Seijuurou menatap datar para anggota lapis pertama yang tengah beristirahat. Pikirannya kacau, enggan terfokus pada kegiatan latihan sore itu. Sejak tadi yang ia lakukan hanyalah mencari … mencari … dan mencari. Namun sosok itu tetap tak kunjung ia temui.

Di manakah gerangan? Kenapa ia sangat gusar? Kenapa ia masih tetap mencari? Bukankah penjelasan Daiki harusnya telah dapat membungkam rasa resah gelisah yang menimpanya sejak kemarin? Bukankah Daiki telah menjelaskan jika sang bayangan tengah mengunjungi orang tuanya selama beberapa hari? Lalu kenapa? Kenapa lagi sekarang? Kenapa rasa khawatirnya enggan mereda?

.

.

Ya.

Hanya ada satu hal yang sejak tadi menyita perhatiannya.

Ketidakhadiran sosok biru muda di tengah lapangan.

.

.

I'll Call Out Your Name

Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi

Saya hanya memiliki plot ini saja

Warning: OOC, Typo (s), Nubi, Plot hole, Alur maksa, dan sebagainya

Genre: Family, Friendship, Brothership, Hurt-Comfort, Semi-canon

Selamat membaca~

CHAPTER 9 Duo Kelabu

.

.

Nijimura menatap sosok mungil yang masih tertidur lelap. Ini hari keduanya merawat Tetsuya, namun belum ada tanda-tanda si bungsu Akashi akan membuka matanya lagi. Apa kondisi sepupu mungilnya itu memang selemah ini? Bagaimana mungkin sampai saat ini Tetsuya belum juga terjaga? Padahal sebelum dipindahkan ke apartemen ini Tetsuya sempat sadar dan mampu membuat Masaomi mengurungkan niatnya untuk ke Tokyo di malam itu juga. Apa yang salah?

Sepasang langkah kaki terdengar mendekat. Nijimura melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebelah alisnya terangkat. Heran dengan kepulangan sang pemilik apartemen yang dirasa lebih cepat dari biasanya.

"Pukul 17.00? Apa Seijuurou mendadak kerasukan Seraphim?" gumam Nijimura tepat saat helaian hijau menyembul dari balik pintu.

"Tidakkah cukup satu malaikat saja yang berbaik hati merasukinya hingga senpai harus membawa serta banyak malaikat nanodayo?"

Nijimura mengangkat bahu. "Mungkin." Sepasang onyx-nya kembali tertuju pada sosok Tetsuya nan damai. "Apa terjadi sesuatu?"

Midorima tampak telah duduk menyamankan diri di sofa yang terletak di sudut ruangan. Kacamata ber-frame hitam yang selalu menghiasi sepasang zamrudnya ia lepas. "Akashi tampak sangat frustasi. Sepertinya ia memikirkan Tetsuya." Tangan kanannya mulai memijat-mijat pangkal hidung. Berusaha mengenyahkan rasa pusing yang kini tengah menderanya.

"Sejelas itukah?" Sebelah alis Nijimura terangkat. "Sayang sekali aku tak bisa menyaksikan wajah gusarnya," ucap Nijimura dengan nada kecewa. "Kurasa firasatnya sebagai seorang kakak sangat tajam?!"

"Aku tidak memungkiri itu. Ia sangat menyayangi Tetsuya." Sebuah senyum tulus tersungging dari bibir Midorima. "Dan jangan lupa dengan intuisinya sebagai seorang Akashi."

"Itu membuat kita harus lebih berhati-hati." Nijimura mengangguk setuju. "Lalu, apa ada perkembangan tentang racun itu?"

Raut wajah Midorima mengeras. "Racun itu memang berasal dari air mineral milik Akashi." Midorima kembali memakai kacamatanya. "Ayah baru saja memberi tahuku sore ini."

Sepasang onyx itu menyipit curiga. "Apa itu mereka?"

Midorima bergidik.

Percayalah! Ditatap sedemikian intens oleh seorang Nijimura dapat membuatmu salah tingkah dan mengalami panas dingin mendadak.

