Daiki dan Ryouta besenderan didinding lorong lantai dua kediaman Akashi, mereka masih saling berangkulan tangan membagi kehangatan, keheningan terasa cukup nyaman diantara mereka, bahkan suara cempreng milik sipirang tidak berani mengintrupsi kesyahduan suasana gelap yang hanya diterangi cahaya temaram dari lampu-lampu kuning yang cukup redup

Daiki dan Ryouta merasa ingin seperti ini lebih lama lagi, setidaknya sampai Pesta dibawah sana berakhir karena malam ini penentuan, walau Seijuurou berkehendak untuk membatalkan pertunangan tak urung hal ini akan mendapatkan penolakan dari pihak yang lebih berkuasa 'orang tua'

.

.

.

.


DISCLAIMER::

Tadatoshi Fujimaki

Story:: Sagi Akabara a.k.a Sagitarius Red

Genre:: Yaoi/ BL, Drama, Romance, Fantasy

Rated:: T

Pair:: AkaKuro,

Warning:: Cerita ini mengandung unsur Yaoi, jadi jika anda bukan seorang Fujo dan Fudan saya harap jangan membacanya, saya tidak menerima flame mengenai 'keyaoian' cerita ini. Dan saya selalu cinta AkaKuro


.

.

.

.

Game 9 (No subject)

.

Tetsuya melangkahkan kakinya menuju lantai dua meninggalkan Seijuurou dibelakang, berjalan berdampingan dengan sang scarlet membuat Tetsuya gugup, sebenarnya Tetsuya berharap Seijuurou berekasi saat tahu jika dia sudah berbohong mengenai gendernya sejauh ini, jadi keheningan Seijuurou membuat Tetsuya gelisah dan membuat sang icy blue melangkahkan kakinya dengan cepat

Langkahnya terhenti saat menikung kesebuah lorong, pemandangan didepannya cukup membuatnya ingin melangkah kaki mundur dan membawa sang scarlet menjauh, tapi terlambat

Suara sepatu yang berhenti tepat dibelakangnya membuat Tetsuya tercekat, dan suara dingin sang scarlet membuat Tetsuya kaku ditempat

"hn, Daiki berani sekali. Bahkan Ryouta masih berstatus tunanganku"

Memutar badannya untuk berhadapan dengan Seijuurou, Tetsuya mengadahkan kepalanya menatap langsung mata yang baru diketahuinya ternyata bermanic crimson dikedua bola matanya

"maaf…" ucap Tetsuya "a-aku…"

"kenapa kau meminta maaf?" Seijuurou menatap kedalam aquamarine tersebut

"Aniki dan… Kise-kun.."

"Kau merasa bersalah?" potong Seijuurou "kakak-mu mencium tunangan dari seorang Akashi, kau tahukan apa konsekuensinya?"

"maaf, tolong… jangan lakukan apapun dengan Aniki atau keluarga-ku"

Memegang wajah sang icy blue dengan satu tangan, Seijuurou memperpendek jarak diantara mereka

"kau tahu, aku tidak suka barang bekas?" Seijuurou melirik kearah Daiki dan Ryouta yang masih berciuman

"dan kau tahu, aku tidak suka dibohongi" Seijuurou menatap Tetsuya dengan intens

Menggigit bibir bawahnya dengan gugup Tetsuya hanya bisa menatap sang scarlet tanpa berkata-kata menunggu ucapan dari bibir otoriter didepannya

"yang dilakukan kakak-mu dan diri-mu, adalah dua hal yang kubenci"

"ma-maaf" ucap Tetsuya lirih

"Aku tidak butuh maaf mu Tetsuya. Kau atau keluarga-mu harus membayar ini" Seijuurou memutar badannya dan melangkah pergi

Menyusul Seijuurou, Tetsuya memegang tangan sang scarlet

"tu-tunggu, Akashi-kun… jangan, jangan libatkan keluarga-ku atau keluarga-mu" Tetsuya menundukkan kepalanya "akan kulakukan apapun Akashi-kun, jika kau tidak memperbesarkan masalah ini"

Seijuurou menyeringai tipis, siapa yang mengira hal klise seperti ini benar-benar efektif

"Apapun Tetsuya?" Seijuurou mengulang ucapan sang icy blue dengan penuh penekanan dan didapati sang icy blue mengangguk

"aku tidak menyukai barang bekas, akan kubatalkan pertunanganku dengan Ryouta" ucapan Seijuurou membuat Tetsuya mengadahkan kepalanya dan menatap sang scarlet dengan bola mata melebar

"tapi, kau Tetsuya, harus menggantikan tempat Ryouta" Seijuurou mengelus pipi putih yang begitu lembut itu dengan perlahan menimbulkan gelenyar halus yang merambat perlahan menimbulkan rasa hangat dipipi sang icy blue

"A-Akashi-kun tapi…"

"Terima atau kau lebih suka menerima konsekuensi lainnya?" ucap Seijuurou dingin

"ba-baiklah Akashi" lirih Tetsuya

Seijuurou melepaskan tangannya dari pipi Tetsuya dan berjalan turun, kembali menuju tempat Pesta di adakan, meniggalkan Tetsuya yang jatuh terduduk dilantai

"bu-bukan begini" Tetsuya meremas dadanya "tidak, aku tidak ingin dengan cara seperti ini, Akashi-kun"

.

