"Daehwi sayang, kenapa kau hanya diam?"

Setitik salju mulai merambah di jalan raya. Hari yang semakin gelap membuat beberapa orang memilih meringkuk dalam selimut tebal. Daehwi masih membuang muka, menatap jendela dan menolak untuk menatap pria berparas bule di sebelahnya. Samuel sendiri tengah menyetir, namun fokusnya tetap pada pria mungil nan manis yang masih kesal.

"Kim Daehwi."

"Jangan merubah margaku seenaknya."

"Sebentar lagi kau akan jadi istriku."

"Aku ini laki-laki."

"Posisi mu bottom, sayang."

"Sok tahu, kamu."

Daehwi lebih memilih menatap keluar jendela. Menatap debu putih yang turun terus menerus. Mengabaikan pria tampan yang sedari tadi terus menerus mengoceh.

"Oh my God, Daehwi! Jangan mengabaikanku!" Samuel kembali berceloteh. Berharap pemuda Lee berhenti mengabaikannya.

Daehwi yang merasa terganggu oleh suara bising Samuel pun merengut kesal, "Astaga, Samuel! Kau berisik sekali!"

Mobil berwarna biru dongker berhenti mendadak di pinggiran jalan. Daehwi kembali merengut kesal, mengutuk Samuel dengan berbagai sumpah serapah yang lolos dari mulut kecilnya.

"Dasar bule abal! Dasar pria brengsek! Pergi seenakmu tanpa mengabariku! Dasar bajingan!"

Lee Daehwi terus mengutuk pria berdarah Amerika-Korea tanpa henti. Kedua tangannya memukul bahu Samuel, melepaskan segala kekesalannya selama 3 bulan terakhir. Kim Samuel hanya diam, mendengarkan segala ucapan serta makian yang di lontarkan si manis Daehwi.

"Kau tidak tahu kan betapa cemasnya Aku saat kau tiba-tiba memutuskan pergi ke London?! Dan parahnya lagi kau mengganti nomor ponselmu! Kau jahat sekali!"

CUP

"Hei manis, jangan mengoceh terus. Aku pusing mendengarnya."

Daehwi kembali bungkam. Ia mulai gugup, jantung berdebar sangat cepat. Kedua tangannya di tahan oleh lengan kekar Samuel. Dan apa tadi? Kecupan di kening? Samuel mengecup keningnya?!

"Kau tahu Daehwi? Aku pergi ke London untuk masa depan kita." Samuel berucap lembut. Menatap kedua manik mata sang pujaan hati.

Pemuda manis itu masih terdiam. Menatap wajah pemuda bule dengan sedikit kesal bercampur gugup, "Masa depan kita?"

Samuel tersenyum lembut, di tatapnya Daehwi dalam sambil mengusap rambut coklat terangnya. "Setelah lulus kuliah, Aku ingin menikahimu. Lalu kita tinggal di London. Kita akan menjalani kehidupan rumah tangga kita disana."

Pemuda Lee terlihat tersentuh. Hati yang awalnya terasa sangat kesal lambat laun menjadi tentram. Ia merasa sedikit bersalah karena sudah menyumpahi Samuel dengan kata-kata kotor. "M-maaf, Aku sudah—"

"Tidak, Aku yang salah karena tidak memberikan kabar. Maafkan Aku, ya?" Samuel sedikit mengacak surai kecoklatan Daehwi. Membuat pemuda manis itu semakin merona.

"D-dan, apa tadi kau mencium keningku?!"

"Lho, memang tidak boleh?"

"T-tentu saja tidak boleh, bodoh!"

"Aku bodoh pun kau tetap cinta."

"Diam kau, Kim Samuel!"

.

.

.

.

THE BODYGUARD FROM CINA

Main pair:

Lai Guanlin, Yoo Seonho, and other.

Disclaimer:

This is remake of 'The Bodyguard from Beijing/The Defender'

But, The Bodyguard from Cina is mine.

WARN! Yaoi, OOC, TYPO, ParodyAU!

I hope you enjoy this story~

.

.

.

.

