Story about Kaihun.
Dengan Judul : Kick or Kiss
….Pemain tetap….
Kim Jongin.
Oh (Kim) Sehun.
Do Kyungsoo.
Kim Junmyeon.
Other pair : Chanbaek.
Genre : semua, but not for Sci-fi.
.
.
"K-KAU?!"
"Iya, sayangku."
"Lepaskan!"Pinta Sehun menyentak dengan raut tak suka pada pria tampan didepannya, merasa risih saat tubuhnya masih saja berada direngkuhan pria itu.
Pria itu melepaskan rangkulannya pada bahu Sehun, lalu mengarahkan telunjuk kirinya kepada pintu masuk wahana rumah hantu tak jauh dari keduanya."Kau serius ingin masuk kesana? Huh!?"Tanyanya sangsi disertai wajah mengejek. "Bukankah kau punya phobia pada kegelapan?"Pria tampan itu kembali mengajukan pertanyaan yang dibenarkan dengan anggukan pelan dari Sehun.
Sehun memundurkan tubuhnya, wajahnya beralih cemas. "Itu dulu, aku hanya ingin menatap kondisi wahana ini saja sambil menunggu teman."Elak Sehun, sok digalak-galakan padahal hatinya tengah ketar-ketir penuh kewaspadaan.
Pemuda tampan didepannya tertawa pelan, "kenapa kau ketakutan sekali?"Tanyanya terheran dengan wajah bingung.
Sehun menyilangkan tangan didepan dada, menggosok ujung sikunya, sarat akan kecemasan.
"Kenapa kau diam, sayang?"
"Berhenti memanggilku seperti itu, ."
Pria bermarga Lee itu tersenyum aneh, dia menarik lengan Sehun dan hendak membawanya pergi begitu saja namun jemari lainnya merebut cepat tubuh Sehun dan bertanya penuh intimidasi pada pria tersebut.
"Kau ingin membawa temanku?"Sehun mengalihkan wajah kearah lain saat menyadari bahwa Jongin lah yang menariknya dan merangkul pinggangnya begitu erat.
Mr. Lee berdecak pelan lalu kembali tersenyum aneh dalam sudut pandang Jongin, menurutnya bibir itu tersenyum begitu tampan tetapi matanya sangat jauh dari sorot ketulusan. Satu kesimpulan yang didapat Jongin. Dia seorang penjahat yang sangat pintar memanipulasi kepribadiannya.
"Kita pergi saja, Ssaem."
'Damn, aku kenapa merasa nyeri saat dia memanggilku seperti itu.'Batin Jongin.
"Hyung?"Sehun mengerjap, menatap ke sekelilinginya mencari asal suara itu, "kau memanggilku?"Tanya Sehun kepada Jongin yang masih saja adu tatap dengan pria bermarga Lee tadi.
"Ih -hyung, aku ada dibawah."
Sehun menunduk dan terlonjak kaget, "ka-kau anak penjaga perpuskan?"Ia memasang wajah ngeri. "Dimana ibumu yang super galak itu?"
Taeoh merengut, "dia bukan ibuku."
"Eh?"Sehun berjongkok dan mengacak pelan rambut bocah lelaki imut yang masih saja merengut dengan pipi gembilnya, "lalu dimana ibumu, kenapa kau bisa bersama Om mesum ini?"
Taeoh memiringkan kepalanya, bingung. "Om mesum, ah maksudnya om cekci ini?"
Dahi Sehun mengkerut, "orang seperti ini kau bilang seksi, ahahaha! Kau perlu memeriksakan matamu bocah!"
Jongin mendengus.
Taeoh merengut. "Om ini memang cekci."
"Kau dengar itu, Oh Sehun-sshit!?"
Sehun malah tertawa makin keras sekarang, "Ahahaha!"
Oke, Jongin panas dan dengan ikhlas mencubit puncuk hidung Sehun menuai pekikan marah dari pihak si kulit creamy." SAKIT! SSAEM!"Teriaknya, garang.
Jongin menarik tangannya, memeletkan lidah dengan wajah super menyebalkan. "Rasakan."Paparnya santai.
Sehunkan jadi ikut merasa sebal juga, dibalasnya tindakan Jongin dengan cara mengigit jari telunjuk Jongin dengan penuh tenaga bahkan Jongin berteriak sampai menarik perhatian orang-orang didekat wahana. "AAAAARGH!"
Mata Jongin berair menyedihkan, "Kau jahat."
Sehun tersenyum geli, "Memang."
"Dasar bayi besar pendendam."Olok Jongin sibuk mengelus jari telunjuknya yang bisa dilihat tercetak jelas bekas gigi Sehun dengan menyisakan warna merah nelangsa pada jemarinya.
"Mengacalah, Jongin-kun!"Koor Sehun tak peduli teriakannya itu semakin menarik belasan orang dan bahkan mulai membentuk lingkaran.
Jongin menoleh kearah Sehun lalu ke segala arah, dia makin jengkel saat orang-orang asing ini mengelilingi mereka seperti tontonan, wajahnya siap ngomel-ngomel. "KUTU AYAM MENYUSAHKAN!"Dan tumpah begitu saja. Dia abaikan belasan orang itu.
"Dasar om-om kegatelan."
