Last chapter preview

"Syukurlah.. Kalau begitu kau istirahatlah. Nyerinya sudah mulai kurasakan sekarang."

"hm. Segeralah ke rumah sakit."

Baekhyun segera mematikan sambungan telepon itu, Ia tidak mau merasa semakin bersalah saat mendengar perubahan pada suara Chanyeol karena menahan sakit. Baekhyun mengambil nafas dalam, merasakan nyeri di kakinya yang perlahan menghilang.

Baekhyun mulai merasakan hubungan antara dirinya dan Canyeol mulai berubah karena beberapa kejadian yang Ia alami beberapa bulan terakhir. Entahlah mungkin karena Ia merasa bersalah karena Chanyeol harus merasakan sakit yang seharusnya Ia tanggung atau perasaan lain yang mungkin mulai tumbuh di hatinya. Baekhyun sendiri mungkin akan berfikir pada kemungkinan pertama.

Kau tahu, beban berat akan terasa ringan jika dihadapi bersama.


.

.

Fate IX

.

.

08.00 a.m.

Di sebuah ruang kelas seorang dosen tengah menerangkan sejarah pemerintahan Korea Selatan yang dibantu dengan visualisasi gambar – gambar berwarna sepia dan hitam putih. Semua peserta perkuliahan di kelas itu nampak memperhatikan dengan seksama, beberapa ada yang mencatat dan ada pula yang merekamnya menggunakan handphon. Namun di salah satu bangku, seorang lelaki terlihat tengah memainkan bolpoinya, buku catatanya masih bersih tanpa noda. Tubuhnya memang berada di dalam ruangan itu, namun dari pandangan matanya terlihat bahwa pikiran lelaki itu tidak sedang di sana. Beberapa kali Ia terlihat menghela napas berat menandakan bahwa ada beban yang sedang ia tanggung.

"Hei, kau tidak mencatat Yeol?" tiba – tiba sebuah suara menginterupsinya.

"Hm? Haha iya aku sedang banyak pikiran." Jawabanya hanya dibalas dengan senyum maklum dari lawan bicaranya.

Ya, lelaki itu adalah Park Chanyeol. Sejak tadi pagi ia telah merasakan kekhawatiran yang tidak ada ujungnya. Pikiranya berputar pada kejadian – kejadian yang Ia alami beberapa hari terakhir. Tubuhnya tiba – tiba saja mendapatkan lebam – lebam tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya Ia sudah tahu dari mana asal lebam – lebam itu. Tetapi Ia belum sempat menanyakanya pada orang yang bersangkutan. Entah mengapa ada saja alasan yang menghalanginya, entah itu kesibukanya sendiri atau nomor yang tidak bisa dihubungi. Sepertinya orang itu masih merasa bersalah atas kejadian tiga minggu yang lalu. Sebenarnya Chanyeol tidak begitu menyalahkanya, karena semuanya memang sudah ditakdirkan seperti itu, Chanyeol sangat paham itu. Bahkan sebenarnya Ia sempat menyalahkan dirinya karena membiarkan 'partnernya' tertimpa kesialan. Bagaimana tubuh sekecil itu menanggung sakit yang bahkan menurut Chanyeol cukup berat di tubuhnya yang jauh lebih besar, bahkan Ia sempat pincang selama tiga hari kerena kejadian waktu itu. Ya, andai Chanyeol tahu kalau Baekhyun memang tipe orang yang tidak suka merepotkan orang lain.

Sebenarnya Chanyeol sudah mengirimkan beberapa pesan, tapi yah.. tidak ada yang mendapat balasan. Tapi kali ini ia mencobanya lagi, siapa tahu Tuhan berpihak padanya. Ia menanyakan keberadaan Baekhyun dan apa yang sedang dilakukanya. Ternyata kali ini intuisinya benar, tak selang berapa lama Ia mendapatkan balasan. Baekhyun mengatakan bahwa dirinya tengah mengerjakan tugas di perpustakaan. Entah mengapa hanya dengan sebuah pesan singkat wajah yang semula dipenuhi aura hitam kini berubah cerah karena segaris senyum dan lesung pipi yang muncul di sana. Dan berkat pesan itu pula, Chanyeol bisa kembali fokus pada perkuliahanya.


