Previous Chap

"Kenapa sejak mendengar nama Neji-nii kau langsung kaget? Ada apa dengan kakakku? Kau mengenalnya?"

Naruto menatap nonanya. Pandangan dingin yang masih terasa asing di mata Hinata, membuat wanita itu takut dan merasa harus menelan belasan pertanyaan lainnya secara bersamaan.

"Kau mau tau?" Pria itu memastikan sambil membuka pintu.

"Y-Ya." Hinata ikut keluar.

Naruto pun berdiri, bersedekap dan tersenyum penuh makna.

"Aku mengenalnya dan aku sangat membencinya."

Dan karena itulah Naruto juga sangat menganggap hina keluarga Hyuuga.

.

.

Aku mengenalnya dan sangat membencinya...

Kalimat Naruto yang baru saja terucap membuat Hinata tertegun barang sesaat. Semilir angin sore yang berhembus pelan mampu menjadi penengah suara di antara mereka. membuat dua manusia yang saling berhadapan itu terdiam tanpa suara. Mata lentik itu mengerjap pelan, ludahnya ia telan membasahi kerongkongan. Pernyataan Naruto benar-benar menohoknya. Baru ia ketahui bahwa Namikaze Naruto, bodyguard-nya, membenci Neji Hyuuga yang merupakan sepupunya.

"Ke-Kenapa?" Ia terbata, benar-benar tak habis pikir. "Apa... kau pernah punya masalah dengan Neji-nii?"

Naruto tertawa pelan sambil membuang muka—terkesan maksa. Lalu ia berjalan pelan, mendahului Hinata menuju pintu masuk mansion. "Sudahlah. Itu cuma masalah lama. Tak perlu kau pikirkan."

Hinata menarik sikutnya. Masih tersirat kecemasan dan rasa penasaran yang teraduk rata. "Beritahu alasannya dulu padaku. Kumohon."

Bibir Naruto kembali menjadi garis datar. Mata biru redupnya melirik tepat ke tangan putih yang mencengkeram kain pakaiannya, erat. "Ini tidak ada hubungannya denganmu."

"Je-Jelas saja ada." Dia cemas. "Kenapa kau membencinya? Dia sepupuku, dan setauku dia orang baik—"

"Apa aku tidak salah dengar? Baik, hah?" Ulangnya, sarkastis. Naruto melepaskan tangan Hinata, membenarkan kemejanya dengan gaya angkuh. Mood-nya memburuk. "Itu hanya menurutmu pribadi, kan? Lagi pula aku yakin kau belum tau sifat aslinya."

"Karena itulah aku bertanya."

Naruto menghela nafas. Ia berkacak pinggang dan kemudian membuat tubuh tegapnya menghadap persis ke wanita itu. Mungkin dia memang keras kepala, tapi wajahnya terlihat takut. Sifat yang dipaksakan, mungkin? Akhirnya ia buka topik baru yang mungkin sedikit melenceng. "Dengar, Hyuuga Hinata, Nonaku yang Terhormat, apa kau lupa kalau kita sedang dikejar waktu, kan? Kenapa tidak kau lupakan saja kalimatku yang tadi, dan mari sekarang kita lihat keadaan kakakmu? Ucapkan selamat ulang tahun padanya, acara menjenguk selesai, pamitan, lalu segeralah kita pergi dari sini."

"Sungguh, Naruto. Aku penasaran. Kenapa kau membencinya? Apa yang telah Neji-nii lakukan?"

Naruto lagi-lagi tersenyum, namun tidak dengan matanya. Wajah tan itu mendekat sampai Hinata harus mundur dua langkah. Menahan nafas. "Dua kali kuulang, anggap saja kalimatku barusan sebagai angin lalu. Bukannya kita harus segera menjenguk Neji-niimu yang penyakitan itu, eh?"

Hinata mengernyit. "A-Apa kau bilang?"

Sepasang safir biru itu memberikan pandangan sinis. "Kubilang, bukannya kita harus menjenguk kakak sepupumu yang penyakitan itu? Kasihan kan dia, masih muda sudah akan mati?" Ia menyeringai. "Mungkin itu adalah karma dari sifat buruknya—"

PLAK!

.

.

.

1ST ONESHOOT

"1st Oneshoot" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga]

Action, Crime, Romance, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

(anggap LAJ sebagai DPR dan CEC sebagai KPK)

.

.

TENTH. Sendiri

.

.

Hyuuga's Mansion, Chiba.

Awan putih di atas sana mengambang tenang, sama sekali tak memedulikan suasana di parkiran samping mansion keluarga Hyuuga yang berangsur tegang. Pipi naruto memerah oleh tamparan Hinata, sedangkan untuk wanita itu sendiri, dengan raut pucat ia menatap Naruto. Antara kesal, kecewa, takut dan juga menyesal atas perbuatan yang secara refleks ia lakukan tadi.

"Ja-Jaga kalimatmu..." Suaranya bergetar. Mata lavender bulatnya berkaca-kaca. "Meski kau membenci Neji-nii... t-tidak sepantasnya kau mengatakan hal itu kepada orang yang lagi koma..."

