Love in antiquity…..

Rated: M and M-Preg

Pair: Rokudo Mukuro x Sawada Tsunayoshi 6927

Disclaimer : Amano Akira

Genre : Drama, Romance Angst and Hurt/comfort

Warning : BL, YAOI, MATURE CONTENT, ETC…. banyak banget Typo-nya…. Tolong maklumin ya, authornya ceroboh (amat sangat ceroboh) padahal udah author cek tapi masih ada juga. Hhaaa….

Read and Review please? v(^o^)v

Summary:

Kesucian sebagai seorang abdi dewa direnggut oleh seorang anak raja yang akan segera mewarisi kerajaan dari sang ayahanda. Pemuda yang tak tahu apa-apa, yang berhati bersih tiba-tiba dihadapkan pada pekatnya kegelapan.

#Ninth chapter

"Bagaimana keadaanmu?" ia melangkah mendekatiku, kulihat ia membawa sebuah nampan berisi makanan di tangannya.

"Lebih baik dibanding beberapa waktu yang lalu," kududukan tubuhku yang masih terasa kaku. Ia dengan sigap membantuku menyandarkan punggungku di kepala ranjang yang berwarna coklat itu.

"Jangan terlalu memaksakan tubuhmu," ia mengambil bubur diatas nampan itu, mengaduknya perlahan, sesekali meniupnya agar tidak terlalu panas lagi. Seperti biasa ia menyuapiku dengan hati-hati.

"Terima kasih, Giotto-san," ujarku tulus padanya. Kusuap sesendok bubur yang ia tawarkan padaku.

"Makanlah yang banyak, itu baik untuk kesehatan kalian," ia mengelus sebentar perutku yang kini sudah membesar. Ya, sebentar lagi, nyawa yang berada dalam perutku akan segera lahir, hanya tinggal menunggu hitungan waktu saja. Dan aku bersyukur, karena ada dia yang menemaniku disaat-saat seperti ini.

"Sebentar lagi, bertahanlah sampai saat itu tiba,Tsunayoshi," ia menyuapiku lagi.

"Tentu, aku akan berjuang demi anak ini," kuelus lembut perutku beberapa kali. Aku sedikit terkejut, nyawa dalam perutku merespon elusan tanganku, ia bergerak-gerak didalam sana, menendang-nendang lemah kearah sentuhan tanganku, membuatku merasa sedikit sakit namun bahagia.

"Ada apa?" ia mengagetkanku, sepertinya ia tahu bahwa anak dalam perutku itu merespon apa elusan tanganku.

"Dia nakal, hehe," aku tertawa kecil menjawab pertanyaannya. Iapun menanggapi dengan senyuman khasnya.

"Bolehkah aku mendengarnya?" ia bertanya padaku, tak biasanya ia melakukan hal itu.

"Kemarilah," aku menyuruhnya untuk mendekatkan telinganya di perutku. Membiarkan ia mendengar dan merasakan bagaimana nyawa kecil dalam tubuhku bereaksi terhadap sentuhanku.

Ia meletakkan mangkuk bubur itu, didekatkannya telinganya pada perutku. Ia tersenyum, ia mengelus lembut sisi kanan perutku dimana gerakan kecil didalam sana sedang terjadi.

"Tenanglah, sebentar lagi waktumu akan tiba," ia berujar dengan sangat pelan. Namun aku masih bisa mendengarkannya.

Beberapa detik kemudian ia menjauhkan jarak telinganya dengan perutku. Masih tetap ia elus perutku disisi yang tadi, membuat sisi itu terasa nyaman untukku dan untuk nyawa kecilku.

Kemudian ia menggenggam erat kedua tanganku, akupun hanya bisa memandangnya dengan tanda tanya.

"Berjuanglah, aku akan selalu ada disisimu, Tsunayoshi," ia mengecup pelan kedua tanganku. Membuat kedua pipiku sedikit bersemu merah, kaget dengan perlakuannya. Aku merasa sedikit malu untuk memandangnya saat ini. Maka aku hanya bisa menundukkan kepala menatap perut yang kini membesar itu.

"Terima kasih," suaraku entah mengapa terdengar cukup kecil. Mungkin karen rasa Maluku saat ini.

SRETT…

Ia memelukku erat, terkejut, itulah ekspresi yang terlukis diwajahku saat ini.

