Judul: Sand in Your Shorts

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Original Author: Goddess33

Genre: Romance; Hurt/Comfort

Rating: M

Pairing: GaaNejiGaa

WARNING: Shounen-ai

NOTE: Akhirnya, chapter terakhir! ^^

Enjoy~

.

Typo-betaed by Uchiha Nata-chan. Thanks a lot, dear. You help me a lot! ^^


Sand in Your Shorts


.

Butuh waktu hingga satu minggu pemantauan keadaan di kediaman klan Hyuuga, hingga pada akhirnya Gaara dapat menjalankan rencananya. Dengan kombinasi sempurna antara jutsu memata-matai dan pengalamannya memasuki kompleks kediaman klan Hyuuga sebelumnya, Gaara telah mempelajari baik-baik kondisi kemanan di sana. Termasuk struktur letak bangunan-bangunan di sana dan jadwal keseharian para penghuninya.

Seperti yang diketahui warga Konoha, Gaara dan kedua saudaranya telah kembali ke Suna satu bulan yang lalu, dan tidak pernah terlihat lagi di Konoha hingga saat ini. Gaara tahu bahwa pastilah Naruto bersedia mengundangnya untuk menginap di apartemennya, namun atas pertimbangannya sendiri Gaara memutuskan bahwa tidak membiarkan seorangpun tahu atas keberadaannya di Konoha saat ini adalah yang terbaik.

Bukanlah hal yang enteng untuk dapat berada di sebuah desa ninja. Ia mati-matian melemahkan hawa keberadaannya di Konoha, dan memilih sebuah gudang anggur bawah tanah yang terletak tepat di bawah sebuah toko yang berada di pinggiran Konoha sebagai basis operasinya.

Dalam selang waktu satu minggu pengintaiannya ini, Gaara hanya melihat Neji beberapa kali. Neji menghabiskan banyak waktunya di dalam kamarnya, dan hanya keluar dari sana untuk makan saja. Ia bahkan tak berbicara sepatah katapun dengan kerabatnya meskipun mereka mencoba untuk menyapa. Yah, bukan berarti juga mereka memang sungguh-sungguh ada niat untuk mengajaknya mengobrol. Jelas terlihat kesungguhan mereka yang setengah-setengah acap kali mereka menyapa Neji. Dan dari reaksi yang diberikan Neji, tampaknya hal ini sudah berlangsung cukup lama; mungkin semenjak kepergian Gaara dari Konoha sebelumnya.

Dari semua kerabat Neji, hanya Hinata yang datang mengunjunginya ke kamarnya. Lee dan Tenten datang satu kali juga, seingat Gaara. Namun dari raut muka ketiga orang itu ketika meninggalkan ruangan dapat disimpulkan bahwa apapun percakapan yang terjadi di dalam sana tidak berlangsung seperti harapan mereka.

Sulit bagi Gaara, hanya dapat menatap Neji dari kejauhan. Tanpa berbicara padanya sama sekali, tanpa membiarkan Neji mengetahui bahwa ia ada di sini—dekat dengannya.

Tinggal sebentar lagi. Gaara terus mengulang hal itu dalam hatinya; berjanji pada Neji dan sekaligus dirinya sendiri.

Malam datang menjelang. Tak ada bulan di langit, dan kabut dingin mengapung tebal di udara.

Dengan penuh kehati-hatian, Gaara menyelinap ke dalam kompleks kediaman klan Hyuuga lagi malam ini. Pasirnya berkumpul di setiap langkah kakinya, sehingga semakin menipiskan hawa keberadaannya di sini.

Dari hasil pengamatannya seminggu belakangan ini, Gaara tahu benar bahwa ada semacam… perbedaan besar antara tingkat sekuritas dalam kompleks Hyuuga. Para penjaga di bagian barat dinding tinggi yang menjulang di tengah kompleks, mengganti shift mereka sehabis tengah malam. Dan shift penggantinya akan datang hampir satu jam kemudian.

Sempurna.

Rencananya adalah menyelinap, menculik sandera, dan keluar dari tempat ini secepat mungkin.

Walau tak dapat dipungkiri, dalam benak Gaara berkali-kali bergaung pertanyaan yang sama. Semua ini adalah undangan dari Hiashi—yang jelas-jelas merupakan pemimpin klan Hyuuga saat ini dan terlebih lagi ayah dari putri kecil yang hendak diculiknya malam ini. Apa sebetulnya yang dipikirkan Hiashi?

Sekalipun Hiashi sendiri adalah pencetus rencana ini, namun bukan berarti Gaara dapat percaya sepenuhnya terhadapnya. Ia tak tahu sampai sejauh mana ia dapat memercayai paman Neji itu. Dan oleh karena itulah, tak sedikitpun ia mengendurkan kewaspadaannya sekarang. Selain itu jika Hyuuga yang lain memergoki Gaara saat ini, ia yakin betul bahwa Hiashi bisa saja lepas tangan dan berkata bahwa ia tak tahu-menahu soal hal ini. 'Kan?

Ketika para penjaga shift pertama akhirnya meninggalkan posisi jaga mereka, Gaara lekas menyelinap ke bagian dalam kompleks. Penyelidikan Gaara sebelumnya telah membawanya pada pengetahuan atas titik-titik persembunyian dan jalur di atap gedung-gedung kompleks Hyuuga, dan inilah yang ia manfaatkan betul sekarang. Untungnya lagi, semakin ke dalam pun ada jeda antara shift penjagaan pertama dan berikutnya—yang merupakan jendela kesempatan besar bagi Gaara. Lagi-lagi ia mampu meloloskan diri dari penjagaan ketat tersebut.

Kamar yang menjadi sasarannya berada di bagian tengah kompleks klan Hyuuga. Perlu mengabiskan lebih banyak waktu dari yang Gaara inginkan. Ia harus secepat mungkin mendapatkan sandera dalam genggamannya dan membawanya keluar, sebelum waktu shift penjagaan berikutnya tiba.

Akhirnya Gaara telah sampai di kamar tidur targetnya. Hanya ada satu hal yang menarik perhatiannya, yaitu sosok gadis kecil yang tengah bergelung dalam selimutnya di atas futon dan tertidur lelap.

Gaara telah meninggalkan gentong pasirnya di luar, karena membawa gentong labu raksasa itu melewati lorong-lorong sempit hingga kemari sungguh suatu hal yang merepotkan. Namun pasrinya sendiri mengikutinya, melayang di sekitarnya membentuk riak ombak. Desiran yang diciptakannya teramat samar, hingga tak terdeteksi.

Dengan kemampuannya menyelinap, ditambah pengetahuannya yang cukup mengenai kondisi kompleks Hyuuga ini, Gaara sebetulnya merasa tidak perlu membawa pasirnya segala. Namun ia putuskan untuk membawanya jika terjadi hal-hal yang di luar dugaan. Lebih daripada itu, tugas utama pasrinya nanti adalah menggulung tubuh targetnya dan menjadi alat transporatsi untuk membawanya keluar dari sini. Taregtnya itu memang hanya seorang gadis kecil, namun bagaimanapun ia adalah seorang Hyuuga—dan terlatih dalam banyak segi kemampuan khusus klan Hyuuga.

Pasir milik Gaara tengah mendesis perlahan ketika menghampiri sosok gadis yang terbaring di atas futon itu, ketika tiba-tiba saja sang gadis membuka suaranya. Suara yang samar seolah bisikan tenang. Namun tentu saja tak membuat pasir Gaara tenang. Gumpalan pasirnya kini bersiap dalam menghadapi serangan.

"Kazekage-sama?" bisik Hanabi. Ia bangkit duduk dari posisinya berbaring, memutar lehernya dan menatap Gaara langsung. Kedua pecahan mata putihnya memantulkan sinar temaram dalam ruangan, membawa kesan mistis yang membuat bulu kuduk berdiri.

Gaara tak menyahut. Bersiap dalam posisi menyerang.

"Aku sudah diberitahu tentang hal ini," Hanabi kembali angkat bicara, masih dengan suaranya yang samar.

"Oleh ayahmu?" pasir milik Gaara mengapung di udara, mendesis dan bersiap untuk melakukan perlawanan jika Hanabi melakukan gerakan mencurigakan. Gaara menahan pasirnya untuk tidak bertindak gegabah, karena sejauh pengamatannya Hanabi tampak bergeming dan terlarut dalam pikirannya sendiri.

Hanabi menghela napas, membuka selimutnya dan kembali berujar setengah berbisik, "Kau datang untuk membawaku pergi, sehingga para Tetua akan memberikan Neji kepadamu. Kemudian dia akan menikah denganmu alih-alih denganku."

