Sex(y) Love

Main cast : Baekhyun And Find by yourself

Genre : Romance & Drama

Rate : M

WARNING! : NO CHILD

Cerita mengandung unsur dewasa, bagi yang belum cukup umur mohon pikir (minimal 3kali) dahulu sebelum membaca /nahlo/ BENERAN CIYUSSS, SAYA WARN KALIAN!

Judul mungkin gak nyambung sama cerita.

Typo(s) everywhere

Fanfic : GENDERSWITCH (DON'T LIKE DON'T READ) TIDAK MENERIMA BASHING!

Disclamer : Semua cast milik Tuhan dan Keluarganya

Summary

Baekhyun tidak bisa dipanggil dengan sebutan gadis baik-baik. Karena tidak ada gadis baik-baik di dunia ini yang rela membiarkan tubuh nya di jamah oleh orang lain dengan imbalan Dollar.

...

Sex(y) Love

...

Hari ini adalah hari terakhir pekerjaannya di Daegu selesai. Wajahnya sudah berseri ketika mengingat kedua wanita yang paling ia cintai. Ia kira bisa pulang hari ini dan menghabiskan weekend dengan mengesanksan.

Itu hanya segelintir rencana kecil yang sudah di persiapkan oleh Luhan namun telah menyumbang semangat yang besar padanya. Sampai seseorang yang benar-benar tak ingin ia jumpai datang dan mengajaknya kemari.

Mengacaukan mood nya.

"Luhan, bagaimana kabarmu?"

Seorang pria yang sudah berumur dan memiliki sedikit kumis di wajah tegasnya itu menyapa.

Sedangkan Luhan menatap datar pria paruh baya dihadapannya. Entah tidak suka atau malas menanggapinya.

"Aku baik... Tuan"

Jawab Luhan dingin. Tapi sangat terlihat ada satu kata yang begitu ia tekankan.

Lelaki yang dipanggil Tuan itu menghela nafasnya berat.

"Bisakah kau tidak memanggilku begitu Lu?"

"Tidak bisa Tuan"

"Luhan..."

Luhan masih berlagak sesantai mungkin menghadapi pria itu. Seolah tidak mengindahkan gelagat risau dari lawan bicaranya.

"Setidaknya kau masih mau berbicara padaku" Desah pria paruh baya itu menyerah. Dia tahu sekali apa kesalahannya, hingga membuat namja muda itu begitu tidak menyukainya.

Tapi tidak bisakah ia mendapat maaf. Mungkin dia adalah orang paling brengsek dimasa lalu. Tapi demi Tuhan, kini dia sudah menyesali semuanya.

"Aku tahu dosaku pasti tidak terampuni, bahkan mungkin sebutan 'Ayah' memang tak pantas kau ucap padaku"

Ini adalah kali pertama seorang Park Siwon mengakui kesalahannya dihadapan orang lain.

Atau mungkin tidak bisa disebut orang lain karena kenyataannya namja muda dihadapannya itu adalah putranya, darah dagingnya sendiri.

.

.

.

.

.

"Bing bing apa yang kau lakukan disini?"

"Mama!"

Bocah itu segera berlari menubruk Ibunya yang baru saja memanggilnya, tanpa mengindahkan sedikitpun tatapan kesal Ibunya yang ia pasti tahu apa alasannya. Bing bing terisak sambil mendekap Baekhyun erat.

"Mama... hiks"

Baekhyun tidak tahu ada apa dengan anaknya, dengan masih memendam kesal karena Bing bing tidak menuruti perkataannya, yeoja itu menyentak putrinya agar lepas dari pelukannya.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya nya sambil membentak. Ada gurat emosi yang samar-samar menghiasi wajah cantiknya.

Bing bing tidak menjawabnya, namun bocah itu malah menundukan kepalanya dalam.

Baru setelah melihat putrinya sudah sesenggukan ia merubah air wajahnya. Sedikit keheranan dengan apa yang membuat putrinya menangis.

"Mama, Ahjussi dia... hiks... d-dia"

"Bukankah Mama sudah bilang jangan mene-"

Belum sempat Baekhyun menyelesaikan kalimatnya, yeoja itu dikagetkan oleh suara berisik dari sebelahnya. Disana dari sebuah kamar rawat pasien beberapa suster mendorong brangkar keluar dari kamar rawat, ya tentu saja Baekhyun tahu itu kamar rawat Chanyeol.

Baekhyun langsung terperanjat begitu tahu bahwa orang di atas brangkar itu tak lain dan tak bukan adalah ...

"Chanyeol..."

Baekhyun secara reflek bangun dari posisinya, pandangannya mengikuti kemana brangkar yang membawa Chanyeol pergi.

"EMERGENCY !"

Entah mengapa Baekhyun merasakan jantungnya seperti berhenti berdetak ketika mendengar itu, antara perasaan kaget, bingung dan masih banyak lagi.

Tapi tak berlangsung lama, karena ia kembali menyadari bahwa putrinya menangis semakin kencang.

Ia berjongkok untuk mensejajari putrinya. Wajahnya melunak, sedangkan Bing bing sesenggukan dahadapannya.

"Mama... hiks, Ahjussi tidak boleh mati"

Mendengar apa yang baru saja anaknya katakan, seketika itu juga rasa panik melanda dadanya.

.

.

.

.

.

"Luhan, bisakah aku menemui Ibumu? sekali saja!"

Luhan tersenyum miring begitu mendengar apa yang baru saja Siwon katakan.

Jadi itu alasan nya Siwon menemuinya. klise sekali.

"Ibuku sudah terlalu menderita, dan itu semua adalah karenamu, masihkah berani kau menemuinya?"

Tanya Luhan jelas sekali ada nada kesal sekaligus meremehkan disana.

"Maka dari itulah aku hanya ingin meminta maaf padanya"

"Kurasa itu tidak akan merubah apapun"

"Aku tahu semua yang aku lakukan tak akan mengubah apapun"

Siwon mengusap wajahnya gusar. Sungguh, jika semua bisa diputar kembali dia tidak akan mau menjadi lelaki brengsek, tapi apa? semua sudah terjadi. Dan penyesalan selalu datang terlambat.

Sebenarnya Luhan sudah berniat pergi dari tadi, ia pasti akan lebih memilih segera pulang dan menemui keluarganya dari pada harus bebicara kepada seseorang yang menyebut dirinya sebagai 'Ayahnya' itu.

Walaupun ia juga tahu itu memang faktanya. Siwon memanglah Ayah biologisnya. Dan ia sangat menyesali kenyataan itu.

"Setiap orang pasti mempunyai kesalahan, tapi saat ini aku benar-benar telah menyesali semua perbuatanku. Tidak pantaskah aku mendapat maaf dari kalian?"

Luhan bukanlah orang jahat yang berhati batu. Ia hanya terlalu menyayangi Ayahnya yang sekarang. Luhan ingin melihat tuan Lu bahagia.

"Ibu sudah kembali ke Beijing, dan dia sudah bahagia sekarang"

Siwon menatap Luhan dalam, berharap namja itu sedang tidak berbohong.

"Kumohon jangan usik kebahagiaan mereka lagi" Lanjut Luhan dengan wajah seriusnya, namun sarat akan permohonan.

