Who is she? she is, Luhan.

Baby Aery HHS

-Big Event HunHan INDONESIA-

Main cast : Luhan, Sehun.

Genre : Hurt, Comfrot, Romance.

Rate : M 17+.

Warning : Genderswitch, Mature content, Dirty talk, Typo.

Length : Chapter.

PS : Semua pemain milik bersama(?) tapi FF ini cuma punyaku^^ hargai FF ini dengan review kalian. menerima keritikan tapi menolak bash! Kalo suka Alhamdulillah kalo ga suka cukup close FF ini. Happy reading^^

.

.

.

.

.

Chanyeol berjalan seorang diri tanpa kehadiran Luhan disampingnya karena sekarang sang nona besar sedang berkutat bersama semua tumpukan file di atas meja kayu yang ada di dalam ruangannya. Secara ringan langkah Chanyeol terarah menuju keluar, berniat membeli makanan yang ia inginkan karena sekarang sudah jam satu siang.

"Sialan kau!"

Namun sebuah keributan menghentikan Chanyeol. Merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi, Chanyeol berbelok arah, memasuki ruangan yang terlihat penuh oleh orang-orang yang berdiri mengerumuini sesuatu.

"Baek, sudah hentikan!"

Mata Chanyeol menangkap satu wanita bermata bulat sedang menarik wanita lain yang sedang berkelahi bersama teman kantornya. Sedikit menghela napas, Chanyeol maju membelah kerumunan manusia yang sedang berteriak heboh.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" Kehadiran Chanyeol tidak hanya menghentikan aksi saling jambak antara Baekhyun dan Taeyeon, tapi pegawai lain pun segera membisu dan membubarkan diri untuk kembali pada tempat masing-masing.

"Chanyeol." Bibir Baekhyun bergumam pelan, setelah sadar dengan penampilannya yang kacau ia segera merapikan diri.

"Kenapa berkelahi? Kalian pikir ini ring tinju, hah?"

"Baekhyun lebih dulu menjambakku." Adu Taeyeon dengan raut wajah sedih.

"Yak! Nenek sihir jelmaan hantu eropa! Kau lebih dulu menghinaku!" Baekhyun menjerit tidak terima. Tangannya hampir ingin kembali menjambak rambut pirang Taeyeon, namun Kyungsoo segera mencegahnya.

"Aku tidak menghina. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya kalau kakakmu adalah seorang pencuri."

"DIA BUKAN PENCURI WANITA SIALAN!"

"Baek!" Kyungsoo semakin berusaha menahan pemberontakan yang Baekhyun lakukan.

Tidak taukah bagaimana Baekhyun ingin menginjak wajah wanita ini? Dia secara tidak langsung sudah menghancurkan imagenya di depan Chanyeol.

"Baek, keluar! Ini bukan ruanganmu."

Taeyeon tersenyum saat melihat Chanyeol membentak Baekhyun. Beberapa detik Baekhyun berpikir bentakan itu hanya halusinasi tapi ia sadar kalau Chanyeol memang membentaknya dengan marah. Merasa semakin sedih juga kesal, Baekhyun segera keluar dengan Kyungsoo yang mengekor di belakang.

"Terima kasih karena sudah membuat wanita sinting itu pergi." Taeyeon mendekati Chanyeol dengan senyuman centil. "Bagaimana jika aku tlaktir kau makan malam sebagai ucapan terima kasih?"

"Maaf, tapi aku masih memiliki uang. Lagi pula aku menyuruh Baekhyun pergi bukan untuk menolongmu." Chanyeol menjawab tanpa secuil pun ada raut wajah minat kepada Taeyeon. Langkahnya bahkan secara lebar keluar dari ruangan yang sudah kembali menjadi tenang.

.

.

Sebuah document bersampul biru itu melekat kuat pada genggaman Sehun. Sepatu hitam mengkilat yang ia kenakan mengukir jejak untuk menuju ruangan di mana sang nona besar kini sedang berada.

"Maaf, kau siapa? Apa sudah memiliki janji dengan nona Luhan?" Satu bodyguard menghentikan Sehun yang hampir membuka pintu ruang kerja milik Luhan.

