Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan

.


.

Don't Like Don't Read

.

~ Stay With A Murderer~

[chapter 9]

.

.

.

Haa..~ rasanya aku ingin berlibur selama-lamanya, bisa saja, tapi setelah itu aku akan di pecat, liburan kantor yang cukup menyenangkan dan menyenangkan dan menyenangkan dan sepertinya aku sudah mengulangi kata itu tiga lagi. Suasana hatiku jadi aneh setelah pulang, jangan salah sangka! Bukan karena si pria aneh itu kok, bukan, tapi, tidak juga sih. Setelah melihat kembang api bersama, aku jadi merasa canggung ketika cuma kita berdua yang ada di kamar, aku pikir Sasuke akan menjadi tipe yang romantis, mungkin saja, tapi setelah di kamar, dia tidur lebih dulu. Apa yang sudah ku harapkan! aku tidak sadar jika status pun tidak ada, kami tidak memiliki status hubungan apa-apa, aku hanya kegeeran saat di puji. Dasar kau Sakura! lemah terhadap pujian pria.

Saat pulang pun, betapa susahnya saat kami akan masuk ke rumah, jadwal pulang siang hari dan aku harus melihat kiri-kanan, memastikan jika sekeliling rumahku aman sebelum memaksa Sasuke masuk ke rumah lebih dulu, ahk, sungguh, kejadian yang konyol. Aku berjalan mengendap-ngendap masuk ke rumah sendiri dan terasa seperti seorang pencuri yang diam-diam masuk, padahal ini rumahku.

"Apa kau sudah membersihkan kamar mandi?" Tanyaku pada Sasuke. Akhir-akhir ini dia menjadi sedikit, yaa cuma sedikit, sedikit menurut padaku, meskipun...

"Lain kali bersihkan sendiri kamar mandimu, aku tidak sudi melakukannya." Ucapnya, datar.

Nah, seperti itu, sikapnya kadang sulit di tebak, biasanya dia akan melakukan apa yang aku suruh dan setelah itu dia ngomel-ngomel padaku.

"Apa susahnya membersihkan kamar mandi, lagi pula kita memakainya bersama." Ucapku, nada suaraku terkesan lebih santai, aku sedang dalam mode bahagia dan tidak ingin merusaknya, heheheh.

"Ini rumahmu, seharusnya kau sendiri yang mengurusnya." Ucapnya.

A-apa? Rasanya urat-urat keningku muncul satu.

"Apa kau mau menjadi wanita pemalas dengan bergantung pada orang lain?" Ucapnya, lagi.

Urat-urat keningku semakin bermunculan.

"Apa kau tidak sadar, sekarang kau menjadi wanita yang tidak berguna."

"Cukup...! aku sudah sabar sejak tadi meladenimu, jangan ngomel-ngomel terus cuma gara-gara kamar mandi. Lagi pula aku masih menjadi wanita yang berguna!" Akhirnya mode bahagiaku luntur, rasanya aku seperti petasan yang meledak-meledak.

"Baguslah, akhirnya kau marah-marah seperti biasanya. Kau terlihat aneh jika tidak marah." Ucapnnya dan berlalu dari hadapanku.

Mungkin jika aku tinggal bersama Sasuke lebih lama, aku akan lebih cepat tua darinya. Dia lebih suka jika aku sedang marah-marah, dasar pria aneh.

Aku masih punya hari terakhir untuk berlibur, saat pulang liburan kantor, pas hari liburku juga, jadi seperti liburan ekstra untukku, aku ingin bersantai, hari ini aku sedang beres-beres rumah, karena kesibukan di kantor, aku jarang beres-beres, bahkan Sasuke tidak punya inisiatif sendiri untuk membersihkan rumah, dia lebih banyak bersantai dan tidak melakukan apapun, pria yang tidak berguna.

Membersihkan dapur, ruang tamu, ruang nonton, kamarku, sudah, tinggalkan kamar Sasuke. Dia harus membersihkan kamarnya.

"Sasuke." Panggilku.

"Ng, apa lagi?" Tanya, wajahnya terlihat malas, apa dia benci bersih-bersih.

"Kamarmu, apa sudah kau bersihkan?"

"Kamarku bersih setiap hari, tidak perlu kau tanyakan lagi." Ucapnya.

"Ah, baiklah. Uhm, setelah ini aku mau pergi berbelanja dulu." Ucapku dan mulai bersiap-siap, aku lupa saat mengancam Sasuke harus pergi, aku benar-benar mengosongkan bahan makanan dan sekarang aku harus membelinya.

"Sebaiknya kau pergi malam saja." Ucapnya.

"Untuk apa? Aku mau pergi sekarang kebetulan cuacanya sedang bagus." Ucapku.

"Aku akan menemanimu berbelanja." Ucapnya, dia tidak menatapku.

"Tidak perlu, kau akan ngomel-ngomel lagi padaku, kau di rumah saja." Ucapku.

Mulai berjalan ke arah pintu dan tiba-tiba langkahku terhenti, menoleh ke belakang dan tangan Sasuke memegang lenganku.

