*dorama pembukaan*
Tiba-tiba diawal chapter ini, Midorima menjadi narrator.
"Selamat pagi/siang/sore/ malem/midnight/subuh/dll minna-san, perkenalkan saya–"
"MAKHLUK HIJAU JELMAAN WORTEL–TAPI UDAH DI UPDATE JADI AGAK GANTENG DIKIT– TSUNDERE GA KETULUNGAN" Aomine teriak dengan semangat 45, "HAHA!"
"HEI BIRU BIN GELAP NAN MESUM DIAM!"
"Midorimacchi langsung lanjut narasi aja-ssu, ga perlu perkenalan.. kita udah tau manusia hijau bin tsundere siapa kok"
"Kuning berisik-nodayo!"
"Hijau-kun tolong jangan rasis." Tetsuya muncul ditengah-tengah Ryouta, Aomine dan Midorima.
"BIRU MUDA, LU MUNCUL DARI MANA-NODAYO?! LU JUGA RASIS!" Midorima mencak-mencak dan mulai melempar bakso kearah Kiseki no Sedai.
Aomine membalas melempar sandal ke Midorima,
Tetsuya nimpukin Kise pakai tepung,
Murasakibara mungutin bakso yang dilempar Midorima tadi,
Akashi sebar gunting.
Semua kena.
Semua mati.
Dorama ala eptipi tamat.
Akashi ketawa nista.
"HAH4H Ha"
Sebaiknya hiraukan dorama tidak jelas diatas, itu tidak masuk cerita..
.
.
.
Problems
Pair
"AkaFuri! MidoTaka! AoKise! MuraHimu! KagaKuro!"
Disclaimer
"Kuroko No Basuke belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei and story belongs to Kiriko Saki"
Genre
Romance, Humor, Parody
Warning
Typo(s), Shonen-ai content, MPreg, OOC, Humor FAILED.
DLDR
.
.
.
Mantan pemain tim basket Touou dan Kaijo memasuki ruangan dimana para istri kisedai diinap.
"Shitsurei" Imayoshi masuk pertama, lalu diikuti mantan uhukgebetanRyoutauhuk kapten Kaijo, Kasamatsu Yukio.
"Minna.." Ryouta seketika sumringah.
Mereka berjalan mendekat ke Ryouta dan Aomine serta Aomine kecil yang sedang terlelap itu.
"Lebih mirip dengan Kise, hanya saja rambutnya biru" Komentar Kasamatsu yang memperhatikan wajah sang anak dikeranjang bayi.
"Iya, tetapi sekilas juga mirip dengan Aomine-teme" tambah Wakamatsu sambil mengangguk-angguk.
Mereka semua sibuk bercanda bersama dengan Ryouta dan Aomine tetapi ada satu yang hilang..
"Oh, dia cantik sekali.." Moriyama melihat Ueta yang sedang tidur dikeranjangnya.
Ah, dia modus lagi, batin Kobori lelah.
Kouki tersenyum manis, "Arigatou.." Moriyama terpesona akan senyumnya, "Oohh, ternyata anda lebih cantik.."
Moriyama mengibaskan poninya ala Andikya miss band yang punya model rambut kaya pengguna chidori dari anime sebelah.
"Izinkan aku untuk berpuisi didepan nona cantik"
Seketika Ryouta dan yang lainnya sweatdrop. Untung Akashicchi lagi kerja, coba aja kalau disini ada dia, wah gunting udah nancep dimana-mana..
Kouki sedikit ngeri dengan senpai Ryouta, ia melirik kearah Kazunari yang disebelahnya dengan lirikan tolongin-horor-neh.
"Bunga bermekaran.."
Oke, dia sudah mulai berpuisi guna untuk menarik hati nona cantik –Akashi Kouki.
"Matahari bersinar.."
Tatsuya dan Tetsuya bangun dari tidur imutnya dan melihat kejadian sekitar, ada apa ini..
"Burung bersiul..
Air mengalir.."
Kasamatsu dan Kobori menghela nafas panjang, stress melihat temannya yang suka-tebar-pesona.
Kayanya nanti ga bener ini, ending dari puisinya pasti ga nyambung, Wakamatsu mulai membatin, ia mulai ragu dengan puisi Moriyama.
