Desclaimer: Masashi Kishimoto
Judul: Innocent Liar
Rate: T-M
Warning: OOC, crack pair, semi-canon, Gaje, Typo(s) de-el-el.
Summary: Tim 7 generasi ini sungguh berwarna. Yui si misterius Raven, Hatake Irie yang dewasa sebelum waktunya dan Natsu Uzumaki pembuat onar wahid. Kiba rasa ini akan menarik terlebih lagi mengetahui sebuah genjutsu rahasia Yui.
Malam harinya hujan turun deras. Yui menopang dagu bosan di jendela kamarnya. Dari sini ia bisa melihat banyak orang berlindung dari derasnya hujan. Untung saja tidak ada tambahan petir.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu diketuk dengan tidak sabar dari luar membuat Yui kesal. Pasti Yuki.
"Yui gawat!!"
Yui berjengit lalu segera membuka pintu kamarnya. Jangan bilang Yuki membuat masalah lagi.
"Apa yang gawat? Kau membakar tempat ini?" tanya Yui sedikit panik.
Pasalnya setahun yang lalu Yuki hampir membakar rumah mereka yang ada di Otogakure. Dan itu cukup membuat Yui trauma akan Yuki yang berada di dekat kompor.
"Ini lebih gawat!"
'Lebih gawat? Jangan bilang dia menghabiskan makanan di kulkasku!' batin Yui
Tanpa berkata apa pun, Yuki menarik tangan Yui menuju pintu depan. Ia menyuruh Yui mengintip lewat lubang kecil di pintu. Yui mengikuti perintah Yuki.
"Ini yang kau bilang gawat?" kata Yui dengan nada bosan dengan memutar kedua bola matanya.
Yuki menangguk. "Kita belum mengkonfirmasi ini dengan kaa-san" bisiknya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Yui, buka pintunya"
Itu suara dari luar, dari tamu mereka yang dianggap gawat oleh Yuki.
"Bagaimana ini?" Yuki menggigit jari-jari tangannya panik.
"Dasar bodoh!"
Cklek!
Dengan seenaknya Yui membuka pintunya dan Yuki berteriak panik. Sementara itu tamu mereka mengerutkan dahi melihat kelakuan Yuki.
"Apa yang terjadi?" tanya sang tamu dengan alis dinaikkan sebelah.
"Dan siapa dia?" lanjutnya.
"Kembaranku" jawab Yui sambil menatap kedua mata yang mempunyai warna yang sama dengannya.
Suasana menjadi hening. Yuki memperhatikan ekspresi tamu mereka yang tampak terkejut. Mereka berdua berpandangan dalam diam. Yuki tidak tau harus apa. Seandaikan Yui tidak bilang hal semacam ini.
Kembaran Yui itu menghembuskan nafas sambil mengepalkan tangan.
'Kau sudah terpojok, Yuki' batinnya.
Tidak ada pilihan lain selain mengatakan hal yang sebenarnya. Padahal Yuki ingin menyembunyikan hal ini. Ingat? Ia lebih suka menjadi misterius. Contohnya ketika orang-orang menceritakan dirinya, akan ada yang berkata 'tidak ada yang tau siapa orang tuanya, tapi Si Badai Salju adalah orang yang hebat'. Dan saat ini, ketika orang-orang sudah tau orang tuanya, mereka akan menganggap kehebatan Yuki adalah hal biasa. Mereka akan bilang 'karna dia seorang Ichiha, tentu saja dia hebat'.
"Aku Yuki Si Badai Salju dari Kirigakure. Salam kenal. Em... karna aku adalah em... kembaran Yui, jadi... aku ... em... adalah anakmu juga" ucap Yuki agak ragu-ragu dan suara yang kecil di bagian 'anakmu juga'.
Sasuke, si tamu yang dianggap 'gawat' oleh Yuki menatap Yuki seksama setelah mengucapkan kalimat itu. Yui yang melihat interaksi mereka berdua segera pergi dari tempat itu.
"Biarkan saja mereka berdua" gunamnya lalu pergi ke dapur.
Yuki memekik kecil mencegah Yui pergi. Ia ingi ikut tapi ia sangat ingin bertemu Sasuke. Jadilah tetap berada di sana. Karna terus ditatap, Yuki membalikkan badannya.