"Kau sungguh keras kepala, ya sudah, aku akan menemanimu sekarang." Ucapnya. Aku sendiri terkejut Sasuke mau keluar di jam segini, saat cuaca sedang terik dan dia tidak takut jika keluar siang hari.

Sesampainya di supermaket terdekat, Seperti yang ku duka, dia terlihat saat seperti sedang di restoran, wajahnya terlihat cemas, meskipun dia sudah mengenakan kacamata dan topi yang ku berikan. Dia masih merasa takut jika seseorang mengenalinya.

"Kalau kau seperti itu, orang-orang akan mencurigaimu dan kau bisa menjadi pusat perhatian, bersikap biasalah, kau harus santai." Ucapku, aku hanya sedang berusaha membuatnya tenang.

"Hn." Sasuke hanya bergumam dan mencoba bersikap tenang.

Hari minggu banyak yang berbelanja, aku juga harus memenuhi semua barang-barang yang ku perlukan. Melirik beberapa rak dan mataku tertuju pada beberapa produk yang diskon 50%, demi apa! Aku sangat beruntung hari ini.

"Sasuke jaga troli, aku akan ke sana sebentar, kau tunggu di sini dan jangan kemana-mana." Ucapku.

Tanpa menunggu jawabannya aku langsung berlari dan berhamburan di antara ibu-ibu yang rame dan ribut berebut barang-barang diskon itu, ibu-ibunya besar-besar dan sangar, aku harus berusaha keras mendapatkannya, bertarung melawan ibu-ibu penggila diskon. Terdorong ke sana- kemari, mereka ini sangat kejam, padahal hanya sebuah barang dan memborongnya seperti beras yang hampir habis.

Beberapa menit berlalu, meskipun tidak banyak aku mendapatkan beberapa barang penting yang berguna di rumah.

"Apa kau sudah selesai?" Tanya Sasuke, aku tidak bisa membaca pikirannya saat ini, tatapannya datar, padahal aku tidak begitu lama, mungkin dia bosan.

"Sudah, hehehe. Apa kau tidak lihat, ibu-ibu tadi gaduh sekali, aku jadi hanya mendapatkan beberapa saja." Ucapku. Kecewa, tapi sedikit beruntung.

"Uhm."

Aku sedikit terkejut, tangan Sasuke bergerak ke arahku, dia seperti tengah merapikan rambutku.

"Kau berantakan sekali. Dasar ceroboh."

Blush..~

Ya ampun, kenapa di saat seperti ini, aku merasa sangat malu dan bahkan tidak berani menatap Sasuke.

"He-hentikan, aku tidak suka itu." Ucapku, mau menepis tangannya tapi di tahan satu tangannya lagi.

"Sabar, kau terlihat seperti orang gila jika tidak di rapikan." Ucapnya.

Aku semakin malu, apa wajahku merona? Semoga tidak. Aku bahkan bisa mendengar beberapa orang berbisik di arah sekitar.

Lihat tuh, apa mereka pasangan suami-istri?

Mereka terlihat mesra.

Aku lihat wanita itu dari tempat diskon, mungkin prianya sedang membantu merapikan dirinya.

So sweet.

Prianya tampan yaa dan sangat baik, wanita itu beruntung memilikinya.

Bikin baper, jangan mesra-mesra di depan umum dong.

Aku bisa mendengar semuanya. Setelah berusaha menahan diri, tangan Sasuke sudah menghilang dari atas kepalaku, syukurlah, aku sudah sangat malu, Sasuke, kamu jahat, seenaknya mempermainkan perasaanku, aku jadi merasa canggung.

"Ada apa?" Tanyanya dan malah mendekatkan wajahnya ke arahku yang terus-terusan menunduk.

"Jauhkan wajahmu, aku tidak apa-apa." Ucapku dan mendorong kasar wajah Sasuke.

Ya ampun, wanitanya kasar sekali.

Dia sangat kejam.

Seharusnya dia berterima kasih, kenapa mendorong prianya.

Wanita aneh.

Sial! Kenapa mereka masih menceritakanku, dasar orang-orang tidak berguna, hanya mengurusi kehidupan orang lain saja, ini semua gara-gara Sasuke yang tiba-tiba aneh, dia membuat semua orang jadi salah paham tentangku. Aku merasa sangat kesal, terburu-buru menyelesaikan belanjaan dan segera membayarnya di kasir.

Akhirnya, aku tidak perlu mendengar mereka lagi, berjalan santai membawa sebuah kantong belanjaan dan Sasuke membawa dua kantong belanjaan, ternyata banyak juga yang harus di beli, ini kebutuhan untuk dua orang, sebelumnya aku hanya akan membeli untuk kebutuhanku saja. Melirik ke atas langit, cuacanya sangat bagus, cerah dan panas, Sasuke memakai topi, jadi dia tidak merasa kepanasan, berhenti di sebuah taman, aku ingin membeli minuman dingin di seberang jalan.

"Kita berhenti dulu. Aku mau membeli minuman, kau mau apa?" Tanyaku.

