LOST INNOCENCE 10
.
.
.
By : Ellden-K
.
.
.
Warning! This is KookV fanfiction with seme Kook and uke Tae!
DLDR! Rating Dewasa dan tidak diperuntukan bagi pembaca dibawah umur -kayak author *shy-
Reader & Sider diterima asal feedback *innocence
Agresif!Tae! Pencemaran kepolosan! Author mengada-ada! Stupid grammar & mengotori pikiran.
Note :
Halo? Ketemu lagi di chapter 10, gak nyangka ffnya bakal sepanjang dan selama ini pula.
Oya, sekedar pemberitahuan saja, Ell bikin ff gak sembarangan ngetik, karena perlu dipikirkan dan kadang baca ulang part sebelumnya biar nyambung juga gak miss. Hal-hal yang terjadi dan terasa loncat juga gak nyambung ada penjelasannya, maka dari itu Ell update dalam jangka waktu yang lama. Mohon maaf.
Tapi beberapa chapter lagi kayaknya bakal end. Karena mungkin readers juga pasti udah lumutan nunggu end dari ff ini. *peace
Segitu aja, enjoy!
.
.
.
Jimin tersedak nafasnya sendiri ketika pria dengan tulang pipi yang tinggi itu bangkit dari posisi duduknya. Kemudian melangkah lamban menuju pria yang lebih kecil, tentu saja Jimin tertegun. Walau ia seharusnya bersikap biasa saja, tetapi berkas penting yang tengah Jimin bawa bukanlah ditujukan bagi orang tersebut.
Ya, pria yang Jimin kenal, namun tidak seharusnya berada disini.
"Well, kau bukan orang yang aku tunggu." Suara serak itu melesak cepat kedalam pendengaran Jimin, bahkan memantul hingga ke ruang depan.
Sementara pria yang lebih tinggi melangkah semakin dekat, Jimin memundurkan pijakannya dengan hati-hati.
"Aku ada urusan lain dengan Taehyung." Jawab Jimin sambil berjalan menuju meja santai didekat balkon, berusaha sebisa mungkin untuk tidak membuat pria itu menaruh kecurigaan apapun terhadap berkas-berkas yang ia bawa.
"Apa urusannya penting, hingga kau menyempatkan diri untuk mampir malam-malam begini?"
Nampaknya Jimin sedikit terlambat menyembunyikan barang yang memang sudah terlihat sejak awal. Lirikan tajam itu sudah terlebih dahulu mendeteksi kejanggalan pada Jimin yang tampak ingin menyembunyikan ataupun mengalihkan sesuatu.
Tapi nyatanya Hoseok tidak sebodoh itu.
"Urusan ini tidak ada hubungannya denganmu."
"Bukankah semua yang kau lakukan disini ada hubungannya denganku?! Apa kau melupakan tujuanmu menyetujui tawaran Taehyung?!" Hoseok membentak dan itu sanggup membuat Jimin menelan ludahnya kasar.
Oh, tidak. Sekarang Jimin benar-benar terjebak pada berbagai sisi, dan jika informasi ini jatuh ke tangan Hoseok, Jimin tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
.
.
.
Taehyung menyadari pergerakan tangan Jungkook yang nampak seperti tengah menggapai sesuatu dibalik bantal. Sedangkan tubuhnya yang masih bergerak naik turun diatas raga Jungkook merasa hentakannya belum cukup. Hingga Taehyung semakin meningkatkan intensitas penyatuan mereka tanpa tanggung.
Kedua tangannya menahan masing-masing pergelangan Jungkook yang berada disamping kepala, dan desahan erotis dari mulut seksi Taehyung pun keluar tanpa ditahan-tahan.
"Agghhh! Ahhh!" Kedua tubuh telanjang itu memantul-mantul diatas ranjang akibat hentakan pantat Taehyung, bagaikan tengah bermain diatas trampolin. Sedangkan Jungkook mulai mendesah lebih kasar lagi. Selain itu melupakan sejenak niatannya setelah menggenggam benda dibalik bantal tersebut.
"O-ohh! Kau-benar-benar..." Jungkook menghirup udara dengan kedua tangan yang masih berada dibalik bantal hitamnya. "Baik dalam squatting."
"Aku multi-talenta sebenarnya. Ahhh!" Pria yang diatas membungkukan badannya guna meraih cuping Jungkook untuk ia sapu dengan lidah. "Masih banyak gaya kamasutra yang bisa kulakukan, itupun jika kau berminat untuk mencobanya. Hmmhh, tapi- sepertinya akan memakan waktu sampai pagi."
Jungkook tergelak sesaat, kemudian mendesah setelah mendengar kalimat nakal itu, tidak menghilangkan seringai miring diwajah rupawannya ia lalu melepaskan kedua tangan yang tadi terkungkung. Meninggalkan benda yang sempat ia genggam untuk dipergunakannya atas tujuan tertentu.
Namun, ia tiba-tiba ingin sekali memodifikasi tujuannya itu.
"Kau sangat menarik, Choi Taehyung.." Bisik Jungkook membalas perlakuan Taehyung kepadanya beberapa saat lalu, dengan kedua tangan yang merambat semakin kebawah ia pun akhirnya meremas bokong hangat itu sambil sedikit mengangkatnya. "Sangat menarik.."
Jungkook membenahi posisi, kedua tungkainya ia tekuk dengan kokoh kemudian saat lubang Taehyung sudah terangkat pada sikap yang tepat, pinggul berotot itu menghentak dan kembali mengawali percintaan mereka.
Sedangkan Taehyung?
Hanya bisa mendesah hebat, sambil menghabiskan malam panas mereka dengan saling melumat.
.
.
.
Jimin terbangun diapartemen nya pukul sembilan lewat lima belas pagi dan ketika ia keluar dari kamar mandi pria itu sudah mengenakan setelan kerja seperti biasa. Semalaman ia membaca berkas yang untungnya tidak jadi Hoseok rebut, ya walaupun sebagian sempat dirampas hingga membuat Jimin sangat frustasi.
Tetapi sedikit banyak ia mulai mengerti dengan keadaan tuan nya- eh, sejak kapan ia mensetting otaknya untuk memanggil Jungkook dengan sebutan 'tuan', bahkan orang itu sedang tidak bersamanya sekarang.
Lupakan, lupakan!
Berbicara tentang Kwon Jungkook.
