Menerangkan : Manga NARUTO milik Masashi Kishimoto

Peringatan : TYPO, OOC, Soft Lemon, dll

Keterangan : Kalimat miring adalah Flashback

Chapter 10

Bukan Kesalahan Dan Tanpa Penyesalan

"Ternyata memang itu alasanmu pergi!" Naruto menatap Sasuke dengan kening berkerut.

"Apa kau juga menginginkannya Sasuke?, apa kau juga ingin merebutnya dariku?" Naruto berujar lirih.

'Sakura… dan sekarang Hinata juga?' Naruto bertanya dalam benaknya.

"Kalau kau tidak ingin itu terjadi, jangan menghalangiku!" Sasuke melangkah meninggalkan Naruto yang terbungkam mulutnya oleh jawaban darinya. Naruto mengencangkan rahangnya era-erat, Sasuke telah mengakuinya, secara tidak langsung Sasuke sudah mengatakan padanya jika dia memang menginginkan Hinata.

"Bagaimana kalau aku tetap menghalangimu untuk pergi?" Naruto berbisik pelan dengan kepala tertunduk. Dia tidak ingin sekali lagi kehilangan sahabatnya itu, dia tidak ingin dihantui ketakutan tentang apa yang akan dilakukan oleh Sasuke di luar sana kelak, bagaimana kalau Sasuke kembali masuk ke dalam kegelapan?. Sasuke menghentikan langkahnya, berdiri diam dan berpikir sejenak, sebelum berbisik pada semilir angin yang menghantarkan kata-katanya jauh ke dalam jantung Naruto.

"Apa kau sudah siap kehilangan Hinata?" Mendengar kata-kata Sasuke yang begitu yakin hati Naruto menciut, dia tidak tahu kalau saat ini justru sang Uchiha lah yang hatinya sudah kehilangan harapan. Karena Naruto lah orangnya yang dipeluk erat oleh Hinata di depan semua orang, karena Naruto lah orangnya yang menjadi pujaan sang gadis Hyuga.

"Dia mencintaiku!" Naruto berkata lantang terdengar yakin, meskipun dirinya ragu. Kilatan dimata rembulan itu tidak secerah dulu ketika memandangnya, sesuatu mencuri titik cahaya yang harusnya seluruhnya miliknya. Rona manis di pipi itu semakin memudar dipandangannya, seolah sang gadis telah menggunakan ronanya pada hal lain selain padanya. Naruto enggan mengakui kalau hidup Hinata tidak lagi hanya berisi dirinya, ada seseorang yang pelan-pelan dan diam-diam mencoba mencurinya darinya. Naruto mengangkat wajahnya lalu memandang punggung orang itu.

"Naruto…" Sasuke menutup mata, dia pun juga meyakini dengan sangat, sebuah fakta bahwa cinta Hinata memang hanya untuk pemuda kyubi itu.

"Jangan menghalangiku!" Dia tahu dengan pasti kalau gadis itu tidak akan berpaling padanya.

"Kumohon!" kata itu terdengar berbisik lirih, mata Naruto membulat, Uchiha Sasuke sedang memohon padanya. Sasuke memohon untuk dibiarkan keluar dari medan perang sebelum dia benar-benar jatuh dan berdarah. Dia menyerah pada pertarungan yang dia yakin tidak akan mampu untuk dia menangkan.

.

.

.

'Itu tidak mungkin, aku memang mencintainya tapi dia mencintaimu.'

Kata-kata Naruto terus bernyanyi ditelinga Hinata.

Dia membenamkan wajahnya ke dalam bantal empuknya yang beraroma mawar lembut, dibawah selimut gadis itu ingin bersembunyi dari kenyataan yang baru saja dilihatnya.

'Jadi kau masih mencintai Sakura-chan, Naruto-kun?'

'Tapi kenapa kau ingin menjadi kekasihku?' Hinata mengingat ungkapan cinta Naruto padanya tadi siang.

'Apa ini semacam permainan untukmu?' pegangan tangan Hinata dibantal putih itu mengerat.

'Sasuke-san' Sisi Hinata yang lain tersadar, membuat sang gadis terduduk tegak ditempat tidurnya.

'Dia pergi!' otaknya baru bisa mencerna bagian itu di dalam kepalanya. Tanpa memperdulikan tampilan dirinya yang hanya menggenakan kimono tidur yang tipis, Hinata melompat turun dari tempat tidurnya menghilang ditelan malam melalui jendela yang terbuka lebar.

.

.

.

Sasuke tidak bisa mengerti saat ini dia tengah kebingungan, kakinya tidak ingin beranjak meninggalkan tempat ini. Sasuke memijat pelipisnya, menggeram marah pada pikirannya sendiri yang sedang mempermainkannya. Dia ingin melihat gadis itu sekali lagi, ingin menatapnya sekali lagi. Di sini dia berdiri mematung tidak bisa beranjak pergi, di tengah hutan tidak jauh dari gerbang Konoha. Hatinya sedang memintanya untuk berbalik dan kembali ke dalam gerbang itu, kemudian pergi ke kediaman Hyuga dan memandang wajah itu sekali lagi.

Sasuke memaksakan kakinya untuk melangkah, satu langkah, terasa berat, dua langkah, sangat berat, tiga langkah, dia memutar tubuhnya menyerah pada sisi lemah didirinya, 'hanya untuk kali ini' benak Sasuke meyakinkan. Namun alangkah terkejutnya dia ketika mendapati sosok Hinata yang dibalut kimono putih tengah memandangnya di bawah cahaya bulan.

"Sasuke-san!" Kabut napas menguar keluar dari mulutnya, dinginnya malam membuat sang gadis memeluk dirinya sendiri. Sasuke berdiri diam sambil terus memandang lekat gadis itu, masih sibuk menerka nyata ataukah ilusi.

"Apa kau benar-benar pergi?" Hinata melangkah mendekat, wajahnya terselimuti kecewa yang hampir membuat Sasuke mengurungkan niatnya untuk pergi. Namun bayangan Hinata dan Naruto yang berpelukan erat membuatnya membungkam sisi dirinya yang telah teracuni oleh gadis ini.

"Sasuke-san?" Hinata memanggil namanya sedih, membawa Sasuke pada kesadaran kalau gadis ini nyata bukan ilusi. Sasuke menatap Hinata, mata, hidung, bibir, rambut, wajah, setiap lekuk, setiap garis, setiap bagian yang diperlihatkan gadis itu padanya dia rekam dalam ingatannya, dia ingin mengingat semuanya.

Menyadari Sasuke hanya terus diam sambil memandangnya dengan wajah dingin, Hinata berjalan semakin mendekat, menatap dalam-dalam mata sehitam malam itu. Dia mengira Sasuke tidak akan pergi, dia mengira kalau Sasuke akan mendengarkan permintaannya, dia mengira Sasuke akan terus berada dipadangan matanya, dia mengira Sasuke sudah menganggapnya sebagai teman, dia kira dia sudah punya sebuah ikatan dengan pemuda di depannya itu, sebuah ikatan yang sama dengan yang dia rasakan di dalam dadanya.

"Apakah menurutmu ini yang terbaik?" Hinata berkata sambil terus memandang, menatap sendu, menguji keteguhan hati Sasuke.

Namun Sasuke masih tidak menjawab, wajah dingin itu menyakiti Hinata, Sasuke memandangnya seolah dia hanyalah orang asing yang berpapasan di tepi jalan untuk pertama kalinya. Hinata merasa bodoh, merasa dia tidak tahu diri karena mengira kalau kata-katanya akan didengarkan oleh Sasuke.

'Memangnya siapa aku?', benak Hinata bertanya sedih pada dirinya sendiri.

Hinata tidak bisa menebak sedikitpun isi hati pemuda itu, yang sesungguhnya di dalam kepalanya sedang merenungkan hal apa yang akan terjadi jika gadis ini dia bawa dengan paksa ke dalam hidupnya, mengikatnya dengan simpul mati yang tidak akan mungkin lagi dilepaskan, rencana gila yang membuatnya berpikir kalau dirinya sudah benar-benar kehilangan akal sehat. Dia ingin menyentuhnya, menyentuh gadis ini dengan sentuhan yang akan menjadikannya miliknya, seutuhnya.

"Meninggalkan Konoha, apakah itu yang terbaik untukmu Sasuke-san?" suara lembut yang berbisik ragu menyadarkan Sasuke dari pikiran-pikiran gilanya.

"Terbaik untuk segalanya!" Sasuke akhirnya bersuara. Suara yang berat parau menahan kegilaan. Hinata terdiam, suara itu membuat perutnya seperti digelitik ribuan kupu-kupu yang segera lenyap dalam sekejap. Kening Hinata berkerut memandang wajah tampan itu, dia tidak mengerti maksudnya, namun dia juga tidak berani bertanya, takut dikira lancang. Sejak awal dia memang tidak punya hak untuk bertanya-tanya dan melarang pemuda ini, dia tidak memiliki apapun yang membuatnya bisa menahan Sasuke di Konoha.

"Apa kita mungkin….akan bertemu lagi?" Hinata bertanya, hatinya memohon. Dia tahu kalau Sasuke tidak akan mengurungkan niatnya hanya karena Hinata menginginkannya. Tapi dia ingin tahu akankah bisa dia melihat wajah itu lagi nanti?, bolehkah?, mungkinkah?.

Sasuke tidak ingin lebih lama lagi menguji dirinya sendiri, dia menghilang pergi di tengah kepulan asap putih. Meninggalkan Hinata yang berlinang air mata di belakangnya.

'Entahlah Hinata!' Sasuke tidak tahu, ia tidak bisa mengerti hatinya yang sedang berteriak-teriak tidak tentu.

Hinata diam berdiri memandang kabut putih yang pelan-pelan menipis dan menghilang, mata itu menerawang jauh memandang hutan gelap di depannya. Dalam dinginnya malam Hinata merasa tidak bernilai, bodoh dan terluka.

"Memangnya siapa aku?" Hinata berujar pelan, diiringi oleh bulir-buir air mata yang jatuh menuruni pipinya.


"Hinata….Hoy….Hinata!" Kiba berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah gadis yang tidak bereaksi itu.

"Eh…." Hinata tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari kalau Kiba dan Shino tengah memadangnya dengan wajah khawatir.

"Ada apa Kiba-kun? Shino-kun?" Hinata berkata pada kedua temannya dengan wajah merona karena malu kedapatan sedang melamun.

"Apa kau baik-baik saja Hinata?" Shino berdiri di depan Hinata yang duduk di atas sebuah batang pohon.

"Iya Shino-kun aku baik-baik saja!, aku hanya…em" Hinata ragu, dia ingin cerita, tapi juga tidak ingin. Sementara itu Shino dan Kiba masih menunggunya menyelesaikan kalimatnya.

"Berpikir" Hinata menyelesaikan kalimatnya yang tadi dia gantung. Shino mengangguk mengerti, sementara Kiba masih menatapnya dengan penuh curiga.

"Apa hubunganmu dengan Naruto baik-baik saja?" Kiba berusaha menebak-nebak apa yang mungkin Hinata pikirkan, dan yang pertama kali muncul dibenaknya adalah nama bocah itu.

"I…Iya! Kami baik-baik saja Kiba-kun!" Hinata menjawab sambil tersenyum. Sebenarnya dia tidak yakin, mereka baik-baik saja, tapi juga tidak baik-baik saja. Kiba mengangguk-angguk lega.

"Kalau dia membuatmu sedih jangan segan-segan mengatakannya pada kami!, Kami akan memberinya pelajaran!" Kiba berkata lantang dengan cengiran, menepuk-nepuk dadanya arogan.

"Iya kan Shino!?" Kiba berkata pada Shino berharap mendapat dukungan.

"Aku tidak pernah berniat mati mengenaskan di tangan Naruto kau tahu itu!" Shino berujar santai realistis, niatnya bercanda.

