Disclaimer : Masashi Kishimoto
.
Pairing : NaruHina
.
Akhir Dari Segalanya.
Usia kandungan Hinata sudah membesar, tepat pada hari ini kehamilan itu memasuki 9 bulan dan kini calon ayah dan ibu itu sudah tidak sabar untuk menunggu calon anak mereka lahir kedunia.
Pasangan suami istri baru itu kini tengah menikmati momen demi momen kebersamaan setelah kejadian beberapa bulan lalu menimpa mereka. Lihat saja sekarang Naruto sedang memeluk sang istri dari belakang seraya menikmati pemandangan pagi. Kemesraan mereka seolah membuat sang surya merasa iri dengan kebahagiaan keduanya.
Kejadian beberapa bulan yang lalu menjadikan mereka lebih membutuhkan kehadiran satu sama lain. Mereka tidak ingin kejadian itu terulang kembali.
Naruto merasakan pergerakan sang anak ditelapak tangannya membuat ia begitu bahagia.
"Sayang apakah kamu tidak merasakan sakit?" Tanya Naruto membalikan tubuh Hinata untuk menghadapnya.
Hinata tersenyum dibuatnya "hanya ngilu sedikit saja ko, tapi kamu harus tahu bahwa setiap sentuhan yang diberikannya membuatku merasa bahagia" jawab Hinata dengan mengelus pelan pipi tan Naruto.
Naruto berjongkok mensejajarkan dirinya dengan perut buncit Hinata "sayang terima kasih kamu begitu kuat sampai sekarang ini. Lahirlah dengan selamat nak, Kaa-san dan Tou-san menunggumu" bisik Naruto yang terdengar oleh Hinata, membuat wanita itu tersenyum kembali.
Hinata membelai lembut kepala kuning itu dengan penuh kasih sayang "eemmmmm, hari ini kita makan apa ya?" Tanya Hinata membuyarkan kenyamanan Naruto yang tengah menutup kedua matanya seraya memeluk perutnya.
"Bagaimana kalau ramen? Aku sudah lama tidak merasakan ramen buatanmu" jawabnya dengan semangat dan kembali berdiri.
"Boleh, tapi karna bahan-bahannya tidak ada jadi Naruto-kun harus menemaniku berbelanja sekalian aku jalan-jalan untuk memperlancar persalinan nanti"
"Oke, kalau begitu ayo kita siap-siap"
.
Akhirnya mereka sudah tiba disupermarket dekat dengan kediamannya. Naruto sekarang tengah menemani Hinata yang sedang memilah dan memilih bahan-bahan untuk memasak ramen, tidak hanya itu ternyata dia juga sedang berbelanja untuk persiapan selama satu bulan.
Selama mereka berbelanja gelak tawa mengiringinya, Hinata tidak bisa menahan tawa ketika Naruto memperlakukan berbagai macam ikan untuk kekonyolannya tak ayal hal itu membuat pengunjung lainpun ikut tertawa bersama. Sungguh pasangan suami istri yang bahagia.
Selesai berbelanja, Naruto dan Hinata sekarang ada dalam perjalanan menuju rumah dengan sekantung plastik besar belanjaan yang dijinjing olehnya. Pautan tangan keduanya terlihat kuat seolah Naruto tidak ingin kehilangan Hinatanya lagi.
Hinata hanya menatap jalanan siang hari yang terlihat begitu damai "aku senang akhirnya kita bisa menikmati waktu bersama seperti ini" perkataan Hinata barusan membuat Naruto menoleh padanya.
Sebuah senyuman dilayangkan olehnya dan iapun kembali menatap kedepan "iya kamu benar Hinata, rasa-rasanya aku ingin seperti ini terus bersamamu. Berada disampingmu membuatku merasa tenang dan bahagia" jawabnya.
Perkataan Naruto barusan membuat hati Hinata menghangat. Benar apa yang dikatakan suaminya bahwa berada disamping orang yang kita cintai memang membawa kebahagiaan tersendiri. Namun jika seperti itu terus tidak menutup kemungkinan bahwa satu dari mereka akan merasa bosan denga kehadiran satu sama lain.