Sedikit mendengus jengah Sehun menunjukkan document yang ia bawa pada anak buah Luhan yang menatapnya bagai seorang penjahat. "Aku salah satu pemilik toko di Mall dan apa kau tidak lihat apa yang aku bawa? Sebuah document penting."

Mereka saling menatap satu sama lain terlebih dahulu, sebelum membiarkan Sehun untuk masuk ke dalam ruangan Luhan.

"Sibuk?"

Kepala Luhan mendongak saat mendengar suara lain di dalam ruangannya. Sedikit menyeringit, Luhan menatap Sehun yang sudah duduk di kursi sebrang dirinya tanpa dipersilakan lebih dulu. "Kenapa harus membuat janji lebih dulu untuk bertemu denganmu?"

"Karena aku bukan manusia tidak penting seperti dirimu." Perhatian Luhan kembali teralih pada lembaran document yang sedang ia kerjakan. "Ada apa kemari?" Bertanya cuek, seperti tidak tertarik pada alasan kehadiaran Sehun.

"Ingin melihatmu." Sehun mengambil paksa pena yang sedang Luhan pegang, mencoba merebut perhatian dari Luhan. "Sudah berapa hari kita tidak bertemu?"

"Untuk apa aku mengingat hal menggelikan semacam itu?" Pena lain Luhan ambil tanpa memperdulikan Sehun. "Ada apa kau datang kemari?" Mengulang pertanyaannya dengan lebih tegas.

Dokument yang ia bawa Sehun sodorkan ke depan Luhan. "Aku membeli saham perusahaanmu tiga puluh tiga persen milik tuan Minsuk tapi ternyata itu harus memalui persetujuanmu jadi aku datang untuk meminta tanda tangamu."

Kening Luhan berkerut tipis. "Saham? Untuk apa kau membeli saham?"

"Aku ingin mendaftar sebagai pemegang Mall."

"Apa? Pemegang Mall kau bilang?" Luhan tertawa geli, kemudian document yang sedang ia kerjakan Luhan tutup agar bisa lebih fokus kepada Sehun. "Kau berniat menghancurkan Mall ku? Mengurus perusahaan ayah mu sendiri kau tidak becus, Sehun." Tatapan Luhan kembali menajam. "Mall ku bukan sebuah mainan untuk anak kecil seperti dirimu." Berujar ketus penuh peringatan.

"A-anak kecil kau bilang?" Sehun menatap tidak percaya kepada Luhan yang sudah merendahnya cukup jauh. "Ya, kau pikir aku sebodoh itu? Setidaknya aku tidak seidiot dirimu dulu."

Luhan mendengus malas dan berdiri dari kursinya. "Keluarlah." Menunjuk arah pintu menggunakan jarinya, bermaksud mengusir Sehun dengan cara baik. "Atau aku akan memanggil anak buahku untuk menyeretmu secara paksa."

"Tidak. Aku tidak akan keluar sebelum kau menandatangani file itu."

"Kau benar-benar ingin aku seret rupanya."

"Pilihannya hanya dua, Luhan. Tanda tangani itu atau aku akan melaporkan pada media kalau kau sudah bersikap tidak adil pada pemilik toko di Mall mu."

"Mengancam? Uangku terlalu banyak untuk menangani ancaman murahan semacam itu."

Sehun hanya mengedikkan bahunya acuh. "Tapi namaku pun tidak kecil untuk dihiraukan media. Ayolah, apa sulitnya menandatangani itu?"

"Kau seharusnya tidak bertindak sejauh ini hanya untuk hal yang sia-sia. Kau tidak akan terpilih."

Sehun berdiri dari kursi yang ia duduki. "Jika kau yakin aku tidak akan terpilih harusnya kau tidak ragu untuk menandatanganinya kan?" Beberapa langkah maju Sehun ambil. "Bagaimana jika kita membuat kesepakatan?" Tersenyum tipis di depan Luhan yang menatapnya sengit. "Kau cukup tanda tangani itu. Jika aku tidak terpilih aku akan menuruti segala ucapanmu termasuk jika kau ingin aku keluar dari Mall."

