DREAM CASTLE
Pairing : Gilbert Beilschmidt/Ludwig Weillschmidt
Rating : T
Genre : Drama/Angst
Summary : "...istana impian ini adalah milikmu, Ludwig. Maka jagalah baik-baik..."
Disclaimer : All characters belong to Himaruya Hidekazu-sensei
Warning : Apa pun yang terjadi di sini adalah rekayasa walau sedikit mengena ke sejarah masing-masing negara. Timeline yang ada di sini saya sesuaikan dengan yang ada di Hetalia, di mana mereka sepertinya berumur panjang (terutama Jerman). Kalau ada yang kurang berkenan, saya sarankan untuk tidak membaca dengan segala hormat. First Ger/Pru, trial and error... :/
~Chapter 10~
Now the day has come
We are forsaken
There's no time any more
Berlin – August 3rd 1945
Gilbert's POV
Pagi hari yang dingin, aku dan Ivan Barginski pergi ke markas besar Nazi di pusat kota. Jerman tidak pernah sedingin ini sebelumnya. Aku tidak bisa melepaskan jaket dan mantel yang kupakai. Pagi itu aku banyak diam meski Ivan banyak bercerita tentang udara dingin yang melanda negerinya setiap tahun. Aku tidak banyak menanggapinya.
Aku tidak berminat…
"Berdoa saja semoga adikmu baik-baik saja, Beilschmidt."
Tiba di sana, aku langsung dibawa ke sel tahanan olehnya. Dia mengenalkan padaku rekan-rekan sesama penakluk Jerman. Dari Amerika, Alfred F. Jones. Dari Inggris, Arthur Kirkland. Dari Perancis, Francis Bonnefoy. Yang kutahu kemudian adalah dia dan 3 orang Barat ini sebenarnya tidak pernah bisa sepaham. Aku tidak mengerti mengapa mereka bisa berada dalam satu kelompok dan menaklukkan Jerman.
"Siapa dia, Ivan?"
"Seorang tentara Jerman, bukan, seorang Ksatria Prussia, Jones."
"Ksatria Prussia? Aku belum pernah dengar."
"Tentu saja kau belum pernah dengar karena dia ada sebelum kau ada, Jones. Aku ingin mempertemukan dia dengan adiknya yang menjadi tahanan kita di sini."
"Dari mana kau mendapatkan orang ini, Ivan?"
"Kau tidak perlu tahu bagaimana aku mendapatkannya, Jones. Tunjukkan di mana sel adiknya, dan kita biarkan mereka bertemu dulu. Setuju?"
Aku bisa melihat Alfred memandang tidak suka kepada Ivan, sementara laki-laki berlogat timur ini tetap tersenyum sambil mengikutinya dari belakang. Alfred menunjukkan sel adikku, berkat bantuan data tahanan yang dipegang oleh Arthur. Sebelum aku mendekat ke sel, Ivan mendorongku kasar ke tembok dan mencekikku dengan tongkat keran airnya.
"A-apa yang-"
"Tidak banyak waktu yang kuberikan padamu. Jika kau tidak menyampaikan hasil perjanjian kita dengan baik, kau akan kuhabisi di sini bersama dengan adikmu. Mengerti, Beilschmidt?"
Tindakkan Ivan kemudian dihentikan oleh Alfred. Aku bebas, dan diizinkan untuk masuk ke sel menemui adikku. Aku melihat pemandangan yang tidak menyenangkan di sini. Adikku meringkuk beralaskan seragam militernya, badannya penuh luka dan terlihat lemas. Dia kedinginan. Aku mencoba membangunkannya. Tanganku gemetar ketika menyentuh pundaknya yang dingin.
"Ludwig…"
Nampaknya suaraku bisa menggugah hatinya. Tubuh besarnya bergerak, dia mencoba duduk dan berhadapan denganku. Kedua mata birunya menatapku lemah, bibirnya gemetar ingin mengucapkan sesuatu. Tak ada yang keluar dari sana, dia kemudian menjatuhkan dirinya dalam pelukanku. Begitu erat aku rasakan, tubuhnya gemetar hebat.
