The Curse and The Baby

A fanfic by Presiousca

.

10

.

THE FAMILY

.

Menunggu dalam cemas.

Keempat orang yang ada di sana seperti bernafas di tengah arena perang. Takut, khawatir dan kebingungan bercampur baur. Menjadi satu dan terasa akan meledak di dalam kepala.

Baekhyun tidak tahu harus bagaimana menghadapi ketakutannya untuk kehilangan. Bagaimanapun juga, bayi nya masih sangatlah kecil. Dia baru berusia dua minggu, tapi penderitaannya sudah setara orang dewasa.

Tidak bisa dipungkiri, rasa pesimis dalam dirinya-lah yang menang.

"Tidak apa-apa. Dia akan kembali." Bisikan Chanyeol datang seperti angin.

Memeluk Baekhyun ke dalam gulungan lengannya yang kokoh, walaupun tidak bohong, bahu Chanyeol juga terasa lesu.

"Jesper pasti akan kembali." Gumam yang lebih kecil di dalam pelukan.

Chanyeol tersenyum segaris mendengar Baekhyun memanggil anak mereka dengan nama pemberiannya. Betapa kedamaian yang tidak ada tandingannya.

"Tentu saja. Kamar Baby Blue Jesper sudah siap untuk digunakan."

Detik demi detik berlalu dalam suasana mencekam.

Luhan berulang kali mengetukkan kepalanya ke dinding dan beribu maaf sudah dia ucapkan. Baekhyun juga sudah berkata bahwa ini bukan salahnya karena membawa kabur keduanya saat Bubble baru lahir.

Kalau menurut Baekhyun, ini sudah keinginan Tuhan. Semacam bentuk sederhana dari hukuman untuk orangtua yang saling membohongi.

"Aku pasti sudah gila karena membawa dia pergi saat umurnya baru satu hari. Aku minta maaf..." ucap Luhan sampai gemetaran di dalam rangkulan Baekhyun yang justru terlihat lebih tegar.

"Aku juga minta maaf. Aku yang menggendongnya waktu itu." Sehun berdiri di hadapan Chanyeol dengan wajah menyesal.

Berpikir kalau dua atau tiga pukulan di wajah sudah setimpal dengan perbuatannya. Tapi, Chanyeol hanya menepuk bahunya dua kali.

Seperti yang selalu Sehun lakukan kalau Chanyeol sedang jatuh.

Tiba-tiba pintu terbuka dengan seorang dokter berjalan keluar. Melepas masker di wajah dengan pelan dan mendapati empat orang menghadangnya dengan wajah cemas.

"Denyut jantung pasien sempat hilang. Suhu tubuhnya juga turun drastis sekali." Buka sang dokter.

Baekhyun meremas jemari Chanyeol di genggamannya begitu erat. Begitu ketakutan.

"Beruntung bayi kalian sangat pintar. Dia punya keinginan hidup yang kuat jadi masa kritisnya sudah lewat. Tinggal menunggu sampai dia sadar lalu kami akan melakukan tes malnutrisi." Dokter itu berucap dalam senyuman.

Melepaskan ketakutan yang menggantung di hati siapa pun. Yang telah satu jam menunggu dalam cemas.

e)(o

.

Dia telah gagal menjaga anaknya sendiri.

Begitu pikir Baekhyun saat melihat bayinya yang sedang terlelap dengan alat bantu nafas. Sangat miris memang, apalagi sisi kiri dadanya yang ditempeli alat pendeteksi jantung. Orangtua mana yang tidak hancur melihat keadaan anaknya seperti itu?

"Baekhyun!" Seseorang memekik di ambang pintu.

Baekhyun bukan main tertegun saat melihat ibu dan ayahnya berjalan masuk dengan lesu. Tidak lepas menatap tubuh cucu pertama mereka dengan begitu pilunya.

"Anak macam apa kau ini! Cucu pertama ibu lahir tapi kau tidak pernah memberi kabar! Lalu kau mau membiarkan Ibu tidak tahu keadaan cucuku sudah seperti ini!" cerca wanita itu dengan suara tertahan, memukuli bahu Baekhyun sambil tersedu.

Entah perasaanya atau bukan, tapi Baekhyun seperti tahu bahwa ibunya tulus merasakan sakit untuk cucunya. Layaknya kekhawatiran seorang nenek kepada sang cucu, begitupula, dengan ayahnya yang berdiri dengan tongkat di belakang sana.