Su-Sumimasen.. Sumimasen.., Sakurai minta maaf dalam hati.
Kobori melirik Sakurai yang daritadi cemas disebelahnya, ngapain dia sumimasen-sumimasen dalam hati, eh aku kok kaya bisa baca batin orang, wah hebat, bakat tersembunyi.., Kobori menggila sendiri dalam hati.
"Hei, bujangan.."
Oi, aku udah nikah.., Kouki merinding.
"Terimalah cinta akang.."
TUH, bener kan, endingnya ga nyambung sama awalnya, rimanya aja absurd gitu, Wakamatsu memutar bola matanya malas.
Kouki langsung lempar bantal kemuka Moriyama, "Su-Sumimasen tapi aku sudah menikah.."
"Tidak. Jangan begitu.. Cintailah aku yang tampan nan seksi melebihi si model Kise ini nona cantik, jadikan aku yang kedu–"
OOEEEEKKKK!
OOOEEEKKKKKK!
Anak kembar Midorima koor(?).
Padahal mereka tadi tidur dengan tenang dan damai, kenapa sekarang malah nangis berjamaah gini, ah mungkin mereka tak terima dengan perkataan Moriyama yang mengatai dirinya 'tampan nan seksi' itu.
"Eh, Zurou, Shirou kenapa nangis?" Kazunari bingung, dia harus gendong yang mana dulu, Midorima sedang ada jam praktek jadi ia tak bisa menemani.
"Kagami, tolong bantu gendong Shirou, hayaku!" terpaksa meminta pertolongan Kagami, semoga anaknya bisa tenang lagi..
Tatsuya dan Tetsuya kembali menarik selimut, mereka masih dilanda galau pemirsa sekalian.
"Koukii.."
Kouki semakin merinding saat mendengar panggilan dari Moriyama, sejak kapan dia tau nama depankuu, astaga..
"Belahlah dadaku ini, agar kau bisa melihat jantung akang yang berdebar-debar dan penuh cinta…." Moriyama melepas kaos yang ia kenakan.
OOOOEEEKKKKKK!
Oh tidak, anak tunggal Akashi Seijuurou menyusul Zurou dan Shirou.
"Mo(ri)yama-senpai pakai bajumu oi!" Hayakawa berteriak dengan nada cadelnya.
DUUAAAG
Kasamatsu menendang Moriyama dengan kesal, "Hentikan ini! Sebelu–"
BRAK
Pintu terbuka dengan kasar dan seketika hawa didalam ruangan menjadi dingin dan mencekat.
Akashi muncul dengan gunting kesayangannya, "Siapa yang berani menggoda Kouki-ku dan membuat anakku menangis?" ia menatap tajam Moriyama yang sedang telanjang dada dan terinjak-injak oleh kaki Kasamatsu.
"Akashi, kau tidak perlu menikamnya dengan gunting, aku yang akan mengurusnya sendiri," Kasamatsu menarik nafas sebentar, "Imayoshi, bisa bantu mengangkat dia?"
Imayoshi menautkan alisnya, "Mau dikemanakan?"
"Dibuang di TPA terjauh."
"Oke"
Sebenarnya mereka tidak mengangkat melainkan mereka menyeret Moriyama lalu menuju ke TPA terjauh.
Akashi menghela nafas sebentar lalu menemui sang putri kecilnya, "Ueta-chan, kolor ijo-nya sudah pergi, sudah ya, jangan menangis lagi.."
Akashi dan Kouki berusaha menghentikan tangisan anaknya yang semakin menjadi-jadi dan semakin keras.
Si kembar pun tak mau kalah, mereka juga semakin keras menangisnya, Kazunari bingung, Kagami dan dibantu oleh Murasakibara kalang kabut ngurus Shirou.
"Shirou-chin diem dulu deh, nanti aku kasih maiubou…tapi boong" Murasakibara memelankan volume suaranya dikata-kata terakhir dan akhirnya–
OOOEEEKKK
OOEEKK
OOEEKKKK
Mereka semakin keras, "Aduh, anak kecil jangan diboongin dong, kasian kan" Kazunari memarahi Murasakibara.
"Murasakicchi ga boleh gitu sama dedek bayi."