"Kau tau, ini adalah pertemuan pertama antara ayah dan anak setelah sembilan tahun yang canggung" ucap Sasuke.
Yuki bisa mendengar suara tertawa yang ditahan oleh Sasuke. Kemudian kedua tangan Sasuke tau-tau sudah berada di bahunya. Tangan-tangan itu membalik badannya dan membuat Yuki bisa melihat jelas wajah Sasuke yang menundukkan badannya.
"Tou-san" ucap Sasuke pelan.
"Eh?"
"Kau bisa memanggilku tou-san mulai sekarang" ucap Sasuke tersenyum.
Yuki menganga dengan mata berbinar. Tanpa aba-aba bocah itu memeluk Sasuke. Sasuke membalas pelukan Yuki dan mengelus rambut gelap milik putranya. Ya. Putranya. Uchiha Yuki. Terdengar cocok.
"Tou-san"
"Hn?"
"Aku senang. Rasanya aku ingin menangis. Tapi karna sedikit memalukan, menangisnya nanti saja"
Sasuke benar-benar tertawa saat ini. Ia pikir sifat kedua anaknya tertukar. Karna ia lebih suka gadis manis dan laki-laki tegas, bukan sebaliknya. Tapi tidak apa, memiliki keduanya saja sudah membuat Sasuke bersyukur.
Yui yang baru keluar dari dapur hanya memutar bola mata malas. Dasar drama! Pikirnya. Tapi Yui merasa sedikit iri dengan interaksi keduanya. Andai ia punya sifat seperti Yuki, pasti ia sudah lama akur dengan Sasuke.
Dan Yui hanya bisa terdiam di saat kembarannya dan ayahnya berbincang-bincang.
"Oh ya Yui, aku bawa sesuatu untukmu"
Sasuke berjalan menuju koridor dan membawa tiga kotak berukuran sedang. Pria itu membuka semua kotak dan membuat Yui hampir berteriak.
"Jadi kau yang mencuri semua pakaianku?!"
"Aku tidak mencurinya, aku hanya meminjam. Buktinya ini kukembalikan"
Yui langsung memeriksa semua pakaiannya. Masih utuh, tapi ada lambang Uchiha di bagian belakangnya. Yuki menatap semua pakaian Yui dengan tatapan penasaran. Setelah mengetahuinya, Yuki hanya memasang wajah cemburu. Ia juga ingin!
"Yuki, apa kau mau ditambahkan lambang Uchiha juga?"
Yuki menggeleng dan membalikkan badannya. Di belakang pakaiannya terdapat lambang bunga es dengan dilingkari garis putih kebiruan.
"Aku punya lambang sendiri" ucapnya tersenyum manis.
.
.
.
Jelaskan apa maksudmu"
Hinata mulai kehilangan kesabaran. Entah kenapa ia muak melihat wajah manis wanita di depannya. Yah... manis memang, tapi kalau terlalu manis juga bisa membuat mual.
Wanita di depannya tertawa.
"Dulu aku sempat hamil anak Sasuke, tapi aku tau Sasuke tidak suka jika terikat dengan perempuan. Jadi tanpa sepengetahuannya, aku menggugurkan janinku. Hal itu semata-mata kulakukan untuk dekat dengan Sasuke"
Hinata sempat kaget namun ia menetralkan ekspresinya. Menggugurkan janin agar dekat dengan Sasuke? Itu bukan cinta, tapi obsesi! Terlebih lagi sampai membunuh darah daging sendiri.
"Belakangan ini aku mengetahui alasan kalau kau adalah ibu dari anaknya Sasuke"
"Jangan sembarangan berbicara" desis Hinata sebal. Dalam hati Hinata bertanya-tanya, apa mau wanita di hadapannya ini.
"Terserah mau menyangkal atau tidak tapi... kukira keputusanmu lari dari Sasuke sembilan tahun yang lalu adalah hal yang tepat. Karna bisa saja janinmu dibunuh oleh Sasuke atau... kau juga dibunuh"
Dan menyeringai melihat Hinata yang mulai terpengaruh ucapannya. Ini adalah kemampuan Dan. Yaitu memanipulasi pikiran dengan perkataan. Semacam genjutsu namun lebih permanent. Kunci dari jurus ini adalah bunga kaktus khusus. Dan sudah menggunakan jurus ini pada Sasuke tapi ternyata tidak mempan. Jadi ia akan mencobanya pada Hinata.