Naruto memejamkan mata dengan gerak tenang. Jari-jarinya menyentuh pipi. Ia terkekeh pelan. "Kenapa malah kau yang marah? Bukannya kau yang memancingku untuk terus membicarakan Neji? Aku baru tau kau punya sifat plin-plan, Hinata."

Meringis, Hinata mengepalkan tangannya yang kini terasa asing karena telah menampar orang. Ia alihkan pandangan ke bawah. "Se-Seharusnya... kau katakan saja kepadaku kenapa kau membencinya... k-kau kan tak perlu menghinanya seperti itu...?"

"Jadi aku tidak boleh menghina, ya?" Bersama nada yang ditekan, tatapan berkilat Naruto mencerminkan amarah yang masih tertahan paksa. "Jadi apa aku harus memuji Tuan Muda Neji Hyuuga yang kau sayangi itu, hah? Mungkin bagimu Neji itu sosok kakak yang baik, tapi aku tidak. Aku membencinya. Aku bahkan membencinya sampai ke ubun-ubun! Pria itu brengsek! Pria itu hina! Pria itu orang yang paling tak pantas untuk disayangi!" Ia tertawa.

"He-Hentikan..." Hinata sesak sendiri.

"Dan sekarang aku bersyukur bahwa dia sakit-sakitan koma seperti yang kau katakan! Mungkin itu karma dari segala hal yang pernah ia lakukan! Dia pantas menerimanya—!"

"Hentikan!" Tatkala Hinata berteriak, Naruto dan keadaan sekitar menghening. Jadilah mata berkaca-kaca itu memandangnya dengan tatapan yang tak dapat didefinisikan. "Naruto, kau kupecat."

Naruto berhenti tertawa saat ia mendengar Hyuuga Hinata, atasannya, melancarkan kalimat ancaman itu tanpa gagap. Walau tau ada setitik air bening yang tak tertahankan keluar dari sudut mata bulatnya. Tubuhnya gemetar karena perasaan kesal yang membuncah.

Bukan tawa, kali ini Naruto kembali memasang seringai menghinanya. "Pecat, eh? Apa aku tidak salah dengar? Aku dipecat karena masalah sepele seperti ini—menghina Neji?"

"Ya." Hinata menghela nafas keras, menghapus sisa air mata dan berjalan melewati Naruto yang berada di depannya. Namun sekarang gantian. Giliran Naruto yang menahannya, walau dengan cara menariknya kasar ke tembok mansion, membiarkan punggung wanita itu merapat dan menghimpitnya lekat. Tangannya menekan keras bahu Hinata tanpa perasaan. Mata yang tajam, ekspresi serius, serta alis yang menekuk turun. Naruto tau ancaman tadi adalah bukan merupakan candaan belaka.

"Kenapa?"

Meski sulit Hinata memberanikan diri mengadah. "Karena kau menghina kakak sepupuku. Menjelekkan Neji sama seperti menjelekkan Hyuuga. Aku tidak suka."

"Hanya karena itu?" Naruto mengulang. "Jangan main-main. Kita berada di tengah misi serius, Hinata. Dan apa kau lupa kalau aku pernah menyelamatkan nyawamu?"

Hinata tak menjawab.

"Tidak ada rasa terima kasih, hm?"

Masih tetap diam.

"Dan memangnya kau bisa apa kalau ada anggota G-Parade yang mendatangimu dengan todongan senjata? Kau bisa apa? Jawab!" Bentaknya keras tepat di wajah Hyuuga Hinata. Air mata wanita itu semakin mengalir, dan bukannya iba Naruto malah semakin murka. "Menangis tak akan akan membuatmu selamat, Bodoh!"

"A-Aku bisa meminta Tsunade-sama mengirim orang lain yang dapat menjagaku." Hinata terisak. Ia merancau tanpa berpikir. "Intinya a-aku sudah lelah denganmu, Naruto..."

"Kau pikir bisa semudah itu?" Nadanya menjadi sinis. Tak ia pedulikan sudah berapa lelehan air mata yang menjatuhi pipi buah persik milik Hinata.

"Bi-Bisa." Jawab Hinata dengan menelan ludah. Dengan menggosok mata ia menambahkan. "Aku... akan minta dicarikan bodyguard yang memiliki etiket dan tata krama yang tinggi. Aku tidak mau memiliki bodyguard yang tidak sopan seperti dirimu lagi."

Naruto menjatuhkan kedua tangannya ke samping tubuh. Pandangannya luar biasa kesal sampai berdesis. "Kau menyinggungku?" Saat Naruto yang kesal itu bertanya, Hinata lebih dulu menggunakan waktunya untuk berjalan ke pintu masuk rumah di depan. Ia abaikan Naruto yang masih belum memastikan dengan benar apakah dirinya 100% dipecat atau itu hanya gertakan semata. Tapi karena ia sempat diabaikan, pirang jabrik itu berdecih. Kepalanya ia usap kesal sampai tak tertata seperti tadi.

Tidak, ini bukan soal takut dibenci Hinata. Masalahnya dia adalah agen spesial. Prinsip sejak awal tugas itu cuma satu: gagal dalam tugas sama dengan mati. Karena itulah bisa-bisa Jiraiya menyuruhnya bunuh diri jika ia ketahuan dipecat oleh Hinata.

Tapi... ah, sudahlah.

