Chapter 10 update !
Minna, maafkan Author ya kalau cerita ini memiliki banyak kekurangan. Ada yang bilang ke Author sih. Jadi, untuk memperbaiki kesalahan Author, Author me-replace beberapa Chapter (Chapter 1, 2, 3, 6, 7, 9) Author belum sempat untuk me-replace semuanya. Karena Author belum punya waktu untuk edit-edit. Hehehe…..
Jadi jika ada yang mau lihat cerita ini lebih jelas silahkan baca dari Chapter 1 ya~
Naruto : "Merepotkan~"
Author : "Lho, kok kamu yang keluar ? sana ! hush ! ini kan bagian special untuk Shikamaru."
Shikamaru : "Apa ?! merepotkan…"
Author : "Nah, itu baru benar."
Balasan review :
Devilojoshi : Maksud kamu itu yang melihat di halaman belakang sekolah ? Yup, betul. Kyuubi yang lihat. Dia kan pergi entah kemana. Iya, Sasori suka sama Naruto. Perasaannya melebihi seorang kakak. Untuk pertanyaan mengapa Itachi bisa meninggal, jawabannya ada di Chapter 1. Apakah Naruto bisa suka sama Sasuke ? tentu saja, namun butuh waktu. Soalnya mereka kan top pairing di sini. Dan untuk masalah saingan Sasuke saya belum kepikiran selain Sasori. Namun, Sasuke bakalan sakit hati kok.
Sasuke : "Dasar Author yang jahat…"
NM : Begitu ya ? Maafkan Author ya kalau sudah membuat kamu kecewa. Author sudah me-replace beberapa Chapter kok. Sudah saya perbaiki. Silahkan dibaca. Bila masih terdapat kekurangan bisa diberitahukan lagi. Terima kasih.
Swilder : Oke, akan Author usahakan terus lanjut.
Minna, terima kasih atas dukungannya selama ini.
Dukungan kalian sangat membuat Author bersemangat untuk tetap melanjutkan fic ini
Well, Happy Reading~
Fandom :
Naruto
Disclaimer :
Masashi Kishimoto
Author :
MC Shirayuki
Genre :
Romance / Hurt / Comfort
Rating :
T
Pairing :
Uchiha Sasuke and Namikaze Naruto
Warning :
AU, Typo, OOC, Gaje
DON'T LIKE ? DON'T READ !
Uchiha Sasuke : 16 tahun
Namikaze Naruto : 15 tahun
Akasuna Sasori : 17 tahun
Uzumaki Kyuubi : 16 tahun
Yamanaka Ino : 16 tahun
Tenten : 15 tahun
Suigetsu : 16 tahun
Kimimaro : 16 tahun
Juugo : 16 tahun
Chapter 10 : Enemy Not Assured
2 bulan setelah kedatangan ketiga murid baru. Seorang siswi yang mempunyai rambut berwarna blonde yang panjang sepinggang dan diikat model ponytail, pony panjang sedagunya dan mempunyai mata berwarna sapphire. Siswi tersebut sangat populer di sekolah karena kecantikannya. Bukan hanya cantik, siswi yang berasal dari keluarga Yamanaka yang merupakan salah satu perusahaan besar yang sedang maju tersebut juga terkenal akan kepintarannya. Yamanaka Ino, nama siswi tersebut. Siswi tersebut sedang berjalan di salah satu lorong sekolah. Tanpa di sengaja, dia mendengar percakapan antara 3 murid laki-laki yang yang berasal dari kelas yang berbeda kelas.
"Hey, kamu beruntung sekali. Bisa sekelas dengan Naruto, anak pindahan itu." Seorang siswa yang mempunyai rambut berwarna putih dan mata berwarna amethyst memulai pembicaraan.
"Ya, aku memang beruntung bisa sekelas dengannya. Apalagi aku duduk berdekatan dengannya. Sayang sekali kau Suigetsu, Juugo, kalian berada di kelas yang berbeda denganku." Seorang siswa yang mempunyai rambut berwarna silver dan mata berwarna jade.
"Kamu membuatku iri saja... Aku juga ingin duduk berdekatan dengannya. Dia itukan cantik dan pintar." Seorang siswa yang mempunyai rambut berwarna silver dan mata berwarna ruby mendengus kesal.
"Dia juga gadis yang baik."
"Dia itu seperti gadis impian."
"Ya. Belakangan ini banyak laki-laki yang membicarakannya."