"Wah, Murasakibara parah.." Wakamatsu ikutan memojokkan Murasakibara.
"Jangan gitu kalau sama anak kecil." tambah Kobori.
Murasakibara sembunyi dikolong kasur, "Semuanya gitu, selalu aku yang salah."
Eh, kenapa Murasakibara jadi begini, kaya perempuan lagi ngambek aja.
Dalam waktu setengah jam mereka semua –kecuali Ryouta dan Murasakibara, berhasil membuat Ueta, Shirou dan Zurou berhenti menangis.
"Wahh, akhi(r)nya be(r)hasil.." Hayakawa merebahkan dirinya dilantai.
Mereka semua terduduk dilantai dengan muka lesu dan lelah, "Menangkan bayi menangis lebih susah dan menguras tenaga dibanding dengan bermain basket melawan Rakuzan" Kagami sudah tidak kuat.
Imayoshi dan Kasamatsu baru saja selesai dari misi membuang Moriyama di TPA terjauh.
"Ada apa ini?" Imayoshi kaget melihat semuanya gelesotan dilantai dengan tidak elitnya.
"Su-Sumima..sen" Sakurai pingsan kelelahan, "Oi, Sakurai berta–" Wakamatsu juga pingsan.
"Barusan selesai diemin bayi nangis..ah lelah" Kobori menjawab pertanyaan sang mantan kapten Touou.
Sepersekian detik kemudian mereka semua terjun dalam mimpi, menyisakan Kasamatsu dan Imayoshi.
".."
".."
.
Malam pun tiba,
"Shin-chan, kok belum kesini dari tadi ya.." Kazunari galau.
Tatsuya menepuk pundak Kazunari, "Mungkin dia lagi sibuk"
Kazunari duduk diranjangnya dengan muka ditekuk.
"Oh ya, kalau tidak salah, besok Mido-chin ulang tahun ya?" celetuk Atsushi memecahkan keheningan yang mulai menyelimuti mereka.
"Tanggal 7 ya?" tanya Aomine memastikan. Murasakibara mengangguk sambil memakan kripik kentangnya.
Yaampun iya, kok aku bisa lupa, sih, untung aja diingetin sama titan ungu pemakan segalanya, Takao–eh salah, Midorima Kazunari bodoh! Kazunari meruntuki dirinya sendiri.
"Gimana kalau kita bikin sedikit pesta besok?" usul Kouki yang masih menggendong Ueta.
"Jangan lupakan surprise-nya juga-ssu" tambah Kise.
"Dikerjain dikitlah, biar seru" sambung Kagami dengan seringai licik.
Kazunari menatap mereka semua lalu mengangguk setuju.
"Ayo kita rencanakan sekarang.."
Mereka semua mulai berbincang dan sedikit berdebat tentang rencana mengerjai Midorima.
"Oke, kalian sudah setuju semua, kita bisa mulai dari besok pagi," Akashi menutup rapat komisi meja bundar di RS.
Selesai rapat mereka semua langsung tertidur.
.
.
"Kazunari, kau mau sarapan apa-nodayo?"
"Kenyang." Kazunari menarik selimutnya sampai menutupi seluruh badannya.
Midorima bingung dengan sikap istrinya, ada apa dengan dia, tak biasanya Kazunari menjadi pendiam begini..
Ia melirik kesekitarnya, terlihat Kagami dan Tetsuya yang sedang bermesraan di pojok, sudah mesra-mesraan, dipojokan lagi..
Aomine dan Ryouta sedang sibuk menciumi pipi anaknya, keluarga baru yang lagi kesenengan..
Akashi membaca beberapa kertas yang bisa ditebak itu pasti laporan dari kantornya, Kouki dan Ueta sedang tidur, pagi-pagi sudah tidur-nodayo..
"Menyalahkan istri dan anakku yang tertidur itu menyenangkan ya, Shintarou?"
Ugh, sial, ketauan..
Midorima menaikkan kacamatanya lalu melihat kearah istrinya kembali, ini pagi sepi amat sih..
Ia meraih ponselnya, tak ada pesan ataupun panggilan..
Lalu mengecek tanggal, '7/7"
Midorima menghela nafasnya, menyedihkan sekali hidupku ini-nodayo..
