Terkadang Baekhyun berpikir jika semua ini terlalu nyata untuk ia miliki. Maksudnya, balasan cinta dari Chanyeol tak ubahnya durian runtuh kala Baekhyun sebenarnya tidak pernah berharap sejauh itu. Sang senior memiliki kredibilitas tinggi. Popularitasnya bahkan santer bergaung di seluruh kampus dengan bisikan-bisikan penuh taksiran dari yang mengakuinya.

Baekhyun termasuk di dalam yang melakukan bisikan. Hanya saja si mungil itu lebih menyukai berbisik dalam hati ketimbang pada telinga lain yang bisa saja memili ketertarikan yang sama.

Mulanya sebuah kekaguman, lalu berlanjut setingkat lebih tinggi hingga pada akhirnya Baekhyun tiba pada suatu dataran rasa suka. Eksistensi Chanyeol yang tertangkap mata menjadi pemancing semua gelembung rasa suka pada diri Baekhyun. Beruntung dia bisa menyembunyikan semua itu. Andai tidak, Baekhyun mungkin akan memperlakukan dirinya seperti siput yang bersembunyi di rumahnya kala harus berhadapan dengan publik.

Baekhyun juga tak pernah membatasi doa dalam hidupnya. Dia berdoa seperti kebanyakan orang. Tidak ada selipan doa lain untuk Chanyeol agar bisa tahu bagaimana Baekhyun memiliki rasa padanya. Tapi Tuhan memang baik, terlalu baik untuk membuat semua ini meledak dalam satu gencatan ketika Chanyeol mengatakan memiliki perasaan yang sama.

Layaknya sebuah cinta seorang pianis pada bait nada di pianonya, Chanyeol terlihat enggan melepas tautan tangannya pada Baekhyun kala memasuki kawasan kampus. Mereka memutuskan go public, tidak ada yang disembunyikan kala Chanyeol tidak terlalu suka sesuatu yang harus dimainkan di belakang. Kecuali bagian belakang tubuh Baekhyun—Chanyeol menyukainya, sumpah mati!

"Aku malu.." Baekhyun menghentikan langkahnya sejenak, terlihat pipinya mulai merona dengan bibir sedikit mengerucut. "Mereka pasti tidak suka."

"Tidak suka apanya?"

"Tentang kita."

"Baekhyun, kita tidak melakukan kesalahan apapun jadi untuk apa harus malu?"

"Kau tidak lupa, kan, jika di kampus ini kau itu Casanova?"

"Aku tidak pernah mendengar tentang diriku yang seperti itu."

"Tapi—"

Kecupan itu membungkam Baekhyun, tepat di bibir tapi tidak sampai pada sebuah lumatan. Chanyeol lantas menarik diri, mengusak sebentar pipi kekasih mungilnya itu dan mencubit kecil hidungnya. "Semua akan baik-baik saja jika bersamaku. Jangan takutkan apapun, ya?"

Pada akhirnya Baekhyun pasrah. Dia memilih mengikuti apa yang Chanyeol katakan meski dalam hati ada debar ketakutan.

Dan benar, ketika mereka melangkah pertama pada lobi gedung utama fakultas seni, beberapa pasang mata mulai menunjukkan cara kerja yang berbeda. Desas-desus mulai tipis terdengar, telinga Baekhyun jeli menangkap semua itu dan tak sengaja memasukkannya dalam hati,

"Ya Tuhan! Ada apa dengan selera Chanyeol?"

"Dia tidak cukup layak untuk Chanyeol."

"Aku benci melihatnya!"

Masih banyak lagi. Tak ada satu pun yang menyenangkan untuk di dengar. Semua menunjukkan ketidak sukaan dan mencela Baekhyun dengan segala macam keburukan. Sakit hati sudah jelas menjadi akibatnya, tetapi Baekhyun tak begitu menunjukkan karena dia merasa cukuplah Chanyeol yang bisa ia jadikan pelindung.

Baekhyun itu anak bungsu yang perasa. Seluruh keluarganya tahu hal itu dan mereka memilih menjaga kata jika berbicara dengan Baekhyun. Dia akan memikirkan hingga berlarut kecacatan yang orang katakan tentangnya. Napsu makannya akan berpengaruh, tidak akan ada acara lapar jika pikiran Baekhyun sedang kacau balau.

"Kau Baekhyun?" Seseorang mendekati Baekhyun kala Chanyeol pergi untuk memesan makanan di foodcourt.

"I-iya."

