30 days with Them

Cast : Baekhyun, all exo member and other cast

Pairing : Chanbaek/Baekyeol(Always!) slight KaiBaek, KaiSoo slight SuDo, Sulay, Hunhan slight KrisHan, KrisTao, ChenMin and other pair

Rated : T for Teen

Genre : Romance, Friendship, a little bit of hurt/comfort

Summary : Baekhyun, seorang gadis bertubuh mungil yang menjadi anak baru di SunShine High School. Dengan jubah hitamnya, ia mengaku kalau ia berasal dari dunia fantasi dan bisa melakukan sihir. Sihir seperti apa yang bisa dilakukannya? Dan apa anak-anak lainnya akan percaya?

All Cast Belong to God and Their Family but This Story Belong to Me.

Warning : Uke as Girl, GENDERSWITCH, OOC and SO MANY TYPOSSSSS. If you don't like, so don't Read

Jangan terlalu yakin dengan Summarynya karena bisa saja isi ceritanya melenceng dari itu. Hehehehe J

Chapter 9 : The Fool

.

.

"Appa aku pergi dulu.." Baekhyun menghampiri Donghae yang tengah membaca koran paginya lalu memeluk Appa kesayangannya itu dengan erat. Tidak lupa Baekhyun mencium pipi Appanya dan dibalas dengan kecupan di kening dari Appanya.

Lalu Baekhyun berlari kecil ke arah dapur dan melakukan hal yang sama pada Eommanya.

"Tapi kau mau kemana, Baekkie-ah?" tanya sang Appa dari ruang tamu. Baekhyun sendiri masih asyik bermanja-manja pada Eunhyuk

"Aku akan pergi ke perpustakaan kota, Appa." Jawab Baekhyun dengan sedikit berteriak.

"Sendiri? Kau yakin tidak ingin Appa antar?" tanya Donghae lagi. masih tidak rela melepas putrinya pergi seorang diri begitu saja.

"Appa tunggu saja sebentar lagi..." sahut Baekhyun.

Donghae yang mendengar itupun hanya bisa mengerutkan keningnya tidak mengerti.

Tiin Tiinn

"Eh? Siapa yang bertamu pagi-pagi begini?" gumam Donghae sambil berjalan ke arah pintu rumahnya. Sayangnya Baekhyun yang tadi ada di dapur sudah melesat cepat dan mendahului Donghae untuk membuka pintu.

"Yeollie..." Seru Baekhyun senang.

"Ah, ternyata kau Chanyeol-ah. Jadi kau yang akan pergi dengan putriku?" Donghae tersenyum kecil memandang namja tinggi yang kini ada di depan pintu rumahnya.

"Nde Ahjussi."

"Dengan apa kalian akan pergi?" tanya Donghae—kali ini tatapannya terarah pada Chanyeol. membuat namja itu sedikit gugup karena di pandang sedemikian rupa oleh Donghae.

"Aku membawa motor." Jawab Chanyeol.

"Mwo? Yak! Aku tidak bisa mengizinkan—"

"APPA!" Baekhyun dengan cepat memotong kata-kata Appanya yang super protektif itu. sangat tidak lucu bukan kalau ia dan Chanyeol pada akhirnya akan pergi dengan di antar oleh Appanya yang 'terlalu rajin' itu. Hei... dia kan ingin berduaan saja dengan Chanyeol. Sungguh Appa yang tidak peka.

"Wae? Baekhyunnie... naik motor itu sangat berbahaya. Selain itu, kau kan tidak—"

"Aku akan menjaga Baekhyun sebaik-baiknya, Ahjussi. Aku juga akan mengendarai motorku dengan hati-hati. Jadi Ahjussi tenang saja. Akan kupastikan Baekhyun pulang dengan selamat nanti." Ujar Chanyeol sungguh-sungguh. Baekhyun yang mendengarkan itupun langsung tersenyum senang. Ia pun memeluk lengan kekar Chanyeol dengan erat sambil memandang Donghae dengan eyesmilenya yang cantik. tatapannya seolah memohon agar Donghae mempercayai Chanyeol serta mengizinkan mereka untuk segera pergi.

"Biarkan saja mereka pergi, Hae-ah. Kau ini seperti tidak pernah muda saja. apa kau mau ketika sedang berkencan, harus diekori oleh orangtua. Seharusnya kau lebih peka, Chagiya." Ujar Eunhyuk sambil berjalan mendekati ketiga orang itu. Wanita cantik itupun dengan sengaja mengerlingkan matanya ke arah putri kesayangannya. Baekhyun yang melihat itupun jadi tersenyum. di saat seperti ini, memang hanya Eommanya yang paling bisa di andalkan. Secara Appanya hanya bisa jinak jika sudah berhadapan langsung dengan istri cantiknya itu.

Sedangkan Chanyeol? namja itu sibuk menggaruk tengkuknya salah tingkah ketika mendengar kata-kata Eunhyuk. Apa mereka terlihat sedang ingin berkencan?

"Hyukkie..." Donghae masih berusaha untuk protes.

"Lagipula aku percaya pada Chanyeollie. Dia pasti bisa menjaga Baekhyun kita dengan baik."

Donghae membuang nafasnya kasar dan akhirnya mengangguk. "Baiklah-baiklah. Kalian boleh pergi. tapi ingat, jangan pulang malam. Kalau bisa, sore hari Baekhyun sudah berada di rumah. Aku tidak mau putriku kelelahan."

"Oke Appa. Kalau begitu kami pergi dulu ya. Bye Eomma, Bye Appa." Dengan cepat Baekhyun menarik Chanyeol keluar bersamanya. Padahal tadi Chanyeol belum sempat menjawab titah dari Donghae.

"Chanyeol..." Donghae kembali berseru. Otomatis Chanyeol pun segera menoleh.

"Hati-hati..." peringat Donghae untuk terakhir kalinya.

"Nde, Ahjussi."

Setelah itu, Chanyeol segera menstarter motor ninja yang di bawanya lalu Baekhyun pun naik di jok belakang sambil memeluk erat pinggang Chanyeol.

Hingga akhirnya dua remaja itupun pergi, menyisahkan Donghae dan Eunhyuk yang berdiri di depan pintu rumah.

"Lain kali kau tidak boleh seperti itu. kasihan kan Chanyeol." ujar Eunhyuk yang menegur suami tercintanya.

"Aku kan hanya mengkhawatirkan putriku Hyukkie-ah."

"Aku paham, Hae-ah. hanya saja bukankah ini yang Baekhyun inginkan sebelum ia menuruti kemauan kita untuk menjalankan operasinya nanti. Maka dari itu, biarkanlah Baekhyun merasakan semua yang ingin ia rasakan. Sebelum—"

"Sssttt... jangan bicara sembarangan Hyukkie-ah." Dengan segera Donghae memeluk istrinya. Membuat wanita itu terdiam. "Kita percaya pada kekuatan Baekhyun kan. Aku percaya operasi itu nanti akan berhasil. Aku percaya kalau Baekhyun kita tidak akan pergi kemanapun. Dan ia akan tetap ada disisi kita. Aku percaya itu. karena itu kau juga tidak boleh ragu. Aku yakin kita akan tetap bersama. keluarga kecil kita ini akan selalu utuh."

Tanpa sadar airmata Eunhyuk pun jatuh. Ia merasa terharu mendengar kata-kata suaminya. Hingga akhirnya Eunhyuk mengangguk dalam diam. Menyatakan kalau ia juga percaya. Sama seperti suaminya.

.

.

"Chanyeol..." Panggil Baekhyun ketika mereka sedang dalam perjalanan. Posisi mereka tetap sama dan Baekhyun tampak sangat enggan melonggarkan pelukannya pada pinggang Chanyeol. justru pelukan Baekhyun malah semakin erat. Menunjukkan kalau ia merasa sangat nyaman jika berada di dekat Chanyeol.

"Ne?" sahut Chanyeol sambil tetap memandang lurus ke depan. Ia tetap melajukan motornya dengan kecepatan sedang di jalan raya yang bisa dikatakan sangat lenggang ini.

"Maafkan sikap Appaku." Ujar Baekhyun dengan suara berbisik namun Chanyeol tetap bisa mendengar suaranya.

"Apa yang perlu di maafkan? Aku tidak merasa Appamu berbuat salah."

"Sikapnya tadi seolah tidak percaya padamu."

