Chapter 10


"Baekhyun-ah, sebenarnya—"

"Mianhae, jeongmal," potong Baekhyun. Kyungsoo berkerut kening. Maaf, untuk apa?

"Chanyeol, sudah menceritakannya semua padaku. Bahwa kau kekasihnya." Dada Kyungsoo bergerumuh sakit. Rasa nyeri yang sudah perlahan hilang selama dua minggu itu kembali datang.

"Baekhyun, aku—"

"Kenapa kau tak jujur padaku?"

Kyungsoo diam, lidahnya terlalu keluh untuk mengucapkan sebuah kata. Ia tidak tahu alasan apa yang akan ia sampaikan pada Baekhyun. "Kami sudah berakhir, Baekhyun-ah." Dan kalimat itulah yang keluar. Bohong? Tentu saja. Kyungsoo berbohong. Hubungannya dengan Chanyeol masih berjalan.

"Tidak, Chanyeol yang mengatakan padaku bahwa kalian masih menjalin hubungan."

"Kau ingin tahu kenapa ia bisa kecelakaan?" Kyungsoo mengangguk.

"Kami bertemu dengan kakakmu sore tadi. Ia mencaci Chanyeol dan memukul Chanyeol di depan pintu appartemen. Kakakmu juga mengatakan bahwa keputusanmu untuk pindah ke Jepang karena Chanyeol, Chanyeol yang berselingkuh—"

"Seungsoo hyung tidak pernah tahu tentang kehidupan cintaku. Kenapa ia bisa mengatakan, Chanyeol berselingkuh?" Kyungsoo mengucapkan dua kata terakhirnya sangat pelan. Takut menyakiti perasaan Baekhyun.

"Kakakmu melihat kami, berciuman di depan appartemen," jawab Baekhyun lirih. Lagi-lagi Kyungsoo diam. Membiarkan hatinya sakit mendengar semua penuturan Baekhyun.

"Setelah kakakmu memukulinya, Chanyeol segera menyusulnya. Menanyakan tentang benar atau tidak kau akan pergi ke Jepang. Ia ingin menyebrang jalan, namun ia tidak tahu lampu lalu lintas masih berwarna hijau. Sehingga ia tertabrak truk.

Ia terus memanggil namamu, meminta maaf padamu dan ia bilang bahwa ia teramat mencintaimu. Dan saat itu aku tahu, aku membuat Chanyeol kehilanganmu. Aku menyakiti orang yang aku cintai. Aku menyakiti Chanyeol." Baekhyun menangis begitu juga dengan Kyungsoo. Hanya saja, Kyungsoo menangis dalam diam.

"Jika aku bisa tahu diri dan berhati-hati dengan semua sikap Chanyeol, kami tidak akan pernah bermain di belakangmu seperti ini. Kyungsoo, maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu." Kyungsoo menggenggam kuat tangannya sendiri. Membiarkan kuku-kuku jarinya menyakiti telapak tangan halusnya.

"Jika kau jujur padaku sejak awal, aku tidak mungkin menyakitimu sampai seperti ini. Aku menyesal, benar-benar menyesal." Baekhyun masih menangis di sertai isakan kecil.

"Kau benar-benar akan pergi ke Jepang?" Tanya Baekhyun masih menangis.

"Iya, keputusanku sudah final." Kyungsoo menyeka air matanya cepat sebelum akhirnya Baekhyun menengok ke arahnya.

"Apa ini karena aku? Aku sudah menyakitimu?" Kyungsoo menggeleng di sertai senyuman lembut. Baekhyun langsung memeluk Kyungsoo. Menumpu dagunya di pundak kecil Kyungsoo.

"Maafkan aku Kyungsoo. Aku tidak tahu kau sesakit itu karenaku. Aku benar-benar minta maaf," ujar Baekhyun masih menangis. Kyungsoo tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya diam mengusap punggung Baekhyun tanpa memberikan komentar apapun pada sang empu. Ia merasa sakit di dadanya.


-Life-

Kyungsoo membuka kelopak matanya, membiasakan sinar cahaya yang masuk ke dalam matanya. Terlalu terang untuk pagi hari. Ia sedikit mengerjapkan matanya tatkala lampu kamar berwarna putih itu begitu terang. Ia benci terang saat tidur.

"Kau sudah bangun, hyung?" Kyungsoo menoleh, melihat Jongin masuk membawa nampan dengan mangkuk dan segelas air mineral diatasnya. Jongin meletakkannya di atas meja nakas dan mendudukkan dirinya di bibir ranjang Kyungsoo.

"Kau yang menggendongku?"

"Bukan, Chanyeol hyung yang menggendongmu."

"That's not funny." Bantal kecil mendarat di wajah Jongin dengan kasarnya. Jongin hanya mengaduh kesakitan dan Kyungsoo kembali berbaring.

"Ya, hyung! Makanlah dulu, kau belum makan sejak tadi pagi!" Gertak Jongin mencoba menarik tangan Kyungsoo. Pemilik tangan hanya menurut dan masih menutup matanya. "Jam berapa?"

"Jam sepuluh hyung! Ayolah, apa cacing di dalam perutmu tidak meronta makan?" Kyungsoo berdecak sebal dan mengambil mangkuk di dari tangan Jongin.

