Perjanjian Hati
Original
By
Santhy Agatha
.
.
.
It's not my own story, it's just a remake from novel with the same tittle
Perubahan menyesuaikan cerita dan tokoh
.
.
.
HunHan, KaiSoo, KrisTao, etc
.
.
.
"Pernikahan itu bagaikan perjanjianhati. Perjanjian hati untuk salingmengerti, saling memaafkan dan saling menjaga cinta satu samalain."
.
.
.
EPILOG
.
.
.
Pagi hari yang mendung, hujan rintik-rintik turun di luar sana, membuat suasana pagi gelap dan temaram. Luhan menarik selimutnya sampai ke pundak, merasa lelah dan mengantuk luar biasa.
Lalu dia merasakan lengan itu melingkari pinggangnya, lengan yang kuat, memeluknya dengan posesif.
Luhan mengerutkan kening, membuka matanya pelan dan menunduk melihat lengan itu, kesadarannya kembali... Itu lengan Sehun, suaminya.
Suaminya. Pipi Luhan memerah dan dadanya dipenuhi oleh perasaan hangat. Sehun benar-benar telah menjadi suaminya yang sesungguhnya, semalam. Ingatannya melayang kepada malam sebelumnya dimana Sehun berlaku sangat lembut kepadanya, menyentuhnya dengan hati-hati dan penuh penghormatan, lalu Sehun memberinya pengalaman luar biasa dan membuat mereka benar-benar menjadi suami isteri.
Lengan Sehun yang memeluknya bergerak, lelaki itu rupanya terbangun dan langsung mengecup pipi Luhan dari belakang dengan lembut.
"Selamat pagi." bisiknya serak di telinga Luhan.
Luhan menolehkan kepalanya dan tersenyum malu-malu kepada Sehun, "Selamat pagi juga."
Sehun melirik ke arah hujan yang mulai turun dengan deras di luar, "Hari ini hari minggu dan diawali dengan hujan yang turun deras." lelaki itu mengedipkan matanya, "Sepertinya kita akan berada di atas ranjang seharian."
Luhan sempat tertawa geli ketika Sehun menariknya setengah menggoda ke dalam pelukannya dan menciuminya.
Dan memang benar, mereka baru turun dari ranjang lama sekali sesudahnya.
…..
Ketika Luhan dan Sehun turun untuk makan siang dan melewatkan sarapan, mereka bertemu dengan Kyungsoo dan Kai yang sedang duduk di ruang makan, menikmati makan siang mereka. Kai memang sengaja datang untuk menjemput Kyungsoo ke sebuah acara kampus di hari minggu.
Kyungsoo mengangkat alisnya melihat pasangan itu dan tersenyum menggoda.
"Aku pikir kalian tidak akan bangun seharian." gumamnya penuh arti, membuat pipi Luhan merah padam karena malu.
Sehun hanya terkekeh menanggapinya dan merangkul pinggang Luhan erat-erat, "Kau tidak boleh protes, kami kan masih bisa disebut pengantin baru."
"Sehun!" Luhan berbisik pelan sambil menyikut pinggang suaminya pelan, membuat Sehun tergelak dan Kyungsoo serta Kai ikut tertawa.
Masih tersenyum Sehun menarikkan kursi makan untuk Luhan dan duduk di sebelahnya. Mereka lalu makan bersama.
"Ibu di rumah sendirian?" Luhan melirik ke arah Kai, memikirkan ibunya dan tiba-tiba ingin tersenyum, ibunya akan sangat bahagia dengan perkembangan ini, bahwa Luhan dan Sehun benar-benar berbahagia dalam arti yang sesungguhnya.
"Ibu ada acara dengan ibu-ibu sekitar rumah, tadi aku sudah mengajaknya ke sini tetapi dia tidak bisa karena sudah berjanji akan datang ke acara itu."
"Oh." Luhan menganggukkan kepalanya dan memusatkan perhatiannya kembali kepada makanannya.
"Kami akan berbulan madu ke Paris." gumam Sehun memecah keheningan.