Siwon seperti tertohok telak. Lelaki itu merasakan jantungnya berdenyut nyeri. Disini ialah yang pantasnya memohon, bukannya namja muda itu.

Perasaan bersalahnya semakin meluap lebar. Siwon merasa tak punya harga diri. Mungkin ia masih mencintai Victoria, tapi ...

"Aku mengerti"

Akhirnya desahan pasrah mengakhiri kekeras kepalaannya.

Mungkin ia harus menyerah.

"Jadi, bisakah aku pergi sekarang?"

Siwon menatap Luhan sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya kecil. Pria paruh baya itu juga berdiri dari tempat duduknya.

"Luhan, bolehkah aku memelukmu untuk sekali saja?"

.

.

.

.

.

Baekhyun akhirnya berhasil menenangkan putrinya agar berhenti menangis. Ia membujuk putrinya untuk membeli es krim stroberi kesukaannya dan membawanya pergi dari sana.

Mereka duduk di bangku taman belakang Rumah sakit. Sebenarnya Bing bing ingin mengejar kemana para Dokter tadi membawa Ahjussinya pergi, tetapi Baekhyun mencegahnya.

Jika boleh jujur Baekhyun juga merasa amat cemas dalam hatinya, tapi lagi-lagi ego menekan itu hingga tak berani muncul kepermukaan ekspresinya.

"Bing bing kenapa kau tidak memakan es krimmu?"

Tanya Baekhyun ( pura-pura ) menatap heran pada Bing bing yang hanya diam menatap es krimnya meleleh tanpa berniat menyantapnya sedikitpun. Walaupun sebenarnya Baekhyun tahu alasan bocah cilik itu.

Bing bing mendongak untuk menatap Baekhyun, hidung mungilnya memerah dan mata bulatnya masih berair. Ia ingin meminta untuk mengikuti Ahjussi tadi dibawa, tapi disisi lain Bing bing takut Ibunya akan memarahinya. Kesalahnya yang pagi tadi, dan Bing bing takut semakin membuat Baekhyun marah.

"Kita pulang sekarang Arajji?"

"Mama"

Bocah cilik itu memandang takut-takut pada Ibunya. Bibirnya bergerak gelisah namun masih enggan berbicara.

"Mama, aku ingin melihat Ahjussi sekali lagi, boleh ya?" pinta bocah itu sambil memohon.

Sekeras apapun ia pada Bing bing. Baekhyun tetap lah seorang Ibu yang menyayangi putrinya.

.

.

Baekhyun menuntun Bing bing menuju ke UGD, bukan hanya mengabulkan keinginan anaknya saja, demi Tuhan Baekhyun sendiri juga ingin kemari. Jantungnya tidak bisa berhenti berdegup dengan gila sedari tadi. Ia cemas, bahkan setengah mati Baekhyun telah menyembunyikannya.

Begitu tautan tangan Ibu dan Anak itu terlepas Bing bing segera berlari menuju depan ruang ER. Ia tidak tahu apa yang sedang Dokter lakukan didalam, tapi Bing bing yakin mereka pasti berusaha menyelamatkan Ahjussinya.

Tanpa diperintah air mata itu luruh lagi, Bing bing menatap sedih pada pintu itu, bibirnya mencembik karena menahan tangis. Ia menapakkan tangan mungilnya pada pintu kaca didepanya, diiringi isak tangisnya. Bing bing memohon.

"Ahjussi, tidak boleh pergi. Ahjussi harus bangun, jebal!"

Tak jauh berbeda dari bocah cilik itu, dibelakangnya kini sang Ibu sedang mati-matian menahan air matanya.

Kenyataannya Baekhyun mencintai Chanyeol, segigih apapun ia mengingkari itu, namun bukankah perasaan tak bisa dibohongi.

Yeoja itu menangkupkan tangannya didada. Matanya terpejam dan bibirnya menjatkan do'a.

"Tuhan, Apapun yang pernah terjadi dulu, biarlah menjadi masa lalu. Aku tahu itu bukan sepenuhnya salah Chanyeol, Aku yang bodoh karena telah menitipkan hati kepada orang yang tidak tepat, Tapi demi Tuhan, Berilah kehidupan yang layak pada namja itu, jangan kau panggil dia sekarang. Berilah Chanyeol umur lebih panjang dan biarkan dia menemukan seseorang yang pantas untuknya"

Tes~

Akhirnya air mata itu jatuh ketika mata sipitnya berkedip. Baekhyun tak bisa membendung emosinya lagi. Sambil membekab mulutnya Baekhyun berlari ke toilet, ini sudah sampai limitnya.

Tapi karena tak berhati-hati akhirnya Baekhyun bertabrakan dengan seseorang yang juga berjalan tergesa dari arah berlawanan. Matanya yang memerah itu kini membulat sempurna.

"Tao!" / "Baekhyun!"

Pekik kedua yeoja itu bersamaan.

.

.

.

Pukul 5 sore akhirnya Baekhyun belum meninggalkan Rumah Sakit. Chanyeol sudah keluar dari ruang Emergency, Kris bilang tidak ada yang bisa dilakukan lagi kecuali menunggu namja itu siuman. Dan tidak ada yang lebih buruk lagi yang bisa didengar Baekhyun kecuali kata-kata 'kematian' yang Kris katakan berulang-ulang.

Kris bercerita bahwa akhir-akhir ini Chanyeol sangat jarang memperlihatkan keluhan, tetapi siapa sangka dibalik sikap tenang itu ternyata justru titik terburuk penyakitnya. Dan semua penjelasan Kris itu seolah mematikan syaraf-syaraf pada diri Baekhyun. Dia merasa seluruh persendiannya melemah.

Baekhyun duduk dikursi tunggu bersama Tao. Ia sudah cukup shock melihat keadaan Chanyeol hari ini ditambah pengakuan mengejutkan pengakuan dari sahabat karibnya itu.

"Aku menikah dengan Sehun setahun setelah kau pergi, maaf Baekhyun, awalnya aku sudah menolak Sehun setelah tahu karena dia yang menyababkanmu pergi. Tapi aku melihat perubahan itu, Sehun bukan orang jahat. Dia mengakui semua kesalahannya dan dia juga menyesalinya, jadi kupikir tidak salah jika aku memberikan kesempatan kedua padanya"

Tao menoleh kearah Baekhyun yang seperti tidak meresponnya sama sekali, Dia menebak bahwa Baekhyun pasti sulit menerima itu.

Yeoja itu menghembuskan nafasnya frustasi, demi apapun ia sangat menyayangi Baekhyun seperti saudara kandungnya sendiri. Dan saat Baekhyun hilang tanpa jejak empat tahun yang lalu bukan berarti Tao tidak merasa kehilangan. Ia bahkan berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa.

Dan disaat mereka bisa dipertemukan lagi, Tao tidak akan menyerah untuk bisa mendapat rasa sayang yang sama seperti dulu.

Dengan gerakan pelan ia beranjak dari kursinya. Baekhyun sempat meliriknya namun tak begitu banyak karena yeoja itu sudah dibuat melotot dengan apa yang Tao lakukan.

Tao, berlutut dihadapan nya.

"Tao apa yang kau lakukan?!" Pekik Baekhyun dengan mata melebar.

