Hey! I'm not a Little Boy anymore!

.

By : Kimmy

.

Cho Kyuhyun (N), Cho Donghae (N), Cho Siwon (N), Cho Hankyung (N), Lee Sungmin (Y)

.

Genderswitch

.

Romance, Brothership, Comedy -maybe-

.

.

.

Note:

Ini cuma sebuah fanfic. Disini para tokoh diganti marga trs diputer balik usianya, disesuain sama muka-muka mereka (mian bang Siwon^^) udah gitu sifatnya juga dibedain. jadi wajar aja ya kalo ga sesuai sama yang asli, namanya juga cerita fiksi…

.

.

.

.

.

PART 9

.

"Mwoya?"

"A-aku tidak bisa bertemu dengannya lagi, hyung."

"Ah wae?" Donghae kini mengerutkan dahi.

.

.

.

-0o0-

.

.

.

Festival.

CIUTTT… DUARR!

DUARR!

CIUTT… DUARR! DUARR!

Suara khas kembang api pun terdengar di langit malam tanpa bintang. Semua orang sudah menempati tempat yang mereka anggap nyaman untuk menyaksikan kembang api. Ada yang berdiri di tengah jalan sambil menikmati kembang api dengan pasangan dan sahabat, ada yang memilih menikmatinya sambil duduk di kursi-kursi sambil memotret kembang api, adapula yang menikmatinya dari kedai-kedai makanan karena belum sempat menyelesaikan makan mereka.

Sepasang laki-laki dan perempuan tampak berjalan menerobos kumpulan orang-orang yang berkerumun menyaksikan kembang api di tengah festival. Sungmin dan Kyuhyun terlalu asik berbincang-bincang dan bercanda di kedai makanan hingga lupa bahwa waktu menunjukkan pukul 21.50 di mana kembang api akan diluncurkan selama sepuluh menit berturut-turut.

"Lewat sini, Kyu." Sungmin memimpin sekaligus membuka jalan bagi dirinya dan Kyuhyun untuk melihat kembang api di tempat yang tepat.

Kyuhyun hanya mengikuti Sungmin dari belakang sambil sesekali memegangi lengan baju Sungmin agar ia tidak tersesat. Kyuhyun tak menyadari bahwa pada momen ini harusnya ia bersikap seperti laki-laki dewasa yang melindungi yeojanya di tengah kerumunan. Tetapi kenyataannya adalah Sungmin yang memimpin langkah mereka.

"Di sini saja, noona," Kyuhyun berhenti di tengah kerumunan orang. "Lihat, sangat indah dilihat dari sini."

Sungmin pun berdiri di sebelah Kyuhyun. Kedua remaja itu menenggak dan mulai menyaksikan kembang api yang baru berlangsung dua menit.

Suara kembang api yang bising tidak membuat para pengunjung terganggu. Bahkan telinga mereka terus menerus merindukan suara kembang api seperti tidak ingin suara decitan keras itu berhenti. Bentuk dari kembang api yang diluncurkan bermacam-macam. Ada yang berbentuk air mancur, ada yang membentuk bintang, bahkan ada pula yang berbentuk hati. Beberapa dari mereka berteriak girang menyaksikan kembang api yang dipertontonkan.

"Wooohooooo!" seorang namja bergaya swag yang berdiri di sebelah Kyuhyun tiba-tiba berteriak girang.

Kyuhyun dan Sungmin meliriknya bersama-sama. Namja itu sungguh aneh. Pakaiannya seperti seorang rapper dengan kacamata hitam dan topi, padahal keadaan festival gelap. Kenapa harus pakai kacamata hitam? Kyuhyun dan Sungmin kemudian saling melirik dan tertawa kecil – menertawakan namja aneh di sebelah Kyuhyun.

Sungmin kemudian mendengar orang lain yang berada di setiap sudut ikut berteriak seiring kembang api meluncur. Gadis itu kemudian tersenyum dan melirik Kyuhyun yang kembali menenggak. "Ekhm.." Sungmin berdehem sejenak, kemudian…

"Kyuhyun aaaah!"

CIUTTT DUARR!

DEG!

Tiba-tiba jantungnya berdegup mendengar Sungmin meneriakan suaranya dengan lantang. Di saat semua orang hanya berteriak 'Yoo!' 'Wohoo!' Sungmin malah meneriakkan namanya. Jelas saja pipi Kyuhyun memerah seketika. Ia malu sekaligus tersipu karena Sungmin berani meneriakkan namanya di tengah kerumunan orang banyak. Suara Sungmin seakan mengiringi suara decitan kembang api yang meluncur.

Kyuhyun menoleh Sungmin kemudian mendapati gadis itu tertawa sambil menatap Kyuhyun. 'Aish~ noona… Kau manis sekali' Kyuhyun gemas dalam hati.

Ia pun kembali menenggak ke atas. Menarik nafas dalam-dalam kemudian…

"Sungmin noonaaaaa!"

CIUTT DUARR!

Tak mau kalah dengan Sungmin, Kyuhyun pun meneriakkan nama Sungmin dengan lantang dan berani. Kyuhyun merasa lega seketika setelah berteriak, seakan ia semakin percaya diri dengan perasaannya pada Sungmin.

"Ya! Ya!" Tiba-tiba Sungmin bersuara protes. "Jangan teriakkan aku 'Sungmin noona'. Aku terdengar tua." Sungmin menekuk bibirnya. "Cukup Sungmin ssi juga tidak apa-apa."

Kyuhyun pun tertawa. Lagi-lagi ia menarik nafasnya dan kembali berteriak. "Yaaa! Lee Sungmiiiiin!"

DUARR!

"Mwoya, Cho Kyuhyun." Sungmin menepuk bahu Kyuhyun ketika mendengar Kyuhyun meneriakkan namanya dengan bahasa tidak formal. Bahkan ia menambahkan kata "Ya!" sebelum menyebut nama lengkap Sungmin. Hal itu terkesan sangat tidak sopan untuk memanggil orang yang lebih tua.

Lagi-lagi Kyuhyun tertawa. Ia tidak bermaksud tidak sopan, Kyuhyun hanya ingin mengajak Sungmin bercanda di tengah suasana kembang api yang hangat. Sungmin mengulum bibirnya lalu ia pun membalas teriakan Kyuhyun dengan tidak kalah nakal.

"Kyuhyun aaah baboyaaaa!"

DUARR! DUARR!

"Ah, waeyo, noona?" kali ini Kyuhyun yang berbalik protes.

