Legendary sword X.
.
xXx
.
Disclaimer Naruto © Masashi Kishimoto.
Genre : Adventure, Fantasy, Romance.
Rate : T.
Pair : Naruto x Sakura x ...
Warning : typo, mainstream, ooc, newbie, dll.
.
.
xXx
naru rinne
lanjuuuttt and kapan naru bsa ngendaliin kyubi?
Mungkin chap 11 bro..
.
coli kuragune ikki
Oii kapan up oii w nunggu
Sabat oi. Kerja sekolah numpuk bang.
no name
Lanjut trus
Ok bang.
.
sumpah kata2 dr madara menyentuh bngt penyesalan minato akan dimulai dr skrng.
ditunggu ya next chapter'a...
Siip. (y) thank ya bang yudi.
.
renza kuroshaki
keren banget chapternya terusin lagi author
Ok siappp.
.
Sindrom Chuunibyou
lanjut thor..
cerita di perpanjang lagi ya
Maaf bang. Saya baru mampu max 3k.
.
hs
Ini rencananya sampai chapter berapa?
Masih belum tahu. Tunggu aja lah.
.
.980
mantap lanjutkan
Siap...
.
Namikaze Ichie
Yossh, penulisan nya udah baik Alba-san ceritanya beda dari fic yang lain keren dah
Usul ajah nih, bikin menma, sara, dan Kushina memberontak ke Minato memilih ke Naru, nah saat itu ketiganya kabur ke Konoha ngikut Naru.
Dan bongkar kebusukan Minatoke semua kerajaan, buat Minato tertekan, baru perang antara uzu dan Konoha, memperebutkan title raja antara Minato dan Naru
Usulan ajah sih, ditunggu next chapter Alba-san, Ganbatte Yo
Ok terima kasih bang Namikaze Ichie. Saran nya saya pertimbangkan.
.
Konohamidori
Type your review here.
Waw.. ini keren.
diksinya pas dan lebih nyaman buat di baca. bagus pokonya.
lanjutkan aja bro.
btw. Narusakunya mana nih kok gak muncul2?
next express kalok bisa.
Thank bro... saya usajakan. Dan Narusaku nya di pending.
.
Kokonoe201
flashback yang tak brkepentingan Di kurangin kata2 yang tak penting di kuranginnn
Ok terima kasih sarannya.
.
Kokonoe201
aku suka Naruto ino sakuraa . jadi 4 pairing aja thorr Nru x ino sakura x mei x shizuka
Jangan tamak lah bang. Nanti rencana kan setelah end mau saya bikinkan sequel.
.
Kokonoe201
knapa sakura manggil naruto gk dtambahi Suffik Kun Atau naru-kun gtu biar kerasaa feel nya dan hanya naruto lah yang dipanggil Dngan suffik Kun
Saya mearasa aneh dengan suffix akrab. Jadi yang saya beri suffix cuma pangkat saja. Seperti sama, dono, sensei, dan nii/nee.
.
Kokonoe201
pairingnyaa dong tambah. tapi yang anti mainstrram kaya Mei terumi aja thorrr buat narutooo.
Saya nggak bisa dapat feel nya.
.
Kokonoe201
thor ini single apa haremm gw harap harem aja minimal 4 lah .jika single pairingnya Sakura doang ti trasaa pasaran skali mainstream mennn
Kelihatannya single tapi kalaupun harem paling cuma 2 ceweknya.
.
Kokonoe201
kenapa pairingnya mainstreammm srkaliii
.
.di ff naruto indo itu pasti pairingnya Jika Gk hinata yak sakuraaa BOSENNNNN gw liatnyaa .
Jika yang naruto Harem .saran saya gunakan Pairing yang jarang di gunakannn kan banyak sekali di konoha di luar konoha
Bayangin aja bang. Saya itu NSL. dan saat cuma nemu fic naruhina saya bayangin kalo hinata itu Sakura :V
.
Namikaze Yohan396
Lanjuuuutkan. Kata2nya kren abis
Thanks... yohan ya.
karuhun tipalih kulon77
lanjut
up kilat klo bisa wkwkwk
Sorry belum bisa.