Midorima berdeham. Mengembalikan kepercayaan dirinya yang sempat hilang diterjang pasang. "Jika itu memang mereka, kita harus segera mengetahui bagaimana cara mereka memasukkan racun itu ke dalam air mineral Akashi."

"Paman Masaomi sudah memulai penyelidikan." Timpal Nijimura cepat.

"Lalu, apa senpai sudah mendapat keterangan dari Haizaki?"

"Yang jelas, dia telah mendapatkan hukuman yang pantas."

Kedua Onyx Nijimura berkilat mengerikan. Seringai bengis tersungging apik dari bibir tipisnya. Mungkin rumor tentang moyang Akashi yang menyembah setan itu benar adanya. Karena kini Midorima dapat melihat sepasang tanduk menyembul dari surai kelam Nijimura. Oh! Jangan lupakan sebuah trisula yang ada di dalam genggamannya.

"Sei-nii~"

Dua pasang manik berbeda warna membulat. Suara lembut dan tak asing membuat jantung mereka seakan berhenti berdetak.

Tersadar lebih cepat, Nijimura bergegas mengalihkan atensinya pada sosok Tetsuya yang masih terbaring di ranjang.

"Tetsuya, kau mendengarku?" Bariton itu terdengar bergetar akibat luapan rasa senang dan khawatir yang bercampur jadi satu.

Pantang menyerah, Nijimura kembali berbicara pada sosok sang sepupu.

"Tetsuya ini aku, Shuuzou." Kedua tangan Nijimura kini telah menggenggam erat sebelah tangan Tetsuya. Bermaksud menyalurkan kehangatan serta kekuatan untuk adik yang sangat dicintainya.

Midorima memacu langkah. Kini ia berdiri di hadapan Nijimura yang masih sibuk berbicara pada Tetsuya.

"Tetsuya, kau bisa mendengar kami?" Midorima membisikkan kalimat itu tepat di telinga Tetsuya, sedangkan sebelah tangannya sibuk mengusap kepala remaja mungil tesebut dengan lembut.

"Sei-nii~"

"Jarinya bergerak!"

"Tetsuya?!" teriak Nijimura dan Midorima serentak.

Sepasang azure terbuka sedikit demi sedikit. Kemilau saat tertimpa cahaya neon yang menerangi penjuru kamar. Heran dengan apa yang ia lihat, suara itu kembali mengalun ragu.

"Shuu—zou-nii?"

Alunan kata itu terdengar sangat lemah, namun masih dapat ditangkap oleh kedua remaja yang berada di sisinya.

"… di … ma … n-na?"

Tetsuya memandang sayu Nijimura. Raut lelah masih terpancar jelas dari wajahnya yang pucat.

"Ssstt." Nijimura membungkam bibir Tetsuya dengan jari telunjuknya.

"Berhenti bertanya. Beristirahatlah, Tetsuya. Kau memerlukannya. Aku akan mengabarkan ini pada yang lain." Nijimura bergegas keluar kamar. Langkah tegapnya lambat laun kian menjauh hingga tak terdengar lagi.

"Kau berada di apartemenku, Tetsuya. Jika kau ingin tahu." Midorima membuka pembicaraan. Remaja bersurai zamrud itu kini terlihat sibuk mengetik pesan pada ponselnya.

"A-pa yang ter-ja-di, Shin-tarou-nii?"

"Sesuatu telah terjadi, tapi semua baik-baik saja. Tak ada yang perlu kau khawatirkan," ucap Midorima menenangkan. Ponsel digenggaman telah kembali ia masukkan ke saku celana. Tangan bebasnya kini kembali mengusap lembut helaian langit Tetsuya.

"Kau akan baik-baik saja. Aku berjanji."

Tetsuya tersenyum seiring pandangannya yang mengabur. Tubuhnya lelah luar biasa. Ditambah lagi dengan sakit kepala yang mulai menderanya. Entah apa yang telah terjadi, tapi yang ia inginkan kini hanyalah kembali tidur dalam buaian mimpi.

… hingga kemudian kegelapan kembali memeluk tubuh ringkihnya dalam sunyi.

