Disclaimer : Masashi Kishimoto

Happy Reading~~

Kurama menatap horor wajah Itachi yang perlahan mencair. Mulai dari daging di bagian pipi, hidung, mulut dan mata. Kulit tubuh Itachi juga mencair menjadi cairan kental dan memenuhi lantai helikopter yang mereka tumpangi.

Kurama menjerit histeris dan memukul-mukul pintu pesawat, mencoba membuka pintu itu. Ia tidak ingin berada di tempat mengerikan ini. Bau amis yang amat sangat memasuki indera penciumannya dan membuatnya mual. Ia memuntahkan isi perutnya.

Tubuh Itachi yang hampir menjadi tengkorak itu perlahan maju mendekati Kurama. Tangan kanannya mencengkeram lengan kiri Kurama. Membuat Kurama semakin ketakutan dan memberontak. Ia menggapai apapun yang ada di dekatnya dan melemparnya ke arah Itachi.

.

.

.

Itachi keheranan dengan tingkah Kurama yang tiba-tiba menjadi histeris.

Kurama berteriak-teriak ketakutan dan mulai memukul-mukul pintu pesawat. Itachi mencoba menenangkan Kurama dan mendekatinya. Akan tetapi, Kurama tidak membiarkan Itachi mendekatinya sama sekali. Ia melempar benda-benda yang dapat dijangkau oleh tangannya. Botol air minum, ransel yang di bawa Kurama, dan setelah tidak mendapat apapun lagi untuk di lempar. Kurama mencengkeran pilot yang menerbangkan helikopter.

"Turunkan heli ini! Biarkan aku turun, sekarang!" Teriaknya.

"Kurama! Hentikan!" Itachi mencengkeram bahu Kurama dan memiting lehernya mencoba menghentikan gerakan Kurama yang semakin brutal.

.

.

.

Sasuke menatap ke arah langit gelap di luar jendela. Ia dan teman-temannya yang lain sudah cukup lelah dengan semua kejadian yang menimpa mereka di villa ini. Mereka semua ketakutan, Sasuke tahu itu. Walaupun Naruto dan dirinya mencoba untuk tetap tenang.

"Ba..bagaimana ini? Ka..Kabuto tiba-tiba menghilang da..dan Shikamaru tidak ada di manapun." ujar Hinata.

Temari menatap khawatir Hinata.

"Tenanglah, Hinata. Sebentar lagi bantuan pasti akan datang. Kita hanya perlu bertahan beberapa jam lagi." ujar Temari, mencoba menenangkan Hinata.

"Benar, kita pasti akan baik-baik saja. Ya kan, Sasuke?" ujar Naruto.

Sasuke hanya diam menganggukkan kepala.

"Tap..tapi..."

JDARRR!

PRANG!

"KYAAA!"

Belum selesai Hinata berbicara, tiba-tiba kilatan cahaya petir menyambar kusen jendela tempat mereka berdiri dan membuat kaca jendela pecah berkeping-keping.

"Menyingkir dari jendela!" teriak Sasuke.

Naruto segera menarik Hinata dan Temari untuk menjauh dari jendela diikuti Sasuke di belakang mereka. Angin bertiup kencang dari arah jendela dan air hujan beserta dedaunan kering masuk mengotori koridor villa itu.

.

.

.

Helikopter yang di tumpangi oleh Kurama dan Itachi terpaksa mendarat darurat di karenakan Kurama sangat sulit untuk di tenangkan.

"Tenanglah Kyuu! Kau ingin menyelamatkan adikmu atau tidak!?" bentak Itachi.

Mereka telah turun dari helikopter dan Kurama terus memberontak mencoba melepaskan diri dari Itachi. Membuat Itachi kewalahan dan kehilangan kesabaran.

"Hei! Tenanglah, brengsek!"

Itachi akhirnya memberikan pukulan ke wajah Kurama, membuat Kurama terjatuh dan darah sedikit keluar dari bibirnya. Itachi menatap Kurama geram dan menghampiri Kurama. Mencengkeram kerah baju Kurama dan melayangkan kembali tinjunya ke wajah Kurama.

.

.

.

Naruto, Sasuke, Temari, dan Hinata tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Sakura saat ini berdiri di depan mereka dengan darah mengucur dari kepalanya. Setengah wajahnya tertutup oleh rambut dan darah berwarna pekat.

"Sa...Sakura.." panggil Hinata.

"Jangan dekati dia, Hinata!" cegah Sasuke saat Hinata hendak menghampiri Sakura.

"Dia bukan Sakura." Ujar Sasuke.

Sakura menyeringai mengerikan. Ia mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya yang telah di kuliti setengah. Mulai dari hidung ke bagian atas wajahnya hanya terlihat daging merah yang tersayat-sayat dan bola mata bulat yang seperti ingin melompat keluar dari tempatnya.

