Suara sepatu-sepatu bersahutan seiring dengan sepinya lorong rumah sakit. Mengingat bahwa jam besuk hanya tersisa 3 menit lagi, ini semua karena macet yang melanda itu kota dan saat itu adalah hari awal akhir pekan. Menemukan kamar yang mereka tuju dan mengetoknya dengan perlahan, mengingat ada beberapa suster yang melihat keributan mereka. Suara pelan dari dalam mengijinkan mereka untuk masuk. Di sana terdapat seorang laki-laki seumuran mereka duduk di depan jendela rumah sakit dengan kursi roda. Mereka merasa kasihan setelah melihat kaki kanan temannya diperban dengan gips.
"Apa kabarmu? Orangtuamu sudah mengunjungimu?"
Yang ditanya hanya mengangguk pelan, "Mereka sempat memarahiku karena aku berantem demi salah satu sahabatku. Tapi lama kelamaan mereka menerimanya. Ini pun hanya butuh waktu sebulan untuk sembuh. Oh, kau harus tahu betapa kuatnya aku."
"Uh, karenaku kau harus alfa selama seminggu. Aku minta maaf."
Si pasien memutar kursi rodanya dan melihat sahabatnya, "Aku sudah bilang apa, Jisoo, jangan merasa bersalah. Kalau aku tidak ada, aku jamin kau dan Hannah akan berakhir sepertiku."
"Tapi aku ti-," ucapannya terhenti setelah jari telunjuk sahabatnya tepat di bibirnya. "Berhenti meminta maaf, oke?" sedangkan Jisoo
"Hei, aku meletakkan rotinya disini ya," kata Hannah sambil meletakan sebuah box disisi tempat tidur.
"Ah, kalian merepotkan saja. Terima kasih! Ku pastikan akan menghabiskan roti kalian dalam sehari!" dan ucapan polos dari Jeonghan membuat Jisoo dan Hannah tertawa.
Diam-diam, Jisoo masih memikirkan perkataan Hannah di mobil bahwa di antara kamar Jeonghan ada 2 pasien yang mempunyai masalah dengannya beberapa hari lalu. Dan kabar burung mengatakan bahwa mereka (kecuali Jeonghan tentunya) di skors selama sebulan dari sekolah. Karena salah satu dari teman kelas Jisoo menemukan mereka bertiga sudah terkapar tidak berdaya di ruang penyimpanan. Uh, memikirkannya Jisoo jadi merinding sendiri.
Jeonghan yang sebenarnya sudah tahu arah pikiran Jisoo langsung berdiri sambil bertumpu padanya dan berkata, "Mau menjenguk Seokmin dulu? Sebenarnya aku enggan, tapi anak itu belum minta maaf ke kita sama sekali. Hah, anak itu diajari apa sih di rumahnya?"
Melihat Jeonghan yang tiba-tiba memegang kepalanya—karena pukulannya yang ia dapatkan dari dua murid lainnya waktu itu—Jisoo langsung mendudukan sahabatnya kembali. "Sudah, Han. Aku saja yang mewakilkan kamu dan Hannah, cuma sebentar kok."
"Dear, are you sure want to visit him?" tanya Hannah dengan perasaan tidak ikhlas, ia takut jika Jisoo akan diapa-apakan oleh adik kelasnya itu. Oh, apakah dia masih pantas dijuluki seperti itu setelah berbuat demikian?
Laki-laki itu hanya mengangguk, memastikan semuanya baik-baik saja, "I'm gonna be okay. You guys should stay here okay."
Dan suara pintu yang ditutup membuat mereka menghela nafas. Dasar keras kepala, ujar mereka dalam hati.
Sesampainya di kamar sebelah, Jisoo bingung karena tidak ada Seokmin di tempat tidur. Sampai ada suara yang menganggunya.
"Jisoo?"
Itu Seokmin, dari kamar mandi dengan baju tidurnya dengan wajahnya yang memerah dan nafasnya yang terengah-engah. Dia habis melakukan apa tadi, pikir Jisoo. Mencoba untuk biasa aja, tangan Jisoo bergerak menyerahkan kotak yang sama seperti untuk Jeonghan, "Aku hanya membawa ini. Semoga cepat sembuh, Seokmin."
Senyum itu, senyum yang sama sekali tidak bisa membuat Seokmin berpaling darinya. Dan mata kucingnya yang berbinar, Seokmin ingat ia pernah membuatnya . Pipi laki-laki yang lebih mudah memerah, bertanya pelan kepada yang menjenguknya, "Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya?"