"Ramen?" Tanya Kyungsoo bingung. Dahinya berkerut melihat makanan yang disuguhkan oleh Jongin.

"Minseok hyung sudah berangkat kuliah sejam yang lalu. Aku hanya bisa membuat itu, soalnya Minseok hyung tidak masak. Hyung tak suka? Ingin ku belikan sesuatu?" Jongin menekuk wajahnya dan bibirnya yang sedikit ia kerucutkan.

"Tidak perlu. Wajahmu sangat tidak cocok," ujar Kyungsoo. Ia mulai memakan ramen yang disiapkan oleh Jongin. Setelah menelan suapan pertama, ia baru mengingat satu hal. "Kau sudah makan?" Kyungsoo bertanya dan Jongin menggeleng.

"Kau mau?'

"Makanlah hyung, aku tidak lapar." Jongin sedikit tersenyum yang jarang sekali Ia tunjukkan pada semua orang. Senyum yang menurut Kyungsoo berbeda dengan senyum Jongin pada orang lain.

"Hari ini kau akan menjenguk Chanyeol hyung? Baekhyun hyung menelfonku tadi. Ia memberitahu bahwa Chanyeol hyung sudah sadar," jelas Jongin. Kyungsoo masih memakan ramennya. "Hyung?" Instrupsi Jongin membuyarkan lamunan Kyungsoo. Kyungsoo bergumam sebagai tanda persetujuan.

.

.

.

"Masuklah, hyung," titah Jongin. Kyungsoo masih enggan menggeser pintu putih tempat Chanyeol dirawat. Ia menggeleng dan mencoba pergi sebelum tangan Jongin menariknya. Membawanya masuk pada kamar bertuliskan 721 di pintunya.

"Makanlah, Chanie."

"Buburnya tidak enak Byunbaek. Mengertilah aku tidak suka—Kyungsoo!" Suara pekikan Chanyeol bersamaan dengan Kyungsoo yang masuk ke dalam kamar. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya begitu manik matanya bertemu dengan manik mata Chanyeol. Baekhyun berjalan ke arah Kyungsoo, menepuk pundaknya dan menarik Jongin keluar dari kamar. Meninggalkan Kyungsoo dan Chanyeol disana.

"Tak bisakah kau lebih dekat? Kenapa berdiri di sana? Kau tak kasihan padaku?" Cecar Chanyeol begitu pintu kamar tertutup. Kyungsoo menggeleng dan masih menggigit bibir bawahnya. "Shireo," ujar Kyungsoo.

Chanyeol melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Kyungsoo garang. "Kau bilang kau tidak akan pergi, kau bilang kau mencintaiku, tapi kenapa kau ingin pergi ke Jepang?!" Tanya Chanyeol dengan suara yang ia tinggikan. Kyungsoo tak bergeming dan semakin menatap mata Chanyeol—menantang.

"Sedangkal apa pikiranmu sampai tertabrak truck itu, eoh?" Tanya Kyungsoo marah. Chanyeol tak menjawab, membiarkan Kyungsoo berjalan mendekat ke arah ranjangnya dengan tatapan sulit di artikan.

"Aku kira kau tak peduli."

"Tentu saja aku peduli, aku menya—"

Kyungsoo menghentikan ucapannya. Chanyeol memeluknya erat. Menyalurkan bagaimana rasa rindu, cinta dan bersalah yang membuncah kepada Kyungsoo. "Aku benar-benar merindukanmu Kyung," ujar Chanyeol. Kyungsoo hanya diam, tanpa membalas pelukan pemuda yang masih berstatus kekasihnya itu.

"Aku akan ke Jepang dua minggu lagi." Chanyeol melepas pelukannya. Menatap tajam mata bulat Kyungsoo.

"Wae? Kau tidak lagi mencintaiku?"

"Chan, kita berakhir."

"Tidak! Siapa yang mengatakan kita berakhir? Kau bercanda eoh?"

Kyungsoo menghela napas melihat raut wajah Chanyeol yang begitu marah. "Sekarang, hari ini, jam ini, menit ini dan detik ini, kita berakhir."

"MWORAGO? Are you kidding me? What are you talking about? No, I won't leave you!"

"Kau pikir dengan kau melepas Baekhyun lalu kembali padaku, aku bisa menerima semua? Kau bercanda? Setelah semua hal yang membuatku sakit, kau dengan mudahnya kembali? Apa kau tahu bagaimana sakitnya aku? Tidak, kau tidak tahu itu!"

Senyum meremehkan terukir di bibir Kyungsoo. Matanya memerah menggenang air mata yang mungkin bisa saja tumpah saat ini juga. "Baekhyun begitu mencintaimu, ia sendiri tidak bisa kehilanganmu."

"Begitu juga aku yang tak bisa kehilanganmu, Kyungsoo!"

"Lalu kenapa kau selingkuh?! Kau bodoh Chan!"

"Kyungsoo, aku—"

PLAK!

Bekas merah terlihat jelas di pipi kiri Chanyeol. Kyungsoo menamparnya. Meluapkan rasa sakit di dadanya melalui tamparan keras. Tamparan yang tidak pernah ia berikan pada Chanyeol. "Ini pertama dan terakhir aku menamparmu Chan."

"Galke," ujar Kyungsoo keluar dari kamar. Chanyeol terus memanggilnya dengan suara bassnya yang keras. Tidak, Kyungsoo tidak ingin berbalik.

