Sebastian berdiri di belakang Hildegard, memandang pastor itu dengan matanya yang tajam. Tidak ada yang bisa dilakukan pastor itu selain tertunduk dan bergeming dari tatapan Sebastian yang seolah membekukan dirinya.

"Ma... maafkan saya," akhirnya Pastor Seymour bersuara. "saya tidak bermaksud mengagetkanmu."

Sebastian menghela napas. Ia pun tersenyum setelah sekian menit membuat Pastor itu serba salah. "Tidak apa-apa."

Hildegard tersenyum kecil melihat Pastor Seymour tersenyum sambil membetulkan posisi kacamata bundarnya.

"Paman dan Ciel masih belum pulang juga." Gumam Hildegard. Tidak ada yang menimpalinya. Bibir mungilnya mengerucut, mulai khawatir. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu kemana mereka pergi. Begitu pun Maxine yang sudah beberapa saat menghilang dan belum kembali.

"Oh iya," ujar Hildegard "maafkan saya, tetapi ada perlu apa anda repot-repot datang ke sini?"

Pastor Seymour menggaruk pipi dengan jari telunjuknya. "Um, tidak apa-apa. Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja. Selain itu, ada hal yang harus kubicarakan dengan pamanmu."

Sebastian menatap tajam wajah lembut Pastor Seymour. Entah kenapa ada sesuatu dari diri Pastor muda itu yang harus diwaspadai oleh dirinya.

Deritan pintu yang terbuka mengalihkan perhatian ketiga orang di tengah itu. Tuan Higgins dan Ciel muncul dengan wajah lelah yang putus asa.

Mata Tuan Higgins terbuka lebar begitu melihat keponakannya duduk di atas sofa, baik-baik saja.

"Hildie? Kau sudah baikan?" Tanya Tuan Higgins

Hildegard tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya perlahan.

Tuan Higgins yang masih berdiri di ambang pintu menatap Pastor Seymour yang, masih dengan kikuknya, duduk di atas sofa sambil memainkan jari-jemarinya yang, membuat Sebastian aneh, terlihat lebih kasar dan kuat dibanding dengan sifatnya yang polos. Tuan Higgins berjalan menuju Pastor, lalu duduk di sampingnya.

"Semarah itu kah kau padaku, sehingga kau tidak ingin menoleh sedikit pun pada orang yang kau anggap kakakmu ini, huh?" Tuan Higgins merangkul Pastor Seymour yang malang, yang terkejut saat sentuhan hangat Tuan Higgins mendarat di pundaknya.

Pastor Seymour membetulkan kaca matanya. "Sudah kubilang lupakan masalah itu. Justru aku kesini untuk berbicara denganmu."

Melihat keakraban Tuan Higgins dan Pastor menyedihkan itu, Ciel memutar haluannya, berjalan ke luar meninggalkan semua orang di dalam. Tidak ada yang menghiraukannya, kecuali Hildegard yang kemudian beranjak untuk menyusulnya.

"Ciel?"

Ciel tak sedikit pun menoleh ke arah Hildegard yang berjalan menyusulnya. Ia hanya memandang langit London yang kala itu cerah tanpa sedikit pun awan hitam sisa semalam. Angin yang berhembus cukup kencang untuk menyibakkan rambutnya yang halus, dan tentunya menerbangkan dedaunan yang terjatuh dari pohonnya.

"Ciel? Apa yang terjadi? Kau habis dari mana?"

"Hildegard," ujar Ciel, akhirnya bersuara. "apa kau sering datang ke St. Paul's church?"

Hildegard mengangguk perlahan dengan wajah kebingungan."Iya. Memangnya kenapa?"

"Tidak. Hanya saja, aku tidak suka suasana di sekitarnya."

Hildegard tersenyum, lalu, di tengah angin yang berhembus kencang, ia mendekati Ciel yang berdiri membelakanginya, mengenggam tangannya dengan lembut, berusaha sedekat mungkin membuat bocah dingin yang akhir-akhir ini selalu bersua dengannya merasakan kehangatannya. "Kau akan menyukainya saat kau masuk ke dalamnya."

Ciel mendengus. Gadis itu jelas tidak tahu maksudnya yang sebenarnya. Segera, ia menepis genggaman Hildegard, dan membuatnya kecewa. "Sudahlah. Jangan pikirkan itu."

Keheningan mulai memuncak tatkala angin berhembus semakin kencang, dan awan hitam mulai berarak dari arah Timur. Hildegard meminta Ciel untuk masuk, namun Ciel tidak mendengarnya.

"Hildegard," Ciel berbalik, dan menatap Hildegard lebih dalam. "Apa kau sangat terluka dengan kejadian yang telah menimpa keluargamu?"

Hildegard menundukkan kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia berpikir, Ciel memang tidak salah, tetapi hatinya merasa sakit ketika Ciel melontarkan pertanyaan itu.

"Tanpa anda bertanya pun, bukankah anda sudah tahu jawabannya?"

Ciel dan Hildegard tertegun. Suara itu muncul secara tiba-tiba dari arah pintu rumah keluarga Higgins yang berada tepat di belakang Hildegard. Sebastian terlihat berdiri di depan pintu, menatap Ciel dengan tatapan yang tajam.

Hildegard, secara refleks, berbalik. "Tuan Sebastian?"

Sebastian melangkah menuju kedua orang yang berdiri sekitar tiga meter di depannya. "Apa anda pikir karena Nona Hildegard masih mempunyai tempat yang dipenuhi oleh kehangatan dan cahaya, ia tidak merasa terluka? Seharusnya anda bisa memahaminya dengan sangat baik."

"Tu... Tuan Sebastian? Apa yang kau..."

"Karena anda juga pernah merasakannya, kan? Anda juga pernah mengalami peristiwa mengerikan itu, kan?"

Ciel melangkah dengam cepat sebanyak tiga langkah. Ia angkat tangan kanannya, dan meluncurkan sebuah tamparan keras menuju pipi Sebastian. Namun, sebelum tamparan itu mendarat, terdengar suara tembakan yang begitu memekakkan telinga. Sebuah timah panas mendarat tepat di bawah kaki Ciel. Ketiga orang itu, tentu, sangat terkejut. Hildegard yang ketakutan sontak berteriak dengan kencang.

"Si... siapa itu?" Tanya Ciel geram.

Sebuah tembakan kembali meluncur dengan dahi Hildegard sebagai sasarannya. Secepat kilat, Sebastian menarik Ciel ke sebalik tubuh gagahnya, dan segera merangkul Hildegard ke dalam pelukannya. Alhasil, peluru yang meleset itu memecahkan sebuah pot berisi bunga mawar merah yang berdiri di depan jendela rumah keluarga Higgins.

"Siapa itu?" Teriak Sebastian.

Ciel yang bersembunyi di balik tubuh Sebastian melihat sekelebat bayangan hitam dari balik gedung tinggi yang berdiri sekitar limabelas meter di seberang jalan. Namun, beberapa saat kemudian, bayangan hitam itu pun menghilang.

Hildegard, dalam dekapan Sebastian, getaran dan sangat ketakutan. Tak sedikit pun ia berani membuka matanya.

"Nona, sekarang sudah aman. Tidak ada yang perlu anda takutkan lagi." Ucap Sebastian lembut.

Hildegard yang ketakutan mencengkram lengan jas yang mendekapnya itu dengan kuat, seolah tidak mau jika Sebastian melepaskannya.

"Tidak... Aku melihatnya... Iblis itu... Iblis mengerikan itu telah kembali!"

To be Continued...