Happy read^^
(BGM - Please take my love letter /Chanyeol)

.

.

Soft hands
Bright smile
Eyes that promise nothing but temporary love
I knew I was in a world full of hurt
But I let it happen anyway

.

Beberapa pertanyaan mengusik Baekhyun saat ia melihat Chanyeol dalam pandangnya. Dimulai dari bagaimana pria itu selalu terlihat bersinar atau bagaimana bisa pembawaannya selalu tenang meski nyatanya kerap ia usik dengan dengkingan menyebalkan hingga keheningan yang mengesalkan. Bukan sekali dua kali Baekhyun mengabaikan pria itu dengan sadar, bahkan berkali-kali ia menolak skinship yang diberikan secara terang-terangan dan bertingkah ketakutan seolah pria itu adalah pembunuh keji yang wajib dijauhi.

Tapi kenapa Park Chanyeol masih saja menyambutnya dengan senyuman paling hangat sedunia?

"Hai, sweety pie. Sudah bangun?"

Kenapa Park Chanyeol masih saja semanis coklat dihari sayang sedangkan Baekhyun nyaris lupa kapan terakhir kali ia mendapatkan coklatnya?

"Kepalamu masih pusing?"

Kala pria itu duduk disebelahnya, Baekhyun menggeleng kemudian menarik selimut yang menutupi tubuhnya agar makin tinggi dan menggeret mundur. Masih enggan menerima skinship yang dilakukan suami tampannya. Dan Park Chanyeol hanya menyungingkan senyum tipis, seolah tak masalah dengan apa yang didapatnya pagi ini. Pria tinggi itu kembali mengambil jarak dan membenarkan letak dasi merah yang melingkari lehernya.

"Kau akan pergi?"

Cicitan mungil yang mengudara membuat Chanyeol tak kuasa untuk berbalik dan menatap langsung ekspresi anak anjing yang ditunjukan gadis mungilnya yang paling manis. Keceriaan gadis itu lenyap tanpa jejak sejak berminggu-minggu lalu.

"Ada rapat penting juga beberapa berkas yang harus aku tangani. Kau tidak keberatan ditemani Kyungsoo sebentar?"

Jadi ia akan ditinggalkan hari ini?

Lebah mungil itu merengut tidak senang kemudian berbalik menyuguhkan punggung, mencebik dibalik selimut dan mendumal kesal dalam hati. Bertanya-tanya mengapa pria itu begitu tega meninggalkannya sementara ia telah berjanji semalaman penuh untuk tinggal.

Sedangkan Chanyeol, Ceo itu hanya bisa menghela nafas dan mengangkat bahu. Baekhyunnya yang merajuk memang bukan lagi hal yang aneh tapi belakangan ini gadis itu sering sekali merajuk padanya untuk hal-hal kecil sekali pun. Entahlah, mungkin istrinya itu masih kesal padanya? Well itu bukan masalah sama sekali, Baekhyun boleh melakukan apapun untuk membuatnya merasa lebih baik. Ia tidak keberatan.

"Ingin aku bawakan apa saat pulang nanti?"

Chanyeol telah siap dengan jas hitamnya yang dipadu dengan coat coklat tapi si mungil kesayangannya itu masih belum menunjukan tanda-tanda untuk menyetujui keberangkatannya. Lantas Chanyeol melirik jam diatas nakasnya, hampir pukul delapan.

Ini positif. Ia akan terlambat lagi.

"Baekhyunee?"

Hening tanpa jawaban yang berarti.

Akhirnya Chanyeol menghela nafas menyerah, pasrah dan mengikuti kemauan sang istri yang sebenarnya tidak jelas apa. Pria itu kembali melonggarkan dasinya dan naik keatas ranjang, menelusup kedalam selimut dan menatap istrinya dari belakang.

"Kau manis sekali saat merajuk, coba berbalik padaku."

Setengah dari ucapannya adalah gombalan murahan untuk meluluhkan ego gadisnya dan setengahnya yang lain adalah kenyataan yang tak akan pernah Chanyeol sangkal kebenarannya. Istri mungilnya ini memang sangat menggemaskan. Dan bagai kerbau dicucuk hidungnya, Baekhyun berbalik patuh dan menunduk dalam."Ma.. Maaf.."

Chanyeol tersenyum tipis disana. Jemarinya yang kokoh bergerak lembut membawa dagu sang istri untuk naik menatapnya."Kenapa harus minta maaf?"

Baekhyun mengerjap bingung.

Entahlah, ia juga tidak tahu. Untuk apa ia minta maaf? Karena melarang pria itu pergi bekerja? Atau karena tingkahnya yang mulai kelewatan belakangan ini? Well, Baekhyun tak akan meyangkal. Perilakunya belakangan ini benar-benar buruk, ia nyaris menangis tak tahu waktu dan merengek tak tahu malu bahkan hanya untuk kesalahan kecil yang Chanyeol buat.

Malam saat ia menelpon ayahnya dan tergugu keras, paginya ia terbangun sendirian dengan sisi ranjang yang kosong. Park Chanyeol tidak ada disana.

Pria itu meninggalkannya.

Pemikiran itu membuatnya ketakutan hingga menangis parah seperti saat ia ditinggalkan ibunya. Ia berlari menuruni tangga dan meraung-meraung memanggil nama Chanyeol dengan linglung padahal pria itu tidak pergi kemana pun seperti yang ia pikirkan.

Pemikiran jika Chanyeol pergi menghantuinya begitu kuat hingga kadang Baekhyun tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri untuk tidak menangis seperti anak kecil. Cukup pedih yang dirasa, Baekhyun tidak mau ditinggalkan lagi. Apalagi jika itu Chanyeol, ia tidak sanggup. Tidak akan pernah.

"Hei. Jawab aku Baekhyunee, kenapa malah melamun?"

Suara berat itu terdengar dan Baekhyun mengerjap,"Emm.. Tidak apa-apa, Yeol."

Sebenarnya Chanyeol sudah bosan mendengar sepenggal kalimat yang kedengaran begitu basi tapi tidak banyak yang bisa ia lakukan. Ia tidak boleh memaksa Baekhyun atau dinding rapuh yang mulai ia bangun akan kembali runtuh."Keberatan untuk sebuah pelukan?"

Jawabannya adalah sebuah gelengan ringan dan Chanyeol tersenyum tipis,"Jadi apa aku boleh memelukmu?"

Gadis itu mengerjap kemudian mengangguk singkat.

Chanyeol tak bisa menahan senyumnya kemudian segera menangkap si lebah mungil dalam dekapannya. Memeluk Baekhyun erat-erat dan bernafas lega karena akhirnya ia bisa merasakan tubuh mungil itu dalam dekapannya. Sedangkan disisi lain, Baekhyun terdiam merasakan kehangatan Chanyeol yang melingkupinya. Dekapan Chanyeol adalah tempat yang paling nyaman. Bagaimana bisa ia menghindarinya berminggu-minggu?

"Kenapa kau jadi diam sayang? Masih tidak suka aku memelukmu?"

Kediaman Baekhyun membuat Chanyeol merasa bersalah, tak seharusnya ia memaksa Baekhyun karena mungkin saja gadis itu masih takut padanya. Meski berat pria jangkung itu hendak melepaskan lilitan lengannya ditubuh hangat sang istri namun urung saat tiba-tiba gadis itu membalas pelukannya dengan begitu erat dan menyandar didadanya.

"Jangan dilepaskan."

Penolakan yang terlampau manis hingga Chanyeol tak mampu menahan senyum kemudian mengusak surai kehitaman yang tergerai dengan gemas,"Kau yang minta, tak akan pernah aku lepaskan. Oke?"

Baekhyun terkekeh hingga kelopaknya menyipit. Kedengarannya begitu posesif tapi ia merasa jutaan kupu-kupu beterbangan diperutnya. Baekhyun suka selama itu Chanyeol.

Pria Park itu menghela nafas ringan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali merasakan pelukan Baekhyunnya yang hangat. Berminggu-minggu kebelakang gadis itu begitu menghindarinya seolah ia adalah hama yang paling berbahaya. Saat Chanyeol ingin menciumnya, gadis itu memalingkan wajah. Saat Chanyeol ingin memeluknya, gadis itu selalu mengambil langkah mundur dan lari tunggang langga meninggalkannya untuk sembunyi.

Chanyeol tidak yakin apakah itu ketakutannya yang masih luar biasa besar atau hormonnya yang kembali bergerak tak stabil. Dan pagi ini, ia memutuskan untuk mengetahuinya dengan jelas.

"Apa kau sudah mau bilang?"

Terpaan nafas Baekhyun begitu terasa dilehernya dan ia harus mengerahkan usaha terbesarnya agar tidak terprovokasi.

"Hm?"

"Kenapa kau menghindariku selama berminggu-minggu dan menghindari semua sentuhanku, Baekhyunee? Apa kau masih takut padaku?"

Baekhyun yang terdiam tanpa jawaban berarti membuat Chanyeol semakin yakin dengan jawabannya sendiri. Tentu saja Baekhyun masih takut padanya jadi tak seharusnya ia mencoba terlalu buru-buru untuk menempatkan semua pecahan itu kembali pada tempatnya.