Karena, dia sedang kangen dengan mulut muridnya yang doyan sekali menghina dengan kosakata ambigu dan terkesan jauh dari kata wajar. "Kau juga suka-suka marah, kerempeng."Maka Jongin menanggapi mulut muridnya itu dengan hinaan yang terbilang wajar.
"Kau saja yang kegemukan."
"APA KATAMU!"
'Mampus, salah ngomongkan.'Sehun menggaruk pipinya.
"Tidak ada, kok. Sebaiknya kita pergi dari sini."Ajaknya tiba-tiba.
Jongin menautkan alisnya lalu menggeleng, dia belum selesai dengan pria tadi. "Aku belum selesai dengan si muka dua tadi."
Sehun menarik Taeoh, "kita saja yang pergi, ayo Taeoh."ajak Sehun dengan wajah riang, Taeoh tentu saja senang, diakan memang ingin bertemu pemuda yang menurutnya cantik dan tampan secara bersamaan itu.
Jongin mendengus, matanya berkelana. "LIHAT APA KALIAN!"serunya pada belasan orang kurang kerjaan itu. Setelah diteriaki oleh Jongin mereka berlalu begitu saja, tentu saja dengan dumelan mereka yang bermacam-macam Jongin tidak peduli, dia memilih untuk mengejar 2 anak lelaki berbeda usia tapi bertingkah laku tak jauh beda itu.
"TUNGGU AKU! 2 CURUT!"Teriakannya yang terkesan menghina itu malah membuat Sehun segera menggendong Taeoh dan berlari secepat yang Ia bisa, Jongin melongo sejadi-jadinya. "KENAPA MALAH LARI, KEREMPENG!"
"SESUKAKU LAH! OM GENDUT!"teriak Sehun dan Taeoh kompak, mereka saling pandang dan kemudian. "HAHAHA!"tertawa dengan begitu renyahnya.
Demi sempak doraemon, kenapa 2 orang yang jelas tidak satu keturunan itu bisa sekompak itu menertawakan Jongin untuk sesuatu yang bahkan tak patut untuk ditertawakan. "DASAR SETAN-SETAN PECUNDANG!"seru Jongin lagi, kali ini menendang udara dengan suara dramatisnya yang berat-berat seksi.
.
Beberapa menit kemudian...
Setelah aksi kejar-kejaran diantara ketiganya, pada akhirnya mereka berkumpul juga guna mengistirahatkan tubuh berpeluh mereka disalah satu Kafe didekat Taman hiburan. Dengan Taeoh yang sibuk menikmati ice cream vanillanya dengan satu cup jumbo yang bahkan telah bersisa separuhnya, Sehun yang sibuk dengan ponselnya dan akan sesekali mengelap bibir Taeoh dengan tissue apabila es krim menempel semena-mena pada bibir merekah segar itu. Jongin juga sibuk dengan ponselnya, membaca komik online atau yang sering dikenal –webtoon. Walau kenyataanya mata hitamnya yang dalam itu melirik ingin tahu pada 2 manusia yang sama-sama berkulit putih dan sama-sama lucu itu secara diam-diam.
"Bocah tengil?"Panggil Jongin kepada cowok yang sibuk dengan ponselnya.
Sehun langsung menoleh dan mengatakan sesuatu yang diluar batas wajar lagi."Jongin-kun, biru itu langitkan?"tanya Sehun tiba-tiba menghentikan jemarinya yang sejak tadi bermain diatas layar ponsel bercashing pororonya.
Jongin tidak menjawab begitu saja, menyesal dia mengajak murid –tengil bin binalnya itu berbicara.
"Orange itu jerukkan?"sambung Sehun lagi merapatkan kursinya pada milik Kim Jongin, mata tajam bulatnya memicing penasaran.
Jongin masih bungkam. Meski tangan Sehun sudah mulai merusuhi dengan cara memukul lengannya.
"Merah itu Kaukan?"
Sehun menatap kearah mata hitam milik Jongin sekarang.
Kali ini mau tak mau Jongin merespon, "Maksudmu?"
'Maksudnya, aku jatuh hati sama dirimu kawan, tapi kau bahkan tidak menyadari hal itu sama sekali'batin Sehun, tersenyum miris didalam hatinya.
"Makanan kesukaanmu kan Apple, ngehahaha. "jawabnya sembarangan.
Jongin mengurutkan alis tebalnya, "Aku alergi Apple dan lagi nggak ada yang lagi melawak disini"
"Selera humormu saja yang ketinggian, Jongin-kun!"balas Sehun tak mau kalah.
"Emang."jawabnya singkat."Habisin itu burger sama Es Jeruknya. Dan Taeoh makan yang benar, jangan belepotan gitu."sambung Jongin lagi yang hanya diabaikan oleh Taeoh –anak itu sudah masuk dalam dunianya sendiri. Sejak tadi mengoceh tak jelas sambil menyuap satu-persatu sendok ice cream ke dalam mulutnya.."...dan sudah sering ku bilang jangan manggil nama ku dengan embel-embel –kun. Menggelikan rasanya karena kau itu laki-laki masih mending kalau kau masih SMP, lah ini kau itu sudah menginjak remaja akhir dan memasuki dewasa awal...—"
"Aku kenyang."potong Sehun, dengan kerlingan mata super muales. "Please, kita ini lagi free. Jangan membawa teori kedewasaaan disini. Merusak suasana saja."tandas Sehun terlihat sebal dengan wajah mencebiknya yang minta dicipokless itu.