"Kalau itu aku mengerti. Sejak awal Appamu memang sangat protektif jadi sikapnya tadi tidak membuatku kaget lagi. lagipula semua orangtua pasti mengkhawatirkan anaknya kan." jelas Chanyeol. ketika mengatakan itu, entah kenapa ia jadi teringat kedua orangtuanya. Sebenarnya, kata-katanya sendiri tadi terasa sedikit aneh baginya. Karena dirinya pribadi tidak pernah merasakan perhatian dan rasa khawatir kedua orangtuanya kepada dirinya. Mereka sangat acuh dan hanya fokus pada pekerjaan mereka. namun Chanyeol percaya kalau kedua orangtuanya tetap menyayanginya. Bukankah semua orangtua memiliki cara mereka sendiri-sendiri dalam menyayangi anak mereka. dan mungkin tipe orangtua Chanyeol berbeda dengan orangtua Baekhyun.

Baekhyun sendiri hanya diam. Tidak menyahuti Chanyeol lagi. namun namja itu sama sekali tidak ambil pusing.

"Ah ya! Yeollie, ini motor siapa? Aku tidak pernah melihatmu ke sekolah dengan motor ini." tanya Baekhyun tiba-tiba.

"Ini motor Kai." jawab Chanyeol singkat.

"Wah, kok kau bisa meminjam motornya dengan begitu mudah. Padahal aku lihat kalian tidak begitu dekat. Dan untuk apa kau meminjam motornya? Kita kan bisa pergi dengan bus seperti biasa."

"Sebenarnya Kai itu sepupuku. Dan kebetulan aku sedang ingin naik motor." Balas Chanyeol acuh.

"Mwo?" kaget Baekhyun sambil menatap punggung Chanyeol tak percaya.

"Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?" Batin Baekhyun.

.

.

.

"MWO?" Kai berseru dengan nyaringnya. Membuat Ryeowook—sang Eomma yang sedang mencuci piring pun tersentak.

"Yak! Anak nakal. Kenapa kau berteriak seperti itu." omel Ryeowook kesal. kalau saja tadi dia tidak hati-hati, mungkin satu piring cantiknya akan jatuh ke wastafel lalu pecah.

"Eomma... kau tahu kalau hari ini aku harus pergi bertemu dengan temanku. Dan Eomma dengan seenaknya mengizinkan tiang listrik itu pergi dengan motorku. Lalu aku pergi dengan apa Eomma." rengek Kai dengan kaki yang di hentak-hentakkan. Ryeowook yang melihat itupun hanya bisa mengangkat sebelah alisnya antara tak percaya dan tak habis pikir. sungguh putra bungsunya ini benar-benar tidak sadar umur. Hei... bahkan bocah itu sudah akan menginjak usia 16 tahun tapi kenapa masih se-childish itu.

"Kendaraan umum kan sangat banyak. Kau bisa naik itu. atau kalau tidak, kau kan punya kaki. Jadi pergi saja dengan jalan kaki." Ujar Ryeowook acuh. wanita itupun beralih untuk melepaskan apron yang di kenakannya. Mungkin ia harus segera bersiap-siap untuk pergi kerumah sakit.

"Eomma..."

"Jangan berisik Jonginnie. Salahmu sendiri kan yang sangat susah di bangunkan. Tidur sudah seperti orang mati saja. Kau tidak tahu betapa sulitnya aku, Eomma dan Chanyeol membangunkanmu tapi kau tetap saja tidur. Jadi jangan salahkan Eomma yang membiarkan Chanyeol membawa motormu." Kim Taemin—yeoja berumur 21 tahun yang merupakan kakak perempuan dari Kim Jongin sekaligus anak tertua dari keluarga Kim—menyahut karena mulai gerah mendengar rengekan OOC dari adiknya.

Yeoja berparas cantik itu menikmati rotinya dengan anggun. Sejak tadi dia memang acuh dengan sikap Kai, namun lama-lama ia kesal juga.

"Noona... kau bahkan menyalahkanku. Yak! Motorku di bawa lari—"

"Sudahlah Kai. lebih baik kau segera ke kamarmu dan bersiap-siap. Sekarang sudah jam 12. Sebenarnya kau janji dengan temanmu itu jam berapa?" mendengar ucapan Eommanya itu, Kai langsung menepuk keningnya. Akhirnya tanpa berkata apa-apa lagi, Kai langsung melesat menuju kamarnya. Ryeowook dan Taemin yang melihat hal itupun hanya bisa menggeleng tak habis pikir. bersyukur Yesung—sang Appa belum pulang karena jika iya, mungkin Kai sudah kena omelan Appanya itu. Hhah... Yesung paling benci sikap tidak disiplin.

.

.

"Luhannie..."

Tok Tok Tok

Luhan yang masih terlelap dalam tidurnya pun merasa sedikit terusik ketika mendengar suara ketukan di sertai suara merdu mamanya tersayang.

Perlahan, kedua bola matanya yang jernih pun mulai terbuka dan mengerjab beberapa kali. Luhan pun beralih untuk meraih ponsel miliknya yang di letakkan di nakas samping tempat tidurnya. Luhan sedikit mengernyit ketika ia mendapati 5 pesan baru dan 3 missed call yang entah dari siapa.

"Sehunnie..." Gumam Luhan ketika sadar kalau semua pesan dan panggilan itu berasal dari Sehun.

Tidak sampai 1 menit Luhan melamun, sebuah panggilan sudah masuk dan membuat Luhan sedikit terkejut.

Tanpa ragu-ragu Luhan pun menerima panggilan tersebut.

"Yeoboseyo..." sapa Luhan.

"Noona... akhirnya kau mengangkat panggilanku." Luhan dapat menangkap nada suara riang dari namja yang tengah menghubunginya ini. diam-diam Luhan pun mengulum senyumnya.

"Ada apa kau menelponku pagi-pagi seperti ini?" Tanya Luhan dengan kalemnya.

"Pagi? Ayolah Noona, apa kau belum melihat jam. Sekarang sudah siang. Bahkan matahari sudah berada tepat di atas kepalaku." Serbu Sehun dengan sedikit gurauan yang di selipkan dalam kata-katanya.

Luhan pun mengangkat kepalanya untuk melihat jam dinding yang terpasang di kamarnya. Mata gadis itupun membulat lucu lalu sedikit meringis. Mungkin efek dari begadangnya tadi malam, makanya Luhan sampai bangun sesiang ini. tadi malam Luhan terlalu asyik menonton drama kesukaannya dan bahkan sampai mengulang salah satu adegannya beberapa kali. Alhasill, Luhan baru tidur tepat pukul 3 pagi.

"Baiklah. Aku tidak memperhatikan jam." Ucap Luhan santai. Setelah itu, ia bisa mendengar kekehan ringan dari Sehun. Lagi-lagi Luhan harus menahan senyumnya.

"Baiklah-baiklah. Jadi Noona, bolehkah aku meminta sesuatu."

Luhan mengernyit heran.

"Apa yang kau inginkan Sehunnie?" tanya Luhan akhirnya.

"Bolehkah kau berdiri di depan jendela kamarmu." Jawab Sehun.

Luhan yang tidak tahu apa-apa pun akhirnya beranjak dari ranjang empuknya dan berjalan mendekati jendela yang berada di salah satu sudut kamarnya.

Dan gadis cantik itupun langsung memasang senyum cantiknya ketika melihat seorang namja berkulit putih dengan tubuh tinggi kurus sedang berdiri di bawah. Namja itu pun melambai dengan semangat ke arahnya. Luhan pun membalas lambaian namja itu.

"Sedang apa kau di bawah?" tanya Luhan heran.

"Turunlah. Ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu, Noona." ujar Sehun.

"Tapi aku belum mandi dan masih berantakan?" balas Luhan sedikit ragu.

"tidak apa-apa. kau tetap cantik kok walaupun belum mandi dan dengan rambut berdiri seperti itu."

Mendengar ucapan Sehun membuat Luhan sedikit panik dan langsung berlari ke arah cerminnya. Ia langsung menghela nafas lega karena ternyata kata-kata Sehun tidak benar. rambutnya tidak berdiri.

"hahaha... aku bercanda Luhannie Noona."

"Tidak lucu, Sehunnie." Rengek Luhan. "Baiklah, aku akan turun. Kumatikan ya.." tanpa menunggu jawaban dari Sehun, Luhan langsung memutuskan obrolan mereka.

Gadis itu memandang wajahnya di cermin lalu sedikit menyisir rambutnya dan melesat keluar dari kamarnya.