"Itu tidak boleh bagaimanapun juga Naruto-kun harus bekerja"
"Iya benar juga sih, apa lebih baik aku berhenti saja agar kita bisa menghabiskan waktu bersama?"
"Jangan berkata seperti itu Naruto-kun. Karna jika kita seperti ini terus ada kemungkinan satu diantara kita akan merasa bosan"
"Kenapa Hinata berkata seperti itu. Apakah kamu tidak suka jika berada disampingku terus seperti ini"
"Tentu hal itu tidak benar, berada disamping Naruto-kun membuatku bahagia apalagi berada didalam pelukan Naruto-kun aku merasa senang, tenang dan juga aman"
"Lantas kenapa Hinata tadi berkata_"
Ucapan Naruto dipotong dengan cepat oleh Hinata "karna jika Naruto-kun berangkat kerja aku akan selalu merindukanmu ketika kau pulang, dan itulah kunci untuk hubungan kita" jawab Hinata menoleh pada Naruto dan disertai senyuman menghiasi wajah cantiknya.
Mendengar jawaban dari Hinata membuat Naruto juga ikut menoleh dan membalas senyuman Hinata. Benar apa yang dikatakan istrinya itu bahkan ketika dia berada didalam kantor pikirannya selalu pada Hinata.
"Aahhh jadi seperti itu. Iya benar juga, setiap aku berada di kantor aku selalu memikirkanmu. Hinata aku sangat mencintaimu"
"Emm, aku juga mencintaimu Naruto-kun"
Obrolan demi obrolan ringan yang keluar dari mulut mereka mengiringi perjalanan pulang. Pancaran kebahagiaan hadir diwajah mereka berdua. Tak ayal membuat orang-orang yang berlalu lalang merasa iri dengan kemesraan pasangan suami istri itu.
Pautan tangan mereka semakin kuat seolah mereka berdua tidak ingin melepaskan pegangan satu sama lain lagi.
.
Bulan telah berlalu dengan cepat, dan kini Sakura dan Sasuke sedang berada dalam klinik kandungan dimana Sakura akan memeriksakan kandungannya yang baru memasuki 2 bulan. Ya sejak kejadian yang menimpa sahabatnya Hinata dan Naruto, tak berapa lama Sakura mengandung anak pertamanya dengan Sasuke.
Kebahagiaan itu juga akhirnya hadir pada mereka berdua yang sudah lama menginginkan kehadiran buah hati ditengah-tengah keluarga kecil mereka. Meskipun masih lama tapi Sakura dan Sasuke sudah tidak sabar untuk menunggu kehadiran anaknya.
"Akhirnya penderitaan mereka berdua terselesaikan. Hah~ akupun bisa bernafas dengan lega" ucap Sakura memecah keheningan ketika menunggu gilirannya untuk diperiksa.
"Hn, aku juga merasa lega. Akhirnya mereka berdua bisa menjalani kehidupan dengan normal lagi"
"Iya kau benar, aku juga merasakan kebahagiaan mereka. Oh ya bagaimana dengan Sasori?"
"Dia baik-baik saja. Ternyata dia bisa melupakan dan mengikhlaskan Hinata. Dia juga mengatakan akan berkunjung lagi dan meminta maaf pada Naruto dan Hinata. Aahh dan yang lebih bagusnya lagi dia juga sudah mendapatkan pendaming hidup"
"Benarkah siapa wanita beruntung itu?"
"Nanti juga kamu tahu"
Sakura mengerucutkan bibirnya kesal karna Sasuke tidak memberitahukan siapa wanita yang sekarang sudah mengisi hati pria merah itu. Namun meskipun begitu Sakura merasa bersyukur karena semuanya bisa berakhir dengan bahagia.
'Yokkata Hinata, Naruto akhirnya penderitaan kalian bisa terselesaikan dengan mudah. Berbahagialah' batinnya seraya mengelus pelan perutnya yang masih rata.
.
.
Acara masak-masak keluarga Uzumaki itu harus berantakan tat kala kepala rumah tangga itu mengacaukan sang istri yang tengah memasak. Niatnya untuk membantu pada kenyataannya hanya bisa mengacaukannya saja. Tentu Hinata langsung menuruhnya untuk berdiam diri saja disana.