Jimin tidak sempat menengoknya tadi malam, karena ia terlalu kalut dan juga geram. Seharusnya ia tidak pernah menyetujui apapun yang dikatakan Hoseok, sekarang ia jadi terikat pada dua sisi. Dimana Jimin harus membantu Taehyung dan juga menyanggupi segala perintah Hoseok, rasanya seperti mempunyai dua majikan sekaligus. Padahal ia bukan anjing peliharaan. Sial.
Bukan karena ia adalah orang yang pemihak, justru Jimin sangat benci memihak. Ia tidak ingin membiarkan kebersamaan mereka sejak dulu hancur begitu saja akibat semua muslihat ini. Seandainya Taehyung menelpon saat tidak ada Hoseok disana, atau seandainya Jimin yang dapat lebih peka terhadap situasi. Mungkin Hoseok tidak akan pernah mendengar percakapan mereka dan Jimin tidak akan menjadi seorang pemihak seperti ini.
Meski ia menyukai Min Yoongi, meski ia menyukai kekerasan, tapi hal ini tidak lebih dari suatu pengkhianatan namanya. Dan Jimin cukup menyesali hal tersebut.
Tangan kecil itu segera menutup pintu apartemen, kemudian beberapa langkah selanjutnya mengantar ia kedepan pintu kamar Jungkook.
Jimin mengetuknya, namun setelah beberapa menit melakukan hal yang sama ia tetap tidak mendapatkan respon apapun. Sebenarnya Jimin bukan orang yang sabaran, ia cenderung melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Saat ini, Jimin hanya sedang menahan diri. Walau didalam hati ingin sekali menendang pintu itu dan mengintrogasi si bocah arogan yang akhir-akhir ini malah sok dewasa, juga tingkahnya yang berubah-ubah semakin meyakinkan Jimin jika ia adalah pengidap kepribadian ganda.
Memang ia sudah mendapatkan titik terang, tapi ia butuh beberapa pembuktian lagi.
Jimin segera memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci, secepat kilat ia melesat masuk dan mendapati beberapa benda yang nampak tidak pada tempatnya. Seperti habis tersenggol seseorang, namun tidak cukup untuk membuat ruangan itu terlihat berantakan.
Selesai memandangi ruang tamu, Jimin segera beralih menuju pintu kamar yang digunakan Jungkook.
Segaris celah menampakan jika pintu tersebut juga tidak tertutup rapat, dan ketika Jimin mendorongnya, hal pertama yang ia lihat adalah.. Kekacauan!
.
.
Jungkook menggeliat tak nyaman ketika seberkas cahaya matahari pagi menyinari wajahnya. Ia melenguh malas, kemudian lenguhan itu berubah mengaduh ketika ia berusaha meregangkan tubuh -telanjangnya- yang dalam posisi setengah tertelungkup.
Sesuatu diantara kedua pahanya terasa seperti terjepit, walaupun hanya bergesekan dengan kasur yang empuk, Jungkook tetap tersentak ketika miliknya terhimpit seperti itu.
Ia segera mengangkat tubuhnya dengan sebelah tangan, mencoba membalikan posisi agar punggungnya mendapat giliran bergantian menopang tubuh. Kepalanya terasa pusing, ia seperti merasa hanya tidur beberapa jam saja. Bahkan biarpun membuka mata rasanya enggan sekali.
Kemudian ia mencium aroma lain yang menempel dipermukaan bantalnya.
Terasa wangi parfum yang begitu manis menyegarkan dan ada sedikit aroma keringat yang terasa seksi diindra nya. Jungkook bahkan membenamkan ujung hidung bangir diwajahnya pada bantal tidur berwarna gelap yang baru saja ia pakai.
Pasalnya ini bukan bau tubuhnya, tetapi aroma tersebut benar-benar membuat ia jatuh cinta dengan wewangian itu.
Aroma tubuh yang amat manis dan menyegarkan, identik dengan wanita atau juga lelaki cantik. Begitu lama ia menyesap adiktif yang tiba-tiba mengambang diatas ranjangnya, Jungkook segera kembali menggeliat ragu.
Kenapa ia dan selimutnya terasa begitu dekat? Seperti apapun yang menghalangi permukaan kulit Jungkook menghilang begitu saja, membiarkan lapisan selimut hangatnya menggesek seluruh tubuh Jungkook.
"Tuan.." Itu suara Park Jimin, ia yang membukakan tirai jendela kaca hingga menarik Jungkook menuju kesadaran sepenuhnya. "Kita harus bicara dan anda harus bangun seka-"
"ARGHH!" Jungkook menjerit dengan suara berat dari efek pubertas yang telah melandanya. Ia melotot horor kedalam selimut ketika kedua tangan yang mulai berotot itu mengangkat bagian teratas untuk ia menengok tubuhnya yang berada didalam balutan kain nyaman tersebut.
"Apa yang terjadi! Kenapa aku telanjang!" Ia tetap berteriak dengan wajah yang mengkerut ketakutan, semakin menggulung selimut untuk menutupi tubuh atletis dengan anugrah otot alami miliknya. Terdapat bekas cakaran pada bahu Jungkook dan Jimin tidak sengaja melihatnya, juga beberapa tanda dan bekas-bekas luka yang mengering lalu ruam keunguan dan merah juga turut menghiasi.
Bocah yang merangkap menjadi seorang pria muda itu hanya mampu meremas rambut frustasi saat kekacauan melanda nya. Semua pertanyaan yang entah siapa yang dapat menjawabnya mengambang dan berputar didalam kepala Jungkook.
Sedangkan Jimin hanya terdiam sambil wajah seputih salju itu mengisyaratkan jika ia tengah menimang-nimang sesuatu didalam benaknya, semalam adalah momen terberat untuk ia yang baru beberapa hari singgah di Amerika dan nampaknya sama saja dengan Jungkook yang sepertinya mengalami hal lebih buruk.
Jimin memang harus bertindak lebih cepat dari Hoseok, walau ia sempat menginginkan Jungkook -itu dulu sekali- untuk bermain-main sebentar tetapi Jimin cukup bersyukur karena ia tidak melakukan hal yang sama dengan apa yang Taehyung lakukan kepadanya.
Pasalnya pria itu juga mengatakan hanya untuk main-main saja, tetapi kini masalah Taehyung yang terlalu terobsesi untuk melakukan seks dengan Jungkook membuahkan hal yang begitu memusingkan otak dan Jimin teramat menyesal telah terjebak dan menyetujui perintah maupun permintaan kawan-kawannya.