.

.

.

.

Daiki menatap adiknya yang murung, dahinya mengernyit bingung. Bukankah harusnya adiknya gembira karena akhirnya kakaknya bisa bersama dengan orang yang dicintainya

Iya, kemarin malam Seijuurou benar-benar berkata langsung didepan seluruh Keluarga Aka dan juga Orang tua Ryouta jika dia ingin membatalkan pertunangan tersebut, dan baiknya lagi karena pihak Akashi yang membatalkan pertunangan maka kerja sama antara Keluarga Akashi dan Kise masih tetap bisa dilaksanakan, tak ada yang rugi sama sekali oleh keputusan ini, hn mungkin sedikit orang tua Seijuurou yang berang, karena merasa malu anak mereka membatalkan pertunangan dengan seenaknya

Tapi, Daiki dengar situasi dapat dihandle dan dikendalikan dengan baik, orang tua Seijuurou tidak marah lagi… entah apa yang Yukiko, sepupu Seijuurou itu katakan hingga orang tua Seijuurou tidak jadi memarahi putra satu-satunya mereka tersebut

Daiki menghampiri Tetsuya, mengatakan jika sudah waktunya mereka log in ke The Highest Crown, dengan wajah yang masih murung dan setengah hat I - ogah untuk bermain game tersebut dan bertemu Seijuurou dalam pikiran yang masih semrawut

.


In Game:: Romanight City

.

Tetsuya masuk kedalam game masih menggunakan wujud perempuannya, sejujurnya dia cukup risih sekarang, mengetahui yang lain juga sudah tahu bahwa dia laki-laki tapi apa mau dikata… biarlah semua teman-temannya sibuk melihat dirinya dari atas sampe bawah berulang-ulang berharap mungkin ada sesuatu yang menonjol diantara selangkangannya dalam wujud 'perempuannya' ini

Merasa cukup risih akhirnya Tetsuya berkata "bisakah kalian berhenti melihatku seperti itu? kalian seperi orang mesum"

Kazunari, Ryouta, Tatsuya menggaruk kepalanya dan tersenyum lebar. Mereka sadar tingkah mereka mirip kaya om-om mesum, walu nyatanya mereka uke-nya para cowok mesum

Peri kecil dipundak Tetsuya berdehem, membuat semua Kiseki mengalihkan pandangan padanya

"dengar…" ucap gadis seukuran tinker bell tersebut "karena kalian sudah tahu Tsheyka itu laki-laki…"

"tunggu, bagaimana kau bisa tahu ssu?" potong Ryouta

Mendelik tajam Yukiko tak menghiraukan dan kembali melanjutkan " dan karena bakal aneh, jika kalian bertemu dia didunia nyata dalam wujud laki-laki lalu disini perempuan…"

"ini benar-benar aneh, bagaimana dia bisa tahu?" kali ini Kazunari yang mengatakannya lalu meneliti peri tersebut dari dekat

"ehem!" Yukiko emosi "karena aku ini GM! GM! Dan bakal jadi mantan GM!"

Yukiko menjentikan jarinya dan dia kembali ke ukuran normal, melepas topeng setengah wajahnya Yukiko mendelik tajam kearah Kazunari dan Ryouta yang sekarang shock "bisakah kalian berdua gak memotong ucapanku!"

AKARICCHI/AKARI-CHAN!" ucap Ryouta dan Kazunari bersamaan, diikuti suara snack milik Atsushi yang jatuh, Daiki yang tiba-tiba putih dan Shintarou yang menaikan kacamatanya yang melorot –sungguh –

"jadi, Yukiko kau selama ini ada dan mengawasi kelompokku hah?" kata Seijuurou dingin sambil membunyikan

"iya, lalu" Yukiko menatap Seijuurou "bisakah kalian membiarkan aku menyelesaikan tugas terakhirku sebagai GM!"

Menghiraukan para Kiseki yang memasang berbagai ekspresi dibelakangnya, Yukiko tampak menekan sesuatu diudara yang tak dapat dilihat semua disitu, tak berapa lama tiba-tiba tubuh Tetsuya tertutup kabut putih dan saat kabut itu mulai menipis dan menghilang muncullah pemuda setinggi 168cm dengan surai pendek dan halus berwarna icy blue, dengan sepasang manic aquamarine yang dihiasi bulu mata panjang yang menunduk, serta bibir tipis dan mungil sewarna kelopak sakura pucat

"KYA! TETSUYACCHI/ TE-CHAN!" Teriak Ryouta dan Satsuki yang langsung berlari menerjang sang icy blue sebelum ditahan oleh Daiki dan Seijuurou

"Kau bisa membuat adikku mati dengan pelukanmu, Kise" ucap Daiki

"berani memeluknya, kau mati…" bisik Seijuurou ditelinga Satsuki membuat gadis bersurai sakura tersebut pucat

"dengan ini tugasku selesai" Yukiko tersenyum manis "dan, karena Tetsuya wujud pria tidak butuh peri, maka kini aku Akari Yukiko bergabung dengan guilt ini. Yoroshiku"

"heh?!" teriak semua Kiseki minus Seijuurou dan Tetsuya

.