Sungmin tidak menjawab, ia hanya tertawa.

Seketika keduanya punya cara sendiri untuk menikmati kembang api. Di saat pasangan lain menikmati kembang api dengan berpegangan tangan, berpelukan dan –bahkan– berciuman, Sungmin dan Kyuhyun malah bercanda sambil meneriakkan nama keduanya.

"Sungmin aaahh, jinjja shireeeeoooo!"

"Ya! Ya!" Kini Sungmin mulai gemas dengan Kyuhyun yang mulai berani bercanda kelewatan dengannya.

Sungmin tak tanggung-tanggung untuk mencubit pelan Kyuhyun dari pipi hingga pinggangnya sehingga Kyuhyun melangkah mundur dan mulai menghindar dari Sungmin. Kyuhyun melangkah ke belakang, ia menabrak orang hingga membuat beberapa orang terganggu. Kyuhyun tersenyum sambil menunduk sejenak untuk mengisyaratkan 'mianhaeyo' kepada orang yang ditabraknya. Sementara Sungmin puas menertawainya.

Tak sampai di sana, Sungmin akhirnya mengejar Kyuhyun karena belum puas mencubit teman laki-lakinya (read: teman kencannya). Kyuhyun dan Sungmin pun berlari keluar dari kerumunan orang yang sedang menikmati kembang api. Mereka seketika melupakan indahnya kembang api karena 'acara kejar-kejaran' mereka lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan acara kembang api.

"Mi-mianhaeyo, noona. Aku bercanda. Ah~ Ah~" Kyuhyun sudah berusaha menghindari Sungmin tapi tetap saja tangan Sungmin menangkap tubuh Kyuhyun dan menyengatnya dengan cubitan maut.

"Hahaha.. Jangan lari. Ya! Kyuhyun ah!"

Sungmin tertawa melihat tubuh Kyuhyun melengkung kemudian kembali berlari menghindarinya. Ia benar-benar menikmati setiap detiknya bersama Kyuhyun. Meski pada awalnya Sungmin menginginkan kencan yang romantis untuk malam ini, namun ternyata tidak ada sikap-sikap romantis yang dilakukan Kyuhyun. Yang ada, Kyuhyun dan Sungmin bermain dan bercanda tawa seperti sepasang anak kecil yang senang bermain kejar-kejaran.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Sungmin dan Kyuhyun seketika menyadari bahwa mereka hanya menikmati kembang api selama tiga menit. Sisanya, mereka berdua berkejaran dan bercanda. Meski tidak fokus menyaksikan kembang api sebagai penutupan acara, namun keduanya mengaku senang datang ke festival malam ini.

Di sinilah Kyuhyun. Sesekali Kyuhyun melihat ke jam tangan. Untuk pertama kalinya ia berada di luar rumah selarut ini. Ia bahkan tidak ditemani Yesung, Wookie ataupun hyungdeul. Kyuhyun berjalan menuju gerbang pintu keluar bersama Sungmin. Keduanya membawa barang masing-masing yang mereka dapatkan di festival malam ini. Begitu acara selesai, semua orang bubar dari tempat itu, begitu juga Sungmin dan Kyuhyun. Sungmin mengakui, ini pertama kalinya ia berkencan dengan seseorang ke festival. Kyuhyun pun mengakuinya dengan malu-malu. Di tempat ini Kyuhyun bisa lebih dekat dengan Sungmin. Di tempat ini Kyuhyun bisa mengenal Sungmin lebih dalam. Di tempat ini pula Sungmin bisa memandang Kyuhyun lebih lama dan merekam setiap tatapan dan senyuman Kyuhyun dalam pikirannya.

"Mwo? Jinjja?" tanya Kyuhyun ketika berjalan dengan topi koboi yang masih terpasang di kepalanya.

Sungmin mengangguk. "Karena itu aku marah." kata Sungmin.

Kyuhyun terdiam sejenak. Mereka berdua sedang membicarakan apa yang terjadi ketika pertama kali mereka bertemu. Saat itu Kyuhyun mendapati Sungmin sedang marah-marah di belakang sekolah sambil meninju pounching bag yang ada di sana. Yang Sungmin lakukan adalah melampiaskan rasa kesalnya pada Jonghyun dan teman-temannya. Sebelumnya, Jonghyun menemui Sungmin yang sedang menulis surat (lagi) untuk Kyuhyun. Jonghyun menertawai Sungmin karena Jonghyun menganggap Kyuhyun adalah laki-laki lemah seperti banci yang dipukul saja akan menangis.

"Jonghyun bilang kau seperti adiknya yang berumur 5 tahun, bahkan lebih lemah dari adiknya." ucap Sungmin.

Kyuhyun terdiam sejenak. Dicubit saja menangis? Memang begitu kenyataannya. Kyuhyun pernah dibully Jonghyun dengan dipukul bahunya dan Kyuhyun pun menangis. Seketika Kyuhyun merenungi bahwa dirinya memang lemah.

"Kyuhyun ah, mian. Aku tidak bermaksud mengejek. Aku menceritakan hal ini supaya kau tidak salah paham denganku."

"A-aku tidak salah paham, noona."

"Aku sangat marah saat dia dan teman-temannya mengejekmu. Tapi aku tidak mungkin menghajar dia di depan umum karena itu aku pergi ke belakang dan melampiaskannya pada pounching bag."

Kyuhyun melirik Sungmin. Gadis itu berjalan dengan memeluk boneka yang didapatkannya dari Kyuhyun ketika mereka bermain. 'Jadi, selama ini ia memang memperhatikan aku?'Kyuhyun bergumam.

"Noona.."

"Mm?"

"Gomawoyo" Kyuhyun tersenyum.

Sungmin menatap Kyuhyun sejenak. Tiba-tiba langkah Sungmin terhenti hingga membuat Kyuhyun menghentikan langkahnya juga. Keduanya bertatapan sejenak.

"A-aku memang payah. Mungkin aku juga tidak berani seperti noona untuk menghadapi Jonghyun. Jadi aku sangat berterima kasih pada noona." Kyuhyun berbicara dengan kepala tertunduk malu.

Sungmin tidak menjawab apapun. Matanya fokus memperhatikan wajah Kyuhyun. Wajah itu polos. Wajah itu manis. Hanya Sungmin yang menyadari betapa tampannya Kyuhyun ketika ia sedang tersipu.

"N-Noona?" Kyuhyun mengerutkan dahi melihat Sungmin yang terus menatapnya.

CHU~

GLEK!