Mulanya Baekhyun menelisik ada senyum cukup biasa pada wajah itu, tapi tak lama kemudian ada kesinisan di sana dan Baekhyun sedikit was-was. Baekhyun tak mengenalnya, dua alisnya bertaut kecil lalu menerima jabat tangan lelaki itu. "Aku Kyungsoo, mahasiswa fakultas seni musik, semester 5."

"O-oh."

"Sendiri saja?"

"T-tid—"

"Oh, aku melihat ada tas Chanyeol." Senyum itu kembali tercetak, tapi Baekhyun tak menemukan kebaikan pada senyum itu. "Di sini rupanya dia."

"K-kau mengenalnya."

"Tentu saja. Bagaimana aku tidak mengenal pacarku sendiri?"

Reruntuuhan itu hanya Baekhyun yang merasakan. Tohokan pedang juga tepat mengenai ulu hati hingga rasanya cukup ngilu. Kakinya bahkan tak sadar menapak di atas bumi. Apa yang terjadi?

"Aku sudah dengar tentang kalian. Dan ku rasa aku berhak meluruskan sendiri darimu." Kyungsoo berkata sangat ringan, tidak menghiraukan diamnya Baekhyun serta matanya yang mulai panas. "Benar jika kalian memiliki hubungan?"

Apa yang harus ku katakan?

Iya ataupun tidak, Baekhyun kesulitan menentukan pilihan. Faktanya dia memiliki hubungan khusus dengan Chanyeol yang bersangkut langsung dengan hati. Tapi Baekhyun pikir fakta itu bisa ditutupi dengan kebohongan agar Kyungsoo tak merasakan sebuah penghianatan jika benar antara dia dan Chanyeol ada hubungan. Ah entahlah, pada akhirrnya Baekhyun menjadi satu-satunya yang tersakiti oleh pilihan itu. Dia akan merasa bersalah memiliki hubungan dengan Chanyeol yang masih berstatus pacar Kyungsoo, dan dia tetap harus rela merana ketika harus berhubungan di belakang dengan Chanyeol seperti ini.

"Baekhyun?"

"O-oh, a-aku..em.."

"Kita sportif saja. Katakan yang sebenarnya dan mari kita putuskan bagaimana kelanjutan ini semua."

Ini berat, sungguh. Gelisah mulai menyambangi Baekhyun. Tangannya mulai berkeringat dan dia gugup setengah mati untuk pengakuan ini.

Sebenarnya Baekhyun merasa ada yang cukup menyakiti dirinya. Di bagian hati lebih tepatnya. Hanya saja Baekhyun mencoba bertahan dengan semua yang dia miliki untuk ketegaran di hadapan Kyungsoo.

"S-sebenarnya..a-aku dan C-chanyeol..kita.."

"Hanya berteman." Eksistensi lain tiba-tiba muncul dari belakang Baekhyun. Seketika Baekhyun mematung dalam geraknya saat suara itu milik seseorang yang cukup ia kenali.

Park Chanyeol.

"Aku dan Baekhyun hanya berteman, Soo."

Jika reruntuhan itu masih terasa sakitnya, Chanyeol menambahi dengan petir cukup keras hingga merusak kerja rasionalitas pikiran Baekhyun. Sudut bibirnya tak lagi berminat untuk tertarik, matanya semakin memanas dan dia butuh Baekhee untuk tempat menangis.

"Syukurlah.." Pundak Kyungsoo terlihat lebih lega setelah sebelumnya cukup tegang. Senyum sinisnya mulai luruh, terlebih Chanyeol kini tengah menyeka keringat dari pelipis Kyungsoo dengan jari-jarinya.

Seseorang tolong bawa Baekhyun pergi dari sini. Ledakan kekecewaan dalam hatinya tak bisa terbendung manakala Chanyeol seolah lupa bagaimana janji-janji kebersamaan yang pernah ia ucap. Jangan dibayangkan betapa sakitnya hati yang Baekhyun miliki. Jika boleh memilih, saat ini Baekhyun ingin kehilangan fungsi lain sebuah hati agar tidak sesakit ini jika ada fakta yang mendorongnya pada jurang kekecewaan.

"Baekhyun ini adiknya Baekhee."

"Oh, mantan kekasihmu yang di Jerman itu? Hmm.. ku kira kau mengulangi lagi kesalahan seperti dulu."

"Ke-kesalahan?" terbata Baekhyun bertanya.

"Ya. Chanyeol dulu sempat sedikit nakal dengan diam-diam mengencani kakakmu. Kami sempat memutuskan hubungan tapi kembali lagi karena Chanyeol tidak pernah serius dengan Baekhee. Dan ku kira dia akan melakukan hal yang sama denganmu. Hampir saja aku mengutuk kalian berdua sebagai saudara perusak hubungan orang." Tawa ringan Kyungsoo di akhir perkatannya itu sebenarnya semakin menyakiti hati Baekhyun.

