FFN. CODE 3 黒子のバスケ。
"PERSEMBAHAN SETAN"
PART 10 : RITUAL UNTUK PARA PENDOSA
—The sinner between us— (死)
WARNING : Creepy Time, Awkward Plot, BLOODY
Terror/Little Bit DRAMA
CHARA X OC
"その時、バスケが遣りましたか。新しい生かが会いています。今、どうしてあの幸せの日々が消えるか?ねえ。。そうかな?幸せ日々がひゅう減あることに…."
"Sono Toki, Basuke ga yarimashitaka. Atarashii nakama ga , doushite ano shiawase no hibi ga kieruka? Nee…, souka na.? shiawase hibi ga hyugen aru koto ni…"
-KAGAMI TAIGA-
(SMA SEIRIN)
..."Ane wa chi wo haku, imoto wa hihaku,
kawaii tomino wa tama wo haku...
(TOMINO NO JIGOKU)
MIDORIMA SHINTAROU
—The Story that Nobody Know—
Perjalanan dari Tokyo sampai ke Saporro memang melelahkan.
Sebenarnya aku bermaksud ke Hokkaido, tapi yang namanya kebetulan memang selalu ada. Aku tidak jadi ke kota paling utara di Jepang, sekarang yang bisa kulakukan adalah menginap di sebuah cottage kecil dekat wisata Ski di Sapporo. Ada e-mail dari Takao kalau di Tokyo kondisinya sedang gawat, tapi aku berusaha mengabaikan mual di perutku karena kepikiran apa yang terjadi dengan si bodoh Kise yang masih koma—dan aku baru mendapat kabar dia sudah siuman beberapa jam lalu.
"Ck, kenapa harus di tempat dingin?" gerutuku sembari menyeret diri ke kamar mandi untuk cuci muka. Kalian pasti heran kenapa aku ada di kota ini, alasannya tak perlu kujelaskan sekarang karena aku memang harus melakukannya.
Sebelum semuanya terlambat.
Pukul 09.00 semua sudah siap, aku hanya perlu membawa jaket tebal dan notes kecil di saku.
"Restoran Seafood 'Umigarashi, dekat Café Au' de Amor'. Sapporo, 09.15. Pavilion atas. Check in atas nama 'Midorima Shintarou'. Ttd Kepala Keluarga Kirishiki" aku membaca lagi catatan berwarna coklat itu yang kudapatkan sehari sebelum datang ke sini.
"Kirishiki…"aku tak perlu menduga lagi siapa yang seenaknya membuatku menyewa sebuah ruangan VIP di restoran mahal, yang jelas bukan orang tuaku atau sanak saudaraku, apalagi aku—aku tak punya uang sebanyak itu untuk menyewa sebuah resto bintang 7—kulirik alroji, sudah jam 09.05. Aku harus bergegas.
"Selamat datang, anda sudah mereservasi?" pelayan bersanggul menyapaku di lobby depan, tepat di customer service.
"Ya. Atas nama Midorima Shintarou, pavilion atas ruang VIP." Jawabku.
"Baiklah, ah, anda yang memesan tempat kemarin ya? Mari langsung saya antarkan" aku ingin menjawab bukan, tapi aku hanya mengangguk mengikuti pelayan hingga sampai di tempat yang sudah dibooking-kan untukku.
"Appetizer sudah kami hidangkan, Makanan utamanya akan kami antarkan segera. Untuk Desert akan dihidangkan pukul 11.00, silakan ditunggu. Saya mohon diri dulu"
Ruangan ini tampak sederhana dengan desain minimalis yang indah. Tatami-nya juga bersih dan tidak berkesan kuno. Meski gayanya tetap gaya khas Jepang(bukan kebarat-baratan) berkebalikan dengan restoran di seberangnya tapi makanan yang dihidangkan cukup lengkap dari mulai makanan dalam negeri hingga mancanegara. Kurasa aku harus bersantai sejenak meski ini bukan liburan.
Sapporo sangat dingin, kota dengan musim dingin terlama, aku ke sini bukan dalam acara berwisata jadi kutegaskan aku ke sini karena ingin menyelesaikan sesuatu. Aku tak bisa menyelesaikan masalah tanpa bantuan 'Dia'. Orang yang sudah kucari selama hampir satu setengah tahun dan tiga bulan terakhir aku mendapat petunjuk bahkan menemukan lokasi keberadaannya.
"Seperti dugaanku, kau cukup tampan untuk ukuran anak SMA"
"Aku ke sini bukan untuk membahas hal bodoh"
"Lancang sekali bicaramu. Kukira kau tetap menjadi anak manis seperti tiga tahun lalu"
Kuhela napas, kuamati wanita berpakaian formal dengan rambut hitam terurai sepunggung. Sebatang rokok terselip di mulutnya yang mengenakan lipstick merah gelap, dia menyeringai, seringainya mengingatkanku pada sosok yang kukenal—ralat—orang yang memang kukenal.
"Bisa kita mulai bicara? Sebelum aku mati kedinginan di sini"
wanita itu hanya menelengkan kepalanya, kulirik suatu benda panjang di belakang dirinya yang disenderkan ke pintu.
"Apa tidak berbahaya membawa benda seperti itu?" tanyaku sinis.
"Kau lupa kau bicara dengan siapa, nak? Kurasa ayahmu bakal terkesan kalau kuberikan benda ini sebagai souvenir" dia mengikik kecil tapi matanya tetap awas mengamatiku.