Kyuhyun menelan ludah dengan mata terbelalak. Tiba-tiba Sungmin berjinjit dan meraih bibir Kyuhyun dengan bibirnya. Sungmin menyerongkan kepalanya dan menempelkan bibirnya tepat di bibir Kyuhyun. Ini pertama kalinya bagi Kyuhyun mendapatkan ciuman di bibir dari seorang gadis. Sungmin memejamkan mata dan menikmati hangatnya bibir Kyuhyun yang menempel padanya. Namun Kyuhyun malah terbelalak dan membeku seketika.

.

.

-0o0-

.

.

"Hahahahaha!"

Tawa lepas Donghae memecahkan keheningan yang terjadi di ruang tamu depan. Kedua kakak beradik Cho itu berada di ruang tamu sambil mendengarkan si adik bercerita tentang kencan pertama yang dialaminya. Awalnya Kyuhyun sempat heboh dan berkata ia tidak ingin lagi bertemu Sungmin, namun ketika mendengar cerita Kyuhyun, Donghae malah tertawa terbahak-bahak.

"Ya! Baboya!" Donghae masih tidak bisa menahan tawa.

"Aish, utjima hyung." Kyuhyun menangkis tangan Donghae yang akan memukul bahunya.

"Hanya karena itu kau tidak mau bertemu dengannya lagi? Jinjja baboya!"

"A-aku tidak tau mau bicara apa jika bertemu dengannya." Kyuhyun menunduk.

"Ya! Ciuman saat berkencan memang wajar. Bahkan jika tidak berciuman, kencanmu tidak akan berkesan."

"Tapi aku tidak siap. Kenapa dia malah menciumku duluan."

"Itu tandanya ia benar-benar menyukaimu, babo."

Ketika keduanya tengah asik berbincang-bincang, Wookie datang dengan segelas susu hangat untuk Kyuhyun. Wookie sengaja membiarkan kedua kakak beradik itu berbincang-bincang sejenak sementara ia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman Kyuhyun.

"Jadi, apa saja yang kau lakukan di festival tadi, Kyunie?" tanya Wookie memberikan segelas susu pada Kyuhyun.

"Aku dan temanku memainkan semua permainan. Tapi kami tidak masuk ke dalam booth peramal. Aku tidak suka, tempatnya gelap dan menyeramkan."

"Ah, penakut" ejek Donghae.

Kyuhyun hanya menatap Donghae kesal. "Aku memang tidak suka!" Kyuhyun melawan.

"Pengecut! Masa laki-laki takut gelap?"

"Aku tidak takut… gelap" Seketika Kyuhyun berpikir. Iya. Ia sangat takut gelap. Dan itu karena Donghae. Donghae yang membuat dirinya trauma akan gelap.

"Kau yakin, eoh?" Donghae tersenyum jahat.

"Ti-tidak takut. Maksudku, biasa saja!"

"Sudah-sudah," Wookie menengahi. "Kyunie, sebaiknya kau tidur. Sekarang waktu tidurmu sudah lewat." kata Wookie meraih lengan Kyuhyun dan membawanya pergi.

"Ya, Kyuhyun ah," panggilan Donghae menghentikan langkah Kyuhyun. "Besok lusa kau hubungi gadis itu untuk bertemu denganmu. Buat kencan yang lebih menyenangkan." Saran Donghae.

"Anio, Kyunie ada les matematika besok lusa." Larang Wookie.

"Gwaenchanha, noona" Kyuhyun menengahi. Ia berpikir sejenak. Saran Donghae selalu benar dan untuk memaximalkan niatnya yang ingin berubah menjadi laki-laki pada umumnya, ia harus menuruti ucapan Donghae. "Aku bisa pergi sepulang les."

"Tapi jangan pulang larut seperti hari ini." Kata Wookie.

"Araseo, araseo.."

Wookie dan Kyuhyun berlalu melewati Donghae. Laki-laki itu masih diam di tempat sambil memikirkan Kyuhyun dan teman kencannya. Donghae semakin yakin bisa membuat dongsaengnya menjadi laki-laki 17 tahun pada umumnya, bukan lagi laki-laki 17 tahun yang manja ditemani mandi hingga ditemni tidur oleh Wookie.

Donghae berpikir, semakin Kyuhyun dekat dengan Sungmin semakin Kyuhyun bisa jatuh cinta. Semakin Kyuhyun jatuh cinta semakin ia bisa mengubah pola pikirnya yang manja menjadi lebih mandiri. Itulah yang ada dipikiran Donghae. Seorang Cho Donghae baik hati pada Cho Kyuhyun? Tidak akan ada yang mempercayai hal itu. Tapi ketahuilah bahwa Donghae punya rasa sayang yang besar pada Kyuhyun.

.

.

.

Tiga hari kemudian.

Seperti rencana yang diberikan Donghae, Kyuhyun pun mengajak Sungmin bertemu tiga hari setelah mereka berkencan. Selama tiga hari sebelumnya Kyuhyun belum bertemu Sungmin. Ia juga tidak mencari Sungmin di sekolah saat hari senin karena Donghae melarangnya bertemu Sungmin. Donghae bilang sebaiknya Kyuhyun menghilang tiga hari setelah berkencan untuk membuat Sungmin semakin penasaran dan semakin suka dengan Kyuhyun. Entah dari mana Donghae teori tersebut tapi ternyata teori itu terbukti.

Tepat pada hari ini, sejak pagi tadi, Sungmin tak henti menghubungi Kyuhyun. Sungmin seakan merindukan sosok Kyuhyun selama tiga hari ini. Begitupula Kyuhyun yang akhirnya pasrah dan memberanikan diri bertemu Sungmin setelah kejadian "ciuman" yang terjadi saat festival malam minggu kemarin.

Begitu seonsaengnim membubarkan kelas lesnya, semua murid segera membereskan barang mereka. Hari ini les matematika Kyuhyun hanya berlangsung satu jam karena sonsaengnimnya harus melakukan perjalanan ke Busan untuk sebuah pertemuan.

Kyuhyun keluar dari tempat lesnya dengan memakai kemeja sekolah. Kyuhyun memegangi kedua tali tas ranselnya sambil melirik ke kanan dan kiri. Ia mencari sosok Yesung yang biasanya sudah stand by di depan tempat les untuk menjemputnya. Tiba-tiba…

"Kyuhyun ah!"

