Dunia berputar, tidak lagi pada porosnya. Ketika semua orang hanya mementingkan dirinya, tanpa tau apa yang orang lain alami. Pendusta tertawa, sedangkan korban berlutut di kedua kakinya. Jangan menyalahkan siapapun karena dunia memang sedang berputar, bertarung untuk alasan yang tidak pasti, entah siapa yang menang. Tidak ada bahasa yang paling indah selain sindiran, itu cara orang-orang berkomunikasi sekarang. Mereka serakah, haus harta benda, iri dengki dan semuanya dapat menghancurkan. Bicara terlalu banyak, namun dalam soal saling menolong jangan harap kau mendapatkan banyak orang untuk menolongmu.
Sama seperti terlepas dari masa sekolahmu menuju hal yang lebih tinggi, sekolah menengah bukan berarti apa-apa dibandingkan kau harus hidup untuk saling memakan, jangan samakan dengan kehidupan di masa sekolah menengah. Teman-temanmu akan berkembang dan tumbuh, ada saatnya mereka akan tertawa, tapi tunggu saja ketika kau melihat sebuah pisau lipat yang dia simpan di sakunya. Dan tujuannya adalah dirimu, jadi bersiaplah menghadapi semua kemungkinan yang terjadi, diam atau tusuk.
.
Kepala Kyungsoo jadi di penuhi oleh dunia yang berputar, sejak beberapa menit yang lalu dia menghidupkan televisi kamar rumah sakit itu. Setidaknya kepalanya sudah tak ikut berputar seperti kemarin, dan sekarang dia merasa lebih baik. Kai tidak ada disana, dan Kyungsoo yakin dia bekerja, lelaki itu mungkin saja menemaninya semalaman karena tempat tidur tamu di dekatnya terlihat telah terpakai. Perawat beberapa saat yang lalu baru memeriksanya dan memberikan makanan yang sama sekali belum di sentuh Kyungsoo. Dia hanya meminum minuman isotonic dan air putih yang diberikan rumah sakit. Matanya kembali fokus ke televisi, kehidupan kota bagai api neraka sepertinya, tidak ada hal-hal sederhana yang dapat membuatmu bahagia meskipun kau tak memiliki uang. Tidak ada hal sesederhana menonton beramai-ramai di rumah Chen yang bahkan membuatnya bahagia. Tidak ada hal sesederhana, ketika berbagi bekal dengan para pekerja kebun bersama Baekhyun, atau berlari mengejar bebek-bebek yang keluar kandang, bermain di sungai dan menangkap ikan jika perutnya lapar. Memetik buah, atau bernyanyi dengan warga lain ketika ada yang berulang tahun.
Tv sudah cukup menjelaskannya, tanpa Kyungsoo harus hidup bertahun-tahun disini untuk memfilosofi wilayah kota tempat tinggalnya sekarang. Rasanya panas, untuk orang seperti Kyungsoo yang selama hidupnya bekerja di desa, dengan hati tulus dan kepolosan, dia akan sulit untuk menjalaninya, alasan utama Kai melarang Kyungsoo untuk bekerja di kota. Bahkan dia bisa dengan mudah tunduk hanya dengan satu gertakan. Orang-orang kota berbeda dengan Kyungsoo. Dan kehidupan baru mengucapkan salam padanya.
Kyungsoo. Selamat Datang Di Dunia Yang Penuh Keserakahan.
.
.
Entah sejak kapan dia tertidur setelah menonton TV, yang jelas dia terbangun dengan layar datar itu masih menyala, matanya tertuju pada seragam yang menggantung di pintu lemari. Itu seragam kepolisian milik Kai, mungkin pria itu sudah datang dari kerja namun Kyungsoo belum melihatnya. Tubuhnya lelah berbaring, dan ia ingin berdiri. Tapi seluruh badannya terasa lemas, mungkin dia masih sakit. Kyungsoo menguap, bukan karena mengantuk, tapi lebih pada bosan. Beberapa bulan belakangan ini dia sering sekali merasa bosan, karena tidak ada kebiasaan yang dapat dia lakukan seperti di desa. Disini, semuanya perlu sopan santun tinggkat atas dan akan terlihat bodoh jika kau mengejar bebek-bebek yang berbaris dijalan. Lagipula di kota jarang ada bebek di jalanan, kebanyakan dari mereka telah menjadi makanan.
Andaikan Baekhyun punya ponsel, dia mungkin akan menelpon temannya itu sepanjang hari. Membiarkan Kai membayar tagihan telepon yang mahal. Pintu berderit, sosok Kai muncul di baliknya, dan perasaan kesal tiba-tiba muncul di hatinya. Mengingat bagaimana lelaki itu terakhir kali. Kai menampilkan senyuman manisnya, namun Kyungsoo menatapnya datar.