Perlahan, suara ketiga murid itu mulai tidak terdengar dengan jelas. Ino yang mendengar percakapan itu, emosinya langsung meledak-ledak.
"Naruto lagi, Naruto lagi. Kenapa dia yang selalu dibicarakan oleh para siswa belakangan ini ? Naruto cantik, Naruto pintar, Naruto baik, Naruto manis. Apa yang Naruto miliki namun aku tak miliki ? aku rasa tidak ada. Aku jauh lebih sempurna darinya." Ino berkata dengan kesal dalam hatinya sambil berjalan menuju kelasnya.
Saat pelajaran dimulai, Ino sama sekali tidak memperhatikannya. Dia sedang sangat kesal. Lalu tanpa sengaja dia melihat Kyuubi yang duduk tepat di sebelahnya. Terlihat, Kyuubi seperti memperhatikan sesuatu dengan ekspresi yang sulit dimengerti oleh Ino.
"Lho, Kyuubi kenapa ? seperti sedang memperhatikan sesuatu. Ekspresinya menunjukkan sesuatu yang sulit untuk diartikan. Seperti tersirat. Ekspresi apa itu ? memangnya apa yang sedang dilihatnya ?" Ino berkata dalam hatinya sambil melirik apa yang sedang dilihat oleh Kyuubi. "Ha ? Sasuke ? Kyuubi memperhatikan Sasuke ? tidak salah ? tapi kenapa dengan ekspresinya ? oh iya, akhir-akhir ini Sasuke kan dekat dengan Naruto semenjak dia pindah kesini. Apa Kyuubi menyukai Sasuke ? kalau benar… hal ini bisa kumanfaatkan. Hm… aku jadi punya ide bagus untuk menyingkirkan Naruto." Ino berbicara dalam hati dengan memasang ekspresi liciknya. Ino mulai menyusun sebuah rencana permainan untuk Naruto, yang pastinya akan membuatnya sangat menderita. Ino mulai mendapatkan ide dan mulai menyusunnya bagaikan sebuah maze yang akan sangat sulit untuk di lalui. "Hahaha… aku rasa rencanaku sudah sangat bagus. Hanya tinggal mencari kesempatan yang bagus untuk dapat melaksanakannya." Ino tersenyum licik.
1 jam kemudian.
Teng, Teng.
Bel istirahat berbunyi. Ino memulai percakapan dengan Kyuubi, saat Kyuubi ingin pergi ketempat Naruto.
"Kyuubi…"
"Ada apa Ino ?" Kyuubi menoleh kearah Ino dan berbicara dengan nada datarnya.
"Oh iya, tadi aku lihat kamu melamun saat pelajaran. Kamu melamunkan apa ?"
"Ha ? bukan apa-apa kok" Kyuubi berusaha berbicara dengan nada datarnya walaupun tadi dia sempat terkejut oleh pertanyaan yang diberikan oleh Ino.
"Huh, dasar anak sombong yang tak tahu diri ! berani sekali dia membohongiku. Dia pikir aku bodoh apa ? Baik… tidak masalah. Kalau dia tidak mau memberitahu, akan aku paksa dengan kata-kata."
"Jangan bohong. Kamu….. melamunkan Sasuke ya ?"
Kyuubi sangat terkejut dengan kata-kata Ino. Kyuubi tak bisa menjawab, dia hanya bisa diam.
"Dia ini… kenapa sangat ingin mengetahuinya ? Apakah hal tersebut penting baginya ? Apakah hal tersebut akan menguntungkan baginya ?" Kyuubi yang memang pada awalnya merupakan seorang yang tidak terlalu mempercayai seseorang, hanya bisa mengambil langkah terdiam. "Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan olehnya selanjutnya."
"Menyebalkan sekali anak ini. Berani-beraninya dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah berdiam diri seolah tidak mendengar pertanyaanku barusan. Tapi, dari sikapnya sudah dapat dipastikan, jawaban dari pertanyaanku adalah ya."
"Sudah kuduga. Kamu… apa kamu menyukai Sasuke ?"
"Tahu dari mana dia ? Apakah dia hanya menebak saja ? Hanya dari sebuah tatapan, dia dapat mengetahuinya ? Chk, hebat juga dia."
"Masih belum mau memberitahu ya ? Kita lihat, siapa yang akan bertahan sampai akhir. Aku yang dapat membuatmu membuka suara. Atau kau yang mampu membuatku menyerah."