Seseorang memanggil Kyuhyun. Laki-laki itu sedikit terbelalak. 'Tidak! Jangan Sungmin noona!' harapnya. Namun ketika menoleh ke belakang, ia mendapati Sungmin dengan memakai kemeja pink dan celana panjang putih yang melekuk kakinya. Ia tampil cantik sekali sore itu.

"No-noona?"

"Annyeong" Sungmin tersenyum gembira melihat Kyuhyun yang sudah tiga hari tidak ditemuinya.

"Kenapa noona ada di sini? Ki-kita kan berjanji bertemu di taman." kata Kyuhyun.

"Aku sengaja menyusulmu ke sini. Kupikir kita bisa ke taman bersama-sama."

Kyuhyun pun tersenyum pasrah. "Ah, geurae~"

Namun berbanding terbalik dengan rencananya. Kyuhyun berencana dijemput Yesung dan berganti pakaian di mobil setelah itu menemui Sungmin di taman. Tapi ternyata Sungmin yang menemuinya di tempat les. Yang paling Kyuhyun takutkan adalah kemunculan Yesung yang menjemputnya. Kyuhyun takut Sungmin mengetahui bahwa selama ini Kyuhyun tidak pernah lepas dari antar-jemput Yesung.

'Omo! Eotteoke.. Jika Yesung hyung datang dan bilang kalau aku diantar jemput, aku pasti disangka pembohong' gumam Kyuhyun dalam hati. Selama ini Kyuhyun selalu mengaku pada Sungmin bahwa ia selalu pulang dan pergi sendiri dari rumahnya.

"Kyuhyun ah, waeyo?"

"A-anio.." Kyuhyun menggeleng. "Tu-tunggu sebentar, noona. Aku ingin beli sesuatu untukmu" kata Kyuhyun.

Sungmin mengangkat alisnya bingung. Kyuhyun menunjuk ke sebuah kedai es krim yang berada di seberang jalan. Sungmin pun tersenyum. "Gomawoyo" Sungmin tau Kyuhyun akan membelikannya es krim.

"Se-sebaiknya noona tunggu di dalam. Di luar panas. Aku akan menyusul." Kyuhyun menyuruh Sungmin untuk tunggu di dalam ruang tunggu tempat les. Ia merasa tempat itu aman dan tidak ada jendela yang tembus ke luar hingga ia tidak bisa melihat apa yang Kyuhyun lakukan.

Sungmin sudah masuk ke dalam dan Kyuhyun pun berjalan menyebrang di jalanan yang sepi. Kyuhyun bukan pergi ke kedai es krim tetapi membelok ke sebuah mobil hitam yang baru saja terparkir di sana. Itu adalah Yesung.

"Ah, mian Kyunie. Wookie lama sekali menyiapkan pakaian gantimu." ucap Yesung keluar mobil.

"Masuk, hyung. Cepat masuk" Kyuhyun mendorong Yesung untuk masuk kembali ke dalam mobil.

"Wae? Wae?"

"Aish, sepertinya kita ubah rencana. Hyung pulang saja, aku akan pulang sendiri." Kata Kyuhyun.

"Waeyo? Aku sudah cepat-cepat datang ke sini kau malah menyuruhku pulang."

"Temanku menyusul ke sini. Aku tidak mau ia melihat hyung menjemputku. Ppaliwa, hyung pulang saja. Ne? ne?"

"Ada-ada saja kau, Kyunie." Yesung menghela nafas pasrah. Ia pun akhirnya menurut. Yesung kemudian menarik sitbelt dan menyalakan mobil.

"Ah, hyung, chamkaman!" Tiba-tiba Kyuhyun menahan tangan Yesung. Kyuhyun melirik kedai es krim yang berada tak jauh dari mobilnya. Ia menggaruk belakang kepalanya sejenak kemudian tersenyum penuh makna. "Hyung, aku tidak bawa uang lebih. Aku ingin beli es krim itu"

Yesung menghela nafas lalu menggeleng. Ia pun meraih dompetnya dan mengeluarkan uang lembaran 5000 won. Hal ini sudah biasa dilakukan Yesung. Meski keduanya bekerja dan mengabdi pada keluarga Cho, namun Yesung ataupun Wookie tidak pernah merasa Kyuhyun majikan mereka. Pasangan suami istri Yesung-Wookie yang sudah mengaggap Kyuhyun sebagai anak mereka sudah tidak ragu lagi untuk memberi uang pada Kyuhyun.

"Aish~ hyung, neomu meotjyeo!" puji Kyuhyun mengatai Yesung keren. "Gomawoyo…"

"Tapi kau harus janji pulang ke rumah sebelum jam 7 malam. Ne?"

"Yes sir!" Kyuhyun pun hormat lalu tertawa kecil.

Yesung pun melajukan mobil hitam milik keluarga Cho yang selalu dipakai untuk menjemput Kyuhyun. Setelah mobil itu melaju dan menghilang dari pandangan Kyuhyun, ia segera menghampiri kedai es krim untuk membeli makanan itu sebagai janjinya pada Sungmin tadi.

.

.

.

Ada yang berbeda pada laki-laki berambut panjang itu di siang hari. Setelah bertanding balap mobil –dan memenangkannya lagi– Donghae langsung berpamitan pergi dari teman-teman yang lainnya. Ajakan Jessica pergi ke rumahnya untuk having sex pun tidak dihiraukan Donghae. Begitu juga ajakan Henry yang ingin mempertemukan Donghae dengan wanita baru bernama Krystal.

"Sorry I really have to go"

"I can't. I'm sorry"

"Sorry dude, next time, okay?"

Itulah jawaban Donghae pada semua orang yang mengajaknya pergi setelah acara balapan berlangsung. Seketika semua orang yang berkerumun menyelamati kemenangan Donghae hanya diam dan mengerutkan dahi heran. Tak biasanya Donghae langsung berpamitan pulang cepat. Yunho dan Changmin yang selama seminggu ini terus bersama Donghae pun ikut heran dengan sikap sahabatnya itu. Keduanya sempat menahan Donghae untuk tidak pergi tapi Donghae malah menghempaskan tangan Changmin dari bahunya dan pergi dengan mobil sportnya.

Langkah sepatu DocMart hitam perlahan menelusuri tanah dengan rumput pendek dan gersang di sebuah lahan tanah luas. Lahan tersebut adalah milik umum, dan sepetak tanah dari lahan luas itu sudah ditempati oleh sang –mantan– kekasih Donghae, Eun Hyukie.