"Oh, oke, fine! Tidak apa! Aku yakin wanita Hyuuga sepertimu sanggup bertahan diri dengan seluruh kekayaanmu itu! Sewalah banyak orang yang mampu melindungimu dari segala sisi kalau perlu!"

Dengan mata yang menyipit, Naruto melirik punggung kecil Hinata yang berada di depannya. Gadis berbusana rapi itu berbelok mengikuti alur bangunan mewah ini, menghilang dalam hitungan detik. Naruto ingin mengejarnya. Tapi bagaimana bisa? Mereka sedang bertengkar hebat, kan? Masa iya dia harus meminta maaf soal kalimat kejamnya tentang Neji dan memohon supaya dirinya tidak jadi dipecat? Hah. Gila saja.

Naruto menghela nafas. Ia pun berbalik ke arah mobil.

"Terserah. Aku tak peduli."

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Tumit heels Hinata berangsur-angsur mengetuki lantai seiring langkahnya. Saat ini ia sudah memasuki mansion keluarganya. Disapa oleh berbagai maid manis berbusana seragam, ia usahakan tersenyum walau masih menyeka air matanya yang sempat keluar. Ya, sebenarnya baru saja tadi ia membuat keputusan ceroboh. Apa lagi kalau bukan tentang pemecatan Naruto? Untuk menyesal atau tidaknya, Hinata memang belum bisa memutuskannya sekarang. Ia masih terlalu kesal dengan segala omongan buruk Naruto mengenai kakaknya.

Hanya saja... masa iya hanya karena hinaan Naruto—yang bahkan bukan tertuju pada dirinya—ia sampai menghentikan kontrak penjagaan bodyguard itu terhadap dirinya? Memecat Naruto sama saja seperti berancang-ancang lompat ke jurang. Dirinya berada di tengah-tengah misi berbahaya, kan?

Apa memang dia mau cari mati?

Jujur saja selama perjalanan ke kamar Neji, jantung Hinata berdegup cemas tanpa henti. Hatinya dipenuhi oleh rasa sesak yang tak tertahankan. Jadilah ia menarik nafas, memutar bola matanya ke atas untuk menghapus air mata yang lagi-lagi menggenang, dan menghembuskan nafasnya perlahan dari hidung. Hingga akhirnya ia sampai ke lantai dua di dalam bangunan mewah itu. Melewati lorong dan berdiri tepat di hadapan sebuah pintu berbahan mahoni, atau lebih tepatnya di depan kamar Hyuuga Neji.

Ia siapkan diri untuk menyapa sang kakak. Dia ketuk papan pintu sebanyak dua kali dan kemudian ia membukanya perlahan.

Hyuuga Hinata benar-benar tidak menyadari bahwa sudah ada bahaya yang mengintainya. Terutama saat ada dua pasang mata jade di ujung lorong yang merasa gadis itu datang sendirian, sama sekali tidak dikawal.

Jadi ada kemungkinan besar misi ini akan cepat mereka selesaikan.

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Engsel pintu kamar Neji berbunyi halus saat Hinata membukanya. Sosok pria bersurai cokelat kopi menyapa pandangan, Hinata mendekat tanpa suara, mengisi sebuah bangku di samping ranjang mewah tersebut dan memperhatikan 'Neji' yang masih terlelap.

"Neji-niisan..." Tangannya menyentuh tangan Neji yang tertancap infus.

'Neji palsu'—atau bisa dibilang Sakura yang telah menyamar dengan sempurna—tak bergerak. Ia masih menggunakan aktingnya yang berlagak koma.

Hinata menggigit bibir. Punggungnya ia tempelkan ke sandaran kursi. Matanya terpejam. Ia jadi lupa apa tujuannya ke sini. Mungkin perdebatannya tadi dengan Naruto mampu mengacaukan beberapa pikiran di dalam otaknya.

Konsentrasi, Hinata.

"Selamat ulang tahun Neji-nii... maaf aku datang siang, dan bahkan tidak membawakanmu apa-apa..." Mata sayu Hinata menatap sekeliling ruangan yang tampak berisi di bagian sudutnya. Kelihatannya ada beberapa karangan bunga dan pastel buah. Pasti itu kiriman dari keluarga atau teman-teman Neji yang lain. "Barangkali keluarga Hyuuga belum ada yang sempat ke sini untuk mengucapkan selamat untukmu. Tapi tak apa. Ada aku. Jadi... Niisan jangan kesepian, ya."

Hinata memajukan tubuh. Kali ini memandang wajah Neji yang terlelap dengan tenang. Bunyi degup jantungnya di elektrodiagram normal. Hinata merintis senyum. "Karena aku sudah lama tidak bertemu Neji-nii... apa boleh aku bercerita sedikit tentang kehidupanku akhir-akhir ini? Mungkin lumayan panjang. Kuharap Neji-nii masih mau mendengarnya."

Lagi, ia menghela nafas. Kali ini lebih panjang dan berat. Ia lipat kedua tangannya dan ia taruh di atas ranjang. Dagunya tertumpu di sana. "Sejak beberapa bulan yang lalu, aku naik pangkat menjadi ketua di organisasi anti-korupsi pemerintah. Hanya saja tidak tau kenapa sejak itu hidupku berubah 180 derajat. Nyawaku... bahkan diincar." Hinata jeda sesaat. "Tak terbayang lagi seberapa sering hidupku berada di ujung tanduk."

