Wrong Identity
Crime, Suspense, Suspense with All Super Junior Member
Disclaimer : They was not my mine, they are belong to themeselves
Nurama Nurmala©2011
Ready to Reserved
.
.
.
Cerita Sebelumnya…
Melihat potensi krusial Sungmin sebagai Arsene Lupin abad ini membuat kemampuannya bisa berguna untuk mengecoh seorang Matt H. Gilbert; Pemilik Crown Media Holdings dengan kapitalisasi berjuta-juta dollar di pasar saham sekaligus pemegang kunci untuk merealisasikan impian Leeteuk. Dengan bantuan Heechul yang wajahnya lebih cantik dari wanita manapun, Sungmin menyamar menjadi Go Eun Na, putri kedua dari Go Yeong Bi; pemilik perusahaan telekomunikasi raksasa, apalagi jika bukan Samsung Coorporation.
Lalu, bagaimana kabar Donghae dan Zhoumi yang dikirim oleh Leeteuk ke New York untuk mengintai si tokoh kunci kedua; Michael Bloomberg?
Cerita Selanjutnya….
[620 Eight Avenue, The New York Times Building: One Times Square — New York City, 19.43]
Sebuah gedung pencakar langit yang berlokasi di 620 Eight Avenue dengan tinggi 1.046 kaki itu sekali lagi menjadi komoditi pengusaha kaya untuk menggelar sebuah banquet dan pesta peresmian atau pelepasan sementara topeng kemewahan dan degradasi kelas sangat kentara di tubuh para eksekusi pesta.
The New York Times Building yang berada di sisi barat Mildtown adalah sebuah gedung pencakar langit yang disewa oleh The New York Company, penerbit The New York Times, The Boston Globe, International Herald Tribune, dan surat kabar lainnya [Info: Wikipedia].
The New York Times adalah koran harian yang diterbitkan di New York oleh Arthur Ochs Sulzberger Jr. Dan secara kebetulan, Direktur BBC yang juga seorang CEO The New York Times; Mark Thompson – Si Penyelenggara pesta kemenangan Pulitzer untuk yang ke-100 kalinya adalah salah satu sahabat baik dari si target kedua: Raja Media sekaligus Walikota New York– Michael Rubens Bloomberg.
"Apa aku terlihat aneh?" Tanya Donghae di dalam sebuah limousine hitam sementara manik hitamnya masih saja terpaku pada dasi kupu-kupu putih yang sedari tadi sibuk ia benarkan posisinya.
"Tidak," sebuah suara dalam menjawab dengan ketidakacuhan.
"Ayolah…" Donghae seolah memohon, ia tidak ingin terlihat memalukan—sungguh. Apalagi di hadapan para pemimpin dunia. Cetak miring, yang berduit.
"Tidak, kau tampak bagus," lelaki itu; Zhoumi menatap Donghae dengan tatapan serius, lalu mengangguk dua kali. Melihat roman muka Zhoumi yang begitu serius memberikan pendapat pada penampilannya, itu sedikit memberikan kelegaan pada Donghae. Padahal sebenarnya, mimik itu sudah sangat terlatih untuk menampilkan wajah tanpa ekspresi yang berlainan dengan keadaan hatinya saat itu. Zhoumi hanya berpikir, Donghae tampil sangat kelimis dengan formal suit-nya, dan itu memberi kesan retro awal 70-an sebagai aristokrat murahan alias penipu. Tapi dia enggan memperpanjang masalah, dia enggan melihat Donghae yang buru-buru mengganti pakaiannya atau tatanan rambutnya dengan panik. Terlebih, dia enggan mendengar Donghae terus berujar dalam ceracaunya yang seperti twitter. Itu jelas akan memberikan dengung di telinganya hingga mempengaruhi asam lambung yang akan berkontraksi secara spontan jika ia melihat Donghae. Lebih sederhananya, ia tidak ingin jika setiap melihat Donghae ia muntah di depannya.
Lagipula, hei. Siapa yang tidak kesal atau muak melihat anak berusia 17 tahun berpenampilan seperti pria Boston setengah baya yang tengah sibuk menjalankan perusahaan kecil 'Barang antik'-nya dengan sumpalan aksen British yang di Korea-Korea-kan. Bukankah itu terlihat menggelikan? Salah, maksudnya. Itu terlihat seperti, hello… why don't you punch me now.