"Cepat bangun!"

"Kumohon maafkan kami Baekhyun"

Dan yeoja bermata panda itupun terisak.

.

.

.

Baekhyun pamit untuk pulang, dia menggendong putrinya memasuki mobil. Bing bing sudah tertidur sejak Chanyeol keluar dari ruang Emergency.

Chanyeol sudah dipindahkan ke Ruang perawatan Intensive dan hanya boleh dijenguk saat jam besuk saja

Hidup begitu ironis, se ironis ketika Baekhyun sadar bahwa ia menangisi orang itu karena perasaan cinta yang tertinggal.

Tao mengantarkannya menuju parkiran, dia melihat sendiri bagaimana Baekhyun telah berubah menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya. Karena dari awalpun Tao memang tahu jika Baekhyun adalah wanita sempurna, hanya saja takdir yang terlalu kejam padanya.

"Aku pulang dulu Tao, jaga dirimu baik-baik. Dan ingat kau sedang hamil, jangan terlalu kelelahan"

Baekhyun menepuk pelan bahu Tao sambil menyampaikan pesan untuk sahabatnya.

"Aku mengerti, Sehun sedang perjalanan kemari. Sayang sekali dia terlambat, jika tidak aku pasti akan langsung menyuruhnya meminta maaf secara langsung padamu"

"Sudahlah, jangan dibahas lagi!"

Tao mengangguk yakin, menandakan bahwa ia mengerti betul apa yang dikatakan Baekhyun.

"Aku akan menghubungimu nanti jika dia sudah sadar"

Lanjut Tao sambil tersenyum. "Tapi...boleh aku bertanya sesuatu?"

Baekhyun menatap Tao yang terlihat amat serius, dan matanya memicing penasaran karena menunggu Tao menjeda kalimatnya terlalu lama.

"Anak itu... eummm apakah Bing bing anak Chanyeol?"

Deg

Baekhyun sempat tersentak ketika Tao berhasil meloloskan pertanyaan padanya. Matanya bergerak-gerak tidak fokus, pertanyaan yang sedikit mengejutkannya memang, tetapi Baekhyun... pandai berbohong.

"Dia anakku"

Jawabnya cepat, tegas dan seolah memberi penekanan bahwa tidak ada penjelasan di akhir ucapannya.

"Aku tahu dia anakmu Baek, tapi tidak mungkin kau melahirkan jika tidak ada yang membuatmu hamil"

"Bukankah ku bilang tadi aku sudah menikah. Tidakkah kau percaya lagi padaku Tao?"

Tao menghembuskan nafasnya menyerah, ia sadar jika sahabatnya sudah mulai illfeel.

"Aku percaya, kau tenang saja"

Balas Tao sambil tersenyum.

"Baiklah aku pergi sekarang" Ujar Baekhyun hendak menarik gagang pintu mobilnya, perasaannya menjadi tidak enak setelah Tao menyinggung tentang Bing bing.

Tetapi Tao menghentikannya lagi.

Yeoja bermata panda itu meraih lengannya dan menggenggam kedua tangan Baekhyun.

"Terimakasih karena telah memaafkan kami"

Ucap Tao terdengar sangat tulus.

Baekhyun melepaskan tangannya ia menghadiahi senyuman terbaiknya sebelum beralih memeluk hangat yeoja yang lebih tinggi darinya itu.

.

.

Baekhyun menyetir dalam keheningan, sudah hampir pukul sembilan malam. Dan ia baru ingat bahwa ia sudah menghabiskan waktunya seharian di Rumah Sakit.

Matanya teralihkan ke jok penumpang disebelahnya. Baekhyun menatap sayang putrinya yang sedang tertidur pulas. Tiba-tiba perasaan sesak itu datang lagi ketika ia mengingat betapa sedihnya Bing-bing mengetahui bahwa Chanyeol sedang sekarat.

"Apa kau menyadari bahwa namja itu... adalah Ayahmu sayang"

Gumam Baekhyun sangat lirih. Lalu dengan lancang air mata nya mulai berlinang.

"Apa Tuhan sedang menghukumku?"

Dan helaan nafas berat itu benar-benar menandai betapa lelahnya menjadi seorang Byun Baekhyun.

Apa belum puaskah selama ini takdir mempermainkannya. Seolah menarik ulur hatinya. Harusnya Baekhyun hidup tenang, ada Luhan disana. Namja sempurna yang sangat mencintainya dan mau menerima segala kekurangannya. Tapi kenapa lagi-lagi Tuhan kembali mengujinya disaat ia benar-benar ingin membuka lembaran baru.

Bukan hanya tubuhnya yang lelah, tetapi hatinya lebih lelah. Baekhyun meremas dadanya berkali-kali ia akan susah bernafas jika begini.

Setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya ia sampai dirumahnya. Baekhyun sempat terkejut ketika melihat keadaan Rumah nya terang bendarang.

Luhan pulang.

Lagi-lagi perasaan bersalah itu kebali menyerbunya.

Luhan sudah menunggunya, itu yang ada dibenaknya ketika ia baru saja keluar dari mobilnya. Ditatapnya Luhan yang berjalan menghampirinya, namja itu mengenakan piyama tidur, jadi bisa Baekhyun pastikan bahwa sudah dari tadi Luhan pulang kerumah.

"Dimana Bing bing?" Tanya Luhan langsung ketika melihat batang hidung istrinya.

"Dia tertidur, maaf Luhan aku tidak memberi tahumu jika kami pulang terlambat"

Jawab Baekhyun dengan wajah menyesal.

"Kita bicarakan itu nanti, sekarang masuklah dan mandi. Aku akan memindahkan Bing bing ke kamarnya"

Baekhyun memandang Luhan samar. Ia ingin bicara tetapi Luhan sudah lebih dulu memasuki mobil untuk mengangkat Bing bing dalam gendongannya.

Dalam hati Baekhyun hanya bisa menerka kalau-kalau Luhan sedang marah.

Akhirnya setelah mengambil tas berisi pakaian Bing bing dari jok belakang, Baekhyun segera memasuki rumahnya.

.

.

Lima belas menit Baekhyun selesai membersihkan dirinya, ia berjalan keluar kamar mandi yang berada dalam kamarnya. Matanya mendapati sang suami sedang duduk santai di balkon kamar mereka.

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Luhan sedang meminum alkohol, Baekhyun tidak pernah mendapati Luhan minum selama ini. Karena yang ia tahu Luhan adalah namja yang sangat menghargai mahal kesehatannya.

Baekhyun menghembuskan nafasnya berat, Luhan tidak seperti itu. Luhan tidak akan marah hanya karena hal sepele.

Karena terlalu sibuk berkelana dengan pemikirannya sedari tadi, Baekhyun tidak sadar jika Luhan menoleh kearahnya, ia bahkan sampai berjingkat kecil ketika menyadari pandangan mata mereka bertemu.

"Kenapa kau berdiam diri disana?" Tanya Luhan keheranan melihat Baekhyun menatapnya tak berkedip.

Namun sedetik kemudian ia tersenyum, sedikit mematahkan kekhawatiran Baekhyun tentang perkiraannya.

Luhan tidak marah padanya.

Lalu kenapa?

