Melodi Kematian
By : Ishikawa Ayica
Naruto milik Masashi Kishimoto
Pair : SasuSaku, NaruHina, NejiTen, ShikaTema, SaIno, GaaMatsu
Rated : T
Genre : Horror/Mysteri/Romance/friendship
Warning : Abal, AU, OOC dsb.
Don't Like Don't Read!
Sakura membuatkan makan malam untuk suami tercintanya, sedangkan sang suami pergi membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam bersama sang istri yang tengah mengandung si buah hati yang sudah sangat di nantikan.
/
/
2 bulan berlalu, kondisi Temari semakin membaik dan Sakura masih mengalami masa mengidam yang sulit.
Sakura saat ini sedang berada di rumah sakit dan memeriksa kesehatan Temari yang sudah sadarkan diri.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura pada Temari yang di temani Shikamaru.
"Aku baik-baik saja dokter." Ucap Temari menggoda Sakura.
"Kau ini. Syukurlah kalau kau baik-baik saja." Ucap Sakura tersenyum lega.
"Oh iya, kudengar kau sedang mengandung? Selamat ya." Ucap Temari tulus pada Sakura.
"Ya Terima kasih, meskipun sebenarnya Sasukelah yang mengidam." Ucap Sakura menahan tawa. Sementara Shikamaru dan Temari saling menatap kemudian tertawa, mereka tak bisa bayangkan bagaimana jadinya jika Sasuke mengidam.
"Pfft.. Sasuke mengidam?" tanya Temari sambil menahan tawanya agar tak pecah.
"Ya. Dia jadi suka muntah jika mencium bau tomat, jadi lebih dingin meskipun kini malah tambah manja." Ucap Sakura tertawa mengingat Sasuke.
"Kudengar kalian sedang membicarakanku." Kata Sasuke yang ternyata sedari tadi telah masuk keruangan Temari.
"Kau disini?" tanya Sakura msih setengah tertawa pada Sasuke.
"Hn. Tertawalah." Ucap Sasuke menyindir Sakura sambil mengambek.
"Tapi Sasuke, selamat ya, sebentar lagi kau akan jadi seorang ayah." Ucap Temari tersenyum tulus pada Sasuke.
"Ya, selamat Sasuke." Dukung Shikamaru pada Sasuke.
"Tentu, terima kasih." Kata Sasuke serius kemudian menatap Sakura yang sedang tersenyum.
"Apa?" tanya Sakura memicing curiga pada Sasuke.
"Temani aku makan siang. Aku merindukanmu." Ucap Sasuke memeluk Sakura.
"See? " kata Sakura pada Temari. Temari hanya mengangguk dan tersenyum tulus pada Sakura.
"Namanya juga mengidam. Syukurlah dia tak mengidamkan hal-hal yang aneh." Kata Shikamaru tertawa pada Sakura.
"Tidak mencicipi tomat secuilpun sudah cukup aneh bagiku." Kata Sasuke menatap Shikamaru malas.
"Tapi itu wajar menurut kami." Kata Shikamaru balas menatap Sasuke malas dan mereka ditertawai oleh istri-istri mereka.
Sasuke dan Sakura kemudian mohon pamit pada Temari dan Shikamaru.
/
/
"Karena kita sedang ada di rumah Sakit apa tidak sekalian saja kita periksakan kandunganmu?" tanya Sasuke khawatir pada Sakura.
"Aku baik-baik saja Sasuke-kun." Ucap Sakura tersenyum menatap Sasuke.
"Tapi aku ingin tau perkembangannya." Bujuk Sasuke pada Sakura.
"Baiklah, ayo. Kurasa Matsuri ada diruangannya." Ucap Sakura tersenyum dan menggandeng tangan Sasuke menuju ruangan Matsuri.
Tok..Tok..Tok..
Sakura mengetuk pintu ruangan Matsuri, kemudian terdengar suara "Masuk" dari dalam ruangan.
"Maaf mengganggumu, ada seorang ayah yang khawatir disini dengan keadaan anaknya yang masih berumur 2 bulan." Kata Sakura tersenyum pada Matsuri yang sedang menulis beberapa dokumen di mejanya.
"Hahah, tak apa. Silahkan duduk." Kata Matsuri setengah tertawa. Kemudian mereka berbicara yang sudah tak bisa Author dengar lagi tentang apa. Sakura tersenyum begitupun Sasuke. Satu yang pasti Sasuke sangat senang dan bahagia begitupun dengan Sakura yang sangat menginginkan segera memiliki keturunan tersebut.