Ino menggerakkan kedua tangannya kearah kedua tangan Kyuubi. Lalu, dia menggenggam halus tangannya. Ino menatap Kyuubi lekat-lekat dengan tatapan yang lembut. Dia ingin membuat Kyuubi dapat percaya kepadanya.
"Lihat mataku. Tatap lekat-lekat mataku. Apa yang dapat kamu lihat ? apakah aku terlihat berniat mempermainkanmu ?"
"Tatapannya itu… entah kenapa aku dapat percaya kepadanya. Tatapan yang begitu lembut. Aku rasa dia tidak berbohong padaku."
Kepala Kyuubi tertunduk, lalu tampak beberapa bulir-bulir air mata jatuh di pipinya.
"Gotcha. Akhirnya kamu mau menunjukkan kepadaku perasaanmu yang sesungguhnya. Katakan padaku. Katakan padaku kalau kamu benar-benar menyukai Sasuke. Ayo, katakan padaku yang sesungguhnya. Jadi, aku bisa menjalankan rencana awalku."
"Ya… Aku memang menyukai Sasuke. tapi, aku tidak mungkin menghancurkan sahabatku sendiri dengan menyukai orang yang dia sukai." Kyuubi berkata lirih sambil mengalihkan perhatian matanya menuju ke lantai tempatnya berpijak. Dia terdiam sejenak. Lalu mengalihkan perhatiannya kembali kearah Ino.
"Hahaha… ternyata tak sesulit yang aku kira. Ternyata sangat mudah membohonginya. Hanya perlu ber-acting yang menyakinkan, dia sudah percaya kepadaku. Baiklah… kita mulai permainan ini…" Ino tertawa licik di dalam hatinya.
"Kyuubi… kamu bisa mendapatkan hati Sasuke. Kamu tidak ingin semakin merasakan sakitnya patah hati karena terus-menerus mengalah kan ?. Lihat, sudah ada Sasori yang selalu berada di sisinya. Lalu untuk apa Sasuke ? mungkin Sasuke hanya untuk mainannya saja. Kalau dia sahabatmu, harusnya dia menyadari bahwa kamu menyukai Sasuke. Jadi, kamu harus berusaha mengambil hati Sasuke. belum tentu jika Naruto menyukai Sasuke, maka Sasuke juga suka kepada Naruto. Aku akan membantumu supaya bisa mendapatkan hati Sasuke. Bagaimana ?"
Bagai tertimpa beban yang sangat berat, Kyuubi terdiam sejenak. Tangan kanannya perlahan tertuju kearah dadanya. Dia menempelkan tangannya di dadanya untuk merasakan detak jantungnya. Perlahan tangannya mengepal.
"Apa yang dia katakan ada benarnya juga. Sakit sekali… sakit sekali rasanya patah hati. Perih sekali rasanya melihat orang yang kusukai dekat dengan sahabatku sendiri. Cukup sudah bagiku untuk selalu mengalah. Saat pertama kali aku bertemu Naruto dan Sasori, sebenarnya entah mengapa aku menyukai Sasori. Aku merasa begitu mengenal, dekat dan nyaman bersama dengan Sasori. Namun… setelah melihat hubungan Sasori yang begitu dekat dengan Naruto, Sasori yang begitu perhatian dengan Naruto, tatapan Sasori untuk Naruto, aku mundur. Aku membiarkan hatiku terus digerogoti oleh perasaan sakit hati. Walaupun aku menjadi sahabat mereka, tatapi tetap tidak bisa bagiku untuk mendapatkan hati Sasori. Hingga akhirnya, karena merasa hatiku sudah tak tersisa, aku berubah menjadi seorang yang dingin dan jarang mempunyai perasaan. Namun, setelah aku bertemu dengan Sasuke, aku merasa pecahan hatiku perlahan menyatu kembali dengan perekat cinta. Apa Naruto juga menginginkan hati Sasuke, setelah dia memiliki hati Sasori ? Apa dia ingin semua lelaki menyukainya ? mencintainya ? Cukup sudah dengan semua ini. Aku tidak akan mundur kali ini."
"Hm… sepertinya kamu benar juga. Kalau dia memang sahabatku, harusnya dia dapat memahamiku. Aku akan merebut Sasuke dari Naruto." Kyuubi tersenyum licik.
"Wah… benar-benar sebuah jawaban yang memuaskan. Bagus… bagus… umpan telah dilempar. Buruan telah berhasil memakan umpan. Tinggal menaruh buruan di tempat di mana mangsa berada."