"Ada apa?" Tanya Baekhyun begitu Kyungsoo keluar kamar.

"Kami putus." Kyungsoo melenggang pergi. Meninggalkan Baekhyun dan Jongin yang berkerut kening. Cukup, sampai sini penderitaan Kyungsoo.

Aku begitu mencintai Chanyeol. Aku tidak ingin kehilangannya. Dia satu-satunya orang yang bisa mengerti aku selama hidupku.

Kyungsoo menekan dada kirinya dan matanya mulai berjatuhan bulir-bulir air mata. Perkataan Baekhyun beberapa hari yang lalu kembali berputar di otaknya.

"Kau benar-benar mencintai Chanyeol?"

"Ya, aku sangat mencintainya. Aku tak akan membiarkan siapapun mengambilnya dariku. Dia benar-benar terlalu berharga untukku." Kyungsoo menelan ludah.

"Memang terkesan egois, tapi, hanya Chanyeol yang bisa mengerti aku selama ini. Menjadi anak dari keluarga broken home tidaklah mudah, Kyungsoo-ya. Aku membutuhkan Chanyeol di sampingku."

"Hyung!" Jongin menarik pergelangan tangan Kyungsoo dan membawanya dan pelukan. Kyungsoo tak menolak, membiarkan pemuda yang lebih muda setahun darinya itu melakukan hal yang ingin dia lakukan. "Semua akan baik-baik saja." Jongin mengusap punggung Kyungsoo lembut dan Kyungsoo hanya diam. Sesekali isakan kecil keluar dari bibirnya. Air matanya masih terus mengalir membuat kaos Jongin basah.

"Ayo hyung, kita pulang." Jongin masih memeluk Kyungsoo dari samping. Kyungsoo sendiri melingkarkan tangannya di pinggang Jongin. Ia tak peduli dengan semua tatapan yang diberikan oleh orang-orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit. Ia hanya butuh kehangatan.

.

.

.

Baekhyun hanya duduk di kursi di sebelah ranjang Chanyeol. Memperhatikan Chanyeol yang menutup matanya dan kening yang berkerut. Baekhyun tahu Chanyeol tidak sedang tidur saat ini. Terlihat jelas bagaimana Chanyeol selalu menghela napas.

"Aku akan pulang kalau kau ingin—"

"Tidak, tetaplah disini."

"Kau menyesal Chanyeol?" Chanyeol tak menjawab. Membiarkan pertanyaan Baekhyun sebagai angin lalu.

"Kau juga akan pergi seperti Kyungsoo?"

"Jika aku menuruti semua egoku, aku akan tetap disini. Aku juga memikirkan bagaimana perasaan Kyungsoo. Ia yang paling tersakiti disini Chanyeol. Jongin bercerita padaku, bahwa Kyungsoo sudah tahu lebih dulu sebelum aku mendatangimu di kampus waktu itu."

Baekhyun berdiri dari duduknya, mengambil mantel yang ia letakkan di sofa kamar inap Chanyeol. "Kau ingin kemana?" Tanya Chanyeol bingung. Baekhyun tak menjawab, matanya masih menatap Chanyeol sedih.

"Aku harus pulang, sepertinya aku harus memikirkan bagaimana kita selanjutnya. Kau juga harus beristirahat," jelas Baekhyun. "Galke," sambungnya lalu keluar dari kamar inap Chanyeol.

.

.

.

Baekhyun menekan beberapa digit angka di dekat kenop pintu appartemennya. Ia mendapati appartemennya itu sangat terang dan berisik. Ia yakin pasti kedua sahabatnya itu sedang mencoba menghancurkan apartemen.

"Huang Zi Tao! Kecilkan suara televisinya!" Teriak seseorang. Baekhyun memutar bola matanya sebal. Ia masuk ke dalam appartemennya tanpa suara setelah mengganti sepatunya dengan sandal rumah berwarna merah.

"Gege! Kau sudah pulang?" Pekik pemuda yang duduk di sofa tengah. Matanya berbinar begitu Baekhyun berjalan menghampirinya. Baekhyun hanya bergumam. Ia berjalan lurus tanpa memperdulikan Tao—pemuda yang duduk di sofa—memanggil namanya terus.

"Baekhyun ge!" Kali ini bentakan Tao membuat Baekhyun berhenti di depan kamarnya.

"Aku tidak apa-apa Taozi. Aku sedang lelah. Bilang pada Luhan ge aku langsung tidur." Baekhyun langsung masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu putih itu dengan keras. Membuat Luhan yang berada di dapur terjungkat karena terkejut.

"Tao, ada apa?" Tanya Luhan begitu ia keluar dari dapur dan mendapati Tao berdiri di ruang tengah dan memandang ke arah kamar Baekhyun.

"Baekhyun-ge, ia ijin tidur."

"Memangnya dia kenapa? Sakit?"

"Entahlah, biarkan saja dulu ge."


-Life-

Two Weeks Later

"Kyungsoo, kau baik-baik saja?" Tanya Minseok saat Kyungsoo keluar dari kamarnya dengan wajah yang ditekuk, mata sembab dan bengkak. Kyungsoo hanya bergumam, mendudukkan dirinya di ruang makan tepat di depan Minseok.

"Darah rendahmu kambuh lagi dan kau bilang kau baik-baik saja?"