"Terima kasih Haknyeon-ssi, maaf jadi merepotkan." Euiwoong membungkuk 90 derajat pada pemuda Joo. Sedikit mengeratkan mantel coklat yang di kenakan.

Haknyeon yang sejak tadi salah tingkah 'pun menjadi lebih salah tingkah. "A-ah, tidak masalah guru Ung."

Lee Euiwoong tersenyum ramah. "Panggil saja Ung."

"Baiklah, Ung." ucap Haknyeon semakin gugup.

"Ingin mampir?" tanya Euiwoong.

"A-ah, tidak usah. Aku takut merepotkan. Lagipula sudah larut, dan Aku harus kembali ke rumah tuan Seonho." ucap Haknyeon sembari tertawa renyah. Dalam hati ia menangis meraung-raung ingin mampir ke rumah sang guru dengan image imut.

"Aku sama sekali tidak merasa di repotkan. Ah, justru Akulah yang merasa merepotkanmu." ujar Euiwoong.

Haknyeon semakin bimbang. Ia berada di pilihan yang sangat sulit. Ini adalah kesempatan emas untuk mendekati guru Ung. Ya, kapanlagi sosok Joo Haknyeon bisa mendekati guru Ung?

"Maaf Ung, mungkin lain kali. Tugasku menjaga tuan Seonho masih berlaku sampai besok persidangan." ucap Haknyeon. "Aku permisi."

Pemuda Joo kemudian membungkuk, lalu berjalan lunglai. Menatap mobil yang terpakir di hadapan mata. "Haknyeon!"

Haknyeon sedikit terkejut mendengar Euiwoong berteriak. Ia menoleh, menatap guru mungil yang tengah menatapnya. "Aku suka dengan pria yang bertanggung jawab sepertimu, Haknyeon. Sekali lagi terima kasih sudah mengantarku pulang. Lain kali datanglah kerumah. Aku akan dengan senang hati jika kau datang."

Pemuda Joo merasa seperti berada di surga. Lee Euiwoong tersenyum sangat manis padanya. Jantung pemuda Joo semakin berdetak cepat. Guru imut itu memang paling pandai membuat seorang Joo Haknyeon salah tingkah.

"Baiklah, Aku akan datang kerumah mu lusa."

Malam itu, dua pemuda yang baru saja bercakap mulai tersenyum. Dengan salju yang turun membuat keduanya mengeratkan mantel tebal. Mungkin saja, berawal dari mengantar pulang bisa menjadi awal dari kisah yang lebih berkepanjangan. Tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya.

.

.

.

.

Lampu di ruang keluarga mulai redup. Menyisakan pantulan rembulan dari luar jendela. Dengan pemandangan salju turun, membuat nuansa indah terpatri jelas di halaman rumah besar Yoo Seonho.

Guanlin mengaduk sebuah teh hitam, seluruh lampu mulai di matikan. Bodyguard asal Cina itu hanya melirik sekilas pada si pelaku pemadam lampu, Bae Jinyoung.

Bocah berumur belia itu tersenyum menatap Guanlin. Ia segera menaiki tangga menuju kamarnya, "Selamat malam paman."

Lai Guanlin segera melangkahkan kaki jenjangnya menuju sofa ruang keluarga. Sembari masih mengaduk teh hitam yang dibuat, ia berjalan santai lalu duduk. Sekilas menatap salju yang masih setia turun dari langit.

Teh hitam mulai mengalir dalam rongga mulut. Membasahi tenggorokan yang kering. Hangat dan pahit, teh hitam yang Guanlin suka adalah rasa pahit. Tangan besarnya mengambil walkie talkie kecil di saku celana. Ibu jarinya segera menekan tombol.

Matanya yang sudah setajam belati semakin menajam. Ketika layar walkie talkienya tak menampakkan sosok tuan muda dalam kamar. Jemari Guanlin kembali menekan tombol, mungkin Seonho sedang berada di ruangan lain—pikirnya.

Namun tetap nihil. Seonho tak terlihat di manapun. Di lorong ruangan, di dapur, di dekat kolam renang, di halaman rumah. Nihil, semuanya tetap tak ada. Guanlin jadi sedikit panik.