/
/
/
/
7 bulan kemudian.
"Aku dengar waktu untuk melahirkan bagi Sakura sebentar lagi." Ucap Ino sambil mengemil menatap Hinata.
"Ya. Kudengar dari Matsuri seperti itu." Ucap Hinata menanggapi Ino sambil juaga menikmati makanan kecil yang mereka makan di rumah Ino.
"Kau kapan menyusul?" tanya Ino menyeringai menatap Hinata.
"Aku? Seharusnya pertanyaan itu untukmu. Aku sedang mengandung meski usia kehamilanku baru 2 minggu." Ucap Hinata terawa pada Ino.
"Apa? Dan kau tak memberitaukannya padaku? Kau ini jahat sekali." Rajuk Ino pada Hinata.
"Maaf. Aku hanya lupa." Ucap Hinata merasa bersalah pada Ino.
"Tak perlu, aku juga bersalah padamu. Sebenarnya aku sedang mengandung anak Sai. Baru 4 hari." Ucap Ino tersenyum senang.
"Kau serius?" tanya Hinata tak percaya.
"Tentu." Ucap Ino yakin pada Hinata.
"Yaampun, selamat Ino." Kata Hinata memeluk Ino senang.
"Selamat untukmu juga." Ucap Hinata balas memeluk Ino. Pembicaraan mereka terdengar oleh para suami yang sedang menonton bola di ruang tamu.
"Dasar para wanita." Gumam Naruto dan Sai malas.
/
/
/
"Sasuke-kun.." teriak Sakura dari dalam kamar.
"Ya ampun Sakura, berhentilah berteriak seperti itu. Jika ada orang lewat mereka akan mengira aku sedang menyakitimu." Ucap Sasuke frustrasi pada Sakura, pasalnya Sakura sudah berteriak kesakitan sedari tadi.
"Tapi ini sakit sekali." Ucap Sakura menatap membunuh pada Sasuke.
"Sudah kubilang 2 jam sebelumnya untuk menunggu kelahirannya di ruamh sakit tapi kau menolak. Ayo pergi." ucap Sasuke menatap Sakura sayang dan khawatir.
"Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak bisa bergerak." Ucap Sakura memelas pada Sasuke.
"Kugendong." Kata Sasuke pasti agar Sakura mau dibawa kerumah sakit.
"Menggendong kami? Sasuke! Aku tak lagi sendiri. Pasti akan berat." Ucap Sakura berpikir sejenak.
"Ya ampun Sakura. Terserah! Ayo kerumah sakit." Ajak Sasuke pasti kemudian Sasuke menggandeng tangan Sakura dan menuntun Sakura secara perlahan agar dapat sampai kerumah Sakit untuk melahirkan. Rupanya hal ini menjadi hal terberat dalam hidup Sasuke. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit seolah menjadi perjalanan menuju neraka bagi Sasuke. Bagaimana tidak jika Sakura terus menjambak rambutnya, mencubitnya bahkan memukul bahunya untuk melampiaskan rasa sakit yang dirasakan oleh sang istri tercinta.
"Sabarlah Sakura. Kita akan segera sampai." Kata Sasuke serius yang wajah dan rambutnya sudah sangat berantakan.
"Mudah bagimu untuk mengucapkannya." Kata Sakura cemberut pada Sasuke. Sasuke kemudian semakin melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit Sakura merasakan sakit yang luar biasa. Sakura di bantu oleh dokter yang saat itu sedang bertugas menggantikan matsuri yang sedang pergi berbulan madu bersama Gaara.
"Dokter, bagaimana ini? Apa Sakura akan baik-baik saja?" tanya Sasuke cemas pada sang dokter.
"Dia baik-baik saja. Ini hal yang wajar dalam persalinan." Ucap sang dokter tersenyum dan Sasuke hanya mengangguk menatap istrinya khawatir.
"Aku baik-baik saja Sasuke-kun." Ucap Sakura tersenyum paksa dengan wajah pucat yang penuh dengan keringat.
"Apa anda sudah tau jenis kelamin bayi anda?" tanya sang dokter pada Sasuke serius.
"Masih belum. Kami tidak ingin mengetahuinya sebelum ia lahir." Ucap Sakura tersenyum pada si dokter menggantikan Sasuke yang akan menjawab.