Ia sedikit terkejut ketika mendapati mama imutnya yang entah sejak kapan berdiri di depan pintunya.

"Anak nakal. Kau tidak tahu berapa lama Mama mengetuk pintumu itu. dan kau tidak bangun-bangun juga." Henry—Mama Luhan hanya bisa menatap sebal anaknya. Entah disini, siapa yang terlihat sebagai anak dan Eomma karena meski usianya sudah berkepala 4, namun wajah Henry tetap imut dan terlihat awet muda.

"Mianhae Mama. Luhannie tidak mendengarnya. Sudah ya, kalau ingin ngambek, nanti saja. Hannie ada urusan sebentar." Luhan mengecup sekilas pipi chubby mamanya lalu langsung melangkah menuruni anak tangga menuju lantai satu.

Henry menatap sebal putri semata wayangnya itu.

"Dasar, anak tidak sopan." Akhirnya Henry memilih untuk masuk ke dalam kamar Luhan dan merapikan kamar putri kesayangannya.

.

.

"Sehunnie..." Luhan berlari kecil ke arah Sehun yang sedang tersenyum manis ke arahnya.

"Selamat pagi Noona." sapa Sehun dengan sopan.

"kenapa kau tidak masuk saja sih? Mama pasti membukakan pintu untukmu kan." ujar Luhan heran.

"Hehehe... sebenarnya aku sudah masuk ke dalam, Noona. lalu Henry Ahjumma pun membangunkanmu. Tapi kau tak bangun-bangun—"

"Oke... hentikan. Aku paham. Jadi ada urusan apa kau ingin menemuiku?" dengan cepat Luhan memotong ucapan Sehun yang seolah mengumbarkan salah satu sisi buruknya. Uuuhh... ini memalukan. Dan terasa lebih memalukan lagi karena harus diketahui oleh Sehun—eh?

"Ini..." Sehun menyerahkan setangkai mawar merah yang sejak tadi di selipkannya dalam kantung celana belakang. Luhan semakin mengernyit tidak mengerti dengan perlakuan Sehun yang tiba-tiba.

"Apa mak—"

"Sudah ya, Noona. aku pulang dulu. Eomma menyuruhku untuk cepat pulang." Setelah itu, Sehun langsung melesat pergi dan akhirnya hilang dari pandangan Luhan.

"Yak! Apa maksudnya? Kenapa anak itu sangat tidak jelas."

Luhan bersungut-sungut kesal. Sungguh, Sehun sangat tidak jelas. Hei... namja yang lebih muda 2 tahun darinya itu, bahkan tidak berkata apa-apa setelah memberikannya setangkai bunga...

Tunggu? Apa artinya ini?

Tanpa di sadari, muncul rona merah tipis di pipi Luhan.

Satu hal yang baru Luhan ingat, kalau Sehun adalah tipikal namja yang pemalu dan tidak pernah bisa menyampaikan isi hatinya dengan kata-kata.

Sepertinya ada hal yang harus Luhan lakukan setelah ini.

"Ternyata putriku sudah besar." Henry yang menyaksikan kejadian tadi pun hanya bisa menggeleng antara senang dan sedih.

.

.

Backsound : Let out the beast – EXO

Lay menggerakkan tubuhnya dengan lincah di dalam sebuah ruangan dance. Bahkan meskipun keringatnya berjatuhan namun gadis itu tetap saja tidak mengakhiri aktifitasnya.

Bahkan perlu di ketahui kalau Lay sudah berlatih seperti ini sejak pagi-pagi sekali. Bahkan sebelum matahari terbit.

Memang, jika sedang mengalami masa-masa sulit ataupun memiliki masalah yang menurutnya pelik dan menyakitkan, Lay akan melampiaskannya dengan dance—tentunya selain menangis.

Sungguh, rasa frustasi dan putus asanya akan rasa cinta bertepuk sebelah tangan yang ia alami terasa sangat menyiksa batin.

Hingga akhirnya Lay terjatuh. Gadis itu memegang pergelangan kakinya yang terasa nyeri.

Lay pun meringis ketika ia menyentuh pergelangan kakinya sendiri dengan tangannya.

"Hiks... Appoyo. Rasanya sangat sakit." Perlahan Lay pun mulai menangis. mungkin ini terasa sangat konyol. Sungguh, emosi Lay selama ini bukanlah di karenakan ia membenci Suho—yang membuatnya merasa kalau kisah cintanya menyedihkan—melainkan ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Lay merasa kalau dirinya sangat pengecut dan tidak berani.

Lay juga sangat menyesali dengan perasaan konyolnya ini. Sungguh! Jika bisa, Lay sangat ingin menghapus perasaannya ini. ia tidak ingin terjebak dalam perasaan cinta yang menyakitkan ini.

"Joonmyeon bodoh. Tak peka. Menyebalkan."

Dengan segera Lay meraih tas ransel yang di bawanya tadi dan berlari keluar dari ruang dance tempatnya biasa berlatih.

Memang sebenarnya, Lay terdaftar dalam sebuah kursus dance, sehingga ia bisa menggunakan tempat latihan ini secara bebas meskipun di luar jam kursusnya selama ruangan dance tersebut tidak di gunakan.

Seperti yang di lakukannya sejak pagi ini.

.

.

"Semua buku-buku ini harus kau baca dan pelajari jika kau ingin lulus di kelas 2. Nilai ulangan terakhirmu pun sangat buruk sehingga kau haruslah belajar lebih keras lagi. Kau tidak harus unggul tapi setidaknya kau bisa mengimbangi teman-temanmu yang ada di kelas."

Baekhyun hanya bisa speechless memandangi tumpukan buku yang sepertinya sudah di siapkan Suho untuknya. Ketika ia dan Chanyeol sampai di perpustakaan kota tadi, mereka langsung mendapati Suho yang sudah duduk manis sambil membaca buku. Dan lebih mengejutkan lagi, setelah melihat Baekhyun datang, Suho langsung mengambil beraneka buku yang Baekhyun tidak tahu di dapat oleh namja itu darimana. Dari yang tebal sampai tipis bisa Baekhyun lihat dengan matanya. Sungguh, jangan sampai dirinya botak karena terlalu banyak belajar setelah ini.

"Lalu... ini soal yang harus kau kerjakan." Suho pun meraih tas ransel milik namja itu dan mengeluarkan setumpuk kertas yang sudah di paperclip dengan rapi.

"Ini soal-soal dari materi pelajaran yang tidak sempat kau dapatkan sebelumnya. Ketika ulangan akhir nanti, aku yakin kau akan menemui soal sejenis ini. kau bisa bertanya padaku jika ada yang tidak kau mengerti, atau kau bisa tanya pada Chanyeol. setahuku dia cukup pintar." Suho melirik ke arah Chanyeol yang hanya diam. Namja itu lalu balas menatap Suho dengan tatapan tidak begitu suka. Entah kenapa, sikap namja ini terasa seperti sedang menyiksa Baekhyun-Nya.—Ekhem—

"Aku akan membantu Baekhyun mendalami materi-materi ini, jadi kau tidak usah repot-repot Hyung." Ujar Chanyeol dengan sedikit sinis. Setidaknya ia masih sedikit merasa hormat pada namja di hadapannya. Suho adalah seorang ketua osis yang paling di hormati di sekolah, jadi tidak mungkin kan Chanyeol tidak hormat.

"Baguslah." Suho pun menyandarkan punggungnya lalu tanpa sengaja ia melihat ke arah luar jendela. Suho sedikit tertegun ketika ia melihat seorang gadis yang amat di kenalnya sedang berjalan tertatih-tatih di pinggir jalan. Gadis yang belakangan ini menghindarinya. Sedang apa dia?

Tanpa pamit ataupun permisi, Suho langsung beranjak berdiri dan meninggalkan Chanyeol-Baekhyun yang memandang namja itu aneh.

.

.

Lay berjalan pelan dengan langkah terseret. Sungguh kakinya terasa semakin nyeri setelah ia keluar dari gedung tempat ia biasa berlatih dance tadi.

Grepp...

Lay terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya dan membuat tubuhnya berputar arah seketika. Dan lebih terkejut lagi ketika ia bisa melihat siapa pelaku yang menarik tangannya itu.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Suho dengan nada suara yang sarat akan perhatian. Tatapan lembut yang ia tujukan pada Lay, lantas membuat gadis itu tak kuasa dan otomatis menghindari kontak mata dengannya.