"Terserah kau saja." Ucapnya.

"Oh, baiklah."

Menyimpan kantong yang ku bawa dan bergegas pergi, Sasuke akan duduk di kursi taman dan menunggu. Untung saja ada minimarket yang dekat, seharusnya aku membeli minuman dingin tadi, tapi aku malah fokus mendengar ocehan orang-orang yang melihat kelakuanku pada Sasuke. Setelah membelinya, aku harus bergegas, Sasuke tidak boleh tinggal sendirian, bisa saja ada yang mengenalinya.

Bugght...!

Aku terburu-buru dan tidak melihat jalan dengan baik, aku menabrak seseorang.

"Maaf." Ucapku dan menatap orang yang tidak sengaja ku tabrak.

Eh? Heeeeee...! orang itu.

"Kau baik-baik saja Sakura? aku pikir siapa yang menabrakku." Ucapnya.

Sasori! Dia, dia, dia ada di sini. Seperti yang sudah ku duga, dia akan cepat keluar dari sana. Cih, mungkin aku harus menuntutnya lebih dari itu. Aku tidak ingin melihatnya dan menanggapinya lagi. Berbalik dan mencari jalan lain untuk segera ke Sasuke.

"Tunggu, kenapa kau menghindar?" Sasori langsung memegang lenganku, dia menahanku untuk pergi.

"Lepaskan! Apa maumu? Aku pikir kita sudah selesai, aku bahkan tidak ingin melihatmu." Ucapku. Aku merasa sangat kesal setiap melihatnya, dia sudah melakukan hal buruk padaku.

"Jangan seperti itu, aku hanya ingin minta maaf padamu, aku sudah melakukan kesalahan. Aku minta maaf Sakura, aku tidak bermaksud." Ucapnya. Kau tahu wajahnya, dia itu sangat licik, bahkan dia membuat seolah-olah dia sungguh menyesali perbuatannya.

"Aku sudah memaafkanmu, bisa biarkan aku pergi sekarang?" Ucapku.

"Terima kasih Sakura. Tapi ada yang ingin aku tanyakan padamu."

"Apa?"

"Meskipun kau tidak suka, aku hanya ingin mengingatkan kejadian di malam itu. Apa kau tahu, ada seorang pria yang masuk ke rumahmu dan memukulku, dia memakai topeng dan aku bahkan tidak melihat wajahnya." Ucapnya. Dia menatapku serius.

Aku tidak akan mengatakan jika itu adalah Sasuke, aku tidak peduli jika dia tahu ada orang lain di rumahku, tapi aku harus tenang dan berusaha untuk berbicara santai padanya.

"Seorang pria? Aku tidak tahu, bahkan saat itu aku tidak sadar apa yang sudah terjadi. Sepertinya dia adalah tentanggaku, mungkin dia merasa aneh saat ada mobil terparkir di depan rumahku dan sudah sangat malam. Yaa mungkin seperti itu. " Ucapku, aku sudah berusaha tenang, Sasori tidak akan mengetahui apapun tentang Sasuke.

"Aku pikir ada seseorang di rumahmu, aku sempat melaporkan hal ini pada polisi." Ucapnya. Ternyata dugaan Sasuke benar dia yang melapor.

"Apa-apaan kau! jangan seenaknya mengadukan cerita bohong pada polisi, untung saja saat itu aku sedang liburan, bagaimana jika aku ada di rumah dan terlihat seperti orang bodoh saat polisi-polisi itu menggeledah rumahku, apa kau sudah gila!" Ucapku, aku benar-benar kesal padanya, seenaknya melakukan hal apapun tanpa di pikirnya terlebih dahulu.

"Aku hanya ingin memastikanmu aman." Ucapnya, aku muak mendengar setiap ucapannya.

"Kau seharusnya yang menjaga jarak agar aku aman. Sudahlah, aku tidak ada waktu lagi denganmu." Ucapku. Aku bergegas pergi, mencoba mengambil jalan memutar dan agak jauh, aku harus memastikan Sasori tidak mengikutiku.

Aku sudah sampai di tempat Sasuke menunggu, wajahnya terlihat bosan, aku harus bersikap biasanya, tapi aku merasa sungguh kesal hari ini.

"Maaf aku agak lama, aku harus mengantri untuk membayar." Ucapku. Memberikan sebotol minuman pada Sasuke dan mengangkat kantonganku.

Kami kembali berjalan pulang, sepanjang jalan aku hanya terdiam, kenapa orang itu harus muncul lagi? Aku harap dia di musnahkan saja, membuatku tidak bisa hidup tenang, bodohnya, seharusnya sejak awal aku tidak perlu mengenal orang seperti itu.

Suasananya sedang sepi, biasanya di hari libur seperti ini, para tetanggaku akan berlibur, aku jadi bisa santai masuk ke rumah bersama Sasuke dan tidak perlu mengendap-ngendap seperti pencuri lagi.