.
Chapter 10.
.
Semilir angin kembali berhembus seperti malam-malam yang telah lalu, begitu pula pemuda ini.
Ia kembali duduk diam menikmati hawa dingin itu. Surainya terhempas mengikuti angin lagi. Dan fikirannya hanyut dalam kegelapan malam lagi.
Mengapa udara malam sangat menenangkan.
Entah apa yang dia fikirkan kali ini. Dalam hatinya berkata mengapa hal buruk seperti sekarang dapat menimpanya.
Terkutuk.
Terhina.
Terbuang.
Jikalau itu hanya orang lain, ia tak peduli. Tapi keluarganya apakah pantas sebuah keluarga membuang anggota keluarganya.
Tentu saja tidak. Itu sama sekali tidak pantas meskipun memanglah . . . . . . dia terkutuk.
Entah apa yang dipikirkan orang seperti mereka.
Pemuda itu menundukkan kepala, bertopang pada ibu jari tangan kanannya yang berada di dahinya.
Matanya memejam erat mengingat kembali masa-masanya dahulu.
Masa dimana ia masih kanak-kanak. Mencuri, diajak merampok dan beberapa kali terjebak dalam situasi dimana nyawanya dapat menghilang dengan begitu mudahnya.
Satu-satunya orang yang dia hormati telah mati. Sekarang pada siapa dia akan tunduk, pada siapa dia patuh, dan siapa yang akan ia hormati.
Dia seperti harimau yang kehilangan tuannya.
Tangan kirinya meremat kuat rumput digenggamannya. Air mata perlahan keluar membasahi pelupuk matanya.
Dia menangis, tubuhnya pun ikut bergetar karenanya.
Suaranya yang tertahan perlahan mulai terdengar menggema di sunyinya malam.
Air matanya menetes ke tanah bersamaan dengan terdengarnya teriakan nyaring dari kerongkongan keringnya yang terdengar amat serak.
Suasana kembali sunyi setelah teriakan nyaring beberapa waktu lalu.
Naruto berdiri dari duduknya. Dicabutnya kelima pedang yang senantiasa berada di tubuhnya. Lalu ia tancapkan di tanah dngan jarak agak jauh.
Membiarkan pedang-pedang itu bersinar diterpa cahaya rembulan. Membuatnya dingin karena udara malam.
Entah sudah berapa dosa yang ia dapat dari pedang-pedang ini. Sudah ratusan nyawa melayang karenanya.
Naruto kembali terduduk diatas rerumputan, matanya kembali mengalirkan air mata.
Beberapa jam dia pada posisi itu hingga memerah matanya lelah bekerja mengeluarkan air mata.
Jikalau saja dia punya sesosok pribadi ibu, sudah pasti sekarang dia berada di pelukan ibunya yang hangat.
..
...
..
Wusshhh...
Semakin larut, angin pula semakin kencang dan dingin.
Mata Naruto yang biasanya tampak dingin. Kini terlihat memerah sembab akibat terlalu lamanya ia menangis.
"Apakah kau sudah selesai menangis ?". Tanya seseorang dari belakang tubuh Naruto.
"Memangnya apa urusanmu sensei, mau apa yang aku lakukan tidak akan berdampak apapun padamu sensei ?". Tanya balik Naruto, tanpa berbalik pun dia tahu bahwa suara berat itu adalah suara gurunya.
Suaranya pun terdengar tidak mengenakkan, tanda bahwa ia mulai merasa terganggu akibat kedatangan gurunya yang tiba-tiba itu.
Jiraya menghela nafas berat, lalu menyilangkan tangan didepan dada.
"Aku telah lama memperhatikanmu dari jauh". Ujar Jiraya.
"Dan kau menangis". Lanjutnya.
Naruto sedikit menengok kebelakang dari sudut ekor matanya. "Hehh...". Dengusnya meremehkan.
"Memangnya kenapa jika aku menangis. Apakah itu tidak boleh, aku juga manusia sensei". Ujar Naruto setelah kembali pada aktivitasnya menatap bulan.