"Lepaskan..." desis Lay sambil berusaha menarik tangannya. Namun Suho justru semakin mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan gadis itu.

"Tidak. Lay-ah, bisakah kau berhenti? Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kau marah padaku dan menghindariku. Sungguh, kalau aku memang berbuat salah, bisakah kau mengatakannya? Bagaimana aku bisa minta maaf jika aku saja tidak tahu dimana titik kesalahanku." Jelas Suho dengan nada suara yang terdengar frustasi. Mendengar itu, membuat Lay mengangkat kepalanya dan menatap Suho dengan tatapan tajam miliknya.

"Lepaskan." Tidak ada kata-kata berarti apapun yang di katakan oleh Lay. hal ini membuat Suho menatapnya kecewa. Melihat Lay yang berusaha menarik diri semakin keras membuat Suho tak tega dan akhirnya melepaskan tangannya. Ia bisa melihat Lay yang mulai berjalan terburu-buru meninggalkannya. Tentu saja, tetap dengan langkahnya yang tertatih.

"Apa ini semua karena Kyungsoo?" tanya Suho tiba-tiba dengan suara yang sengaja ia keraskan agar Lay bisa mendengar. Dan benar saja, langkah gadis itu langsung saja terhenti.

Melihat itu, Suho pun berjalan perlahan mendekati Lay yang hanya diam saja tanpa menoleh ke arahnya.

"Apa kau marah karena aku memperhatikan Kyungsoo? Jujur sebenarnya aku tak paham kenapa kau marah. namun perlu kau tahu kalau aku tidak ada ikatan apapun dengannya. Maksudku, aku memang dekat dengannya tetapi itu semata-mata karena aku menganggapnya seperti adikku sendiri. ada sebuah janji yang sudah kubuat sehingga aku harus selalu menjaganya. Jadi bisakah kau mengerti Lay-ah?" jelas Suho. Kini ia telah berdiri tepat di hadapan Lay sambil menatap gadis itu dengan tatapan intens.

"Untuk apa kau mengatakan hal itu padaku? aku tidak butuh penjelasan apapun darimu." Ujar Lay sambil menatap Suho tajam.

"Aku hanya tidak ingin kau salah paham, Lay-ah."

"Tapi untuk apa? aku bukan siapa-siapamu kan. jadi untuk apa kau memusingkan bagaimana sikapku padamu." Ujar Lay.

"Aku tidak Lay. aku tidak bisa kalau itu kau. Aku tidak tahan kalau kau mengacuhkanku."

Lay tertegun mendengar perkataan Suho.

"kenapa kau harus tak tahan? Kau bahkan tidak pernah peka akan perasaanku." Lirih Lay sambil menunduk. gadis itu memegang erat ujung kaos miliknya, berusaha mati-matian untuk menahan tangis.

"Mianhae..."

"Aku menyukaimu, Oppa." Lay berujar lirih. Sangat lirih sampai mungkin saja Suho tak dapat mendengarnya. Namun dengan namja itu berdiri tepat di hadapannya, bukan hal yang mustahil jika ia mendengar pernyataan Lay.

"Aku tahu."

Lay terkejut bukan main. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Suho dengan tatapan heran.

"Maaf karena aku tidak peka. namun sungguh, awalnya kupikir perasaanku tak berbalas." Mendengar itu, lantas membuat Lay semakin tak mengerti.

Flashback :

Saat ini Suho sedang sibuk berkutak dengan layar komputer miliknya. Bahkan meskipun jam makan malam telah lewat, namun Suho belum ada niat sedikitpun untuk beranjak dari pekerjaannya itu.

Namja yang terkenal pintar dan merupakan salah satu murid kesayangan dan kepercayaan guru-guru di sekolah ini, sekarang sedang mencari-cari draft file berisi soal-soal kelas 2 yang pernah di simpannya.

Besok dia ada janji dengan Baekhyun—salah satu murid baru kelas 2—yang harus ia bimbing. Setidaknya, mendengar beberapa fakta tentang murid baru itu, membuat Suho merasa perlu untuk memberikannya soal-soal ini. namun berhubung soal-soal itu sudah sangat lama tak tersentuh olehnya, Suho sampai bingung sempat menyimpan file itu dimana.

"Suho-ah..."

Suho menoleh ke arah pintu kamarnya ketika ia mendengar suara Eommanya dari luar. Ia pun beranjak berdiri dan mendekati pintu kamarnya, berniat untuk membukakan pintu kamar untuk Eommanya.

"Nde Eomma?" tanya Suho ketika ia sudah berhadapan dengan Eommanya.

"ada seorang gadis yang mencarimu." Ujar sang Eomma.

"Nugu?" tanya Suho heran. Ia melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 7 malam. Siapa gadis yang mengunjunginya jam segini? Tidak biasanya.

"Entahlah. Eomma tak kenal tapi lebih baik kau segera menemuinya."

"Baiklah Eomma."

Akhirnya Suho pun melangkah menuruni anak tangga ke bawah dan menuju ke ruang tengah. Ia sedikit heran karena gadis yang datang ke rumahnya adalah...

"Annyeong..."

Xiumin.

"Ada apa—"

"aku tidak mau basa-basi. Aku datang kesini hanya untuk mengatakan satu hal padamu." Ujar Xiumin cepat sambil menatap Suho tajam.

"Apa itu?" tanya Suho yang heran.

"Berhenti menyakiti sahabatku." Ujar Xiumin dengan nada tegas. "Kau tahu, Lay menyukaimu namun kau justru dekat dengan gadis lain. aku paling benci pada namja yang tak peka sepertimu. Seharusnya kau sadar akan hal itu mengingat kalian nyaris selalu bersama. namun kau justru tak tahu, atau justru berpura-pura tak tahu. Kalau kau memang tak menyukainya, maka jauhi dia dan berhenti mendesaknya. Aku tidak mau sahabatku tersakiti lagi." lanjutnya.

Suho diam seribu bahasa. Bahkan ketika Xiumin langsung berbalik menuju pintu keluar tanpa berkata-kata lagi. Ia pun pulang tanpa berpamitan. mungkin karena terlalu kesal ketika melihat wajah Suho.

"Loh... mana gadis itu, Suho-ah?" Eomma Suho yang baru hadir di ruang tengah itu dengan nampan berisi dua gelas jus, hanya bisa menatap heran putranya.

"Sudah pulang, Eomma." Setelah itu, Suho pun berbalik menuju kamarnya di lantai 2.

Eomma Suho hanya bisa menggeleng menatap punggung putranya.

Sedangkan Suho?

"Lay menyukaimu..." hanya dua kata itu yang terngiang-ngiang bagai radio rusak di gendang telinganya.

FlashBack END

"aku ingin mengatakan sebuah pernyataan. Sejak awal, aku memang hanya namja pengecut yang tidak berani mengungkapkan perasaanku. Aku juga bodoh dan tak peka. Namun sesungguhnya, aku juga menyukaimu Lay-ah." ujar Suho sambil memegang kedua pundak Lay.

"Aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu. Ketika melihat matamu, hatiku terasa berdebar tanpa aku tahu apa alasannya. Dan aku akhirnya sadar dengan apa yang kurasakan, ketika melihatmu sedang menari balet. Kau sungguh terlihat cantik dengan gerakan indah itu. dan saat itu juga aku sadar kalau aku menyukaimu. Namun sikapmu yang acuh saat itu, membuatku berpikir kalau kau tak menyukaiku. Aku yang pengecut ini pun langsung menyerah dan memilih untuk memendam saja perasaanku."

Lay menatap Suho nanar.

"Kau tahu kenapa aku memilihmu sebagai sekertarisku? Itu karena supaya aku bisa selalu berada di dekatmu. Kau tahu kenapa aku bisa masuk ke kelas yang sama denganmu padahal seharusnya aku bisa saja masuk dalam kelas siswa berprestasi? Itu atas permintaanku pada kepala sekolah karena aku ingin selalu berada di kelas yang sama denganmu Lay. Sungguh, aku benar-benar menyukaimu. Dan maafkan aku karena tidak menyadari perasaanmu. Aku terlalu banyak berpikir tentang perasaan tak terbalasku tanpa memikirkanmu."

Brukk...

Tanpa aba-aba Lay langsung saja memeluk Suho dengan erat. Airmata gadis berketurunan cina itupun tumpah dengan derasnya. Sungguh, ini adalah sebuah fakta paling membahagiakan baginya.