Jongin mendengus, "Ya sudah, kita pulang saja."Ajak Jongin, dia beranjak sambil mengantungi ponselnya yang telah dia anggurkan karena terpaksa mendengarkan celotehan tak jelas anak didiknya yang paling ngebetein sepanjang hidupnya ini.
Sehun menggeleng, "Aku masih mau disini, Jongin-chan."
Jongin mengeraskan wajahnya, raut mukanya sudah siap menumpahkan lava karena bukannya dipanggil dengan lebih sopan –pemuda ini malah menurunkan derajatnya dengan panggilan kekanakan seperti itu.
Hingga melintaslah ide dikepalanya, segera saja Jongin menolak dan berkata hati-hati."Aku sudah janji ketemuan dengan seseorang."
Sehun kaku, 'oh, begitu 'ya'batinnya, lalu tersenyum lebar. "Ohohoho, pak guruku sudah gede. Kapan-kapan ajak aku kenalan sama dia dong."pinta Sehun sambil mencolek pipi remaja lelaki tersebut disertai senyum 5 jarinya yang sangat dipaksakan namun Jongin tengah menatap layar ponselnya ketika Sehun menampakan senyum lebarnya tersebut.
'Misi berhasil, tinggalkan tuntaskan saja'Jongin tersenyum menang dalam benaknya.
Jongin melotot. "Males, pasti kau akan merusuhinya dan melakukan hal yang tidak-tidak."katanya tegas. Jongin berbicara lagi. "Dia cewek anggun dan berpendidikan. Aku nggak mau dia dicemari otak jahil dan rusuhmu."
"Sialan kau, ngehahaha."tawa Sehun cengengesan. Padahal hatinya sudah menangis sedih aja sejak tadi.
Jongin mencebikan bibirnya. "Taeoh."panggilnya pelan pada bocah yang masih sibuk menikmati es krimnya.
Taeoh menoleh, dia menghentikan acara makannya dengan tak ikhlas. "Apacih om?"
Jongin menggendong anak itu dan menyerahkannya pada Sehun, "pulanglah, bawa dia ke kamarmu dulu. aku akan menelfon Kyuhyun ssaem untuk izin. Selama aku belum kembali jangan serahkan Taeoh pada siapapun, kau mengerti?"
Sehun menganggukan wajahnya dengan raut malas.
"Ya sudah, aku pulang. Kau langsung bertemu saja dengannya. Hari ini juga kebetulan salah satu sahabatku kembali dari china, aku ingin menyambutnya. "ucap Sehun, dia langsung pergi begitu saja. Sampai-sampai seruan Jongin diabaikannya.
Jongin mengendikan bahu dan mulai beranjak pergi setelah membayar bill.
Jongin hanya tidak tahu kalau Sehun tengah cemburu.
Jika Jongin tahu bahwa Sehun tengah cemburu, apa yang akan dia lakukan?'Sehun berargument dalam lamunannya. Lalu dia menggeleng cepat. "lupakan itu."
"-hyung, aku macih mau ec klim."
Sehun tersenyum simpul, "di kamar –hyung banyak es krim, kita makan disana saja. Oke?"
Taeoh mengangguk setuju, matanya masih tak lepas pada wajah Sehun. "-hyung menangis."
"hah?"koornya. "iya, -hyung nangis."kata Taeoh lagi, dia mengusap sudut mata Sehun dan menyatukan dahinya pada pemuda itu. "Jangan nangis, -hyung. Taeoh nggak akan ninggalin –hyung kok."
Pemuda tampan beriris coklat terang itu terpaku diposisinya, memejamkan mata sembari menghembuskan nafasnya perlahan-lahan lalu membenarkan tubuh Taeoh dari gendongannya, lalu mengecup pelan pipi kiri Taeoh. "Iya, cebol. Ayo kita kembali ke asrama, atau om cekcimu itu akan marah-marah padaku."kata Sehun sedikit mendumel diujung kalimat.
"om cekci baik kok, Taeoh cuka cekali tangan becarnya yang hangat."
Sehun menggeleng tak mengerti. "tapi –hyung pikir, om cekci menyebalkan dari atas sampai ke bawah."
"tapi dia tampan cekali."
Sehun menggerutu, "iya –iya, aku tahu. Saking tampannya ingin ku makan saja jantungnya."
"APA KATAMU!"
"LOH! KENAPA KAU ADA DISINI!"
"AKU HANYA BERCANDA, MASTER LOSER!"
'benarkah, hei –hei kenapa aku senang mendengar hal itu?'pikir Sehun tak menyangka akan pemikirannya barusan.
Dan pertengkaran dua manusia itu terjadi seperti biasanya, dengan bonus Taeoh sebagai saksi.
.
Kamar asrama Jongin
Jam 2 sore.
.
"-hyung?"
"Hm?"
"Nama –hyung siapa?"
Sehun tersenyum, "Oh Sehun. Kalau Taeoh siapa?"
"Im Taeoh."
"Nah, Taeoh mau mandi atau mau tidur siang dulu?"tanya Sehun lembut, sembari mengelus pelan helai rambut milik Taeoh yang berada dipangkuannya.
Sementara Jongin masih berada di ruangan Kyuhyun ssaem, ingin meminta izin agar Taeoh tinggal untuk beberapa hari disini –di kamar Jongin. Walau Sehun yakin, meyakinkan Kyuhyun ssaem jelas sekali perlu usaha besar.