Luhan terdiam. Sedikit menimang karena dirinya tertarik pada kesepakatan yang Sehun tawarkan. Dia sangat ingin memutus kontak kerja sama dengan Sehun karena dia muak jika terus melihat wajah Sehun, tapi itu tidak akan bisa ia lakukan jika bukan Sehun sendiri yang memutuskan, dan ini kesempatan baik untuk melakukan itu. Namun risiko besar yang dia dapat jika Sehun menang justru akan membuat kontak kerja mereka semakin dekat juga panjang.

"Bagaimana kau menerimanya?"

Tapi bukan kah selalu ada risiko besar di balik keuntungan besar? "Baiklah. Aku terima tawaranmu. Jika kau tidak terpilih, kau harus angkat kaki dari Mall ku." Luhan tersenyum miring dan membalas jabatan tangan Sehun yang tersenyum puas.

.

.

"Sudahlah, Baek. Untuk apa menanggapi ocehan wanita itu?" Kyungsoo mengusap bahu Baekhyun yang masih duduk menangis di kursi yang ada di dalam Pantry.

Kakak Baekhyun memang akhir-akhir ini sedang mendapat masalah tentang penyelewengan uang di tempatnya bekerja dan entah dari mana Taeyeon bisa mengetahui hal itu sampai menjadikan itu sebagai bahan mengejek Baekhyun.

"Aku yakin kakakmu tidak melakukan itu." Lagi, Kyungsoo masih mencoba menenangkan Baekhyun. "Wanita itu tidak tahu apa-apa jadi jangan tanggapi."

"Bodoh." Menangis sejak tadi dan itu kalimat pertama yang Baekhyun keluarkan. "Aku bukan menangis karena wanita keparat itu, Soo." Kepala Baekhyun mendongak membuat pipi basahnya yang dialiri air mata terlihat di pandangan Kyungsoo. "Kakakku memang tidak bersalah dan aku tidak peduli pada Taeyeon, tapi Chanyeol tadi membentakku." Tangisan Baekhyun kembali berlanjut.

Tisyu yang ada di atas meja hampir setengahnya sudah berserakan di lantai secara menjijikkan karena kelakukan Baekhyun yang membuangnya dengan sembarangan.

Kyungsoo ternganga beberapa detik. "Jadi kau menangis karena Chany-"

"Maaf."

Kepala Kyungsoo tertoleh kebelakang sebelum ucapannya tuntas ia ucapkan. Mulutnya menganga lebar karena kedatangan pria yang sedang mereka bicarakan.

"Chanyeol." Baekhyun segera mengusap pipinya yang basah.

Sementara Kyungsoo bergeser kaku untuk keluar. Sengaja membiarkan agar Baekhyun memiliki momentnya sendiri bersama Chanyeol. "Semangat, Baek." Sebelum pintu ia tutup rapat, Kyungsoo masih sempat menyemangati Baekhyun dengan ucapan tanpa suara.

"Aku dengar kau menangis karenaku." Dua kantung plastik Chanyeol taruh di atas meja. "Jika benar, aku minta maaf." Menatap Baekhyun yang kini hanya bisa terdiam bagai patung. "Tapi aku tidak bisa hanya diam saat ada yang berkelahi."

Baekhyun mendengus saat ingat dengan kejadian satu jam lalu. "Tapi kenapa harus aku yang kau bentak?" Bergumam kesal karena dirinya merasa tidak terima sebab Taeyeon lah yang memulai, terlebih ia cemburu melihat Chanyeol memihak kepada Taeyeon.

"Itu karena kau yang hampir ingin menyerang Taeyeon."

"Tapi dia yang memulai! Kenapa kau membelanya?" Baekhyun keluar dari kendali. Ia berdiri dan berteriak emosi kepada Chanyeol.