Tekadku sedikit turun,kalau aku tidak punya muka badak dengan tampang songong mungkin aku sudah dicabik oleh wanita ini.
"Ayahku tidak suka barang antic"
"Hahaha, kau kaku sekali! Ayolah, makanan utama belum datang jangan seperti itu. Aku hanya bercanda" kurasa hawa liar di sekelilingnya tetap mengintimidasiku, namun suasana sedikit mencair karena sikapnya yang bar-bar.
Persis sekali,tanpa kurang apapun.
"Saya merasa anda kelihatan santai meski sudah bertahun-tahun hidup seperti ini"
"Saa na, hidup dalam pengejaran bukan impianku. Aku ke sini karena pekerjaan, pekerjaan yang kurasa bakal jadi masalah besar kalau kutolak"
"Anda yakin menanggapi permintaan saya?" wanita itu diam sejenak, menghembuskan asap rokoknya di dekat jendela. Dia anggun, tapi keliaran di dirinya membuat sosoknya terlihat buas dan mengerikan. "Aku mencoba untuk professional"
Kuanikkan satu alis, "Professional? Anda tidak seantusias sebelum saya menceritakan masalah apa yang saya ingin anda kerjakan".
"Huh, bagaimana kau bisa antusias kalau tiba-tiba hidupmu berubah hampir satu dekade dengan pertemuan tak terduga?"
"Anda takut?" wanita itu menuangkan sake lalu menatapku. Pandangan yang tidak mengerikan, cahaya mata yang mirip dengan ibuku. Ah, lebih tepatnya dia….
"Ketakutan selalu datang. Bahkan orang brengsek juga tahu kalau aku lebih takut menghadapi bocah cilik ketimbang cowok berotot"
Udara sejuk masuk menyisip lewat jendela, kami terdiam sejenak. Kuambil sebuah apel dan memotongnya perlahan.
"Jadi. Midorima, Bagaimana kabar dari 'putri-putri kecilku'?"
XXXXXX
hitori jigoku ni ochiyuku tomino,
jigoku kurayami hana mo naki.
muchi de tataku wa tomino no aneka,
(TOMINO NO JIGOKU)
KUROKO TETSUYA
Rumah Sakit Pusat. 10.06 a.m
Kepanikan itu berangsur-angsur menjadi terlihat mengerikan.
Akashi-kun meminta untuk mengumpulkan semua senpai-ku di Gym SMA sebelum kami bergerak, yang membuatku panic adalah kondisi Kise-kun. Kondisi Kise-kun tiba-tiba kritis sampai alat elektrodraf yang memperlihatkan irama jantungnya berbunyi terus menerus tidak beraturan, seolah-olah akan meledak dalam hitungan jam atau menit atau detik.
"KISE-CHAN!"
Teriakan Kohane cukup membuatku—juga teman-teman yang ada di ruangan itu—serempak menengok, mendapati pemandangan menyesakkan dan Himuro-san langsung menghambur kea rah kami.
"Kise-kun! Bertahanlah, aku panggil perawat!" serunya pada kami semua. Dia berhenti sejenak lalu menatap kami bergantian.
"Panggil suster atau dokter jaga! Keadaan darurat, Akashi-kun, kau pergi urusi saja yang harus dilakukan setelahnya, Taiga kau temani Akashi-kun, aku minta Takao-kun, Kuroko-kun tetap di sini! Sisanya pergi bersama Akashi-kun!" komando Himuro-san seperti serdadu perang siap tempur bahkan Akashi-kun yang biasanya tidak mudah patuh langsung bergerak tanpa protes.
"Tunggu dulu! Bagaimana bisa kami pergi membiarkan kondisi di sini kacau balau!?" suara protes itu datang dari Aomine-kun.
"AOMINE!" Kagami-kun membentak Aomine-kun, dia memasang wajah memohon. Suasana tegang sejenak.
"Kumohon…, Aomine-kun. Aku tak mau memperumit suasana. Patuhi saja apa yang diminta Himuro-san…". "Tetsu, kenapa kau juga—".
"KUMOHON!" Kali ini aku yang harus menguatkan hati, aku tak mau membuat suasana semakin kacau karena keegoisan diri masing-masing, semua tahu itu.
"Aku mengerti perasaanmu, Aomine-kun. Tapi ini yang terbaik dan tidak ada cara lain selain melakukan hal yang kita bisa" Himuro-san menengahi kami, dengan wajah pasrah akhirnya Aomine-kun meninggalkan bangsal tanpa menoleh ke arahku walau sesaat.
"Kohane, kau sudah telepon dokter?" Tanyaku.
"Un. Kuro-chan—" Kohane menggenggam erat seragamku, hatiku perih melihat hal seperti ini."Aku, sejak kejadian di rel itu…, terus menunggu Onee-chan sadar untuk menjelaskan semua kata-katanya. Aku tidak peduli apa yang dikatakan oleh kakak kembarku itu soal aku tapi..soal Kise-chan adalah hal yang berbeda".
Sekarang Kohane tertunduk lesu berganti dengan menggenggam erat tangan Kise-kun lalu suaranya yang parau di tengah isakannya aku mendengar dia berkata ; "Sejak dulu, kakak kembarku selalu menjadikan duniaku bahagia tanpa cacat dengan menumpahkan semua hal buruk padanya. Siapapun yang pernah menggangguku dulu berhenti melakukannya, Karena Onee-chan berperan sebagai 'aku' lalu menghabisi semua yang tidak menyukaiku.