Sejak beberapa hari lalu bayangan Hyukie terus menghantuinya. Donghae akhirnya mendatangi tempat istirahat Hyukie untuk mengobati rasa rindunya. Donghae terhenti tepat di depan batu nisan besar dengan nama 'Eun Hyukie' di batu tersebut. Hari kematian Hyukie sudah berlangsung sangat lama, namun rasa sakit yang dirasakan Donghae masih terasa setiap kali ia mendatangi Hyukie ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dari lubuk hati yang paling dalam ia masih belum bisa menerima kepergian Hyukie.

Laki-laki dengan jaket hijau army itu berlutut di depan nisan besar. Ia menatapi gundukan tanah yang di dalamnya terdapat peti seorang wanita yang pernah –dan akan selalu– menjadi bagian dalam hidupnya. "Annyeong, chagiya.."

Suara Donghae tidak seperti biasanya. Suara berat itu seketika berubah menjadi parau. Tak hanya suaranya, hatinya pun rapuh ketika mengingat wajah Hyukie yang tak pernah keluar dari pikirannya. "Apa kabarmu di sana? Masih sakit kah' luka di tubuhmu?" tanya Donghae.

Air mata mengalir begitu saja seketika ia berbicara. Donghae menarik nafas dalam-dalam kemudian menaruh setangkai bunga mawar merah di atas gundukan tanah yang ditumbuhi rumput liar. "Kau pasti melihat diriku tidur dengan wanita setiap harinya. Kau marah, eoh?" Donghae sedikit tersenyum, menganggap dirinya bodoh karena sudah melakukan hal yang tidak baik (read: meniduri wanita lain). "Tolong katakan kau marah padaku. Tolong katakan aku tidak boleh meniduri wanita-wanita itu."

Donghae kini menampakkan wujud aslinya yang cengeng dan lemah di depan Hyukie. Air matanya mengalir deras seiring rasa kerinduannya yang melanda. "Kembali, chagiya. Tolong marahi aku seperti dulu. Tolong hukum aku seperti dulu." Donghae berucap seraya menangis.

Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Semakin ia mencoba untuk berbicara pada Hyukie semakin hatinya terasa sakit. Yang ia inginkan adalah Hyukie saat ini, tetapi hal itu tidak mungkin akan terjadi. Berkali-kali Donghae menarik nafas dan menenangkan pikirannya, bayangan dan sentuhan Hyukie saat menggenggam tangan Donghae kembali terkenang.

Donghae menghapus air mata yang membanjiri wajahnya itu dengan lengan jaket hijau armynya.

'Tenang… Aku harus tenang… Tapi, kenapa aku tidak bisa tenang? Hyukie, neomu bogoshippo…'

Donghae bergelut dengan egonya sendiri. Apa yang ia rasakan dengan apa yang ia inginkan sangat tidak sama. Donghae ingin tenang, tetapi tetap saja air mata itu mengalir tak henti-henti.

"Saranghae, chagiya~" Donghae sedikit membungkuk dan mencium batu bertulis nama Hyukie itu.

.

.

.

"Taaraaa~"

Kyuhyun kembali tidak lama setelah ia menjanjikan Sungmin untuk membeli es krim. Kyuhyun memberikan es krim rasa strawberry vanilla pada Sungmin sementara Kyuhyun di tangan kirinya Kyuhyun menggenggam es krim coklat strawberry. Sungmin pun berdiri dari duduknya dan mengambil es krim pemberian Kyuhyun.

"Gomawo, Kyu." Sungmin kemudian menjilat es krim itu.

Cuaca musim panas dengan matahari terik seperti hari ini sangat cocok untuk dinikmati bersama es krim. Meski waktu sudah hampir sore tapi matahari rasanya enggan untuk pergi.

"Ayo kita pergi." ajak Kyuhyun. Keduanya pun keluar dari tempat les Kyuhyun.

Mereka berjalan di sepanjang trotoar dengan menggenggam es krim masing-masing. Sambil berjalan, Sungmin melirik Kyuhyun. Hari ini hatinya seakan seperti bunga-bunga mekar yang baru saja disirami air segar. Sudah tiga hari Sungmin ingin sekali bertemu Kyuhyun tetapi mereka tidak juga bertemu. Sungmin sempat berpikir bahwa Kyuhyun menghindarinya setelah kencan ke festival kembang api itu, lebih tepatnya karena ciuman yang diberikan Sungmin. Tapi ternyata pikiran buruknya salah besar. Kyuhyun terlihat sama antusiasnya seperti Sungmin ketika mereka bertemu.

"Bagaimana lesmu hari ini?" tanya Sungmin basa-basi.

"Tidak menyenangkan," jawab Kyuhyun. Kemudian ia melirik Sungmin. "Karena aku ingin cepat-cepat selesai supaya kita bisa bertemu" ucapan itu membuat pipi chubby Sungmin memerah seketika.

"Mwoya~" Sungmin malu.

"Ah, noona, mianhae. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu kemarin-kemarin."

"Gwaenchanha. Maaf aku juga sudah berburuk sangka," Sungmin kemudian melirik Kyuhyun. "Kukira kau menghindari aku karena…aku menciummu"

Kyuhyun terpaku seketika. Ia masih mengingat jelas bagaimana rasanya bibir Sungmin di bibirnya. Lembut. Basah. Manis. Sungmin sempat memakan permen sebelum mencium Kyuhyun. Hal itu menjadi rahasia Sungmin karena ia sudah berniat mencium Kyuhyun ketika kembang api diluncurkan. Tapi mengingat 'acara kejar-kejaran' mereka lebih seru dari kembang api, Sungmin lupa niatnya itu. Akhirnya waktu yang tepat adalah ketika mereka akan pulang dari festival. Suatu pemikiran yang harusnya dipikirkan laki-laki, bukan? Ah, sudahlah. Kyuhyun tidak mungkin punya pikiran untuk mencium Sungmin karena ia tidak tau tentang teori 'ciuman pada kencan pertama'.

"Aku tidak menghindar, noona. Aku hanya…" Kyuhyun akhirnya berterus terang. "Hyungku yang menyarankan aku untuk tidak menghubungimu dulu. Katanya jika aku langsung menghubungimu, kau malah bosan denganku" kata Kyuhyun.

Sungmin pun tertawa. "Aku tidak pernah bosan denganmu, Kyu. Aku kan' menyukaimu." Ucapan itu sontak membuat Kyuhyun mengangkat alis.

"Eoh?"