"Seharusnya kau banyak bertanya kepada Ibu bagaimana caranya mengurus bayi! Oh, cucuku yang malang..." Ibunya berjalan mendekati tubuh terbaring Jesper.

Sedang, sang ayah berjalan tertarih mendekat. Baekhyun seperti terbawa angin berlari kepada pria itu lalu memeluknya. Menumpahkan rasa lelahnya di bahu sang ayah yang paling mengerti dirinya.

Chanyeol entah dari mana sudah berdiri di ambang pintu. Menyenderkan bahunya di sana sambil menggoyangkan ponsel.

Oh. Dia rupanya yang sudah memberitahu kedua orangtua Baekhyun tentang Jesper.

"Kau dan Chanyeol akan jadi orangtua yang baik, nak." Ucap Ayah Baekhyun yang lebih terdengar seperti omong kosong.

Tidak apa. Lagi pula, Baekhyun memang begitu. Dia memang sudah gagal. Buktinya saja sekarang Jesper harus ditempeli banyak selang dan alat bantu nafas untuk bertahan hidup.

"Siapa nama cucu pertama Ayah?"

"Jesper, Ayah. Namanya Jesper Park." Sahut Chanyeol sambil memeluk tubuh renta pria yang adalah mertuanya.

Chanyeol merasakan tangan itu menepuk-nepuk punggungnya seperti sebuah asupan. Rasanya seperti memeluk mendiang ayahnya yang sudah lama meninggal. Chanyeol terlewat nyaman sampai rasanya tidak mau melepas.

Tidak sadar kalau pemandangan itu begitu menyentuh hati Baekhyun.

Tapi suasana syahdu itu berganti saat Ibu Baekhyun memekik, terdengar seperti sedang tercekik. Tiga orang yang lain mendekat untuk mengetahui gerangan apa yang telah terjadi. Lalu, sebuah pemandangan paling indah terlihat di wajah si bayi mungil.

Matanya berkedip sangat pelan. Memperlihatkan bola mata seluas samudera yang kelamnya menenggalamkan jiwa. Baekhyun gemetaran sampai ke tulang-tulang, menular pula kepada Chanyeol.

Buru-buru, sang nenek yang lebih sigap berlari keluar untuk memanggil dokter. Berteriak di koridor kepada para medis bahwa cucu pertamanya baru saja membuka mata.

Syukurlah, Jesper mereka sudah kembali.

e)(o

.

Dokter bilang, sindrom meninggal mendadak pada bayi akan selesai jika suhu tubuh sudah kembali normal.

Berbahagialah karena angka tiga puluh tujuh derajat celcius sudah bisa dicapai. Hasil tes malnutrisi Jesper juga sudah baik. Sudah bisa menjadi kunci untuk membawa pulang Baby Jesper ke rumah.

"Empat puluh delapan jam pertama adalah masa yang paling rawan. Tolong lebih diperhatikan lagi untuk suhu tubuhnya." Pesan sang Dokter sebelum Baekhyun benar-benar melewati pintu dengan Jesper di timangan.

Chanyeol menyanggupi pesan itu dengan sepenuh hati lalu menyongsong keluarga kecilnya untuk pulang. Membayangkan kalau rumahnya akan kembali indah seperti sebelum kejadian kemarin. Hm, sudahlah lupakan. Bukan kenangan yang menyenangkan untuk diingat.

Karena yang terpenting sekarang adalah, pastilah hidupnya akan lebih berwarna. Pastilah Chanyeol tidak akan lagi hidup di dalam belenggu kebencian. Tentu saja tidak.

Bagaimana bisa?

Karena apa?

Karena siapa?

Jawabannya bisa langsung Chanyeol temukan begitu mendengar Jesper mengigau lembut. Menatap bibir yang sudah kembali merah segar itu mengerut dengan gemas.

Obatnya yang paling mujarab sedunia.

Aah, hidupnya yang sudah bersih dari campur tangan dendam. Betapa Chanyeol sangat menantikan hari esok untuk mengurus, membesarkan dan menemani Jesper tumbuh besar.

Bersama siapa?

Baekhyun tentu saja!

e)(o

.

Kacau.

Sesampainya di rumah, Baekhyun bisa melihat sederet balon warna-warni menempeli pohon pinus di halaman depan. Pita-pita mengkilap juga berterbangan kabur terkena angin dengan sembarangan. Bahkan beberapa ada yang sempat menabrak wajahnya.

Ada apa ini? Baekhyun mencoba mencari tahu jawabannya dengan melirik Chanyeol, tapi nihil. Suaminya itu hanya mengedikkan bahu pula tidak tahu.