"Sudah baikan?" dia menyentuh kening Kyungsoo untuk mengecek suhu tubuhnya, dan desiran hangat muncul dalam diri Kyungsoo seirama dengan bagaimana tangan itu menyentuhnya. Namun Kyungsoo tetaplah Kyungsoo dengan segala kecemburuannya.
"Syukurlah, panasnya sudah turun. Sekarang waktunya kau menghabiskan bubur itu, kau tak menghabiskan makananmu tadi pagi."
"Kau darimana?" tidak peduli dengan ucapan Kai, Kyungsoo malah bertanya balik, pikirannya penuh hal-hal negative sekarang.
"Bertemu Krystal, barusan dia…"
"Tidak usah urusi aku, pergi saja." Kyungsoo bangkit dari tempat tidurnya, membawa serta infus yang tertusuk di tangan kecilnya itu, dia mendorong punggung Kai dengan sisa tenaga yang dimilikinya, rasanya dia hampir menangis, karena Krystal ada dimana-mana.
"Hei, apasih yang kau lakukan?" Tanya Kai bingung karena Kyungsoo terus mencoba mendorongnya keluar.
"Kubilang keluar!" suara Kyungsoo parau, dia hampir menangis, kalau saja tak ingat jika dia punya benda berbentuk panjang di bawah yang akan menjatuhkan harga dirinya, dan kalah pada seorang wanita.
Kai mengerti Kyungsoo sedang cemburu,dan dia merasa sedikit keterlaluan pada namja itu karena tak menjelaskan sejak awal, sehingga kejadian seperti ini mungkin saja tak akan terjadi. Dia mengangkat Kyungsoo, menggendongnya di pinggang, sama seperti yang dia lakukan dulu, diseretnya infus Kyungsoo karena pria mungil itu berontak. Mengambil sesuatu diatas meja, dia mendudukan Kyungsoo disofa, dan memberikan benda itu.
"Bukalah, Krystal memberikannya untukmu." Kyungsoo menatap benda itu dan membukanya.
"Undangan pernikahan? Krystal?" gumam Kyungsoo.
"Tentu saja bukan denganku." Kata Kai ketika Kyungsoo menatapnya dengan mata bulat miliknya.
Kyungsoo memperhatikan undangan mewah itu, pada bagian depan tertulis namanya sebagai undangan. Ada sebuah kelegaan dimana terlihat jelas di matanya, Kyungsoo tiba-tiba merasa sangat sehat.
"Aku mencoba menjelaskannya padamu, tapi kau sangat emosi." Kai merapatkan duduknya dengan Kyungsoo yang masih membaca undangan pernikahan itu. Seumur hidupya bahkan pernikahan yang mungkin terjadi sekali seumur hidupnya, dia belum pernah memberikan seseorang undangan seperti ini, dan itu seharusnya tidak terlalu penting untuknya.
"Hei Kyungsoo, aku minta maaf." Kata Kai mengulangi, dan Kyungsoo tersadar.
"Ya, aku juga."
"Dan juga, maaf tak pernah membuat undangan seperti itu untukmu." Kyungsoo mendongak, melihat mata kai yang kelam, "Kai, bukan itu maksudku." Katanya pelan, takut membuat Kai tersinggung. Bagaimanapun Kyungsoo tak mau meminta macam-maam pada Kai, ditengah hubungan mereka yang sedikitnya membaik itu. Kyungsoo kembali melihat undangan itu, terlihat begitu indah dengan foto dua orang yang sangat cocok, dan Kyungsoo tak berani membayangakan jika Kai benar membuat undangan untuk mereka berdua waktu itu, mungkin semua orang akan menertawainya dan Kai akan malu, karena dia bukan menikahi seorang perempuan dengan paras elok dan cantik. Kai menikahi seorang anak desa, yang hidup tumbuh besar dari desa, dan masalah paling besarnya adalah bahwa orang yang dinikahi Kai adalah seorang lelaki. Maka keputusan Kai waktu itu terasa paling benar setelah di pikir-pikirnya.
"Kupikir masalah kita sudah selesai disini, kau tak marah lagi bukan?"
"Choi Minho…" bukannya menjawab Kai, Kyungsoo menggumamkan nama calon suami Krystal Jung tersebut.
"Kau menyukainya?" Kyungsoo menjitak kepala Kai, itu gerakan reflek. Membuat Kai mengaduh kesakitan, karena meskipun sedang sakit, dia punya kekuatan yang lumayan untuk menjitak orang.
