Main Cast : ChanBaek!

Other Cast : Exo, Jaejong

Disclaimer: Punya GLOOMY ROSEMARY & CUPID

.

.

.

.

Previous Chapter

Sebuah mobil hitam melaju kencang dari sisi kanannya. Baekhyun memang berdiri di tepian jalan, ta[i mobil itu seperti tak terkendali dan melaju oleng, merangsak apapun yang dilaluinya bahkan pembatas jalan pun tak luput dari hantamannya.

Baekhyun masih tak tersadar dan begitu tetap antusias menyimpul rajutan hangat itu di lehernya hingga—

TIIIIIIINNNNNN...TIIIIIIINNNNN...TIIIIIIIIIINNNNN

"BAEKHYUN!"

"A—AAAAAAAAAHHH."

.

.

.

Chapter 10


Silent Regrets

YAOI

Rate M

Gloomy Rosemary


.

.

.

"Baek" Gumam Chanyeol untuk kesekian kali, kedua obsidian itu pun kembali mengerjap resah. Mendadak berdebar bahkan tak bisa berpikir apapun untuk menjamu beberapa client penting dalam meeting hari ini, semenjak Ia tau ... Baekhyun rupanya di luar sana tanpa didampingi seorangpun. Mungkin benar anak itu... lebih dari cukup mengerti setiap hal baik ataupun buruk, tapi Ia mengenal Baekhyun lebih dari siapapun... Baekhyun terlalu ceroboh dan keras kepala. Kapapun anak itu bisa membahayakan dirinya dalam kondisi mengandung seperti itu. Lebih lagi Ia tengah menangani perjanjian besar untuk akuisisi perusahaan lain. Siapapun tentu bisa memanfaatkan kesempatan semacam ini untuk menjatuhkannya. Tentu Ia tak ingin Baekhyun terlibat di dalamnya.

"Kemana kau pergi sebenarnya?" Jemarinya tampak mencengkeram kuat kemudinya, begitu tak sabaran kala menjalankan mobil mewah itu keluar dari area parkir. sesekali ia mengedarkan pandangan ke sekitar, mendadak bimbang menentukan pilihan dari dua arah di hadapannya. Chanyeol tak tau...di mana dan kemana Baekhyunnnya saat ini. Hingga tiba-tiba saja, matanya tanpa sengaja menangkap siluet tak asing untuknya

"Baekhyun..." Gumamnya begitu yakin siluet yang berdiri di seberang jalan itu benar-benar namja mungilnya. Membuat presdir muda itu menghela nafas lega,setidaknya ia melihat Baekhyun dalam kondisi baik-baik saja. Chanyeol beralih cepat menepikan mobil dan turun hendak menghampiri Baekhyun yang sepertinya masih terlihat antusias dengan kain tebal di lehernya.

"Baek" Panggilnya, setengah berlari, dan berdecak dengan senyum terkulum menyadari Baekhyun sama sekali tak mendengarnya. Dan sepertinya kain tebal itu benar-benar menyita perhatian Baekhyun, namun dalam sekejap senyum itu berangsur pudar. Begitu melihat sebuah mobil dari sisi kanan Baekhyun, melaju brutal dan merangsak apapun yang dilaluinya.

Chanyeol semakin kalut melihat Baekhyun masih tetap berkutat dengan syalnya. "BAEK!" Teriaknya panik, namun tak semerta bisa berlari saat lalu lalang mobil menahan langkahnya.

Tapi tak mungkin Ia membiarkan semua ini terenggut di depan matanya sendiri, ia memaksa menerjang jalanan tak peduli lampu untuk pejalan kaki masih berpendar merah menyala.

"BAEKHYUN!" Teriaknya keras, berharap namja mungil itu lekas tersadar.. Tapi tetap saja semua tak berbuah apapun. Baekhyun masih bergeming di posisinya karena syal bodohnya

'TIIIN!'

Ia nyaris tertabrak.

"KAU GILA!" dan salah seorang pengemudi itu mengumpat keras padanya, Ia tetap tak peduli... memilih melompat melalui mobil yang mengerem mendadak itu, demi mencapai seberang.

"BAEKHYUN!" Ia kembali memanggil... gila

Tidak! ...Siapapun! Hentikan mobil itu...Baekhyun tak mungkin—

"B-Baek! Tidak! Tidak! YACKK! BAEKHYUN!"

.

.

.

"A—AHHHHHHHHHHHH!"

Segalanya begitu berbayang, raungan mesin berat yang mungkin mengikis sekat, seakan mengunci tubuhnya dalam jeritan histeris. Baekhyun tau semua akan berakhir, mustahil ia memiliki kesempatan untuk menghindar. Ia putus asa. waktunya akan segera terhenti, Baekhyun bergeming... hanya menutup erat wajahnya dan berharap Tuhan masih memberinya kesempatan memanggil satu nama... Park Chanyeol.

Hanya Pria itu...

'TIIIIINNNNNN!'

BRUGHH

"Arkkh~"

Tiba-tiba saja seseorang merangkul dan menarik kuat tubuhnya ke sisi belakang, membuat keduanya terbanting keras dengan posisi saling berpelukan. Baekhyun mengerang nyeri... sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri karena kepala yang terantuk pembatas jalan.

Masih dengan memluk Baekhyun erat, sosok penyelamat itu menatap berang sebelum akhirnya melontarkan umpatan dan sumpah serapah pada mobil yang masih terus melaju itu. Nyawa seseorang nyaris terenggut karenannya, tapi bagaimana mungkin pengemudi itu tak menunjukkan itikad untuk sekedar menyampaikan penyesalannya. Jangankan meminta maaf...berhenti saja tidak. Mungkinkah seorang yang mabuk?

"Aisshh! Kupastikan kau sekarat setelah ini!" Sumpahnya lagi berharap mobil itu terjungkal di suatu tempat. Tapi tiba-tiba saja ia terbelalak lebar begitu sadar seseorang dalam dekapannya hanya diam tak berkutik, Oh!jangan katakan sesuatu yang buruk terjadi pada sosok manis itu.

"Hei adik kecil.. kau baik-baik saja?Buka matamu" Racaunya sambil menepuk pipi Baekhyun bergantian. Namun tak ada respon sedikitpun, bocah manis itu tetap bergeming dengan mata terpejam. berulang kali bantuan datang menyela dari bebarapa pengunjung kafe dan pejalan kaki yang menghampirinya, namun dengan pasti ditolaknya mentah-mentah. Pemuda itu begitu yakin ia bisa menanganinya seorang diri.

Pemuda itu- Kris-, bergerak sigap memastikan nafas dan denyut nadi Baekhyun. Baginya tak ada yang salah...semua masih berjalan dengan normal. Ia menatap lekat wajah baby face di hadapannya, menerka-nerka apa yang mungkin terjadi pada sosok manis yang belum Ia ketahui namanya itu. Hingga mendadak sebuah ide terlintas dalam benaknya. Ia baru memijakkan kaki di Korea.. mendapat kesempatan semacam ini tentu tak masalah untuknya

Tentu saja...Pertolongan pertama...

"Anak muda lebih baik kau membawanya ke dalam ruangan yang hangat terlebih dahulu, apa yang—

"Ssshh! Xiāngxìn wǒ!(Percayalah padaku!)" Desisinya seraya menggerakkan telunjuk di bibirnya, tak pelak membuat kerumunan itu berjengit, tak mengerti apa yang dikatakannya. Tapi satu yang pasti... Dia berasal dari China

Ia kembali memberi isyarat untuk memberi ruang. Lalu setelahnya ia menatap Baekhyun dan mengambil nafas dalam-dalam.