"Kakak…"
"Semuanya sudah selesai, Ludwig. Tidak ada lagi peperangan."
"Aku…kalah…"
"Ya, aku tahu itu. Sudahlah, tidak perlu dipikirkan soal kalah atau menang. Kau sudah melakukan banyak hal, kau melakukan yang terbaik sampai sejauh ini."
"Gilbert…aku lelah, aku tidak mau perang lagi…"
"Ya, kau tidak akan kulibatkan dalam perang apa pun lagi…"
Jika aku tidak terlibat perjanjian apa pun dengan Ivan dan orang-orangnya, mungkin aku bisa dengan mudah mengajak Ludwig pulang dan beristirahat. Aku datang kemari, ingin membebaskannya, melepaskannya dari segala beban perang yang memberatkannya.
"Kakak, kau terluka…"
"Ah, iya. Tidak apa-apa."
"Apa yang terjadi? Mengapa kau bisa sampai di sini? Mengapa kau kemari dengan…"
"…"
"Kak, sesuatu pasti telah terjadi. Ceritakan padaku! Semuanya!"
"Ludwig, tenanglah. Aku akan bercerita semuanya padamu, dan berjanjilah untuk tidak memotong ceritaku. OK?"
Can you forgive me for trying again?
Aku mengusap wajahnya yang penuh keringat bercampur air mata. Kurapikan rambutnya, kubuat dia tenang walau aku tahu dia tegang dalam hatinya. Aku tidak peduli beberapa pasang mata di belakang kami sedang memperhatikan keadaan ini. Biar mereka melihat, biar mereka tahu bahwa kami tidak bisa dipisahkan.
"Aku datang kemari untuk membebaskanmu, Ludwig. Ivan Barginski datang ke rumah pagi itu dan membawa berita bahwa kau dan tentara Nazi yang lainnya telah menjadi tawanan perang pasukan Sekutu dan Uni Soviet."
"…"
"Aku langsung memikirkan keadaanmu. Aku ingin kau bebas, tetapi kemudian dia mengajukan penawaran padaku."
"Apa-"
"Ssshhh…tidak sekarang kau bertanya, Ludwig. Dengarkan dulu."
"…?"
"Semua ini kulakukan demi bisa membebaskanmu. Negeri ini, Ludwig, adalah negeri yang bebas dan merdeka. Sejak awal kita bangun bersama, kita perjuangkan kebebasan dan kemerdekaannya. Seperti kau membangun istana kecil itu dengan sejuta impianmu."
"Membebaskan…aku…"
"Aku melihat perkembanganmu, sama dengan melihat perkembangan negara ini. Keberadaanku sudah tidak akan lama lagi. Tanah suci ini sepenuhnya milikmu. Maka kau yang akan mempertahankannya."
"Tidak…"
"Ludwig, aku tidak bisa selamanya mendampingimu di Jerman. Mungkin negeri ini tidak ditakdirkan untuk bisa menang perang. Tetapi tidak ada yang bisa mengubah takdir Jerman menjadi negara besar. Dan kaulah bisa menentukan masa depannya."
Air mata itu keluar dari kedua mata biru Ludwig. Aku memegang kedua pipinya, aku mencoba untuk tetap tegar bagaimana pun sulitnya menyampaikan semua ini.
"Aku harus membalas budinya, Ludwig."
"Dengan kau bergabung dengan Komunis? Dengan kau bekerja dengannya? Atau bekerja di wilayah jajahannya? Kenapa, Kak? Kenapa kau selalu berkorban untukku sementara aku tidak boleh melakukan apa pun untuk membelamu?"
"Aku tidak akan bisa membebaskanmu jika aku tidak setuju dengan penawarannya, Ludwig! Atau dia yang akan membawamu ke negaranya! Aku tidak mau kau meninggalkan Jerman!"
"Apa hanya kau saja yang punya pendapat seperti itu, Kak? Aku juga tidak mau kau pergi ke negaranya! Kau menolak Nazi, kenapa kau tidak bisa menolak Komunis? Kau tidak lihat bagaimana perjuanganku berperang melawan mereka? Aku mati-matian di medan perang demi mengusir mereka, mempertahankan ibu kota, dan kau malah memilih bergabung dengannya demi bisa membebaskan aku?"
