Fairy Tail Hiro Mashima
Percy Jackson and The Olympians Rick Riordan
School Story Aoife the Shadow
.
.
Warning: OOC, gaje, typo(s), fail humor, dll.
Enjoy^^
.
.
Chapter 10: Exams? NO!
Enam bulan sudah berlalu sejak kedatangan Lucy, Natsu, Erza dan Gray di Goode. Mereka berempat sudah mulai terbiasa dengan dunia kehidupan sekolah mereka. Percy, Annabeth, Thalia dan Nico sangat membantu mereka dalam membiasakan diri di sana.
Dan, semuanya pasti sudah tahu apa yang akan terjadi setelah enam bulan masuk tahun ajaran baru, kan? Yap, benar sekali! Mereka sebentar lagi akan menghadapi UJIAN!
Ada yang bisa membayangkan apa yang akan terjadi apabila kau memaksa keempat orang dari dunia lain ini untuk duduk manis di balik meja dan mengerjakan soal-soal ujian yang susahnya melebihi soal ujian level S? Well, mungkin Lucy bisa melewatinya dengan baik, Erza juga. Gray? Dengan sifatnya yang tenang, mungkin, sekali lagi, mungkin dia bisa melewatinya. Tapi Natsu, yang notabene tidak bisa diam dan baru-baru ini mendapatkan predikat sebagai troublemaker nomor satu di Goode? Bagaimana dengan ketiga blasteran kita, Annabeth tidak dimasukkan, yang menderita diseleksia sehingga mereka kesulitan untuk belajar dengan baik? Apabila mereka berhasil mendapatkan A di dalam ujian ini, itu berarti dunia hampir kiamat.
Kalau begitu, mari kita mengintip persiapan mereka dalam menghadapi ujian kali ini!
Kamar Anak Perempuan
Musik lembut mengalir dari laptop perak milik Annabeth, yang terbuka di atas tempat tidurnya. Pemiliknya sedang sibuk mencari materi pelajaran di internet sambil bersenandung pelan. Thalia sedang tiduran di lantai sambil mendengarkan musik dari headset miliknya, dia sama sekali bukan penggemar musik klasik. Sebuah buku pelajaran terbuka di lantai disebelahnya. Lucy sedang sibuk merangkum di meja belajarnya, dan Erza asyik menghafal untuk ujian besok di tempat tidurnya. Suasana di kamar itu sangat tenang.
Akhirnya, Lucy meletakkan penanya dan menguap. Rasanya kepalanya hampir meledak dengan semua materi yang harus dia hafalkan untuk ujian besok. Gadis pirang itu melirik jam yang tergantung di dinding, baru jam 7 malam. Dia baru belajar selama kurang dari dua jam, tapi rasanya dia sudah belajar lama sekali.
Lucy memutuskan untuk mencuci wajahnya sebentar agar tidak mengantuk. Dia bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi kamar mereka. Dengan wajah mengantuk, dia mencuci wajahnya di wastafel. Setelah merasa segar, dia menatap cermin untuk merapikan rambutnya. Tapi, dia terpaku ketika melihat sesuatu yang dipantulkan oleh cermin.
Seorang anak laki-laki, berambut hitam pendek, sedang duduk di atas kloset, asyik membaca sebuah buku.
Sekali lagi, ANAK LAKI-LAKI!
Well, apabila kau adalah perempuan, dan kau melihat seorang laki-laki di dalam kamar mandimu, reaksi yang normal adalah menjerit. Jadi jangan salahkan Lucy kalau dia menjerit dengan nada melengking.
Thalia, Annabeth, dan Erza segera berlari ke kamar mandi begitu mereka mendengar jeritan Lucy. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada sahabat mereka. Erza segera mendobrak pintu kamar mandi, yang untungnya tidak terkunci.
