-ngomong baru-baru ini aku menemukan restoran enak di dekat Ben…"
"Hoi, Hattori, aku kesana bukan untuk jalan-jalan, tapi ada misi… M-I-S-I."
"Iya aku tau. Tapi kau 'kan juga harus sering berjalan-jalan, bodoh!"
"Yayaya…"
"Oh ya, lalu bagaimana dengan kekasihmu tercinta? Dia juga akan ikut juga kesini bersama si detektif tukang tidur tukang mabuk itu?"
"Huh?"
"Kakak yang itu lho… Ran!"
Aku melirik Akane.
Ini Ran bukan sih? Aku bertanya-tanya seperti orang tolol.
Aku memiliki dugaan dia itu Ran yang menyamar. Bisa saja 'kan? Banyak kemiripan, dan siapa tau dia mau balas dendam… kayak mungkin saja Ran balas dendam. Namun ketika aku ingin mengutarakan pikiranku, Shiho, Ara, Bu Jodie dan Dhan pasti menyela sehingga aku lupa sampai… ketika mau tidur. Jelas semua sudah tidak di satu ruangan lagi. Aku memutuskan untuk menanyakannya besok, lalu ketika aku ingin membahasnya, lagi-lagi pembicaraan kami dipotong… lalu aku lupa, kemudian mengingatnya lagi ketika mau tidur, membahas lagi esok paginya, disela lagi, lupa lagi, begitu seterusnya.
Kepalaku makin pusing. Akane menuntunku ke pesawat. Aku heran kenapa kami bisa tidak ketinggalan pesawat, padahal kata Ara tadi kami berangkat 15 menit sebelum pesawat boarding. Aku melirik jam, pukul 7.55 pagi. Kami duduk bersebelahan. Memang hampir sebulan ini dia yang mengurusku, makanan, waktu tidur, bajuku, mengobatiku ketika terluka dalam latihan. Dia benar-benar mirip Ran.
Andai dia Ran betulan.
Aku sudah bersandar lemas, tidak tau lagi mau melakukan atau bicara apa.
"Tidur saja, Shinichi." bisik Akane.
Tapi itu suara Ran.
Kalau dia bukan Ran… sungguh. Aku rindu pada gadis itu. Dan instingku mengatakan kalau dia memang Ran.
Aku mengangguk kecil, mengambil tangannya dan menggenggamnya erat. Entah karena pengaruh obat tadi atau bukan, aku kehilangan kesadaran.
"Yo Kudou! Akhirnya kau datang juga!" sambut Hattori dengan cengiran gembira di wajahnya.
Aku mengangguk. Kulihat Dhan tersenyum.
"Kau Hattori Heiji ya?" tanyanya. Suaranya mengandung tawa. Entah apa yang lucu.
"Iya. Kau siapa?" tanya Heiji. Khas banget, langsung to the point tanpa basa-basi.
Dhan tertawa. "Aku Dhan, ini Ara. Kami agent FBI, yang melatih si Kudou ini…" Dhan menyikutku. Untung aku tidak pingsan karena sikutannya.
Kuberitahu saja, disikut Dhan plus kau sedang dalam keadaan setengah tidak sadar itu adalah hal yang buruk.
"Uhuk uhuk…" aku terbatuk-batuk. Heiji menaikkan alis.
"Hei, kau sakit ya, Kudou?"
Aku mengangguk tanpa menjawab karena batukku makin menjadi. Sebuah tangan mengelus-elus punggungku. Hangat. Batukku jadi reda.
"Maka itu, kami harus membicarakan sesuatu padamu…" Ara menjelaskan lagi tujuan kami sekaligus perlindungan untuk Heiji. Dia mendengarkan dengan saksama, namun kemudian menyela di bagian FBI akan berada disekitar 100 m disekeliling rumah dan sekolahnya.
"Hei hei, ayahku polisi! Lagipula aku bisa menjaga diriku sendiri!" selanya tak sabar.
Ara menggeleng-geleng tak setuju. "Ini lain. Anggota penyelidik kami banyak yang… mati." ucapnya kaku. "Dan mereka sudah pasti lebih hebat darimu," Heiji berdecih tak peduli, namun Ara berlagak tak mendengarnya. "…beresiko membiarkanmu tanpa pengawasan. Dan juga, Hattori, aku tau persis ayahmu pasti tau soal organisasi ini."
"Eh? Bagaimana bisa?" tanya Heiji heran.