Sialan, dia bahkan bukan siapa-siapa, namun harus ikut terlibat untuk menata semua kontradiksi dan perselisihan ini. Meskipun begitu ia berarti harus mulai memihak. Tetapi kepada siapa?
Melupakan tentang hal itu, ia memiliki pekerjaan yang harus dituntaskan.
"Tuan, sepertinya anda harus mandi terlebih dahulu. Aku akan mengurus semuanya, jadi anda tidak perlu khawatir." Benar. Jungkook hanya mengangguk, sambil sebelah tangan mengusap wajahnya yang lelah, meskipun raut kebingungan dan amarah nampak kentara disana.
Setelah mencari-cari letak bathrobe didalam kamar mandi, Jimin segera memakaikannya pada tubuh Jungkook, dengan sedikit malu-malu dan sebagian besar gengsi. Ia dapat bernafas lega ketika Jungkook menalikan bathrobe tersebut, kemudian menyingkirkan lilitan selimut yang menghalang bagian bawah tubuhnya. Tergantikan dengan kain lembut berwarna hitam yang ia kenakan.
.
.
.
Jimin segera merapikan beberapa pakaian yang bertebaran diatas lantai, menjepitnya dengan jari lalu melemparkannya kedalam box pakaian kotor.
Ia langsung membersihkan kamar ketika Jungkook telah pergi kedalam kamar mandi menggunakan kursi rodanya, dengan isi kepala yang semakin berkecamuk semua masalah yang menumpuk kini malah bertambah lagi dengan hal ini.
Jimin bukan orang bodoh, apalagi tidak mengetahui bau menyengat dan bercak putih diatas sprai satin yang baru saja ia singkap selimut diatasnya. Sesuatu yang putih itu nampak lengket dan sedikit mengering, Jimin tahu Jimin tidak bodoh! Itu sisa sperma yang menodai sprei!
Sesuatu berwarna putih yang menyatu dengan hal berwarna hitam bukankah sangat kontras? Jimin hanya bertolak pinggang. Bagaikan sekotak susu yang tumpah diatas aspal yang gelap, ia dapat melihat bahwa semalam Jungkook telah melakukan seks dengan seseorang dan ketika Jimin mendatangi Hotel dimana Taehyung bermalam ternyata malah Hoseok yang berada disana. Merampas sebagian berkas penting yang seharusnya memberikan titik terang yang lebih jelas bersinar.
Ia segera menarik sprei tersebut dan membiarkannya tergulung dibawah kaki Jimin. Kemudian ketika ia menelpon petugas binatu untuk mengurus semuanya, sebuah benda hitam nampak tergeletak diatas tumpukan sprei. Benda itu hampir sepenuhnya tenggelam dan Jimin meraihnya penuh minat.
Belum sempat ia mematikan sambungan telpon tiba-tiba matanya melebar ketika mengangkat benda tersebut meninggalkan tempatnya.
Jimin mendengar erangan dan suara seorang yang tengah dilanda amarah dari balik pintu kamar mandi. Cepat ia menyembunyikan benda berwarna hitam itu dibalik punggungnya. Terselipkan diantara celana dan ikat pinggang.
Ketika Jimin membuka pintu kamar mandi, Jungkook tengah susah payah menahan kedua kakinya agar menapak diatas lantai yang dingin. Bertumpu pada washtafel hingga beberapa produk sabun mandi dan pasta gigi berjatuhan dari sana.
Kefrustasian Jungkook meningkat ketika ia melihat wajahnya didepan cermin yang berada tepat diatas washtafel. Lengannya bergemetar dan wajahnya seperti ingin menangis.
"Tuan!" Jimin segera membawa langkah yang lebar ketika Jungkook nampak sudah tidak sanggup menahan beban tubuhnya pada tangan.
Menyangga si tuan muda agar tetap pada tempatnya, lengan yang lebih besar dari miliknya melingkar disepanjang bahu sempit Jimin.
Ia memang bertanya-tanya mengapa Jungkook nampak tersiksa sekali seperti ini. Apa yang salah dengan wajahnya.
"Tuan anda baik-baik saja?"
"Rambutku, rambutku berwarna cokelat!"
Jimin mengernyit kebingungan. Namun ia menyempatkan diri untuk menduga-duga sesuatu.
"Ya, rambutmu memang berwarna demikian, ada apa?"
Jungkook mengepalkan tangannya erat, emosi didalam hati benar-benar tercampur aduk.
"Harusnya mereka berwarna merah!" Ia menatap Jimin dengan mimik wajah amat lelah, oh terlalu dekat man. Pria yang lebih kecil memundurkan kepala beberapa inci kebelakang.
"Tapi saat aku menjemputmu warnanya sudah seperti itu tuan."
Jungkook menyelak. "Ada yang tidak beres dengan diriku Jimin."
'Iya, memang ada yang tidak beres. Aku bahkan menyadari kejanggalan tentang dirimu sejak awal.' Batin Jimin.
Jungkook hanya terdiam sambil kembali menatap tiruan dirinya didepan sana. Menelusur jejak-jejak biru keunguan dipermukaan kulitnya dan bahkan ruam kemerahan bertambah lagi tanpa ia ketahui. Sialan!
Apa yang terjadi kepada dirinya? Hal ini semakin membuat Jungkook muak. Tiadakah hari dimana ia bisa terhindar dari konflik batin seperti ini? Hatinya terasa sakit dan tak berdaya. Sementara ia memandangi wajah tampannya didalam cermin, diam-diam ia mulai membenci dirinya sendiri. Entah perasaan yang timbul dari mana dan sejak kapan, ia benar-benar mengutuk raga nya sendiri
"Astaga bawa aku pergi dari sini, kepalaku terasa mau meledak!."
.
.
.
Didalam kamar Jungkook hanya mampu meremas-remas rambutnya yang kini telah berganti warna entah sejak kapan, dan bahkan ketika ia bangun dari tidur "panjang" nya didalam pesawat Jungkook sama sekali tidak curiga sedikitpun.
Ia terduduk diatas ranjang yang sudah berganti sprei dan juga selimut. Hanya mengenakan bathrobe hitam yang tadi ia kenakan juga.
Terlalu banyak perubahan pada tubuhnya yang membuat ia curiga, atau mungkinkah ia mulai gila? Pasalnya ketika ia melihat dirinya didepan cermin tadi, beberapa tanda keunguan kembali hadir disekitar bahunya. Bahkan terasa seperti baru.