Baekhyun akhirnya memutuskan untuk menghampiri Luhan. Angin malam langsung menyapanya begitu Baekhyun duduk di kursi balkon disebelah Luhan. Ia hanya mengenakan daster tidur favoritnya dengan rambut yang sedikit lembab sehabis di hairdriyer.

"Maaf aku minum"

Ucap Luhan dengan wajahnya yang sudah memerah. Dan Baekhyun bisa tahu jika Luhan sudah minum lumayan banyak.

"Apa sesuatu terjadi Lu?"

Tanya Baekhyun sedikit khawatir. Ia lalu mengamati wajah suaminya yang terlihat sangat kelelahan. Ada sebersit rasa kasihan kepada Luhan, karena Baekhyun masih merasa begitu egois dengan sikapnya.

Luhan mengangguk berkali-kali. Mungkin namja itu sudah mulai mabuk.

Luhan mendekat kearah Baekhyun dan membelai wajah cantik istrinya. Demi seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Bagi nya hanya Baekhyunlah yang paling indah. Dia tidak akan pernah bosan untuk selalu mengagumi yeoja itu.

Dengan gerakan lambat Luhan mendekatkan wajahnya untuk menggapai bibir istrinya. Mengecupnya sekilas, sebelum kembali melepaskannya.

Masih setia mengulas senyum Luhan berbisik. "Aku terlalu merindukan istriku"

Gumamnya tepat didepan wajah sang istri. Hembusan nafasnya menerpa wajah cantik Baekhyun hingga membuat yeoja itu berkedip berkali-kali.

Walau bagaimanapun Baekhyun adalah wanita, dan ia pasti akan merona jika ditatap seperti itu.

Cukup sepersekian detik Baekhyun terpaku, tapi ia tidak mau menjadi bodoh hanya karena godaan sederhana dari Luhan.

"Aku juga merindukan suamiku"

Balas Baekhyun usil, ia sengaja mengalungkan lengannya pada leher Luhan. Memberikan tatapan genit sebagai balasan.

Dan sebagai sang namja Luhan tentu merasa tertantang. Tanpa membuang banyak waktu lagi Luhan segera mengangkat tubuh ringan istrinya ke atas ranjang. Nalurinya berkata bahwa ia mendapatkan lampu hijau. Segera kembali ia layangkan ciuman pada bibir tipis yeoja yang begitu ia cintai itu. Ciumannya begitu panas dan terburu-buru, seperti bukan gayanya.

Baekhyun yang baru sadar ke mana arah permainan Luhan, ia memutuskan untuk membantu memperdalam tautan mereka. Ia akan memberikan apapun yang dipunyainya kepada Luhan. Namja yang telah berkorban banyak hal untuknya.

.

.

.

.

.

Ke esokan harinya, Baekhyun sudah berada di Rumah sakit lagi. Ia harus bermain kata agar bisa mencari alasan kemari. Yang benar saja, karena ulahnya mereka batal pergi jalan-jalan ke Namsan tower. Mungkin Luhan kecewa sekarang, tapi Baekhyun tetap tidak bisa mengesampingkan ke egoisnnya. Seperti ada dorongan sendiri ketika ia memilih pergi untuk menemui seseorang.

Yeoja itu berjalan sedikit tergesa menuju Ruang perawatan Chanyoel berada. Baekhyun tidak sadar dengan jalan pikirannya sendiri ketika memilih langsung berlari kemari setelah mendapatkan pesan dari Tao bahwa Chanyeol sudah siuman.

Sudahlah, biarkan Baekhyun mencari jawabannya nanti.

Sedikit memperlambat langkah kakinya begitu ia melihat sahabatnya sedang berdiri mondar-mandir di depan sebuah kamar pasien.

"Tao, bagaimana keadaan nya?"

Itulah kalimat pertama yang terucap dari bibir Baekhyun begitu Tao melihatnya.

"Baekhyun" Tao segera mendongak ketika Baekhyun sudah berada dihadapannya. Yeoja itu mendekatinya.

"Chanyeol mencarimu"

.

.

.

.

.

"Zao an"

- selamat pagi -

Luhan tersenyum lebar kepada buah hatinya tatkala mata bulat putrinya mulai mengerjap.

Baekhyun sudah meninggalkan Rumah pagi sekali, kerena tidak tahu apa yang dilakukan maka Luhan memilih sibuk di dapur untuk memasak sarapan. Dan setelah masakan sederhananya matang, ia tergelitik untuk membangunkan Bing bing, putri kesayangannya.

Bing bing mengucek kedua matanya berusaha mengumpulkan kesadarannya. Cahaya dari balik tirai kamarnya sangat menyilaukan. Sambil meringis kecil mata bulat itu perlahan terbuka.

"Papa!"

Panggilnya si kecil begitu melihat wajah Luhan berada dihadapannya persis.

"You mei you xiang Papa?"

- Apa kau merindukan Papa? -

"Papa!"

Ulang bocah itu lagi seolah-olah tidak percaya jika yang dilihatnya itu bukan hanya mimpi.

Luhan terkekeh, putrinya benar-benar membuatnya geli. Dengan gemas ia mencubit hidung mungil Bing bing.

"Ayo bangun princess dan segera mandi. Sarapan sudah siap!"

.

.

.

.

.

Baekhyun menatap Chanyeol cemas, pasalnya rumor bahwa namja disebelahnya itu pasien bebal seperti apa yang Kris katakan padanya, itu adalah benar.

Baru beberapa menit yang lalu matanya terbuka, tetapi dengan sikap keras kepalanya Chanyeol malah memaksa untuk membawanya ke taman di Rumah sakit itu.

Sebenarnya Baekhyun bisa saja menolak permintaan konyolnya, tapi sekali lagi. Keinginan Chanyeol tidak pernah bisa terbantahkan.

Tapi jika boleh jujur, dibalik ekspresi cemasnya Baekhyun lebih merasa bahagia. Setidaknya dengan melihat Chanyeol begitu, ia percaya bahwa Chanyeol sudah lebih baik.

"Mereka bilang udara di pagi hari itu bagus untuk kesehatan, jadi kau tak perlu takut, aku tidak akan mati hari ini"

Chanyeol mencoba menghibur Baekhyun yang terlihat seperti gondok padanya.

"Apa kau mencemaskanku?"

Namja itu menoleh kearah samping bangku yang sedang ia duduki. Baekhyun tidak mau menatapnya.

Baekhyun tetap memilih bungkam. Hanya menemani, ya sekedar duduk berdua.

"Kau pasti mencemaskanku, buktinya kau mau saja kemari lagi"

Chanyeol sesekali masih meringis sakit pada seluruh bagian tubuhnya, Selang infusnya juga terpasang di lengan kirinya. Tapi ia akan menahan sakitnya. Baginya, kapan lagi Baekhyun mau datang menemuinya. Terlalu banyak kesalahan yang telah ia lakukan pada yeoja mungil itu, dan Chanyeol benar-benar keheranan bila Baekhyun masih mau memaafkannya.

"Aku tidak suka terlentang di atas ranjang dan di katakan sakit. Aku lebih suka menghabiskan setiap hari untuk pergi kemari dan menyalakan rokok ku, Eum... Apa kau punya rokok?"