Lantas Chanyeol melepaskan pelukannya, hendak beranjak untuk membereskan isi kepalanya yang mulai kacau namun tertahan saat Baekhyun memeluknya semakin erat dan gadis itu mendongak kearahnya.

"..Yeol"

Chanyeol mengatur buruan nafasnya dan menemukan Baekhyun yang memandangnya dengan begitu tulus hingga hatinya tergetar dengan perasaan bersalah yang tumpah ruah menerjang segalanya. Tidak lagi, jangan Baekhyun..

"Baekhyunee?"

"Ma.. Maaf Chanyeol, aku sama sekali tidak—"

"Sstt.. Tidak apa-apa. Berhentilah minta maaf. Aku tidak suka mendengarnya."

"Ma—"

"Baek?"

Tatapannya begitu dalam namun Baekhyun sama sekali tidak tahu apa makna yang tersirat disana. Ia hanya tersaput gelombang pesona dari manik hitam itu tanpa berhasil menerka jurang apa yang tengah ia masuki. Dan selalu seperti itu.

"Kau tidak bersalah,"

Bisikan Chanyeol serupa liukan yang hangat dimusim semi, hangatnya adalah bara api yang membangkitkan gairah dimusim dingin dan seperti alunan mozart favoritnya Baekhyun tak bisa menahan diri untuk tak jatuh dalam iramanya yang selembut beludru.

"Berhentilah minta maaf karena harusnya akulah yang mengatakannya. Maafkan aku sayang, maafkan aku hm?"

Bersamaan dengan penyesalan yang menemukan muaranya, pagi ini Baekhyun menemui batasnya. Ia tak bisa terus bersembunyi dibalik ketakutannya dan menolak Chanyeol sementara setiap ujung sarafnya menginginkan pria itu secara utuh. Ketakutannya tak lagi berarti karena iris yang dulu menatapnya tanpa harapan kini memancarkan kehangatan yang ia kenal sejak lama, mereka luruh bersamaan dengan desah nafas yang kini beradu lembut dalam sentuhan yang menciptakan afeksi.

Chanyeol mengecup bibirnya.

Mata Baekhyun terpejam, bahunya melunglai turun dan si mungil memasrahkan dirinya dalam dekapan yang lebih besar. Merelakan dirinya jatuh bersamaan dengan kecupan hangat yang menjadi pembuka. Bibir mereka bersatu dalam irama yang lembut, ditemani lirihan musim gugur yang mencapai batas akhir dan mentari yang menyingsing malu-malu.

Park Chanyeol turut memejamkan matanya, mengecup belah tipis berwarna merah kesukaannya dengan hati-hati. Tangan kokohnya bergerak merangkum wajah mungil Baekhyun dengan penuh penghargaan. Berusaha meyakinkan gadis itu tentang mereka. Bibir tebalnya bergerak lembut dan wajahnya maju mendekat, berusaha memberi tahu Baekhyun jika ia adalah miliknya seorang.

Kecupannya bertahan beberapa detik, menyatukan kepingan yang bercerai berai menjadi satu. Setelah dirasa cukup, si tinggi mengambil jarak yang sempit dengan menyatukan ujung hidung mereka, sebelah tangannya menggenggam si mungil dalam ruas jemarinya, berbisik penuh gejolak dengan irisnya yang berkabut,"Kau milikku, Baekhyunee."

Terpaan lembut dari deru nafas diatas belah bibirnya membuat Baekhyun berdebar kencang dengan perutnya yang menegang. Bibir tebal itu kembali turun membuat matanya terpejam erat dan sebelah tangannya bergerak alami mencengkram bahu prianya sementara yang lainnya mengeratkan genggaman mencari pegangan.

Belahan tipisnya perlahan terbuka, disesap dengan begitu lembut dan dikuak penuh afeksi. Tubuhnya terdesak diatas himpitan dada bidang saat prianya mulai bergerak mendominasi, mengukungnya tanpa celah lari. Baekhyun melenguh pasrah bergerak tanpa sadar membalas semua tindakan sang suami. Lengannya yang mencengkram bahu berpindah melingkari leher sang dominan, dagunya dicengkram lembut dan Baekhyun mendongak mengimbangi prianya.

Sesapan ringan berubah pangutan dalam, pejaman mata mengerat menahan perasaan diikuti paru-paru yang mengkerut hitam tanpa oksigen. Lenguhannya mengalun lembut dan membawa ciuman mereka menuju cumbuan penuh hasrat dari dua insan yang terbuai rindu lama.

Jejak saliva, deruan nafas menghentak menarik sisi rasional keduanya dan Park Chanyeol mulai menunjukan dominasinya yang tak menunjukan celah untuk lari.

"Ini aku, Baekhyunnie."

Tangannya bergerak pasti, membelai batang leher si mungil menyebarkan panas kemudian memiringkan kepalanya memulai pangutan yang lebih memabukan. Saling menyesap penuh damba sebelum kemudian bergerak erotis mengukiti irama salju yang meliuk tertiup angin.

"Nnhh~"

Baekhyun melenguh, bergerak tanpa sadar semakin larut dalam dominasi yang lebih hingga tubuhnya tertutupi sempurna.

'Baekhh.. Baekhyunaah buka kakimu untukku..'

Namun layaknya chaos dalam sebuah badai besar, ingatannya mengerucut tajam, suara itu muncul dalam kepalanya dengan gemaan yang menakutkan. Adrenalinnya meningkat tajam dan nadinya memompa lambat. Baekhyun bergetar dengan wajah pucat dan mendorong dada pria itu untuk menjauh dengan wajah paniknya yang luar biasa,"C—Chanyeol—"

'Ca—Chanyeol aku mohon hikss.. Jangan seperti ini—Chanyeol Akh!'

Pria ini adalah pria yang sama yang melemparnya kedalam jurang hitam.

'Berhenti menangis dan puaskan aku jalang—Ahh!'

Pria ini adalah pria yang sama yang meneriakinya dan mengikatnya tanpa hati dimalam yang dingin.

'Lepaskan Chanyeolh hikss.. Sadarlah Chanyeol! Hikss.. Lepaskan aku!'

Pria ini adalah Park Chanyeol yang meninggalkan bekas nyata dalam hatinya yang remuk redam. Pria ini adalah pria yang menghancurkannya!

Nafas Baekhyun berubah berantakan, air matanya menggenang dan tangannya terkepal kuat dengan tubuh yang menegang membuat Chanyeol yang menindih diatasnya diburu panik mencekik, pria itu buru-buru menjauh kemudian menggenggam lengan gadisnya erat-erat."Baekhyunee?"

"Hikss.. Hikss.."

"Baekhyunee.. Ini aku, Chanyeol. Tidak apa-apa, aku tidak akan menyakitimu. Baekhyun.. Hei sayang?"

Kekecewaan itu kembali mengakar dan memunculkan tunas baru yang menghapus harapannya untuk kembali berbunga."Bae—"

Chanyeol membeku saat Baekhyun menepis tangannya begitu saja dan menangis tanpa suara dengan bahu berguncang. Satu lecutan menyakitkan tak kasat mata kembali mencambuk hatinya. Chanyeol mengepalkan tangannya hingga bergetar dan mengambil nafas rakus.

Sialan, selama ini ia tidak merubah apa-apa!

Emosinya nyaris pecah dan ludahnya kasar. Chanyeol nyaris memukul apapun yang ada didekatnya. Namun beruntung akal sehatnya masih bekerja dengan benar hingga ia memilih beranjak dan memendam semuanya dalam benak. Pria itu berdiri gusar dipinggir ranjang dengan bibir memerah dan pakaian yang tak lebih buruk dari ego prianya terluka untuk sebuah penolakan. Mengatur nafasnya yang kasar dan mencoba untuk tetap tenang meski isi kepalanya telah bergolak penuh percik.

Tidak Chanyeol, tetap tenang. Ini untuk Baekhyun, hanya untuk Baekhyun.

Pria itu mensugesti dirinya sendiri untuk tetap tenang dan membuang nafasnya yang terlalu memburu.

"Baekhyunnee.. Maafkan aku hm?"

"Chanyeol.. Chanyeol.. Hikss.."

Tidak pernah seingin ini Chanyeol melenyapkan dirinya sendiri. Ia terdesak dengan gejolak penuh amarah yang mencekik dan menyiksanya tanpa henti. Ia membuat Baekhyun menginginkannya sedangkan ia pula yang membuat gadis itu takut dengan segala tingkahnya.

Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat dan membuang udara dengan kasar. Mencoba duduk dengan tenang kemudian,"Baekhyun—"

"Dad?"

Suara yang terdengar dibalik pintu membuat Baekhyun meringkuk kecil menyembunyikan lelehan air matanya yang buruk, bergerak memunggungi sang suami dan memilih untuk berpura-pura mati didepan sang anak tiri. Baekhyun tak ingin lagi melibatkan orang lain untuk masalahnya yang rumit, cukup ia membuat Kyungsoo kesulitan. Tidak lagi.