Hinata—yang sempat memegang helai panjang Neji dengan ujung telunjuk dan ibu jari—melepasnya dan mengepalkan tangan. "Dan aku... luar biasa ketakutan. A-Aku..." Ia meringis pelan. "Aku belum siap menghadapi kematian..."

Sesaat, mata Sakura—yang berperan sebagai Neji di atas ranjang—sedikit terbuka. Ia melihat Hinata yang benar-benar di posisi defenseless. Hanya saja... di mana penjaganya yang berambut pirang itu? Apa dia menunggu di luar ruangan? Bagaimana kalau saat ia menyerang Hinata, wanita itu berteriak dan muncul Naruto yang menolongnya? Tsk—Sakura berdecak dalam hati. Dia tak punya ide. Ia juga tak bisa bertanya, earphone penghubung komunikasinya dengan Gaara juga sudah ia matikan sejak tadi.

Namun karena ia tak ingin mendapat lirikan sinis lagi dari atasannya yang satu itu, lebih baik ia bersiap-siap. Sebuah pisau belati ia pegang menggunakan tangan di sisi lain. Ia keluarkan dari tibanan tubuhnya yang terbalut selimut. Siap siaga. Namun Hinata terlebih dulu menegakkan badannya perlahan. Ia kembali bersuara dengan ekspresi layu yang kentara.

"Dan Niisan harus tau. Atasanku mengirimkan seorang bodyguard kepadaku. D-Dia... tampan." Ia menelan ludah, cepat-cepat menambahkan. "Namun dia bukanlah orang yang bisa menjaga sikap. Berkali-kali aku dibuat kesal olehnya. Di lain sisi, saat dia sedang tidak ada, kadang aku tersenyum sendiri apabila mengingat segala tingkahnya. Kadang aku menyempatkan diri untuk terbiasa yakin bahwa ia adalah pria yang baik."

"Tapi kami tidak cocok; cuma karena satu alasan—yang baru saja terjadi—aku memecatnya. Tanpa dirinya kini aku bagai berjalan tanpa busana. A-Aku... merasa tak aman." Bibir Hinata bergetar. Ia kembali ingin menangis. Sedangkan Sakura terbelalak. "Uh, kenapa aku jadi membicarakan Naruto?" Ia menarik nafas, membiarkan bunyi gesekan udara di hidungnya terdengar.

Dan Sakura diam-diam tersenyum dalam hati. Naruto dipecat? Bukannya itu berita bagus? Mulailah Sakura keluarkan pisau belati dari selimut. Tinggal bangkit dan terjang dia di tengah-tengah keheningan, maka Hinata akan mati di saat itu juga.

Tapi tunggu. Jangan gegabah. Perlahan namun pasti adalah pilihan terbaik.

"Ne, Niisan... hafal sifatku sejak dulu, kan? Aku hanyalah gadis pemalu... yang tak bisa apa-apa tanpa bantuan Niisan. Yang bisa kulakukan cuma bersembunyi di balik punggung, menangis dan ketakutan. Benar-benar... payah. Pantas ayah sering memarahiku agar aku bisa setegar saudara-saudara yang lain." Ia tersenyum kecil tanpa makna. Nadanya masih sedih. "Karena itu... sejak beralih ke remaja aku mencoba untuk menjadi seperti keluarga Hyuuga yang semestinya. Seperti Niisan. Seperti yang lain. Menjadi wanita kuat yang sanggup menahan segala luapan emosi di balik garis datar bibir."

Tunggu, belum saatnya—Sakura menggenggam kuat ganggang pisau.

"Tapi kalau sekarang aku tak sanggup berpura-pura lagi. Aku terlalu lemah. Aku sama sekali tak sanggup untuk—ah, tidak." Ia menggigit bibir, sedetik. "Tidak. Aku tidak boleh seperti Hinata yang dulu. Aku ini Hyuuga. Aku wanita yang kuat. Aku bisa bertahan tanpa dirinya..." Ia tarik senyuman dan memiringkan wajah. Matanya kian sembab. "Ah, terima kasih, Niisan. Meski kau tidak merespons, aku yakin kau mendengar ceritaku."

Keadaan hening. Hinata seperti melamun, membiarkan pikirannya kosong barang sesaat.

Apa ini sudah saatnya?

Srek.

Hinata yang berdiri dari bangku secara tiba-tiba dan Sakura nyaris tersentak. Wanita yang tengah menyamar itu menunda serangan karena Hinata yang barusan menaruh ponselnya ke dekat telinga.

"Eh, N-Naruto? A-Ada apa? K-Ke-Kenapa kau menelfon? Iya, aku ada di kamar Neji-nii. Ah, u-uhm... wakkatta..." Jawabnya dengan gaya gagap yang jelas terdengar. Buru-buru ia menyampingkan badan dan berjalan menuju toilet, berharap suaranya tak mengganggu Neji yang sedang tertidur.

Dan ketika pintu kamar mandi tertutup, Sakura membuka matanya dengan sebal. Belatinya di tangan kanan ia goyangkan. "Seandainya aku mengayunkan benda ini lebih cepat..." Gumamnya tanpa suara. Mata kontak lensnya mengarah ke pintu di depan ranjang. "Tapi heran, bukannya tadi dia bilang baru saja memecat bodyguard-nya? Lalu kenapa dia mau menerima telefon pria itu tanpa ragu?"