"Baiklah kalau begitu. Mungkin sebaiknya anda menunggu di luar. Jika dokter Sakura membutuhkan anda untuk menemaninya baru kami akan memanggil anda." Kata dokter tersenyum ramah pada Sasuke. Sasuke mengangguk mengerti dan pamit pada Sakura.
"Bertahan dan berjuanglah." Ucap Sasuke yang di jawab oleh anggukan kepala dari Sakura, kemudian Sasuke mengecup jidat Sakura sebelum keluar. Sesampainya di luar ruangan ia di kagetkan dengan pasangan Ino dan Sai juga Hinata dan Naruto yang telah menunggu.
"Dia baik-baik saja?" tanya Naruto khawatir.
"Hn. Dia akan baik-baik saja." Ucap Sasuke pasti dan hal itu membuat para sahabat tersenyum sedikit lega. Memang hanya ada Sai, Ino, Hinata, dan Naruto yang menemani saat ini karena Gaara dan Matsuri yang baru saja menikah sedang melangsungkan bulan madu mereka keluar negeri, sementara Tenten dan Neji sedang melakukan perjalanan bisnis, sementara Temari dan Shikamaru sedang mengurus bayi mereka yang prematur di luar kota di tempat tinggal orang tua Temari berada.
/
/
Sasuke dan yang lainnya terus menunggu dengan berusaha sabar meski sebenarnya Sasuke sangat khawatir. Sudah berjam-jam berlalu dan tak ada apapun yang terdengar dari dalam ruangan, bahkan jeritan sakit saat melahirkanpun tak terdengar dari sana, benar-benar sepi dan hening membuat suasana ini sedikit aneh dan mulai memperngaruhi munculnya pemikiran Sasuke yang tidak-tidak.
"Lama sekali." Gusar Sai menatap dalam ruangan.
"Diamlah! Kau fikir kau sedang mengantri membeli popcorn? Tentu saja ini akan sangat lama." Ucap Ino marah pada Sai.
"Kau tau dari mana? Melahirkan saja belum. Kau jadi menjengkelkan akhir-akhir ini." Ucap Sai gusar pada Ino.
"Tenanglah kalian berdua. Dan kau Sai, maklumi saja Ino mungkin sedang mengidam." Ucap Hinata mengernyit menatap pasangan Sai dan Ino yang selalu bertengkar.
"Dia tidak akan bisa memaklumi, aku rasa dia juga sedang mengidam." Ucap Ino tersenyum paksa pada Hinata. Hinata tersenyum pada Ino sementara Naruto menatap tak mengerti.
"Sudahlah, yang penting kita tunggu Sakura. Aku ingin memeluk bayi mungil Sakura." Ucap Naruto berbinar senang, namun ia mendapati tatapan membunuh dari Sasuke.
"Jangan harap bisa menyentuh anakku." Ucap Sasuke overprotectif mode On.
"Cih, aku tak butuh izinmu." Ucap Naruto menantang menatap Sasuke.
"Naruto-kun jangan membuat keributan." Ucap Hinata gemas pada Naruto.
"Bukan aku Hinata, tapi si Teme ini yang selalu membuat keributan." Kata Naruto memelas membela diri.
"Hn. Berisik!" ketus Sasuke berdiri dan mendekati ruang persalinan.
Sasuke ingin melihat kedalam apa Sakura baik-baik saja meski sebenarnya ia tak benar-benar bisa melihat apa yang terjadi didalam.
Tiba-tiba seorang dokter keluar bersama perawat. Begitu pintu di buka terdengar suara tangisan bayi yang sangat nyaring.
"Anda boleh melihat." Ucap dokter pada Sasuke. Sasuke mengangguk senang kemudian memasuki ruangan. Di dapatinya sang istri sedang tersenyum dengan memeluk 2 anak sekaligus.
"Kembar?" tanya Sasuke kaget dan tak percaya.
"Ya Sasuke-kun, kembar." Ucap Sakura menangis bahagia. Sasuke segera mendekati Sakura dan memeluk salah satu bayinya setelah sebelumnya ia mencium Sakura. Ia menatap dalam-dalam kedua anaknya yang memang sangat mirip tersebut. Yang satunya berjenis kelamin laki-laki dan yang satunya berjenis kelamin perempuan. Keduanya memiliki wajah perpaduan antara Sasuke dan Sakura. Si bayi laki-laki memiliki rambut hitam kelam persis seperti milik Sasuke, sedangkan matanya berwarna emerald, si bayi perempuan memiliki rambut pink yang melebihi warna rambut Sakura, lebih pink dari milik Sakura. Matanya hitam kelam seperti Sasuke, selain kedua hal itu baik garis wajah dan yang lainnya semuanya sama.