"Bukan begitu. Lucu saja saat melihat seorang ksatria hebat sepertimu menangis berjam-jam". Dan langsung dilanjutkan gelak tawa oleh Jiraya.
Awalnya Jiaraya hanya ingin menghibur Naruto dengan candaannya, tapi sepertinya tidak ada gunanya. Wajahnya masih sama sendu seperti keadaan yang lalu, bahkan suasana menjadi lebih serius dari sebelumnya.
"Hahh... aku tahu itu. Sangat aneh saat melihat orang yang tidak pernah menangis. Menangis iya kan sensei". Ujar Naruto lirih.
"Tapi bukankah sisi lemah harus tetap ada pada seorang ksatria".
"Ya kau memang benar terkadang seseorang harus menangis".
"Seseorang pernah berkata padaku
Sebuah pedang tanpa gagang itu seperti seorang ksatria tanpa hati nurani.
Sebuah pedang dengan gagang besi kasar itu seperti seorang ksatria berhati keras kepala batu.
Sebuah pedang dengan gagang kayu halus itu seperti seorang ksatria berhati lembut dan budi pekerti.
Lalu orang berkata padaku. Apakah kau mengerti.
Dan aku jawab bahwa aku tidak mengerti.
Pedang tanpa gagang itu bagai ksatria tanpa hati nurani maknanya adalah ksatria tanpa hati nurani sama dengan pedang tanpa gagang yang dapat melukai siapa pun yang memegangnya. Jadi seseorang seperti ini tidak dapat dipercaya dan hanya akan ada sebuah kebencian dalam dirinya. Dia akan melukai siapa pun yang mempekerjakannya. Sama seperti pedang tanpa gagang yang melukai penggunanya.
Pedang bergagang besi kasar sama halnya seorang ksatria berhati keras dan kepala batu. Maknanya adalah meskipun pedang ini tidak akan melukai tangan penggunanya tapi lama kelamaan penggunanya akan merasakan sakit seiring permainan pedangnya karena pegangannya yang tak nyaman. Dan sebenarnya orang-orang seperti ini bisa diajak bekerja sama dan resiko penghianatan sangatlah rendah. Tapi karena kekerasan hatinya orang-orang muak untuk kerja sama dengannya. Sama halnya pedang tadi penggunanya akan merasa muak karena tidak nyaman.
Pedang bergagang kayu halus dan lembut bagai seorang ksatria yang bethati lembut dan berbudi pekerti. Maknanya adalah pedang seperti ini sangatlah nyaman dan pastinya banyak yang mau memilikinya. Sama halnya dengan seseorang yang berbudi, mereka tidak akan berkhianat dan melukai rekan mereka. Dan kesetiaannya ini akan membuatnya diperebutkan oleh benerapa pihak.
Baegitulah". Ujar Naruto panjang lebar yang hanya di simak serius oleh Jiraya dalam diamnya.
Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Dan aku sudah berjanji pada orang itu. Bahwa aku akan diperebutkan oleh banyak pihak dan akan menjadi pedang yang sangat tajam. Tidak akan ada yang menolakku lagi. Tidak ada yang akan memanggilku bandit lagi. Tidak ada yang akan memanggilku Iblis lagi". Ujar Naruto penuh penekanan.
Jiraya tertegun dengan perkataan muritnya. Perjuangannya untuk mendapat pengakuan sangatlah hebat. Dan sangat patut untuk mendapat pujian.
"Memangnya pada siapa kau berjanji Naruto ?".
Naruto membalikkan tubuhnya menghadap gurunya. "Kepada seseorang yang paling aku hormati. Dan jelas tidak penting siapa itu orangnya". Ujar Naruto.
Dan setelahnya Naruto langsung melenggang meninggalkan Jiraya sendiri bersama bulan dan para bintang yang bersinar terang beserta kelima pedang Naruto yang sengaja ia tinggalkan.
'Aku tahu siapa orang itu Naruto. Satu-satunya orang yang kau hormati adalah Madara. Dan satu-satunya orang yang dapat menimbulkan perasaan takut pada hatimu adalah Madara. Dan satu-satunya perkataan yang mau kau dengarkan hanyalah perkataan Madara'. Batin Jiraya dalam diam.