Kris mengangkat tengkuk Baekhyun, membuatnya sedikit menengadah dan menekan dagunya...hingga bibir kecil itu terbuka secara perlahan. Tanpa menghiraukan puluhan pasang mata yang berkerumun mengelilinginya, pemuda yang masih mengenakan seragam sekolah itu semakin menunduk hendak mempertemukan bibir dan menghembuskan nafas hangatnya...

"Berhenti sampai di situ!"

Nyaris bibirnya menyentuh belahan cherry itu, jika saja seseorang datang dengan suara penuh hardikkan itu. Kris berdengus, lalu menoleh pada sosok yang menurutnya pengganggu itu.

"Hey Bro! kau tak melihatnya, aku memberinya nafas buatan! That pretty boy!" Ujarnya berkacak pinggang. Namun sedikit aksen yang berbeda itu membuat Chanyeol tau, anak itu sepertinya belum terlalu mahir menggunakan bahasa yang sama

"itukah isi dalam otakmu?" Ucap Chanyeol sarkatis, membuat pelajar tinggi itu membulatkan mata lebar mendengarnya. Ah! Ia mengerti maksudnya.

"W-What?"

Chanyeol berdecih, dan memaksa mengambil alih tubuh Baekhyun dari rengkuhan pemuda itu, tak bisa terima seseorang menyentuh Baekhyun seperti itu...bahkan ingin mencuri ciuman darinya, meski benar Dia telah menyelamatkan Baekhyun tapi bukan berarti anak itu bisa berbuat lebih jauh.

"What the hell are You doing?!" Teriak Kriss tak terima, melihat Chanyeol memaksa mengambil sosok mungil itu darinya. Bahkan tak melepas genggaman tangannya pada Baekhyun

Chanyeol mengulas smirk mendengarnya." Hands off... He is mine!" Ucapnya seraya menajamkan tatapannya.

Pelajar itu sepertinya tak ingin mengalah bahkan untuk percaya begitu saja, Ia kembali mendekat tapi beberapa bahu lebar yang menghadangnya lekas membuatnya menghentikan langkah.

"Menjauh dari bos kami" Ujar seorang bodyguard itu.

"B-But that little boy—

"Dan juga istri dari bos kami..."

Kris lekas terdiam. Mengerjap beberapa kali untuk memandangi siluet Chanyeol yang mulai menghilang di balik loby sebuah bangunan besar.

"W—Wife?"

"Imbalan ini untukmu..."

Tak sempat kembali menyentak protesnya, pemuda itu kembali dibuat tercengang begitu satu amplop berukuran besar penuh dengan lembar uang, dilesakkan ke dalam ranselnya.

"Pergilang.. dengan uang itu kau cukup bersenang-senang"

"What the fuck!" Kris membanting amplop itu, apa yang salah dengan orang-orang itu. Niat tulusnya bukan untuk dibeli semudah itu.

Dan lagi sepertinya ia benar-benar terkesima menatap paras bocah malang itu. Tapi sayangnya ia dikelilingi Pria tamak penuh dengan otot tak berguna itu.

Sejenak menatap sengit semua pria besar itu, untuk kembali memasang earphone miliknya, menyentak skate board dan melaju meliuk-liuk di sepanjang tepian jalan itu... masih dengan menyimpan harapan besar.. .kelak bertemu dengan sosok persis seperti namja cantik itu. ah! bahkan ia lupa menanyakan namanya.

"So cute... cute... cute" senandungnya di sepanjang trotoar itu.

.

.

.

.


"Keras kepala" Lirih Chanyeol kala mengecup puncak kepala Baekhyun. Tak ada yang lain yang dilihatnya kini, selain tubuh mungil terbaring damai tanpa ulah apapun. Setidaknya ini lebih baik dibandingnkan mendengarnya tiba-tiba menghilang dari rumah, sebuah mobill nyaris menabraknya dan lebih gila... seorang bocah ingusan ingin menciumnya tepat di depan kedua matanya.

"Kau tak tau.. betapa gila diriku hari ini" Bisiknya, masih menyeka keringat yang merembas di kening Baekhyun.

"Oh Ayolah jangan memberiku wajah seperti itu, Baekhyun baik-baik saja. Anak itu pingsan bukan karena benturan di kepalanya tapi Dia Shock"

Masih bisakah itu terdengar melegakan untuknya?

Sementara yang Ia tau... lebih dari 2 jam lamanya, Baekhyun tak kunjung membuka matanya.

"..." Chanyeol hanya diam, menyatukan jemari Baekhyun di keningnya sambil memandangi wajah lelap itu.

"Tsk! Jangan meragukanku..." Dengus Luhan seraya menyandarkan tubuh di kursi kerja Chanyeol lalu memutarnya pelan.

"Bagaimana dengan kandungannya?"

Sesaat Luhan berhenti berputar dan menantap Pria tinggi di hadapannya lebih lekat. "Kupastikan benturan itu tak berpengaruh pada kandungannya. Tapi ada baiknya jika kau membawanya ke dokter kandungan saja. Lagi pula tak lama lagi kalian akan pergi ke Venice bukan? Pastikan semuanya baik-baik saja sebelum keberangkatan kalian." Lanjutnya kemudian.

Chanyeol hanya berdecak pelan, hingga Ia dikejutkan dengan lenguhan kecil Baekhyun. Cepat-cepat Chanyeol melepas genggamannya lalu beralih duduk menyilang seraya memasang raut sedingin mungkin.

"Hei apa yang kau lakukan?" Tanya Luhan heran, melihat perubahann sikap itu

.

.

"Nghh~" Baekhyun mengernyit tak nyaman sembari memegangi pelipisnya, berulang kali mengerjapkan mata, merasa asing dengan aroma dan suasana di seklilingnya. Ini bukan jalan... Baekhyun ingat benar, sebuah mobil nyaris menabraknya...seharusnya dirinya terkapar di jalanan, bukan ruangan hangat penuh dengan aroma maskulin seperti ini.

Aroma maskulin?

Ah! Baekhyun mengenalnya...

Parfum ini hanya milik Pria itu.

Tak butuh lama untuk bangkit dan tersenyum riang, meski sesekali mengernyit karena pening

"Chan—Yeol" Panggilnya, begitu melihat siluet Chanyeol duduk tepat di seberangnya. Cepat-cepat Baekhyun berdiri dan berjalan terhuyung-hyung hendak memeluk pria kekar itu

"Mo—bil itu ingin menabrakku" Adu Baekhyun sembari menggesekkan kepalanya di dada Chanyeol, sesekali pula ia mengecupi leher pria itu, berharap mendapat perhatian dan belaian darinya. Tanpa sadar seseorang yang lain, sebenarnya berada di ruangan yang sama dengannya

Tapi sepertinya tak tak berbalas. Terlihat Pria itu hanya bertahan dengan sikap diamnya, terlihat dingin kala tatapan itu teralih untuk objek yang lain.

"W-Waeyo?" Baekhyun mendadak gugup, meremas kuat jemari besar itu. Tak berharap sasuatu yang salah terjadi di sini

"..." Masih sama, tak ada balasan lain, selain keldua lengan kokoh yang tetap bergeming di kedua sisi tubuhnya

"Kau ma—rah?" Gumam Baekhyun tak yakin. Semakin terasa sesak untuknya, kala tatpan yang dingin itu mulai memandangnya lekat. Tapi mengapa wajah itu terlihat muak?

Apa yang telah diperbuatnya?

Seingatnya... Ia hanya merindukan seseorang, berlari hanya untuk bertemu dengannya. Bahkan Ia nyaris celaka hanya demi orang itu.

Tapi mengapa mendadak senyum hangat itu pudar tepat di depan matanya seperti ini.

