B.A.P
(Beauty&Ballad, Ambitious&Aggressive, Protective&Passive)
Chapter 10
.
December28
.
Cast: Jung Daehyun – Choi Junhong
Bang Yongguk – Kim Himchan
Moon Jongup – Yoo Youngjae
Choi Maru & Haru (OC)
Secret members
Others
.
Warning: YAOI, Not EYD, OOC, Typo, Don't like don't read.
This is BAP Fanfiction
.
Lets Start
.
…..
Himchan sedang mengarahkan lensa kameranya kearah langit kota Seoul yang tampak mendung sore ini, awan gelap bergerak perlahan tak lepas dari bidikannya.
Foto pertama, kedua dan seterusnya. Himchan mulai merasakan sensasi bebas walau nyatanya pemandangan gelap sore itu terhalangi kaca bening apartemennya.
Ia bisa saja keluar dan melihat secara langsung sore hari yang kemungkinan besar akan turun hujan, tapi Himchan tidak melakukan itu.
Himchan tau dirinya harus tetap disini sampai Yongguk pulang dan menjelaskan semua yang terjadi kepadanya, ini hak nya- Maksudnya Himchan memiliki hak untuk bertanya tentang apa yang dilakukan Yongguk di luar sana.
10 menit kemudian Himchan bisa mendengar bunyi pintu apartemen terbuka perlahan, Himchan berpura-pura tidak mendengar dan terus membidikkan kameranya dengan tangan yang dingin dan gemetar.
Himchan harus bertanya.
Himchan harus bertanya.
"Hime.."
Himchan tidak menoleh, Himchan takut dirinya tak cukup kuat untuk melihat Yongguk tanpa membayangkan Jieun sedikitpun.
"Aku…"
"Aku sedang memotret, ini sudah lama sekali"
Jangan menangis, Himchan tau dirinya akan menangis jika ia berbicara satu kata lagi.
Langkah kaki Yongguk mendekat samar, membuat Himchan mengeratkan genggamannya pada kamera dan mencoba mengatur nafasnya.
"Kau menghubungi ponselku?"
Yongguk merubah nada suaranya.
Nada suaranya tampak marah, kecewa, geram dan bingung bercampur menjadi satu.
"Hng.. dan aku mendapatkan kejutan setelah itu" Himchan meletakkan kameranya dan berbalik perlahan kearah Yongguk, menatap wajah Yongguk yang tenang dengan kemejanya yang terlihat sedikit berantakan "Nona Jieun mengatakan bahwa kau sedang tertidur"
"Aku mabuk"
Himchan tertawa mendengarnya, mengusap kasar air mata dan mengangguk-anggukan kepalanya seakan ia menerima alasan Yongguk.
"Dan kau menginap disana?"
"Ya.." Yongguk menunduk, bahkan ia takut menatap mata Himchan yang mengarah fokus padanya, mata itu memerah dengan air mata yang dengan cepat selalu di hapus Himchan.
"Tidurmu...nyenyak?" Himchan terisak, menggigit bibirnya karena takut isakannya bertambah semakin keras. Mencengkram ujung kemeja yang digunakannya dan melangkah maju mendekat kearah Yongguk.
"Kau sudah makan?"
Yongguk terlihat bingung dan memejamkan matanya mencoba berfikir.
Bukan ini reaksi dari Himchan yang ia bayangkan akan terjadi, Yongguk berfikir Himchan akan berteriak marah dan mengutuk padanya.
Orang bodoh sekalipun tau bahwa dirinya bukan sekedar menginap di rumah wanita itu, kenapa Himchan….
"Apa kau menikmati waktumu?"
Yongguk tau langkah Himchan gemetar, tapi pemuda keras kepala itu melangkah maju kearahnya dan mengusap kemeja Yongguk dengan nafas yang menderu lemah.
Himchan menahan air matanya.