"Daddy, boleh aku masuk?"

Pintu bergerak terbuka dan sosok Kyungsoo yang muncul disana tampak begitu lucu dengan wajah bangun tidurnya yang masih layu. Chanyeol tersenyum sedikit aneh untuk menyembunyikan emosinya,"Ada apa?"

Suara ayahnya terdengar begitu kaku dan Kyungsoo bukan lagi seorang bocah lugu yang menganggap segala hal yang baik-baik saja sepanjang waktu. Atmosfer ruangan ini terlalu kental untuk tidak membuatnya curiga dan kembali berspekulasi jika kedua orang tuanya tengah bertengkar lagi.

Sosok sang ibu tiri yang meringkuk dibalik selimut dan memunggunginya tak benar membuat Kyungsoo yakin jika perempuan itu tengah terlelap tenang. Tapi ini bukan wilayahnya, ia tidak boleh ikut campur karena betatapun ia menyayangi Baekhyun, perempuan itu adalah sosok pengganti ibunya yang harus ia hormati.

"Kyungsoo, ada apa?"

Teguran yang terdengar sontak membuat Kyungsoo kembali menatap sang ayah dan tergugup canggung."A-Ah.. Tentang hasil ujian. Ni-nilainya terbit pagi ini, Dad."

Chanyeol mengulurkan tangannya menerima lembaran kertas yang diberikan sang putri dan mengamatinya dengan seksama sebelum melukiskan senyum puas untuk hasil yang didapat anak beserta istrinya."Ini bagus. Jadi apa yang bisa Daddy lakukan untukmu sayang?"

"Eum.. Bolehkan aku pergi liburan bersama ibu tiri ah—Baekhyun. Maksudku ehe.."

Gadis itu terkekeh riang dengan mata bulatnya yang dipenuhi binar hingga Chanyeol yang melihatnya tak benar yakin untuk menolak meski ia ragu untuk melepaskan Baekhyun dari pandang.

"Oke. Akan Daddy pikirkan tapi untuk sekarang jadilah anak baik dan pergi sarapan. Jangan ganggu Mommymu, dia kelelahan."

"Yeay! Terima kasih Dad!"

Pintu kembali tertutup dan sosok manis itu menghilang dengan debuman yang terdengar. Chanyeol kembali menatap istrinya dan menghela ringan saat bahunya melunglai dan nafasnya tak lagi memburu. Kyungsoo benar, ia hanya perlu memberi Baekhyun jarak dan semuanya akan baik-baik saja.

"Baekhyunee, kau ingin pergi?"

Sosok itu kembali berbalik dan mengintip dari celah selimut yang menutupi tubuhnya,"Boleh?"

Dan Park Chanyeol kembali dalam mode normalnya sebagai si suami paling manis didunia."Tersenyumlah dan katakan kau akan baik-baik saja. Aku akan mengizinkamu pergi."

"Aku akan baik-baik saja."

Senyum cerah dengan aura hangat yang menguar membuat Chanyeol luluh seketika,"Baiklah. Kau boleh pergi sayang."

"Terima kasih, Chanyeollie~"

"Anything for you, Princess."

.

.

Jongin mengeluh karena pagi harinya dimulai dengan awalan yang buruk. Kepalanya berdentam-dentam, telinganya pengang seolah ada sosok DJ didalam kepala yang memutar musik EDM keras-keras dan menyahut semua orang dilantai dansa untuk berteriak riuh seiring pagi menjemput.

Jongin tidak sedang hangover apalagi mabuk-mabukan di pagi hari, semua ini dimulai dengan rasa empatinya yang kadang benar-benar tak memberinya celah. Seharian kemarin ia harus stand by dirumah sakit menggantikan seniornya yang tengah hamil besar dan belum mendapat cuti. Sebenarnya ia bisa saja pulang dan beristirahat tapi bagaimana bisa ia tega melihat perempuan berperut besar terjaga semalaman hanya untuk tugas?

Dan well, inilah hasilnya. Tenggorokannya perih bukan main dan matanya berkunang-kunang.

Ia terserang demam.

Terserang demam adalah ide yang buruk karena ia tidur seharian dan menjadi seonggok daging tidak berguna. Tapi ide terserang demam ditambah dengan nasihat penuh kasih sayang dan jitakan manis tidak pernah Jongin sangka akan menjadi ide yang sangat sangat bagus.

"Sudah aku bilang jangan lupakan vitaminmu! Lihatlah hasilnya sekarang! Berhentilah membantah dan jangan jadi manusia bebal kalau begini—" blablabla

Karena dengan demamnya, Jongin bisa mendapati sosok Kyungsoo didepannya untuk waktu yang lama tanpa bantuan alat komunikasi digital apapun.

Pria itu duduk menyandar diatas sofa dengan senyum idiot yang tak pernah lepas. Irisnya yang nampak sayu tak berhenti bergerak terus mengekori kemana pun sosok gadisnya pergi walau tak bohong, ceramah penuh kasihnya buat telinganya makin pengang. Well, masa bodoh telinganya makin pengang lagi pula mana bisa ia menutup telinganya dengan alasan pengang sementara suara tinggi itu adalah yang ia rindukan selama berminggu-minggu.

"Beruntung aku kemari jika tidak—Hei Kim Jongin! Kau mendengarkan aku tidak sih?"

Dengan tampang yang dibuat-buat Jongin menatap Kyungsoo dengan senyum yang kelewat lebar,"Aku dengar sayang, teruskan saja."

"Apa—Kau mengejekku ya?!"

"Tentu saja, tidak. Aku mana berani sayang?"

Kyungsoo mencebik, kemudian kembali dengan kegiatannya menggeledah isi dapur sang kekasih."Jongin, dimana kau taruh termometernya?"

"Huh?"

"Termometer Kim Jongin! Pergilah ke bagian telinga besok!"

"Aish sayang, kau jahat sekali. Aku menyimpannya ditempat yang tinggi, lupakan saja termometer dan beri aku parasetamolnya."

Sebenarnya itu adalah godaan halus yang akan membuat pinguinnya meledak, Kyungsoo benar-benar tidak suka jika masalah tinggi badannya sudah disebut-sebut. Well, phobia mungkin? Tunggulah sebentar Jongin yakin sebentar lagi omelan panjangnya akan terdengar dan kalau sudah begitu—

"...menyebalkan! Tahu begini aku tidak akan meminta izin untuk pergi menemuimu, masih banyak tempat lain yang bisa aku gunakan untuk menghabiskan waktu liburan dari pada—"

Chup!

"Maaf, Tuan Putri."

"Jongin.."

Kyungsoo mencicit malu-malu dan Jongin tersenyum puas melihat wajah kekasihnya memerah bak kepiting yang baru direbus."Manis sekali.. Kalau begini terus aku bisa mati muda,"

"Jangan! Nanti siapa yang menungguku dialtar?"

Mereka saling tatap dan kemudian tawa bahagia meledak begitu hebat diantara keduanya. Jongin memeluk Kyungsoo erat-erat dan tertawa tanpa beban dengan gadis itu dipangkuannya.

"Tentu saja aku, selalu aku dan hanya aku. Benarkan?"

Kedengarannya memang chessy siapa menyangka jika Nona muda galak seperti Kyungsoo bisa bertingkah begitu? Dan well.. hanya Kim Jongin yang bisa membuatnya begitu. Senyum Kyungsoo tersunging tulus dan perempuan itu mengangguk semangat sebelum kemudian melingkarkan lengannya dileher Jongin dan menyandar manja."Eum.. Aku hanya ingin itu kau. Tapi ngomong-ngomong apa kau masih kuat menungguku?"

Kalimatnya terdengar menyindir dan Jongin menyerngit tersinggung,"Hei.. Aku tidak setua itu sayang. Lihatlah ibu tirimu si lebah centil itu. Dia bahkan menikahi ayahmu yang usia lebih jauh diatasku. Masa kau tidak mau?"

"Tapi Jongin.. Kedengarannya tidak keren tahu."

"Jadi kau akan cari yang baru?"

Kyungsoo tersenyum kemudian menatap sang kekasih tepat di orbs kelamnya."Anhi.. Kau saja sudah cukup. Lagi pula tidak apa-apa, kalau pun nanti kau jadi Ahjussi kau kan Ahjussi tampan!"

Derai tawa kembali pecah dan Jongin merasa begitu gemas hingga menggoda kekasihnya hingga saling berguling diatas lantai dan tertawa kegelian. Berbagi kebahagian sederhana dengan saling merasakan kehadiran satu sama lain yang begitu hangat sebelum akhirnya terkapar kelelahan.

"Tapi ngomong-ngomong, bukankah kau akan datang dengan Baekhyun? Kau titip diloket mana calon ibu mertuaku sayang?"

Nafas Kyungsoo masih berantakan, namun gadis itu tak urung menjawab dan merubah posisinya jadi berbaring menyamping dengan sebelah tangan Jongin sebagai bantal,"Baekhyun menolak ikut dia bilang ingin minta maaf pada Daddy. Sebenarnya aku juga tidak akan pergi, tapi kau demam dan tidak ada yang merawatmu."