"Kuakui Sasuke adalah orang yang punya sifat dingin. Tapi aku tau, Sasuke tidak akan melakukan hal seperti itu" ucap Hinata sambil meyakinkan hatinya.
Dan tertawa lagi.
"Aku sudah mengenal Sasuke lebih dari enam tahun... jadi aku lebih tau prilakunya daripada dirimu. Kau tau kenapa Sasuke membiarkan Yui tetap hidup?" Dan mulai mempengaruhi Hinata yang kalut.
"Karna Sasuke memerlukan penerus klan Uchiha. Kau berasak dari klan Hyuuga kan? Terlebih lagi kau adalah keluarga utama. Jadi sudah jelas kan kenapa Sasuke membiarkan Yui hidup?"
Kedua tangan Hinata terkepal. Tidak biasanya emosi Hinata mudah naik seperti ini. Tapi karna wanita di hadapannya sangat menyebalkan dengan sifat manis yang dibuat-buat, Hinata jadi ingin cepat pergi. Tapi ia mengurungkan niatnya karna Dan mungkin punya informasi tentang Sasuke.
"Hanya hal itu yang ingin kau katakan, Dango-san? Kalau begitu aku pamit"
"Ada lagi. Satu hal yang ingin kukatakan adalah... jangan terlalu bermimpi"
Dalam sekejap Hinata tertarik ke dalam ingatan Dan. Ia berdiri di sebelah ranjang dengan adegan panas Dan dan Sasuke. Dengan sedikit manipulasi dari Dan, Sasuke yang berada di ingatan Dan mengucapkan "Aku mencintaimu".
Kembali ke dunia nyata, Hinata terdiam beberapa saat. Dan menyeringai melihat Hinata yang tampak tergoncang.
Sedetik kemudian Hinata mendongakkan kepala.
"Tak kusangka..."
Dan menantikan kelanjutan kalimat Hinata dengan seringaiannya. Tidak dengan sikap pura-pura baiknya lagi.
"...kau semurah itu"
Hinata tersenyum puas melihat Dan yang mengeraskan rahangnya.
"Kau mungkin lupa Hyuuga-san, bahwa kau juga sama sepertiku"
"Setidaknya aku tidak punya obsesi aneh yang membuatku membunuh darah dagingku sendiri"
Dan dan Hinata saling pandang dengan tatapan tajam. Jauh dari sana, Hanabi dan Natsu(pengasuh Hanabi) memperhatikan mereka berdua menggunakan byakuugan mereka.
"Duel kata antara perempuan memang mengerikan" kata Natsu.
Hanabi mengangguk.
"Tak kusangka nee-sama sehebat itu jika berdebat. Natsu, kau akan mendukungku untuk menyingkirkan kecoak itu kan"
Wanita paruh baya berambut hijau gelap di sampingnya mengangguk.
"Tapi kalau Hanabi-sama melakukan hal itu, apakah artinya anda sudah memberi restu pada Uchiha-san?"
"Belum!! Tidak akan ada yang bisa merebut nee-san dariku dan ayah!" ucap Hanabi menggebu-gebu.
Natsu tertawa kecil. Sifat Hanabi yang sangat posesif pada kakaknya bertambah sekarang.
.
.
.
Yeri berjalan mengendap-ngendap. Lalu gadis berambut capuran ungu dan pink itu menaiki pohon yang cabangnya berada di dekat jendela kamar Yui.
Gadis pembuat keributan itu terkikik lalu melompat dari jendela. Tepat sekali ia jatuh di atas ranjang dengan gundukan yang ia yakini adalah Yui.
"Seperti biasa, Yui-nee belum bangun tidur jam segini" gunamnya.
Yeri tidur di samping gundukan yang ditutupi selimut itu. Dengan jahil Yeri menusuk-nusuk bagian atas yang ia yakini kepala Yui.
"Masih jam tujuh. Yui-nee biasanya akan bangun jam sembilan. Akan kubangunkan dia secara paksa!"
"Eunghhh"
Yeri hampir saja menarik kaki Yui ketika mendengar suara lenguhan Yui yang terdengar aneh.