Ia kembali menekan tombol. Layar monitor kecil menampakkan ruang keluarga. Ada dirinya di dalam layar, dan juga... Seonho.

Terlihat, Yoo Seonho tengah tersenyum sembari menatap punggung Lai Guanlin. Menatapnya dengan perasaan serta raut wajah bahagia. Guanlin gugup dibuat, ia menatap kearah depan. Jadi, sejak tadi Seonho berada di belakangnya?

Suara langkah kaki terdengar di ruang keluarga. Ruangan yang sudah gelap dan sepi membuat derap langkah sang tuan muda lebih terdengar jelas. Rembulan masih setia memancarkan sinar, wajah tegas sang bodyguard bersinar akibat pantulan cahaya dari luar. Rahangnya yang keras terlihat meneteskan keringat. Jantungnya berdegup keras ketika Seonho semakin mendekat. Jemarinya menekan terus menerus monitor berwarna hitam di tangan. Ia gugup, sampai layar monitor rusak akibat ulahnya.

Guanlin segera bangkit dari sofa. Ia membalikkan badan, semakin gugup ketika Seonho sudah benar-benar berada di hadapannya. "Guanlin, ada apa? Kenapa terburu-buru?"

"A-ah, alat ini rusak. Aku harus membenarkannya." ucap Guanlin sedikit gugup.

Kedua tangan Seonho terlihat membuka sebuah kotak berwarna hitam. Di bukanya kotak itu di depan Guanlin, "Kado natal."

Jam tangan berwarna hitam mengkilap terpampang jelas di wajah sang bodyguard. "Terima kasih."

Jemari lentik Seonho mulai melingkar di lengan Guanlin. Memakaikan sang bodyguard jam tangan baru, "Maaf Aku bukan seorang Santa. Aku tak bisa memberikan apa yang kau inginkan. Tapi, Aku akan berusaha menjadi Santa yang baik."

Jantung Guanlin semakin berdebar. Keringat mulai membanjiri pelipis, ia gugup. Mata hitamnya menatap wajah manis Seonho yang terpancar sinar rembulan dari luar jendela. Semakin indah ciptaan Tuhan yang satu ini.

"Ah, jam tangannya sangat cocok dipakai denganmu." ucap Seonho senang. Menatap lengan kekar Guanlin yang sudah berbalut jam tangan pemberiannya.

"Terima kasih." Guanlin tersenyum tipis. Menatap lengannya yang habis dipakaikan jam tangan.

Keduanya terdiam sejenak. Seonho terlihat malu-malu menatap sosok pria tegap di hadapannya, "Selamat malam."

"Ah, selamat malam juga." ucap Guanlin. Seonho segera pergi dari hadapan sang bodyguard.

Ketika kaki kanannya ingin menaiki tangga, Seonho kembali menatap kearah Guanlin. "Ah, besok sudah sidang. Apa setelah kembali ke Cina, kau akan berkunjung ke Korea Selatan lagi?"

Guanlin menoleh menatap Seonho, "Entahlah. Mungkin kalau ada waktu senggang."

Seonho sedikit tertawa, kemudian manik matanya kembali menatap tentara Cina. "Aku harap kau memiliki waktu senggang yang lama. Selamat malam."

"Selamat malam." jawab Guanlin. Seonho menaiki tangga, masuk kedalam kamar.

.

.

.

.

Teh hitam kembali di sesap dengan pelan. Guanlin menoleh, menatap kamar Seonho yangmana lampu kamarnya sudah di matikan. Itu tandanya si pemuda manis sudah tertidur.

Mungkin istilah yang pantas untuk sosok Lai Guanlin adalah jangan pernah menilai sesuatu dari luarnya saja.

Karena pada kenyataannya, Yoo Seonho belum tertidur. Ia masih terjaga, mengendap-endap menatap sosok bodyguard yang masih duduk di ruang keluarga. Terlihat Guanlin menatap lengan—lebih tepatnya jam tangan pemberian Seonho. Di tatap dalam, tampangnya yang datar membuat Seonho sulit menebak ekspresinya.