"Shino Kau!" Kiba mendelik pada Shino, Hinata terkikik melihat Kiba mulai menceramahi Shino dengan segala macam aturan persahabatan yang Hinata yakin sekali kalau peraturan-peraturan yang Kiba katakan itu baru saja dibuatnya, bahkan kalau dia disuruh untuk mengulanginya sekali lagi mungkin dia tidak akan bisa.

"Aku mengerti….aku mengerti….!" Shino berkata sambil berusaha membuat Kiba menutup mulutnya yang meracau.

"Kiba…aku mengerti!" Shino berteriak tegas kewalahan menghadapi mulut Kiba yang bocor tidak bisa ditutup. Kiba tertawa senang berhasil membuat Shino terganggu sampai ke batas akhirnya. Hinata tersenyum melihat kedua rekannya itu, rekan terbaik yang dia miliki, dua orang yang disayanginya.

"Sebaiknya kita segera mencari kayu dan bahan makanan Kiba!, hari sudah hampir gelap!" Shino berkata pada Kiba yang terkekeh memandangnya.

"Hinata kau tunggu saja disini, kami akan segera kembali!" Kiba berkata pada Hinata, sang gadis hyuga hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Senyum Hinata terus dipasang sampai punggung kedua rekannya sudah tidak nampak di pandangannya.

"Apa kita baik-baik saja Naruto-kun?" Hinara berbisik pada dirinya sendiri, memikirkan hubungannya dengan Naruto yang sudah berlangsung hampir satu tahun sekarang ini.

"Aku tidak pernah yakin" Senyum di bibirnya pudar, wajahnya berubah sedih, sorot matanya menunjukkan keraguan.

Naruto adalah pemuda yang baik, sangat baik bahkan. Disatu sisi semua ini bagaikan mimpi yang benar-benar jadi nyata bagi Hinata. Pemuda yang sejak kecil dia impikan sekarang benar-benar berada di sisinya, mencintainya juga. Tapi Hinata selalu meragukan cinta pemuda itu, selama sembilan bulan ini Hinata merasa seolah dia hidup bersama 3 orang Hinata di dalam dirinya. Di dalam sisi hatinya ada seorang Hinata yang selalu menghibur dan meyakinkannya, di sisi lain ada seorang Hinata yang begitu realistis, dan di sisi lainnya ada seorang Hinata yang selalu membisikkan sesuatu yang dia bahkan tidak berani untuk mendengarkannya.

'Dia mungkin masih mencintai Sakura!' Sisi Hinata yang melihat kenyataan berkata.

'Tapi dia bilang dia mencintaimu kan!. Berikan dia sedikit waktu untuk melupakan gadis itu.' Sisi lain meyakinkannya.

'Sorot mata itu, apa kau benar-benar tidak bisa menyadarinya?' sisi itu kembali mengungkapkan kebenaran.

'Semuanya perlu waktu!'

"Naruto memandang Sakura seperti itu! Hinata jangan membodohi dirimu sendiri!'

'Dia memelukmu dengan hangat, dia memandangmu dengan sayang, dia menciummu dengan lembut, apa itu semua tidak cukup untukmu?'

'Mungkin kau hanya sebagai pengganti baginya' Sisi ini mulai membuka pemikiran yang ingin Hinata enyahkan dari benaknya.

'Mungkin dia hanya membalas budi padamu' Hinata meringis oleh pemikirannya sendiri.

'Mungkin dia hanya mengasihanimu! Karena Neji dan karena segala yang telah kau lakukan untuknya' Si realistis membuka dengan gamblang ketakutan yang disimpannya.

Hinata menghela napas panjang, tiba-tiba merasa ingin menangis.

'Kau tahu dengan jelas kalau kau tidak benar-benar ingin menangis Hinata!' sisi yang sejak tadi diam kini mulai bicara juga.

'Karena semua keraguan ini….., kau tahu kalau rasa itu pelan-pelan memudar, iyakan?'.

'Kau juga tahu kalau hatimu perlahan sudah pergi ketempat lain!' Hinata mati-matian berusaha menghapus bayangan wajah yang tiba-tiba muncul di benaknya.

'Iya…padanya…. Kau selalu mengingatnya, iya kan?' bisikan yang menelusup masuk kedalam relung hatinya, dibenarkan tanpa diakui.

'Tapi dia tidak menghiraukanmu! Dia pergi kan?, sekarang kau kekasih Naruto!' sisi lain kembali meyakinkannya.

'Kau sudah dengar sendiri kan kalau Sakura juga mencintai Naruto?!, dan kau juga tahu dengan jelas kalau Naruto juga masih mencintai gadis itu?!' kenyataan kembali menarik paksa kesadarannya.

'Tahu apa artinya itu?'

'Kau adalah satu-satunya penghalang mereka!' Kenyataan menghakiminya dengan keras, pada akhirnya kenyataan memang pasti akan menang.

Hinata menggelengkan kepalanya keras-keras berusaha mengusir pikiran-pikiran yang berkecamuk. Dia berdiri dan pergi meninggalkan tenda mereka tanpa penjagaan. Meninggalkan pesan untuk Shino dan Kiba di permukaan tanah, pormasi kode yang mengatakan kalau dia sedang pergi untuk mengamati sekeliling agar teman-temannya tidak khawatir jika dia tidak ada ketika mereka kembali nanti.

Hinata berjalan pelan semakin dalam ke dalam hutan, dengan byakugan aktif, matanya berpendar memandang sekeliling. Sekeras apapun dia mencoba mendorong pergi pikiran-pikiran itu, dalam sekejap semuanya akan kembali dengan kekuatan penuh. Dia akan kembali mengingat gerak bibir Naruto malam itu ketika dia mengatakan kalau dia memang mencintai Sakura. Sekeras apapun Hinata berusaha melupakan kata-kata Sakura pada Ino yang tidak sengaja didengarnya, kata-kata itu tetap akan menghantui tidurnya. Membuat Hinata semakin ragu tiap detiknya, membuat Hinata berpikir dia menjadi penengah di antara kedua orang yang saling mencintai.

Hanya saja, setiap pelukan yang Naruto kurungkan pada tubuhnya, setiap tatapan yang dicurahkan Naruto untuknya, setiap kecupan lembut yang diberikan Naruto dibibirnya membuat Hinata terus menggumamkan mantra 'Sebentar lagi', 'Sedikit bersabar', 'Tunggu dulu', dan 'Mungkin nanti'. Kemudian akan ada kata lain yang terngiang, 'Lihat caranya memandangnya', 'Lihat caranya tersenyum untuknya','Lihat caranya mengkhawatirkannya' dan 'Lihatlah caranya bicara padanya'.

Naruto dan Sakura tidak tahu kalau bahkan hal-hal kecil seperti cara mereka saling bertukar lauk bekal pun bisa membuat Hinata kehilangan nafsu makan, terlebih ketika dia memergoki Sakura atau Naruto tengah mencuri pandang pada masing-masing, Hinata akan terjaga sepanjang malam tidak mampu tidur. Namun Hinata kenal betul seperti apa dirinya saat ini, ketika dia jauh dari Naruto keyakinannya untuk lepas akan timbul, keraguannya akan semakin menguasai dirinya. Namun kelak ketika Naruto kembali masuk kepandangannya, memeluknya, berbisik ditelinganya, mengecupnya, mendadak semuanya terasa akan baik-baik saja. Kemudian akan ada lagi hal-hal kecil yang datang menumpuk dan memupuk keraguannya lagi, menakutinya tanpa akhir. Lalu Hinata akan mulai lagi berpikir untuk lepas dan membiarkan mereka bersama dan Naruto akan datang lagi membisikkan suara menenangkan ditelinganya. Hal ini terus berulang tidak putus, membentuk suatu lingkaran penuh yang tidak pernah berhenti. Satu-satunya hal yang menjadi pegangan dan jaminan untuk hatinya adalah kenyataan kalau Sakura dan Naruto tidak mengetahui isi hati satu sama lain. Sakura tidak tahu kalau Naruto masih mencintainya, begitu pula Naruto yang tidak tahu kalau Sakura telah jatuh cinta padanya. Hinata yang tahu semuanya menyembunyikannya rapat-rapat. Namun Hinata tidak pernah tahu sebelumnya kalau menyembunyikan sesuatu ternyata begitu sulit dan menyiksa, merasa berdosa dan nista. Hingga akhirnya semuanya sudah terlalu berat untuknya, dia berpikir setiap malam, merenung, mempersiapkan diri untuk merelakan dan merestui mereka.

Pada malam-malam panjang tidak mampu tidur itulah, benak Hinata mulai melayang jauh kesuatu tempat yang Hinata sendiri tidak tahu berada dimana. Ketika dia sudah lelah berpikir dan ketakutan, benaknya mulai mencari sesuatu yang bisa membuatnya nyaman, sesuatu yang tersisih disembunyikan dipalung paling dalam dihatinya. Akan terdengar suara berat seorang pemuda memanggil namanya, terbayang seringaian miring dibibirnya yang tipis, akan teringat deruan napasnya ketika menyapu wajahnya, aroma tubuhnya, tatapan mata hitamnya, sepuan ujung jarinya digaris bibir miliknya, yang dengan perlahan akan menariknya kealam mimpi mengakhiri kekalutan yang tidak berujung. Hinata tertidur dengan memimpikan wajah pemuda itu di sisinya, menenangkannya. Kemudian esok harinya dia akan terbangun dengan perasaan bersalah pada Naruto, dan lingkaran kesakitan akan kembali berputar hingga membentuk lingkaran penuh lagi.

"Hah!" Sentakan napas kasar terengar dari mulut Hinata, menandakan kalau dirinya sangat terkejut.

Byakugannya menangkap sesuatu yang familiar di kejauhan. Tanpa berpikir lagi Hinata segera berlari menuju tempat itu. Dadanya berdegub semakin kencang seiring dengan semakin mendekatnya jarak yang memisahkan Hinata dari sosok itu.

"Sa….Sasuke?" Hinata berujar ragu. Dia berlari semakin cepat, tidak ingin membuang-buang waktu barang sedetik. Sosok itu membawa rasa rindu yang tersembunyi kepermukaan, Hinata berlari dengan membelenggu rindu yang tidak diakui olehnya. Ingin melihat lagi, ingin mendengar lagi, ingin merasakan lagi sentuhan jemari, perasaan itu seperti air mendidih yang meluap-luap seakan ingin tumpah. Hinata berlari cepat takut sosok itu mungkin akan pergi.

.

.

.

Kicauan burung dan gemerasak daun yang saling bersinggungan satu sama lain terdengar mengiringi seruan angin di sekelilingnya. Di bawah sebatang pohon rindang Sasuke berbaring diam menghayati rasa perih dari sakit diluka menganga yang masih mengeluarkan darah di perutnya. Bukan luka parah, hanya tusukan dangkal kunai yang dia dapat karena teralihkan. Teralihkan oleh sosok yang entah mengapa semakin gencar menghukumnya dengan senyuman dan tatapan, ilusi-ilusi yang dihasilkan oleh pikirannya sendiri yang semakin hari semakin gila karena merindu. Dari bibirnya sumpah serapah yang panjang dan kasar meluncur menghujat dunia dan isinya. Dia pikir kegilaan ini kan berakhir kalau dia pergi jauh-jauh dari sumbernya, namun apa yang dia dapat sekarang?, persetan, dunia sialan, terkutuklah perasaan, bajingan.

Sasuke berdengus dengan sangat kasar sambil perlahan menutup matanya, meski tidak ingin, dia sekali lagi membiarkan dirinya mengalami candu, membiarkan benaknya memberikan penawar rasa gelisah ketagihan pada sosok wanita bermata putih. Pertama akan muncul perempuan dengan rambut panjang berkimono putih tipis di bawah cahaya bulan, kemudian sosok tidak berwajah itu akan memiliki mata indah sewarna rembulan, lalu sisa bagian wajah itu akan menyempurna dipandangannya, menampakkan sosok Hinata Hyuga yang menjadi candu baginya, menunggu beberapa detik sosok itu akan memeluk dirinya sendiri seakan kedinginan, dan terakhir akan terdengar panggilan…

"Sasuke-san?!" Sasuke mengerutkan kening, suara itu terlalu nyata, dan terdengar sedikit berbeda dari kenangan yang dimilikinya.

