Story About Hyukjae's Love And Life
Romance, Family, Hurt/Comfort [T]
Lee Donghae, Lee Hyukjae, Seo In Guk, Lee Ho-Won(Hoya Infinite), Lee Sungmin, Choi Siwon, JB(JJ Project), Cho Kyuhyun, Park Tae Jun-new cast-{Ulzzang} (dan akan berubah/bertambah seiring berjaln nya cerita)
DISCLAIMER : Semua pemain yang ada dalam fanfic ini hanya Milik Tuhan YME dan kedua orang tuanya. Disini, saya hanya meminjam nama serta bayangan sosok mereka untuk kebutuhan fanfic.
WARNING : AU, YAOI, TYPO(s), Conventional Couple, Fluffy Angst, Klise, OOC(Out Of Character), WIP(Work In Progress), little Whumpage(maybe), NO EDITING, dll
.
.
.
Happy Reading
.
Last Chap of KyuMin
.
Sungmin meninggalkan berbagai pertanyaan yang melanda pikiran nya saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya menatap lekat sosok seorang namja tampan dengan kemeja putih dan kacamata yang bertengger pada batang hidung nya.
"Hhh~ kebiasaan! Membuka pintu saja kenapa harus lama sih?!" Kyuhyun menggerutu tak karuan seraya menyelonong masuk ke dalam rumah namja tampan berkacamata tersebut.
"YA! Cho Kyuhyun! Aku ini dokter mu! Tak bisakah kau sopan kepada ku?" kesal namja berkacamata itu atas sikap Kyuhyun yang tak penah sopan kepadanya.
"Dokter?" tanya Sungmin entah pada siapa, membuat namja berkacamata itu menoleh ke arah Sungmin dan baru menyadari bahwa sedari tadi terdapat sosok namja imut yang datang ke rumah nya yang merangkap sebagai tempat prakter nya juga dalam menjalan kan profesi nya sebagai seorang dokter.
"Eh? Nugu?" tanya namja ber kacamata itu.
"Naega Le—"
"Biarkan dia masuk hyung! Dia namjachingu ku!" teriak Kyuhyun dari dalam.
BLUSH~
Entah kenapa Sungmin merasa hawa panas pada kedua pipinya. Terlebih lagi, saat namja tampan berkacamata itu menatap tubuh nya lekat dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Lee Sungmin namanya!" teriak Kyuhyun lagi dari dalam.
.
Last Chap of HaeHyuk
.
"Hajiman! Kalian? Akan tinggal disini? Yang benar saja! Aku ta—"
"Appa, eomma! Kita akan tinggal disini kan?" Hoya menatap appa dan eomma nya penuh harap. Namun ia tak kunjung mendapat jawaban dari kedua orang tuanya. Keterdiaman kedua orangtuanya membuat Hoya kembali membuka suaranya.
"Tadi kau menawarkan kami untuk tinggal disini kan Hae hyung? Tadi kau bilang kau hanya tinggal bersama seorang teman di apartement besar ini, bukan begitu hyung?"
"Ne.."
"Apa tawaran itu masih berlaku, Hae hyung?" Donghae yang sedari tadi hanya melihat pertengkaran antara ayah, anak, ibu dan saudara tiri ini kini menjadi bimbang. Di satu sisi, ia sangat ingin keluarga tuan Lee tinggal disini sebagai bayangan sosok seorang ayah dan ibu. Selain itu, ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang namja yang memiliki sebuah 'keluarga'. Namun dilain sisi ia juga merasa bersalah saat mengetahui bahwa keluarga dihadapan nya kini merupakan orang-orang yang paling dibenci Eunhyuk. Otak nya mulai berpikir, mempertimbangkan berbagai keputusan dan membayangkan berbagai kejadian buruk yang mungkin saja terjadi. Namun dengan cepat ia sadar, bahwa keadaan seperti ini sangatlah tepat. Dengan keberadaan keluarga tuan Lee dengan Eunhyuk dalam satu atap apartement yang sama mungkin akan membuat keadaan menjadi rumit, namun semua ini justru akan membuat nya sedikit terbantu untuk menjalankan keinginan awalnya, yakni mengubah Eunhyuk pada sosok yang sebenarnya. Meskipun akan terasa panjang dan rumit, namun Donghae yakin jika keputusan nya tak akan salah.
"Tentu saja, kalian boleh tinggal disini."
"MWO?"
Chap 10
Author POV
.
"Aku tak ingin tinggal satu atap dengan mereka!" seru Eunhyuk dengan emosi yang berapi-api.
"Kau pikir kau ini siapa, hah? Kau pikir kami mau tinggal satu atap dengan mu? Cih, menjijikan." Ujar Hoya yang didukung oleh seringaian dari sang appa.
"Jangan bicara seperti itu Howon-ah, dia itu hyung mu!" bentak sang eomma, bermaksud untuk menunjukan bahwa ia berada di pihak putra tirinya.
"Kau dengar sendiri kan Lee Donghae?! Aku tak mau tinggal satu atap dengan mereka, bahkan mereka pun tak ingin tinggal satu atap dengan ku."