Gaara dapat menangkap pertanyaan dalam pernyataan tersebut. "Benar. Begitulah rencananya," jawabnya.

"Baiklah," Hanabi bangkit berdiri, menampakkan sosoknya yang rupa-rupanya telah mengenakan pakaian untuk bepergian di balik selimutnya. Selimutnya tersingkap semakin lebar, menampakkan gulungan kain yang berisi keperluan untuk bepergian.

"Tolong tunggu sebentar, aku pakai sepatuku dulu."

Gaara tak menimpali. Sedikit merasa terkejut melihat gadis Hyuuga di hadapannya itu memakai sepatunya cepat-cepat, kemudian merapikan pakaiannya.

"Baiklah. Aku siap," ucap Hanabi sesaat kemudian.

Pasir milik Gaara berputar mengelilingi Hanabi sekali, hingga kemudian kembali ke sisi Gaara dalam putaran yang berdesir. Seolah pasir itu tengah tertawa.

Sungguh ia tak menyangka sama sekali bahwa targetnya akan bersedia diculik dengan senang hati seperti ini.

"Jalur mana yang kau gunakan saat kemari?' Hanabi bertanya.

"Jalur utara."

Hanabi mengangguk, memanggul bawaannya, "Itu bagus. Aku tahu jalan pintas."

Gaara mengerutkan keningnya, menimbang-nimbang apakah gadis Hyuuga itu dapat dipercaya atau tidak. Ia tampak sungguh-sungguh hendak membantu Gaara. Dan jika tujuannya adalah untuk menjebaknya, seharusnya sudah dilakukannya sejak tadi—mumpung mereka masih berada di tengah-tengah kediaman keluarga utama klan Hyuuga. Selain itu gadis itu juga sudah menduga kedatangan Gaara kemari. Jika ia memang ingin menangkap Gaara, seharusnya ia sudah mempersiapkan perangkap atau semacamnya dari awal.

Maka Gaara sampai pada keputusan untuk memberi gadis itu rasa percayanya—setidaknya hingga mereka keluar dari sini.

Sejumput pasir meletakkan gulungan di atas futon Hanabi, dan kemudian mereka pun meninggalkan tempat itu.

.

.

Jauh lebih mudah ketika meninggalkan kompleks Hyuuga daripada memasukinya. Hanabi betul-betul tahu benar jalan pintas yang ia singgung sebelumnya. Dan dengan kemampuan Byakugan-nya, ia dapat dengan mudah membuat mereka menghindar dari penjaga yang sedang lalu-lalang berpatroli.

"Kau betul-betul akan mempercayai gadis ini?" Shukaku angkat bicara untuk pertama kalinya malam ini. "Bukan tak mungkin ia malah sedang menggiringmu pada jebakan."

"Jika demikian, seharusnya sudah ia lakukan dari tadi," balas Gaara datar.

Mereka sudah hampir sampai di pintu gerbang klan Hyuuga. Namun tiba-tiba saja pasir Gaara menggeram, merasakan kehadiran seseorang di sana.

Hanabi menatap sosok bayangan yang nyaris luput dari pandangan. "Ayah," ucapnya memberi salam. Saat itulah bayangan gelap itu muncul di bawah cahaya bulan terang, menampakkan sosok Hiashi.

Pasir di sekeliling Gaara menjadi tenang, namun Gaara sendiri tak lantas menjadi lengah total. Ia memang tak melihat penjaga atau anggota klan Hyuuga lainnya di belakang Hiashi, dan tak pula ia lihat Hiashi memegang senjata atau semacamnya. Namun ia tahu benar bahwa klan Hyuuga memang biasa bertarung hampir tanpa senjata—dan mereka sudah mampu mencabut nyawa orang dengan mudah dengan tangan kosong.

"Ha!" Shukaku mendengus. "Mulai ragu ini jebakan atau bukan, Tuan Muda?" ejeknya.

"Aku tidak terbiasa memercayai orang lain," timpal Gaara tak acuh.

Hiashi menghampiri Gaara dengan kedua bola matanya yang berkilat seperti milik Hanabi. Sepintas Gaara berpikir tentang kemungkinan bahwa semua pupil mata klan Hyuuga memang dapat bersinar seperti itu dalam gelap.

Pasir Gaara membiarkan Hiashi mendekat, namun membuat benteng pertahanan di sekitar Gaara dan Hanabi.

Hiashi tidak mencoba untuk melewatinya, tidak pula ia berusaha untuk menyerang.

"Senang berjumpa dengan Anda lagi, Kazekage-sama," Hiashi membuka suaranya yang berat dan penuh kewibawaan dengan tenang. "Saya yakin bahwa putri saya akan baik-baik saja di tangan Anda. Bukan begitu?"

"Selama ia menurut," jawab Gaara setengah berbisik. Ia memang tak bermaksud menyakiti sanderanya itu, tentu saja—jika memang tidak perlu.

"Sesuai harapanku," ujar Hiashi. Menoleh pada Hanabi, Hiashi tersenyum, "Baik-baiklah dengan Kazekage-sama. Jangan melawannya ataupun menghalangi jalannya. Jangan pula berseteru dengan anak buahnya."

"Aku akan jadi tahanan teladan," canda Hanabi.

Hiashi mengangguk puas. Melirik pada benteng terakhir klan Hyuuga, Hiashi kembali berujar, "Sebentar lagi para penjaga shift berikutnya akan datang. Aku, tentu saja, tidak melihat apa-apa malam ini. Dan jika kalian ingin hal yang sama juga berlaku bagi para penjaga itu, sebaiknya kalian bergegas."

Meskipun masih banyak hal yang perlu diucapkan, dan ada beberapa pertanyaan yang ingin Gaara sampaikan, namun ucapan Hiashi ada benarnya. Mereka hanya punya sedikit waktu lagi.

Gaara dan Hanabi lekas meninggalkan kompleks kediaman klan Hyuuga tanpa menoleh sedikitpun lagi.

Pasir Gaara melayang di udara dalam status siaga. Waspada seandainya mereka diikuti. Namun rupanya semuanya berlangsung baik-baik saja, hingga kini mereka telah sampai di jalanan lengang Konoha.

Mereka mampir di gudang anggur tempat persembunyian Gaara sebelumnya, hanya untuk membawa kembali gentong labu raksasanya dan beberapa barang bawaannya dari sana, sebelum kemudian berlari cepat menuju gerbang Konoha.

Meskipun usia Hanabi lebih muda dari Gaara, namun kemampuannya tak dapat diremehkan. Ia dapat mengimbangi Gaara dengan baik.

Mereka terus berpacu menyusuri jalanan lengang di balik bayang-bayang hingga sampai di gerbang kecil yang menuju pedalaman hutan. Petugas yang berjaga di sana menganggukkan kepalanya pada mereka—tentu saja ia bukan penjaga yang asli. Penjaga gerbang yang asli sudah dilumpuhkan oleh orang-orang Gaara sebelumnya, dan kini digantikan oleh boneka milik Kankuro. Selanjutnya boneka yang sama pulalah yang akan membukakan gerbang Konoha bagi tentara Suna esok hari.

Hutan yang disusuri mereka terasa sunyi dan gelap. Kelembaban udara menusuk hidung. Pasir dalam gentong yang dipanggul Gaara berdesir dalam siaga. Tentara Suna telah tersebar di dalam hutan ini dan menyembunyikan hawa keberadaannya dengan baik. Adalah sesuatu hal yang cukup sulit menyembunyikan keberadaan mereka di sini tanpa ketahuan pihak Konoha; untunglah semua ini akan berakhir besok. Esok semuanya akan menyerbu masuk Konoha sesuai instruksi Gaara.

Sebuah lahan lengang menjadi tempat persembunyian utama Gaara. Dan tak sedikitpun ia mengendurkan kecepatannya hingga mencapai tempat itu. Sampai di sana, tak ada api unggun di sana, bahkan hampir tak ada cahaya setitikpun selain sinar bulan yang menerangi gelap malam. Namun dengan inderanya yang telah terlatih dengan baik, dapat Gaara rasakan keberadaan orang-orang di sana di antara bayang-bayang pepohonan rimbun.

Salah satu bayangan gelap itu muncul di antara sinar bulan, menampilkan sosok gadis berambut pirang berkuncir empat—yang tak lain adalah Temari.

"Semuanya baik-baik saja?" Temari memulai percakapan, melirik pada Hanabi di sisi Gaara yang tampak tak menunjukkan perlawanan.

"Kita dapat sandera kita," jawab Gaara. "Dia ikut atas kehendaknya sendiri."