"Tapi ini berbeda, itu semua berubah setelah aku melihat kalian di Teikou. Kami memang kembar, tapi untuk pertama kalinya aku melihat, kalau Ada yang mau melindungi kakak kembarku meski dia jahat" memoriku terulang kembali, kejadian mengerikan itu, semuanya.
"Kinako tidak jahat, meski tenaganya ratusan kali dariku atau Shin-chan dia tetap anak yang manis" sahut Takao-kun. Kohane terdiam sesaat.
"Aku sayang kakak kembarku, aku juga sayang Kise-chan. Aku mau mereka hidup normal karena itu aku tidak mau…kalau harus kehilangan salah seorang dari mereka, aku tak mau!. Aku tidak akan membiarkan Kise-chan mati…" dasar dadaku seperti di remat dan diinjak-injak, nyeri yang menusuk.
"Kalau Kise-chan mati, aku.., tidak tahu..., aku harus bicara seperti apa pada kakak kembarku"
"Kohane, aku tidak akan membiarkan siapapun tewas. Kuatkan hatimu, kamu masih punya orang-orang yang menyayangimu! Kakakmu, Aomine-kun, Momoi-san, semuanya. Kami memang tidak sama sepertimu atau Kinako tapi dengan kekuatan kami yang sedikit ini…, aku janji akan membawa Kinako dan Kise-kun padamu. Lalu, hidup bersama, sekolah, bermain basket sama-sama, dan BAHAGIA BERSAMA-SAMA" entah apa yang sudah kukatakan pada Kohane, wajah Takao-kun bahkan Himuro-san terlihat lucu di mataku. Mereka terbengong-bengong.
"Kuro-chan….".
"Bagaimana kondisi di sini!?" Dokter dan para medis datang menghampiri kami(tepatnya Kise-kun) yang semakin kritis, napasnya terputus-putus, seluruh perawat di sana mengerahkan segalanya sampai Kise-kun dipasangi alat bantu pernapasan dan melakukan kejut jantung.
"PIIIIPPP…"
Suara mesin yang panjang dan lama, berdengung hebat di telingaku bersamaan dengan suara-suara riuh para perawat juga dokter dengan tegas memberi komando.
"Kise…chan….."
Di depanku, dokter terlihat shock, semua perawat kelelahan dan hanya wajah putus asa yang terlihat. "Kise…kun..". Tidak ada lagi gelombang elektro di mesin bermonitor hijau , garis itu lurus tanpa ada perubahan, tengkukku dingin, keringatku mendadak banjir dan lidahku serasa membatu. Amplitudo yang tadi tak beraturan sekarang lenyap entah kemana
"Tidak mungkin….."
Kali ini Himuro-san mencoba merangsek ke depan melihat keadaan meski di sana hanya ada wajah tidur Kise-kun tanpa ada tanda-tanda kehidupan, wajah yang tenang.
"….Tidak…, Kise-chan..".
"KOHANE!" sontak aku menengok dan ternyata Kohane sudah lari keluar kamar, aku ingin mengejarnya tapi Himuro-san mencegah.
"Jangan!" pintanya.
"Tapi! Dia, Kohane—" elakku terbata.
"Aku tahu dia kemana, yang harus kita lakukan tetap berada di sini untuk menjaga kondisi Kise-kun. Aku ingin kau tenang, karena kalau semua orang panik maka berita ini bakal bocor kemana-mana dan polisi bakal datang juga pihak sekolah bakal memberi sanksi berat pada klub basket" Ukh, aku tidak bisa berkata apa-apa. Semoga. Ya semoga saja…, keadaan ini hanyalah mimpi dan aku akan terbangun di tengah-tengah kelas lalu Kagami-kun memarahiku.
"Apa kalian kerabat Kise Ryouta-san?"
Kurasa ini bukan mimpi, kakiku lemas,dan tanpa kusadari air mataku terbit….
...
XXXXXX
muchi no shubusa ga ki ni kakaru.
tatake yatataki yare tataka zutotemo,
mugen jigoku wa hitotsu michi.
KAGAMI TAIGA
SMA SEIRIN. 10. 20 a.m
Suasana di Gym mendadak mencekam.
Tidak hanya aku. Murasakibara, Aomine, bahkan Akashi yang memasang wajah muram. Bagaimana aku menjelaskan semua kekacauan ini tanpa tahu apa yang akan menanti dikemudian hari? Kalau kami salah langkah lagi maka kejadian yang sama akan terulang, Kise yang kritis, Kinako yang belum membuka matanya bahkan Midorima juga tidak tahu dimana keberadaannya seolah menghilang ditelan bumi.
Mengerikan, semua terlihat mengerikan dengan serentetan percobaan pembunuhan yang bahkan bisa membuat Akashi terus berkelut dengan kami—bukan dengan egonya.
"Semua terlihat sepi, membuat merinding saja" Murasakibara memberi opini.
"Semua belum berkumpul…" sahutku, "Apa yang terjadi di rumah sakit?"
"Tenanglah, aku sudah meminta Kuroko untuk menghubungiku kalau ada apa-apa" Akashi selalu bisa diandalkan di saat seperti ini. Sayangnya setelah hampir lima belas menit di GYM taka da yang memunculkan batang hidungnya satupun.
Kucek lagi ponselku. Hah!? Apa-apaan ini, tidak ada sinyal barang satu atau dua pun! Aneh, padahal saat diperjalanan aku masih bisa mengirim Tatsuya e-mail? Seolah-olah ada sesuatu yang akan terjadi.
