Disclaimer: BLEACH punya kusanagi dalam mimpi indah kusa...XD *dicincang Tite Kubo*

Behind the Mask

Topeng kebohongan itulah yang sekarang ini aku kenakan. Sebuah topeng yang menutupi rasa bersalahku kepada Ran-chan. Rasa bersalah yang terus melekat dan menghantui bagaikan bayangan hitam. Rasa bersalah karena telah berbohong dan memisahkan Ran-chan dengan bayi yang sudah lama ia nantikan kehadirannya. Bayi yang bahkan belum sempat ia lihat dan sentuh. Bayi mungil berambut putih bagai salju dan bermata emerald bagai batu jambrut yang telah diasah. Malaikat kecil kami yang sangat kami cintai - Hitsugaya Toushiro.

~H~

Hari ini matahari bersinar dengan hangat. Langit nampak sangat biru dan awan putih bagikan kapas bergerak perlahan. Daun-daun hijau menari tertiup angin dan burung-burung berkicau dengan merdu meghiasi hari-hari penuh damai yang menyelimuti Seireitei.

Terlihat beberapa shinigami lalu-lalang di koridor divisi lima. Setiap kali mereka berpapasan denganku, mereka akan diam sejenak untuk menyempatkan diri memberi salam padaku. Setelah membalas salam mereka dengan mengangkat sebelah tanganku atau menganggukan kepalaku, mereka akan melanjutkan perjalanan mereka.

Melihat sebuah papan kecil bertuliskan 'kantor seat divisi lima' di atas pintu sebuah ruangan, aku berhenti sejenak dan mengintip kedalam ruangan itu. Ini adalah tugasku sebagai fukutaichou divisi lima untuk mengecek kinerja bawahanku.

Terlihat beberapa shinigami dengan sangat rajin mengerjakan tugas-tugas mereka. Sementara itu beberapa shinigami lain terlihat bersantai-santai di meja kerja mereka dan bercakap-cakap dengan temannya.

Aku mengerutkan dahiku, menyadari ada beberapa dari mereka yang menghilang. Yuji, Ryunoshuke, Gorou dan masih ada beberapa lagi yang aku tidak ingat namanya. Mungkin sekarang ini mereka sedang bersantai disuatu tempat atau pergi minum-minum. Hari-hari yang tentram dan damai membuat mereka terlena. Keadaan tenang tanpa peperangan dan suasana yang bergejolak adalah surga. Ironis sekali... tak ada satupun dari mereka yang menyadari kedamaian ini tidak akan berlangsung lama.

Mereka tak tahu... tak ada seorangpun yang tahu. Perlahan bayang hitam bergerak mengancam Seireitei. Bayang hitam yang siap menelan dan menghancurkan kedamaian fana. Bayang hitam yang akan membuat langit biru nampak memerah oleh api yang berkobar. Awan putih tak lagi terlihat karena tertutup asap hitam. Tak akan ada lagi daun-daun hijau yang menari tertiup angin dan burung-burung berkicau. Yang ada hanyalah abu dan debu hitam yang menari di udara. Sepanjang kau melihat, yang akan ada hanyalah tahan merah bersimbah darah dan tumpukan mayat shinigami bagaikan sampah.

"Gin..." seseorang memanggil namaku membawaku kembali dari alam pikiranku. Aku sangat mengenal suara itu. Suara manis itu adalah milik wanita yang paling aku cintai, Matsumoto Rangiku.

Akupun membalikan tubuhku dan berhadapan dengan sang pemilik suara yang wajahnya nampak sangat berseri-seri.

Rangiku nampak begitu bahagia. Sebuah senyuman indah menghiasi bibir pinknya. Mata birunya berkilauan bagai air jernih yang menatulkan cahaya surya. Entah kapan terakhir kali aku melihat Ran-chan yang begitu hidup seperti ini.

Di balik topeng kebohonganku, aku mengerutkan dahiku dalam. Aku sudah berbuat jahat kepada Ran-chan. Aku telah memisahkannya dengan Toushiro. Sejak ia kehilangan bayinya, Ran-chan selalu nampak bersedih. Walaupun aku selalu berusaha membuatnya tersenyum, tetapi ia tidak pernah benar-benar tersenyum.