"Aku tidak membelanya. Aku hanya tidak mau situasinya menjadi semakin kacau." Chanyeol masih menanggapinya dengan nada tenang. Biasa hidup bersama wanita seperti Luhan membuat Chanyeol bisa menahan emosinya sendiri. "Baiklah, aku minta maaf. Apa itu cukup?"

Baekhyun menunduk dan kembali duduk di kursi yang semula ia duduki. "Kau tidak usah minta maaf. Aku memang salah. Maafkan aku."

Chanyeol tersenyum tipis dan menarik kursi lain di samping Baekhyun. "Lupakan itu. Apa kau sudah makan siang?"

Baekhyun hanya menggeleng.

"Kebetulan aku baru saja membeli makanan. Mau makan bersama?"

"Benarkah?" Baekhyun mendongak terkejut dengan tatapan berbinar.

Makan bersama akan menjadi kemajuan yang pesat dalam pendekatan mereka, karena selama ini ia berhubungan bersama Chanyeol hanya untuk sebatas pekerjaan.

"Tentu saja." Chanyeol mengeluarkan makanan yang ia beli. "Makanlah sesukamu."

Sedikit tersipu Baekhyun mengangguk dan mulai mengambil makanan yang ia inginkan dengan sesekali mencuri pandang kepada Chanyeol. Sungguh Chanyeol benar-benar tampan! Baekhyun ingin bereriak sekarang karena terlalu senang. Air matanya dibayar Tuhan dengan cara menakjubkan. Tidak sia-sia walaupun matanya sekarang bengkak jelek.

.

.

"Apa yang sedang kau kerjakan?" Seorang wanita merundukkan bandannya di samping Sehun yang sedang mengetikkan sesuatu di leptop. Sekedar mengintip apa yang sudah membuat Sehun begitu fokus.

"Membuat riwayat hidup."

"Riwayat hidup? Untuk apa?"

Sehun menghentikan terlebih dulu kegiatan yang sedang ia lakukan. Kursi putar yang ia duduki ia buat menghadapa kepada Tiffany yang menyeringit bingung. "Aku akan bersaing untuk menjadi pemegang Mall di perusahaan milik Luhan."

"Luhan?"

Tangan Tiffany, Sehun tarik untuk duduk di atas pangkuannya. "Ya, Luhan." Menjawab sembari mengendus wangi memabukkan Tiffany yang selalu berhasil membuatnya bergairah.

"Aku tidak mengerti. Bukan kah kau hanya membuka toko di sana?"

"Benar. Tapi apa salahnya jika aku mengambil kesempatan? Ini akan menjadi keuntungan besar untukku jika aku bisa mendapatkannya." Sehun tersenyum tipis. "Dan aku pun bisa kembali memiliki Luhan."

Tiffany mendengus dengan raut wajah tidak terima. "Kau masih mengharapkan wanita itu?"

"Dia adalah keberuntunganku, Tiff. Aku bisa memanfaatkan semua yang ada pada dia untuk keuntunganku sendiri."

"Seperti?"

"Kau tau kalau situasiku sedang sulit dan hanya Luhan yang bisa membantuku untuk keluar. Seorang gelandangan jika bersama seorang ratu pun akan berubah menjadi seorang raja'kan? Karena itu aku harus bisa mendapatkan Luhan kembali." Sehun berujar enteng dengan segala pemikirannya. "Kau tidak ingin hidup miskin di Korea kan?"

Cepat-cepat Tiffany menggeleng hingga membuat Sehun terkekeh pelan. Ia sudah sejauh ini sampai rela mengikuti Sehun ke Korea dan tidak mungkin jika harus berakhir menjadi gelandangan di Negara orang. Ia sudah kehilangan Carey setidaknya Sehun harus bisa lebih ber'uang dari kakak tirinya itu. Biarkan Sehun melakukan semua rencanya busuknya kepada Luhan, toh hasilnya pun akan bisa ia nikmati nantinya.

Tiffany tersenyum lebar saat menemukan dirinya tidak akan dirugikan dari segi apapun. Secara diam-diam Tiffany memuji otak picik yang dimiliki Sehun. "Baiklah, aku akan membiarkanmu untuk bisa mendekati Luhan. Tapi kau harus selalu ingat kepadaku, Sehun."