"Apa-apaan ini, sinyal ponselku lenyap begitu saja?" benar sekali, Murasakibara mengacungkan ponselnya terlihat begitu kesal. Bukan hanya ponselku ternyata ponsel Murasakibara juga.
"Akashi, lihat—".
"Aku tahu. Ponselku juga kehilangan semua sinyalnya" gerutu pemuda itu.
"Kita harus kembali! Sebelum semuanya…."
PRAAANGG!
Jantungku nyaris berhenti berdetak ketika mendengar suara nyaring dari atas atap Gym. Tunggu, itu kaca Gym yang sewaktu itu diperbaiki kan—yang dulu menimpa Kaptenku? Tapi kenapa?
"Kagami! Awas….!" Murasakibara mendadak menarikku seperti monster yang hendak menyeret mangsanya dengan ganas, tentu saja aku shock berat tapi aku lebih shock melihat apa yang akan menimpaku bersamaan dengan bunyi pecahan kaca tadi.
"Kali ini apalagi!?" seru Murasakibara sementara lidahku masih membatu dengan pemandangan ngeri di depan.
"Bangkai gagak, dan…darah binatang?" Akashi mendekati benda-benda menjijikan itu, ada 2 ekor gagak yang mati dan darah terjun dari atas. Darah itu sepertinya bukan darah dari gagak karena banyak sekali.
"Mou, sepertinya kita memang kena kutuk ya?" desis Murasakibara.
"Jangan bercanda! Aku hampir mati ditimpa bangkai-bangkai ini" selakku galak, "Apa yang bisa membunuhmu dengan dua ekor gagak mati?" pertanyaan idiot macam apa itu!
"Jelas Kagami bisa mati karena pecahan itu juga ikut terjun dari ketinggian hampir20 meter… bisa dipastikan kematian akan langsung datang menjemput".
Sialan, kenapa sih orang-orang ini mereka tega membiarkanku mati seperti gagak-gagak ini!?
"Haah, apa yang kalian bicarakan! Kalian tega melihatku jadi mayat di sini, huh, sudahlah sekarang bagaimana menghubungi para senpai dengan kondisi seperti ini?" aku mencak-mencak mencoba mengembalikan topic semula.
"Kita tinggal keluar untuk mencari sinyal kok" ucap Murasakibara, dengan santai dia ke pintu Gym, tapi ekspresinya berubah ketika tangannya sudah memegang handle pintu berwarna kehijauan itu. "Kenapa Murasakibara?" Tanya Akashi di sampingku.
"Sepertinya kita terkunci". WHAT THE?! Kali ini candaan macam apa yang datang, perasaan kunci tadi ada di tangan Akashi. Maksudku karena hari ini sekolah pulang lebih awal dan tidak ada kegiatan klub jadi kami harus meminjam kunci tapi mana ada yang kurang ajar mengunci kami di dalam.
"Hoi, kau bercanda,ya!? Kita yang bawa kuncinya dan tidak ada yang bawa serep!" cibirku.
"Memangnya petugas kebersihan tidak punya serep?" Tanya Akashi.
"Yang mengurus Gym biasanya adalah anggota Klub, serep biasanya dibawa kapten atau pelatih tapi sekarang tidak ada kegiatan pasti mereka juga tidak ke sini" suasana mendadak dingin, dingin yang mencekam. "Aku merasa kita tidak sendiri di sini" bisik Akashi.
"Festival Akagosai. Sepertinya kita harus menyelidikinya" ucapku mengambil ancang-ancang.
"Murasakibara, tetap di sana. Jaga pintunya dan jangan sampai lengah".
"Kau seperti pernah ikut turnamen berkelahi saja" tuturnya dari seberang. "Aku pernah mengalaminya, malam dimana kalian menyusul ke Teikou itu kami sedang bertempur habis-habisan dengan makhluk-makhluk aneh" tandasku.
Sayup-sayup kudengar suara melengking, dia mengikik dan bunyi benda yang diseret. Sesuatu, ada seuatu yang datang dari gudang penyimpanan bola.
"Akashi, kau masih di sana?" bisikku.
"Aku tidak kemana-mana. Kau kenapa? Ada sesuatu?" tanyanya perlahan.
"Kau tidak dengar ada suara?". "Suara apa?" tanyanya. Oke, mungkin aku yang terlalu parno atau instingku mendadak tajam akibat kejadian tiga bulan lalu.
"Kyahahaha….. kyahaha.."
Oh, shit. Suara wanita tertawa. Suaranya mengambang tapi tidak tahu darimana berasal aku hanya bisa terus waspada. Akashi dan Murasakibara tidak merespon apapun, jadi di sini hanya aku yang bisa mendengarnya? "Kagami?" Akashi menyentil sikutku, kulirik dia dari sudut mataku.
"Kau kenapa dari tadi, mendadak tegang sampai seragammu basah kuyup?" aku tak bisa menjelaskan apa yang kurasakan, telingaku terlalu banyak mendengar sesuatu sampai konsentrasiku pecah.
"Onii..chan.. Asobi..mashoo*(kakak-kakak, ayo main)….".
"Panas..panas…, tolong… mengerikan! Dia membunuhku..mereka seperti orang gila!"
"Permainan macam apa ini….! Anakku…."
"Aku mau pulang…. PAPA..MAMA… AKU TAKUT…."
"Dewa akan senang… anak-anak adalah yang terbaik..anak baik.. anak baik…"
HAH?!