'Apa mereka semua tak ingat ini hari apa, eh tapi bukannya aku minta diucapin selamat ualng tahun ya, aku cuma heran aja kalau mereka lupa..'
Begitulah isi batin Midorima…..tsundere.
Midorima sesak melihat suasana disekitarnya yang sangat hening itu, biasanya Kagami dan Aomine menimbulkan kegaduhan, tetapi hari ini, mereka menjadi pendiam dadakan. Apa mereka lagi kesambet?
Midorima melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, menuju ketaman terdekat untuk meratapi nasibnya yang gelap seperti kulit Aomine Daiki.
Kenapa tak ada yang memberi ucapan selamat ulang tahunku?
Teman-teman Kisedai, rekan kerja, teman-teman Shutoku, bahkan ibu dan ayah juga tak mengucapkannya T-T
Midorima jerit plus nangis dalam hati.
"Oh ya, Murasakibara dan istrinya ga ada tadi-nodayo, ah bukan berarti aku kesepian kalau ga ada mereka."
Hari ini berlalu dengan begitu lambat, sepi dan menyedihkan sekali bagi Midorima.
Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling berharga dan paling menyenangkan malah berubah suram begini.
Seharusnya ia bahagia sekarang, bukan sedih seperti ini. Midorima menghela nafasnya lalu beranjak kembali ke rumah sakit.
Saat masuk diruang inap, betapa terkejutnya dia..
HENING.
KRIK.
KRIK.
Cuma ada jangkrik satu yang lagi loncat-loncat di tengah ruangan, "Ini jangkrik muncul darimana-nodayo? Dan juga mereka semua kemana?!"
Ruangan ini sudah bersih dan rapi, seakan sudah siap dipakai untuk pasien berikutnya.
"Apa-apaan ini? Mereka bertiga tidak boleh jalan-jalan dulu-nodayo"
Midorima meraih ponselnya, ia berusaha menghubungi Kazunari,
"Nomor yang anda tu–"
Tidak aktif.
Ia menghubungi Ryouta, "Nomor yang an–"
Tidak aktif juga.
Ia mencoba menghubungi Kouki,
"Kenapa menelpon istriku, Shintarou?"
Midorima langsung mematikannya, astaga kenapa malah Akashi yang angkat, bikin merinding aja..
Ia lanjut menelpon Aomine,
Tuuuttttt..
Tuuuuutttt..
Tersambung, KLEK, "Aku tak mau..dikalau aku dimadu..pulangkan sa–"
Midorima tuli sesaat, kenapa malah lagu banci dilampu merah..
Ia menelpon Kagami,
Tuutt..–KLEK
"Kaga–"
"Ngghhhh… Mmmhh.. Fas..aahhh..te–"
Midorima speechless. Kenapa malah ada suara perempuan desah.
"Hhh" menghela nafas berat, sudah pagi ini hawanya sepi, terus siangnya mereka hilang semua, ga ada yang ngasih ucapan selamat ulang tahun, hmm….
Midorima benar-benar merana dihari ulang tahunnya.
"EMAK AKU SALAH APA-NODAYO?!" jerit Midorima nelangsa dikolong kasur.
Tik.. Tik.. Tik.. Bunyi hujan diatas genting~
Ponsel Midorima bordering, sebuah nomor tak dikenal tertera dilayar ponselnya, tanpa menunggu lagi, ia langsung mengangkatnya.
"Halo, dengan Midorima Shintarou?"
Ah, ini suaranya ayahnya Akashi.
"Iya, saya sendiri–"
"Om juga sendiri.. Jadian sama om yukk!"
KLEK. Midorima gondok.
'Kami-sama cabut nyawa dede ini'
Ayahnya Akashi kesambet saiton apaan, kemana jadi salah gaul gitu.
Midorima sudah tidak kuat menanggung beban hidup ini, ia mengahiri hidupnya. Sudah dua kali ia dibuat tuli sementar, pertama oleh lagu banci dilampu merah yang dinyanyikan Kagami dan yang kedua diajak pacaran sama om-om –Akashi Masaomi.