"Tentu, kau adalah wanita pertama yang selalu aku ingat." Dengan senang, Sehun menarik tengkuk Tiffany dan membuat penyatuan yang akan kembali menghantarkan mereka pada kenikmatan.

.

.

"Kau sudah memberi dukungan penuh kepada tuan Hanseol kan?"

"Tentu nona. Aku melakukan seperti apa yang anda minta."

Luhan berjalan dalam kawalan Woo bin dan Chanyeol yang berdiri di kanan-kirinya. Beberapa orang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan Luhan pun mengekor setia di belakang Luhan dengan rapi. Hari ini adalah hari penting, hari di mana pemilihan pemegang Mall akan dilaksanakan.

Pintu yang sudah terbuka lebar itu Luhan masuki dalam keangkuhan dirinya yang mampu membuat semua orang berdiri dan membungkuk penuh hormat kepadanya yang berjalan menuju mimbar. Di hadapan Luhan kini berdiri berates-ratus orang dari semua pemilik Toko di Mall ataupun pemegang saham di perusahaannya.

"Hari ini kita akan melakukan pemilihan untuk pemegang Mall." Seperti yang mereka semua ketahui, Luhan tidak pernah berbasa-basi. "Dan aku sebagai pemilik Mall akan mengumumkan tiga nama yang akan mengikuti pemilihan tersebut."

Chanyeol dengan sopan meletakan document di mimbar yang ada di hapadan Luhan.

"Pertama, tuan Kim Hanseol. Dia pemilik saham tiga puluh empat persen dan dia juga memiliki perusahaan di bidang Agraris. Kedua, tuan Edgar lous. Dia pemilik saham tiga puluh lima persen dan memiliki perusahaan di bidang Ekstraktif. Ketiga, taun William Edison. Dia pemilik saham tiga puluh tiga persen dan memiliki perusahaan di bidang perdagangan." Dokument itu Luhan tutup dan matanya menatap lekat kepada seluruh orang yang ada di depannya. "Kelangsuangan Mall akan ada di tangan kalian dan aku harap kalian tidak memilih orang yang salah."

Kasak-kusuk mulai terdengar setelah Luhan membacakan tiga nama yang salah satunya akan menjadi pemegang Mall dan diantara keributan yang berlangsung, mata Luhan secara tajam menatap Sehun yang mendengus malas.

Sehun tau siapa yang Luhan sindir di pidatonya tapi cukup biarkan karean Sehun yakin dirinya yang akan terpilih.

.

.

Luhan duduk di kursi yang disediakan sembari mendengarkan riwayat hidup yang dibacakan dari tiga nama yang ia umumkan dan saat tiba giliran Sehun, Luhan hanya mampu menahan mual karena Sehun merubah semuanya menjadi hidup yang sempurna dan mengagumkan! Tentu, dia tidak mungkin menuliskan kalau dirinya sudah membuat hancur satu dari banyakanya perusahaan Harry Edison dan sesuai perkiraan, Sehun menggunakan nama Harry Edison sebagai senjata utama.

Tak berselang lama, pemilik toko atau pun saham mulai menentukan pilihan. Luhan yang hanya diam menunggu pengumuman jumlah nilai diumumkan hanya bisa menahan napas karena matanya banyak menangkap orang yang berjalan pada tempat Sehun. Sial! jika benar Sehun yang terpilih.

"Pembacaan hasil nilai akan segela kami umumkan."

Semua orang menegakkan tubuh karena setelah beberapa lama menunggu hasil yang dinantikan akan dibacakan terutama Luhan, dia sangat menanti hasil yang didapat.

"Tuan Kim Hanseol memperoleh suara delapan puluh sembilan persen."

Bibir Luhan tersungging senyuman puas. Itu bisa disebut nilai yang cukup tinggi.

"Tuan Edgar Lous memperoleh suara lima puluh tujuh persen dan tuan William Edison memperoleh suara delapan puluh sembilan koma lima persen dan hasilnya tuan William yang akan menjadi pemegang Mall untuk lima tahun kedepan."