12.30 p.m.

Chanyeol melangkah keluar dari ruang kelasnya, Ia berjalan di koridor dengan handphon yang menempel di telinganya. Ia tengah menerima panggilan telepon dari Sehun.

"Ya, aku sudah selesai perkuliahan hari ini." "Oke, kita ketemu di cafe saja sekalian makan siang di sana." "hm.. bye."

Setelah sambungan itu terpurus, Ia masukan kembali ke saku jeansnya dan bergegas menuju cafetaria.

Sesampainya di sana, rupanya Sehun sudah duduk di salah satu meja dengan dua gelas minuman dingin. Jika dilihat dari warnanya yang cokelat kehitaman sepertinya itu sejenis kopi. Chanyeol yang melihat itu hanya tersenyum kecil, Ia tahu bagaimana sepupunya itu sangat mengerti kegemaranya.

"is it for me?"

"hm. Ice americano."

"thanks" Chanyeol segera menyedot minuman dingin itu segera setelah Ia duduk di hadapan Sehun.

"Kau mau pesan apa?" tanya Sehun

"tidak usah aku ingin beli sandwich saja nanti. Ohya, jadi bagaimana?"

"Iya Yeol, sepertinya sebentar lagi akan ada pertandingan basket antar kampus. Aku hanya ingin menanyakan apa kau mau berpartisipasi atau tidak? Yaah aku tahu kau pasti sudah sangat sibuk dengan statusmu sekarang, tapi tetap saja kau itu kapten basket kita."

"latihanya sore kan?" Chanyeol memastikan

"kalau jadwal latihan kita bisa mengaturnya bersama."

"mmm.. aku ikut." Jawab Chanyeol mantap. "Lagipula ini tahun terakhirku sebelum fokus penelitian tahun depan."

"GOOD!" jawab sehun dengan senyum lebarnya.

"emm...Sehun sepertinya aku tidak bisa menemanimu makan, ada yang harus ku kerjakan." Chanyeol meminta izin.

"Oooh..oke. Nanti kita rapat lagi ya untuk menentukan jadwal latihan."

"sipp." Jawab Chanyeol singkat " kalau begitu aku pergi sekarang ya?"

"O~ bye."

"Bye." Chanyeol pergi meninggalkan Sehun.

Sebelum Ia keluar dari cafe Ia sempat mampir ke kasir untuk memebeli beberapa sandwich dan susu botol. Setelah mendapatkan apa yang Ia inginkan Chanyeol bergegas keluar. Ia berjalan cepat menuju gedung perpustakaan untuk menemui seseorang yang terus mengganggu pikiranya sejak tadi pagi. Ya itu Baekhyun. Dalam perjalanan ia sempat mengirimkan pesan singkat padanya, menanyakan keberadaanya saat itu. Ternyata dari tadi pagi Baekhyun masih bertahan di perpustakaan. Enahlah sepertinya tugas kuliahnya sangat banyak. Tidak salah Chanyeol membeli cukup banyak sandwich dan susu.

Chanyeol telah tiba di depan gedung perpustakaan, Ia harus menaiki beberapa anak tangga untuk sampai ke ruang utamanya. Saat Ia sampai di belokan pertama tangga, netranya menangkap seseorang yang hendak melangkah turun namun padanganya tidak mengarah pada anak tangga, alhasil kaki orang tersebut selip dan menyebabkan tubuhnya kehilangan keseimbangan. Chanyeol yang melihat itu dengan sigap berlari melompati beberapa anak tangga untuk menangkap tubuh yang limbung itu, dan berhasil. Namun beberapa detik setelah itu pandanganya menjadi gelap.


-The Cursed Destiny-


Kau dimana sekarang?

Sebuah pesan baru saja masuk, itu dari 'Si Galak'. Sebenarnya beberapa minggu terakhir Ia berusaha menghindari Chanyeol karena rasa bersalah akibat kejadian di ruang club waktu itu. ditambah lagi, Ia sempat mendapatkan kabar dari penduduk kampus terutama para mahasiswi bahwa putra mahkota mengalami pincang. Dan satu lagi, saat ia berada di ruang club waktu itu dua orang pria berbadan tegap yang mengaku suruhan dari Chanyeol, membantunya bahkan mengantarnya hingga ke depan kontrakanya. Ia merasa menjadi orang yang paling berdosa saat itu.