Jadi ternyata, cintanya ini berbalas. Sungguh, ternyata dia salah. Bukan Suho yang bodoh melainkan dirinya sendiri. atau lebih tepatnya, mereka berdua sama-sama bodoh karena terlalu banyak berpikir dan hanya bisa memendam perasaan masing-masing seorang diri. Padahal mereka saling menyukai satu sama lain.

Mungkin jika yang namanya cinta di alami oleh orang yang memiliki kepribadian pendiam seperti dirinya dan Suho, pastilah akan terasa makin rumit karena tidak mudah untuk disampaikan.

.

.

Kyungsoo mempersilahkan Kai masuk dengan gugup.

"Maaf kalau aku datang terlambat." Ujar Kai sambil mendudukkan dirinya dengan santai di sofa ruang tamu rumah Kyungsoo.

"Ah! tidak apa-apa. toh, aku hanya menunggu di rumah." Balas Kyungsoo canggung. "Kau ingin minum apa?" tanya Kyungsoo.

"Apa saja. tapi kalau bisa yang dingin ya." Ujar Kai sambil tersenyum.

Kyungsoo meneguk ludahnya gugup ketika melihat senyuman Kai yang terarah padanya.

"B-baiklah." Buru-buru Kyungsoo melangkah menuju dapur rumahnya. Sungguh berada dalam satu ruangan yang sama dengan Kai membuat dirinya merasa seperti kehabisan oksigen.

Kai yang di tinggal seorang diri oleh Kyungsoo pun mulai merasa bosan. Sepertinya pilihannya untuk datang ke rumah gadis itu adalah sebuah kesalahan. Rumah Kyungsoo terlihat sangat sepi, apa jangan-jangan sekarang hanya ada dirinya dan gadis itu saja di rumah ini.

Bola mata Kai memandangi setiap sudut ruang tengah rumah Kyungsoo. Ia pun beranjak berdiri untuk mendekati sebuah rak yang berisi banyak foto-foto yang di bingkai.

Terlihat di sana, sangat banyak foto seorang gadis kecil dengan pipi chubby yang menggemaskan. Kai bisa menebak kalau gadis itu adalah Kyungsoo. ternyata gadis itu ketika kecil manis juga.

Kai meraih sebuah foto dimana di dalamnya terdapat Kyungsoo yang tengah duduk di atas sepeda dan ada seorang namja yang berdiri di sampingnya dan memegangi sepeda tersebut seolah sedang mengajari gadis kecil itu naik sepeda.

"Mungkin ini kakaknya." Gumam Kai sambil tersenyum tipis. Ia jadi teringat kalau dulu, Taemin—Noonanya—juga pernah mengajarinya naik sepeda. Mengingat Kai adalah anak yang manja dan cengeng dulunya, sehingga membuat namja itu sangat lemah dalam bermain sepeda. Jika lecet sedikit saja, maka Kai pasti akan menangis keras. sangat tidak di sangka kan kalau Kai yang seperti itu, kini telah menjadi Kai yang seperti dirinya sekarang ini.

"Kenapa dulu aku sangat memalukan ya." Batin Kai kesal ketika mengingat kelemahannya dulu.

Lalu Kai meletakkan kembali bingkai foto yang tadi di ambilnya lalu beralih pada bingkai yang lain.

Tanpa sengaja Kai mendapati satu bingkai foto yang berisi 3 orang anak kecil. Dua orang di antaranya pastilah tidak asing karena hampir seluruh bingkai foto di situ berisikan dua anak itu, namun satu di antaranya membuat Kai mengernyit. Bukan, bukan karena Kai merasa tak asing. Kai justru merasa sangat mengenal muka anak laki-laki itu, mengingat tidak ada banyak perubahan besar pada wajah namja tersebut.

"Kalau tidak salah, ini Suho hyung si ketua osis itu kan?" gumam Kai. sebenarnya dia tidak merasa akrab dengan Suho, tapi setidaknya ia mengenal dengan baik namja cerdas itu. Secara, Kai sudah mengenal namja itu sejak SMP. Jelas tidak asing lagi kan.

"Kai... Ini minummu."

Kai langsung menoleh ke arah Kyungsoo yang sedang meletakkan dua gelas minuman di atas meja tadi. Kai pun mendekati Kyungsoo dan menepuk bahu gadis itu.

"Rumahmu sepi sekali. Kau bilang kedua orangtuamu ada di rumah kalau hari sabtu." Ujar Kai.

"Ah! aku kan bilang 'kadang'. Kebetulan sekali tadi pagi-pagi sekali Eomma bilang kalau ia ada janji dengan salah seorang novelis. Eommaku kan seorang editor jadi sering ada kerjaan tiba-tiba meski hari libur sekalipun. Kalau Appaku, dia seorang nahkoda. Baru tadi malam dia berangkat dan mungkin pulangnya minggu depan." Jelas Kyungsoo yang merasa tidak enak. Pasti Kai merasa tidak nyaman karena hanya ada mereka berdua saja.

"Lalu, kakakmu dimana?" tanya Kai lagi. "Apa dia kuliah?"

Mendadak raut muka Kyungsoo berubah muram.

"Dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu."

"Mwo?" Kaget Kai. "Mian..."

"Tidak apa-apa. dia meninggal karena kecelakaan. Mungkin kalau dia masih ada, dia sudah kuliah seperti katamu."

Kai menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan canggung.

"Ah, bagaimana kalau kita keluar saja. perutku lapar. aku jadi ingin makan jajangmyeon." Ujar Kai yang berusaha mengalihkan topik.

"Baiklah. Apa aku perlu membawa buku, jadi kita bisa sekalian belajar di luar?"

"Tidak perlu. Nanti kan kita kembali lagi. Apa di sekitar rumahmu ada kedai jajangmyeon yang enak?" tanya Kai.

Kyungsoo mengangguk dengan semangat. "Ada. Di pertigaan jalan sana ada kedai jajangmyeon yang sangat enak. Tapi tempatnya cukup jauh. Aku biasanya naik sepeda untuk kesana."

Dalam hati, Kai rasanya ingin mengutuk Chanyeol. andai saja tiang itu tidak membawa motornya.

"Yasudah, kita naik sepeda saja."

"Tapi aku Cuma punya satu sepeda."

"Aku akan memboncengmu..."

Bola mata Kyungsoo yang sudah bulat justru semakin membulat sempurna sekarang. Sedangkan Kai hanya tersenyum kecil ke arahnya.

.

.

Xiumin tengah terduduk di rooftop rumahnya. Sambil menunduk, ia menatap serius pada selembar foto yang ada di tangannya. Selembar foto yang menyimpan sepotong kenangan yang teramat berharga baginya.

"Lay-ah, Luhannie kita akan bersahabat selamanya bukan?"—Xiumin.

.

"Sahabat akan selalu ada di kala susah maupun senang. Ketika kau sedih, maka kami akan selalu ada. Itu gunanya kami sebagai sahabat, Xiuminnie.."—Luhan.

.

"Aku kecewa pada kalian berdua. Katanya kita sahabat, tapi kenapa kalian justru bertengkar?"—Lay.

.

"Kita bukan lagi sahabat, Luhan-Ssi.."—Xiumin.

.

"aku sangat ingin kita kembali seperti dulu lagi, Lay-ah. aku, kau dan Xiumin. Bisakah?"—Luhan.

.

Xiumin yang tenggelam dalam lamunannya pun tampak tak menyadari kalau ada seorang namja dengan tinggi badan di bawah rata-rata sedang berjalan mengendap dan berniat mengagetinya.

"CHUBBY NOONA..." Teriak Chen dengan suara melengkingnya yang nyaring. Xiumin sampai nyaris terjungkal dan foto yang tadi di pegangnya pun terlepas. Sialnya, mereka sekarang sedang berada di tempat terbuka dan lagi angin tengah berembus pelan.

Xiumin memasang wajah syoknya sambil mengelus-elus dadanya.

"KIM JONGDAE! Kau ingin membunuhku, Hah?" sembur Xiumin kesal. saking kesalnya, rasanya ia ingin menceburkan Chen ke dalam kolam ikan piranha. Biar saja namja itu dimakan ikan ganas sampai tubuhnya habis tak bersisa. Kalau sedang kesal, Xiumin bisa menjadi sangat mengerikan melebihi apapun.