"Ini wilayahnya. Tentu dia tau apa saja yang terjadi di teritori-nya. Mereka salah pilih lokasi transaksi, nampaknya mereka tidak begitu paham soal ayahmu. Dia orang hebat. Aku sempat berkenalan dengannya ketika berkunjung kesini." tutup Ara kalem. Wajahnya tegas tak mau dibantah. Heiji menghela napas sok kecapekan, dan menjawab "Iya deh, terserah kau saja!"
Akane tiba-tiba angkat bicara. "Uhm, Hattori-kun… bisa tolong biarkan Shinichi beristirahat di rumahmu sebentar? Dia kepayahan sekali tampaknya."
"Aku baik-baik saja. Setidaknya belum mati." ujarku sinis. Akane tidak menjawab.
"Baiklah… omong-omong, Kakak ini, kau ganti gaya rambut?" tanya Heiji.
Aku mendelik, melihat ke arah Heiji.
Heiji lalu terdiam, nampak ketakutan, lalu sedikit gugup. "O, oh… ya, ma-mari kita masuk, hahaha…" dia mempersilakan kami. Akane menghela napas, dan aku tau pasti Heiji menyangka Akane itu Ran. Tapi kenapa tiba-tiba ia berhenti?
Lalu sekilas aku melihat wajah Shiho yang seram.
Uh. Harusnya aku langsung tau jawabannya. Setan ini.
Aku tau ada yang disembunyikan dariku. Semua orang tau sesuatu kecuali aku! Brengsek, pasti ini soal Akane. Aku harus memaksa mereka memberitahu yang sebenarnya.
Sialannya, kepalaku berputar lagi. Samar-samar aku mendengar Ara bilang "10 jam lebih sedikit transaksi akan dimulai. Aku lapar, nih, makan yuuuuk…" lalu Dhan membantu Akane menyeretku ke kamar Heiji.
"Tidak usah, aku sudah bilang ke ibuku untuk memasak! Kau harus mencoba makanan ibuku! Enak lhooo…" jawab Heiji.
"Ha? Betulkah? Terima kasih, Hattori-chan!"
"Panggilan macam apa itu?"
"HATSYIU!"
"Sudah enakan belum, Shinichi-kun?" tanya Akane. Aku mengangguk kecil sambil memasang sebuah hear set kecil dengan microphone dibagian tengah kabelnya, di sekitar leher bila dipakai. Aku menyelipnya ketelinga, lalu ke balik baju.
"Eh, Akane… bisa tolong sedikit?" tanyaku. Wajahku sedikit memanas.
"Hm? Soal apa?"
"Eh, kaitkan ini ke belakang celanaku dari balik kausku… aku tidak sampai." ujarku.
"O, oh…" Akane membantuku memasangnya. Aku tidak yakin karena didalam mobil gelap, namun rasanya wajah Akane merah seperti kepiting rebus.
Ara dari tadi mengotak-atik laptopnya sambil menelpon orang. Begitu juga dengan Shiho, tapi kalau dia menggunakan head set untuk PC. Dhan sedang menyetir. Di telinga kami kecuali Shiho terdapat sebuah hear set sama seperti yang sedang kupasang.
"OK. Hattori ada di belakang kita untuk membantu. Dia naik motor. Dengar tidak, Hattori?" tanya Ara.
"Tentu saja aku dengar!" sahut Heiji dari speaker laptop Ara.
"Bagus. Kita pakai code name agar kalau mereka menyadap, mereka tidak tau siapa-siapa saja yang terlibat. Hanya untuk berjaga-jaga saja, lagipula aku sudah menyiapkan firewall terbaik untuk transaksi malam ini." ujar Ara sambil terus mengetik.
"HAAI! AKU BLAAAACK!" teriak Heiji.
"Namaku Big, salam kenal!" sambung Dhan sambil tertawa.
"Hell Angel." Shiho berkata dingin. Nama yang… entah kenapa cocok untuknya. Namun aku sedikit bergidik mendengarnya.
"White here!"
"Red!"
"Fat guy!"
"This is Glass!"
Aku hanya mengenali suara terakhir, yaitu Bu Jodie.
"Halo, aku Small!" lanjut Ara ceria. Namun suaranya kaku kembali. "Tapi aku tidak tau code name yang pas untuk kalian, Kudou, Akane-chan. Kalian putuskan sekarang, lalu beritahu kami. Miyano-chan yang akan memonitor keberadaan kita semua. Cukup berbisik saja maka suara kalian sudah sangat jelas sekali. Aku sudah mengaturnya." jelas Ara.