"Ng.. maksudku…" Sungmin pun kehilangan kata-kata. 'Babo! Kenapa aku terlalu jujur' ia bergumam. "Ma-maksudku, kau menyenangkanku, Kyu. Aku suka berbicara denganmu, bercanda denganmu. Kau… kau menarik untuk jadi teman akrabku."

Sungmin tersenyum penuh arti. Dalam hati ia berharap Kyuhyun tidak bertanya lebih tentang perasaannya. Yap. Sungmin masih ragu dengan perasaan itu meskipun tiap kali bertemu Kyuhyun selalu saja hatinya berbunga-bunga.

Sungmin langsung mengganti topic pembicaraan mereka. Membicarakan festival malam kemarin hanya akan memancing dirinya untuk berkata jujur pada Kyuhyun. Sambil berbincang-bincang, Kyuhyun dan Sungmin pun sampai di taman yang di maksud.

Taman kota yang nyaman dan penuh rumput hijau membuat keduanya betah dengan suasana dan angina sepoi-sepoi di taman itu. Beberapa orang terlebih dahulu singgah di taman itu. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak SMA yang sedang berkencan, adapula orang-orang yang sekedar nongkrong dan bermain di sana.

Kyuhyun dan Sungmin memilih tempat yang sepi. Keduanya memilih tempat duduk di sisi taman yang membelakangi kolam ikan. Tempat mereka berada sekarang cukup tertutup dan jauh dari keramaian. Mereka hanya ingin tempat yang nyaman untuk berdua, bukan untuk melakukan hal-hal aneh. Hanya untuk berbincang-bincang.

"Jadi kau punya tiga orang kakak laki-laki? Menyenangkan sekali." Sungmin tersenyum.

"Ah, ti-tidak juga." Kyuhyun tersenyum tipis. Ia menggaruk belakang kepalanya. 'Kau tidak tau saja mereka semua jahanam padaku' gumam Kyuhyun dengan miris.

"Apa yang biasanya kau lakukan dengan ketika hyungmu?" tanya Sungmin menyerongkan duduknya menghadap Kyuhyun.

'Mati aku! Tidak ada yang pernah aku lakukan kecuali merengek, menangis, menggerutu, sedih, dan tertindas jika sedang bersama mereka.' gumam Kyuhyun. Ia berpikir keras untuk membuat alasan menyenangkan antara dirinya dan para hyung. Meski pada kenyataannya tidak ada pengalaman menyenangkan diantara mereka. "Banyak sekali. A-aku… tidak ingat" Kyuhyun pasrah dengan jawabannya.

Sungmin mengangkat alis kemudian tertawa. "Kalian pasti sangat dekat."

"Tidak begitu dekat. Mereka semua sudah punya pekerjaan masing-masing. Sementara aku masih sekolah."

Sungmin pun mengangguk.

"Kau sendiri bagaimana?" tanya Kyuhyun.

"Aku punya satu orang adik laki-laki, namanya Sungjin" kata Sungmin. "Tapi kupikir kami tidak menyenangkan seperti kau dan kakak-kakakmu. Kami sering bertengkar" Sungmin mengaku dengan malu-malu.

"Bertengkar seperti apa?"

"Apa saja. Kadang saling pukul, saling tonjok. Ah, terdengar tidak anggun ya? Aku memang suka bertengkar fisik dengan dongsaengku. Karena itu skill boxingku semakin baik" Sungmin pun menertawakan dirinya.

'Saling pukul, saling tonjok, bertengkar fisik katanya?! Apa kabar denganku? Aish! Derajatku sebagai laki-laki sangat jatuh jika dibandingkan denganmu, noona' gumam Kyuhyun kecewa pada dirinya sendiri.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang mengenai saudara kandung masing-masing, Kyuhyun melihat sekumpulan anak muda berjumlah 5 orang dengan sebuah beer di tangan mereka. Orang berpakaian merah dengan rambut spiky di tengah itu terlihat sangat mabuk. Kelima orang itu langsung memperhatikan Kyuhyun dan Sungmin yang sedang duduk bersantai.

Dari tempatnya, Kyuhyun sudah merasa ada yang aneh pada mereka berlima. Benar saja, kelima orang berusia rata-rata 23 tahun itu menghampiri Kyuhyun dan Sungmin dengan keadaan mabuk.

"Ya~ berkencan eoh?"

"Romantisnya~ hahaha.."

Kelima laki-laki asing mabuk itu menertawakan keduanya. Mereka melihat Kyuhyun yang masih memakai seragam sekolah, karena itu mereka berani mengerjai keduanya.

"Ya! Kalian masih kecil. Uang yang kalian pakai untuk berkencan lebih baik diberikan padaku." Laki-laki berkaos merah itu menghampiri mereka.

'Omo! Mereka mabuk. Para pemabuk seperti mereka pasti ingin merampas uang. Kalau tidak diberikan, mereka pasti menghajarku. Eotteoke!' gumam Kyuhyun. Seketika wajahnya terlihat panik dan ketakutan.

Berbeda dengan Sungmin, gadis itu tidak terima. Ia pun langsung berdiri. "Apa maksud kalian?"

"Hmm.. yeppeoyo~" goda seorang pemabuk lainnya.

Melihat hal itu Kyuhyun ikut berdiri. Tanpa pikir panjang Kyuhyun berpindah menjadi berdiri di depan Sungmin, bermaksud melindungi Sungmin di belakang tubuhnya. "Jeosonghaeyo. Kami harus pergi." Kata Kyuhyun. Lebih baik menghindar dengan sopan daripada meladeni mereka. Itu yang dipikirkan Kyuhyun.

"Ya!" laki-laki lainnya pun menahan bahu Kyuhyun yang hendak membawa Sungmin pergi. "Kau takut, eoh?" Laki-laki itu mendekat pada wajah Kyuhyun. Kyuhyun bisa mencium alkohol dari nafas laki-laki itu.

Kyuhyun yang tidak tahan dengan bau alcohol akhirnya mendorong tubuh laki-laki itu. "Aku tidak ingin ada keributan." Kata Kyuhyun sebisa mungkin tenang meski dalam hati ia menjerit. 'Eommaaa! Wookie noonaaa! Takut!'

"Kalau begitu berikan kami semua uangmu."

"Kami tidak punya uang." Sungmin menjawab dengan lantang dari belakang tubuh Kyuhyun.

Ketika mereka berlima melangkah mendekati Sungmin, Kyuhyun pun menahan mereka. 'Anio, aku tidak takut. Tidak boleh takut, Kyuhyun ah. Aku harus bisa kuat di depan Sungmin noona.' Kyuhyun menyemangati dirinya dalam hati setelah tadi berteriak ketakutan.