Kyungsoo yang menanggapi pertama dengan senyum lebarnya, "Akhirnya kalian berbulan madu juga." desahnya.
"Kapan Eonni?" tanyanya bersemangat.
Luhan menggelengkan kepalanya, dia sendiri tidak tahu rencana ini, dia memang mendengar Sehun sempat mengatakannya kemarin, tetapi dipikirnya waktu itu Sehun masih akan melakukannya beberapa bulan lagi.
Luhan menoleh ke arah Sehun dengan penuh pertanyaan, "Aku juga tidak tahu..." jawabnya kepada Kyungsoo,
"Memangnya kita akan berbulan madu kapan Sehun?"
Sehun tersenyum penuh rahasia, "Segera." gumamnya,
"Minggu depan."
Kyungsoo tersenyum makin lebar, "Dan kuharap kalian membawakanku oleh-oleh calon keponakan sepulangnya kalian dari sana."
Pipi Luhan memerah mendengarnya, dan Sehun tersenyum lembut.
"Ada yang harus kukatakan kepada kalian," Sehun menatap Luhan meminta persetujuan, ketika Luhan mengangguk, Sehun melanjutkan. "Aku harap kalian tidak marah kepada kami."
Kyungsoo dan Kai saling bertukar pandang, lalu menatap Sehun dengan bingung.
"Tentang apa?" gumam Kyungsoo penasaran.
"Tentang pernikahan kami." Sehun menghela napas panjang. "Semula kami menikah hanya berdasarkan perjanjian."
"Perjanjian?" kali ini Kai yang menyela, menatap Luhan dengan was-was.
Sehun mengangguk dan menatap Kai dengan serius, "Jangan menyalahkan Luhan karena berbohong kepada kalian selama ini, sebenarnya akulah yang mengusulkan perjanjian ini kepadanya."
Dia menghela napas, "Kau mungkin belum tahu Kai karena aku yakin Kyungsoo tidak cerita kepadamu... Kau pasti sudah tahu bahwa aku adalah anak angkat keluarga ini, bahwa aku dan Kyungsoo tidak ada hubungan darah. Jadi karena ingin menjaga keutuhan keluarga, Mama kami ingin menjodohkan kami. Aku dan Kyungsoo ke dalam sebuah pernikahan. Tentu saja waktu itu mama kami belum mengenalmu, Kai."
Kai menoleh kepada Kyungsoo dengan pandangan bertanya-tanya, dan Kyungsoo mengangguk, membenarkan perkataan Sehun.
"Aku berpikir aku tidak mungkin menikahi Kyungsoo, dia sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri, dan aku yakin begitu pula sebaliknya." Sehun melempar senyum kepada Kyungsoo.
"Kami berdua sangat ingin menolak pernikahan ini, tetapi mengingat kondisi mama waktu itu, kami sangat bingung dan tidak ingin membuat mama kecewa. Aku juga pusing memikirkan jalan keluar dari polemik ini, sampai kemudian kau membawa Luhan ke pesta itu dan mengenalkannya sebagai kakakmu." Sehun menggenggam tangan Luhan, menatap mata istrinya dengan lembut,
"Ide itu muncul begitu saja. Aku dan Luhan berkompromi untuk menjalankan hubungan pura-pura ini, supaya kalian bisa menentukan kisah cinta kalian sendiri."
Kai terperangah, "Jadi kalian berdua benar-benar baru mengenal pertama kali di pesta itu? Bukan sudah mengenal lama seperti yang kalian katakan?"
Sehun mengangguk, "Sekali lagi aku minta maaf karena kami telah membohongi kalian semua, tetapi waktu itu kami pikir itulah jalan yang terbaik." Sehun meremas jemari Luhan semakin erat,
"Pernikahan itu pada awalnya hanyalah sebuah perjanjian. Tetapi kemudian kami saling mencintai. Dan kami mensyukuri perjanjian pernikahan itu."
Mata Kyungsoo berkaca-kaca, "Kalian... Kalian terlah berkorban demi kami berdua... Kalian mengikat diri agar kami bisa bebas menentukan cinta kami." ditatapnya Kai yang berusaha menelaah semua ini, suaranya serak penuh perasaan,
"Terima kasih Oppa."