"Memangnya aku dirimu, yang masih bisa keluar makan malam atau apalah dengan orang yang akan menikah." Kai menghela nafasnya, kesalahpahaman belumlah selesai.
"Dengar. Semua kegiatan yang selama ini kulakukan bersama Krystal, yang mungkin saja kau berfikir kami hanya berdua, salah besar." Kyungsoo mencoba mendengarkan walaupun enggan.
"Choi Minho, dia ada di makan malam saat kau disana. Begitupun di waktu-waktu yang lain, aku tidak hanya dengan Krystal. Choi Minho dan polisi yang lain juga ada disana. Dan kuberitahu padamu, jangan pernah memotong ucapanku lagi ketika aku menjelaskan sesuatu, atau hal seperti ini akan terjadi lagi pada kita." Kai menuntut dengan suara penuh ketegasan pada Kyungsoo.
Pria mungil itu bungkam, seperti sedang di marahi oleh ayahnya dulu. Dia tak berani melawan bahkan untuk menatap mata Kai. Dia harus minta maaf pada Krystal tentang rasa curiganya, dan masih banyak hal lain lagi. Kai menyentuh kepala Kyungsoo, mengusapnya pelan.
"Kau belum makan sejak pagi." Kai mengambil bubur yang baru saja di belinya tadi dan membukanya dihadapan Kyungsoo. tanpa banyak bicara Kyungsoo memasukan suap demi suap itu kedalam mulutnya, meskipun rasanya hambar dan campuran pahit, tapi dia tak mau banyak bicara dan ingin cepat menghabiskan makanan itu. Dengan begitu, Kai juga tak akan mengomel padanya. Di tengah Kyungsoo yang sedang makan, Kai menyiapkan air hangat dengan baskom yang kemudian digunakannya untuk mengompres telapak tangan kiri Kyungsoo yang membengkak karena infus, rasa hangat di telapak tangannya menjalar ke sudut hatinya. Kai tersenyum begitu tulus, seperti ada percikan api yang melintasi kerongkongan sampai perutnya, debaran jantungnya semakin cepat enggan untuk melambat, kala Kai kemudian mengecup keningnya begitu lembut. Dan Kyungsoo menobatkan ini adalah salah satu kegiatan termanis yang pernah Kai lakukan. Deru nafas Kai menjauh, seiring dengan menampakan wajah dengan kulit kecoklatan tampannya.
"Acara Krystal 2 hari lagi, dan kau masih sakit. Aku akan memberitahukan padanya jika kau tak bisa datang."
"Tidak, aku akan datang diacara spesialnya."
Kai mulai geram melihat tingkah keras kepala Kyungsoo belakangan ini. "Istirahatlah, atau sakitmu akan bertambah."
"Aku akan tidur sekarang, dan besok aku akan sangat sehat."
Kyungsoo menggeser selang infusnya dan membawanya kembali kedekat tempat tidur. Kemudian Kai ikut menghampirinya, membetulkan selang infus yang belum terpasang sempurna dan menyelimuti tubuh Kyungsoo.
"Kau harus bekerja kan besok? Istirahatlah dirumah, aku baik-baik saja."
"Tidak, aku disini. Bersamamu, jangan membantah dan cepatlah tidur."
Kyungsoo memandang Kai sebentar, kemudian menggeser tubuhnya memberikan ruang kosong di sebelahnya.
"Tidurlah bersamaku." Kata Kyungsoo pelan, bibirnya secara otomatis tersenyum kemudian menarik tempat tidur untuk pengunjung dan menyatukannya disamping Kyungsoo, hingga mereka tak harus berdesakan.
"Baiklah, aku tidur disebelahmu. Tidak ada monster disini." Kata Kai terkekeh dan Kyungsoo mencubit lengannya.
"Kau pikir aku anak kecil!"
"Memang." Sekarang mereka berdua yang terkekeh.
Kai menarik Kyungsoo kepelukannya, mengusap rambut halus itu,menciumnya sesekali. Entah kenapa, dia merasa bahwa rasa sukanya pada namja ini semakin hari semakin menjadi,dia tak tau alasannya. Hanya melihat pria ini setiap hari, melihat senyumannya setiap hari dan memasak untuknya setiap hari. Terlepas dari kata saudara tanpa ada ikatan darah yang sesungguhnya sangat melekat diantara keduanya. Kai tak habis pikir bagaimana bisa dia menyukai Kyungsoo. Ini bukanlah hal yang salah,hanya mencintai bukan hal salah kan?.