"Bagaimana kalau code name-mu Spade, Shinichi? Itu cocok sekali untukmu!" usul Akane. Aku menatap gadis itu dalam-dalam.
Dia benar-benar Ran. Aku akan membongkarnya setelah misi ini.
"Baiklah, tapi ada syaratnya," ujarku sambil sok tak peduli. "Aku mau code name-mu Heart!"
"Eh?"
"Mau tidak? Kalau tidak aku gak akan memakai nama Spade." aku mendekatkan wajahku ke wajah Akane agar terkesan mengancam. Mukanya merah.
"B-baiklah…"
Aku nyengir.
"Oke, jadi Shinichi sama dengan Spade, Akane sama dengan Heart…" kulihat dari spion kalau Ara melihat Dhan penuh arti. "Aku akan berpasangan dengan Dhan, Shinichi dengan Akane. Miyano-chan, kau akan bersama dengan Jodie, dia juga memonitor lapangan. Kau stay saja disini. Andre sepertinya turun bersama James. Hattori akan memonitor kondisi luar bersama Sora, Theo dan Jack. Kalian akan diberitahu nama lokasinya." Ara mengambil napas, mendekatkan mic ke bibirnya. "Spade and Heart follow the target. Big and Small spy on Gin-Vodka. Young and Old will follow Vermouth. Miyano and Jodie, spying all part of the mall. Another, safe the outside."
Ara menyerahkan kacamata padaku, ia mengikat rambut dan mengganti parkanya dengan flanel. Dhan hanya memakai kacamatanya yang biasa, ternyata matanya minus. Aku mengenakan kacamata itu. Jadi serasa aku adalah Conan. Akane tidak melakukan penyamaran apapun.
Dhan memakirkan mobilnya di dekat lobby utama.
"Now." bisik sebuah suara di telingaku. Bu Jodie.
Kami semua kecuali Shiho, setengah melompat ke tempat yang sudah ditentukan.
"Uh… oi Small! Aku sudah sejam menunggu disini, tapi target belum juga didatangi siapapun…" aku mengeluh sebal.
Kami menunggu di sebuah jalanan yang berisi meja-meja dan di kiri-kanannya terdapat restoran. Kawasan untuk ABG berkumpul dan tertawa-tawa. Lumayan juga untuk lokasi transaksi, berlagak mereka bertemu teman? Ini benar-benar tak kuduga sebelumnya.
"Sabar dong, brengsek. Aku juga sedang mengikuti Gin dan Vodka, dia masih duduk diam saja di food court!" jawab Ara dengan nada membentak.
"Kau pesan saja makanan, berlagaklah dengan Heart kalau kalian berdua itu sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta dan tidak menyadari keadaan sekitar…" celetuk Dhan. Brengsek orang ini. Sempat-sempatnya bercanda disaat seperti ini.
Wajah Akane memerah.
"Kami bukan kalian!" bentakku.
"Wah, tak kusangka, Spade, kau mau selingkuh dari Kakak itu…" Heiji ikut menggoda. Terdengar dengung tawa di telingaku.
"Diam!"
"Sudah sudah." ujar Shiho menenangkan dengan suara killernya. Suasana kembali tenang. Terima kasih padanya.
"Big, Small, Vermouth menuju ke tempat lokasi Gin Vodka." ujar James. Aku langsung tegang, begitu pula Akane.
"Young, Old, kami sudah melihatnya. Tersangka menuju lokasi Spade dan Heart. Bersiap-siaplah."
"Ini Hell Angel, harap semuanya menuju ke tempat transaksi."
"Ini White, lokasi depan aman!"
"Tunggu, semua yang ada di dalam. Ada sebuah van besar berwarna hitam di dekat lobby utara."
"Tenang, Black. Itu mungkin teman mereka."
Gin dan Vodka muncul, bersama… seorang wanita dibelakangnya. Namun itu bukan Vermouth. Sadarlah aku, dia itu 'kan jago penyamaran. Pasti itu Vermouth, terlalu mencolok bila seorang aktris Hollywood macam dia ada disini. Aku bisa melihat sebuah pistol terselip antar sepatu dan celana skinny abu-abunya.
Mereka duduk di hadapan target. Suara mereka terdengar, karena ada penyadap yang tadi sengaja dilempar Akane ke bawah bangku target.
"Hm…" ujar Gin. "Jadi, mana uangnya?"