Jelas Donghae tidak berbakat dalam penyamaran. Pikir Zhoumi. Dan Zhoumi tidak mau terlalu ambil pusing tentang kepincangan Donghae itu.
"Sudah sampai," sang sopir limousine dengan stelah seragam lengkap itu berujar sekaligus melakukan kontak mata lewat kaca spion di dalam mobil.
"Thanks," melihat gedung yang dipenuhi kendaraan yang saling berganti, mengingat gedung ini tidak menyediakan lahan parkir, membuat Donghae berpikir bahwa di dalam sana, di lantai 20 itu, pesta besar sedang berlangsung. Lalu berbekal surat undangan yang didapatkan Kyuhyun, mereka akan melenggang dengan bebas ke ranah pesta itu, menemukan seorang pria terkaya di Amerika, The Bloomberg, mengajaknya ke sebuah tempat sepi dengan iming-iming pembicaraan bisnis, mengambil gelas yang dia pegang untuk sidik jari, dan beberapa trik khusus yang enggan dibeberkan Zhoumi untuk mendapatkan kode retina dan 4 digit kode akses.
Sesuai harapan, mereka dapat melewati penjaga tanpa masalah. Terima kasih pada Kyuhyun yang sudah mengusahakan undangan ini. Mereka mendapat polesan pertama yang lancar dalam usaha tim ini.
Oke, sedikit hal yang dikhawatirkan Zhoumi ketika mereka mulai memasuki aula pesta dan botol champagne kelas atas tersebar di setiap sudut dan di setiap tangan para pelayan, dekorasi mewah dengan pecahan berlian yang bersinar gemerlap di lampu tengah, gaun perancang terkenal yang dipakai para pengunjung penguasa kota itu, makanan-makanan berkualitas tinggi yang dapat memanjakan lambung dan pencernaan mereka, serta lihatlah, perhiasan-perhiasan mahal yang dipakai para pengunjung wanita. Oke, kekhawatiran kecil Zhoumi kini benar-benar terbukti. Keelokan dan kemegahan pesta ini telah sukses menghipnotis Donghae.
"Kita jangan lupa dengan tujuan kita ke sini," berbeda dengan Donghae yang mengenakan stelan-teramat-sangat-formal, Zhoumi hanya mengenakan kemeja hitam dengan aksesoris santai yang dibalut dengan jas putih yang sedang tren di kalangan para pemuda Korea.
"Tentu saja aku tidak lupa," Donghae yang tersinggung dengan tuduhan telak Zhoumi merenggut dengan kesal, lalu sambil mengamati keindahan sekitar yang sialnya—ia khayalkan dapat ia rampok—ia mengamati sosok tua dengan uban namun masih dengan sosok tegap yang penuh wibawa.
Selama lebih dari 3 menit mereka mencari, hingga akhirnya mereka mendapatkan sosok kunci mereka tengah berdiri dengan segelas wine di samping Pierre Omidyar—pendiri eBay yang menjadi miliader di usia muda, sementara di depannya berdiri Bernard Marcus, Pendiri Home Depot yang menaruh perhatian khusus pada nasib pendidikan dan para penyandang cacat.
"Apa kita akan langsung mendatangi dia saja?" Tanya Donghae bersemangat. Namun ia melihat Zhoumi tertekuk dengan mata tajam ke arah Walikota New York itu. Seperti Elang yang tengah mengawasi mangsanya.
"Tidak. Itu tidak akan bagus. Tidak."
"Lalu?"
Zhoumi pikir akan berbahaya jika ada orang lain yang melihat ia bersama Michael. Itu jelas akan menjadi alibi yang dapat mengekang usaha mereka. Ia harus menunggu sampai Michael benar-benar sendiri, atau…
Zhoumi memandang seorang Butler lalu dengan sebuah isyarat tangan Zhoumi meminta Butler itu untuk mendekat. "Yes, Sir?" Zhoumi mendekatkan kepalanya ke arah Butler itu, lalu membisikan sesuatu kepadanya. Zhoumi menyelipkan uang pecahan 100 dollar ke dalam kantung jas Butler itu, sang Butler mengangguk, lalu berarak pergi mendekat ke arah Michael Bloomberg.
"Ayo," dengan langkah ringan Zhoumi langsung menjauhi Michael dan menuju ke arah belakang crystal ice dengan segalon air jus di dalamnya.
"Kau mau kemana?" Mau tak mau, walau dengan kesal akhirnya Donghae mengikuti Zhoumi.
"Kita tunggu di sini, dia akan menemui kita sebentar lagi."