Entah bagaimana ia mengetahuinya, tetapi ketika diculik dulu rasa sakit dari jejak-jejak ciuman ganas itu hampir sama seperti yang ini, dan yang paling penting.. Ia merasa sangat kotor dan menjijikkan. Aroma aneh yang menempel dibagian bawah tubuhnya, dan perasaan lengket itu tidak hilang sampai ia membasuh tubuhnya didalam bathtub.
Jungkook merasa seperti kerasukan setan, ia bahkan tidak mengingat apa-apa setelah memejamkan mata, dan melihat kalendernya tidak mungkin ia sudah tertidur hampir 24 jam kurang?
Jungkook masih tenggelam dalam segala intuisi yang berkecamuk, sedangkan Jimin memeriksa ponsel pintar ditangannya. Nampak ia membuka beberapa berkas yang tersimpan disana.
"Ada yang salah Jimin, aku merasa sedang dikelilingi oleh orang jahat!" Suaranya nampak tersiksa, bagaikan Jungkook tengah dilanda kecemasan luar biasa. Tak henti-hentinya ia menggigiti buku jarinya hingga nampak kemerahan.
"Aku malah semakin merasa tidak aman disini, seperti ada yang tidak aku ketahui! Ada sesuatu yang telah aku lakukan tapi aku tidak pernah mengingat apapun! Tetapi tubuhku merasakan sisa-sisa setelahnya." Ini jelas mentalnya yang terguncang, Jungkook bahkan merasa takut jika dirinya akan mulai gila dan tidak waras. Karena semua hal semakin tidak masuk akal.
Ia semakin menunduk, meremas wajahnya.
Dan Jimin tetap tidak memberinya jawaban apapun, hingga ketika sesuatu terasa menyentuh kepala Jungkook.
Pemuda itu menyingkirkan tangannya lalu mendongkak, kemudian wajah penuh gurat kelelahan itu berubah pucat pasi.
"J-Jimin, apa yang k-kau lakukan?" Suaranya rendah dan terbata-bata, sarat akan antisipasi.
"Kenapa kau melakukan ini?! Siapa kau sebenarnya?" Tubuhnya membeku dan Jungkook semakin melebarkan mata ketika Jimin menarik sebuah pengaman pada senjata api yang mengarah tepat didepan wajah Jungkook. Jimin menarik benda itu dari belakang punggung nya, dan ia mengacungkan senjata penuh ancaman tanpa ekspresi yang berarti.
Jungkook semakin memundurkan tubuhnya, namun Jimin malah berniat menarik telunjuknya yang mengait pada pelatuk dari senjata api tersebut.
Astaga inikah akhir hidupnya? Mati ditangan seorang penjahat yang berpura-pura menjadi sekretarisnya sendiri?
Hey Jungkook, apakah hidupmu selalu sial?
Tidak punya teman, menjadi korban penculikan, beberapa kali dipakai untuk kepuasan seks seorang lelaki gila, dihajar habis-habisan, kena tembakan tepat diperut dan kini harus bersiap-siap meregang nyawa ditangan lelaki mungil yang bahkan terlihat lebih lemah. -ya walaupun Jimin tidak selemah yang ia pikirkan-.
Jungkook memejamkan mata, ia merasa mungkin ini takdirnya untuk hidup, dan sepertinya mati lebih baik daripada semua keletihan ini. Mungkin ia akan melupakan semua yang pernah terjadi kepadanya dan hidupnya tidak akan menderita lagi.
"Kau benar-benar tidak bisa melawan tuan." Suara Jimin terdengar amat santai ketika Jungkook tak kunjung mendapatkan kematiannya, atau rasa sakit lain yang menyengat tubuhnya.
Seketika ia membelalakan mata.
"Kau tidak jadi membunuhku?" Tatapan Jungkook terlalu sulit untuk Jimin artikan dan pria yang kini telah menurunkan tangannya hanya mengernyit kecil.
"Harusnya kau bertanya kenapa dan dari mana aku bisa mendapatkan senjata ini tuan."
"..."
"Karena aku menemukannya dibawah bantalmu." Lagi Jimin mengatakan hal spontan dengan santainya, nampak ia telah menguasai kontrol diri untuk tidak memperlihatkan siapa dia yang sebenarnya.
Beberapa detik Jungkook terdiam hingga kemudian berkata "Tidak, kau bercanda." Jungkook nampak hendak tertawa tak percaya, namun seringai tipisnya menghilang ketika Jimin terlihat benar-benar serius dengan ucapannya.
"Kenapa kau bisa memiliki benda ini? Untuk apa kau membelinya?"
"Tidak, tidak. Itu tidak benar! Aku bahkan baru melihat benda itu!" Sambung Jungkook bersikeras dengan keyakinannya, ia memang baru pertama kali melihat senjata seperti itu secara langsung. Bahkan ia tidak pernah mengetahui bagaimana cara mendapatkannya, bagaimana mungkin itu bisa ada disini dan menjadi miliknya?
"Aku telah memeriksa nomor license nya." Jimin mengeluarkan beberapa surat dari dalam laci kecil disamping ranjang Jungkook. Kemudian memperlihatkan benda-benda yang baru saja ia ambil. "Dan Ya, atau memang bukan kau yang memilikinya." Sambung Jimin semakin menambah kebingungan lain didalam kepala Jungkook.
"Sebenarnya apa maksudmu! Kenapa bicaramu berbelit-belit sekali? Kepalaku terasa sakit dan kau menuduhku memiliki senjata itu tapi sekarang kau mengatakan mungkin memang bukan aku. Demi Tuhan kepalaku hampir meletus."
"Ya, pemilik benda ini mungkin bukan kau. Mungkin juga kau tuan."
Terdengar helaan nafas kasar dari arah Jungkook.
"Karena aku menemukan namamu dengan hal yang berbeda dari dalam surat-surat itu." Jimin mendekat lalu kemudian menunjuk sebuah nama didalam kertas yang ia pegang, menunjukannya kepada Jungkook dan pemuda itu membacanya lamat-lamat.
"Tampak bahwa benda ini baru saja kau beli dibeberapa waktu yang dekat bukan?"
Jungkook tetap tidak bisa mengalihkan pandangannya dari ejaan dalam bahasa Inggris itu didepan wajahnya, bahkan tercantum dengan sanga jelas.