"Aku fikir, aku butuh liburan Yongguk-ah"
Himchan menatap lurus mata Yongguk, tertawa dengan bibir gemetar dan tangis yang perlahan tapi pasti mulai pecah.
"Aku…harus menjernihkan fikiranku. Saat kau tidak pulang, aku berfikir bahwa kau..-hiks" Himchan menutup bibirnya yang terisak dengan lengan, menggeleng dan berusaha tertawa menghibur dirinya sendiri.
"Aku tau kau tidak akan melakukannya..benarkan?"
Himchan mengusap pipi Yongguk dengan kedua tangannya yang dingin dan kaku, menatap kearah Yongguk yang terlihat kacau dan tidak tau harus bereaksi seperti apa.
"Yongguk-ku…Bang Yongguk-ku tidak akan melakukannya kan? Jawab aku. Eum?"
Himchan memukul ringan bahu Yongguk, terus memukulnya meminta Yongguk untuk menjawab pertanyaannya yang mudah.
Yongguk hanya perlu tertawa dan mengatakan bahwa dirinya masih setia pada Himchan dan tidak tertarik dengan orang lain.
Yongguk hanya perlu menganggukkan kepalanya dan masalah selesai.
Himchan tidak akan meminta penjelasan apapun, Himchan akan percaya pada apapun yang dikatakan Yongguk.
Himchan akan melupakan semuanya dan-
"Maafkan aku…"
Himchan termangu mendengar jawaban rendah Yongguk, kedua tangannya lemas terjatuh dari kedua pipi Yongguk dan menggantung di tubuhnya tanpa tenaga.
Ini lucu kan?
Himchan tidak pernah meminta Yongguk untuk meminta maaf.
Himchan hanya meminta Yongguk menganggukkan kepala dan berkata bahwa semua baik-baik saja.
"Maafkan aku.."
Himchan tidak tau bagaimana mungkin dirinya masih bisa berdiri saat ini, dirinya spontan mundur saat sadar Yongguk maju melangkah untuk bisa berada lebih dekat dengan dirinya.
"Hime..aku-"
"Jangan meminta maaf..jangan, aku-"
Kepala Himchan berputar mengingat tawa licik Jieun yang berkata tentang hubungan dirinya dengan Yongguk.
"Kau..apa hubunganmu dengan Jung Daehyun berjalan baik?"
Himchan mendongak cepat mendengar sindiran rendah Yongguk, pemuda tampan itu tersenyum lirih dan matanya menunjukkan bahwa ia sedang tidak dalam keadaan wajar.
"Apa maksudmu?"
"Tentu saja..Aku tidak heran reaksimu setenang ini setelah tau aku dan-"
"Aku akan membunuhmu jika kau berani menyebut namanya"
Nafas Himchan terputus karena tangis, mengepalkan jemarinya kuat-kuat dan tak habis fikir dengan tingkah Yongguk yang terlihat tidak menyesal sedikitpun.
"Dia pemuda lajang yang berkuasa dan bisa memberikanmu segalanya. Keluargamu yang kaya itu pasti berpesta kalau tau kau memiliki hubungan dengan pengusaha terkaya di Korea"
"Berhenti.."
Himchan menangis saat mengingat ayahnya yang rela ia lepaskan untuk seorang seperti Yongguk, pemuda ini menghina keluarganya yang bahkan masih mempercayainya untuk menjaga Himchan walau dengan cara tidak wajar.
Keluarganya bisa saja membawa Himchan pergi dari Yongguk jika mereka ingin.
Tapi ayahnya tidak melakukan apapun karena menghargai keputusannya yang keluar dari rumah dan melepas segalanya.
"Apa dia memberikanmu banyak uang?"
"Berhenti Bang Yongguk! ucapanmu sudah keterlaluan!"
Himchan tidak boleh menangis, pemuda ini..Bukan Bang Yongguk-nya.
Dia…tidak mempercayai Himchan.