"Apa? Aku tidak merencanakan apa-apa." Tambah Chanyeol karena melihat ketidakpuasan di wajah Baekhyun.

Meskipun begitu, semua orang pastilah tahu bahwa balon dan pita adalah simbol sebuah perayaan. Seharusnya Baekhyun tidak perlu khawatir karena pesta selalu terasa menyenangkan. Tapi, beda urusan kalau sudah melihat Luhan melompat-lompat girang di pintu depan seperti sekarang.

Aku serius. Ini sudah beda urusannya.

"Mau bagaimana lagi? Dia memang begitu." ucap Chanyeol tersenyum bergigi.

Kacau.

Ekspektasi Baekhyun tentang pulang ke rumah dengan damai langsung buyar saat Luhan mengambil Jesper dari gendongannya. Sempat enggan, tapi mau menolak juga sudah kepalang gagal. Baekhyun tak lepas menatap bayinya sampai tubuh itu dibaringkan dengan nyaman di dalam box bayi berbentuk perahu.

Dengan ornamen kemudi kapal dan jangkar yang menggemaskan. Kalau boleh jujur, itu sangat lucu. Membuatnya tak bisa marah ataupun sedikit saja melayangkan protes.

"Lihat siapa saja yang datang." Bisik Chanyeol sambil merangkul tubuh tegang Baekhyun untuk melihat ke ruang tengah.

Di sana, berdiri kedua orangtuanya. Ada Kyungsoo-Jongin yang seragam dengan kostum Trolls. Sehun yang memakai kostum Brutush dan Luhan yang ternyata, memakai Popeye.

Dan apa itu di lengannya? Bukankah itu tattoo jangkar?

ORANG-ORANG KONYOL INI!

"Pesta menyambut kepulangan Jesper akan segera dimulai! Ayo! Kalian juga harus segera memakai kostum!"

Pesta. Kostum. Bodoh.

Tidak. Tidak.

Itu bukan ide yang bagus untuk melakukan tarian dan kegiatan rusuh yang lain selagi Jesper tertidur. Apalagi, mereka harus mengenakan kostum yang aneh dan luar biasa menggelikan. Tidak. Tentu saja tidak.

"Ayo, Baekhyun!" ajak Luhan sambil menarik tangannya.

"Tidak mau!"

"Ayolah! Chanyeol saja sudah memakainya! Lihat? Dia sudah berubah menjadi Joker!" ucap Luhan lebih terdengar seperti sambaran petir.

Itu bukan omong kosong. Baekhyun melihat ke arah tangga dengan Chanyeol yang turun memakai kemeja hitam putih garis. Celana kain berwarna putih dengan garis horizontal hitam. Rambut ditata super rapi dan apa itu lipstik yang berantakan di seluruh bibirnya?

Ya Tuhan. Siapa itu Chanyeol?

"Why so serious?" Joker tampan itu berbisik di depan telinga Baekhyun.

Mencium pelipisnya sekali sampai rasanya, sekujur tubuh Baekhyun merinding karena suara berat suaminya itu. Hell yeah! Ternyata mau sekonyol apa pun penampilan Chanyeol, pria itu tetap bisa menghipnotis Baekhyun dengan pesonanya.

"Ayo Baekley Quinn. Kau juga harus segera dimodifikasi!"

Finally, Luhan-lah yang menang.

e)(o

.

Kacau? Sebenarnya, pesta ini tidak terlalu buruk.

Kostumnya saja yang membuat semua ini jadi terlihat bodoh dan untung saja kedua orangtua Baekhyun tetap berpenampilan normal layaknya manusia.

Beberapa maid dengan topi pelaut datang menata desert dan sirup di meja tengah. Sesekali melirik kepada Baekhyun yang terlihat tidak nyaman dengan kaos 'Daddy's Lil Monster' kekecilan pilihan Luhan.

Jujur saja, Baekhyun menyesal.

"Aku bersyukur karena hanya menjadi Troll." Kyungsoo mendekat dengan dua gelas sirup dan wig aneh di kepala.

Dia benar-benar teman yang tidak bisa dipercaya. Mau-maunya dikelabui Luhan untuk memakai kostum mengerikan seperti itu.

"Menurutku Harley Quinn lumayan juga."

"Lumayan memalukan." ejek Kyungsoo tepat sasaran.

Baekhyun menarik kaos kekecelinnya agar lebih turun. "Mm hm. Bagaimana kabarmu, Kyungtroll?"