Aku sangat mencintai Rangiku. Aku tidak ingin melihatnya bersedih atau menderita. Itu sangat menyakitkan ketika melihatnya menangis saat aku berbohong bahwa putra kami telah meninggal sesaat setelah ia dilahirkan. Setiap air mata yang mengalir di pipi Ran-chan adalah pedang yang menusuk jantungku. Air mata yang seharusnya adalah air mata bahagia berubah menjadi air mata penuh kesediahan.

Dadaku terasa begitu sesak oleh rasa bersalah. Aku ingin sekali menghentikan air mata yang seharusnya tidak pernah ada itu. Aku ingin mempertemukannya dengan Toushiro. Tetapi, jika aku melakukan hal itu, suatu saat Aizen akan merengutnya, buah cinta kami yang kami kasihi dari lubuk hati kami yang terdalam - putra kami yang memiliki reiatsu yang luar biasa.

Jika hal itu terjadi, Ran-chan pasti akan merasakan kesedihan jauh lebih menyakitkan dari pada saat ini. Dan, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku yang tidak bisa melindungi orang yang sangat kucintai. Oleh karena itu, walaupun suatu saat Ran-chan akan sangat membenciku, aku akan terus menyembunyikan kenyataan bahwa bayi kami tidak pernah meninggal. Demi melindungi Toushiro, aku akan terus memakai topeng kebohongan ini meskipun akan dihantui oleh rasa bersalah ini sepanjang hidupku.

Melihat senyuman Ran-chan, tanpa aku sadari sebuah senyuman kecil tersungging di ujung bibirku, "Ya... Ran-chan?" tanyaku.

"Neh... neh... dengar Gin!" katanya dengan Ran-chan dengan mata berbinar-binar, "Saat aku pergi ke Junrinan, aku bertemu dengan seorang bocah mungil berambut putih bagaikan salju. Ia memiliki mata emerald terindah di Soul Society." kata Rangiku.

Mendengar penggambaran Ran-chan tentang bocah mungil itu membuatku merasa udara dalam paru-paru terasa terisap habis, 'Junrinan? Bocah mungil berambut putih dan bermata emerald? Apa mungkin...'

"Owh... begitukah?" kataku. Walaupun aku sangat terkejut, aku tidak boleh menunjukan hal itu kepada Ran-chan. Aku harus berhati-hati memilih kata agar ucapanku terdengar seakan-akan itu adalah hal biasa, "Siapa nama bocah mungil itu?" tanyaku hati-hati.

"Namanya Hitsugaya Toushiro. Aku merasa anak itu mirip denganmu, Gin!" jawab Ran-chan dengan wajah berseri-seri.

Jantungku berdegup kencang. Tetapi aku tidak tahu apakah jantungku berdegup kencang karena aku bahagia Ran-chan bisa bertemu dengan Toushiro, atau khawatir Ran-chan akan menyadari bocah mungil itu adalah bayinya yang aku sembunyikan. Di antara rasa bimbang itu, di lubuk hatiku yang terdalam aku merasa sangat bahagia mengetahui bayi mungil kami telah tumbuh dewasa dan baik-baik saja.

"Gin... melihat boah itu aku merasa seperti bertemu dengan bayiku yang telah tumbuh dewasa." kata Ran-chan sambil mengkaitkan jari-jarinya didepan dadanya. Tetapi, tiba-tiba wajahnya berubah menjadi sedih, "Tetapi hal itu tidak mungkin." Kata Ran-chan sambil tersenyum ironis, "Anak itu sudah meninggal ketika ia baru lahir."

Hatiku berbenyuh menyakitkan melihat wajah sedih Ran-chan. Saat ini aku ingin berteriak memberitahunya bahwa bocah mungil itu adalah bayi kita, putra yang aku sembunyikan keberadaannya. Tetapi demi Toushiro dan Rangiku, aku menahannya. Aku tidak boleh mengatakannya walaupun semenyakitkan apapun itu.