"Siapa yang bilang aku baik-baik saja hyung? Aku hanya bergumam."

"Teruslah mengelak Do Kyungsoo, kenapa kau sangat keras kepala sih? Sudah ku peringatkan, jangan memaksa dirimu untuk selalu tidur malam."

Kyungsoo menghela napas. Menurutnya, Minseok terlewat protektif padanya. Sifatnya itu mengingatkannya pada Chanyeol. Hanya menyebut nama Chanyeol membuat Kyungsoo enggan untuk menyantap makanan di depannya. Sudah lima hari dia menghindar dari pemuda itu. Berusaha tak berhubungan sedikitpun tentang hal apapun yang menyangkut Chanyeol.

"Ok, sekarang kau melamun. Do Kyungsoo, makanlah sarapanmu itu. Atau kau ingin aku menghubungi Seungsoo dan membawamu pulang sekarang?" Gertak Minseok, Kyungsoo menelan ludahnya kasar dan mulai memakan sarapannya.

"Chanyeol sudah keluar dari rumah sakit," ucap Minseok.

"Aku akan pergi sepuluh hari lagi."

"Kau tak berencana bertemu dengannya?"

"Tidak hyung, dan aku mohon, jangan bahas masalah ini."

Minseok diam, begitu juga Kyungsoo. Sekalipun orang memaksanya, Kyungsoo tak akan bertemu Chanyeol. Benci? Bagaimana bisa kau membenci orang yang kau cintai? Kyungsoo hanya tidak ingin amarahnya memuncak begitu melihat Chanyeol.

Ting Tong.

Pintu appartemen Minseok berbunyi, tanpa menunggu waktu, Kyungsoo segera menuju pintu depan dan membukanya.

"Jongin? Sedang apa—Astaga, kenapa dengan wajahmu?!" Kyungsoo berteriak begitu melihat Jongin di depan pintu ditambah wajahnya yang babak belur. Jongin tak menjawab, kesadarannya hampir hilang. Tubuhnya limbung dan ia jatuh dama pelukan Kyungsoo.

Kyungsoo bisa mencium bau alkohol dari tubuh Jongin. Dan ia yakin, Jongin baru saja pulang dari klub. Kyungsoo membawa tubuh Jongin ke ruang tengah, menidurkannya di sofa putih appartemen Minseok. "Kyungsoo siapa—Astaga, kenapa dengan Jongin, eoh?" Kyungsoo menggeleng lemah dengan raut wajahnya yang terlihat sangat khawatir.

"Ayo, bawa dia ke kamar," titah Minseok. Kyungsoo membawa tubuh Jongin ke kamarnya dibantu oleh Minseok. Minseok kembali ke dapur untuk mengambil air hangat dan mencari obat untuk luka Jongin. Kyungsoo duduk di samping Jongin yang terbaring lemah.

Kyungsoo memperhatikan bagaimana kening Jongin yang berkerut. Ia tidak tahu harus bagaimana terhadap Jongin. Dengan perlahan ia menggenggam tangan Jongin, mengusap tangan itu dengan ibu jarinya.

"Jongin, tenanglah," ucap Kyungsoo pelan.

"Hyung, Kyung...soo...hyung..." Kyungsoo tercekat, mengapa Jongin memanggil namanya. Apa yang membuat Jongin seperti ini ada sangkut paut dengannya?

Minseok masuk ke dalam kamar Kyungsoo dengan membawa baskom dan obat-obat kecil. "Kau bisa membersihkan lukanya bukan? Aku akan membuatkan bubur untuknya."

"Baik hyung."

Kyungsoo mengambil handuk kecil yang Minseok bawa. Mencelupkannya ke dalam baskom berisi air hangat lalu memerasnya. Dibersihkannya kotoran-kotoran kecil di wajah Jongin. "Kyungsoo hyung..." Pergerakkan tangan Kyungsoo terhenti saat Jonging menggumamkan namanya.

Apa ini? Jantung Kyungsoo berdetak aneh. Tidak, tidak, tidak lagi Kyungsoo. "Kajima hyung...kajima." Kyungsoo hanya bisa diam tanpa berkata apapun.

.

.

.

Jongin bangun dari tidurnya dan duduk di atas ranjang. Tubuhnya serasa remuk, persendiannya terasa linu. Jongin menyentuh wajah tepat di ujung bibirnya. Seketika rasa sakit menjalar. Ia melihat sekeliling dan Jongin baru sadar ia tidak berada di kamarnya. Ia sedang berada di kamar—

"Kau sudah bangun?"—Kyungsoo. Pintu itu terbuka, Kyungsoo berdiri di ambang pintu dengan piyama birunya. Jongin bergumam dan memijat pelipisnya.

"Kau ingin makan? Ini sudah pukul sembilan malam, pasti perutmu kosong ya?" Tawar Kyungsoo menghampiri Jongin. Jongin hanya mengangguk seperti anak kecil. Kyungsoo membantu Jongin turun dari ranjangnya. Tangan Jongin melingkar pada pundak Kyungsoo. Membuat Jongin harus menghirup aroma shampo khas Kyungsoo.

"Hyung, kau yang mengganti pakaianku ya?" Tanya Jongin begitu ia duduk di kursi meja makan. Saat Kyungsoo membopongnya, Jongin baru sadar bahwa ia mengenakan piyama berwarna biru yang hampir sama seperti milik Kyungsoo.