Sehun berdiri dari kursinya dengan senyuman kemenangan karena berhasil menyingkirkan dua pesaingnya dengan nilai yang begitu tipis, dirinya secara sopan membungkuk pada semua arah sebagai tanda ucapan terima kasih, sementara Luhan hanya bisa mengepalkan tangan karena keberuntungan tidak memihak kepada dirinya. Keparat!

"Ayo kita pergi." Dengan kesal, Luhan berjalan keluar tanpa menunjukkan keramahan pada semua orang yang menatap bingung akan kepergiannya.

Sehun yang melihat kemarahan terpancar pada diri Luhan merasa puas karena berhasil mengalahkan Luhan. Semuanya terjadi sesuai dengan keinginannya dan sekarang hanya tinggal menarik Luhan kembali dalam pelukkannya.

.

.

"BANGSAT!"

PRANG!

Chanyeol hanya mampu berdiri kaku di tempatnya berdiri karena kemarahan Luhan yang membeludag parah. Pecahan Vas atau perabotan mahal lainnya sudah hancur berkeping-keping akibat Luhan yang melemparkannya tanpa ada rasa rugi.

Sebenarnya Chanyeol sangat ingin berlari keluar tapi itu mungkin lebih bahaya dibandingkan kepalanya harus terkena pecahan Vas bunga karena bisa saja Luhan memenggalnya bagai seekor tikus tidak bernyawa.

"AKU INGIN MEMBUNUHMU SEHUN!" Teriakan nyaring Luhan memasuki telinga Chanyeol sampai bulu kuduknya meremang tinggi. "Panggil Woo bin sekarang." Dan perintah itu semakin membuat Chanyeol merasa lemas karena tegang.

"Catat namamu dengan baik Sehun karena mungkin kau akan mati hari ini." Chanyeol membatin miris sembari membawa langkahnya keluar dari kamar sang nona besar untuk menemui Woo bin yang mungkin sudah mendengar teriakan Luhan dari luar.

.

.

Sehun dalam perjalanan pulang setelah mengurusi beberapa hal di Mall yang sekarang menjadi kekuasaannya. Sungguh senyuman tidak lepas dari lekukkan bibir Sehun karena rasa senang bukan kepalang yang ia rasakan. Dirinya pun merasa tidak sabar untuk menunggu hari di mana ia akan benar-benar menerima jabatan itu dari Luhan.

TIN! TIN! TIN!

Bunyi ribut dari kelakson membuat Sehun menoleh pada kaca sepion. Di sana terlihat tiga mobil mengikutinya dan Sehun tau kalau itu pastilah anak buah Luhan. Tanpa ada keraguan Sehun membawa mereka semua menuju tempat sepi dan menghentikan mobil yang dikendarainya di pinggir jalan.

Tiga mobil yang mengikuti pun berhenti dan tak lama keluar enam anak buah Luhan termasuk Woo bin yang berdiri di tempat paling depan.

"Di mana nona muda kalian?" Sehun bertanya dengan kekehan geli. "Apa dia berniat memberi ucapan selamat kepadaku?" Beberapa langkah maju Sehun ambil tanpa ketakutan. "Luhan! Aku tau kau ada di dalam, keluarlah dan aku akan menganggap kalau kesepakatan itu tidak pernah ada, jadi kau tidak perlu merasa kalah."

Salah satu pintu mobil terbuka dan menampilkan sosok Luhan hingga membuat Sehun tersenyum lebar.

"Seperti yang aku duga." Sehun berniat mendekati Luhan namun Woo bin dan anak buahnya segera menyerang Sehun yang tidak sempat menghindar.

Dengan tangan bersedakep Luhan mengamati bagaimana perkelahian satu melawan enam yang sedang berlangsung di depan matanya. Sehun cukup pintar berkelahi, Luhan akui itu namun itu tidak mampu sampai menyelamatkan dirinya dari hajaran Woo bin yang membabi buta.

"Hentikan."