Sakura yang heran menoleh ke samping. Awalnya ingin sekedar melihat pisau di tangannya. Tapi ketika ia melihat sebuah lemari kaca tepat di sampingnya, matanya terbelalak.

Sekarang dia tau kenapa Hinata keluar.

Dan benar saja. Sesudah memasuki toilet, Hinata yang nyatanya bergetar dari ujung kepala hingga kaki itu jatuh terduduk di atas lantai kering. Ponselnya yang sebenarnya mati—belum dinyalakan sejak Naruto menyuruhnya mematikan ponsel—tergelincir begitu saja ke sudut tembok. Nafasnya tersengal. Kedua matanya terbelalak. Buliran keringat dingin terasa memenuhi pori-pori punggung dan lehernya.

Dia luar biasa terkejut.

Kalau saja dia tidak melihat pantulan cermin di lemari kaca depannya, beserta pantulan tangan Neji yang menggenggam sebuah pisau siap layang, mungkin ia tak akan bernafas hingga detik ini. Bersyukurlah ia sempat berpura-pura mendapat telefon dari Naruto supaya bisa mengecohnya. Tak mungkin ada orang yang mau membunuh orang di saat dirinya sedang menelefon, kan?

Namun lain daripada itu... dibandingkan memikirkan terlebih dulu kenapa Neji mau membunuhnya, Hinata lebih dibebani oleh satu pertanyaan: kenapa dia malah menyebut nama Naruto saat dirinya bersandiwara tadi?

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Ujung sepatu kulit yang Naruto pakai dia ketukan berkali-kali di alas mobil yang sedang ia duduki joknya. Kedua tangannya terlipat dan wajahnya menahan kesal.

"Tsk, lama..." Ia menggumam kesal. Sudah tercatat nyaris setengah jam sejak Hinata memasuki pintu besar mansion Hyuuga. "Mau sampai kapan dia di dalam sana?"

Well, oke. Pria jabrik dengan surai menyerupai duri itu memang sudah dipecat secara tak terhormat oleh Hinata, tapi tetap saja ia tidak bisa meninggalkan Hinata sendirian di sini. Paling tidak gadis itu kelupaan membawa kunci mobilnya yang selalu dia titipkan pada Naruto. Dia berdecih pelan. Kalau saja dia benar-benar membenci Hinata sampai ke ulu hati, mungkin dia akan membawa mobil ini pergi, tak peduli dengan Hinata yang tidak tau akan pulang dengan apa. Mansion ini juga seperti tak memiliki mobil.

Merepotkan saja...

Trrrr...

mendadak ponsel Naruto berdering. Merasa diganggu, tanpa melihat layar dia menaruh speaker-nya ke dekat telinga. Ia menjawab malas. "Hm?"

'Naruto, Neji meninggal.'

Suara Jiraiya seolah menjadi bom nuklir di tengah sore. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya langsung ia tegakan dengan serentak. "Apa katamu?"

'Neji, Neji Hyuuga. Orang yang kau benci itu. Dia meninggal. Aku baru saja mendapatkan informasinya tadi di gudang mayat illegal.'

Diam-diam ada yang menelan ludah. Mata birunya beralih ke luar jendela, tepat ke arah pintu mansion yang terpampang lebar. "Sejak kapan...?"

'Kelihatannya dari beberapa hari yang lalu. Aku bisa tau karena ada mata-mata kita yang menemukan mayat Neji di sana. Apa itu berita yang cukup menyegarkanmu? Kau masih mengingatnya, kan?'

Naruto benar-benar speechless. Tak ada tawa, kalimat rutukan yang mendukung kematian Neji atau apa. Ia malah terpikir sosok lemah bersurai indigo di dalam mansion. Kalau saja Neji sudah mati... maka siapa yang Hinata jenguk? Apa gadis itu menghabiskan waktu di atas sana dengan menangisi kakaknya yang sudah menghilang? Atau—

Naruto segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Ia abaikan pintu yang terbuka serta mesin yang masih menyala.

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Lima menit sudah berselang sejak Hinata memasuki toilet. Wanita yang kini memeluk kedua lututnya dengan posisi terduduk di depan pintu itu kebingungan. Setengah dari pikirannya merutuk, kenapa dia malah kabur ke toilet padahal seharusnya dia keluar kamar, dan setengahnya lagi memikirkan apa yang akan terjadi apabila ia keluar dari sini. Apa nantinya dia masih melihat Neji yang masih terbaring di ranjang, atau malah pria itu sudah berubah wujud menjadi sesuatu yang tidak ia kenali?

Hinata memejamkan mata. Kini ia mengerti perasaan takutnya si Tudung Merah di dongeng Red Ridding Hood yang terkenal itu. Benar-benar menyeramkan. Hanya saja sore mulai menjelang, dia tidak bisa berlama-lama terdiam di sini.