"E-eh, iya. Ma-maaf aku tak—"

"Tak apa hyung. Terima kasih," potong Jongin cepat. Jongin bisa melihat Kyungsoo sedikit tersenyum sebelum berkutat membuat makanan untuknya.

"Aku tidur berapa jam hyung?" Tanya Jongin karena merasa bosan menunggu Kyungsoo menyajikan makanannya.

"Tidur? Kau pingsan Jongin-ah. Dan kau pingsan sejak jam delapan pagi," jawab Kyungsoo memberi penekanan pada dua kata terakhirnya. Jongin tertawa kecil dan memperhatikan punggung Kyungsoo.

Senyum kecil terbentuk di sudut bibir Kyungsoo. "Aku hanya membuat bubur. Sebenarnya Minseok hyung sudah membuatnya tadi pagi, tapi tadi pagi Jongdae—"

Tangan kekar milik Jongin melingkar di perut Kyungsoo. Kyungsoo sontak menghentikan ucapan dan pergerakan tangannya saat Jongin memeluknya dari belakang. Kyungsoo diam, membiarkan Jongin memeluknya.

Hembusan napas Jongin terasa di perpotongan lehernya. Hangat, nyaman. Itulah yang Kyungsoo rasakan. Berada dalam dekapan Jongin membuatnya selalu merasa tenang. Kyungsoo hendak melepaskan tangan Jongin, sebelum pemuda berkulit tan itu meminta ijin untuk dalam posisi seperti itu lebih lama lagi.

"Ini terasa nyaman hyung. Rasanya perasaan sesakku hilang dalam sesaat. Semua terganti dengan perasaan hangat dan tenang hyung." Kyungsoo diam. Tak ada pergerakan sedikitpun darinya. Hanya suara jantungnya yang berdetak sangat cepat dan keras. Ia yakin Jongin pasti—

"Suara detak jantung mu benar-benar indah hyung. Aku seperti candu mendengarnya."—mendengarnya. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Perasaannya berkecambuk.

Suka? Sayang? Atau cinta? Kyungsoo tidak tahu itu. Yang pasti perasaan ini berbeda dengan perasaan yang ia rasakan bersama Chanyeol. "Ayo hyung, aku sudah lapar." Jongin melepas pelukannya dan kembali duduk di tempatnya. Seketika Kyungsoo menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia kembali melanjutkan memasak untuk Jongin.

Ditempat duduknya, Jongin menumpu kepalanya dengan kedua tangannya yang berada di atas meja. Matanya masih tertuju pada punggung Kyungsoo yang terlihat kecil. "Ka-kau kenapa Jongin-ah?" Jongin tersikap mendapati Kyungsoo duduk di hadapannya. Ia menggeleng kecil dan sedikit tersenyum.

Jongin meraih semangkuk bubur dan sendok yang Kyungsoo siapkan. Di depannya segelas air mineral sudah tersedia. "Hem, Jongin-ah, aku boleh bertanya?" Tanya Kyungsoo memecah keheningan. Jongin mengangguk masih memakan buburnya.

"Kenapa wajahmu babak belur?" Jongin menghentikan acara makannya. Namun wajahnya masih menunduk. Memperhatikan tangannya yang bergerak mengaduk bubur. "Kau juga bau alkohol. Kau mabuk ya, Jongin-ah?" Jongin masih diam walaupun Kyungsoo sudah bertanya lagi.

"Jongin-ah, aku ber—"

"Aku sedang kalut hyung. Pikiranku berantakan dan aku memutuskan pergi ke klub."

"Jam berapa kau pergi?

"Jam satu pagi."

Helaan napas keluar dari mulut dan hidung Kyungsoo. Pemuda berkulit putih susu itu tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Jongin. "Lalu?"

"Saat hendak pulang, aku bertemu seorang gadis. Dan aku menciumnya. Dan ternyata ia disana bersama kekasihnya. Kekasihnya marah dan memukuliku hingga seperti ini," jelas Jongin kecil.

"Apa yang membuatmu menciumnya?"

"Kau hyung." Kyungsoo diam. "Karena aku mencintaimu. Tapi kau mencintai Chanyeol. Karena kau akan pergi ke Jepang, dan itu makin membuatku down hyung," jelas Jongin menatap dalam ke mata Kyungsoo.

"Tapi aku tahu diri. Hyung tidak mungkin dengan mudah melupakan Chanyeol lalu beralih padaku. Jadi, aku tak memaksa hyung membalas perasaanku." Jongin tersenyum dan mengakhiri kalimatnya bersamaan dengan suapan terakhir buburnya.

"Terima kasih atas buburnya hyung. Sangat lezat, kau bisa tidur jika sudah mengantuk. Aku akan mencuci piringnya dan tidur di sofa." Jongin bangkit dari duduknya. Mengambil mangkuk dan gelas kosong—yang sudah dimunumnya tadi lalu meletakkannya di tempat cuci piring.

Kyungsoo masih di tempatnya saat Jongin mulai mencuci mangkuknya. Pikirannya kembali berkecambuk. Perasaan apa yang ia rasakan. Rasanya amat sesak saat Jongin mengatakan bahwa ia tidak memaksa Kyungsoo membalas perasaannya.