"Oh…kami-sama! Kau terluka" Jantung Sasuke seakan berhenti berdetak, dia baru menyadari cakra yang sekarang berlutut di sisi tubuhnya. Sasuke sekali lagi mempertanyakan kemampuannya berkonsentrasi, kalau begini terus suatu hari nanti dia benar-benar akan mati karena gangguan sosok gadis ini.

"Oh tuhan!" Suara itu terdengar panik, kemudian Sasuke bisa merasakan jemari kecil yang gemetar menyibak pakaian yang dikenakanya, hal itu membawa getaran-getaran kecil disepanjang tulang belakangnya. Sasuke masih menutup matanya rapat-rapat, takut untuk membuka mata dan membuat semua ini sirna. Jari-jari yang halus terasa mengusap lembut tepi luka tusukan di perut bagian bawah kanannya.

"Sasuke?...Sasuke?..." Panggilan ketakutan terdengar, tapi Sasuke masih tidak ingin membuka mata. Kini dia benar-benar yakin kalau gadis ini akan menjadi sumber kematiannya suatu hari kelak, dia rela bertarung hingga mati untuk mendengar suara itu memanggil namanya terus dan terus.

"Kami-sama! Apa dia sudah lama begini?...Oh tuhan dia kehilangan banyak darah." Sekejap kemudian Sasuke bisa merasakan kehangatan dari telapak tangan Hinata yang menyamarkan rasa sakit dilukanya. Dalam waktu yang menurut Sasuke sangat singkat dia bisa merasakan kalau lukanya kini tertutup sepenuhnya, dan untuk menambah kekecewaan Sasuke, Hinata segera mengangkat telapak tangannya dari perut pemuda itu, dan dengan segera menurunkan pakaian Sasuke yang tadi dia singkap.

Hinata menatap wajah diam Sasuke dengan khawatir, lukanya tidak terlalu dalam, seharusnya Sasuke tidak apa-apa sekarang, tapi kenapa dia belum juga membuka matanya?. Hinata menggigit bibirnya ketakutan. Perlahan dia sibak helaian rambut dari wajah Sasuke, rambut itu sedikit lebih panjang dari yang bisa diingatnya.

"Sasuke?" Hinata berbisik lembut mendekatkan wajahnya pada wajah Sasuke yang masih terlihat seperti tidak sadarkan diri. Hinata merengkuh wajah Sasuke dengan sebelah telapak tangannya.

"Kumohon buka matamu Sasuke!" Hinata memohon sambil membelai pipi Sasuke dengan ibu jarinya, sangat lembut. Tidak henti-hentinya gadis itu mengamati gerakan-gerakan kecil di kelopak mata Sasuke dari jarak yang cukup dekat. Tiba-tiba mata itu membuka dengan cepat, membuat Hinata memundurkan wajahnya menjauh karena terkejut, belum sempat gadis itu bereaksi lebih jauh, Sasuke dengan dalam satu kedipan mata telah berada dibelakangnya. Tangan kiri Sasuke mencengkram erat bahu Hinata sedangkan tangan lainnya memegang sebilah kunai yang dengan berbahaya diletakkan dileher putih mulus sang Hyuga.

"Kau terlalu sembrono!" Sasuke mencondongkan tubuhnya berbisik di telinga Hinata. Berusaha memperingatkan gadis itu akan tingkahnya yang terlalu gegabah. Kalau saja tadi dia benar-benar tertidur dan Hinata membangunkannya seperti tadi, terlalu dekat, ketika pertarungan terasa masih segar diingatannya sebelum terlelap, maka dia yakin kalau gadis ini akan benar-benar kehilangan kepala karena gerak refleksnya.

"Apa kau baik-baik saja?" tidak memperdulikan kunai yang ditekankan di lehernya Hinata justru mengkhawatirkan Sasuke, dia sama sekali tidak merasa takut. Sasuke tersenyum sambil menengadah kelangit, gadis ini benar-benar akan membuatnya gila.

Sasuke menyandarkan punggungnya kebatang pohon yang berada dibelakangnya, dia menarik Hinata ikut bersandar di dadanya dengan menggunakan kunai yang masih menekan leher gadis itu, sangat berhati-hati agar tidak melukainya. Dia tidak ingin mengingat atau memikirkan apapun juga sekarang ini, dia hanya ingin menikmatinya tanpa banyak mengaduh dan meratap. Hinata terduduk jatuh di dekapannya, tubuh sang gadis menegang seketika, detak jantungnya berpacu, dia gelisah tidak tahu harus berbuat apa.

"Apa yang terjadi?" Hinata bertanya pelan, ingin memberi makan rasa penasarannya. Melihat Sasuke tergeletak seperti tadi membuat Hinata merasa dingin keubun-ubun, dia ketakutan setengah mati. Sasuke hanya diam tidak memberikan jawaban, dia masih setia menyandarkan kepalanya di batang pohon sambil menengadah langit.

"Kau bilang kau akan jadi petani?!" Hinata sedikit merengut, luka seperti tadi hanya menandakan satu hal, Sasuke terluka ketika bertarung. Dan bertarung bukanlah hal yang akan dilakukan seorang petani, melainkan akan dilakukan oleh seorang ninja bayaran. Hati Sasuke menghangat mendengar nada khawatir di kata-kata yang diucapkan gadis itu.

"Lebih sulit melakukan dari pada mengatakannya!" Sasuke menyeringai, Hinata benar, dia memang tidak punya bakat untuk menjadi petani. Sasuke menurunkan kunainya, membiarkan kedua belah tangannya tergeletak ringan dipangkuan Hinata ketika tubuhnya semakin santai bersandar di batang pohon itu, debaran jantung Hinata terasa sampai kedadanya, dan dia menyukainya.

Hinata menunduk menatap kedua belah telapak tangan Sasuke , perlahan Hinata mengambil tangan Sasuke yang terlihat berdarah tergores, hati-hati dia mengusapnya dengan cakra penyembuh membuat luka itu menutup tidak berbekas. Sasuke hanya berdiam diri meresapi keadaan, dia akan menerima apapun yang bisa didapatnya saat ini. Hinata masih menggenggam sebelah tangan Sasuke, enggan untuk melepasnya, dia menyantaikan tubuhnya yang tegang dan bersandar sepenuhnya di dada bidang yang hangat milik Sasuke. Di punggungnya Hinata kini juga bisa merasakan debaran jantung Sasuke yang berdetak sama cepatnya dengan jantungnya, dia juga bisa merasakan turun naik dada itu ketika Sasuke bernapas. Mereka berdua sama sekali tidak merasa canggung, seolah mereka memang sudah sering seperti ini, hingga yang tersisa hanya rasa nyaman yang menenangkan. Kalau saja mereka berdua menengok lagi masa lalu mereka, tidak akan ada hal yang bisa membuat mereka berdua begitu nyaman satu sama lain, mereka canggung dan kaku. Namun benak yang sama-sama kerap memikirkan satu sama lain membuat kedua manusia ini merasa saling mengenal dan dekat meski mereka tidak benar-benar saling mengenal dan dekat secara harfiah.

"Konoha tidak banyak berubah!" Hinata membuka pembicaraan, sambil masih terus menatap tangan Sasuke digenggamannya.

"Hmm?" Sasuke menggumam sambil membenamkan wajahnya di rambut lembut Hinata, menghirup aromannya dalam-dalam.

"Ino dan Shikamaru akan segera menikah, mereka juga akan segera memiliki bayi!" Hinata terkikik saat mengucapkannya, kening Sasuke sedikit berkerut, dia terkekeh pelan di leher Hinata. Shikamaru ternyata kau tidak terlalu pemalas juga rupanya.

"Naruto sudah semakin dekat menuju kursi Hokage, dia semakin sibuk!" Hinata merasa Sasuke mungkin akan ingin mendengar kabar sahabatnya. Tapi segera Hinata menyesali ucapannya ketika tubuh Sasuke menegang di punggungnya. Sasuke menghempaskan kasar kepalanya kembali bersandar di batang pohon.

"Sakura terluka ketika menjalankan misi di perbatasan." Hinata mengigit bibir, ketika Sasuke sama sekali tidak meresponnya. Sasuke kesal karena Hinata telah merusak momennya, sekarang bayangan Naruto yang memeluk Hinata kembali menjajahnya, kesadaran-kesadaran lain juga mulai mengiringi menyadarkan padanya situasi mereka berdua, membuat Sasuke menggeram kesal. Gema getaran di dada Sasuke ketika dia menggeram menggelitik tulang belakang Hinata, dia menyadari Sasuke tengah kesal. Hinata menunduk semakin dalam, dilepaskannya perlahan genggamannya di tangan Sasuke, kemudian menautkan jemarinya satu sama lain dengan risau. Sasuke menutup matanya, bibirnya mencembung jatuh. Pikiran Hinata kembali menerawang mengingat wajah Naruto yang terlihat begitu khawatir memandang wajah Sakura yang tertidur. Tangannya meremas lembut jemari tangan Sakura di genggamannya yang kokoh. Sorot matanya begitu menderita, tidak sabar menunggu sang kunoichi terbangun, padahal Shizune sudah mengatakan kalau gadis pink itu tidak apa-apa dia hanya sedang tidur untuk beristirahat. Itulah pemandangan terakhir yang dilihat Hinata di Konoha sebelum berangkat menjalankan misi ini bersama Kiba dan Shino. Naruto bahkan tidak menatapnya ketika dia mengucapkan ijin untuk berangkat menjalankan misi, mata biru itu tidak pernah meninggalkan wajah Sakura.

"Sasuke…?!" Hinata berbisik sendu, baik Sasuke maupun dirinya sendiri tidak lagi menyadari perubahan dari yang semula 'Sasuke-san' kini telah menjadi hanya ' Sasuke'. Semuanya sekaan memang mengalir seperti itu.

"Maukah kau memelukku?" Hinata meminta dengan cicitan yang seakan tercekat di tenggorokannya, mata Sasuke membelalak terbuka.

"Sebentar saja?!" Hinata tahu kalau dia sedang bermain api, salah-salah dia lah yang akan terpanggang hidup-hidup. Tanpa menunggu lama, sepasang tangan kokoh segera merengkuhnya dari belakang, jemari Hinata yang bertaut terbungkus oleh jari-jari besar Sasuke yang hangat, Sasuke menyandarkan tubuh Hinata semakin dalam kepelukannya, meletakkan dengan ringan rahangnya ke puncak kepala gadis mungil itu. Tidak ada beban, tidak ada ketakutan atau kegelisahan, mereka hanya sedang merengkuh satu sama lain dalam diam, memberi kenyamanan dan ketenangan tanpa pengharapan apapun. Terhanyut dalam debaran jantung sosok yang diam-diam mereka butuhkan.

'Kau tahu aku benar!' Sisi pembisik dalam diri Hinata berkata pelan. Hinata menutup matanya perlahan, berharap waktu berhenti berputar saat itu juga.


Hinata memutar kunci di pintu apartemen Naruto, setelah terdengar bunyi klik dia segera memutar gagang pintu dan masuk ke dalamnya. Apartemen itu tampak rapi dan bersih karena memang beberapa hari yang lalu setelah pulang dari misi dia datang untuk membersihkannya, tiga bulan terakhir ini Hinata memang di berikan kunci cadangan oleh Naruto agar dia bisa leluasa keluar masuk dikediamannya itu, sebagai pertanda hubungan mereka yang semakin serius. Saat ini Naruto tengah menjalankan misi ke desa hujan, sehingga apartement itu tampak lengang. Sekembalinya Hinata dari misi, ia datang setiap hari ke apartemen Naruto karena sudah sangat ingin bertemu dengan pemuda itu, setiap hari dia datang karena gelisah menunggu, ingin segera mengutarakan keinginan hati yang sudah dia bulatkan tekatnya.