"Meskipun begitu, semua akan baik-baik saja jika kalian semua menyelesaikan masalah kalian dengan kepala dingin!" balas Donghae membuat semua pasang mata kini menatap dirinya.
"Aku pergi!" seru Eunhyuk sembari membalikan badan nya untuk melangkah keluar apartement, namun saat diambang pintu langkah nya tertahan begitu saja.
"Jangan pergi."
"Usir mereka dari sini jika kau ingin aku tetap disini."
"Geokjeonghajima Eunhyuk-ah, kami akan segera per—"
"Tak ada yang boleh pergi dari apartement ini!" seru Donghae cepat memotong perkataan nyonya Lee. Eunhyuk menatap Donghae berang. Sudah cukup Donghae mengorek-ngorek masalah pribadinya.
"Arraseo! Jika mereka tak pergi dari apartement ini, maka aku yang pergi!" detik itu juga, Eunhyuk langsung menghempaskan tangan Donghae yang mencengkram pergelangan tangan nya dan benar-benar keluar dari apartement Donghae. Tak mau berdiam diri, Donghae memutuskan untuk pergi keluar apartement untuk menahan kepergian Eunhyuk.
"Kepergianmu akan membuat keadaan sangat membaik, Lee Hyukjae!" teriak Hoya berseru senang.
PLAK!
"Tak sepantasnya kau berteriak seperti itu, Lee Howon! Eomma tak pernah mengajarkan mu untuk bersikap sekerpti ini!" Hoya menatap sang eomma tak percaya. Pipinya terasa panas, begitupun dengan hatinya. Sang eomma yang selama ini ia sayangi dan ia lindungi baru saja menamparnya demi membela seorang namja kurang ajar yang bukan merupakan darah dagingnya.
"YA! Jiae-ya, kenapa kau menampar anakmu sendiri eoh?! Lagi pula apa yang dikatakan Howon memang benar, dengan kepergian anak kurang ajar itu semuanya akan sangat baik." Ujar tuan Lee membela anak tirinya, Hoya. Lain halnya dengan Hoya yang hanya menunduk dalam, menatap lantai apartement Donghae dengan pandangan kosong. Masih tak percaya atas perbuatan sang eomma yang menamparnya.
Nyonya Lee memejamkan matanya rapat, ia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa putih secara kasar.
"Tak sepantas nya seorang ayah mengatakan hal kejam seperti itu pada anaknya sendiri." Lirih nyonya Lee seraya memijit pelipisnya pelan.
"Aigo~ aigo~ kau mulai membela anak itu lagi Jiae-ya!" kesal tuan Lee.
.
.
.
"Lepaskan tanganku!"
"Shireo!"
"YA!" Eunhyuk menatap tajam wajah tampan Donghae. Tatapan matanya menunjukan bahwa ia benar-benar marah sekarang.
"Apa salahnya jika kau tinggal satu atap dengan mereka, eoh? Mereka keluarga mu! Dia ayah kandung mu, dan—"
"Wanita jalang itu bukan eomma kandung ku! Begitupun dengan namja kurang ajar itu, dia bukan namdongsaeng ku!" seru Eunhyuk memotong perkataan Donghae. Donghae hanya diam, ia tak berniat membalas karena apa yang dikatakan Eunhyuk memanglah benar. Hanya tatapan lembut yang bisa Donghae berikan saat ini untuk menenangkan namja keras kepala dihadapan nya. Merasa risih ditatap lembut seperti itu, Eunhyuk menggerak-gerakan pergelangan tangan nya. Mencoba untuk melepaskan tangan nya dari genggaman namja yang selalu bertingkah seolah-olah mengerti akan kehidupan nya.
"Kajja, kita kembali." Ujar Donghae sembari menarik pergelangan tangan Eunhyuk masuk ke dalam apartement. Namun Eunhyuk kembali memberikan respon penolakan dengan cara menahan berat tubuhnya agar Donghae tak bisa menariknya.
"Untuk yang terakhir kalinya, lepaskan tangan ku!"
"Atas dasar apa aku harus melepaskan tanganmu, eoh?" Eunhyuk jengah dengan namja dihadapan nya. Dengan kekuatan penuh, ia menghempaskan tangan nya sehingga genggaman tangan Donghae pada pergelangan tangan nya bisa terlepas. Detik berikutnya, Eunhyuk langsung membalikan badan nya dan berjalan menjauhi Donghae.
"Kau pikir dengan caramu yang terus menghindar dan berlari seperti ini akan membuat keadaan membaik? Apa dengan menghindar dan berlari semua akan terselesaikan? Apa dengan begitu hidupmu akan tenang? Apa dengan begitu pula kau akan bahagia?" langkah Eunhyuk terhenti begitu saja. Donghae sukses membuat perasaan nya merasakan berbagai macam rasa. Antara sedih, marah, takut dan gelisah. Semuanya dapat ia rasakan sampai-sampai dadanya terasa sesak.