-Life-

Kyungsoo berada di koridor kampusnya. Ia baru saja keluar dari ruang administrasi untuk mengurus pindahnya satu minggu lagi ke Jepang. Keputusannya sudah bulat, walaupun hatinya berkata agar ia tetap di Seoul. Ponsel hitamnya berdering, membuat Kyungsoo tersingkap dan segera mengangkat telfonnya. Eomonim.

"Yeoboseyo."

"Kau bisa pulang? Ada yang ingin ayahmu bicarakan."

"Iya, aku segera pulang."

Kyungsoo kembali menjejakkan kakinya menuju kantin sekolah. Matanya bergerak cepat mencari siapapun yang mungkin ia kenal. Senyum merekah saat ia melihat Yixing, Joonmyeon dan Yifan duduk di salah satu kursi paling sudut. Kyungsoo berjalan menghampiri mereka. Langkah kaki kecil Kyungsoo terhenti, begitu melihat sepasang kaki berhenti di hadapannya.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya. Matanya membulat dan tubuhnya menegang. "Kita harus bicara Kyungsoo," ucap orang itu. Kyungsoo menggeleng dan hendak menjejakkan kakinya lagi. Namun pergelangan tangannya ditahan dan ditarik kasar oleh orang itu.

"Chanyeol! Lepaskan tanganku!" Bentak Kyungsoo keras. Salahkan suasana kantin yang sepi dan suara Kyungsoo yang cukup keras. Semua mahasiswa mengarah pada Kyungsoo. Termasuk Yixing dan yang

"Chanyeol, lepaskan!" Kyungsoo mencoba meronta, menarik tangannya dari cengkraman tangan Chanyeol yang begitu kuat.

"Tak akan kulepaskan sebelum kita bicara." Kekuatan dari mana yang Kyungsoo dapat, tapi ia bisa melepaskan cengkraman tangan Chanyeol padanya. Dan ketika Chanyeol berbalik, sebuah tamparan mendarat di pipi Chanyeol.

"Berhenti, Chan. Kita sudah berakhir!" Ujar Kyungsoo dingin lalu pergi keluar kantin. Chanyeol masih di tempatnya, menyentuh pipi kanannya yang menjadi korban tamparan Kyungsoo.

"Kau belum puas menyakiti Kyungsoo, ha?" Bentak Joonmyeon mencengkram kerah baju Chanyeol. Joonmyeon sedikit menjinjit karena tinggi badannya dengan Chanyeol yang terpaut jauh.

"Ge, hentikan. Banyak mahasiswa yang lainnya disini," ucap Yixing mencoba menarik tangan Joonmyeon.

"Joonmyeon lepaskan." Kali ini Yifan yang berucap. Ia langsung menarik tubuh Joonmyeon menjauh dari Chanyeol. Ia mengisyaratkan Yixing agar membawa kekasihnya itu pergi.

"Apa-apaan kau?" Tanya Yifan dingin. Chanyeol hanya diam.

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Pertama kau menjadikannya budah sex, kedua kau berselingkuh di belakangnya dan sekarang kau menyakitinya. Aku sebagai sahabatmu kecewa, tuan Park Chanyeol." Yifan berlalu setelah menyebutkan nama Park Chanyeol dengan penuh penekanan.

.

.

.

"Kau gila? Kau ingin kita tetap melanjutkan hubungan ini sedangkan Kyungsoo tersakiti batinnya? Hantu apa yang merasuki tubuhmu Park Chanyeol?!" Chanyeol menghela napas. Ia kira ia akan mendapat jawaban yang menurutnya baik untuknya. Namun ia salah, ia menerima cacian—mungkin—dari orang di hadapannya.

"Terus apa maumu Byun Baekhyun? Kau bilang kau mencintaiku? Kau bilang kau tidak akan membiarkanku pergi? Ini yang kau bilang kau mencintaiku?!"

"Kali ini aku bertanya padamu. Apa kau pernah mencintaiku?" Tubuh Chanyeol menegang. Kelopak matanya berkedip beberapa kali.

"Kau pernah mencintaiku dari lubuk hatimu? Sama seperti kau mencintai Kyungsoo? Aku yakin kau tidak pernah." Baekhyun menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kasar. Menghela napas dan melipat kedua tangannya di depan dada.

"Demi tuhan Chanyeol, kau benar-benar brengsek," ujar Baekhyun mantap.

"Setelah kau putus dengan Kyungsoo kau memintaku untuk tetap disisimu? Berharap agar aku tidak pergi seperti Kyungsoo? Apa kau bisa menjanjikan ku bahwa pada akhirnya aku tidak terluka sama seperti kau melukai Kyungsoo?" Mereka hanya saling bertatapan. Chanyeol tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Ia membiarkan kekasihnya, atau selingkuhannya itu mengatakan apa yang ingin di katakannya.

"Lalu, setelah aku bersamamu apa kau tidak akan selingkuh dibelakangku? Jika kau selingkuh pada akhirnya kau menyakitiku dua kali. Dan aku tidak mau itu."

"Kau ingin kita berpisah, Baekhyun-ah?" Kali ini Baekhyun yang diam. Kepalanya ia tundukkan menatap meja.

"Tak ada kesempatan untukku?" Baekhyun kembali mengangkat wajahnya. Wajahnya menunjukkan raut terkejut. Kesempatan?