Hangat! Pelukan yang ia berikan membuatku merasa nyaman, namun disalah satu bagian di ruang kosong dalam dadaku terasa begitu hampa. Walaupun kini aku mendapatkan kehangatan itu tapi masih tetap saja, rasa tak nyaman masih bersarang disana. rasa yang tak kutahu apa itu.

"Walaupun saat ini aku tahu hatimu belum sepenuhnya berada disini," pernyataan yang ia lontarkan membuatku merasakan perasaan aneh itu lagi.

"Entahlah, diriku sendiripun juga tak tahu…" kata-kata itu terlontar begitu saja, tanpa kupikirkan terlebih dahulu.

"Aku mengerti, tapi kuharap dengan berlalunya waktu kau akan bisa melupakannya," ia memandangku lekat-lekat. Perlahan ia menangkup kedua pipiku dengan tangannya, menarikku mendekat kearahnya. Aku hanya diam, tidak menolak dan juga bukan berarti menerimanya. Ia memandangku sebelum akhirnya bibir itu menempel dengan bibirku. Tak ada nafsu, tak ada lumatan ataupun hisapan, hanya sekedar sentuhan biasa. Hanya beberapa detik bibir itu menempel disana. ia kembali menatapku dengan manic matanya yang khas.

"Sampai saat ini aku masih sangat penasaran dengan kehidupanmu, Tsunayoshi," ia berujar pelan. Ya, pertanyaan yang sampai saat ini belum kujawab, pertanyaan yang ia ajukan sehari setelah aku sampai dikediamannya.

"Aku tak tahu aku harus mulai darimana untuk memberitahumu," aku menunduk, kembali kuelus pelan perutku.

"Begitu?" ada nada pengharapan yang cukup bisa kutangkap dengan telingaku disana.

"Bukan berarti aku tak mau memberitahumu, hanya saja aku bingung ingin mulai dari mana," kutatap dirinya.

"Ya sudah, nanti saja kau ceritakan semuanya. Sebaiknya sekarang kau beristirahat," ia mendorong pelan kedua bahuku—menyuruhku untuk merebahkan tubuhku diatas kasur itu.

Ia menarik selimut didekat kakiku, kemudian ia selimuti tubuhku. Dikecupnya keningku pelan, sedikit ia usap dengan lembut, membuatku merasa nyaman akan sentuhan kedua tangannya itu.

"Oyasuminasai," ia berujar pelan, menatapku sebentar, ia langkahkan kakinya menjauh dari ranjang tempat kuberbaring. Menutup pintu itu, meninggalkan diriku dengan semua pikiran yang bereklebat didalam otakku saat ini.

"Akupun tak tahu darimana semua ini bermula, Giotto-san, gomenne," ujarku sebelum kututup mata ini. Menikmati angin semilir yang masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membuatku semakin mengantuk.

:::G27:::

"REBORN!" teriak pemuda bersurai silver bermodelkan tubuh gurita itu pada sosok bayi yang tengah bercengkrama dengan sosok pemuda bersurai hitam dengan mata sipit yang memakai pakaian dengan kain yang bisa dibilang berkualiatas. Tentunya jika dilihat dari pakaiannya pemuda bersurai hitam bukanlah dari kalangan menengah kebawah, melainkan sebaliknya.

"…" sosok bayi itu hanya menengok sekian detik kepada sosok bersurai silver yang tadi meneriakinya itu, ia kemudian melanjutkan entah perbincangan apa yang sedang ia bicarakan dengan pemuda bersurai hitam itu.

"REBORN! JANGAN ACUHKAN AKU!" ia sudah siap akan melempar sosok yang ia anggap mengacuhkan dirinya itu dengan meja yang entah sejak kapan sudah ia angkat diatas kepalanya.

"Ada perlu apa lagi, Gokudera Hayato?" ia menatap sosok bernama Gokudera itu, merasa acara—perbincangannya—terganggu dengan sosok berkepala tako itu.

"Aku sudah mencari di semua tempat yang kubisa. Tapi, sampai sekarang aku tak jua menemukan sosok Juudaime. Dan aku yakin kau pasti tahu, Reborn! Jadi katakan padaku!" ia berujar sambil meletakkan meja itu kembali ketempatnya.

"Sudah berapa kali aku katakan, aku juga tidak tahu," bayi itu dengan tenang membalas kata-kata dari sosok tako-head itu.

"Bagaimana kau bisa mengatakan kau tak tahu? Buktinya kau hanya diam, mencarinya pun tidak, dan itu berarti kau sudah tahu Juudaime berada dimana kan?" dengan argument yang keras kepala ia berujar didepan tutor dan sekaligus kepala kuil tempat Juudaimenya mengabdikan diri.