Hinata melangkah masuk perlahan, menapakkan kaki sambil menatap sekeliling yang sesungguhnya dia hafal betul letak dan pengaturannya. Dia mengingat setiap kejadian dan setiap percakapan yang dilakukannya bersama Naruto disemua sudut di ruangan itu, rasa hangat disertai pilu mengalir di dalam relung hatinya, tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Hinata dia akan benar-benar bisa menjadi bagian dari hidup Naruto. Seperti yang selalu dipikirkan oleh Hinata ini bagaikan mimpi yang jadi kenyataan. Tapi satu hal yang selama ini Hinata tidak pernah sadari sebelumnya, jika kau bermimpi maka suatu saat kau pasti akan terjaga. Sapuan matanya yang menjelajahi ruangan mendarat pada sebuah pigura yang bergantung di dinding ruang duduk, berisi sebuah foto dengan gambar dirinya dan Naruto berdiri bersisian tersenyum malu-malu menatap kamera. Hinata berjalan mendekat dan berdiri di depan foto itu, menengadah memandangnya lekat.

'Nah….begini! Nanti di sisi-sisi foto ini akan kita gantung foto-foto kita yang lain!' Hinata bisa mengingat dengan jelas kata-kata saat Naruto menggantungkan foto ini di tempatnya sekarang ketika mereka baru menjadi sepasang kekasih.

'Di atasnya nanti akan kita gantung foto pernikahan kita, kemudian di kedua sisinya akan kita gantung foto anak-anak kita kelak!. Bagaimana Hinata?' Suara bernada menggoda berhasil menciptakan rona merah di pipinya kala itu, dan gelak tawa Naruto yang gemas akan reaksinya masih segar diingatan Hinata.

"Mimpi yang terlalu indah!" Hinata berucap sambil tersenyum kecil, di dadanya emosi sedang berkecamuk. Wajah seorang gadis bermata hijau terlintas dibenaknya menimbulkan nyeri rasa bersalah yang menusuk jantung.

"Sekarang sudah saatnya kau terjaga Hinata!" Hinata berkata sambil mengelus wajah Naruto difoto itu. Naruto pantas bahagia, dan Sakura pasti akan bisa membuat lelaki ini teramat sangat bahagia.

"Mari kita akhiri, Naruto-kun!" Hinata tidak bisa membendung lagi keraguannya, serta perasaan-perasaan lainnya yang mulai bermunculan. Rasa bersalah karena berada di antara Naruto dan Sakura, juga perasaan yang tanpa dia kehendaki mulai menyusupi , membagi, dan mengalihkan. Sebuah perasaan yang Hinata belum berani memberikan nama padanya.

.

.

.

'Tenten! Kau tahu di mana Hinata?, tadi dia bilang dia akan menemuiku di rumah sakit!' Naruto bertanya pada Tenten dengan mata mencari-cari ke penjuru arah di sekitarnya. Saat matanya bertemu dengan tatapan benci dari Tenten Naruto jadi kebingungan.

'Dia sudah pergi!" Tenten berucap ketus menjawab sambil melenggang pergi meninggalkan Naruto yang kebingungan dengan sikapnya.

'Kemana? Misi? Kenapa dia tidak menemuiku dulu?' Naruto kecewa, biasanya Hinata akan selalu ijin padanya sebelum pergi untuk menjalankan misi. Mendengar perkataan Naruto Tenten berhenti tiba-tiba lalu berbalik dan melotot tajam pada sang pahlawan desa.

'Kau buta atau tuli Naruto? Dia tadi sudah datang kerumah sakit untuk menemui dan meminta ijin padamu!' Tenten menggemeratakkan gigi gemas.

'Heh?...aku tidak …. kapan?' Naruto kebingungan, dia sama sekali tidak bisa mengingatnya. Perkataan Naruto membuat Tenten ingin sekali meremukkan tulang-tulang pemuda itu saat ini juga.

'Mungkin tadi kau terlalu sibuk menggenggam tangan Sakura!, sehingga tidak sadar ketika Hinata berdiri dan bicara di belakangmu!' Naruto terdiam mendengar jawaban Tenten. Sang nona senjata berbalik pergi segera sambil bergumam keras pada Naruto.

'Kau seharusnya melihat bagaimana caramu menatap Sakura tadi!, Oh…sangat menggetarkan hati!' ucap gadis yang sudah mendidih itu sarkastik.

Kata-kata Tenten ketika itu selalu membuat Naruto tercekat saat mengingatnya, di sepanjang misinya kali ini Naruto tidak bisa menghilangkan perasaan bersalah dan sakit ketika menyadari apa yang sudah dia lakukan pada Hinata. Tanpa sadar dia sudah menyakiti kekasihnya itu. Dan dia juga tidak sadar kalau ia sudah sangat sering melakukannya. Naruto melompat dari dahan kedahan dengan lompatan-lompatan besar, sudah tidak sabar untuk segera sampai ke Konoha dan menemui Hinata, dia yakin gadis itu pasti juga sudah kembali dari misinya. Naruto tidak pernah berpikir untuk menyakiti Hinata, dia sangat menyayangi Hinata. Hanya saja perasaannya pada Sakura belum bisa dia pisahkan dari hatinya, namun Naruto berani bersumpah dia sangat berusaha keras untuk menyudahinya.

Beberapa hari yang lalu ketika berada ditengah-tengah misi Naruto tiba-tiba dihinggapi rasa takut akan kehilangan Hinata, bagaimana kalau Hinata marah?, bagaimana kalau Hinata tidak ingin memaafkan dirinya?, dan bagaimana kalau Hinata ingin berpisah darinya? Pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa bergulir teratur saling menggantikan untuk mengisi pikiran sang Uzumaki. Membayangkan dia harus kehilangan sosok itu membuat Naruto mencengkram erat jantungnya.

'Itu tidak akan terjadi Naruto!, Saat bertemu nanti segera lah minta maaf!, Berjanjilah padanya serta pada dirimu sendiri kalau kau tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi!, dan Hinata akan menjadi Hinata, dia akan memaafkanmu serta akan selalu berada di sisimu!' Naruto meyakinkan dirinya sendiri, berharap ketakutannya beberapa hari ini tidak terbukti.

"Naruto!" Seorang penjaga dimenara pengawas gerbang Konoha menyapanya, Naruto tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya kearah itu. Naruto melewati gerbang Konoha dengan terburu-buru, ingin segera sampai ke apartementnya untuk membersihkan diri kemudian segera pergi ke kediaman Hyuga dan menemui gadisnya. Oh… dia tidak tahu kalau ada rindu yang bisa begini menyiksa.

Dalam hitungan detik Naruto kini sudah ada di depan pintu apartemennya, merogoh kantong jaket jouninnya dengan tidak sabar, berusaha mencari kunci yang bisa membawanya masuk ke tempat tinggalnya itu. Sesaat setelah pintu terbuka senyum Naruto segera mengembang, dia menyadari keberadaan Hinata di apartemennya karena melihat sepasang alas kaki yang tersusun rapi di depan pintunya.

"Aku pulang!" suara Naruto terdengar menyapa riang, Naruto tergesa-gesa melepaskan alas kakinya ingin segera menemui Hinata.

"Selamat Datang!" Hinata menyahut lembut, membuat dada Naruto terasa hangat. Dia sangat menyukai setiap kali kejadian seperti ini terjadi, ketika Hinata menyambut kepulangannya. Tapi bersamaan dengan rasa hangat itu, rasa bersalah semakin menaunginya, mengingat apa yang sudah dilakukannya pada Hinata. Naruto bertanya-tanya pada dirinya sendiri bagaimana mungkin dia bisa begitu tidak pekanya dengan perasaan Hinata, gadis ini, gadis yang membuatnya merasakan kehangatan ini, Naruto benar-benar merasa bodoh.

"Hinata!" Naruto melompat-lompat dan melemparkan tasnya sembarangan sambil berlari menuju suara Hinata, yang sepertinya berada di ruang duduk sederhana miliknya.

Langkah Naruto terheti ketika melihat sosok Hinata yang tengah berdiri diam, gadisnya itu meremas-remas tangannya sendiri gusar, namun hal yang hampir membuat Naruto kehilangan napasnya adalah ekspesi yang ditunjukkan oleh Hinata, serta mata putih itu yang memandangnya dengan pandangan berjarak. Ketakutan merayapi hati Naruto yang juga tengah dirundung rasa bersalah. Dengan seluruh kemampuan yang di milikinya Naruto mempertahankan senyuman di wajahnya, bertingkah seolah tidak bisa menyadari apa yang sedang dihadapinya.

'Hinata….. kumohon jangan!' Naruto memelas di dalam hati, dia tidak menyukai semua ini, dia merasa sesuatu yang sangat buruk akan segera didengarnya. Masih dengan senyum mengembang dia mendekat pada Hinata yang sedikit mundur seiring langkah majunya.

"A…aku mau bi…bicara Naruto-kun!" Hinata berucap tergagap. Naruto meringis dalam hati, berdoa agar ketakutannya tidak akan terjadi.

"Aku mau dipeluk!" Naruto berkata dengan nada menggoda sambil merengkuhkan kedua tangan kekarnya ke tubuh Hinata. Bertingkah seperti biasanya ketika dia menggoda gadis itu, meski hatinya saat ini sedang ketakutan.

"Naruto-kun!?" Hinata berusaha menjauhkan tubuhnya dari pelukan Naruto, namun percuma Naruto jauh lebih kuat darinya. Jantung Hinata berdegub kencang, dia tidak bisa begini, kalau terus begini dia akan kalah lagi. Setelah sekian lama, akhirnya baru kali ini dia berani untuk mengungkapkan segala yang menggelayutinya, dia harus mengatakannya.

"Sebentar Hinata, diamlah sebentar, aku ingin memelukmu!" Naruto mengeratkan pelukannya, menghirup dalam aroma Hinata, dia merasa sangat rindu dengan gadis ini. Hinata berhenti berontak karena memang sudah tidak bisa lagi, dia menggigit bibirnya, ingin menangis karena kebingungan yang mendera dan menggoyahkan tekatnya.

"Aku merindukanmu Hinata, apa kau tidak merindukanku?" Naruto bertanya sambil menelusupkan wajahnya dileher halus kekasihnya. Hinata bergidik samar ketika merasakan bibir Naruto mengecup kulitnya.

"Naruto-kun, tolong dengarkan aku, kumohon!" Hinata memelas dengan cicitan lirih. Setelah lama bertahan, akhirnya Hinata mampu untuk membulatkan tekat dan memberanikan diri untuk merelakan Naruto, dia tidak ingin mundur sekarang.

'Oh tuhan jangan lakukan ini padaku!' Naruto mengiba dalam hati, dia membelai garis leher Hinata dengan ujung hidungnya, berharap bisa membuat Hinata tidak jadi mengucapkan apapun yang ingin diucapkannya.

Menyadari Naruto masih terus memeluknya erat-erat, Hinata kembali berkata di bahu Naruto.

"Hubungan kita ini…. Naruto-kun …. Sebaiknya…kita…." Hinata kebingungan mencari-cari kata yang sudah dipersiapkannya. Tubuh Naruto berubah kaku, dia segera mengangkat wajahnya dari leher Hinata dan menatap wajah yang sekarang berlinang air mata berusaha mencari kata-kata yang tiba-tiba buyar menghilang dibenaknya.

"Naruto-kun….Sakura-chan…. Kupikir….kita… hubungan ini lebih baik….." Hinata berkata kacau, matanya bergerak-gerak cepat tidak bisa fokus, memandang kesegala arah selain Naruto di hadapannya.

Tidak ingin mendengar lebih banyak lagi kata-kata yang membuatnya merasa tersiksa itu, Naruto membungkam bibir Hinata dengan ciuman, ciuman lembut penuh sayang. Hinata berusaha berontak membuat Naruto memegangi kepala gadis itu dan memperdalam ciumannya, Naruto mencium Hinata keras dan dalam. Perlahan Hinata mulai hanyut dalam buaiyan itu, Naruto menciumnya dengan intensitas yang tidak pernah dirasakannya sebelum ini. Hinata meremas erat jaket jounin Naruto yang tidak terkancing, semakin lama napasnya semakin sesak. Emosi yang saling bertentangan di dalam dadanya berperang menyakitinya. Air mata merembes keluar dari pelupuk matanya yang tertutup, dan mengalir turun mengenai pipi Naruto.