"Taeoh ingin pulang."ucap Taeoh tiba-tiba. "Tapi, Taeoh takut cama Papa."bocah cilik itu menyembunyian wajahnya pada ceruk leher Sehun, mulai menangis pelan disana.
Sehun tak berkata banyak, dia hanya mengelus pelan bahu Taeoh. Merasa kesal sendiri karena tak bisa mengetahui apa masalah yang tengah mendera anak ini, bukankah beberapa bulan lalu anak ini masih bisa melakukan kejahilan seperti itu, dan masih memeluk erat betis si penjaga perpustakaan disekolahan ini.
"huks –Papah cepelti montel."
"Montel apa?"
"monctel."Taeoh mengeja dengan susah payah.
"ah, Monster."Sehun berpikir keras kemudian, bagaimana mungkin anak se kecil ini bisa mengatai ayahnya sendiri dengan suara mencicit ketakutan begitu.
"Taeoh ingin cerita dengan –hyung?"
"Taeoh tidak mau, nanti Taeoh dipukul."
Klek –pintu kamar dengan nomor 501 itu terbuka dan menampak sosok Jongin yang terlihat begitu kelelahan. Ukh –pasti sulit sekali berhadapan dengan orang setegas, sejahanam gurunya yang satu itu.
Sehun memasang wajah simpati, "Berhasil?"tanyanya tak yakin.
"Apa kau percaya dunia ini tak selebar daun kelor?"Jongin malah mengajukan kata-kata tak nyambung.
"maksudmu, dunia ini sempit sekali begitu?"tebak Sehun.
Jongin menjawab dengan anggukan antusias. "Ternyata Taeoh adalah keponakan Kyuhyun ssaem. Mereka juga jalan-jalan di taman hiburan tapi mereka terpisah dan –"
"TAEOH SAYANGKU! KAU BAIK-BAIK SAJA!"Ucapan Jongin terpotong dengan epiknya saat Kyuhyun ssaem sudah menelusur masuk dan menarik Taeoh yang masih menangis dalam gendongannya.
"camchon mianhe."cicit Taeoh menyesal. Kyuhyun memeluk keponakannya erat, "iya –tidak apa-apa. Sekarang kita pulang ke rumah ya?"tawar Khuhyun lembut berniat mengantarkan keponakannya itu untuk pulang ke rumah kakaknya, suara lembut itu bahkan membuat Sehun dan Jongin tertegun karena ini pertama kalinya mereka mendengar suara Kyuhyun bisa begitu perhatian dan merdu sekali didengar.
Taeoh menggeleng, rautnya pias dan semakin keraslah tangisannya membuat 3 pemuda didalam sana cukup kelabakan sampai Kyuhyun mengalah dan mengusulkan Taeoh untuk tinggal bersamanya diapartemen yang tak jauh dari sekolah berasrama ini. "Kita ke rumah samchon saja, bagaimana?"
Ajaibnya tangisan Taeoh langsung terhenti. "iya."
Kyuhyun mengarahkan pandangannya pada Jongin dan Sehun bergantian lalu membungkuk begitu sopan, air mukanya terlihat begitu sendu juga tersirat kelegaan. "Terimakasih telah menemukan keponakanku, aku permisi."ucapnya pelan lalu menghambur pergi tanpa menoleh lagi.
Jongin dan Sehun saling tatap."kau ingin disini lagi?"Jongin menutup pintu kamar dan mendudukan diri di bawah dan menyandarkan kepalanya pada pinggiran ranjangnya. Memejamkan mata hitamnya.
"bolehkan?"mohon Sehun beraegyo ria. Dia sedang tidak ingin bergabung atau kembali ke kamarnya, dia hanya malas mendengar kekepoan Kyungsoo karena dia tidak tidur dikamarnya tadi malam.
Jongin memutar tubuhnya memandang penuh selidik kepada anak didiknya itu.
"kau bau sekali."
"AH! KAMPRET KAU JONGIN-KUN!"
Jongin membaringkan tubuhnya diatas lantai, menatap langit-langitnya dengan senyuman kecil.
Aku harus mengatakannya.
Atau tidak sama sekali.
Ini nyata dan bukan sekedar mampir saja.
Jongin menetapkan hati, menyusun kata, dan siap mengutarakan isi hati. "kau –aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Sehun bersumpah tak pernah merasakan jantungnya diperas begitu kuat seperti sekarang, nafasnya tertekan begitu sempit, sangat menunggu apa yang akan dikatakan oleh mentornya itu.
Apapun itu, entah mengapa nalurinya berkata 'ini' akan merubah hidupnya.
Tubuh proposional yang berbalut kulit tan seksi itu berguling ke kiri, menyorot wajah Sehun yang memalingkan wajah ke arah kanan, pemuda berkulit susu itu terduduk dengan kaki bersilang, jemarinya bertaut erat, tak jarang bibir cipokless itu di gigit-gigit untuk menghilangkan kegugupannya.
Jongin beranjak dari acara berbaringnya, mendekati Sehun, membawa wajah tampannya begitu dekat pada wajah tampan Sehun, mata hitamnya menyorot penuh, menghujam mata coklat terang Sehun yang tak balik menatapnya.
"Kau gugup sekali."kata Jongin, bibirnya terangkat ke kiri, menyeringai dengan bangsatnya dalam sorot mata Sehun yang kini berani membalas tatapan yang terlalu tajam itu.