Wajah murung bak anak kecil diperlihatkan Naruto ketika dirinya harus diusir oleh Hinata untuk tidak mengganggunya memasak.
"Hinata aku bosan hanya menunggu dan duduk disini terus. Aku juga kan ingin membantumu" ocehnya.
Hinata melirik sekilas pada Naruto "baiklah baiklah, bagaimana jika Naruto-kun membantuku menyiapkan mangkuk?"
"Baik akan segera aku laksanakan"
Dengan semangat Narutopun langsung menaruh mangkuk dimeja makan dan menatanya dengan rapih. Dan tak berapa lama masakan yang sudah Hinata buat sudah jadi dan tersaji disana membuat Naruto tidak sabar untuk menyantapnya.
Lihat saja matanya begitu berbinar ketika semangkuk ramen disodorkan padanya.
"Ittadakimasu" Naruto langsung memakannya begitu lahap membuat Hinata terkikik melihatnya.
"Hihihi Naruto-kun kau makan seperti anak kecil saja"
Mendengar Hinata yang mengatainya seperti anak kecil ia menghentikan makannya "hehehe habisnya masakan Hinata enak sih. Ramen ini tidak seperti ramen yang biasanya"
"Masa sih? Rasanya sama ko seperti ramen biasanya"
"Tidak tidak tentu ramen ini begitu istimewa karna kamu memasaknya dengan penuh cinta, kan? Hahaha" cengiran hadir diwajahnya membuat Hinata merona dengan perkataan yang barusan diucapkan.
"Naruto-kun gombal"
"Itu memang benar Hinata"
"Hihihi arigato ne"
Kembali Naruto menyantap ramennya yang hampir habis sedangkan Hinata hanya menatap suaminya yang begitu menikmati makanan yang ia buat.
Namun tiba-tiba saja Hinata merasakan ada yang aneh dalam perutnya.
"A…aawwww Na….naruto-kun perutku terasa sakit. Tolong bawa aku kerumah sakit" ujarnya membuat Naruto langsung berjalan dan menggendong istrinya kedalam mobil dengan perasaan khawatir.
.
Perjalanan menuju rumah sakit yang ditempuh 30 menit itu tidak terasa karna Naruto mau tidak mau harus menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Perasaan khawatirnyalah yang membuat ia harus cepat-cepat membawa Hinata ke rumah sakit.
Akhirnya Hinata sudah ditangani oleh dokter "Tuan, istri anda akan segera melahirkan. Apakah anda ingin mendampinginya?" ujar sang dokter memberitahukan pada Naruto.
Naruto membelalakan kedua matanya terkejut mendengar perkataan dokter barusan bahwa Hinata akan segera melahirkan. Ia mengangguk mengiyakan pertanyaan dokter.
Narutopun masuk kedalam ruangan dimana Hinata tengah berjuang melahirkan buah hati mereka. Cup! Kecupan singkat didahi dilayangkan olehnya "berjuanglah sayang, aku yakin kamu kuat" bisiknya seraya mengelus-elus kepala Hinata.
Keringat sudah membanjiri dahi Hinata. Wanita itu sekarang tengah berjuang untuk melahirkan anaknya dengan selamat. Pegangan ditangan suaminya begitu kuat ketika ia dengan serius mendengarkan suruhan dokter.
Kecupan demi kecupan dilayangkan Naruto sebagai penambah semangat untuk sang istri. Dan tak lama kemudian….
"Ooooooooeeeeeeee….. ooooowwaaaaa" suara tangisan bak terompet malaikat terdengar oleh mereka.
"Selamat anak kalian lahir dengan sehat dia berjenis kelamin laki-laki" ujar dokter yang langsung menggendong anak mereka yang masih berlumuran darah.
Kedua mata mereka berkaca-kaca mendengarnya, Naruto dengan penuh kebanggaan dan kebahagiaan langsung memeluk istrinya yang masih lemas "yokatta, sayang kamu berhasil melahirkannya. Arigato"
.