"Jieun mengatakan bahwa Jung Daehyun membatalkan kerja sama dengannya hanya karena kau, lihat bagaimana hebatnya kau Kim Himchan"
Kim..Himchan?
"BERHENTI KU BILANG!"
Himchan mendorong tubuh Yongguk kasar dan terisak kuat-kuat hingga lutut kakinya melemas, bersimpuh kaku dengan tangan mengepal keras dan raungan marah karena diremehkan dan tidak di percayai.
"Kau ingin aku berhenti! Sudah berapa kali kau tidur dengannya dan-"
PLAK!
PLAK!
Tangan Himchan panas dan gemetar, tapi Himchan tidak menyesal sedikitpun.
"Aku, bukan jalang seperti wanita yang kau tiduri semalam"
"Kim Himchan!"
"Geurae.. Namaku Kim Himchan. Harusnya aku mendengar orang tuaku untuk tidak percaya padamu yang bahkan tidak punya pendirian"
Yongguk mengeram marah mendengarnya, mengangkat tangannya seakan bersiap memukul Himchan.
Himchan tertawa tak percaya melihat itu.
"Aku benar-benar bodoh selama ini, iyakan? Mempercayaimu! Setia padamu!.aku bahkan malu mengingat bagaimana bodohnya aku selama ini!"
"Lalu.. apa yang kau inginkan?"
"Aku pasti gila jika aku berpisah denganmu.." Himchan menghapus kasar air matanya, meraih kamera miliknya dan mengangkatnya di depan wajah Yongguk. "Tapi jika aku tidak berpisah denganmu..aku bisa lebih dari sekedar gila. Aku hanya akan membawa ini bersamaku"
"Tidak, aku yang keluar dan kau bisa tinggal disini..aku memberikannya untukmu"
Himchan tertawa miris mendengarnya, Yongguk bahkan tidak mencoba untuk menahannya.
"Membayangkan semua ini kau dapat karena berkerja dengan wanita itu…benar-benar menjijikan"
"Berhenti menyebutnya seperti itu, dia mempunyai nama!"
Himchan tak perduli, berbalik pergi dengan sebuah kamera yang ia genggam erat-erat dengan kedua tangannya.
Hanya ini yang ia punya.
Hanya ini..di dalam kamera ini..Himchan bisa melihat sosok Yongguk yang membuatnya rela melepas segalanya.
Semua foto mereka ada di dalam kamera ini.
Bukti bahwa mereka pernah tertawa dan bercanda bersama. Himchan memiliknya..
Himchan memiliki kenangan itu.
"Ah..Yongguk-shi.." sebelum melangkah lebih jauh, Himchan berbalik dan tersenyum kearah Yongguk, menarik nafasnya dan berseru rendah "Jung Daehyun bukan pemuda lajang, dia sudah menikah"
Himchan tak sempat melihat ekspresi kaget wajah Yongguk, memilih mempercepat langkahnya dan keluar dari apartemen itu.
Himchan memilih bebas sekarang.
…
"Jun..hong"
Daehyun melebarkan matanya saat melihat Junhong yang tak sadarkan diri duduk disebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat.
Mulutnya ditutup rapat sebuah kain dan sebuah pistol menempel tepat di pelipisnya.
Urat di kepala Daehyun mengeras saat melihat keadaan pasangannya, ia mengeram marah dan mengepalkan tangannya erat-erat.
"Welcome..Jung Daehyun.."
Daehyun mendongak dan menatap tajam pemuda yang berada di sisi tubuh Junhong, berusaha menindas pemuda tinggi itu yang terkekeh lebar seperti orang tidak perduli sedikit pun.
"Merindukannya?"
Daehyun mencoba mengatur nafasnya, melangkah maju sebelum Yoon menahan langkahnya untuk berada lebih dekat dengan Junhong.
"Lepaskan Yoon.." Daehyun melirik Yoon memperingati.