"Suaranya mirip laki-laki" gunamnya dengan wajah terkejut yang lucu.
Orang yang berada di bawah selimut itu menyibak selimutnya sehingga wajahnya terlihat.
"Hoamm"
Yeri tambah terkejut melihat bahwa yang berada di sampingnya adalah laki-laki aneh, bukannya Yui. Mulutnya menganga dan wajah mereka berjarak dekat.
"Kyaaa!!"
"Huaaa!!!"
.
.
.
"Wow! Aku benar-benar masih belum percaya bahwa kau anaknya paman Sasuke, Yui. Dan sekarang kau pakai baju yang ada lambang Uchiha-nya"
Natsu yang sedari tadi melihat ada yang aneh dengan pakaian Yui mulai berkomentar. Irie juga sibuk melontarkan pertanyaan yang berhubunan dengan Sasuke.
"Sudahlah. Aku akan latihan bersama Tenten-sensei" Yui mulai lelah dengan kedua temannya memutuskan pergi.
Yui lalu meninggalkan kedua teman se-timnya tanpa memperdulikan protes dari Natsu.
"Apa?" tanya Irie saat Natsu menatapnya.
"Menurutmu... lebih baik adik laki-laki apa adik perempuan?" tanya Natsu.
Pertanyaan yang aneh. Dan pertanyaan aneh itu membuat Irie berpikir sebentar.
"Menurutku tidak perduli apa laki-laki atau perempuan. Punya adik saja seharusnya kau bersyukur" jawab Irie bijak.
"Benar juga"
Natsu bangkit dari pinggiran jembatan lalu melangkah pergi.
"Aku harus kabur dari Anko-sensei dan berlatih dengan paman Sasuke. Jaa..."
Irie menganggukkan kepala. Ia kembali membuka gulungan yang berisi keterangan justu kuchiyose dengan anjing. Sebelumnya Irie pikir anjing yang dimaksud adalah tujuh anjing ninja seperti ayahnya. Namun yang ditemuinya waktu itu adalah anjing yang sangat besar, menyeramkan dan mempunyai tiga kepala. Sangat mengerikan.
Karna itulah Irie bertekad untuk membuat kontrak dengan anjing itu.
Hatake muda itu melangkahkan kakinya ke lapangan tempatnya berlatih dengan Kiba. Tapi ditengah perjalanan ia bertemu dengan Mitsuki yang terlihat tertawa dengan Shan-Shan. Mereka terlihat akrab dan entah kenapa Irie tidak suka.
Mungkin karena Mitsuki yang memang selalu membuatnya iri. Atau karna disana ada Shan-Shan?
"Hai Mitsuki, Shan-Shan senpai" sapa Irie saat ia sudah dekat dengan keduanya.
"I-Irie-kun"
"Oh... hai Irie"
Raut wajah Mitsuki langsung sebal saat melihat Irie. Ingat? Mereka berdua adalah rival.
"Ka-kau mau la-latihan ya, I-irie-kun?" tanya Shan-Shan saat melihat pakaian Irie yang dipakai khusus untuk latihan.
Irie mengangguk. "Kau tidak latihan juag Mitsuki?"
"Aku lebih suka jalan-jalan apalagi bersama Shan-chan. Lagipula aku rasa aku sudah hebat" sombong Mitsuki.
"Sombong sekali dia. Apa-apaan kalimatnya itu? Lebih suka bersama Shan-Shan?" batin Irie.
Mata Irie memincing saat melihat model pakaian Shan-Shan dan Mitsuki yang terlihat seperti pasangan.
"Jangan-jangan kalian kencan ya?" tuduh Irie.
"Baguslah jika akhirnya kau mengerti" sahut Mitsuki dengan nada pamer seolah-olah mengatakan kepada Irie bahwa Mitsuki selalu memenangkan siapapun orang di sekitar Irie.
"Ki-kita tidak se-sedang kencan kok" kata Shan-Shan tergagap seperti biasa.
Irie sebal . Bukan hanya karna merasa kalah dari Mitsuki, tapi karna Shan-Shan. Katanya gadis itu stalker-nya, jadi kenapa sekarang Shan-Shan jadi kencan dengan rekan se-timnya itu? Memikirkan itu lagi malah membuat Irie jadi kesal. Dan sebuah jurus pun terbuka dengan sendirinya.