"Sabar! Uangnya ada di koper ini! Tapi kalian harus memberiku bukti korupsi itu dulu!" ujar si target. Suaranya gelisah, dan ia duduk tidak tenang di bangkunya. Barulah aku teringat, dia adalah salah satu anggota parlemen yang sedang disorot karena dituduh korupsi… Watase Iwakura namanya, kalau tidak salah.
Vodka memberikan sebuah amplop besar bewarna cokelat. Namun tangan Gin menahannya.
"Kau tidak lapor polisi 'kan?" tanya Gin dingin.
"Spade, dimana lokasimu?" tanya Dhan, suaranya kalut.
"Aku ada 10 meter di belakang target, Gin menghadapku. Tapi kami sambil makan, kok, rasanya sedikit mustahil dia sadar…"
"Awasi terus." ujar Bu Jodie.
"Te, tentu saja tidak!" si Iwakura histeris, suaranya takut.
"Lalu mengapa daritadi ada yang mengikuti kami?"
"Brengsek! Big, Small, mundur, jangan ikuti mereka, segera ke tempat Hell Angel!" seru Heiji. "Ada yang menghampiri mobil kalian! Orang-orang dari van besar tadi! Sekarang!"
"Spade dan Heart, tetap di tempat," suruh Jodie.
Pasangan yang ada di belakang Gin tiba-tiba berdiri, berjalan santai sambil bermesraan. Aku langsung tau itu Dhan dan Ara, karena setelah diujung jalan mereka berlari kencang.
Aku tidak fokus pada pembicaraan Gin dan Iwakura selama Heiji dan Bu Jodie bicara tadi—atau memang mereka tidak membicarakan apapun, aku tidak tau— ketika Gin berdiri menghampiri kami dan mengeluarkan pistolnya.
Itu tindakan yang cukup mencolok, namun aku sadar ternyata itu bukan wajah Gin. Melainkan wajah Iwakura yang tadi. Aku menelan ludah. Sudah rencana mereka sepertinya, melakukan hal mencolok seperti ini karena bila Gin membunuh kami, maka Iwakura-lah yang tertuduh, bukan organisasi mereka.
Kenapa Ara, Dhan, bahkan si Iwakura itu tidak sadar?
"Kita bertemu lagi, Kudou Shinichi." ujar Gin dengan suara dinginnya, 10 meter dari kami.
"Kita bertemu lagi, Kudou Shinichi."
Suara itu nyata, bukan hanya ada di mimpiku saja. Berhasil membuat bulu kudukku berdiri, semua ingatanku tentang orang ini adalah pembunuhan, pembunuhan, dan pembunuhan.
Aku berdiri, melirik ke kanan dan ke kiri. Entah kenapa jalanan sudah sepi, padahal baru jam 9 malam. Hanya tinggal 2-3 orang saja, itupun di ujung jalan. Para pelayan di restoran juga tak terlihat. Baguslah, tak perlu ada yang jadi korban.
Gin mengacungkan pistolnya.
Keringat bermunculan dari keningku. Tegang. Dan takut.
"Selamat tinggal, membusuklah kau di neraka terdalam…"
Aku menggenggam tangan Akane kencang.
"KYAAAA! PISTOL!" sebuah suara terdengar di ujung jalan di belakang kami. Vodka dan Vermouth menghilang. Begitu pula Iwakura. Gin tetap ditempatnya.
Aku mengonsentrasikan diri pada pistol itu.
DOR!
Aku menghindar, namun kacamataku pecah. Aku langsung menarik Akane dan berlari ke belakang, berbelok masuk ke arah mall.
DOR!
Akane terkesiap. Kulirik dia, ternyata lengannya terserempet peluru. Aku langsung memeluk dan menggendongnya di depan sambil berlari cepat. Aku melihat sebuah eskalator dan berlari ke arah sana, dari pantulan kaca Gin dengan wajah Iwakura dan Vodka dengan wajah Valentino Rossi menyusul. Tak adakah muka lain? Terlalu aneh! Apa mereka menganggap ini semua lucu? Namun kalau aku melihatnya dalam keadaan santai, aku pasti tertawa terbahak-bahak… Valentino Rossi dengan jas hitam dan topi fedora…. ehem.
Aku menaiki eskalator sambil setengah berlari, menabraki orang-orang dengan hadiah umpatan dari mereka, lalu melihat ke segala penjuru lantai setelah sampai ke atas. Ada sebuah toko buku terkemuka di kiri, aku segera memasukinya. Banyak lemari dan rak disana, mungkin bisa menghentikan mereka.