"K-kau marah?" Terdengar serak, tapi Baekhyun tetap mencoba meremas lengan Chanyeol., bahkan mengguncangnya demi menuntut jawab.

"Bicaralah... kumohon bicara—"

Baekhyunn terdiam, begitu Chanyeol melepas cengkeramannya secara perlahan... samar, ia mendengar Pria itu berdecak. Raut masam... tanda Ia benar-benar tak suka kali ini.

"A-aku melakukan salah?" Gagap Baekhyun, menatap penuh harap pada Pria yang kini lebih tertarik memainkan gadget hitamnya, dibandingkan membalas tatapan ingin menahan tangis itu.

"Aaa—!" Baekhyun tiba-tiba menguncang tangan Chanyeol. Mencoba menahan namun tetap saja air mata itu mengalir dari pelupuknya. Di bandingkan iba... bocah itu terlihat jenaka dengan sikap seperti itu. Hingga membuat seorang Dokter muda di seberang keduanya tampak menggeleng sembari mengulum tawa. Perubahan sikap Chanyeol yang sedemikian kontrasnya, mungkin tak bisa dibilang sebagai lelucon belaka. Luhan tau benar Chanyeol ingin merencanakan sesuatu pada kekasih kecilnya. Semua tentu tak lepas dari kejadian di siang ini.

Tentu saja... siapa yang ingin petaka seperti itu terulang untuk ke sekian kalinya

"Ah! Sebaiknya aku pulang saja" Selanya, seraya bangkit dari meja kerja Chanyeol.

"A-aku melakukan salah?!" Pekik Baekhyun tiba-tiba, lebih ditujukan untuk Luhan. Berulang kali menatap Chanyeol dan Luhan bergantian, tapi rasanya semakin membuat Baekhyun tak nyaman... begitu Chanyeol memilih mengangkat tubuhnya dari pangkuannya, lalu berdiri membelakanginya.

"Ya kurasa kau memang melakukan kesalahan besar. Aku hanya berharap Chanyeol tak serius mengambil keputusan itu, aku pergi... Bye" Tukas Luhan seraya memasang wajah sesedih mungkin.

Apa maksudnya itu? Keputusan apa yang dimaksud? Mengapa dirinya yang tak tau apapun di sini?

Baekhyun kembali berjalan tertatih... memeluk Chanyeol dari belakang dan membenamkan wajahnya di balik punggung besar itu.

"B-bicaralah kumohon! Jangan diam seperti ini"

Lihat, seperti dugaannya bukan, Baekhyun semakin meracau panik dan mungkin mulai berpikir yang tidak-tidak. Meski demikian, Ia akan tetap bertahan dengan sikapnya, bagaimanapun Baekhyun harus menyadari kesalahan apa yang diperbuatnya di hari ini.

"Kita pulang saja."

Baekhyun kembali membulatkan mata lebar, Chanyeol memang membuka suara... tapi sangatlah dingin. Dan itu bukan cara Chanyeol berbicara dengannya.

"T—Tunggu" Baekhyun menahan lengan Chanyeol, menahannya untuk melangkah . "Jangan mengabaikanku... ku mohon" Pinta Baekhyun kemudian.

"..."

Kembali tak memberi respon, Chanyeol hanya memalingkan wajah seraya menopang dagu di sandaran sofa, namun sebenarnya ia tengah mengulum senyum.

"Kumohon.."

"..."

"Kumohon janngan lakukan ini padaku... Tuan" Lirih Baekhyun sambil menenggelamkan kepalanya di dada bidang Chanyeol.

Pria itu mulai mengernyit, sebenarnya mulai terusik Baekhyun kembali memanggilnya demikian.

"Pulang saja" Ucap Chanyeol masih bertahan dengan aksen dinginnya. Membuat namja mungil yang kini menggenggam tangan dan mengekor di belakangnya itu hanya diam tertunduk.

.

.

.


Nyaris satu jam terlewat...

Ia yang sebelumnya dibuat tak tenang dengan sikap yang berbeda itu, kini kembali dibuat berdebar resah... bahkan hingga keduanya tiba di kediaman Chanyeol. Pria itu tetap tak memberinya peluang untuk mendekat.

"Aku—

"Ganti pakaianmu dengan yang lebih hangat. Aku sangat lelah" Sergah Chanyeol tiba-tiba

Dan Baekhyun hanya bisa tertunduk, kembali mendapat penolakan tersirat itu

"Ya Tuhan! Baekhyun... apa kau tau betapa cemasnya Ibu karena dirimu?" Jaejong setengah berlari menghampiri pintu utama, begitu melihat Chanyeol berhasil membawa pulang Putra sulungnya. Tapi detik itu pula, Chanyeol melepas cengkeraman tangan Baekhyun di ujung jass nya, mengulas senyum pada Jaejong lalu melenggang pergi tanpa sedikitpun menoleh pada Baekhyun.

.

.

"Booomm!" Seorang namja kecil tiba-tiba berlari dari dalam, lalu memeluk erat kaki Chanyeol.

"Taehyung?" Chanyeol menangkap Taehyung. Lalu menggendongnya dan membawanya berlari layaknya pesawat terbang... tak ayal baby mungil itu tertawa lepas karenanya.

Tanpa tau, Baekhyun tampak mengepalan tangan kuat melihat perlakuan Chanyeol pada adik kecilnya. Berbeda sekali saaat bersamanya, dan sampai detik inipun Ia benar-benar tak tau apa sebabnya.

"Megacoooold" Pekik Taehyung tiba-tiba begitu melihat tayangan dalam Tv nya.

"Megazord? kau menginginkannya? Baiklah, Aku akan membelikannya untukmu besok" Ujar Chanyeol seraya mengangkat tinggi-tinggi tubuh Taehyung membuat pekikkan antusias Baby menggemaskan itu kembali pecah.

.

Sebenarnya Baekhyun cemburu,

Terlalu muak melihatnya hingga Ia lebih memilih menyembunyikan wajah di balik punggung Jaejong.

"Ada apa hm?" Bisik Jaejong seraya menepuk pelan bahu Baekhyun. Pandangannya tak pernah lepas pada sosok tinggi yang masih melambungkan Putra bungsunya, mencoba menerka apa yang tengah disembunyikan Chanyeol sebenarnya.

"..." Baekhyun hanya diam sambil menggeleng pelan. Lalu berjalan lesu menuju kamarnya sendiri

Jaejong hanya menghela nafas melihatnya, mungkin sesuatu yang pelik tengah terjadi di antara dua anak itu. karena mustahil sekali Chanyeol sampai hati membuat Baekhyun murung seperti ini..

.

.

"Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" Tanya Jaejong seraya mengusap pelan kepala Taehyung dalam pangkuan Chanyeol.

Pria itu hanya terkekeh pelan, lalu beralih melonggarkan dasinya. "Aku memang sengaja melakukannya" Jelasnya kemudian.

Jaejong masih mengernyit tak mengerti, tapi apapun alasan Pria itu.. tentu Ia tak bisa membiarkan Baekhyun tertekan seperti ini

"Aku hanya ingin Baekhyun berhenti melakukan semua hal sesuka hatinya dan membahayakan dirinya sendiri" Ucap Chanyeol lagi, begitu melihat Jaejong sepertinya tampak tak terima

Jaejong hanya menghela nafas pelan, ia memang tau Baekhyun akhir-akhir ini sangat keras kepala dan kerap melakukan hal diluar kendalinya

"Mungkinkah terjadi sesuatu saat di kantor?"