Jiraya terdiam dalam dirinya berkecamuk rasa keyakinan bahwa dia lah yang tertulis dalam ramalan itu.
Dia adalah anak yang pandai suatu saat nanti dunia akan patuh padanya.
Giginya tajam seperti duri besi.
Taringnya tajam menusuk ulu bagai sebuah pancang.
Cakarnya panjang bak belati perak.
Pupilnya merah bagai bulan purnama.
Matanya berkobar bagai api.
Tulangnya keras macam baja.
Namun Hatinya lembut bak tanah liat.
Tetapi hanya dia yang mengetahui arti dari kekuatan dan...
.SENJATA.
.DARI.
.TUHAN.
xXx
.
Naruto telah pergi dari padang itu. Dan berdirilah Jiraya sendirian ditengah kelima pedang pusaka milik Naruto.
"Aku tahu itu... aku tahu saat melihatmu berlumur ketakukan. Kau bukanlah iblis tetapi makluk dalam dirimu adalah sumber dari segala asumsi tak benar yang menyesatkan". Ujar Jiraya lirih. Saking lirihnya semut pun tak akan mungkin dapat mendengarnya.
Perlahan kaki Jiraya mulai melangkah mendekati sebuah pedang berwarna putih mengkilap.
Disentuhnya pedang itu. "Ksatria Honjo Masamune".
Melangkah kembali ke arah pedang berwarna gelap dengan sedikit pamor yang tidak terlalu terlihat.
Disentuhnya pedang itu. Darahnya menetes. "Ksatria setan Sengo Muramasa".
Dikelilinginya satu persatu pedang itu, dan menyebutkan nama dari setiap pedang.
Ksatria angin.
Ksatria kavaleri.
Ksatria bijaksana.
.
xXx
.
Sebuah sayatan terakhir.
Darahnya telah tergenang mengalir di sela-sela kaki. "Ini adalah bukti dari kebenaran". Ujar Arashi nyaring dalam sebuah ruangan yang amat kecil itu.
"Apa maksut kata-kata bodohmu itu, kebenaran yang kau ucapkan itu tidak pernah ada. Entah dalam anganmu ataupun dalam dunia". Ujar Pain berat, akibat pedang perunggu yang menusukknya sekarang.
Szraakkk...
Pedang perunggu itu ditarik dengan paksa dari perut Pain sehingga keluar isi perutnya yang cukup banyak.
"Apa maksut perkataanmu bandit kau tak tahu arti dari kebenaran, bahkan kau tak tahu apa itu kebenaran kan".
Setelah sekian lama ini lah akhir dari misi pembebasannya. Semua anggota akatsuki telah dia habisi seluruhnya. Hanya tersisa orang ini.
"Kau salah bodoh". Pain berusaha bangun dengan menumpu pada pedangnya yang berlumur darahnya sendiri.
"Kau sudah membunuh semua anggota akatsuki kan ?". Tanya Pain dengan nada sedangnya.
"Bukankah itu pantas untuk diadili". Lanjutnya.
"Untuk apa pengadilan diberikan pada kebenaran".
"Itu karena pengadilan dilakukan untuk mencari kebenaran. Ingat pangeran ini bukanlah tanah kerajaan anda. Kekuasaan anda telah berakhir. Tindakan anda membunuh manusia adalah sebu...".
"Ah kesalahan". Lanjut Arashi. Matanya yang tajam menatap kepala penuh dosa yang tergeletak di alas. Terlepas dari tubuhnya.
"Aku tahu itu, tapi siapa yang tahu jika itu aku".
.
...
.
Arashi segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kecil itu. Menaiki kuda putihnya yang bersih.
Dan sesegera mungkin menjauh dari lokasi kejadian bersama seorang prajurit kepercayaannya. Satu-satunya tempat yang ia tuju sekarang adalah Uzushio. Menemui ayah ibu dan istrinya.