Sehun tersenyum lembut kepada adiknya, "Sama-sama sayang, pada akhirnya aku menemukan perempuan yang akan aku cintai selamanya, istriku."
Kai menghela napas panjang, "Aku juga harus mengucapkan terima kasih... Dan aku senang kalian akhirnya berujung bahagia." matanya menatap lembut ke arah Luhan,
"Selamat Noona."
Luhan tersenyum kepada adiknya, "Sama-sama Kai." bisiknya tulus. Ternyata begitu mudah berterus terang kepada kedua adik mereka. Tidak ada kebohongan lagi sehingga Luhan akan lebih mudah melangkah ke depannya bersama Sehun.
…..
"Aku mencintaimu." Sehun memeluk Luhan dari belakang dengan menggoda, dia baru pulang dari kantor dan memeluk isterinya dari belakang dan menggelitiknya setengah menggoda.
"Sehun!" Luhan berteriak kegelian dan menerima kecupan-kecupan sayang Sehun di pipinya.
Sehun terkekeh sambil masih menciumi Luhan, menghirup aroma istrinya yang sangat dirindukannya seharian ini, "Apakah kau merindukanku selama aku tidak ada di rumah?" bisiknya lembut, "Dan kau harus menjawab 'ya' kalau tidak aku akan marah."
"Ya Sehun." Luhan membalikkan badannya dan memeluk Sehun, membiarkan dahinya dikecup dengan lembut.
"Aku juga." Sehun mengaku. "Setiap saat yang kupikirkan hanya kau, aku tidak sabar untuk cepat-cepat pulang."
Pipi Luhan bersemu merah dan menatap suaminya penuh cinta. "Aku sangat bahagia bersamamu." Bisiknya kemudian membuat Sehun langsung memeluknya semakin erat.
"Syukurlah." gumam Sehun penuh perasaan, "Kau tahu kebahagiaanmu telah menjadi obsesi pribadiku. Aku berjanji akan menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk membahagiakanmu." dikecupnya ujung hidung Luhan,
"Ngomong-ngomong tentang berbahagia, kita akan berangkat ke Paris Sabtu ini. Aku sudah menyiapkan semuanya."
Mata Luhan berbinar, "Kau sudah bisa melepaskan diri dari kegiatan kantormu?" Luhan tahu Sehun sibuk luar biasa, karena lelaki itu bisa dibilang mengendalikan seluruh perusahaan dengan kepandaiannya. Dia adalah orang inti diperusahaan dan sangat sibuk, sehingga berbulan madu hampir sebulan di Paris tentunya memerlukan persiapan yang cukup lama bagi perusahaannya.
Sehun tersenyum, "Sesibuk-sibuknya aku, kaulah prioritasku, lagipula aku sudah membagi semua tugas kepada para asistenku, aku yakin mereka semua memiliki kemampuan yang baik untuk mengelola perusahaan selama aku tidak ada."
Luhan mendesah lega, "Jadi, kita akan berbulan madu?"
Sehun menganggukkan kepalanya, "Kita akan meneruskan usaha untuk menciptakan Sehun Junior di Paris." godanya, membuat pipi Luhan bersemu merah.
Lelaki itu terpesona melihat kecantikan isterinya, sehingga tidak bisa menahan diri untuk menunduk dan mengecup bibir isterinya dengan penuh gairah. Disesapnya bibir yang lembut itu dengan penuh kasih sayang.
Ketika mereka berdua mengangkat matanya, binar-binar kebahagiaan memancar dari mata mereka, penuh dengan cinta.
.
.
.
.
.
.
.
END
a/n:
AKHIRNYA BENAR-BENAR ENDDDD.
Duh gustiii, akhirnya end jugaa. Berarti tinggal light killer ya? Ditunggu aja, baru tahap editing. Hehe
Terimakasih untuk para reader setia, para reviewer, dan sider atas segala dukungannya. Haha
Oh ya saya bikin ff baru, eh remake sih. Hehe silahkan di check ya