"Apa kau pikir eomma mu senang dan tenang melihat putra kesayangan nya seperti ini? Tak pernahkah kau berpikir seperti apa perasaan seorang ibu saat melihat anaknya malah membenci ayahnya sendiri?! Seburuk apapun dia dimatamu, dia tetaplah ayahmu. Ayah yang seharusnya kau hormati, dan ayah yang seharusnya kau senangi sehingga ia bisa memberikan perilaku yang baik pula untuk di teladani anaknya." Eunhyuk mengepalkan kedua tangan nya kuat.
"Atas dasar apa kau berani menceramahi ku, eoh?! Kau pikir kau ini siapa, hah? Tuhan? Tuhan yang tau segala macam permasalahan keluargaku? Tuhan yang selama ini mempermainkan hidupku?!" teriaknya marah. Nafasnya terdengar memburu, menahan segala gejolak yang timbul dari tubuhnya akibat kalimat-kalimat –yang menurutnya- menusuk dari Donghae. Mata memerah dengan genangan air mata di area pelupuk mata langsung tertangkap oleh indra penglihatan Donghae saat Eunhyuk membalikan badan nya.
"Lee Donghae.." ia menjeda kalimatnya, mengambil nafas terlebih dahulu untuk meredam emosi yang sedari tadi terus bergejolak di dalam hatinya.
"Ku akui apa yang kau katakan memang benar adanya. Seburuk apapun dia dimataku, dia tetaplah ayahku. Tapi, karena sikapnya yang sangat buruk itulah yang membuat hati dan mataku buta sehingga aku tak dapat menghormatinya. Dan sayangnya, selain hati dan mataku buka ternyata aku menyadari bahwa hatiku yang telah buta benar-benar tak ada celah untuk menyenanginya." Eunhyuk kembali menarik nafasnya dalam disertai setetes air mata yang mengalih tepat di pipi kirinya.
"Lagi pula, untuk apa aku menyenanginya jika dia sendiri tak menyenangiku? Haruskah aku menyenangi seseorang yang tak menyenangiku?!" Eunhyuk menatap Donghae dalam, menunggu namja dihadapan nya untuk membalas kalimatnya.
Hening..
Donghae tak mampu untuk membalas apa yang telah Eunhyuk ucapkan. Semua perkataan Eunhyuk membuatnya berpikir bahwa ia sendiri pun harus berkaca pada perkataan Eunhyuk. Ia dan namja manis nan keras kepala di depan nya memiliki masalah yang serupa. Hanya ada beberapa titik saja yang berbeda.
"Berhentilah mencampuri urusan orang lain. Berhentilah bertingkah seolah-olah kau mengerti keadaan ku. Berhentilah bertingkah sebagai seseorang yang sangat mengerti akan lika-liku hidup di dunia ini."
"Aku ta—"
"Dengar Lee Donghae, meskipun kau telah membaca seluruh isi dari buku harianku, namun itu tak berarti kau benar-benar mengerti dengan apa yang kau baca. Ada kalanya kau tak akan mengerti beberapa titik lika-liku masalah yang ada di dunia ini." Eunhyuk membalik kan badan nya, namun ia tak melangkahkan kakinya.
"Dan ingatlah! Seperti apa yang sudah kukatakan waktu itu, meskipun kau telah melunasi hutang keluarga ku pada Kyuhyun, dan meskipu kini seluruh jiwa dan raga ku adalah milik mu seutuhnya, tapi maaf, segala rahasia dalam hidup ku, baik itu rahasia masa lalu maupun rahasia masa sekarang bukan lah milik mu. Dan kau tak berhak untuk mengetahui nya! Apalagi sampai ikut campur di dalam nya." Setelah selesai mengatak itu, Eunhyuk kini benar-benar pergi menjauh dari Donghae. Namja manis itu pergi, menghilang dari arah pandang Donghae.
.
.
.
Semilir angin terus masuk kedalam ruangan melalui jendela yang sengaja dibuka oleh sang tuan rumah. Suara dentikan jam terus menggema, mengiringi kegiatan Sungmin yang sedang memandangi cangkir teh kosong.
"Hhh~" helaan nafas kembali keluar dari bibir plump miliknya. Sudah dua jam lebih ia menunggu Kyuhyun di ruang tamu seorang dokter muda nan tampan sendirian. Matanya melirik kearah pintu yang sedari tertutup rapat. Rasa penasaran dalam hatinya kian membesar seiring dentikan jam. Entah mengapa, meskipun ia memang membenci Kyuhyun namun tak bisa ia pungkiri jika dalam hatinya ia merasa khawatir akan keadaan Kyuhyun yang sebenarnya. Dan ia harus tau apa yang sebenarnya terjadi pada Kyuhyun.