Masuk ke dalam rumah dan menyimpan semua kantongan di dapur, rasanya lelah juga, belanjaan hari ini sangat banyak, berjalan ke arah sofa dan beristirahat sejenak. Sepertinya aku sedang sial hari ini.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Sasuke dan duduk di sebelahku. Aku rasa dia harus berhenti bersikap seolah-olah mengkhawatirkan aku, ada perasaan aneh jika dia bersikap seperti itu.

"Aku baik-baik saja." Ucapku dan menyandarkan diri di sofa, aku ingin bersantai sejenak sebelum membongkar belanjaan itu. Aku pikir, Sasuke tidak perlu mengetahui hal yang tadi, aku bertemu Sasori.

"Aku harap kau bisa bercerita tentang masalahmu padaku. Aku rasa kau terlambat bukan karena mengantri di kasir." Ucap Sasuke.

Aku sendiri terkejut mendengar ucapannya, Sasuke seakan-akan bisa membaca pikiranku saat ini.

"Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya." Ucapku. Aku tidak ingin menatapnya, berbalik dan berharap dia tidak mendapatkan kebohongan dari wajahku, aku pandai berbohong pada orang lain, tapi kepadanya? Dia bahkan dengan mudah bisa membaca situsi keadaanku.

Deg.

Kami masih duduk di sofa, tapi Sasuke sudah tidak duduk di sampingku, aku berbalik membelakanginya dan dia memelukku dari belakang. Oh tidak lagi, kenapa dia bisa seenaknya saja melecehkanku, dasar pria mesum! Seharusnya aku memberontak, tapi ada yang aneh, aku terdiam dan merasa seperti bebanku sedikit terangkat, Sasuke membuatku nyaman.

"Asal kau tahu saja, aku merasa aneh jika kau tidak berbagi masalahmu padaku, aku khawatir padamu." Ucapnya.

Deg.

Aku hanya bisa diam, kenapa sepatah kata pun tidak bisa ku ucapkan, aku ingin mengatakan semuanya, tentang Sasori, tapi aku diam, aku tidak tahu, aku harus menceritakan padanya atau tidak. Aku malu sendiri, ada seseorang yang tiba-tiba saja khawatir secara berlebihan terhadapku.

"Sasuke, ini tidak benar, sebaiknya kau lepaskanku." Ucapku. Mencoba melonggarkan pelukkannya. Dia tidak menolak dan membiarkanku melepaskan tangannya. Menghela napas sejenak dan aku berjalan meninggalkannya, saat ini aku tidak ingin menatap wajahnya dari nada suaranya saja dia terdengar sedih akan sikapku. Aku sedang bimbang dan lagi sikap Sasuke terlalu, ahk! Aku merasa kecolongan sudah di sentuh olehnya, lagi. Tapi saat tangan kekar itu ku lepas, aku merasa sedikit hampa. Berpikir positif Sakura, kau pasti hanya merasa jenuh setelah putus setahun yang lalu dan selalu saja membentengi diri dari pria mana pun, yaa, mungkin saja seperti itu, aku mungkin hanya merindukan masa-masa di mana aku memiliki seseorang yang berarti dalam hidupku, tapi mereka semua brengsek dan aku tidak bisa menganggap semua itu kenangan yang indah.

.

.

.

.

.

Esok paginya, aku harus bersiap, membuat seolah-olah hal kemarin tidak pernah terjadi. Berjalan ke kamar mandi dan eh? Pintunya terkunci. Kenapa bisa terkunci? Aku tidak pernah mengunci pintu ini. Tunggu dulu.

"Sasuke! apa aku ada di dalam?" Ucapku dan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi berkali-kali. Tidak menunggu lama pintu itu terbuka dan lagi aku harus melihat pemandangan yang tidak ku sukai, tapi kali ini ada yang berbeda. Wajahku sepertinya sudah merona.

"Apa kau lupa? Kau sendiri yang mengatakan kalau harus mengunci pintu luar juga." Ucapnya.

Tatapannya datar seperti biasanya, rambutnya masih basah dan wajahnya terlihat semakin tampan setelah mandi. Apa yang kau pikirkan Sakura! Aku segera menepuk-nepuk kedua pipiku agar secepatnya sadar.

"Ada apa? Kau aneh sekali, kenapa memukul pipimu sendiri? mau ku bantu."

"Tidak! kau akan memukulnya dengan keras, sudah sana, aku mau pakai kamar mandi, dan ingat seharusnya kau membawa pakaian di dalam kamar mandi agar bisa langsung berpakaian, kau pikir aku senang melihatmu bertelanjang dada, hmpp!" Ucapku, aku sudah naik darah pagi-pagi.

"Iya-iya, berisik sekali." Ucapnya santai dan berlalu begitu saja. Dia sudah masuk ke kamarnya dan aku segera berlari masuk ke kamar mandi dan menatap cermin, wajahku benar-benar merona. Tapi syukurlah dia tidak menyadarinya.

Setengah jam berlalu aku sudah bersiap, aku juga sudah membuat sarapan untuk Sasuke. Dia belum turun dari kamarnya. Ahk sudahlah, aku tidak perlu menyibuki diri hanya untuknya.