"J.. Jungkook... J.. Je.. Jeon?" Tentu ia tergagap dengan mimik terkejut yang tidak dapat disembunyikan.
"Nah, sekarang saatnya untuk membicarakan hal-hal penting tuan."
.
.
.
.
Entah apa yang mampu menggambarkan kondisinya saat ini, bahkan ketika seluruh hidup Jungkook hampir hancur lebur, sekarang pernyataan Jimin benar-benar menggilas sisa kepingan dunianya.
Awal yang begitu sulit untuk ia mengerti, bagaikan menelan gumpalan bola besi berduri. Benar-benar mengejutkan dan itu sangat melukainya.
Jungkook bukan orang yang bodoh untuk tidak mengetahui apa itu D.I.D apalagi gangguan jiwa, tujuannya untuk mendapatkan hari-hari tenang di Amerika lenyap sekaligus. Bersamaan dengan kenyataan yang menamparnya.
Alasan dari ketidaksadarannya selama beberapa hari terakhir dan semua perubahan aneh yang terjadi kepada tubuhnya. Malam-malam meresahkan akibat semua mimpi tak masuk akal itu. Bahkan setiap jawaban dan pernyataan Jimin terdengar semakin logis, namun ada beberapa hal yang membuat Jungkook kebingungan. Meskipun kepalanya terasa berat dan hampir jatuh keatas bantal akibat semua beban yang menghantamnya, suatu hal yang tidak mungkin terjadi ketika kondisi dirinya divonis tak bisa berjalan untuk sementara waktu malah nampak menapakan kaki ketika Jimin memberitahunya untuk menemui teman-teman bisnis sang ayah. Tepat ketika Jimin hampir menutup pintu kamar waktu itu Jungkook nampak bangkit dari duduknya.
Jimin melihatnya tengah termenung didepan meja hias dengan setelan mahal serba gelapnya dan benda hitam diatas meja yang ternyata adalah sebuah senjata api. Entah didapatnya dari mana dan kapan. Jimin masih menyelidiki hal tersebut, bagaimana mungkin alter dari seorang Kwon Jungkook ini terlihat begitu profesional dan terlatih. Padahal melihat sifat Jungkook saat ini tidak mungkin ia mengetahui jaringan tersembunyi dari pasar-pasar gelap atau memiliki akses terbuka bagi penjual senjata sekalipun.
Jungkook hanya mampu menunduk dengan air mata yang menggenang diujung pelupuknya, sungguh beban ini terlalu menghantamnya, terlalu menindih dan mencekiknya. Hal yang seharusnya indah mengapa masih tetap berlanjut dengan suatu kenyataan pahit yang menimpa Jungkook. Apa yang akan dikatakan ayah dan ibunya, atau apa yang akan dipikirkan orang-orang dengan kondisinya yang buruk ini?
Tiada seorangpun yang benar-benar mengerti dan mengetahui keadaannya, bagaimana bisa ini terjadi juga mengapa segala misteri tersebut tidak pernah ingin berakhir saja bersama ingatannya di Korea? Ya, satu hal yang amat jelas, masalah besar ini terlalu berat untuk anak seumur Jungkook. Meski usianya mendekati delapan belas tahun.
"Aku akan terus menyelidiki masalah ini, dan mulai besok kita akan pergi ke dokter untuk memeriksa kakimu. Hanya kakimu," Jimin menekankan sambil menatap Jungkook yang nampak tenggelam dalam emosi. "Kita tidak bisa menemui seorang psikiater atau ahli kejiwaan secara terang-terangan, kau masih memiliki potensi yang besar untuk tetap menjadi perhatian media-media di Korea dan juga internasional tuan."
Jungkook masih tetap pada posisinya, mengusap wajah yang penuh dengan air mata. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tahu kita tidak bisa menyerah begitu saja disini tuan, dan kita juga tahu seberapa besar kerugian dan resiko yang tuan Kwon pertaruhkan untuk menutupi segala insiden kemarin."
"Tapi Jimin, bagaimana kau bisa melihatku berjalan disaat aku bahkan tidak bisa menggerakan jari-jari kakiku sendiri?!" Jungkook menyela dengan pertanyaan yang berbeda, ia nampak lebih kacau dari sebelumnya. Kendatipun Jimin cukup mengerti.
"Maka dari itu tuan, kita akan pergi ke dokter besok siang untuk mendapatkan lampu penerang. Ketika benar-benar ada yang salah, aku akan bertindak. Nah, sekarang kita akan mencaritahu dulu siapakah wanita, ataupun lelaki cantik yang tidur denganmu tadi malam."
Jungkook menelan ludah akibat tekanan bertubi-tubi ini, melemparkannya untuk menghela nafas lebih sering. Tampaknya ia akan terlihat sepuluh tahun lebih tua karena masalah ini.
Kehilangan perjaka pada usia remaja, memang bukan hal yang tabu di Amerika tapi tidak dengan diperkosa, dan oleh seorang pria submisif yang gila kontrol juga super agresif.
Meskipun Jungkook bukan pihak yang 'dimasuki' disini, ia tetap merasa sakit dan hasil akhirnya sekarang adalah.. Ia hampir gila, atau mungkin setengah gila.
.
.
.
.
Jimin tidak terkejut ketika ia mendapati nama Choi Taehyung dalam daftar tamu yang datang saat masquerade ball berlangsung.
Siang ini dia dan Jungkook telah menemui salah satu dokter dirumah sakit berbeda yang pernah Jimin datangi untuk memeriksakan kaki tuannya -ck, Jungkook bukan tuannya sialan-.
Pria Inggris itu mengatakan bahwa tidak ada yang aneh dengan keadaan Jungkook dan seharusnya ia memang bisa berjalan, namun ada hal lain yang mensugesti dirinya agar tidak bisa melangkah sekalipun. Ia sendiri merasa terkejut dengan kasus langka tersebut, pasalnya ini bukanlah masalah dokter tulang maupun syaraf sepertinya. Hasil x-ray memang menunjukan adanya cedera kecil, namun itu seharusnya sembuh dalam beberapa bulan ataupun minggu.
Setelah Jimin mendapatkan cukup banyak penjelasan mereka segera kembali ke apartemen, masih dengan keadaan yang semakin kacau, Jungkook bahkan merasa dirinya begitu bodoh karena telah menggoda dan membawa seseorang keatas ranjangnya.