"Siapa?"
"Si kunci kedua."
"Jadi, tadi kau menyuruh Butler itu untuk menyampaikan pesan kita agar Michael Bloomberg mau menemui kita di sini?"
"Ya," Donghae tidak bisa berkata-kata lagi. Dia kesal, tapi dia setuju dengan aksi spontan Zhoumi. "Ini adalah blind-spot."
"Apa?"
"Di ruangan ini dipasang 18 kamera keamanan. Apa kau tidak menyadarinya?"
"Apa? A—"
"Tak mengherankan, karena selama ini yang kau perhatikan adalah harta karun yang hilir mudik di depan matamu."
"APA?! Kau ingin cari masalah denganku?" Donghae yang sudah benar-benar kesal dengan tuduhan Zhoumi menaikan nada bicaranya. Namun dengan tatapan aneh orang-orang sekitar, Donghae menjadi lebih hati-hati lagi menjaga ucapannya.
"Tidak, aku hanya ingin bilang, bahwa titik ini adalah blind-spot. Titik ini tidak tertangkap kamera keamanan," Donghae menatap Zhoumi intens. Gemercik amarah dan sederet informasi yang disampaikan Zhoumi entah kenapa terdengar sebagai usaha membuatnya kesal. Oh, shit! Persetan dengan Leeteuk, aku tidak akan mau bekerja sama dengan orang ini lagi! Batin Donghae berazam.
"Apa Anda Tuan Jerry Yang?" Sebuah suara dalam penuh diplomasi terdengar. Gaungnya mengiringi cuping telinga untuk mengendur dan hati yang asalnya kokoh untuk segera menciut. Orang yang baru saja mendatangi mereka penuh dengan karisma. Dan ini bukan sekedar main-main. Orang ini tak dapat dipermainkan.
"Ya, selamat malam, Pak," Zhoumi dengan senyum mengembangnya yang tiba-tiba sekarang menatap sosok yang berdiri di depannya itu dengan tatapan hangat. Dengan segera ia menjabat tangan pria itu, lalu menepuk pundaknya lembut. Donghae yang melihat perbuatan Zhoumi ini hanya bisa mengerutkan keningnya. Persetan dengan misi ini, persetan dengan pesta ini. Tapi dia adalah seorang walikota dan orang yang paling berpengaruh di Amerika serikat. Dia tak bisa menepuk pundaknya begitu saja seperti kepada seorang teman lama. Pikir Donghae, kali ini tidak penuh arogansi seperti biasa.
"Di sini terlalu ramai, bisakah kita berbicara di ruangan lain yang lebih privat?" Pinta Zhoumi. Anehnya, permintaan Zhoumi itu dengan teramat mudahnya disetujui Michael Bloomberg, dan dengan ramah ia menuntun mereka ke sebuah ruangan pribadi yang tidak bisa dimasuki siapapun yang tak berhak di ujung lorong sana.
"Ini adalah salah satu ruangan pribadiku. Kita bisa mengobrol di sini. Aku dengan kalian punya urusan penting denganku," ujarnya penuh dedikasi. Tepat pada sasaran, tepat pada tujuan, dan tidak membuang-buang waktu.
"Well… begini, Mr. Bloomberg," Donghae yang tengah duduk mendahului Zhoumi di kursi tamu yang sudah tersedia memandang Zhoumi dengan tatapan bingung. Ini tidak sesuai dengan rencana, tapi terlihat lebih lancar dari yang direncakanan. Tidak apa-apa, lagipula Zhoumi adalah seorang professional, Zhoumi tahu apa yang akan dia lakukan. Lagipula hampir semua penjahat professional pernah melakukan improvisasi, 'kan?
"Kami sangat tertarik dengan sebuah permata yang berada di bawah management-mu."
DEG!
Donghae melotot memandang Zhoumi. APA? APA? APA? Apa yang barusan dia dengar? Apa dia tidak salah dengar? Membawa Mr. Bloomberg menjauh dari keramaian adalah cara yang cerdas, tapi mengutarakan maksud sebenarnya kepada si pemilik barang yang hendak dicuri adalah sebuah kesalahan besar. Ya, kesalahan besar!
Donghae sedang benar-benar bersabar sekarang. Bersabar untuk tidak merobek Zhoumi, bersabar untuk tidak membunuhnya.