.

.

Mereka semua berjalan menuju kastil besar yang berada ditengah hutan kota Romanigh, terdengar isu dari beberapa penduduk local jika para laki-laki penduduk Romanight yang masuk kedalam hutan tidak pernah keluar lagi, diduga karena ada sesuatu yang menarik atau menahan mereka didalam sana

"apa kita harus masuk kedalam hutan ini Shin-chan?" Kazunari merapatkan dirinya ke kekasihnya

"tentu saja, nanodayo" ucap Shintarou cuek tampak tidak peduli dengan Kazunari

Selama perjalanan mereka semua menyusuri hutan dalam keheningan, biarpun hari belum gelap tapi mereka cukup berhati-hati mengamati keadaan sekitar

Semakin dekat dengan kastil, mereka mendengar suara geraman yang menakutkan, seperti percakapan tapi sangat kasar dan terdengar serak

Merangkak pelan, mereka semua maju dengan berhati-hati untuk menatap kebawah puncak yang mereka tapaki

mendapatkan pemandangan yang sangat mengerikan dan menjijikan, Ryouta, Himuro, Kazunari dan Satsuki kompak ber'ieuh'

"mahluk itu menjijikan ssu!" ucap Ryouta dengan volume yang pelan " aku tidak ingin bertarung dengan mahluk itu…"

"aku juga…" ucap satsuki sambil mengangguk

"kurasa tidak bisa" Yukiko berkata pelan "menurut info yang diberikan pixie-ku, jalan menuju kedalam kastil yang dikelilingi jurang tersebut hanya melewati pintu Gua tersebut"

Kazunari, dan Tatsuya langsung mendelik mendengar penuturan Yukiko

"kecuali, lewat udara" ujar Yukiko kembali

"tidak bisa" kali ini Seijuurou menimpali "lewat udara membuat resiko musuh yang berada dikastil tahu keberadaan kita lebih cepat"

"resikonya sama saja" ucap Atsushi "baik didarat maupun diudara"

"kurasa tidak" kata Tetsuya "jika kita menghabisi musuh diluar tanpa membiarkan mereka masuk kedalam gua dan memberi informasi tentang keberadaan kita pada musuh disana maka…"

"tapi, kita tidak tahu jika didalam Gua tidak ada musuh lainnya" potong Daiki

"hah, mengenai itu serahkan saja padaku!" ucap Kazunari

Kazunari menutup matanya lalu membukanya, manic moonstonenya terlihat lebih abu-abu dan tampak sedang menerawang jauh "sejauh, 2km tidak terlihat adanya musuh…"

"baik kalo begitu, kita akan menyerang mereka" ucap Seijuurou

"sekarang?" tanya Tatsuya

"sekaranglah!" ucap Satsuki yang mengelap keringat dinginnya

.

.

.

Orc, mahluk tersebut lebih cerdas daripada seekor ogre, apalagi mereka juga berkelompok, selain penampilan mereka yang begitu jelek karena wajah mereka seperti babi hutan dan berlendir, mereka juga memakan manusia!

Kiseki berpencar mengelilingi sekitar mahluk tersebut, bersembunyi dibalik pohon-pohon dan batu, berharap mereka tidak melakukan kesalahan dan menghitung mundur untuk memulai rencana mereka

Yukiko mengayunkan tangannya dibalik pohon, lalu pintu Gua tampak ditutupi oleh barir bening, seperti kaca – memberi isyarat 'ok' kesampingnya tampak Tetsuya melafalkan sebuah mantra disusul Yukiko

Lalu sebuah sulur seperti akar berwarna biru dan putih tampak meliuk dibawah tanah, menjerat kaki para Orc dan juga tangan mereka. dengan gerakan cepat Daiki dan Atsushi menebas beberapa Orc terdekat, membuat cairan berwarna hijau keluar dan membasahi diri mereka

"ieuh, cairan Midorima menjijikan!" ucap Daiki mengernyit sambil mengibaskan tangannya yang dilumuri cairan hijau pekat dan lengket tersebut

"itu bukan cairanku!" teriak Shintarou sambil memanah musuh-musuhnya

"hihihihi… iya, benar. Cairan Shin-chan itu tidak hijau dan rasanya tidak menjijikan" celetuk Kazunari yang membidik lawannya dengan shuriken

Semua yang berada disitu langsung memerah, mereka tahu apa yang dimaksud Kazunari, oh… tampaknya otak polos Tetsuya mula tercemari

"ba-baka!" teriak Shintarou "kau akan kuhukum nanti Takao"

Kazunari langsung memucat "a-ampun Shin-chan aku tak mau!"

Kazunari mengelus bokongnya dengan kasar, dia tidak mau bernasib sama dengan kakaknya yang waktu itu pulang sambil di bridal oleh seorang pria yang ternyata seme-nya karena tidak bisa berjalan pulang!