^0^

Nijimura memacu langkah. Smartphone di tangan ia genggam erat. Setelah sampai pada tempat yang dituju, sebuah panggilan ia lakukan dengan terburu-buru.

Sebuah nada tunggu mengalun lirih.

Agak lama ia menunggu dengan detak jantung yang kian memburu. Gugup? Tentu saja?! Sudah cukup lama mereka tak berbicara dan hanya berhubungan melalui aplikasi chatting-an. Bukan karena apa-apa. Hanya saja terlalu beresiko bagi mereka untuk berbicara secara langsung karena Seijuurou dapat muncul kapan pun dan di mana pun seperti hantu. Selain itu seseorang dapat saja mencuri dengar tentang pembicaraan mereka.

"Sial! Kenapa ia tak mengangkat?!" Nijimura mendecih. Kesal dengan ulah seseorang yang kini entah sedang berada di mana.

"Sudah lama ingin kukatakan, aku tak pernah menyukai ide ini!"

Nijimura terhenyak di sofa. Pikirannya menerawang jauh. Mengingat kilasan-kilasan masa lalu dan hal-hal buruk yang telah terjadi di keluarga mereka. Bagaimana sebuah percikan api mampu membumi hanguskan segala kebahagiaan yang selama ini mereka rasakan. Bagaimana seorang ayah harus rela berpisah dengan anaknya. Bagaimana seorang saudara harus dipisahkan dari saudara lainnya. Bagaimana keluarganya harus tercerai berai dan berpura-pura tak mengenal satu sama lain agar dapat saling menjaga.

Nijimura mengulum senyum getir. Hatinya perih tatkala mengingat kenangan saat mereka masih bisa bersama-sama. Berebut ingin mengelus pipi gembil dan mengusap rambut Tetsuya. Bertengkar tentang siapa yang berhak tidur di samping Tetsuya. Mengganggu si bungsu Akashi itu hingga menangis. Lalu bibi Shiori akan datang bersama sekotak eskrim vanilla kesukaan Tetsuya dan membuat bocah mungil itu kembali tersenyum lebar.

Dering smartphone memecah lamunan Nijimura.

Sebelah alisnya terangkat. "Seijuurou?"

'Shuuzou? Kau di mana?'

Nijimura mengernyit. Apa lagi sekarang?

"Ada apa Seijuurou? Kau terdengar gelisah?! Aku baru meninggalkan kau sehari, jika aku tak salah ingat." Nijimura berusaha mengalihkan topik pembicaraan secepat mungkin sebelum Seijuurou bertanya lebih lanjut.

'Entahlah. Aku tidak tahu. Tapi sesuatu membuatku gelisah.'

"Sesuatu?" Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis Nijimura. Entah ia harus bersyukur atas ketajaman insting sang sepupu atau harus merutuki kemampuannya itu.

'Tetsuya tidak masuk sekolah selama dua hari.' Suara Seijuurou mengeras. Jelas sudah apa yang sedang memenuhi pikiran Seijuurou kini.

Menghela napas, Nijimura berusaha tenang. "Lalu?"

'Tidak. Lupakan. Maaf telah mengganggumu. Aku tutup teleponnya.'

Nijimura termangu. Belum pernah Seijuurou bersikap seperti ini sebelumnya. Seijuurou jelas-jelas sangat mengkhawatirkan Tetsuya.

"Senpai, apa yang terjadi?" Suara Midorima menginterupsi. Remaja bersurai hijau itu tampak heran melihat Nijimura terdiam begitu lama dengan ponsel masih berada di telinga.

Tersadar, Nijimura berdeham dan segera memindahkan posisi smartphone-nya.

"Seijuurou meneleponku. Ia terdengar kacau."

"…" Seperti yang kukatakan.

"… dan sejak tadi aku berusaha menghubungi Chihiro. Tapi dia sama sekali tak menjawab!"

"…"

Pelipis Nijimura berkedut. "Dan kenapa kau hanya diam? Bagaimana keadaan Tetsuya?"

Nijimura nyaris membanting smartphone-nya jika saja ia tak ingat ajaran orangtuanya agar tidak melampiaskan amarah pada benda-benda tak bersalah.