"Haa—" helaa nafas sosok bayi itu.

"Siapa herbivore itu?" sosok yang semenjak tadi merasa diabaikan memandang kea rah Gokudera dengan tatapan menyelidik.

"Si kepala gurita itu? Namanya Gokudera Hayato," bayi itu menatap datar kearah sosok bersurai hitam didepannya.

"Hn," ia kembali menatap sosok bayi itu, dan mengacuhkan si kepala gurita—Gokudera.

"KUSO! Jangan acuhkan aku brengsek!" ia menerjang kearah mereka. Namun, ia kalah cepat dengan sosok berambut hitam itu yang kini tengah mengacungkan tonfa kesayangannya kearah leher si kepala gurita.

"Khh!" terkejut, itulah ekspresi yang dipancarkan diwajahnya. Menatap penuh tanya kearah sosok bayi itu yang nampak tak mempedulikan nasibnya saat ini.

"Berani bergerak kepala guritamu ini akan berhadapan dengan tonfa milikku, herbivore" bisiknya didekat telinga sosok bersurai silver itu.

"Hentikan Hibari," bayi itu berujar. Ia beranjak dari posisi duduknya mendekat kearah Gokudera.

"Che!" kesal si kepala gurita.

"Kita tak akan melakukan apapun. Karena sudah ada orang lain yang mengambil alih tugas kita, dan untukmu, bersikaplah lebih tenang sedikit Gokudera. Jika tidak akan kupanggilkan Bianchi untuk menjagamu," ia kemudian kembali melangkah menuju ketempatnya tadi. Duduk bersandar dengan secangkir teh hangat dan penganan kecil disampingnya.

"Khh.." ia terdiam, ia tahu kata-kata itu adalah kata-kata yang sama yang diucapkan bayi itu setiap ia menanyakan tentang Juudaime-nya. Walaupun demikian, tetap saja hatinya tak tenang jika belum menemukan dimana Juudaimenya berada, dan bagaimana kabar juudaimenya saat ini.

"Hibari kemarilah," ujar sosok bayi itu memecah keheningan yang sempat terjadi.

"Hn," sosok berambut hitam yang dipanggil Hibari itu melangkah mendekati sosok bayi itu. Dan si kepala gurita itu hanya memandang aneh kearah dua sosok didepannya. Penasaran, apa yang sebenarnya mereka bahas semenjak tadi.

"O—oi, aku juga ingin tahu apa yang kalian bicarakan," ujarnya. Kedua sosok didepannyapun menengokkan kepala secara bersamaan.

"A—aku juga ingin ikut jika yang kalian bicarakan adalah mengenai Juudaime," ia mengucapkan kata-kata itu dengan sangat yakin.

Sosok bersurai hitam itu hanya memandang kearah sosok bayi didepannya. Dan sang bayipun menganggukkan kepalanya.

"Kemarilah," ujar sosok bayi itu.

Gokuderapun mendekat kearah mereka, mengambil tempat duduk yang nyaman disisi sebelah kanan pemuda bersurai hitam itu, yang ia anggap terus mendelik kearahnya.

"Jadi, waktunya tinggal sebentar lagi," ujar sosok bayi itu membuka pembicaraan. Menyeruput pelan teh hangatnya.

"Apa maksudmu Reborn?" dan si kepala guritalah yang paling pertama mengajukan pertanyaan yang sudah diduga oleh mereka berdua.

"Sebentar lagi roda takdirnya akan dimulai. Kita hanya bisa melihat dan menunggu akankah ada keajaiban untuknya. " ujar sosok bayi itu datar dan tenang, penjelasan yang akan sulit dimengrti oleh kedua pemuda didepannya—mungkin hanya Hibari yang sedikit mengerti dengan apa yang dikatakan oleh bayi itu—walaupun Gokudera sangat pintar—pintar dalam hal pelajaran tapi tidak untuk hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan—kali ini kepintarannya itupun tak akan begitu berguna untuknya.

"Mungkinkah akan terjadi bencana?" ujar sosok bersurai hitam itu.

"Mungkin saja, itu tergantung dari dirinya. Jika kebencian yang ia punya semakin besar maka bencanapun sudah pasti tak terelakkan lagi, dan sebelum itu terjadi, dengan terpaksa aku harus mengakhirinya dengan tanganku. Tapi aku percaya padanya, walaupun ia bodoh tapi ia memiliki apa yang orang lain sukar untuk milikki. Hati. ia memiliki hati yang bersih, maka dari itu sampai saat ini aku masih menaruh kepercayaanku padanya" ia akhiri kalimat itu dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang.

