Author : Ohonhonhonhon~ chapter ini siap-siap tisuuu~

Natalya : Author, kau lihat brat?

Author : nggak tuh!

Natalya : brat! Ayo menikah *kabur*

Author : dasar aneh

Disclaimer : Hetalia – Hidekaz Himaruya

Warning : OOC,OC,abal,AU, lime-ish, hidung mimisan(?), typo(s) dll…


Setelah mereka berlari (lebih tepatnya melompat-lompat dari gedung), mereka berhenti di sebuah gedung yang cukup tinggi. Ludwig duduk dan memperhatikan keadaan sekelilingnya yang diikuti Ayu. Merek terdiam, apalagi keadaan sekitar yang tidak menguntungkan.

"Ludwig berhenti!"pinta Ayu saat ia melihat dua orang di gedung yang saat ini mereka pijak.

Ayu turun dari punggungnya dan langsung melihat ke arah dua orang berbeda gender yang ada di bawah gedung yang mereka pijak. Ludwig kemudian memandang Ayu.

" Apa itu kakek buyutmu?"tunjuk Ayu yang sekarang orang itu terlihat sedang mencari sesuatu.

Ludwig melihat ke arah yang ditunjuk Ayu dan iapun mengangguk. Orang yang terlihat masih muda itu kemudian berlari ke seorang gadis yang umurnya sebaya. Saat bertemu, mereka memeluk dengan erat. Namun hal itu hanya terjadi sebentar saja, karena ada seorang yang mengarahkan sebuah pistol ke gadis tersebut. Mereka mulai mengobrol yang sayangnya memakai bahasa Jerman.

Ayu hanya terdiam (lebih tepatnya pelongo) mendengar percakapan itu, namun Ludwig menunjukkan wajah tak percaya. Laki-laki yang ada di dekat gadis itu juga mengarahkan pistol ke arah oang yang tak diundang tersebut. Saat keadaan mulai memanas, jam saku yang ada dikantung Ayu mulai bersinar dan membuat yang ada dihadapan mereka tak terlihat.

"tidak! TIDAK! Jangan tarik kami dulu! Aku ingin tahu apa yang terjadi pada kake buyutku dulu! Kumohon!"kata Ludwig

Dan mereka merasa terjatuh kembali. Mereka berhenti terjatuh dan anehnya mereka justru tertidur. Beberapa menit kemudian mereka membuka mata yang disadari mereka ternyata ada di halaman sekolah dan mata Ludwig sudah kembali normal. Mungkin terdengar normal, namun yang membuat mereka terkejut ialah hari sudah malam.

"Sudah malam?" kata Ludwig

"hari ini hari apa?"tanya Ayu

"umm... Rabu?"

Ayu memproses perkataan Ludwig, selanjutnya ia menjerit.

"NGGAK ADA KEGIATAN CLUB! ITU BERARTI PINTU MASUK ASRAMA DIKUNCIIII!"

Ludwig menutu telinganya untuk menyelamatkan indera pendengarannya itu. Setelah Ayu berangsur tenang, Ludwig menghela nafas lega.

"kalau begini... berarti kita harus menumpang di kamar mandi kepala sekolah"kata Ludwig

"KEPALA SEKOLAH? ! please jangan dia! Dia itu kepala sekolah termesum di dunia"lebay Ayu sekarang muncul

Ludwig sweatdrop mendengar kata-kata Ayu.

"ya sudah... aku ingin mandi di kamar mandi kepala sekolah... daripada bau tidak mandi"

Ludwg meninggalkan Ayu yang masih histeris sendirian. Setelah Ayu ditinggal, ia baru sadar sendirian di halaman sekolah dan bertambah paniklah dia.

"Jadi tadi Ludwig meninggalkanku! Kalau begitu... naik lewat jendela dan masuk selesai!"kata Ayu

Ayu langsung saja melesat ke asrama puteri dan mencari letak kamarnya sendiri. Ia hanya bisa facepalm dan sweatdrop saat mengingat bahwa asramanya ada di lantai tiga. Namun mukanya penuh dengan keyakinan.

"Seorang Ayu yang made in Indonesia tidak akan mengalah!"kepalan tangannya benar-benar kuat

Entah nekata atau apa, Ayu mulai memanjat dari pohon yang untungnya dekat dengan ruangan miliknya. Dengan lihainya ia memanjat lewat pohon karena memang kebiasaannya di Indonesia mencuri pohon jambu air milik tetangganya. Sangat tidak beruntung, bajunya ada yang tersangkut ditambah tidak sengaja ia menginjak dahan rapuh. Iapun terjatuh dan tangannya beradu dengan ranting yang cukup tajam.