"Ran..."

Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin membuatnya melupakan kesedihannya. Tetapi lidahku kelu dan pikiranku kosong. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadanya.

"Ah... maafkan aku." Kata Ran-chan sambil mengusap air matanya.

"Apa kau tahu Gin, bocah mungil itu memiliki reiatsu yang luar biasa." Kata Rangiku lagi membuatku semakin yakin bahwa anak itu adalah putra kami, "Zanpakutonya sudah menghubunginya dan hampir membuat neneknya beku karena ia tidak bisa mengendalikan reiatsunya."

Ternyata, benar apa yang aku duga. Sejak ia berada dalam kandungan Rangiku, aku mengetahuinya bahwa putra kami akan memiliki reiatsu dan kemampuan yang luar biasa. Jika Aizen menemukannya, ia pasti menginginkan kekuatannya.

"Oleh karena itulah aku memintanya masuk ke akademi Shinou agar ia bisa belajar mengendalikan reiatsunya dan menjadi shinigami." Tambah Rangiku.

Mataku terbelalak horror, 'Tidak...! Toushiro tidak boleh menjadi shinigami. Ia tidak boleh datang ke Seireitei. Aizen tidak boleh melihatnya.' Teriakku panik dalam hati.

~H~

Hari-hariku adalah neraka bagiku. Ya... sampai kapanpun nerakaku tidak akan pernah berakhir selama Aizen Shousuke masih hidup.

Sudah dua bulan berlalu sejak penerimaan siswa baru akademi Shinou. Dari cerita yang dikatakan Ran-chan, Toushiro berhasil menjadi orang termuda yang berhasil masuk ke akademi.

Bagaikan menuang racun mematikan di atas luka yang terbuka, hari ini Aizen memutuskan untuk mengunjungi akademi shinou. Sejak langkah pertama yang ia injakkan di dalam akademi, aku merasa jantungku berdegup dengan kencang. Aku takut Aizen akan menemukan Toushiro di akademi. Setiap langkahnya bagaikan bom waktu yang akan meledak sewaktu-waktu bagiku.

"A... Aizen-taichou..." seorang gadis berambut coklat mendekati Aizen dengan malu-malu. Aku mengenali gadis itu. Kalau tidak salah nama gadis itu adalah Hinamori Momo. Ia adalah salah satu siswa yang aku dan Aizen selamatkan pasukan gillian yang tiba-tiba muncul saat pelatihan stimulasi perang kelasnya.

Sebenarnya, yang memanggil para gillian itu adalah Aizen sendiri. Ia sengaja memunculkan para gillian itu untuk mencari kandidat yang akan dijadikan tumbal rencana busuknya. Aizen berniat memanfaatkan gadis itu dan teman-temannya. Oleh karena itulah, hari ini Aizen sengaja datang ke akademi untuk membuat sosoknya dikagumi dan dihormati di mata mereka sehingga mereka mudah dipengaruhi dan dimanipulasi.

"Hinamori-kun." sapa Aizen sambil tersenyum lembut. Bagaikan anak kecil yang diberi permen, gadis itu nampak sangat senang. Ia sama sekali tidak curiga bahwa permen manis itu sebenarnya beracun dan sangat mematikan.

"A-Aizen-taichou... a-aku sangat senang anda mengunjungi akademi lagi." kata gadis itu gugup.

Melihat hal itu, dalam hati aku tertawa terbahak-bahak. Gadis itu benar-benar menghormati Aizen. Ia telah termakan mentah-mentah tipu muslihat Aizen. Ia tidak tahu bahwa orang di hadapannya adalah srigala bermuka dua yang jauh lebih berbisa dari pada ular dan lebih licik dari pada rubah.

"Ah... kau tidak perlu gugup seperti itu Hinamori-kun." Kata Aizen ramah, " Aku juga sangat senang bisa bertemu lagi denganmu."