Kyungsoo mendongak, melihat wajah Kai yang lembut menatapnya. "Aku mencintaimu." Nafas Kai terasa begitu hangat di wajahnya, dan Kyungsoo memejamkan mata me-rewind kembali kata yang seperti bisikan itu di telinganya. Di dunia ini, ada hal nyata yang ingin kau ilusikan dari hidupmu, dan ada juga ilusi yang ingin kau nyatakan di hidupmu. Dan Kyungsoo berharap, bahwa ini hal nyata yang terjadi di hidupnya, sangat sederhana. Lewat suara dan tatapan mata itu, mampu membuat Kyungsoo terdiam dan berusaha menampar dirinya jika ini hanyalah halusinasinya. Tapi tidak, Kai melemparnya lagi kedunia nyata, menegaskan walaupaun sebagian besar kenyataan adalah menyakitkan, tapi, tidak semua hal nyata menyakitimu, hal indah itu ada dan sekarang dia ada disini. Sangat sederhana, untuk kedua kalinya Kai membisikan kata itu, hampir tak terdengar namun dia mengucapkannya.
"Kyungsoo, aku mencintaimu."
Sekarang dia yakin, bahwa ini nyata. Tangan Kyungsoo dengan perlahan menyentuh kulit wajah Kai. "Aku juga mencintaimu. Hyung."
"Kau sudah tau?" Kyungsoo mengangguk, "maaf sudah melupakanmu." Kai kembali mengusap kepala Kyungsoo. "Aku yang akan mengingatkanmu." Kai menarik dagu Kyungsoo dan mencium bibirnya pelan, hangat nafas Kyungsoo dengan aroma obat yang baru saja diminumnya. Kai menghisap bibir Kyungsoo juga begitu pelan, karena Kyungsoo masih dalam keadaan sakit dan dia tak mau terburu-buru, perantara ciuman itu membuat hatinya meledak-ledak dan sangat bahagia. Lewat Kyungsoo, kebahagiaan terasa sangat sederhana.
.
Kyungsoo akhirnya keluar dari rumah sakit, 2 hari setelah kejadian drama mereka berdua. Kyungsoo memaksa keluar, karena dia akan hadir di acara pernikahan Krystal hari ini. Kai hanya bisa menurut karena dia yakin, dirinya pasti kalah jika harus mendebatkan soal ini pada Kyungsoo. atas persetujuan dokter, dia membawa Kyungsoo kembali kerumah, membiarkan namja itu melakukan hal yang dia inginkan, beberapa hari di rumah sakit Kyungsoo selalu mengeluh bahwa otot-ototnya kaku dan dia perlu bergerak.
Disinilah dia, mengobrak abrik lemari Kai. Mencari setelan jas yang pas untuk dirinya, karena di desa orang-orang jarang menggunakan jas, Kyungsoo tak memilikinya, tapi Kai pasti punya. 3 jas telah dia coba dan semuanya merosot di bahunya, hingga menutupi sebagian telapak tangannya, Kyungsoo tampak seperti menggunakan baju tidur versi formal. Kai hanya memperhatikannya dari tempat tidur dan sesekali tertawa. Kyungsoo terlihat begitu bersemangat, meskipun tenagannya belum benar-benar fit. Kyungsoo mencoba untuk yang kesekian kalinya, dan hampir semua jas yang Kai miliki berada di luar lemari sekarang, namun hasilnya tetap sama.
"Sialan, aku bukan lelaki!" makinya pada diri sendiri, Kai tertawa lagi. Dan Kyungsoo sudah menyerah, dia memilih salah satu jas tersebut dan menunjukannya pada Kai.
"Akan kugunakan yang ini. Dan, berhenti menertawaiku!" Kai mengangguk, dia menutup mulutnya karena Kyungsoo telah berubah seperti power ranger yang siap membasmi monster, dan Kai adalah monsternya.
.
"Imut sekali." Komentar Kai saat melihat Kyungsoo telah duduk di sofa menunggunya bersiap.
"Yatuhan, tidak adakah orang yang mengatakan aku tampan, sekali saja!" sejak Kyungsoo keluar dari rumah sakit, entah sudah berapa kali Kai tertawa karena tingkah pria mungil ini, Kyungsoo sedang tidak berkomedi, namun tingkahnya membuat Kai tidak bisa menahan tawa, dan well, tentu saja mereka sudah lebih terbuka sekarang, dengan waktu yang singkat dan sebuah pengakuan sederhana. Kai sangat bersyukur karena waktu itu dia terbawa suasana, sehingga ucapan cinta untuk Kyungsoo terucap begitu saja secara alami.