"Hn, sebuah mobil nyaris membuatnya celaka"

DEG

Wanita itu terperangah, bahkan terlihat tak tenang meremas kerahnya sendiri. "I-Ini salahku.. joka saja aku bisa menjaganya, tentu Baekhyunku—

"Tenanglah, tak terjadi apapun padanya. Izinkan aku membuatnya jera kali ini" Chanyeol menahan tangan Jaejong sebelum wanita itu berlari menemui Baekhyun.

Meski masih berdebar resah, tapi Jaejong tetap tersenyum dan mengangguk menyetujuinya. Ya, ia tak ingin Baekhyun kembali berulah seperti siang ini, anak itu tak akan pernah tau dan mengerti bahaya macam apa yang kelak terjadi.

"Apapun untuknya... Yeollie"

.

.

.

Beberapa jam kemudian

"Eomma!"

Jaejong berjengit terkejut, begitu tiba-tiba saja Baekhyun muncul tepat di sisinya.

"Jangan mengejutkan Eomma seperti itu" Pekik Jaejong setengah kesal, tapi setelahnya kedua alisnya bertaut heran melihat Baekhyun tampak begitu antusias berkutat dengan racikan di tangannya.

"Kau sudah mandi eum?" Tanya Jaejong setelahnya. Sambil megendus leher Putranya

"Uhm" Jawab Baekhyun sembari menganggukkan kepala.

"Apa yang ingin kau buat sayang?"

"Teh...selesai!" Pekik Baekhyun penuh semangat seraya membawa secangkir teh yang berhasil dibuatnya. Dan Jaejong hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum melihatnya.

.

.

.

"Sedang bekerja?" Ucap Baekhyun begitu tiba di ambang pintu ruang kerja Chanyeol, sesekali ia meniup kepulan asap dari minuman yang dibawanya. Secangkir teh di sore ini, bukankah itu bagus untuk Chanyeol.

"Hn..." jawab Chanyeol seadanya, tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya.

Baekhyun tersenyum manis , ia berjalan riang mendekati meja kerja Chanyeol lalu mengecup cepat pipi kanannya.

"Aku membuatkanmu teh –

Baekhyun membulatkan mata lebar, begitu melihat Chanyeol tiba-tiba saja meraih cangkirnya dan mengak teh itu tanpa mendengarkannya terlebih dahulu.

"Terima kasih" Singkat Chanyeol seraya kembali meletakkan cangkir kosongnya di meja.

Baekhyun meneguk ludah payah melihatnya, masih saja...sikap Chanyeol tetap dingin, bahkan rasanya semakin dingin.

Tapi sedetik kemudian ia menggeleng kasar, yakin Chanyeol pasti tengah suntuk karena pekerjaannya, ia beralih ke sisi belakang Chanyeol dan meletakkan tangannya di kedua bahu kekar pria itu

"A-aku akan memijitmu... otteyo?" Tanya Baekhyun sedikit gugup"

"Tak perlu... keluarlah, aku ingin menyelesaikan semua pekerjaan ini" Ketus Chanyeol.

"M-masih marah?"

"Tidak.."

"Tapi cara bicaramu mengapa seperti itu? kau marah padaku?" Baekhyun mulai merajuk, berulang kali ia menghentak kaki, tak terima dengan sikap Chanyeol.

"Pekerjaanku tak akan selesai jika kau mengganggu seperti ini"

Baekhyun terdiam...sejak kapan Chanyeol melihatnya sebagai pengganggu. Sungguh! Baekhyun paham benar, Chanyeol tak pernah berkata demikian meskipun ia selalu bertingkah menjengkelkan. Tapi mengapa Chanyeol tiba-tiba saja berubah sikap tanpa alasan

"Apa salahku?" Ia kembali menuntut

"..." tak ada jawaban, Chanyeol lebih memilih menyibukkan diri dengan semua berkas-berkas di hadapannya.

"Yeollie.."

Ah! Panggilan itu terlalu manis untuknya... tapi, Ia mencoba bertahan di sini. Belum waktunya menyerah.. dan memagut bibir mungil yang manis itu.

"..."

Baekhyun mempoutkan bibir kesal, lalu memutuskan itu meninggalkan ruangan itu dengan menghentak kaki. Sementara Chanyeol yang melihatnya hanya terkekeh geli, sebenarnya cukup menyenangkan menggoda Baekhyun dan mendapat berbagai ekspresi menggemaskan dari namja mungil itu.

.

.

.


Baekhyun tersenyum manis begitu melihat seseorang yang di nantinya tiba di ruang makan, cepat-cepat ia menggeser kursi dan mempersilakan Pria itu mendudukinya dengan nyaman.

"Apa semua berkasmu sudah selesai?" Tanyanya seraya memijat pelan tengkuk dan bahu Chanyeol. Bagaimanapun ia harus bersikap semanis mungkin, agar Chanyeol terkesan dengannya bukan?

"Hn..."

Mengapa Chanyeol masih sedingin ini? Ah! tak apa...setidaknya ia masih memiliki cara lain untuk meluruhkan sikapnya

"Biar aku menyuapimu.." Tawar Baekhyun cepat, seraya merebut sup ditangan Chanyeol

Chanyeol hanya diam tanpa mengulas raut apapun. tapi sejujurnya Ia tengah berkoar detik ini.. tidakkah Baekhyun sangat lucu? Rasanya tak jemu dengan hanya memandang wajah takut berbaur dengan cemas itu. Dia benar-benar menggemaskan terlebih dengan perut yang mulai terlihat itu.
Tapi sekali lagi, belum waktunya menyerah, ia masih harus melanjutkan sandiwara untuk tetap bersikap dingin dan arogan di hadapan namja kecil itu.

"Tak apa... aku bisa melakukannya sendiri" Ujar Chanyeol, kembali mengambil sup nya.

"AAAAA!"

Tiba-tiba saja Taehyung menarik-narik ujung kemejanya, dan menjerit keras dengan bibir terbuka lebar. Sontak Chanyeol urung melahap suapannya...dan mengernyit heran melihat Taehyung seperti itu.

"Kau menginginkannya?" Tanya Chanyeol seraya menunjuk Sup buatan Baekhyun. Dan Taehyung mengangguk cepat tanpa menutup bibirnya, membuat Pria itu terkekeh pelan, entahlah Ia hanya melihat baby itu nyaris memiliki wajah serupa Baekhyun.

"itu milikimu! Mengapa memberikannya pada Taehyung?!" Pekik Baekhyun tak terima, dan menatap tajam pada Dongsaeng kecilnya yang begitu lahap menerima suapan dari Chanyeol.

"Taehyung menyukainya, biarkan saja... aku akan memakan masakan Ibumu"

"Tapi aku membuatnya untukmu!" Kekeuh Baekhyun kesal, tentu saja ia tak terima, betapa Baekhyun membuatnya dengan sepenuh hati hanya untuk Presdir itu, bagaimana mungkin Chanyeol sama sekali tak peka dengan perasaannya.

"Sayang, kau bisa membuatnya lagi nanti. Cepat makan... jangan mempermasalahkan hal kecil seperti ini di meja makan" Ucap Jaejong yang baru saja hadir, dan meletakkan hidangan penutup di atas meja.

.

"Aku marah padamu!" Pekik Baekhyun sambil menunjuk sengit, baby mungil yang masih menempel di pangkuan Chanyeol.

Seolah mengerti Baekhyun sedang mengajaknya perang, Taehyung mencibir. Ia tau milik Baekhhyun yang berharga. hingga sesaat kemudian bocah itu menarik kuat tengkuk Chanyeol lalu mencuri sebuah kecupan di bibir merahnya.

'Chupp'

"YACK! TAEHYUNG APA YANG KAU—ARGGHHHH!"