Tak lama, Naruto datang menghampiri Kyuubi. "Hm… maaf, apa aku mengganggu percakapan kalian ?"
"Sama sekali tidak" Ino tersenyum kearah Naruto.
"Ada apa Naruto ?"
"Kyuubi, kekantin yuk… sama Sasuke dan Sasori."
Ino menyikut tangan Kyuubi. "Kyuubi, kamu ikut saja."
"Ya, aku ikut"
"Ah, apa Ino mau ikut ?" Naruto menatap Ino.
"Ah, tidak usah. Kalian pergi duluan saja, nanti aku akan kekantin sama Tenten."
"Oh, ya sudah. Kami duluan ya…" Naruto berjalan meninggalkan meja Ino.
Naruto dan Kyuubi pergi menghampiri Sasuke dan Sasori. Sasuke, Naruto, Sasori dan Kyuubi berjalan bersama keluar kelas. Tak lama, Ino tersenyum. "Hahahahaha… Rasakan kamu Naruto. Perlahan… temanmu sendiri yang akan menghancurkanmu. Kalau kamu tahu, perlahan namun pasti, hatimu akan terasa sakit dan hancur berkeping-keping hingga menjadi pecahan yang terkecil." Ino berkata dengan licik di dalam hatinya.
TBC
Jika ada yang bertanya-tanya. Apakan Kyuubi ada hubungannya dengan Sasori ? jawabannya, ya ada. Tapi itu akan di ketahui nanti~ hehehe…
Tapi kalau ada yang bertanya-tanya apakah Kyuubi nanti akan bersama dengan Sasori ? jawabannya, tidak. Sasori hanya cinta Kyuubi yang sudah lalu.
Well, minna mind to review ?
Omake~
Chapter 1 :
Sasuke berdiri dan dengan sekuat tenaga dia berlari keluar kamarnya untuk mencari kakaknya. Tubuhnya semakin terasa sakit seiring ia terus memaksakan dirinya untuk berlari. Ia sempat beberapa kali berhanti berlari dan menyandarkan pundaknya pada tembok yang berada di sampingnya. Dengan tidak memperdulikan keadaannya sekarang, Sasuke terus berlari. Dia mendobrak dan melihat satu-persatu ruangan di rumah sakit untuk mencari sosok yang di carinya, kakaknya, ya kakaknya.
Ruang operasi
Brakk
Dokter : (Sedang yang sedang membedah pasien menoleh kearah pintu tidak berdosa yang telah didobrak) "…"
Pasien : "Si-siapa kamu ? apakah kamu adalah malaikat pencabut nyawa ?"
Plakk
Dokter : "Kamu ini kan sedang operasi ! ngapain sadar ?!"
Chapter 2 :
Saat berada diruang praktek, dikelompok Sasuke, Sakura hanya melihat karena tak begitu bisa. Sementara Sasuke yang bekerja, karena bosan Sakura iseng mencampurkan beberapa bahan kimia kedalam sebuah tabung dan…..
DHUARR !
Terjadi ledakan yang kecil, hanya meyebabkan Sasuke, Sakura dan sekeliling mereka tertutup asap hitam.
Merekapun bertengkar sementara murid yang lain hanya sweatdrop melihat mereka. Tak lama, bel istirahat berbunyi
Teng, Teng
Kakashi berjalan menuju ruang guru
Ceklek
"GYAAAAA…..!"
"SETAANN…..!"
BUK
BRAK
TRAK
DUAK
JLEB
Beberapa guru wanita banyak yang pingsan karena melihat wajah abstrak Kakashi. Sementara, wajah abtrak Kakashi makin abstrak karena mendapat hadiah lemparan penggaris besi, tong sampah, jangka, kamus bahasa Inggris, kamus bahasa Jepang, kamus bahasa Jerman, kamus bahasa Prancis, kamus bahasa Mandarin, garpu, pisau*? dan lain sebagainya.
Poor Kakashi~
Chapter 4 :
"Bercanda, bercanda. Aku hanya bercanda. Kamu mau kan mengajariku ? karena aku dulu cuma belajar biola sebulan, sebelum…" ekspresi Sasuke perlahan berubah.
"Oh, tidak apa-apa. Mari, kita mulai latihannya." Sakura mengulurkan tangannya kearah Sasuke.
"Iya… terima kasih ya Sakura…" Sasuke tersenyum dan meraih tangan Sakura.
