"Embrace The Chord"

Remake Story by Santhy Agatha

Park Chanyeol

Byun Baekhyun (GS)

Others

[Chanbaek]

.

.

.

.

.

.

Chanyeol baru bangun tidur ketika ponselnya berbunyi. Sambil menggerutu, tangannya menggapai-gapai ponsel yang terletak di meja di sebelah ranjangnya. Suara Yejin langsung terdengar ketika Chanyeol mengucapkan sapaan pertamanya di ponsel,

"Pasti gara-gara Byun Baekhyun bukan, kau meninggalkanku?"

Chanyeol langsung mengerutkan keningnya. Suara Yejin tampak aneh... sepertinya perempuan itu sedang mabuk. Apakah karena dirinya? Yah memang ada berbagai macam reaksi perempuan-perempuan yang dihancurkan hatinya oleh Chanyeol. Ada yang menangis terus menerus, ada yang marah dan mencaci maki, bahkan ada yang mengancam bunuh diri – yang akhirnya hanyalah berupa ancaman kosong. Yejin sendiri kelihatannya berbeda, perempuan itu tampaknya depresi. Yah dari semua perempuan yang pernah dipacarinya, Yejin memang yang paling tampak tergila-gila dan sangat posesif kepadanya... mungkin karena dia memang wanita culas yang tamak.

"Bukanlah sudah kubilang tidak ada hubungannya dengan Baekhyun? Dan kau mabuk di pagi hari, sungguh memalukan, seperti tidak ada kegiatan lain saja."

"Memalukan?" Yejin tertawa histeris, "Kaulah yang membuatku seperti ini. Hari-hariku selalu dipenuhi penantian untuk saat aku berjumpa denganmu, dan sekarang kau mencampakkan aku begitu saja seperti sampah!"

"Seharusnya kau tahu bahwa itu akan terjadi kepadamu ketika kau memutuskan mengambil resiko untuk memacariku," Chanyeol bergumam dengan suara dingin, "Perbaiki dirimu dan enyahlah dari hidupku!" Setelah dengan sengaja mengucapkan kata-kata yang cukup kasar tersebut, Chanyeol memutuskan pembicaraan mereka.

.

.

.

.

.

Yejin menatap ponsel di tangannya dengan tatapan mata nanar. Ini bukan Chanyeol nya. Kenapa Chanyeol bersikap begitu kejam kepadanya? Kenapa Chanyeol berubah begitu cepat? Mencampakkan dan menyakitinya?

Ditenggaknya minuman berwarna keemasan dari botol kaca di meja riasnya. Minum adalah salah satu pelampiasannya untuk mempertahankan dirinya, kalau tidak mungkin dia sudah gila.

Mata Yejin yang kuyu setengah mabuk menatap dirinya sendiri di cermin. Meskipun penampilannya berantakan, tidak mengenakan riasan dan masih mengenakan gaun tidurnya, Yejin tahu dia tetap cantik.

Yejin memang dilahirkan cantik jelita meskipun dia merasa dirinya kurang beruntung karena dilahirkan di keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah, ibunya yang memimpikan anaknya yang cantik bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, sengaja membanting tulang untuk memasukkannya ke sekolah elite dengan harapan Yejin bisa menggaet salah satu lelaki kaya yang bersekolah di sana dan menjadikannya suaminya. Dan memang kecantikan Yejin membuat para lelaki tertarik kepadanya, sampai akhirnya Yejin memilih mangsa yang paling besar, seorang lelaki yang dua puluh tahun lebih tua darinya dan dijadikannya suaminya. Suaminya benar-benar membawa Yejin naik dalam kelas sosialnya, karena suaminya sangat kaya dan mempunyai pengaruh yang sangat besar di bidang musik.

Tetapi rupanya pernikahan mereka tidak bertahan lama, kelakuan Yejin yang suka mencari lelaki-lelaki muda untuk memuaskan sikap manjanya rupanya membuat suaminya muak dan menceraikannya. Untungnya Yejin punya pengacara yang cukup handal sehingga bisa menghasilkan banyak uang dari perceraiannya, toh suaminya masih saja kaya meskipun harus membayarnya dengan begitu besar. Saat ini Yejin hidup bermewah-mewah dengan harta bagian dari perceraiannya, bergonta-ganti pacar sesukanya dan menikmati masa menjandanya... sampai kemudian dia bertemu dengan Chanyeol.