Baekhyun semakin menggila melihatnya! Bagaimana mungkin Taehyung bisa bersikap sejauh itu? dan lagi, Chanyeol hanya terkekeh sambil mengacak rambut Taehyung gemas. Apa maksudnya itu?

"Baekhyun! apa yang kau lakukan? turun! Jangan bersikap seperti ini di meja makan!" Pekik Jaejong seraya menepuk kaki kanan Baekhyun yang bertengger di meja makan, sebelum semakin memanjat naik dan merangkak hanya untuk menangkap Taehyung.

"Eomma! Dia menyebalkan! Lihat! Dia mencibir padaku EOMMA!" Adu Baekhyun masih terus menunjuk-nunjuk Taehyung di seberangnya.

"Turun Eomma bilang!"

Baekhyun bersungut kesal, terpaksa Ia patuh dengan gertakan itu, menurunkan sebelah kakinya dan duduk di kursi sebagaimana mestinya.. tapi tetap saja, tatapanya masih menghunus tajam. Dan Chanyeol hanya mengulum senyum melihatnya.

.

.

"Kau hanya milikku... mengerti?" Baekhyun tiba-tiba menyela di tengah kegiatan makan malam tersebut. Sementara Pria yang menjadi pusat pikirannya, hanya menatapnya sekilas dan kembali melahap makanan tanpa menyisakan jawaban apapun untuknya.

"Yeollie" Baekhyun menunduk lesu, sepertinya ia memang tak memiliki cara apapun lagi untuk meluruhkan hati Chanyeol.

"Jangan banyak bicara, cepat habiskan makan malammu" Tukas Jaejong.

Baekhyun mempoutkan bibir mendapat teguran itu, tapi setelahnya ia tersenyum manis saat melihat Chanyeol.

"Suapi aku.." Ujarnya seraya mendorong piringnya ke arah Chanyeol. Alih-alih menerimanya, Pria itu lebih memilih balik mendorongnya.

"Makanlah sendiri, kau sudah besar"

Baekhyun kembali tertunduk, jika Presdir itu sudah berkata demikian apa lagi yang bisa diperbuatnya selain menghela nafas pasrah.

Mungkinkah Pria itu telah berubah?

"B-Baiklah" Gumamnya lirih

Sempat menyita perhatian Chanyeol, hingga diam-diam Pria itu memandangnya sesal...

Ah! Ia tak bermaksud membuat Baekhyun menyudutkan diri seperti ini

.

.

.

.

.


"Potong saja.. rambutmu sudah sepanjang-

"Tidak!" Baekhyun menyilangkan tangan di depan wajahnya. "Tidak Eomma! Baekhyun tak akan pernah memotongnya!"

"Waeee?" Jaejong mengernyit heran

"Chanyeol menyukainya..." Celetuk anak itu sambil merapikan surai hitamnya.

"Jika demikian, setidaknya ikatlah kebelakang seperti ini" Ujar wanita itu seraya mengikat rambut Baekhyun, walau sebagian terlihat menjuntai menutup kening dan pipinya

Tapi mendadak heran begitu menyadari anak itu terlihat lesu menyandarkan kepalanya di meja.

"Ada apa? Kau tak merasa tak nyaman?" Jaejong melirik perut Baekhyun.

"Dia berubah..." Bisiknya seraya memainkan cangkir berisi coklat panas miliknya

"Siapa?"

"Mungkin sudah tak menyukai Baekhyun lagi" Lanjut Baekhyun, membenamkan wajah di balik lipatan tangannya sendiri.

Jaejong tersenyum dan menyentuh dagu Baekhyun agar menatapnya. "Benarkah? Sekarang coba pikirkan...apa yang telah kau lakukan di hari ini Sayang" Tukas Jaejong setelahnya. Ia mencium lama dahi Baekhyun sebelum akhirnya mendekati Taehyung yang tertidur di pangkuan Chanyeol.

Baekhyun hanya mengerjapkan mata, mencoba menerka maksud Jaejong. Bahkan hingga wanita itu mengangkat dan memindahkan Taehyung ke kamarnyapun Baekhyun masih mengerjapkan mata tak mengerti.

.

.

.


Tak seperti biasanya...

Suasana seketika hening, hanya Chanyeol dan dirinya yang kini terlihat dalam satu garis pandang. Baekhyun memang masih di ruang makan dan Chanyeol di sofa ruang keluarganya, tapi hanya dengan satu lirikkan saja keduanya bisa saling menangkap siluet masing-masing.

Anak itu masih saja meremas-remas jemari kecilnya nya di atas meja, meski sesekali ia pun turut memainkan cangkir keramik di hadapannya, berusaha menciptakan suara sekecil apapun asal itu bisa menarik Chanyeol agar melihatnya. Tapi nyatanya, Pria itu tak sekalipun melihatnya dan lebih memilih acara TV di depanny

Merasa tak tahan, Baekhyun dengan sengaja menumpahkan coklat dalam cangkirnya hingga mengenai dada dan pahanya. Tanpa sadar, Chanyeol sebenarnya tau apa yang sedang dilakukannya di meja makan itu.

"Akh! Panas!" Pekik Baekhyun, seraya menghentakkan kaki seolah ia benar-benar kesakitan. Berulang kali Baekhyun melirik Chanyeol, tapi Pria itu tetap tak merespon bahkan terkesan menghiraukannya.

Baekhyun berdecak kesal sambil menarik-narik piyama miliknya. "Coklat ini tumpah... panas sekali! " Rajuk Baekhyun lagi, berusaha menarik perhatian Pria itu

"Pergi ke kamar, lalu ganti bajumu dengan yang bersih" Tegas Chanyeol tanpa sedikitpun menatap Baekhyun.

Tentu saja Baekhyun kembali lemas mendengarnya, Chanyeol benar-benar berubah, mungkin benar Pria itu tak menginginkannya lagi, pikirnya.

Ia tertunduk dan mulai menyeret langkahnya, bukan ke kamar seperti yang Chanyeol arahkan melainkan duduk menekuk kaki di samping kulkas... berharap besar Chanyeol iba dan kembali memperhatikannya lagi.

"Yeollie" Panggil Baekhyun

"..."

"Di sini sangat dingin." Rengek Baekhyun lagi, masih berharap menarik perhatian Chanyeol.

"Jika dingin, untuk apa di sana? Kau bisa pergi ke kamar bukan?" Desis Chanyeol masih menatap layar TV nya

Baekhyun menggeleng lemah, dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya di balik dekapan lengannya. Sesekali ia melirik Chanyeol...tapi sepertinya percuma. Chanyeol memang tak akan memperhatikannya lagi.

Chanyeol kembali mencuri pandang, sebenarnya hatinya cukup bergetar melihat Baekhyun berusaha melakukan apapun hanya untuk menarik perhatiannya, terlebih melihatnya meringkuk menahan tangis seperti itu benar. Tapi Ia rasa ini belum cukup untuknya menyerah.

"Yeollie... "

"Yeollie...""

Baekhyun terus memanggil-manggil lirih... meski ia tau. Mustahil Chanyeol mengambil langkah untuk memeluknya jika mendengar semua panggilan itu. Lihat saja... Pria itu tetap membiarkan dirinya meringkuk bulat di samping lemari pendingin.

Air mata yang sempat di tahannya lolos begitu saja, Baekhyun cukup lama bertahan meringkuk dengan kondisi basah karena coklat. Tapi Chanyeol sama sekali tak berniat untuk peduli... Apa sebenarnya salah yang telah ia perbuat hingga Chanyeol bersikap acuh tak acuh seperti itu.

"coba pikirkan.. apa yang telah kau lakukan di hari ini Sayang?"