Sontak Jongin menunduk dan menatap heran pada sang kekasih,"Menolak?"

"Hum," Kyungsoo mengangguk,"Kau tahu.. Sejak bertengkar hebat dan Baekhyun masuk rumah sakit hubungannya dengan Daddy jadi begitu dingin. Aku bahkan berkali-kali melihat Baekhyun menghindari ciuman Daddy."

"Eheyy.. Kau pengintip kecil!"

"Yah! Aku hanya tidak sengaja lihat!"

"Tapi bagus juga sih, kalau ibu tirimu ikut mana boleh kau menempel begini padaku. Iya kan?"

Kyungsoo mendongak dan gadis itu bergidik menemukan eskpresi menggoda sang kekasih yang sudah mirip Ahjussi tua yang menggoda bocah sd.

"Hyaak! Eskpresimu Kim Jongin! Menjauh dariku!"

"Kyungsoo~"

"Minggir aish!"

"Kyungsoo ya~ Kyungsoo!"

.

.

Baekhyun tengah bersandar santai mengusir sakit kepalanya dengan menikmati pemandangan dari balkon, namun semuanya berubah kacau saat rasa mual itu melejit hebat melalui kerongkongannya.

Ia harus mati-matian menahan bobot tubuhnya agar tidak menguap dan berlari ke kamar mandi. Merelakan tenaganya untuk mendorong cairan kuning yang melesak hebat melalui esofagus.

Mual itu mendera hebat, tubuhnya terdorong kedepan disusul suara muntah yang menyakitkan terdengar nyaring. Baekhyun bersimpuh lemas kemudian mengusap air mata yang meleleh membasahi wajahnya yang pucat. Lagi-lagi tercondong kedepan dan memuntahkan isi perutnya yang tak lebih dari cairan kuning. Ia belum makan apapun sejak pagi.

Seorang pelayan yang berada dibelakangnya turut bersimpuh dan memberikan handuk padanya,"Nyonya, apa anda ingin saya menghubungi Tuan besar?"

Baekhyun menggeleng panik, tidak. Chanyeol tidak boleh tahu tentang keadaannya. Sama sekali tidak boleh!

"Jangan bibi Ma. Aku tidak ingin membuat Chanyeol khawatir, tolong jangan beritahu siapapun termasuk Kyungsoo. Aku tidak ingin merepotkan mereka."

Kepala maid itu pun mengangguk patuh mengikuti titah sang Nyonya muda kemudian membantu majikan kecilnya itu untuk beranjak membasuh wajah dan membantunya berpakaian.

"Apa Nyonya sungguh tidak ingin saya menelpon Tuan besar?"

Pertanyaan itu kembali diajukan saat kepala pelayan Ma membantu sang Nyonya untuk kembali berbaring dan merapatkan selimut. Gelengan lemah yang diberikan sebagai jawaban membuat wanita paruh baya itu menghela prihatin.

"Maaf jika saya lancang, Nyonya. Apakah.. Apakah mungkin Nyonya tengah mengandung?"

Kepalanya yang terasa pening dan matanya yang terasa berat sejenak seolah mati rasa, sipit Baekhyun terbeliak liar saat mendengar perkataan pelayannya."Ha—Hamil?"

"Nyonya masih sangat muda dan saya khawatir jika Nyonya tidak mengenal tanda-tandanya. Apakah Nyonya ingin saya menelpon dokter keluarga?"

Hamil?

.

.

Bagaikan robot rusak, Baekhyun hanya terdiam kaku dan menanti dengan cemas. Berjalan lurus tak tentu arah hingga kini ia berdiri tepat disebuah klinik didaerah Apgujeong. Klinik teman Chanyeol yang beberapa waktu lalu membantunya.. Klinik Luhan.

Sejenak ia menundukan kepala, menatap perutnya yang masih datar kemudian mengusapnya hati-hati. Haruskah ia masuk? Tapi apakah ia sanggup menerima hasil tesnya apapun itu? Ia sudah berhasil buat kepala pelayan Chanyeol bungkam. Apakah ia juga bisa melakukannya pada teman Chanyeol? Apapun hasilnya?

Baekhyun termenung kacau. Kepalanya dipenuhi berbagai macam racauan ketakutan yang membuat tangannya mendingin dan bergetar. Lagi,

Haruskah ia masuk?

Baekhyun masih sangat ragu namun keraguan itu lenyap seketika saat suara lembut seorang perempuan menyapanya,"Baekhyun? Kau Baekhyun kan?"

Bau obat-obatan yang menyengat membuat Baekhyun mual namun gadis itu menahannya sekuat tenaga, kepalanya pening namun ia mencoba duduk dengan tegak. Ia tidak boleh menunjukan sisi lemahnya didepan siapapun. Termasuk Luhan.

"Minumlah kau nampak pucat."

Wangi mint menyeruak dan segelas teh yang mengepulkan uap tersaji didepannya. Baekhyun mengatakan terima kasih kemudian menerima tehnya dengan senang hati.

"Baekkie. Boleh aku memanggilmu begitu?"

Sahutan akrab yang ditujukan membuat Baekhyun mendongak dari cangkir tehnya lalu turut tersenyum membalas sapaan yang dilontarkan,"Tentu saja, unnie. Kau boleh memanggilku, Baekkie." Rasanya menyenangkan karena tak ada lagi yang memanggilnya begitu belakangan ini.

"Baiklah, Baekkie. Cukup panggil aku Luhan, jangan membuat aku merasa tua oke?"

Lagi, Baekhyun tersenyum hingga matanya nyaris menyipit,"Oke!"

Senyum itu menular dan mau tak mau, Luhan turut menyungingkan senyumnya,"Nah jadi apa kau sengaja berkunjung?"

Senyumnya yang tersunging luntur begitu saja membuat Luhan bertanya-tanya apa yang terjadi,"Hei Baek.. Tenanglah dan ceritakan apa yang terjadi hm?"

Tapi Baekhyun hanya diam dan itu membuat Luhan makin khawatir."Baek?"

"Apakah.. Apakah kau mau berjanji untuk tidak beritahu Chanyeol?"

Luhan menggigit bibir bagian bawahnya. Baekhyun baru saja memberinya pilihan yang sulit. Bagaimana bisa ia merahasiakan sesuatu dari Chanyeol sementara pria itu selalu menempatkan orangnya dimana pun? Park Chanyeol adalah posesif sejati, Luhan tahu pria itu menempatkan beberapa orang untuk membuntuti putrinya dan bukan tidak mungkin pria itu juga melakukan hal yang sama pada istrinya.

"Lu?"

Tapi kerjapan mata Baekhyun yang terlihat linglung dan begitu butuh pertolongan membuat Luhan tak tega. Apa yang dipunyai Baekhyun untuk menolong dirinya dari cengkraman Chanyeol? Tidak ada. Tidak ada sama sekali. Jadi, bukankah ia harus membantu? Masalah Chanyeol akan jadi urusan belakangan.

Lantas Luhan menegakan dagunya dan mengangguk pasti,"Tentu, itu hal yang mudah, Baek. Berceritalah padaku."

"Aku.. Aku.. Belakangan ini aku selalu merasa pusing dan mual, Chanyeol tidak tahu karena ketika mualnya terasa dia sudah pergi. Tapi tadi pagi.. Kepala pelayan Chanyeol bilang mungkin aku hamil. Apa.. Apa itu benar?"

Hamil? Park Chanyeol mengambil langkah bodoh dengan menghamili seorang bocah?

Rahang Luhan mengeras dan tangannya terkepal. Si bodoh itu!

"Eum.. Lu?"

Sahutan Baekhyun yang terdengar lembut menarik Luhan kembali kealam sadar. Buru-buru ia menyembunyikan air mukanya dan tersenyum pada Baekhyun."Itu mungkin terjadi tapi sebelum aku memeriksanya, bisakah kau jawab beberapa pertanyaan?"

Baekhyun mengangguk ringan tanpa beban.

"Kapan terakhir Chanyeol menyetubuhimu?"

Gadis itu menggigit bibir bawahnya,"Ngh.. Saat dia memaksaku."

"Kapan terakhir kau mendapat periodemu?"

Pertanyaan Luhan menyasar intinya dan Baekhyun dibuat blank tiba-tiba. Ia menghitungnya dalam benak dan menjawabnya dengan suara bergetar,"Masa periodeku yang seharusnya sudah hampir terlewat tiga minggu.." dan Baekhyun tak mempu melanjutkan kalimatnya.

Dokter cantik itu segera beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah alat tes."Celupkan batang ini pada urinmu dan tunggu selama tiga menit. Jika garisnya dua berarti kau positif. Cepatlah.."

Tubuhnya terdorong kedalam kamar mandi dan Baekhyun memandang bingung alat ditangannya dengan tangan bergetar.