Tetapi Ia berusaha berfikir jernih, jika ia terus menghidarinya maka malapetaka yang sebentar lagi akan datang, akan semakin sulit untuk ditangani jika Ia sendirian. Bukanya mau egois, tetapi mengingat bagaimana Ia dan Chanyeol mengahadapi bersama kesialan yang sudah – sudah hanya sedikit kekacaun yang ditimbulkan. Setidaknya tidak sampai membuat Chanyeol pincang selama berhari – hari.

Ia balas pesan itu dengan balasan yang sama seperti yang ia berikan tadi pagi. Kebetulan hari ini Baekhyun tidak memiliki jadwal kuliah sehingga Ia bisa seharian berada di perpustakaan untuk menyelesaikan tugasnya. Berada di perpustakaan membuatnya lebih mudah menyelesaikan tugasnya karena fasilitas yang mudah ia dapatkan, seperti buku referensi, wifi, dan tempat yang nyaman. Namun karena asyik dengan pekejaanya, Ia sampai lupa jika hari sudah semakin siang. Hingga fokusnya terpecah karena suara perutnya yang meraung minta diisi. Akhirnya Baekhyun memutuskan untuk mengakhiri pekerjaanya sementara, dan pergi ke cafe di depan perpustakaan.

Ia kemasi semua barang – barangnya ke dalam ransel, dan melangkah keluar meninggalkan perpustakaan. Saat hendak meuruni tangga tiba – tiba ia teringat dengan charger handphonya yang masih menancap di stopcontac tempat ia duduk tadi. Namun saat itu rupanya bertepatan dengan kesialan ketiganya. Kakinya selip di anak tangga pertama, menyebabkan tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan. Ia sempat menagkap sesosok orang yang berlari ke atas dan berusaha menangkap tubuhnya. Tidak begitu jelas wajah orang tersebut, hanya saja Baekhyun sangat bersyukur karena Tuhan mengirimnya di waktu yang tepat.

Ia rasakan tubuhnya jatuh meninpa tubuh lain yang sepertinya ukuranya jauh lebih besar darinya, karena ia dapat merasakan lengan orang itu berhasil mendekap seluruh lingkar tubuhnya, benar- benar lengan yang panjang, pikirnya. Beberapa detik berlalu, Ia perlahan membuka kedua kelopak matanya. Baekhyun menyadari posisi tubuhnya saat ini benar – benar menimpa orang yang menyelamatkanya, seluruh berat tubuhnya pasti ditanggung oleh orang yang sedang ditindihnya itu.

Baekhyun mencoba memindahkan tubuhnya, tetapi Ia bahkan tidak bisa mengerakanya karena lengan orang itu masih melingkar dengan kuat di punggung dan pinggangnya. Ia mencoba mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah dari orang yang telah menyelamatkanya. Betapa terkejutnya ia saat wajah yang sudah sangat dikenalnya itu terpampang jelas di hadapanya.

"Ch-Chanyeol"

Rupanya suara Baekhyun dan terpaan nafasnya yang mengenai dagu lelaki di hadapanya, membuat kedua kelopak mata lelaki itu perlahan terbuka. Keduanya sempat bertatapan untuk beberapa detik, menyebabkan desiran asing itu kembali menyerang keduanya.

"Kau tidak papa?" suara Bas yang kelewat rendah itu menyadarkan Baekhyun dari lamunanya.

"Harusnya aku yang bertanya itu padamu." Keduanya tertawa ringan menanggapi pertanyaan tak ada ujungnya itu.

"akh.. kau berat juga ya"

"aah..maaf – maaf" ucap Baekhyun sambil menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh Chanyeol.

Setelah keduanya sudah dalam posisi duduk, mereka masih melanjutkan pembicaraan.

"Kenapa kau ceroboh sekali? Menuruni tangga tapi pandanganmu ke arah lain." Tanya Chanyeol sambil meraih barang - barang yang tercecer di lantai

"Aku tadi teringat dengan charger handphonku yang masih tertinggal di dalam." Jawabnya ikut membantu memunguti barang – barang itu.