Sekarang Hinata sudah dipindahkan keruang ibu dan anak. Disana Naruto dengan setia mendampingi Hinata menunggu anak mereka yang baru lahir selesai dimandikan.
Kkreekk! Suara pintu dibuka menampilkan seorang suster dengan bayi dalam gendongannya. Senyuman merekah diwajah kedua orangtua baru itu menyambut kedatangan sang anak.
Suster tadi memberikan bayinya pada Hinata "anda harus segera memberikannya asi" ujar suster itu.
Setelah memberikan pengarahan dan membantu Hinata untuk menyusui anaknya kini suster itupun meninggalkan mereka bertiga.
Suasana begitu kental dengan kebahagiaan yang terpancar dari mereka.
"Lihat Naruto-kun rambutnya, garisan dipipinya sangat mirip denganmu. Tapi bagaimana dengan matanya ya?" ucap Hinata seraya mengelus dengan sayang kepala anaknya yang tengah terlelap dengan nyaman dalam gendongannya.
"Dan kulitnya sama sepertimu Hinata" jawab Naruto membelai pelan pipi anaknya yang gembul "eemmm Hinata boleh aku menggedongnya?"
"Tentu saja kamukan Tou-sannya. Eegghhh hati-hati" Hinata memberikan sang anak pada Naruto.
Kini Naruto tengah menggendong bayi mungil itu, kebahagiaan bercampur rasa haru dan ketidak percayaan menjadi satu ketika sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah.
"Etto, Naruto-kun apakah kamu sudah memikirkan nama untuk anak kita?" Tanya Hinata menyenderkan pipinya pada lengan kekar Naruto yang saat ini tengah duduk disampingnya.
"Bagaimana jika dengan Uzumaki Boruto? Aku yakin dia akan menjadi anak laki-laki yang kuat seperti Tou-san dan Kaa-sannya"
"Nama yang bagus aku setuju"
Kembali mereka berdua menikmati wajah mungil itu dengan penuh kebahagiaan, rasa sakit sehabis melahirkan tadi seolah hilang Hinata rasakan diganti dengan rasa bahagia akan kehadiran malaikan mungil mereka. Kebahagiaan itu harus terusik ketika…
Kkreekk! Suara pintu dibuka kembali menampilkan pria paruh baya masuk kedalam ruangan.
"Otou-san" ujar Hinata melihat sang ayah yang sudah tiba. Tadi ketika Hinata masih dalam penanganan dokter untuk pemindahan ruangan Naruto segera memberitahukan kabar gembira itu pada orang-orang terdekatnya. Tentu Hiashilah yang menjadi orang pertama yang ia hubungi.
"Hinata, dimana cucu Tou-san" ujar Hiashi dengan pancaran kebahagiaan tidak sabar untuk melihat cucunya. Perasaan bahagia itu tidak bisa ia sembunyikan setelah mendengar bahwa Hinata melahirkan iapun langsung melesat pergi kerumah sakit.
"Ini cucu Tou-san" ujar Naruto memperlihatkan anaknya pada Hiashi.
Senyum mengembang diwajah yang kini sudah tidak muda lagi "Lucunya, mirip seperti kalian berdua. Siapa namanya?"
"Namanya Uzumaki Boruto. Tou-san mau menggendongnya?" Tanya Naruto lagi.
Hiashi mengangguk dengan mantap dengan tawaran Naruto. Iapun langsung menerima Boruto dalam gendongannya. Hinata tersenyum dengan bahagia melihat ayahnya yang tengah menggendong anaknya dengan pancaran kebahagiaan diwajahnya.
"yokatta, akhirnya kita bisa memberikan seorang cucu. Tou-san terlihat bahagia" ujar Naruto duduk kembali disamping Hinata.
"Iya aku tidak menyangka bisa melahirkannya dengan semangat. Tou-san dan Kaa-sanmu pasti bahagiakan. Kaa-sanku juga pasti bahagia melihat cucunya lahir dengan sehat" jawab Hinata dengan menggenggam tangan Naruto.