Jisoo yakin, adik kelasnya ini tidak akan melakukan yang macam-macam lagi padanya, hanya kontak fisik yang biasa. Ia mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya. Seokmin menghamburkan dirinya ke pelukan laki-laki yang lebih tua dua tahun darinya. Tanpa mempedulikan kotak yang terjatuh, mulutnya terus bergumam maaf setelah melihat bekas darah di bibirnya yang mengering dan bekas gigitan di lehernya. Ia menangis, menyesal karena lebih mementingkan obsesinya tanpa mempedulikan yang dicintainya pun menderita. Ucapan 'Aku memaafkanmu' dari Jisoo tidak bisa membuatnya tenang. Ia ingin dirinya menghilang dari hadapan laki-laki itu sekarang juga.
Sementara laki-laki yang lebih tua hanya memeluknya dalam diam, tidak mau bereaksi apa-apa sampai airmatanya jatuh perlahan. Ia merasa kasihan kepada Seokmin, sayangnya ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia ingat apa yang dikatakan orangtuanya sedari kecil, ia harus memaafkan walaupun orang itu sudah menyakitinya. Ia yakin, semuanya akan baik-baik saja diakhirnya.
Seokmin melepaskan pelukannya dan memandang manik mata yang disayanginya, "Aku hanya terlalu bawa perasaan. Maaf," ujarnya sambil mengucek matanya.
"Kau membuatku ikut menangis juga. Tapi tidak apa-apa, semuanya sudah berlalu bukan," kata Jisoo sambil tersenyum simpul. "Aku senang kau terlihat baikan Seokmin."
'Dan aku begitu senang kamu tetap peduli seberengsek apapun aku. Kau benar-benar malaikat yang dicipitakan oleh Tuhan lalu diturunkan ke bumi. I don't deserve you like this.'
"Seokmin, kau kenapa? Menangis lagi?"
"Aku tidak apa-apa."
Apakah aku terlihat baik-baik saja bagimu?
"Ah ta-"
"Pergilah, kunjungi Seungcheol hyung."
Kenapa aku terdengar begitu jahat?
"Kau benar. Kalau begitu, aku pamit dulu.
Seokmin,
aku tetap menyayangimu
sebagai 'adik'ku."
Saat ia berbalik arah dan mendengar pintu tertutup, air mata Seokmin menetes lagi. Dia tidak peduli dengan orang-orang yang melewati kamarnya, ia menangis. Lagi. Dengan harap perasaanya terhadap seorang Hong Jisoo bisa hilang begitu saja.
Apakah aku akan sanggup melupakanmu?
Hari ini hari Minggu, sudah saatnya Hannah pulang kembali ke Negara asalnya. Dengan berat hati ia memeluk keluarga Jisoo satu persatu-satu—yang ia sudah anggap sebagai keluarga sendiri—ditambah sang pacar yang tersenyum simpul.
"Have a safe flight, Hannah. And I hope you rest well!"
"Of course, Mr. Hong! And, please take care of yourself. I mean, always. Don't make me worried too much," ujar Hannah sambil mengelus pelan kepala Jisoo.
"Thank you so much for this week. For taking care of me, for yelling me from what I have done and I'm glad I have a new hero here besides Jeonghan. Oh my God, I love you so much Ms. Hong," sebelum Hannah membalas, Jisoo sudah menempelkan bibirnya di jidat Hannah walaupun hanya sementara.
"That's what girlfriend for and hey, stop embarrassing me, Josh! Oh gosh!" Hannah keceplosan. Dia lupa hanya boleh memanggil nama barat Jisoo, Joshua, hanya saat berdua saja.
"Look. Someone's trying to be naughty now, hm?" kata Jisoo sambil menyeringai.
Muka Hannah menahan malu, "I didn't mean it-"
Attention please, flight number xxx, LA Air to Los Angeles has been arrived. The passengers can go to Gate 3. Thank you.
"Oh finally. Mom, Dad, Christopher and Joshua. I have to go. I'm gonna send you text when I arrive later! Bye!"
Laki-laki itu melambaikan tangannya sambil tersenyum melihat kepergian sang kekasih. Dia benar-benar merasa bersyukur kepada yang Maha Kuasa karena seorang malaikat cantik ada untuknya.
I wish that we could be last forever.
HAI KALIAN!
Akhirnya aku kembali setelah 92382465 bulan lamanya/? Dan yap, ini satu chapter lagi akan selesai!
Apakah Seokmin dan Jisoo akan tetap bersama seperti biasa? Atau Seokmin harus mendapat kisah akhir yang begitu pahit?
Hehe, ditunggu saja ya yeorubun!
Oh ya, tak bales reviews sini.
7D: lah aku yang bikin ceritanya ae gerem juga/?
levieren: bener kok author seoksoo fav aku hehe. ditunggu lanjutan kutukannya ya thor!
p.s. my deep condolences for Jonghyun, one of the best main vocalist that I love. Jonghyun-ah, you did well.
Regards,
username-ssi.