Bagaimana jika benda itu menunjukan dua garis merah seperti yang Luhan katakan? Bagaimana jika ia hamil? Bagaimana jika Chanyeol tidak senang dengan kehamilannya? Bagaimana jika pria itu meminta agar janinnya diluruhkan? Lalu bagaimana jika Kyungsoo memusuhinya? Bagaimana jika ayahnya tahu dan ia malu? Bagaimana.. Bagaimana jika—

"Baekhyun tidak apa-apa, lakukan tesnya hm?"

Mengikuti perintah Luhan, Baekhyun mulai membuka pack yang ada ditangannya dan mengikuti semua instruksinya. Gadis itu meletakan tube kecilnya pada wastafel dan menunggu dalam ketakutan.

"Baek.. Kau baik? Keluarlah dan bawa hasilnya padaku, ini sudah lebih dari tiga menit."

Suara yang terdengar dibalik pintu menyentak Baekhyun dari ketakutannya. Perempuan itu melirik kearah pintu kemudian melihat alat tes didepannya dengan ragu. Tangannya bergetar dan air matanya menggenang, sungguh Baekhyun tidak siap dengan apa yang akan dialaminya setelah ini.

"Baekhyunnie?"

Suara itu terdengar lagi. Baekhyun meraih test packnya ragu, menutup indikatornya sebelum kemudian melihatnya pelan-pelan dan..

"Hiks.."

Ia menangis kencang.

Luhan menerjang masuk dan buru-buru membawa gadis itu kedalam pelukannya."Hei.. Tidak apa-apa. Jangan menangis. Apapun hasilnya tidak akan ada yang marah padamu. Jadi jangan takut hm? Jangan menangis?"

Merasakan tubuh ringkih dalam pelukannya membuat Luhan bertolak ke masa lalu, dimana ia mendapati hal yang sama namun tak seorang pun ada disampingnya. Bahkan suaminya. Ia tahu bagaimana rasanya dan apapun hasil tesnya, Luhan tidak akan pernah membiarkan perempuan mana pun mengalami hal yang sama apalagi didepan matanya. Sejenak Luhan mencuri pandang dan menemukan dua garis disana. Apa ini yang membuat Baekhyun menangis?

"Baekhyunnie.. Kenapa kau menangis hm? Kau harusnya senang, ini hadiah yang sangat luar biasa."

Tapi gadis itu menggeleng dengan irisnya yang dipenuhi sinar kepedihan,"Bagaimana jika Chanyeol tidak suka? Bagaimana jika Chanyeol memintaku untuk melenyapkannya. Bagaimana hikss—"

Ucapannya hilang ditelan tangis dan Luhan meringis menahan pedih. Baekhyun tidak bisa disalahkan dengan pemikirannya. Segala yang ia dapat Chanyeol dari kelembutan hingga perlakuan kasarnya telah menyebarkan racun berbahaya dalam pikirannya.

"Tidak, Baekhyun-ah. Percayalah padaku, mana mungkin dia melakukannya? Yang ada didalam perutmu ini adalah darah dagingnya. Mana mungkin dia tega? Chanyeol sangat menyayangimu."

Tangisnya sedikit mereda, ia terpengaruh dengan ucapan Luhan dan gadis itu melayangkan tatapan penuh harap yang membuat siapapun teriris melihatnya,"Benarkah?"

Dan Luhan menyembunyikan luka sayatan itu dengan senyum lembut dan usapan dipucuk kepala yang lebih mungil."Tentu, Baekhyunnie. Dia sangat mengharapkanmu disisinya."

Baekhyun bagai tersihir mantra. Benarkah Chanyeol menyayanginya? Benarkah Chanyeol mengharapkannya?

Apakah boleh Baekhyun juga berharap? Meski ia menyangkal dan mencoba untuk bersembunyi dibalik kata baik-baik saja. Pemikiran jika Chanyeol hanya menginginkan tubuhnya begitu menyiksa dan memberikan bilur mengerikan yang semakin parah dari hari ke hari. Baekhyun begitu linglung, ia ingin Chanyeol. Ia tidak ingin Chanyeol meninggalkannya.

"Apa Chanyeol tidak akan pergi? Apa Chanyeol tidak akan mengusirku pergi? Apa dia akan tinggal?"

Baekhyun tidak masalah jika setiap malam pria itu mengikatnya diatas ranjang dan meneriakinya dengan berbagai umpatan asal pria itu tetap disisinya. Terbangun dengan rasa sakit masih jauh lebih baik daripada terbangun sendiri tanpa harapan.

"Apa.. Apa.. Chanyeol akan menyayangi bayiku?"

Bagaimana bisa Byun Baekhyun berpikir seperti ini? Bagaimana bisa seorang gadis polos sepertinya seperti kehilangan pegangan hanya karena Park Chanyeol? Luhan tersenyum sendu kemudian kembali mengangguk,"Chanyeol akan sangat menyayangi bayi kalian."

"Apa Chanyeol mencintaiku?"

Luhan terdiam dengan ekspresi membeku lalu tersenyum dengan cara yang sangat aneh namun tak mampu membuat Baekhyun yang diliputi oksitosinnya tahu dengan kebohongan itu."Eoh—Tentu saja, Baek."

Kabut gelap yang menyelimutinya hilang dalam sekejap dan sorot tanpa harapan itu tergantikan cahaya baru yang penuh kehangatan,"Tadi pagi aku menolaknya dan dia mungkin marah.. Tapi aku sangat ingin menemuinya.. Bolehkah.. Bolehkan aku menemuinya?"

Luhan tersenyum dengan cara yang begitu sedih,"Tentu. Temuilah suamimu kapan pun kau mau, Baek."

"Terima kasih Lu!"

Dan sampai kapanpun, Park Baekhyun adalah gadis naif yang terkadang menganggap semua hal berjalan sesempurna pemikirannya.

.

I'll Walk You Home

.

Senja terlukis pekat, salju pertama telah turun terbawa angin. Jadwal meeting maraton juga tumpukan berkas yang minta dihajar tidak pernah benar-benar membuat kacau sampai harus kehilangan fokus. Namun ini adalah kali keempat Minseok mendapati atasannya itu mengabaikan moderator rapat dan memandang gambar lain dalam tablet pcnya dengan sorot penuh kerinduan.

Minseok tak bermaksud kurang ajar, namun ia tahu jelas jika frame yang sedari tadi ditatap Presdirnya tak lain adalah sosok istrinya sendiri. Park Baekhyun. Hal apa yang membuat Presdirnya tampak begitu frustasi?

Jemarinya masih bermain diatas layar tablet pc sampai kemudian sahutan dari pemberi materi rapat membuat Chanyeol mendongak,

"Presdir?"

"Rencana tim kalian cukup bagus. Kau harus mengembangkan strateginya agar kita memenangkan proyek itu secara utuh tanpa campur tangan pihak asing. Siapkan rancangannya dan berikan padaku. Deadline kalian satu minggu dari sekarang dan untuk hari ini rapatnya cukup."

Lampu proyektor dimatikan dan seluruh staff beranjak memberi hormat. Sosok Presdir Park menutup rapat dengan lugas kemudian menghilang dibalik pintu ganda menyisakan helaan nafas penuh protes yang ditinggalkan para bawahannya.

"Apa aku masih punya beberapa agenda?"

Minseok masih mengekor dibelakang sang boss besar dan mulai membuka catatannya,"Anda telah menuntaskan semuanya, Presdir."

"Bagus. Besok aku harus pergi ke Busan, tolong email berkas-berkas urgent yang membutuhkan tanda tanganku dan katakan pada Oh Sehun dia punya tiga hari untuk tugasnya."

"Baik presdir."

Sosok tinggi atasannya nyaris menghilang dibalik pintu lift namun Minseok dibuat menahan nafas saat melihat sosok perempuan yang muncul disana. Oh tidak, permainan macam apa yang tengah dilakoni Presdirnya?

"Hai, Park."

.

.

Bau wine menguar pekat, pakaian berserakan dan desahan keras tak berhenti mengganti kesunyian dengan latar musim gugur yang menyedihkan. Sosok Park Chanyeol disana, dengan dasinya yang kemeja setengah terbuka, tengah menikmati hisapan pada kelelakiannya yang tengah diservice dengan professional. Tangan besarnya bergerak mencengkram rambut si wanita hingga kemudian geramannya datang diikuti dengan pinggulnya yang menyentak maju dan cairannya yang menembak keras.

Pria tinggi itu memejamkan matanya merasakan denyutan panas pasca klimaks dan detik berikutnya menyentak wanita itu berbaring diatas ranjang, melucuti pakaiannya dengan kasar dan memulai dengan sentuhan gilanya.

"Ohh sial—Ini Park Chanyeol yang kukenal sejakh lama.. A-apah yang membuatmu menelan ludahmu sendiri Parkh—Ahhh.."

Yebin kesulitan meneruskan ucapannya ketika pria itu menggumuli payudaranya dengan tidak sabaran dan begitu terdesak.

"Apa yang akan terjadi jika istrimu tahu Parkh.. Ohh.. Hisap terus sayaangh~"

Tapi air muka Chanyeol masih saja keras dan pria itu tak menunjukan tanda-tanda untuk membuka mulutnya selain untuk menikmati tubuh telanjang dibawahnya.