"memangnya kau mau kemana?"

"Aku lapar, jadi aku memutuskan untuk pergi ke cafe."

"Padahal aku membawakan ini untukmu." Tukas Chanyeol sambil menunjukkan beberapa sandwich dan susu yang baru saja ia pungut dari lantai.

"aahhh..aku tidak tahu."

"ck." Chanyeol berdecak "Ini, untukmu" Chanyeol menyerahkan sebuah sandwich dan susu pada Baekhyun.

"thanks." Baekhyun tidak enak jika menolak pemberian dari orang yang memang sudah berniat untuk memberikan sesuatu padanya. "tapi kau benar-benar tidak papa? Kepalamu tidak benjol kan?"

"sepertinya tidak." Jawab Chanyeol sambil mengecek kondisi kepalanya, tiba – tiba ia teringat suatu hal. "Baek, lihat tandanya. Apa kelopaknya menghilang?"

Chanyeol dan Baekhyun mengecek tanda di dada masing – masing.

"Punyaku masih untuh seperti kemarin." Tukas Baekhyun

"hilang satu... Baek kelopaknya tinggal empat." Chanyeol berucap senang.

"hahhh syukurlah."

"kenapa kalian duduk di tangga?" sebuah suara menginterupsi keduanya

"Ah, kami habis terjatuh Pak." Ucap Baekhyun sambil bangkit dari duduknya.

"Harusnya kalian berhati – hati" ucap pria tua itu sambil berlalu meninggalkan keduanya.

Saat Chanyeol berusaha bangkit, tiba – tiba tubuhnya oleng.

"Kau kenapa?!" pekik Baekhyun

"sepertinya kakiku terkilir saat jatuh tadi."

"maafkan aku.."

"Sudahlah..sebaiknya kau bantu aku berjalan saja."

Baekhyun membantu Chanyeol berjalan dengan sedikit menanggung beban tubuh Chanyeol pada pundaknya. Keduanya berjalan perlahan melewati koridor lantai bawah perpustakaan.

"Apakah itu sakit?"tanya Baekhyun lagi dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Chanyeol.

"maafkan aku.. padahal kakimu baru saja sembuh dari kejadian tiga minggu yang lalu."

"Jika kau merasa bersalah, traktir aku makan di tempatmu bekerja." Ucap Chanyeol sambil menahan berat badanya agar Baekhyun tidak terlalu kesulitan.

"Aku tidak mau terjadi keributan di restoran tempatku bekerja"

"Tenanglah.. Aku akan menggunakan ini." Jawabnya sambil menunjukan benda – benda aneh dari dalam tasnya.

"Apa itu?"

"ini peralatan penyamaranku jika aku sedang ingin bermain di luar"

"aaahhh.. aku hampir lupa kalau kau itu orang paling popular saat ini."

" Aku lebih suka disebut orang penting daripada populer"

"yah terserah kau saja."

Saat mereka hampir sampai di belokan koridor Chanyeol mendengar beberapa suara mahasiswa yang berjalan mangarah ke posisinya berada. Lantas Chanyeol membenarkan posisinya. Ia kembali tegap dan berjalan seperti orang yang tidak mengalami terkilir. Baekhyun yang melihat itu lantas kaget dan bertanya – tanya.

"yak.. kakimu kan terkilir?"

"Hah? Sekarang sudah sembuh kok" jawab Chanyeol sambil mebuat senyum yang dibuat – buat.

"YAK! JADI KAU BERBOHONG?!" Baekhyun memukul lengan kekar itu bertubi – tubi karena marasa ditipu.

"Akh..sakit Baek!"

"Mana kakimu?! Sini biar kubuat terkilir betulan!"

"Baek, jangan.." mohon Chanyeol sambil menahan tubuh Baekhyun yang hendak menyerangnya. Karena serangan Baekhyun yang semakin menjadi Chanyeol memutuskan untuk berlari meninggalkanya.

"YAAK! MAU KEMANA KAU?!"

"AKU KE TOILET SEBENTAR, TUNGGU AKU DI GERBANG! INGAT JANJIMU BARUSAN" teriak Chanyeol sambil berlari menuju toilet.