Chanyeol... ah lelaki itu begitu mempesona, dengan sikap sopan dan senyumnya yang menawan... dan wajahnya itu.. kesempurnaan wajahnya mungkin bahkan telah membuat dewa dan dewi menangis karena iri...

Reputasi Chanyeol sudah terkenal, Yejin bahkan mengenal salah satu dari perempuan yang dicampakkan Chanyeol. Tetapi sikap Chanyeol kepadanya sangat baik dan penuh kelembutan, membuat Yejin percaya bahwa Chanyeol telah berubah, bahwa Chanyeol telah membuka hati untuknya dan bahwa Chanyeol benar-benar mencintainya, dan kemudian setelah sekian lama bersama Chanyeol, Yejin terperosok semakin dalam mencintai lelaki itu, menyerahkan seluruh hatinya tanpa perlindungan sama sekali.

Matanya masih nanar menatap bayangannya di cermin... disentuhnya pipinya, dirasakannya kelembutan di sana. Pipinya masih halus bukan? Biasanya Yejin selalu memeriksa setiap inci kulit wajahnya dengan teliti... di usianya yang sudah berkepala tiga, dia sadar bahwa dia harus benar-benar menjaga kecantikannya... makanya setiap dia menemukan sedikit saja keriput, Yejin langsung panik dan menghubungi dokter ahli kecantikan langganannya untuk menyuntikkan botox ataupun melakukan apapun untuk menghilangkan keriput itu.

Dia ingin tampak muda, cantik dan menarik, apalagi ketika berjalan berdampingan dengan Chanyeol yang luar biasa tampan. Dia ingin mereka tampak sebagai pasangan yang serasi.

Dan sebenarnya dia sudah berhasil selama ini... sampai kemudian anak perempuan ingusan itu muncul.

Anak itu tidak cantik menurut Yejin, masih lebih cantik dirinya. Tetapi kemudaan dan kesegaran Baekhyun terasa mengancamnya, membuatnya merasa seperti perempuan tua yang sudah layu... apalagi kulit Baekhyun begitu mulus dan halus, memancarkan keranuman masa mudanya, membuat Yejin memendam rasa iri luar biasa.

Chanyeol pasti berpaling kepada Baekhyun karena kemudaan dan keranuman Baekhyun. Perempuan ingusan itu mungkin membuat Chanyeol tertarik karena berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dipacari Chanyeol sebelumnya, dan Yejin yakin kalau Chanyeol meninggalkan dirinya karena Baekhyun.

Dia tidak boleh membiarkan Baekhyun memiliki Chanyeol. Dia akan menghancurkan Baekhyun sebelum itu terjadi.

.

.

.

.

.

Jadi apa yang akan dilakukannya hari ini?

Hari ini masih libur panjang dan dengan menyedihkan dia hampir menggunakan seluruh waktunya untuk merenung sendirian di kamar, mempelajari literatur musik klasik yang sebenarnya sudah sangat dikuasainya.

Chanyeol menatap dirinya di cermin dan menggerutu dalam hati. Baru kali ini dia sadar bahwa dirinya hampir tidak punya teman untuk sekedar menghabiskan hari libur bersama. Teman-temannya sudah berlabuh dan menemukan belahan jiwanya masing-masing sehingga memutuskan menghabiskan hari liburnya bersama pasangannya.

Tinggal Chanyeol sendirian tanpa pasangan dan tanpa cinta dalam hidupnya. Bagaimanapun juga ini adalah jalan yang dipilihnya, jalan yang penuh dengan dendam dan kebencian masa lalu, melampiaskannya kepada semua perempuan yang dirasa pantas.

Tetapi entah kenapa hatinya tidak pernah bisa puas? Semakin dia menyakiti perempuan, semakin hatinya haus untuk menyakiti lagi dan lagi. Ternyata pembalasan dendam itu tidak selalu berujung memuaskan, yang ada, jiwanya malahan terasa semakin hampa dan kosong.