Sepertinya luka Akane cukup dalam, darah tidak berhenti keluar dari sana. Aku dihadang seorang satpam, namun aku membentaknya, lari ke dalam, mencari bagaimana bisa bersembunyi.
Kulihat seseorang keluar dari ruangan yang penuh buku, pintunya terbuat dari besi. Aku segera mendatanginya. Gin dan Vodka di depan gerbang sana, dan melihat kami.
"Kalian dimana?" tanya Ara penuh histeria, namun aku tidak —tidak bisa— menjawabnya.
"Maaf, Tuan, selain karyawan…" seorang pemuda seumuran denganku dengan seragam petugas toko buku melarang kami masuk, namun aku menerobosnya dan menutup pintu. Aku menatap ruangan itu.
Ternyata hanya sebuah koridor sempit yang penuh dengan buku, kira-kira panjangnya 15 meter. Ada tangga di kedua ujung koridor, tangganya memutar. Aku melihat ke atas, dan ternyata di atas pintu itu ada balkon dengan pegangan kayu dipinggirnya yang cukup besar dan bisa dipijak olehku. Seperti rak buku di rumahku.
Suara bentakan terdengar di luar. Aku sangat mengenali suara itu. Vodka. Tanpa pikir panjang aku langsung memutar, menaiki tangga menuju balkon tersebut, dan menaiki pegangan kayunya, tepat di atas pintu, berjongkok sambil menahan napas. Aku melirik Akane, wajahnya menempel di dadaku, ia memelukku erat-erat dan gemetar ketakutan. Kurasakan kemejaku sedikit basah karena air matanya. Dalam keadaan begini saja wajahku masih sempat-sempatnya memerah karena malu.
"Hei, kalian dimana?" tanya Shiho.
"Diamlah untuk 15 menit ke depan, kami dalam bahaya."
Kami menunggu. Aku menghitung sampai detik ke-32, tiba-tiba pintu terbuka. Gin dan Vodka tepat di bawahku, aku bernapas pelan sekali, Akane terdiam.
"Kakak… mereka tidak disini…"
Aku menempelkan bibirku di puncak kepala Akane untuk menghilangkan suara napasku. Bau shampoo Ran. Sedangkan Akane sendiri mengeratkan pelukannya.
"Cari." ujar Gin dingin dengan nada tak mau dibantah.
Vodka ke kiri dan Gin ke kanan. Kesempatan. Setelah menarik napas pelan dan panjang, aku langsung melompat ke bawah. Gin dan Vodka menoleh kebelakang.
"Seperti kucing sialan. Melompat dari atap." ujar Gin dengan nada suara dingin dan mengacungkan pistol. Tapi aku sudah diluar ruangan itu, setengah menutup pintu dengan kencang. Aku melihat ke kiri, dan segera menarik rak buku yang ada disana ke depan pintu. Kaki Akane langsung terpijak ke tanah. Untuk sementara waktu mereka tak bisa keluar. Buku-buku banyak yang terserak jatuh karena hentakan keras dari rak tersebut. Kemudian aku menarik Akane dan berlari menuju pintu keluar toko buku.
Yang baru kusadari, ternyata kaki Akane juga tertembak sehingga ia tidak bisa berlari cepat. Aku menggeleng tidak sabar, menarik tubuh Akane dan menggendongnya di depan lagi, segera berlari secepat mungkin.
Sekeluarnya dari toko buku, aku menuruni eskalator sambil berlari.
"IIIH! Apa sih ini orang!"
"HEI! KALAU JALAN PAKAI MATA!"
"Jangan lari-lari di eskalator!"
"AAAH! Belanjaanku jadi jatuh!"
"Bisa sabar sedikit, tidak, sih?"
Aku tidak memedulikan omongan orang lain. Aku segera turun, dan berhenti sejenak dan hendak memutuskan apakah aku akan keluar dari pintu aku masuk tadi atau lewat pintu lain.
"Cool Guy. Angel."
Aku segera menoleh. Seorang wanita dengan rambut pendek sebahu dan lurus, seperti orang Jepang. Namun itu Vermouth, aku kenal betul suaranya.
"K, kau…"
"Run." ujarnya.
Aku mengangguk, lalu berlari lagi ke arah pintu tempat kami masuk, berbelok ke kiri menuju jalanan tadi, lalu memasuki jalan penuh restoran lagi.