Kaget, Naruto segera menarik diri memandang Hinata, wajah Hinata terlihat seperti sedang kesakitan, mata terutup rapat dengan air mata yang berhujan jatuh. Naruto meringis melihatnya. Mereka berdua terengah kehabisan napas. Bocah Kyubi itu merengkuh wajah Hinata dikedua telapak tangannya yang besar, kemudian dengan lembut menyapu air mata yang jatuh, dengan lembut dikecupnya dahi Hinata yang tertutup poni itu. Sang calon Hokage meletakkan dahinya didahi Hinata sambil menatap gadis yang masih menutup mata itu lekat-lekat.

"Aku mencintaimu Hinata!" Kata-kata itu meluncur yakin dari bibir Naruto, sang gadis membuka mata memandang si empunya kata. Seketika mata biru itu menenggelemkannya lagi ke dalam perasaan yang sangat akrab, perasaan yang sudah dia rasakan sejak dia kecil, perasaan yang sudah tidak bisa diingatnya lagi sejak kapan ada, perasaan yang sudah ada sepanjang dia bisa mengingat masa lalunya.

Dan sekali lagi Hinata kembali terhanyut dalam lingkaran yang tidak berujung.


"Kau bilang 7 hari!" Naruto menggeram kesal pada sosok wanita yang duduk menunduk memandang gulungan di atas mejanya.

"Kenapa sampai sekarang dia belum kembali juga, nenek?" Naruto meninggikan suaranya tanpa gentar meskipun yang diteriakinya ini adalah seorang Hokage.

"Ini baru lewat sehari!" Tsunade menggemeratakkan gigi marah, namun dia masih berusaha bersabar. Kelakuan Naruto yang merong-rongnya seperti ini membuatnya naik pitam. Kalau saja saat itu dia tahu kalau menugaskan Hinata pergi untuk misi itu bisa membuatnya mengalami sakit kepala yang begini parah sepanjang minggu dia pasti tidak akan melakukannya.

"Cukup sudah aku menunggu!, aku akan menyusulnya!" Naruto berucap lantang sambil menghentakkan kakinya keras-keras ketika berjalan menjauh dari Tsunade

"O-o-o- tuan Uzumaki!, kau tidak akan pergi menyusulnya!" Tsunade memerintah, wajahnya memandang geram kearah Naruto. Memangnya bocah ini pikir dia siapa?.

"Kenapa tidak?" Naruto kembali memandangnya, namun kata-katanya kali ini tidak diucapkan dengan berteriak tapi dengan memelas seakan memohon. Saat ini Naruto terlihat sangat putus asa, dia ingin segera bertemu dan memeluk Hinata, memohon ampun dan menjelaskan semua yang terlah terjadi. Ini semua adalah kesalahan besar!.

"Kau punya misi yang harus kau selesaikan!" Tsunade berkata ringan.

"Aku tidak akan pergi ke Suna sebelum bertemu Hinata!" Naruto kembali berkata dengan kesal.

"Kau bisa bertemu dengannya nanti setelah kau pulang dari Suna!, Kesempatan ini tidak boleh kau lewatkan, jarang-jarang kau bisa belajar langsung cara memimpin dari seorang Kazekage!" Tsunade membujuk kali ini. Kesempatan ini hanya berlaku jika Naruto berangkat menuju Suna hari ini juga, para tetua Sunagakure bukan orang-orang yang suka memaklumi. Sang Kazekage pun juga terpaksa mengikuti pengaturan itu, meski dia tahu sahabatnya berambut kuning itu sedang dirundung dilema sekarang ini.

"Heh? Apa?...Setelah pulang dari Suna?...itu 5 bulan lagi nenek Tsunade!, mati saja aku kalau harus menunggu 5 bulan lagi!" Naruto merutuk dan menyumpah di dalam hatinya.

"Lalu apa lagi?, setelah lima bulan, apa kau akan berkata padaku kalau Hinata pergi menjalankan sebuah misi keantah berantah dan tidak akan kembali sampai 1 tahun kedepan? Cih, jangan harap aku mau!"

"Kau bertingkah sepeti bocah berumur 5 tahun!" Tsunade memukul mejanya marah.

"Bukannya senang Hinata justru akan kecewa kalau kau seperti ini!, dia akan sedih kalau kau menjadikannya alasan untuk menolak kesempatan berharga ini Naruto!" mendengarnya Naruto hanya bisa mengernyitkan kening, dia tahu Tsunade benar untuk hal yang satu ini, hanya saja menjadi Hokage atau apapun itu menjadi tidak terlalu penting lagi sekarang, dia hanya ingin Hinata di pelukannya sekarang juga.

"Aku kan bisa belajar dari mu, Nenek!" Naruto berkata pelan. Wajah Hinata yang tersenyum dibenaknya berubah menjadi Hinata yang terisak memandangnya, Naruto memijat pangkal hidungnya, dia tiba-tiba terserang sakit kepala.

"Ini berguna agar kau bisa melihat seperti apa Suna ditangani!, Mempelajari dan mengamati tanda-tanda sekecil apapun yang bisa kau lihat!" Sedikit banyak, Tsunade ingin mengambil keuntungan atas kebaikan hati Kazekage pada Naruto ini. Naruto Uzumaki yang tengah mempersiapkan diri untuk memimpin Konoha sebentar lagi.

"Lagi pula apa kau sudah tahu apa yang akan kau katakan padanya nanti?" Tsunade mengamati rahang Naruto yang mengerat, mata biru itu tampak kebingungan.

"Apa kau sudah mengetahui siapa yang lebih kau cintai di antara Hinata dan Sakura?" Shizune telah menceritakan semuanya pada Tsunade tentang permasalahan yang menimpa tiga orang Shinobinya itu.

"Kalau kau masih ragu, kau hanya akan berakhir menyakiti mereka berdua Naruto!" Naruto hanya diam tidak menjawab, wajahnya terlihat kalut.

"Gunakanlah kesempatan ini untuk merenung dan menenangkan diri, pikirkan matang-matang sebelum kau mengambil keputusan!" kata-kata Tsunade terdengar masuk akal ditelinga Naruto, dia tidak ingin menyakiti dua orang gadis yang paling berharga dihidupnya itu, dia harus berpikir, benar, berpikir. Kalau terus begini, Hinata mungkin akan membencinya.

"Baik lah aku akan pergi!," Naruto menjawab pelan tawaran Tsunade.

"Tapi dengan satu syarat!,"

"Hinata tidak boleh kau perintah menjalankan misi di luar Konoha selama aku berada di Suna!" Tsunade mengernyitkan kening, dasar bocah ini, memberi syarat seenak jidatnya.

"Dengan begitu, setidaknya aku akan tenang mengetahui dia akan aman selama aku pergi!" Naruto berkata sambil melihat keluar jendela, memandang arah kepergian Hinata, meski tidak beralasan, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Hinata sekarang ini, hatinya mengatakan sesuatu sedang terjadi.

"Baiklah!, Kita sepakat!" Tsunade mengangguk-angguk mengiyakan.

"Segeralah bersiap, kau harus berangkat hari ini juga!"


Riuh rendah obrolan ringan calon penumpang kapal terdengar samar di antara bunyi deburan ombak buas yang menghempas dermaga. Hinata duduk termenung memandang ombak yang bergerak kokoh silih berganti menghantam karang di tepian laut. Tujuh hari tidak terasa sudah berlalu, misi sudah dilaksanakan dengan lancar, sekarang sudah saatnya untuk kembali pulang dan menyelesaikan apa yang ditinggalkannya di Konoha. Di kejauhan terlihat kapal yang seharusnya saat ini sudah berlayar pulang menuju Konoha sedang terombang-ambing tidak tentu di tengah samudera, kapal itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera merapat ke dermaga, Hinata menghela napas karena lelah menunggu.

"Semuanya!" Suara melengking seorang lelaki paruh baya menarik perhatian semua orang yang ada di sekitar dermaga itu.

"Keberangkatan kapal menuju Negara api akan ditunda hingga esok pagi!" lelaki itu mengumumkan keras-keras agar semua bisa mendengar, seruan kecewa tidak setuju datang menjawab dari berbagai penjuru.

"Seperti yang bisa kita semua lihat sekarang!" Lelaki itu memandang ke ujung dermaga.

"Ombak besar membuat kapal tidak bisa merapat kedermaga, keadaan ini kemungkinan besar baru akan mereda esok pagi!" Gerutuan-gerutuan kesal mulai terdengar bergemuruh, namun keadaan itu berangsur-angsur berkurang seiring dengan bubarnya kerumunan calon penumpang yang kesal itu.

Hinata tidak beranjak dari tempat duduknya di tepi pagar pembatas dermaga, dia masih saja memperhatikan kapal kecil yang bergerak kesana kemari di ayunkan ombak. Rambut Indigonya tergelung asal, menyatu berantakan di atas tengkuknya yang jejang, anak-anak rambut yang lolos dari ikatan mencuat bergoyang-goyang diterpa angin laut di sore hari, udara dingin yang seminggu lalu pernah diperingatkan Tsunade padanya terasa mengigit tulang membuat Hinata mengeratkan jubah tebal yang dikenakannya. Hinata menikmati pemandangan horizon yang tercipta di kaki langit, warna lembayung terlihat berbatas dengan warna gelap di bagian atasnya, laut seolah perlahan-lahan menelan terang dan melahirkan kegelapan. Hinata terus duduk diam memperhatikan bagaimana kegelapan yang begitu pekat berubah mempesona dengan bintang yang berkelip di langit berbulan penuh.

Kalau matahari adalah Naruto, langit malam ini mungkin lebih seperti Sasuke. Misterius dan menyimpan berjuta rahasia di dalamnya, gelap tapi indah, menakutkan namun membuat penasaran, membuat gugup namun menyenangkan. Berada di sisi Sasuke membuat Hinata menjadi gugup dan canggung, tapi bukan canggung yang tidak nyaman, melainkan kecanggungan dan kegugupan yang bisa membuat seseorang ketagihan untuk merasakannya lagi dan lagi. Hinata tersenyum kecil ketika mendapati dirinya sekali lagi mengingat lelaki itu, setelah pergi meninggalkan Konoha sosok itu lah yang terus mengisi benaknya, mengusir duka dan sakit yang disebabkan oleh hatinya yang membusuk. Ya… membusuk, patah hati yang berlangsung terus menerus membuat Hinata merasa hatinya membusuk. Dia marah, tapi bukan pada Naruto atau Sakura tapi justru pada dirinya sendiri yang terlalu memanjakan perasaan. Pertemuan kembali dengan Sasuke dua bulan yang lalu membuat Hinata bingung akan perasaannya pada pemuda itu. Mungkin ini gila, tapi Hinata merasakannya, perasaan yang mungkin tidak bertuan, tidak berdasar, dan tidak bernama. Perasaan yang membantunya menata hatinya kembali.

"Nona!" Suara lelaki paruh baya yang tadi mengabarkan penundaan keberangkatan kapal terdengar berseru kearah Hinata, gadis itu pun menoleh.

"Iya?"

"Kau calon penumpang kapal itu juga?" Hinata mengangguk menjawabnya.

"Sebaiknya kau segera mencari penginapan untuk bermalam malam ini!, Udaranya akan terlalu dingin untuk kau habiskan diluar sini!" Setelah mengatakan itu lelaki itu mengangguk dan berlenggang pergi.

Hinata akhirnya menyadari kalau sekarang ini ujung jari-jarinya terasa membeku karena dingin, dia tertawa pelan mentertawakan kebodohannya. Dia terlalu hanyut mengagumi keindahan alam semesta sehingga tidak lagi meraskan dingin yang membuat kaku otot-ototnya.

"Terimakasih!" Hinata bergumam pelan pada punggung pria yang memperingatkannya tadi.