Tetapi wajah penuh kemelut itu berubah pucat pasi ketika Jimin menunjukan salinan daftar buku tamu pada pesta topeng yang awalnya Jungkook buang dari daftar kunjungan. Betapa ia melupakan udara yang seharusnya ia hirup ketika mendapati nama Choi Taehyung terdaftar disana, juga nama lain yang baru-baru ini sangat ia kenal.
"Jeon Jungkook." Ungkap Jimin sambil membiarkan Jungkook meremas ujung kertas dikedua tangannya tanpa membuat bagian lainnya rusak. "Aku sudah dua kali melihat nama itu tertulis ditempat dimana kau seharusnya tidak ada tuan."
"Aku benar-benar tidak mengerti." Akhirnya Jungkook menghela begitu lemah, ia hampir menyerah dengan semua rasa sakitnya. Masih dengan lingkaran hitam dibawah matanya yang memprihatinkan.
"Kau akan belajar tuan, sekarang kita harus berhati-hati. Tapi mungkinkah altermu mengenali Choi Taehyung? Dirimu yang lain maksudku?" Jimin mengalihkan pandangannya pada Jungkook, menatap penuh perhitungan.
"Entahlah, aku bahkan baru mengenalnya beberapa waktu lalu."
Oh benar.. Jimin menggumam didalam hati.
Mungkin saja Jungkook tidak mengingat saat pertemuan anti mainstream nya dulu dengan Taehyung, lagipula nampaknya lelaki cantik itu tidak pernah menampakan wajahnya secara langsung didepan Jungkook, dan Jimin cukup mengetahui hal itu. Beberapa kali ia mendapati Taehyung terobsesi seperti ini, namun yang kali ini memiliki jangka waktu cukup panjang. Pasalnya tidak pernah Taehyung hingga mengejar seseorang sampai ke Amerika seperti ini.
"Baiklah, masalah itu akan kita urus sekaligus. Sekarang aku ingin anda beristirahat lalu mendatangi sebuah undangan pesta koktail nanti malam."
Jungkook mendongkak dengan cepat, alisnya menaut lelah.
"Pesta lagi?!" Suaranya meninggi, meski ia mendapatkan undangan berbeda kemarin malam kini undangan yang lain kembali datang pada saat yang sama sekali tidak tepat. Kepalanya bahkan terasa pening akibat tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup. Sungguh, apalagi setelah Jungkook mengetahui bahwa dirinya dapat memiliki identitas lain dan terbangun saat dirinya yang sebenarnya terlelap dalam tidur. "Kau tahu aku sangat membenci pesta! Apalagi setelah datangnya masalah baru ini..."
"Tuan.." Jimin mengintruksi dengan nada tenang. "Ingatkah apa yang terjadi saat anda menolak undangan pesta kemarin?"
Jungkook mendengus, "tubuhku di ambil alih?"
"Yup, dan tuan, mereka memberikan undangan bukan tanpa alasan. Ini bukan hanya pesta koktail, undangan yang kemarin hanya diperuntukan bagi tamu undangan saja. Tidak ada satu media pun yang diperbolehkan datang." Jimin merogoh kantung dalam jas nya, kemudian berjalan dan duduk disamping ranjang Jungkook. "Para media di Korea mulai mempertanyakan bagaimana keadaan mu disini, mereka mulai mencurigai bahwa kau tidak pernah datang kemari."
Lelaki pendek itu menyodorkan ponselnya yang berisi beberapa kabar terkini dari berita online yang beredar. Jungkook meraihnya dan membaca beberapa paragraf awal.
"Hanya dua undangan tuan, dan yang ini adalah yang paling menentukan. Para wartawan dapat meliput secara langsung dan hal ini akan memberikan kejelasan dari pada kabar burung yang tengah beredar." Astaga Jimin merasa seperti benar-benar menjadi pesuruh, tapi ini cukup keren juga. "Cukup menghadirinya untuk beberapa saat, anda bisa menggunakan kursi roda dan aku akan berbicara dengan beberapa dokter yang datang kesana."
"Tunggu, dokter?" Jungkook semakin dibuat bingung dan tidak mengerti dengan penjelasan Jimin. Pasalnya ia kira ini hanya perbincangan biasa para pengusaha yang bekerja sama, dengan diiringi alunan musik membosankan dan tentu saja koktail dimana-mana. Tapi kenapa ada dokter segala?
"Aku lupa menjelaskannya. Nah, direktur utama JH enterprise, Lee Jaehwan juga ada disini. Perusahaannya maju dalam bidang obat-obatan dan rumah sakit. Dia mendanai sebuah fasilitas penelitian skizofrenia atau gangguan mental dan juga pengobatannya." Jungkook mengangguk mendengar penjelasan tersebut, ia cukup mengerti dengan apa yang Jimin maksud.
"Kita masih harus menutupi penyakitmu tuan, dan disana akan ada banyak dokter dan juga psikiater berpengalaman."
Kembali Jungkook menghela nafas, nampaknya masalah ini semakin berat dan mengeras. Ia memang tidak dapat mendatangi seorang psikiater tapi ia masih bisa mencarinya secara pribadi, selain itu Jimin cukup bisa diandalkan. Meski ia belum sepenuhnya percaya, tetapi Park Jimin terlalu meyakinkan. Pekerjaannya sangat rapi dan profesional, sungguh tidak pernah terduga bahwa ia adalah salah seorang anggota komplotan yang menculik Jungkook waktu lalu.
Malam tiba begitu cepat, dan kini Jungkook telah siap dengan tuxedo hitamnya yang menawan, dengan dalaman sebuah kemeja tipis berwarna biru langit dan dasi kupu-kupu sewarna bersama jas nya. Jungkook masih menawan, meski Jimin harus mendorongnya diatas kursi roda.
Entah mengapa rasanya begitu mendebarkan, apalagi saat mereka melintasi jalur menuju jalan masuk gedung. Beberapa wartawan yang mengambil foto cukup menyakiti matanya dengan kilatan blitz, susah payah ia menyembunyikan ketakutan yang tiba-tiba melanda.
Entah apa yang terjadi kepadanya, semua perhatian dan kamera-kamera itu membuat Jungkook hampir gila.
Pantas Jungkook mendapat undangan juga, ternyata pemilik pesta ini adalah mitra bisnis ayahnya yang menggeluti bidang property dan pembangunan. Lee Jaehwan berada disini karena bekerja sama dengannya dan firma lain tentang dokter dan pengobatan-pengobatan itu mendapatkan dana dari Lee Jaehwan. Memang masuk akal, dan mungkin ini akan sedikit meringankan masalahnya.