"Sangat baik. Apalagi setelah melihatmu memakai baju kekecilan."

Baekhyun hampir saja memukul bibir menakjubkan Kyungsoo, namun untung saja Jongin datang bak penyelamat. Berdiri merangkul si mata kelereng namun tak lepas menatap tepat pada mata Baekhyun.

"Lama tidak bertemu, Baekhyun." ucap Jongin memutus kediaman.

Kyungsoo mempertahankan senyumannya, seperti sedang menyimpan sesuatu. Bukan cemburu atau sejenisnya. Lebih mirip kepada, senyuman penyesalan.

"Sudah satu tahun, sepertinya." Jawab Baekhyun.

Jongin sesekali melirik kepada Kyungsoo. Seperti hendak mengatakan sesuatu tapi tidak tahu harus mengatakan apa. Kyungsoo juga sama, terlihat bingung dan gugup dalam waktu yang bersamaan.

Ada apa dengan pasangan ini?

"Jadi begini. Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi aku-" ucapan Jongin terputus. Kyungsoo membekap mulutnya dengan tangan dan akhirnya semua ini menjadi lebih jelas.

"Baekhyun, Jongin ingin meminta maaf karena sudah memata-mataimu saat masih di Picasso dulu."

Well, itu bukan masalah yang serius kalau boleh jujur. Baekhyun juga tidak masalah karena pada dasarnya Jongin hanya bekerja untuk mendapatkan uang. Dan ingat! Chanyeol adalah atasannya, mau jadi apa Jongin kalau tidak menuruti si Boss?

Pengangguran?

"Tidak perlu dipikirkan. Hanya saja, tolong jaga temanku ini, Jongin. Dia bisa berubah idiot kalau sedang lapar." Ejek Baekhyun.

"Ya, ya, ya biarkan Baekeley Quinn mengoceh seperti parkit!" balas Kyungsoo tidak mau kalah.

"Siapa yang parkit?"

"Kau! Baekeley cit cit cuit Quinn!"

Hampir saja ada insiden memukul dan menjambak antara Troll dan Harley Quinn kalau saja Luhan tidak datang. Menarik baju kekecilan Baekhyun untuk menjauhkan tangan rusuh itu dari wig di kepala Kyungsoo.

"Seingatku Harley Quinn itu tidak suka menarik rambut Troll. Ayo, jangan bertengkar. Mari berkumpul dengan Baby Jesper di sana!"

Di ruang tengah, sudah berkumpul seluruh anggota keluarga. Semakin lengkap karena Jesper terlihat menggeliat di gendongan lengan kencang Chanyeol yang duduk di sofa tengah. Pria itu menepuk bagian kosong di sampingnya meminta Baekhyun duduk di sana.

Betapa pemandangan yang bukan main mendamaikan hati.

"Video akan dimulai setelah hitungan ke-tiga! Chanyeol, kau siap?" Sehun berjongkok di belakang kamera, melihat Chanyeol mengangguk sebagai tanda kesiapan. Kekasih Luhan itu menyetel timer untuk lima detik lalu berlari bergabung dengan yang lain.

Camera!

Rolling

And

Action!

Recording...

1

2

3

"HAPPY BIRTHDAY TO THE BEST SUPERBOY EVER AND AFTER! Hey, Jesper boy. Hari ini adalah tepat usiamu yang ke lima tahun. Daddy, hanya ingin menceritakan kenapa keluarga kita mengenakan kostum ini khusus untukmu."

Chanyeol diam sebentar untuk melirik ke arah Kyungsoo-Jongin si Troll yang berdiri di belakang sofa.

"Pertama ada para Troll yang melambangkan kebahagiaan. Itu artinya, kami berharap akan selalu ada kebahagiaan yang menemanimu sampai dewasa nanti, nak."

Baekhyun terhenyak sebentar. Mulai berpikir bahwa semua kostum ini tidaklah kosong semata. Sepertinya, masing-masing dari mereka memiliki makna tersendiri.

"Lalu, ada Popeye dan Brutush juga. Artinya adalah, bahwa kehidupan itu seperti saat kau berada di dalam kapal di tengah lautan. Kadang ombak tenang, kadang juga sedang badai. Tapi kau tidak perlu khawatir, karena kami akan selalu menemanimu dalam keadaan apa pun, superboy."

Lihat? Ternyata kostum bodoh ini memiliki makna. Lalu, apa artinya Chanyeol sebagai Joker dan Baekhyun sebagai Harley Quinn?