"Lucy, kau tidak apa-apa?" tanya Erza khawatir. Tapi, Lucy tidak memperhatikan ketiga sahabatnya yang khawatir itu. Perhatiannya tertuju pada anak laki-laki yang sedang menatap Lucy dengan tampang tidak bersalah itu.
"PERVERT!" pekik Lucy sembari melemparkan sebuah botol sabun yang dipegangnya ke arah anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu menangkap botol sabun itu dengan sampai sambil nyengir, "Hehe, maaf! Gak ada maksud untuk ngelihat, kok!"
"Nico! Ngapain kamu disini?" tanya Annabeth heran. Yup, anak laki-laki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Nico.
"Belajar, lah!" jawabnya cuek sambil membuka kembali bukunya.
"Lah? Kenapa gak belajar di kamar? Kenapa mesti di kamar mandi perempuan, hah?" tanya Lucy yang masih kesal.
"Habis Percy, Gray dan Natsu berisik sih. Aku sendiri bingung mereka sebenarnya mau belajar atau mau perang?" jawab Nico sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Karena bingung mau kemana, akhirnya tadi aku sempat kabur ke kamar mandi, tetapi suara mereka tetap saja terdengar. Akhirnya, aku kabur ke sini deh!" jawabnya santai.
"Apa susahnya lewat jalan normal, Nico?" desah Thalia. "Dan kenapa harus di kamar mandi kita?"
"Kalau lewat pintu gak asyik. Gak tau, tiba-tiba aja kepikiran kamar kalian, jadi deh aku ada disini."
"Terserah deh. Semuanya, jangan lupa terus nyalakan lampu kamar mandi sejak saat ini!" saran Lucy sambil memutar kedua bola matanya.
"Jadi, aku boleh belajar disini?" tanya Nico penuh harap.
"Boleh, tapi jangan di kamar mandi!" Erza segera menarik Nico keluar dari kamar mandi. Akhirnya, mereka berlima pun melanjutkan kegiatan belajar mereka dengan tenang.
-Skip Time-
"Guys? Bangun! Sudah jam setengah enam!" Annabeth berusaha membangunkan teman-temannya yang masih asyik tertidur itu.
"Lima menit lagi…" gumam Thalia sebelum membalikkan tubuhnya dan kembali tertidur.
"Kenapa dibangunin pagi-pagi, Annabeth? Kita kan baru mulai ujian jam delapan?" tanya Lucy mengantuk.
"Kalian kan mandinya lama, jadi harus bangun pagi-pagi!" Annabeth terus memaksa teman-temannya untuk bangun. Akhirnya, mereka bertiga bangun sambil menggerutu dan bergiliran mandi. Tentu saja Annabeth sudah mandi terlebih dahulu.
"Menurut kalian, Natsu, Gray, dan Percy belajar atau tidak?" tanya Erza sambil menyisir rambut scarlet panjang miliknya.
"Melihat bagaimana Nico sampai kabur tadi malam, sepertinya mereka bertiga tidak belajar. Mungkin mereka sedang berperang melawan monster atau apa?" tebak Thalia sembari mengunyah sarapannya.
"Hus! Jangan bilang hal-hal seperti itu! Nanti beneran ada monster, lho!" larang Annabeth.
"Tapi untung juga sih, sejak serangan minatour itu, tidak ada lagi monster yang menyerang kita maupun Aire!" kata Erza.
"Iya sih, mungkin kita sedang beruntung?" tebak Annabeth.
"Well, berharap saja tidak ada serangan monster di pekan ujian ini." doa Lucy yang baru keluar dari kamar mandi. "Jujur saja, aku agak gugup…" akunya.
"Tidak usah gugup Lucy, ini hanya ujian, kok." kata Annabeth menenangkan.
"Iya sih, tapi tetap saja gugup. Ini kan pertama kalinya aku dan Erza mengikuti ujian!" Lucy mengaruk-garuk kepalanya.
"Ah, sudahlah! Sekarang sudah jam delapan kurang lima belas! Ayo, lebih baik kita ke kelas!" ajak Thalia. Yang lain mengangguk dan bergegas menuju kelas mereka.