"Tuan..tenang dulu, Tuan Junhong bisa dalam bahaya jika kita-"
"Ucapkan selamat datang pada pasanganmu Choi Junhong!"
Daehyun semakin geram saat pemuda itu mendorong kepala Junhong dengan senjata di tangannya, membuat kepala Junhong terhuyung bagai mainan.
'1 kali' Daehyun berseru dalam hatinya.
"Lepaskan dia.. Aku memperingatimu-"
"Kau selalu saja sombong Jung Daehyun"
"Apa maumu?"
"Kau…berlutut padaku dan menggantikan Junhong manis merasakan dinginnya peluru terbenam di tempurung kepala"
Yoon melangkah dan berdiri di depan Daehyun, menatap putera Tuan Park yang terlihat tenang dan tidak merasa keselamatannya terancam.
"Silahkan mundur Tuan Jung, saya akan mengurus-"
"Menyingkir.."
Yoon berusaha tidak mendengarkan Daehyun, mengulangi permintannya agar Daehyun mundur dan membiarkannya mengurus masalah ini.
"Tuan-"
"Menyingkir..sekarang juga"
Yoon tidak akan menyingkir walau resikonya Daehyun akan membunuhnya sekarang juga, Yoon sudah berjanji bahwa keselamatan Daehyun lebih penting dari hal lainnya.
"Aku mohon hyung…" Daehyun berbisik pada Yoon, menundukkan kepalanya dan kembali memohon.
"Aku mohon…jika sesuatu terjadi pada Junhong, aku pasti mati"
Yoon tertegun mendengar bisikan rendah suara Daehyun, Tuan mereka tidak pernah memohon pada siapapun.
Jung Daehyun bahkan tidak perrnah lagi memanggilnya hyung sejak umurnya 10 tahun.
"Tuan.."
"Hyung, aku mohon"
Daehyun menekan nada suaranya, meminta Yoon untuk mematuhi perintahnya dan menyingkir dari hadapannya sekarang juga.
Yoon perlahan akhirnya menyingkir, memerintahkan puluhan penjaga untuk ikut menyingkir walau tetap dalam keadaan siaga penuh.
"Majulah"
Daehyun menurut, melepas jas hitamnya dan menggulung kemeja putih yang digunakannya hingga siku. Matanya lurus menatap Junhong yang masih belum sadarkan diri.
"Lepaskan Junhong"
Putera Tuan Park tersenyum mendengar seruan tegas Daehyun, ia menarik rambut Junhong ke belakang dan tertawa keras karena berhasil membuat Daehyun bereaksi.
Daehyun langsung mengeram marah dan tangannya mengepal kuat-kuat.
Tapi ia harus menahan emosinya, Daehyun perlahan membungkukkan tubuhnya dan berlutut di hadapan pemuda itu.
Daehyun tidak memperdulikan orang lain, matanya hanya terus memandang Junhong yang kulitnya nampak semakin pucat dan pipinya tirus.
Apa Junhong makan dengan layak?
Apa dia tidur dengan baik?
Apa dia..baik-baik saja?
Pemuda Park itu tertawa kecil melihat Daehyun yang berlutut patuh bagai keledai, matanya hanya terus memandang Junhong dan sesekali menahan amarahnya.
Ia tau dengan jelas sekecil apapun pergerakan Junhong, karena saat Junhong perlahan menggerakkan kepalanya Jung Daehyun melebarkan matanya dan menatap Junhong penuh harap.
Menggelikan.
Bagaimana mungkin orang seperti Daehyun ditakuti banyak orang.
Charisma? Persetan.
Pemuda itu bahkan hanya termangu cemas memandang seorang Junhong yang perlahan membuka matanya.
"H-hyung…"
Daehyun terlihat menghela nafas leganya saat tau Junhong sudah sadar, ia tersenyum kecil dan meminta Junhong untuk tenang.