"SPADE! HEART! LOBBY UTAMA!" teriak Ara di telingaku. Ada suara berdecit kencang di latarnya. Aku segera berbelok lagi ke kiri, menabrak orang-orang yang langsung mengumpat ketika kutabrak.
Selama berlari, Akane menempelkan wajahnya di leherku, air matanya turun lagi.
"Jangan menangis, Ran."
Ran menatapku kaget, bibirnya bergetar dan menangis lagi.
"Jangan menangis atau kucium kau."
"A, aku tidak peduli." Satu tangannya yang melingkar di leherku menghapus air mata di pipinya.
Aku berlari ke lobby. Lalu sebuah Honda Jazz Hitam menukik tajam dari kanan, dari bundaran itu. Pintu belakang terbuka, Ara berteriak keras dari bangku depan. "CEPAT MASUK! Kita dikejar di belakang!"
Tanpa berpikir aku melempar diriku, bahkan pintu belum tertutup tapi mobil sudah melesat, meninggalkan bayangan Gin dan Vodka yang langsung terdiam melihat mobil ini, dan menuju Porsche mereka bersama Vermouth.
Ran terus terisak. Aku melepas ikatan rambutnya dan mengacak-acak poninya, mengubah rambutnya ke model seperti semula. Ia tertegun, lalu tangisnya berubah jadi sedu sedan
"Bagaimana kau bisa tau secepat itu?"
"Kau tidak selihai aku." jawabku kalem. Ran masih terduduk di pangkuanku, aku mendudukannya di sebelahku tanpa melepas pelukannya, dan memeluknya. Aku menempelkan bibirku di keningnya.
Bisa kurasa kalau kecepatan mobil sekarang kira-kira 140 km/jam. Namun entah mengapa tidak ada satupun polisi lalu lintas yang memberhentikan kami. Entah karena jalanan yang sepi atau karena alasan lain.
"Berhenti menangis atau kucium kau." bisikku penuh ancaman.
"Cium saja kalau berani!"
"Jangan berbuat mesum di mobilku!" sergah Dhan.
"DIAM DEH!" bentak kami berdua.
"Nngghh…" erangku sambil memutar badan.
"Maaf, aku membangunkanmu." ujar sebuah suara yang terdengar sangat manis di telingaku. Suara orang yang kupikirkan terus belakangan ini… tanpa henti.
Aku segera membuka mata sepenuhnya.
"Ra… Ran?"
"Pagi…" ujarnya dengan senyum diwajah.
Aku meraba keningku. Ada sebuah kain basah. Disebelah kasur ini ada meja belajar, diatasnya ada baskom yang nampaknya berisi air. Aku melirik lengan Ran yang diperban. Aku langsung mengenali kamar ini. Ini 'kan kamar Heiji. Kenapa aku bisa disini?
Oh iya, aku sedang sakit dan mengungsi disini.
"Ran…" aku mencari-cari tangannya. Setelah mendapatkannya, aku menempelkannya di pipiku. Dingin. Wajah Ran merona.
"Ayahmu tidak mencarimu? Masa dia tidak curiga anaknya menghilang?"
"Kau ini lupa ya? Kau kira kenapa Hattori-kun bisa ikut kemarin? Kita sudah ujian semester 1, dan sedang libur ujian. Jadi kubilang ada karantina karate selama… 3 minggu sebenarnya. Lalu sisa 1 minggunya, aku menghilang."
"O, oh…" aku ber-ooh ria. Lalu diam lagi. Aku bingung mau bilang apa. Nampaknya Ran juga begitu.
"Ran…"
"Shin…"
Diam lagi.
Uh, suasana yang sangat menjengkelkan, seperti di sinetron saja!
"Shinichi…"
"Hn?"
"Ja, jangan kau tinggalkan aku lagi…"
Aku meletakkan tangannya di pangkuan gadis itu, lalu tersenyum menenangkan. "Tenang saja. Aku 'kan sudah janji. Kau tau aku bukan tipe yang suka ingkar janji… walau terkadang suka terlambat kalau kita mau bepergian…"
Kami berdua tertawa.
"Pulanglah." ujarku.
"Tidak! Aku tidak mau! Kalau aku pulang, kau pasti tidak akan menghubungiku! Aku ingin di sebelahmu Shinichi…"
"Tapi ini berbahaya!"
"Kalau begitu aku beri alasan yang sama padamu. Pulanglah bersamaku. Ini berbahaya."