"Tidak, itu menurutmu kali."sergah Sehun dengan egonya yang setinggi menara pizza.
Bibir seksiable itu terkekeh pelan, jemari kanannya meremas pelan rambut pirang Sehun menarik pelan untuk lebih dekat pada wajahnya, ada keraguan pada wajah itu –merasa takut kalau-kalau Sehun akan menghindar dan kecanggungan yang tak Jongin harapkan malah terjadi nantinya. Namun, Jongin merasa lega karena Sehun tak menolak sama sekali.
Wajah keduanya semakin dekat, hembusan nafas itu saling bertubrukan, sorot mata itu saling melengkapi, hitam dan terang, bibir tebal sensual itu menyentuh pelan ujung bibir Sehun yang telah terbuka nista siap dijamahi dengan sialan oleh lidah Jongin yang haus –kilat mata Sehun terhipnotis mata hitam milik mentornya, seinchi lagi bibir keduanya akan bergulat panas tapi yang terjadi adalah Jongin yang membawa tubuh Sehun dalam pelukannya.
Bisikan dari suara berat dan mengerahkan aura hottie itu menelusup pendengaran Sehun yang kembali ke alam sadar. "Aku tidak berani melangkah jauh. Aku tidak ingin menyakitimu, Hunnie."
Kenapa suara menyebalkan Jongin menjadi super double menyebalkan saat menyebut namanya dengan begitu manja, sialan kau Jongin. "Apa kau membenciku?"
"sedikit benci banyak kenangan buruk."
Jongin tergelitik, dia masih memeluk Sehun dengan erat, menaruh kepalanya dibahu kanan Sehun, dia mendudukan dirinya, membawa Sehun agar menyandar pada bahunya juga. Tubuhnya panas sekali, dia menginginkan Sehun, sudah cukup dia menahan perasaannya juga... oh, my ass, hasratnya selama semingguan ini. Tapi, dia tidak ingin egois...tidak saat Sehun masih menyimpan trauma dimata terang itu. Dia tidak ingin menghilangkan sorot kebocahan Sehun, dia tidak ingin melukai Sehun pada akhirnya.
"ku harap –benci itu menjadi kasih sayang untukku."
Wajah Sehun memanas tanpa bisa dicegah. "kau sedang memohon atau apa?"
"aku menyatakan kebenaran."
"bahwa aku menyukaimu?"
"jauh dari itu."
Sehun menjadi lebih gugup dari yang Ia harapkan, bibir cipoklessnya tergerak untuk mengatakan satu kata yang bahkan tak pernah diucapkan oleh nya selama Ia hidup, maksudnya dalam kondisi apa ya -penuh hasrat seperti saat ini. "ci-cinta."
Jongin tersenyum sumringah, dia tersenyum tengil. "aku tidak tahu, kau pintar juga ternyata."
Pukulan itu dirasakan oleh Jongin namun ia memilih mengabaikan itu, dan membalasnya dengan mengecup pelan pelipis Sehun, "aku sayang, sangat menyayangi bocah tengil yang selalu membuatku uring-uringan hampir setiap hari. Siapa namanya?"Jongin berpura-pura lupa hanya untuk mendapatkan cubitan ganas pada permukaan perutnya.
"Isssh."ringisnya dan tertawa kecil. "hahaha, kau marah."
"Tidak, aku hanya angry."
"Chk, sama saja tau?!"Sentak Jongin gemas. "Tidurlah."Suruhnya.
Jongin menjadi ragu.
"Apa maksudnya."
Tapi, dia kembali memberanikan diri dengan resiko apapun itu.
'Cuma seperi itu saja'Sehun tidak suka ending yang menggantung seperti ini.
Jongin tersenyum jahil, "memang kau mau apa?"
Sehun tergagap, "a-apa, aku tidak mau apapun kok."
"Masa?"
"Iya, ssaem."
Jongin menangkup wajah Sehun, mengecup dahi muridnya itu tanpa rasa canggung, seolah mereka biasa melakukan hal itu. "Panggil aku Kai."
"Kai."
"Iya, sayang."
"Kau panggil aku apa?"
"Sehun idiot."Jawab Jongin malas.
"HEI!?"Pekik Sehun tak terima. "Aku tidak idiot hanya kurang pintar."Anak yang biasa usil bin rusuh itu cengengesan.
"Hunnie."
"Panggilanmu sangat kekanakan, Kai."
Hati Jongin tak pernah sehangat ini saat nama yang hanya diketahui oleh keluarganya itu bisa disebut oleh Sehun."Kau juga sering begitu."
"Aku tahu."
"Kita saling melengkapi."
"Benarkah?"
"Menurutku."
"Aku juga berpikir begitu."
"Kau hanya ikut-kutan saja."
"Tidak kok."
"Menghindar lagi."Jongin memegang dagu Sehun.
"Apa?"
Jongin menarik nafas dalam, "mau menungguku?"
Walau tak mengerti, Sehun hanya mengangguk.
"Dengarkan baik-baik, aku mengatakan ini sekali saja."
Sehun bisa merasakan dadanya berdesir menyenangkan. "Baiklah."
"Aku ingin kau jadi milikku."
"Perjelas lagi."Pinta Sehun, dengan berani mengalungkan lengannya pada leher Jongin.
Ini saatnya untuk jujur..