Tik.. Tik.. Tik.. Bunyi hujan diatas genting~
Ponselnya bordering kembali, muncul nomer yang tadi, nomor yang digunakan Ayah Akashi untuk menelponnya, dengan segenap jiwa raga hati ia mengangkatnya.
"Halo.."
"Haha, maaf Shintarou-kun, tadi saya hanya bercanda, tapi kalau beneran juga tidak masa–"
KLEK. Sudah, aku sudah benar-benar mau gila..
Tik.. Tik.. Tik.. Bunyi hujan diatas genting~
Ponselnya bordering lagi dan nomor tadi muncul lagi.
Angkat. Matiin. Angkat. Matiin. Angkat. Matiin. Ang–
"Halo.." Midorima lebih memilih mengangkatnya.
"Haha, jangan dimatikan dululah, saya tadi bercanda. Ada hal penting yang ingin saya bicarakan denganmu, temui saya dikantor, kuberi waktu 10 menit."
KLEK. Kali ini yang mematikan duluan adalah Ayah Akashi.
'Ayah dan anak sama-sama mutlaknya-nodayo'
Midorima dengan cepat segera menuju keparkiran dan langsung melesat ke kantor ayah Akashi.
.
"Begini, Shintarou-kun, tadi saya mendapat pesan dari anak semata wayang saya yang paling saya sayangi itu, pesannya dikirim pake elang lohh, pesannya digulung-gulung terus dikasih dikakinya elang, elangnya bagus warnanya, item mengkilap, kita berdua kaya sms-an dijaman kerajaan dulu ya pake elang gitu."
Ayah Akashi malah bercicit panjang lebar tentang pesan dan elangnya bukan isi pesan yang dibawa elang itu, Midorima sweatdrop.
"..Jadi, apa isi pesannya kalau boleh tau?"
".." Ayah Akashi menatap Midorima sebentar.
Midorima merinding, takut diterkam om-om.
"Ehemm" beliau berdeham, "Seijuurou menyuruhmu untuk kealamat ini" Beliau menyerahkan secarik kertas.
"Bukan alamat palsu, kan?" Midorima memastikan.
"Tentu bukan, anak saya bukan Ayu Ting Tong kok."
Midorima masih berdiri didepan Ayah Akashi sembari membaca alamat itu, ini, kan alamat rumah sakit.. kamar nomor 121? Kamar siapa itu?
"Kata Seijuurou juga, jika kau lama maka istri dan kedua anakmu tidak akan selamat, begi–"
Midorima langsung melesat pergi setelah berkata 'permisi' dan ayah Akashi hanya terkekeh, 'selamat menikmatinya, Shintarou-kun"
.
Sesampai di rumah sakit, cepat-cepat Midorima segera pergi kekamar bernomor 121, dipapan nama yang tertempel didinding dekat pintu tersebut tertera nama
'T1t4n warna merah mencintai dirinya diri mereka dan….kamu'
"Nama macam apa ini-nodayo" Midorima langsung membuka ruangan itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Matanya langsung terbelalak melihat ada seorang nenek yang sedang duduk dikasur dan melihat kearah Midorima dengan tatapan sedikit terkejut, Midorima kira ini hanya sebuat kerjaan yang dibuat teman pelanginya untuk mengerjainya,
"Su-Sumimasen, saya pikir ini hanya kerjaan teman-teman saya" Midorima membungkukkan badanya sopan.
"Tak apa cu, pasti gara-gara habis membaca nama dipapan dekat pintu itu ya? Haha, itu display name facebook saya"
Midorima sweatdrop, hebat amat dia punya facebook, namanya juga we o we banget…alay.
"Ini dari teman anda, cu" nenek itu menyerahkan sebuah amplop berwarna ungu.
Mido-chin, cepatlah ke café sebelah rumah sakit ya!
Cepat, sebelum gunting Aka-chin cium jantung Kazu-chin.
Dari aksen-aksen cara menyampaikan pesan dan warna amplopnya serta kertas yang sedikit kotor terkena coklat, ia sudah bisa menebak siapa yang menulis ini.
Setelah Midorima mengucapkan 'permisi' pada nenek tersebut, ia langsung keluar dari kamar tersebut, "Jangan lupa add facebook saya ya sensei..!"
Astagaaa, dasar nenek jaman sekarang.