"Baiklah, kau tampan." Kyungsoo tersenyum, "dan juga imut." Kyungsoo kembali cemberut. Kai mengusap kepala Kyungsoo yang menimbulkan protes dari suaminya itu, karena rambut Kyungsoo yang telah di gel rapi keatas akan berantakan oleh ulah Kai. "Ayo, berangkat." Kyungsoo menarik lengan Kai pelan, membuat Kai menoleh lagi kearahnya. "Aku tak mengenal siapapun disana, jadi, jangan meninggalkanku." Menyempatkan diri untuk mengecup pipi Kyungsoo,Kai mengiringnya untuk berjalan menuju mobil. "Tentu. Tapi ada banyak orang yang akan kau kenal disana."
.
Ini adalah pesta yang sesungguhnya, ini adalah nyata. Kyungsoo benar-benar menghadirinya sekarang. Menyaksikan begitu banyak lampu dan ada begitu banyak orang juga, alunan musik lembut yang mencerminkan kebahagiaan mengiringi malam penuh keindahan untuk para mempelainya. Krystal dan Minho sedang berdiri menyambut tamu yang datang. Kyungsoo menganga, melihat kedua pasangan yang begitu serasi itu dan Kai segera menutup rahang Kyungsoo. Kai membawanya kearah sang pemilik acara dan Kyungsoo terlihat gugup.
"Hei, kau datang. Kupikir kau masih sakit." Sapa Krystal begitu ceria
"Ya, dia memaksaku." Kyungsoo menyikut Kai yang telah bicara sembarangan.
"Oh, terima kasih Kyungsoo. aku sangat bahagia kau bisa datang. Dan maaf, saat pernikahanmu dengan si hitam ini aku tidak bisa datang."
"Ah, tidak apa-apa Krystal. Aku senang kau mengundangku, dan aku juga minta maaf karena berburuk sangka padamu." Yah, Kyungsoo tak punya kemampuan untuk berbasa-basi.
"Tidak apa-apa tentu saja. Tapi Kyungsoo, lagipula hanya kau saja sih yang mau menikah dengannya." Minho tertawa mendengar celotehan mempelainya. Dan wajah Kai tampak kusut.
"Diam kau Choi Minho!" geram Kai, Minho menunjukan telapak tangannya tanda damai.
" Dual 'K'. Kai dan Kyungsoo, selamat menikmati pesta." Kata Minho kemudian.
Kai mengenalkan Kyungsoo pada teman-temannya ketika mereka bertemu mengobrol beberapa menit, dan Kyungsoo akan menguap, kemudian Kai bertemu dengan Chanyeol dan Kyungsoo punya firasat buruk. Chanyeol berlari memeluknya seperti anak kecil, kadang Kyungsoo berpikir apakah orang ini benar pimpinan Kai. Tapi pria tan itu malah ketularan Chanyeol bertindak sama, dan Kyungsoo maklum. Chanyeol bertanya tentang banyak hal, kadang dia mengecek alat bantu pemberiannya yang Kai gunakan di telinganya dan menawarkan untuk membelikan yang baru. Atau mereka bicara banyak hal yang tidak penting lainnya.
"Selamat malam, saya akan mempersembahkan sebuah lagu untuk pengantin yang berbahagia di malam ini." Kyungsoo dengan cepat menoleh kearah panggung, suara yang terdengar gemetar itu membuat Kyungsoo kehilangan focus pada hal lainnya.
"Baekhyun, bagaimana dia disini?" Chanyeol mendengar pertanyaan Kyungsoo dan dia lupa mengatakannya.
"Minho perlu penyanyi untuk pestanya, jadi kutawarkan saja padanya. Dan dia setuju." Jawab Chanyeol.
"Tapi dia demam panggung!" seru Kyungsoo heboh sendiri.
Music sudah dimulai suara Baekhyun sudah bernyanyi, suara itu bergetar dan Kyungsoo menebak sebentar lagi demam panggung Baekhyun akan beraksi, Kyungsoo tau lagu yang dinyanyikan Baekhyun. Karena dulu sewaktu di desa dia sering mendengar Baekhyun menyanyikannya, tanpa berani menampilakannya, karena dia punya demam panggung. Suara Baekhyun mulai sumbang dan perlahan-lahan hilang, membuat para tamu memandangnya aneh.
Kyungsoo berlari kebelakang panggung, awalnya untuk memberi dukungan pada Baekhyun. Tapi saat dia melihat panitia membawa mic yang akan di berikan pada Baekhyun, karena mereka mengira suara Baekhyun menghilang karena micnya bermasalah. Kyungsoo langsung mengambilnya, dan menyanyikannya, Baekhyun terlonjak suara Kyungsoo tiba-tiba muncul. Kyungsoo menepuk pundak Baekhyun tidak kentara, mengkode untuk menyanyikan part selanjutnya, untungnya Baekhyun mengerti dan mengangguk.