Ini waktunya untuk terbuka...
Sehun tak ingin mundur saat Jongin berani untuk maju.
"Aku menyukaimu."Bibir itu mendarat di kening Sehun.
Sehun mengangkat satu alisnya, "hanya segitu?"
Jongin tersenyum begitu memikat, "aku mencintaimu, menyayangimu, menginginkanmu, sangat."Berkali-kali bibir Jongin mengecup kening Sehun.
"Aku tidak percaya."Tantang Sehun, jemarinya menyisir helaian hitam milik Jongin. Manik terangnya mematri apik seluruh wajah Jongin dalam ingatannya. "Buktikan."
Jongin melingkarkan lengannya pada pinggang Sehun.
"Cium aku."Sambung Sehun lagi.
Keduanya saling mengadukan kening.
Jongin semakin berani.
Ini waktunya..
Semua harus berakhir baik...
Hatinya tak bisa mengelak...
Dia tidak ingin kehilangan siapapun lagi dan menyesal kemudian.
Jongin menggeleng, dia hanya tidak ingin kebablasan. "Dengan berada disampingmu selalu. Itu caraku membuktikan perasaanku, sayang."
Sehun tersenyum sangat tulus dimalam itu. "Aku percaya sekarang."
"Kita resmi menjadi sepasang remaja yang saling memiliki."Putus Sehun tegas.
Jongin mengiyakan dengan mencubit pipi Sehun, merasa gemas."Aku belum selesai."Jongin mencium pipi kanan Sehun, "nilaimu sudah sangat baik."
"Berkatmu."
Jongin merasa bangga, "tentu saja."
"Cih, sombong."
"Itu tidak akan terjadi jika kau tidak berusaha untuk berubah."Pungkas Jongin, memuji usaha Sehun untuk menjadi sosok yang lebih baik, menjadi dirinya sendiri dan tak menamengi dirinya dengan pribadi yang lain.
"Apa aku sedang bermimpi?"Sehun hanya ingin menghilangkan rona merah itu dari wajahnya.
Dan Jongin lebih suka menambahkan rona wajah itu daripada menguranginya, "kau tidak bermimpi, sayang. Kau sudah sibuk mengusap leher belakangku dengan wajah ingin diterkam, kau sangat sadar dan tidak sedang terpangaruh alkohol."
Jongin sangat puas melihat rona wajah Sehun yang makin memerah manis dan menyembunyikan wajah didada bidangnya. "Kau malu-malu, ini seperti bukan dirimu saja."
"Diamlah, mata empat."
"Hahaha."
"Jangan tertawa."
"Pffft..."
"Kai."Rengek Sehun.
"Yeah, babe."
"OH! GOSH!"
"Jangan menggodaku."Protes Sehun sebal bukan main.
"Kau yang menggodaku."
Damn, bagaimana ada cowok yang bisa imut, tampan dan seksi dalam satu waktu begini.'Pikir Jongin bertanya-tanya.
"Aku mengantuk."
"Ini bahkan masih jam 3 sore, Sayang."Jongin melirik jam dinding diatas pintu kamarnya. Lalu memandang Sehun yang juga kebetulan menatapnya ingin menyumpah.
"Kenapa 'ya?"
"Apanya?"
"Aku bisa suka kepadamu?"Manik mata itu meneliti wajah Jongin, padahal hanya modus saja, niat utamanya kan hanya ingin memegang bibir sensuable milik mentornya yang sangat menggoda birahinya itu.
Jongin membiarkan jemari itu menelusuri setiap detail wajahnya, lalu turun dan turun hingga berhenti di perut Jongin. "Woah, 6 kotak itu ada rupanya. Kau curang sekali."
"Curang apanya sih?"
Bibir itu mengerucut minta dihisap, "kau sudah manly, tubuh proposional, matamu menarik perhatian dalam dan menyesatkan, otakmu cerdas dan ap -hmmph!"
Itu bukan bibir tapi ibu jari Jongin yang masuk kedalam mulut Sehun, bergerak pelan disana, meniti gigi rata Sehun, lalu menyusuri langit mulut Sehun, "hengh..."Hingga desahan merintih itu menyadarkan Jongin dari lamunannya.
Buru-buru ditariknya ibu jarinya dalam mulut Sehun dan menggantinya dengan lidahnya, hanya ada lenguhan dan cepakan penuh dari keduanya, dunia mereka terlalu gemerlap untuk ditinggalkan, saling membuka kancing baju dan lengan milik Sehun yang kembali mengalungkan pada leher Jongin, kakinya yang bersilang di buka, mendudukan tubuh dipangkuan Jongin.
Bibir itu semakin bergulat panas, sampai oksigen dalam paru-paru mereka berkurang, pagutan itu terlepas, menyisakan saliva dan seringaian tajam pada bibir Jongin, tubuhnya telah menyandar pada kepala ranjang, memberi fokus pada seluruh wajah Sehun yang di penuhi keringat. "Sampai sini saja, Sehun."Katanya terengah.
Sehun lagi-lagi menaruh kepalanya pada leher Jongin, membuat Jongin jadi penasaran. "Kenapa lebih suka menaruh wajahmu disana dan bukannya ditempat lain?"
"Aku suka aroma tubuhmu, kopi dan vanila. Memberi kesan seksi dan hangat secara bergantian, memabukan sialan."Rutuk Sehun.