Tidak hanya dia yang menangis, tetapi aku pun sudah tidak bisa membendung air mata ini. Kubiarkan menetes, seiring dengan penjelasanku kepadanya. Dia marah karena dia bingung, aku tahu dia begitu karena semua ini adalah kesalahanku.
I know it was destined to go wrong
"Kau membuatku tidak sabar, Beilschmidt."
Pintu sel terbuka, Ivan masuk bersama 3 orang Barat tadi. Dia menarikku menjauh dari Ludwig, dengan tongkat keran airnya. Aku berusaha mengelak, memberontak. Tetapi dia malah semakin menyingkirkanku dengan kasar.
"Gilbert!"
Ketika Ivan hendak memukul Ludwig dengan tongkatnya, tiba-tiba dia dicegah oleh Arthur Kirkland yang menangkis tongkatnya dengan cane miliknya. Mata hijau laki-laki berambut pirang itu menatap Ivan dengan tajam. Ivan tetap tersenyum seperti biasa.
"Kenapa kau mencegahku, Kirkland?"
"Biarkan mereka bicara, Ivan. Kau keterlaluan."
"Oh, menurutmu aku berlebihan? Aku sudah bilang dari awal bahwa aku tidak akan memberikan dia banyak waktu untuk berbicara."
"Kau tidak akan pernah paham soal mereka, Ivan."
Francis membantuku bangkit dan mendekatkanku kepada Ludwig lagi. Aku melihat tatapan tidak suka dari Ivan ketika laki-laki berambut sebahu ini mengulurkan tangannya padaku. Aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara lagi. Ludwig harus memahami situasinya, aku harus membuatnya menerima keputusanku.
"Ludwig, sudah saatnya-"
"Kau tidak masalah dia memperlakukanmu seperti itu, Kak? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padamu jika kau bekerja untuknya. Hidupmu akan semakin berantakan, sama dengan masa depan Prussia yang semakin suram."
"Jangan mengaitkan ini dengan Prussia-"
"Kau yang mengawali kebesaran bangsa ini, Kak! Dari Prussia, kemudian berkembanglah Jerman. Kau yang memperjuangkannya, tetapi kau juga yang membuat suram masa depannya!"
"Ludwig-"
"Apa kau berusaha menaikkan nama Prussia dengan cara ini juga, Kak? Aku tahu kau mulai tidak diingat orang lain. Jerman telah melupakan Prussia, maka itu kau berjuang demi bisa diakui lagi khan?"
"Sudah kubilang ini tidak ada kaitannya dengan Prussia, Ludwig! Jangan pernah menghina para pendahulumu seperti itu!"
"Kau yang mengina mereka dengan tindakanmu seperti ini, Kak!"
"Kau-"
"Jangan tinggalkan negeri ini, aku mohon!"
Ketika aku hendak berdiri, Ludwig tiba-tiba mendekap pinggangku dan mencegahku pergi darinya. Aku benci melihat dia seperti ini. Seakan kejadian ini membawaku kembali kepada jaman dulu, ketika dia masih kecil dan aku akan meninggalkannya untuk berperang. Dia selalu merengek dan menyuruhku tetap tinggal bersamanya.
Aku tidak bisa melihat dia seperti ini…
"Sejak dulu aku selalu mengagumimu, Kak. Jika ada seseorang yang kujadikan panutan selama aku menjadi tentara Nazi, maka kaulah orangnya."
"…"
"Aku selalu ingin bisa sehebat dirimu, melindungi apa yang penting bagiku. Kau adalah orang yang penting bagiku, aku ingin bisa melindungimu. Salahkah jika aku punya keinginan seperti itu, Gilbert?"
"Aku…tidak membutuhkan perlindungan siapa pun…"
"Jadi, untuk apa kau membesarkanku jika kau tidak berharap apa pun dariku, Kak? Kau anggap aku ini masalah besarmu?"
PLAK!