Kyungsoo tidak tahu mendapat keberanian darimana, tapi yang jelas dia menyelamatkan dua hal. Baekhyun dan acara Krystal. Suara merdu Baekhyun mulai terdengar kembali, lebih indah dan semua penonton kini bertepuk tangan.
"Sejak kapan kau berani naik panggung?" Tanya Kyungsoo ketika mereka berdua telah turun panggung.
"Sejak aku dipaksa untuk ikut ke acara ini, dan aku tergiur dengan bayarannya. Tapi, aku hampir saja menghancurkannya."
"Tidak ada yang hancur. Kenapa kau tak memberitahuku jika kemari?"
"Ini dadakan Kyungsoo, aku langsung kembali ke desa sehabis ini."
"Kenapa terburu-buru?"
"Ya, besok Park Chanyeol harus bekerja dan aku juga." Kyungsoo hanya mengangguk mengerti.
"Kyungsoo, ini pesta!" Baekhyun menunjuk seluruh isi ruangan tersebut.
"Ya pesta. Lalu?"
"Dasar bodoh, Lalu bersenang-senang! Ini di kota, dan kita bebas."
"Kau benar, kenapa aku tak memikirkannya." Kyungsoo dan Baekhyun berlari kecil seperti anak kecil, menertawakan diri mereka sendiri karena keheranan melihat sesuatu. Makan banyak makanan, sampai membantu Baekhyun membungkus makanan tersebut kekantung plastic yang dibawanya, kemudian menyembunyikannya di bawah meja. Kyungsoo bahkan melupakan statusnya yang telah bersuami saking girangnya dia bermain bersama Baekhyun. Baekhyun tertawa begitu keras, saat Kyungsoo salah mengambil minuman yang dikiranya jus malah terasa begitu pahit di lidahnya. Mereka sungguh seperti anak kecil, lebih parah dari Chanyeol dan Kai tadi. Yah, orang-orang akan terlihat seperti anak kecil jika bersama teman terdekatnya.
Baekhyun ternyata membawa tas ransel, dan memasukan semua makanan yang dia bungkus barusan kedalam tas tersebut, karena Chanyeol telah memberitahu, mungkin bisa disebut meneriakinya karena Baekhyun terlalu sibuk bermain dengan Kyungsoo untuk segera kembali ke desa.
"Kyungsoo aku kembali."
"Kau sudah memberitahu Luhan hyung?"
"Sudah, tapi sepertinya dia sedang tak bersemangat. Aku buru-buru, si tiang bisa mengamuk." Baekhyun melambai. Kemudian Kyungsoo menghampiri Kai dan Sehun yang entah sejak kapan datangnya. Kai tengah menggoda Sehun yang datang seorang diri, tanpa kekasih. Sedangkan Sehun hanya memasang wajah coolnya tanpa berkomentar apapun.
"Carilah kekasih, agar kau tak kesepian." Kata Kai pada Sehun ketika Kyungsoo mengajaknya untuk pulang. Sementara Sehun tersenyum kecut dengan nasehat dari Kim Jongin tersebut, kemudian mereka berdua berpamitan pulang pada Sehun, dan meninggalkan pria albino itu sendirian menikmati pesta.
Kai merangkul pundak Kyungsoo, kemudian menempelkan punggung tangannya pada kenig namja tersebut untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Tidakkah kau lelah setelah berlarian bersama Baekhyun. Jangan sampai kau sakit lagi."
Kyungsoo menggeleng, "tidak akan, melakukan hal menyenangkan membuatku merasa sehat."
"Benarkah?" Kai tersenyum nakal pada Kyungsoo, yang diangguki oleh pria polos itu. Kai mengangkat tubuh Kyungsoo dan menggendongnya seperti anak kecil, membuat Kyungsoo spontan melingkarkan kakinya di pinggang Kai. Dengan cepat Kai mencuri bibir itu untuk di kecupnya.
"Jadi, apa bersamaku juga menyenangkan?" Kyungsoo memerah, dia menjitak kepala Kai memaksa pria itu untuk menurunkannya.
"Aku akan menggendongmu sampai kita di mobil." Tolak Kai
"Sial, aku tak mau balas budi dengan kebaikan palsumu itu."
"Aku tak perlu balas budimu, yang jelas jangan tinggalkan aku. Itu cukup sepertinya." Kai terkekeh, dan Kyungsoo memeluk leher Kai.
"Aku tak janji, tapi aku akan berusaha."
TBC
.
Bonus HUNHAN
Sehun sedang di apartemen Luhan, hanya memperhatikan namja itu yang sedang menghitung jumlah tabungannya, dan sesekali Sehun ikut membantu menghitung angka yang tertera di catatan gajinya.