Temari, Sasuke, Naruto, dan Hinata berteriak histeris.

"Cepat pergi dari sini!" Teriak Naruto dan mereka pun berlari menjauhi Sakura.

.

.

.

Nafas Itachi terengah-engah. Ia menghentikan pukulannya dan menatap Kurama yang saat ini sudah tidak sadarkan diri.

"Dasar bodoh." Umpat Itachi dan berdiri.

"Tuan Itachi! Saya kehilangan kontak dengan tim pencari yang lain!" Ujar sang pilot yang sedari tadi mencoba untuk menghubungi rekannya yang lain.

"Mungkin karena cuaca yang buruk. Angkat bocah itu ke helikopter." Ujar Itachi dan menaiki helikopter.

.

.

.

Naruto, Hinata, Temari, dan Sasuke berlari menuju pintu utama villa itu. Naruto yang pertama kali sampai di pintu, segera menggapai pegangan pintu dan memutar kenopnya.

Cklek cklek cklek

Pintu itu terkunci.

"Cepat buka pintunya Naruto!" Teriak Sasuke.

"Pintunya di kunci! Adakah dari kalian yang memegang kuncinya!?"

"Tidak, aku tidak memegangnya." Ujar Sasuke.

"Kumohon! Kita harus cepat keluar dari tempat ini!" Teriak Hinata histeris.

Sasuke dan Naruto melihat ke arah Temari.

"Aku tidak memegang kunci." Ujar Temari.

.

.

.

"Tuan Itachi, mesin helikopter ini tidak mau menyala." Ujar sang pilot.

"Apa? Apa ada kerusakan yang terjadi saat pendaratan?" Tanya Itachi.

"Tidak, tadi kita mendarat dengan normal dan bensin helikopter masih lebih dari cukup untuk kita pulang ke konoha." Ujar Pilot.

"Aneh sekali." Gumam Itachi.

"Apa kita tunggu saja helikopter yang lain, tuan Itachi?"

"Tidak, aku akan meneruskan perjalanan. Lokasinya sudah tidak terlalu jauh lagi." Ujar Itachi dan ia mengambil sebuah tas ransel besar dan mengikat erat tas itu di bagian depan tubuhnya. Kemudian mengangkat Kurama di punggungnya.

"Kau tunggu tim penyelamat yang lain. Segera susul kami begitu tim yang lain datang." Perintah Itachi.

.

.

.

"Sial! Dobrak saja kalau begitu!" Ujar Naruto dan membenturkan bahunya untuk membuka pintu.

"Dasar Dobe! Ingat luka di lenganmu! Serahkan saja padaku!" Sergah Sasuke menjauhkan Naruto dari pintu.

Brak! Brak! Brak!

Sasuke menghantam pintu itu berkali-kali menggunakan bahunya. Akan tetapi pintu itu bergeming.

.

.

.

Kabuto berlari menerobos hujan, menyusuri sungai dengan tergesa-gesa. Nafasnya terlihat memburu dan ia beberapa kali tersandung akar pohon dan bebatuan. Ia memeluk bungkusan kain di dadanya erat. Tidak ingin benda itu hilang dari genggamannya.

Sesampainya di tempat yang ia tuju. Ia menoleh ke sana kemari, memastikan tidak ada seorangpun di tempat itu selain dirinya. Kemudian ia perlahan berlutut, menaruh bungkusan yang di peluknya tadi di atas tanah becek.

Perlahan ia membuka bungkusan itu. Tulang tengkorak bersama dengan anggota tubuh lainnya berserakan di atas kain itu.

Kabuto menatap kosong tulang belulang itu.

"Sudah saatnya ini semua berakhir..." ujar Kabuto.

Di belakangnya, berdiri seorang gadis kecil menatap penuh amarah kepadanya.

.

.

.

Tanpa menggunakan peta ataupun kompas. Itachi menyusuri hutan dengan mempercayai insting dan ingatannya. Ia sesekali menggerutu tentang berat badan Kurama yang membebani belakang tubuhnya saat ini.

"Gyaaa!"

Srak srak srak

Suara teriakan keras mengagetkan Itachi. Ia menghentikan langkahnya dan melihat ke sekeliling. Darimana asal suara itu?

.

.

.

"Aaargh!"

Sasuke berteriak frustasi. Apapun yang dilakukan olehnya mereka tetap tidak bisa membuka pintu villa itu.

"Sial! Apa-apaan dengan villa ini." ujar Naruto.

"Bagaimana ini? Hiks..Apa nasib kita akan seperti yang lainnya?" Isak Temari yang sudah tidak bisa menenangkan dirinya.

"Ti...tidak...aku tidak mau jadi seperti mereka." Isak Hinata.

Sasuke dan Naruto saling berpandangan. Apa yang bisa mereka lakukan sekarang? Mereka terjebak di dalam villa dan tidak dapat keluar sama sekali. Dan bala bantuan baru akan datang beberapa jam lagi. Bagaimana cara mereka bisa bertahan sekarang?