Menggigit bibir, Hinata berdiri. Ia tarik nafasnya panjang-panjang dan menghela nafasnya perlahan. Kalau ia bisa lolos dari 'Neji yang memegang pisau' dengan sebuah sandiwara, kenapa ia tidak gunakan lagi saja cara tadi untuk keluar dari kamar? Bukannya itu sebuah ide yang bagus? Entah sudah keberapa kali ia menelan ludah, menarik-hela nafas, dan juga menenangkan jantungnya yang berdebum kencang. Dia mau keluar. Takut yang menyangkut di sela-sela dirinya dihapuskan. Dia harus berani.

Naruto tak akan datang kali ini.

Pandangan sendu Hinata beralih ke kedua ujung lututnya sendiri.

Dia harus menuntaskan semuanya sendiri.

Oleh karena itu wanita bermarga Hyuuga itu berdiri. Ia balikkan badan dan menatap lurus daun pintu kamar mandi yang sengaja ia kunci. Cuma butuh memutar kuncinya perlahan, lalu jalan dengan santai keluar kamar tanpa suara. Kalau butuh perhatikan langkah agar tak bisa terdeteksi oleh telinga anjing sekalipun.

Hinata memantapkan diri, dan ia pun melakukannya.

Sela pintu yang terbuka membuat Hinata melihat pemandangan kamar sedikit demi sedikit yang cangkupannya semakin meluas. Ia menahan nafas, lalu melangkahkan kaki keluar. Mata lavendernya terus tertuju pada gundukan di balik selimut yang ada di ranjang sana. Hingga akhirnya di langkah ketiga, tanpa Hinata sadari, sosok Neji yang sudah tak memakai infus itu tengah berdiri di sebelah. Mengayunkan pisau yang siap tancap ke pundaknya.

Dua pasang manik rembulan terbelalak.

"KYAA!"

Tangan Hinata yang refleks terangkat membuat mata pisau mengenai kaca bulat jam antiknya retak. Suara mengagetkan terdengar dan sontak tangan Hinata yang panik mendorong wajah Sakura untuk menjauh. Kebetulan baju pasien yang Sakura pakai berukuran panjang, jadi saat ia mundur, kain tersebut terinjak dan membuatnya tergelincir. Menyadari ada kesempatan Hinata yang saat itu nyaris tak bisa berkata-kata segera pergi walau sulit memerintahkan anggota geraknya untuk bekerja. Namun Hinata kurang gesit. Baru akan membuka pintu Sakura sudah menjambak rambutnya, menangkapnya dan tak membiarkan wanita itu keluar begitu saja.

"Kau tak akan kubiarkan lolos!"

DOR!

Suara dentuman dari timah panas yang melesat menembus udara dan melubangi tembok sudut ruangan mengagetkan segalanya. Sakura yang masih di wujud penyamaran jatuh terduduk di buatnya, dan Hinata, yang lehernya ia cengkeram dengan sikut, pun mau tidak mau ikut tertarik. Di depan pintu sudah ada pria berkemeja yang mengacungkan pistol. Surai jabrik keemasannya seolah membekukan mata Hinata. Apalagi saat ia menemukan dua bongkah mata yang menatap mereka dengan tatapan sinis. Ya, dia melihat sosok palsu dari pria yang ia benci di sini.

"Angkat tangan, lepaskan senjata." Suara serak Naruto tertuju pada Sakura. Dadanya masih kembang-kempis akibat berlari. "Lepaskan dia atau kepalamu akan tertembus peluru..."

Sakura terlihat ragu. Ada Hinata di dekatnya, kenapa ia tidak langsung balik menggertak. Namun baru akan bergerak, suara letusan pistol kembali menyentak. Sakura yang tak bisa berbuat apa-apa hanya berdesis. Pisaunya ia lepaskan tepat di lantai.

Merasa yakin dengan kondisi yang aman, Naruto mendekati Hinata. Menarik tangannya walau mata dan acungan pistol masih terfokus ke kepala cokelat kopi itu. Dan setelah ia pastikan Hinata aman di belakangnya, ia mengambil borgol. mengaitkan borgol itu ke salah satu tangan sakura sambil memandang lekat kedua matanya.

Memang, rupa yang ia pakai adalah wajah Neji. Begitu persis. Begitu mirip.

Naruto muak melihatnya. Ia sentak rambut cokelat panjang itu hingga ketahuanlah bahwa yang ia pakai adalah sebuah wig. Rambut pink pendek yang dikuncir berantakan itu terlihat. Sakura gemetar dibuatnya. Dia ketahuan. "Jadi... kau ya yang gemar menyamar?" Tanya Naruto. Membuatnya ingat dengan kejadian di gedung Hinata akan dilantik menjadi ketua CEC. Waktu itu ia menabrak dua orang yang selama ini terduga sebagai G-Parade di otaknya.

"Kau salah satu anggota G-Parade..."

Hinata yang ada di belakang Naruto ragu sendiri. Walau kelihatan takut mata itu terus memandangi tangan tan Naruto yang kini mulai menyentuh wajah Sakura. Ingin membuka topeng kulitnya dan melihat wajah aslinya.