Semua akan baik-baik saja. Dia adalah Jung Daehyun yang bisa mengatur segalanya.
"hyung.." Junhong terisak melihat Daehyun yang tampak kacau, ia berlutut dengan sekumpulan penjaganya yang berdiri di belakang tubuhnya.
"Jadi..bagaimana Jung Daehyun?"
"Aku tau kau tidak akan tertarik dengan tawaranku, tapi ayahmu ada bersamaku"
"Kau mengancamku?" Pemuda park itu tertawa bengis dan kembali mendorong kepala Junhong dengan pistolnya.
'2 kali' Daehyun bergumam dalam hati.
"Aku akan menyerahkan diri, sekarang lepaskan Junhong"
Daehyun mencoba membuat penawaran, dengan hati-hati ia melirik Junhong yang menangis dan menundukkan kepalanya.
"Kau fikir aku bodoh hah!"
Daehyun mengeram marah mendengar pemuda itu berteriak.
"Berhenti berteriak sialan! Kau membuat Junhong ketakutan!"
Daehyun geram, Ia bisa saja menghambur maju dan menghabisi pemuda itu dengan tangannya sendiri jika saja Junhong tidak ada disana.
Tapi Daehyun menahan dirinya. Mencoba memikirkan cara agar semuanya cepat selesai dan Junhong bisa berada dalam penjagaannya sesegera mungkin.
"Aku tau kau tidak mengisi penuh pelurumu"
Pemuda Park itu tertawa melecehkan Daehyun.
"Kau menantangku?"
"Ternyata benar? Tanganmu gemetar"
Daehyun tertawa sinis dan bangkit, ia menepuk celana panjanganya dan melangkah maju perlahan.
"Aku akan menembaknya jika kau maju selangkah lagi"
"Jika kau menembaknya kau tau kau tidak akan mendapat apapun. begitu kan menembaknya pengawalku akan langsung menembakmu dan kau tidak punya waktu untuk menghabisiku. Aku akan tetap lolos dari permainan kekanakan ini"
"Junhong akan mati ditanganku"
"Kau tidak akan menembaknya, karena kalian melakukan semua ini untuk mendapatkanku, untuk uangku. Bukan dia"
"Apa kau bodoh? Aku tidak perduli dengan uangmu Jung Daehyun"
Daehyun mencoba menutupi rasa cemasnya, ia membasahi bibirnya dan melirik Yoon yang terlihat siap dan tenang.
"Lalu untuk apa kau melakukan semua ini?"
"Kau tidak tau? Aku sudah menawarkannya untuk bebas dan hidup bersamaku" Daehyun langsung diam mendengar nada jenaka pemuda itu, wajahnya kaku dan tatapan matanya seperti siap untuk membunuh "Tapi dia memilih meludahiku dan mengatakan bahwa dia lebih baik mati. Karena itu..aku mengabulkan permintaannya"
Daehyun sudah diambang batasnya saat mendengar cerita pemuda itu, ia melangkah cepat kearah Yoon dan meraih pistol yang sebelumnya berada di tangan Yoon.
"TUAN JUNG!"
Daehyun dengan cepat menarik pelatuk pistol itu dan mengarahkannya pada anak Tuan Park.
"Berhenti sebelum aku benar-benar membunuhmu"
"Kau tipe pencemburu? Bagaimana aku mengatakannya…apa kalian pernah berciuman atau-"
DOR!
PRANG!
Daehyun lepas kendali dan melepaskan pelurunya kearah cermin di belakang pemuda itu, urat di sekitar dahinya mengeras dan ia kembali menarik pelatuk senjatanya.
Ia tak perduli melihat Junhong yang menangis keras dan anak tuan park yang tertawa dengan wajahnya yang pucat.
Daehyun sudah memperingatinya.
"Kau juga pemarah ternyata. Junhong, bagaimana ini? apa ia akan membunuhku jika ia tau kita berci-"
DOR! DOR!