"Hahahaha... Mianhae Noona. aku kan hanya bercanda. Aduh, Noona jadi tambah manis deh kalau sedang kesal." Goda Chen dengan mengedipkan sebelah matanya jahil.

Xiumin pun memilih acuh dan berniat mencari selembar fotonya tadi. Xiumin memandang lantai kayu di sekitarnya, namun benda yang di carinya tetap tak di temukan.

"Neomu jinjja?" seru Xiumin dan mulai panik. Ia sambil melongok ke setiap cela yang ada, namun nihil. Foto itu hilang. Mungkin tertiup angin saat terlepas dari tangan Xiumin tadi.

Sedangkan Chen pun mulai ikut panik dan merasa bersalah. Kalau sampai foto itu hilang, Xiumin bisa benar-benar marah padanya kan?

.

.

Tao merenggangkan tubuhnya yang terasa amat lemas. Ia menyentuh keningnya sendiri yang terasa sedikit panas. Alhasil, gadis manis namun tomboy itu pun hanya bisa mendengus.

Di tambah lagi, Tao teringat pada cuplikan kejadian kemarin ketika ia di tinggal oleh Kris di tengah hujan. Cih, benar-benar ironis dan seperti drama saja. ternyata kisahnya yang seperti ini tidak hanya ada di novel ataupun drama percintaan yang sering tayang di tv. Pada kehidupan nyata pun ada dan menyedihkannya adalah karena dia yang harus mengalami hal itu.

Tao pun beranjak bangun dan melangkah menuju toilet. Ia membasuh wajahnya dan menggosok gigi. Setelah itu, Tao sendiri hanya terdiam.

Ia memperhatikan pantulan wajahnya di cermin.

"wajahku memang tidak secantik Xi Luhan." Gumam Tao. Lalu gadis itu beralih untuk melihat tangannya. Bahkan salah satu tangannya masih terpasang perban, entahlah namun hal ini membuat Tao merasa terpukul lagi.

"Aku juga tidak feminim dan manis."

"Aku tidak populer."

Tao berpikir lagi, berusaha menemukan kekurangannya yang lain.

"Aku tidak baik hati seperti Luhan."

Yah, mau bagaimana kesalnya juga. Tao tidak bisa membenci Luhan. Karena sesungguhnya, Luhan adalah sunbae yang sangat baik. Tao ingat, ketika dia masih menjadi murid baru, Luhan sangat ramah padanya. Bahkan jika sekarang mereka masih sering berpapasan pun, Luhan sering menyapanya lebih dulu.

Rasanya, kalau Tao ingin membenci, maka Kris lah orang yang paling pantas untuk ia benci. Namun Tao lebih tidak bisa lagi membenci Kris. Ia mencintai Kris.

Tao sadar kalau dirinya orang yang kasar dan mudah memukul orang sekalipun dirinya anak perempuan. Tao juga tidak segan-segan mematahkan tangan siapapun yang berbuat jahat padanya. Tapi ia tidak bisa melakukan itu pada Kris.

Sejak dulu, Tao selalu merasa bangga pada dirinya. Meski ia tomboy namun mamanya selalu memuji kalau dirinya manis. namun sekarang ketika ia harus berhadapan dengan Luhan dan Kris. Maka kepercayaan diri Tao akan runtuh seketika.

"Mungkin, aku memang tak pantas ada di sisi Kris." Lirih Tao sedih.

.

.

Luhan tersenyum manis melihat pantulan dirinya di cermin. Sesekali ia menyisir kembali rambut coklatnya yang sudah lurus. Ketika merasa kalau penampilannya sudah sempurna, Luhan pun meletakkan sisirnya di meja rias. Sesekali ia berputar untuk memastikan kembali kalau tidak ada sedikitpun cela pada penampilannya.

Setelah merasa puas, Luhan pun segera meraih tas lengan miliknya lalu melangkah keluar dari kamar.

"Mama... Hannie mau ke rumah Sehunnie dulu ya." Ujar Luhan pada sang Mama yang sedang menonton tayangan drama di televisi.

"Loh, untuk apa? bukankah tadi Sehunnie sudah datang." Heran Henry sambil menatap putri cantiknya. Ia sedikit merasa bangga karena memiliki putri secantik Luhan. Ia sungguh tidak menyangka kalau putri kecilnya yang dulu masih suka menangis kini sudah menjadi gadis cantik yang terlihat dewasa.

Dengan kemeja kotak-kotak yang pas di badannya serta rok selutut berwarna krem. Mungkin setelah ini, Luhan akan menggunakan sepatu flat untuk mempermanis penampilannya.

"Ada sesuatu yang harus anak itu jelaskan, Mama. Jadi Hannie pergi dulu ya. Bye." Lalu Luhan pun mencium pipi Mamanya sekali dan melesat pergi.

Henry sendiri hanya bisa tersenyum dan menggeleng pelan. Setelah itu ia pun kembali memusatkan perhatiannya pada layar kotak yang ada di hadapannya. Mengfokuskan kembali dirinya pada drama kesukaannya.

.

.

Luhan kini telah berdiri di depan pintu rumah keluarga Oh. Sebenarnya jarak antara rumahnya dengan rumah Sehun tidaklah jauh. Hanya berjarak sekitar 7 rumah jika lebih di perhatikan.

Lalu Luhan pun menekan bel pintu rumah Sehun. Tidak butuh waktu lama, seorang yeoja cantik sudah membukanya. Senyum cantik langsung terkembang di wajah yeoja itu, ketika ia melihat siapa sosok yang berdiri di balik pintu rumahnya.

"Annyeonghasseo... Heechul Ahjumma." Luhan menyapa sambil membungkuk dengan sopan.

"Luhannie, tumben sekali kau datang. Ah! apa kau ingin bertemu dengan Sehunnie?" tanya Heechul sambil memasang wajah ramahnya.

"Ne Ahjumma. Sehunnie ada?" tanya Luhan sambil memasang senyum manisnya.

" bukankah ia baru pulang dari rumahmu. Tak lama setelah itu, aku menyuruhnya membeli susu cair di supermarket."

Mendengar itu membuat Luhan hanya bisa memasang wajah kecewanya.

"Sudahlah, jangan pasang wajah sedih begitu. Kajja, masuklah. Ahjumma sedang merangkai bunga di dalam. Bukankah kau juga bisa merangkai bunga?" Heechul menarik lengan kurus Luhan dengan semangat. Luhan yang tidak berdaya pun hanya bisa menurut dan mengikuti tarikan Heechul.

"Aku memang bisa. Hanya saja, rangkaian bungaku masih sangat amatir. Tidak seindah milik Ahjumma." Ujar Luhan dengan merendah, meski memang pada kenyataannya rangkaian bunga yang bisa ia buat tidaklah seindah dan sebagus buatan Heechul.

"Kau ini bisa saja. Kalau kau bisa pun, sudah sangat bagus. Sangat jarang loh ada anak gadis yang suka melakukan pekerjaan seperti ini."

Luhan sendiri hanya bisa tersenyum kecil tanpa membalas kata-kata Heechul. Gadis itu hanya diam dan mendengarkan segala celotehan Heechul yang memang sudah di kenalnya sangat cerewet sejak dulu.

.

.

"Noona, Jeongmal mianhae... aku benar-benar tidak sengaja." Chen memasang wajah memelasnya pada Xiumin yang sudah menekuk wajahnya sejak tadi.

Foto miliknya yang tadi terbang terbawa angin entah kemana sudah tidak di temukan. Dan semua itu di karenakan seorang Kim Jongdae. Sangat menyebalkan bukan, namja bermuka kotak ini.

"Sudahlah, lebih baik kau pulang saja. aku malas melihat wajahmu." Usir Xiumin sambil mengacak rambutnya sendiri.

"Noona..."

"Pulanglah Kim Jongdae." Desis Xiumin pelan.

Sambil memasang wajah kecewanya, Chen pun berjalan menuju pintu rumah Xiumin. Bagaimana ini? sepertinya Xiumin benar-benar marah padanya. Sungguh ia tidak sengaja. Bahkan dirinya sendiri tidak tahu potret foto siapa yang sudah ia hilangkan sampai-sampai membuat Xiumin semarah ini.

Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, jika Xiumin marah padanya maka Xiumin bisa saja mendiamkannya sampai 1 bulan atau bahkan lebih. Xiumin akan bersikap acuh bahkan sampai menganggap dirinya tak ada.