Baekhyun kembali mengingat ucapan Ibunya.

Hari ini... apa yang telah ia perbuat? Tidak ada yang salah bukan? Baekhyun hanya pergi diam-diam meninggalkan rumah, ingin menemui Chanyeol dan di jalan ... sebuah mobil—

Baekhyun terbelalak lebar, mungkinkah karena kecelakaan itu?

Mungkinkah karena Chanyeol tak ingin kehilangan janin itu?

"A-Aku" Baekhyun beralih berdiri dan menatap Chanyeol lekat-lekat.

Perlahan namun pasti ia melangkah mendekat, meski masih menahan hati karena Chanyeol yang tak kunjung memperdulikannya.

.

.

Baekhyun merangkak perlahan, semakin dekat dan semakin melekatkan diri di tubuh Chanyeol. Dengan takut-takut ia melingkarkan kedua tangannya di lengan Chanyeol, untuk dipeluknya erat. Masih saja... Pria itu mengabaikannya, dan lebih memilih mengganti Chanel TV berulang-ulang dengan remotenya.

Tapi Baekhyun tak menyerah, ia makin mengeratkan pelukannya di lengan kokoh itu dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Chanyeol. "M-Maaf.." Lirihnya, berulang kali Baekhyun menggigit bibir bawahnya

"Hari ini aku pergi tanpa izin darimu dan Eomma, a—aku hanya ingin memberimu kejutan. Aku ingin mengatakannya padamu... Dia bergerak di sini" Baekhyun menyentuh perutnya sendiri. "T—Tapi Aku tak tau jika mobil itu benar-benar ingin menabrakku." Baekhyun menatap ke atas, memandang pias rahang tegas Chanyeol, dan berharap besar Pria itu bersedia mendengarnya

"..."

Sikap diam itu, membuat Baekhyun menyusupkan wajahnya semakin dalam di dada Chanyeol, tak peduli air mata itu membuat kebas pakaian Chanyeol. Baekhyun hanya ingin mencari kehangatan dari tubuh Chanyeol, meski nyatanya pria itu tetap diam, bahkan membalas pelukannyapun tidak.

"Maafkan aku kumohon"

"A-aku tak akan mengulanginya... aku tak akan membahayakan anak ini, kumohon bicaralah... maafkan aku... maafkan aku"

Chanyeol memejamkan mata getir, ah sesesak inikah mendengar Baekhyun memohon padanya.

"A—Aku tak akan lagi membuatnya celaka, aku akan menjaganya. J-jangan meninggalkanku!"

"ku kumohon—mpfthhhh"'

Kedua mata coklat itu membulat lebar... seiring betapa cepat jantung itu memompa darahnya, kalau racauan darinya disambut dengan lumatan lembut, bahkan terasa hangat dan menenangkan.

"Mnh~" Ia sedikit melenguh begitu pria itu merubah posisi hingga dirinya terbaring nyaman di atas sofa, sementara pagutan itu masih membuainya terlalu basah.

.

Ia tak ingin melewatkannya barang sedikitpun, terlihat pasrah membiarkan Pria itu melumat bibir kecilnya, tak peduli nafasnya yang mulai tersendat. Karena Ia mungkin terlalu merindukan sentuhan Chanyeol

.

.

.

"Ahn~hhah... hhahhh" Engah Baekhyun, begitu Chanyeol melepas pagutannya.

"Bukan untukku..." Bisik Chanyeol seraya menyeka saliva di sudut bibir Baekhyun. "Tapi karena aku takut kehilangan dirimu" Lanjutnya lagi, memandang lekat manik hazel yang mulai berbayang karena air mata.

"K—Kau tak marah?"

Chanyeol terdiam sejenak untuk memandangi Baekhyun di bawahnya. "Tentu saja aku marah..."

Lepas darinya air mata itu benar-benar mengalir, dan Ia memeluk leher Chanyeol untuk menyamarkannya.

"Keras kepala... bagaimana jika terjadi sesuatu padamu huh? Bisa kau bayangkan bagaimana diriku jika ujung jarimu sekalipun terluka?"

"Uhm..?" Baekhyun menatap ke atas sambil mengerjap polos.

"Aku bisa gila..." Ujarnya sambil menekan hidung Baekhyun.

"Waeeee?"

"Aku mencintaimu... bodoh" Gerutunya seraya mendekap erat tubuh mungil itu, sesekali pula Ia memberinya kecupan dan hisapan lembut di leher Baekhyun, hingga membuat bocah itu terkikik geli.

Lama Ia terlarut dalamn suasana hangat itu..

Lalu perlahan jantung itu berdebar melihat tatapan intens di bawahnya, menariknya untuk sentuhan yang lain dengan menyusupkan kedua tangannya di balik piyama Baekhyun.

"Ah~.." Terdengar lenguhan menggoda, kala tangan besarnya mengusap nipple Baekhyun.

Hingga kepala yang menengadah ke atas itu, sepertinya teralu sayang untuk dilewatkannya begitu saja.

Ia menghambur ke atas lalu mengecupi leher putih yang makin terekspose karna sentuhannya.

"Nnn~ahh!" Baekhyun memekik lirih... rasakan sengatan kejut itu seakan menjalar hingga pangkal vitalnya.

"Ya—Ahhnn"

.

.

"Buka bibirmu.." Bisik Chanyeol, kala menyesap bibir bawah itu... lama Ia menunggu, namun tak ada respon darinya. Ia putuskan untuk mengangkat wajah, dan menghela nafas pelan melihat Baekhyun telah terbuai dalam mimpinya.

"..."

"Tsk... kau melakukannya lagi" Kekehnya, sambil mengangkat bridal tubuh mungil, untuk di bawanya menuju kamar.

.

.

.

.


Esoknya.

.

.

.

"B-berhenti melakukan ini" Rengek Baekhyun seraya membelai surai ikal Chanyeol yang terlihat antusias mencumbu perutnya.

"Bukankah kemarin kau mengatakannya.. Dia bergerak di dalam sini" Chanyeol menatap ke atas untuk memandang mata Baekhyun. "Aku ingin menyapanya pagi ini" Lanjutnya lagi sambil menyeringai, lalu kembali menyapukan lidahnya tepat pada lubang kecil di perut Baekhyun.

Baekhyun hanya menggigit bibir bawahnya dan membiarkan presdir muda itu melakukan apapun pada tubuhnya.

.

.

.

"Bagaimana bisa kau datang tepat waktu Ahn~?" Tanya Baekhyun tiba-tiba.

Pria yang masih mengecupi perutnya itu berhenti sesaat untuk menerka pertanyaan Baekhyun. tapi setelahnya ia menyeringai "Bukan aku yang menyelamatkanmu" Tukasnya sambil membawa lidahnya kembali menyusuri garis perut yang sedikit berisi itu.

"Mmm~nah...ah! B-Bukanh?" Ucap Baekhyun terbata tak tahan dengan pergerakan basah di sekitar pusarnya.

"Hn .. seorang pemuda menyelamatkanmu" Gumam Chanyeol di tengah jilatannya, sesekali ia menggigit dan menyesap permukaan mulus itu tak pelak Baekhyun semakin menggelinjang resah dibuatnya.

"Ann~ Ah! Ahhh"

"Dan Dia juga yang hampir menerkammu"

"Apa?" Baekhyun memaksa bangkit dan menatap Chanyeol dengan mata membulat lebar. Menerkam? Apa maksudnya itu?

"Tck! Jangan merusak suasana dengan pertanyaan tentang orang itu" Chanyeol tiba-tiba menghempas tubuh Baekhyun dan kembali memenjarakannya, tanpa peringatan ia melumat penuh bibir Baekhyun rakus, membuat bocah itu berjengit dan meronta panik.