Aku menghela napas sok kecapekan. "Ran, itu lain."
"Kenapa? Kenapa kau boleh menghadapi bahaya, sedangkan aku tidak?" mata Ran menyipit, ekspresinya sebal namun matanya sedih. "Oh, atau kau tak mau aku dekat denganmu. Baiklah, aku mengerti." suaranya sinis tapi tetap, matanya menunjukan kepedihan.
"Bukan begitu! Bisakah kau mengerti sedikit? Coba lihat dari sudut pandangku!" aku mendudukkan diri, namun kepalaku langsung berkunang-kunang. Ran yang melihat aku limbung, memegang bahuku dan memaksaku kembali berbaring. Topeng sinisnya lepas, wajahnya berubah jadi khawatir.
"OK, jadi apa yang mau kau lihat dari sudut pandangmu?"
Aku menarik napas.
"Banyak. Keselamatanmu. Lalu keluargamu yang akan menyalahkan aku bila kau… terluka."
"Aku tidak terluka kok!"
Aku melihat ke arah perban di lengan Ran.
Ran menghela napas. "OK… aku terluka. Tapi aku bisa menjaga diri, Shinichi. Mengertilah. Aku mau disini. Aku tidak mau kau terluka. Tolonglah! Aku ingin tau soal kau, aku…"
"Aku janji akan menelponmu tiap hari!"
Ran tidak menjawab.
"Dan tiap akhir minggu, kau bisa ke tempatku. Tidak sulit, 'kan? Asalkan kau tak terlibat! Mengertilah Ran. Ayolah."
"Tetap saja berbeda…"
"Aku mohon."
"Aku tak bisa bertemu denganmu tiap hari…"
"Aku mohon."
"Tidak tau keadaamu…"
"Aku mohon."
Ran melipat tangannya di depan dada. "TIDAK! Aku tidak mau, Shinichi! Mengertilah! Kau belum pernah merasakan kehilangan orang yang kau sayangi! Tidak tau bagaimana kabarnya! Aku. Tidak. Mau." Ran memberikan penekanan pada tiap kata di kalimat terakhirnya.
"Kau ini egois sekali sih! Ini untuk kau!"
"Kau yang egois! Kau mementingkan dirimu sendiri tanpa memikirkan perasaanku!"
"Kau juga harus tau aku khawatir kalau kau terancam bahaya seperti kemarin! Bagaimana kalau peluru itu tidak hanya menyerempet lenganmu?"
"Aku juga khawatir soalmu, Shinichi! Makanya aku mengikuti kau!"
Ada ketegangan yang kental di udara. Seakan aku bisa melihat listrik statis yang berbenturan ketika pandangan kami berbenturan. Hanya marah yang bisa kurasakan sekarang.
Ran menggeram, lalu keluar dari kamar Heiji.
Aku menghela napas, lelah.
Bales review kali ini mungkin sedikit ku panjangin, karena ada beberapa yang mau kujelaskan!
Kongming : Hahaha, mungkin dengan cara salto, berguling-guling, lalu dengan kekuatan bulan? ;) aku baca fic-mu kok, namun jadi silent reader kok, Cuma satu kali review disana!
Infaramona : Terkadang ada 'kan yang kita tidak bisa tebak? Lagipula dia sudah menduga tapi sulit mengungkapkan… ada di chapter ini semuanya!
Peri Hitam : Entah kenapa kadang orang ganteng kok jadi jahat… gak terima deh :( soalnya aku nge-fans banget sama Gin :P
Fumiya Ninna 19 : Kalau kutulis tiap harinya bisa-bisa ini fic sampe 100 chapter, hehehe… baca capter ini aja yah!
Sha-chan Anime Lover : Udah kubetulin ;) biasa ngedit sambil ngantuk, hwehwehwe. Aku menggunakan tanda 'titik' (.) untuk penegasan kalimat… kalau dengan contohmu tadi :
"Aku mencintaimu," ujar Haku.
Nah, ini kan berasa ada yang ngegantung, ada yang belum selesai. Lain 'kan kalau pake tanda titik? Biasanya aku pakai koma bila :
Kalimatnya belum selesai
Orangnya bingung… tapi lebih sering pake 'titik-titik' (…) kalo kayak gini.