Tiba-tiba saja Chanyeol merasa amat sangat kesepian... amat sangat kesepian.

Lelaki itu menghela napas panjang dan kemudian duduk di sofa sambil memilah-milah surat-surat yang masuk untuknya, beberapa hanyalah ucapan selamat atas kesuksesan konsernya di Austria, beberapa surat-surat penting dan kemudian dia menemukan sebuah undangan pesta perjamuan makan malam untuk nanti malam, yang akan dilaksanakan di rumah salah seorang komposer terkenal yang merupakan sahabatnya.

Chanyeol langsung mendapatkan ide.

.

.

.

.

.

"Kenapa kau tidak pergi bersama Kyungsoo?" Meskipun sakit, Baekhyun tetap bertanya kepada Jongin. Lelaki itu pagi-pagi sudah datang ke rumahnya dan sarapan bersama, ini sudah hampir jam sepuluh siang dan tidak ada tanda-tanda lelaki itu akan ini mereka sedang duduk bersama di bagian belakang rumah Baekhyun, duduk di sofa nyaman dengan bantal-bantal empuk dan membaca buku. Eomma Baekhyun menyiapkan berbagai makanan kecil di piring dan sepoci limun dingin untuk mereka. Rasanya sudah lama sekali Baekhyun tidak menghabiskan hari dengan bersantai seperti ini bersama Jongin.

Oh, tentu saja Baekhyun berharap Jongin akan tinggal sampai penghujung hari, seperti yang selalu mereka lakukan bersama ketika libur panjang seperti ini. Tetapi hati kecilnya menyuruhnya bertanya. Baekhyun sudah terlalu sering terbanting harapannya atas Jongin, dan dia tidak mau mengalaminya lagi. Kyungsoo sepertinya semakin sering menyita waktu Jongin akhir-akhir ini hingga Jongin jarang punya waktu untuk Baekhyun. Yah, tetapi Baekhyun tidak bisa menyalahkan Jongin, Kyungsoo sangat cantik, feminim dan merupakan impian setiap lelaki akan perempuan idamannya, jauh bertolak belakang dengan Baekhyun yang tomboy dan seperti anak lelaki.

Jongin mencomot biskuit keju hangat buatan eomma Baekhyun dan tersenyum,

"Aku akan berada di sini sampai sore." Gumamnya, lalu mengangkat bahunya, "Kyungsoo harus mengantarkan appanya ke acara resmi sampai sore, rencananya kami baru akan bertemu malam ini."

Jantung Baekhyun serasa diremas, jadi Jongin menghabiskan waktu bersamanya hanya karena dia tidak bisa menghabiskan waktu bersama Kyungsoo?

Jongin sendiri tampaknya melihat ekspresi Baekhyun yang murung, lelaki itu tertawa, kemudian merangkul Baekhyun ke dalam pelukannya,

"Hei maafkan aku ya, akhir-akhir ini aku tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersamamu, tapi kuharap kau mau mengerti ya Baekhyun, Kyungsoo tidak lama berada di Seoul, dia akan kembali ke sekolahnya akhir bulan nanti, dan kami terpaksa menjalin hubungan percintaan jarak jauh."

"Percintaan?" satu kata itu langsung menempel di telinga Baekhyun, bagaikan belati yang ditusukkan di sana.

Jongin menganggukkan kepalanya, matanya tampak berbinar. "Sebenarnya aku mau menceritakan kepadamu nanti, tapi aku sudah tidak sabar membagi kebahagiaanku bersamamu," Lelaki itu menggosok-gosokkan kedua jemarinya dengan penuh semangat, "Kemarin aku menyatakan perasaanku kepada Kyungsoo, dan dia menerimanya."

Kalau saat itu ada petir menyambar di depan mereka, mungkin Baekhyun tidak akan seterkejut sekarang, mulutnya menganga dan wajahnya pucat pasi.

"Jadi kalian sekarang...?"