"Terima kasih." Ucap Sasuke menatap Sakura. Sakura menatap Sasuke bahagia, beberapa tetes air mata mengalir dari wajahnya.
Sasuke kemudian mendekat dan menghapus air mata itu dari wajah Sakura.
Sakura di pindahkan, begitupun dengan bayi kembarnya. Naruto dan Hinata menggendong sang bayi dan terlihat sangat senang.
"Menurutmu mereka terlihat mirip siapa?" tanya Naruto serius pada Hinata sambil menatap wajah lelap sang bayi perempuan yang ada di gendongannya.
"Aku rasa mereka sangat mirip dengan Sasuke." Ucap Hinata tersenyum menatap bayi laki-laki yang juga sedang terlelap.
"Itu tidak mungkin. Jelas-jelas mereka terlihat mirip dengan Sakura-chan." Ucap Naruto mengernyit menatap sang bayi. Sementara Sasuke mendekat dan menjitak kepala Naruto kemudian mengambil bayinya dari tangan Naruto. Sakura dan Hinata tertawa melihat tingkah para suami mereka.
"Sssst. Kalian ini! Jangan ribut. Ini rumah sakit. Sini gantian. Aku ingin memeluk si bayi perempuan." Ucap Ino kemudian mengambil alih bayi perempuan dari Hinata. Hinata kemudian terseyum dan menatap sang bayi dari pelukan Ino. Sai mendekat dan menyentuh pipi sang bayi yang masih sangat merah.
"Tapi aneh, mereka tidak menangis sama sekali?" tanya Sai menatap Sakura bingung. Sasuke hanya menyeringai sementara Sakura tersenyum mengerti.
"Mungkin faktor bawaan." Ucap Sakura tersenyum pada Sai.
"Maksudmu?" tanya Ino tak mengerti.
"Saat aku dilahirkan bersama adik kembarku dulu kata ibu saat itu aku tidak menangis. Cherry yang menangis. Dia menangis sangat keras dan terlalu sering seperti ia menggantikan tangisan yang tak keluar dariku. Sedangkan kata ibu Sasuke, Sasuke sejak dilahirkan memang tak pernah menangis, kecuali saat Itachi-nii dulu sekolah di luar negeri dan meninggalkannya di jepang sendiri saat umurnya masih 7 tahun." Ucap Sakura tersenyum pada Ino yang ternganga dengan pengakuan Sakura.
"Hebat! Aku merasa akan ada dua anak kembar yang bersifat seperti Sasuke dikemudian hari." Kata Naruto membayangkan anak-anak Sasuke yang sangat dingin dan angkuh.
"Tapi aku harap mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan selalu bersama selamanya." Ucap Hinata tersenyum tulus pada Sakura.
"Ya, Terima kasih Hinata. Kau mengharapkan hal yang sangat kuharapkan. Aku tak ingin mereka menjadi sepertiku." Ucap Sakura tersenyum sedih.
"Menjadi seperti dirimu bukan merupakan hal yang aneh. Kau wanita terkuat yang pernah kutemui. Aku tak ingin anak-anakku menjadi seperti Naruto yang selalu mengeluh." Ucap Sasuke tersenyum menatap Sakura.
"HOY! Orangnya ada disini. Membicarakanku seperti aku tak ada. Lihat saja kalau mereka sudah besar aku akan mencuci otak mereka untuk memusuhimu." Kata Naruto menyeringai jahil sambil menghayalkan rencana busuknya.
"Cih! Kau yakin mereka akan menurut padamu? Mereka itu keturunanku, mereka adalah Uchiha kalau kau lupa." Ucap Sasuke menyeringai menatap Naruto.
"Ceh! Sombong sekali kau, lihat saja nanti kalau Hinataku sudah melahirkan. Mereka akan menjadi seorang Uzumaki yang kuat dan melawan para Uchiha yang sombong." Ucap Naruto bangga mengelus-ngelus perut Hinata.