Mengikuti saran orang itu, Hinata segera pergi mencari penginapan di sekitar dermaga namun dia sepertinya sudah terlambat. Semua penginapan yang disinggahinya sudah penuh oleh pengunjung yang kebanyakan juga penumpang kapal yang tertunda keberangkatannya itu. Hinata keluar dari pintu sebuah penginapan terakhir yang ada di daerah ini, yang ini juga sudah penuh, Hinata meghembuskan napas ketelapak tangannya, kemudian mengusap-usapkan mereka satu sama lain berharap bisa mendapat sedikit kehangatan. Benaknya mengingat tempat yang mungkin bisa di gunakannya utuk bermalam malam ini, dia melewatinya tadi ketika perjalanan menuju dermaga ini. Tidak terlalu jauh kedalam hutan tadi Hinata melihata ada gua kecil yang sepertinya nyaman untuk digunakan mendirikan tenda dan menyalakan api unggun. Tanpa menunggu lama Hinata segera pergi menuju gua itu.

Udara semakin menggigit kulit, dinginnya seakan menembus tulang, Hinata menggigil kedinginan. Gadis bermata putih itu berjalan melewati pepohonan dengan diterangi cahaya bulan. Napasnya berhembus membentuk uap di depan mulutnya, menegaskan betapa dinginnya udara malam ini, Hinata melompat-lompat masuk kedalam gua yang ditujunya, beringsut masuk menghindari terpaan udara dingin di luar sana. Meskipun bukan penginapan setidaknya tempat ini bisa menghalangi deburan angin dingin yang terus menghantam.

Hinata menyandarkan diri di dinding gua, ingin beristirahat sebentar sebelum bergerak mendirikan tendanya dan mencari kayu untuk menyalakan api unggun sebagai penghangat. Dia memeluk tubuhnya sendiri erat-erat kemudian memejamkan mata, dia kelelahan dan mengantuk. Desau angin yang berhembus membuat Hinata malas menggerakkan tubuhnya, dia hampir saja tertidur ketika merasakan udara hangat yang menjalar di pipinya. Mata Hinata terbuka, dia diam mengamati sekeliling, semakin dia menghayati, semakin dia merasakan udara hangat yang lembab menguar dari dalam goa. Kemudian matanya melihat cahaya kecil kehijauaan yang berjejer bergerombol dilantai dipojokan gua. Karena penasaran gadis itu menghampiri cahaya itu, Hinata berjongkok mengamati.

"Jamur?" Benda kecil bercahaya hijau itu terlihat seperti jamur. Hinata meraih salah satunya dan mengamati dengan lebih seksama lagi, ternyata memang benar jamur. Hinata tersenyum, baru kali ini dia melihat jamur seperti ini, bercahaya di kegelapan.

Jamur-jamur kecil itu bercahaya di dalam kegelapan gua, tumbuh bergerombol-gerombol dan berjejer, semakin ke dalam jumlahnya semakin banyak. Mengikuti cahaya-cahaya kecil kehijauan itu Hinata berjalan perlahan semakin dalam memasuki gua, semakin jauh udara terasa semakin hangat dan lembab. Samar-samar di ujung kegelapan Hinata bisa melihat seberkas cahaya pucat menembus celah sempit dinding gua, dengan rasa penasaran yang terpompa Hinata berjalan semakin cepat menghampiri celah yang merembeskan cahaya itu. Dengan Hati-hati Hinata mengintip kebalik celah itu, dan sesuatu yang terhampar di depan matanya membuat Hinata tersentak, kehilangan kata-kata oleh pesonanya.

"Kami-sama!..." Hinata berseru pelan.

Tersembunyi di balik dinding gua itu ada tempat paling indah yang pernah di lihat oleh Hinata. Udara lembab yang hangat memanjakan kulit Hinata yang hampir membeku, kehangatan itu bersumber dari kolam air yang terlihat mengepulkan asap, menjanjikan kehangatan di dalamnya. Cahaya pucat yang tadi dilihat Hinata berasal dari cahaya rembulan yang berpendar menembus langit-langit gua yang berlubang, tidak terlalu besar, tapi cukup untuk menerangi tempat itu dengan cahaya putih pucat yang terpantul oleh air kolam kepenjuru dinding gua. Di sisi kolam air itu, batu-batu besar tersebar alami semakin menambah keindahan, dan jamur-jamur kecil bercahaya tadi di dalam sini jumlahnya semakin banyak berpendar terhampar bagai karpet yang mengalasi lantai gua, bahkan ada juga yang terlihat berkelip-kelip di penjuru arah.

"Indahnya!" Hinata memekik tertahan.

Perlahan nona Hyuga itu menjejakkan kaki ke dalam keajaiban alam itu, alangkah terkejutnya dia ketika dalam sekejap cahaya yang berkelip-kelip tadi tiba-tiba berterbangan mengitari tempat itu dengan acak, menambah pesona yang menyihir. Ternyata cahaya kehijauan tadi bukan semuanya berasal dari jamur, cahaya yang berkelip-kelip seperti bintang itu berasal dari kunang-kunang. Dengan penuh kekaguman Hinata masuk mendekat berputar-putar memperhatikan sekelilingnya, bau lumut dan lumpur tercium semakin pekat di dalam sini. Setelah puas mengamati setiap jengkal keindahan di depan matanya, Hinata bergerak mendekat ketepi kolam yang terlihat begitu nyaman, dia menggulungkan lengan jubahnya dan mencelupkan tangannya kedalam air kolam.

"Hmm….." Hinata bergumam nyaman, menikmati kehangatan yang memanjakan tangannya. Gadis itu tersenyum lebar, dia ingin segera berendam di kolam itu.

Perlahan Hinata melepaskan seluruh pakaian yang menutupi tubuhnya, tidak menyisakan sehelai benangpun untuk menutupi keanggunan wanita pada dirinya, dia polos seperti bayi yang baru lahir. Pakaiannya dia biarkan beserakan di atas batu besar di tepi kolam. Tidak sabar, Hinata segera berjalan memasuki air hangat yang sudah menunggunya. Yang pertama menyentuh air adalah sepasang kakinya yang terasa sakit karena dingin dan lelah selama menempuh perjalanan dari kediaman lord Fujin, semakin dia melangkah ketinggian air semakin bertambah, merendam perlahan setiap inci tubuh Hinata sampai dengan sebatas dada. Hinata memejamkan mata bersandar disebuah batu besar yang landai di tepi kolam, batu itu sangat landai sehingga Hinata bisa membaringkan tubuhnya santai di dalam air, hanya bahu dan kepalanya yang bisa terlihat sekarang ini.

"Hmm…." Lenguhan nyaman sekali lagi keluar dari bibirnya yang terkatup. Air hangat memanjakan setiap otot yang kaku di tubuh Hinata, pikiran-pikiran yang mengganggu untuk sesaat lenyap dari benaknya, santai dan tenang, desisan air yang merembes dari celah-celah mata air di dinding gua menjadi musik penenang yang membuat Hinata terhanyut. Hinata begitu terlena dengan kenyamanan yang dialaminya, sehingga melewatkan satu hal penting ditempat itu. Sebuah katana tersender tegak disalah satu batu besar di belakang kepalanya, dia benar-benar melewatkannya, sebuah katana hitam yang berlambang 'Uchiha'.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan padaku?" Sasuke menggeram pada seorang wanita berambut biru yang tengah menggeliat tidak nyaman dibawah kunai yang ditempelkan Sasuke erat di lehernya.

"Apa maksudmu Sasuke?" Wanita itu memandang Sasuke dengan wajah tidak bersalah, meski hatinya saat ini tengah tersenyum lebar mengetahui tubuh Sasuke sudah mulai bereaksi pada ramuan yang dipaparkannya pada pemuda itu.

"Jangan berpura-pura bodoh!, Jarum yang kau tusukkan di tanganku!, apa yang kau lakukan pada tubuhku?" Sasuke mengerutkan kening menahan rasa sakit dan panas yang menjalar di tubuhnya, perasaan itu berawal dari luka tusukan jarum kecil di ujung jari telunjuknya. Wanita itu tersenyum kecil ketika merasakan tekanan kunai dilehernya mulai mengendur, kening berkerut Sasuke membuktikan bahwa pemuda itu kini mulai mengalami hal yang diinginkannya. Dengan tidak tahu malu wanita itu mengangkat tangannya, membelai dada telanjang Sasuke dengan belaian sensual, tubuh bagian atasnya dia lentikkan kearah Sasuke, membuat sang pemuda yang sudah panas itu menjadi mendidih. Sang wanita bertindak semakin berani saat melihat Sasuke menelan air liur dengan susah payah, dia membelai dan menjelajah tubuh Sasuke dengan jemarinya. Sasuke terkesiap saat jemari itu menyentuh bagian tubuh pribadinya yang mulai bersemangat di bawah sana, marah besar, ditepisnya keras-keras tangan tidak tahu malu itu dari tubuhnya.

"Katakan!" Sasuke menekan kuat kunai sampai leher mulus itu mengeluarkan setetes darah. Dia harusnya tidak pernah menyetujui pekerjaan berrekan kerja ini, terlebih lagi rekan kerja seperti wanita gila di depannya sekarang ini. Uang sialan lah yang memaksanya mengambil pekerjaan ini.

"Risin!" Sang wanita terlihat sedikit ketakutan ketika menatap mata Sasuke yang sekarang telah berubah menjadi Sharinggan yang berkilau. Sasuke berusaha keras untuk mengendalikan diri dengan kemampuan terbaik yang di milikinya, dia tidak sudi jatuh ke dalam pelukan perempuan jalang ini.

"Risin?" Sasuke jelas tahu betul apa itu. Racun yang dirinya sendiri juga sering mengunakannya untuk menyiksa tahanan yang tidak mau memberikan informasi. Kini dia mengerti dari mana rasa sakit dan nyeri yang berdenyut-denyut itu datang, sekarang ini risin itu pasti sedang menjalar dan menghancurkan sel-sel tubuhnya. Itu menjelaskan warna kebiruan yang mulai merambat naik membusukkan tiap inci tangan kirinya yang tertusuk oleh jarum. Tapi ada hal lain yang terjadi di dalam tubuh Sasuke, rasa panas dan mendamba sentuhan yang dirasakannya jelas tidak berasal dari risin, pasti itu berasal dari sesuatu yang lain.

"Dan sedikit Tribulus Terristis ini!" Wanita itu menyeringai licik, sambil melambai-lambaikan setangkai tanaman berbunga kuning di depan wajah Sasuke.

'Perangsang!' Benak Sasuke berteriak menyadari tanaman apa itu. Dia memang bukan ahli tanaman, tapi dia pernah mendengar tentang tanaman terlarang yang satu ini.

"Berikan penawarnya sekarang!" Sasuke mendesis marah di sela giginya yang bergemeratak. Sebenarnya reaksi risin bisa hilang dengan mudah, cakra penyembuh dari seorang medic nin bisa dengan segera mengakhiri penderitaannya saat ini, tapi berhubung tidak ada medic nin sekarang di sini, jalan keluar satu-satunya hanyalah penawar yang pastinya dimiliki oleh sang sumber mala petaka. Sang wanita tersenyum penuh arti, kemudian berbisik.

"Baiklah!, tapi singkirkan dulu kunai ini dari leherku!. Kau melukaiku Sasuke!" Wanita itu merengek manja, tidak punya muka. Ragu-ragu Sasuke melepaskan kunai itu, dia mulai berkeringat, merasa panas seakan terbakar dari dalam, menanggalkan pakaian yang dikenakannya tadi sepertinya tidak memberikan perubahan pada rasa panas yang dirasakannya. Tangannya gemetaran, matanya mengamati tiap gerakan wanita di depannya.

"Begini lebih nyaman kan!" Wanita itu memandangi Sasuke dengan tatapan penuh keinginan.

"Cepat Berikan!" Sasuke membentak geram, jantungnya berpacu semakin cepat di dalam dadanya, dia sangat bersemangat dibeberapa tempat. Sasuke tahu ini akan mempercepat reaksi pembusukan oleh risin di tubuhnya.