"Untuk eomma dan appa. Untuk Baekhyun. Sedikit untuk Kyungsoo. Untuk kusumbangkan. Untuk kutabung. Dan sisanya untuk hidupku." Dia membagi-bagi uang hasil keringatnya tersebut, dan menuliskan pembagian yang sudah disebutkannya di buku catatan.
"Tidak bisakah, kau menikmati uang keringatmu sendirian?" Luhan menoleh kearah Sehun yang memperhatikannya sejak tadi.
"Oh maaf Sehun. Aku melupakanmu," Luhan meletakan uang-uang tersebut dengan rapi kemudian memfokuskan penuh dirinya pada Sehun. "Tidak bisa, eomma dan appaku sudah tua, aku tak mau appa bekerja terlalu keras."
"Lalu, Baekhyun, bukankah dia sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri."
Luhan terkekeh "Ya, uang itu juga di baginya pada eomma dan appa. Dan dengan sisa gaji yang tak seberapa itu dia masih harus menghidupi dirinya."
"Kenapa kau membaginya pada Kyungsoo juga, dia sudah ada Kai. Lebih baik kau simpan uang itu untuk dirimu."
Luhan menggeleng pelan "Aku tidak tahu, ini kebiasaanku memberikan adik-adiku sedikit dari gajiku. Lagipula, kau tak usah cemburu begitu, kau mau ini? Ambillah untuk membeli permen." Luhan terkekeh menyerahkan uang 1000 won pada Sehun.
"Luhan berhenti menganggapku anak kecil!"
"Oh maaf."
"Ayo datang kepesta Krystal dan Minho."
Luhan menggeleng, "tidak, aku tidak mengenal mereka. Kau yang mengenal mereka, Kyungsoo pasti hadir disana bersama Kai, apa yang harus aku katakan jika mereka melihat kita berdua datang."
"Kalau begitu, ayo kita menikah. Agar mereka tak bertanya-tanya."
Luhan kembali menggeleng, " Sehun, orang tuaku dan adikku membutuhkanku. Aku tulang punggung. Aku harap kau mengerti."
" Aku sudah cukup mengerti sejak dua tahun yang lalu. Luhan, hubungan kita sudah 5 tahun, dan sejak 2 tahun yang lalu kau selalu menolakku ketika aku mengajakmu untuk menikah. Aku merasa di permainkan!" Sehun menghela nafasnya, "dan aku juga tidak tau kenapa kau tidak mau membiarkan orang-orang tau tentang hubungan kita. Katakan saja, jika ada wanita atau lelaki lain yang kau sukai, jangan mempermaiankanku seperti ini."
"Tidak Sehun, aku sudah menjelaskannya padamu bukan. Dan…"
"Dan kau beraharap aku bisa mengerti, sayangnya aku sudah muak Luhan." Suara Sehun terdengar penuh emosi,Sehun menyerang Luhan, mencium lehernya dan memberikan banyak tanda kemerahan disana, dengan kasar dihisapnya leher Luhan, yang membuat namja dibawahnya mengerang kesakitan meronta sekuat tenaga untuk di lepaskan. Sehun yang sedang emosi tidak akan terkalahkan oleh siapapun, apalagi Luhan. Bibir Sehun turun kedadanya dan merobek paksa baju Luhan.
"Selama 5 tahun hubungan kita aku bahkan tak pernah menyentuhmu lebih dari ciuman, dan aku tidak tau mungkin ada orang lain yang telah menyentuhmu atau kau sentuh." Luhan menampar pipi Sehun begitu keras hingga meninggalkan jejak jari-jari kemerahan di pipi putih itu. Kemudian Luhan memberikan bogem yang begitu kuat pada Sehun hingga dia tersungkur kebelakang.
"Aku bukan pria murahan seperti yang kau pikirkan!" teriak Luhan kencang, Sehun bangkit mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
"Kalau begitu, aku akan membuatmu menjadi milikku, dan kau hanya boleh menikah denganku!" Sehun kembali main kasar, dia menghisap kuat dada Luhan menggigit dan memberikan noda merah. Luhan merintih kesakitan, gigitan Sehun terasa sangat sakit di fisiknya dan juga hatinya, kekuatan Luhan hilang entah kemana.
"Sehun… kumohon hentikan… sakit sekali." Lirih Luhan begitu pilu, air matanya keluar. Dia menangis, terisak yang sudah tak dapat ditahannya, Sehunnya berubah menjadi monster yang melukainya. Dapat Sehun dengar suara pilu itu, membuat hatinya teriris. Sehun menghentikan kegiatan kasarnya itu, dan dia begitu kaget melihat leher dan dada Luhan terluka akibat ulahnya. Seketika Sehun langsung menyesalinya, dia melihat mata Luhan sambap akibat menangis. Dia menjambak rambutnya kasar.