CEKLEK
Mata Sungmin langsung tertuju pada sesosok namja tampan yang sedari tadi dipikirkan nya. Kyuhyun baru saja keluar dari sebuah ruangan diikuti oleh seorang namja yang Sungmin ketahui sebagai dokter pribadi Kyuhyun. Mereka berdua berjalan ke arah Sungmin, kemudian mereka ikut duduk di ruang tamu dengan posisi Kyuhyun yang duduk di samping Sungmin dan sang tuan rumah yang duduk dihadapan Kyuhyun. Mereka berdua hanya diam, dilihat dari raut wajah mereka berdua sepertinya mereka enggan membuat percakapan.
"Sepertinya aku harus pulang sekarang hyung." Kyuhyun tiba-tiba saja memegang pergelangan tangan Sungmin. Ia menarik tangan namja manis itu untuk berdiri dan keluar dari rumah dokter tampan ini. Namja itu hanya mengangguk paham seraya mengikuti langkah Kyuhyun dan Sungmin dari belakang.
"Jangan lupa perkataanku tadi Kyu!" seru dokter tampan itu saat Kyuhyun membukakan pintu mobil untuk Sungmin. Sungmin yang bingung dengan perkataan dokter tampan itu hanya mampu menatap Kyuhyun dalam diam. Kyuhyun masuk ke dalam mobil, kemudian menyalakan mesin mobilnya. Dokter tampan itu mendekat ke arah mobil Kyuhyun dan berdiri tepat di samping kaca mobil.
"Kyu, aku serius untuk pekataanku tadi! Renungkanlah..." ujar dokter tampan itu dengan posisi tubuh yang sedikit dibungkuk kan agar bisa melihat Kyuhyun yang berada di dalam mobil. Sungmin melirik ke arah Kyuhyun yang terlihat sedikit murung.
"Arraseo.. gomawo, Taejun hyung!" Kyuhyun pun langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang setelah selesai mengucapkan kalimat 'terima kasih' nya.
Mobil terus berjalan tanpa ada percakapan sedikitpun diantara mereka berdua. Kyuhyun sibuk merenungkan perkataan Taejun yang merupakan dokter pribadinya. Lain halnya dengan Sungmin yang tengah sibuk dengan rasa penasaran nya terhadap keadaan Kyuhyun yang sebenarnya. Rasa kesalnya terhadap Kyuhyun hilang begitu saja bagai debu yang tertiup angin, lenyap dan tak membekas sedikit pun. Muncul berbagai macam pertanyaan dalam benaknya mengenai Kyuhyun. Sungmin kini bimbang, haruskah ia bertanya langsung pada Kyuhyun untuk menghilangkan rasa penasaran nya sekarang? Atau, menunggu waktu yang tepat?
Jika dilihat dari kondisi mereka berdua saat ini yang masih terbilang asing, mungkin Sungmin harus memilih menanyakan semuanya nanti mengingat status mereka saat ini hanya sebatas... partner sex? Pantas kah sebutan itu untuk status mereka berdua sekarang? Entahlah...
.
.
.
Dentuman musik khas dunia malam terus menggema dengan kerasnya. Bau khas minuman keras dan aroma orang-orang nista yang sedang bercinta begitu menyeruak keseluruh bangunan nista ini. Namun semua itu tak membuat Eunhyuk merasa risih ataupun terganggu karena keadaan seperti ini sudah tak asing lagi, dan memang sudah seperti inilah suasa tempat nista ini.
Tegukan demi tegukan terus Eunhyuk lakukan meskipun matanya kini sudah terpejam. Minuman keras yang diteguknya sampai menghabiskan empat botol benar-benar membuat dirinya kehilangan akal sehatnya. Dan tegukan terakhir pun kini terselesaikan. Botol terakhirnya ia jatuhkan begitu saja, membiarkan botol itu menggelinding ke arah floor dance yang tak jauh dari tempat Eunhyuk berada. Ia sandarkan punggung nya pada sandaran sofa, matanya terpejam rapat, deru nafasnya begitu cepat tatkala merasakan degup jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat, serta aliran darahnya yang terasa lancar.
"Eomma~ hik! B-bogo-hik-shipoyo~ hikss..." setetes air mata mulai mengalir tanpa ia sadari, hingga tetesan-tetesan air mata yang lain nya pun ikut menyusul keluar dari pelupuk matanya, membasahi pipi tirus nya yang memerah akibat terlalu banyak meminum minuman keras.
Perlahan, Eunhyuk mencoba berdiri dengan berpegangan pada sandaran sofa. Penglihatan nya semula sudah buram akibat mabuk berat, kini malah semakin buram saja karena genangan air di pelupuk matanya. Kakinya ia paksakan untuk melangkah meskipun terasa lemas. Eunhyuk berjalan dengan sempoyongan tanpa memperdulikan beberapa orang yang sempat di tabraknya. Ia mencoba memfokuskan arah pandangnya, namun tetap tak bisa. Dunia kini terasa seperti berputar, dan ia terjebak, tak mampu bergerak meski hanya satu jengkal.
Kondisi tubuh yang semakin melemah, pikiran yang kacau balau, pandangan yang buram nan mengabur, serta rasa sakit pada kepala yang amat sangat akibat mabuk berak mengharuskan Eunhyuk untuk kehilangan kesadaran nya secara perlahan, hingga akhirnya ia jatuh pingsan.