"Permata yang berada di bawah management-ku? Permata yang manakah yang kalian maksud?" Mr. Bloomberg bertanya seolah tak mengerti. Tapi itu hanyalah jebakan, benar 'kan Zhoumi?
"Diamond Bikini."
"UHUK!" Jawaban to the point Zhoumi sukses membuat Donghae tersedak tiba-tiba. Padahal Donghae tidak sedang menenggak martini, koktail, wine, atau minuman memabukan lainnya. Ini murni kaget karena kegilaan Zhoumi.
"Hahaha… maaf, aku takut salah dengar. Tapi… apa tadi yang kau katakan?" Mr. Bloomberg yang tertawa renyah karena mendengar sesuatu yang konyol tak pernah menyangka bahwa dalam sekejap Zhoumi akan berdiri, melayangkan tendangan ke arahnya, lalu menodongkan pistol dengan cepat.
"Maaf kalau kata-kataku kurang jelas," Zhoumi melompati meja yang membatasi mereka berdua, lalu mendarat di sebelah Mr. Bloomberg yang masih tersungkur kesakitan. "Aku bilang, kami tertarik dengan salah satu permatamu. Karena itu kami membutuhkan 4 digit kode akses dan kode retinamu."
"Hahaha… uhuk!" Mr. Bloomberg bukan tidak pernah menghadapi penculikan dan perampokan di dalam hidupnya. Karena itu dia bisa bersikap tenang dalam situasi seperti ini dan berpikir dengan kepala dingin. "Kau boleh membunuhku, tapi kau tidak akan pernah mendapatkan kodenya."
"Begitu?"
"Aaaaaaa!" Masih dengan menodongkan senjata ke arah kepala Mr. Bloomberg, Zhoumi menendang kepalanya dan menghimpitkannya ke lantai. Tanpa belas kasihan dan tanpa rasa bersalah Zhoumi mulai menendang perut dan dada Mr. Bloomberg. Pemandangan anarkis dan urakan seperti ini membuat Donghae terpana. Ini… tidak sesuai rencana. Apa yang terjadi dengan si gila-Zhoumi? Apa dia sudah kehilangan salah satu sirkuit otaknya atau apa?
Donghae sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Jadi begini cara kerjamu?! Urakan sekali! Tidak terorganisir, arogan dan ceroboh!"
"Sssssttt…" Zhoumi mendesis, menimpali umpatan dan cercaan Donghae. "Santai saja, tidak perlu marah seperti itu."
"Shit! Bagaimana bisa kau menyuruhku santai dengan wajah sedingin itu sedangkan tangan dan kakimu sibuk menyiksa target kita! Apa kau sakit jiwa?!"
"Harusnya sebelum bergabung dengan tim ini kau menyelidiki latar belakang anggota yang lain. Bukankah kita sudah sering bertemu? Dalam urusan bisnis?"
"Mana Kutahu! Yang selalu berbicara dengaku adalah si Sungmin, Brengsek!"
"Ssssttt… I said, just calm down, dude. You say too much words."
Perkataan Zhoumi yang simple itu sukses membuat bulu kuduk Donghae meremang. Ia ingin sekali memukul Zhoumi, tapi dalam saat yang sama ia takut kepada Zhoumi.
"Kau membawa pisau?" Donghae terkesima dengan pertanyaan Zhoumi.
"U-untuk apa?"
"Hm…" Zhoumi bergumama sesaat, lalu memandang Mr. Bloomberg yang masih terbaring dengan sekujur luka di badannya dengan tatapan mengintimidasi. "Jika ia tidak mau memberikan kode-kode itu, maka kita terpaksa mengambilnya. Dan tak ada jalan lain selain mencongkel keluar matanya dan menyerahkannya pada Leeteuk."
HEG!
Pernyataan Zhoumi itu tidak hanya mengejutkan Donghae, tapi juga Mr. Bloomberg yang bernapas dalam kepayahan.
"KAU JANGAN BERCANDA!" Donghae kali ini mengesampingkan rasa takutnya pada Zhoumi dan secara terang-terangan menentangnya. "APA KAU TIDAK BERPIKIR? KALAU KAU MELUKAI ORANG INI, KITA TIDAK AKAN BISA MENJANGKAU PERMATA ITU?! PAMERAN AKAN DITUTUP DAN KEAMANAN AKAN DIPERKETAT. DAN KEMUNGKINAN TERBURUKNYA… MEREKA AKAN MENGGANTI KODE KEAMANAN YANG MEMBUAT USAHA KITA DAN USAHA SEMUA TIM SIA-SIA!"