"Kau gila Park! Jangan tinggalkan tanda Oh.. Ohh.. Ahh!"

Senyum miringnya tersungging tampan dan pria itu menghujam miliknya seolah tak ada hari esok hingga membuat Yebin yang terkurung dibawahnya tersentak kuat seiring dengan tusukannya yang menggila.

"Oh shit! Baekhyun-ahh.."

"Chanyeolhh.. Lebih keras ughh.. Disana! Lebih keras Yeolh ohh.."

Pergumulan mereka terjadi begitu keras dan kasar, berkali-kali Yebin tersentak hingga tubuhnya terseret mundur dan perempuan itu harus pasrah saat tubuhnya dibalik paksa dan pinggangnya diangkat tinggi-tinggi. Hujaman penuh tenaga berkali-kali diterimanya hingga ia harus pasrah saat lagi-lagi pria itu membalikan tubuhnya menyamping dan kembali melesak masuk penuh kebutuhan. Dadanya dicengkram kuat diikuti geraman yang terdengar jantan dibelakangnya.

"Aku sampai Baekhyunnah.."

Dan yang ia tahu Park Chanyeol tidak akan pernah berhenti disini.

.

.

Sapuan lipsticknya menggores sempurna dan Yebin memperbaiki letak dress ketatnya sebelum berbalik dan bersidekap memandang sosok Chanyeol yang menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dan menutupi ketelanjangannya dengan selimut sebatas perut.

"Sudah kubilang. Kau terlalu jauh Chanyeol."

Pria itu menelponnya tengah hari dan memintanya untuk datang ke kantor. Well, sudah sejak lama dari terakhir kali si tinggi itu menelponnya dan benar-benar sialan Park Chanyeol yang harus membuatnya berbohong ditengah persiapan pernikahannya.

"Kau sudah mau pergi?"

Benar-benar si kepala batu yang tidak punya telinga. Bagaimana bisa pria itu mengabaikan ucapannya begitu saja?

"Bertahun-tahun bersetubuh nama yang kau sebut adalah Baixian. Dan sekarang, Baekhyun? Brengsek Chanyeol kau punya Byun Baekhyun diatas ranjangmu! Kenapa kau harus menelponku dan membuatku berbohong?!"

"Hati-hatilah, aku tidak bisa mengantarmu."

Yebin tak bisa lagi menahan gejolak amarahnya saat pria itu memunggunginya dan memunguti pakaiannya yang berserakan dengan begitu santai

"Oke. Aku tidak peduli. Tapi demi apa Chanyeol, kau pikir bagaimana perasaan Baekhyunmu jika tahu kau tidur dengan perempuan lain?"

"Kau bahkan tidak menolak, apa yang menjadi masalahmu?"

"Kau—" Yebin kehilangan kata-katanya dan ia hanya bisa menatap Chanyeol dengan pandangan penuh kebencian yang kental."Aku tahu kau brengsek Chanyeol. Tapi tidak dengan berkhianat, kau yang mengatakan itu padaku! Bagaimana bisa—Bagaimana bisa—"

"Kau tidak tahu apa-apa."

Suaranya begitu dingin hingga Yebin tertawa sarkastik dibuatnya."Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi Chanyeol kau tidak lebih brengsek dari jalang yang meninggalkanmu bertahun-tahun lalu. Kalian sama. Kau melukai istrimu seperti dia melukaimu padahal kau tahu, istrimu tidak bersalah sama sekali."

"Kau tidak seperti sosok Chanyeol yang aku kenal."

"Kau jahat, Yeol. Sangat jahat."

.

.

Baekhyun terdiam dengan perasaan aneh saat melihat potret kecil yang terbingkai manis diatas meja kerja Chanyeol. Disana tidak ada potret mereka sebagai keluarga utuh, hanya foto pernikahan mereka yang bersanding dengan foto Kyungsoo seorang diri. Entah kenapa itu membuat Baekhyun merasa aneh.

Kenapa Chanyeol tidak memilih foto yang memuat mereka bertiga?

Dan lagi, setelah Baekhyun perhatikan ada yang aneh dengan ekspresi Chanyeol dalam foto pernikahan mereka. Apakah itu perasaannya saja atau—

Bruk!

Baekhyun berjengit terkejut saat tak sengaja menyenggol sebuah berkas hingga berakhir berserakan diatas lantai. Buru-buru ia membungkuk bermaksud membereskan kekacauan yang ia buat. Baekhyun bersimpuh, kembali menyatukan berkas yang tercecer namun tercekat saat melihat foto yang ia lihat disana.

Siapa perempuan berambut merah ini? Kenapa wajahnya begitu mirip?

Baekhyun membalikan foto itu dengan tangan bergetar dan menemukan sebaris kalimat yang mencekik dibaliknya.

Baixian, Monte Carlo—France.

"Baixian?"

Pikirannya berputar, dadanya terasa diremas dengan begitu kuat dan sebelah lutut yang menyangga diatas lantainya ambruk seketika. Tawa sumbangnya terdengar begitu menyakitkan namun Baekhyun masih mampu mengusap air matanya yang turun dengan deras meski tanpa suara.

'Ibu Kyungsoo adalah cinta pertamaku dan usinya hampir lima tahun diatasku, saat itu dia adalah perempuan dewasa yang cantik dan membuatku jatuh cinta setengah mati sampai gelap mata.'

Perempuan ini adalah ibu Kyungsoo..

'Aku sangat mencintainya dan setiap kali pikiran jika dia akan pergi dariku datang aku seperti orang gila.'

Perempuan inilah yang begitu dicintai Park Chanyeol..

Inilah alasan pria itu menikahinya. Inilah alasan pria itu terlihat begitu menyayanginya. Inilah alasan pria itu membawanya jatuh kedalam porosnya yang gelap. Karena parasnya, karena tubuhnya, karena dirinya begitu sama dengan perempuan yang masih begitu dicintainya dimasa lalu.

Pria itu berbohong padanya. Pria itu tidak pernah bersungguh-sungguh dengan janjinya.

'Kenapa harus aku? Aku adalah anak kecil yang baru saja mengalami patah hati, Ahjussi.'

.

'Karena aku yakin hanya aku bisa menyembuhkanmu. Aku bersedia menjadi tempat kembali untuk hatimu, Baekhyunnee.'

.

Ahjussinya datang menyembuhkan bekas luka dan hanya untuk membuatnya makin parah.

Ahjussinya datang dengan janji kosong yang begitu pahit dan menggetirkan.

Ahjussinya datang dengan kasih sayang semu yang menggoresnya dengan pisau kebohongan yang paling manis dan mengantarnya pada titik kehancuran yang makin buruk.

Segala tentang Ahjussinya adalah angan-angan dalam musim panas. Janji dan kasih sayangnya hanya fatamorgana yang membuatnya berlari diatas pasir sejatam serpihan karang. Tempat yang Ahjussinya tawarkan untuk tempat kembali adalah sebuah rumah rusak yang sama sekali tidak bisa diperbaiki yang kini akhirnya rubuh yang menimpanya tanpa celah lari.

Park Ahjussi yang ia sayangi menikahinya hanya untuk menjadikannya boneka pengganti. Park Ahjussi yang ia cintai hanya menginginkan tubuhnya. Saat Baekhyun telah menganggapnya sebagai malaikat yang mengeluarkannya dari kegelapan Park Ahjussi hanya menganggapnya jalang kecil murahan yang bisa dia mainkan sesuka hati. Yang bisa ia rusak dengan cara yang paling jahat.

"N—Nona Baekhyun?"

Ketukan langkah terdengar. Gadis itu beranjak dengan tawa keringnya yang terdengar getir dan menyakitkan."Sekertaris Kim, kemana suamiku tersayang pergi?"

"Presdir Park.. Presdir Park—"

"Apa kau juga akan mencoba membohongiku?!" suaranya terdengar keras tak terkontrol dan pecah dalam tangisan yang menyayat hati,"Hiks.. Cukup suamiku saja yang membohongiku! Katakan kemana dia pergi setelah berhasil membohongiku seperti ini?! Jangan bohongi aku lagi.. Aku mohon.. Hikss.."

"No—Nona.. Presdir Park pergi ber—bersama Nona Kim.."

Butiran salju yang turun turut menghantarkan Baekhyun pada titik lemahnya yang paling parah tanpa pegangan. Membeku diatas tanah dan bersiap pergi dalam sapuan musim."Hikss.. Dia bahkan melakukan ini padaku.. Bagaimana bisa Park Chanyeol begitu kejam? Bagaimana bisa? Hikss.."

.

I'll Walk You Home

.

Chanyeol larut dalam lamunannya sendiri, ditemani sebotol anggur mahal berusia puluhan tahun bersama jalanan Seoul yang mulai memutih. Nafasnya nampak tenang namun kekauan diwajahnya tak kunjung mencair dan tetap sama. Pria itu menyesap winenya dengan tenang dan menatap kota Seoul dibalik dinding kaca.