.
.
.
Hoya tak peduli jika sekarang sudah tengah malam, yang terpenting sekarang menangis sepuas-puasnya di pinggir sungai Han. Ia masih merasa sedih akibat kejadian saat di apartement Donghae. Mendapat tamparan dari sang eomma tercinta adalah kejadian pertama kalinya sepanjang ia hidup. Karena sebelumnya, eomma nya tak pernah seperti tadi, tak pernah menamparnya. Jangankan menampar, membentaknya saja belum pernah.
Tapi tadi, dengan mudahnya sang eomma menampar pipinya dengan sangat keras hanya karena namja kurang ajar yang selama ini menyebut eomma nya sebagai 'wanita jalang'. Ia merutuki kebaikan sang eomma yang tak seharusnya ia berikan kepada Eunhyuk. Ingin sekali rasanya Hoya mencabik-cabik wajah Eunhyuk dengan tangan kosongnya. Namun apa daya?! Tak semudah itu baginya untuk mewujudkan nya. Semuanya perlu perjuangan, perjuangan yang dilandasi oleh rasa dendam.
Drrrrtt.. ddrrtt..
Getaran pada ponselnya sukses menarik perhatian nya. Mata memerahnya memicing tajam kearah layar ponsel.
.
From : JB
Subject : [none]
Jemput aku di bandara! Besok, jam 10 pagi
.
"Tsk, anak sialan! To the point sekali! Tak mengucapkan kata 'tolong' dan 'terima kasih'." Hoya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat isi pesan dari sahabatnya.
"Menghilang secara tiba-tiba, tak ada kabar, dan besok ia tiba-tiba muncul kembali?! Cih, seperti makhluk halus saja." Gumamnya merutuki sang sahabat pada semilir angin malam pinggir sungai Han.
.
.
.
Siwon mengambil kunci mobilnya dan berjalan dengan tergesa. Ia masuk kedalam mobilnya dan segera menyalakan mesin. Tak lama kemudian, mobil pun bergerak dengan kecepatan yang tak bisa dibilang lambat. Ia tak peduli jika kecepatan mobilnya kini tak seperti biasanya dan mungkin saja bisa membahayakan nyawa nya, yang jelas saat ini yang ada dipikiran nya adalah pergi ke salah satu club malam untuk menjemput Eunhyuk.
Beberapa menit yang lalu seseorang menelpon pada ponselnya menggunakan nomor Eunhyuk. Orang yang menelpon dirinya mengaku sebagai pekerja di salah satu club malam, tempat dimana ia menemukan seseorang pingsan di area floor dance. Ia mengatakan bahwa melihat kondisinya yang sangat berantakan membuatnya berpikir akan lebih baik jika namja pingsan yang ditemukan nya segera dibawa pulang ke rumah. Dan alhasil ia pun menelpon salah satu kontak yang ada dalam ponsel Eunhyuk, yakni nama Siwon lah yang pilih.
Silau lampu warna-wanri yang menghiasi papan sebuah club malam semakin terlihat. Siwon menepikan mobilnya tepat di pinggir sebuah club malam yang terlihat tak terlalu besar. Dari balik kaca, Siwon melihat seorang namja yang ia yakini sebagai pegawai club malam ini dengan hanya melihat pakaian nya. Siwon turun dari mobil, ia melangkahkan kakinya ke arah namja yang sedari tadi hanya berdiri dalam diam di depan pintu masuk club.
"Siwon-sshi?" tanya namja itu saat Siwon berada di depan nya.
"Ne. Mana dia?"
"Eunhyuk-sshi ada di ruang para pegawai. Tadinya, saya akan membawanya ke kamar bar ini. Tapi, berhubung bar ini belum terlalu besar dengan fasilitas kamar terbatas, maka Eunhyuk-sshi saya bawa ke ruang pegawai." Jelas namja itu. Siwon mengangguk paham tanda mengerti, detik berikutnya namja itu berjalan masuk terlebih dahulu ke dalam bar diikuti Siwon di belakangnya.
.
.
.
Dengan sangat perlahan, Siwon memangku tubuh Eunhyuk ala bridal style kedalam apartementnya. Kemudian, ia baringkan tubuh kurus itu di atas ranjang king size miliknya. Ia usah peluh keringat yang mengalir membasahi dahinya.
"Kumohon, berhenti bertindak seperti ini hyung..." lirih Siwon. Ia mengusap-ngusap punggung tangan Eunhyuk, kemudian beralih mengecup keningnya. Cukup lama Siwon mengecup kening Eunhyuk hingga akhirnya ia sadar jika ia harus segera membenahi keadaan Eunhyuk. Dibukanya sepatu namja yang dicintainya itu dengan perlahan. Berikutnya, Siwon membuka pakaian yang Eunhyuk kenakan hingga akhirnya kini Eunhyuk hanya mengenakan celana dalam saja. Siwon berbalik dan berjalan ke arah lemari pakaian nya. Sebuah pajama berwarna navy blue miliknya ia ambil. Kemudian Siwon kembali mendekat kearah Eunhyuk yang sedang terbaring lemah tak berdaya.