"Chance? Are you kiding me? Just, don't go arround me." Baekhyun keluar dari cafe. Membiarkan Chanyeol yang meratapi nasipnya.

.

.

.

"Aku pulang." Kyungsoo melepas sepatunya kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tengah yang sudah lama tidak ia datangi. Ia mendudukkan dirinya di sofa putih. Menyandarkan lehernya sehingga menatap langit-langit dengan lampu besar disana.

"Kau pulang?" Suara seseorang menginstrupsi. Tanpa melihat siapa, Kyungsoo tahu siapa pemilik suara itu.

"Wae? Kau tak suka aku pulang, hyung?" Tanya Kyungsoo dingin. Ia masih menatap langit-langit. Tak tahu bahwa sang kakak duduk di hadapannya sekarang.

"Aku bertemu Chanyeol beberapa hari yang lalu." Kyungsoo diam. "Kalian putus?" Sambungnya.

Kyungsoo mengangkat kepalanya. Menatap kakaknya tajam. "That's not your bussiness," jawabnya dingin. Kyungsoo bangkit dari duduknya. Kakinya berjejak ke arah dapur. Mengambil cangkir dan mengisinya dengan susu coklat—yang selalu tersedia di dalam kulkas.

"Apa Baekhyun itu selingkuhannya?" Seungsoo kembali mengikutinya. Duduk di kursi pantri dapur.

"Hyung, aku benar-benar tidak ingin berdebat. Hentikan membicarakan Chanyeol dan yang lainnya. Dimana ayah?"

Seungsoo berdecak di tempatnya. "Di kamar, sedang istirahat mungkin. Entahlah, kau lihat sendiri saja," jawab Seungsoo cuek. Ia bangkit dari duduknya dan meninggalkan Kyungsoo di dapur. Kyungsoo berdecak sebal dan kembali meminum susu coklatnya yang hampir habis. Setelah meminum susunya, Kyungsoo segera menjejakkan kakinya menuju kamar tidur sang ayah. Ia mengetuk pintunya beberapa kali dan pintu itu terbuka.

"Oh, kau sudah datang Kyungsoo?" Bukan ayahnya, melainkan ibunya. Kyungsoo bergumam kecil dan tersenyum. Dipeluknya tubuh ibunya itu. Membenamkan kepalanya pada ceruk leher ibunya.

"Wae? Pasti ada sesuatu yang terjadi. Matchi?" Kyungsoo hanya mengangguk. Berada dalam dekapan sang ibu benar-benar membuat Kyungsoo nyaman. Aroma tubuhnya membuat Kyungsoo selalu merasa tenang.

"Sebentar saja bu, aku benar-benar butuh pelukan ibu sekarang," ucap Kyungsoo lirih. Ia malah semakin memeluk erat ibunya. Seakan tak ingin meninggalkannya ataupun melepaskannya barang sedetikpun. Nyonya Do tersenyum kecil. Tangannya bergerak mengusap punggung Kyungsoo dan surai coklat rambut Kyungsoo bergantian.

"Segera temui ayahmu. Ibu akan menamanimu, ok?" Ujar nyonya Do seraya melepas pelukannya. Sebelum membawa Kyungsoo menuju ruang kerja sang suami, nyonya memberikan kecupan singkat di dahi Kyungsoo dengan lembut. Kyungsoo tersenyum kecil.

Kyungsoo masuk kedalam ruangan ayahnya dengan sang ibu yang berada di depannya. Ia bisa menghirup aroma parfum kesukaan sang ayah.

"Yeobo, Kyungsoo sudah datang," ucap nyonya Do. Kyungsoo membungkuk sopan di samping ibunya.

"Neo, wasseo. Duduklah," titah tuan Do. Kyungsoo menurut dan duduk di salah satu kursi di depan meja kerja sang ayah. Ibunya sendiri berdiri di belakang sang ayah. Memberikan pijatan-pijatan kecil di pundaknya.

"Bagaimana kabarmu?" Tanya tuan Do basa-basi.

"Aku? Aku baik-baik saja ayah. Bagaimana keadaan ayah, apa semakin membaik?"

"Seperti yang kau lihat, semakin membaik."

Kyungsoo tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Jika boleh Kyungsoo jujur, ia teramat merindukan ayahnya. Bahkan saat sang ayah sakit, ia begitu menghawatirkannya. Hanya saja, ia tak tahu bagaimana cara menyampaikan pada ayahnya. Kyungsoo bisa melihat melalui ekor matanya bahwa sang ayah tengah membuka laci mejanya. Mengeluarkan sesuatu yang Kyungsoo sendiri tidak tahu itu apa.

"Ini brosur universitas yang menurut ayah bagus untukmu. Kau bisa memilihnya." Kyungsoo menerima uluran tangan sang ayah yang menyerahkan beberapa brosur. Kyungsoo hanya tersenyum kecil menanggapinya. Namun, saat ia membaca brosur, ia kembali menatap sang ayah, ibu dan brosur itu bergantian. Seakan tak percaya.

"A-ayah, ini—"

"Kau bisa memilih salah satu universitas dengan music major terbaik disana. Bagaimana?"

Kyungsoo mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menatap ibunya yang tengah tersenyum lembut padanya. Kyungsoo tersenyum lebar dan berterima kasih pada ayahnya.