Jungkook menghela nafas setelah kepergian Jimin untuk berbicara dengan beberapa mitra kerja terkait, dan Jungkook juga tidak bisa melarangnya karena Jimin mengatakan bahwa ia akan mendekati salah satu dokter. Meski ia ketakutan jika terjadi sesuatu kepadanya, Jungkook tidak memiliki perlindungan. Rasa takutnya memang sedikit berlebihan, namun entah mengapa ia merasa tidak aman berada disini. Ia terduduk dibelakang meja panjang yang dilapisi kain putih berenda yang menjulur hingga kedasar lantai. Jungkook sengaja memilih meja paling belakang agar menghindari kerumunan, anggap saja mengasingkan diri dari para pengusaha kaya yang kini tengah berkumpul dilantai dansa.
Ia menunduk, dengan tangan yang menopang dahi nya pada lengan kursi roda. Kemudian Jungkook menghela nafas, entah untuk apa.
Tiba-tiba ujung matanya menatap pualam yang tidak terhalangi meja tengah dipijak oleh sepasang pantofel hitam berkilau yang entah milik siapa. Jungkook mengernyit, kemudian mendongkak dan mendapati seorang pria kurus tengah menyesap wiski ditangannya. Bersamaan dengan manik hazel yang membalas tatapan obsidiannya, Jungkook terkejut bukan main. Diameter matanya melebar, dan dadanya berdentum hingga terasa seperti ditusuk-tusuk.
"Well, kita bertemu lagi." Lelaki itu memangku tangan setelah meletakan gelas minumannya diatas meja, tersenyum sambil menatap Jungkook yang kini tengah membuka bibirnya gelagapan.
Tidak, ia belum siap bertemu dengan Choi Taehyung! Dia- mengapa anak komisaris kaya itu ada disini?! Berdiri menatapnya dengan pandangan lain terhadap Kwon Jungkook.
Pasti hal itu karena malam kemarin, sungguh sulit dipercaya bahwa Jungkook mungkin menidurinya. Karena seorang yang mengenal dan dikenali Jungkook di pesta topeng kemarin hanya Choi Taehyung. Tapi ia pun masih sangsi untuk menetapkan bahwa yang tidur dengannya kemarin adalah Taehyung sendiri.
"Oh, senang bertemu denganmu." Jungkook segera mengalihkan pandangan, berusaha menetralisir rambut-rambut halus diantara punggung tangannya yang mulai meremang.
.
Dentingan-dentingan gelas terdengar samar dibalik alunan musik klasik yang membosankan saat Jimin menyalami seorang pria bersetelan mahal yang cukup tinggi, setelah mereka selesai dengan percakapan sederhananya Jimin segera dikejutkan oleh tepukan bahu dari arah belakang. Pria paruh baya yang terabaikan pun pergi untuk menyapa orang lain, sedangkan Jimin berbalik sambil mengangkat alisnya kaget.
"Hyung?" Ada nada terkejut dalam kalimatnya, dan Jimin yang masih menggantungkan gelas koktail ditangan kanannya terpaku saat orang yang baru dilihatnya mendentingkan gelas mereka.
"Aku yakin kau tidak datang sendiri malam ini." Suaranya ringan dan senyum malaikat itu penuh dengan misteri, "dimana tuan muda mu itu?"
Jimin mengernyit, dari mana Seokjin tahu tentang Jungkook? Juga mengapa dia ada disini dengan setelan mewah berwarna putih gading itu? Apalagi yang belum ia ketahui?
"Mengapa hyung ada disini?" Jimin melihat sekeliling lalu matanya kembali fokus pada wajah tenang Kim Seokjin, "dan dari mana kau tahu tentang 'tuan muda' itu?"
"Hm? Dari Hoseok, aku hanya mendengar sedikit. Aku ada pekerjaan disini. Ya, aku mungkin belum menceritakannya kepada siapapun, tapi-"
"Disini kau rupanya." Kalimat yang paling ditunggu-tunggu oleh Jimin terpaksa mesti dipotong akibat intruksi menyebalkan dari seorang pria yang ia kenal bernama Lee Jaehwan itu, Jimin mengetahuinya setelah memeriksa biografinya di internet sebelum mendatangi pesta. Tidak akan lucu jika ia sama sekali tak mengetahui nama-nama orang penting yang datang kemari, untuk berjaga-jaga saat ia berpapasan dengan salah satu dari mereka. Itu menunjukan profesionalitasnya dan Jimin mulai menghilangkan sikap gegabahnya.
Jimin hanya mampu mengernyit ketika Seokjin sedikit membungkukkan kepalanya kepada orang yang baru datang itu, sekilas Jimin mengangkat gelasnya dan dibalas hal serupa oleh Jaehwan.
"Anda pasti..."
Jimin menundukan kepalanya sekilas, "Saya Sekretaris Park Jimin dari JJ group, Saya menemani tuan muda Kwon Jungkook untuk menggantikan presdir Kwon yang berhalangan datang."
Orang itu mengangguk setuju, kemudian mengangkat alisnya seperti mengingat sesuatu.
"Ah, presdir Kwon Jiyoung? Aku mengenalnya, lalu dimana Kwon Jungkook?"
Jimin teringat, seharusnya ia tidak meninggalkan Jungkook terlalu lama. Apalagi setelah dirinya menemukan Kim Seokjin juga berada disini, tidak menutup kemungkinan jika ada hal lain yang sangat rumit terjadi disana.
Apalagi Jimin cukup mengetahui jika Hoseok tidak mungkin mengatakan rencananya begitu saja meski kepada Kim Seokjin sekalipun.
.
.
.
"Aku- aku harus menyusul seseorang.." Jungkook hendak mendorong kursi rodanya sendiri untuk menghindari Taehyung, bagaimana pun juga ia tidak ingin membuat masalah ini semakin keruh. Apalagi ia sama sekali tidak mengetahui apa tanggapan Taehyung tentang hal itu, ia tidak ingin mengacaukan pesta orang dengan hal bodoh yang dirinya lakukan kemarin malam kepada Taehyung. Meski itu terjadi ketika ia tengah kehilangan kesadarannya.
Tepat beberapa inci dia memundurkan kursi roda, Taehyung menahannya. Beralih menatap obsidian Jungkook yang Nampak berbeda. Jungkook mendongkak sebagai reflex, dadanya berdentum seperti sedang dikejar-kejar oleh kematian, dan Taehyung adalah perwujudan tersebut yang siap menjemput Jungkook kapan saja.