"Woah, kau jujur sekali."
"Chk."Decak Sehun, "aku ingin mandi."
Jongin mengangguk, "iya, pakai saja bajuku lagi."
"Oke."
Saat Sehun masuk ke dalam kamar mandi, tubuh besar Jongin bergulingan tak jelas diatas ranjangnya, dia nampak bahagia sekali. "Ini berjalan lancar."
Tak jauh beda dengan Sehun, dikamar mandi dia hanya mampu terduduk dibelakang pintu kamar mandi, menutup wajahnya dengan wajah memerah panas, "aku baik-baik saja, homophobicku tak muncul, ini terasa menyenangkan, damn kau Kim-mesum-Jongin."
Mereka saling menyatu sekarang. Mereka sama saling berharap agar semuanya baik-baik saja.
.
"Sorry, Sir. Seseorang mengangguku tadi."
"Kau sangat bodoh."
"Whatever."
"Kembalilah."
"Aku ingin berkunjung ke tempat lain dulu."
Tuut, pria tampan itu membanting ponselnya dan berjalan cepat untuk menghentikan taksi, "aku ingin ke namsan towet."Ucapnya pada salah satu taksi yang berhenti.
"Baik pak, naik saja."
"Ya."
.
Jam 8 pagi.
Senin pagi.
Kelas 3-2.
.
Sehun takut, geli, ngeri dan ingin makan otak sajaa rasanya.. nggak lah emang dia Zombie. Dan jujur saja itu membuatnya ngantuk berat. "Hoaaam... "
"kenapa, master loser?"Tanya Jongin, ada kejelasan, hubungan mereka naik satu tahap tapi tetap saja mereka masih saling menyerapah seperti biasa.
"Aku lagi mikir, mata empat"
Jongin mengangguk paham lalu kembali sibuk mengerjakan soal matematika yang diberikan seorang guru didepan sana."Ku pikir kau masih memikirkan tentang kita berdua tadi malam"gumam Jongin pelan.
"Ah, jangan ingatkan aku."Omel Sehun pelan.
Jongin tersenyum kecil, dia tidak berkata apapun tetapi jemarinya tersampir apik dipinggang Sehun yang hanya mendengus saja, dia tak perlu takut karena dia tepat berada di pojok kiri, berada dibarisan paling belakang sendiri.
Sehun mendengarnya karena dia tepat berada disebelah mentor -ah ralatlah kawan, Kim-mesum-Jongin menjadi kekasihnya sekarang.
Suara keibuan itu menarik Sehun kedunia nyata lagi. "hari ini tanggal 10 'ya?"tanya guru tersebut kalem.
"iya, bu."jawab 1 kelas serentak kecuali Sehun.
Wanita itu ramah dan keibuan, banyak anak yang mengidolakan beliau kecuali Sehun.
Yah, dia ketakutan. Ingin menangis, sedari tadi malahan. Ngantuk, jangan ditanya lagi kalau didepan sana bukan Sooyoung ssaem sudah sejak tadi dia tertidur tapi masalahnya dia takut pada Guru tersebut dan tak ingin tubuhnya babak belur karena guru paling di idolakan itu.
"Oh Sehun, maju dan kerjakan soal nomor 1."
Sehun sampai terlonjak dari kursinya bahkan Jongin sampai terheran akan tingkahnya. Jongin tahu kok Sehun itu paling takut sama Sooyoung ssaem tapi mana dia tau kalau anak ini setakut itu, coba lihat bagaimana pucatnya wajah Sehun, sumpah kalau tidak ada Sooyoung ssaem sudah daritadi Jongin bersorak ria bersama teman-teman sekelasnya.
Anak-anak lain juga begitu, mereka merasa merdeka kalau anak paling putih, rusuh dan sebenarnya pintar sendiri itu nggak berkutik kalau didepan Sooyoung ssaem.
Memang ya, sesempurna apapun seseorang pasti ada kurangnya juga.
Kayak Sehun.
Dia lucu, imut, cantik..eh ganteung ding..khekhe, ramah sama semua orang sampai preman yang dulu sering malakin anak sekolah yang terkenal sadispun jadi menghormati Sehun, cerdas sering juara 1 pararel dari kelas 1 sampai kelas 3 ( baca : itu dulu saat Sehun masih kelas 1, tapi semenjak kelas 2, Sehun berubah), jago dance, jago semua olahraga, jago merusuh juga tapi ya gitu kalau sudah ada Sooyoung ssaem. Kicep dah tu anak.
"Sehun, maju nak."perintah Sooyoung ssaem, untuk yang ke-2 kali.
"Bu katanya Sehun sembelit."anak lain mulai membully.
Sehun melotot kepada Jongin yang sebangku dengannya. "Jangan bohong ya Sehun."
Deg'jantung Sehun mau copot rasanya mendengar suara Sooyoung ssaem yang dingin-dingin iblis.
"Bu, katanya Sehun ngantuk!"Tao ikut berpastipasi, cowok china yang tampan-tampan berwajah preman itu mulai tertarik juga membully.
Sehun melongo. Kalau anak lain dia maklum karena mereka memang korban Kejahilannya. Tapi, ini Tao loh?