Naruto membalas pegangan itu "iya mereka pasti bahagia melihat cucunya sudah lahir meskipun mereka tidak ada disini aku yakin mereka melihatnya diatas sana"
"Eemmm"
Tak berapa lama setelah kedatangan Hiashi, pintu ruangan Hinata kembali dibuka menampilkan Sakura, Sasuke dan Ino datang kesana.
"Hinata, Naruto selamat ya atas kelahiran anak kalian" ujar Sakura menyerahkan sebuket bunga pada Hinata. Begitupun dengan Ino yang memberikan hadiah perlengkapan bayi pada mereka.
"Arigato minna" balas Hinata dan Naruto.
"Itukah bayimu?" Tanya Sakura menunjuk pada Hiashi yang tengah menggendong bayi, Hinata mengangguk mengiyakan.
"Tou-san bolahkah aku menggendongnya?" Tanya Sakura pada Hiashi "tentu saja boleh" Sakurapun akhirnya menggendong bayi sahabatnya itu.
"Aku dengar Sakura juga tengah mengandung benarkah itu?" Tanya Hinata kemudian.
"Iya usia kandunganku baru 2 bulan"
"Ahhh senangnya. Semoga bayinya lahir dengan selamat ya"
"Arigato"
Suasana didalam ruangan terasa hangat mereka semua ikut merasakan kebahagiaan Naruto dan Hinata yang sekarang sudah menjadi ayah dan ibu dari bayi mungil itu. Mereka juga tahu bagaimana perjuangan pasangan itu dalam mempertahankan hubungan mereka sampai sejauh ini.
.
Hinata dan Naruto sekarang sudah tiba dirumah, dokter mengijinkan Hinata untuk pulang mengingat kondisinya juga yang sudah hampir pulih. Boruto masih tertidur dalam gendongannya.
"Selamat datang dirumah sayang" bisik Hinata ketika akan menidurkan Boruto dibox bayi.
Setelah menidurkan Boruto, Hinata membereskan barang-barang yang dibawanya kerumah sakit. Naruto terlihat kelelahan di sofa sana setelah beberapa hari ini menjaga mereka dirumah sakit.
"Sayang lebih baik kamu tidur dikamar saja" ucap Hinata menghampiri suaminya.
"Tidak tidak aku akan membantumu beres-beres"
"Tidak perlu Naruto-kun kan sudah banyak membantuku dirumah sakit. Sekarang istirahatlah aku mohon"
"Baiklah aku akan tidur sebentar. Kalau ada apa-apa bangunkan aku"
Cup! Kecupan singkat itu ia layangkan pada dahi Hinata.
Hinata tersenyum melihat punggung Naruto, ia begitu bahagia bisa mendapatkan suami seperinya. Baik dan juga penuh dengan perhatian.
"Terima kasih Tuhan, Kau sudah memberikanku sebuah keluarga kecil yang bahagia" gumam Hinata.
.
.
.
1 tahun kemudian…..
Seorang wanita cantik berambut blonde menginjakan kakinya kembali ketanah kelahirannya. Rambutnya yang panjang semakin menambah kecantikannya. Ia tengah berdiri disebuah atap kantor dimana setelah kepulangannya dari Paris ia menyempatkan diri untuk mendatangi sebuah tempat dimana dulu ia pernah bekerja disini.
Ini sudah 1 tahun lebih berlalu, pada akhirnya wanita itu kembali lagi untuk benar-benar meminta maaf pada dua orang yang pernah ia usik kehidupan percintaannya membuat perasaan menyesal hinggap dalam hatinya sampai saat ini.
Meskipun akhirnya ia sudah berhasil melepaskan seseorang yang ia cintai dari dulu tapi perasaan menyesal itu belum sepenuhnya bisa ia hilangkan. Maka dari itu ia kembali untuk kembali meminta maaf.
"Ini sudah 1 tahun lebih berlalu, bagaimana keadaan kalian? Aku harap kalian sudah bahagia"
Sebuah tangan menggenggam tangannya yang bebas, iapun menoleh mendapati seseorang yang sudah berhasil membuatnya berpaling dari pria bernama Uzumaki Naruto.
.