"Sasuke aku berangkat." Ucapku. Mungkin mengatakan hal itu ada perlunya, aku merasa perlu menghargai keadaannya di rumahku meskipun tidak ada jawabannya.

Berjalan ke arah pintu, mematung sebentar, aku mendapat sebuah catatan di kertas kecil yang tertempel di pintu.

Hati-hati di jalan, wanita barbar.

Oh..~ ini sungguh manis, dia bahkan repot-repot membuatkanku sebuah catatan kecil, tidak ingin mengungkapnya langsung dan malah mengungkapnya secara tertulis, tapi tulisan 'wanita barbar' itu tidak membuatku senang. Mengambil catatan itu, merobek pada bagian 'wanita barbar' dan membuangnya, aku hanya mengambil tulisan 'Hati-hati di jalan'. Aku belum pernah di buatkan hal semacam ini dari mantan-mantanku dulu. Membuka pintu dan tatapanku sedikt terkejut.

"Yo, Sakura, aku sudah menunggumu." Ucap Naruto.

Naruto? kenapa dia ada di sini? Tumben, aku mengunci pintu dan berjalan menghampirinya. Ahk, rasanya suasana pagi ini akan semakin menusuk..

"Sakura, siapa dia?" ibu-ibu penggosip(1)

"Iya-iya, beritahu kami, dia tampan, bahkan punya mobil." Ibu-ibu penggosip(2)

"Apa kalian teman kantor atau?" Ibu-ibu penggosip(3)

"Heheheh, maaf yaaa. Dia hanya teman kantorku dan aku sepertinya sudah terlambat, ayo Naruto." Ucapku dan berusaha tersenyum semanis mungkin, melirik ke arah Naruto, kenapa malah dia canggung pada ibu-ibu tetanggaku, dasar, ini semua salahnya, kenapa harus tiba-tiba datang menjemputku.

Setelah bebas dari para tetanggaku, aku hanya terdiam di dalam mobil dan merasa Naruto tidak tepat saat tadi.

"Kau tidak senang aku jemput?" Tanya Naruto.

"Bukannya tidak senang, aku hanya malas jika mereka salah paham." Ucapku.

"Salah paham pun tidak apa-apa." Ucap Naruto.

"Ha? Apa maksudmu?" Ucapku, aku bingung kenapa dia malah suka jika para tetanggaku salah paham akan dirinya.

"Ahk, tidak-tidak, maksudku aku nanti akan menjelaskan kepada mereka jika mereka salah paham." Jelas Naruto.

"Oh, lagi pula untuk apa kau menjemputku?" Tanyaku, ini tidak biasanya.

"Kebetulan aku tadi sedang lewat daerah rumahmu, jadi aku sekalian saja menjemputmu." Ucapnya.

Ini terdengar seperti basa-basi atau sesuatu yang memang sudah di rencanakannya, Naruto memang frontal tapi pola pikirnya masih tidak bisa ku pahami, seperti sebuah puzzel yang masih sulit aku selesaikan. Dia memang sangat akrab denganku, tapi aku pikir hal yang wajar saja, Sai juga sangat akrab denganku.

"Sakura." Panggilnya. Aku pikir dia tahu aku terlihat melamun dan sibuk dengan pikiranku sendiri.

"Iya?"

"Uhm... waktu liburan kantor, aku ingin minta maaf padamu. Aku lepas kendali." Ucapnya.

Heeee. Kenapa baru sekarang dia minta maaf dan mengungkit masalah itu lagi, membuatku ingat kembali, bukan tentang dirinya yang ingin menyerangku tapi tentang Sasuke yang langsung melindungiku.

"Su-sudahlah, aku tahu keadaanmu saat itu, jadi anggap saja itu adalah hal yang tidak di sengajai, aku juga kadang kelepasan tapi tidak seliar dirimu, aku hanya akan mengomel tidak jelas." Ucapku. Aku lupa jika aku hampir mencelakai Sasuke saat mabuk, tidak, jangan ceritakan hal memalukan itu Sakura.

"Ah, maaf aku tidak akan begitu lagi." Ucapnya. Dia terlihat sangat menyesal.

"Sebaiknya kau berhenti minum juga, atau kau harus batasi sampai mana tingkat mabukmu" Ucapku. Tapi di saat itu, dia sedang bertanding minum dengan Sasuke, aku pikir mereka berdua sama-sama bodohnya.

"Baiklah, akan aku ikuti saranmu." Ucapnya, dia kembali ceria, yaa itu lebih baik.

Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang hingga kami tiba di kantor. Aku turun dari mobilnya dan mengucapkan terima kasih, dia adalah pria yang baik, aku harap dia segera mendapat wanita yang cocok dengannya.

.

.

.

.

.