Baekhyun segera menolehkan kepalanya begitu mendengar apa yang baru saja Chanyeol katakan. Matanya menatap tajam, dan berhasil membuat Chanyeol terkekeh. Jujur ia hanya ingin memancing Baekhyun agar menghiraukannya. Dan lihatlah usahanya berhasil.

"Jangan menatapku seperti itu"

Sambung Chanyeol hampir terbahak. "Jujur saja mengeluh sakit bukan gayaku, dan merokok bisa menghilangkan sedikit penderitaanku"

Lanjutnya lagi.

Sebenarnya ada nada menyerah disana, tetapi Chanyeol terlalu lihai memanipulasi nya.

"Kau bodoh!" Balas Baekhyun sarkatis, tetapi air mata mulai mengalir dari pelupuk matanya. Hatinya benar-benar sakit melihat Chanyeol seperti itu. Berkali-kali juga ia mengumpati dirinya sendiri 'bodoh' ia lemah hanya karena seseorang yang baru saja bicara 'baik-baik saja' tapi nyatanya tengah menahan rasa sakit luar biasa. Baekhyun bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Chanyeol 'tidak baik-baik saja'.

"Kau memang tidak pernah percaya padaku Baekhyun"

Chanyeol mendengus sebentar sebelum menarik yeoja itu kedalam pelukannya.

Dan begitu tangan lebar itu merengkuhnya tangis itu akhirnya pecah, Baekhyun terisak dalam pelukan Chanyeol.

"Ku bilang aku tidak apa-apa 'kan? Rasa sakitnya tidak seberapa" Ujar Chanyeol berusaha menenangkan yeoja mungil itu. Bibirnya tak pernah pudar membentuk senyum - miris -

Baekhyun ingin memukul orang itu sekarang juga. Ia membenci Chanyeol yang bilang dirinya tak apa-apa. Ia benci Chanyeol yang keras kepala, atau bahkan ia sudah membenci semua yang ada pada namja itu dari dulu.

Tapi ironisnya, Baekhyun tak benar-benar membenci semua itu. Sebut ia 'bodoh' karena Baekhyun sendiri juga mengakuinya.

"Apa tidak ada pilihan yang ingin kau pilih selain kematian, pabo!"

"Jika bisa aku juga tidak ingin mati, tentu saja. Tapi bukankah hidup pun aku tak bisa memilikimu"

Baekhyun melepaskan diri dari pelukan Chanyeol, lalu menatap Chanyeol dengan mata membulat.

"Apa maksudmu?"

Chanyeol tersenyum miring, tangannya ia sapukan untuk menghapus jejak air mata di wajah indah Baekhyun.

"Byun Baekhyun... Aku mencintaimu"

Dan mata sipit itu tengah membola sempurna. Baekhyun dibuat gelisah oleh pengakuan namja dihadapannya. Sungguh demi apapun Baekhyun tidak pernah ingin perasaannya terbalas, karena ia tahu. Itu hanya akan semakin menyakitinya.

"Aku takut mati Baekhyun"

Tes~

Chanyeol menangis.

"Tapi ketakukanku bukan karena aku akan hilang dari dunia ini, yang aku takuti adalah... aku tidak bisa mendapatkan maaf darimu"

Cukup, Baekhyun hancur sekarang. Hatinya benar-benar merana.

"Hentikan Park Chanyeol, kumohon hentikan! kau tidak akan mati"

Kembali ia hempaskan tubuhnya dalam dada Chanyeol dan menangis lebih kencang, bukannya Baekhyun tidak mau Chanyeol mencintainya. Tapi itu terlalu keterlaluan untuk diakui sekarang ini.

"Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku"

.

.

.

.

.

Luhan sedang berdebat dengan hatinya ketika sudah sampai di rumah sakit. Ia ragu untuk menemui seseorang yang Siwon bilang memiliki hubungan darah dengannya.

"Terimakasih karena kau bersedia meemafkanku Luhan, Ku rasa aku bisa hidup dengan tenang mulai sekarang"

"Bolehkah aku meminta satu hal padamu, eum... tapi jika kau tidak bersedia juga tidak apa-apa"

"Aku memiliki seorang putra dua tahun lebih tua darimu, dia adalah... kakakmu"

"Namanya Chanyeol, dan saat ini dia sedang sekarat. Mau kah kau menemuinya untuk sekali saja. Aku sudah pernah bercerita tentangmu sebelum ini padanya. Dan dia sangat ingin bertemu denganmu, dia ingin meminta maaf"

"Aku mendengar dari asistenmu bahwa kau sudah menikah. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu anakku. Karena sayang sekali Chanyeol tidak seberuntung dirimu. Dia bukan hanya menderita sakit secara medis, tetapi dia juga menderita karena kehilangan wanita yang sangat dicintainya"

Chanyeol...

Nama itu berulang kali berputar-putar dalam otaknya setelah Siwon menyebutkan bahwa namja itu memiliki hubungan darah dengannya. Luhan juga tidak lupa jika seorang namja yang telah menyakiti Baekhyun nya juga bernama seperti itu, tapi tidak mungkin kan sekebetulan itu.

Semoga.

Bing bing menggoyang-goyangkan tautan tangan mungilnya sengaja menyadarkan Ayahnya. Tangan kanannya sedang sibuk menggenggam permen kapas yang baru saja dibelinya tadi. Gadis cilik itu menyatukan kedua alisnya melihat Luhan sedari tadi melamun.

"Papa! untuk apa kita kerumah sakit? Papa sakit?"

Tanya Bing bing polos kepada ayahnya hingga membuat Luhan tersadar dari lamunannya.

"E- oh, bukan Papa sayang kita akan menjenguk teman" Jawab Luhan dengan ekspresi kagetnya.

Bing bing seperti berpikir sejenak, tapi tak berapa lama matanya ikut berbinar. "Kalau begitu, Bing bing juga mau menjenguk Ahjussi"

Cetus bocah itu sambil tersenyum lebar.

"Apa?"

"Ahjussi, dia teman Bing bing" Jelas bocah itu yang melihat ayahnya kebingungan.

"Ahjussi?"

"ne! boleh ya?"

Sebenarnya Luhan masih tidak terlalu mengerti keinginan putrinya, tetapi ia terlalu pusing untuk berpikir.

"Baiklah"

Putusnya singkat pada akhirnya.

"xie xie papa!"

Seru Bing bing girang, lalu menarik jemari Luhan agar mengikutinya. Oho! meminta sesuatu pada ayahnya itu berkali-kali lipat lebih mudah dari pada ibunya. Makanya Bing bing amat sangat mencintai namja bermata cantik itu.

Bing bing mungkin terlalu bersemangat atau apa, hingga membuat permen kapas yang digigitinya kecil-kecil itu belepotan keseluruh pipi chubbynya. Luhan meliriknya sekilas, dan namja dewasa itu tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh. Lalu merogoh saku celana untuk menemukan sapu tangannya.

Namja itu tersenyum ketika telah menemukannya, tetapi yang membuatnya kebingungan sekarang.

Dimana Bing bing?

Oh astaga, ia hanya lengah sebentar saja bocah cilik itu sudah lenyap dari pandangannya. Luhan mendesah. Mereka sudah terpisah jarak bermeter-meter sekarang.