"Dan, inilah Daddy dan Mommy sebagai Joker-Harley Quinn. Terlihat seram ya?"

Chanyeol tertawa sebentar sambil melirik wajah heran Baekhyun yang sebenarnya, bingung karena mendapat panggilan Mommy. Tapi, mau bagaimana lagi? Baekhyun sedang sangat cerah hatinya. Sedang tidak punya mood untuk memulai perdebatan.

"Tapi, Joker dan Harley memiliki cinta yang tidak terbatas, nak. Begitupula dengan kami! Cinta kami pasti tidak akan terbatas untukmu. Superboy, we will love you, all over again for the rest of our life."

Tiba-tiba Chanyeol mencium kening Jesper yang sedang tertidur, lalu gantian ke pipi kiri Baekhyun yang diam-diam terenyuh mendengar ucapan suaminya barusan.

Ini benar-benar diluar dugaan karena, kekacauan yang awalnya sangat mengganggu Baekhyun bisa berubah menjadi sehangat ini.

Mari berterimakasih sebanyak-banyaknya kepada Luhan.

"Dan, kakek-nenekmu juga ada di sini, Jesper. Mereka, akan menjadi inspirasi kami untuk saling menyayangi sampai Daddy dan Mommy tua nanti. Untukmu."

Ayah dan Ibu Baekhyun tersenyum ke arah kamera. Sedikit mengherankan bagi Baekhyun karena Ibunya jadi terlihat sangat berbeda sejak adanya Jesper, cucu pertamanya.

"Sekali lagi, selamat ulang tahun, sayang. Kami akan selalu mencintaimu sampai besok, lusa, minggu depan dan seratus tahun selanjutnya."

Semua orang melambai ke arah kamera, dan Baekhyun hanya tahu bahwa dia perlu melakukannya juga. Mereka semua terus melambai sampai Sehun berlari untuk mematikan kamera.

Saving...

"Untuk hadiah ulang tahun Jesper yang ke-lima besok." Aku Chanyeol sebelum Baekhyun mengutarakan keheranannya.

Baekhyun terharu sebenarnya. Bagaimana bisa orang-orang konyol ini merencanakan hal baik untuk masa depan Jesper. Itu menyentuh relungnya sampai yang terdalam.

Mendorong bibir Baekhyun untuk memberikan sebuah kecupan di pipi Chanyeol sebagai wujud terimakasih. Lalu, kecupan super lembut tiada henti di telapak tangan mungil Jesper yang masih terlelap.

"Aku sangat mencintai kalian..."

.

Lima tahun kemudian...

.

"Eh! Tidak boleh menarik rambut Nana seperti itu!"

Jesper menarik seorang bocah perempuan menjauh dari Jaebum, si bocah gendut yang suka merebut makanan orang lain.

"Habisnya, Nana nakal! Dia bilang perutku besar sekali karena suka mengambil makanan orang lain." Ucap Jaebum membela dirinya.

Tapi, Nana tidak mau tinggal diam. Bocah berusia empat tahun itu maju untuk membela diri pula.

"Jesper! Tadi Jaebum merebut kue-ku dan memakannya sampai habis!"

"Nana bohong!"

"Aku tidak bohong!"

"Bohong!"

"Uuuhhh sudah jangan bertengkar! Sekarang Jaebum minta maaf duluan. Nanti gantian Nana yang minta maaf."

Jesper mengaitkan kedua tangan beda ukuran itu dengan paksa lalu menyuruh Jaebum untuk minta maaf. Bak wasit, bocah yang kini genap berusia lima itu menuntun kedua temannya untuk saling berbaikan.

Saling meminta maaf.

Aah, betapa lucunya...

Euphoria anak-anak yang sedang belajar untuk saling berteman. Baekhyun dan Chanyeol melihat interaksi ketiga bocah itu dalam rasa bangga. Terlebih untuk Baekhyun.

Dia merasa bahwa Jesper cukup memiliki parasnya saja untuk diturunkan, tidak perlu sifatnya dulu yang sempat angkuh. Baekhyun benar-benar ingin mengajarkan kepada Jesper arti sebuah toleransi.

Bagaimana caranya menghargai kekurangan dan kelebihan orang lain sejak usia dini. Bagaimana Jesper harus bisa menanamkan benih-benih yang baik kepada orang lain melalui hal-hal sederhana.

Misalnya saja seperti sekarang, saat dia berhasil mendamaikan dua temannya yang baru saja bertengkar.

"Dia benar-benar Chanyeol junior..." Ucap Chanyeol dengan diiringi decak kagum.