Tapi sayang hal itu tak bisa terjadi. Kedua tangan diborgol di belakang, kaki Sakura Bergerak. Ia buat kaki itu ke atas, lalu menjatuhi tepat di kepala Naruto. Naruto yang belum siap tentulah kaget dan membuat wajahnya menghantam lantai. Sakura yang nyatanya sudah siap jika di borgol—membawa sebuah alat khusus semacam kawat—seketika membuka borgol Naruto bagai pemain sulap dengan kemampuan escapology yang cepat. Hinata yang tau akan diburu segera keluar tanpa perintah. Sakura yang berhasil melepaskan salah satu kunci borgol berniat mengejar, namun tangan kuat Naruto mencekal dan balas menariknya kuat-kuat. Ganggang pintu yang sebelumnya terpegang untuk didorong—buka—kini malah jadi ketarik hingga membuat papan pintu tertutup oleh bantingan.

Sakura yang jatuh merasa ngilu di bagian lutut dan dagu. Dia meringis.

"Urusanmu itu denganku. Bukan dengan dia." Si pirang tersenyum sinis. "Dan kebetulan, kau sedang memakai muka orang yang kubenci." Ia terkekeh pelan. "Boleh kupukuli sedikit?"

Sakura mendengus meremehkan. "Sepertinya kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, ya?"

Tangannya bergerak, kepalan tangannya tertuju tepat di wajah Naruto. Tapi tidak kena. Naruto menepisnya dan malah bergantian pipi Sakura yang kena tinju. Terhuyung, salah satu mata Sakura menyipit sambil memegangi pipi.

"Begitulah." Naruto terkekeh. Pistolnya—yang sempat jatuh akibat hantaman tumit Sakura—kembali ia ambil. "Ngomong-ngomong, sekalipun dandanan dan pita suara buatanmu berwujud laki-laki, kau tetaplah perempuan, kan? Lebih baik kau serahkan dirimu dengan tentram kalau tidak mau wajah aslimu ikut terluka."

Sakura berdecak. Apa karena ukuran tubuh dan tenaganya yang kecil ini membuat Naruto bisa membaca gender-nya dengan mudah? "Bagaimana kalau kau saja?" Sakura berdiri sambil memegangi rahangnya yang nyeri. Dalam hati ia merutuk. Rasanya tinjuan pria pirang ini semakin lama kian menguat. Ingin rasanya mengambil pistolnya di pinggang, tapi keadaan tidak memungkinkan. Satu gerakan mencurigakan, bisa-bisa Naruto menembak habis sendi kakinya dan ia bisa tertangkap. Jadilah Sakura melompati beberapa rencana yang telah ia susun, lalu mengambil plan F. Tangannya mencoba mengambil sesuatu di balik pakaian pasiennya.

"Aa... jangan bergerak. Aku sudah tau apa niatanmu." Naruto tersenyum. "Silahkan angkat tangan kalau memang sudah menyerah."

Sakura kaku. Pistol cadangan yang terselip di balik pakaiannya masih jauh. Ia pun menghela nafas agak keras lalu mengangkat tangannya lagi seperti apa yang diperintahkan oleh Naruto. "Sepertinya kau sudah tak ingin memakai jalur fisik, ya? Kenapa? Kesakitan?"

Sakura tersenyum tanpa menjawab. "Silahkan anggap seperti itu. Kau lagi terlalu bersemangat. Apa ini dikarenakan oleh wajah orang yang kau benci ini?"

"Aku sudah bilang, kan? Makanya di awal aku memperingatkan."

Sakura menyeringai. "Kalau begitu kapan-kapan akan kugunakan wajah nonamu tadi agar kau tak akan tega memukulku."

Naruto diam sesaat, lalu sebuah tawa yang cukup dipaksakan keluar.

"Sebelum dia ke sini, aku dipecat dan ditampar olehnya tanpa alasan yang jelas. Dan apa menurutmu aku tetap tidak tega memukulnya, eh?"

"Oh, ya ampun, kau pria yang tidak pandai berbohong rupanya." Dia tertawa. "Kalau begitu... kita buktikan saja kapan-kapan."

Naruto mengernyit. Di saat itulah kelengahan pria itu Sakura manfaatkan. Ia ambil sebuah kalengan yang terkait di ikat pinggang dan ia banting ke lantai dekat Naruto secara mendadak. Naruto tersentak, awalnya ia kira itu sebuah granat namun nyatanya hanyalah sebuah flash grenade yang otomatis membuat kedua matanya tertutup akibat pancaran cahaya kilat yang muncul dari benda tersebut.

Sinar putih yang cukup membutakan selama beberapa detik. Tapi setelah suasana kamar membias dan kembali ke keredupan yang sebenarnya, Naruto berdecak. Sakura sudah hilang. Dan kalau pintu masih tertutup, pandangan Naruto beralih ke jendela yang terbuka lebar. Ia keluarkan kepalanya dari sana dan melihat Sakura yang sudah melayangkan senyum perpisahan dengannya, lalu melompat turun entah ke mana.

"Shit."

Dia pun berlari keluar. Tapi daripada mengejar Sakura yang kini tak tau meloloskan diri ke mana, Naruto kembali ke parkiran samping mansion. Mobilnya masih menyala memang, tapi tak ada Hinata di sana. Dia banting pintu dan melihat bangunan besar di hadapannya dengan tatapan bingung.

Hinata... di mana?

.

.

~zo : 1st oneshoot~

.

.