"Tetsuya kembali tertidur. Takao-san akan kemari sebentar lagi untuk memeriksa kondisi Tetsuya," jelas Midorima sambil membenarkan letak kacamatanya guna menyembunyikan rasa gugup.

Nijimura terhenyak. "Jika sesuatu terjadi lagi, aku akan gila!"

Jangan salahkan Nijimura. Siapa saja pasti akan gila jika berada dalam situasi yang kini dialaminya.

"Aku hanya ingin semua kembali seperti dulu!" Nijimura bergumam lirih. Sepasang tangannya menangkup wajah. Berusaha kembali tenang dan mengenyahkan semua emosi negatif yang tadi sempat merasuki. Mencoba menata hati dan menyatukan pikirannya yang tadi sempat tercerai berai.

Setelah merasa tenang, sepasang onyx itu mulai menatap serius. Smartphone yang sempat terabaikan kini menjadi pusat atensi. Sebuah panggilan kembali ia lakukan tanpa henti, hingga sebuah suara di seberang sana menjawab dengan nada penuh intimidasi.

'Sekali lagi kau meneleponku, akan kusetrika bibir monyongmu!'

Tut tut tut

Nijimura itu tsuyoi! Berkali-kali menelepon dan direject saja Nijimura sabar. Apalagi hanya menelepon lalu kena semprot.

"Pff …."

"Midorima. Berhenti menertawaiku!"

^0^

Sebuah seringai mengerikan menghiasi bibir semerah cherry. Tak pernah ia merasa sesenang ini. Walaupun rencananya gagal, tapi ia mendapat hiburan lain dengan melihat bagaimana seorang Akashi Seijuurou gusar. Sulung Akashi itu takkan pernah bisa menampilkan raut wajah seperti itu jika bukan karena adiknya seorang.

Ya, adik yang sama sekali tak dikenalinya.

Sebuah kekehan mengalun merdu. Ia merasa kejam karena harus membuat Tetsuya meminum air mineral itu. Namun apa boleh buat? Realita tak semulus pengharapan. Terkadang improvisasi sangat diperlukan. Siapa suruh Seijuurou ceroboh dan membawa air mineral yang salah? Lihatlah kini, adik tersayangnyalah yang harus menderita.

Sampai kapan kau akan selalu dilindungi oleh adik kecilmu. A-ka-shi-kun~

"Satsuki! Apa yang kau pikirkan? Kenapa sejak tadi tersenyum mesum?"

Momoi tersentak. Dirinya lupa jika sedang dalam perjalanan pulang bersama Aomine. "Dai-chan! Jangan mengatai dirimu sendiri! Apa kau tak merasa malu?" ujar Momoi sambil tertawa mengejek.

"Kau! Jika saja kau bukan sahabatku sejak kecil."

Terkekeh, Momoi kembali mengganggu Aomine. "Apa? Kau akan memukulku? Ahomine-kun~"

"Aomine. Bukan Ahomine! Sebut nama orang lain dengan benar, Satsuki!" Pelipis Aomine berkedut. Ejekan Momoi membuat rasa kesalnya semakin memuncak.

"Dai-chan? Kau tidak apa?" tanya Momoi dengan raut wajah cemas.

"Aku memikirkan Tetsu." Aomine menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung dengan apa yang ia rasakan.

"Bukankah Tetsu-kun sedang mengunjungi orangtuanya?" tanya Momoi dengan raut heran. "Apa kau begitu mengkhawatirkan bayanganmu itu? Oh Dai-chan manis sekali~"

"Berhenti menggodaku, Satsuki!"

"Ha'i~ Ha'i~"

"Kau tahu? Aku hanya—"

"Tetsu-kun baik-baik saja, Dai-chan! Kau hanya terlalu posesif." Dia takkan mati. Sungguh!

"Dia sahabatku, Satsuki. Sahabat pertamaku." Langkah Aomine terhenti. Pandangannya kini tertuju pada langit malam tak berbintang. Aku tahu ada yang tidak beres.

"Begitu pula aku. Aku sahabatmu. Se-jak ke-cil!" Suara Momoi menarik kembali atensi Aomine.