"bisakah kalian berhenti berkata maupun berfikir,' bawa uke kalian kekasur, sekarang' karena ada musuh yang sedang kita hadapi" ucap Seijuurou dingin dan direspon anggukan menurut semua seme disitu

Salah satu Orc disitu terlepas, tampaknya dia yang paling kuat dan cerdas dan tak ada yang menyadari, karena mereka belum terlalu focus kembali

Orc tersebut tampak mendelik dan melihat pemuda bersurai icy blue sedang berdiri agak jauh dari arena pertempuran dan dibawah kakinya tampak keluar sulur-sulur yang memperangkap teman-temannya

Dengan gerakan cepat dan agresif, Orc tersebut mendekati Tetsuya sambil mengayunkan pemukul berduri miliknya

"TETSUYA-KUN!" Teriak Yukiko membuat Tetsuya menatap pucat sosok mejijikan yang mendekatinya dan membuatnya terpaku

Tepat beberapa detik sebelum pukulan itu menyentuhnya tampak sosok bersurai scarlet berdiri didepannya dan menghadang pemukul tersebut dengan sebuah perisai sihir

"A-Akashi-kun" ucap Tetsuya lirih

"Kau baik-baik saja, Tetsuya" Seijuurou sedikit memalingkan wajahnya menghadap sang icy blue, sehingga Tetsuya bisa melihat separuh wajah Seijuurou yang sudah dibasahi sebuah cairan yang kontras dengan surai rambutnya yang mengalir dari kepala sang scarlet

"A-Akashi-kun, kau berdarah!" Tetsuya menyentuh bahu Seijuurou dengan panic

"aku baik-baik saja, Tetsuya" Seijuurou kembali focus kepada mahluk besar yang telah melukainya tersebut

Seijuurou membentuk suatu gesture lalu sebuah petir berwarna hitam berbentuk naga menyambar dari langit dan menghantam Orc yang berusaha melukai Tetsuya-nya tersebut

Memandang sekitar, tampak anak buahnya sudah menangani sisa-sia Orc dengan baik, Seijuurou membalikan badannya dan menatap Tetsuya

"kau baik-baik saja?"

"ha-harusnya aku yang berkata seperti itu, Akashi-kun" Tetsuya mendelik tajam, menatap sang scarlet

"kau baik-baik saja?" ucap Tetsuya dengan lirih, dengan tangan yang sedikit gemetar, Tetsuya menyentuh dahi Seijuurou yang dialiri cairan berwarna merah.

Seijuurou menyentuh pergelangan tangan Tetsuya yang menyentuh keningnya "aku baik-baik saja, Tetsuya"

Diarahkan tangan tersebut menuju bibirnya lalu dikecup telapak tangan sang icy blue dengan lembut. menarik tangannya dengan cepat, Tetsuya menggengam tangannya didepan dadanya, meredam suara jantungnya dan membuat semburat merah halus muncul dari pipi putih yang ingin sekali dikecup oleh Seijuurou

"perasaanku saja, atau memang kau sedang diselingkuhi oleh Akashi, Kise?" celetuk Tatsuya yang melihat hal tersebut dari jauh

Mengikuti arah pandangan Tatsuya, Ryouta tersenyum kecil "heh, Akashicchi tidak selingkuh ssu, aku dan dia sudah tidak bertunangan lagi. Dan aku kini berpacaran dengan Aominecchi"

"heh?!" teriak Kazunari dan Tatsuya "sejak kapan?!"

"hoh, jadi intinya mereka bertukar pasangan" gumam Shintaoru yang mencuri dengar

"heh, kalo begitu kita juga Himuro-kun " ucap Kazunari dengan berbinar-binar, Tatsuya hanya mengernyit bingung

"aku berpacaran dengan Murasakibara-kun" ucap Kazunari " dan kau dengan Shin-chan"

"heh?!" teriak Tatsuya dengan wajah yang pucat

"aku tak mau Taka-chin" ucap Atsushi dan memeluk Tatsuya dari belakang

"tidak seru…" Kazunari memonyongkan bibirnya lalu berjalan memasuki Gua yang sudah bisa dilewati

.

.

.

Mereka memasuki Gua yang begitu gelap, tidak mau menggunakan sihir pemanggil cahaya takut menarik perhatian musuh yang mungkin ada. Tetsuya dan lainnya terpaksa bergantung pada mata rekan mereka yang merupakan mahluk malam

Tetsuya menggandeng tangan Seijuurou, dia berjalan dibimbing oleh pemuda tersebut – romantis sebenarnya jika tidak ada tangan Yukiko yang juga menggandeng tangan Tetsunya, karena Yukiko juga penyihir dan tidak memiliki kemampuan mata malam, maka hancurlah romanitsme AkaKuro kali ini. Kadang Yukiko tahu kapan dia harus menjadi penggangu. Ck

Tidak jauh beda dengan AkaKuro, AoKi juga bernasib serupa. Nasib baik sebenarnya Aomine bisa menggandeng tangan sipirang tercinta sepanjang perjalanan melewati kegelapan tersebut, jika dia tidak harus menggandeng tangan Satsuki juga disebelah kirinya. Mungkin Daiki harus berterima kasih berkat keinginan Satsuki menyatukan dia dan Ryouta akhirnya terwujud. Tapi memang gadis bersurai sakura itu tahu kapan harus menjadi perusak

Sisa kelompok Kisedai yang lain tidak lebih beruntung, mungkin lebih tepatnya untuk dua Dominan lainnya, Shintarou harus rela bergandengan tangan dengan Atsushi karena tidak mau jika kekasihnya dibimbing berjalan bersama Atsushi – kali ini Shintarou menyesal memilih ras Elf untuk chara-nya dan bukan salah satu mahluk malam seperti vampire, werewolf dan mungkin Demon seperti kapten merahnya?