.
Di café,
"Ah, apakah anda Midorima Shintarou?" Tanya salah satu pelayan dan Midorima hanya mengangguk, ia terlalu sibuk mengatur nafasnya karena harus berlari dari dalam rumah sakit menuju keluar.
"Ini dari teman anda" pelayan itu menyerahkan satu amplop, kali ini berwarna biru tua, langsung dapat ia tebak, pasti Aomine yang menulis.
Midorimacchi, kenapa malah ketempat ini, sih! Cepat pergi kerestoran depan kantornya Akashicchi..
Kazucchi dan Shiroucchi dan Zuroucchi dalam masalah besar..
Midorima salah menduga, ini amplop warna biru tua tapi tulisan dan aksen-aksennya milik si kuning.
'Astaga, ini apaan sih, sial"
Midorima langsung pergi keluar dan menuju keparkiran rumah sakit untuk mengambil mobilnya.
Di Restoran depan kantor Akashi,
Salah satu pelayan menghampirinya, "Apakah tuan adalah Midorima Shintarou?"
Pertanyaan yang sama.
"Iya"
Pelayan itu segera menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat, ia menebak ini pasti dari istri Akashi.
Shintarou-kun, kenapa malah berdiam diri disitu? Apa kau tak mengkhawatirkan istri dan anakmu yang sedang dalam bahaya?
Cepat pergi ke restoran nasi kucing disebelah Seirin koukou.
Bukan, ini bukan tulisan Akashi Kouki melainkan ini tulisan Akashi Masaomi.
"Astaga.." Midorima segera keluar dan menuju mobilnya.
Dipikiran Midorima hanya ada bayangan senyum Kazunari dan wajah tak berdosa milik Zurou-Shirou, tak ada yang lain, bahkan Midorima lupa kalau dia sedang galau karena tidak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Jika sesuatu menyangkut gunting merah laknat dan pemiliknya –Akashi Seijuurou, maka ini tidak bisa diartikan hanya lelucon belaka, ini serius, Akashi tak pernah bercanda dalam hidup.
.
Di restoran nasi kucing dekat Seirin Koukou (di Jepang ada nasi kucing yak?),
Midorima turun dari mobilnya, seorang tukang parkir menghampirinya,
"Midorima Shitarou itu kan?"
Midorima mengangguk, "Waahh, shooter Kiseki no Sedai, saya fans anda, Midorima-san" si tukang parkir fanboying tidak jelas didepan Midorima dan hampir membuat si tsundere muntah.
Tidak penting. Midorima segera menuju kedalam restoran.
Salah satu pengunjung menghampiri Midorima, "Permisi.. Ini untuk anda" ia menyodorkan sebuah amplop berwarna merah hati.
Midorima memincingkan matanya, "Dari siapa?"
Pengunjung itu hanya diam tak menjawab, dengan terpaksa ia meraih amplop itu dan langsung membukanya.
Oi, Midorima! Kau lama sekali..
Cek ponselmu cepat!
Selesai membaca surat itu yang bisa ia langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
Ada satu email yang belum terbaca.
From: Kagami Taiga
To: Midorim Shintarou
Subject: DANGER!
Cepat pergi ke Maji Burger yang biasa aku tongkrongin!
*foto*
Midorima terbelalak melihat foto tersebut, Kazunari pingsan dilantai dan dahinya terlihat sedikit berdarah, ah jangan lupan gunting merah yang tergeletak didekat kepala Kazunari.
'Apa-apaan ini?!"
Tanpa babibubebo langsung ia melesat ke Maju Burger.
'Apa yang Akashi lakukan pada istriku?'
Ia melajukan mobilnya dengan cepat, ia sudah sangat khawatir, keringatnya mulai bercucuran.
Sekarang ia berhenti diperempatan karena lampu lalu lintas berwarna telah berwarna merah.
"Aku tak mau kalau aku dimadu~ bang minta recehnya bang"
Salah satu banci lampu merah mengetuk kaca mobilnya, awalnya ia hiraukan banci itu sampai akhirnya banci itu menunjukkan sebuah amplop warna biru muda.
Midorima membuka kaca mobilnya, "Berikan-nodayo"
"Duit dulu bang~"
Midorima dengan terpaksa memberi banci itu uang.