"Kau berbeda, tak masuk hitungan," ucap Aomine sambil mengorek telinganya malas. "Dan lagi, apa kau tak merasa ada yang salah dengan Akashi?"

"Akashi-kun? Memang dia kenapa?" Tentu saja, dia kalut memikirkan adiknya tersayang.

"Dia seperti sedang banyak pikiran? Entahlah. Hanya saja dia terlalu baik akhir-akhir ini. Itu membuatku ngeri." Aomine menggedikkan bahunya acuh lantas mendelik saat mendengar tawa Momoi nan membahana.

"Apa kau merindukan latihan neraka Akashi-kun?" Lihatlah bagaimana tajam nalurinya sebagai seorang kakak.

"Tidak. Bukan be—"

"Baiklah. Besok aku akan meminta Akashi-kun untuk menambah porsi latihanmu!" ucap Momoi sambil berlari meninggalkan Aomine.

"Hoi! Satsuki. Jangan lari kau! Awas saja jika kau sampai mengatakannya pada Akashi!"

"Aku takkan mengatakannya Dai-chan~" teriak Momoi sambil berbelok memasuki gang yang menuju rumahnya dan meninggalkan Aomine yang masih harus berjalan sampai gang berikutnya.

"Aku takkan mengatakannya Dai-chan." Momoi memperlambat langkahnya.

"Aku takkan mengatakan apapun."

Langkah gadis bersurai sewarna sakura itu terhenti di depan sebuah rumah minimalis bergaya modern. Rumah itu tampak indah dengan desain yang sederhana. Terkesan hangat dan bersahabat seperti rumah-rumah keluarga lainnya.

Raut wajah Momoi mengeras saat memasuki gerbang. Kilat kebencian terpancar jelas dari binar bola matanya. Kedua tangannya terkepal erat demi menahan amarah yang tiba-tiba membuncah. Sakit itu teramat nyata. Sampai kapan pun ia takkan pernah lupa.

"Aku takkan mengatakan apapun. Bahkan tentang keluargaku."

^0^

Iris kelabu menatap nyalang setumpuk berkas yang tergeletak lesu di atas meja kerja. Baru saja ia pulang dari kegiatan sekolah. Bukannya disambut oleh suara hangat kepala pelayan yang biasa menjaganya, namun seonggok laporan nan menjemukanlah yang menyambut dirinya. Apakah harinya tidak bisa lebih buruk dari ini?!

"Aida-san mengantarkan berkas-berkas itu siang tadi, tuan muda." Seorang pelayan berwajah ramah memasuki ruang kerja dengan membawakan segelas kopi dan sedikit cemilan. Tahu jika tuan mudanya akan bergadang sampai malam.

"Aida-san?" Pemuda berumur 17 tahun itu mengangkat sebelah alisnya. "Apa dia mengatakan sesuatu?"

"Semua yang anda butuhkan telah tertulis pada notes yang terdapat di dalam map berwarna merah." Pelayan itu—Watanabe Yoichirou—kini tampak sibuk meletakkan kopi dan cemilan yang tadi ia bawa di atas meja.

"Jika tuan muda tidak memerlukan apa-apa lagi, saya mohon diri." Watanabe berjalan menjauh lalu menutup pintu ruang kerja dengan lembut. Meninggalkan seorang pemuda bersurai kelabu nan kelelahan seorang diri.

Tangan kokoh tampak cekatan membolak balik berkas di atas meja. Sebuah notes dalam map merah kini menjadi pusat perhatiannya. Mayuzumi Chihiro nama pemuda itu, manik kelabunya memindai kata demi kata dengan saksama.

Setelah beberapa lama, Mayuzumi tersenyum miring. Ia tak pernah sesenang ini. Semua kini menjadi lebih masuk akal.

"Nah sayang. Kau takkan bisa lari dariku."

Dering smartphone menginvasi ruang sunyi. Sepasang manik kelabu mendelik sebal saat menemukan nama penelepon yang menginterupsi kegiatannya.

—lalu menyadari banyaknya panggilan tak terjawab yang ada pada benda pipih itu.