"Senang bertemu denganmu," Hanabi mendukung ucapan Gaara dengan bersikap sopan terhadap Temari. "Aku akan berusaha semampuku untuk sedikit berguna di sini."

Gaara tidak dapat melihat ekspresi di wajah Temari dengan jelas, namun ia yakin kakak perempuannya itu menyunggingkan senyum setelah terkejut untuk beberapa saat.

"Akan sangat membantu jika Anda bersedia bekerjasama dengan diam dan tetap pada tempat kami menahan Anda," Temari memberi instruksi dengan sesopan mungkin. Tampaknya ia cukup menghargai tawaran bantuan dari Hanabi itu. "Jika kami beruntung, semua ini akan segera selesai, dan Anda bisa kembali pada keluarga Anda. Bergabunglah bersama dua penjaga di sisi lain lahan kemah, di situlah tempat Anda untuk sementara."

Hanabi tak menyahut, menghampiri semak belukar yang ditunjukkan Temari. Byakugan membantunya mendapat pengelihatan yang baik dalam rimbunnya semak dan gelapnya malam. Ia berbicara dengan nada rendah pada penjaga yang ditemuinya di sana.

Temari memperhatikan dengan saksama untuk beberapa saat, hingga ia putuskan semuanya berjalan sesuai instruksinya. Mengalihkan pandangan pada Gaara, ia kembali angkat bicara, "Aku masih belum percaya kita betul-betul akan melakukan ini semua. Yang benar saja. Perang, Gaara? Bukan tak mungkin hal ini akan memengaruhi kedamaian antara Suna dan Konoha."

Gaara tak menimpali.

"Masih belum terlambat untuk mengembalikan gadis Hyuuga itu sekarang," Temari mencoba lagi.

"Apa semua unit sudah menerima instruksiku dengan baik?"

"Kau mengalihkan pembicaraan," dengus Temari. "Kau… tekadmu sudah bulat untuk semua ini, rupanya," ia menghela napas panjang.

"Aku akan pulang ke Suna membawa Neji. Mereka tidak akan menyerahkan Neji baik-baik, jadi hanya ini satu-satunya cara," tegas Gaara. "Jadi apa semua unit sudah menerima instruksiku dengan baik?" ulangnya tak menerima bantahan apapun.

"Benar, Kazekage-sama, mereka semua sudah mendapat instruksi Anda dan bersiap di tempatnya masing-masing," Temari menyahut dengan sedikit mencibir. "Kau tahu, Gaara. Saat aku dan Kankuro mengusulkan supaya kau mencari teman kencan, hal semacam ini sama sekali tidak ada dalam bayangan kami."

Gaara mengangkat bahu tak acuh, "Pulang saja ke Suna kalau kau tidak mau terlibat lebih jauh. Tidak ada yang memaksamu tetap tinggal."

"Tak ada seorangpun yang memaksa kami untuk datang kemari," Temari menimpali dengan lebih lembut. "Kami datang dengan suka rela. Lagipula, tak akan ada artinya peperangan yang hanya dilakukan oleh satu orang saja, bukan? Dan kami tidak mungkin membiarkan Kazekage kami berjuang sendirian."

"Beristirahatlah," Gaara berseru setelah hanyut dalam hening untuk sejenak. "Besok semuanya akan dimulai."

.

X.X.X

Gaara mulai berpikir bahwa kondisi tubuhnya yang tidak butuh tidur sangat menguntungkan saat ini. Ia dapat berjaga dan awas sepanjang malam. Bagaimanapun misi ini tidak boleh gagal. Dan ia akan mempertaruhkan segalanya dalam misi ini.

Berulangkali Gaara berkeliling hutan untuk melihat keadaan unit-unit prajuritnya, juga kembali ia mengecek kondisi sanderanya. Sebetulnya hal ini sungguhlah tidak diperlukan—prajuritnya terlatih dengan kemampuan yang tak bisa dipandang sebelah mata, juga sanderanya tidur lelap di tendanya. Namun Gaara tak dapat menghentikandirinya dari ketidaktenangan yang menggerogoti dadanya.

"Santai," Shukaku membuka suaranya. "Besok kita akan bantai banyak orang. Oh, pasti akan sangat menyenangkan," dapat Gaara bayangkan sang iblis tengah menyeringai saat ini.

"Kita tidak akan membunuh siapapun. Setiap orang di sini sudah kuperingatkan dengan keras mengenai hal ini," Gaara membenarkan. "Mereka akan menyandera penduduk Konoha tanpa terkecuali—tanpa harus ada seorangpun yang kehilangan nyawanya. Dengan Hanabi dan seluruh warga Konoha di tangan kita, para tetua Hyuuga itu tak punya pilihan lain selain memenuhi tuntutan kita."

"Kau sangat imut ketika kau mengatakan hal yang bodoh," Shukaku membalas sengit. "Shinobi Konoha tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Mereka akan memberikan perlawanan."

"Orang-orangku akan mematuhi perintahku," Gaara menimpali tak kalah sengit. "Dilarang membunuh siapapun."

Shukaku menghela napas beratnya, "Yah, terserah. Jika memang tidak akan ada pertumpahan darah, kurasa aku tak akan keberatan untuk tidak berpartisipasi."

"Kau bicara apa?" Gaara menarik sudut bibirnya sedikit. "Besok akan kubiarkan kau bermain."

.

X.X.X

Rencana awal Gaara adalah melakukan penyerbuan cepat ke dalam wilayah Konoha tepat ketika fajar datang. Selain memudahkan masuknya prajurit Gaara, juga mempercepat mereka untuk sampai ke tujuan. Namun setelah dipikir ulang, bukan hanya akan mendapatkan sandera dalam jumlah yang sedikit, pagi hari ketika Konoha lengang akan memudahkan para shinobi Konoha untuk berkumpul dan mengepung anak buah Gaara. Maka diputuskanlah bahwa penyerbuan mereka akan diundur hingga matahari di atas kepala.

Risiko yang ditanggung pihak Gaara saat ini adalah hilangnya Hanabi yang pastinya sudah dicium oleh para anggota klan Hyuuga; juga surat yang Gaara tinggalkan di atas futon Hanabi. Dan bukan tak mungkin mereka sudah mengirim shinobi untuk berpencar mencarinya saat ini.

Instruksi Gaara dalam surat itu sederhana saja. Tidak boleh ada satu anggota klan Hyuuga pun yang meninggalkan kompleks kediaman klan Hyuuga, jika masih ingin melihat Hanabi bernyawa. Gaara akan datang pada mereka, jadi yang perlu mereka lakukan hanyalah duduk dan menunggu.

Gaara sedikit takjub melihat bahwa pihak oposisinya itu menuruti kata-katanya. Bukan hanya tidak ada shinobi Hyuuga yang mengejarnya, bahkan tak nampak satupun shinobi Konoha yang terlihat bersiaga dengan kedatangan mereka.

Mereka mungkin telah mengantisipasi kedatangan Gaara hari ini, tapi tentunya mereka tidak akan berpikir bahwa Gaara membawa tentara shinobi-nya bersamanya.

Gaara menghabiskan waktu istirahatnya dengan mengurung diri dalam kubah pasirnya. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Gaara membiarkan Shukaku muncul ke permukaan. Dibutuhkan beberapa persiapan dan konsentrasi, jika Gaara ingin tetap memegang kontrol atas Shukaku nanti.

Shukaku telah diberi instruksi mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya oleh Gaara, dan iblis itu telah mengerti. Tampaknya ia cukup ingin bersenang-senang walau hanya sekedar pura-pura sekalipun.

Kondisi Shukaku yang tidak tenang di dalam tubuh Gaara membuat Gaara sedikit jengkel. Iblis itu tidak sabar untuk segera bermain, dan enggan menunggu lebih lama lagi.

"Jika kau tidak bisa tenang," ancam Gaara, "aku bisa melakukan semua ini sendirian. Tanpamu."

"Yah, bisa saja. Tapi kau tidak akan melakukannya," timpal Shukaku penuh percaya diri. "Ayolah, kau tidak bisa menyalahkan kegembiraanku untuk bisa membuat kerusuhan setelah sekian lama hidup dalam kebosanan. Sangat jarang kau membiarkanku keluar dan membuat kekacauan, ini sungguh bagaikan hadiah Natal bagiku."

"Bukan berarti kau bisa bebas sekehendak hatimu," Gaara mengingatkan. "Kita tidak akan bertransformasi utuh. Aku ingin para tetua itu tahu bahwa aku tidak menjadi jinak—tidak pernah menjadi jinak."