Untuk sesaat, Siwon tak langsung memakaikan pajama nya pada tubuh Eunhyuk. Ia malah terperanga menatap indahnya tubuh sang sahabat yang selama ini dicintainya. Masih dengan jiwa yang belum mendapat kesadaran sepenuhnya, Siwon duduk dipinggiran ranjang. Tangan nya refleks bergerak menyentuh pipi Eunhyuk. Sentuhan tangan nya kini turun pada leher jenjang Eunhyuk, dan terus turun menyentuh kedua nipple Eunhyuk. Tanpa Siwon sadari, juniornya kini mengeras. Produksi saliva nya membanyak dengan sangat cepat.
Tubuhnya bergerak naik ke atas tubuh Eunhyuk secara tiba-tiba. Dijilatnya leher Eunhyuk dengan penuh nafsu dengan tangan yang tetap mencumbui nipple Eunhyuk. Mata Siwon terpejam rapat, menikmati sensai manis yang terdapat pada leher Eunhyuk. Tangan nya kini bergerak turun melewati perut Eunhyuk. Detik berikutnya, Siwon kembali membuka matanya tepat saat tangan nya hendak masuk kedalam underware Eunhyuk. Dan saat itu juga, Siwon kembali mendapatkan kesadaran dan akal sehatnya tatkala ia menyadari bahwa hampir seluruh tubuh Eunhyuk dipenuhi oleh kissmark. Entah itu kissmark baru ataupun kissmark lama Siwon tak tau. Yang jelas itu bukanlah perbuatan nya.
"A-apa yang kulakukan?!" panik Siwon seraya turun dari atas ranjang. Dengan cepat, Siwon mengambil pajama yang tadi di ambilnya dari lemari pakaian dan segera memakaikan nya pada tubuh Eunhyuk.
.
.
.
In Guk menatap duplikat dirinya di cermin. Ia sedikit menggunakan jelly hair untuk merapihkan rambutnya.
Drrtt... ddrrtt...
Perhatian nya yang semula fokus pada penampilan nya di dalam cermin kini harus pecah karena suara getaran ponsel yang disimpan di meja nakas samping tempat tidurnya. In Guk menyimpan jelly hairnya dan beralih mengambil ponselnya. Alisnya mengkerut tatkala membuka pesan masuk dari seseorang yang menjadi saingan terberatnya mendapatkan Eunhyuk.
.
From : Choi Siwon
Subject : Help
Aku sedang menunggu seseorang
Tolong belikan beberapa sayuran dan buah!
Kutunggu kau di apartement ku, secepatnya!
.
"Aisshh.. seenaknya saja dia menyuruh ku!" In Guk melempar ponsel nya ke atas ranjang. Ia kembali menata penampilan nya di depan cermin.
"Tunggu!" In Guk kembali mengambil ponselnya dan membuka isi pesan yang beberapa detik lalu dikirim Siwon.
'Aku sedang menunggu seseorang'
"Seseorang? Nuguya?" tanya nya entah pada siapa. Kali ini In Guk tak melemparkan ponselnya, melainkan menyimpan nya ke dalam saku celana. Ia berbegas mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartement miliknya.
.
.
.
Donghae keluar dari kamarnya dengan rambut yang berantakan. Ia baru saja bangun tidur. Jika bukan karena aroma masakan yang tercium menggiurkan dari arah dapur, mungkin Donghae belum bangun sampai saat ini. Ia mengucek-ngucek matanya pelan, kemudian berjalan ke arah dapur sambil menggaruk-garuk kepalanya yang entah terasa gatal atau tidak.
Sesosok yeoja dengan rambut panjang semampai menyapa indra penglihatan Donghae saat ia masuk ke area ruang makan yang merangkap dengan dapur. Secara sepintas, ia bagaikan melihat eommanya yang sudah lama tiada, namun ia kembali tersadar saat sosok yeoja itu membalikan badan nya.
"Ah~ kau sudah bangun Donghae-sshi?!" sapa yeoja itu lembut.
"Umm.." jawab Donghae seadanya seraya berjalan menghampiri meja makan dan duduk di salah satu kursi yang sudah mutlak menjadi tempatnya saat makan.
"Sarapan pagi ini dengan apa ahjumma?" tanya Donghae masih setengah sadar.
"Kau suka moo saengchae dan oi naengguk?" tanya nyonya Lee masih dengan nada lembut.
"Umm, itu makanan yang sehat!" balas Donghae mulai sadar sepenuhnya.
"Ah, ne Donghae-sshi mia—"
"Aigo ahjuma~ jangan terlalu formal seperti itu. Aku tak suka dipanggil dengan embel-embel 'sshi' seperti itu. Lagi pula, mulai hari ini kalian semua sudah berbaur dengan kehidupan ku. Jadi, panggil saja aku layaknya anakmu." Ujar Donghae tulus. Nyonya Lee tersenyum mendengarnya.