Hal itulah yang terjadi beberapa minggu yang lalu ketika Chen tidak sengaja membuat kamera Xiumin tergores. Dan kali ini, ia melakukan hal lain yang lebih fatal.

Oh, ayolah... ia merindukan gadis tembem yang sangat di sayanginya ini, mengingat beberapa hari belakangan ini ia harus berlatih keras untuk mempersiapkan diri menuju pertandingan basket pada akhir bulan ini. Sungguh, Chen sangat ingin menjadi tim inti. Dan karena itulah ia mencoba berlatih keras bahkan sampai menjadi jarang menemui yeoja yang di sukainya.

Dan sekarang, mereka harus berkelahi. Menyedihkan...

.

.

Suho meletakkan nampan berisi 4 burger dan 4 cola yang baru saja di pesannya. Baekhyun yang melihat hal itupun langsung memasang wajah berbinar miliknya.

Setelah hampir 3 jam suntuk ia berkutat dengan soal-soal yang diberikan oleh Suho hingga membuat perutnya berkonser ria, sekarang ia bisa mengisi perutnya.

Baekhyun pikir, setelah hubungan Suho dan Lay membaik maka kedua orang itu akan pergi dan Suho akan membatalkan niatnya untuk mengajarkan Baekhyun. namun pada kenyataannya, tidak ada sedikitpun yang berubah dari rencana awal mereka. Belajar tetaplah belajar. Meski ada pesta meriah sekalipun, satu kata itu tidaklah boleh di lewatkan. Sungguh mengecewakan bukan?

Namun sisi positifnya, usai mereka puas menimba ilmu di perpustakaan kota tadi, maka Suho langsung mengajak mereka ke sebuah cafe dan memesankan makanan. Dan semuanya, Suho lah yang membayar.

Ada Lay pula yang dengan setia berada di sisi Suho. Memang harus Baekhyun akui kalau kedua orang itu ternyata terlihat cocok. Namun ada satu pertanyaan yang berputar-putar di kepala Baekhyun.

"Lalu bagaimana dengan Kyung-ie?"

Baekhyun menggeleng pelan lalu memasang senyum manisnya. Mungkin hal itu akan ia tanyakan langsung pada Kyungsoo nanti. Sekarang yang paling penting adalah ia harus mengisi perut kosongnya terlebih dahulu.

.

.

Sesekali Kyungsoo melirik sosok tampan yang ada di hadapannya saat ini. sungguh, hari ini benar-benar seperti mimpi indah bagi seorang Do Kyungsoo. Kalaupun benar ini adalah mimpi maka Kyungsoo akan sangat berharap agar tidak di bangunkan.

Pertama, ketika melihat Kai berdiri tegap di depan pintu rumahnya, Kyungsoo sudah merasa kalau seluruh darah yang ada dalam tubuhnya naik semua ke otak.

Kedua, ketika Kai tiba-tiba mengajaknya makan Jajangmyeon. Dan lebih membahagiakannya lagi adalah ketika Kai memboncengnya dengan sepeda menuju tempat kedai Jajangmyeon. Sungguh, ia dan Kai tidaklah pernah dekat sebelumnya. Namun sekarang, ia merasa menjadi gadis paling beruntung di dunia. Bahkan mungkin seluruh fans-fans Kai di sekolah yang menganggumi namja itu, pastilah akan sangat iri karena melihat seorang Do Kyungsoo yang bukanlah siapa-siapa bisa menjadi dekat dengan seorang Kim Jongin.

Ketiga, ialah sekarang. Ia duduk dalam satu meja yang sama dengan Kai—di ruang tamu rumah Kyungsoo—dan berhadapan. Sungguh, Kyungsoo jadi merasa dekat dengan Kai. padahal sebelumnya, ia sendiri merasa kalau dirinya ketika melihat punggung Kai sangatlah terasa jauh. Seolah Kai adalah sebuah bintang yang tak akan bisa di gapainya.

Sungguh, cinta bisa membuat siapapun menjadi gila dan berada di luar batas nalar. Begitupun yang di rasakan Kyungsoo. kalau ia bisa, mungkin ia sudah meledak sekarang saking bahagianya.

"Ekhemm... kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Kai heran. Suara Kai yang terdengar datar, lantas langsung menyadarkan Kyungsoo dari mimpinya.

"T-tti-dak.. Ah, aku ingin ambil minum lagi." Lalu Kyungsoo langsung berdiri dengan canggung sambil meraih gelas kosong miliknya.

Kai yang melihat hal itupun hanya mengendikkan bahunya acuh lalu kembali fokus pada bukunya.

Namun tanpa sengaja, mata Kai menangkap ada sesuatu yang janggal pada buku note milik Kyungsoo yang tergeletak manis di atas meja. Ada sesuatu yang terselip dalam buku tersebut—terlihat dari tepinya. Awalnya Kai ingin acuh saja, tapi karena rasa penasarannya yang tinggi, Kai pun mengambil buku note bergambar beruang tersebut.

Lalu Kai pun membuka buku note tersebut dan bola mata namja itu langsung membulat.

"Ini..." gumam Kai dengan nada suara yang tercekat. "Aku..."

Sebuah foto dirinya yang sedang membersihkan lensa kamera. Kai bahkan sama sekali tidak sadar kalau ada seseorang yang mengambil fotonya kala itu. Bagaimana bisa ada foto dirinya di buku Kyungsoo.

"Apa jangan-jangan..." belum sempat Kai menyelesaikan gumamannya, Kai langsung menutup buku note tersebut dan menaruhnya di tempat semula.

Saranghae Kim Jongin

Ia menemukan tiga kata itu tepat di bawah foto tadi. bahkan tanpa ada niat untuk membacanya dua kali, Kai sudah bisa mengambil sebuah kesimpulan.

"Maaf aku lama." Kai mengangkat wajahnya dan mendapati Kyungsoo yang sudah kembali duduk di hadapannya.

"Ah! Sepertinya hari sudah mulai sore. Aku harus pulang" dengan segera Kai membereskan barang-barangnya lalu meraih tas ranselnya.

"Kenapa—"

"Aku pulang dulu ya. Tidak usah di antar. Sampai jumpa."

Setelah berkata begitu, Kai pun langsung melesat pergi tanpa menoleh lagi. Kyungsoo hanya bisa memasang wajah heran dan tidak mengertinya melihat tingkah aneh Kai.

"Mungkin dia memang harus segera pulang." Gumam Kyungsoo dan meraih kembali pensil mekaniknya. Mungkin ada baiknya kalau ia kembali belajar.

Pergerakan Kyungsoo pun terhenti ketika ia mendapati sebuah benda persegi di atas meja.

"Ponsel Kai. astaga, dia meninggalkan ponselnya."

Kyungsoo pun langsung meraih ponsel milik Kai tersebut dan berlari keluar rumah. Namun sayangnya, Kai sudah tidak terlihat.

"Lebih baik kukembalikan besok." Gumam Kyungsoo dan kembali masuk ke dalam rumah.

.

.

Luhan menatap penuh kagum pada berpuluh-puluh rangkaian bunga yang baru saja di buat oleh Heechul. Lalu ia beralih untuk melihat rangkaian miliknya.

"Ahjumma, kau benar-benar hebat." Puji Luhan.

"Jinjja? Kau sudah memujiku berkali-kali Hannie-ah. rasanya aku tidak sehebat itu." Ujar Heechul. Dan Luhan pun hanya tersenyum manis menanggapinya.

Kedua wanita itu pun terdiam dan sibuk pada kerja tangan masing-masing. Sampai akhirnya seorang namja tinggi berwajah datar pun menghentikan keheningan tersebut.

"Eomma aku pulang. Loh, Noona?" kaget Sehun ketika mendapati sang Eomma sedang bersama gadis pujaannya.

"Sehunnie, akhirnya kau pulang." Riang Luhan dan langsung beranjak berdiri. Gadis itupun melangkah cepat mendekati Sehun.

Heechul yang melihat itupun hanya menggeleng sambil menatap tajam putra semata wayangnya. "Beli susu saja lama sekali sih, Sehun-ah. Kau tahu, Luhan sudah menunggumu daritadi."

"Jinjja? Mian—" kata-kata Sehun terputus dan di gantikan dengan bola matanya yang membola. Ia menatap Luhan tak percaya sambil menyentuh pipi kirinya.

Sehun terkejut, begitupun Heechul. Ia tidak menyangka dengan apa yang di lakukan oleh Luhan. Gadis cantik yang terlihat polos itu.