Baekhyun benar ingin menghilang; ditarik kemanapun asal dia bisa bebas menangis dan menyesali mengapa semua ini bisa terjadi padanya. Sulit; kesedihan dan kekecewaan menumpuk jadi satu karena Chanyeol cukup keji dengan caranya menyakiti Baekhyun.

Chanyeol dan Kyungsoo begitu mudah melupakan kehadiran Baekhyun yang masih berhati untuk merasa semakin disakiti. Kicaukan kasih dari mulut mereka memperparah keadaan dan Baekhyun mulai muak. Tidakkah seharusnya Chanyeol menjelaskan semua ini? Setidaknya lelaki tidaklah menjadi pengecut untuk janji manisnya yang sempat terucap untuk Baekhyun.

Lalu di sisa kebaikan hati yang masih Baekhyun simpan, dia memilih langkah pergi dengan penyesalan di tundukan kepala. "Aku pergi."

"Hm. Hati-hati, Baek. Aku dan Kyungsoo juga akan pergi setelah ini."

Pergi saja, yang jauh. Baekhyun tak lagi peduli. Urusannya sudah tak ada lagi dengan pengkhianatan ini.

Dari semua yang tersisa nyatanya kebaikan hati tak lagi berpikir untuk menenangkan Baekhyun. Chanyeol dan segala omong kosongnya sebaiknya ditarik saja menuju neraka. Tak ada yang bisa dimanfaatkan kecuali rasa sakit hati Baekhyun yang semakin parah.

Menengok sebentar ke belakang, Baekhyun mendapati Chanyeol dan Kyungsoo dalam keadaan dekat. Kemesraan itu benar-benar memuakkan, tak ada lagi yang bisa membuat Baekhyun bisa bertahan untuk tidak meneriakkan kesakitannya.

"BRENGSEK!"

Napasnya teradu cepat, keringat dingin seketika muncul dan Baekhyun mendapati keadaan sekitar yang menggelap. Seharusnya foodcourt berubah menjadi tempat pertunjukkan Baekhyun menumpahkan kekecewaan pada Chanyeol, tapi yang tertangkap dua iris Baekhyun hanya keadaan hening. Tidak ada stand makanan, tidak ada kesibukan mahasiswa yang tengah menikmati makanannya, hanya ada lingkup gelap sebuah ruangan kecil dengan rak-rak buku tertata di sekitar.

Dan di sana hanya ada Baekhyun dengan seseorang yang tergopoh datang dari kamar.

"Ada apa, Baek?"

Chanyeol.

"K-kau.."

"Kenapa berteriak? Kau mimpi buruk?"

Baekhyun linglung untuk sekejap mata. Menyadari semua hal yang membuat hatinya sakit itu sirna dan mendapati dirinya tengah bertelanjang dada.

Baekhyun melihat Chanyeol mendekat dengan segelas air putih. Alih-alih menyambut gelas itu, Baekhyun justru memeluk tubuh Chanyeol yang hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Tangisnya kembali pecah, Chanyeol berkali-kali bertanya apa yang terjadi tetapi Baekhyun hanya berkata untuk tidak meninggalkannya.

"Hei, mimpimu pasti sangat buruk." Chanyeol menjauhkan pelukan itu, menyeka keringat dari pelipis kekasih mungilnya lalu mengecup cukup lama dahi Baekhyun.

"A-aku.."

"Sudah, tidak usah takut. Aku di sini." Kembali Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun, mengusak perlahan punggung mulus itu dan menenangkan dengan caranya yang manis. "Sudah jangan menangis, ya?"

Mimpi buruk. Benar-benar mimpi buruk. Baekhyun bersumpah itu adalah satu-satunya mimpi terburuk yang pernah ia alami.

"Sunbae,"

"Ya, sayang?"

"Apa kau mengenal seseorang bernama Kyungsoo?"

Chanyeol menjauhkan pelukan itu, memicingkan mata pada Baekhyun yang mulai meredakan tangisnya.

"Dari mana kau tahu tentang Kyungsoo?"

Oh, tidak. Mendadak Baekhyun merasa mimpi buruk itu akan menjelma jadi kenyataan ketika ia melihat ekspresi Chanyeol tentang seseorang bernama Kyungsoo.

.

.

BACUT : Holaaaaaaaa.. update juga hehe.. Cuma mimpi gaes, gausah dibawa serius hehe... betewe makasih ya yang udah baca plus fav plus follow plus review Chanyeol Sunbae hehe.. sarangheee.. see you next chap!