Sedang Atsushi juga cemberut tidak bisa menggengam tangan Tatsuya-nya karena harus membimbing Shintarou – terkadang maibou memang dibutuhkan disaat seperti ini?!

Sisanya dua uke tersebut tidak terlalu peduli sebenarnya kalo seme mereka sedang merana selama kegelapan perjalanan ini, Tatsuya merasa cukup nyaman membimbing Kazunari yang cukup menghibur

Mereka semua keluar dari Gua tanpa masalah, jika mengabaikan bertemu laba-laba raksaksa ditengah perjalanan, tersandung seekor ular yang ingin mematok mereka, sepasukan tengkorak yang bisa hidup dan membantai…

.

.

.

Tatsuya membuka pelan pintu dua daun berukuran besar dan sangat berat didepannya menimbulkan suara bergenyit yang cukup menakutkan seperti efek sound rumah kosong berhantu, walau jika memang ada hantu atau tidak, harusnya tak berefek mengingat mereka lebih dari hantu disini

Memasuki kastil itu beramai-ramai, mereka disuguhi pemandangan tidak biasa. Sekumpulan patung berbentuk orang bertebaran dimana-mana dan semua didominasi patung pria, pencahayaan yang sedikit dari celah jendela yang tak tertutupi tirai membuat efek dramatis pada kumpulan patung tersebut

Menelusuri patung tersebut dengan berhati-hati, Tetsuya menyentuh pahatan wajah garnet tersebut, ekspresi yang begitu horror tercetak dengan jelas – mata yang melotot dan mulut yang terbuka seakan berteriak dan tercekat. Sama, semua ukiran patung tersebut berekspresi sama…

"apa yang terjadi disini?" gumam Tatsuya sambil menggenggam tangan Atsushi, menatap Tetsuya yang kini melepaskan pandangannya dari patung dihadapannya

"entah" Tetsuya menjawab

Yukiko dan Seijuurou tampak serius mengamati, dan saat sebuah kesimpulan terlintas dikepala mereka

"Medusa!" ucap Yukiko "jangan ada yang menatap matanya saat berhadapan dengannya"

"ha'i" jawab semua Kiseki kompak dan mereka kembali melanjutkan perjalanan, sekarang terpecahlah penyebab kenapa para pria yang pergi kedalam hutan tak pernah kembali

Sekarang tugas mereka membunuh wanita ular tersebut, agar para pria tersebut dapat kembali kewujud normal, tapi sebelum itu mereka harus mencari wanita ular itu dan membawanya menjauh dari para patung dan bertarung dengannya

Menelusuri semua ruangan keberadaan wanita berambut ular tersebut belum juga terlihat, melangkahkan kaki mereka makin jauh, dan semakin sedikit jumlah patung tersebut. berhenti mereka sebelum sebuah pekikan milik Kazunari terdengar, membuat mereka berlari kearah tersebut dan melihat Kazunari sudah menjadi patung garnet

Merasa waspada, intuisi mereka mengatakan jika musuh belum jauh dan bersembunyi disudut-sudut yang gelap

Tetsuya melangkah mundur dan mengamati situasi, tubuh bagian belakangnya tersentuh oleh pilar yang dingin dan ada rasa dingin lain yang menyentuh pundaknya. Nafasnya tercekat, ingin berteriak tapi tidak sanggup, berbalik? Pilihan bodoh…

Menggerakan telunjuk kanannya kebelakang yang dibalut sihir peledak, Tetsuya berharap mengenai musuh dibelakangnya atau paling tidak menarik perhatian

"Gryah!" terpekik kaget melihat cahaya biru melintas disampingnya, Medusa melangkah mundur dan efek ledakan tersebut menarik para Kiseki untuk melihat ketempat kejadian

Sadar dengan siapa yang tidak jauh dengan sang icy blue, Seijuurou bergerak cepat dan menarik Tetsuya menjauh sambil menundukan kepalanya menghindar kontak mata dengan sang wanita berambut ular tersebut

Semua yang berada disitu langsung waspada, menyerang sang medusa secara bergantian tanpa menatap matanya sungguh hal yang sulit apalagi tinggi musuhnya tak seberapa – salahkan tubuh jangkung milik mereka

Serangan dari Shintarou sangat agresif, entah dia marah karena kekasihnya diubah menjadi patung yang indah oleh sang medusa. Pemuda bersurai jade tersebut terus mengarahkan tumbuhan rambat yang dikendalikannya untuk menangkap medusa yang suka sekali berkelit dan mencari jarak yang dekat agar mereka dapat bertemu pandang

Sedangkan Daiki mengoyak udara dan melemparkannya kearah musuh, tapi karena musuh yang memang pintar berkelit tersebut tak urung serangannya hanya menghancurkan tembok sekitar, padahal yang mereka hadapi hanya satu tapi kenapa bisa begitu sulit? Sebelum gerakan dari wanita berambut ular tersebut bisa dihentikan, mereka mungkin hanya akan membuang energy dan jika tidak cepat mungkin mereka akan menjadi patung selanjutnya, mengingat wanita tersebut sangat agresif ingin bertatap-tatapan dengan mereka