Woo bin menghentikan aksinya untuk memukuli Sehun setelah mendengar perintah Luhan. Semenatara Sehun hanya terkekeh dengan muntahan darah yang mengotori area bibirnya. Secara lemah Sehun terbaring di atas jalan, matanya yang sudah memar keunguan tanpa ragu menatap Luhan yang kini berdiri menjulang di sampingnya.

"Kau cantikh." Ucapan itu keluar dari mulut Sehun dengan batuk sesak yang dirasakannya. "Aku senang karena bisa kembali bertemu denganmu."

Luhan mendecih dan menendang pipi Sehun menggunakan ujung sepatu heels yang ia kenakan. "Jangan berbicara hal yang tidak berguna. Ini peringatan untukmu, Sehun. Lain kali aku akan membunuhmu jika sampai kau tidak becus mengurus Mall milikku." Satu tendangan yang lebih kuat kembali Luhan berikan di pipi Sehun sebelum dirinya pergi diikuti anak buahnya yang mengekor di belakang.

Tiga mobil itu telah menghilang dari pandangan sayu Sehun, tapi bukannya mengumpat karena sudah dibuat babak belur oleh Luhan, Sehun justru tertawa geli tanpa menghiraukan rasa sakit disekujur tubuhnya.

Untuk dirinya, Luhan kini benar-benar terlihat begitu mengagumkan dan menantang. Ia menyukai itu.

.

.

.

.

.

To be continue..

Jeng! Jeng! Ketemu TBC aja lol pendek ya pendek ya? Emang pendek parah ini chap. 3k lebih sedikit lol tapi ga papa ya, yang penting cepet up dan doain semoga next bisa cepet up lagi^^ untuk menebus chap pendek ini jadi biarkan aku kasih sedikit cuplikan(?) untuk next chap.

"Kau masih berhubungan dengan Tiffany?" –Eunhwa.

"Cepat bersiap-siap. Atau kau mau aku mandikan?"- Sehun ke ? ke siapa hayooooooo?

"Bagaimana kabarmu?"- Luhan.

Dan apa lah aku mah.. katanya ga mau kalo Luhan cepet tunduk ke Sehun tapi masa udah ada yang minta HunHan nyatu (-_-) Udahlah aku mah ga mau dibuat serba salah kaya TSP kemarin lol jadi ikuti alur aja ya^^

Sanshaini hikari : Sehun ga pernah ga berulah Ka lol belum aku tunjukin, di chap depan baru aku selipin KaiSoo Ka^^

Xiaohimelu : Aku anak HunHan yang sayang bunda juga ko. Tenang aja hahaha

Oh Lu : emang masih putus ya tapi nanti bakal dijelasin ko gimana Sehun setelah kepulangan Luhan ke Korea kan sebenernya Sehun juga belum tau kalau Luhan udah tau dia diperkosa Ken atas kesepakatan bersama hohoho

Juna oh : Dan jawabannya ada di chap ini hahaha

Princessjewel750 : Ini karangan lah jangan dibawa ke real life lol

Selenia oh : BaekSoo udah ada kan sejak chap awal hahaha rahasia perusahaan itu mah.

Wollfdeer520 : Dimasukin aja belum mak masa udah minta Luhan hamil hahaha

Tksit : Aku juga heran heeemmmm jadi ayo kita pikirkan bersama, Sehun aslinya cinta ga ma Luhan? hahaha

Aleazurabooyunjae : Mungkin tertular(?) FF Angel of the death lol

Ccdtksexoot12 : Kamu telat casting jadi ga bisa jadi temen Luhan deh hahaha ChanBaeknya dulu baru KaiSoo.

AngelLuDeer : Tu, alasannya kenapa deketin Luhan udah Sehun jelasin hahaha

Yo Yo review untuk next chap^^ yang pada nyelip di review minta TSP update, nanti ya^^ bulan puasa aku upnya ini. Thanks untuk semua review kalian dan follow juga favorit. Kalo misal bosen tinggal tinggalkan aja FF ini^^ aku ga pernah maksa buat baca atau review.

Klita ketemu di next chap^^ jump! Jump! Jump! Jump! We are HHS^^ See you.. love you all