Suara apa itu, suara yang menggaung di sekelilingku, "Kagami, hei bagaimana ini masa kita diam—" mataku menangkap ada sosok di balik Murasakibara, sosok tangan keriput kecil lalu bayangan yang menggunduk dengan sepasang kilap merah. Mata merah, mereka hendak menangkap Murasakibara.
"Kakak..kakak…. GILIRAN KAKAK…" yaampun makhluk macam apa yang menggunduk hitam itu!
"Ka, Kagami!?" tanpa sadar aku meninju pintu yang ada di belakang Murasakibara, pintu itu rusak hingga berlubang dan retak, engselnya patah satu dan kulihat Murasakibara sudah terkapar di atas lantai.
"Kau gila, ya!? Kau mau membunuhku? kenapa tiba-tiba kau menyerang begitu dasar idiot!" hardik Murasakibara dengan perasaan takut dan marah bercampur baur. Aku hanya diam, melihat tanganku yang sedikit lecet.
"Kagami, kau…."
Akashi yang mendekat spontan menghentikan langkahnya, entah apa yang dilihatnya dariku tapi sepasang manik merah matanya itu tak pernah kulupakan. Tatapan terkejut dari seorang Akashi Seijuurou untuk pertama kali.
"Jangan-jangan kau…".
Aku tak mengerti apa yang hendak dikatakannya sampai aku merasa ada sesuatu mampir menghajar kepalaku sampai aku tersungkur menatap lantai, sebuah sepatu basket menghantam dengan beringas. Kukira itu adalah serangan musuh tapi,
"Dasar anak tolol! Kau mau mencabut nyawaku,ya dasar brengsek!" Ah, suara auman itu, auman dari seorang Hyuuga Junpei. Kaptenku sudah datang bersama Kiyoshi-senpai dan Izuki-senpai.
"Aku nyaris kehilangan jantung waktu pintu Gym mendadak roboh ternyata kau biangnya" sahut Izuki-senpai.
"Wajah Hyuuga juga nyaris lepas dari tempatnya ketika sesuatu tadi menghantam, ahahaha" Kiyoshi-senpai memulai kelakarnya dibarengi dengan tatapan mengutuk dari kapten.
"Sialan. Ini bukan waktunya untuk bercanda, dan kalian!" Kapten menunjuk kami semua, "Kalian kenapa mengunci pintu Gym seenak jidat kalian!? Sudah kubilang biarkan saja pintunya,kan? Untung aku bawa serep, bagaimana kalau tidak? Cih, dasar anak-anak kelas satu. Mana yang lain?" selesai dengan umpatan-umpatannya kapten pun melenggang masuk melihat keadaan.
"Perasaanku saja atau memang di sini bau amis?" Tanya Kiyoshi-senpai.
"Aku mencium bau busuk menyeruak, seperti perpaduan daging dan darah bercampur aduk, ukh, baunya menyeramkan" desis Izuki-senpai sembari menutup hidung.
"Uhh, siapa yang melakukan ini!? Kalau aku tahu pelakunya akan kusuruh dia membersihkan gym ini hingga bersih!" sembur Kapten. "Sebenarnya itu adalah hal penting yang ingin kami sampaikan pada senpai sekalian" ucapku masih dengan kesadaran di awang-awang.
"Maksudnya?" Tanya mereka serempak. Murasakibara menunjuk gundukan di tengah Gym, dua ekor gagak mati dan tumpahan darah, juga pecahan-pecahan kaca yang tergeletak. Ketiganya memandang ngeri seperti melihat setting film horror buatan—hanya saja yang ini asli—aku hanya bisa diam melihat tanpa tahu sedari tadi Akashi memperhatikanku(samar-samar kurasakan itu tapi daripada aku dibilang kegeeran aku diam saja).
"Apa ini ulah kalian?" Tanya Izuki-senpai.
"Memang ada untungnya kami melakukan hal seperti ini?" sahutku balik.
"Memang tidak sih, kalau kalian berniat mengerjai kami wajah kalian tidak akan seperti ayam ingin disembelih" tandas kapten Hyuuga.
"Darah ini, darah binatang ya?" kata Kiyoshi-senpai.
"Kurang lebih, tapi menurut pendapatku itu memang darah binatang. Dari bau dan tekstur darahnya bukan seperti darah manusia. Darah manusia lebih hitam dan kental, ini seperti darah ayam atau unggas" Akashi turut memberi opini.
"Hei kalian sudah di sini rupanya?" sosok berkacamata dengan senyum segar menyapa kami dari pintu.
"Ah, Imayoshi-san dan Sakurai" sapa Kiyoshi-senpai balik.
"Mendapat panggilan darurat seperti biasa" tuturnya. "Kami juga sama" jawab Izuki-senpai.
"Tinggal Yosen, Shuutoku, Kaijou, dan Rakuzan"
"Ah, aku sudah menyuruh Mibuchi-san dan Hayama-san untuk menuju ke daerah Tokyo tempat Azumi-san tinggal. Nebuya-san berjaga di sekolah bersama Mayuzumi-san" kata Akashi.
Satu persatu kulihat para senior perwakilan masing-masing klub. Dari Shuutoku ada Miyaji-san dan Ootsubo-san, Kaijou tentu saja Kasamatsu-san dan Moriyama-san, aku tidak melihat senior dari Yosen.
"Mereka tidak datang?" tanyaku pada Murasakibara.
"Ng, tidak. Sepertinya Murocchin sudah mengatakan untuk tidak terlibat hal ini. Apalagi pelatih kami perempuan, bisa lebih ribut kalau beliau tahu" jawabnya.