Hari ini pekerjaanku sedang banyak, mau mati rasanya, perusahaan sedang melambung dan berkas mapnya semakin banyak, aku harus memeriksa ini dan itu, beberapa hari ini aku bahkan mulai lembur lagi, lupa makan malam dan langsung tertidur dengan pakaian kerja. Beberapa kali Naruto mengantarku pulang dan aku merasa tidak enak, meskipun niatnya baik, tapi aku tidak bisa terus-terus di tolong seperti ini. Uhm... dan Sasuke, aku harus jaga jarak dengannya, dia selalu saja bersikap aneh padaku. Dia bukan pacar atau pun suamiku. Aku bisa mengurus diriku sendiri, dan juga...

"Sakura, kau lupa makan malam, kau akan sakit dan membuatku tidak bisa makan juga jika kau tidak masak."

"Sakura, cepat bangun! Aku tidak mau kena omelanmu gara-gara tidak di bangunkan."

"Sakura, lihat ini, kau bahkan belum membuatkanku sarapan, kau juga harus sarapan."

"Sakura,"

"Sakura,"

Ya ampun, setiap harinya dia mengomel seperti itu, apa dia pikir aku senang kena omelannya. Ini aneh, semuanya jadi berbalik, biasanya aku yang mengomel, sekarang dia yang lebih banyak mengomel.

"Aku pulang." Ucapku. Aku mulai terbiasa mengatakan ini, seseorang ada di rumahku dan aku merasa aneh jika tidak mengucapkan apapun saat sudah tiba di rumah, hanya memastikan pada Sasuke jika aku yang pulang.

Sudah jam 11 malam dan aku baru tiba di rumah. Rasanya tanganku pegal semua, menulis dan mengetik. Berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air, menatap isi kulkas yang banyak makanan tapi aku sedang tidak berselera. Aku mau tidur saja. Berbalik dan mendapati Sasuke yang tengah berdiri tepat di pintu dapur, dia menghalangi jalanku.

"Minggir." Ucapku.

"Makanlah sesuatu sebelum tidur." Ucapnya, dia menatapku, tapi tatapannya menusuk dan seakan memerintah.

"Aku sudah ngantuk, aku mau tidur saja." Ucapku. Aku benar-benar lelah dan tidak punya tenaga lagi untuk berdebat dengannya.

Sasuke tidak juga minggir dan tetap berdiri di depan pintu dapur, mau marah pun aku sedang tidak mood.

"Ahk, baiklah, aku akan makan. Dasar tukang memaksa." Ucapku.

"Aku hanya mencegahmu agar tidak sakit, seharusnya kau berterima kasih padaku." Ucapnya.

"Terserahlah." Ucapku dan menatap malas ke arahnya. "Apa kau sudah makan?" Tanyaku.

"Belum." Ucapnya.

"Dasar, memerintah orang sedangkan dia tidak makan, bantu aku menyiapkannya, kita akan makan bersama." Ucapku.

Dia mau membantuku membuat makan malam, sepertinya ini sudah bukan makan malam lagi, tapi makan tengah malam, makanan siap saat sudah jam setengah dua balas.

"Kau akhir-akhir ini sibuk sekali." Ucap Sasuke, kami sedang makan dan dia memulai pembicaraan, aku rasa kita juga sudah jarang berbicara dan bertengkar.

"Uhm, pekerjaanku sedang banyak. Aku harus lembur setiap harinya." Ucapku. Aku jadi curhat pada Sasuke.

"Meskipun kau sibuk, kau harus jaga kesehatan juga."

"Oh... Aku tersanjung sekali." Ucapku, membuat seakan-akan aku senang mendengarnya, tapi itu terdengar seperti ceramah bagiku. "Kau tidak perlu mengatakannya, aku bisa jaga kesehatanku, lagi pula, akhir-akhir ini kau sering ngomel-ngomel, kau bahkan lebih parah dari ibu-ibu penggosip dekat rumahku." Ucapku.

Hening. Sasuke tidak menjawabnya, dia tetap fokus pada makanannya. Aku rasa dia sedikit berubah, bukan menyebalkan tapi lebih memperhatikan, hanya saja cara bicaranya masih sangat kasar dan nyolot, memerintah seenaknya dan menjadikanku seperti orang yang harus menuruti ucapannya. Aku menatapnya dan memicingkan tatapanku, apa dia sudah salah makan atau kepalanya sudah terbentur.

"Ada apa?" Dia menyadarinya.

"Ti-tidak. Aku sudah selesai, besok saja bersihkan piringnya, aku tidur duluan yaa." Ucapku, bergegas menyimpan piring kotorku di westafel dan bergegas pergi tidur.

.

.

.

.

.

Oh pekerjaan, kapan kamu akan berjalan dengan sendirinya. Aku merasa bodoh sendiri memikirkan pekerjaanku akan selesai dengan satu petikan jari. Hmppp... aku lelah, pekerjaan baru saja kelar dan aku sedang tidak mood untuk berjalan, mungkin aku akan pulang sejam lagi, lebih baik beristirahat di sini dulu.

"Sakura. woiii." Teriakkan itu, sudah jelas Naruto.

"Apa? Aku bisa dengar, jangan teriak-teriak." Ucapku, kepalaku jadi sakit setelah mendengarnya memanggilku seperti memakai toa.

"Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanyanya.