"oouuhh.. dasar Tuan Muda kurang ajar" Walaupun marah tapi senyum tipis terlukis di wajahnya. Sebenarnya Ia bersyukur Chanyeol memiliki sifat seperti itu karena Ia tidak tahu harus bertingkah bagaimana jika Ia memiliki sifat high class yang sulit untuk didekati.


Sudah hampir 15 menit Ia menunggu di depan gerbang kampusnya, tetapi sosok yang ditunggunya belum juga datang. Hingga sebuah sentuhan di pundaknya mengagetkanya.

"Siapa kau?!" Baekhyun berbalik sambil memasang posisi menyerang.

"ssttt.. ini aku Chanyeol" Chanyeol sedikit membuka topinya untuk menampakan manik emeraldnya. Tentu saja Baekhyun mempercayainya kerana di kampus ini hanya Ia dan Chanyeol yang memiliki warna mata seperti itu.

"Kanapa kau lama sekali?"

"lihatlah bagaimana penyamaranku. Semua ini membutuhkan waktu." Chanyeol membusungkan tubuhnya memperlihatkan pakaianya yang serba gelap, sangat berbeda dengan pakaianya tadi. Selain menggunakan topi Chanyeol juga menggunakan kumis tipis palsu, dan itu benar – benar memberikan kesan yang berbeda pada wajahnya.

"kau benar – benar membawa semua barang ini di dalam ranselmu?" pertanyaanya hanya dibalas dengan anggukan kecil.

"sebentar, aku mau memghubungi seseorang."

Chanyeol mengeluarkan handphon dari saku jeansnya dan segera menempelkan benda kotak itu pada telinganya.

"Halo Paman? Tidak usah menjemputku, aku akan pergi dengan Baekhyun. Nanti ku kabari lagi."

Panggilan singkat itu rupanya menarik perhatiann Baekhyun.

"Siapa? Apa dia mengenalku?"

"O~ dia sudah ku anggap seperti pamanku sendiri dan dialah yang mengenalkanmu padaku?"

Kening Baekhyun berkerut "maksudnya?"

"oh aku belum cerita ya? Jadi Pamanku itu adalah orang yang mengetahui sejarah dari kutukan yang kita tanggung bersama." Ucap Chanyeol sambil medorong tubuh Baekhyun " ayo sambil jalan kuceriakan" mareka berdua berjalan menuju restoran tempat Baekhyun bekerja karena letaknya tak terlalu jauh dari kampus.

"Sebelum kita bertemu di perpustakaan waktu itu, Pamanlah yang memberi tahuku ciri – ciri dari pertner takdirku, itu kau. Dia menceritakan tentang warna mata, tanda kutukan, dan waktu kelahiranmu." Baekhyun tidak merespon apa – apa, Ia hanya mengangguk berusaha menangkap setiap informasi yang disampaikan Chanyeol.

"Kalurga Pamanku sudah dipercaya turun - temurun untuk menyimpan cerita sejarah kutukan ini. Dan sekarang giliran dia yang menerima kewajiban untuk menyampaikanya pada kita. Paman bilang aku harus membawamu ke rumah untuk menyampaikan sejarah detailnya."

"Kapan kau akan membawaku bertemu dengan Pamanmu?"

"Sepertinya tidak sekarang Baek. Nanti jika sudah pas waktunya, aku akan menghubungimu."

"baiklah.." Sebenarnya Baekhyun sudah sangat penasaran dengan cerita dibalik kutukan yang selalu membuatnya hampir meregang nyawa tiap bulan itu. Mengapa Ia dan Chanyeol yang ditakdirkan untuk menanggung kutukan ini. Bagaimana cara menghentikanya. Itulan pertanyaan – pertanyaan yang selalu berputar di kepalanya beberapa bulan terakhir. Ia berharap setelah menemui paman Chanyeol nanti, semua kebingungan dan beban yang ia tanggung sekarang dapat berkurang.

"di mana restoranya? Apakah masih jauh?"

"itu di sebrang jalan." Tunjuk Baekhyun pada sebuah bangunan.

"aah.. ternyata cukup jauh juga ya. Kau selalu jalan kaki?"

"hm.. tidak sepertimu yang selalu dijemut dengan mobil hitam mewahmu itu." Bakehyun mencibir.