Luhan geleng-geleng kepala.

"Kau benar-benar jelmaan Byun Baekhyun"

Akhirnya dengan sedikit putus asa Luhan berjalan mengikuti putrinya dari jauh. Terlihat sekali Bing bing begitu semangat dalam langkahnya. Baiklah, setidaknya Luhan masih menjangkau dari jarak sejauh itu.

Pandangannya masih terfokus pada titik dimana Bing bing melangkah. Hanya sesekali mengamati interior Rumah sakit nomor satu di Seoul itu. Tidak cukup lama karena Luhan menemukan sesuatu yang membuatnya terpaku, ia tidak sengaja menoleh ke arah taman. Awalnya ia hanya terkesan karena Rumah Sakit ini memiliki taman yang terlihat sangat nyaman. Tapi disana, dari kejauhan Luhan masih bisa menangkapnya dengan jelas. Ia berusaha mengerjap berkali-kali untuk menajamkan penglihatannya.

Dan setelah ia yakin, dia tidak salah lagi.

"Baekhyun"

Luhan melihat dengan cukup jelas sekarang karena yeoja itu menghadap padanya. Tapi bukan itu yang membuatnya membeku, melainkan bagaimana Baekhyun didekap dengan dalam oleh seorang namja yang mengenakan baju Rumah sakit. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin meledak, perasaan emosinya hampir meluap. Luhan menelan ludahnya kasar, tangannya mengepal erat.

Ingatannya samar-samar menuju empat tahun silam. Itu memang sudah lama sekali, tapi Luhan cukup yakin bahwa dirinya tak salah menebak. Namja itu namja yang sama, namja yang ia lihat di Rumah Baekhyun terakhir kalinya. Namja bernama Chanyeol yang sering Baekhyun ceritakan padanya.

Ia merasa frustasi sekarang, ia sudah beranjak ingin menghampiri kedua manusia itu sebelum suara bocah cilik menghentikan langkahnya.

"Ahjussi!"

Pekik Bing bing entah dari mana asalnya bocah itu juga bisa disana.

Ternyata tadi Bing bing berjalan cepat menuju ke ruang perawatan Chanyeol untuk mengechecknya, dan setelah mendapati di kamar itu kosong. Dengan insting tajamnya Bing bing memutuskan pergi ke taman.

Dan. Booya!

Baekhyun terkejut dengan pekikan putrinya, dengan gerakan cepat Baekhyun menjauhkan tubuhnya dari pelukan namja itu.

Luhan berbalik dengan perasaan bercampur aduk. Niatnya ingin menghampiri Baekhyun sirna seketika, tiba-tiba ia merasa tidak mempunyai rasa percaya diri untuk melakukannya. Ia mundur halus dari sana, mungkin Baekhyun akan menjelaskan sesuatu nanti.

.

.

.

.

.

"Mama!"

Panggil Bing bing, antara kaget dan tidak percaya melihat ibunya disana bersama Ahjussi itu.

Baekhyun segera mengusap air matanya kasar, bola matanya hampir keluar dari tempat nya begitu melihat putrinya ada disana.

"Bing bing, apa yang kau lakukan disini?"

"Papa"

.

.

Baekhyun sudah lelah berkeliling Rumah sakit besar itu, ia juga sudah menyerah menghubungi ponsel suaminya. Karena sudah puluhan kali panggilannya tidak mendapat jawaban.

Setelah mengantarkan Chanyeol kembali kekamarnya, Dia harus mati-matian mengelabuhi anaknya. Agar segera mau diajak pulang.

"Bing bing dimana Papa mu, bukankah tadi kau bilang dia yang mengantarmu kemari?"

Tanya Baekhyun lebih terlihat frustasi. Pikiran buruk langsung menghinggapi kepalanya.

"Bing bing meninggalkan Papa, karena terlalu bersemangat menemui Ahjussi"

Jawab Bing bing polos, seolah tidak terpengaruh oleh gelagat panik sang Ibu.

"Tapi, kenapa Mama memeluk Ahjussi? Kenapa Mama menangis? Apa Ahjussi sakit lagi?"

"Ya"

Entah sadar atau tidak, itulah jawaban yang Baekhyun berikan atas pertanyaan polos putrinya. Pikirannya terlalu semrawut untuk merespon lebih, karena saat ini ada satu hal yang paling mengusik hatinya.

Luhan.

.

.

.

.

.

Luhan menatap nanar ponselnya yang tidak bisa bertenti berdering itu. Hatinya seakan tertusuk-tusuk oleh ribuan pedang tajam. Seolah menghirup nafas adalah hal sulit untuk dilakukannya. Ia merasa rongga dadanya menyempit dan sangat sesak.

Dia namja, tidak seharusnya tak selalu berada pada posisi di bawah. Luhan merasa terlalu baik kepada Baekhyun selama ini. Sekali saja, biarkan Luhan memenangkan haknya. Walau dengan cara egois sekalipun.

.

.

.

Malam itu Luhan pulang kerumahnya dalam keadaan mabuk, rumahnya sudah sepi dan semua lampu padam menandakan bahwa kedua yeojanya sudah lelap dalam mimpi. Dia tidak perlu memencet bel ataupun memanggil Baekhyun untuk membukakakan pintu. Karena pintu itu menggunakan pasword.

Satu lagi yang membuat dadanya semakin sakit ketika menekan beberapa digit yang diyakini sebagai pasword rumahnya. Luhan yang memintanya. Meminta untuk mengatur pasword itu berdasarkan tanggal pernikahannya dengan Baekhyun.

Kekanakan? tentu saja tidak, semua itu karena Luhan begitu mencintai Baekhyun. Dan ia selalu berdoa semoga rumah tangganya akan utuh sampai ajal menjemput mereka. Luhan akan berusaha sampai tetes keringatnya untuk kebahagiaan Baekhyun, Luhan rela lahir batin. Tapi ada kalanya ia lelah, namun bukan menyerah. Luhan ingin mendapatkan apa yang telah ia perjuangkan selama ini.

Dengan sedikit terhuyung ia menyalakan saklar lampu ruang tamunya. Mata rusa itu sempat terbeliak kecil ketika mendapati Baekhyun tengah tertidur di atas sofa sembari menopangkan kepalanya pada dua lengan kurusnya. Ada perasaan hangat melingkupi hati Luhan, pelan-pelan ia melangkah mendekati istrinya. Luhan ingin menangis dihadapan Baekhyun, selama ini ia sudah ingin menyeruakan protesnya, kenapa sulit sekali untuk memasuki hati yeoja itu. Luhan sudah berusaha sekeras ini, tetapi masih belum ada imbalan untuknya.

Dan dia marah sekarang, entah kerena emosinya sudah tak terbendung atau karena pengaruh alkohol. Atau keduanya.

Yeoja itu mulai terusik dari tidurnya, matanya mulai mengerjap untuk terbuka. Belum sepenuhnya Baekhyun berhasil menangkap sosok dihadapan nya, tiba-tiba saja dia mendapat serangan yang langsung membuatnya terkejut.

Luhan melumat kasar bibirnya hingga membuat yeoja itu terbelalak. Baekhyun berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh namja yang menciumnya karena kaget. Dan betapa matanya membulat, tidak percaya bahwa orang itu adalah Luhan.