Darah mengalir dari lengan kanannya, tanpa pikir panjang iapun berlari ke ruangan kepala sekolah untuk mencari peralatan P3K serta mengobati lukanya. Ia tidak tahu kalau sebenarnya Ludwig sedang mandi di kamar mandi kepal sekolah. Setelah beberapa menit berlari, sampailah ia di ruangan kepala sekolah.

Saat membuka pintu ruangan tersebut, kebetulan Ludwig yang sedang setengah telanjang hanya memakai celana seragamnya muncul dari kamar mandi. Ayu awalnya terpana, namun langsung diganti dengan kepanikan.

"Aku berdarah! Dasar bodooh! Apa yang harus kulakukan"pikir Ayu

Ayu sudah mundur, namun Ludwig dengan kecepatan cahaya muncul di belakangnya dan menutup pintu masuk. Matanya berubah menjadi merah lagi dan Ayu langsung menahan nafasnya.

"aku akan mati... tidak! Kalau aku beruntung dia langsung menggigitku hingga mati... Tapi... Tapi... waktu itu..."muka Ayu sekarang pucat.

Ayu mundur dua langkah sambil menelan merasa takut, sangat takut bahkan ketakutan ini hal pertama baginya pada hal yang berbau supranatural begini.

"hah.. hah… hah.."nafas Ludwig tersengal-sengal

Ayu masih berjalan mundur, keringat dingin mulai mengucur. Keadaan itu bertambah buruk saat darah di tangannya yang terluka menetes dan bertemu lantai.

"Alex… Lukas… Arthur dan Kiku... baiklah, dia sahabatku err... bukan dia pilihanku yang terakhir jika memang aku meninggal dalam keadaan terhormat alias langsung meninggal, baiklah itu aib... Tolong aku!"Ayu menutup matanya sambil berpikir tentang mereka.

SRAAK!

Ludwig sudah ada dibelakang Ayu yang membuat ia terkejut dan membuka matanya. Belum Ayu menengok ke belakang, badannya sudah terdorong dengan keras untuk bertemu tembok ruangan kepala sekolah.

"AWW!"tentu saja Ayu merasa sakit.

Baru saja ia merasa bagian punggungnya sakit, hal itu digantikan dengan Ludwig yang memegang dengan kencang tangannya yang berdarah. Setelah tangannya yang penuh dengan noda darah itu terangkat, Ludwig menjilatnya tanpa memperdulikan Ayu yang kesakitan. Setelah menjilat dan mencicipi darah Ayu sedikit, Ludwig langsung menariknya serta memeluknya.

"Kau terlalu manis untuk seorang gadis Asia, mein Schatz(1)"kata Ludwig dengan suara rendah.

Muka Ayu akhirnya memerah mendengar hal ini. Namun ia juga tak mengerti apa yang dimaksud Schatz itu, tapi jika tahu ia pasti akan benar-benar memerah seperti tomat. Mulutnya mulai bergerak ke bagian leher sang gadis yang akan menjadi calon "domba" miliknya.

Ayu memberontak, ia benar benar berontak dan menendang Ludwig tepat di perut. Sang vampir mundur dan mengaduh, namun seringainya itulah yang membuat Ayu kelu. Ludwig menatap Ayu dari atas hingga bawah dan iapun mengunci pandangannya pada bola mata berwana hitam milik Ayu. Terkunci benar-benar mengunci. Ayu tak bisa berkedip, aneh pikirnya.

Ia tidak mengerti kenapa badannya tidak bisa bergerak, namun detik selanjutnya badannya seperti dipanggil laki-laki dihadapannya. Ia tidak ingin mendekat kepadanya, yang ia ingin pergi dari tempat itu. Ia mulai menangis, namun badannya semakin maju dan maju. Hingga ia sampai pada dekapan sang vampir

Ruangan yang temaram karena terkena cahaya bulan purnama yang kebetulan membuat posisi Ayu seperti cerita romance/gothic khusus dewasa tidak membuat ia merasa untung. Air mata masih mengalir dari mata hitam sang gadis yang selanjutnya dijilat oleh sang manusia vampir.