Setelah selesai membaca isi pesan tersebut dan bertepatan dengan lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, ia langsung memutar arah lajunya, tidak jadi ke Maji Burger.
"Cih, padahal sebentar lagi sampai di Maji Burger-nodayo, sebenarnya ini ada apa sih" Midorima kesal sendiri.
Midorima-kun, cepat pulanglah kerumahmu, ibumu mencarimu.
.
Dirumah,
"Kaa-sann.."
Rumah sepi, sangat sepi. Midorima menuju keruang tengah, ternyata disana terlihat ibunya yang tertidur disofa.
"Kaa-san.." Midorima membangunkan ibunya dengan lembut.
"Hnng, eh Shintarou, sudah pulang?" Ibunya bangun dari tidurnya, "Ini, cepat baca. Katanya, Kazunari-chan dalam bahaya" Ibunya menyerahkan amplop berwarna merah.
"Kata siapa?"
Ibunya diam, seperti pengunjung yang ada direstoran nasi kucing, tak menjawab.
"Sudahlah, cepat baca."
Midorima membuka amplop tersebut.
BUKA PONSELMU, SHINTAROU!
Midorima menyerngitkan dahinya.
Drrrtt.. Drrrtt..
Sebuah email masuk dan dengan cepat ia membukanya.
From: Akashi Seijuurou
To: Midorima SHintarou
Subject: LOOK!
*ini foto*
Midorima membelalak, "Ada apa, Shinta–KAZUNARI-CHAN!" ibunya ikut kaget melihatnya.
Di foto tampak Kazunari dengan badan penuh dengan darah lalu berdiri diatas kursi dengan tangan terikat dibelakang dan dilehernya sudah ada tali tambang yang siap menggantungnya jika kursi itu diambil.
"Sial apa yang mereka lakukan-nodayo!"
Midorima sudah tak bisa membendung emosinya, "Aku pergi dulu!"
Setelah melihat sekeliling Kazunari, ia tau ia harus kemana setelah ini, ke rumah sakit, keruangan dimana mereka diinap.
.
Midorima masuk kerumah sakit dengan terburu-buru, tak jarang ia menyenggol sedikit bahu beberapa orang.
Sesampai didepan pintu kamar inapnya, ia meraih kenop pintunya dan membukanya.
CEPLUK
CEPLUK
Sebuah benda berbentuk lonjong berwarna coklat muda, didalamnya berisi cairan kental berwarna bening dan kuning telah mendarat dikepala hijaunya dengan mulus.
"HAPPY BIRTHDAY MIDORIMA SHINTAROU!"
Midorima diam, ia melihat kearah keranjang bayinya, lengkap ada Shirou dan Zurou yang sedang terlelap, didepannya ada Kazunari yang membawa roti ulang tahun.
"Shin-chan otanjoubi omedetou!"
Ia melihat semua yang ada disana, ada adiknya, ada Kiseki no Sedai dengan istri serta bayinya, ada rekan kerjanya yang sering membantunya, ada ayah Akashi juga, dan ada mertuanya.
Lengkap. Hanya saja tidak ada, ayah dan ibunya.
"Shintarou-nii, ini dari kaa-san, tou-san, dan aku." Sang adik memberikan sebuah hadiah yang cukup besar, Midorima menerimanya dengan senang, "Arigatou, Shinka"
"Midorima ini dari aku dan Ryouta, terima kasih ya sudah membantu kita" si dim menyerahkan sebuah kotak persegi panjang, bisa ditebak isinya sepatu.
"Arigatou dim"
"Jangan panggil aku dim! Aku sekarang sudah agak putih tau!"
Putih darimananya-nodayo, masih item gitu..
Sekarang si uke yang paling imut dari sejuta uke tetapi suka hilang sendiri, "Midorima-kun ini dariku dan Kagami, terima kasih untuk selama ini….kau terlalu baik untukku"
Apaan itu, kaya kata-kata buat nolak seseorang, kenapa Tetsuya salah gaul ginilah, Midorima sweatdrop.
Murasakibara menyerahkan satu bungkus maiubou, "Hadiah dari aku sama Tat-chin"
Midorima speechless, pelit amat ya..