"Minggir kau!"

"Jangan ganggu dia." Kyuhyun masih berusaha melindungi Sungmin dari kelima orang asing itu.

"Oh, jadi kau jagoan yang melindungi yeoja ini? Cih.. bocah culun sepertimu, eoh?" Dengan penampilan Kyuhyun dan wajah Kyuhyun yang ketakutan si laki-laki berkaos merah itu bermaksud mengejek Kyuhyun.

"Ya!" Sungmin berteriak tidak terima.

Namun tiba-tiba Sungmin terdiam ketika merasakan tangan kanan Kyuhyun menggenggam pergelangan tangannya. Sungmin melirik ke bawah. Kyuhyun yang berdiri di depannya berusaha melindungi Sungmin. Itulah maksud dari genggaman Kyuhyun di pergelangan tangan Sungmin.

"Kita lihat seberapa tangguh jagoan ini."

"Mwo?!" Kyuhyun terbelalak.

BUKK!

"Ng!"

Tanpa aba-aba tonjokkan itu pun mengenai pipi kiri Kyuhyun. 'Eommaaaaaa!' Kyuhyun berteriak sejadi-jadinya di dalam hati.

Pukulan yang dirasakannya melebihi rasa takut yang ia rasakan ketika di dalam kegelapan, bertemu katak dan ular, melihat api dan berbagai trauma akibat kejahilan para hyung lainnya. Ini kesakitan tersakit yang pernah dirasakan Kyuhyun. Ia tak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini sebelumnya, karena itu ia terlalu berlebihan menanggapinya. Padahal laki-laki remaja biasa pasti tidak merasa kesakitan –yang luar biasa– jika dipukul seperti itu.

"Kau berani melawan? Ayo lawan" tantang si kaos merah dengan berani.

'Appo! Bagaimana mungkin aku melawannya. Pipiku sakit!' gerutunya dalam hati. Padahal kedua tangannya dapat bebas melayangkan pukulan. Tapi Kyuhyun tidak melakukan itu. Kedua tangannya malah memegangi pipi kirinya yang kesakitan.

Sungmin tidak terima dengan perlakuan mereka yang seenaknya pada Kyuhyun. Sungmin pun akhirnya mengambil langkah ke depan Kyuhyun.

BUKK!

Satu pukulan kencang melayang ke wajah si kaos merah. Saking kerasnya, si kaos merah itupun terjatuh ke belakang. Semua mata kini tertuju pada Sungmin.

"Kami sudah permisi dengan sopan. Tapi kalian yang membuatku geram." ucapan Sungmin sangat tajam setajam tatapannya pada keempat laki-laki lainnya.

Sungmin pun melangkah menghadapi mereka satu persatu dengan tonjokkan, pukulan, dan tendangan yang keras. Sungmin marah ketika mereka mengejek Kyuhyun, dan amarah itu memuncak ketika melihat Kyuhyun mendapat pukulan. Sungmin menangkis semua perlawanan yang diberikan mereka. Satu dari mereka jatuh dan menyerah, menyisakan tiga orang yang berhadapan langsung dengan Sungmin.

'Andwae! Mana bisa Sungmin melawan tiga orang mabuk yang sedang marah itu. Andwaeyo noona!' Kyuhyun berdiri kaku di belakang melihat Sungmin menghadapi para pengganggu itu.

"Ha!"

Sungmin menonjok perut seorang lawan. Dari belakang lawan bersiap menerkam Sungmin tetapi dengan sigap Sungmin menyikutnya dengan keras hingga mengenai tulang hidung lawan. Lawan satunya menangkis tonjokkan Sungmin kemudian memutarkan tangan Sungmin hingga terpelintir. Tetapi Sungmin melakukan aksinya hingga membuat Kyuhyun berdecak kagum. Sungmin ikut melompat ke belakang memutar tubuhnya. Setelah itu tangan Sungmin menarik balik sang lawan dan membantingnya hingga si lawan terjatuh dengan sempurna.

'Wow!'

Kyuhyun hanya bisa terkagum-kagum dengan Sungmin. Kini Kyuhyun percaya seratus persen bahwa Sungmin menguasai semua jurus bela diri. Tubuh Sungmin yang kecil mampu mengalahkan para laki-laki mabuk itu. Bagaimana bisa? Awalnya Kyuhyun sangat meragukan hal itu. Tapi kini Sungmin sudah membuktikannya bahwa ia memang mampu.

"Berani lagi, eoh? Mau kupatahkan tanganmu?" ancam Sungmin.

"Ah! A..Ani..Anio!" seorang yang tadi dibanting Sungmin pun terlihat menyerah.

"Pergi kalian! Dasar pemabuk tidak tau malu"

Mereka berlima tidak sepenuhnya tumbang. Tetapi karena melihat aksi Sungmin yang terakhir, mereka jadi takut dengan Sungmin. Akhirnya kelima orang itu bangkit dan pergi meninggalkan Sungmin dan Kyuhyun.

"Kyuhyun ah," Sungmin kini beralih pada Kyuhyun. "Mianhae. Gwaenchanha?"

"N-ne.." Kyuhyun mengangguk pelan. "Kenapa minta maaf, noona? Harusnya aku yang minta maaf."

"Kau tidak perlu minta maaf, Kyu. Kau sudah melindungi aku."

Kyuhyun terdiam sejenak. Apanya yang melindungi? Kyuhyun berpikir. Ia hanya berdiri di depan Sungmin untuk menghalangi lima laki-laki tadi. Tapi Kyuhyun tidak menyadari satu hal. Kyuhyun sudah memberanikan diri untuk menghadang mereka supaya tidak melukai Sungmin. Meski dalam beradu fisik Kyuhyun mendapatkan nilai 0 tetapi Sungmin merasa Kyuhyun sudah berusaha sangat keras untuk melindunginya.

Yang membuat Sungmin lebih senang lagi ketika Kyuhyun menggenggam tangannya. Sungmin percaya bahwa genggaman itu menandakan bahwa Kyuhyun berniat melindunginya. Ia semakin yakin dengan perasaannya terhadap Kyuhyun. Karena itu Sungmin sangat marah ketika melihat Kyuhyun mendapat pukulan. Tangan Kyuhyun terlepas begitu saja dari pergelangan tangannya bertanda pertahanan Kyuhyun untuk melindungi Sungmin runtuh, padahal Sungmin ingin tangan Kyuhyun terus menggenggam tangannya seperti itu.