"Kurasa semua sudah berkumpul, maaf keadaan kacau karena kami sebelumnya juga kena sedikit masalah di sini" tukas Akashi.
"Tak masalah, jadi ada urusan apa memanggil kami? Bagaimana keadaan sekarang, maksudku setelah tiga bulan apa yang terjadi?" Tanya Miyaji-san memborong pertanyaan.
"Aku tidak bisa menjelaskan detailnya, ini sedikit menyangkut masalah pribadi kami sebagai alumni Teikou. Kami harap senpai sekalian maklum, kondisi sedang tidak baik. Benar,kan Kagami…" Akashi menoleh padaku yang masih setengah sadar dengan apa yang terjadi.
"Uhh, yah. Kami sulit mengatakan kondisi seperti apa yang terjadi. Ano, maaf apa sebelumnya ada kabar dari Kise?" tanyaku perlahan pada Kasamatsu-san.
"Tidak. Pihak rumah sakit belum memberitahu apapun" jawabnya. Hooh, aku sedikit lega sepertinya di sana baik-baik saja dan nyawa Kise terselamatkan.
"Kita langsung ke topic saja. Aku ingin menyelidiki sesuatu dengan bantuan kalian karena ini menyangkut tidak,mungkin bencana dan terror ini bakal meluas kemana-mana juga melibatkan yang tidak bersalah. Pertama, aku ingin menjelaskan soal dasar kasus ini, lalu profil Azumi Kamitsuka, kemudian yang terakhir adalah 'Festival Akagosai'. Aku ingin menyelidiki lebih dalam soal festival itu" Akashi menerangkan dengan saksama sementara yang lain mendengarkan meski ada raut kebingungan di wajah mereka.
"Jadi, tujuan kita kali ini adalah?" Tanya Izuki-senpai.
"Mencegah berlangsungnya festival itu dan menangkap oknum yang menyebarkan penyakit mengerikan itu segera mungkin. Aku tidak mau hal ini memakan korban, aku tak peduli istilah Ritual Persembahan Setan atau Persembahan Dewa, yang pasti ini kejahatan berat. Korban umumnya anak-anak bisa juga remaja. Kalian pasti mengerti apa yang ingin kuucapkan, kita sudah kecolongan dan jatuh dua korban kritis. Aku tak mau itu terjadi lagi" ini dia, wibawa Akashi sang Emperor Eye yang Absolute keluar.
Hening, semua tak bergeming.
"Masuk akal. Jadi sumber dari terror ini adalah kasus yang sudah ditutup lalu diam-diam masih dilakukan oleh oknum kurang ajar? Itulah kenapa kau menyangkutkan masalah Teikou dan Azumi juga kecelakaan di Ruang PKK tiga tahun lalu. Aku bisa menarik kesimpulan akibat festival itu ; Azumi yang mungkin menjadi salah satu tumbalnya depresi berat hingga melakukan hal yang serupa untuk memuaskan rasa paranoid berlebihan, menyiksa temannya agar yang lain merasakan. Psychotic sekali" penjelasan Imayoshi-san kupikir tak perlu lagi dijelaskan lebih detail, masalah Teikou pun adalah masalah Akashi cs, korban yang jatuh saat itu adalah si kembar—kakak—lalu sekarang adalah Kise dan lagi-lagi menyeret si kembar(kakak).
"Seperti biasa, Imayoshi selalu bisa mengambil langkah cermat" puji OOtsubo-san.
"Kita mulai darimana?" Tanya kapten Hyuuga.
"Mungkin kita akan mulai dari mencari informasi soal penyelenggaraan festival itu" jawab Akashi.
"Lalu kita menyusup ke dalamnya" tandas Miyaji-san. Suasanapun mencair, tidak ada yang tahu apa kejadian di waktu yang akan datang. Meski aku agak risi dengan suara-suara yang sedari tadi tidak hilang-hilang aku bisa merasakan hal ini bakal selesai, kasus ini harus diselesaikan secepatnya.
"Yosh, kita mulai misi ini" sahutku semangat. Tak berapa lama kemudian seseorang datang menggebrak pintu membuat kami semua terlonjak, kutengok siapa yang membuat suara gaduh itu.
"Ko, Kohane? Sedang apa di sini?" Tanyaku. Kohane terengah-engah( jangan bilang dia lari dari rumah sakit sampai ke sini? )wajahnya pucat penuh dengan peluh di sana sini, dia tertunduk sambil mengatur naoasnya. Kudekati pelan-pelan lalu kutepuk pundaknya.
"Kohane? Ada apa…kau kenapa? Ada yang mengejarmu?" kulihat dia mencengkram erat baju seragamku, ditengah napasnya yang masih tersengal-sengal dia membisikkan satu kata.
"KISE-CHAN"
EH?.
"Ada apa dengan Kise?" Tanya Akashi muncul dari belakangku. Sial, kenapa mendadak perasaanku tidak enak begini!? "Ada apa dengan Kise!?" tegasku.
Kurasa aku tak perlu penjelasan, wajah Kohane yang penuh dengan air mata sudah menjelaskannya. Perasaannya menusuk, mengirim sesuatu hingga kepalaku nyaris meledak. Sepasang mata merah yang sedih, histeris, penuh penyesalan dan kehilangan. Tangisan itu menggema di ruangan.