Cowok yang nggak pernah Sehun jahilin sama sekali... bukan karena Sehun nggak –pernah menjahili sih, tapi karena Tao itu punya mulut sadis, sering pulang kechina dan baru hari ini pulang, makanya Sehun jarang berinteraksi dengan cowok china itu. Selain mulutnya sadis, Tao ini jago wushu pula dan punya tatapan yang mengintimidasi, jadi belum apa-apa, dia udah mewek duluan saking ketakutannya –padahal Tao itu sahabatnya, udah sering ketemu, boker –bobo keren bareng, nginep gantian, berbagi susu juga,... susu botolan, jan mesum lu pada... pokoknya dari 0 sampai ke zero lagi, Tao, Kyungsoo dan Sehun seperti anak kembar meski jelas –bertolak belakang.
Abaikan dulu nostalgia ala Sehun.. back to topic.
Sehun jadi tidak terima. "nggak usah ikutan kamu, Tao!"ketus Sehun, memulai pertengkaran.
Tao ingin ketawa sebenarnya pada sahabat paling bontotnya sendiri itu, dia baru pulang dari china karena ada urusan keluarga jadi dalam 3 bulan tak pernah bertemu dia kangen setengah matilah pada sahabat sejak oroknya itu. Dia siap membalas sampai suara Sooyoung ssaem menyela kalem.
"Nak Sehun. Tadi pagi Ibu dapat laporan kalau toilet kelas 11 kotor sekali loh. Cuma PAK OB-nya lagi demam, jadi nggak ada yang membersihkan. Kali aja kamu mau gantiin?"katanya kalem.
Sehun sudah beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kukungan Jongin.
Disaat anak-anak lain balas tersenyum, hanya Sehun sendiri yang merasa ngeri dan ingin cepat-cepat pergi saat itu juga.
Sehun langsung melesat kedepan dan mulai mengerjakan dari 1 soal sampai nomor 5 dalam waktu 15 menit, iya.. Sooyoung ssaem memang tahu anak ini pinter kok cuma terkadang kepinterannya itu dipake buat ngisengin orang, korbannya gak tanggung-tanggung sampai kepala sekolahpun kena...chk, dasar caberawit kakap.
Sooyoung ssaem tertawa dalam hati, menikmati setiap ekspresi gugup dari wajah anak murid yang selalu dia perhatikan perkembangannya sejak kelas X bahkan sampai sekarang meski ada Jongin sebagai mentor ada disamping anak itu, malahan beliau makin bersyukur –kepintaran Sehun bisa berguna semenjak Jonign ada. Dia kemudian berdiri ingin mengisengi Sehun lagi. "Ibu bilang Cuma Mengerjakan nomor 1 saja loh, Sehun sayang."perjelas Sooyoung ssaem saat melihat anak muridnya itu sudah selesai mengerjak 5 nomor yang ada di whiteboard, Sooyoung sempat melongo sejenak, semua yang dikerjakan Sehun menggunakan rumus singkat dan benar semua.
See, Sehun itu memang si cowok aneh yang sebenarnya pinter.
Sehun kaku. Mampus aku, alamat encok nih pinggang'batin Sehun nelangsa.
"I-iya... Itu, saya eumh... Issh."
"Kau sedang sariawan, Hun? Diademin sama adem sari sana!"Jongin berseru semangat, wajarlah semangat diakan salah satu cowok yang sering menjadi korban bully, korban serapahan, teman berantem Sehun juga. sekali-kalilah mengerjai anak didik pribadinya itu.
Jongin mengerjap.
Ada yang salah deh dari kalimatnya tadi?
Ah, sudahlah.
"Aku nggak lagi sariawan, Jongin!"bentak Sehun dongkol.
Kenapa sih Jongin jadi lebih suka membullynya semenjak mereka resmi tadi malam dan kenapa anak-anak jadi doyan membully. Awas saja kalian'janji Sehun siap menyusun rencana balas dendam pada teman-teman sekelasnya ini.
"Kalau Sehun tuh, diademinnya sama sambel mentah dicampur mangga mentah biar ampuh, kalau adem sari nggak cocok ah buat dia!"Kim Jongdae selaku wakil ketua kelas paling kalem sendiri itu ikut berpartisipasiam
Ini wakil ketua kelas kok tumben'batin Sehun, sebal berton-ton.
Wajah Sehun udah merah-merah aja siap meledak sampai suara adem dan kalem Sooyoung ssaem menyela santai. "Karena kau melanggar perintah saya, silahkan ke toilet kelas 11 yang digedung Timur 'ya. Pulang sekolah nanti Ibu antar utusan ibu, untuk melihat hasil perkerjaanmu."
Sehun bersumpah nggak akan –masuk kelas lagi –saat jam pelajaran Sooyoung ssaem.
Mending bolos dan dihukum gantung dipohon kunyit, daripada sport jantung karena Sooyoung ssaem yang bisa bikin nyawa dia melayang detik itu juga.
.
Stop Again.
Hei, apa kabar? Kalian yang masih Bersedia memberi review untuk cerita gaje ini.
Mind to review?
Kasih pendapat kalian tentang momen Oh Sehun and Kim Jongin diatas sana.
Menurut kalian itu terlalu cepat atau nggak?
Sorry nggak bisa ngasih -lebih-hehehe, bukan nggak mau sih, tapi belum waktunya aja./ngeles.
Akan ada konflik setelah mereka menjalin keterikatan satu sama lain dan tebak dong siapa Mr. LEE ITU?
Answer me, key?
See you in Next chap... , please! Stay with me until this ffn end.