"Cih... baguslah jika kalian kencan. Artinya Shan-Shan senpai tidak perlu mengangguku lagi kan? Asal kau tau itu sangat merepotkan. Aku juga tidak suka dengan gadis gagap yang tidak punya percaya diri sepertimu, senpai. Menurutku gadis seperti Yui lah yang pantas denganku. Punya percaya diri tinggi. Aku-"
"Irie!!" Mitsuki membentak Irie yang sudah kelewatan terhadap Shan-Shan.
Oh. Jurus terlarang yang membuat orang yang menjadi objek akan kehilangan kendali emosi. Jurus yang bisa dilakukan semua orang. Jurus lidah tajam.
Sementara itu, Shan-Shan hanya menunduk. Apa lagi memangnya yang ia bisa lakukan? Seperti kata Irie tadi, ia memang tidak punya rasa percaya diri yang tinggi.
Shan-Shan menatap langsung ke arah mata Irie. Senyum manis yang terlihat menyembunyikan rasa sedih terukir di waja orientalnya.
"Kalau begitu aku minta maaf, Irie-kun. Maaf sudah menganggumu"
Setelah mengatakan itu Shan-Shan pergi dengan berlari cepat. Mitsuki yang melihatnya hanya membuang nafas kasar. Pasti Shan-chan sedang menangis, pikirnya.
Lain Mitsuki lain juga Irie. Entah kenapa ia rasa ia jahat. Terima kasih mulut pedas dan jurus terlarang tadi yang ia warisi dari Kakashi. Yang membuatnya harus membuat gadis manis merasa terhina. Dan dari pada melihat Shan-Shan tersenyum sambil meminta maaf seperti tadi, Irie lebih suka melihat reaksi Shan-Shan akan marah dan berteriak padanya. Tapi Irie sadar, Shan-Shan bukanlah gadis bar-bar semacam itu.
"Kau memang berbakat ya, Irie" ejek Mitsuki lalu pergi dengan cara yang sama dan ke arah yang sama dengan Shan-Shan.
"Hah?! Apa yang baru saja aku lakukan?" Irie mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
.
.
.
Ruangan yang mencekam. Bukan karna ruangan itu angker. Tapi karena orang-orang yang ada di sana mempunyai aura yang ... angker?
"Apakah anda serius, Uchiha-san?" tanya Hiashi entah untuk yang keberapa kalinya.
Hinata yang berada di ruangan itu hanya menunduk. Disampingnya, Hanabi menatap Sasuke dengan pandangan seolah Sasuke adalah pencuri.
"Iya, saya serius, Hiashi-san"
Kali ini Hiashi yang menatap Sasuke dengan tatapan seolah Sasuke adalah pencuri.
"Tapi saya tidak setuju. Hinata adalah seorang pewaris dan saya tidak mengijinkan Hinata menikah..."
Baru saja Sasuke akan menyela, Hiashi sudah mengangkat tangannya tanda menuruh Sasuke diam.
"...seumur hidupnya"
Dan di detik itu juga Sasuke ingin membawa Hinata kabur ke dimensi lain.
"Bahkan jika kami ternyata sudah mempunyai anak?" bujuk Sasuke.
"Iya" jawab Hiashi tegas.
"Dan satu lagi. Rahasiakan tentang kedua anak itu dari publik. Aku tidak ingin nama keluarga Hyuuga dicoreng karna itu"
Mendengarnya saja membuat Sasuke mengeratkan tangan. Dicoreng? Dasar kolot! Umpat Sasuke dalam hati.
Asuma dan Kurenai saja tidak menikah, tapi sudah punya Mirai.
'Apa susahnya membiarkan Hinata menikah denganku?' batin Sasuke.
Lama-lama kesal juga.
Dan akhirnya Sasuke punya ide.
"Hiashi-san. Kau tidak lupa saat Toneri menyerangmu kan? Apa kau juga tidak ingat aku sempat menolongmu?"
Hiashi mulai mengerti jalan pikiran Sasuke. Memangnya anak ini ingin mempengaruhinya dengan trik sederhana semacam itu? Tidak akan mempan!