"Tidak mungkin…"
Selanjutnya semua terjadi begitu cepat. yang kutemukan hanyalah, sosok berambut Blonde tanpa kehidupan di dalam tubuhnya. Di seberangku, seorang melihat dengan tatapan menyesakkan, siapa lagi kalau bukan partnerku sendiri yang matanya sembab bersamaan dengan air matanya tertinggal di sela-sela kelopak mata biru itu.
"Kagami-kun…."
Tubuhku lunglai, nyawaku seperti dipaksa keluar dari badan. Semua sudah berakhir… tidak ada yang bisa diselamatkan lagi.
TIDAK ADA!
XXXXXX
kawa no fukuro ni yaikura hodoireyo,
mugen jigoku no tabishitaku.
haru ga kitesoru hayashi ni tani ni,
kurai jigoku tanina namagari.
AKASHI SEIJUUROU
Rumah Sakit Pusat. 11.45 a.m
Betapa menyedihkannya ketika kau tahu semua langkahmu sia-sia.
Langkah yang sudah kususun rapi, demi menyelamatkan satu nyawa saja sekarang hanya tinggal serpihan debu tak berguna yang wajib dibuang. Semua sudah berakhir, aku kehilangan seorang kerabat juga teman seangkatan yang dulu pernah berjuang bersama. Tidak ada lagi yang memasang wajah seperti itu, tidak akan ada lagi yang menjadi seorang peniru professional di lapangan. Mungkinkah ini benar-benar berakhir? Aku melirik berkas di tangan yang ternyata sudah kusut akibat kuremas tanpa sadar, rasa kesal menyeruak di rongga hatiku, kuingin membakar semua riset tolol ini dan menghajar si pelaku atau siapa saja yang bisa kupukul demi menuntaskan kekesalanku sekarang.
Benda ini sudah tidak ada artinya, benda seperti ini hanya membuang waktuku!
"Akashi, hentikan. Kita masih memerlukannya! Tenangkan dirimu, kumohon" kutatap Izuki-san yang mencegahku merobek kertas-kertas ini. "Ini sudah tidak berguna!" sinisku.
"Tapi kalau kau membuangnya, kita tak punya petunjuk apapun untuk bergerak" senpai bermata tajam itu tetap kuat menahan tanganku lalu lama-kelamaan emosiku sedikit mereda(walau tidak seutuhnya mereda).
"Kasamatsu…" aku hanya bisa memandang sosok berambut Raven tersebut memunggungi kami.
"Aku pikir ini yang terbaik, tidak membuatnya menderita untuk kehidupan selanjutnya" sahutnya lemah.
"Maaf, seharusnya aku bergerak lebih cepat" tutur Kagami penuh penyesalan. Suasana di ruangan itu sangat-sangat pengap, tentu saja penuh dengan kesedihan, kemarahan, penyesalah, juga emosi yang menguar bak insektisida.
"Brengsek! Aku, aku harusnya tahu dan tidak meninggalkan tempat ini!" umpat Aomine.
"Ini bukan kehendak kita" tukas Miyaji-san.
"Lalu apa!? Sekarang sudah terlambat, dia sudah tidak bisa diselematkan lagi. Kalau tahu begini jadinya keparat itu sudah kubunuh dari dulu-dulu!" bentakan Aomine membuatku sakit kepala, sebelum aku meneriakinya balik sosok Kagami menghampiri Kise yang terbujur di atas ranjang.
"Kagami? Ada apa?" Tanya Kiyoshi-san.
"Hei, Kagami? Kenapa sih dari tadi kau aneh. Kau salah makan?" cecar Hyuuga-san dari sampingnya.
"Kagami-kun kau kenapa?" perasaanku membawaku kembali tepat beberapa waktu lalu ketika Kagami menghancurkan pintu Gym sekolah.
Ada sesuatu yang membuatku bergidik ngeri, entah kenapa dia tidak seperti dirinya yang biasa, auranya lebih mencekam, mirip seseorang. Dan yang membuatku lebih terkejut adalah ; matanya menyala merah. Sekilas, aku tak yakin benar tapi aku ingin memastikan pengelihatanku soal mata Kagami yang sesaat berpendar merah.
"Kise belum pergi…." Bisiknya samar terdengar di telingaku.
"Hah?! Apa maksdunya, tapi dia kan…" protes dari Hyuuga-san terputus ketika mesin elektrodraf di ujung tempat tidur lamat-lamat mengirimkan gelombang tipis di garisnya.
Semakin lama gelombang itu semakin jelas dan terdengar ke seluruh ruangan.
"Hei, hei jangan bilang kalau…" Takao langsung menghambur mendekati mesin itu kemudian memastikan sesuatu,
"Mesin ini tidak rusak… jangan-jangan Kise…" mataku membulat lalu bergegas menuju ke samping ranjang Kise.
"Kise? Kau bisa dengar aku, kau disitu? Ini aku, Akashi" bisikku di dekat telinganya. Satu detik, dua menit, lima menit tidak ada jawaban.
"Kenapa? Apa dia mengalami koma lagi?" Tanya Ootsubo-san.
"Kurasa tidak, ng… Kohane-chan! Coba kau yang panggil Kise. Cobalah meniru kakakmu, panggil dia seperti kakakmu memanggil Kise" usul Imayoshi-san.
"Memangnya berpengaruh?" Tanya Miyaji-san.
"Aku paham apa yang ingin disampaikan kapten, aku juga merasa kalau sekarang yang dibutuhkan Kise-san adalah Kinako-chan. Tapi Kinako-chan tidak bisa membantu, sebagai gantinya Kohane-chan yang menggantikannya" kata Sakurai. Masuk akal, akhirnya kupandangi Kohane yang masih terpekur memandang kami, dia menangkap pandangan mataku lalu dengan lemah dia mencoba usul Imayoshi-san.