"Menurutku dari pada menjadi musuh bukankah lebih baik jika mereka bersahabat?" tanya Sakura menatap Naruto tak suka sementara Naruto menyengir merasa bersalah pada Sakura karena leluconnya yang terlalu bersemangat dan terdengar seperti niat jahat.
"Eh? hehehhee. Aku hanya bercanda, Sakura-chan." Ucap Naruto menyengir sementara Sasuke mendengus tawa memandang Naruto remeh.
"Lagipula apa kau yakin ayah Hinata akan membiarkanmu menyematkan Uzumaki pada cucunya?" tanya Sai innocent pada Naruto. Naruto memandang Sai cepat dan yang lainnya menahan tawa mereka.
"Apa maksudmu Sai?! Katakan apa maksudmu?!" seru Naruto mengguncang tubuh Sai, sementara Hinata tersenyum setengah tertawa.
"Ya, mungkin akan ada yang menyandang Hyuuga diantara keturunanmu. Mengingat Hinata adalah putri keluarga Hyuuga tingkat atas yang tentu saja memerlukan seorang penerus." Ucap Sai polos seolah tanpa beban sementara Naruto seperti sudah kehilangan rohnya.
'Aku lupa hal itu. Mungkin saja itu benar. Kalau begitu harus berapa kali Hinata melahirkan. Hiks' batin Naruto melankolis sendiri. Sementara yang lainnya tertawa menanggapi Naruto yang frustrasi.
/
/
Bertahun-tahun-tahun-tahun kemudian
Sakura dan Sasuke bahagia bersama anak mereka. Semakin mereka tumbuh semakin jelas kepribadian mereka. Mereka sangat saling menjaga, yang perempuan sangat mirip dengan Sasuke dan tentu saja mulai menjadi idola baru dalam garis keturunan Uchiha selanjutnya. Ia menjadi putri yang cantik dan dikejar banyak pria. Jika pada jaman Sasuke para pria yang mengalami kecemburuan karena para wanita yang sering mengejar Sasuke maka pada jaman ini para wanita yang akan banyak mengalami kecemburuan. Sedangkan anak laki-laki mereka juga mirip dengan kepribadian Sasuke. Bedanya dia akan bisa bersikap manis dan ekspresif hanya di depan orang-orang yang ia kenal seperti para sahabat Sakura dan Sasuke dan tentu saja di depan adik kembarnya. Pasangan ini selalu dilirik dengan mata-mata iri oleh orang-orang yang melihat mereka. Paras tampan dan cantik sempurna, serta gaya cool mereka yang diwarisi dari seorang Uchiha benar-benar menjadikan mereka seorang idola yang sangat diidamkan oleh lawan jenis.
/
/
Ino dan Sai juga memiliki 2 orang anak. Yang satunya sangat mirip dengan Ino dan yang lainnya sangat mirip dengan Sai. Keduanya perempuan. Meski rambut mereka mewarisi rambut Ino, mata mereka benar-benar milik Sai. Yang satu sangat mirip dengan Sai, bedanya dengan Sai si gadis yang suka tersenyum palsu ini ternyata sangat jahil, sementara yang lainnya sangat fashionista seperti ibunya.
/
/
Hinata dan Naruto memiliki 4 orang anak. Benar dugaan Sai waktu itu, sang kakek dari pihak Hyuuga meminta penerus Hyuuga darinya. 3 laki-laki dan satu orang perempuan. 2 diantaranya sangat mirip dengan Hinata, dalam arti fisiknya. Seperti mata dan juga rambut yang sangat khas Hyuuga. Sehingga keduanya diberi nama Hyuuga, sementara yang satu laki-laki dan satu perempuan itu di beri nama Uzumaki. Uzumaki ini memiliki sifat yang sangat jauh berbeda dari Naruto. Mereka sangat dingin tak tidak bersikap bodoh seperti Naruto, meskipun ada saat-saat mereka melakukan kebodohan terutama jika mereka sudah bertemu dengan anak perempuan Ino yang jahil.
/
/
Matsuri dan Gaara memiliki 2 orang anak yang kedua-duanya laki-laki dan sangat mirip dengan Gaara. Yang diwariskan matsuri hanyalah sifatnya saja. Sehingga menjadi perpaduan antara sifat Gaara yang tegas dan sifat Matsuri yang lembut.