Terus soal penggunaan kata baku… aku sengaja supaya fic ini gak bikin mata pegel karena kata-katanya baku banget… pengalamanku berkeliling FDCI dan FNI sih gitu ;) Aku 'kan reader juga, bukan cuma author. Dan seperti yang kubilang sebelumnya, 'tau' kutulis untuk membedakan 'tahu' mengerti dan 'tahu' makanan.
Harukaze Chiharu : Haaa, betulkah! Makasiiih :) jadi malu hehehe. Siap, ini update!
uchiha cuChan clyne : Gak apa-apa, kok hehehe. Rele? Jadi malu, kukira OCnya jayus hehehe
Dari pertama kali aku jadi reader belangsak sampe author jadi-jadian gini, ada beberapa hal yang membuatku membaca suatu fic hanya 3 paragrafnya aja, trus ku exit, yaitu :
1. Kalimat yang muter-muter gak jelas intinya dimana. Di FDCI sih masih sedikit banget yang kayak gitu, bisa dihitung jari, tapi fandom lain, buseeet. Mungkin maksudnya mau romantis (iya, biasanya di fic romance) tapi aku jadi males ==
2. Kalimatnya terlalu gaje… langsung dadah deh
3. Karakter yang OOC
4. Penderitaan ala sinetron
5. Bashing chara yang parah banget. Karena kita di FDCI, ku sebut Ran ya!
Ada beberapa author yang membuat fic ShinShi (no offense ya, aku gak bilang semua) membuat karakter Ran itu JAHAT. GW GAK SALAH KETIK, LO GAK SALAH BACA. Ini sering banget di fic ShinShi! Sebagai penggemar straight pair (yang A sama si B ya ama si B aja, gak usah sama C), saya merasa tersinggung. Kayaknya sekarang di FDCI ini lagi ada perang pair, ShinRan vs ShinShi. Sumpah, ini bikin kepala mau meledak!
Gimana enggak? Aku memfavoritkan beberapa author ShinShi, seperti Kongmin atau Enji86 (sori kalo ada salah penulisan nama) dan 3-4 author lain yang membuat fic ShinShi, tapi mereka fair! Mereka buat Ran bahagia, atau Ran meninggal, atau yang lainnya tapi si Ran ini gak menderita! Itu sudah cukup! Dan kutekankan disini, banyak banget fic yang membuat Ran jadi jahat, Ran jadi brengsek, perebut kekasih orang, atau macamnya yang bikin Ran itu karakter brengsek! Ini biasanya diikuti dengan karakter Shinichi, Ran dan Shiho yang OOC, contoh Shinichi jadi kejam sama Ran, Ran jadi jahat, Shiho jadi menye-menye.
Sama juga dengan penulis pair ShinRan! Aku gak suka kalau mereka membuat karakter Shiho menderita, sedih karena Shinichi gak jadian sama dia. Fine, it's better if you make her with another character! Not make her like a sh*t who cry because of love!
Jadilah kita fair aja. Kalo gak suka sama Ran, gak usah menghina dia! Kalo gak suka sama Shiho, jangan menghina dia! Adil 'kan? Semua beres.
Ah jadi marah-marah.
Aku setuju sama kamu. Ran kan baek hati. Tapi aku gak mau bilang Shiho jahat. Maka itulah aku gak setuju penggambaran Shiho itu naksir si Shinichi. Gak mau bikin dia unyu menye aja. Itulah makanya di ficku gak mau kubuat Shiho menderita. Aku malah lebih suka kalau dia sama Akai, gantiin kakaknya :")
Jadi sesama author, baik ShinRan atau ShinShi, yang baca tulisanku ini, ayo kita bersepakat, jangan bashing cara yang gak kamu suka, chayo semuanya! :)
Silakan fave :)
Azalea : Hehehe, semua terjawab di chapter ini!
Taichi Edogawa : SIAP! Updated! ;)
angel and cool guy : itu artinya kita ngulangin password sama emailnya sekali lagi
Jessica Kristiaji : Makasiiih :) Ini di update :P
Tantangan terbesar selama membuat chapter ini dari chapter 'Kasus' kemunculan Ara dan Dhan adalah… penamaan OC! Udah pasti, karena ada FBI, banyak orang gak dikenal yang harus punya nama sebagai agent… wah susah juga buatnya! Kok bisa ya Aoyama Gosho bikin chara sebanyak ini?
Para author ShinRan dan ShinShi maupun CoAi, kuharap semua baca tulisanku diatas, biar kita semua sama-sama enak :)
Maaf kalo suspensenya kurang greget, bikinnya pas lagi sakit sih hehehe.
Mind to review?