Tidak ingin tinggal diam, Tetsuya dan Yukiko mengeluarkan sihir yang sama dengan saat menghadapi para Orc, membantu Shintarou untuk menangkap Medusa dari berbagai sisi, tapi memang sulit berusaha menangkap lawan tanpa menatapnya – takut jika focus mereka teralih justru menatap mata yang berbahaya tersebut

Setelah memakan waktu yang cukup lama dan dibantu serangan yang tidak terlalu sia-sia dari semua untuk menyudutkan Medusa, akhirnya mereka bisa menangkap wanita tersebut

Membaca sebuah mantra, Shintarou mengeluarkan pedang panjang yang tipis dan mengayunkannya menebas kepala medusa tersebut dengan sangat dingin dan tak berperi kemahlukan membuat yang lain cukup bergidik, siapa sangka sang tsundere bisa menjadi yandere juga

Terbebas dari kutukannya, Kazunari kembali melanjutkan teriakan seriosanya, tidak sadar situasi sudah tenang terkendali, membuat semua disana menutup telinganya hingga Shintarou melangkah mendekat dan menjitaknya

"hiks, Shin-chan hiddoi" Kazunari mengelus-elus kepalanya, Shintarou hanya membuang muka dan berjalan pergi meninggalkan sang submisif sambil tersenyum tipis –tipis sekali

.

.

.


Real World: SMA Teikou

.

Seijuurou menatap keluar jendela kelas, menatap langit yang begitu biru dan jernih mengingatkannya kepada mata milik pemuda bersurai icy blue yang dia sukai, senyum kecil yang lembut tersungging diwajahnya jika ada yang lihat mungkin tak ada yang percaya pemuda sepertinya bisa tersenyum seperti itu, termasuk Ryouta yang menangkap pemandangan tersebut tanpa sengaja

Ryouta ikut menatap langit diluar sana, biru dan jernih… mengalihkan pemandangannya mencari sosok biru lain yang duduk dibelakang, dia melihat Daiki sedang tertidur dengan wajah separuh tersembunyi dibalik lengan. Tersenyum kecil Ryouta ingin sekali menghampiri sang navy jika tak ada Guru yang sedang menjelaskan didepan dan mengelus rambut yang dibelai angin itu dengan lembut

Disudut lain, barisan ketiga dari pintu dan dua dari depan tampak Kazunari sedang mencoret-coret bukunya menggambar sketsa sebuah wajah orang yang dicintainya yang dapat dilihatnya dari samping, puas dengan hasil gambarnya Kazunari menambahkan tulisan disamping gambar tersebut 'cinta Shin-chan selamanya! *kiss*'. melipat kertas tersebut sang raven menyerahkan kertas tersebut kesamping, tepat kemeja Shintarou

Mengernyit kesal karena kegiatan mencatatnya terganggu, Shintarou mengabaikan kertas lipat itu. Kazunari hanya cemberut melihat hal tersebut, menundukan wajahnya Kazunari kembali mencoret-coret kertasnya menumpahkan rasa kesalnya dibelakang buku tulis miliknya


Shin-chan Hentai! Jelek! Megane gak sensitif! Baik kalo ada maunya!

OHA-ASA FREAK!

Benci… benci… benci… mau putus!

Midorima Shintarou BAKA!


Kazunari berhenti menulis bingung ingin mencatat apalagi, tapi dia masih belum puas untuk melimpahkan emosinya, dirobeknya kertas tersebut dan diremasnya lalu dilempar kewajah kekasihnya yang mungkin akan dia ganti menjadi mantan jika terus begini. Berdiri dari bangkunya dan izin ke toilet kepada Guru dikelas

Mengaduh karena kertas tersebut berhasil menggeser letak kacamatanya, dan menatap kepergian kekasihnya dari kelas, Shintarou membuka remasan kertas tersebut dan membacanya, wajahnya langsung memucat – sial, ini pertama kalinya kekasihnya mengatakan garis miring menulis kata putus kepadanya, biasanya dia hanya ngambek saat di abaikan…

Berdiri dari bangkunya tanpa meminta izin, Shintarou berlari keluar kelas menyusul Takao, membuat Daiki terbangun dari tidurnya karena suara meja yang tergeser dengan kasar dan menimbulkan kernyitan dikening Seijuurou dan tatapan bingung dari Ryouta

Tatsuya mengambil kertas yang tadi dibaca oleh Shintarou dan berkata lirih "akhirnya sampai pada batasnya ya, Kazunari…"

"apa Muro-chin?" tanya Atsushi kepada kekasihnya

"Midorima terlalu tidak sensitive, Takao itu bukan malaikat"

"heh, Mido-chin itu tsundere~" Atsushi mengelus kepala Tatsuya

"iya, tahu. Tapi terkadang bersikap dan berkata jujur itu perlu… kegelisahan itu kadang membunuh dan rasa takut itu terlalu nyata"

"aku tak mengerti, muro-chin. Yang aku tahu aku mencintaimu" ucap Atsushi dan Tatsuya hanya tersenyum lembut dan menggenggam tangan kekasihnya dengan erat

.