"Aku bukan lelaki yang pantas untuk menikahimu, aku menyakitimu!" kata Sehun menunduk, sedangkan Luhan semakin menangis mendengar penuturan dari kekasihnya itu. Sehun menuliskan beberapa digit nomor di buku catatan Luhan.
"Segera hubungi nomor itu, laporkan bahwa ada seorang anggota polisi yang mencoba memperkosamu. Aku akan datang kepesta Krystal, agar mereka mudah menangkapku." Sehun keluar dari apartemen itu, meninggalkan luhan yang menangis semakin keras.
"Sehun, kumohon jangan tinggalkan aku." Suara Luhan tertelan oleh tangisnya, dan Sehun sudah pergi dari apartemennya sehingga dia tak dapat mendengar apa yang dikatakan Luhan.
.
.
Sudah 3 hari Luhan tidak bertemu dengan Sehun, dan pria itu tak datang keapartemen Luhan lagi. Luhan di randa kegalauan yang sangat dalam, dia merasa bersalah. Menyembunyikan 5 tahun hubungannya dengan Sehun dan tak seorangpun tau termasuk keluarganya. Mereka menyimpannya dengan sangat rapat, menolak Sehun selama dua tahun ini untuk mengajaknya menikah. Luhan tak bisa bayangkan bagaimana tersiksanya Sehun. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor, yang diangkat pada deringan keempat.
"Halo, eomma, aku akan menikah."
.
.
Luhan berdiri, di depan apartemen Sehun. Sudah 5 kali dia mencoba memencet bel tersebut, namun sang penghuni tak kunjung menunjukan dirinya. Luhan tau Sehun ada di dalam, karena dia sempat mencari ke kantor namja itu dan orang-orang mengatakan dia sudah pulang.
"Sehun, maukah kau menikah denganku?" kata Luhan dan dia yakin Sehun sedang mengamatinya. Dugaannya benar, setelah dia mengatakan hal tersebut, pintu terbuka. Menampilkan sosok Sehun dengan wajah pucat. Luhan langsung memeluknya begitu erat, mendorong sedikit tubuh namja yang lebih tinggi itu untuk masuk kedalam apartemen dan menutup pintunya dengan kaki.
"Sehun maafkan aku, sungguh. Maukah kau menikah denganku?"
"Jangan terburu-buru,aku bisa menunggu lagi."
"Tidak, aku serius akan menikah denganmu. Aku tak mau membuatmu menunggu lagi."
Sehun memeluk Luhan begitu erat, menyalurkan kerinduan yang begitu banyak selama mereka berpisah. Sekaligus meminta maaf secara langsung karena telah menyakiti pria ini.
"Terima kasih Luhan."
.
.
Panggil aku melankolis, karena well, di pembuka itu emang curhatan wkwkwkwk. Serius, aku gak betah sama kuliahan karena udah kebiasa sama kehidupan SMA, ternyata pergaulan di kuliahan itu gak sama ya sama SMA dan aku baru menyadarinya. Yang pernah nonton cinta pertamanya BCL sama Ben pasti tau, waktu si BCL bilang 'selamat tinggal dunia khayalku, dan selemat datang dunia nyataku' mungkin aku yang melankolis ini merasakan hal yang sama kayak gitu. Kata orang-orang, diusiaku yang sekarang ini udah bukan saatnya nge-fangirl lagi udah seharusnya buka mata lebar dan buka pikiran, gimana dong ya, oppa selalu menghantuiku wkwkwkwk. Abaikan curhatan gak jelas ini.
Nah untuk yang kesel sama Krystal, udahan dong keselnya. Yang salah bukan dia, yang salah itu kecemburuannya Kyungsoo wkwkwkwk. Dan hal terakhir yang gak akan pernah aku lupain adalah berterima kasih untuk semua reader yang bersedia membaca cerita yang masih perlu banyak dibenahi ini, apalagi buat yang review, fav, dan follow kalian punya tempat khusus di hatiku wkwkwkwk (tuh kan bener aku melankolis). Aku penulis pemula disini, jadi aku masih perlu banyak sekali belajar, mungkin ada banyak typo dan tanda baca yang gak bener, mohon di maklumin yah. Dan last, jangan jadi bangsa yang memaki-maki ayo berikan masukan yang baik dan memberi solusi (mengutip) wkwkwkwk. Sampai jumpa next chapter ya ^^.