/
/
Sedangkan Neji dan Tenten memiliki 3 orang anak. 1 laki-laki yang mewarisi sifat dan ketegasan juga perawakan Neji, yang satunya perempuan yang benar-benar kuat dan manis seperti Tenten, sedang yang satunya lagi laki-laki yang mewaris wajah tegas Neji dan sifat lembut Tenten.
/
/
Temari dan Shikamaru memiliki 2 orang anak yang kedua-duanya jenius seperi Shikamaru, dan tegas berwibawa dan dewasa seperti Temari. Sayangnya yang laki-lakinya pemalas, sedangkan yang perempuan benar-benar kejam. Ia sering memukul kakak laki-lakinya yang pemalas itu jika didapatinya sang kakak sedang tertidur bersama sang ayah. Meskipun begitu, anak perempuan Sakura sangat akrab dengan anak perempuan Temari satu ini, mereka benar-benar bersahabat baik seperti orang tua mereka. Dan persahabatan ini mengalir hingga kedarah keturunan selajutnya.
/
/
"Kaa-san apa Kaa-san atau tou-san dapat melihat hal-hal gaib?" tanya anak lelaki Sakura ketika mereka sedang piknik bersama di halaman rumah.
"Tentu saja tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Sasuke mengangkat sebelah alisnya pada si sulung.
"Sudah kubilang kan hal-hal seperti itu tidak ada." Ucap si sulung pada si bungsu serius mengabaikan pertanyaan Sasuke.
"Memangnya ada apa?" tanya Sakura khawatir membelai rambut panjang si bungsu yang merupakan anak perempuannya.
"Dia bilang dia bisa melihat orang-orang yang sudah meninggal, paman sebelah yang meninggal beberapa hari lalu juga sering datang padanya." Adu di sulung tertawa pada ibunya. Sasuke dan Sakura mengernyit menatap kedua anak mereka.
"Kau bisa melihatnya?" tanya Sasuke mengernyit pada anak perempuannya yang telah berumur 13 tahun.
"Hn, dia selalu berbisik didekatku, dan mengatakan "Saat kau mendengar melodi kematian melintas, saat itu aku akan datang memberi mimpi buruk untukmu!."
Anak perempuan Sakura selesai bercerita dengan ditutupi lolongan anjing yang panjang dan menyiratkan kepiluan membuat mereka merinding, sesosok makhluk transparan sedang menatap keluarga ini dari sudut pohon rimbun diseberang rumah sambil menyeringai dengan mulutnya yang robek. Si bungsu yang merasa tak enak menatap pohon itu cukup lama. Secara perlahan angin berhembus dan langit mulai mendung, dedaunan bergoyang dan sebuah jari tangan terlempar dari pohon tersebut, si bungsu menatapnya bingung sementara Sasuke, Sakura dan sang kakak terus memanggilnya namun ia tak bersuara, sebelum kemudian sosok dengan mulut robek itu berlari dengan kaki kudanya dengan kepala terputar, berambut putih, dagunya menghadap keatas, dan matanya tepat melihat si bungsu, dengan cepat makhluk tersebut merangkak bagai laba-laba dan kini tepat berada di depan wajah sang gadis.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA"
Dan jeritan ketakutan yang dapat membuat bulu kuduk meremang terdengar meleking tajam.
_The End_
Wah nggak bener nih author :D ide jahilku timbul saat ceritanya berakhir bahagia dan kehilangan sensasi horrornya jadi saya bikin ending yang menggantung. Hahahah, maafkan saya, semoga tak ada yang penasaran, karena kalau nanti ada yang minta sekuelnya saya tidak bisa bikin, soalnya saya tidak suka menggunakan OC dalam cerita saya. Hehehe, maaf-maaf.
Yaps, saatnya balas review tapi sebelum itu saya mengucapkan TERIMA KASIH BANYAK KEPADA SEMUA PIHAK YANG SUDAH MENDUKUNG DAN BERPARTISIPASI DALAM CERITA INI *Capslock jebol nih*
Yosh, ini dia.
Narufanart232 : Thanks dah review.
Febri feven : ya saya terus lanjutkan, thanks dah review ^_^
Namegita zahra : hahahah, Thanks sarannya, maaf jika endingnya tak sesuai harapan. Thank dah review
Lily ; Ya, thanks dah review.
Eysha'Cherryblossom : Semoga masih menunggu, maaf yah baru update. Thanks dah review.
Ariiecherry : Thanks dah menunggu dan mereview.
Poo : maaf ya nggak bisa kilat. Thanks dah review.