"Lebih tepat bila kau katakan 'menjadi waras'," ejek Shukaku. "Tapi, hei, apa aku tidak boleh melakukan kerusakan sedikit saja? Mungkin melukai beberapa orang? Kau tahu, jika kau ingin orang-orang merasa segan denganmu dan iblis bengisnya, kau harus melakukan sesuatu yang 'jahat'! Paling tidak menginjak bunga-bunga atau meludahi anjing, begitu?" Shukaku merengut.

"Baiklah," Gaara sedikit tersenyum. "Kuperbolehkan kau sedikit melakukan kerusakan di sana-sini asal tidak berlebihan."

Gaara membiarkan Shukaku berpikir dan memilah antara mana yang boleh dan tidak boleh dirusak, sementara dirinya fokus dalam transformasi.

Sebelum ini Gaara belum pernah mencoba bertansformasi setengah dan membiarkan Shukaku muncul ke permukaan. Ada kemungkinan besar Shukaku malah akan mengambil alih tubuhnya, dan ia hanya punya sedikit kemungkinan untuk sanggup menahannya.

Namun dari firasatnya, Gaara merasa yakin Shukaku bersedia bekerja sama, setidaknya demi membawa Neji ke Suna. Ia rasa Shukaku akan menyangkal jika ia mengatakan hal ini padanya, tapi ia yakin bahwa Shukaku juga memiliki perasaan khusus pada Neji dan ingin pemuda Hyuuga itu ikut bersama Gaara. Yah, seandainya saja firasat Gaara ini tepat, semuanya akan jadi lebih mudah bagi Gaara. Seandainya saja.

Dari dalam kubah pasirnya, dapat Gaara tangkap suara-suara anak buahnya yang tengah melakukan persiapan. Mereka memang terlatih sebagai seorang shinobi kualitas unggul, dan mereka tahu benar bahwa ini adalah perang dan bersiap dengan segala konsekuensinya. Mereka bersiaga dan berusaha mengeluarkan suara sekecil mungkin. Namun bagaimanapun cukup sulit meredam suara dari sejumlah orang dalam hutan yang sunyi senyap ini dengan sempurna.

Gaara masih merasa terkejut mendapati orang sebanyak itu bersedia menemaninya dari Suna. Mereka semua datang. Mereka yang sedang tidak ada misi, ataupun yang tidak ada tugas berjaga di Suna. Mereka semua.

Mereka semua datang menyanggupi ajakan Gaara, yang mengatakan bahwa semua ini untuk Neji. Bahkan kini mereka telah menganggap Neji sebagai salah satu dari mereka, yang harus mereka dapatkan hari ini—tak peduli dengan risikonya. Mereka menganggap bahwa ini semua adalah misi untuk mendapatkan kembali seorang rekan yang diculik, dan hendak merebutnya dari teritorial lawan. Pesan Gaara untuk menghindari pertumpahan darah bahkan tak mengendurkan semangat juang mereka.

Gaara memang mengharapkan loyalitas mereka, namun ia tak menyangka mereka akan sebegitu antusiasnya.

"Kurasa sebagian besar dari mereka hanya ingin melihat pemuda yang telah membuat Kazekage berhati dingin dan haus darah mereka mabuk kepayang," komentar Shukaku menahan tawa. "Yah, paling tidak, Neji akan mendapat sambutan hangat ketika ia datang ke Suna. Itu juga kalau dia mau, tentunya."

"Apa maksudmu?" tanya Gaara. Tak seharusnya ia membiarkan sang iblis ekor satu itu membuyarkan konsentrasinya dari persiapan transformasi, namun ucapan Shukaku barusan cukup mengusiknya. "Kenapa Neji tidak mau? Dia bilang dia ingin ikut denganku ke Suna."

"Dia memang berkata demikian. Tapi ingat, saat itu ia tak berpikir adanya pilihan lain. Ia berpikir bahwa ia akan menikah dengan Hanabi, dan menjadi ayah dari seorang Hyuuga mungil yang jenius kelak. Bukan diculik oleh tentara Suna dan menjadi alasan peperangan antara dua wilayah. Ia mungkin malah akan tidak senang."

"Dia bilang dia menyukaiku," sahut Gaara. "Dia bilang dia akan pergi denganku jika ia bisa memilih."

"Oh, Gaara," sang iblis bertutur pelan-pelan, seolah ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil saja. "Tidakkah kau belajar juga bahwa manusia itu senang berbohong?"

"Jika memang demikian, kenapa juga Neji berbohong padaku?"

"Untuk seks," Shukaku menjawab penuh percaya diri.

Gaara mengerutkan keningnya, "Kau berkata seperti itu karena kau membenciku dan ingin aku merasa sedih, atau karena kau sungguh-sungguh berpikir bahwa Neji menipuku hanya untuk bersetubuh denganku?"

"Dua-duanya."

"Ah. Kalau begitu tutup mulutmu dan biarkan aku berkonsentrasi. Atau aku akan melakukan perang ini tanpamu," gertak Gaara. "Neji mencintaiku. Dia bilang begitu. Dan aku percaya itu."

Shukaku tak menimpali kali ini.

"Tambahan," ucap Gaara lagi. "Kau benar-benar iblis brengsek yang menyebalkan."

"Gaara," suara Temari yang penuh kehati-hatian menyeruak dari arah rimbunnya pepohonan, "semuanya sudah siap di posisi masing-masing dan siap menyerang kapan saja. Apa kau sudah selesai dengan persiapanmu? Kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan sandera kita?" timpal Gaara.

"Gadis kecil itu baik-baik saja," dapat Gaara bayangkan kakak sulungnya itu menyunggingkan senyum saat ini. "Dia sedang asyik bermain poker dengan para penjaga. Bahkan penjaga kita yang berada dalam bahaya—hampir kehilangan pakaian yang dikenakannya karena kalah berturut-turut melawan putri kecil itu."

"…mereka tahu kalau Hanabi memiliki Byakugan, bukan? Tentu saja dia bisa melihat kartu-kartu milik orang lain."

"Hmmm… Aku lupa menyebutkan hal itu pada para penjaga," Temari bergumam dalam ketertarikan. Tampaknya ia menganggap hal ini lucu.

Gaara mengerutkan keningnya, namun tak meneruskan pembicaraan. Saat ini ada banyak hal yang perlu ia pikirkan daripada masalah apakah orang-orang Hyuuga bermain curang dalam bermain kartu. "Beri aku waktu sedikit lagi. Sepuluh menit. Dan kita akan memulai semuanya."

Dapat Gaara dengar Temari beranjak pergi dari posisinya dan menghirup napas dalam-dalam. Ia sudah siap dengan semua ini.

"Baiklah, Shukaku," Gaara angkat bicara. "Saatnya memberi mereka pertunjukan yang menarik."

"Tentu saja," jawab Shukaku dalam seringai lebarnya. "Iblis bengis yang menggila dan mengamuk membabi buta akan hadir sesaat lagi."

Pasir dalam gentong labu raksasa yang dipanggul Gaara bereaksi menyambut luapan chakra dalam jumlah besar yang keluar dari tubuh Gaara ketika melakukan transformasi.

Sudah cukup lama dari terakhir kali Gaara melakukannya, namun ia masih dapat mengingat sensasinya. Butiran pasir merayap lembut bersentuhan dengan kulit Gaara. Orang mungkin berpikir transformasi yang dilakukan Gaara adalah membuat pasir-pasirnya melingkupi sekujur tubuhnya—membuat tabir pelindung yang kokoh. Namun pada kenyataannya pasir-pasir itu menyatu dengan tubuhnya. Melebur bersama kulitnya, ototnya, hingga tulangnya. Sebuah perasaan yang aneh, bahkan membuatnya merinding ketika pertama kali melakukannya. Seolah sekujur tubuhnya dihinggapi jutaan butir pasir panas yang merasuk ke dalam tubuhnya dan mengambil alih organ-oragn dalam tubuhnya.

Tangan kirinya berubah paling dulu. Ia rasa lebih mudah memulai transformasi ini dari bagian yang paling mudah dikontrol terlebih dahulu. Pergelangan tangan kirinya mengepal kuat merasakan sensasi aliran chakra kuat yang menjalar di sepanjang tangan kirinya hingga ke lengan dan bahunya.

Ekor Icihibi muncul berikutnya. Gaara harus mengakui bahwa ekor itu punya beberapa keuntungan dalam satu dan lain keuntungan baginya, dan Shukaku bangga akan hal ini. Pasir kemerahan merayap di lehernya hingga menutupi separuh wajahnya, membentuk topeng pasir yang menampakkan raut kebengisan sang Iblis ekor satu.