"Yap." Jongin tertawa, "Akhirnya setelah penantian panjangku sejak dulu, perasaanku berbalas juga. Kyungsoo bilang sebenarnya sejak dulu dia sudah tertarik kepadaku, tetapi dia berpikir ulang karena dia akan segera bersekolah di luar negeri. Kemarin ketika pulang ke Seoul, dia bertekad akan menemuiku dan menelaah perasaannya sendiri dan ternyata perasaan itu masih sama kuatnya. Kami akhirnya bertekad mencoba menjalani hubungan ini meskipun harus hubungan jarak jauh nantinya... "

"Bukankah Kyungsoo dan appanya sudah menetap di luar negeri? Mereka kan hanya pulang kemari jika ada liburan panjang dan acara penting menyangkut pekerjaan appanya? Akan seperti apa hubungan kalian nanti? Kalian hanya bisa bertemu minimal enam bulan sekali." Setelah menelan ludah dan menguatkan diri, Baekhyun mencoba memberikan pendapat layaknya seorang sahabat.

"Kan sekarang teknologi informasi sudah semakin maju, hubungan jarak jauh semakin dimudahkan, mungkin kami akan chatting setiap malam, mengobrol lewat web camera, itu sama saja kami bertemu setiap hari bukan? Lagipula kami bertahan seperti ini tidak akan lama.."

"Maksudmu?" jantung Baekhyun berdesir, selalu begitu ketika dia merasa akan menerima sebuah kabar buruk.

Jongin tidak memperhatikan ekspresi Baekhyun yang semakin pucat, matanya bersinar penuh tekad, memandang ke kejauhan,

"Aku sudah bilang pada appa, aku akan menyusul Kyungsoo melanjutkan pendidikanku di luar negeri."

Seketika itu juga, seluruh harapan sesedikit apapun yang masih tersisa di benak Baekhyun, tercabut paksa seluruhnya hingga bersih, sampai ke akar-akarnya.

.

.

.

.

.

Lelaki itu tertidur.

Baekhyun mengamati dengan sayang Jongin yang tengah tertidur pulas di sofa. Dia sendiri duduk condong di depan Jongin, memuaskan diri untuk memandangi lelaki yang dicintainya itu selagi ada kesempatan.

Jongin begitu pulasnya sehingga tatapan memuja Baekhyun ke arahnya tidak akan mengganggu tidurnya. Baekhyun mengamati wajah Jongin yang tampan, alis matanya yang tebal, bibirnya yang indah yang selalu digunakannya untuk tersenyum, menceriakan hari-hari Baekhyun...

Sejak dia pindah ke Seoul, Jongin selalu ada untuknya, menjaganya sejak kecil sampai sekarang. Jongin adalah pusat dunia Baekhyun. Dan sekarang, Jongin bilang dia akan pergi ke belahan dunia lain untuk mengejar wanita yang dipujanya, mengejar wanita beruntung itu.

Ah, betapa inginnya Baekhyun mengungkapkan perasaannya kepada Jongin, mengungkapkan kepada lelaki itu bahwa dia ada di sini, menunggu untuk dilihat, menunggu Jongin untuk menyadari cintanya. Tetapi di sisi lain Baekhyun merasa takut, Jongin begitu dekat dengannya dan sikapnya seperti menganggap Baekhyun sebagai adiknya sendiri, Baekhyun takut kalau dia mengungkapkan perasaannya, Jongin akan berubah sikap dan menjauhinya, apalagi jika Jongin memang tidak bisa membalas perasaannya, hubungan mereka pasti akan berubah menjadi kaku dan canggung...

Akan sanggupkah Baekhyun tanpa kehadiran Jongin di dekatnya?

Tiba-tiba saja dada Baekhyun terasa sesak. Matanya terasa panas... dan kemudian, dengan nekad dan putus asa, Baekhyun menundukkan kepalanya, lalu mengecup dahi Jongin dengan lembut.

Detik yang sama sekilas sinar blitz menerpanya, membuatnya mengernyitkan kening, menolehkan kepalanya ke arah sinar itu, lalu membelalakkan matanya kaget.