Fuck! Shit! Aku sudah tidak peduli lagi dengan ritme dalam tim! Orang ini gila dan akan membahayakan kita semua! Persetan dengan semua!
"Hehehehe…" sebuah seringai tiba-tiba muncul di wajah tirus Zhoumi. Donghae tidak sempat memperhatikannya. Ia sudah terlalu kesal, dan ia sudah terlalu marah.
PROK! PROK! PROK!
Dengan pistol di tangan kanannya, ia bertepuk tangan dan memandang Donghae dengan bangga.
"Kenapa kau?" Donghae bertanya bingung. Ia tidak mengerti akan perubahan sikap Zhoumi yang tiba-tiba. Tidak. Ini membuktikan kalau Zhoumi benar-benar gila. Ya. Pasti.
"Kau lulus dari ujianku," tutur Zhoumi masih dengan senyumnya.
"Apa?"
"Kau tahu, aku tidak bisa dengan mudah ber-partner dengan siapa saja."
"Lalu?"
"Aku hanya mengujimu. Apakah kau bisa berpikir rasional di tengah situasi genting seperti tadi? Dan yeah… kau lulus. Sudah barang jelas kau masih bisa berpikir dampak apa yang akan diterima, tidak hanya oleh dirimu sendiri, jika adalah salah satu anggota tim yang bertindak tidak sesuai dengan rencana dan bersikeras melakukan improvisasi yang salah."
"Jadi?"
Cling!
Zhoumi melakukan jentikan lain, lalu seketika Mr. Bloomberg terduduk dengan setengah tidak sadar di tempatnya.
"Berapa kode akses keamanan brankas Diamond Bikini?"
"7867," jawaban Mr. Bloomberg yang langsung pada tujuan membuat Donghae terperangah tak percaya.
"Baiklah," Zhoumi menjauh dari Mr. Bloomberg dan menyembunyikan pistolnya kembali. "Kau bisa mengambil contoh sidik jari dank ode retinanya."
"Apakah ini tak apa?"
"Ya."
"Benar tak apa?" Donghae masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Mr. Bloomberg sekarang seperti kucing peliharaan yang menuruti apapun perintah tuannya. Ini benar-benar tak masuk akal!
"Ya."
Wrong Identity
Part 10 "Too Much Words"
[Bucheon – Korea, Pukul 23.13]
"Pekerjaan yang dilakukan Zhoumi akan lebih mudah dari yang dilakukan Sungmin," Leeteuk bertutur.
"Benarkah? Kenapa bisa seperti itu?" Heechul yang berada di sebelahnya memandang Leeteuk tak percaya.
"Karena selain Zhoumi seorang pencuri handal, dia juga seorang mentalis."
"Apa?!"
"Dia akan menepuk pundak targetnya ketika kontak pertama kali hingga ia bisa seutuhnya menguasai pikiran orang itu tanpa membuat ia kehilangan kesadaran."
"Maksudmu… seperti dihipnotis?"
"Ya, hampir mirip."
"Great…."
"Dan jika urusan yang ia lakukan selesai, ia tinggal menepuk pundak target itu sekali lagi, maka target itu akan tertidur selama 5 menit. Ketika ia terbangun, ia akan melupakan semua kejadian selama ia terpengaruh dalam hipnotis."
"…" semua yang mendengar penjelasan Leeteuk tak mengucapkan sepatah kata pun. Beberapa mereka masih berusaha fokus pada pekerjaan mereka, dan beberapa bahkan sudah tidak bisa berpikir lagi. Yang ada dalam pikiran mereka adalah… potensi macam apa lagi yang masih belum terungkap tim pencuri gila ini?
To Be Continue…
AN: HHHaaaahhh… I know… I know… ini adalah waktu yang sa…ngat panjang untuk update ff ini :( ya ampun, saya baru Mood! T_T Tapi akhirnya satu chapter tentang pencurian kode target kedua telah rampung dengan segala puji dan syukur. I am glad…
Entah kenapa otak saya bermuara pada satu pertanyaan. Jika saya adalah seorang wanita real yang dapat dipersunting oleh salah satu tokoh WI, saya akan memilih Donghae yang polos dan menggemaskan, atau memilih Zhoumi dengan sisi kelam dan segala trik psikologisnya?
Saya sudah punya jawabannya, hehehe… tapi, bagaimana dengan kalian? Apa jawaban kalian sama dengan jawaban saya?