Hinata sekarang sedang berada didalam kantornya bersama dengan Naruto dan Boruto yang kini usianya memasuki 1 tahun 5 bulan. Tingkah polah bocah kecil itu membuat kedua orangtuanya merasa senang dan bahagia.
"Syukurlah Boruto mewarisi kulit Kaa-sannya yang putih. Kau lucu sekaliii sih" ujar Ino yang sedang bercanda dengan Boruto.
Hinata sengaja mengunjungi suaminya dengan membawa anaknya untuk memberikan kejutan, tapi akhirnya semua pegawai mengunjunginya untuk sekedar mengucapkan salam dan melihat Boruto tentunya.
Dan disinilah Hinata sekarang berada didalam ruangan Naruto dengan Ino dan juga Sakura yang sudah melahirkan anaknya beberapa bulan yang lalu. Ibu muda itu terlihat bahagia.
"Ino sampai kapan kau akan seperti ini terus? Menikahlah" ujar Sakura menasehati sahabatnya itu.
"Iya benar apa yang dikatakan Sakura bahwa kau harus segera menikah" kini giliran Hinata yang berujar. Ino terdiam mendengar perkataan kedua sahabatnya itu "bagaimana aku bisa menikah jika kekasihku sibuk dengan pameran lukisannya"
"Aku yakin Sai akan melamarmu dalam waktu dekat" ujar Naruto yang ikut dalam obrolan mereka seraya mengemabil alih Boruto.
"Iya aku juga berharap seperti itu"
Obrolan mereka berlanjut mengenang memori demi memori mereka dulu ketika masih bekerja bersama-sama disini. Setelah Sakura menjadi seorang ibu pada akhirnya dia harus berhenti dari pekerjaannya di Hyuuga Corp ia ingin fokus membesarkan Sarada anaknya yang berjenis kelamin perempuan.
Saking asyiknya mengobrol mereka tidak menyadari jika jam sudah menunjukan pukul 14:30.
"Aaahhh sepertinya aku harus pulang" ucap Hinata kembali menggendong Boruto "pulang denganku kebetulan pekerjaanku hari ini sudah selesai"
"Baiklah"
"Kalau begitu aku juga akan pulang dulu. Jaa sampai jumpa lagi" ucap Ino berlalu darisana.
"Sakura apakah Sasuke menjemputmu?" Tanya Hinata.
"Iya dia sedang dalam perjalanan menuju kesini. Lebih baik kalian duluan saja"
"Benarkah? Kalau begitu kami duluan ya" balas Naruto langsung menggandeng tangan Hinata.
.
Naruto dan Hinata sekarang sedang berada dalam perjalanan pulang, jalanan disore hari sedikit dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Sang anak Boruto, tengah aktif-aktifnya dalam pangkuan Hinata dia sama sekali tidak bisa diam.
Ocehan demi ocehan yang tidak jelas keluar dari mulutnya membuat Hinata maupun Naruto gemas dengan tingkah laku buah hatinya ini.
"Tidak terasa ya akhirnya kita sudah membesarkan Boruto selama setahun lebih" ujar Naruto disela-sela menyetirnya.
"Iya, perasaan aku baru kemarin melahirkannya dan sekarang dia sudah berumur 1 tahun" jawab Hinata yang tengah bersusah payah mengatur Boruto.
Akhirnya perjalanan panjang menuju rumah tidak terasa kediaman mereka sudah didepan mata. Gerabang rumah dibuka oleh maid yang selalu tepat waktu menunggu mereka pulang. Setelah memarkirkan mobil mereka bertiga turun dan berjalan untuk segera masuk kedalam rumah.
Namun langkah Hinata terhenti tat kala lavendernya menatap seseorang yang dulu pernah mengusik kedamian kehidupannya bersama dengan Naruto.
"Ada apa Hinata?" Tanya Naruto yang berada disampingnya bingung melihat Hinata yang tiba-tiba saja berhenti.
"Lihatlah….. dia….. dia" Hinata begitu gugup melihatnya.
Merasa ada yang aneh Narutopun mengikuti arah pandang Hinata, diapun akhirnya menyadari bahwa mereka mendapati seorang tamu dirumahnya.