Doa Lucy terkabul. Setidaknya, tidak ada monster yang menyerang mereka sampai mereka memasuki kelas. Mereka berempat duduk di meja mereka masing-masing dan menyiapkan alat tulis mereka.
"Mereka bertiga kemana, ya? Sebentar lagi ujiannya dimulai…" gumam Thalia sambil menatap pintu masuk kelas dengan khawatir. Waktu sudah menunjukkan jam delapan kurang lima menit, tetapi Gray, Natsu, maupun Percy tidak juga muncul.
"Mungkin telat? Kau tahu mereka bertiga sering telat, kan?" jawab Annabeth sambil memain-mainkan pensilnya.
"Tapi, bukannya yang telat nanti ujiannya di ruang guru?" Lucy yang duduk di belakang Annabeth dan Thalia ikut nimbrung. Erza yang duduk di sebelahnya mengangguk setuju.
"Memang. Biarkan saja mereka mengerjakan ujian di ruang guru, biar tahu rasa! Salah sendiri mereka telat!"
"Anak-anak, diam!" perintah guru pengawas yang baru saja masuk. Lucy, Erza, Annabeth dan Thalia segera mengunci mulut mereka dan duduk manis menunggu kertas ujian pelajaran pertama mereka, Sejarah, dibagikan.
Waktu dua jam yang disediakan berjalan dengan cepat ketika mereka berusaha mengingat tanggal-tanggal kejadian bersejarah dan latar belakang kejadian itu. Annabeth mengerjakan soal dengan lancar, walaupun kadang-kadang dia harus mengingat-ingat beberapa fakta yang dia lupakan. Thalia berulang kali menggigiti ujung pensilnya karena frustasi. Lucy berhasil mengisi bagian pilihan ganda dengan cukup lancar, tetapi mendapatkan cukup kesulitan ketika berusaha mengisi bagian essay. Erza mengistirahatkan kepalanya di atas meja setiap kali dia harus mengingat tanggal-tanggal yang telah dia lupakan.
Akhirnya, bel tanda bahwa ujian telah selesai dibunyikan. Seluruh siswa di kelas itu mendesah dengan lega. Thalia melemparkan pensilnya ke dalam kotak pensil miliknya.
"Ini mimpi buruk…" gumam Thalia sambil bergidik.
Mereka berempat memutuskan untuk menghabiskan istirahat di dekat kolam yang berada di halaman sekolah mereka. Annabeth dan Lucy membawa buku pelajaran untuk ujian berikutnya, Fisika.
"Kalian berdua rajin sekali!" komentar Erza ketika mereka berempat sudah duduk dengan nyaman di atas rumput. Annabeth dan Lucy sedang sibuk membaca buku Fisika mereka sementara Erza dan Thalia memilih untuk duduk santai dan menyingkirkan kepenatan yang berasal dari ujian Sejarah tadi dari otak mereka.
"Aku masih belum mengerti Induksi Elektromagnetik…" jawab Lucy singkat.
"Aku suka lupa rumus…" jawab Annabeth pendek. Thalia dan Erza memutar kedua bola mata mereka melihat kerajinan teman mereka.
"Halo, kalian semua!" seseorang memanggil mereka. Thalia dan Erza menoleh dan mendapati Nico dan Aire sedang berjalan menghampiri mereka. Yup, Nico dan Aire baru saja resmi menjadi couple sejak sebulan yang lalu.
"Hai, Nico! Aire!" sapa Erza. Dia terdiam sebentar sebelum menaikkan sebelah alisnya, "Mana Natsu, Gray, dan Percy?" tanyanya bingung.
"Mereka terpaksa menghabiskan istirahat di ruang guru karena mereka terlambat setengah jam tadi pagi." jawab Aire.
"Wait, setengah jam? Mereka bangun jam berapa tadi pagi?" tanya Lucy heran.