"Tadi ahjumma ingin bilang apa?"
"Mmp, ani.. hanya saja aku ingin meminta maaf karena telah memakai dapurmu tanpa minta izin padamu terlebih dahulu." Sesal nyonya Lee.
"Geokjeonghajima, eomeoni~ anggap saja ini adalah apartement mu juga." Pada saat itu juga, nyonya Lee benar-benar tersenyum bahagia. Ia tak percaya jika akan ada seorang anak yang memanggil dirinya 'eomeoni' selain anak kandungnya. Namun, rasa senang nya tak akan lengkap dan sempurna jika Eunhyuk tak memanggilnya seperti itu. Dalam hati kecilnya nyonya Lee berharap jika suatu saat Eunhyuk mau melirik keberadaan, melihat sosoknya sebagai seorang ibu, bukan sebagai wanita jalang.
"Huwaa~ aromanya wangi sekali~" ucap tuan Lee disertai dengan geliatan nya. Nyonya Lee hanya tersenyum sekilas, kemudian pandangan matanya kini tertuju pada sang putra yang berjalan melewati appa nya.
"Howonnie~ kau mau kemana? Kajja, kita sarapan!"
BLAM!
"Aisshh, jinja! Kenapa anak itu?" tanya tuan Lee entah pada siapa. Donghae menatap tuan Lee tak suka secara diam-diam. Bisa-bisanya ia bertingkah seolah kejadian kemarin tak pernah terjadi, begitulah pikir Donghae. Donghae kembali melirik ke arah nyonya Lee. Dan hatinya terasa sakit saat melihat setetes air mata lolos dari pelupuk mata indahnya.
"Hikss.. andai Eunhyukkie dan Howonnie ikut sarapan bersama..." lirihnya yang hanya dapat didengar oleh Donghae.
.
.
.
CEKLEK!
"Ada ap—"
Sret!
"YA! Choi Siwon! Kau ini ta—"
"Berhentilah berteriak! Hyukkie hyung sedang dalam kondisi yang kurang baik." Seru Siwon memotong amarah yang akan keluar dari mulut In guk. Siwon berjalan ke arah dapur dengan sebuah kantung plastik penuh berisikan sayuran dan buah-buahan yang baru saja direbutnya dari tangan In Guk.
"Eunhyuk hyung? Dia disini?"
"Hmm, semalam dia mabuk berat di sebuah bar." Ujar Siwon. In Guk terdiam, pikiran nya kini terfokus pada Eunhyuk yang masih belum berubah. Lain halnya dengan Siwon yang kini mulai memasukan sayuran-sayuran yang dibeli In Guk tadi ke dalam panci berisikan bubur setelah sebelumnya dicuci dan dipotong-potong dadu.
PRANK!
"Suara apa itu?" heran In Guk sedikit terkejut. Siwon membalikan badan nya, melihat ke arah pintu kamarnya yang tertutup.
"Eunhyukkie hyung..." gumam Siwon pelan.
"Mwo?" bukan nya menjawab kebingungan yang dirasakan In Guk, Siwon malah berlari meninggalkan In Guk menuju kamarnya.
Brak!
"Hyukkie hyung?" pintu kamarnya ia dobrak hingga menampak kan sosok Eunhyuk yang sedang berdiri dengan berpegangan pada meja nakas samping Siwon. Matanya terpejam rapat, tangan nya meremas rambutnya sendiri. Dari raut wajahnya, Siwon tau bahwa kini Eunhyuk tengah menahan rasa sakit.
"Apa yang terjadi?!" In Guk ikut masuk kedalam kamar Siwon, dan seketika itu pula tubuhnya mematung menatap sosok Eunhyuk. Berbeda dengan Siwon, ia langsung menghampiri tubuh Eunhyuk secara hati-hati karena lantai kamar disekitar Eunhyuk kini dipenuhi pecahan kramik yang semula merupakan guci berukuran sedang yang Siwon dapatkan dari toko barang-barang antik di Eropa.
"A-aku tak sengaja." Ucap Eunhyuk masih dengan mata terpejam dan tangan yang meremas rambutnya.
"Gwaenchana... yang terpenting tak terjadi sesuatu yang buruk terhadapmu." Siwon memegangi tubuh Eunhyuk dan kembali menidurkan tubuh namja manis itu ke atas ranjang. Siwon menyelimuti tubuh Eunhyuk dan beralih membereskan pecahan kramik. In Guk yang melihat itu kini tersadar dari keterdiaman nya. Ia menghampiri Siwon dan ikut berjongkok di pinggir Siwon.
"Biar aku saja yang membereskan ini. Kau, urus saja masakan mu! Aku tak bisa memasak."
"Arra, tolong ne In Gukkie!"