Kedua mata Naruto terbelalak ketika tamu yang tiba-tiba saja datang kerumahnya menyunggingkan sebuah senyuman kebahagiaan menyambut kepulangan mereka. Gurat kebahagiaan tercetak jelas diwajahnya melihat kedua orang itu ada disana.
"Okaeri Naruto-kun, Hinata" ujarnya dengan suara yang lembut.
"Ho….hotaru?" ujar Naruto tidak percaya mendapati wanita itu dirumahnya.
Sedangkan Hinata hanya mematung ditempat tidak percaya bahwa wanita itu kembali lagi.
"Aku datang kesini hanya untuk meminta maaf kembali atas apa yang sudah aku lakukan pada kalian dulu" ujarnya langsung memberitahukan maksud sebenarnya ia datang kesana.
"Aku sudah memaafkanmu dan sudah melupakan kejadian yang lalu" jawab Hinata berjalan dan duduk dikursi yang tersedia didepan rumah.
Dengan raut wajah penuh kebahagiaan Hotaru duduk disamping Hinata yang tengah menggendong Borutu "benarkah? Yokatta akhirnya aku bisa bernafas lega dan terbebas dari rasa penyesalanku. Dan tujuanku datang kemari adalah untuk memberikan kalian undangan"
Hotaru menyodorkan undangan itu dimeja samping Hinata "ka…kau akan menikah?" Tanya Hinata kaget ketika melihat undangan pernikahan.
"Iya tepatnya 2 minggu lagi dari sekarang"
"Benarkah itu akhirnya gadis kecil ini akan menikah juga" dengan iseng Naruto mengacak-ngacak rambut Hotaru membuat siempunya mengerucutkan bibir kesal.
Mereka bertiga berbincang-bincang dengan santai melupakan kejadian yang telah lalu. Dan tidak berapa lama sebuah mobil hitam masuk kedalam pekarangan rumah mereka membuat Hinata dan Naruto mengerenyitkan dahi bingung.
Sang penumpang mobilpun turun, rupanya mereka adalah Sasuke dan Sakura dengan seorang pria berambut merah datang ke rumah mereka. Lagi-lagi Hinata dan Naruto dibuat kaget dengan kedatangannya.
Hinata bangkit dari duduknya ketika melihat pria itu "Sa...sori?" gumam Hinata.
"Hallo kalian, aku sudah kembali. Tenang saja kembali ku kesini hanya untuk meminta maaf lagi atas kelakuanku dulu yang sudah keterlaluan." Ujar Sasori.
Melihat Hinata dan Naruto yang tidak bereaksi, Sasukepun akhirnya berujar juga "itu benar Hinata, Naruto dia sudah menyesali perbuatannya. Dia kembali lagi kesini karena dia ingin mengatakan permintaan maaf dengan tulus"
"Kami sudah memaafkan semua kesalahnmu ko" jawab Naruto setelah mendengar penuturan Sasuke.
"Iya itu benar"
"Bagus lah aku senang mendengarnya. Dan jangan lupa kalian datang ya ke pernikahan kami"
Ketiga orang itu, Naruto, Hinata dan juga Sakura membulatkan kedua matanya lebar melihat Sasori menggandengan tangan Hotaru. Mereka kaget dengan apa yang mereka lihat sekarang.
"Ja…..jadi undangan ini adalah undangan pernikahan kalian?" Tanya Hinata.
"Iya itu benar Hinata" jawab Hotaru dengan senyuman manis diwajahnya.
"Kenapa bisa? Ba….bagaimana kalian menjalani hubungan selama ini?" Tanya Naruto lagi yang sama tidak percaya.
Hotaru dan Sasori saling bertatapan dengan senyuman diwajah mereka.
Flashback ON.
Semua bermula ketika Hotaru akhirnya pergi lagi menuju Paris untuk melupakan kejadian yang sudah ia perbuat dengan pria merah bernama Sasori.
Sesampainya Hotaru di Paris iapun langsung mendatangi tempat ia bekerja dulu. Setelah menandatangani persetujuan kontrak kerja akhirnya iapun bisa kembali membereskan barang-barang kepindahannya.