"Kau mengajarinya untuk bolos sekolah kemarin, ish!" Baekhyun mencubit perut Chanyeol sampai suaminya itu mengaduh. Tak benar bisa marah, dia hanya langsung menarik wajah Baekhyun untuk diberi hukuman kecupan bertubi-tubi.

"Hehehe. Maaf, mainan baru Jesper membuatku khilaf."

Pesta ulang tahun Jesper yang ke lima berlangsung meriah. Chanyeol juga sudah memutar video yang dia buat lima tahun yang lalu sesuai rencana. Membuat sensasi mengharukan itu kembali lagi, terasa seperti pupuk yang menyuburkan cinta mereka bertiga.

Terlihat, kakek dan nenek Jesper juga ada di sana, masih duduk di kursi taman berdua sambil bercanda dengan Nana. Si gadis kecil berkepang dua yang adalah anak pertama dari pasangan Kyungsoo-Jongin.

Pesta yang diadakan dengan tema outdoor ini begitu ramai karena seluruh teman sekolah Jesper datang. Jaebum si gempal terlihat tidak pernah jauh dari meja makan tentu saja. Beruntung dia sudah tidak mengganggu kue anak-anak yang lain dan hanya fokus pada toples kue jahe.

Tapi hey, dimana Jesper?

"Mommy! Daddy!"

THERE HE IS! Si bocah yang berulang tahun terlihat berlari dari arah dalam rumah.

Baekhyun entah bagaimana tersenyum bangga.

"Dia memanggilku duluan..." bisiknya kepada Chanyeol menyombongkan diri.

Tapi Chanyeol tetaplah Chanyeol. Si sabar nan tampan yang selalu memiliki cara untuk melawan kesombongan suaminya itu.

Chanyeol menunduk ke depan telinga Baekhyun dan menciumnya sekali. "Yes, the sexiest Mommy..."

Uuhh, bisikan itu berhasil membuat Baekhyun merinding sampai ke tulang-tulang. Apa-apaan Chanyeol ini!

"Daddy!" tibalah Jesper sebagai pengganggu.

Melompat-lompat di depan Chanyeol sambil merentangkan kedua tangannya minta digendong. Dengan senang hati, Chanyeol menyambutnya.

"Ada apa, superboy?"

"Bukankah Tom dan Jerry itu selalu bertengkar?" tanya Jesper dengan kerutan pada kedua alisnya.

Chanyeol mengangguk. "Yeap. Mereka memang selalu bertengkar. Memangnya kenapa?"

Jemari mungil Jesper menunjuk ke dalam rumah. Menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian masih dengan kerutan di alisnya.

"Tadi Jesper melihat Paman Tom dan Paman Jerry di dalam rumah sedang menempel di dinding!"

Ugh? Paman Tom dan Jerry? Menempel di dinding?

Ok. Firasat Baekhyun mengatakan kalau Jesper baru saja melihat sesuatu. Sesuatu yang buruk.

Maka dari itu, Baekhyun meminta Chanyeol untuk membawa Jesper kepada kakek dan neneknya. Sedang dirinya berjalan memasuki rumah. Mencari apa yang sedang Tom dan Jerry lakukan sampai Baekhyun berhenti di dapur rumahnya.

Menangkap basah Sehun yang memakai kostum Tom dan Luhan dengan kostum Jerry sedang berciuman. Dengan Luhan yang didesak menempel ke tembok dan tangan Sehun yang meremas bokong pacarnya.

Jadi, inilah yang tadi dilihat oleh Jesper sampai dia begitu kebingungan. Tindakan mesum tidak tahu tempat. Tindakan yang sudah mengotori penglihatan anaknya.

Baekhyun bukan main geram!

"KALIAN BERDUA! DILARANG MELAKUKAN TINDAKAN PORNO DI DALAM RUMAHKU!"

.

.

.

END

Bacod's pake banget:

HEU! Setelah kupikir-pikir, baik summary, isi cerita dan endingnya gak ada yg sinkron. Wkwkw. Am so sory, aku lemah kalo disuruh bikin ending.

Tapi, kok rasanya pengen bikin sequel ya? Sequel gak nih? Pengen nganuin Chanbaek pas ngebesarin Jesper. Asal-usul Nana. De el el. Minat kah?

Kalo gak minat, berarti sampe ketemu setelah Idul fitri ya gaes!

Last, Makasih~ Matur suksma~ Hatur nuhun~

.

.

Sweetest regards

Presiousca