Suasana suite room bar hotelnya sangat tenang dan hanya diisi dengan musik klasik yang mengalun tenang dari piringan hitam dan Chanyeol memanfaatkannya dengan baik untuk mengurai kusut yang tak kunjung terlihat ujungnya. Memilih melarutkan diri bersama berbotol-botol anggur karena tak seorang pun akan menyambutnya dirumah.

Istri dan anaknya tengah pergi berlibur bersama mengingat tak seorang anak buah pun memberi laporan maka keadaan kedua kesayangannya itu haruslah baik-baik saja.

Setidaknya itu lebih baik, mungkin memberi Baekhyunnya jarak untuk sementara akan sedikit membuahkan hasil dan gadis itu akan berhenti menjauhinya. Ditolak gadis itu berkali-kali membuat tempramennya memburuk tanpa ampun. Frustasi yang dialaminya berkali-kali lipat meningkat dan membuat otaknya kacau. Menghubungi Yebin tidak pernah hadir dalam pikirannya, tapi pagi tadi saat gadis itu menolaknya itu benar-benar membuatnya marah dan sisi gelapnya hadir tanpa bisa dikontrol.

Tapi setelah mendengar apa yang Yebin katakan semuanya menjadi lebih jelas dan Chanyeol menyesal. Ia tidak seharusnya melakukan ini, bagaimana jika Baekhyunnya tahu apa yang baru saja ia lakukan? Gadis itu pasti akan sangat kecewa dan tersakiti.

Pelipisnya menegang dan menimbulkan denyut yang menyakitkan. Chanyeol kembali meminum winenya dan menghela nafas. Ia merasa begitu buruk dan keinginan untuk menemui Baekhyun begitu besar namun ia harus menahan diri. Ia tidak boleh membuat kekacauan lagi atau Baekhyun akan semakin menolaknya.

Kerinduannya pada gadis itu membawa Chanyeol pada fantasinya yang terasa nyata, ia merasa gadis itu memeluknya dari belakangan dan menempatkan ciuman yang begitu sensual dibahunya. Lengan gadis itu melingkari perutnya dengan begitu erat dan jemarinya bergerak nakal menanggalkan kancingnya kemudian menelusup nakal.

"Chanyeollie~"

Dan saat suara itu mengudara, Chanyeol membalikan tubuhnya dan membulat saat menemukan sosok yang nampak begitu berbeda disana."Ba—Baekhyun?"

"Eung~ Apa Chanyeollie tidak merindukanku?"

Wanginya yang begitu sensual dengan rambut merahnya yang luar biasa mencolok membuat Chanyeol merasa tercekik hebat. Apakah ini benar-benar Baekhyun polosnya? Kemana perginya rambut hitamnya yang berkilau? Kemana perginya parasnya yang lugu tanpa tambahan make up memuakan?

Siapa yang tengah mengusak dadanya dengan begitu mengundang dengan pakaiannya yang bahkan tak mampu menutupi setengah dadanya?

"Chanyeollie~ Kenapa diam saja?"

Chanyeol menunduk, menatap tepat pada iris yang tertutupi lensa kontak berwarna coklat. Apa yang terjadi dengan Park Baekhyunnya yang manis?

"Chanyeollie.. Ada apa? Apa.. Apa aku terlihat aneh? Apa Chanyeolie tidak suka?"

Kerjapan polos itulah satu-satunya yang membuat Chanyeol yakin jika ini adalah Baekhyunnya yang manis dan bukan sosok lain yang coba ia buang jauh-jauh bayangnya.

"Chanyeollie!"

Pekikan kekanakan itu membawa Chanyeol kembali kealam sadarnya dan kembali dalam mode normal,"Hei sayang.. Bukankah kau pergi bersama Kyungsoo?"

Sosok Baekhyun melingkari lehernya dengan manja dan bergelayut didadanya benar-benar membuat Chanyeol berdebar cemas. Apa sebenarnya yang terjadi? Kemana perginya Baekhyun yang selalu menghindarinya dan lari tunggang langgang? Chanyeol senang, sungguh senang karena gadis itu tak lagi menjauhinya, tapi apakah ini suatu pertanda yang bagus?

"Tidak.. Aku berpikir untuk memberimu kejutan apa kau suka?"

Belahan pinkishnya yang lembut menggoda kini berhias sapuan hot red yang membuatnya makin terlihat menggiurkan. Tubuh sintalnya yang selalu tertutupi pajama sopan bermotif kekanakan berganti dengan dress dengan tali spagetti yang berpotongan dada rendah. Dan Baekhyun masih bertanya apakah Chanyeol suka?

Pria itu menyungingkan senyum tipis kemudian mengecup kening yang tereskpose jelas karena rambutnya digerai kebelakangan,"Aku suka, tapi kau terlalu banyak mengumbar asetku sayang. Apa yang membuatmu begitu berani hm?"

Gadis itu tak segera menjawab namun semakin berani menjajahkan bibirnya dileher sang pria sementara jemarinya bergerak lihai didada."Mungkin.. Karena merindukanmu? Ah.. Entahlah.."

"Siapa yang mengantarmu kemari?"

Chanyeol menyentakan tubuh gadisnya dan mengukung tanpa celah lari dengan tubuh mungilnya yang terdesak diantara dada bidangnya dan dinding kaca. Menunduk dan menjajahkan hidungnya yang tinggi pada wajah si mungil yang terpejam dengan bibir yang setengah terbuka.

"Eumh.. Itu rahasia sebenarnya tapi baiklah, aku menelpon Kim dan dia bilang jika Tuannya tengah-tengah minum-minum sendirian. Jadi tuan, ingin aku menemanimu minum?"

Kedipan menggoda dengan remasan berhasrat ditengkuknya membakar habis kesabaran Chanyeol. Pria itu merunduk cepat dan menangkap belahan berwarna merah menggoda itu dengan penuh hasrat diiringi remasan didada.

Park Baekhyun berhasil menyulutnya dengan cepat.

"Ahmm—"

Lenguhan itu terdengar merdu saat keduanya mengambil jarak untuk mencari sudut yang panas. Baekhyun memilih membuka matanya menatap begitu intens pada Chanyeol yang tengah menikmati bibirnya dengan mata terpejam, mengusap rahang pria itu dan mati-matian menahan air matanya yang hendak melesak turun.

Tidak apa-apa Baek, tidak apa-apa..

Memejamkan matanya kemudian melingkarkan lengannya dileher Chanyeol hingga pangutan mereka tercipta makin dalam. Mendesah keras tanpa tahu malu saat tangan besar pria itu mulai turun merayapi paha dalamnya dan menggoda dengan panas.

"Ahh"

Baekhyun menjadi pihak pertama yang melepaskan ciuman mereka, kepalanya mendongak dan matanya terpejam nikmat dengan desahannya yang melolong keras saat pria itu menyelinap begitu ahli kedalam lubangnya yang basah. Desahannya ia tahan, bibir bawahnya ia gigit sensual dan jemari lentiknya menyusuri rahang kokoh si pria.

"Hei, tuan tampan.. Bisakah kita mendapatkan kamar?"

.

.

Pintu menjeblak kasar, tubuh Baekhyun terdesak begitu saja pada sudut pintu dan tali spagettinya turun. Tubuhnya diraba habis-habisan dan bibirnya kembali tertawan dalam buaian panas. Gadis itu tak lagi menjadi pihak yang pasrah, tangannya turut bergerak mengusap dada prianya naik turun sedangkan yang lainnya semakin turun hingga berhenti tepat pada gembungan menyesakan dibalik celana.

Jemari lentiknya bergerak cepat menurunkan zipper, meloloskan kejantanan sesak itu dari sangkarnya dan mengurutnya pelan naik turun.

"Ohh.. Baekhyunee.."

Gerakannya makin cepat, Baekhyun semakin berani remasan tangannya makin bertempo cepat dan gadis itu melepaskan kuluman didadanya untuk kemudian berlutut mengoral kejantanan sang pria dengan mendongak menampilkan mimiknya yang erotis.

"Sial.. Mulutmu akh!"

Chanyeol bergerak tidak sabar, ia menarik pinggunglnya mundur meraih gadis itu kedalam pelukannya kemudian kembali memangutnya dalam cumbuan panas. Melingkarkan kaki sang gadis dipinggangnya kemudian mendudukan gadis itu diatas meja.

Menuntaskan pergulatan lidahnya, mulai turun meninggalkan jilatan yang diikuti gigitan membuat gadisnya mengejang dan mendesah keras.

"Yeohl~ Ohh Chanyeolh~"

Chanyeol berada dalam buaian hasratnya yang membutakan. Sebelah tangannya bergerak menyusuri lekuk gadisnya yang sempurna, membuang pakaian yang menutupi gadisnya dengan tidak sabaran dan menggumuli payudara yang melonjak bahagia dengan begitu gila.

Baekhyun mendesah keras, kehilangan dirinya sendiri dalam buaian hasrat yang menyimpan luka. Meremas rambut Chanyeol kuat-kuat dan terus meminta lebih seperti seorang jalang kelas atas.

Mulut panas pria itu makin turun, mengecupi perutnya yang telah polos dan Baekhyun berubah panik. Tidak. Jangan! Tidak boleh!