1 minggu telah berlalu Hotaru menjalani kegiatannya seperti biasa namun jauh dilubuk hatinya yang paling dalam baying-bayang akan kejadian itu masih saja teringat.
Namun ketika ia sedang break dari pemotretan seseorang menghampirinya. Hotaru menoleh dengan terkejut.
"Sa…sasori kenapa kau ada disini?" tanyanya bingung melihat pria merah itu ada ditempatnya bekerja.
"Aku yang seharusnya mengatakan hal itu ngapain kau ada disini"
"Aku sedang bekerja disini"
"Oh jadi kau yang akan menjadi model pemotretan baju-bajuku?" tanyanya lagi.
"A…apa jadi kau seorang desainer?" Tanya Hotaru tak kalah kaget.
"Iya, baiklah kalau modelnya kau aku bisa mengatur pengeluarannya untukmu"
"Heii, heiii kau jangan pelit-pelit ya"
Pertemuan itu adalah pertemua pertama mereka setelah kejadian yang mereka lakukan berdua di Jepang. Kehidupan mereka mulai berubah setiap hari mereka selalu bekerja bersama. Tak ayal perasaan cinta dan kenyamanan dalam diri masing-masing tumbuh begitu saja.
Dan pada akhirnya setelah beberapa bulan mereka lewati Sasori menyatakan cintanya pada Hotaru, tentu wanita itupun menerimanya karna ia juga merasakan apa yang pria itu rasakan. Setelah 5 bulan hubungan mereka terjalin Hotaru dan Sasori memutuskan untuk kembali ke Jepang membuka lembaran baru mereka disana, bertujuan untuk meminta maaf pada dua orang yang pernah mereka usik kehidupan rumah tangganya.
Flashback OFF.
Mendengar cerita dari Sasori dan Hotaru barusan membuat mereka berempat merasakan kebahagiaan yang ada pada diri mereka. Semua kejadian yang lalu sudah mereka kubur dalam-dalam dan mulai sekarang mereka semua akan membuka lembaran baru dengan kehidupan yang lebih baik.
"Syukurlah akhirnya kalian berjodoh" ujar Hinata.
"Itu benar selamat ya kalian berdua" kini giliran Naruto menyahut.
"Berbahagialah, aku tidak menyangka ternyata cinta bisa tumbuh karna kebersamaan" lanjut Sakura.
"Hn, berbahagialah" _kalian pasti tahukan perkataan siapa itu_
"Arigato minna aku akhirnya mendapatkan kebahagiaan juga"
Mereka semua tersenyum saling merangkul pasangan mereka masing-masing. Perasaan lega sekaligus bahagia sangat mereka rasakan.
Kejadian yang sudah berlalu pada akhirnya memberikan sebuah kebahagiaan yang menimpa pada mereka masing-masing. Perbedaan bukanlah ukuran untuk tidak saling memiliki dan menjalani hidup dengan bahagia. Justru karna perbedaanlah kita bisa menjalani kehidupan dengan sempurna menutupi kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing.
The End.
A/N : terima kasih hyugana ucapkan pada kalian yang sudah bersedia membaca sampai sejauh ini. Berkat adanya kalianlah fic ini bisa terselesaikan. Semoga fic ini bisa menghibur kalian semua. Sekali lagi terima kasih banyak pada kalian yang masih setia mau menunggu dan membaca fic ini sampai tamat ^^ :D :))
krisskun 12pb : heheh emangnya habis dari mana ? :D alhamdulillah baik, pa kabar kriss-san? hahah hyugana harap kriss-san juga sehat selalu :D sudah lahir ko disini makasih atas kritikannya ^^ sepertinya sudah tidak ada konfik karna ini chap terakhir semoga suka ya dan semoga menghibur :D ^^v terima kasih sudah menyempatkan mampir, arigato udah ngereviews :D ^^v
aldo2804 : hehehe terima kasih banyak, masih ada 1 chap lagi dan ini yang terakhir semoga suka dan semoga menghibur ya ^^v arigato udah ngereviews :D ^^v