Di lain waktu, atau lebih tepatnya sepuluh menit yang lalu, setelah Naruto menyuruhnya pergi dari kamar, Hinata melalui jalan tangga belakang. Dari sanalah biasanya para maid mondar-mandir dari lantai bawah ke atas. Hanya saja kali ini lain, mungkin karena maid lainnya sedang istirahat atau memang karena jumlahnya yang semakin sedikit, tak ada satu pun orang yang ia temukan di sini. Benar-benar sepi. Karena itulah, antara takut dan lega, Hinata yang sedang terengah mencoba menenangkan diri di sana. Wanita itu terengah. Sendi kakinya kelelahan. Dia duduk di salah satu anak tangga yang sering menjadi tempat berlalu para maid-nya, lalu menelungkupkan tangan di muka. Wajahnya penuh keringat, tubuhnya saja masih gemetar hingga sekarang.

Jadi yang tadi itu apa? Kalau dia bukanlah sang kakak, melainkan anggota G-Parade seperti yang dikatakan Naruto, di mana Neji yang asli? Apa dia disembunyikan, atau dibunuh? Hinata sama sekali tidak mengerti. Namun baru saja otaknya akan memusingkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang mengambang di benaknya, Hinata menelan ludah dan mengadah. Jauh di lubuk hatinya, dia cemas meninggalkan Naruto sendirian. Hinata khawatir. Dia takut pria itu kenapa-napa di atas sana. Opsi-opsi terakhir yang ia pikirkan membuat Hinata semakin menunduk. Baru kali ini ia merasa dirinya benar-benar tak berguna.

Hanya saja karena semua pemikiran itulah Hinata jadi tidak sadar sudah ada seseorang yang berada di belakangnya. Pria bersurai merah pendek dengan mata sedingin batu jade yang tak bercahaya. Dan bersama satu langkah maju ke depan, kini ia sedikit membungkuk, menyamakan tingginya dengan Hinata yang sedang terduduk, lalu meletakkan garis tajam pisaunya tepat di depan leher Hinata. Sengaja ia sentuhkan di permukaan kulit.

Tubuh Hinata menegang, tapi tangan kekar Gaara yang bebas segera memeluk tubuhnya dari belakang, secara tak langsung menyuruh dia takberbicara dan bergerak, atau pisau ini akan merobek kulit lehernya.

"Berdirilah dengan tenang kalau kau tidak mau semua ini berakhir dengan nikmat."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Zoccshan's Note

Aku update untuk meramaikan fanwork NHL yang lagi rame nih gara-gara teaser terakhir movie The Last haha (padahal emang murni kebetulan). Semoga kalian suka. Sekali lagi aku mempertemukan Naruto dengan Sakura, dan Gaara dengan Hinata. Tapi apa kali ini si Hinata bener-bener selamat? :'9

.

.

Glosarium

[1] LAJ (Legislative Assembly of Japan): Badan parlemen Jepang yang dianggotai oleh dewan perwakilan rakyat. Mengurus pemerintahan negara.

[2] CEC (Comission Eradication of Coruption): Badan pemerintah yang menangani kasus korupsi. Dipimpin oleh Tsunade Senju.

[3] G-Parade: Nama kelompok pembunuh bayaran yang dianggotai oleh Gaara dan Sakura.

.

.

Special Thanks to

Ikanatsu, LotuS-Mein319, MAGENZ, nanaleo099, ayudianda dewi, Chess sakura, NamikazeARES, Ymb mah bengi, aim7, bohdong palacio, kurama no yokay, andypraze, Soputan, Ayzhar, dylanNHL, The Red's UzmAki no kam, Guest, Durara, mifta cinya, Daichi, The black water, Amu B, Naminamifrid, Yuuna Emiko, leontujuhempat, hyunkjh, Jun30, shaniechan, Alone bird, Uzumaki 21, kobayasen, Blood D Cherry, Ahominecchi, Hmmpfh, MahardikaRBL, Sayura Meguchi, Stacie Kaniko, Luluchai10, Kebolblack, uchiha yardi, Misti Chan, Revailleuchiha, RamenRider Chikenbutt, niko watanabe, mangetsuNaru, saamba jr, Guest, chap yang baru kapan terbit, ninna, LadyGratia, uzumaki sartika, Name Hanachan L, AF Namikaze, intan sept, agintalavegr, neko chan, Guest.

.

.

Pojok Balas Review

Romance action yang bagus. Thanks. Updatenya jangan 1,5 bulan sekali, ya. Ini udah 2 bulan (?). Apa Naru ngga punya bantuan? Ngga ada. Perasaan Naruto lebih ditingkatkan. :) Hinata sangat menyebalkan dan memuakkan di sini. Aku membuat Hinata seperti itu karena punya alasan. Mohon maaf karena ketidak-nyamanannya. Masa iya maid keluarga Hyuuga percayaan sama Sakura yang nyamar? Haha, anggep aja penyamarannya Sakura bagus banget. Nemu typo di chap 9. Edited. GaaSakunya bikin senyum-senyum. :) Update Twins Alert juga dong. Iya.

.

.

Warning

Fiksi ini murni karangan—dimulai dari nama tempat, tokoh dan badan organisasi yang disebutkan. Jadi mohon maaf jika ada kemiripan atau kesalahan yang tak sengaja tertulis di dalam sini.

.

.

Review kalian adalah semangatku :')

Mind to Review?

.

.

THANKYOU