"Siapa bilang? Aku pernah ke kampus naik bus." Jawab Chanyeol tidak mau dipermalukan. "sekarang saja aku harus naik kendaraan pribadi tiap hari."

"Kenapa?"

"Ya coba kau bayangkan, bagaimana setiap hari aku harus berlari menghindari kejaran dari para wanita dan emak-emak jika aku naik kendaraan umum."

"kau kan bisa menyamar seperti sekarang."

"Kau pikir nyaman apa berpakaian seperti ini? Kau lihat, kumis ini rasanya sangat gatal." Chanyeol mencondongkan tubuhnya pada Baekhyun, memperlihatkan lem pada kumis yang menempel di wajahnya.

"aaaahh... maaf aku tidak tahu." Celetuk Baekhyun sambil mempop-outkan bibirnya.

"makanya jangan sok tahu!" tukas Chanyeol sambil mendorong kepala Baekhyun dengan telunjuknya.

"Tidak sopan! Itu kepala!" ucap Baekhyun sambil memegangi kepalanya. Chanyeol hanya mengacuhkanya.

Keduanya sekarang telah tiba di depan pintu restoran tempat Baekhyun bekerja.

"selamat datang" ucap seorang pegawai wanita yang berjaga di pintu masuk.

"Baekhyun?!" ucap pegawai tadi kaget melihat kehadiran Baekhyun " bukanya hari ini kau libur?"

"ahh ahahaha.. aku hanya mau makan dengan temanku." Jawab Baekhyun sambil menunjuk lelaki di belakangnya.

"oooohh.. kalau begitu kau tamu kami hari ini." Pegawai itu tersenyum manis pada Beakhyun.

"hahaha... kau bisa saja." Baekhyun juga ikut tersenyum padanya.

"kau mau duduk di mana?"

"di sana saja dekat jendela."

"baiklah, akan kuantar menunya kesana."

"thanks."

Baekhyun dan Chanyeol melangkah menuju tempat duduk yang sudah Baekhyun tunjuk tadi. Mereka duduk berhadapan.

"siapa gadis tadi?"

"dia? Ahh.. teman kerjaku di sini, hanya saja aku tidak mengambil sift hari ini. Kami bertemu di hari lain."

"dia sangat imut.. Kau pasti menyukainya ya kan?"

"aku?" Bakehyun menunjuk dirinya sendiri " entahlah.. aku belum berfikir sampai ke sana." Chanyeol menampakan ekspresi yang tidak bisa diartikan.

"silahkan.. ini menunya" sebuah suara menginterupsi mereka

"ah.. terimakasih." Baekhyun mengambil buku menu itu.

"please jangan pesan terlalu mahal" ucapnya pada Chanyeol dengan suara bisikan

"Tenanglah.. aku sebenarnya tidak biasa makan makanan cepat saji, jadi aku hanya akan memesan minuman dan snack saja." baekhyun bersyukur Chanyeol mau diajak kerja sama kali ini. Karena memang uang yang ada di dompetnya tinggal sedikit.

Setelah keduanya menyerahkan kembali buku menu dan pesanan yang mereka pesan, Chanyeol kembali membuka topik pembicaraan.

"kenapa kau kerja sambilan?"

"karena aku butuh. Yaah.. kau tahu kan bagaimana biaya hidup di Seoul. Aku masuk ke SNU juga berkat beasiswa." Bakehyun mulai bercerita lebih dalam tentang dirinya.

"Bagaiaman dengan orang tuamu? Apa mereka tidak memberimu uang saku?"

"mereka sudah lama meninggal. Sejak aku berumur lima tahun." jawab Baekhyun sambil menundukan kepalanya sekilas.

"maafkan aku.. aku tidak bermaksud" pinta Chanyeol tulus

"tidak papa.." baekhyun tersenyum kecil " sekarang keluarga yang masih kumiliki itu nenek yang sekarang tinggal di Daegu. Aku bekerja di sini juga ingin mendapatkan sedikit uang untuk kukirimkan pada neneku di sana. Lumayanlah untuk biaya makan sehari – hari."

"Kau keren Baek" celetuk Chanyeol setelah mendengar cerita Baekhyun.