Aku tidak mengerti mengapa tangan ini kemudian menampar wajah adikku dengan keras. Dia mengatakan itu seakan dia menyesal hidup di dunia ini. Dia seperti menyalahkanku karena telah mengacaukan jalan hidupnya. Maka itu aku tidak terima dengan perkataannya. Aku terpaksa menamparnya, aku ingin dia mengerti bahwa dia itu layak hidup di dunia ini.
"Jangan pernah menganggap bahwa membesarkanmu adalah sebuah kesalahan, Ludwig. Tuhan menakdirkanmu untuk hidup, manusia pantas hidup. Aku tidak pernah menyesal atau merasa bersalah telah membesarkanmu."
"Untuk apa kau berpihak pada Uni Soviet jika memang tidak butuh uluran tangan siapa pun demi bisa membebaskanku?"
"…"
"Jawab, Kak! Kau membuatku bingung! Kau membuatku tidak tahu harus berbuat apa melihatmu begini!"
"Ludwig-"
"Lihat aku, Kak! Berapa butir peluru yang menembus tubuhku dalam medan perang? Berapa kali dentuman bom kudengar sampai memekakkan telingaku? Menurutmu, untuk apa aku berperang? Untuk apa aku berjuang mati-matian melawan orang-orang yang ada di belakangmu? Dan menurutmu, apa aku tidak lelah? Apa aku tidak jenuh? Apa aku tidak rindu padamu saat sedang bersiaga di sana?"
"…"
"Menurutmu…apa aku tidak berguna, Gilbert?"
Penyesalan itu tergambar jelas di raut wajah Ludwig. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Kedua tangannya terkepal erat, dia sudah lelah memendam perasaannya.
Bukan dia yang membuat dirinya sendiri tidak berguna. Tetapi akulah yang membuatnya seperti ini. Aku menjerumuskannya dalam suatu kondisi yang dia sendiri tidak mengerti. Seorang anak yang kubesarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang, harus menghabiskan waktunya membawa senjata dan membunuh orang yang hendak mengacaukan negaranya. Akulah yang mengajarinya tentang perang, dan aku jugalah yang menyuruhnya berperang.
Couldn't save you from the start
I have failed you
Aku memeluknya lagi. Tubuh besarnya terguncang hebat. Mendengarnya mengisak semakin membuatku sakit hati. Aku tidak berhenti menyalahkan diriku sendiri yang telah membuatnya begini. Aku mengacaukan masa depannya, aku tidak tahu bagaimana dia akan melangkah setelah ini. Karena aku tidak akan ada lagi untuknya.
"Sampai kapan pun, kau akan tetap berguna, Ludwig. Tidak untukku, melainkan untuk orang lain yang membutuhkanmu."
"Aku ingin bernilai di matamu, Gilbert…"
"Hey, siapa yang bilang kau tidak berguna di mataku, Ludwig? Sudah banyak yang kau lakukan, dan menurutku itu sudah cukup."
"…"
"Kau membuatku bangga, Ludwig. Maka itu jangan menilai dirimu tidak berharga. Biar aku yang menanggung segala rasa sakit dan kesalahan itu, sudah saatnya kau hidup dengan tenang."
"Aku ingin hidup denganmu, Kak."
"Kau dan aku memang tidak akan terpisahkan. Ketika aku tidak ada, maka kau harus tetap mengingatku. Dengan begitu, aku ada untukmu."
"Tidak…"
"Jangan pernah menyesali apa yang sudah kau lakukan, Ludwig. Seorang ksatria tidak pernah menyesali perjuangannya. Dia mengayun pedang untuk melawan segala hal yang merintangi hidupnya. Dia mengangkat tameng untuk mempertahankan harga dirinya. Terlepas dari kebenaran dan kesalahan, dia melakukan semua itu untuk bertahan hidup."
"…"
"Aku mungkin bukan contoh yang baik untukmu, Ludwig. Jangan tiru jejak langkahku, mengorbankan diri dengan cara yang salah. Ya, akulah yang menyebabkanmu begini. Aku akan membayar kesalahanmu dengan menanggung segala penderitaanmu."