"Ahmp~ Mmh! —eumpfthh."

Sesak! Chanyeol sama sekali tak memberinya sekat untuk bernafas dengan benar... berulang kali ia mendorong dada Chanyeol, namun percuma... sepertinya Chanyeol benar-benar kesal kali ini

.

.

"Ugh~ t- tidak ke kantor?" Sela Baekhyun begitu mendapat kesempatan untuk bernafas, tapi sebenarnya ia tengah mengulur waktu dengan mengalihkan pembicaraan.

"Hn... aku mengambil cuti lebih awal, untuk menjaga kelinci liar sepertimu"

"A—Aghmph! Mpfth! Mmmm!"

.

.

"Shit! Aku tak tahan.." Gumam Chanyeol dan hanya terdengar olehnya sendiri, semua semakin memabukkan untuknya begitu desah anak itu berbaur dengan kilap peluh dari tubuh putihnya

Tak ada yang lain selain hasrat ingin melakukan hal lebih pada tubuh yang kini tampak berisi karna buah cintanya.

Perlahan.. Ia menarik kedua kaki Baekhyun hingga pinggul itu sedikit terangkat. Sesekali Ia mencoba mengulum jemari kaki itu, memperhatikan dengan seksama bagaima Baekhhyun mungilnya membuar raut haus sentuhan darinya

"Mmm~ ahnn"

"Kau menyukainya?" Gumamnya, sambil menjilat telapak kaki Baekhyun dengan perlahan

"Ssh~ Ah! S—Suka akhhh!" Baekhyun menengadah begitu sebuah jari tiba-tiba melesak dalam rektumnya.

"Mmm~ " Kedua matanya terpejam, menunggu pergerakan lain dari jari yang kini bergerak keluar masuk di dalam analnya.

"AHHH!" Hingga mendadak tubuhnya bereaksi hebat, kala ujung jari itu menyentuh titik kejutnya. Tapi terbatas.. begitu Chanyeol menahan kedua kakinya. Mencegahnya melakukan gerakkan berlebih.

"Sssh.." Desisnya Sambil memeluk tubuh mungil itu, bersamaan dengannya pula ia meletakkan sebuah bantal kecil di bawah pinggul Baekhyun.

.

.

.

"M—Masukkanhh" Baekhyun mulai menggeliat resah, sedari tadi menunggu ... tapi pria itu hanya memberinya kecupan dan lumatan. Ini menyiksa... sementara tubuhnya menginginkan sentakkan kasar.

"Rileks.." Bisik Chanyeol seraya menggesekkan kepala penis itu di bibir rektum Bakehyun.

Baekhyun hanya menganggukkan kepala, Ia terlanjur larut dalam cumbuan yang Chanyeol buat, hingga sentuhan apapun mungkin akan terus menjadi candu untuknya.

Bahkan Baekhyun reflek membuka lebar kedua kakinya... memberi sekat lebih untuk Pria itu memasukki dirina

"Uugh—" Terdengar pekik tertahan darinya kala penis itu mencoba menerobos masuk ke dalam, sempat terlihat lingkar rektum itu memerah, akibat tekanan yang kuat.

.

.

.

"Ha—AHHH!" Baekhyun menjerit keras, begitu Chanyeol menghentak pinggulnya. Membuat ujung jari kaki Baekhyun menekuk... bahkan terlihat tegang. Sadari benda itu terlallu hebat... menyengat setiap sendi dalam tubuhnya.

"Ssshh... Rileks" Kembali terdengar bisik menenangkan darinya, beberapa kecupan mesra pun Ia tinggalkan di pipi dan kening Baekhyun, menunggu namja berparas cantik itu terbiasa menerima tubuhnya.

.

.

"MMPH!" Baekhyun menggigit bantalnya sendiri, mencengkeram erat tepian ranjang begitu Pria kekar itu mencoba mengambil gerakkan.

"MPPHH! MMMGHH!" Desahannya teredam, dan Chanyeol yang kala itu melihatnya hanya terkekeh pelan.

"Singkirkan bantal itu..." Gumam Chanyeol seraya mengambil bantal yang menutup wajah Baekhyun.

Tapi Baekhyun menahannya. "A—Ahndwaehh! Aghh! ACKKHH"

"Kau bisa sesak jika seperti itu.." Bisik Pria itu lagi, beralih memperlambat gerakan penisnya.

"Nn~ AGH! Le—bih! Ahnnn" Baekhyun mendadak menggelinjang tak tenang.

"Hn?" Chanyeol kembali menggoda... menarik sangat pelan penis itu, lalu memasukkannya kembali lebih pelan

"Ah- Ah~~ Hks! C-Cepath!" Tanpa terduga, Baekhyun menggeleng panik. Di bawah bantalnya... menggapai-gapai ke atas ingin meraih Chanyeol. Namun gerakan penis itu kembali membuatnya menggila.

"Apa hn?" Tak jemu untuknya menggoda tubuh mungil penuh peluh itu, Ia beralih menyingkirkan bantal Baekhyun lalu menggantinya dengan ciuman basah

"Mppph—Mmmm"

"Peluk tubuhku..." Bisiknya di sela-sela lumatan bibir itu,

Dan begitu kedua tangan ramping itu merangkul lehernya, Ia memaksa membuka kaki Baekhyun lebih lebar, untuk dihentakknya lebih kuat dari sebelumnya.

.

.

"MMPH! MMGH! Hks! MMM! UNMHHHH!"

Chanyeol menyeringai dalam pagutannya, kembali menghisap bibir Baekhyun lebih kuat... seiring dengan bagaimana anak itu menggelinjang penuh nikmat akibat klimaksnya.

"Ghmmh~ hnn"

.

.

"Sshh~ Baekhhh"

.

.

.

.


Tiga hari berselang..

Mentari rupanya benar-benar bersinar lebih cerah dari sebelumnya. Tentu sinar yang terlihat keemasan itu mampu menarik senyum anggun dari seorang wanita yang berkutat dengan masakkan paginya.

Sesekali sambil menyuapi sikecil Taehyung, tapi sesekali pula Ia melihat ke atas.. memastikan Baekhyun sudah terbangun.

.

.

"Baekhyun.. Bangun Nak" Panggil nya lagi lebih keras

Dan tak lama berselang, namja manis itu benar-benar menapak anak tangga dengan mata setengah tertutup.

"Yyaaa... jangan berjalan seperti itu!" Omel Jaejong, melihat dengan was-was bagaiama cara Baekhyun mengambil langkah.

"Neh..." Sahut Baekhyun malas sambil mendudukkan diri di kursi masih dengan mata terpejam.

"Chanyeol belum bangun?" Jaejong mulai menuang susu segar itu.

Namja mungil itu menggeleng ke kanan dan ke kiri lalu setelahnya, Ia menghempaskan kepala ke meja... bersiap ingin tidur.

"Baekhyun.. " Panggil Jaejong

"Hmm 5 menit.."

"5 menit apa maksudmu, basuh wajahmu lalu bangunkan Chanyeol untuk lekas sarapan. Eomma harus mengantar Taehyung sekolah pagi ini... kau bisa mengurus semuanya sendiri mengerti?"

"Hnmm.." Baekhyun menggeliat, dan lebih memilih meringkuk sambil memeluk kain penutup meja makan.

"Baekhyun.." Panggil ibunya lagi, untuk kesekian kali

Itu terdengar menyebalkan untuknya, tapi matanya terlalu berat... hingga Ia pasrah membiarkan lelap itu kembali membuatnya nyaman di meja makan.