.

.

Tetsuya berjalan dilorong dengan pelan sambil menikmati setiap seruputan vanilla shakenya yang membasahi mulutnya sebelum mengalir kearah tenggorokan dan jatuh kedalam lambung. Untuk sejenak dia ingin melupakan permasalahannya, lupakan si rambut scarlet yang menjadikannya sebagai pengganti, lupakan kakaknya yang tak peka dan kini waktunya dengan sang kekasih tercinta – vanilla shake-, berdua menikmati setiap moment sebelum seseorang menabraknya dan membuat minuman berwarna biru pucat tersebut jatuh dan tersia-sia dilantai putih

"ma-maaf!" ucap pemuda raven tersebut, dan Tetsuya hanya bisa menatap nanar kelantai – begitu singkatkah kisah kita?, batin Tetsuya ngelangsa

"heh, Tetsuya-kun!" pekik orang tersebut

"ah, Takao-kun. Apa yang kau lakukan dibagian SMP?" tanya Tetsuya

Menatap sekitar dengan bingung, akhirnya Kazunari sadar jika dia sudah berjalan setengah berlari hingga melewati lorong perbatasan SMP-SMA. Tertawa canggung Kazunari hanya menarik Tetsuya pergi bersamanya menuju lantai teratas gedung SMP –atap

"jadi?"tanya Tetsuya setelah mereka diatap

"hah, Tetsuya-kun kenapa ada diluar?"Kazunari berusaha mengalihkan pembicaraan

"jangan alihkan pembicaraan Takao-kun, lagipula ini waktunya istirahat bagi anak SMP, dan bukankah anak SMA baru istirahat 15menit lagi"

"hahahahhha…" tertawa canggung, Kazunari hanya memainkan jarinya

"baiklah, jika Takao-kun tak ingin mengatakannya, aku tak akan bertanya kenapa kau menangis"

"heh?" Kazunari menatap Tetsuya dengan terkejut

"tadi aku melihat jejak air mata tapi sekarang sudah tidak ada"

"oh" Kazunari tersenyum lemah dan menyenderkan kepalanya kedinding

"aku tidak tahu kenapa bisa mencintai laki-laki yang tak bisa jujur sepertinya, entah bagian mana yang membuat aku tertarik padanya… mungkin kesungguh-sungguhannya dalam melakukan segala sesuatu, dia berjuang keras untuk menjadi terbaik dan melakukan segala hal hingga batas kemampuannya, aku iri…" ucap Kazunari

"iri?" tanya Tetsuya

"iya, iri terhadap hal yang dia lakukan dengan sungguh-sungguh. Membuatku ingin menjadi hal tersebut… ingin menjadi buku pelajaran yang dia baca dan dia pandangi setiap waktu" Kazunari tersenyum lirih "konyolkan? Aku bahkan cemburu pada benda mati…"

"kurasa tidak. Itu wajar…" ucap Tetsuya "saat kita menyukai dan mencintai seseorang"

"tapi kurasa dia tidak merasakan hal yang sama. Dia tak pernah mengatakan, sekali saja aku cinta kamu- ah, tidak dia pernah mengatakan sekali saat kami melakukan seks" Kazunari tersenyum lebar, dan Tetsuya langsung memerah mendengarnya

"ah, tapi… itu tak ada artinya" Kazunari kembali tersenyum sendu "hal itu entah kenapa saat ini terlihat hanya seperti kata tanpa makna yang dia ucap untuk membuatku klimaks saja"

Berdiri dari duduknya Kazunari mengelus kepala Tetsuya dengan lembut "jangan jatuh cinta pada orang yang salah ya, Tetsuya-kun"

Tetsuya memandang kepergian Kazunari, dan berujar lirih "kurasa aku sudah jatuh cinta terhadap orang yang salah, Takao-kun"

.

.

.

Kazunari berjalan menelusuri lorong menju kelasnya, disekelilingnya sudah ramai dengan siswa-siswa yang beristirahat. Langkahnya terhenti saat melihat pemuda bersurai jade muncul dari belokan, mengabaikan pemuda tersebut Kazunari tetap melanjutkan jalannya

"Ta-Takao" surai jade itu mengejar Kazunari dengan nafas ter-engah-engah

Menghentikan langkahnya, Kazunari menatap Shintarou

"Ah, Midorima-san. Ada apa?"

Tercengang ditempatnya Shintarou hanya mengepalkan tangannya dan menarik pemuda tersebut memasuki lab biologi yang kosong tepat disamping mereka

"kau mau apa!" teriak Shintarou

Mengernyit bingung, Kazunari hanya menatap Shintarou "mau apa?"

"iya, kau ingin apa hingga bersikap kekanak-kanakan seperti ini?"