"Tapi ayah minta, kau mau mempelajari hal berurusan dengan perusahaan. Ayah tetap butuh bantuanmu untuk mengelola perusahaan di Jepang."

"Nde, akan barusaha semampuku untuk membantu ayah. Aku janji ayah." Mata Kyungsoo berbinar bahagia.

"Kyungsoo, ada yang ingin ayah tanyakan."

"Nde, ada apa ayah?"

"Siapa Chanyeol dan Jongin?"

Kyungsoo menelan ludahnya kasar. Kembali ia menatap ayah dan ibunya bergantian. Rasa ingin tahu terpasang di wajah mereka.

"Kekasihmu?" Kyungsoo menunduk dalam diam.

"Maaf, aku mengecewakan ayah dan ibu."

"Jadi itu benar? Chanyeol kekasihmu?" Kyungsoo mengangguk kikuk.

"Keundae, kami sudah berakhir ayah."

"Apa itu memungkinkan kau kembali ke jalan yang sudah seharusnya?"

"A-aniyo."

"Bahkan jika ayah dan ibu yang meminta kau untuk keluar dari dunia gay-mu, kau akan menolaknya?" Diam.

"Mungkin. Aku sudah jatuh dilubangnya. Susah untuk bangkit."

"Jika dihatimu ada keinginan, kau bisa bangkit."

"Tapi hatiku tak menginginkannya."

Kyungsoo bisa melihat ayahnya yang menahan amarah. Ibunya hanya menatap Kyungsoo iba. Seakan memohon padanya agar menuruti perintah sang auah selanjutnya.

"Jika ayah memintaku untuk memilih music major atau dunia gay-ku. Akan akan memilih dunia ku. Aku tahu itu melenceng. Tapi itu membuatku nyaman."

"Aku mendidikmu untuk menjadi anak yang benar! Bukan yang melenceng seperti in!"

"Aku akan kuliah di bisnis manajemen dan aku tidak keluar dari duniaku. Hanya itu pilihan yang aku punya."

Tuan Do kembali menghela napas. Nyonya Do sendiri berusaha menenangkan suaminya dengan mengusap pundak sang suami lembut.

"Itu keputusanmu. Ayah tidak ikut campur. Kau bisa pergi." Kyungsoo bangkit dari duduknya. Membungkuk dan mengucapkan terimakasih lalu keluar ruangan sang ayah. Ia bersandar di dinding tepat disamping pintu ruangan ayahnya. Mengeluarkan ponsel hitam yang sejak tadi bergetar di dalam sakunya.

"Ada apa, Jongin?"

"Hyung, aku lapar. Kau bisa kerumahku? Joonmyeon hyung belum pulang." Kyungsoo memutar bola matanya.

"Kirimkan alamat rumahmu. Aku akan segera kesana."


maaf baru update. laptop diambil alih sama adek soalnyaa. maafkan akuu TT. ntah ini cerita makin gaej. tinggal 3 chap lagi dan selesai. sabar menunggu yaaah ;;)

balasan review :

BunnyPoro : yaa, sepertinya begitu. Sad ending? Entahlah. Dilihat aja next chapter ya^^

Sinhyun Jung : yaa, semoga nanti endingnya memuaskan semua orang. Semoga hehe. Thanks ya^^

Akit02 : kecelakaan gara2 ketabrak truk -_- soalnya dia mau ngejar Seungsoo kan. Thanks ya^^

Rossadilla17 : okee, dilihat next chapter ya^^

ajib4ff : iyaa tapi sebentar lagi udah mau masuk penyelesaian masalah (mungkin) thanks ya^^

Dhila1412 : thanks ya^^ dilihat ending okeh hehe:)

gingerbread124 : yaa, akhirnya dia mengaku. Thanks udah mau baca^^

Chris1004 : iyaaa, kyung ke jepang hehe. Ditunggu lanjutannya yaa ^^

1 : yaah, Kyung pinginnya ke Jepang hehe. Yaa, aku usahakan cepet update and dipanjangin ceritanya. Ngga janji ya, tapi aku usahakan ^^

kyung064 : ndee, gwaenchana~ ndee, ditunggu aja ya^^

baekhyunniewife : pasti ada saatnya dio bahagia:) chanyeol ke Jepang? LDR? Lihat akhirnya aja yaa^^

Love virus : miaaaan~ hehe, lihat endingnya aja ok. Thanks uda mau baca:)

Ikkyungss : iyaa mainnya chansoo. Hehe, oke tunggu aja next chapter yang lain.

BBCnindy : gwaenchana~ thanks uda mau baca plus review :)

berlindia : thanks yaa:) oke, aku usahakan cepet update :)

Lhnzm Inc : jangan bunuh yeol! TT oke, lihat endingnya aja. Kaisoo atau chansoo haha. Thanks yaa:)

Flo : hehe, thanks uda mau baca plus review :)

HaeSan : ehhmmm gimana yaa? Lihat next chapter aja okee! Haha

12Wolf : oke, ini lanjut:)

ichakyungsoo : okee, aku panjangin~ hahaha nih lanjut :)

Guest : okeh!:)

xiao : oke, ini udah lanjut :)

park soohee : huwaaa, gimana ya? chansoo atau kaisoo? hahaha ditunggu aja endingnya~


nb : last! review ndee~