Kemudian ia melepas jam tangan yang satunya. Jam tangan berwarna gold di tatap datar. Wajahnya yang selalu nampak datar bagaikan papan catur pun menambah kesan kharisma yang berlebih. Di tambah wajah itu bersinar akibat rembulan di luar sana. Seonho kembali masuk kedalam kamar.

Tiba-tiba suara alat pendeteksi milik Guanlin berbunyi. Ia segera melesat lari menuju kamar Seonho. Membuka pintu kamar—yang beruntung belum di kunci oleh tuan muda. Kamarnya gelap, ia tak melihat Seonho di dalam kamar.

Sebuah tangan menyentuh pundak Guanlin. Dengan kecepatan penuh, Guanlin segera menarik tangan tersebut lalu membanting tubuhnya ke atas. Mata tajam sang bodyguard Cina melebar, sosok yang ia lempar adalah Yoo Seonho.

Segera ia menangkap tubuh Seonho yang akan jatuh. Namun nyatanya, ia juga ikut terjatuh. Punggung kokohnya membentur lantai marmer, dengan Seonho yang berada di atas tubuhnya. Ia merengkuh tubuh kurus Seonho.

Tuan muda menatap bodyguard yang menangkapnya. Kedua manik mata bertemu, menatap satu sama lain. Guanlin segera berguling ke samping, lalu menyalakan lampu. Pistol di tangan sudah siap menembak siapa saja yang berani melukai Yoo Seonho.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Guanlin. Ia segera membantu Seonho berdiri.

Pemuda Yoo tersenyum, "Maaf, Aku tidak sengaja menekan tombol pada liontin ini."

Guanlin menatap liontin yang melingkar pada leher Seonho. Liontin pemberiannya, "Tidak apa-apa."

Tentara Cina itu ingin beranjak pergi, namun sebelah tangannya ditahan oleh Seonho. "Guanlin, Aku tahu ini terlalu cepat. Tapi..."

Guanlin menatap mata hitam Seonho. Pria berparas manis itu kembali menatap Guanlin, "Aku mencintaimu."

Terdengar suara degupan dalam hati Guanlin. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Hanya kalimat singkat yang diucapkan Seonho, namun memiliki efek yang besar bagi debaran jantungnya. Ia segera menyingkirkan tangan Seonho yang masih menggenggam erat lengannya. Dengan cara halus.

Seonho sedikit tersenyum, "Apa itu berarti cintaku bertepuk sebelah tangan?"

"Aku—" ucapan Guanlin tertahan. Ia menatap wajah pemuda yang masih diam. Lelaki asal Cina itu sadar, ia adalah seorang biseksual. Seseorang yang mencintai laki-laki maupun perempuan. Ia sangat sadar akan hal itu.

Dan kesadaran itu semakin terasa ketika menatap wajah manis nan damai milik Seonho. Guanlin memajukan langkahnya pada Seonho. Semakin dekat, jarak mereka hanya beberapa senti. Seonho semakin gugup dibuat. Guanlin segera maju lalu berjalan melewati Seonho. Ia menutup gorden kamar sang tuan muda.

Yoo Seonho sedikit kecewa, ia segera mundur lalu menutup pintu kamar. Guanlin yang hendak keluar dari kamar pun kembali membuka gorden. "Apa yang kau mau, Seonho?"

Pemuda yang berstatus guru TK itu menunduk. Sedetik kemudian kembali menatap Guanlin. Ia berjalan maju, mendekat pada sosok pengawal tegap yang masih berdiri dekat gorden. Jarak wajah mereka hanya beberapa senti. "Aku ingin mencium bibirmu."

Seonho kembali mundur, semakin mundur sampai punggungnya menabrak dinding. Sebelah tangannya mematikan lampu. Kamar 'pun kembali gelap. Guanlin masih diam, ia masih setia memegangi gorden. Pemuda manis itu sedikit melangkah maju, menatap Lai Guanlin dengan tatapan cinta. Ia berjalan mendekat.

Tangan kiri Guanlin yang masih memegang tali gorden 'pun perlahan di lepas. Seonho semakin mendekat, menuju pada sosok pengawal tampan dengan tubuh tegap nan tinggi. Jarak tubuh keduanya hanya tinggal beberapa senti lagi, wajahnya semakin mendekat.