"Ada apa, Shougo? Kau suka hadiahmu?" Sebuah senyum mengejek tersungging dari belah bibir. Mungkin ini tak terlalu buruk?!

'Terima kasih. Jika itu yang ingin kau dengar dariku.'

"Apa terjadi sesuatu? Apa dia curiga?"

'Tidak. Semua aman terkendali. Aku yakin Shuuzou telah menanganinya.'

Mayuzumi memijit pilipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Aku ingin kau terus mengawasi apa yang terjadi di sana, khususnya anggota timmu. Kita akan segera menemukan tikus itu."

'Kau bisa mengandalkanku.'

"Tidak ada yang boleh tahu."

Kekehan riang meluncur mulus dari seberang sana. 'Seandainya kau bisa melihat bagaimana kacaunya dia.'

"Tutup mulutmu Shougo." Mayuzumi geram. Tingkah kurang ajar remaja di seberang sana sungguh membuatnya sakit kepala.

'Ya ya baiklah.'

Suara Mayuzumi menajam. "Ada lagi yang ingin kau sampaikan?"

'Tidak aniki.'

Mayuzumi menghela napas. "Baiklah. Aku punya satu tugas lagi untukmu. Ini tentang Kise Ryouta."

'Anak ayam pirang itu? Tak masalah.'

"Awasi dia. Jangan ada kesalahan lagi. Dia dapat membuat semua menjadi lebih rumit. Anak itu sudah terlalu banyak tahu."

'Aku mengerti. Aku akan mengurusnya. Bajingan itu memang perlu diberi pelajaran.'

"Jaga bicaramu Shougo." Suara Mayuzumi meninggi. Bermaksud mengingatkan sopan santun pada lawan bicaranya. Pemuda bertemperamen tenang itu heran akan kosa kata sang adik yang lebih mirip preman pasar dibandingkan seorang remaja berpendidikan. Apakah adiknya salah didikan? Tentu saja tidak! Ibu mereka selalu mengajari mereka tentang pentingnya tatakrama sejak kecil.

'Ha'i~ Ha'i~' Haizaki menjawab Mayuzumi dengan nada bosan.

Menyerah karena lelah, Mayuzumi memilih untuk segera mengakhiri percakapannya. "Aku akan menghubungi jika perlu sesuatu. Mulai saat ini kita harus lebih waspada. Kau mengerti?"

'Aku mengerti.'

Sambungan terputus. Sesungguhnya ada satu orang lagi yang harus ia hubungi. Tapi tidak malam ini. Dirinya terlalu lelah dengan berbagai fakta yang baru saja ia temukan.

Mayuzumi berdecak. Pemuda itu kini berjalan mendekat ke sebuah jendela besar. Jendela tersebut menghadap ke sebuah halaman luas yang kini diterangi cahaya temaran lampu taman. Langit malam kota Kyoto kali ini sungguh indah. Mayuzumi dapat melihat dengan jelas semburat purnama dari balik gumpahan awan. Udara kota Kyoto juga begitu sejuk hingga Mayuzumi dapat meresakan sepoi angin membelai surai kelabunya.

—hingga sebuah dering smartphone kembali mengganggunya.

"Siapa lagi ini?! Tidak bisakah aku menikmati waktuku sebentar saja?" tanya Mayuzumi frustasi saat mengambil smartphone silver yang berada di saku celananya.

Alisnya berkedut. Mayuzumi siap untuk mengeluarkan amukan iblisnya.

The another brat!

Hela napas diembus kasar. Smartphone keluaran terbaru itu siap kembali menyambangi telinga sang pemuda.

"Sekali lagi kau meneleponku, akan kusetrika bibir monyongmu!"

^0^

Haizaki mengerang. Pembicaraannya dengan Mayuzumi tadi tak pelak membuat dirinya kesal. Bisa-bisanya Mayuzumi tega melakukan hal demikian kepada adik satu-satunya? Entah apa yang orangtuanya akan katakan. Perbuatan Mayuzumi ini sudah masuk dalam kategori penyiksaan dan penelantaran. Atau mungkin kekerasan dalam rumah tangga? Bagaimana bisa Mayuzumi memblokir seluruh kartu kreditnya dan hanya menyisakan beberapa ratus ribu yen untuk biaya hidupnya selama tiga bulan?