Yang paling tidak menyenangkan dari semuanya adalah transformasi bola matanya. Terutama dalam kasus transformasi sebagian seperti ini. Sebelah matanya tetap melihat dunia sebagaimana orang normal melihatnya, namun bola mata yang satunya—yang bertransformasi—akan memproyeksikan dunia hitam-putih yang bagaikan kepingan mozaik tanpa bentuk yang sempurna. Sungguh suatu hal yang terasa menyesatkan.

Kemudian bagian yang paling sulit adalah mempertahankan transformasi sebagian ini dalam kesadaran penuhnya. Hal ini membuat keseimbangannya hilang. Seolah separuh tubuhnya menjadi luar biasa berat dengan pasir yang menumpuk di tubuhnya.

Namun semua ini adalah harga yang pantas dibayarkan untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Maka Gaara tetap melakukannya.

Setelah sekian menit larut dalam konsentrasi tinggi, semuanya telah siap. Gaara telah sepenuhnya berhasil melakukan transformasi sebagian.

Gaara menggenggam tangannya yang kini bercakar tajam, mencoba merasakan kekuatan dahsyat yang dirasakannya mengalir liar dalam tubuhnya. Ia puas dengan hasil jerih payahnya.

Dengan sebuah desisan panjang, separuh bagian pasir yang menaungi tubuhnya dalam bentuk kubah sesaat sebelumnya itu terhempas ke tanah. Membawa masuk sinar matahari yang menyilaukan di sela rimbun pepohonan.

Para pemimpin regu dari tentara Suna bersujud tak jauh dari tempatnya berdiri kini, bersiap menerima perintah dari sang Kazekage.

"Pergilah," Gaara menggeram, dan mereka segera beranjak dari posisi masing-masing tanpa menghabiskan lebih banyak waktu lagi.

Hutan yang sebelumnya sunyi senyap itu telah riuh dalam gemuruh, sebagaimana angin yang ditimbulkan dari gerakan cepat para shinobi menggetarkan dedaunan. Gaara menangkap bayangan yang tampak seperti sekelebat warna hitam dari pergerakan para shinobi anak buahnya itu ketika mereka berlari dan melompati pepohonan, dengan ekor matanya. Sedikit dari mereka yang melewati Gaara; karena bagaimanapun ia lah pemimpin Pasukan ini dan ia pula lah yang akan memasuki medan perang lebih dulu dari yang lain.

Terdapat banyak shinobi penjaga Konoha yang tersebar di hutan dan di sekeliling benteng Konoha, namun Gaara mengabaikan mereka semua. Setiap orang yang mencoba melawan dijadikan sandera, sementara yang menyerahkan diri dibiarkan pergi. Bukan masalah Konoha sudah mengetahui kedatangan mereka, toh bagaimanapun bukan hal mudah mengumpulkan pasukan shinobi mereka dalam waktu singkat untuk membentuk benteng pertahanan sekarang.

Boneka milik Kankuro membungkukkan badannya ketika Gaara dan beberapa pasukannya tiba di gerbang masuk Konoha, menyingkir dan mempersilahkan Gaara untuk lewat. Gaara terhenti sejenak dan menajamkan pendengarannya, menunggu hingga seluruh sisa pasukannya menyusulnya. Ketika para pasukan itu telah berkumpul semuanya, mereka berhenti di belakang Gaara dalam heningnya. Menunggu perintah Gaara.

Jika Gaara ingin mundur, sekarang adalah kesempatan terakhirnya. Ia dapat mengakhiri semua ini, mengembalikan para tahanan, dan kembali ke Suna—kembali membawa kedamaian pada dua desa; Konoha dan Suna.

Tapi bagaimanapun… Neji sedang berada di balik tembok dingin kediaman klan Hyuuga dan menunggunya. Jadi ini bukanlah pilihan sebelah pihak semata.

Gaara memantapkan hatinya dan mengepalkan tangannya erat, sebelum mulai mengambil langkah cepat dan berlari memasuki wilayah Konoha. Tepat di belakangnya, pasukannya dengan cepat dan tangkas mengikuti dan menyusuri jalanan Konoha dengan tak ada niat menyembunyikan hawa keberadaan mereka sama sekali.

Keheningan Konoha berubah menjadi gegap gempita dari sorak sorai pasukan shinobi yang berteriak mengumandangkan perang.

Sahutan gemuruh itu datang dari Konoha. Konoha telah berhasil mengumpulkan shinobi-shinobi mereka dalam menyambut serbuan pasukan Gaara. Beberapa dari pasukan Konoha dapat Gaara kenali sebagai Jounin yang pernah dilihatnya pada kunjungan terakhirnya ke Konoha. Namun tak nampak di antara mereka Jounin yang dirasa sanggup mengancam kekuatan pasukan terlatih miliknya. Terbersit pikiran bahwa kemungkinan para shinobi yang lebih kuat ditempatkan di bagian lebih dalam desa, berjaga-jaga seandainya pasukan Gaara dapat menerobos pertahanan pertama.

Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Konoha betul-betul sudah mengantisipasi serangan Gaara. Namun dengan datangnya Gaara bersama para pasukan elit pilihan yang dimiliki Suna, terbukti dapat menggoyahkan pertahanan Konoha kapan saja jika mereka lengah.

Gaara memperhatikan medan perang untuk sejenak, melayangkan pandangannya pada pertempuran antara shinobi Suna dan Konoha yang tengah berlangsung. Sedikit banyak ia merasa bangga pada pasukannya, karena sebagaimanapun mereka mengerahkan kemampuan terbaik mereka untuk melawan pasukan Konoha, anak buah Gaara tak perlu sampai membunuh satupun shinobi Konoha.

Gaya bertarung yang tidak menunjukkan rasa permusuhan berarti dan hawa membunuh ini sedikit banyak membuat pasukan Konoha heran. Dan dalam kebingungan mereka itu, satu per satu shinobi Konoha dijadikan tahanan.

Para tahanan diperintahkan untuk membuang senjata mereka masing-masing dan meletakkan kedua tangan mereka di atas kepala. Dikawal beberapa shinobi Suna, para tahanan dikirim ke belakang barisan pasukan Gaara hingga ke hutan tempat para tahanan Konoha lainnya berada.

Gaara berlari secepat kilat, dan tak butuh banyak waktu bagi anak buahnya untuk menyusulnya sesaat kemudian. Para shinobi Konoha hanya mampu menatap wujud setengah transformasinya tanpa sanggup membawa kaki mereka mendekati sang Jinchuuriki berambut merah darah itu sedikitpun. Beberapa dari mereka bahkan memberi jalan bagi Gaara—mungkin secara tak sadar dan hanya dibawa insting ketika Gaara menatap mereka dengan dingin. Shukaku tertawa puas dalam euforianya menikmati kilatan rasa takut dari bola mata para shinobi itu.

"Gaara!"

Kunai terbang mendarat cepat tepat di bawah kaki Gaara—meleset hanya sekitar sepuluh inci dari kaki kanannya. Gaara yakin yang barusan itu memang disengaja supaya meleset. Serangan kunai itu lebih seperti bermaksud untuk menarik perhatiannya daripada melukainya. Jika tidak begitu, pastilah pasirnya—yang ahli dalam mendeteksi serangan berbau permusuhan—sudah melindunginya dan membuat benteng pasir di sekelilingnya sebelum kunai itu sampai padanya.

Tampak Naruto melompat menyusuri atap-atap bangunan Konoha untuk mengejarnya, diikuti oleh Shikamaru tak jauh di belakangnya. Amarah bercampur kebingungan tampak jelas dalam raut wajahnya.

"Apa yang kau lakukan?" Naruto berseru ketika berhasil menyusul Gaara, menapakkan kakinya dengan gusar di atap genting, berhadapan dengan Gaara. "Apa-apaan 'Invasi Tiba-tiba Tanpa Alasan' ini!"

"Minggir dari situ," Gaara memerintah dengan kasar. "Ini bukan urusanmu."

Naruto memang… temannya, kurang-lebih. Bagi Gaara si rambut pirang itu cukup dapat ditolerir.

Namun tampaknya Naruto tak sudi mundur begitu saja. Dan Gaara memang sudah menduganya.

"Kau membawa pasukan Suna kemari dan menyerang Konoha. Apanya yang bukan urusanku!" teriak Naruto masih dalam nada putus asanya. Sepertinya ia benar-benar tak menyangka seseorang yang sudah dianggapnya sebagai kawan karibnya sendiri datang dan berniat menghancurkan desanya.

"Kami akan segera menarik diri," kali ini Gaara menyahut dengan lebih tenang, mungkin menyadari tatapan Naruto yang penuh emosi keputusasaan karena harus menghadapi temannya sendiri. "Segera setelah klan Hyuuga memberikan apa yang kumau."