"Ya, sama-sama" wajah Sakura merona.
Akhirnya Sakura pun mengajari Sasuke.
Ruang Musik
Jreng~
Jreennggg~
Jreng !
Kurenai dan seluruh murid –kecuali Sasuke- menutup telinga mereka rapat-rapat untuk menyelamatkan telinga mereka dari bencana.
"Ini terakhir kalinya aku mengadakan ujian mengambil nilai musik untuk kelas dengan Sasuke di dalamnya. Aku tidak mau ada murid yang tuli, cacat pendengaran atau bahkan menderita gangguan jiwa." Batin Kurenai.
Jam menunjukkan pukul 15.00. Konoha International High School terlihat sepi dari luar karena hampir semua murid sudah pulang. Yang masih ada disekolah hanya murid-murid yang sedang melaksanakan ekskul, beberapa guru dan penjaga sekolah. Di sebuah lorong yang sedang sepi, dapat terdengar dengan jelas alunan melodi gitar yang indah dari ruang musik.
"Bagus, kamu sudah cukup mahir memainkannya" kata Sakura sambil menepuk bahu Sasuke.
"Iya, aku senang bisa belajar main gitar. Ternyata bermain gitar tidak sesulit yang aku bayangkan" Sasuke tersenyum sambil melihat gitar di pegangan tangannya.
"Gampang dari Hongkong ?! tadi saja hampir semua teman-teman mengalami cacat pendengaran." Batin Sakura.
Chapter 6 :
Tapi, seakan tubunya mati rasa dan kaku, Sakura hanya bisa terpaku dalam diam hingga…..
BRUUUGGHHHHHH!
Tabrakan pun tak dapat dihindari, dalam sekejap tubuh Sakura terpental karena menghantam mobil tersebut. Mata Sasuke membulat. Dia hanya bisa terpaku, menatap tubuh Sakura yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan luka di hampir seluruh tubuhnya dan cairan kental berwarna merah yang keluar dari lukanya. Sementara mobil yang menabrak Sakura, yang sempat berhenti kini melaju kembali dengan cepat seakan tidak terjadi apa-apa. Dengan tubuh yang gemetaran, Sasuke berjalan menghampiri Sakura. Sasuke yang tak kuat berdiri lagi, jatuh berlutut disebelah Sakura. Linangan air mata yang tak dapat terbendung pun jatuh membasahi pipinya.
"Sa…. Sakura ! bangun Sakura ! Maafkan aku ! aku tidak dapat menyelamatkanmu dari tabrakan. Aku memang tidak berguna ! kumohon Sakira, kumohon… jangan tinggalkan aku. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu… SAKURA…"
Tak jauh dari sana lewat beberapa anak SMA.
"Eh, lihat deh"
"Apa ?"
"Itu… ada seorang pria yang menatap wanita yang mempunyai banyak luka di tubuhnya. Apa perempuan itu mengalami kecelakaan ?"
"Bukan bodoh ! mereka sedang ber-acting. Kan sangat jelas dari wajah sang aktor yang begitu tampan."
"Aktor baru ya…"
Jepret
Jepret
Akhirnya, bila ada yang lewat tak jauh dari mereka, pasti langsung mengambil handphone dan mengambil gambar Sasuke. Itulah sebabnya mengapa tidak ada satu orang pun yang menolong atau membantu Sasuke.
Poor Sasuke~
Chapter 7 :
Kemudian Tayuya berjalan pulang, sementara Sasuke hanya diam sambil menatap langit. Siang pun perlahan berubah menjadi sore. Sekarang sudah senja, matahari sudah hampir terbenam. Perhatian Sasuke teralihkan ke senja. Dia menatap menerawang ke masa lalu. Masa dimana dirinya dan Sakura untuk pertama dan terakhir kalinya melihat senja. Sasuke tersenyum miris. Namun, perlahan senyumnya berubah menjadi senyuman tulus.
"Hey, Sakura… kamu bisa melihatnya ? senja yang indah bukan ? aku harap kamu juga bisa melihatnya. Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya… sampai jumpa, Sakura…"
Tak jauh dari Sasuke, lewat seorang ibu dan anaknya.
"Ibu, siapa kakak tampan itu." Anak tersebut menunjuk kearah Sasuke.
"Jangan dipedulikan nak, dia hanya orang gila yang entah sedang berbicara dengan siapa."
"Tampan, tampan kok gila ? kan sayang…" Batin sang anak.
Thanks for read
Mind to review ?