Sangat berbeda dengan Menma. Dalam perjalanannya pulang Arashi tak tampak meunjukkan penyesalan ataupun rasa bersalah. Meskipin wajahnya tertera bercak noda darah yang berasal langsung dari semburan nadi para akatsuki yang sengaja ia biarkan untuk pembuktian pada ayahnya.
Ia tetap saja memacu kudanya cepat tak peduli orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya, bahkan tak luput pula beberapa orang yang kena seruduk oleh kuda putih itu.
Tapi tentu saja dia adalah seorang manusia yang memerlukan makanan.
Tepat ketika di sebuah kedai makan kecil di pinggir jalan, Arashi turun dengan muka gagahnya, sehingga tak sedikit orang-orang yang menatapnya takut tapi tak sedikit pula yang menatapnya kagum akan ketampanannya.
Diikuti seorang prajurit berkuda lain dibelakang Arashi.
Puas dengan semua tatapan itu Arashi segera masuk kedalam kedai dan langsung memesan beberapa makanan berkarbohidrat serta segelas air minum.
Tak lupa pula beberapa bekal untuk perjalanannya pulang ke negerinya.
"Aku butuh bekal banyak tuan, bisakah anda mengisi tasku ini hingga penuh". Ujar Arashi sembari tangannya mengulurkan tas pada penjual makanan dikedai itu.
"Beb-baiklah tuan, saya akan mengisi tas milik tuan dengan makanan". Ujar sang penjual dengan takut-takut.
Tentu saja pasalnya Arashi sekarang memang seperti seorang pembunuh bayaran wajah penuh bercak darah, jubah yang kotor karena darah, serta bau amis darah yang menguar dari tubuhnya.
Tidak lama setelah Arashi dan prajuritnya makan, tas berisi penuh makanan itu tiba di depan mereka.
Arashi langsung merogoh kantung pakaiannya dan kala ia menemukan apa yang ia cari langsung ia tarik.
Sekantong penuh emas Arashi berikan pada penjual makanan. Tetapi belum sempat emas itu berpindah tangan. Sang penjual makanan telah menyanggah terlebih dahulu.
"Anda tak perlu membayarnya tuan. Ambillah makanan ini untuk anda".
Tapi tentu saja Arashi tak enak kan. Bapak ini berjualan dan kewajibannya untuk membayar.
Meskipun ia hanya memakan satu biji nasi itu sudah menjadi sebuah tanggungan yang harus di selesaikan.
"Tidak. Anda berjualan dan ini adalah hak milik anda". Arashi langsung menaruh emas itu di tangan sang penjual dan langsung melenggang meninggalkan kedai makanan itu.
Berkuda kembali untuk bisa sampai ke daerah tujuan.
.
xXx
.
Seperti hari yang telah lalu siang akan terganti dengan malam. Terang terganti dengan gelap. Matahari terganti dengan bulan. Hangat terganti dengan dingin.
Tapi rasanya dingin itu terasa lebih dari sekedar dingin malam ini. Dinginya sangat terasa tapi tak mengurungkan niat untuk merasakannya.
Terlihat dari seorang pemuda pirang ini. Setelah berdebat dengan gurunya tentang hati seorang ksatria yang hebat.
Sekarang Naruto malah bertelanjang dada.
Hanya berbekal sebuah kain yang membalut area pusarnya ke bawah, Dengan santainya sekarang ia berdiri didepan danau. Bersiap untuk menceburkan diri ke dinginnya air.
Setelah agak lama ia memandang hamparan air tanpa pembiasan itu sedikit membuatnya tenang. Matanya yang tajam dapat menangkap beberapa ikan yang berenang dengan lembut, terkadang pula percikan air terdengar dari ekor ikan itu kala si ikan naik ke permukaan.
Tanpa pikir panjang Naruto segera berlari dan meloncat setinggi mungkin.
Byuurrr...
Tubuhnya langsung disambut oleh dinginnya air danau. Rambutnya yang panjang menutupi sebagian wajahnya.
"Segar sekali. Ini benar-benar metode menghilangkan stres". Ujarnya gembira.
Naruto berenang ke arah tengah danau. Setelah sampai Naruto langsung mencari sesuatu. Sesuatu yang dapat menahan tubuhnya agar tidak tenggelam.