Shikamaru mengerjapkan matanya. "Hyuuga? Apa ini ada hubungannya dengan Neji?"

"Mereka tidak memperbolehkanku mendapatkannya," Gaara menggeram. "Neji bilang dia menyukaiku, tapi mereka tidak mengizinkannya pergi bersamaku. Jadi aku datang untuk mengambilnya dengan tanganku sendiri. Siapapun yang menghalangi jalanku akan dijadikan tahanan, dengan begitu mau tak mau para tetua klan Hyuuga itu harus menyerahkan Neji padaku."

"Jadi…" dahi Naruto terlipat. Sel-sel kelabu dalam kepalanya masih mencerna semua informasi ini. "Kau memulai… perang ini, untuk mendapatkan… Neji? Demi Neji?"

"Benar," Gaara menegaskan. "Supaya aku dapat membawanya bersamaku. Jika ia bersedia."

Naruto dan Shikamaru saling pandang. Setelah beberapa detik larut dalam pikiran masing-masing, keduanya sampai pada pemahaman dan kesepakatan yang sama. Keduanya mengangkat tangan mereka di udara dan berkata dengan seulas senyum, "Oke. Kami menyerah."

"Ini dia 'perang' yang kusuka," celetuk Shikamaru pada Naruto ketika mereka berjalan bersisian melewati para pasukan Suna yang memberi jalan menuju bagian paling belakang pasukan. "Setelah mereka menawan kita, kurasa aku akan tidur sebentar."

"Kurasa kau bakal melakukan hal yang sama sekalipun ini perang sungguhan," timpal Naruto dengan nada canda. "Kau pergi duluan. Aku akan menyusul nanti."

Naruto melambaikan tangannya pada beberapa kawannya yang tengah terlibat pertarungan dengan shinobi Suna. "Hei, Sakura! Aku dan Shikamaru akan berpesta di perkemahan Suna. Kau mau ikut? Ajak teman yang lain!"

"Naruto?" Sakura terkejut. "Apa yang terjadi? Ada maksudmu?"

"Dengar, singkat kata, klan Hyuuga tidak membiarkan Neji pergi bersama Gaara—padahal ia ingin. Maka Gaara datang membawa beberapa temannya kemari untuk menjemput Neji. Aku dan Shikamaru berniat memberinya dukungan kami melalui penyerahan diri secara sukarela. Mau ikut?"

Sakura mengerjapkan matanya dalam ketidakpercayaan. Namun ia tahu benar sifat sahabatnya yang satu itu, tentulah Naruto tak akan membual dalam kondisi seperti ini padanya. Tertawa kecil, ia berseru, "Oh! Ya, ampun. Begitu rupanya. Aku memang tidak percaya Gaara kehilangan kendali dan menyerang Konoha dengan tidak waras tanpa alasan. Jadi itu alasannya…Benar-benar romantis, walau sedikit 'menakutkan'," ia tersenyum simpul. "Baiklah. Aku akan mencari Ino dan mengajaknya juga. Kurasa aku melihatnya di sekitar sini, tadi."

"Ajak yang lain juga!" Naruto berteriak pada punggung Sakura yang semakin menjauh. Tampaknya gadis berparas cantik berambut merah muda itu bersemangat sekali turut serta dalam 'dukungan a la Naruto' ini.

Dari situ, kabar menyebar secepat hembusan angin. Dari mulut ke mulut pesan disampaikan, membuat pasukan Konoha tak percaya pada awalnya, namun menjadi yakin setelah mengingat bahwa cara pasukan Suna melawan mereka tidak tampak sungguh-sungguh sama sekali.

Semakin dalam Gaara menyusuri Konoha, semakin dilihatnya pasukan dari kedua belah pihak menghentikan pertarungan mereka. Pasukan Suna bergegas mengikuti sang pimpinan tanpa hambatan lagi, dan dalam perjalanannya mereka berpapasan dengan pasukan Konoha yang berjalan menuju tempat tahanan lainnya berkumpul.

Gaara mengenali beberapa dari mereka ketika ia melintas cepat. Lee berbicara dengan penuh semangat pada Hinata dan Tenten, melambaikan tangannya pada Gaara ketika pandangan mereka bertemu. Guru Naruto, Kakashi, meluncur melewati kerumunan tahanan lainnya dengan mulus, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari buku bersampul hijau yang terbuka di tangannya. Tampaknya para shinobi terbaik Konoha lebih memilih untuk menghindari pertempuran dan menyerahkan diri mereka, digiring oleh shinobi Suna. Sementara sebagian sisanya yang lain yang tak mau ikut bergabung dengan para tahanan di hutan, dengan senang hati memilih untuk undur diri dan pulang ke rumah masing-masing.

"Seluruh desa bisa jadi milik kita," Shukaku angkat bicara ketika Gaara mulai memasuki jalan utama menuju kediaman klan Hyuuga. "Jangan katakan kalau kau tidak mau mengambil keuntungan dari hal ini. Kita dapat memanfaatkan situasi brilian ini."

"Kita kemari bukan untuk itu," tandas Gaara. "Kita kemari untuk—"

Kompleks kediaman klan Hyuuga semakin nampak di kejauhan. Dan dari jarak ini dapat Gaara lihat seluruh anggota klan Hyuuga telah bersiap di depan gerbang kediaman mereka. Ada puluhan shinobi Hyuuga yang tampak, kesemuanya menatap pasukan Gaara yang semakin mendekat dengan pupil mata mereka yang menyorot kaku tanpa bisa ditebak.

Hiashi berdiri di tengah-tengah, bersama para tetua Hyuuga di sisi-sisinya. Sementara air muka para tetua menampakkan keangkuhan dan murka yang dipendam, raut muka Hiashi hanya menampakkan ekspresi datar.

Namun Gaara dapat menangkap sekilas senyum—hanya sekilas mata—dari sudut bibir Hiashi.

Pasukan Suna melambatkan lari mereka ketika mereka hampir tiba di depan kompleks klan Hyuuga, ketika Gaara melakukannya.

Walaupun tak satupun anggota klan Hyuuga tampak bersenjata, namun pasukan Gaara tak mengendurkan kesiagaan mereka. Tak ada pergerakan apapun dari klan Hyuuga ketika pasukan Gaara semakin mendekat. Pasir tebal yang membungkus tangan kanan Gaara menderu dan melayang di udara menjadi pusaran kecil. Menjadi satu-satunya pemecah keheningan di sana.

"Kau telah menyandera putriku, sekaligus penerus klan Hyuuga," Hiashi membuka suaranya memecah hening bersama deru pasir. "Kau telah menyandera sebagian besar penduduk Konoha. Kau membawa pasukanmu ke depan pintu kami. Apa yang kau inginkan, wahai Kazekage?"

"Kalian tahu yang kumau," ucapan Gaara lebih mirip seperti geraman biantang buas, namun masih cukup koheren untuk dimengerti semua pendengarnya. "Satu-satunya hal yang kuinginkan. Jika kalian menyerahkannya padaku, tanpa cacat, dan bersumpah atas nama leluhur klan Hyuuga bahwa kalian tidak akan pernah mengusiknya lagi seujung jaripun—dengan memanfaatkan kutukan di tubuhnya, maka aku berjanji akan mengembalikan putrimu, pewaris sah klan Hyuuga, dengan selamat. Juga para tahanan yang lainnya. Aku dan pasukanku akan menarik diri dan kembali ke Suna; dan kita bisa terus menjaga hubungan baik antara Suna dan Konoha."

"Sangat disayangkan kita sampai pada kekacauan ini karena masalah ini," Hiashi kembali berujar dengan tenang dan berkomposur. "Tapi klan Hyuuga telah bersepakat untuk memenuhi tuntutan Anda. Hyuuga Neji akan ditukar dengan Hyuuga Hanabi, bersama dengan sandera Konoha yang lainnya."

Kerumunan anggota klan Hyuuga tiba-tiba menyingkir, memunculkan sosok Neji yang berjalan melewati pintu gerbang klan Hyuuga. Neji telah siap dalam pakaian bepergiannya, dan sebuah tas untuk bepergian terselempang di bahu kanannya. Ia menghentikan langkahnya di samping pamannya, dan menatap pasukan Suna yang siap menjemputnya.

Tak nampak rasa senang maupun tak senang di wajah Neji ketika pupil mata peraknya bertemu dengan zamrud milik Gaara.

