Disclaimer : ATLUS
Ungkapan berlian di tengah lumpur itu memang ada. Di tengah rumah-rumah sederhana yang ditinggali oleh maksimal lima orang manusia dan beberapa peliharaan, di tengah kesulitan hidup yang dialami oleh rakyat desa itu, berdiri sebuah rumah yang besar dan indah. Dibuat dari kayu terbaik, rumah itu berdiri dengan kokoh. Arsitektur yang sederhana, halaman yang luas dengan pohon sakura yang berjejer rapi, semak-semak yang tertata rapi, bunga-bunga mahal yang mekar sempurna, kolam yang berisi ikan dan memantulkan sinar bulan dengan sempurna diwaktu malam dan permadani rumput yang terlihat empuk. Semuanya begitu sempurna.
Di salah satu kamar, yang berbeda dengan kamar-kamar lainnya, seorang gadis belia duduk termenung. Ia duduk di depan kamarnya yang menghadap langsung ke arah deretan pohon sakura yang tak lagi berbunga. Ia terus-terusan menghela nafas dan tampak tidak akan pernah beranjak dari situ jika tidak dipanggil masuk ke dalam rumah.
Di sebelahnya, handphone miliknya berbunyi terus-menerus. Tiga hari sejak ia kembali ke rumah itu, nomor yang sama terus menghubunginya. Ia memang tidak menyimpan nomor itu, tapi ia tahu siapa itu. Orang yang terus mengirimkan email, sms dan meneleponnya hampir tiap menit.
"Sakura-sama, bunyi lagi tuh," kata seorang pemuda berambut cepak yang sejak tadi mengawasi Sakura.
"Tau."
"Kuangkat ya?" tanyanya sambil mengulurkan tangannya, hendak mengambil handphone Sakura. Sakura mendelik.
"Pegang sedikit aja, kamu jadi makanan ikan," ancamnya sambil meraih handphonenya lalu bangkit dan pergi dari tempat itu.
"Ah, Sakura-sama! Nanti malam tuan datang!" seru si cepak. Sakura berhenti dan berbalik padanya. Mukanya keheranan.
"Terus?"
"Ya, cepet pulang ya," serunya sambil berkedip jenaka dan tersenyum lebar. Sejenak Sakura tampak berpikir lalu ia menghampiri si cepak. Ia memandangnya penuh arti, membuat si pemuda merona.
"Memang kamu pikir, aku mau kemana? Hmmmm?" godanya. Pemuda itu langsung merah semerah-merahnya dan gelagapan. Melihat reaksinya, Sakura mendengus menghina dan berjalan pergi.
Sakura sedang berjalan-jalan di pematang sungai. Disekelilingnya, banyak anak-anak sedang berlari-lari mengejar satu sama lain. Ia berjalan sambil setengah menyeret kakinya. Pandangan matanya yang kosong dan kaus lusuh yang dipakainya, serta rambut yang sedikit berantakan membuatnya tampak seperti zombie. Orang-orang melihatnya dengan sedikit kasihan, antara berpikir apa dia kabur dari rumah atau belum dikasih makan selama seminggu. Seperti biasa, ia tidak terlalu peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Saat ini ia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Emang apa urusannya si tua sialan itu datang atau ngga. Semakin lama dia ngga ada di rumah semakin baik! Dan sikap Haru tadi, apa-apaan? Memang dia pikir siapa dia? Seenaknya aja. Pasti diajarin sama Negyuu atau Reijin. Kurang ajar!
"Aki-kuun!!!!!! Tunggu bentaaaarr!!!!!" teriak seorang anak perempuan, membuat Sakura sadar dari lamunannya. Sebenarnya bukan jeritan si anak itu yang membuat dia sadar, tapi nama bocah laki-laki yang dipanggilnya.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi lagi. Nomor yang sama. Sudah lebih dari dua puluh kali nomor itu menghubunginya. Sakura hanya bisa menatap layar ponsel, tanpa sanggup mengangkat telepon itu.
Setetes air mata bergulir. Buru-buru ia mengusap matanya, mencegah yang lain ikut tumpah. Namun apa daya, tetesan yang satu diikuti tetesan lain, terus keluar dan mengalir. Setelah berusaha selama beberapa menit, akhirnya ia menyerah. Air mata itu tidak lagi bisa dibendung. Ia menangis sesengukan di pinggir sungai sambil memegang erat ponselnya yang masih berbunyi.
Di kediaman Senjii, semuanya mendadak sibuk. Ada yang memasak, mengepel, sekedar bolak-balik, bahkan ada yang berseliweran sengaja mencari kesibukan untuk menyambut kedatangan sang pemilik kediaman. Sakura yang baru saja pulang hanya bisa mematung di depan pintu. Ia bukannya terpana dengan aksi sok sibuk yang mendadak dilakukan oleh penghuni kediaman, hanya saja ia bingung harus melakukan apa.
"Kenapa Anda termenung begitu?" tanya Negyuu yang entah kenapa tidak sibuk sama sekali.
"Bukan urusanmu," dengus Sakura. Negyuu hanya terkekeh geli.
"Ngomong-ngomong, sebenarnya Raiga-sama sudah datang," kata Negyuu enteng, "Dan beliau menunggu kehadiran Anda di ruang belakang."