"Mengapa kau selalu menjadi penopang untukku? Mengapa rasa sakit itu hanya kau yang bisa merasakannya? Mengapa aku tidak boleh merasakan rasa sakit dan beban yang sama denganmu, Gilbert?"
Open up your eyes
See what you've become, don't sacrifice
Aku memilih untuk tidak menjawab. Ludwig hanya akan banyak bertanya jika aku memberikan satu jawaban. Aku hanya ingin dia memahami, paling tidak belajar untuk memahaminya. Situasi ini membuaku pusing, tetapi aku tidak ingin membuatnya ikut terbebani. Maka itu biarkan semua berlalu sebagaimana mestinya.
Dengan berat hati, aku melepas dekapan ini darinya. Aku bergerak menjauh darinya. Untuk terakhir kalinya, aku memegang wajahnya yang dingin. Kedua mata birunya berkilau indah dengan air matanya. Aku mencoba tersenyum, mencoba tegar di depannya.
"Aku mencintaimu, Ludwig. Jaga dirimu baik-baik. Jaga negeri ini, sebagaimana kau menjaga istana kecil itu di rumah."
"Gilbert…"
"Terserah padamu untuk memaafkanku atau tidak. Karena kesalahan ini, aku sudah mengorbankan dua orang yang berharga dalam hidupku. Kau, dan Madam Bertha."
"Apa? Tidak mungkin-"
"Ssshh…tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Ludwig. Mulailah kehidupanmu yang baru. Jangan pernah melihat ke belakang lagi. Apa yang sudah terjadi, biarkan tetap terjadi begitu adanya."
"Jangan pergi…aku mohon, Gilbert…Gilbert!"
Terjadi adegan tarik menarik di antara kami berdua. Ludwig sampai menarik kakiku, mencegahku pergi. Aku terpaksa melepaskan diri darinya, aku tidak ingin menjadi beban lain dalam kehidupannya setelah ini. Ludwig sampai jatuh tersungkur dan ditahan oleh Arthur dan Francis. Dia terus memanggil namaku, dengan suara parau dan terbata-bata.
Aku ingin sekali menutup telingaku ketika melangkah keluar dari sel. Aku berhadapan dengan Ivan yang tengah tersenyum penuh kemenangan padaku. Dia mendorong bahuku dengan tongkatnya, menyuruhku berjalan di depannya.
"Ivan Barginski!"
Kami baru beberapa langkah meninggalkan sel Ludwig. Suara adikku kembali menggema di koridor penjara. Aku menoleh, mendapati adikku berdiri keluar dari sel. Satu lengannya didekap oleh Arthur, satu lengannya yang lain berumpu pada pintu sel.
"Kau memanggilku, Da?"
"Ivan, aku tidak tahan melihat kakakku begitu tertekan dalam situasi ini. Aku mencintainya, dan aku ingin yang terbaik untuknya. Jika hidup bersamamu adalah yang terbaik untuknya, maka aku izinkan dia menemukan kedamaian bersamamu. Aku tidak akan menghentikanmu."
"Oh, memang begitu seharusnya."
"Dengan satu syarat, kau harus menjaganya baik-baik. Karena aku sudah tidak bisa menjaganya lagi, maka kau yang akan bertanggung jawab atas hidupnya."
Aku harap udara dingin di luar sana, tidak membekukan air mataku yang sudah tidak bisa lagi aku bending sejak dari awal aku bertemu dengan Ludwig…
I watched the clouds drifting away
Still the sun can't warm my face
~to be continue~
A/N : Finally, sudah masuk chapter 10. Lega juga karena sejauh ini ceritanya berjalan sebagaimana mestinya. Saya perlu membaca beberapa sumber sejarah, walau akhirnya cerita ini tidak sama sekali nyangkut di sejarahnya. :/
Buat yang sudah membaca, terima kasih banyak. Yang sudah review, saya ucapkan terima kasih atas segala saran dan kritiknya. Mohon dukungan dari semua untuk saya bisa menyelesaikan cerita ini sampai akhir. Bakal kayak apa ya akhirnya nanti?
Chapter 11 coming up next!