"Kumohon... kumohon siapapun selamatkan aku!"pikir Ayu

Hanya sedetik, Ludwig sudah memeluk Ayu dari belakang dan ini membuat Ayu terkejut. Sebenarnya, apa yang ingin dilakukan Ludwig itu? Tangan Ludwig kemudian memegang serta menahan tangan Ayu agar tidak memberontak. Dengan mulutnya ia membersihkan rambut dari leher Ayu.

Ia mencium leher Ayu yang sekarang terekspos dihadapan wajahnya. Ayu menangis dan kali ini benar-benar deras. Ia takut berubah menjadi salah satu seperti Ludwig. Kemudian yang terasa ialah sebuah sapuan dengan lembut namun bertekstur kasar disertai cairan, mungkinkah saliva?

Setelah terasa basah, Ludwig menggigit sedikit kulit Ayu menggunakan gigi depannya bukan taringnya, sehingga luka baru berukuran kecil mengalir dari leher dan selanjutnya ia menjilat ciran berwarna merah itu. Setelah menjilatnya dan menelannya, iapun menggigit leher Ayu yang membuat pemilik leher tersebut terkejut.

"nggak! Ini mimpi! Ini mimpi buruk yang sebentar lagi bangun!"pikir Ayu

"kenapa, Schatz? Kau berpikir ini mimpi? Ini... bukan mimpi"kata Ludwig

"nggak! Ini harus dihentikan! Tolong berhenti!"Ayu menutup matanya.

Ayu mulai merasa lemas karena darahnya diminum sejak tadi. Namun, saat lemas seperti ini tangan Ludwig mulai menggerayangi baju depan Ayu dan mulai melepas kancing yang saling menjalin. Ayu yang memang sudah lemah hanya bisa pasrah.

Setelah Ludwig merasa Ayu memang sudah tidak bisa melawan, ia berhenti menggigit leher Ayu dan mulai mencium disertai beberapa gigitan yang menyebabkan warna merah. Ayu sengaja menyoba menggigit lidahnya agar tidak keluar suara mendesah sama sekali, karena memang ini bukan yang dia inginkan.

"Ayolah, schatz... bukankah kau menyukainya?"Akhirnya kancing baju terakhir milik Ayu lepas dan terekspos-lah dalaman Ayu.

Badan Ayu kemudian diputar bagaikan manekin dengan mudahnya. Ia bertemu dengan mata Ludwig yang sekarang memerah namun berwarna kelam, bukan merah karena haus darah. Kedua tangan Ludwig kemudian melingkari bagian pinggul Ayu dan wajahnya sengaja diangkat agar mata Ayu melihat jelas mata merah Ludwig.

Hanya dalam beberapa detik, mulut mereka bertemu. Namun Ludwig meminta lebih, ia mulai menggerakkan lidahnya di bagian bibir Ayu agar pemilik bibir tersebut membukanya. Ayu masih menutupnya dan tidak mau membukanya,sedikitpun. Ludwig mencari akal untuk "menjajah" teritori barunya. Tangannya yang ada dipinggul Ayu mulai turun dan turun hingga tepat sampai pada bagian dibawah pinggul. Ia kemudian meremasnya walaupun dengan pelan.

"A...ahhh"akhirnya desahan keluar juga, air matanya mengalir.

"Ja... seperti itu.."kata Ludwig

Lnagsung saja lidah Ludwig masuk dan meng-eksplor wilayah barunya. Semuanya, hingga ke bagian sudutnya ia sudah rasakan. Ludwig mengerti, dihadapannya ialah manusia jadi pastinya butuh oksigen. Setelah dilepas, masih ada air liur yang saling terhubung, nafas Ayupun tersengal-sengal.

"Kasihan.. kasihannya mein schatz... seorang manusia... mungkin lebih menarik kalau yang membelenggu dirimu ini dilepas, ja?"kata Ludwig

Badan Ayu akhirnya bisa digerakkan sendiri, Ayupun menangis histeris.

"Hentikan... kumohon hentikan!"kata Ayu histeris

Ludwig mencium Ayu lagi,kali ini kedua dada orang itu saling bertemu.

"hmmp! ! mmppp!"Ayu mendorong badan Ludwig dengan tenaga yang tersisa, ia langsung duduk tersungkur dan Ludwig hanya terdorong sedikit.