"Hmm.." Siwon pergi meninggalkan In Guk dan Eunhyuk. Sedangkan In Guk kini mengumpulkan pecahan-pecahan kramik itu. Ia bangkit dari jongkok nya dan berjalan keluar dari kamar Siwon. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah sapu dan sekop. In Guk membersihkan pecahan-pecahan kramik itu dan membuangnya ke tempat sampah yang berada di luar apartement. Setelah semua beres, ia kembali ke kamar Siwon dan menemukan sang empunya kamar yang baru saja masuk dengan sebuah nampan yang disimpan di atas meja nakas.
"Hyukkie hyung, ireona~ kau harus makan." Siwon memandang Eunhyuk penuh harap seraya mengusap dahi Eunhyuk sayang. Namun tiba-tiba saja Eunhyuk menepis tangan nya pelan kemudian mata yang sedari tadi terpejam kini terbuka dan menatap tak suka ke arah Siwon.
"Aku tak lapar."
"Meskipun kau tak lapar, kau tetap harus mengisi perut kosong mu hyung! Kau tak bisa menyiksa tubuh mu seperti ini terus menerus. Terlebih lagi, semalam kau mabuk berat. Sekarang saat nya perutmu diisi dengan makanan sehat." Bujuk Siwon. Eunhyuk tak langsung menjawab, ia malah merubah posisinya menjadi menyamping yang secara otomatis membelakangi tubuh Siwon dan tepat mengarah pada In Guk yang berdiri di sisi lain tempat tidurnya.
"Kajja hyung~ kumohon, sekali ini turuti perkataan ku! Jangan egois seperti ini.. aku sudah membuatkan bubur yang enak untuk mu."
"Apa kau tuli? Aku tak lapar, aku tak mau memakan nya! Kau berikan saja bubur itu pada Gukkie, kujamin dia pasti sedang lapar." Ujar Eunhyuk sinis.
"YA! Aku tak lapar, hyung!" protes In Guk tak terima. Sebenarnya, ia tak benar-benar ingin protes. Hanya saja, ia bermaksud untuk sedikit bercanda. Siapa tau saja Eunhyuk pun akan ikut bercanda dan tak terus-terusan tenggelam dalam dunia gelapnya.
.
.
.
"Bagaimana?" tanya Siwon setengah berbisik seraya masuk ke dalam kamarnya secara perlahan. In Guk terdiam, belum berniat untuk menjawab pertanyaan Siwon. Tadi Siwon pergi keluar dari kamarnya karena ia menyerah untuk membujuk Eunhyuk makan. Namun, ia tak benar-benar menyerah karena sebelum ia keluar dari kamar, Siwon sempat berbisik pada In Guk untuk merayu Eunhyuk makan. Karena siapa tau saja jika In Guk yang merayu nya Eunhyuk mau untuk makan.
"Hyukkie hyung hanya makan tiga sendok, kemudia ia berkata bahwa ia lelah dan ingin tidur." Siwon bingung apakah ia harus merasa senang atau sedih saat mendengar jawaban dari In Guk. Dalam lubuk hatinya, ia merasa senang karena Eunhyuk sudah mau makan meskipun hanya tiga sendok. Namun, di sisi lubuk hatinya yang lain, ia merasa sedih, bahkan sakit saat menyadari bahwa Eunhyuk membencinya. Kenapa ia bisa berpikiran seperti itu? jawaban nya mudah saja, semuanya sudah terbukti saat Siwon yang merayu nya beberapa kali namun yang ia dapatkan adalah penolakan dari Eunhyuk. Lain hal nya dengan In Guk yang mungkin saja hanya merayu nya satu kali, Eunhyuk langsung mau untuk makan meskipun alhasil hanya tiga sendok. Hatinya sakit, amat sangat sakit.
"Aku pergi ke mini market dulu sebentar. Ada sesuatu yang harus kubeli, namun tadi aku lupa." In Guk berdiri dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Siwon masih diam ditempat nya, ia menatap tubuh Eunhyuk lekat.
"Hyung, apa salah jika aku mencintaimu? Kenapa kau begitu membenciku sedangkan In Guk tidak? Padahal kami berdua sama-sama mencintaimu..." lirih Siwon.
.
.
.
In Guk melajukan mobilnya dengan kecepatan lamban, sesekali matanya melirak-lirik toko-toko yang dilaluinya. Ia bermaksud membelikan makanan kesukaan Eunhyuk.
"Eh? Bukankah itu Minnie hyung?!" In Guk menepikan mobilnya di depan sebuah cafe. Matanya kini terfokus pada seorang namja imut yang ia yakini adalah Sungmin. In Guk menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatan nya pada seorang namja yang sedang duduk berhadapan dengan Sungmin.
"Bukankah itu Cho Kyuhyun?!" dengan cepat, In Guk turun dari mobilnya. Ia berniat menghampiri Sungmin dan ingin meminta penjelasan kenapa akhir-akhir ini ia selalu menghilang, selain itu ia juga ingin bertanya kenapa Sungmin dan Kyuhyun bisa berada dalam satu meja yang sama. Padahal, selama ini hubungan mereka ber-empat dengan Kyuhyun sangatlah tak baik. Saat tinggal beberapa langkah lagi menuju pintu masuk, tiba-tiba saja—
Bruk!
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