"Baru saja aku menyelesaikannya." Ucapku.

"Oh baguslah, aku akan mentraktirmu hari ini." Ucapnya.

"Apa traktir!" Ino mendengarnya dan langsung berlari ke arah Naruto.

"Heee? Aku tidak mengajakmu Ino, aku mengajak Sakura." Ucapnya.

"Ahk, dasar, bahkan teman sendiri tidak di ingat, oh aku tahu, kalian ingin kencan yaa." Ucap Ino.

"Yaa...begitulah." Ucap Naruto dan tersipu malu. Dasar, tujuanmu jadi ketahuan Naruto, bodoh.

"Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian." Ucap Ino dan kembali ke mejanya.

"Ja-jadi Sakura, apa kau mau?" Tanyanya, dia seperti butuh kepastian dariku. Haaa..~ terserahlah, lagi pula aku tidak ada niat untuk menolak ajakan baiknya.

"Iya, aku mau." Ucapku.

Setelah membereskan meja kerjaku, aku pergi bersama Naruto, dia terlihat senang sekali sampai-sampai membukakan pintu untukku. Mobilnya sudah melaju dan kami sudah di tengah jalan, sudah sore ternyata dan pemandangan langit sore yang sedang ku lihat saat ini.

"Kita akan kemana?" Tanyaku pada Naruto.

"Ke tempat yang bagus dan nyaman, kau pasti suka." Ucapnya.

"Sudahlah, jangan terlalu romantis Naruto, kau itu tidak cocok untuk romantis." Ucapku menyindirnya dan dia hanya nyengir saja.

Melewati beberapa toko dan cukup lama perjalanan dari kantor. Matahari sudah menghilang dan langit sudah gelap, mobil Naruto masuk ke sebuah restoran yang bisa di bilang cukup terkenal dan mahal.

Dia membantuku turun dan mengajakku di sebuah meja yang tidak berada di dalam ruangan, melainkan di luar ruangan dan restoran ini berada di lantai 10, pemandangan kota malam dengan cahaya lampu warna-warni di sana. Ini sungguh indah, anginnya tidak terlalu kencan dan sedikit sejuk. Melirik ke sana kemari dan tempat ini masih sepi, hanya ada orang-orang di ruangan bagian dalam.

"Kau suka tempat ini?" Tanya Naruto, menarik sebuah kursi dan aku duduk di situ.

"Uhm, ini sungguh indah, tapi kenapa di sini sepi?" Tanyaku.

"Ahk, orang-orang tidak terlalu suka makan dia luar, tapi menurutku tempat di sini lebih nyaman." Ucap Naruto.

"Ah, baiklah, aku hanya ikut saja apa rencanamu hari ini." Ucapku. Aku pikir dia berusaha untuk terkesan romantis, meskipun sikap konyol dan frontalnya lebih dominan darinya.

Pesanan kami sudah datang, Naruto hanya menyarankanku untuk mencoba steaknya dengan daging impor yang berkualitas dan saus yang di racik dari koki yang sudah sangat berpengalaman dalam membuat saus steak. Untuk minuman, aku masih menolaknya, meskipun Naruto menawarkanku, aku memilih minuman bersoda non alkohol saja. Yang di saran Naruto memang tidak salah, dagingnya enak dan empuk, bahkan sausnya, ahh, ini sungguh makan malam yang mewah.

"Kau menyukainya?" Tanya Naruto.

"Tentu. Ini sungguh enak. Tumben kau mengajakku makan-makanan enak?" Ucapku. Dia tidak seperti biasanya.

"Yaa, hanya sekali-sekali saja aku mengajakmu seperti ini, heheheh, mungkin kapan-kapan jika aku ajak jalan-jalan, kau mau?" Ucapnya dan dia terlihat sangat senang.

"Aku sih tidak masalah, tapi kalau pergi ramai-ramai dengan Ino dan Sai akan jauh lebih menyenangkan." Ucapku.

"Uhm, lain kita pergi berempat, tapi aku ingin kita bisa pergi berdua juga." Ucapnya, sedikit aneh, tatapannya jadi malu begitu.

"Baiklah-baiklah, aku ikut saja." Ucapku.

Meskipun sudah sangat lama mengenal Naruto, kami baru akrab setelah bekerja di kantor yang sama, selama di sekolahan, kami jarang mengobrol, kadang cuma bersapa saja, soalnya kami saling kenal dan juga saat dia menolongku, aku jadi bisa berbicara dengannya jika tidak sengaja bertemu di kantin sekolah.

Suasana di malam hari semakin ramai, makan malam sudah berakhir, kami bercerita cukup lama, mengenang sekolah dan susahnya harus mendapatkan kepercayaan dari pak Yahiko, mengenal Sai dan Ino dan kami menjadi teman.

"Sebaiknya aku pulang." Ucapku. Aku sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.

"Akan aku antar." Ucapnya.

Setelah Naruto melakukan pembayaran, kami pulang bersama. Dia mengantarku sampai rumah.

"Terima kasih untuk hari ini. Kapan-kapan aku yang akan mentraktirmu" Ucapku padanya.