"h-hyung..hiks..hyung"
Daehyun kembali melepaskan pelurunya kesembarang arah, tangannya mengepalkan pistol kuat-kuat dan wajahnya memerah menahan marah.
"Kau akan kehabisan pelurumu jika terus seperti itu" Pemuda itu sudah tau bagaimana mempermainkan amarah Daehyun, kali ini ia meletakkan tangannya di bahu Junhong dan mengusapnya lembut.
Ia tidak memperdulikan Junhong yang menangis dan mencoba menepis tangan itu dari bahunya.
"Aku akan membunuhmu.."
"Kau tidak akan-"
DOR!. Daehyun menembak telapak tangan pemuda Park itu yang ia letakkan di bahu Junhong.
"ARGHH!"
"arghhh.."
Daehyun tau peluru itu menembus kebahu Junhong, tapi ia tidak berhenti.
DOR!
Daehyun kembali menembak lengan pemuda itu yang langsung tergelepar jatuh berteriak menahan sakit di tangannya.
Daehyun berlari kearah Junhong dan menatap sedih Junhong yang tengah menahan sakit dan menangis menatap matanya.
Junhong tau Daehyun melakukan ini bukan tanpa pertimbangan, Pandangan matanya melemah karena sebutir peluru sudah pasti menembus bahunya setelah sebelumnya peluru itu menempus telapak tangan pemuda Park.
Junhong tak tau lagi apa yang terjadi setelah itu karena pandangannya mulai menggelap dan ia tak sadarkan diri.
Di dalam pelukan Daehyun.
…
"Tu-tuan Jung"
Daehyun tidak memperdulikan Yoon yang sejak tadi memintanya berhenti, sebelumnya Junhong sudah dibawa ke dalam mobil dan mereka siap untuk berangkat, tapi ternyata Daehyun belum cukup puas.
Ia kembali keluar dan menghampiri pemuda Park yang masih berteriak kesakitan di kebun rumah, tidak ada yang membantunya karena memang itu permintaan Daehyun,
Ia menginjakkan kakinya pada lengan pemuda itu yang bahkan sudah memohon ampun.
"Tuan- kita hentikan, Tuan Junhong kehilangan banyak darah dan-"
"ARGHH!"
Daehyun kembali menginjaknya semakin keras, dengan penuh amarah ia mengayunkan kakinya kearah kepala pemuda itu yang berteriak kesakitan.
BUGH!
"Tuan- ia bisa mati kalau anda-"
BUGH! Pemuda Park itu langsung tidak sadarkan diri setelah Daehyun kembali menendang kepalanya, beberapa penjaga langsung membawanya setelah mendapat perintah dari Yoon.
"Tuan-"
"Dia…mendorong kepala Junhong 2 kali, aku hanya membalasnya"
Yoon merasakan bulu tangan dan bahunya berdiri saat mendengar nada rendah suara Daehyun.
Ia langsung menghela nafasnya saat melihat Daehyun melangkah masuk ke dalam mobil dan memeluk tubuh Junhong yang tak sadarkan diri.
Daehyun tau tembakan itu tidak akan membunuh Junhong, ia akan menerima hukumannya nanti karena ia melanggar janjinya untuk menjaga Junhong.
Junhong mungkin akan membencinya setelah ini, tapi Daehyun tidak perduli.
Ia hanya ingin membebaskan Junhong dengan caranya sendiri.
Daehyun memeluk tubuh Junhong semakin erat, merasakan nafas Junhong yang rendah Daehyun menahan tangisnya dan berdoa.
Kau tau Tuhan, aku tidak pernah memohon pada siapapun.
Tapi aku memohon padamu kali ini…Tolong, biarkan Junhong tetap hidup, karena hanya itu alasanku untuk tetap bertahan hidup.
…
To Be Continue
Gimme ur comment ^^
….