CKLEK

Suara kunci pintu yang terbuka mengagetkan mereka. Mereka menatap pintu yang sedari tadi berusaha mereka buka, kini terbuka dengan perlahan.

Mereka menunggu dalam sunyi, menanti kejutan apalagi yang akan muncul di hadapan mereka.

.

.

.

Itachi mengintip dari balik semak belukar. Kurama dibaringkan di belakangnya, masih tidak sadarkan diri.

Ia dapat melihat seorang laki-laki terikat oleh semak berduri di sebuah pohon dengan kepala terkulai lemah. Didepan lelaki itu berdiri seorang gadis kecil berambut panjang. Itachi tidak dapat melihat wajah gadis kecil itu karena hujan yang semakin deras.

Itachi dapat melihat cairan berwarna gelap mengalir dari tubuh lelaki itu. Apa itu darah?

Perlahan Itachi mundur dan mencapai Kurama. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Instingnya mengatakan kalau ia harus pergi dari tempat itu.

Tiba-tiba gadis kecil itu memalingkan wajahnya. Menatap Itachi dengan mata berwarna merah darah, mata mereka bertemu. Dan saat itu juga Itachi bersembunyi. Merendahkan tubuhnya serendah mungkin berharap tubuhnya tertutup oleh semak di sekitarnya.

Ia memejamkan mata erat dengan nafas tertahan. Jantungnya berdegup kencang seolah akan meledak. Ia berharap makhluk itu tidak menyadari keberadaannya.

.

.

.

Satu menit mereka menunggu, tidak ada pergerakan sama sekali. Mereka dapat mendengar suara hujan di balik pintu itu. Dengan sedikit ragu tangan kanan Naruto terangkat dan menggapai gagang pintu. Perlahan ia membuka pintu itu semakin lebar, memperlihatkan halaman villa yang luas.

Mereka tersenyum senang. Temari yang menjadi bersemangat segera berlari keluar dan berhenti di tengah halaman yang becek.

"Cepat! Apalagi yang kalian tunggu!" teriak Temari.

Dan saat Naruto,Sasuke, dan Hinata akan melangkah keluar. Tiba-tiba mucul kilat dan petir menyambar tepat ke jantung Temari, meninggalkan lubang di tubuh Temari.

Mata mereka membesar, tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mata mereka. Yang pasti sebelum tubuh Temari jatuh ke tanah. Mereka dapat melihat gerak bibir Temari.

"Tolong."

.

.

.

TBC

A/N

Hello~~ Author gaje comeback (/-_-)/

Saya kembali dengan lanjutan fanfict yang dikira nggak bakal di lanjut lagi.

Sebenarnya saya pingin banget lanjutin ini fanfict dari lama. Cuma begitulah, banyak hal di real life yang harus diurus sehingga saya tidak bisa konsen menulis. Dan saya menyadari satu hal.

Menggambar itu hal yang sulit. Sama seperti menulis.

Kalau untuk menulis, saya pribadi merasa kesulitan sejak dulu. Karena, saat saya membayangkan suatu adegan di kepala saya, saya tidak tahu bagaimana menuangkannya ke dalam tulisan dengan benar. Bagaimana caranya agar pembaca paham dengan situasi yang ada dalam cerita? Bagaimana membuat pembaca dapat merasakan perasaan tokoh dalam cerita? Apa yang harus dilakukan kemudian oleh si tokoh utama dalam cerita? Bagaimana membuat kata-kata mudah di pahami pembaca? Apa tulisanku sudah benar? Apa sudah menarik? Apa adegannya harusnya begini? Dan banyak lagi.

Pokoknya banyak yang kupikirkan sebelum mempublish suatu cerita. Saya juga memperhatikan alur yang kubuat dalam cerita. Apakah alurnya sudah bagus? Apa ceritanya terlalu berat?

Kalau untuk menggambar, itu hal yang sangat sulit untuk saya. Karena dalam menggambar, untuk dapat membuat sebuah gambar membutuhkan waktu berjam-jam untuk satu karakter. Saya benar-benar salut dengan para komikus yang bisa menggambar banyak karakter dan berulang-ulang.

Mungkin karena saya nggak ada bakat gambar, jadi sangat sulit rasanya menggambar apa yang ingin saya gambar. Belum lagi pewarnaannya. Benar-benar salut untuk para mangaka dan animator yang bisa membuat gambar yang bagus-bagus dan pewarnaan yang menakjubkan.

Untuk kelanjutan fanfict ini, saya usahakan untuk menulisnya sampai tamat. Tapi entah kapan. Terima kasih untuk para readers yang masih setia membaca fict ini. Maaf kalau masih banyak kekurangan.

Sampai jumpa di lain waktu \(^o^)/

Maaf ya kalau ceritanya pendek :P