"biasa saja." jawab Baekhyun sambil mengalihkan pandanganya keluar jendela

"Bagaimana denganmu? Ku dengar kau harus tinggal terpisah dengan keluargamu sendiri?"

"aahh tentang adat kerajaan?" Baekhyun mengangguk

"Awalnya memang berat, karena waktu itu aku masih berumur 12 tahun. Tapi seiring berjalanya waktu dan aku mulai mengerti maksud dan tujuan dari adat yang kulakukan, hal itu menjadi sesuatu yang biasa bagiku. Bahkan sekarang aku lebih betah berada di rumah daripada di istana." Baekhyun mengangguk paham.

"bagaimana dengan kehidupan kampusmu? Kau tidak khawatir dengan gosip – gosip yang selalu beredar?"

"Gosip apa?"

"gosip tentang kau dekat dengan si A, si B. Gosip semacam itulah."

"aahhh.. bahkan aku tidak tahu siapa gadis – gadis itu. sebenarnya aku setipe denganmu. Aku belum berfikir sampai ke sana. Kalau boleh jujur aku juga belum pernah berpacaran, aku terlalu sibuk memenuhi kriteria seorang putera mahkota. Pacar – pacarku ya buku – buku tebal yang selalu menumpuk di atas mejaku." Baekhyun tertawa renyah mendengar penuturan Chanyeol.

"jadi kau kutu buku? Hahahaha.. tidak kusangka." Chanyeol ikut tersenyum melihat wajah manis Baekhyun saat tertawa saperti itu. "manis" tanpa sadar kata itulah yang telintas dipikiran Chanyeol saat itu.

"Aku tidak terlalu memusingkan gosip tentangku. Terserah orang mau berpandangan apa terhadapku, yang penting aku mejalankan kewajibanku dengan benar. " tambahnya.

"aku setuju." Timpal baekhyun.

Tak terasa kegiatan makan dan ngobrol keduanya menghabiskan waktu cukup lama, hingga hari yang terang telah berubah menjadi gelap. Sekarang keduanya telah berjalan berdampingan menuju halte bus di dekat kampus mereka. Chanyeol ikut menunggui Baekhyun menanti bus yang membawanya ke stasiun. Tak berselang lama bus yang dinanti itu datang, keduanya berpamitan dengan mengucap salam perpisahan. Setelah bus itu melaju, Chanyeol segera mengambil handphonnya, Ia menghubungi seseorang.

"Kihyun tolong kau ikuti Baekhyun sampai ke rumahnya. Pastikan dia aman di perjalanan pulang."

"Siap Tuan Muda" jawab suara di ujung sambungan dengan tegas.

Menit berikutnya mobil hitam berhenti tepat di depan Chanyeol, dan seorang pria paruh baya keluar dari kursi kemudi untuk membuka pintu penumpang.

"Selamat malam Tuan Muda"

"Selamat malam Paman" Chanyeol segera melangkah memasuki mobil itu. Setelah berada di dalam mobil Ia segera melepas topi dan kumis palsunya

"iisshh... ini sangat gatal." Gerutunya.

"Bagaimana makan malam Anda bersama Tuan Baekhyun, Tuan Muda?" Tanya Tuan Kim setelah mobil itu melaju di jalanan.

"Banyak hal yang kami bahas.. Ohya paman, sepertinya Baekhyun sudah bisa diajak mendengarkan ceritamu tentang kutukan itu."

"Saya siap kapanpun Anda meminta Saya Tuan Muda."

"Baiklah.. kelopaknya juga sudah banyak berkurang."

"Syukurlah Tuan.. Semoga semuanya sesuai rencana."

"Semoga Paman."

Mobil itu melesat melewati jalanan malam kota seoul yang penuh dengan gemerlap lampu perkotaan.

Berbagi cerita membuatmu semakin memahami karakter dan sifat masing – masing

.

.

-TBC-


Next chapter prview

"Aku tidak tahu jika lukanya separah ini." Dengan hati – hati Baekhyun megoleskan salep pada luka – luka di wajah Chanyeol. Walaupun kecil luka itu cukup banyak terdapat di wajah maskulin itu.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan luka ini?" suara itu terdengar berat dan penuh penekanan. Definisi marah semakin kuat terpancar katika kau melihat pada sorot matanya.