"Aku tidak bisa melindungimu, noona. Mianhae."

Sungmin melirik Kyuhyun penuh dengan penyesalan. "Aish.. sudahlah jangan minta maaf. Harusnya sejak awal aku melawan mereka."

"Aku tidak ap- Aaa!" Kyuhyun tiba-tiba menjerit sakit ketika tangannya sendiri memegangi memarnya.

"Jinjjayo? Aih, sebaiknya kita pulang saja, Kyu. Aku tidak tega melihatmu" kata Sungmin menggigit bibir bawahnya.

Sungmin dan Kyuhyun pun akhirnya pergi dari tempat itu. Kencan di taman ini tidak seindah yang dibayangkan Kyuhyun dan Sungmin. Parahnya lagi Kyuhyun membawa oleh-oleh berupa luka yang ada di pipinya.

.

.

.

"Aaaa! Hyung, pelan-pelan! Appo!"

Untuk kesekian kalinya Kyuhyun memarahi Yesung yang sedang berusaha mengobati lukanya.

Kyuhyun dan Sungmin pulang terpisah. Kyuhyun berjalan sendiri kemudian menelpon Yesung untuk menjemputnya. Di mobil, Kyuhyun mulai merengek karena rasa nyeri yang dirasakan. Hingga sampai rumah pun Kyuhyun masih merengek.

Saat ini Kyuhyun ada di balkon belakang dekat kolam renang. Yesung sedang mengobati luka Kyuhyun dengan obat sementara Wookie berjalan dari dapur membawakan minuman strawberry juice pesanan Kyuhyun.

"Lagipula kau ini ada-ada saja. Sudah tau tidak bisa berkelahi, kau malah nekat." Yesung membasahi kapas dengan obat memar.

"Noona sangat khawatir, Kyunie. Untung kau hanya luka biasa. Bagaimana jika mereka bawa senjata tajam?" Wookie duduk di sebelah Kyuhyun. Ia mengambil kapas di tangan Yesung. Ia bergantian mengobati Kyuhyun.

"Aku hanya ingin jadi lebih kuat."

"Tapi bukan berarti cari gara-gara. Kalau tidak bisa melawan lebih baik kau mundur." Ucap Yesung.

"Aku tidak cari... Ayaaa! Noona, appoo!"

"Sebentar, Kyu. Tahan dulu."

Ketika sedang diobati oleh orang tua keduanya, Donghae dan Hankyung muncul dari tempat yang berlawanan. Donghae baru saja pulang dari rumah Yunho sementara Hankyung yang sejak tadi di kamar mendengar Kyuhyun terus menerus berteriak di lantai bawah, ia pun turun untuk mencari tau.

"wae geurae?" tanya Hankyung berdiri di pintu balkon.

"Ya, Kyuhyun ah?" Donghae yang juga berada di sana bertanya pada Kyuhyun sambil membuka kacamata hitamnya dan dikaitkan ke tengah kaos V necknya.

"Gwaenchanha hyungdeul" jawab Kyuhyun.

"Kalian mengeroyok Kyuhyun, eoh?" tanya Hankyung lagi.

Wookie melirik kedua Cho yang tengah berdiri itu. "Dia sok pahlawan di depan teman kencannya."

"Memangnya kau berbuat apa?"

"Aku…" Kyuhyun sedikit ragu bicara karena ia yakin Donghae dan Hankyung akan menertawai dirinya. Tawa ejekan dari hyungdeulnya selalu menimbulkan awan hitam dengan petir menyambar di hati Kyuhyun. "Anu… aku mencoba menghadapi orang yang mengganggu Sungmin. Tapi aku kalah."

Donghae mengangkat alisnya kemudian berpikir sejenak. Melawan preman, eoh? Darimana dia dapatkan keberanian seperti itu? Donghae bergumam dalam hati. Sesaat Donghae berpikir Kyuhyun mulai merubah sikapnya, di mulai dari hal terkecil yaitu menumbuhkan keberanian di dalam diri Kyuhyun. Tetapi ketika ia melihat ada memar biru di pipi Kyuhyun, hati Donghae tergerak untuk mengejeknya dengan… "Hahahahahaha!" Donghae tertawa terbahak-bahak.

"Ini semua karenamu, hyung." Kyuhyun melirik Donghae sinis.

"Naega wae?!"

"Kau bilang aku harus bersikap jagoan agar terlihat pemberani, tapi yang ada mereka malah memukulku."

"Hahahahaha!" bukannya menjawab, Donghae malah kembali tertawa terbahak-bahak.

Hankyung menggeleng sambil menghela nafas. "Harusnya kau imbangi dengan kemampuan bela diri juga, Kyu." nasehatnya.

"Tapi aku kan tidak bisa." Kyuhyun hanya menunduk merenungi kesalahannya.

Kyuhyun masih meringis sesekali merasakan sakit ketika setiap kali Wookie menempelkan kapas di lukanya. Kyuhyun kemudian melirik Donghae yang masih saja tertawa terbahak-bahak. Wajah Donghae terlihat puas melihat Kyuhyun yang babak belur –terluka kecil– seperti ini.

"Ya! Utjima hyung!"

BRUK!

"Omo, Kyunie!" Wookie terbelalak kaget.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Nah loh suara 'BRUK' apa itu?

Apa Kyuhyun mukul Donghae? (Omo!)

Atau Kyuhyun mukul Hankyung? (kayanya gak mungkin)

Atau mungkin Yesung? *Yesung: author ssi, naega wae?!* (wkwk kasian Yesung-_-")

Suara apakah itu readers? Hmm lets check it out di chapter selanjutnya^^

.

.

Gomawo untuk readers yang sudah review. Kebanyakan bilang ff ini 'hidup lagi' setelah ribuan tahun ya wkwk.. Tapi saya mau bilang makasih banyak readers masih mau baca FF saya. Meski sempat disinggahi sarang laba-laba dan sarang burung gagak karna kelamaan gak diupdate. hihi

.

Oh iya, saya mau minta pendapat readers. Readers keberatan gak kalau saya buat satu chapter kisah Donghae sama Hyukie?

FF ini kan fokusnya Kyuhyun-Sungmin, jadi saya ragu. Takutnya readers ada yang keberatan dengan chapter special Hae-Hyuk. Mohon pendapatnya ya readers. Tanggapan apapun saya dengar dan saya terima^^

.

.

.

So don't forget to review chingudeul:) gomawo *bow*