"Ahk, tidak masalah, akan aku tunggu saat itu. Selamat malam, dah." Ucapnya.

"Selamat malam, dah." Ucapku, melambaikan tangan hingga mobilnya sudah melaju.

Berbalik dan menatap rumahku yang gelap dan sunyi. Berjalan masuk dan membuka kunci pintu rumah, mencari saklar dan menyalakan.

"Aku pulang. Sasuke?" Panggilku.

Tidak ada jawaban, mungkin dia sudah tidur, melirik ke arah jam, ini masih jam 9 malam. Aku sendiri berpikir, apa sih yang di lakukannya di rumah, biasanya dia hanya makan, nonton dan tidur, apa menonton membuatnya lelah. Ahk, untuk apa aku memikirkan kegiatannya di rumah. Rasanya tenggorokkan ku kering, menyimpan tasku di sofa dan berjalan masuk ke dapur, mengambil sebotol air dan menuangkannya di gelas, meneguk beberapa kali hingga rasa hausku hilang.

"Kau sudah pulang?"

Uhuk' uhuk'

"Hei, minumnya pelan-pelan." Ucap Sasuke.

Ya ampun, aku terkejut sendiri dan tersedak. Sasuke membuatku kaget saja.

"Jangan mengagetkanku." Ucapku.

"Aku tidak mengagetkanmu, aku hanya memastikan kau yang pulang." Ucapnya.

"Memangnya siapa lagi yang pulang selain aku?" Ucapku.

"Aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumahmu. Aku pikir orang lain yang datang, kau biasanya pulang tidak menggunakan kendaraan." Jelasnya.

"Oh, aku tadi di antar Naruto." Ucapku.

"Kalian pergi bersama?"

"Uhm, iya."

Aneh, ada apa dengannya? tatapannya terlihat seperti tidak senang saat aku bilang 'Naruto'.

"Apa kau tidur? Aku tadi memanggilmu tapi kau tidak menjawab." Ucapku.

"Aku tadi di kamar mandi dan tidak mendengarnya."

"Oh baiklah." Ucapku dan menaruh gelas di westafel.

"Apa kau sudah makan?" Tanyanya.

Ahk? Biasanya aku yang bertanya seperti itu padanya, kenapa dia yang menanyakan hal itu, jelas-jelas dia yang harus di beri pertanyaan seperti itu.

"Sudah, kau sendiri?" Tanyaku

"Sudah juga, tadi aku mencoba membuat spageti seperti yang kau ajarkan padaku, cukup mudah, hanya merebus mienya dan menuangkan saus." Ucapnya.

Manisnya, sejak kapan dia berwajah lucu dan terkesan canggung begitu. Dia terlihat seperti anak kecil yang berhasil berlajar sesuatu dari orang tuanya, aku jadi merasa lebih tua darinya.

"Baguslah, aku jadi tidak khawatir lagi jika kau belum makan." Ucapku.

"Kau mengkhawtirkanku?"

"Tentu, kau pikir apa? Aku tidak mau kau mati kelaparan di rumahku, nanti tetangga bilang apa? Aku menyembunyikan orang dan tidak memberinya makan." Jelasku.

Sasuke tertawa dan langsung menutup mulutnya. Ha? Sasuke, dia, dia tertawa? Baru kali ini aku melihatnya tertawa, biasanya dia akan berwajah seram, menusuk, menajam, kesal, marah. Tapi ini sangat berbeda, dia tertawa lepas, seakan-akan ucapanku itu lucu, tunggu dulu, dia anggap ucapanku itu lolucon, aku tidak bercanda dengan ucapanku itu.

"Hentikan, ini tidak lucu, aku sedang tidak bercanda padamu." Ucapku.

"Oh, aku pikir kau sedang bercanda." Tawanya segera meredah dan menghilang.

Bahkan dia tidak bisa membedakan mana yang bercanda dan yang mana serius. Dasar bodoh.

"Sudah-sudah, aku lelah. Selamat malam." Ucapku, melewatinya dan berjalan ke kamarku. "Sasuke, tolong matikan lampu ruang tamu." Ucapku.

Tidak ada ucapan balasan darinya, dia akan melakukannya tanpa ucapan, dia memang seperti itu.

.

.

TBC

.

.


update untuk menemani malming, apaan(?) hahahahaha... nggak terasa udah chapter segini, semoga masih konsisten untuk tetap melanjutkan ceritanya, berharap alur tiap chapter tidak membuat bosan. heheh

.

balas-balas review

dina haruno : ahk? ada apa dengan fic ini? aduh author juga bingung baca review kamu,

Hoshi Riri : hahaha, nanti autor kasih K*ranti buat si abang Sasu biar ndak sensi lagi, mungkin dia sedang PMS yaa, :D :D udah update yoo

Joanna Katharina : terima kasih ^_^

sitieneng4 : hahaha, kalau tidak berakhir liburan gimana kelanjutannya kalau tinggal di rumah XD kan lebih seru kalau cuma mereka berdua di rumah *Laught Devil* :D