Bau alkohol . Sekelibat bayangan masalalu menyakiti otaknya, Baekhyun meringis ketika tindakan Luhan barusan mengingatkannya pada seseorang.

"Baekhyun, tidak bisakah kau melihatku?"

Tanya Luhan dengan tatapan nanar yang tentu saja membuat Baekhyun mendengarnya kebingungan.

"Apa maks-"

"Apa tidak bisa kau melupakan namja brengsek itu dan hanya melihatku!"

Potong Luhan tak memberi kesempatan Baekhyun bertanya, ia mulai tersulut emosi. Dengan gerakan kasar di cengkeramnya pundak Baekhyun hingga membuat sang empunya merintih.

"Akh~ Lu apa yang kau katakan?"

Rintih yeoja itu menahan ngilu di pundaknya dan kebingungan di otaknya.

"TIDAK BISAKAH KAU MENCINTAIKU BAEKHYUN!"

Bentak Luhan mendarah daging, ia sudah tidak memperdulikan jika saja Bing bing akan terbangun karena teriakannya. Luhan sudah buta.

"Tidak bisakah kau melupakan lelaki itu Baekhyun, aku sudah melakukan segala hal agar bisa mendapatkan hatimu. TETAPI KENAPA KAU BEGITU EGOIS HAH!"

Bentaknya sekali lagi, dan kali ini disertai guncangan kasar pada yeoja itu. Baekhyun terpaku, perasaan takut tentu ada, selama ia mengenal dan hidup bersama, Luhan tidak pernah berteriak sekasar ini padanya.

Tanpa diperintah air matanya mengalir dipipi bak porselen itu. Baekhyun menangis.

"Maafkan aku"

Cicitnya lirih tapi tidak berhasil membuat kemurkaan Luhan luluh. Malahan namja itu semakin menekan tubuhnya pada badan sofa besar itu. Ia sudah mengerti kemana arah pembicaraan Luhan.

"Maaf katamu? bahkan jika aku sekarat Baekhyun. Dan hanya kata itu yang bisa kau ucapkan padaku"

Balas Luhan masih dengan emosi yang meluap-luap.

Baekhyun merasa hatinya semakin diremas kuat.

"Maafkan aku tolong. Aku tidak akan membuatmu terluka lagi, aku tidak akan menemui Chanyeol, aku berjanji. Tolong maafkan aku, jebal!"

Seakan menggantung dirinya sendiri diatas pohon saat bibir tipisnya berhasil meloloskan kalimat gila itu. Dadanya sesak, tapi ia tahu Luhan lebih sesak. Hatinya memang sakit tapi yang pasti Luhan jauh lebih sakit lagi.

"Maafkan aku Luhan, hiks..." Isaknya pilu. Yeoja itu luruh begitu saja saat cengkeraman di pundaknya mengendur dan menangis sejadi-jadinya.

Luhan menatap penuh rasa sesal dalam hatinya ketika melihat Baekhyun seperti itu.

Apa yang baru saja ia perbuat.? Luhan telah menyakiti istrinya, wanita yang paling dicintainya. Tapi semua sudah terlanjur, dan ia tergiur untuk meminta Baekhyun memegang janjinya.

"Jangan pernah menemuinya lagi, Aku sakit Baek. Kumohon"

Pinta Luhan memelas. Air mata namja itu juga mulai menetes, menandai betapa ia telah sampai pada limitnya.

Dan setelah itu segera ditariknya tubuh ringkih Baekhyun yang tengah bergetar dalam pelukan nya. Luhan akan menyesal seumur hidupnya jika berani melukai Baekhyun barang se incipun.

.

.

.

.

.

Ke esokan harinya Baekhyun menepati janjinya ia berdiam diri di rumah tanpa berniat berajak kemapapun. Yeoja itu melakukan tanggung jawabnya dengan baik, tetapi tidak seperti orang hidup. Baekhyun banyak melamun, kantung matanya menghitam, makanpun hanya sesuap atau bahkan tidak sama sekali.

Luhan bekerja dan Bing bing pergi sekolah, ia di rumah, Sendirian. Perasaannya sangat amat cemas bahkan hingga ia ingin meledak. Chanyeol, nama itu selalu memenuhi rongga otaknya, mungkin jika Baekhyun terbentur sesuatu dan kehilangannya ia akan sangat bersyukur.

Terlalu sulit menyanggupi janjinya, ditambah kenyataan bahwa ternyata Chanyeol memiliki perasaan yang sama dengannya membuatnya seolah mendekati gila.

Tapi cukup, Baekhyun sudah terlalu banyak menyakiti Luhan. Tidak akan lagi ia melakukannya, Baekhyun menyayangi Luhan dan ia merasakan sakit yang sama saat mendapati wajah Luhan malam itu. Wajah lelah dan penuh kefrustasian.

Luhan mungkin marah malam itu, tapi Baekhyun tahu semua juga karena salahnya. Salahnya yang membuat namja sebaik Luhan harus merasakan kegagalan dalam hidupnya. Maka mulai sekarang, ijinkanlah Baekhyun memperbaiki dirinya, walau mengorbankan nuraninya sendiri.

Ia akan berusaha sekuat hatinya, demi Luhan.

Ya... Luhan!

Yeoja itu meraih ponselnya ketika mendengarnya berdering. Sedikit ragu untuk menjawab panggilannya karena ID caller itu tak lain tak bukan adalah sahabatnya, ia sudah menebak kemungkinan terbesar apa yang akan Tao sampaikan padanya. Baekhyun mengacuhkannya, namun seolah tak mau menyerah, Tao berkali-kali mengulangi panggilannya. Baekhyun mendesah, pada akhirnya dengan berat hati ia mengangkat telepon nya.

"Baekhyun! Kemana saja kau!"

Pekik Tao begitu Baekhyun menjawab panggilannya. Suaranya terdengar panik seperti kesurupan. Tapi Baekhyun hanya menjawabnya datar.

"Aku sedang tidur"

"Oh, baiklah maafkan aku karena mengganggu tapi aku hanya ingin memberi tahumu Baek, Chanyeol kritis Baek"

Baekhyun membatu ditempatnya, yeoja itu jatuh terduduk seperti patung. Matanya bergerak gelisah antara cemas dan takut. Baekhyun berperang melawan hatinya, ia tidak tahu harus bagaimana menjawab Tao. Baekhyun memilih diam membiarkan Tao berkali-kali memanggilnya dari seberang telepon.

"Baek! Baekhyun! Halo Baek, apa kau mendengarku?"

Baekhyun menjatuhkan ponselnya, dari matanya mengalir bulir-bulir kristal bening yang deras.

"Demi Tuhan Baek! Apa kau mendengarku?! Halo! Ha-"

Tapi sekali lagi, Baekhyun akan menepati janjinya.

Ia berlari kekamar mandi dan meredam tangisnya di bawah shower tanpa menanggapi Tao yang masih tak menyerah memanggil namanya.

Baekhyun menangis sejadi-jadinya, tak bisa membendung kesedihannya lagi. Ia akan sangat menyesal jika tidak pergi melihat Chanyeol, yang mungkin saja untuk terakhir kalinya. Tapi sekali lagi, ia juga akan sangat berdosa jika mengingkari janjinya pada Luhan.