"…Ryouta… buka matamu…" demi para penjaga dunia, yang namanya anak kembar memang menakjubkan! Sekarang aku seolah melihat Kohane adalah Kinako. "RYOUTA…"
"Kohane..cchi…."
Kudengar semua orang menarik napas, benarkah ini bukan mimpi? Kise masih hidup! Dia membuka matanya setelah sekian lama terpejam, manik madunya menerawang kami sesaat dalam kebingungan. Pekikan kecil kudengar dari Kohane, wajah-wajah yang tadi suram mendadak berubah sumringah dan penuh kelegaan, aku juga, bebanku terasa lenyap begitu saja.
"Kise, Okaerinasai*(selamat datang kembali)" sambutku senang.
"Kenapa…, semuanya? Senpai juga…" tanya Kise perlahan.
"Kau baik-baik saja, bagaimana dengan lukamu? Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Kuroko. "Kurokocchi, ah, badanku mati rasa… aku sulit bergerak. Badanku seperti habis digilas, nyeri sekali. Ano.., sudah berapa lama,ya?" sahutnya. "Tiga bulan setelah malam itu, kau ingat sesuatu?" Tanyaku.
Dahinya mengernyit mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, meski aku tahu kepalanya pasti cukup sakit untuk berpikir setelah sekian lama(karena dia didiagnosis terkena gegar otak parah dan pendarahan akibat disentak hingga menatap rel kereta, perbannya bahkan tebal sekali).
"Aku tak ingat, terakhir yang kulihat…, adalah kereta yang melintas lalu semuanya gelap…"
Semua terdiam, antara tega dan tidak untuk menceritakan apa yang terjadi padanya. "Aku merasa Kise mengalami Amnesia jangka pendek, mentalnya belum begitu baik" bisik Imyaoshi-san. "Ano… dimana?" Kise beralih pada Kohane. "Apa?" Tanya gadis itu sabar, "Dimana Kinakocchi?"
"…Aku tidak bisa cerita sekarang".
"Kenapa?"
"Kise-chan ingat apa yang terakhir dikatakan Onee-chan padamu?" Tanya gadis mungil itu parau.
"…Ya, aku ingat" kami agak kaget mendengar pengakuannya.
"Tapi, aku ingin memperbaikinya, memperbaiki hubungan kami…Ukh…" Kise sedikit melenguh merasakan lukanya yang basah terkoyak pelan.
"Aku ingin Kise-chan melihat sendiri kondisi kakak kembarku. Aku ingin memberitahumu, Kise-chan, lukamu masih sangat dibilang beruntung. Tidak ada organ apapun yang hilang darimu…." Suara Kohane menggantung, aku mencoba meluruskan penjelasannya.
"Kinako kehilangan tangan kirinya tepat ketika kereta melintas…., kau paham kondisi sekarang,kan Kise? Midorima menghilang, kami masih terjerat dalam permasalahan ini. Bisa jadi kau bakal terluka lagi karena kita semua sudah terseret ke dalamnya. Maafkan aku, aku harusnya bisa menyelamatkan kalian berdua, aku lengah" ucapku lemah.
"Akashicchi tidak salah. Aku mengerti, aku yang terlambat menyadarinya. Anak itu pasti menderita" ucapannya itu benar-benar penuh dengan kasih sayang, Kise menyayangi Kinako, aku merusaknya semenjak SMP lalu aku tak tahu ada kejadian seperti itu.
"Akashicchi, aku ingin bertemu Kinakocchi" sahutnya kemudian.
"Tapi anak itu belum sadar?" ucap Kagami.
"Tidak apa, aku ingin memastikan dia baik-baik saja Kagamicchi" jawab Kise. Sayangnya Kise masih sangat lemah untuk bisa diajak jalan-jalan, akhirnya aku memutuskan untuk mencari perawat dan mengantarku ke kamar Kinako, tentunya bersama Kohane.
"Aku harap ini jadi perkembangan yang baik, Kise sudah sadar jadi sekarang kita sedikit bisa bernapas lega" ucapku seraya mengikuti perawat berseragam menyusuri lorong.
"Ya… aku juga. Aku harap Kakakku sudah sadar. Kita bisa menyelesaikan semua kasus ini lalu kembali ke kehidupan normal kita" gadis itu tersenyum manis, dia mungkin sudah mengalami banyak hal tapi ketegaran hatinya membuatku kagum.
"Kita sudah sampai" perawat itu mengecek nomor kamar yang tertera nomor 44 di sana dan membuka pintu.
"No, Nona Yukihira!?"
Aku menengok ke dalam ruangan. KOSONG! Tidak ada sosok Kinako di dalam sana, jendela terbuka lalu serpihan kaca dan selembar kertas tergeletak begitu saja di atas ranjangnya. Slang infus terkoyak seperti dicabut paksa. Sesuatu terselip di selimut,
BULU WARNA HITAM.
"O… ONEE CHAN?" Gadis kecil itu sudah tidak ada dimanapun.
KINAKO MENGHILANG!
...
...
There will be the END OF... DEMONIC AND EVILNESS TIME
...
...
TO BE CONTINUED.
THERES NO ISSUES
JUST WAIT.
THERES A SEQUEL...
...
THERES A LAST CHAPTER...
Mind to R^R :)
Adios