"aku, bersikap kekanak-kanakan! Aku tidak ingin apa-apa, setidaknya yang ku inginkan tak bisa kau kasih…" Kazunari mengakhiri kalimatnya dengan lirih

"Apa itu katakan!" Shintarou mencengkram lengan Kazunari

"lepaskan, sakit!" Kazunari memberontak dan memukul-mukul dada Shintarou "Hentai! Jelek! Megane gak sensitif! Baik kalo ada maunya! Oha-Asa Freak…"

Shintarou membengkap mulut Kazunari dengan telapak tangannya "hentikan… aku sudah membaca semua kalimat yang tadi kuucapkan"

"kalo begitu kau tahu kalimat selanjutnyakan, aku mau kita…"

"hentikan, jangan ucapkan!" potong Shintarou dan merangkum wajah Kazunari dengan kedua tangannya, menyandarkan dahinya dengan dahi sang raven

"jangan…" lirih Shintarou sambil menutup kedua matanya. Kazunari terdiam dan menatap lekat-lekat wajah pemuda bersurai jade tersebut, ingin mengelusnya dan menghilangkan raut terluka dari wajah tersebut

"kumohon, Kazu… aku sangat mencintaimu" Shintarou membuka matanya dan menatap Kazunari lekat-lekat dan menempelkan bibirnya kebibir sang raven begitu singkat dan lembut

"Shin-chan no baka…" Kazunari tersenyum lembut dan merangkul leher kekasihnya dan kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan panjang

.

.

"Shin-chan udah buka kertas yang satu lagi?" tanya Kazunari saat mereka sudah selesai berciuman

"belum, mana sempat aku membukanya saat membaca kertas dan satu lagi, aku langsung berlari dan mengejarmu nanodayo!" Shintarou membuang wajahnya dan menaikan kacamatanya yang tidak melorot

"tidak, apa-apa kok" Kazunari menggenggam tangan Shintarou " akan kukatakan isi dari kertas itu. aku cinta Shin-chan selamanya"

Lalu Kazunari mengecup pipi Shintarou membuat semburat merah tipis merambat dipipi sang jade

"i-itu harus nanodayo!" Shintarou memeluk Kazunari dan menyembunyikan wajah pemuda itu dipundaknya, tidak ingin menunjukan wajahnya yang sedang memerah kepada pemuda tersebut

Diluar tanpa mereka berdua sadari ada empat orang yang sedang mengintip

"pasangan yang lucu" pekik Satsuki

"membuat khawatir saja ssu" Ryouta mengelus-elus dadanya

"Akari-chan, bagaimana sudah kau rekam?" tanya Tatsuya

"sudah, Ini adalah moment yang so sweet sekali. Baru pertama kalinya Shintarou seromantis ini, ternyata anakku sudah besar" Yukiko mengelap air mata khayalannya dengan saputangan dan lainnya mengagguk menyetujui lalu menutup celah pintu yang tadi mereka buka dan berlalu dari tempat tersebut

To be continued

.

.

Hay, minna! Updatenya tumben cepet ya ^^ #plak!

Baca lagi keatas… siapa yang berasa AkaKuronya kurang? Saya! #authornya sendiripun mengakui

Maunya sih full gitu AkaKuronya tapi selalu saja begini akhirnya, jadi nyasar ke MidoTaka deh.. #plak! Lagipula emang disini pairingnya bukan AkaKuro aja sih… hahahahhhaha, kepikiran aja kepingin buat MidoTaka tiba-tiba

Lalu Sagi beberapa hari lagi konsumsi anime yaoi, naik tingkatan setelah doujinnya .hahahahha.. dan Sagi kemarin nonton anime Okane Ga Nai, Junjou Romatica season1 and 2, Kirepapa, Papa to kiss in the dark, Ikoku Irokoi Romantan, uragiri wa boku no namae wo shitteriru,ai no kusabi(2012), koisuru boukun, dan Boku no Pico tapi belum sampe setengah kuota Sagi udah habis dan macet dibagian yang bikin nosebleed. Please ini terlalu hentai Sagi gak kuat! Yang lainnya gak seblak-blakan ini #tepar

Sagi kepingin nonton Yami no matsuei, sukisho, Boku wa Konomama Kaeranai, Seitokaichou ni chuukoku, Gravitation, dan enzai saat ini jika kuota Sagi udah full lagi… kemarin habis 100rbu untuk nonton dihp sendiri, mana gak dapet THR karena udah besar T^T

semua yang Sagi tonton ada di you tube tapi gak direkomend untuk dibawah umur ya! Lagipula ada juga yang gak bisa dibuka kalo gak konfirmasi usia .hahahahhha…

Sagi kan udah cukup umur jadi bebas masuk .peace.

Kalo yang mau asupan AkaKuro, Sagi saranin:: triple buka youtube trus dibelakangnya tambahin

[garismiring]watch?v=503l8Z_DaB4

[garismiring]watch?v=F7sv6n7UKVg

[garismiring]watch?v=CWViDvAF_Fw

[garismiring]watch?v=Z-RVkJKOYeo

[garismiring]watch?v=yl3XkpYZ37U

AMAN DI KONSUMSI KOK! Paling efeknya Cuma kena sampai kokoro :')

Udah ah, sampe sini aja cuap-cuapnya dan minnal aidin ya minna! Kalo Sagi ada salah sama readers semua #mikir- *plak!* hiks, Sagi tahu tukang ngaret, Ratu telat, bikin penasaran readers semua, kurang ngasih asupan AkaKuro-nya dan lain-lain #misuh-misuh… ditindas sama keyword sendiri