"Dengar sayang.. Eomma harus segera berangkat. Jangat tidur lagi..." Jaejong terlihat tergesa mengangkat tubuh Taehyung, mencium kilat kening Baekhyun sebelum akhirnya berlari mendekati pintu utama.

"Hn... dingin" Gumamnya sambil menguap kecil, lalu kembali memejamkan mata.

DINGGG... DINGGG

Hingga tiba-tiba saja seseorang menekan bel rumah, Baekhyun sempat mengernyit tak suka.. lalu mengabaikannya.

Tak mungkin rekan kerja Chanyeol bukan? Mustahil mereka bertamu sepagi ini.

'DIIINGGGGGGGG'

Bell ditekan lebih keras dari sebelumnya, Ia mencoba tetap mengabaikannya. Lalu tiba-tiba saja—

"T-Tuan muda.." Seorang wanita paruh baya menghampiri dirinya yang masih mengantuk.

"Ne Bibi Han?" Gumam Baekhyun, lekas bangkit sambil mengucek sebelah matanya.

"Seseorang ingin bertemu dengan Tuan Besar.." Lugas wanita itu.

"Seseorang?" Baekhyun mengerjap

"Benar Tuan, seorang wanita"

Lekas membuat Baekhyun membulatkan mata lebar. Tak biasa sekali seorang wanita mencari Chanyeol? Cepat-cepat Baekhyun berlari menuju ruang tamu... dan di sanalah ia melihat seorang wanita tinggi, membawa koper besar lengkap dengan rokoknya. Tengah berdiri di ambang pintu. Dia pun terlihat modis dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya

"S-siapa kau?" Gumam Baekhyun, berjalan ragu sambil mengeratkan piyama besarnya.

"Awh..." wanita itu menyungging seringai, menyesap dalam – dalam rokooknya sebelum akhirnya berjalan mendekati Baekhyun , lalu—

'Fuhhhh'

"Uhukk! Uhkk!" Baekhyun terbatuh payah, tepat setelah asap rokok itu ditiup ke arahnya.

"Ahahahahaha..." Tawa wanita itu terpingkal melihat Baekhyun tersedak oleh nafasnya sendiri.

Baekhyun mendelik tak suka, Ia mengambil langkah cepat untuk mundur sebelum rokok itu kembali mengancamnya, "S-Siapa kau?! Apa tujuanmu kemari dan—

"Lissa.." Sergah wanita itu. "Lalissa.." Lanjutnya lagi sambil mematikan puntung rokoknya, sebelum Chanyeol melihatnya.

"Aku mencari Chan—Yeol" Eja wanita itu... sambil membelai wajah Baekhyun. "Di mana Dia?"

Tapi seakan mengusik, Baekhyun lebih memilih menghadang langkah wanita itu dan menyentak koper yang ditariknya. Siapa wanita itu sebenarnya? Mengapa Dia mengenal Chanyeol... dari sikap yang terlihat, Ia tau benar... wanita itu tak memiliki sungkan dengan Chanyeol. Ataukah mereka memang memiliki hubungan di sini.

"Untuk apa kau mencarinya?" Tanya Baekhyun penuh selidik.

Sejenak terlihat wanita cantik itu kembali tertawa. "Tentu saja untuk membicarakan pernikahan"

'DEGG'

Baekhyun terbelalak lebar. Tak bisa berpikir selain hati yang memanas. Mungkinkah Dia kemari ingin meminta pertanggung jawaban? Dia hamil? Koper yang dibawanya itu baju-baju miliknya karna ingin tinggal di sini? Lalu bagaiman dirinya? Ia pun tengh mengandung! Tapi mengapa Chanyeol dan wanita itu—

Hingga—

BRAKKKKK

Koper besar itu dibuang keluar oleh Baekhyun, bahkan Ia sempat menarik paksa tangan Lissa untuk pergi dari rumah mewah itu.

"PERGI!"

"Y-YYAAA! Apa masalahmu?! Hentikan!"

"DIA MILIKKU! MENGAPA KAU KEMARI?!" Jerit Baekhyun emosi

"A—apa?!" Lissa mengerjap tak mengerti. "Hei... Chanyeol membutuhkanku untuk—

"Dia hanya mencintaiku! PERGIIII!"

"A—AAA! Lepaskan rambutku bodoh!" Umpat Lissa berusaha melepaskan cengkeraman tangan Baekhyun.

"Baekhyun! Apa yang kau lakukan?!" Hingga seorang Pria datang dan menahan dirinya berbuat lebih jauh pada wanita cantik itu.

"Y-Yya! Lepaskan Dia!"

"Kau membentakku?!" Baekhyun menatap kecewa. Dan menghempas genggaman tangan Chanyeol.

"Karena kau menyakitinya.."

"A-Apa? Kau membelanya?! Kau memiliih wanita ini dibandingkan diriku?!"

"Baek—

"Aku mengandung anakkmu..." Namja mungil itu masih menatap kecewa sambil berjalan ke belakang.

"Ouch shit! Ini gila.." Gumam Lissa, memutar mata jengah sambil merapikan rambutnya yang acak-acakkan.

"Dengarkan aku.." Chanyeol berusaha menarik lengan ramping itu. "tak seharusnya kau berbuat seperti itu padanya, karena Dia—

"Kau membela wanita itu?!" Baekhyun menunjuk Lissa.

"Baek dengar.. ini—

"WAE?! APA KAU PIKIR AKU BISA MENERIMANYA?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC


Next Chap

"Ugh~ hks... apa yang kau masukkan? Ngh"

Baekhyun tak bisa berbuat banyak dengan kedua tangan dan kaki yang terikat seperti itu.

Menunggu dengan takut.. benda dingin yang sedari tadi menyentuh ujung genital dan rektumnya . hingga-

"A-AHHHTTT! Henti-kann!"

.

.

.

Yoooo Ketemu lagi

Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

-Heart Attack! Chapter 4 sudah update kemarin ya

.

.

IG: gloomy_rosemary

Jangan Lupa review Ok

kaga Review... Gloomy g update.

untuk:

neniFanadicky, chanbaek92, buny puppy, byunnami, Marshsamallow614 , khakikira , ctbisreal, RurohFujoCbHs, hulas99, fintowikson, Lussia Archery , kimkad , YaharS , Aisyah1, LyWoo, Byun soo byung, Yana Sehunn, baekkachu09 , Poppy20 , baekxylem , selepy , byunnami , Lusianabaconcy0461, bbhunyue, chanbaekis , mawar biru, love Elan , thevEXO, WinterJun09, tkxcxmrhmh , mii-chan07 , vryeol , Dodio347, baekby aeri04 , ChanBaekGAY , EyiLy , metroxylon, Fiyaa04, baby baek , Deliscius, Wahidah Putri Utami , chalienBee04, xiluhan74 , cbforever00, Yeolliebee , PinkuBlue614 , rimaa , kimi2266, YaharS , baekchann18, Avisyell756 , AuliyaRchy , byunlovely, ruukochan137, veraparkhyun , park chan2 , baeeki6104, chanbaek1597, byunlovely , bbhunyue, kkaiii, Hyo luv ChanBaek, Siapa Hayo, myliveyou, LightPhoenix614, Chanbaeknaena, Asandra735 , tyas 614, AnggunBBH06, AmyGAHF, Merina, dwi yuliantipcy , Shengmin137, kitukie, shereen park, yiamff , jempolnya pcy , Hyera832, Riinnchan, Ricon65 , BambiLuhan , Byunexo, SMLming , babyyh , chayeonlee , Sitachaan, Ziiwandha, hananachan, bbyLyi , hosh10 , hunhanshin, Loey761,dan all Guest (Sorry tdk semua)