Setelah mencari akhirnya Naruto menemukan sebuah batu. Jika ditelusuri Naruto menyelam bisa ia lihat batu itu sangat besar berbentuk kerucut panjang ke dasar danau. Tapi dipuncaknya datar seakan memang di sediakan untuk duduk.
Naruto mencoba mendudukinya dan ternyata sangatlah pas genangan air berada tepat dilehernya. Naruto mencoba menutup mata dan berkonsentrasi.
Perlahan-lahan tubuhnya mulai menghangat, rasa dingin dari air hilang entah kemana.
Ya Naruto dapat merasakan perubahan dalam dirinya. Hingga perlahan-lahan kesadarannya hilang. Entah dia tertidur atau pingsan tapi dia tetap tegak dalam duduknya.
.
..
.
"Haha... kau kembali menemuiku lagi partner". Ujar suara berat itu dari dalam kegelapan.
"Kita telah siap untuk bekerja sama. Kau hanya perlu membuka segel itu dan kalahkan aku". Ujar Kurama terdengar ramah tapi entahlah.
"Ya. Kurasa sangat baik jika kita cepat bekerja sama". Ujar Naruto tenang. Tak menunjukkan rasa takut terhadap sosok mengerikan didepannya.
Kurama mendengus, sehingga kepulan nafas yang cukup besar untuk menghembaskan manusia itu keluar dari hidungnya yang hitam.
"Aku hanya perlu mengalahkanmu saja kan". Naruto menyilangkan tangannya didepan dada. Menatap angkuh mata merah Kurama, seakan dengan mudahnya monster itu ia kalahkan nantinya.
Ha.. ha.. ha...
Kurama tertawa, setiap intonasi ia buat agak jauh untuk menunjukkan keangkuhanya.
"Tentu tidak. Dengar ini Naruto". Kurama semakin mendekatkan mata merahnya pada Naruto.
"Aku telah menyukai tubuhmu sejak si ular pucat brengsek itu menyegelku dalam janin ibumu. Aku menghormatimu dan menganggapmu sebagai teman. Jadi aku akan berusaha untuk tetap pada keyakinan itu". Ujar Kurama dengan penegasan.
Naruto pun juga semakin mendekat melihat bayangannya sendiri dalam bola mata besar Kurama.
"Lalu ?".
"Aku tahu itu. Terima kasih kau selalu membantuku semenjak aku kecil. Aku selalu bingung saat taringku keluar. Dan ayah Madara mengatakan bahwa itu adalah senjata dari tuhan". Naruto berhenti sejenak.
"Dan dalam kenyataannya. Itu memanglah senjata tuhan. Kau adalah senjata dari tuhan untukku. Tapi kau lebih dari itu". Lanjut Naruto.
Naruto berbalik melangkahkan kakinya beberapa langkah, lalu kembali menoleh menatap Kurama.
"Secara tidak langsung kau ikut terlahir bersamaku. Dengan kata lain kau adalah saudara ku". Ujar Naruto dengan senyumnya.
Kurama menutup matanya. Berusaha mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan pemuda dihadapannya. Seseorang menganggapnya yang seekor monster pembawa bencana sebagai sebuah anugrah dari tuhan dan saudara.
"Jadi apa yang harus kulakukan setelah mengalahkanmu ?". Ujar Naruto lagi.
Kurama lamgsung membuka matanya. "Saat pertarungan aku tidak akan sadar. Aku akan benar-benar menjadi binatang. Jadi kumohon kalahkan aku".
"Memang jikalau aku kalah apa yang akan terjadi ?".
"Kau akan mati dan Aku akan keluar dan akan aku hancurkan dunia karena ketidak adilan yang diterima satu-satunya saudaraku". Ujar Kurama penuh penekanan.
"Jadi ?". Ujar Naruto lagi. Karena pertanyaannya sebelumnya belum sempat dijawab Kurama.
"Setelah aku kalah kau harus mengambil roh ku".
"Tap...".
"Aku tahu siapa yang bisa mengajarimu mengambil roh. Persiapkan saja mata dan cakramu kita akan berangkat".