Chanyeol tengah berdiri di pintu penghubung ruang belakang dengan ruang tengah, lelaki itu bersandar santai di ambang pintu, tersenyum mengejek kepada Baekhyun dan dijemarinya tengah memegang ponsel, ponsel yang tadi dipakainya memotret Baekhyun yang diam-diam sedang mencuri mencium dahi Jongin yang tengah tertidur pulas!

Baekhyun langsung berdiri dengan defensif, sebelumnya dia sempat melirik cemas ke arah Jongin, dan bersyukur dalam hati karena lelaki itu masih tertidur pulas. Kemudian dengan langkah lebar, Baekhyun mendatangi Chanyeol dengan marah,

"Apa yang kau lakukan di sini dan kenapa kau mengambil fotoku?"

Senyum miring muncul di bibir Chanyeol, "Eommamu menyuruhku masuk ke belakang dan mencarimu," Matanya sengaja melirik ke arah ponselnya, "Wah sungguh foto yang menyedihkan, kau dengan penuh cinta mencium diam-diam sahabatmu... cinta bertepuk sebelah tangan, eh?"

Kata-kata Chanyeol langsung menyulut amarah Baekhyun, dia langsung menyerang Chanyeol, mencoba mengambil ponsel itu dari tangan Chanyeol,

"Kemarikan ponsel itu!" Baekhyun mendesis, setengah terangah berusaha menggapai Chanyeol yang dengan sengaja mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan ekspresi menahan tawa. Baekhyun melihat ekspresi Chanyeol dan merasa jengkel luar biasa, lelaki itu pasti menertawakannya karena tubuhnya pendek seperti anak kecil, dan Chanyeol bertubuh tinggi, merebut ponsel itu akan percuma bagi Baekhyun, apalagi kalau Chanyeol mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti itu,

"Kau jahat! Kemarikan ponsel itu!"

"Percuma Baek, kau tidak akan bisa mengambil ponsel itu dariku," Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda, "Mungkin aku akan menghapusnya kalau kau mau melakukan sesuatu untukku."

Baekhyun membelalakkan matanya, terkejut akan sikap tidak terpuji Chanyeol, "Kau memerasku?"

"Bisa dibilang begitu," Chanyeol sama sekali tidak tampak malu, matanya sengaja melirik ke arah sofa tempat Jongin masih tertidur pulas, "Dan aku rasa kau tidak ingin Jongin melihat foto ini bukan? Disini wajahmu benar-benar penuh cinta, sungguh menyedihkan, mungkin Jongin akan kaget karena kau menyimpan perasaan lebih kepadanya, dan mungkin dia akan menjauhimu..."

"Oke." Baekhyun tidak tahan lagi mendengarnya, dia tahu apa yang dikatakan Chanyeol benar, dan dia takut itu akan terjadi, dijauhi Jongin karena perasaan canggung adalah hal terakhir yang diinginkannya, dia butuh bisa dekat dengan Jongin, dan kalau satu-satunya jalan adalah dalam posisi seperti saudara atau sahabatnya, maka Baekhyun tidak akan merusaknya. "Kau ingin aku melakukan apa?" Baekhyun menggertakkan giginya menahan marah, tetapi dia mencoba bersabar. Dia tidak bisa melawan Chanyeol sekarang, lelaki itu memegang kartu AS untuk mengancam Baekhyun dan sekarang sedang berada di atas angin.

"Aku ingin kau menemaniku datang ke jamuan makan malam yang akan diadakan nanti malam, sebagai pasanganku. Aku akan memperkenalkanmu sebagai murid khususku dan mungkin kita akan berduet sedikit di sana," Chanyeol tersenyum, "Sebenarnya aku sudah mendapatkan izin eommamu, tetapi aku tahu kau akan menggunakan segala cara untuk menolak ajakanku, jadi menyenangkan sekali aku bisa memaksamu melakukan apa yang kumau mulai sekarang," Tatapannya berubah sedikit menakutkan, "Lakukan apa yang aku mau, Baekhyun, dan mungkin aku akan berbaik hati menghapus foto ini dari ponselku."

.

.

.

.

.

.

TBC

READ , REVIEW , FAV PLEASE?

PS : Hai aku update tengah malem lol aku mau update sore eh malah baper ada scan pb exology chanbaek sama kaisoo wkwkkw