"hah.. hah.. hah... tolong..."kata Ayu pelan

"nein... tidak akan ada yang menolongmu"

Ludwig kemudian memegang kedua tangan Ayu seperti menangkap penjahat hanya dengan satu tangan. Iapun melepas bra milik Ayu yang membuat muka Ayu memerah. Sedangkan Ludwig sudah menatapnya dengan penuh nafsu. Ludwig mencium dadanya itu dan sesekali menjilatnya. Saat tangannya kirinya mulai menyentuh rok Ayu

BRAK!

Pintu ruangan kepala sekolah didobrak.

Terlihat tiga orang laki-laki berbeda kewarganegaraan. Yang satu mukanya sudah memerah parah, yang satu sangat syok dan satunya bermuka datar seperti melihat kejadian umum saja.

"ASSHOLE! YOU SON OF A B*TCH!"disusul dengan kaki Arthur yang menendang Ludwig.

Yang ditendang langsung terpental,Arthur langsung melepas jas seragamnya dan menutupi badan Ayu yang sudah setengah telanjang. Setelah mengancingkannya,Ayu menangis di dada Arthur. Hanya dalam beberapa menit, Ayu sudah tak sadarkan diri.

"Lukas, bawa dia ke guru wanita.. mana saja! Cepat! Dia kekurangan darah dan segera larikan ke rumah sakit atau klinik terdekat!"kata Alex sesudah memegang nadi Ayu yang lemah.

"hmm... baiklah"respon Lukas

"tapi kalau bisa cepat, karena sepertinya ini akan membuat keributan" Alex menunjuk Arthur yang sudah mengacungkan tongkat sihir di hadapan Ludwig yang justru memandangnya dengan tatapan meremehkan.

"baiklah"

Asap mengepul, Lukas sudah tidak ada ditempat. Baru saja Alex mengalihkan pandangannya, Arthur sudah melancarkan serangan.

"Confringo"

Langsung saja Alex menubruk badan Arthur. Ini menyebabkan sihir Arthur mengenai kaca kepala sekolah dan menyebabkan kaca itu hancur. Alex bernafas lega.

"Apa kau gila! Hei itu mantera berbahaya!"bentak Alex

"aku tak peduli! Yang penting dia hilang dari dunia ini! Ini benar-benar tidak bisa dimaafkan!"Arthur melihat ke arah Ludwig, namun orang yang dilihat sudah tidak ada. Arthur terlihat geram dan kesal, ia menonjok lantai.

"Ini karena kau! Sekarang dia kabur!"bentak Arthur.

"sudahlah! Tenang dulu! Masalah ini biar aku yang urus!"kata Alex

"Tenang? Tenang katamu? Dia hampir merebut keperawanan Ayu! Bagaiman bisa kumaafkan!"

"yang penting kau temui Ayu dulu… dia sedang ada di rumah sakit sepertinya, Ludwig biar aku yang urus"

Arthur bangun dan membersihkan bajunya.

"baiklah!"mukanya terlihat masam

Arthur meninggalkan Alex, sedangkan Alex melompat dari kaca yang dihancurkan Arthur.


note :

(1).Mein Schatz : kesayanganku


Author : saya ngerasa pervert, kenapa saya Cuma tulis lime? Soalnya ffn gk membolehkan kita nulis lemon lho! Rating maksimal aja M doing, bukan MA

Francis : Author, Francis nii-chan bangga akan dirimu *terharu*

Author : idih lebay!

Francis : ayo kita celebrate di kamar, oui?

Author : OGAH!

Francis terlempar jauh dari kamar

Author : bales review aja ah!

Mina Miyaguchi : ini chapter Rate-M maaf gak munculin Lemon… soalnya itu masuk rating MA bukan M
nggak perlu… ntar ada JapNes lho! (ngebocorin lagi!)

Ichigo Kenji : iyalah… si alis tebel kan gambang cemburuan...

Iya yang itu!

Little Lady Otaku : YEY!

Ehehe... tapi jadi OOC parah

Lime-ish sekarang! #mutermuter #nariindia (dilempar ke Afrika)

Kesesese… permintaan anda dikabulkan

AwesomeasAsem : nama username-nyaaaa!
tentu aja #wink #ditampol
ya lahh… authornya kan gk persisten (bangga lagi!)

Ryu3oktober : ahhh sesame piktor dilarang buka aib(?)

Tentu aja,diii…

Author : ya! Beginilah kalau terlalu banyak baca reader insert di deviantArt dengan genre lemon/lime... otak udah rusak dan kotor… jadi… RnR,bitte?

ment here...