.
xXx
.
Arghh...
"Perjalanan yang menyakitkan".
Telah sampai sekarang. Sendiri
Naruto mengamati setiap bagian dimensi yang ia tempati sekarang.
GELAP
Sungguh sangat gelap tidak ada apapun yang dapat ia lihat sekarang.
Naruto melangkahkan kakinya menyusuri jalan yang dapat ia lalui. Basah rasanya kaki saat menapaki jalan.
Dak...
Itulah pertanda, Naruto mulai mencari sesuatu yang ia tendang. Tak jauh dari tempatnya Naruto dapat menggapai benda itu.
Naruto merabanya memastikan benda itu berguna untuknya.
"Itu adalah lentera". Ujar sarkastik Kurama.
"Ohh... itu kau Kurama". Ujar Naruto yang langsung diberi anggukan oleh Kurama. Walau Naruto tak dapat melihat itu.
"Dimana ini ?".
"Kita berada di dimensi Nekomata. Dia adalah dewa kematian dia dapat mengambil nyaw ataupun menghidupkan. Cepat kita harus berjalan lurus, disana kita akan mendapat Api biru untuk dapat melihatnya".
Tanpa berkata-kata lagi Naruto langsung melangkah lurus sebagaimana perintah Kurama.
Setelah berjalan sangat lama. Akhirnya samar-samar Naruto dan Kurama dapat melihat sebuah cahaya biru.
"Itu dia Api birunya. Hei Kurama berapa lama kita telah berjalan. Aku merasa kita telah berjalan sangat lama". Ujar Naruto sambil terus berjalan.
"Kira-kira sekitar sebelas hari".
Naruto sempat terkejut mendengarnya. Tapi ia memilih untuk diam. Dunia ini adalah dunia kematian tidak sama dengan dunia manusia.
Setelah berjalan cukup lama lagi Naruto akhirnya bertemu dengan sebuah obor yang diatasnya berkobar api biru yang ia cari.
Naruto langsung menyalakan lenteranya dengan api itu.
"Baiklah kita teruskan perjalanan".
.
.
.
.
Hyaaa...
Sebuah teriakan melengking terdengar entah dari mana. Tapi teriakan itu jelas mengagetkan Naruto.
Tapi biarlah itu berlalu, Naruto langsung berjalan lagi. Hingga ia mendapati jalanan basah yang diinjaknya semakin dalam seakan membentuk sebuah kubangan.
Naruto menaikkan lenteranya. Untuk mengetahui situasi disekitarnya. Dan benar saja di depannya adalah danau. Tapi untunglah di sana ada sampan kecil.
Naruto langsung menaiki sampan kecil itu. Lentera biru itu ia letakkan di ujung depan sampan.
Naruto perlahan mulai mendayung sampan itu.
Semakin ke tengah suasana semakin kacau. Naruto dan Kurama dapat mendengar begitu banyak teriakan melengking yang memilukan telinga.
"Kau dapat mendengar itu ?, Kurama". Tanya Naruto sembari tangannya terus mendayung sampan.
"Ya tentu saja. Telingaku bahkan lebih besar dari telingamu".
"Kita sudah mendayung lama. Apakah Nekomata itu masih jauh tempatnya ?".
Kurama turun dari pundak Naruto. Wujudnya yang imut sekarang sama sekali tidak menunjukkan sisi lemah terhadap Naruto.
"Aku rasa cukup. Sekarang perbesar api biru itu". Perintah Kurama pada Naruto yang langsung di setujui Naruto.
Naruto mendekat ke arah lentera lalu membuka pintu kecil pada lentera. Naruto menarik tuas disana guna memperbesar api birunya.
Alhasil tak lama kemudian api itu semakin besar dan besar membentuk seekor monster kucing besar. Tetapi tak lebih besar dari Kurama yang berukuran super besar.
Naruto yang melihatnya sempat kagum ternyata banyak sekali hal yang tidak ia ketahui di dunia ini.
Dan monster di hadapannya ini juga tak kalah mengerikan dari Kurama. Tubuhnya berkobar sebagaimana api biru yang ia bawa. Bola matanya tajam dengan warna yang berbeda.