Tanpa peduli dengan adanya Heechul yang menyaksikan adegan mereka, Luhan pun kembali mencium pipi Sehun. Kali ini yang sebelah kanan.

"Kau hutang penjelasan padaku atas pemberianmu tadi pagi, Sehunnie." Ujar Luhan dengan nada suara lembut namun menuntut.

Sehun sendiri hanya bisa meneguk ludahnya gugup. Sungguh, yang tadi pagi ia lakukan memang sangat di luar perkiraan. Sehun tidak ada maksud untuk menyatakan perasaan ataupun apa. Ia hanya ingin saja.

Namun, sikap Luhan kali ini justru membuatnya kelabakan. Apalagi Luhan menciumnya. Dan itu di depan Eommanya?

"Kau diam saja? Jadi sekarang, apa kau mau lari lagi? Sehunnie! Katakanlah perasaanmu padaku." Ujar Luhan dengan pasti.

Lagi-lagi Sehun meneguk ludahnya dengan susah payah. Namja tampan itu pun hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Mungkin inilah saatnya ia untuk berani. Inilah saatnya ia mengakui perasaan yang telah ia rasakan sejak kecil.

"Noona..." Sehun memberi jeda pada kata-katanya. Berusaha untuk menetralisir terlebih dahulu rasa gugupnya.

Luhan pun hanya menatap Sehun sabar. membiarkan namja itu menyelesaikan kata-katanya. Maka setelah itu, barulah Luhan yang akan mengaku.

"S-sarang-hae..." ucap Sehun terbata-bata.

"Bisakah kau mengatakannya dengan lebih jelas, Sehunnie?" pinta Luhan.

"Saranghae Luhan Noona." Ujar Sehun lantang.

"Nado Saranghae Oh Sehun." Tanpa aba-aba, Luhan langsung menubrukkan tubuhnya pada tubuh tinggi Sehun. Memeluk namja yang lebih muda darinya itu dengan erat.

Perlahan namun pasti, Sehun pun melingkarkan lengannya di pinggang Luhan. Membalas pelukan gadis itu dengan sama eratnya.

Heechul yang melihat hal itupun tersenyum melihat putranya bersama dengan gadis yang sudah ia sayangi seperti anaknya sendiri selama ini.

"Calon menantu seperti yang kuharapkan"—batin Heechul senang. Mungkin setelah ini, ia akan menghubungi Henry dan mengatakan kalau sebentar lagi mereka akan menjadi calon besan. Hahaha...

.

.

Tao membaringkan tubuhnya dengan kasar. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan sendu. Tadi setelah makan bubur yang di buatkan oleh salah seorang maid di rumahnya, Tao pun memutuskan untuk kembali ke kamar.

Gadis penyuka panda itupun meraih ponsel miliknya yang terletak di bawah bantal. Ia bisa melihat ada dua panggilan dan dua pesan yang belum di bacanya. Ketika ia lihat, ternyata yang menelponnya adalah Mamanya yang sekarang sedang di Beijing.

Lalu Tao beralih untuk membaca pesan yang di kirimkan padanya.

From : Mama

Tao-ie, apa kabarmu? Kau sehat kan?

Tao tersenyum membaca pesan tersebut. Ia pun dengan segera membalas pesan tersebut.

To : Mama

Kabarku baik dan aku sangat-sangat-sangat sehat. Bagaimana dengan mama? Lalu bagaimana dengan papa? Apa kabar kalian juga baik? Jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja. Kalian juga perlu istirahat kan.

Lalu Tao pun menekan tombol send. Rasanya sedih juga jika harus terpisah jauh dari kedua orangtuanya.

Ada secerca rasa sesal atas keputusan yang telah di buatnya. Seandainya saja dulu ia tidak memaksa untuk tinggal di Korea demi seorang... Kris.

Uuhh... sekarang Tao jadi merasa kesal. Ia merasa menjadi orang paling bodoh di dunia ini karena harus jatuh dalam pesona namja jahat itu. bahkan sampai mengikuti namja itu ke negeri yang awalnya terasa asing baginya ini.

Tao bodoh. Yah, memang. Ia menjadi bodoh karena Kris. Ia bodoh karena cinta. Bukankah cinta itu memang terasa amat pahit.

Tao pun terpikirkan akan sebuah hal. Satu hal yang semoga saja tidak akan ia sesali jikalau ia lakukan sekarang. Dengan segera gadis itu mengetik sebuah nomor yang sudah di hafalnya di luar kepala. Setelah itu, ia mengetikkan sederet pesan yang akan di tujukannya pada nomor itu.

To : Kris

Kurasa lebih baik semua ini berakhir.

.

.

Chanyeol menghentikan motornya—motor Kai—tepat di depan pagar rumah Baekhyun. Ia bisa merasakan kalau Baekhyun memegang bahunya untuk mempermudah gadis itu turun dari motor.

Ketika Baekhyun sudah turun dari boncengannya, Chanyeol pun ikut turun. Baekhyun tersenyum begitu manis pada Chanyeol bahkan sampai menunjukkan eyesmilenya. Hal ini lantas membuat hati Chanyeol terasa berdesir seketika.

"Gomawo Chanyeollie." Ucap Baekhyun manis.

Rasanya Chanyeol sudah benar-benar tidak tahan untuk terus memendam perasaannya. Persetan dengan gengsi ataupun rasa malu. Mungkin ada baiknya ia mengesampingkan hal itu terlebih dahulu.

Perlahan Chanyeol pun mendekatkan wajahnya pada Baekhyun lalu mengecup kening gadis itu. Baekhyun yang merasakan bibir lembut Chanyeol yang bersentuhan dengan kulitnya pun langsung saja merona.

"Chan—" bahkan Baekhyun sampai tak bisa berkata-kata lagi.

"Baekhyun-ah..." Chanyeol melepas ciumannya tadi. Ia pun memegang kedua bahu Baekhyun dan menatap gadis itu dengan intens.

"Kurasa ini memang terdengar bodoh. Awalnya, aku bahkan tidak pernah terpikirkan kalau akan mengatakannya padamu. Meski awalnya aku merasa ragu dan malu, namun entah kenapa sekarang aku merasa yakin." Chanyeol menghentikan kata-katanya untuk mengambil napas sejenak.

"Mungkin ini terdengar bodoh dan konyol. Tapi sepertinya—tidak bukan 'sepertinya'. Tapi sesungguhnya aku menyukaimu. Di dalam sini, ada rasa sayang yang membuncah yang membuatku ingin selalu menjagamu. Membuatku merasa sesak jika barang sekali saja tidak melihatmu. Sungguh, awalnya aku malu untuk mengakuinya, tapi sekarang tidak lagi. Jadi Baekhyun-ah... maukah kau menjadi kekasihku?"

Bibir Baekhyun terkatup rapat. Perlahan bola mata sipit gadis itu mulai memerah dan berkaca-kaca. Tidak, ia tidak merasa senang sedikitpun mendengarkan penuturan tulus Chanyeol kepadanya. Sungguh, Baekhyun sangat ingin merasa senang. Namun jika ia berpikir lagi, ini adalah satu hal yang salah.

Chanyeol mengernyit heran ketika ia melihat Baekhyun menggeleng. Di tambah lagi dengan lelehan air mata yang mulai membasahi mata dan pipi putih gadis itu.

"Mian Yeollie... Hiks! Aku tidak bisa."

.

.

.

To Be Continued

Words : 7.661

Updated : 17/04/14

.

.

A/N :

Aku tahu kalau aku salah. Hemmm... sebenernya kalau mau jujur, kadang aku merasa kehilangan feeling buat FF ini. aku ga bisa mendapatkan ide yang pas buat lanjutannya. perlu banyak renungan untukku demi mendapatkan secerca bayangan tentang FF ini. makanya, aku ga bisa mengetiknya dengan cepat. maaf karna membuat kalian selalu kecewa.

semoga saja kalian masih mau menantikan FF abalku ini. maklum, aku bukan penulis hebat. aku hanya amatir yang suka berkhayal.

Untuk kelanjutannya, maukah kalian tetap menunggu? aku tidak janji akan cepat namun aku pasti melanjutkannya. aku ga akan menelantarkan FF ini. Aku janji.

Oke deh. sekian segitu aja.

kalau kalian masih berkenan, maka tinggalkan jejak ne? kamsahamnida.