"Tenanglah!, santai saja!" Wanita itu melingkarkan tangan kirinya di leher Sasuke sementara tangan yang lain tengah membuat gerakkan memutar di dada Sasuke dengan jemarinya yang lentik.

"Kita bisa menyelesaikan ini dengan cara yang jauh lebih menyenangkan Sasuke!" Kata-kata itu membuat darah Sasuke berdesir. Dengan sigap Sasuke mencengkram leher wanita itu dengan keras, berusaha menjauhkan dirinya dari godaan yang tidak tertahan.

"Cepat berikan penawarnya!" Sasuke menghempaskan wanita itu ketanah, masih dengan jari-jari yang mencengram erat leher wanita itu.

"Itu tidak berguna, penawar risin itu tidak akan berguna selama kau masih terlalu bersemangat seperti sekarang ini. Penawarnya akan kalah cepat dengan penyebarannya, kau akan mati membusuk dalam beberapa jam kalau terus melawan keinginanmu!" Wanita itu sekarang mengerang prustasi. Sasuke terdiam, apa yang di katakan wanita itu segera di benarkan oleh tubuhnya, rasa sakit yang menyengat kembali menjalar tidak terkendali, dagingnya yang membusuk kebiruan telah mencapai pertengahan pergelangan tangan bawahnya. Semakin dia menekan nafsunya, semakin cepat tubuhnya membusuk.

"Biarkan aku memuaskanmu dulu Sasuke!" Gadis itu mendesis, menggoda.

"Murahan!" Sasuke menatap jijik, kemudian melompat pergi meninggalkan wanita itu tergeletak kebingungan.

"Tunggu Sasuke!, kau akan mati!" Dia memekik takut, tidak pernah ia mengira kalau Sasuke akan sekeras kepala ini, dia hanya ingin merasakan Sasuke, tidak pernah bermaksud untuk membunuh pria tampan itu.

Sasuke berjalan terseok-seok menuju tempat dia meninggalkan katananya, dia merasa tubuhnya sebentar lagi akan terbakar habis menjadi abu karena rasa panas yang berkobar dari dalam dirinya. Dia harus segera menghentikan ini meski itu berarti akan kehilangan sebelah tangan, sekali ayunan katana tajamnya maka berakhirlah sudah semuanya, ya begitu, itu adalah jalan keluar yang paling baik saat ini. Dalam keadaan terengah dan teramat sangat bersemangat Sasuke berjalan cepat menuju kolam air panas tempat dia meninggalkan katananya tadi. Tanpa mengetahui apa yang tengah menunggunya di dalam sana Sasuke beringsut melewati celah kecil menuju surga kecil yang ditemukannya beberapa hari yang lalu.

Suara terkesiap pelan seorang wanita membantu Sasuke menyadari lebih cepat keadaan yang dihadapinya. Sasuke ternganga, beberapa meter dari tempatnya berdiri, berada sesosok gadis yang paling dirindukannya, satu-satunya di dunia ini gadis yang ingin disentuhnya. Mata amethyst itu membulat terbuka memandang kearahnya, pipi mulusnya merona hebat, rambut indigo tergelung naik menunjukkan leher jenjangnya yang putih. Sasuke mengerang kesal ketika matanya menangkap sosok itu keseluruhan, berendam sampai batas dada tanpa sedikit pun pelindung yang bisa menghalangi penglihatannya dari tubuh yang membayang jelas dari dalam air jernih itu. Demi tuhan trik apa lagi yang dilakukan oleh benaknya saat ini pada dirinya, tidak bisakah benaknya memilih saat yang lebih tepat untuk berkhayal?.

"Arrhh…!" Sasuke berteriak nyaring melampiaskan rasa sakit dan gairah yang menderanya.

"Sasuke?" Hinata memanggil khawatir kearah Sasuke, pemuda itu terlihat sangat kesakitan. Sasuke terkejut, dia berpaling cepat memandang sosok itu, sekarang dia menyadarinya, sosok itu nyata, bukan khayalan, bernapas dan memiliki cakra.

"Brengsek!" Sasuke bergumam di bawah napasnya yang terasa semakin berat, mememaki kasar sesuatu yang dipanggil kebetulan. Kebetulan brengsek. Takdir Sialan.

Melihat Sasuke semakin kesakitan Hinata segera mengaktifkan byakugannya. Dari tangan Sasuke dia bisa melihat sumber kesakitan itu, tengah bergerak amat cepat membusukkan sel-sel, merayapi Sasuke sampai kebahunya.

"Sasuke!, Kau terkena racun! Apa yang terjadi?, Kami-sama….kenapa kau selalu terluka setiap kita bertemu?" Hinata mulai panik mendapati racun itu menjalar semakin dekat ke arah paru-paru Sasuke.

"Pergi...! Sasuke berteriak nyaring sambil menunduk, tidak ingin melihat Hinata yang mulai mendekat padanya. Sepertinya karena terlalu khawatir gadis itu lupa akan kepolosan tubuhnya saat ini. Hinata kaget mendengar teriakan marah itu.

"Pergi sekarang juga…..!" Gejolak yang dirasakan Sasuke membuatnya merasa ingin mati.

"Apa?... Sasuke aku bisa menyembuhkanmu!" Hinata berkata keras, tidak mengetahui efek seperti apa yang dirasakan Sasuke saat telinga pemuda itu menangkapnya dengan arti yang berbeda.

"Pergi….!, sekarang…! kumohon!" Sasuke memelas dengan kemampuan terakhirnya.

"Tidak akan!...Tidak sampai aku mengeluarkan racun itu dari tubuhmu!" Hinata berujar lantang, terang sekali tidak mengetahui konsekuensi apa yang tengah menghadangnya.

Sasuke tidak bisa lagi menahan diri, perlahan ia berjalan mendekat ke bibir kolam, tangannya dengan tidak sabaran membuka pakaian yang masih menutupi bagian bawah tubuhnya. Hinata membuang muka, sangat terkejut dengan tingkah Sasuke yang tiba-tiba mengekspos diri di depannya. Sasuke melempar asal kain itu kesembarang tempat, segera melompat masuk ke dalam kolam, lalu berjalan dengan langkah teratur mendekat pada Hinata. Tubuhnya semakin bersemangat, dia menyadarinya dengan semakin menjalarnya rasa sakit nyeri berdenyut itu ke dalam rongga dadanya. Hinata yang masih mengaktifkan byakugan juga menyadari itu, dia menggigit bibir khawatir, di saat bersamaan kebingungan dengan keseluruhan situasi yang dihadapinya saat ini. Gadis itu mundur teratur menjauh, berharap bisa memberinya cukup jarak dari Sasuke yang sedang memandangnya dengan tatapan lapar dan panas. Meski sedikit terlambat akhirnya ia menyadari kepolosan tubuhnya saat ini didepan Sasuke yang juga sama polosnya.

"Pergi ….. Hinata!" Masih memiliki sedikit akal sehat yang bekerja Sasuke memperingatkan lagi gadis itu.

"Kau terkena racun Sasuke!, biarkan aku merawatmu!" Gadis itu mencicit pelan, perlahan merasakan debaran di dadanya mulai menggema.

Racun terlihat mulai menjalari ujung paru-paru kiri Sasuke. Sang Uchiha meringis merasakan sakit yang sangat di dalam dadanya. Tanpa permisi Hinata langsung menjulurkan tangannya ke arah Sasuke, dengan hati-hati Hinata meletakkan telapak tangannya yang sudah dialiri cakra penyembuh ke dada Sasuke yang mulai bermasalah. Hinata berkonsentrasi penuh mengalirkan cakra penyembuhnya, berusaha menguraikan racun yang tengah menggerogoti Sasuke dari dalam. Keningnya berkerut takut, ketika menyadari racun itu menjalar begitu cepat, sedetik setelah satu bagian terurai yang lain segera menjalar menggantikan, penyebarannya terlalu cepat. Tubuh Hinata berlonjak-lonjak khawatir, dia di rundung rasa takut yang semakin besar ketika paru-paru kiri Sasuke mulai menghitam hampir setengahnya, dalam hitungan detik racun itu akan menjalar ke jantung Sasuke. Menyadari kekhawatiran Hinata Sasuke berbisik ditelinga gadis itu.

"Hentikan!, Itu tidak berguna! kau hanya membuang-buang cakramu!" Sasuke berkata sambil tersengal. Hinata mulai menagis, tidak berhenti berusaha menguaraikan racun itu.

"Racun apa ini?" Hinata bertanya sambil terisak, tidak sekejappun mengalihkan pandangannya dari dada Sasuke yang semakin lebam kehitaman.

"Risin!" Sasuke berbisik sambil membelai lembut rambut gadis itu, mati-matian dia menahan keinginan yang menggelora di dadanya. Melihat Hinata yang begitu mengkhawatirkannya membuat Sasuke mengurungkan niatnya untuk menyentuh gadis itu, mengingatkannya kembali kalau gadis ini tidak layak diperlakukan dengan hina, dia tidak akan menyakiti gadis ini meski kematian adalah pertukarannya. Kepala Hinata bergeleng-geleng tidak percaya, perutnya terasa mulas, kepanikannya semakin menjadi-jadi dengan semakin dekatnya jarak racun itu dengan jantung Sasuke.

"Ini tidak mau berhenti!" Hinata memekik takut, dia gelagapan tidak terkendali.

"Itu akan berhenti!" Sasuke membelai wajah Hinata yang berurai air mata dengan jemarinya, memandang gadis itu lekat dimatanya, kalau dia akan mati setidaknya ia ingin melihat sepasang keindahan itu sebelum dia menghembuskan napas terakhir.

"Tidak, mereka bergerak semakin cepat!" Air mata berderai semakin deras, kebingungan dan ketakutan terlihat jelas di wajahnya yang mulai memucat.

"Mereka akan berhenti sebentar lagi!, saat jantungku berhenti!" Sasuke berucap lembut, membelai pipi hinata dengan punggung tangan kanannya. Hinata membelalak memandang Sasuke.

"Hentikan!, jangan katakan itu!" Hinata memompakan cakranya semakin deras lagi ke dada Sasuke. Wajah gadis khawatir itu semakin pucat hingga bibirnya juga mulai ikut memutih.

"Jangan mati!, kau tidak boleh mati!, Sasuke jangan mati!" Tubuh Hinata bergetar karena tangisan yang meledak.

"Kumohon jangan mati Sasuke!" Hinata memohon-mohon putus asa. Sasuke tidak mampu berkata-kata, dia merasakan dorongan yang teramat kuat.

Sasuke merengkuh dan mendekap erat tubuh Hinata pada tubuhnya, mencium bibir gadis itu dengan ganas, penuh tekanan dan keinginan yang menyiksanya sejak tadi. Tangannya membelai lembut tubuh Hinata selolah dia tengah memetik alat musik berdawai. Hinata terkejut akan tindakan Sasuke, namun byakugannya tidak luput memperhatikan penyebaran racun yang melambat derastis ketika Sasuke menciumnya. Semakin dalam ciuman Sasuke, semakin pelan penyebaran racun itu. Hinata akhirnya menyadari keterkaitan kedua hal ini. Cakra Sasuke bergerak tidak beraturan, menggila dan bergejolak, membuat penyebaran racun itupun semakin cepat, tapi ketika semangat yang menjalarinya bisa dia curahkan dan tidak tertahan, intensitas cakra yang mendorong racun itu pun menjadi terhenti karena teralihkan untuk hal lain. Wajah Hinata memerah tiba-tiba ketika menyadari betapa 'bersemangatnya' Sasuke. Setiap kecupan yang dilancarkan Sasuke membuat Hinata semakin tidak bisa berkonsentrasi pada byakugannya lagi, hingga perlahan-lahan dia mulai menutup mata dan terhanyut dalam pusaran gelombang kenikmatan yang terbentuk akibat dari jamahan dan dekapan sang Uchiha.