Sakura menoleh kesal ke arah Negyuu. "Terus kenapa mereka semua nggak dikasih tahu? Jadinya mereka nggak bolak-balik kayak cacing kepanasan gitu." Negyuu memasang senyum lebar di wajahnya.
"Karena Raiga-sama hanya ingin bertemu dan bicara dengan Anda."
Hari yang sama, Dormitory.
Kegiatan di asrama berlangsung seperti biasa. Junpei dan Yukari masih sering adu mulut meributkan hal yang tidak perlu; Minato, Ken, dan Koromaru nonton TV dengan damai; Mitsuru sibuk dengan telepon genggamnya; Aigis dan Fuuka membicarakan soal teknologi. Semuanya berjalan dengan aman dan tentram. Setidaknya begitulah keadaan lima menit yang lalu, sebelum Akihiko berlari turun, dengan kepala penuh perban, dari kamarnya di lantai dua.
"Mitsuru, beritahu aku dari mana anak sialan itu berasal!" seru Akihiko. Mitsuru menoleh sejenak dan mematikan ponselnya. Ia menghela nafas.
"Aki, sudah kukatakan ratusan kali, aku tidak tahu. Semua data mengenai dirinya kusimpan dengan rapi, tapi sepertinya ia berhasil mengambil semuanya dan membawanya pergi," jelas Mitsuru.
"Udah coba dihubungi belum?" tanya Minato.
"Ratusan kali! Sejak aku sadar di rumah sakit!" seru Aki frustrasi. Ia lalu membanting dirinya ke sofa. "Anak sialan itu!" serunya lagi sambil mengacak-acak sisa rambutnya yang mencuat dari balik perban.
Tiba-tiba pintu asrama dibuka. Semua orang menoleh dan Aki berdiri, seolah mengharapkan sesuatu. Dari sana muncul sosok berjaket merah dan kupluk hitam. "Yo!" katanya.
"Hai Shinji, apa kabar? Bagaimana Inaba?" tanya Mitsuru, yang diikuti celoteh ramai anak-anak. Akihiko menghela nafas panjang dan kembali duduk.
"Baik. Kotanya bersih dan tenang. Hei kamu, pria penakut, kenapa kecewa begitu? Aku sakit hati nih," kata Shinji pada Akihiko.
"Aki-senpai sedang patah hati, biarkan saja dia," kata Junpei.
"Oh? Sama si anak baru itu? Hebat juga dia nolak Aki."
"Bukan gitu sih, ceritanya," kata Yukari.
"Heh? Terus?" tanya Shinji bingung. Baru saja Yukari mau membuka mulutnya, Akihiko bangkit dan berlari keluar asrama, menimbulkan angin dadakan yang cukup heboh. Mitsuru menggeleng.
"Jadi begini ceritanya—
"Ooh," kata Shinji setelah Mitsuru selesai bercerita. "Jadi, si Sakura ini ternyata cucunya yakuza dan dia dikejar-kejar dan Akihiko diculik dan dia akhirnya nyerah?" cerocos Shinji.
"Ya. Kami berusaha mencari petunjuk mengenai keberadaannya, tapi sampai saat ini tidak ada hasilnya."
"Keberadaannya, ya?" kata Shinji dengan intonasi aneh. Mitsuru menaikkan satu alisnya dan melihat Shinji heran.
"Ada apa?"
"Tadi, waktu aku mau jalan ke stasiun di kota sebelah, rasa-rasanya aku ngeliat sosok si Sakura ini," kata Shinji menerawang. Matanya menatap langit-langit ruangan, seolah tidak yakin.
"Yang benar????" tanya Junpei tiba-tiba, membuat Shinji terjengkang. Junpei langsung menghampiri senpai-nya yang satu itu dan mengguncang-guncangnya. "YANG BENAR SENPAI?????"
"HUAH!! LEPAS!!" seru Shinji sambil mendorong Junpei hingga si badut kelas itu terjungkal dan mencium lantai dengan suksesnya.
"Tenang, kalian berdua. Shinji, kenapa bisa kamu ada di kota sebelah?" tanya Mitsuru.
"Err, ada satu dua urusan sama berandalan di daerah sana. Eh, mereka berandalan bukan, ya?" tanyanya bingung.
"Kamu bisa mengantar kami ke tempat itu?" tanya Mitsuru.
"Aku nggak yakin itu dia, loh."
"Biar saja. Kita harus memeriksa semua kemungkinan yang ada. Minato, cari Akihiko. Katakan padanya mungkin kita bisa menemukan Sakura," perintah sang eksekutif muda yang langsung dituruti oleh si pemuda pendiam berambut biru itu.
A/N : Akhirnya di update juga. Hiphip!!!! *ditendang*
Aduh, saya mohon maaf pada semua yang menunggu. Eh, emangnya ada yang nunggu gitu???
Dan, seperti biasa. Karena saya hobi deskripsi blahblahblah, jadi aja chapter yang dibutuhkan biar bisa beres masih ada banyak. HONTOU NI GOMENASAIIIII....
Mungkin ada yang ngeh, tapi rasanya alurnya loncat-loncat ya? Aduh aduh....
Well, as usual..
Review please?
Regards,
tazzualdehid