"Kau mau kemana? Ada urusan yang belum selesai diantara kita." Suaranya dalam, dan Taehyung membubuhkan seringai nakal diwajahnya yang cantik nan kejam.
Jungkook mengeredip, nyalinya menciut seketika. Taehyung tampak lain, ia seperti mengingatkannya akan sesuatu yang buruk. Tentu Jungkook tidak dapat berlama-lama balas menatapnya, bola mata hitam bening itu bergrilya berniat mencari bantuan, atau apapun yang bisa membuatnya menghindar dari Taehyung.
Namun orang-orang malah sedang sibuk berbincang dan bahkan Jimin belum kembali.
Jungkook tidak sempat menjawab ketika Taehyung berpindah kesisi kanan tubuhnya, kemudian pria cantik itu berjongkok tepat disamping pria tampannya hingga seluruh tubuhnya tertutupi meja panjang yang menghalangi Jungkook.
"Aku sungguh yakin ketika melihatmu berjalan kemarin." Ia bergumam, namun Jungkook tidak sanggup untuk menoleh sedikitpun. "Tapi kenapa sekarang kau masih duduk dikursi roda ini?"
Sekali Jungkook menelan ludahnya susah payah.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Aku tidak bermaksud-"
"Aku sangat menikmatinya semalam.." Taehyung mendekatkan tubuhnya. Membisikan mantra menakjubkan yang luar biasa.
Prasangka Jungkook tentang Taehyung yang mungkin akan melaporkannya atau menghancurkan nama baiknya akibat kejadian tak terduga itu terpatahkan setelah mulut manisnya menggumamkan kalimat nakal tersebut disamping telinga Jungkook. Sedangkan pemuda yang mendengarkan menegang tiba-tiba.
"Kemarin kau bahkan menggodaku dengan gaya bercintamu, dan sekarang kau datang dengan kursi roda. Kau sedang berakting?"
Jungkook terkejut, ia menggelengkan kepalanya cepat. Cukup! Ia tidak boleh membiarkan Taehyung tertipu oleh penyakitnya terlalu lama. Jungkook segera menoleh dan berusaha menjelaskan semuanya dengan gelagapan.
"Sebenarnya- itu- yang kemarin bukan aku- maksudnya, aku tidak mengetahui apapun yang terjadi kemarin malam."
Bodoh! Penjelasan macam apa itu?! Idiot!
Jungkook merutuk diri sendiri dengan kejam, ia segera mengusap wajahnya. Memilah kalimat yang benar agar tidak memicu kemarahan apapun bagi Taehyung.
Pria yang masih berjongkok mendengus geli, ia masih belum menyadari apa yang terjadi kepada Jungkook dan siapa yang sebenarnya tidur dengannya kemarin malam. Taehyung terlalu tidak perduli dan ketika ia melihat Jungkook dalam radarnya, Taehyung seakan melupakan semua tujuannya. Terganti dengan hasrat ingin memiliki dan menyentuh Jungkook. Astaga, benar-benar jelmaan eros.
"Bohong jika kau tidak mengetahui apa-apa. Kemarin kau baik-baik saja dan bahkan jika aku tidak menyudahinya kau tidak akan mau turun." Taehyung bergeser dan menelusup diantara Jungkook dan meja, setengah dari tubuhnya tertutupi kain panjang berenda dari atas meja.
Jungkook berjengit dan menyentak nafas ketika telapak tangan lembut Taehyung mengelus pahanya, ini aneh, mengapa ia merasakan sentuhan Taehyung begitu intens dan sepertinya itu berpengaruh besar pada kejantanannya.
"Tidak, kau- kau salah paham-"
"Aku dapat membuktikan jika kau berbohong tentang sakitmu ini, karena seharusnya kau sudah dapat berjalan sejak beberapa hari yang lalu." Taehyung menatap wajah pucat Jungkook penuh keinginan. "Dan kita akan melihat, apakah kau benar lupa atau tidak."
Jungkook semakin membulatkan matanya ketika dengan tanpa hambatan Taehyung mengeluarkan benda berharga milik Jungkook dari balik celananya, dan ia semakin mendengus horror saat Taehyung mengulum puncak kepalanya.
"Tidak! Jangan!" Jungkook berbisik namun ingin sekali ia berteriak, saat sebelah tangannya tak berhasil menghalangi kepala Taehyung untuk terus memasukan kejantanannya kedalam mulut hangat itu ia mendesis. Bernafas melewati deretan giginya yang terkatup rapat dengan sepasang alis yang menyatu. Sedangkan sebelah tangannya tercekal hingga Nampak tengah berpegangan dengan tangan Taehyung.
Getaran menggelitik itu terasa aneh namun tidak asing. Jungkook menahan desah ketika Taehyung menaik turunkan kepalanya cepat. Taehyung semakin menarik kursi roda Jungkook untuk merapat dengan sisi meja. Semakin menyembunyikan keberadaan diri nya dibawah sana.
Astaga ini gila! Masalah ini akan semakin besar jika ia tidak segera menghentikan Taehyung. Tapi ia juga tidak ingin menarik perhatian orang lain, dan ketika ia hendak menyingkirkan Taehyung dengan tangannya yang bebas-
"Tuan, anda baik-baik saja?"
-seorang pelayan mengintruksi. Mengejutkan Jungkook yang masih dalam keadaan semi ereksi.
Kemudian terasa remasan pada bagian paha dari bawah, namun Jungkook tidak sekalipun meliriknya. Setengah mati ia mengusahakan agar wajahnya terlihat biasa saja, tetapi Jungkook tetap tidak dapat menahannya.
"Aku- aku,.." remasan semakin kuat dan Jungkook merasakan ujung kejantanannya menyentuh belakang tenggorokan Taehyung. "Ah, tidak apa-apa.."
Pelayan itu semakin mengkerutkan alisnya, merasa bahwa pernyataan Jungkook sama sekali tidak meyakinkan. Ia semakin mendekat dan Jungkook semakin gemetar dibuatnya.
.
.
.
.
TBC—"
Akhirnya update juga XD maafken kalo agak gaje, author dikejar-kejar waktu soalnya.. XD
Hope u like it dan gk kecewa sama chapter ini..
Review nya ditunggu banget!
See you~ sorry gk bisa balas komentar satu persatu~ tapi ell tetap baca