Grgrgrgr...
Suara erangan khas kucing menyeruak masuk dalam indra pendengarannya. "Siapa ini ?. Manusia yang bisa dan mempunyai cukup nyali untuk datang kemari ?". Ujar suara lembut itu.
Lembut ?. Naruto heran dibuatnya, ternyata monster dihadapannya memiliki suara lembut seorang gadis. Berbanding terbalik dengan monster dalam tubuhnya.
"Aku Kurama, Yokou, Kitsune. Dan seorang Jinchuriki ku". Teriak Kurama nyaring.
Mata Nekomata pun beralih pada Kurama. Ditatapnya sosok kecil itu.
"Ternyata kau, Dewa biju. Apa yang kau inginkan ?". Ujar Nekomata lagi.
Sementara Naruto hanya diam menunggu apa yang akan dilakukan Kurama untuknya.
"Memasukkan kejantananmu kedalam kewanitaanku lagi ?". Lanjut Nekomata.
"Jangan bercanda. Meskipun itu menyenangkan tapi tujuanku kemari bukan untuk itu". Ujar Kurama lagi.
Kurama turun dari sampan dan perlahan tubuhnya diselimuti Api merah kehitaman. Dan tubuhnya pun mulai membesar.
"Lalu ?".
"Aku mengantar Jinchuriki ku untuk mendapat kekuatan darimu". Ujar Kurama yang telah membesar sempurna. Sang api merah dan api biru.
Nekomata memperhatikan Naruto. "Apa keistimewaannya hingga kau mau mengantarnya kemari".
"Sudahlah tak perlu banyak bicara berikan saja kekuatanmu". Ujar Kurama yang mulai jengkel. Ia tidak suka di tempat gelap ini. Meskipun hari-harinya ia lalui di tempat gelap dalam tubuh Naruto.
"Baiklah aku akan memberinya sembilan Iblis yang merupakan perumpamaan dari sembilan ekormu dan juga aku akan memberinya penguasaan penuh atas Api biru milikku dan dimensi hampa ini". Ujar Nekomata sangat lembut.
"Bagus. Jadi cepat lakukanlah". Perintah Kurama tak sabaran.
"Tapi itu tidak percuma. Ada syaratnya".
Kurama menatap bingung pada Nekomata.
"Biarkan anak ini pulang dan tinggallah disini untuk beberapa saat".
Kurama menghela nafas. Dan akhirnya menyetujui syarat itu.
Nekomata lalu meniupkan api biru kepada Naruto dan sekejap kemudian. Naruto merasakan gelap.
.
xXx
.
Naruto membuka matanya dan melihat kesekelilingnya. Tubuhnya masih duduk diatas batu kerucut di tengah-tengah danau.
Dapat ia lihat pula gurunya Jiraya tengah duduk dipermukaan air memejamkan mata tepat didepannya.
Perlahan matanya terbuka. Sungguh Jiraya merasa sangat takjub. Ia sekarang melihat didepan matanya sembilan roh setan pelindung milik dewa kematian Nekomata berkeliling di sekitarnya.
Naruto pun heran dan takjub melihat roh-roh setengah badan prajurit dengan ekor. Seluruh tubuhnya berwarna merah dengan aura hitam.
..
...
...
...
...
...
..
.-TBC-.
.
.
Akhirnya bisa publish lagi.
Note:
Bayangkan tubuh Kurama itu berotot nggak kurus krempeng kayak di anime.
Nekomata disini digambarkan sebagai wanita.
Bayangkan roh yang Naruto dapat dari Nekomata/Matatabi seperti Army of Hades level max dalam God of war I.
Terima kasih buat yang sudah mau menyempatkan untuk sekedar membuka laman fanfic saya. Terima kasih buat yang like fic saya . Terima kasih yang follow. Terima kasih yang flame .dan terima kasih yang memberi review bagus.
.
Mohon review senior. kalo masih ada ketidak nyamanan membaca mohon review nya.
Setiap jejak anda di hal ini sangat berharga untuk saya.
..
...
...
...
...
...
..
REVIEWS.
...