Ragu-ragu kini Hinata mulai membalas ciuman Sasuke, membuat pemuda itu mengerang dan menyerangnya semakin liar. Tidak hanya kecupan, kini Sasuke bertindak semakin berani dengan menyeruakkan lidahnya melewati bibir Hinata. Hinata merasakan suatu dorongan kuat yang tersulut berkobar akibat desakan itu, tidak pernah sebelumnya dia merasakan perasaan seperti ini ketika berciuman dengan Naruto. Dengan keberanian yang entah datang dari mana Hinata balas merengkuh pelukan Sasuke mentiadakan jarak sempit di antara mereka. Sesuatu yang menekan keras diperutnya membuat Hinata terkesiap hingga dia mundur terkejut melepaskan dekapannya. Tangan Sasuke yang berada dipunggungnya menghalangi Hinata untuk mundur terlalu jauh dari dirinya.

Menyadari ketidak nyamanan Hinata, Sasuke melepaskan ciumannya, dia menatap gadis yang tengah membelalak itu dengan tatapan putus asa. Sasuke menjatuhkan wajahnya kebahu Hinata, sebelum mengendus pelan merambat naik ketelinga gadis itu.

"Pergilah sekarang!, aku tidak ingin menyakitimu!" Sasuke berkata pelan sambil meringis ketika rasa sakit kembali menyerang dadanya. Hinata akhirnya mengerti mengapa Sasuke menyuruhnya pergi, meringis kesakitan pemuda itu tengah berjuang melawan nafsunya. Sejenak Hinata ketakuan, dia tidak ingin Sasuke mati, dia tidak ingin kehilangan pemuda ini, tapi apa yang mungkin akan mereka lakukan adalah dosa.

"Hinata" Sasuke meremas pinggul Hinata, merasakan nafsu yang kian gencar menderu dirinya.

Hinata menggeleng tegas, dia tidak ingin Sasuke menderita. Dengan yakin Hinata merengkuh kembali Sasuke kedalam pelukannya, membuat tubuh mereka bersinggungan di tempat yang paling rahasia. Sasuke melenguh, kemudian berbisik di telinga Hinata.

"Aku tidak bisa mengendalikan diriku Hinata!...pergilah!" Sasuke memelas serak, dan Hinata menyadarinya, kepergiannya berarti kematian bagi Sasuke.

"Aku tidak mau Sasuke!" Hinata menjauhkan wajah Sasuke dari lehernya, diciumnya bibir pemuda itu dengan sebuah kecupan sayang. Sasuke memandang lekat mata Hinata, berusaha mencari-cari ketakutan dan kebohongan di sepasang rembulan itu, namun dia tidak menemukannya, disana hanya ada kilatan persetujuan yang tergambar tanpa terucapkan. Kehangatan dan keinginan baru memenuhi diri Sasuke, Hinata juga menginginkannya, oh tuhan apa dia bermimpi?.

"Aku menginginkanmu Hinata!" Sasuke berusaha menegaskan sekali lagi, ingin memastikan Hinata benar-benar menyadari dan menginginkan apa yang akan segera terjadi jika dia bersikeras untuk tetap tinggal.

Seruan itu di balas dengan ciuman malu-malu dari bibir Hinata. Maka dengan itulah segala pengendalian diri yang tersisa hilang lenyap dalam sekejap dari diri Sasuke. Sasuke melepaskan hasratnya yang terpendam dengan lugas tanpa beban, ciuman mereka semakin mengikat tiap decapan, tangan Sasuke bergerak lihai meninggalkan jejak membara dikulit selembut satin, lenguhan dan erangan tertahan dari Hinata membuat Sasuke semakin menggila. Tanpa mereka sadari saat ini mereka sudah bersandar dibatu landai ditepi kolam. Satu sentakan keras membawa pekikan pilu dari bibir gadis Hyuga yang kehilangan mahkota dirinya. Tubuh Hinata menegang kaku, membuat Sasuke meringis di antara nikmat dan sakit.

Hati-hati Sasuke mulai menyelami gelombang itu perlahan, rintihan awalnya mengiringi sentakan tubuhnya, namun pelan-pelan Hinata juga mulai ikut menyelami gelombang yang sama dengannya. Berpacu bersama, saling mereguk dan hanyut dalam getaran menyenangkan yang tidak tertahan. Deruan napas semakin memburu, debaran jantung semakin menyatu, Hinata mencengkram kuat punggung Sasuke, merasakan Sasuke bergerak luar biasa dalam di dalam tubuhnya. Tumpukan rasa menekan terasa akan lepas dan meledak, Hinata melengkungkan tubuhnya kepada Sasuke berusaha menyongsong rasa yang tidak bisa dia jelaskan. Sasuke hanyut dalam irama pertemuan dirinya dan Hinata, hilang akal ketika Hinata ikut menyambut kehadirannya. Gerakan Sasuke yang semakin liar membawa Hinata semakin jauh ke awan, hingga akhirnya dengan satu hujaman yang keras dan dalam mereka berdua mencapai nirwana bersamaan. Sasuke memeluk tubuh Hinata erat-erat, menanamkan benihnya ke dalam rahim Hinata dengan sebuah lenguhan panjang, pelepasan yang terasa mengguncang raganya dengan emosi dan kepuasan. Hinata menutup matanya rapat-rapat menikmati rasa yang memenuhi seluruh tubuhnya, mulutnya terbuka berteriak tanpa bersuara, sensasi menjalari tiap pori-pori dikulitnya, dia tidak pernah tahu ada sesuatu yang bisa terasa seperti ini.

"Hi…na…ta!" Sasuke mengecup setiap jengkal kulit Hinata yang ditemui bibirnya, meresapi sisa-sisa kenikmatan dengan mengagungkan wanitanya.

Hinata menuruni puncak dengan segera ketika dia mengingat racun yang masih mengancam nyawa lelaki dipelukannya. Tangan gemetar diarahkannya kebahu Sasuke yang lebam menghitam, dengan napas yang masih tersengal dia memompakan seluruh kemampuan yang tersisa untuk menguraikan racun itu. Sasuke membuka mata memandangi Hinata. Gadis itu gemetaran belum sepenuhnya meninggalkan keindahan, namun tangannya telah memompakan cakra penyembuh ketubuhnya. Dengan tubuh bertumpu dikedua siku, Sasuke menciumi sayang setiap inci kulit wajah Hinata, memuji tuhan dengan segala keagungannya, bersyukur karena diijinkan mengenal mahkluk bernama Hinata Hyuga. Senyum kelegaan terukir dibibir bengkak kemerahan sang wanita, racun yang sesaat lalu beringas kini telah bisa dijinakkan sepenuhnya. Tatapan mata mereka akhirnya bertemu, mengatakan sejuta emosi yang tidak terangkai oleh kata-kata.

"Hinata!..." Sasuke menyatukan dahi mereka, berbagi napas satu sama lain, sama-sama mengakui kehadiran perasaan yang tidak ternafikan lagi.

'Mungkin memang gila, bodoh dan tergesa-gesa, tapi aku tidak mampu lagi menyangkal rasa yang ada dihatiku. Naruto-kun maafkan aku!' Hinata bergumam dibenaknya, dielusnya pipi Sasuke dengan buku-buku jarinya.

"Jangan tinggalkan aku!" Sasuke berkata pelan, meruntuhkan dinding kedinginan dari nada suaranya.

'Naruto-kun sepertinya akulah penghianatnya, akulah penghianat dalam hubungan ini!' Hinata mengecup puncak hidung Sasuke.

"Teruslah berada disisiku!", 'Tinggalkan Naruto!, aku membutuhkanmu!' Sasuke berdoa dalam hati, setelah ini dia akan menjadi pemilik Hinata.

'Maafkan aku, karena aku telah jatuh cinta pada Sasuke Uchiha!' Benak Hinata kini telah memberi nama pada perasaan yang selalu ada didadanya untuk Sasuke.

'Aku jatuh cinta….jatuh cinta setengah mati padanya!' Hinata merengkuh Sasuke kedalam pelukannya, menikmati debaran yang menenangkan hingga jatuh kealam mimpi, bersama, berdua.

.

.

.

Sasuke duduk termenung memandangi jubah beraroma mawar yang sesaat tadi menyelimuti dirinya yang tertidur. Dadanya terasa menganga terbuka menahan sakit penolakan. Hinata telah pergi, meninggalkannya sendirian dalam kekosongan, tanpa menunggunya bangun, tanpa sepatah katapun yang diutarakan padanya. Sasuke mendadak tertawa lucu seperti orang gila, mentertawakan dirinya yang begitu bodoh mengira Hinata akan tetap berada disisinya saat dia membuka mata.

"Kau bodoh Sasuke!" Sasuke berteriak pada dirinya sendiri.

"Tentu saja dia akan pergi!"

"Dia akan pulang ke rumahnya, pada keluarganya!"

"Kembali pada orang-orang yang dicintainya!" Sasuke bergumam tidak terkendali disela-sela tawanya.

"Kembali kepelukan kekasihnya!" Sasuke mengubur wajahnya kedalam tumpukan jubah Hinata yang beraroma mawar di telapak tangannya.

'Tapi kau tidak akan melupakanku Hinata!, aku membawa sebagian dirimu yang tidak mungkin bisa tergantikan. Dan aku tidak pernah menyesal, meskipun kau mungkin menganggap ini kesalahan, bagiku ini bukan'.

'Selamanya kau juga akan hidup dengan sebagian diriku yang telah kau bawa pergi bersamamu!' Sasuke bergumam mengutuk.

Tanpa menyadari kalau Hinata kini memang pergi membawa sebagian dirinya, benihnya yang tertanam dirahim gadis itu.

.

.

.

'Kita telah melakukan dosa besar Sasuke!' Hinata berkata dalam hati di atas sebuah kapal yang membawanya jauh dari cintanya.

'Tapi ini bukan kesalahan, dan aku tidak akan pernah menyesalinya!'

'Aku akan menunggumu di konoha'.

Sebesar apapun keinginannya untuk bersama cintanya, dia tidak bisa pergi menghilang begitu saja dari konoha. Dia punya tanggung jawab dan kewajiban pada Konoha, pada clan Hyuga, pada Hanabi juga ayahnya, dan pada orang-orang yang menyayanginya, sahabatnya, gurunya. Terlebih lagi hutang yang belum lunas dibayarnya pada Naruto dan Sakura.

Lagi pula dia yakin Sasuke akan mencarinya dan kembali padanya, ke Konoha.

'Aku menunggu kepulanganmu, Sasuke!'


Hyuri membungkuk 90 derajat mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada :

Aindri961, Chan, Sana Uchiga, Hinatauchiha69, Lavenderaven, Hazena, Malfoy1409, (Syura), .7, El Lavender, Amanda Wachan-chan, Garislintang87, Kertas Biru, , Kensuchan, Kirei-Neko, Kin Hyuuchi, Lunawula, Mitsuka Sakurai, Bommiepark24( black jack ya?), VilettaonixLv, (Elf ya?#sotoy, Aqu juga suka baby kyu….kya…. ), Kaoru Mouri, Sebodotuing, Molikha-chan, Yuuaja, Yuya, Yukari Kazaqi, Berry Yellow, Syura, Bluerose, Arum Junnie, Salwakimura, Liluzoldick, , Indah Hyuuga, Chibi SasuHina, Rajabmaulan, Aisanoyuri, Alyazarqa, Ageha Haruna, Bee Hachi, Jojo, Flowers Lavender, Thania D'Lavender Girl, Hyou Hyouichiffer, Aoi Ichimatsu, Dhen Hyuya Kuchiki, Miyu Watanabe, Quinn Agatha, Fuhrer, Ran Misaki, Tias Nilaa, Vipris, ZF-kun, Annisaulkhairi111, Azzahra, Halidalida5, Kurama Nii-Sama, Michi Hana, Momechi Rukika, , Galtrisia, Lavenderamesthy, Clair Nunnaly, Raya Diu, Reizin, guests dan readers.

Read and Review Please!...

Terimakasih sekali lagi…. Bye… b(^_^)d