"Hiks... Chanyeol, mianhae, hiks..."

Yeoja itu meringkuk memeluk tubuhnya yang sudah basah kuyup. Isakan pilunya tak terbantahkan lagi. Baekhyun sangat merana dengan kehidupannya. Hidup ini terlalu menyiksanya.

Tanpa yeoja itu sadari sejak tadi ada seorang namja yang melihat semua yang ia lakukan. Dan orang itu adalah Luhan...

Luhan melihatnya sendiri, melihat kenyataan bahwa dirinya memang tidak pernah benar-benar ada di hati yeoja yang begitu dicintainya itu. Rasanya sakit, sakit sekali melihat Baekhyun menangis, namun dibalik semua itu jauh lebih sakit lagi jika sampai nanti Luhan masih pura-pura tidak tahu.

Jantung nya terasa nyeri hingga membawa tubuhnya luruh dibalik tembok kamar mandi dimana terdapat Baekhyun di dalamnya. Luhan jatuh tertunduk sambil meremas dadanya erat.

Niatnya pulang adalah untuk mengambil beberapa berkasnya yang ketinggalan, tetapi sekali lagi. Luhan harus dihadapkan pada jurang hidupnya. Melihat Baekhyun menderita membuatnya Luhan sulit bernafas, tapi melepaskan Baekhyun itu sama saja dengan memilih kematian untuknya. Luhan sangat sakit, kenapa mendapatkan cinta di hati Baekhyun harus sesakit ini.

"Bahkan jika namja itu yang sudah menghancurkan mu Baekhyun" Lirih Luhan meratapi dirinya.

Baekhyun masih meraung di dalam kamar mandi, sedangkan Luhan seolah tidak memiliki tenaga untuk sekedar beranjak dari sana. Lututnya terasa lemas dan air mata sudah menganak sungai di kedua obsidiannya.

.

.

.

.

.

Luhan berjalan gontai ke Rumah Sakit, matanya tidak fokus melihat arah langkahnya. Karena yang ada dalam tatapan mata itu kosong. Ia punya alasan kemari, dan ini menyangkut pernikahannya. Luhan tak ingin menyerah, sekalipun dia harus egois. Ia sudah siap menanggung dosanya.

Keadaan kamar rawat itu sepi. Karena disana adalah letak ruang perawatan intensive berada, ini bukanlah jam besuk, kerena jadwal besuk sudah usai dua jam yang lalu. Tapi Luhan tidak peduli, ia hanya perlu bilang bahwa ia adalah anggota keluarga yang datang dari jauh untuk menjenguk anggota keluarganya yang sedang sekarat.

Ada sedikit perasaan ragu untuk masuk kedalam kamar itu. Perlu kekuatan penuh bagi Luhan untuk memutar kenop pintu itu hingga terbuka. Dan darahnya langsung berdesir, jantungnya berdetak tidak normal ketika kedua mata rusanya menangkap sosok terlelap dibalik selimut biru di hadapannya.

Park Chanyeol, kakak sekaligus rival abadinya.

Demi Tuhan, Luhan tidak pernah meminta memiliki seorang Kakak. Apa lagi jika orang itu akan merugikannya. Luhan tidak mau, demi apapun ia tidak mau.

"Park Chanyeol, tidakkah kau begitu jahat?"

Luhan berdiri persis dihadapan Chanyeol yang masih memejamkan matanya. Namja itu mulai berbicara pada raga Chanyeol yang mungkin saja saat ini sedang ditinggalkan rohnya.

"Saat kau sehat kau sudah menyia-nyiakan Baekhyun, kau selalu menyakitinya. Tapi ketika kau mau mati kenapa Baekhyun harus menangisimu?"

Perasaan emosi sedikit naik kepermukaan kepalanya. Luhan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Kenapa Baekhyun harus mencintaimu? Kenapa padaku TIDAK SEDIKITPUN!"

Luhan benar-benar tak bisa mengontrol dirinya, dengan geram ia membentak Chanyeol yang bahkan tidak bisa menanggapinya. Entahlah jika bisa, Luhan ingin menghajar Chanyeol saat ini juga, ia ingin sekali memenangkan Baekhyun sekalipun harus bertarung dengan Chanyeol. Dia akan merasa bangga kalau saja ia kalah dalam keadaan terhormat. Bukan seperti keadaan sekarang ini, tidak dengan keadaan Chanyeol yang tak bisa disentuh.

Luhan tersenyum miring menatap masker nebulizer terpasang sebagai alat bantu pernafasan Chanyeol.

Tangannya tergelitik untuk menyentuh alat vital penunjang kehidupan namja dihadapannya. Sedikit bergetar hingga ia benar-benar bisa menyentuh benda itu.

Luhan bukan orang jahat, tetapi ada definisi lain dari hal yang akan ia perbuat sebentar lagi.

"Ayah mu bilang kau ingin bertemu denganku. Aku tidak tahu apa kita pernah punya masalah sebelumnya hingga kau ingin meminta maaf padaku. Karena seingatku kau tidak punya salah apa-apa padaku..."

Luhan menjeda kalimatnya sebentar, ia melirik kearah Chanyeol yang masih setia pada tidur panjangnya. Ia menghela nafasnya sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Selain Baekhyun tentu saja... Jadi kurasa tidak apa-apa kan jika aku meminta kau melepaskan istriku untuk selama-lamanya?"

Luhan menarik nafas dengan berat.

"Kau tidak keberatankan?"

"..."

"Aku janji akan memaafkan apapun kesalahan yang pernah kau perbuat padaku, walaupun aku tidak tahu apa itu, asalkan kau tidak akan pernah mengusikku sedikitpun"

Luhan memiringkan kepalanya seolah-olah sedang bernegosiasi dengan orang sehat. Mungkin ia sudah benar-benar kelewatan, tetapi Luhan sedang diserang perasaan cemburu, jadi..

"Jadi... kita akhiri sampai disini"


NOT FINAL IN THIS CHAP

see you for next chap...

Setiap liat Luhan, kenapa ya bawaannya pingin nangis aja.

Luhan selalu membawa hal baru yang mengejutkan, kaya misalnya lagu yang di 'cover' nya itu... huweeee, padahal baru dapet ide pas dengerin lagu Tian MiMi. Tapi idenya belum bisa dimasukin dichap ini /apasih/

Oh! Saya minta maaf karena Update nya luama pooolll, dua minggu kehilangan semangat nulis itu rasanya tersiksa. Kepala kea mau pecah, eits guyth, bukan berarti saya g apdate/apdate lama itu saya lagi sante-sante(?) loh... Yang ada malah kea orang stress jadinya, karena mikirin fiksi sama logika gak sinkron. Jujur aja niat mau apdet sih ada, ya tapi karena otak nya 'Error' - kea lagunya VIXX - yah, gini lah akhirnya -_-

Ya sudahlah, itu aja. Silakan dibaca sambil nahan emosi buat Chap ini.

Selanjutnya siap-siap cincang saya, sebelum saya kabur.

And Always Thankseu So Much for Your Attention!

Readers, Favoriters, Followers, Reviewers, and Silentreaders...

Lanjutkan seperti kebiasaan kalian.

\Bye!/