Hela napas diembus kasar. Haizaki sudah siap kembali membanting smartphone-nya jika saja ia tidak ingat bahwa smartphone itu baru ia beli kemarin malam. Dan, sang kakak tidak akan berbaik hati memberi ia uang lebih untuk membeli smartphone baru lagi. Jadi, haruskah ia mengadu pada orangtuanya? Tentu saja tidak. Ibu dan ayahnya jelas akan lebih mendukung Mayuzumi dibanding dirinya.

"Apa aku ini anak pungut?" teriak Haizaki sambil menjambak rambutnya frustasi.

Tak ingin berdiam diri. Sebuah laptop yang tergeletak di meja belajar ia raih. Ada satu hal yang mengganjal pikirannya sejak kemarin. Tetapi akibat ulah dua orang beraura iblis, dirinya gagal fokus dan melupakan hal penting. "Aku yakin, pasti si monyong yang membuat aniki meblokir kartu kreditku!" gumam Haizaki seraya berselancar di dunia maya.

"Lalu sekarang ia sedang menertawakan nasibku. Aku juga bertaruh, ia yang mengadukan semua prilaku burukku. Keparat kau monyong!" gerutu Haizaki dengan jemari yang masih sibuk menari di depan laptop.

"Aku harus menemukan sesuatu. Hal itu akan mengembalikan kartu kreditku."

Waktu berlalu. Seakan tak kenal lelah, pemuda berwajah sangar itu masih sibuk mengumpat ini itu. Dirinya kesal, amat sangat kesal. Kenapa hanya ia yang dipersalahkan? Apa dirinya ini tak lebih dari seorang pesuruh di mata sang kakak? Apakah sang kakak menyangka dirinya hanya bermain-main? Apa mereka menyalah artikan wajahnya yang lebih mirip preman hingga memasukkannya ke dalam kelompok para berandalan? Kemudian orang-orang mulai melihat dirinya dengan tatapan takut dan ingin pipis di celana. Tak ada yang mempercayai dirinya. Tak ada yang percaya bahwa ia bisa melakukan hal dengan benar. Padahal ia sama sekali tak pernah berbuat kejahatan yang merugikan. Paling hanya bolos sekolah dan main ke game online untuk melepas penat. Apa itu salah?

Haizaki berdecak sebal. Suara jari bertubrukan dengan keyboard laptop makin terdengar nyaring. Masih untung laptopnya tidak dibanting. Namun begitu, kedua manik kelabunya tampak sangat fokus memindai tiap informasi yang berhasil ia temukan. Setiap laman dan artikel ia sambangi tanpa henti. Bahkan deep web tak luput dari jajahan jemari cekatannya yang terampil.

—hingga suatu artikel menarik atensinya.

"Bingo!"

Artikel itu membawanya pada laman milik suatu perusahaan yang tak asing. Perlahan, ia menuntun kursor mouse untuk membuka tautan demi tautan. Kedua manik kelabu membulat dalam keterkejutan saat ia berhasil masuk pada file yang dituju. Keringat dingin mulai mengalir dari pelipis Haizaki. Lidahnya kelu, tak mampu mengumpat walau satu katapun.

"Tidak, ini tidak mungkin. Ini pasti salah."

Haizaki kembali teringat akan kilasan peristiwa yang baru terjadi dua hari lalu. "Dia. Air itu."

Haizaki tergesa. Laptop dipangkuan segera ia singkirkan. Langkah tegapnya berlari untuk menyambar kunci motor dan jaket yang tergantung di belakang pintu.

"Mereka harus segera diberi tahu. Itu bukan mereka. Kita telah masuk ke dalam perangkap!"

TBC

Terima kasih bagi yang masih menunggu cerita ini. Maaf karena butuh waktu yg lama untuk kembali lanjut, karena mager menginvasi tiada henti. Soalnya inspirasi mandek #halah

Akhirnya Mayuyu muncul. #sujudsyukur

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~