Semakin mendekat, dan gorden pun menutup jendela kamar.

.

.

.

.

TBC

Balasan review sebelumnya:

soonyounghearteu: Hehe untuk chapter sebelumnya dan sekarang saya buat khusus untuk romansa. Saya sendiri ngakak bayangin muka Haknyeon malu-malu xD Hehe, dan pada akhirnya saya selipkan SamHwi juga disini. Terima kasih sudah membaca :))

ererigado: KAU MEMANG MAKHLUK MESUM, DASAR LAKNAT :'v /dilempar batu. Selaknat-laknatnya dirimu, terima kasih sudah membaca ya xD

Triass99: Hehe maapkan jika kelamaan:'v /sungkem. Huhu~ Baejin kan GuanHo shipper xD terima kasih sudah membaca :))

KimssiJeonnim: Huhu~ tergantung bapak hakimnya kecelakaan lagi apa engga xD /plak. Terima kasih sudah membaca :))

Cheshire Oh: Duh, kayaknya gak perlu deh. Nanti repot bangun rumahnya lagi :'v /plak. Baejin dewasa sebelum waktunya :) /plak. Hehe mungkin chapter kedepannya akan lebih saya perjelas. Terima kasih sudah membaca :))

Guesschu: Anjir prasasti, gue ngakak :'v /plak. Huu maafkan jadi nunggu lama, kemarin-kemarin lagi banyak tugas :(( /sungkem. Hehe happy birthday ya xD Saya sendiri juga merasa begitu, kemarin lagi agak males ngetik juga sih :'v /digampar. Terima kasih sudah membaca :))

Karen Ackerman: Jaehwan sudah merasakan aura-aura kelam.. /plak. Seonho kan anak baik, jadi yang ngejagain harus cakep macam Guanlin :v /gak nyambung. Terima kasih sudah membaca :))

daebaektaeluv: Woojin lelaki strong wkwk :v terima kasih sudah membaca :))

kkamo: Hehe, maybe. Saya suka memberi kejutan di setiap chapter xD GuanHo masih dalam proses pendekatan xD Haha, saya ngakak baca komen kamu masa xD /plak. Terima kasih sudah membaca :'v

Ellegisnt: Hehe dua chapter ini khusus romansa xD Bapak Jaehwan sudah merasakan sesamting diantara GuanHo :'v terima kasih sudah membaca :))

Wonhee park: Hehe, dalem hati udah mewek dia :'v /plak. Terima kasih sudah membaca :))

blackjackcrong: Maafkan daku yang harus memisahkan JaeWoon :'v Hehe, jujur saya sendiri masih gak nyangka udah memasangkan JaeHo :'v /plak. Terima kasih sudah membaca :))

skarayums: Hehe saya malah ngakak baca komen kamu xD /ditabok. Hehe, nantikan saja ya xD terima kasih sudah membaca :))

kim naya: Seonho masih labil, jadi gak tau mau milih siapa:(( /plak. Terima kasih sudah membaca :))

Erumin Smith: Duh nak ayam jangan disakitin dong :(( emangnya bapak Jae mau sama kamu? :v /plak. Hehe terima kasih sudah membaca :))

A/n:

Jujur, saya ketawa sendiri baca komen kalian yang minta Jaehwan segera putus sama Seonho xD /ditimpuk batu. Tapi mungkin saya akan memberikan sedikit spoiler. Nanti, apapun yang terjadi di dalam fanfiksi ini, GuanHo akan berlayar pada akhirnya. Ya, walau nanti ada beberapa bumbu yang akan saya berikan hehe /ketawa jahat.

Khusus untuk Guesschu, selamat ulang tahun ya! Semoga panjang umur dan sehat selalu, wish u all the best :D dan ini kadonya haha, ya walaupun cuma fanfiksi abal :'v

Dan untuk GuanHo shipper, fanfiksi ini saya persembahkan kepada kalian. Mungkin gak sepanjang chapter sebelumnya. Karena chapter depan mungkin akan lebih panjang xD

Terima kasih yang sudah membaca, memfollow, memfavorite, dan memberikan review :)

-levieren225