"Gak tau, tadi pagi aku keburu berangkat sebelum mereka bangun." jawab Nico sambil mengangkat bahunya.
"Kenapa mereka gak dibangunin?"
"Kalian tahu sendiri seberapa kebonya mereka! Walaupun ada perang di dekat mereka, mereka juga tidak akan bangun!" tukas Nico.
"Iya juga sih, sudah pengalaman soalnya, hehehe…" kekeh Lucy.
KRIINNGGGG
"Yah, masa sudah bel lagi, sih?" keluh Thalia kesal.
"Habis kaliannya ngobrol terus, sih!" Annabeth menutup bukunya dan bangkit berdiri. "Kalian berdua sekarang ujian apa?" tanyanya kepada Nico dan Aire.
"Biologi…" jawab Nico.
"Matematika…" jawab Aire singkat.
"Yaudah, sana ke kelas kalian! Kita juga mau ke kelas! Semoga sukses, ya!" Annabeth mendorong kedua adik kelasnya itu, mengabaikan protes yang mereka suarakan.
"Jadi, kita ke kelas nih?" tanya Erza dengan nada malas.
"Ya iyalah! Kalian mau mengerjakan ujian di di ruang guru bersama ketiga pengacau itu?" tukas Annabeth.
"NO WAY!" sahut Lucy, Erza dan Thalia kompak. Mereka segera mengikuti Annabeth menuju kelas mereka untuk mengikuti ujian Fisika.
Sementara itu, di ruang guru…
"Gara-gara kalian, sih! Kita jadinya terpaksa ujian di ruang guru!" seru Percy kesal. Anak laki-lakiitu berdiri berkacak pinggang di depan kedua temannya yang sedang duduk dengan santai di depannya.
"Oh yeah? Siapa ya yang lupa menyalakan alarm?" sergah Gray santai.
"Enak saja! Aku seratus persen yakin telah menyalakan alarm!" bantah Percy. "Siapa ya yang mencopot batere dari alarm?"
Gray mengangkat bahunya,"Yang pasti bukan aku!"
"Bukan aku juga…" Natsu membela diri begitu dia melihat Percy dan Gray memberikan tatapan curiga padanya.
"Siapa lagi kalau bukan kamu, Natsu? Bukannya kau memang suka mengotak-atik barang kita?" tuduh Gray.
"Enak saja! Seharusnya yang jadi tersangka itu kamu! Bukannya kamu paling benci bangun pagi, jadi kamu copot baterenya?" Natsu bangkit berdiri dan menunjuk-nunjuk Gray dengan ganas.
"Nantang kamu?" Gray ikut berdiri dengan postur siap berkelahi. Percy hanya bisa sweatdrop melihat bagaimana hal kecil seperti baterai bisa menimbulkan perkelahian di antara kedua musuhtapiteman ini.
"Woa, woa, santai guys!" Percy mencoba menengahi.
"Diam kau, Percy! Ini semua salahmu karena menuduh kami peneyebab semua ini!" bentak Gray.
"Iya, gak usah ikut campur!" tambah Natsu.
Mendengar hal itu, kemarahan Percy juga ikut tersulut. "Ya udah sih! Gitu aja marah!"
Dan adu mulut di antara mereka bertiga tidak terelakkan lagi.
Sementara itu, di kelas VII-A, dua buah objek penyebab pertengkaran Natsu, Gray, dan Percy tergeletak di atas telapak tangan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu terkekeh ketika melihat kedua objek itu.
"Salah sendiri mereka berisik tadi malam sampai aku tidak bisa belajar!" sebuah senyum iblis terbentuk di bibir Nico. Dia kembali memasukkan kedua baterai itu di sakunya ketika guru pengawasnya masuk.
Satu pelajaran berharga untuk hari ini,jangan pernah , sekali lagi, JANGAN PERNAH mencari masalah dengan seorang Nico di Angelo.
TBC