Neji tak mengucapkan sepatah katapun, dan Gaara mulai merasa cemas mengenai hal ini. Mungkin memulai perang demi hal ini bukanlah ide yang bagus, meskipun tak ada yang terluka. Mungkin ucapan Shukaku memang benar, dan Neji tak mau ikut dengan Gaara.

"Oh, ayolah," Shukaku mendecak. "Kau tak pernah percaya pada apapun kata-kataku. Masa sekarang tiba-tiba jadi percaya?"

Gaara mengembangkan kedua tangannya, memberi isyarat dengan gestur tubuhnya supaya Neji datang padanya. Neji sama sekali tak bergerak dari tempatnya berdiri, dengan ekspresi yang masih sama sebelumnya—datar. Gaara semakin merasakan kecemasan merasuki dirinya.

Lalu tiba-tiba saja seulas senyum samar terpoles di wajah Neji, dan ia melangkahkan kakinya menghampiri Gaara dengan senyum di bibirnya dan datang ke pelukan Gaara.

Untuk beberapa saat ia biarkan Gaara memeluknya erat, sebelum kemudian balas memeluknya. Pasir milik Gaara yang sesaat seblumnya masih mengapung di udara, mendekati Neji dan merayap di kulit Neji, seolah mengekspresikan kerinduannya dengan caranya sendiri. Diikuti dengan pasir-pasir lainnya yang melekat di tubuh Gaara, mulai luluh dan mengitari tubuh Neji sebelum kemudian masuk teratur ke dalam gentong labu raksasa yang dipanggul Gaara.

"Aku tahu kau akan kembali," Neji berbisik pelan. Sangat pelan hingga hanya Gaara yang dapat mendengarnya. "Aku hanya tidak menyangka akan seperti ini. Yang benar saja, Gaara. Perang?"

"Apa kau marah?" Gaara menyuarakan rasa penasaran yang sejak tadi bergumul di dadanya.

"Lebih pada terkejut bukan main," timpal Neji, membawa kelegaan pada dada Gaara yang terasa terhimpit kecemasan sebelumnya.

Neji mengambil jarak dari Gaara, mundur selangkah dan melepaskan ikatan hitai-ate di kepanya, sebelum kemudian meletakkannya di tanah dengan hati-hati. Gaara menyerahkan hitai-ate berlambang Suna pada Neji, yang lalu memakainya dengan senang hati. Sesaat sebelum mengenakan hitai-ate Suna barusan Neji sempat membalikkan tubuhnya pada para anggota klan Hyuuga di belakangnya, membiarkan mereka melihat tato kanji Ai yang dibubuhi Gaara padanya—yang menyamarkan keberadaan simbol kutukan klan Hyuuga di keningnya.

Sebagian besar anggota klan Hyuuga tak mengubah ekspresi penuh kewaspadaan mereka—bagaimanapun di hadapan mereka kini ada pasukan elit Suna, dan itu bukan situasi yang menyenangkan, sementara sebagian lainnya balas menatap Neji dengan luapan amarah yang ditekan di balik pupil perak mereka.

Juga rasa malu mereka, tebak Neji. Klan Hyuuga tentulah merasakan penghinaan besar karena kejadian ini telah mencoreng harga diri mereka. Bukan hanya karena Gaara telah menculik pewaris klan Hyuuga yang seharusnya berada dalam penjagaan ketat mereka, bukan pula karena pasukan Gaara telah menginvasi hampir seluruh bagian Konoha. Namun yang paling membuat mereka malu adalah bagaimana para shinobi Konoha malah mendukung Gaara dan pasukannya, daripada sebuah klan dari Konoha sendiri.

Gaara sendiri bukan tak memperhitungkan hal ini, dan ia yakin bahwa sekalipun klan Hyuuga tidak akan melakukan tindakan yang mengonfrontasi pihak Gaara, sudahlah tentu mereka akan melepaskan Neji. Melepaskan dalam artian tidak akan menganggap Neji sebagai bagian dari klan mereka lagi.

Neji mungkin tidak akan keberatan, namun Gaara tak menginginkan hal itu terjadi. Bagaimanapun ia tetap ingin Neji bangga pada tanah kelahirannya dan orang sesukunya.

Jadi yang perlu ia lakukan sekarang adalah membalikkan meja, dan membuat semuanya jadi lebih terkendali tanpa menimbulkan lebih banyak rasa sakit hati pada klan Hyuuga.

"Tunjukkan niat baikmu dengan sanjungan terlebih dahulu," saran Shukaku dengan tiba-tiba. "Yang begitu itu selalu berhasil."

"Tak pernah kusangka dalam hidupku seorang iblis bermulut paling kasar di muka bumi sepertimu akan memberi saran macam itu. Kupikir kau cuma tahu bagaimana mencela orang," timpal Gaara datar. "Bagaimana bisa kau yakin bahwa idemu itu akan berhasil?"

"Yah, bukan berarti aku tidak pandai dalam urusan macam ini. Kau cuma tak tahu saja. Aku memang tak pernah melihat alasan mengapa juga aku harus menyanjungmu," Shukaku mendecak tak acuh. "Tapi kurasa aku tak keberatan melakukannya untuk Neji, jika hal ini bisa menjamin hal yang baik kelak."

"Sebagai ucapan terima kasihku atas kerjasama klan Hyuuga yang terhormat dan terpandang dalam memenuhi permintaanku ini," Gaara memulai dengan penuh kesopanan, "kembali kuajukan tawaran aliansi antara Suna dengan klan Hyuuga. Klan Hyuuga terkenal sebagai kumpulan para petarung yang tangguh dan pandai, begitu pula aku melihat dan mengaguminya. Aku mengajukan tawaran supaya cabang ketiga klan Hyuuga ditempatkan di Suna, dengan Neji sebagai kepala pimpinannnya. Kemudian jika para tetua yang terhormat juga mengizinkan, aku sendiri akan mengambil nama marga Hyuuga untuk diriku sendiri."

Samar Gaara dapat melihat raut muka penuh keterkejutan pada wajah Neji ketika ia mengucapkan hal barusan. Namun ia tetap fokus menatap para anggota klan Hyuuga dan menunggu jawaban mereka dengan tenang.

Hiashi tersenyum tipis, seolah ia sudah meramalkan hal ini dari jauh-jauh hari sebelumnya. Sebagian besar anggota klan Hyuuga berdiskusi dengan berbisik-bisik dan air muka mereka tak sedikitpun menanggalkan rasa terkejut mereka. Setelah beberapa saat tampak beberapa dari mereka mengangguk-anggukkan kepalanya dan bicara lebih tenang.

Hiashi melirik pada para tetua, dan tak satupun dari mereka mengajukan keberatan. Menganggapnya sebagai tanda persetujuan, Hiashi menganggukkan kepalanya mantap dan menatap Gaara dengan lekat, sebelum membuka suaranya yang penuh ketegasan dan berujar lantang, "Tawaran Anda kami terima. Suatu kehormatan bagi kami untuk menyambut Anda dalam keluarga besar kami, Hyuuga Gaara."

.

X.X.X

Para 'tahanan' segera dikembalikan sesaat setelah semuanya selesai dan sampai pada titik kesepakatan antara pihak Gaara dan klan Hyuuga. Hanabi dipulangkan kembali ke rumahnya dengan penuh rasa hormat, dan raut mukanya tampak sangat puas sekali—dengan kemenangan besarnya main poker melawan shinobi Suna.

Sebagian dari para mantan tahanan itu berkumpul di sekeliling Gaara dan Neji, bertanya ini-itu, mengucapkan selamat, dan mendesak mengenai kapan sekiranya hari pernikahan mereka akan dilangsungkan—juga mengingatkan Gaara supaya mereka diundang.

"Ya ampun, kau dan Gaara," Naruto menepuk pundak Neji, disambut oleh kerutan di dahi sang Hyuuga muda. "Kalau ini adalah beberapa bulan yang lalu, aku tak mungkin percaya. Aku selalu berpendapat bahwa kalian berdua adalah golongan orang-orang yang mati sendirian—tanpa pendamping hidup. Kau tahu?"

"Perhatian sekali," timpal Neji dengan nada sarkasme.

Naruto tertawa. "Aku tidak bermaksud buruk, lho. Cuma sekedar pikiran lama saja."

"Aku masih tak percaya kau akan pindah ke Suna," Tenten menghampiri mereka. "Maksudku… aku tahu ini akan terjadi, dan aku sangat mendukungmu untuk hal ini. Tapi kurasa aku akan sangat merindukanmu. Tim kita tak akan pernah sama tanpa adanya kau," ia tersenyum pada Gaara. "Aku sangat bergembira untukmu dan Neji. Aku bersyukur kau tidak memenuhi saranku sebelumnya sama sekali. Maafkan ucapanku sebelumnya, tapi kau tahu sendiri bahwa aku tak bermaksud demikian. Aku hanya ingin kalian tidak terluka, itu saja. Dan… kuingatkan. Jika kau menyakiti Neji sedikit saja, aku tak akan mengampunimu."