"Iya, aku ingat dengan baik saat Hinata dibawa ke bulan"
"Aku hanya ingin mengingatkan bahwa anda mempunyai hutang nyawa pada saya" kata Sasuke mencoba mengurangi nada sombongnya.
"Jika kau pikir memberi Hinata padamu sebagai bayaran atas hutang itu, aku tidak mau!"
Sasuke dan Hiashi saling pandang dengan tatapan tajam. Hanabi sampai berdehem melihatnya. Bukan karna takut ayahnya akan terjebak genjutsu atau semacamnya, tapi karna ia ingin bicara.
"Kalau boleh aku meminta saran, lebih baik kalian tidak menikah. Pertama, karna sembilan tahun yang lalu nee-sama menghilang akibat mengandung anakmu. Artinya ia tidak mau denganmu. Kedua, nee-sama adalah milik Hyuuga. Jadi jangan harap ia akan jadi milik Uchiha! Ketiga, apa Hinata-nee mau menikah denganmu?" ucap Hanabi yakin.
Sasuke terdiam. Hiashi dan Hanabi tersenyum puas. Hitana mulai mengangkat kepalanya.
"Aku-"
"Jangan bicara, Hinata!"
Kalimat yang akan diucapkan Hinata terpotong oleh kata Hiashi. Hinata bisa apa? Dalam hati ia bertanya untuk apa dia disini. Kalau hanya diam dan dilarang bicara, lebib baik Hinata pergi saja. Tapi melihat Sasuke yang perlu bantuan, Hinata masih bertahan di ruang yang beraura angker itu.
"Kalau kalian masih tetap mempertankan Hinata, saya akan merebutnya" ucap Sasuke santai seolah Hinata adalah sebuah bendan yang memang miliknya.
"Jangan macam-macam kau!" ancam Hiashi.
Menurut Hiashi, Sasuke adalah pria pantang menyerah yang menyebalkan. Apa yang dibicarakan Sasuke selalu benar dan pria itu beresiko merebut Hinatanya dari jangkauan sang ayah. Baru saja bertemu dengan putri sulungnya setelah sembilan tahun dan sekarang Sasuke melamarnya?
Tidak!
Hiashi masih belum rela. Masih ingin melihat putrinya tumbuh walau Hinata sudah tidak bisa tumbuh lebih dari sekarang. Ya... seharusnya Hiashi sadar, bahwa Hinata sudah dua puluh tujuh tahun.
"Aku kemari tidak sendirian. Aku membawa pasukanku"
Sasuke menyeringai lebar.
"Kemarilah" perintah Sasuke.
Lalu di ruangan itu muncul dua sosok bocah berambut gelap dengan model yang berbeda dan ekspresi berbeda pula.
Uchiha Yui dan Uchiha Yuki.
"Aku benci urusan orang dewasa" kata Yui.
Sementara itu Yuki tersenyum manis.
"Hai semua!"
Dan beberapa minggu setelahnya acara pernikahan pun dilaksanakan. Bukan antara Sasuke dan Hinata, tapi antara Hanabi dan Konohamaru yang memang sudah direncanakan sejak tiga bulan yang lalu.
.
.
.
.
TBC
Halo semua
Aku kembali bawa chapter terbaru Innocent Liar
Maaf kalo lama. Sebenarnya tiga hari lagi aku UN. Tapi karna pengen banget ngupdate fanfic ini, aku korbanin waktu santaiku.
Doain aku supaya UN-nya lancar ya~~
Terima kasih buat yang udah mau baca fanfic abal ini dan udah mau review.
Balasan review:
Haeri elfishy: Makin penasaran ya? Makanya pantengin terus lol.
Dhantieee: ini udah kulanjut.
Clareon: Iya kuusahakan update kilat sehabis UN.
Orange25: Ini udah kulanjut.
HipHipHuraHura: Ya gitu deh.
Pengangumlavender26: Itu bakal dibahas di chapter selanjutnya.
Budiii: ini udah update lho~
Yulia: Iya. Makasih
Keeta: karna Hinata belum dilamar dan dia dilamarnya di chap ini. Kalo Yui dan Yuki dewasa mungkin di sequelnya(itu pun jika ada).
Heira: Ini udah kulanjut kok.
Makasi semua
See you next chapter~~