'Dan semoga saja perkiraan ku tak salah, Tsunayoshi,' batin sosok bayi itu.

"Argghhh! Bisakah kalian jelaskan dari awal padaku? Aku benar-benar bingung, kalian membicarakan 'bencana', 'hati', 'roda takdir', dan apalah itu yang tak kumengerti," ia kesal, entah apa yang dibicarakan oleh sosok bayi itu, dan dari yang ia lihat hanya dirinya yang tak mengerti apa yang sedang mereka bahas, yah walaupun dari pihak sosok bersurai hitam itu pun terlihat tak sepenuhnya mengerti apa yang diutarakan oleh sang kepala kuil.

"Aku membicarakan tentang masa depan, dimana semua itu bergantung pada satu orang. Orang yang selama ini kau ributkan, ialah kunci dari masa depan yang aku bicarakan," ditatapnya 2 pasang mata itu secara bergantian. Ya, ia tahu bahwa reaksi yang timbul dari mereka adalah seperti ini, terutama ekspresi dari si kepala gurita.

"Mak—maksudmu Juu-juudaime?!" ia berseru, kaget mendengar penuturan darib sang kepala kuil itu.

"Ya. Dan dalam beberapa hari kedepan ini, dengan perlahan roda takdirnya mulai bergerak, sayangnya aku tak tahu roda itu bergerak sampai kearah mana," ia meletakkan cangir teh itu perlahan ketempatnya.

"Ti—tidak mungkin. Pasti kau bercanda kan? Iya kan? Jadi, kau menyuruhku diam dan menunggu hanya karena alasan seperti ini? Hanya karena takdir dari Juudaime yang kau ramalkan? Hah! jangan bercanda!" kekesalannya kemabali. Ia tak menduga pemikiran dari sosok yang dikagumi sekaligus ditakuti oleh Juudaimenya seperti itu. Kecewa, itulah yang ia rasakan saat ini. Hanya karena ramalannya yang belum pasti itu, ia tak melakukan apapun, tak membantunya mencari sosok Juudaimenya, tak berusaha menemukan sosok Juudaimenya.

"Aku kecewa padamu REBORN!" ia bangkit, dengan penuh kekesalan ia meninggalkan kedua orang itu.

"….."

"Sepertinya ada beberapa bagian yang sengaja kau tambahkan," Hibari menatap Reborn.

"Sepertinya cukup sulit untuk menyembunyikan sesuatu darimu Hibari-sama," Reborn berujar diselingi dengan sebuah candaan khas miliknya.

"Keluarlah, Kyoko," kembali ia mengambil cangkir yang kali ini sudah ia isi kemabli dengan teh hangat.

"…" sosok gadis bersurai coklat keluar dari bilik kamar disebelahnya.

"Sejak kapan kau disana?" ujar Hibari menatap sosok gadis itu.

"Dia sudah cukup lama berada disana. Nah, sekarang apa yang akan kau lakukan Kyoko?" Reborn menatap dalam kearah gadis yang masih menundukkan kepalanya itu.

"Ma—maaf, bukan bermaksud untuk menguping. Aku hanya bisa mempercayaimu Reborn-san," ia mengangkat kepalanya perlahan menatap kedua pasang mata yang sejak tadi menatapnya.

"Walaupun takdir yang kulihat itu adalah bencana yang mengerikan?" ia menjawab pernyataan itu sambil melahap penganan teman teh hangatnya.

"…" sontak wajah itu memancarkan keterkejutan yang luar biasa.

"Tenanglah bukan itu yang kulihat," dikunyahnya perlahan penganan-penganan berbentuk berbagai macam binatang itu.

"Haa~" gadis itu hanya menghela nafas mendengar pernyataan sang kepala kuil.

'Seandainya benar yang kulihat bukan sebuah bencana yang mengerikan,' batinnya masih sambil melahap penganan itu.

'Masih ada yang kau sembunyikan, aku tahu itu,' suara hati dari sosok bersurai hitam yang tengah menatap kearah sosok bayi yang masih mengunyah penganan itu.

'Aku percaya padamu Reborn-san, dan juga padamu Tsuna-kun,' ia meremas pakain yang menempel ditubuhnya pelan, membatinkan dan sekaligus meyakinkan dirinya semua akan baik-baik saja…

::To be continue::