"Ha! Aku mau lihat kau mencoba, Nona kecil," Shukaku menyahut tajam.

Gaara tak mengacuhkan sang iblis ekor satu, dan menganggukkan kepalanya pada Tenten. Detik berikutnya ia dan Neji berjalan melewati kerumunan orang-orang tanpa terburu. Neji melambaikan tangannya ringan pada orang-orang yang dikenalnya sepanjang perjalanan mereka, sementara Gaara lebih banyak diam dan memperhatikan.

Banyak orang datang padanya dan memberi ucapan selamat, yang lama-lama membuatnya jenuh juga, walau ia tetap sesopan mungkin berusaha menerima ucapan selamat mereka dengan anggukan pelan dan ucapan terima kasih singkat.

Bagaimanapun, perang telah usai dan ia telah keluar sebagai pemenangnya. Neji telah jadi miliknya, dan ada di tangannya. Kini yang ia butuhkan adalah waktu dan tempat yang hanya ada Neji saja di sisinya. Ia butuh privasi.

Setelah dua puluh menit dihabiskan Neji menangani Lee dan Gai yang melepas kepergiannya dengan tangis haru dan mata berkaca-kaca, Gaara putuskan sekarang saatnya untuk pergi.

Mereka berhenti sejenak ketika melewati kompleks kediaman klan Hyuuga lagi, dimana Temari dan Kankuro tengah mengurus segala formalitas mengenai aliansi antara Suna dan klan Hyuuga yang Gaara ajukan. Gaara menolak permintaan Temari untuk turut andil dalam fromalitas ini, dan menyerahkan sepenuhnya urusan berkas-berkas dan lainnya pada kedua saudaranya itu. Ia juga berpesan pada Temari untuk membawa pulang seluruh shinobi Suna setelah urusannya dengan klan Hyuuga selesai. Sementara ia sendiri akan menyusul kemudian bersama Neji.

Gaara dan Neji melewati kerumunan orang dengan gesit, berlari dengan lincah menuju gerbang belakang Konoha melalui jalan-jalan yang tidak ramai. Mereka melewati lahan latihan para shinobi, dan tampak di sana banyak shinobi yang tengah berpesta dalam tawa dan canda dengan kejadian menarik yang baru saja terjadi.

Gaara dan Neji baru dapat menarik napas lega, ketika mereka telah sampai di depan pintu masuk menuju Hutan Kematian.

Pasir dalam gentong labu Gaara bergemuruh dalam suka cita, sebelum melayang di udara dan berdesir riang melingkupi tubuh keduanya ketika Gaara dan Neji menjatuhkan tubuh mereka di atas sebuah dahan pohon raksasa. Neji mengusap pasir yang berada dalam jangkauan tangannya dengan lembut, seolah sedang mengusap kucing peliharaan yang manis, dan pasir-pasir itu berdesir riang.

"Jadi… Hyuuga Gaara," Neji mencoba memanggil nama Gaara sekarang. "Kurasa aku cukup menyukainya."

"Aku tidak bermaksud bertingkah angkuh dengan meminta hal itu," terang Gaara.

Sebagian kecil dari dirinya—yang sudah terbiasa mengecap kekecewaan pada dunia—merasa bahwa semua ini terlalu manis untuk selesai semudah ini. Ia bahkan berpikir mungkin Neji akan marah padanya; tentang perang itu, tentang kenyataan bahwa ia menjadikan Neji sebagai 'barang' pertukaran dengan Hanabi, tentang menjadikan Neji terikat dalam kontrak menjadi milik Gaara sebagai ketentuan utama aliansi Suna-klan Hyuuga.

Gaara paham benar dalam hatinya bahwa ia tak akan sanggup menerima kebencian Neji padanya. Jika Neji benar-benar membencinya, Gaara tak tahu lagi harus berbuat apa.

"Kau berpikir terlalu banyak," ucap Neji, seolah dapat membaca pikiran Gaara. "Ini semua sudah terjadi. Menyesal sekarangpun tak ada artinya."

"Sudah terlambat bagiku? Atau bagimu?"

"Aku tidak akan menyesal. Aku juga tak perlu berpikir dua kali untuk mengambil keputusan," tegas Neji. "Bulan lalu kau bertanya padaku, seandainya ada pilihan bagiku untuk pergi bersamamu ke Suna, kujawab bahwa aku akan dengan senang hati memilih hal itu. Dan itu bukanlah suatu kebohongan. Bersamamu adalah pilihan yang kuambil dan kuputuskan sendiri, bukan karena terpaksa sama sekali," Neji menyandarkan tubuhnya di hamparan pasir milik Gaara. "Kau tidak harus meyakini hal ini saat ini juga. Aku akan ikut denganmu ke Suna, dan seiring berjalannya waktu akan kutunjukkan bahwa ucapanku adalah benar. Aku bisa bersabar."

Gaara merendahkan tubuhnya dan ikut berbaring di samping Neji. Melepaskan ikatan rambut Neji dan merasakan helaian lembut rambut panjang Neji yang cokelat gelap. Neji tersenyum, menjulurkan jemarinya pada lengan Gaara dengan sedikit aliran chakra di ujungnya, dan mengelus kulit Gaara perlahan.

Memori Gaara kembali pada saat terakhir kali ia dan Neji berada di hutan ini, juga mengenai cara istimewa Neji membuatnya rileks dengan chakra-nya.

Kekhawatiran dan kegelisahan ada waktunya tersendiri. Saat ini yang perlu ia pikirkan hanyalah momen kebersamaannya dengan Neji di tempat kenangan mereka ini. Gaara telah memenangkan pertarungan, dan ia mendapatkan hadiahnya. Maka ia bermaksud menikmatinya.

"Aku percaya padamu," ucap Gaara, mengecup lembut bibir Neji yang merah muda dan tipis. "Aku menyukaimu. Aku hanya… tidak pernah memercayai siapapun—apapun. Semua ini adalah hal baru bagiku. Aku hanya belum terbiasa…"

"Kita akan berusaha mengubah pandanganmu itu," Neji tersenyum dalam janji yang diucapkannya. Dan Gaara tahu bahwa Neji pasti akan menepati janjinya.

"Itu nanti," ujar Gaara. "Sekarang… aku hanya ingin kau… membuatku merasa hidup. Seperti tempo hari. Kau mau?"

"Aku akan membuatmu merasa hidup," Neji menjawab tanpa ragu, "jika kau juga membuatku merasa hidup."

Shukaku menarik diri ke sudut terjauh di pikiran Gaara, berusaha tidak membuat perhatian kedua anak muda itu teralih padanya. Akan jadi perjalanan panjang menuju Suna, namun menilik dari betapa intimnya kedua anak manusia itu, ia rasa perjalanan ke Suna kali ini akan sangat menarik. Untuk saat-saat seperti ini ia bersyukur menjadi seekor iblis.

Walaupun tidak bisa mencabut nyawa siapapun.

.

.

.

x.X.x OWARI x.X.x


End Note:

Terima kasih untuk para pembaca "Sand in Your Shorts" yang masih tetep setia menemani saya sampai chapter terakhir ini. Juga buat Uchiha Nata-chan & Aoi Lawlight yang sudah membantu membeta semua typo-error yang lolos dari mata (lelah) saya dalam fic ini. Saya sangat terbantu! *hugs*
Kemudian buat yang ga bosen2 meneror saya buat apdet (dimanapun dan kapanpun) juga trims banget. YA. Saya butuh dorongan lebih supaya mau bangkit dari tempat tidur dan duduk berjam-jam di depan komputer untuk mengetik. *nyengir*

Lalu buat para reviewer, yang kadang ga sempet saya reply, maap banget... ^^;;
Setiap habis beres nyadur satu chapter fic ini, energi dan konsentrasi saya terkuras nyaris habis. Cuman masih fokus buat nyalain modem, buka Mozilla, dan publish. Lekas matiin komputer dan tidur.. orz

And also thanks a lot to the awesome Kat (Goddess33) who let me translate this story on my own style and gave me so much freedom to do this. I enjoyed translating this awesome fic, though it really took me some time to finally finish it. Blame me and my laziness. v.v

Ok gals, trims lagi dan sampai jumpa lagi! ^^

.

.

REMINDER:

Sudahkah kalian berpartisipasi dalam IFA (Indonesian Fanfiction Awards) 2010? :)