Menjijikan... Aku muak melihat wajah dan senyum ramah palsu Aizen. Entah Sudah banyak orang yang tertipu oleh senyumannya itu. Entah sudah berapa banyak orang yang menghormatinya karena sifat yang ramah itu. Sudah banyak sekali orang yang terperangkap perangkap manis yang diberikan Aizen. Mengelikan... aku jadi tidak sabar melihat wajah orang-orang itu mengetahui wajah asli serigala berwajah dua itu.

Lalu akupun pergi meninggalkannya yang sedang bercakap-cakap bersama gadis itu.

berjalan di koridor, aku melihat sesuatu berwarna putih mencuat dari balik pohon. Karena penasaran, aku pun mendekatinya. Kemudian mataku terbelalak melihat seorang bocah kecil berambut putih tidur bersandar pada batang pohon. Ia tertidur sangat lelap hingga tidak menyadari kehadiranku.

'To-Toushiro!' hanya satu nama itu yang muncul di dalam kepalaku saat melihat rambut putih bocah itu. walaupun matanya tertutup, aku bisa tahu pasti warna mata di balik kelopak mata itu emerald. Bocah ini adalah putraku.

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Setelah sekian lama akhirnya aku bisa melihat putraku. Bayi mungil pink itu telah tumbuh menjadi sosok bocah yang begitu indah.

Begitu banyak perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata muncul hingga membuat dadaku sesak dengan perasaan yang begitu meluap-luap ini. Perasaan bahagia dan bangga menjadi seorang ayah bercampur menjadi satu. Disisi yang lain perasaan takut dan khawatir juga menguat.

Aku ingin memeluknya. Aku ingin menunjukan kepadanya kalau aku sangat menyanyanginya. Banyak hal yang ingin aku katakan kepadanya. Tetapi semua itu tidak bisa kulakukan. Selama Aizen masih hidup, aku tidak boleh mengatakan atau melakukan apapun yang membuat Aizen curiga kepadaku. Akhirnya aku hanya bisa diam beku di tempatku berdiri sambil memperhatikan sosok Toushiro yang tertidur.

Toushiro memegang buku di pangkuannya. Di sampingnya bertumpuk beberapa buku lain. Nampaknya ia datang ke tempat ini untuk belajar. Namun karena terlalu lelah, ia tertidur.

Aku tersenyum, secara fisik Toushiro yang hampir mirip denganku. Tetapi aku bisa melihat beberapa sisi dalam dirinya mirip dengan Rangiku. Dagunya yang runcing, sangat mirip dengan Rangiku. Kira-kira sifat siapakah yang ia miliki? Seperti dirikukah? Atau mungkin seperti Rangiku? Aku harap ia memiliki sifat baik hati Rangiku. Aku tidak ingin ia menjadi pembohong sepertiku. Tetapi dilihat dari rambut putihnya berdiri melawan gravitasi, mungkin dia adalah anak yang keras kepala dan berkemauan keras seperti Rangiku.

Bel pelajaran berbunyi...

Lalu secepat kilat aku bersunpo meninggalkan tempat itu.

Dari atas atap sebuah bangunan, aku melihat Toushiro membuka mata emeraldnya yang besar dan indah. Lalu dengan segera ia mengumpulkan barang-barangnya dan berlari menuju kelasnya.

Toushiro adalah sedikit cahaya kebahagiaan di tengah nerakaku.

Aku tidak sabar menantikan hari dimana aku, Toushiro dan Rangiku bisa berkumpul bersama menjadi sebuah keluarga kecil yang utuh dan bahagia. Demi hari itu, aku mengorbankan segalanya yang aku miliki...

Apapun yang aku miliki...

Demi hari itu...

~H~

Yosh... ini side story yang kusa sengaja ga masukin di For the Dearest karena khawatir terlalu panjang... akhirnya kusa mutusin untuk memasukan cerita ini ke kumpulan side story ini... =3

Ini pertama kalinya kusa menulis dari sudut orang pertama... XD

Kusa lebih suka nulis dari sudut orang ketiga, menurut kusa itu lebih gampang buat nulis

Yosh... walau For the Dearest udah tamat, masih akan ada side story yang lain...

Arigatou untuk para reader yang masih setia membaca fic ini... XD *nunduk-nunduk*

Mind to review?

-kusanagi-