Tatsuya langsung merebut maiubou itu dari tangan Midorima, "haha, Atsushi sedang bercanda, ini untukmu, happy birthday"
Midorima menerima sebuah kotak persegi cukup besar dari Tatsuya, "Arigatou"
Akashi mendekat dan memberikan sebuah gunting merah, "Ini hadiah dari aku dan keluarga besar, semoga kau senang"
Midorima memandang miris gunting laknat itu, parah..
"Bu-bukan," Kouki menghampirinya, "Bukan hanya hanya itu, ini juga untukmu Midorima-san, terimakasih sudah membantu melahirkan Ueta-chan ya.." Kouki memberikan sebuah kotak persegi berwarna merah.
Dan yang terakhir,
"Shin-chan, maaf aku ga bisa kasih hadiah, dari tadi Shirou nangis terus jadi ga bisa beli hadiah deh" Kazunari menunduk.
Midorima mengusap rambut raven milik istrinya, "Tak masalah, Kazunari.."
".."
".."
".."
".."
Seketika hening,
".."
".."
"Jadi.." Midorima menarik nafasnya.
Mereka semua diam mendengarkan.
"Apa yang kalian lakukan dari tadi? Kenapa foto-foto itu bisa terjadi? Kenapa kalian membuatku harus keliling Tokyo sampai bensin mobilku sekarat? Dan tadi siang kalian kemana-nodayo?"
Mereka semua langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah satu lagi, bersihkan ini semua-nanodayo. Jaga kerbersihan ini rumah sakit."
Mereka semua masih sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu,
"Ah, Ueta-chan bangun.." Kouki mencoba menjauh dari kerumunan, jujur ia sangat lelah hari ini, malas bersih-bersih.
"Kouki sayang, ada yang ingin kubicarakan denganmu sebentar" Akashi ikut kabur dari kerumunan.
Aomine melirik Kagami,
Kagami melirik Aomine.
Ryouta melirik Kazunari,
Kazunari melirik Ryouta.
"Astaga, oven yang buat masak kue tadi belum dibersihkan, nanti kita bisa dimarahin sama mommy," Tatsuya beralasan, "Atsushi, ayo bersih-bersih rumah dulu"
"Dadah, Mido-chin~" Murasakibara dan Tatsuya keluar dari ruangan tersebut.
"Ara, Zurou bangun" Kazunari menghampiri bayinya, padahal Zurou tidak bangun.
Tersisa Aomine dan Kagami.
Jangan tanyakan dimana Tetsuya, ia sudah pergi dari tadi menggunakan misdirection-nya.
"Kagami, Aomine, kalian yang nimpukin aku pakai telur-nodayo, sekarang bersihkan ini semua, jangan beralasan untuk pergi seperti yang lainnya." Midorima menaikkan letak kacamatanya.
"Bakagami, lihat disana ada bangunan"
"Ahomine, lihat disana ada pohon"
"Itu pohon apel"
"Dibuahnya ada cicaknya"
"….Ah, iya ada cicak nemplok disana, haha"
Alih-alih mendengarkan perkataan Midorima, mereka malah melihat pemandangan luar dari jendela, mana mereka ngomongnya ngaco lagi.
Alis Midorima berkedut.
"OI!"
BRUK
Aomine dan Kagami terjatuh dilantai dan langsung tertidur tanpa hitungan detik.
Makhluk macam apa mereka..
.
.
.
TBC
.
.
.
Hai.. INI SPESIAL BUAT ULTAHNYA MAKHLUK HIJAU BIN TSUNDERE YA (telat woi!)
Maaf kalau garing dan banyak typo serta tidak nyambung..
Terimakasih sudah membaca dan me-review.
Thanks to
Indah605; shaakun; Zhang Fei; Anak nyasar; Plum Fox; ; miyunakamura9; Miharu348; Hana Ma-chan; Kurohime; Lingkaeru; RisaSano; blackeyes947; Coletta Black Beat; ByuuBee; uzumaki himeka; Midorissu; citrusfujo; URuRuBaek; Yozorra; Rhymos-Ethereal; Joy; AoKeisatsukan; Midorima Liu Kths; Midoseme Takauke; momonpo.