"Chanyeol!"

Gadis itu memekik, menarik tubuhnya menjauh mengundang satu kernyitan aneh dari sosok yang kini sejajar dengannya."Ada apa sayang?"

Baekhyun terdiam. Menatap Chanyeol yang kini menatapnya dengan pandangan yang sama. Pandangan yang membuatnya terhanyut.

"Baek?"

Pria itu mendekat, menyatukan kening mereka dan menggenggam erat tangan Baekhyun yang terasa dingin.

Baekhyun tak bisa menahan perasaannya lagi,"Apa kau mencintaiku?" desakan untuk mengetahui perasaan Chanyeol untuknya begitu kuat hingga ia tak bisa untuk kembali menunggu dan tetap diam.

Irisnya bersinar perih namun Chanyeol tak tahu benar apa makna dibaliknya. Pria itu terdiam atas pertanyaan yang belum pernah ia tanyakan pada dirinya sendiri.

"Tentu, Baek."

Suara pria itu begitu dingin dan kaku, membuat Baekhyun sadar jika itu adalah dusta manis yang lagi-lagi diterimanya. Bilur itu kini bertambah parah dan semakin berdarah.

Park Chanyeol membohonginya lagi. Hatinya terusik pedih dan Baekhyun tersenyum pahit,"Terima kasih, kalau begitu bisa kita lanjutkan?"

Gadis itu bergerak gelisah dengan rambut sang pria sebagai pegangan, begerak agresif sebelum akhrinya terdesak begitu hebat pada setiap hujaman si dominan yang penuh kebutuhan. Melolongkan desisan yang tak benar ia tahu apakah itu kenikmatan atau jeritan batinya yang telah kehilangan harga diri. Yang ia tahu hanya memasrahkan bagian hatinya yang tersisa sebelum habis hilang ditelan sakit.

Mereka bergerak gila, saling merengkuh untuk mendapatkan kenikmatan dan mencecap gila untuk sebuah pencapaian. Hingga dipuncak yang kesekian kalinya, saat saraf-saraf kenikmatan telah berdenyut keras, tubuh mereka ambruk. Baekhyun menangis hebat tanpa suara dengan wajah Park Chanyeol yang terlelap damai diceruk lehernya.

.

.

.

I want to take the stars and give them to your eyes

I'll give you my all, my everything

Sometimes I cry afraid I might lose you

Sometimes I feel you sleeping in my arms

I love you

.

.

.

Bersamaan yang malam yang makin luruh dan salju yang turun deras, Baekhyun meninggalkan ranjangnya yang hangat dan mengusap sapuan merah yang menjadi tanda jika dirinya telah kembali. Memunguti pakaiannya berceceran dan melangkah meninggalkan prianya yang terlelap tenang tanpa mencoba berbalik atau menangisi hatinya yang telah remuk redam dalam kebohongan yang terbalut manis dalam kotak hadiah dihari kasih sayang.

Baekhyun meninggalkan segala yang ia punya dan menggenggam serpihan harapan hidupnya yang tersisa. Perlahan berjalan menjauh bersama janin kecil tak bersalah yang tengah meringkuk nyaman dalam perutnya.

Menyambut dunia yang berbahaya berbekalkan kedua tangannya yang kecil juga bahu rapuhnya yang ringkih.

'Aku mencintaimu, Chanyeora.'

.

.

... and after all this times
I am still tragically yours

.

.

To Be Continue

.

.

.

Curhat:
Kantung muntah? Oke berhubung sekarang dibutuhkan nih gue bagi satu-satu /wkwkwk/
Kepanjangan? Apa kalo sampe 8k gini mending gue bagi dua aja apa gimana manceman?
Terus tentang up maapin yang minta gue up cepet-cepet ini usaha terbaik gue ngomong-ngomong gimana cepet gak? Nggak? Yodah gue mau pundung aja ah TT

.

Ayo cari uname kalian disini \^O^/

Megaku First review ea ciee ciee^^ untung Baekhyun setrong ea xD Nih dilanjut kak, ditunggu tanggapannya/ Baekbyours614 Lagu Davichi itu kak I love you even thought I hate you eaa xD manteb kan judulnya udah dilanjut nih kuuy ditunggu tanggapannya Minaabobok Makasih banget udah mau baca makasih juga semangatnyaa~ li'l chanbyun Cahyononya gak tulus kak! Ayo cekek rame-rame wkwk gimana sama chap ini? Kejawab nggak pertanyaannya? Ditunggu tanggapannya yaa yerseoul Hei ini dia tersangka yang ngaku XD Gue juga baper ngetiknya kak hehe kuuy ditunggu tanggapannya jangan lupa lagi eaa Guest paling males login emang lu :v betewe tan kalo lubaca gue mau bilang gue nemu yang mirip cemceman itu di tv sumpah ngakak gue auliua gue lupa gak sedia tissue kak maapin/ wkwk ditunggu ya tanggapannya~ selepy udah kejawab belum bingungnya kak? Garuk aja si ceye pake garpu taman dia bikin Baekkie kabur huwee TT n3208007 Figthing! Viantika hai kak~ Makasih banget masih support sampe sekarang gue terhura TT Banyak banget yang udah lupa soalnya TT ini dilanjutnya yaa ditunggu tanggapannya hulas99 Hamdalah ada yang inget wkwk Semoga bisa up lebih sering ya paling telat dua minggu sekali/ semoga deh haha takut dimutilasi dong guee/ Sipp cahyono dah ditinggalin nih, Luhan mah masih belum curhat ama gue kenapa dia wkwk udah dinext yaa kuuy direview Yoon745 Penasaran gpp sih kak asal jann digebet aja ya wkwk /plak/ kuuy ditunggu tanggapannya ssuhosnet peka banget kak elah xD Baekkienya udah hamil ya selametan hayu XD Guest Yahh begitu deh kak, maapin ya gue gak nyetok tisu '-' gope aja mau? Wkwk maulyaa keplosknya keinjek monggu ya? Wkwk.. cerewetnya disimpen dulunya xD Kuyy ditunggu tangapannya ema021096 udah dinext kuuy direview yaa^^ raguel1605 poor Cahyono jugaa hehe fansanakayam ingetin gue setok tisu besok kak wkwk/ busuknya kebongkaar sudah baekhyunnya pergi TT chanbaek1579 udah dinext kak ditunggu tanggapannya^ parkobyunxo Hayooo masih kecewa gak? Baekhyunnya ngibrit nih pake adu mulut tapi bukan urat wkwk xD Chanyeol belum insyap disadarkan wae kuuy haha /peka tidak ya-peka tidak ya wkwk/ makasih reviewnyaa bikin ketawa mulu betewe line berapa? Ay aduh gimana gue cintrongnya bangKyu aja atuh gmana wkwk udah dinext yaa EvieBeeL penggal chanyeol gantinya xD dia perusuhnya nih kak wkwk Michiko Yoshinora Klemente Iya diusahain lebih sering yaa kopel mesumnya nanti dulu wkwk Dudu Luv Nini keploks lu diinjek sapa kak? Toben? Hei jangan salahin gue wkwk.. Pikniknya entar dulu yaa sekarang gue yang butuh piknik wkwk ParkYooAh Heii kakak ini nantang buat ditelen Baekhyun ya? Wkwk BaekHill Baper ya kak gue juga yang bikinnya baper muehehe Saku Cherry1 Aish ini reader panutanQ wkwk makasih supportnya upnya tahun depan gpp? Wkwk Pirydam Gapapa kak cup cup cup mangaat Hunel112 dilanjut ya kaak Hyuniee86 ceyenya ahjussi labil kudu dijambak dulu sama uco biar sadaar wkwk menderitanya bentar lagi ya ehehehe LittleOoh Masih labil kak~ Ini dilanjut kuuy Anhwa94 anaknya udah jadi kali kak wkwk greget nggak? Apa jadi pengen muntah? Rizkaa Kyungsoonya belum balik liburan kak chap depan yaa dijawab pertanyaannya wkwk chenma karungin ae lah kak wkwk MeAsCBHS Tunggu! Kalo mau guling-guling dikasur ya xD Jangan dihalaman tetangga wkwk Ini cepet nggak? Nggak ya yoda gpp deh wkwk Soo punya ade tapi belum tahu kirimin surat ae atuh biar cepet dan taraaa baek beneran ilang xD lolilolyk-pop wah makasih masih sempetin baca mangaatya uasnyaa Baeknya udah punya debaay tapi cahyononya masih oon gimana atuh TT ayah94 Yuhuu makasih udah suka sama ceritanya jangan muji-muji xD gue gak punya gope nih wkwk Iya chap depan ketemu hunhan lagi yaa/

Oke gue tau ini kepanjangan /salahin jari gue yang cerewet wkwk/ seneng banget bisa bales review kalian lagi. Makasih yang udah mau review chap kemarinn kuuy ditunggunya tanggepan Chapter ini yaa/

Daaaaahhhh.. Dadaahhh.. Ketemu lagi chap depan saranghaeyo\^^/

benTobenTo